Fan Fiction FF

Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy

05:06

Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy
It's about rainbow, love, hate, glory, loyalty, betrayal and destiny.......
 
. Judul: “Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy”
. Author: shytUrtle_yUi
. Rate: Serial/Straight/Fantasy-Romance.
. Cast:
-                  Song Hyu Ri (송휴리)
-                  Rosmary Magi
-                  Han Su Ri (한수리)
-                  Jung Shin Ae (정신애)
-                  Song Ha Mi (송하미)
-                  Lee Hye Rin (이혜린)
-                  Park Sung Rin (박선린)
-                  Song Joongki, L,Joe Teen Top, L Infinite, Jung Daehyun B.A.P, Jo Jonghwan 100%, Baro B1A4, Jang Geunsuk, Yoo Seungho, Kim Sunggyu Infinite, Choi Joonghun FT.Island, Cho Kyuhyun Super Junior, and many other found it by read the FF.
 
 
...Ketika kau melihat pelangi, apa yang ada di benakmu? Tujuh warnanya yang indah atau...? Di sini, Wisteria Land, kami percaya jika pelangi adalah jelmaan sang Naga. Naga arif dan bijaksana yang selalu mengawasi dan menjaga tanah Wisteria Land. Naga yang pada suatu waktu muncul dengan keelokan wujudnya dengan tujuh warna pelangi. Apa kau juga percaya akan hal ini...?
***
 
Land  #13


               
                Kyuhyun mengembangkan senyum manis di wajahnya. Jonghoon pun membalas senyum.

                “Kebetulan sekali. Padat di sana-sini dan hanya satu meja ini yang tersisa,” Kyuhyun memulai dialog.

                “Beda berapa detik? Bukankah bersamaan?” respon Jonghoon.

                “Bagaimana kalau kita berbagi meja saja? Cukup adil kan?”

                “Apa kau merasa pantas?”

                “Di sini tak ada yang diperlakukan beda. Menurut perhitungan, aku lebih cepat satu detik darimu.”

                Sungrin risih. Tapi ia tahu Kyuhyun tak akan menyerah begitu saja. Terlebih ia pun tahu Kyuhyun unggul satu detik dari Jonghoon. Sementara Hyerin tetap bersikap dingin. Tiba-tiba Kyuhyun dan Jonghoon tertawa bersama usai bersitegang membuat Hyerin dan Sungrin heran.

                “Mengejutkan, tapi senang bisa berjumpa denganmu di sini, Hyung,” nada bicara Jonghoon lebih bersahabat.

                “Ah, kita membuat gadis-gadis ini bingung. Ayo duduk!” Kyuhyun mempersilahkan. Ia menarik kursi untuk Sungrin duduk. Jonghoon juga melakukan hal yang sama untuk Hyerin. Keempatnya pun duduk berhadapan di meja yang sama.

                “Ritual kencan di Sabtu malam berlaku juga pada anggota Reed?” Jonghoon kembali memulai obrolan.

                “Kebetulan luang Sabtu ini. Aku pikir kencan anak para menteri di tempat mewah, bukan mall seperti ini,” balas Kyuhyun.

                “Apa hebatnya tempat mewah? Jadi ini kekasih dari Reed dengan nilai tes tertinggi?”

                “Nee. Ini kekasihku, Park Sungrin,” Kyuhyun sembari merangkul Sungrin. “Dia bersekolah di Hwaseong Academy juga.”

                Hyerin melirik Sungrin. Masih dengan sinis.

                “Dan inikah Nona Lee Hyerin? Ah, kalian pasangan yang sempurna,” puji Kyuhyun.

                “Nee. Ini gadis terbaikku, kekasihku,” Jonghoon tersenyum bangga menatap Hyerin. “Kalian pun sama. Terlihat serasi. Sempurna.”

                “Tunggu! Kalian ini saling kenal?” sela Hyerin.

                “Nee. Kami bertemu saat ujian negara untuk seleksi masuk Reed. Cho Kyuhyun Hyungnim peraih nilai tes tertinggi,” terang Jonghoon.

                “Oh, begitu. Maaf. Aku hanya merasa heran, bingung melihat kalian tiba-tiba begini akrab.”

                Sungrin bungkam. Duduk sebagai pendengar sambil menikmati hidangan di depannya. Sebenarnya ia merasa tak nyaman harus duduk berbagi meja dengan dua pesohor di sekolahnya ini. Beberapa saat kemudian Sungrin pamit pergi sejenak.

                Melihat Sungrin menuju toilet, Hyerin turut pamit. Buru-buru menyusul Sungrin.
***

                Hyerin dan Sungrin bersanding mencuci tangan di wastafel di toilet. Sungrin tertunduk, fokus mencuci kedua tangannya. Sedang Hyerin memperhatikan bayangan Sungrin di dalam cermin.

                “Park Sungrin, ternyata itu kau,” Hyerin memecah kebisuan.

                Sungrin tetap tertunduk bungkam. Mempercepat proses pencucian kedua tangannya.

                “Aku dengar kala itu kau memberi dukungan pada Rosmary Magi ketika ia memojokan Yang Mulia Tuan Putri di kelas,” lanjut Hyerin.

                Gerak tangan Sungrin berhenti. Ia mematikan kran dan mengeringkan tangannya. “Maaf, aku meralatnya. Bukan memberi dukungan, tapi mengungkapkan keberatan yang sama. Iya, bisa diartikan memberi dukungan bagi sebagian orang.”

                “Sepertinya kau mengenal gadis-gadis itu dengan baik.”

                “Kaum minoritas hanya bisa bergaul dengan kaum minoritas. Bukankah demikian peraturannya? Kami telah mematuhi hal itu ketika nasib mempertemukan kami di kelas yang sama di Hwaseong Academy.”

                “Karena ulahnya, gadis itu menjadi sorotan di sana-sini. Berada dekat dengannya tak akan membuatmu aman. Walau Yang Mulia Tuan Putri menepis tuduhan intimidasi, bukan berarti istana mendiamkan hal ini. Sebaiknya kau menjaga jarak agar posisimu aman.”

                “Apa ini ancaman?” Sungrin menghadap Hyerin sepenuhnya kini. Menatap kakak seniornya itu tanpa ragu.

                “Hanya mengingatkan. Demi keselamatanmu sendiri. Di samping pengawasan istana, kau pasti tahu bagaimana reaksi murid lain yang menolak keberadaan mereka bukan?”

                “Hanya mengingatkanku? Sedang Sunbaenim tahu jika diam-diam Tuan Putri juga menaruh perhatian. Apa ini yang menjadi kekhawatiran kalian? Kalian para kaum mayoritas yang berkedudukan.”

                Hyerin geram. Hanya bisa diam menatap Sungrin yang penuh percaya diri.

                “Setiap kaum punya cara sendiri untuk mengatasi masalah mereka. Walau yang berkuasa selalu menindas, kaum lemah, kaum minoritas tetap punya cara untuk bertahan. Daripada memberi peringatan padaku, bukankah sebaiknya Sunbaenim memberi peringatan pada rekan-rekan Sunbaenim itu? Padahal Sunbaenim punya kuasa untuk menghentikannya. Atau mungkin benar ingin  menikmati situasi ini? Kalau begitu mari kita bersama-sama menikmatinya dalam wilayah masing-masing. Tanpa harus memberi peringatan satu sama lain. Pada dasarnya ini hanya permainan mereka. Kita hanyalah penonton,”  Sungrin tersenyum tipis lalu berjalan keluar toilet.

                Hyerin kesal. Ia menghentakan kedua kakinya lalu menyusul langkah Sungrin keluar toilet.
***
               
                “Kau banyak diam. Pasti kesal dengan perjalanan kali ini,” Kyuhyun memulai obrolan saat berjalan pulang.

                “Ini dia kekasihku? Oppa apa maksudnya? Terlebih di depan dua senior pesohor di sekolah. Apa Oppa sudah dengar semua tentang kejadian di sekolah belakangan ini? Benar kami diawasi? Oppa tak perlu khawatir tentangku hingga harus mengakui aku sebagai kekasih dengan harapan Choi Jonghoon Sunbaenim yang mengenal Oppa mau memberiku suaka perlindungan.”

                Kyuhyun tersenyum kecil. “Kesalmu bukan karena sebutan kekasih itu kan? Dia tiba-tiba menyusulmu ke toilet. Ada sesuatu yang ia sampaikan?”

                “Lupakan saja.”

                Kyuhyun menarik bahu Sungrin membawa gadis itu menghadap lurus padanya. Kyuhyun memperhatikan dengan seksama wajah gadis cantik di hadapannya. “Aku melihat kemarahan berapi-api di matamu. Ada apa sebenarnya?”

                Sungrin tersenyum manis. “Semua baik saja Oppa. Mianhae membuat Oppa khawatir.”

                “Dasar moody!” olok Kyuhyun.

                “Hehehe,” Sungrin terkekeh.

                “Kau tak mau menjadi kekasihku?”
               
                “Nee...?” Sungrin merasa salah dengar. Sejenak kemudian Sungrin kembali tersenyum. Walau terkesan malu-malu dan kaku. “Hentikan candaan ini Oppa.”

                “Kau tak mau? Atau tak percaya? Selama ini kau pikir kau hanya adik bagiku?”

                “Bukan begitu, Oppa. Tapi…”

                Kyuhyun menangkup wajah Sungrin dengan kedua tangannya lalu mengecup lembut kening Sungrin. “Aku menyukaimu lebih  dari rasa suka seorang kakak pada adiknya. Apa ini salah? Kau tak suka? Kau memiliki tambatan hati yang lain?”

                Sungrin terdiam dengan wajah masih berada dalam tangkupan kedua tangan Kyuhyun. Ia merasakan jantungnya berdetub begitu kencang bertatapan begini dekat dengan Kyuhyun.

                “Apa artinya diam ini, Sungrin~aa…”

                “Oppa… aku… aku…”

                Kyuhyun mengecup cepat bibir pink Sungrin.

Sungrin terkejut menerima perlakuan Kyuhyun. Ia terdiam.
Kyuhyun melepas kecupannya, tersenyum menatap lembut Sungrin. “Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Aku mencintaimu, Park Sungrin,” bisik Kyuhyun. “Apakah kau marah padaku? Ini yang membuatmu kesal?”

Sungrin hanya bisa menggeleng.

Kyuhyun tersenyum lalu mendekap Sungrin dalam pelukannya sembari mengelus lembut rambut panjang Sungrin.

Sungrin pun tersenyum. Nyaman dalam pelukan hangat Kyuhyun.
***

Minggu pagi yang cerah. Suri sengaja bangun lebih awal di hari libur ini. Semalam ia sudah merencanakan hal ini bersama Hyuri. Setelah membasuh muka, Suri membangunkan Hyuri. Menggoyang pelan badan Hyuri.

“Ck! Anak ini! Kau akan menyesal Song Hyuri. Padahal ini kesempatan baik untuk berkeliling kastil,” Suri ngomel sambil menatap Hyuri yang lelap dalam tidurnya. “Baiklah. Aku pergi!” Suri menyambar baju hangatnya dan keluar kamar.

Saat Suri berjalan menuruni tangga, Baro muncul dari lorong sisi kanan di bawah tangga. Keduanya saling menatap. Baro tersenyum manis menyambut Suri.

“Selamat pagi,” sapa Baro ramah. “Bangun sepagi ini di hari Minggu?”

“Sayang kalau bangun siang. Menikmati pemandangan di sekitar kastil ini pasti menyenangkan. Baro-ssi...”

“Panggil saja Baro,” potong baru.

Suri tersenyum sungkan dan mengangguk paham.

“Aku akan ke hutan,” kata Baro.

Suri melotot. Menatap tak paham pada Baro.

“Mencari kayu bakar.”

“Hutan...? Kayu bakar...?”

Baro tersenyum kecil. “Penasaran sekali. Apa sebaiknya aku mengajakmu pergi?”

Suri lebih terkejut mendengar ajakan Baro. Haruskah ia menerima ajakan ‘manusia berbulu seperti serigala’ ini?  Suri terdiam antara takut dan penasaran.
***

Akhirnya Suri memutuskan pergi bersama Baro. Ia mengikuti langkah Baro menuju bagian belakang kastil untuk menuju hutan yang dimaksud. Sesampainya di belakang kastil, Suri menemukan satu bagian dari kastil  yang baru pertama kali ini ia melihatnya. Saat Magi memperkenalkan kastil ini padanya, Suri tak melihat sisi ini.

“Baro-ssi, itu apa?” tuding Suri pada salah satu sudut tembok yang ditumbuhi bunga Wisteria ungu yang menjulang tinggi hingga ke dekat jendela sebuah ruangan di lantai atas.

“Itu kamar Nona Besar,” jawab Baro seraya tersenyum.

“Magi...?”

“Nee.”

“Menghadap bagian belakang kastil? Itu sayap kanan kan?”

“Nee.”

“Hah. Dia itu benar berselera tinggi. Pastilah sangat menyenangkan ketika membuka jendela di pagi hari sudah disambut wangi bunga Wisteria. Lalu hamparan pemandangan indah ini,” Suri melayangkan pandangan ke kebun di bagian belakang kastil penuh kekaguman. “Pantas saja ia selalu ceria. Pagi yang menyambutnya sudah mengatur mood-nya dengan baik.”

Baro hanya tersenyum menanggapi ocehan Suri dan kembali berjalan memimpin. Beberapa langkah berjalan, Baro kembali menghentikan langkahnya.

“Itu juga tempat favorit Nona Besar,” tuding Baro pada sebuah gazebo dengan empat tiang kayu yang dililit tanaman Wisteria ungu hingga menjulang ke atap gazebo.

“Woa...” Suri terkesima. “Wisteria lagi? Magi suka sekali bunga Wisteria?”

“Sudah seperti ini sejak kami bersama-sama datang dan tinggal di kastil ini.”

“Bunga Wisteria dimana-mana, apa karena kita tinggal dan hidup di Wisteria Land?”

“Salah satunya iya. Bunga Wisteria adalah simbol keteguhan hati dan kepercayaan. Dengan adanya bunga Wisteria Land di hampir seluruh wilayah kastil ini adalah agar kita selalu ingat dimana kita berpijak, di Wisteria Land dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar negeri ini yang semakin kemari semakin luntur.”

“Magi yang mengatakan itu semua?”

“Ini diajarkan pada kami secara turun temurun oleh Tuan Besar, mendiang kakek Nona.”

Suri tertunduk. Merenungi ulasan yang baru saja disampaikan Baro. “Miris memang, mendapati negeri kita sekarang ini. Korupsi dimana-mana dan tak mempedulikan rakyat yang menderita.”

“Itu urusan mereka dan tanggung jawab mereka pula,” Baro kembali berjalan. “Lakukan apa yang menurutmu benar untuk dirimu dan lingkunganmu. Jangan memusingkan diri dengan pemerintahan. Tak ada untungnya.”

“Kau benar, Baro-ssi,” Suri tersenyum lebar.
***

Usai menyusuri kebun belakang kastil yang sangat luas, keduanya sampai diujung terjauh dari kastil Asphodel ini. Suri kembali dibuat terkesima. Kastil ini dilindungi tembok usang yang menjulang tinggi penuh keangkuhan. Dari sini terlihat urutan tembok ini membentengi seluruh kastil. Tembok yang menegaskan penjagaan ketat pada siapapun yang berada di dalam kastil ini.

Suri masih berjalan di belakang Baro yang kemudian berhenti di depan sebuah pintu pagar besi di tengah kokohnya tembok pelindung kastil. Tak setinggi di bagian depan kastil namun sama-sama lusuh dan angkuh. Suri mengusuk tengkuknya yang bergidik. Ia buru-buru menyusul Baro yang sudah berdiri dekat di depan gerbang dan sibuk membuka gembok berantai yang mengunci rapat gerbang ini.

Baro membuka pintu pagar besi itu. Setelah pintu itu terbuka Suri tak bisa melihat apa-apa kecuali kabut tebal di sana-sini. Semakin bergidik dibuatnya. Baro tersenyum dan mengulurkan tangan pada Suri. Suri terkejut menatap Baro. Baro masih tersenyum menatap Suri dengan tangan terulur. Perlahan Suri menggerakan tangan kanannya meraih uluran tangan Baro. Baro tersenyum manis dan menggenggam tangan kanan Suri, menuntunya berjalan melewati pintu pagar besi yang telah terbuka seluruhnya. Suri memejamkan mata ketika Baro membawanya menembus kabut tebal dan melewati pintu pegar besi itu.

“Buka matamu,” suara lembut Baro menyentuh telinga Suri yang masih berdiri memejamkan mata.

Di sini hawa di sekitar Suri terasa lebih hangat. Perlahan Suri membuka kedua matanya. “Woa...” Suri terkagum-kagum berjalan gontai mengamati sekelilingnya.

Danau nan tenang terhampar indah di depannya. Pepohonan hijau dan rindang, suara kicuan burung dan sinar hangat mentari yang menembus rimbunya hutan ini. Suri tersenyum lebar. Benar-benar sejuk,, damai dan indah. Melihat eksprei penuh kekaguman Suri, Baro tersenyum manis.

“Baro-ssi, apakah aku sedang bermimpi?” bisik Suri.

“Apa perlu aku mencubitmu?” Baro balik bertanya.

Suri kembali tersenyum lebar. ‘Ini surga, benar kan? Mirip seperti dalam film Heavenly Forest yang aku tonton tempo hari dan sekarang aku di sini. Demi Naga sang Pelindung Wisteria Land, ini benar-benar nyata di negeriku.”

“Hanya berhenti di sini? Bukannya kau mau membantuku mencari kayu?” Baro mengusik kekhusyukan Suri yang sedang menikmati dan memuji indahnya hutan ini.

“Ah, maaf. Semua ini membiusku. Ayo! Kita mulai darimana?”

“Kaja!” pimpin Baro.


Suri mengikuti langkah Baro yang terus berjalan entah membawanya kemana. Suri benar-benar menikmati perjalanan ini. Berkeliling di tengah hutan indah ini. Lama berjalan barulah Suri menyadari jika ia telah berada jauh dari kastil. Jauh dari Hyuri. Jauh dari Magi. Hanya berdua dengan ‘manusia berbulu seperti serigala’. Mendadak Suri merasa ngeri. Kembali bergidik. Baru ia menyadari jika Baro hanya mengajaknya berjalan entah kemana namun tak sekalipun memungut ranting atau mematahkan ranting pohon untuk dijadikan kayu bakar. Pikiran buruk menyusup ke dalam benak Suri. Ia teringat bagaimana ekspresi keberatan keluarga Magi ketika ia datang bersama Hyuri malam itu.

“Tunggu! Kita ini mau kemana?” Suri menghentikan langkahnya. “Kau mengatakan kita akan mencari kayu, tapi kita hanya berjalan saja sejauh ini.”

Baro menghentikan langkahnya. “Untuk apa mencari kayu? Sudah ada yang menyediakannya untuk kami tanpa harus bersusah payah mencarinya.”

Suri terbelalak. “Ap-apa maksud Anda, Baro-ssi!?” Tiba-tiba Suri merasa takut. Tubuhnya gemetaran. Terlebih ketika Baro membalikan badan dan menatapnya.

Baro menyadari perubahan ekspresi Suri. “Kau kenapa? Han Suri-ssi?”

“Akan kau bawa kemana aku? Apa sebenarnya tujuanmu?!” tegas Suri sedikit membentak.

“Kau berpikir buruk tentangku?” wajah polos Baro ini kembali muncul.

Suri meragu. Pemuda ini tampak begitu polos. Bagaimana ia bisa berpikir buruk tentangnya?

“Aku tak bermaksud membuatmu takut. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu. Letaknya tak jauh lagi dari sini. Sebentar lagi sampai. Sebentar lagi,” Baro dengan wajah mengiba.

Suri masih terdiam. Perlahan rasa takutnya mulai sirna. Namun masih ada sedikit was-was merubungnya.

“Han Suri-ssi tak percaya padaku?”

Melihat ekspresi memelas Baro membuat Suri luluh. “Mianhae. Aku pasti benar menyinggung perasaanmu Baro-ssi.”

Baro tersenyum, “Itu wajar. Karena penampilanku yang bak serigala ini. Tak apa,” ucapnya menenangkan. “Masih ingin lanjut atau sebaiknya kita kembali?”

“Sudah sejauh ini, aku penasaran pada apa yang ingin kau tunjukan padaku hingga nekat membawaku sejauh ini.”

Baro tersenyum lebar. “Ayo! Ayo! Sebentar lagi sampai!” ajaknya penuh atusias.

Suri tersenyum kembali berjalan mengikuti Baro.

Sesuai yang Baro janjikan, tak lama kemudian keduanya sampai di sisi danau yang lain. Di sini lebih terang, lebih lapang. Jauh dari pepohonan rindang. Suri merasakan kebebasan di sini. Ia menghadap danau, merentangkan kedua tangannya sambil menutup mata. Merasakan semlilir angin musim semi di pagi ini.

“Indah sekali. Kamsahamnida Baro-ssi,” Suri tersenyum tulus pada Baro.

“Kemarilah sebentar,” panggil Baro yang berdiri tak jauh dari Suri.

Suri menurut saja. Berjalan mendekati Baro.

“Ini yang ingin aku tunjukan padamu,” Baro menggeser tubuhnya.

Suri terbelalak. Kedua matanya berbinar mendapati segerombol tanaman mawar liar. Ia menghampiri tanaman itu. Berlutut di dekatnya. Menatapnya riang. Teramat senang. “Eglantine Rose...” bisik Suri sembari mengelus lembut kelopak pink salah satu bunga mawar liar di hadapannya itu. Suri tersenyum kagum menatap bunga-bunga kecil berwarna pink itu.

“Sekali lagi, terima kasih banyak Baro-ssi,” Suri masih berlutut di depan gerombolan bunga mawar liar berwarna pink itu.

“Aku heran. Aku rasa mereka mekar terlalu cepat. Apa karena kehadiranmu?”

Suri tersenyum tersipu.
***

Baro dan Suri kembali dari jalan-jalan pagi di hutan. Suri menghentikan langkahnya, berdiri diam menatap gazebo yang berhiaskan bunga Wisteria ungu di empat pilar kayunya yang menjulang hingga ke atap gazebo. Magi duduk bersila di dalam gazebo. Kedua mata Magi terpejam. Magi sedang bermeditasi ditemani dupa menyala tak jauh darinya duduk bersila. Suri berdiri diam mengamatinya.

Selalu ada rasa itu, sungkan dan penasaran ketika Suri bertemu Magi dalam penampilan ini. Penampilan Magi yang sebenarnya. Bukan Magi berambut oranye dan berkepang dua melainkan Magi berambut cokelat bergelombang itu. Ada pesona dan wibawa yang begitu besar dirasakan Suri dari penampilan asli Magi. Bahkan ia merasa harus sangat berhati-hati ketika bertutur di hadapan Magi yang berpenampilan asli. Seperti bagaimana Sungjeong dan Baro bersikap. Suri tak tahu mengapa ia merasa demikian. Masih ia cari jawaban dari apa yang ia rasakan itu.

Suri tersentak. Sadar dari lamunannya sembari menatap Magi ketika Magi tiba-tiba membuka mata dan tersenyum padanya. Magi tersenyum dan menganggukan kepala, memberi isyarat agar Suri mendekat. Suri paham dan berjalan mendekati gazebo.

“Berminat duduk bergabung?” Magi menawari dengan suara lembut dan nada bicara rendah.

Lagi-lagi Suri dirubung rasa sungkan itu.

“Perjalanan pagi ini apakah menyenangkan?” tanya Magi berikutnya. Masih dengan lembut dan sopan.

“Nee. Sangat menyenangkan,” Suri masih bertahan berdiri.

“Baro mengatakan bunga Eglantine Rose di hutan mekar lebih cepat dari perkiraannya. Ia mendapatkan info tentangmu setelah kau datang malam itu. Kau dan nama Eglantine itu. Semalam ia meminta izin padaku ingin mengajakmu jalan-jalan ke hutan melihat bunga itu. Ternyata pagi ini kalian telah memperoleh kesempatan itu. Sungguh tak terduga. Begini cepat jodohmu bertemu bunga cantik itu.”

“Benar-benar indah. Aku senang sekali. Terima kasih. Kalian benar-benar memberiku perhatian.”

“Itu Baro, bukan aku.”

Suri hanya tersenyum. Ia benar-benar dibuat tak mampu bertindak cerewet seperti biasa di depan Magi dengan penampilan asli ini. Suri kembali mengamati Magi. Ia tetap terlihat cantik di balut kimono serba putih pagi ini.

“Kau sudah kembali rupanya,” sela Sungjeong yang baru sampai di gazebo.

“Selamat pagi, Sungjeong-ssi,” sapa Suri seraya sedikit menundukan kepala.

“Sarapannya sudah siap. Song Hyuri bertanya tentang keberadaanmu. Sebaiknya kau segera menemui temanmu itu,” Sungjeong ketus.

“Oh , iye,” Suri kembali menunduk sopan.

“Nanti malam, kita minum teh bersama di sini. Bagaimana Suri?” tanya Magi.

Suri bingung menatap Magi lalu Sungjeong.

Magi tersenyum, “Sampaikan pada Hyuri karena aku tak akan sarapan di meja makan pagi ini,” pintanya.

“Oh, nee. Aku permisi pergi,” pamit Suri  kemudian bergegas pergi.

“Setelah matahari terbenam, pastikan semua berkumpul di sini. Tanpa terkecuali,” Magi mengulang titahnya pada Sungjeong.

“Iya, Nona.”
***

“Mwo...? Hutan...? Di belakang kastil...?” Hyuri saat mendengar Suri bercerita usai sarapan pagi.

“Em. Hutan yang indah dan luas. Aku sudah membangunkanmu, tapi kau tak merespon. Kau sendiri yang ingkar janji.”

“Kastil ini berada di perbatasan, hampir tak terjamah, wajar jika ada hutan di belakang sana.”

“Lalu kenapa kau tadi begitu terkejut? Hutan perbatasan mayoritas didominasi satu jenis tanaman, yang aku temui tadi sangatlah berbeda. Ada danau nan indah. Benar-benar seperti surga.”

“Memangnya kau pernah ke surga?”

“Ih! Kau pernah nonton film Jepang Heavenly Forest?”

“Hah! Dasar otak pecandu film!”

“Gambaran hutan yang baru aku kunjungi pagi ini, mirip dalam film itu. Di sini lebih indah. Mungkin karena real. Seperti bermimpi ketika mataku terbuka dan melihatnya,” mata Suri berbinar kembali mengingat bagaimana ia tiba di hutan pagi ini.

Hyuri menghela napas. “Apa benar itu hutan tak terjamah?”

“Sebelumnya iya,” sahut Nichkhun yang tiba-tiba muncul dan berjalan mendekat. Menghampiri Suri dan Hyuri yang sedang ngobrol di dekat Wisteria Tunnel. “Kawasan ini juga hutan itu adalah kawasan terlarang sebelumnya. Hingga kalian datang malam itu bersama adikku, Magi. Aku heran bagaimana ia bisa begitu tersentuh pada apa yang menimpa kalian.”

“Kami tahu ini sangat membebani. Kami hanya menumpang sementara. Setelah mendapatkan tempat tinggal, kami akan segera pergi dari sini.” Tegas Hyuri.

“Baguslah. Aku harap itu terwujud secepatnya.” Nichkhun kemudian berjalan pergi.

“Hah... sepertinya hanya Magi yang tak keberatan kita berada di sini. Atau dia juga terpaksa?” Suri setelah Nichkhun pergi.

“Kau pun curiga padanya?” Hyuri menatap serius pada Suri.

“Tidak sih. Sorot matanya itu tulus. Kenapa mereka membentengi Magi sedemikian rupa?”

“Kau penasaran pada Magi?”

“Makin. Kau tahu aku begitu... begitu sungkan ketika harus berhadapan dengan Magi asli. Maksudku Magi yang di sini. Magi yang sebenarnya. Bukan Magi berambut oranye dan berkepang dua di sekolah. Kau juga?”

“Sedikit.”

“Menurutmu semua ini janggal...?”

Hyuri hanya diam. Berpikir.
***

Baro, Nichkhun, Magi, Myungsoo dan Sungjeong duduk berkumpul di gazebo beberapa menit setelah matahari terbenam. Beberapa saat kemudian Hyuri dan Suri datang. Magi mempersilahkan keduanya duduk bergabung. Hyuri dan Suri menatap kagum pada Magi yang malam ini terlihat cantik dan anggun dalam balutan hanbok berwarna peach.

Magi tersenyum melihat Hyuri dan Suri canggung duduk bersama seperti ini. “Ini kebiasaan dalam keluarga kami. Setelah matahari terbenam sempurna, sekali dalam seminggu kami duduk berkumpul di sini menikmati teh lotus.” Terang Magi lembut.

“Teh lotus....? Bukankah hanya para bangsawan yang meminum teh ini?” Batin Suri.

Hyuri diam melirik Myungsoo yang tetap seperti itu. Seperti pertama kali ia melihat pemuda itu. Duduk dengan kepala sedikit tertunduk. Tatapannya lurus ke bawah. Tepat di depan ia duduk. Walau tak ada apa pun di meja di depannya, namun Myungsoo tetap fokus menatapnya. Diam seperti itu. Sepertinya tak akan berubah hingga seseorang memerintahnya untuk beranjak.

Magi kembali tersenyum menyadari perhatian Hyuri terfokus pada Myungsoo. “Kim Myungsoo selalu demikian. Sesungguhnya ia sangat tak nyaman berada bersama orang asing. Makanya sesekali ia tampak gusar dalam duduknya.”

Hyuri tersenyum sungkan dan segera megalihkan pandangan.

“Malam ini aku menyajikan teh kamelia sinesis untuk kita nikmati bersama. Aku sendiri yang menyeduhnya,” imbuh Magi.

“Karena ada kami jadi teh lotus tak jadi disajikan. Karena kami bukan bangsawan. Ah, Magi itu bangsawan? Eum, tapi sekarang ini teh  lotus bisa didapatkan dengan sedikit membayar mahal,” Suri masih bergumam dalam hati.

Magi mengaduk-aduk teh dalam wadah besar di depannya. Cawan keramik besar khas para bangsawan menyeduh teh. Lalu menuangkannya pada cangkir-cangkir kosong dengan jumlah sesuai dengan orang yang duduk berkumpul di gazebo ini.

“Semua peralatan ini khas bangsawan. Apa mungkin dia masih keturunan bangsawan?” Suri bergumam dalam hati penuh telisik tentang Magi.

Sungjeong membantu Magi membagikan cangkir-cangkir berisi teh kamelia hangat pada setiap orang yang duduk berkumpul di gazebo ini.

“Kalian betah kan tinggal di sini? Tempat aneh ini? Maaf, ini semua pasti membuat kalian tak nyaman.” Magi bertutur sopan.

“Aniya. Di sini amat menyenangkan,” sahut Suri.

Nichkhun dan Sungjeong kompak menatapnya tajam. Suri segera menarik senyumnya. “Tapi, kami tak akan lama-lama di sini. Setelah uang kami terkumpul dan kami mendapat tempat tinggal, kami akan pergi,” Suri menyanggupi.

“Selama belum mendapatkan semua itu, aku harap kalian betah di sini,” Magi seraya tersenyum manis.

Suri tesenyum sembari mengangguk pelan. Rasa sungkan itu muncul lagi. Ia kembali tertunduk tak kuasa beradu pandang dengan Magi.
***
Hoya mengamati daftar peserta baru club botani . Peminat club botani tahun ini kembali mengalami penurunan. Hoya menghela napas. Mendesah. Miris merasakan penurunan jumlah peminat club yang ia ketuai ini.

Kening Hoya berkerut ketika ia sampai di halaman kedua. Ia menemukan nama Han Suri, Rosamary Magi dan Song Hyuri dalam daftar anggota baru club Foxglove club botani yang ia ketuai.

Hoya  menyimpan kertas berisi daftar anggota baru ketika rombongan anggota baru memasuki Rumah Hijau yang sekaligus menjadi basecamp club Foxglove. Miris memang. Club Foxglove hanya mendapatkan rumah kaca ini sebagai tempat kegiatan dan basecamp.

“Selamat datang, selamat bergabung dalam club Foxglove. Club botani atau club agraria di Hwaseong Academy ini. Sampai detik ini, di sinilah basecamp kita. Kami sedang mengajukan pembangunan kantor basecamp untuk club Foxglove, namun belum kunjung di acc. Alasan tentunya kalian tahu. Minimnya anggota club ini. Aku memberi tahu kalian dari awal seperti ini agar kalian tak merasa menyesal telah bergabung dalam club ini,” Hoya memberikan sambutan pada anggota baru.

“Aku Hoya, ketua club Foxglove. Aku harap tak ada yang satu pun dari kalian yang berniat mundur usai aku mengatakan kebenaran miris tentang club yang kalian pilih ini. Golongan mayoritas menyebut club kita ini club buangan. Setelah mendengar ini semua apa ada yang berniat mundur?” lanjut Hoya.

Semua anggota baru saling berbisik. Entah kebetulan atau memang sengaja, Seungho dan Jonghwan juga memilih bergabung club Foxglove bersama Magi, Suri dan Hyuri. Siang ini saat jam istirahat seluruh anggota baru diundang datang ke Rumah Hijau untuk menerima sambutan dan pengarahan singkat dari pengurus club Foxglove.

“Tak ada yang mundur?” tanya Hoya mengamati anggota baru. Beberapa rekannya pun melakukan hal yang sama. “1... 2... 3... Ok! Kalian semua ingin tinggal?”

“Ingi tetap tinggal di rumah para peri ini!” seru Magi penuh semangat. Sontak semua mata tertuju padanya. “Dalam dongeng, bunga Foxglove banyak digambarkan sebagai rumah peri kan?” Terang Magi menjawab tatapan heran rekan-rekannya.

“Ah, iya. Benar.” Hoya tersenyum lebar. “Mari kita belajar bersama-sama dalam club Foxglove ini. Jadilah peri-peri yang selalu bersikap ramah pada tumbuhan dan selalu menjaganya,”  Hoya kembali tersenyum, kali ini sembari melirik Magi.

Di akhir pertemuan, seluruh anggota baru diberi sebuah polibek yang berisi benih tanaman tertentu. Mereka diminta merawatnya. Memantau benih-benih itu tumbuh berkembang.
***

Magi, Hyuri, Suri, Seungho dan Jonghwan bersama meninggalkan Rumah Hijau dengan membawa polibek masing-masing. Mereka berjalan sambil ngobrol. Kelimanya terlihat akrab. Sesekali tertawa bersama sambil terus berjalan.

Suri berjalan mundur sambil berbicara menghadap keempat temannya yang berjalan di depannya. Saat berbalik, Suri tak sengaja menabrak seseorang hingga polibek di tangannya terjatuh. Suri terbelalak. Polibek milik Suri jatuh dan menimpa sepatu seseorang yang tak sengaja ia tabrak. Suri menatap iba polibek yang jatuh berantakan di tanah dan memuntahkan isinya termasuk benih tanaman milik Suri. Perlahan Suri mengangkat kepala. Suri kembali terperangah kaget mendapati sosok yang ia tabrak. Suri menabrak Jung Ilhoon, rapper Elroy, boyband kebanggaan Hwaseong Academy. Suri menggigit bibirnya menatap Ilhoon yang menatapnya tajam.

Ilhoon bersama keempat rekannya Daehyun, Yoseob, Woohyun dan Changjo berdiri berhadapan dengan Suri. Di belakang Suri berdiri Magi, Jonghwan, Hyuri dan Seungho. Ilhoon dan rekan-rekannya menatap sinis kelima junior mereka ini.

“Jeosonghamnida, jongmal jeosonghamnida, Sunbaenim,” Suri membungkuk hingga 90© di depan Ilhoon dan kawan-kawannya.

Ilhoon tak menjawab. Ia menendang polibek milik Suri yang terjatuh menimpa kaki kanannya hingga benih yang tertanam dalam polibek itu terlempar keluar.

Suri melotot kaget melihat Ilhoon menendang polibek miliknya hingga tanah dalam polibek itu makin berhambur keluar dan turut melempar benih yang tertanam di dalamnya keluar jauh dari dalam polibek yang tergeletak di tanah. Suri menatapnya dengan sedih namun tak berani memungut polibek itu.

“Temanku sudah meminta maaf, kenapa Sunbaenim menendang tanaman miliknya?” protes Magi. “Lekaslah meminta maaf. Tanaman itu tak bersalah. Ia tak sengaja jatuh menimpa sepatu Sunbaenim atau ia akan marah dan balik menyerang Sunbaenim.”

“Mwo...? Hagh! Kau mengancam?” Ilhoon mencibir.

“Hanya mengingatkan. Tanaman juga punya nyawa. Apa pun yang bernyawa pasti punya rasa.”

“Benar kan yang aku katakan. Kutukan sial itu benar-benar menghinggapi SMA Maehwa dan murid-muridnya,” komentar Daehyun seraya melirik sinis pada Hyuri. “Kita bertemu di sini dan kau sial,” Daehyun merangkul Ilhoon.

Hyuri hanya bisa diam dan menatap kesal pada Daehyun.

“Dia ini yang Sabtu kemarin diundang naik ke atas panggung kan?” Yoseob mengamati Magi.

“Iya, itu dia. Dia yang merapalkan mantra dalam film Hocus Pocus. Lumayan menghibur bukan?” Changjo membenarkan.

“Mereka ini... Sanderson Sisters. Ada baiknya kita menghindar,” saran Woohyun namun dengan nada meledek.

“Andai Sabtu kemarin mereka maju bersama, apa jadinya aula pertunjukan ya?” Yoseob dengan senyum yang sama. Senyum penuh cibiran untuk Suri dan kedua rekannya, Magi dan Hyuri.

“Tapi satu ini yang membuat kacau tali sepatu Flower Season Boys. Sebaiknya kau berhati-hati Ilhoon. Dia sudah memperingatkanmu,” imbuh Woohyun masih dengan ekspresi meledek.

“Hah! Polibek ini benar-benar membuatku kesal!” Ilhoon mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi. Siap menginjak polibek milik Suri dimana benih tanaman masih tersembul keluar tak jauh dari polibek.

“Andwae...” bisik Suri menggeleng.

Semua terkejut. Kaki kanan Ilhoon yang terangkat tinggi tertahan di udara. Tak bisa digerakan seolah ada yang memeganginya erat. Ilhoon tak bisa menggerakan kakinya.

Keempat rekan Ilhoon panik. Daehyun mengamati trio Maehwa. Tatapannya terhenti pada Magi. Gadis itu berdiri diam dengan tatapan tanpa ekspresi pada kaki kanan Ilhoon. Woohyun, Changjo dan Yoseob juga menyadari hal itu.

“Penyihir! Hentikan!” bentak Daehyun.

Tiba-tiba Ilhoon terjatuh seperti ada yang mendorongnya. Lebih tepatnya melepas pegangan pada kaki kanannya yang terangkat hingga membuat Ilhoon jatuh. Rekan-rekan Ilhoon membantunya sambil menatap sinis pada Magi yang tetap datar menatap mereka.
***
Gosip penyerangan yang dilakukan Magi pada Jung Ilhoon segera menyebar luas ke seluruh jagad Hwaseong Academy. Trio Maehwa, khususnya Magi kembali menjadi sorotan dan menjadi bahan obrolan murid lain.

Kepala Sekolah kembali dibuat pusing dengan kekacauan yang ditimbulkan murid pindahan dari SMA Maehwa itu. Sebentar lagi ia pasti mendapat telfon dari pihak istana untuk memastikan keselamatan Tuan Putri lengkap dengan khotbah panjang agar ia mengambil tindakan tegas pada murid pindahan itu. Tak lupa pula ancaman istana akan turun tangan jika Son Hyunjoo sang Kepala Sekolah tak berhasil mengatasi kenalakan murid itu. Hyunjoo segera memanggil Hyungbum, Shihoo dan Junki ke kantornya.

Magi tertunduk duduk di antara Hyuri dan Suri. Seungho dan Jonghwan sama-sama mengerutkan dahi usai mendengar penjelasan Magi.

“Sungguh bukan aku yang melakukannya. Tapi gadis itu. Gadis yang sama. Gadis yang juga mengacaukan tali sepatu Flower Season Boys Sunbaenim,” Magi mengulangi penjelasannya lagi. Ia menolak tuduhan tentang apa yang menimpa Ilhoon adalah ulahnya. “Ia muncul dan mengelus benih tanaman milik Suri. Saat Ilhoon Sunbaenim hendak menginjak  benih itu gadis itu menahan kaki kanan Ilhoon Sunbaenim lalu beberapa saat kemudian melepaskannya hingga Ilhoon Sunbaenim terjatuh. Tepatnya saat Daehyun Sunbaenim meneriakan kata penyihir. Aku menatapnya, meminta agar ia menghentikan itu semua namun ia tak menggubrisnya.”

“Itu kenapa terkesan seolah kau sedang memantrai Ilhoon Sunbaenim,” Jonghwan menarik kesimpulan.

“Ya! Kau percaya padanya?” Seungho sangsi.

“Entahlah. Aku pun tak tahu kenapa aku bertahan di sini menemanimu,” Jonghwan kembali menatap Magi.

“Itulah kejadian yang sebenarnya. Aku tak mengada-ada. Andai aku bisa membuat kalian untuk bisa melihat gadis itu juga. Sering ia mengikutiku belakangan ini,” Magi kembali bersuara.

“Kalaupun kami percaya, aku rasa tidak dengan yang lain,” komentar Seungho. “Sepertinya Kepala Sekolah dan tim Tata Tertib juga telah bersiap. Mereka hanya akan menganggapmu berkelit.”

“Hah... mampuslah aku,” Magi menutup muka dengan kedua tangannya.

Suri merangkulnya dan mengusuk lengan Magi.

Di tengah keseriusan ini tiba-tiba Hyuri tertawa terpingkal-pingkal membuat teman-temannya heran. Hyuri berusaha menghentikan tawanya. “Mianhae, mian,” Hyuri di sela tawanya yang sulit berhenti.

“Hyuri!” tegur Suri pada Hyuri yang mati-matian berusaha menghentikan tawanya.

“Mianhae. Tapi ini benar lucu sekali. Mianhae. Lihatlah. Sebenarnya kita ini tak sedang terasing, tapi sedang tenar. Menjadi tenar dan diamati oleh sasaeng fans kita. Ah, begini ya menjadi seleb itu.”

“Seleb dengan skandal besar!” protes Seungho.

“Apa pun itu, tapi cukup menarik bukan?”

“Benar juga. Walau tak nyaman juga,” Jonghwan membenarkan.

“Hah... aku buat kacau lagi. Aku menyusahkan kalian lagi,” Magi merebahkan kepala di atas meja kantin. “Kali ini mampuslah aku. Ini lebih parah. Sepertinya aku harus segera berkemas.”

“Magi...” Suri kembali merangkul Magi dan mengusuknya. “Tenanglah. Pada dasarnya bukan kau yang salah. Walau tak akan baik-baik saja, tapi aku yakin tak akan separah itu.”

“Aku bukan penyihir, sungguh aku bukan penyihir walau aku begitu menyukai film Hocus Pocus.” Magi masih dengan kepala tersandar di atas meja. “Benar kata Oppa, sebaiknya aku tak keluar atau akan membuat masalah dimanapun aku berada. Seperti sekarang ini.”

Semua diam. Merasa iba pada rintihan Magi namun sama-sama tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan gadis itu.
***
               
L.Joe mengamati Magi dan teman-temannya dari tempat ia duduk di kantin. Shin Ae yang duduk bersamanya turut mengamati meja Magi.

“Bukankah dia telah menolakmu, untuk apa terus memberinya perhatian walau hanya seperti ini?” tanya Shin Ae.

“Kenapa mereka tertimpa masalah bertubi-tubi seperti ini?” L.Joe balik bertanya.

“Karena tak ada yang menginginkan kehadiran mereka di sini.”

“Termasuk kau?” L.Joe beralih menatap Shin Ae.

“Sebaiknya kau jauhi gadis itu. Aku mengkhawatirkanmu. Ini tak akan berjalan baik.”

“Apa karena ia mantan murid SMA Maehwa? Karena dia penyihir?”

“Dia sudah menolakmu Lee Byunghun!”

“Kau juga mempercayainya? Jika ia penyihir?”

Shin Ae memilih bungkam.

“Peringatan ini apakah berarti kau tahu sesuatu tentangnya dan enggan membaginya denganku?” desak L.Joe.

Shin Ae masih bungkam.

“Aku tak yakin dia telah menolakku, Setidaknya itu belum pasti.”

“Jalan yang akan kalian lewati bersama tidaklah mudah. Aku mengingatkanmu sebagai sahabat. Mengesampingkan tuduhan penyihir itu. Aku tak banyak tahu tentangnya, entah dia itu penyihir atau apa. Tapi ini tak akan baik bagimu. Energi yang ia miliki terlalu kuat. Itu akan mengalahkanmu, Lee Byunghun.”

“Pernahkah kau merasakan apa yang aku rasakan padanya?”

“Nee...?”

“Rasa yang benar tak bisa dilukiskan dengan kata-kata pada seseorang. Perasaan sangat bahagia ketika kau melihatnya walau hanya sejenak. Rasa rindu yang menggebu saat ia jauh darimu. Saat dimana kau turut tersenyum ketika melihat senyumannya dan turut sedih saat kau melihatnya bermuram diri. Keinginan untuk selalu berada di dekatnya. Pikiran yang selalu dipenuhi oleh senyumnya, tingkahnya, tawanya, segala tentangnya. Jantung yang berdetub kencang ketika bertatap muka dengannya. Getaran yang tak tahu darimana asalnya ketika akan bertemu dengannya. Setiap kali mengingatnya, aku selalu tersenyum dalam kesepianku. Dia yang selalu hidup dalam pikiranku. Menyemangatiku. Menenangkanku. Semua ini baru kali ini aku rasakan, pada gadis itu,” L.Joe kembali menatap Magi, “Rosmary Magi,” bisiknya.

“Tahukah kau betapa senangnya aku ketika melihatnya berada di sini. Tapi sekaligus juga sedih karena aku tak mampu melindunginya. Melindungi gadis yang aku sukai. Lalu kau memintaku mundur sebelum aku melakukan apa pun untuknya?” L.Joe kembali menatap Shin Ae.

“Selama tiga bulan aku mengawasinya diam-diam. Tiba-tiba aku muncul dan meracau di depannya, bukankah wajar jika ia marah dan seolah menolakku? Itu karena aku belum memberikan bukti apa-apa padanya. Bukti nyata tentang apa yang aku ungkap padanya. Bukankah kau sendiri yang pernah mengatakan ini padaku, cinta itu tak sekedar kata-kata, cinta itu membutuhkan tindakan nyata. Aku rasa itulah kekurangan yang belum aku tunjukan padanya.”

“Lee Byunghun! Kembalilah pada kesadaranmu!”

“Aku 100% sadar Jung Shin Ae. Aku menghargai apa yang kau khawatirkan padaku. Terima kasih. Tapi maaf , aku tidak bisa mundur dari mengejar gadis ini. Dia yang pertama kali menggetarkan hatiku, karena itu aku akan mengejarnya.”

“Jika ia tetap menolak apa kau akan mengabaikan pikiran warasmu?”

“Sayangnya keyakinanku tak mengatakan sebuah penolakan. Jika itu terjadi, akan aku pikirkan nanti. Pasti ada jalan.”

“Byunghun-aa...”
***

                Snapdragon menutup penampilan mereka dengan membawakan cover sing My Lagan Love-The Corrs.

                Seorang pelayan mengetuk pintu ruang tunggu Snapdragon dan mengantar bingkisan untuk Magi. Songeun yang menerima bingkisan itu langsung membawanya pada Magi. Atas dorongan keempat onni-nya, Magi bergegas membuka kotak berukuran sedang itu. Magi menemukan sebuah pita berwarna oranye beserta sebuah jepitan rambut berbentuk kupu-kupu.

                “Klasik sekali. Si pengirim pasti ingin melihatmu mengenakan pita dan jepit rambut ini saat kau mengenakan hanbok,,” komentar Sori.

                “Ini bukan sekedar kekaguman, namun cinta sederhana dan tulus,” Songeun menimpali.

                “L.Joe?” Minchi membaca nama pengirim bingkisan itu. “Namanya L.Joe? Yang mana orangnya? Kalian tahu?” Minchi penasaran.

                Magi diam sejenak. Ia menyahut kotak sekaligus isi dan surat yang menyertainya dan bergegas pergi meninggalkan ruang tunggu. Keempat rekannya saling menatap heran.

               

Magi masih mengenakan gaun pertunjukannya. Berlari kecil menuju tempat parkir. Seperti yang ia duga L.Joe tengah menunggunya di sana. L.Joe tersenyum puas menyambut kedatangan Magi.

“Tidakkah kau menyadarinya jika perasaan kita ini telah tersambung oleh benang merah yang tak tampak? Benang merah jodoh.” sambut L.Joe. “Tanpa melampirkan kata apa pun kecuali namaku, kau bisa menemukan aku di sini.”

“Apa maksud semua ini?” Magi menunjukan kotak di tangannya.

“Tanda awal dariku. Tanda awal bahwa kau adalah milikku.”

Magi terbelalak mendengar pernyataan penuh percaya diri L,Joe. Magi berdiri bungkam menatap L.Joe. Melihat L.Joe berjalan mendekatinya, jantung Magi mendadak berdetub kencang. L.Joe sampai jarak satu lengan saja di depan Magi. L.Joe mencondongkan badannya agar lebih dekat pada telinga kanan Magi.

“Aku memang bukan pria tinggi, namun bisa dipastikan aku lebih tinggi darimu kan, Mogi?” bisik L.Joe. “Aku bisa memainkan alat musik, piano. Kau telah melihatnya bukan? Aku yakin kau akan mempertimbangkan hal ini karena jauh di dasar hatimu kau membenarkan tindakanku. Tindakanku yang menyukaimu tanpa aku tahu apa alasannya. Aku yang melihatmu bukan dalam tampilan ini.”

Magi masih berdiri diam. Sungguh ia tak bisa berkata apa-apa di depan pemuda ini. Pemuda yang ia olok sebagai pria pendek tempo hari.

L.Joe kembali menegakan badannya dan tersenyum menatap Magi yang terlihat syok. “Inilah awal bagi kita, aku yakin itu,” bisik L.joe penuh keyakinan kemudian berjalan pergi meninggalkan Magi yang berdiri mematung di area parkir.

Magi membalikan badan, menatap L.Joe yang berjalan meninggalkannya.
***

                Satu yang tak bisa lepas dari setiap sendi kehidupan, nafas suci bernama cinta.

               
               
-------TBC--------

Keep on Fighting
                shytUrtle
 

Search This Blog

Total Pageviews