Creepy Story: Kesandung Watu

06:20

Kesandung Watu



Judul direkomendasikan oleh Njung Beb. Maaf kalau ternyata setelah baca malah merasa judul ndak sesuai dengan isi. Kekeke.

Saya menulis kisah yang berdasarkan kisah nyata ini hanya ingin berbagi. Harapannya agar kita bisa sama-sama memetik hikmah dan lebih berhati-hati untuk setiap langkah kita. Maaf jika ada salah kata.

Kita, manusia pasti pernah mengalami yang namanya 'kesandung watu' atau tersandung batu dalam kehidupan kita. Tidak ada jalan yang mulus dalam setiap kehidupan. Walau udah berhati-hati, kadang kita masih saja ketiban sial dengan mengalami 'kesandung watu'.

Kok sial sih, Kura?

Pikir deh, emang kesandung watu atau kesandung batu itu enak? Sama dengan kesialan, kan? Rasanya nggak enak. Sakit, bahkan nyesek.

Sial karena kadang kejadian itu menimpa kita bukan karena kecerobohan atau ulah kita sendiri. Melainkan karena ulah orang lain. Didorong orang lain, misalnya. Atau, nggak sengaja tersenggol orang lain hingga kesandung watu.

Apa yang saya alami beberapa waktu lalu boleh dibilang bukan karena ulah saya sendiri.

Sebelumnya maaf pada pihak terkait kisah ini. Sekali lagi saya menulis kisah ini hanya untuk berbagi pengalaman untuk kita sama-sama belajar. Bukan kah hidup itu adalah untuk belajar dan belajar? Semoga tidak ada pihak yang merasa dirugikan dengan dipublikasikannya tulisan ini. Aamiin...

Beberapa waktu yang lalu alhamdulillah saya kembali dikasih kesempatan buat mengunjungi Wana Wisata Coban Bidadari, Gubugklakah. Ketiga kalinya saya berkunjung kesana.

Kunjungan pertama saya sempat merasa khawatir karena kami tiba terlalu sore. Alhamdulillah saya aman, tapi Thata yang KO. Usut punya usut ternyata ada tiga bidadari yang ikutan kami pulang. Kebetulan kondisi saya lagi oke, jadi fine aja. Beda cerita ama Thata. Entah karena alasan apa jadinya Thata yang KO.

Kalau tidak salah ingat, itu pertama kalinya Thata ngalamin fenomena kayak saya. KO kalau nggak sengaja bersinggungan sama makhluk astral. Sejak kejadian itu, tiap kali main ke Coban Bidadari, Thata selalu KO pas pulang. Migren berat.

Kok bisa? Kenapa?

Nah, alasannya itu yang nggak bisa dijelaskan secara pasti kenapa. Padahal setahu saya, Thata selalu bersikap sopan. Tapi, kadang kayak kita manusia yang kadang nggak suka ama seseorang tanpa alasan, atau suka banget ke seseorang hingga pengen nempelin dia kapanpun dan dimanapun. Begitu juga dengan makhluk astral. Terlebih karena mereka bisa melihat kita, tapi kita nggak bisa lihat mereka. Nah, tidak bisa berkomunikasi secara dua arah itu lah yang seringnya menimbulkan salah paham dan bikin kita, bangsa manusia awam jadi kerepotan.

Kesempatan kedua, saya berkunjung ke Coban Bidadari untuk melakukan pemotretan dari novel My Creepy Love Story. Kebetulan salah satu setting dalam novel adalah Coban Bidadari. Ditemani Rama—yang sekaligus jadi model—alhamdulillah proses pun lancar.

Kisah berbeda pada kunjungan ketiga. Saya pergi ke Coban Bidadari bersama beberapa teman. Tempatnya makin apik. Area selfi, spot untuk berfoto semakin banyak.

Kayak sebelumnya, kalau mau masuk rumah orang, saya permisi dulu dong. Membatin, ngucapin salam, menyapa kembali setelah lama nggak jumpa. Setelah peristiwa pertama kali berkunjung dan ada bidadari yang ikut pulang, saya menyimpulkan kenapa wana wisata baru itu diberi nama Coban Bidadari. Terlebih, menurut Njung Beb, memang ada kerajaan bidadari di sana. Lokasinya di sekitaran coban/air terjun. Karena informasi itu, saya selalu berusaha bersikap sopan ketika berkunjung ke Coban Bidadari.

Dua kali berkunjung ke Coban Bidadari, saya tidak turun untuk mencapai air terjun. Bukan karena takut ketempelan or something like that. Tapi, karena medannya masih susah. Turunnya jauh dan medannya itu susah. Saya dapat bocoran ini dari salah satu teman yang udah pernah turun sampai ke air terjun. Padahal air terjunnya apik lho! Ndak terlalu besar kayak Coban Pelangi. Jadi, kemungkinan kita bisa main air sampai di bawah air terjun.

Karena tidak pernah turun, jadi saya tidak punya foto bagaimana rupa air terjun di Coban Bidadari. Mungkin bisa nanya Mbah Google aja kalau penasaran. Hehehe.

Pun demikian pada kunjungan ketiga. Terlebih waktu itu kondisi fisik saya emang rada capek. Sehari sebelumnya ada perjalanan jauh. Jadi, saya memilih untuk menunggu di Puncak Bidadari saja. Sedang teman-teman yang lain turun menuju air terjun.

Alhamdulillah teman-teman bisa mencapai air terjun walau medannya sangat susah. Walau ada yang balik jalan juga. Kalau mau main dan turun ke air terjun di Coban Bidadari, tolong benar-benar persiapkan fisik dan mental. Pun gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman.

Melepas lelah, saya menemani teman-teman berkumpul di salah satu warung di area kafetaria. Teman-teman saling bercerita tentang perjuangan mereka untuk bisa sampai ke air terjun. Salah satu satu mereka mengungkapkan kekecewaannya. Medan yang lumayan sulit, namun kondisi air terjun tampaknya membuat dia kecewa hingga terlontar kalimat, "Cobannya jelek!"

DEG!

Kaget dong! Auto keinget tentang kerajaan bidadari yang lokasinya di dekat air terjun. Wah, apa ini bakalan baik-baik saja?


Turun dari coban, saya KO. KO karena mabok darat. Kekeke. Kura biasa naik motor diajak naik mobil, mabok lah dia. Karena gejala tidak reda hanya dengan minum air hangat, saya pun memutuskan untuk menelan DHD. Lucunya, saya malah melek ombo. Terjaga. Padahal biasanya selepas minum DHD saya terlelap hingga satu jam lamanya. Tapi, tidak dengan hari itu. Jam tidur saya normal. Tapi, alhamdulillah gejala sakit kepala yang berat udah berkurang. Saya pun tidur dengan lelap.

Next day terbangun dengan kondisi badan sakit semua. Kepala masih sakit. Saya pikir hanya efek kecapekan. Karena dua hari touring terus. Juga sisa parno karena mabok. Sialnya otak orang yang ada anxiety tuh gitu. Parnonya ndak ilang-ilang.

Saya cuekin dong! Tapi, kok sakit kepala makin menjadi. Tensi dong. Selalu tindakan medis dulu yang saya pilih. Hasilnya tensi drop. Oke. Deal efek kecapekan. Makan segala makanan yang bisa naikin tensi plus istirahat. Sampai stop nggak kecengin gUi sama sekali. Mata saya ikutan sakit. Pantengin hape lama-lama aja nggak bisa. Apalagi laptop. Alhasil selama seminggu nggak setor bab baru di semua jadwal pos tulisan.

Ketika semua tindakan medis sudah diambil tapi kondisi belum juga membaik, barulah saya berasumsi bahwa, ada yang nggak beres ini. Nanya Tunjung, tapi doi cuman senyum-senyum aja. "Lha nurut kamu kenapa lho?" Tunjung balik nanya. Sialan banget dah tu anak. Kekeke.

Oke lah. Kayaknya saya butuh degan ijo. Alhamdulillah dapat. Tapiii... kondisi belum juga membaik. Udah capek berasa sakit terus, nanya langsung ke Nyai. Nyai, saya ini kenapa tho? Kalau emang ada something, tolong bantu saya. Kasih tahu saya gimana caranya biar sembuh.

Solusinya: mandi di kali yang punya grojokan tengah malam.

GLEK!

Seriusan? Dengan kondisi cuaca dingin yang lagi ekstrim gini? Tapi, saya mau sembuh. Bismillah.

Kamis malam, ditemani Tunjung udah standby di salah satu sungai yang punya grojokan. Pukul dua belas malam udah siap nyemplung, tapi ditunda sama Tunjung.

"Ojo disek, U. Ada pertemuan di lapangan pinggir kali tuh. Semua pada ngumpul di sana. Bahaya kalau kamu ritual dan ketahuan mereka." Tunjung menjelaskan situasi.

Saya nurut aja. Kami pun pulang dan menunggu. Pukul empat pagi baru diajak balik lagi ke kali sama Tunjung. Katanya pertemuan makhluk astralnya baru bubar.

Bismillah saya pun nyemplung ke kali. Njebur basahi badan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jangan ditanya gimana rasanya. Itu air sungai dah kayak lelehan es. Dan, saya balik ke rumah dengan baju basah karena njebur ke kali sekalian ama bajunya. Di pagi buta. Nikmat sekali! Beku rasanya.

Ndilalah kersane Gusti ALLOH, saya sembuh setelah melakukan ritual mandi di kali pada dini hari—yang pada prakteknya pada subuh hari. Kata Nyai sih sebelum matahari terbit. Jadi, subuh hari masih fine lah.

Karena penasaran, saya pun bertanya pada Nyai, ada apa gerangan. Apa sebenarnya yang saya alami.

"Itu salah satu penduduk yang tinggal di sana niatnya negur kamu. Gini lho maunya dia, 'Temenmu itu lho mbok diajari sopan santun. Jangan suka menghina. Bagaimanapun juga ini adalah ciptaan Gusti ALLOH. Jadi manusia mbok ya jangan suka menghina ciptaan Tuhan'. Gitu. Trus, kayak biasanya. Kamu nggak kuat. Jadinya kamu KO."
Saya diam. Merenungi penjelasan Nyai. "Itu yang negur ikut saya, Nyai?"
"Iya. Ada jejaknya. Dia itu rakyat jelata, tapi punya kemampuan. Sakti lah simpelnya."
"Jadi, bukan dari kerajaan atau golongan bangsawannya?"
"Bukan. Lek dari kerjaane ya emboh kowe ngger. Mangkane di ati-ati maneh yo."

Karena saya hanya manusia biasa, ada rasa nggak terima dong. Manusiawi, kan? Bukan saya yang berbuat kenapa saya yang kena teguran sampai tepar? Tapi, balik lagi, saya yang lebih dulu ngenal lokasi dan saya yang ngajak kesana. Dan, kayak sebelumnya, mereka salah duga, mengira saya bisa melihat dan berkomunikasi sama mereka. Poor you, kura! Heuheuheu...


Pelajaran bagi kita semua, kemanapun kita pergi sebaiknya tetap bisa menjaga sikap. Karena kita hidup berdampingan dengan mereka yang kita tidak bisa melihat mereka, tapi mereka bisa melihat kita. Yang terpenting adalah jangan pernah menghina apa pun itu ciptaan Tuhan.

Bagian itu yang nampar saya banget: jangan pernah menghina ciptaan Tuhan. Sebagai manusia biasa saya pasti pernah luput, kesandung watu dan berbuat salah.

Boleh percaya boleh tidak. Tapi, demikian adanya yang saya alami. Mohon maaf jika ada salah kata. Terima kasih.


Tempurung kura-kura, 25 Juli 2019.
- shytUrtle -

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews