Fly High! - Tujuh

05:04

Fly High!

 


- Tujuh -


Subuh tadi saat jalan pagi bersama, Al mengajak Meyra untuk ikut datang ke sekolah. Menemaninya audisi. Tapi, Meyra menolak. Katanya, ia sudah ada jadwal hari Sabtu ini. Al tak bisa memaksa. Ia paham di akhir pekan Meyra memang sering tak ada di rumah.

Al menghela napas. Ia duduk melamun di dalam angkot yang membawanya ke terminal di dekat sekolah. Detub jantungnya tak kunjung mereda. Semakin dekat dengan sekolah, semakin bertalu-talu.
Al mengangkat kepala. Menatap Oi yang duduk di seberang, berhadapan dengannya. Sahabatnya itu terlihat santai. Headset menutup kedua telinga Oi. Kepala Oi bergerak-gerak, sedang bibir penuhnya komat-kamit. Al tersenyum melihatnya. Sahabatnya itu pasti terbawa alunan lagu yang sedang ia dengarkan. Baru Al sadar, kenapa ia tak melalukan hal yang sama untuk meredam rasa gugupnya? Tapi, terlambat. Angkot sudah masuk ke dalam terminal.
“Tumben Sabtu ke sekolah, Mbak? Kok pakek macak[1] juga?” Tanya kernet angkot  saat Oi membayar.
“Ada lomba di sekolah.”
“Oh pantesan. Kok libur-libur ke sekolah.”
“Padahal kan belum tentu ke sekolah. Kami pakek baju bebas lho.”
“Iya ya.”
Oi tersenyum melihat tingkah kernet yang mengenalnya itu.
“Mbak mau ikut lomba?”
“Yo’i.”
“Tak doain menang deh Mbak.”
“Jangan!” Al menolak.
“Lhoh? Kok jangan?” Kernet menatap Al dengan ekspresi kaget.
“Doain bisa tampil dengan baik aja Mas. Saya nggak mau menang.”
“Mbak iki lucu!” Kernet itu menatap Al dengan heran.
“Dia emang gitu Mas. Matur nuwun ya doanya.” Oi pamit. Ia menggandeng Al, lalu berjalan bersama menuju sekolah.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Al dan Oi menjadi pusat perhatian. Sesama pejalan kaki, orang-orang yang berjualan di sepanjang jalan menuju sekolah, dan orang-orang yang berada di pinggir jalan menatap keduanya. Sebagian besar dari mereka pasti tahu Al dan Oi. Karena dua gadis itu sudah hampir dua tahun wira-wiri di jalan itu setiap pagi dan sore. Yang membuat orang-orang itu memperhatikan Al dan Oi hari ini adalah karena penampilan keduanya yang berbeda dari biasanya.
“Apa perasaanku aja, kalau orang-orang tuh kayaknya liatin kita?” Al dengan suara lirih.
“Iya e. Pada liatin kita.” Oi membenarkan.
“Sudah kubilang, kita pakek kostumnya di sekolah aja. Kita pasti keliatan aneh.”
“Aneh? Nggak yo! Unik tau! Kita kayak anak kembar.” Oi tersenyum lebar.
“Anehnya di mana? Ya kalau kita pakek hanbok atau saree baru keliatan nyeleneh.” Oi menyebut baju tradisional Korea dan India.
“Aku risih.”
“Cuekin aja! Atau kayak biasanya  kamu aja, jalan sambil nunduk.”
“Emang kamu nggak risih?”
“Dikit sih.”
Al menepuk pelan lengan Oi. Membuat sahabatnya itu tergelak.
***

Sepuluh menit berjalan kaki lumayan membuat Al dan Oi merasa gerah. Hari ini mereka berangkat ke sekolah pukul tujuh pagi. Kebetulan hari itu matahari muncul dan bersinar cerah. Dengan baju lengan panjang yang mereka kenakan, wajar jika Al dan Oi merasa gerah.

Saat sampai di sekolah, suasana cukup ramai walau hari libur. SMA Wijaya Kusuma menerapkan sistim full day school. Karenanya, di hari Sabtu sekolah libur. Walau libur, sering ada kegiatan ekstrakurikuler di hari Sabtu. Karenanya sekolah tak pernah sepi di hari Sabtu. Terlebih Sabtu ini. Karena digelarnya audisi SMA Wijaya Kusuma Mencari Bakat, jumlah murid yang datang ke sekolah lebih banyak dibanding hari Sabtu biasanya.
“Rame banget.” Gumam Al. Tahun kemarin ia tak ke sekolah saat audisi SMA Wijaya Kusuma Mencari Bakat digelar.
“Kan ada audisi. Gimana sih!” Jawab Oi santai.
“Al. Oi!” Terdengar suara Nurul memanggil Al dan Oi. Membuat kedua gadis itu menoleh ke arah kiri. Nurul yang berada di taman di samping perpustakaan melambaikan tangan.
Al dan Oi pun belok ke arah kiri. Menuju tempat Nurul berada. Nurul sudah berada di taman bersama Aning dan Jia. Tapi, yang membuat Al heran adalah keberadaan Lila dan Rina. Dua gadis yang duduk di bangku tepat di depannya di kelas XI-IPA2 itu tak tergabung ekstrakurikuler apa pun. Saat ada kegiatan sekolah yang agak bebas keduanya pun selalu absen. Tapi, hari ini Lila dan Rina datang ke sekolah. Hal yang tak biasa yang membuat Al bertanya-tanya.
“Lila sama Rina tumben ke sekolah?” Saat sampai di tempat Nurul berada, Al langsung menyapa Lila dan Rina dengan melontarkan pertanyaan yang ada di benaknya.
“Aku juga kaget liat mereka. Katanya sengaja datang bukan dukung kalian.” Jia yang memberi jawaban.
“Wah! Makasih banget.” Al senang. Lila dan Rina memang lebih akrab dengannya daripada dengan Oi.
“Rina khawatir kalian dateng tanpa kostum khusus dan make up. Tapi, ternyata… kalian keren!” Lila kagum melihat penampilan Al dan Oi pagi ini.
“Pasti ini kerjaan Mbak Mey ya?” Nurul menebak.
“Kostumnya iya. Tapi, make up ini kerjaan Oi.” Jawab Al.
“Oi??” Nurul dan Jia kompak.
“Nggak nyangka Oi bisa macak.” Jia tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Foto Mbak Mey pakek make up itu kerjaan Oi.”
Moso? Suer aku nggak nyangka.”
“Oi sebenernya pinter dandan. Cuman dia seringnya males rias muka dia sendiri. Mbak Mey yang sering jadi korban.”
“Kupikir itu Mbak Mey sendiri yang make up.”
“Kan di caption udah ditulis make up by Oi. Ketahuan nggak baca caption nih.”
“Hehehe.” Jia meringis.
“Lap keringet kalian dan benerin make up yuk.” Rina menyela obrolan.
“Kelas buka nggak sih?” Tanya Oi.
“Buka.” Jawab Aning.
“Eri ada di sana?”
“Kayake dia di UKS deh.” Jia sangsi.
“Ya udah kita ke kelas aja.” Oi berjalan memimpin. Disusul Nurul, Jia, dan Aning. Lalu Al, Rina, dan Lila.

Di dalam kelas XI-IPA2 ternyata ada beberapa siswa. Tujuh orang siswa kelas XI-IPA2 yang biasa pergi bermain dengan Aning.
“Wah! Lapo rek?” Sapa Aning pada tujuh teman sekelasnya itu.
“Sengaja dateng buat dukung Al dan Oi dong.” Jawab Rifqi.
“Wow!” Jia kagum. Dari lima belas siswa yang biasa bermain bersamanya, tujuh sengaja hadir untuk memberi dukungan pada Al dan Oi.
“Kayak gini nih yang bikin Eri ngiri sama kalian. Nurut aku.” Nurul berbisik. “Ditambah Arwan, dan kalau Fuad juga dateng, jadi sembilan orang dari geng kita yang dateng buat dukung kalian.”
“Makasih ya. Padahal kalian nggak bisa masuk aula, kan?” Oi berterima kasih.
“Kan bisa denger dari luar. Nanti nginceng[2] juga pasti bisa.” Rifqi percaya diri. “Eh, Al sama Oi kayak anak kembar ya kalau gini.”
Semua yang ada di kelas menatap Al dan Oi. Keduanya memakai blus ruflle ribbon bowtie ribbon berwarna kuning pucat. Yang membedakan hanya pita pada bagian pergelangan tangan, dasi dan, kerah blus. Pada Al berwarna merah maroon, pada Oi berwarna coklat mocca. Al dan Oi memadukannya dengan celana putih demi menampilkan kesan ceria dan muda. Untuk sepatu, keduanya memakai flat shoes warna putih.
“Kayak cewek Korea ya?” Jia tersenyum bangga.
“Iya.” Rifqi mengiyakan.
Outfit of the day sponsored by Elmeyra.” Oi membusungkan dada.
“Siapa itu?” Rifqi memiringkan kepala.
“Mbaknya Al.” Oi berubah sewot karena Rifqi tak mengenali Meyra.
“Oh.” Rifqi menganggukan kepala.
“Sini aku benerin rambutmu.” Rina menuntun Al untuk duduk di bangku paling depan dekat pintu. Oi mengikuti.
“Seneng liatnya. Kalian total banget.” Lila memuji.
“Kata Mbak Mey, melakukan segala sesuatu itu harus serius dan penuh tanggung jawab. Karena itu adalah pilihan kita.” Jawab Al yang rambutnya sedang ditata oleh Rina.
“Jadi, kostum kalian hari ini Mbak Mey yang siapin?” Tanya Nurul.
“Iya. Baju, celana, sepatu. Semua dia beli buat kami.” Oi membenarkan.
“Wah! Enak dong dapat baru semua. Aku juga mau!” Jia menggoda.
“Mbak Mey gitu orangnya. Total banget kalau ngerjain apa-apa.”
“Aku pengen lho ketemu sama Mbak Mey.” Lila mengungkapkan keinginannya.
“Main ke rumah yuk. Tapi, kalau weekend jarang di rumah dia.” Al mempersilahkan Lila untuk berkunjung ke rumahnya.
“Kapan-kapan deh kalau Mbak Mey ada di rumah. Aku main ke rumah kamu. Ya, Rin?” Lila mengajak Rina.
“He’em.” Rina mengiyakan.
“Di tempat Al ada bakso sama rujak enak. Jangan lupa minta itu kalau kalian ke sana.” Aning mengingatkan soal kuliner enak yang ada di kampung Al.
“Main bareng aja yuk kita. Kapan gitu.” Lila mengusulkan untuk bersama-sama mengunjungi rumah Al.
“Aku ikut ya!” Rifqi menyahut.
“Dih! Maunya!” Jia mencibir.
“Penampilan kami aneh nggak sih?” Tanya Oi. “Al ngerasa penampilan kami aneh.”
“Nggak kok. Kalian keliatan cute.” Jia menyanggah pemikiran Al.
“Beneran?” Al meminta kepastian.
“Bener. Ya, kan?” Jia meminta persetujuan Aning, Nurul, Lila, dan Rina.
“Keren kok Al. Simpel dan cute.” Lila mendukung Jia.
“Baiklah. Kalau gitu, aku kudu pede.” Al tersenyum tulus.
“Harus dong!” Nurul menyemangati.
Arwan masuk ke dalam kelas XI-IPA2. Ia tersenyum lebar melihat Al berada di dalam kelas. “Syukurlah. Kupikir kamu belum dateng. Kok nggak bales pesanku.” Ia mendekati meja tempat Al dan keenam gadis lainnya berkumpul.
“Aku belum cek hape. Maaf ya.” Al meminta maaf.
“Udah bisa pakek kameranya, Wan?” Tanya Aning.
“Udah.”
“Udah beres! Al dan Oi siap bertempur.” Ujar Rina usai merapikan rambut Al dan Oi.
“Foto bareng dulu yuk!” Jia usul untuk foto bersama Al dan Oi.
“Aku ikut!” Rifqi berseru seraya bangkit dari duduknya.
Al dan Oi pun menyetujui usulan Jia. Bersama teman-temannya yang hadir hari itu, mereka berfoto di kelas XI-IPA2. Tak membuang kesempatan, Arwan pun meminta foto berdua saja dengan Al. Walau mendapat sorakan dari Aning dan Jia, ia tak peduli. Toh memang rata-rata teman satu gengnya sudah tahu jika ia menyukai Al.
***

Walau dijadwalkan dimulai pada pukul delapan, pembukaan audisi molor. Pukul setengah sembilan audisi baru dimulai. Al dan Oi mendapat nomer urut sebelas. Oi kegirangan. Menurutnya ia dan Wanna One benar berjodoh karena mendapat nomer urut sebelas dalam audisi. Jumlah anggota Wanna One ada sebelas orang. Hanya karena sama-sama sebelas, Oi percaya diri jika dirinya dan Wanna One terhubung. Walau Al, Jia, dan Nurul mengoloknya, Oi tak peduli. Ia tetap percaya mendapat nomer sebelas bukanlah sebuah kebetulan. Tapi, itu adalah takdir yang unik. Saking girangnya, Oi sampai memposting tentang hal itu dalam akun sosial media miliknya.

Sebelas. Untukku dan Wanna One. Kita adalah satu. Semangat Oi! Semangat Al. #WannaOne #Wannable #Energetic

Tulis Oi dalam postingan di akun Instagram-nya. Ia mengunggah foto nomer urut peserta audisi dalam postingan itu.
Sedang Eri, pesaing Al dan Oi mendapat nomer urut tujuh. Hari itu Eri mengenakan short dress selutut warna merah. Dress itu menggunakan kain mirip kain kebaya yang transparan dengan motif bunga-bunga. Bagian yang dibiarkan tetap transparan hanya pada bagian lengan. Karena Eri berkulit putih, memakai kostum berwarna merah membuatnya terlihat bercahaya. Rambut hitam sepundaknya ia biarkan terurai. Dengan make up yang menghias wajahnya, Eri terlihat dewasa dan elegan.
Melihat penampilan Eri yang sengaja mengunjungi kelas demi bertemu Al dan Oi membuat Al minder. Ia merasa penampilannya jauh lebih buruk dari Eri. Oi dan teman-temannya memberi dukungan pada Al.
“Konsepnya beda. Mungkin Eri mengusung konsep elegan. Makanya penampilannya gitu. Make up-nya pun tebal. Nah, kamu kan konsepnya simple and chic. Pasti lebih sederhana, tapi tetap modis.” Rina membesarkan hati Al.
“Bener banget. Lagian nggak mungkin Mbak Mey asal comot kan soal kostum? Mungkin mempertimbangkan lagu yang akan kalian nyanyikan, makanya Mbak Mey memilih style ini.” Nurul mendukung pendapat Rina.
“Al emang minderan. Konsep ini cenderung ke Wanna One, bukan Black Pink. Makanya Mbak Mey milih kostum ini buat kita. Pede aja napa Al.” Oi sedikit dibuat kesal karena semangat Al sedikit down.
“Kelemahan kamu di situ, kurang pede. Padahal mungkin Eri nggak bermaksud bikin mental kamu down dengan sengaja datang ke sini. Tapi, kamu sendiri yang merasa lebih rendah dari dia. Masalahnya di kamu, Al. Jadi, kamu yang harus mengatasinya.” Jia turut menyerang Al.
“Gini lho, kamu ya kamu, dia ya dia. Kalian emang beda. Mau diapain juga nggak akan sama. Jadi, banggalah sama diri kamu sendiri. Di mataku, penampilanmu itu sempurna Al.” Aning turut buka suara, memberi dukungan.
Al menatap satu per satu temannya. Rina, Lila, Jia, Nurul, Aning, dan Oi. Ia merasa terharu karena perhatian mereka. “Makasih ya. Maafin aku yang rapuh ini.”
“Pede aja! Ingat, Mbak Mey ngawasin kita. Mata Mbak Mey ada di tangan Arwan lho!” Oi merangkul Al.
Al tersenyum dan menyikut Oi.
“Hey! Bentar lagi giliran Eri. Kalian mau ngintip?” Rifqi melongok dari pintu.
“Aku penasaran!” Jia bergegas bangkit dari duduknya dan keluar.
“Yuk! Yuk kita dengerin Eri nyanyi apa!” Oi menarik Al agar berdiri.
Al pun bangkit dari duduknya. Lalu, pergi ke aula untuk mendengarkan penampilan Eri. Aula terletak di depan kelas XI-IPA2, hingga tak butuh waktu lama bagi Al dan teman-temannya untuk mencapai aula.

Karena tak bisa masuk, Al dan teman-temannya berkumpul di dekat pintu masuk aula sebelah barat sisi utara aula. Eri menyanyikan lagu Stay The Same milik Joey McIntyre. Walau suaranya tak begitu merdu, tapi Eri menyanyi dengan lantang. Bahkan nada tinggi dari lagu itu bisa ia bawakan dengan baik. Lagi-lagi Al merasa kerdil.
Ketika keluar dari aula, Eri menyunggingkan senyum. Mencibir Al dan teman-temannya yang berkumpul di dekat pintu masuk aula. Setelah itu ia pergi bersama Diana yang menemaninya hari itu.
Usai penampilan Eri, Al dan teman-temannya tak memilih kembali ke kelas. Mereka bertahan di dekat pintu masuk aula untuk menunggu giliran tampil. Setelah tiga penampilan murid, nama Al dan Oi pun dipanggil.
Dengan gugup Al dan Oi masuk ke dalam aula. Di depan panggung berjajar beberapa meja tempat dewan juri memberi penilaian. Murid yang mengikuti audisi tampil di atas panggung di dalam aula.
Arwan menyiapkan dua kursi di atas panggung untuk Al dan Oi. Tadi di kelas Al dan Oi sempat berunding, bagusnya menampilkan lagu sambil duduk atau berdiri. Karena mengusung tema akustik, Al mengusulkan untuk tampil sambil duduk saja. Karena itu Arwan berinisiatif menyiapkan dua kursi di atas panggung. Sebelum turun dari panggung, Arwan tersenyum pada Al ketika gadis itu naik ke atas panggung.
Al membalas senyum Arwan. Lalu, ia berdiri di atas panggung berdampingan dengan Oi. Menghadap pada dewan juri yang duduk di balik meja di depan panggung. Di belakang dewan juri, anggota OSIS yang jadi panitia audisi berkumpul. Ada yang duduk di atas kursi plastik, ada yang berdiri. Arwan pun sudah berdiri di sana. Siap merekam penampilan Al dan Oi dengan kamera Meyra.
“Arwan jadi fansite kita hari ini.” Oi berbisik pada Al. Mendengarnya, Al pun tersenyum.
Ada empat guru yang bertindak sebagai juri. Ketua OSIS dan ketua MPK juga turut menjadi juri.
“Abrianna Alka Tunggadewi dan Oriana Namira Nadine. Jadi, tahun ini kelas XI-IPA2 mengirim dua perwakilan ya.” Ketua OSIS yang membuka obrolan antara juri dan peserta audisi. Siswa itu adalah teman seangkatan Al. Murid kelas XI-IPA1.
“Iya.” Oi berbicara namun lupa tak menggunakan microphone di tangannya. “Iya.” Ia pun mengulangi dengan mengangkat tangan kanan yang memegang mic.
“Namanya duo Al and Oi ya? Simpel, tapi bagus.” Ujar Pak Iskandar. Guru kesenian yang menjadi salah satu juri.
“Sebagai pembina PMR, saya bangga karena hari ini dua perwakilan kelas XI-IPA2 adalah anggota PMR. Lebih mengejutkan lagi karena itu Alka dan Oriana.” Pak Pri, guru Matematika yang juga pembina PMR memberikan dua jempolnya. Ia merasa bangga.
Saat kelas X, Pak Pri adalah wali kelas Al dan Oi. Selain itu, beliau adalah pembina PMR. Jadi, Pak Pri cukup akrab dengan Al dan Oi.
“Kenapa mengejutkan, Pak?” Pak Iskandar iseng bertanya pada Pak Pri.
“Alka dan Oriana ini cenderung pendiam, Pak. Mereka jarang aktif juga kalau dalam kelas. Di PMR pun sama. Melihat mereka maju ikut audisi, saya benar terkejut.”
“Begitu ya? Kalau saya sudah pernah mendengar Alka dan Oriana bernyanyi. Saat kelas X. Suara mereka bagus, hanya saja kalau nyanyi bisik-bisik. Yang bisa dengar hanya saya. Melihat mereka muncul di atas panggung, saya jadi penasaran.”
Al dan Oi kompak tersenyum mendengar obrolan dua guru yang pernah mengajar mereka. Keduanya tak menyangka dua guru itu memiliki kesan tersendiri pada mereka.
“Kalau boleh tahu, kalian akan menampilkan apa hari ini?” Tanya ketua MPK yang juga menjadi juri. Siswa itu juga teman seangkatan Al dan Oi. Murid kelas XI-IPS2.
“Kami akan menampilkan versi akustik dari tiga lagu.” Jawab Oi. Kali ini tak lupa menggunakan mic.
“Wah, tiga lagu ya?” Ketua MPK memeriksa kertas di depannya. “Oh! Lagu India dan lagu Korea?” Ia kembali menatap panggung.
“Iya.” Jawab Oi dengan senyum menghiasi wajahnya. “Kami suka India dan Korea. Karena itu, kami akan menyanyikan lagu dari apa yang kami sukai.”
“Mm, nyanyi ya. Tadi ada yang cover dance lagu Korea lho!”
Jee-na Jee-na,” Pak Agus, guru Sosiologi yang juga menjadi juri mengucapkan dengan hati-hati judul lagu India yang akan dibawakan Al dan Oi. “Benar begitu ya?”
“Iya, Pak.” Oi membenarkan.
Jeena Jeena, Whistle, dan Energetic.” Pak Agus menyebut tiga judul lagu yang akan dibawakan Al dan Oi. “Kalau boleh tahu ketiga lagu itu mengisahkan tentang apa?”
“Tentang rasa suka, rasa cinta pada seseorang. Intinya seperti itu, Pak.” Lagi-lagi Oi yang menjawab.
“Mm, begitu ya. Baiklah. Silahkan tampilkan pertunjukan kalian.” Pak Agus mempersilahkan Al dan Oi tampil.
“Terima kasih.” Oi berterima kasih. Lalu, bersama Al ia membawa kursi untuk sedikit lebih maju. Kemudian keduanya duduk berdampingan.
“Halo, kami adalah Al,” Al membuka penampilan.
“Dan, Oi.” Oi menyambung. “Hari ini kami akan membawakan tiga lagu versi akustik.”
“Selamat menikmati.” Al tersenyum. Walau berusaha rileks, ia masih terlihat gugup.

Genjrengan gitar pun mulai terdengar. Intro lagu Jeena Jeena mulai terdengar. Kemudian Al bernyanyi lebih dulu hingga separuh lagu. Selanjutnya gantian Oi yang bernyanyi. Bagian dan lirik yang dinyanyikan keduanya adalah sama.
Setelah Oi selesai bernyanyi, masih terdengar instrumen dari lagu Jeena Jeena yang kemudian terputus. Instrumen pun berganti menjadi genjrengan gitar untuk lagu Black Pink yang berjudul Whistle. Gantian Oi yang membuka penampilan bernyanyi. Disusul Al yang menyanyikan bagian Rose dan Lisa sekaligus. Dilanjut rap Jennie yang dibawakan Oi. Oi membawakan bagian rap dengan baik. Membuat para juri dan anggota OSIS yang menonton pertunjukan mereka takjub.
Usai Oi mengucap kata Hold up, lagu pun berhenti sejenak. Lalu, terdengar genjrengan gitar untuk lagu Wanna One yang berjudul Energetic. Oi kembali menjadi yang pertama bernyanyi. Kemudian disambung Al. Keduanya bernyanyi saling bergantian membawakan lagu Wanna One - Energetic versi gitat akustik.
Al dan Oi sangat menikmati penampilan mereka. Entah sadar atau tidak, tubuh keduanya bergoyang mengikuti alunan musik. Oi yang menyanyikan bagian rap kembali berhasil memukau juri dan anggota OSIS yang berada di dalam aula. Al yang berhasil membawakan nada tinggi pada part Jaehwan pun berhasil memukau orang-orang yang menonton pertunjukannya.
Al dan Oi berhasil menampilkan tiga lagu dengan baik. Tanpa kesalahan nada, pun tanpa lupa lirik seperti saat latihan. Juri dan anggota OSIS yang menonton segera memberikan tepuk tangan meriah ketika Al dan Oi selesai bernyanyi.
Di luar aula, teman-teman Al dan Oi pun turut bergembira. Mereka berhasil membujuk anggota OSIS yang menjaga pintu masuk aula hingga bisa mengintip pertunjukan Al dan Oi. Bahkan Jia berhasil masuk ke dalam aula karena beralasan akan memvideokan penampilan Al dan Oi. Jia mengatakan akan mengunggah penampilan itu ke Youtube. Karena alasan itu Jia diizinkan masuk ke dalam aula.
Dengan napas yang masih terengah-engah, Al dan Oi tersenyum saat menatap sambutan meriah di depan mereka. Oi meraih tangan kiri Al yang duduk di samping kanannya dan menggenggamnya. Al menoleh, ia tersenyum pada Oi dan membalas genggaman sahabatnya itu. Keduanya lega bisa tampil baik di panggung audisi.
***


[1] dandan
[2] Mengintip

 

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews