Fan Fiction FF

¤ FF TVXQ.JYJ,SHINee,2PM - TRIANGLE ¤

23:39

¤ T.R.I.A.N.G.L.E ¤





* Cast:

- Girls On Top ---> Lee Youngie/Yui Kagemiya,Jung Heebyul,Song Hyuri,Park Chaebin,Kim Hyejin/Moon Hyeoseo.

- TVXQ.JYJ,SHINee,2PM



* Genre: Serial/Straight/Horor-Fantasy



* Daftar Istilah:

- Hallow: makhluk 1/2 siluman atau darah campuran.

- Hyõnin: para pejabat tinggi pemegang pemerintahan dalam Utopia.

- Hon: golongan roh gentayangan.

- Saviour: golongan manusia ksatria pembasmi Viper yang tergabung dalam Utopia.

- Utopia: tempat berkumpulnya para ksatria pembasmi.

- Valour: golongan ksatria dari kaum Yowl.

- Viper: siluman golongan hitam yang menggunakan kekuatan goblin dan bertransformasi menjadi makhluk abadi penghisap darah (vampir)

- Voracious: siluman yang telah terinfeksi racun Viper dan menjadi monster yang selalu haus darah dan pemakan daging dan merupakan budak kaum Viper.

- Yowl: golongan siluman putih.







Episode #11







"Yu...Yui..." Chaebin terlihat pucat.



"Huft..." Youngie menghela nafas panjang memperhatikan alat tes kehamilan di tangannya "Kasihan...Kim Jonghyun sudah mati"



"Ap...apa?!! Kak...Kau...tat-tahu Aku mengandung anak Kak Jong-hyun??"



"Kau sering kencan dengannya sejak peristiwa itu" menyerahkan kembali alat tes kehamilan pada Chaebin "Dia sering tanya-tanya pada Ku tentang Chaebin,awalnya Aku pikir hanya bercanda ternyata sejauh ini"



"Aku tahu...tidak ada yang kembali hidup-hidup setelah di culik Viper..." suara Chaebin lirih. Ia menundukkan kepala berusaha keras membendung air matanya agar tidak kembali jatuh.



"Ada! Dan itu Aku!" memperhatikan Chaebin sejenak "Kenapa?? Kau takut??"



Chaebin mengangguk antusias seiring menetesnya air mata di pipi chuby-nya. "Aku telah melanggar peraturan,matilah Aku!"



"Kau memang sudah mati! Aish! Jika jatuh cinta itu merupakan pelanggaran harusnya ada ramuan anti jatuh cinta!"



"Yui!!!"



"Kalau tidak mau hal seperti ini terjadi harurnya Utopia tidak usah bekerja sama dengan Kaum Yowl dan benar-benar menarik garis batas. Siapa yang bisa menebak datangnya cinta? Tidak ada kan?"



"Tapi...Aku sangat takut" mengelus perutnya.



Youngie meletakkan tangan kanannya di bahu kiri Chaebin "Kita akan merawatnya bersama-sama" dengan lembut berhasil membuat Chaebin mengangkat kepala dan menatap haru dengan mata yang masih di penuhi air mata itu. "Diaaa...anak Kita,OK!" mengerlingkan mata kanannya pada Chaebin. Chaebin tertawa geli lalu Youngie meraih tubuh Chaebin dan memeluknya. "Tenanglah..." bisik Youngie seraya mengelus pelan punggung Chaebin "Aku tidak akan membiarkan Utopia menemukan Mu...Aku tidak akan membiarkan Utopia menyentuh Mu..."



"Yui~aa,apa Aku akan melahirkan anak seperti Mu??"

***







Hyunri duduk diam di dalam kamar pengantin. Di luar masih terdengar gaduh suara musik,canda dan tawa para tamu. Hyunri menghela nafas panjang "tega sekali Mereka tertawa bahagia sedang di sini Aku merasa sangat menderita" gerutunya dalam hati. Ia tahu Yoochun menikahinya hanya demi tahta dan rakyat bukan cinta,lalu apakah Dia akan sanggup berada dalam lingkaran ini? Jung Hyunri gadis cantik dan pandai tapi tidak terlalu menonjol dalam Utopia. Ia menduduki posisi Wakil Kepala dalam Badan Pengawas Utopia,setingkat di bawah Saudara semarga-nya Jung Yoomi. Meski tak memiliki prestasi yang menonjol namun kecerdasan otak Hyunri banyak membantu Badan Pengawas dalam menyelesaikan beberapa penyelidikan kasus rumit.







Heebyul merasa tak nyaman berada di tengah-tengah pesta meski ada Chansung di sisinya. Hidangan mewah yang tersaji pun di abaikannya. Tatapan Heebyul terus tertuju pada Yoochun yang terlihat amat bahagia hari ini. Heebyul makin kesal di buatnya,"...Aku benci semua ini! Selalu berpura-pura! Akh~ harusnya Aku tidak menyarankan Kak Yoochun untuk menempuh jalan ini! Bodoh!" umpatnya dalam hati. "Permisi sebentar" Heebyul bangkit dari duduknya. Yunho,Yoomi dan Chansung kompak menatapnya. "Aku hanya akan ke toilet sebentar!" terdengar kesal lalu pergi.



"Aku pikir Kau sudah beranjak" Hyochan sudah berdiri di depan pintu toilet ketika Heebyul keluar. "Bagaimana?" tambahnya.



"Bagaimana??" Heebyul balik tanya dengan ekspresi tidak paham.



"Kakak Ipar Ku" sahut Yoohwan yang juga berada di sana.



Heebyul mencoba mencerna maksud dan arah pembicaraan dua adik kandung Yoochun ini. "Ah...Aku rasa Kalian salah paham soal kedekatan Kami. Itu hanya antara Adik dan Kakak"



"Aku rasa lebih bagus jika Kau yang ada di samping Kakak Ku sekarang" tambah Yoohwan "Pasti tidak akan sesulit ini"



"Apa?? Kau pikir akan mudah meski itu Aku?!" sejenak Heebyul menatap pemuda tampan namun terkesan angkuh itu "Aku tidak akan lama berada dalam Utopia"



"Oh,akan mundur??" sahut Hyochan "Itu pilihan,sedari awal Aku juga tidak menyentuhnya"



"Aku telah kehilangan teman-teman terbaik Ku,Aku rasa sudah cukup segini saja"



"Aku tidak yakin pada gadis itu" sela Yoohwan "Kasihan...hanya Keluarga Lee yang tidak ada di sini,lalu apa gadis itu mampu?"



"Dia Kakak Ipar Mu sekarang!" Heebyul terkesan menekankan ucapannya. "Hyunri...Dia gadis yang cerdas pasti akan jadi pendamping yang baik untuk Kak Yoochun"



"Kau bicara seolah-olah Kau benar mengenalnya,tahu kah Kau itu terdengar sangat menggelikan?"



"YOOHWAN!!!" bentak Hyochan.



"Aku hanya bicara tentang kenyataan" Yoohwan membela diri.



"Setelah ini apakah Kita masih bisa bekerja sama?" Hyochan mengabaikan Yoohwan dan menatap serius Heebyul.







"Lama sekali,apa terjadi sesuatu?" tanya Chansung sa'at Heebyul kembali.



"Bisa Kita pergi sekarang?"







Chansung merasa tak nyaman melihat Heebyul seperti itu. "Byul,Kau baik-baik saja kan?" tanya Chansung yang duduk di balik kemudi.



"Emm!!" Heebyul menganggukkan kepala lalu menunjukkan senyum terbaiknya pada Chansung.



"Tapi...Kau benar jadi aneh sejak kembali dari toilet"











"Sebaiknya Kau istirahat" Wooyoung menghampiri Youngie yang masih menyendiri di atap kastil.



"Jalan ini semakin terjal saja ya...lalu pernikahan ini apakah akan jadi awal yang baik?" Youngie menoleh menatap Wooyoung yang kini sudah duduk di sampingnya. "Aku tidak lelah tapi terkadang merasa ingin berhenti saja...karena itu semua Aku harus benar-benar menyelesaikannya agar Aku bisa istirahat dengan tenang nantinya..."



"Apa Kau mencintai Tuan Muda Park Yoochun?" pertanyaan yang sudah lama di pendam Wooyoung akhirnya terungkap juga.



Kibum yang sedari awal menguping sedikit tersentak mendengar pertanyaan Wooyoung.



Youngie mengembangkan senyum tulus di wajah lelahnya. "Apa Aku terlihat seperti itu?". Wooyoung jadi ragu,itu terlihat jelas dari ekspresinya. "Aku tahu Kak Wooyoung tidak bisa merabanya dan menyimpan pertanyaan itu sejak lama" tambah Youngie "...tidak Kak,Aku tidak mencintainya...karna cinta Ku bukan untuknya" melanjutkan ucapannya dalam hati saja.



"Ma'afkan Aku sudah lancang mencurigai Mu seperti itu tapi Kalian benar terlihat baik bersama tadinya Aku berpikir akan sangat baik jika pesta malam ini adalah pesta Yoochun dan Youngie"



"Memanfa'atkan cinta dan kedudukan Park Yoochun?"



"Akh~" Wooyoung tersipu "Iya. Picik sekali pemikirkan Ku". Youngie tersenyum lebih tulus menanggapinya. "Biasanya cara seperti itu yang di gunakan para Bangsawan"



"Iya..." Youngie sedikit tertawa kini. "hal itu sempat juga terlintas di otak Ku hahaha" Youngie benar-benar tertawa kini.



Wooyoung senang melìhatnya. "Kau masih ingat caranya tertawa?" goda Wooyoung "Belakangan Aku merasa lupa bagaimana itu tertawa hahaha..."



"Iya...bagaimana tertawa ala Penduduk Koyangi??" Youngie meletakkan tangan kanannya di pundak kiri Wooyoung "tawa ceria Mereka..." kembali diam dan mengenang masa bahagia itu.



Wooyoung ikut diam dan menatap iba Youngie. "Tidak lama lagi..." ucapnya lirih "...dan sa'at itu terjadi Aku tidak akan bisa berada sedekat ini dengan Mu...Langit Ku..." berbisik dalam hati dan tersenyum masih menatap Youngie yang terlihat sibuk mengusap air mata karena tawa lepas tadi.



"Kau! Keluar dari sana!" ucap Youngie tiba-tiba membuat Wooyoung tersentak dan mengamati sekitarnya. Kibum yang masih bertahan dalam persembunyiannya pun sama tersentak mendengar seruan Youngie. "Kau! Kau yang bersembunyi dalam kegelapan! Kim Kibum!". Wooyoung makin kaget ketika Youngie menyebut nama Kibum. Ia tak menyangka ada yang menguping dan Youngie tahu namun mendiamkan hal itu. "Kenapa Kau bersembunyi layaknya pengintai??" sambut Youngie sa'at Kibum muncul "Aku tahu Kau rindu Aku hehehe kemarilah!". Kibum tersenyum tersipu lalu mendekat dan duduk bergabung.

***









Hyunri duduk di kursi tak jauh dari ranjang. Terus di pandanginya wajah Yoochun yang masih terlelap dalam tidurnya. Semalam Yoochun mabuk berat sa'at memasuki kamar. Yoochun sempat roboh menimpa Hyunri sambil terus meracau. Hyunri tersenyum "Tuan Muda yang malang...Suami Ku yang malang..." bisiknya seraya membelai pelan wajah Yoochun.







"Lihat! Itu Dia calon penerus tahta!" tunjuk Kang Jiyoung sa'at Yoochun memasuki kantin Utopia. "Aigoo~ benar-benar tampan,kira-kira siapa wanita beruntung yang berhasil merebut hatinya ya?"



"Jung Yunho lebih keren daripada Park Yoochun" sahut Choi Jinri-Sulli f(x).



"Iya! Si Jidat lebar itu di mana tampannya!" Jung Hyunri mendukung ucapan Jinri teman satu kelompoknya.



"Hyunri! Dari awal Kau selalu menyebut Senior Park Yoochun Si Jidat Lebar,itu tidak sopan kalau ada yang dengar bisa gawat!" giliran si cantik Go Hara angkat bicara.



"Memang begitu faktanya!" Hyunri terlihat cuek sambil menyedot jus di hadapannya.



Hara hanya bisa menggelengkan kepala dan Jiyoung menangkap tatapan Hyunri yang terlihat lurus memperhatikan kuartet Jokwon-Yunho-Junsu-Yoochun. "Hati-hati! Biasanya yang paling suka mengolok pada kenyataannya Dia yang paling mengagumi sosok yang selalu di oloknya!" ucap Jiyoung ketus.



"Tapi tidak pada Ku! Weeek!" Hyunri menjulurkan lidahnya lalu pergi.









Hyunri tersenyum teringat masa itu. "Kalian benar...Aku sangat terpesona pada Si Jidat Lebar ini...jika Kalian mengingat percakapan Kita waktu itu...pasti Kalian akan menertawakan Aku kini...Aku benar-benar tidak bisa menolak pernikahan Utopia ini...karena..."



"...tok...tok...tok!!!" suara ketukan pintu itu menghentikan ocehan lirih Hyunri. "Kakak! Apa Kau sudah bangun?!" suara Hyochan terdengar lantang tanpa sungkan.



Hyunri berlari kecil menuju pintu tak ingin mengganggu tidur Yoochun. Hyochan sedikit kaget karena yang muncul dari balik pintu bukan Yoochun melainkan Hyunri. "Ma'af,Tuan Muda belum bangun. Beliau mabuk berat semalam" Hyunri dengan suara selirih mungkin.



Hyochan menahan tawanya mendengar Hyunri menyebut Yoochun dengan sebutan "Tuan Muda". "Cepat bangunkan Pemalas itu! Hari ini Tetua Utopia akan berkunjung dan Kakak Ipar juga Pemalas itu harus menyambut Mereka. Cepatlah siap-siap!"



Hyunri menatap sengit ke arah punggung Hyochan. "Huh! Senyum itu! Kenapa tidak langsung menertawakan Aku saja!" gerutunya lirih seraya menutup pintu "Oh~ Tuan!" langsung membungkuk hingga 90' di hadapan Yoochun. "Aish...Hyunri! Apa yang Kau lakukan?" makinya dalam hati.



"Kau tidak tidur semalaman..." ucap Yoochun lembut seiring jatuhnya tangan kanan Yoochun di punggung Hyunri.



"GLEK!" Hyunri menelan ludah dan tetap dalam posisinya.



"Ma'af...pasti Aku sangat merepotkan Mu. Tegakkan badan Mu dan lekas bersiap untuk penyambutan itu!" menepuk pelan punggung Hyunri sebanyak 2X.



Hyunri menegakkan kembali badannya dan menghela nafas panjang menatap Yoochun yang segera menghilang di balik pintu kamar mandi. "Apakah permainannya sudah di mulai?" bisiknya.

***







"Aaa...Hyeoseo!!! Aku sangat merindukan Mu" Minkyung memeluk erat tubuh Hyeoseo. Pagi ini Geunyoung menelfonya dan memberi kabar bahagia jika semalam Hyeoseo siuman. "Aku benar-benar merindukan Mu...tega sekali Kau! Tidur begitu lama dan membuat Ku benar ketakutan!" membenamkan wajahnya dalam pelukan Hyeoseo dan menangis. "Aku benar-benar takut..." bisik Minkyung hampir tak terdengar. Eunsuh pun maju dan memeluk kedua sahabatnya.



"Terima kasih sudah mengkhawatirkan Aku...tenanglah Aku baik-baik saja..." Hyeoseo mencoba menenangkan kedua sahabatnya. Hyeoseo melepas pelukannya ketika Minkyung dan Eunsuh mulai tenang. "Pestanya meriah?" tanya Hyeoseo "Lalu...bagaimana Kelompok 41?? Yui bagaimana??". Minkyung dan Eunsuh kompak menundukkan kepala. "Ada apa??" Hyeoseo makin penasaran "Apakah terjadi sesuatu yang buruk??"



"Kau ini!!! Baru juga kembali tapi sudah bertanya panjang lebar. Tenang saja Utopia masih setia menunggu Mu!" Eunsuh mencoba mengalihkan pembicaraan "Istirahat dulu yang baik baru berpikir tentang Utopia jika sudah benar membaik!"



"Eunsuh...cerewet Mu tetap saja ya!" ucap Hyeoseo membuat Eunsuh tersipu malu. "Aku baik sekarang...benar-benar baik!"



"Terang saja Kak Jaebum terus mengunjungi Mu" sahut Minkyung.



"Iya Aku tahu. Dia menceritakan tentang Hyesõng Academy tempo hari tapi hanya hal indah saja,Aku yakin terjadi sesuatu yang buruk". Eunsuh dan Minkyung lagi-lagi menundukkan kepala. "Ayolah,katakan saja ada apa sebenarnya"



"Kenapa Yui??" Eunsuh menggunakan senjata terakhirnya "Kau tidak mengkhawatirkan Minrie??"



Hyeoseo tersenyum "Aku tahu itu melukai Mu tapi...Kau tidak perlu khawatir karena Minrie baik-baik saja". Eunsuh menatap tajam Hyeoseo mengisyaratkan kata "yakin sekali Kau?!!". "Iya Aku yakin karena sa'at mengalami tidur panjang Aku sempat melihatnya. Minrie...terlihat sangat bahagia" dengan tatapan kosong "...dan Yui...Aku merasa Dia ada di dekat Ku tapi ketika sadar Dia tidak ada...apa terjadi sesuatu yang buruk padanya?"



Minkyung dan Eunsuh saling melempar pandangan seolah saling menuding "Kau saja yang bicara" satu sama lain.



"Hah...sudahlah! Di luar sangat kacau hal buruk bisa saja terjadi" Hyeoseo menyerah.



"Kami tidak tahu apa yang menimpa gadis itu" sahut Eunsuh cepat dan berhasil membuat Hyeoseo menaruh perhatian penuh padanya. "Malam itu ketika Utopia meminta seluruh siswa Hyesõng Academy yang berada di Hutan Gôwl untuk berkumpul gadis itu datang bersama Jung Heebyul. Tersiar kabar pihak Utopia mencarinya karena di anggap berhubungan dengan kematian dua pemuda yang menyewa kediaman Keluarga Han"



"Apa Yui di curigai telah membunuh kedua pemuda itu?"



"Bukan" sahut Minkyung "ada kabar jika kedua pemuda itu di serang Viper dan Voracious tapi jasad Mereka tidak ada disana,Yui di ketahui sebagai siswi yang sering berkunjung ke rumah itu"



Hyeoseo diam sejenak tampak memikirkan sesuatu di otaknya. "Kalian sempat bicara pada Yui?"



"Em!" Eunsuh mengangguk yakin "Aku sempat akan mengajaknya pergi tapi para Saviour itu menghadang pintu gerbang dan mengacaukan semuanya"



"Mengacaukan semuanya? Jadi Yui tertangkap?"



"Tidak. Heebyul mengajaknya pergi dan seorang penjaga kantin mengikuti keduanya lalu Kami tidak pernah melihat Yui lagi"



"Sempat tersiar kabar jika Utopia menangkap Mereka bertiga tapi sa'at Aku mengkonfirmasi kebenarannya pada Badan Pengawas Mereka mengatakan tidak ada perintah penangkapan malam itu" sambung Minkyung "Pasukan yang di kirim hanya melakukan pendataan saja. Aku sempat melihat Heebyul dalam arak-arakan pernikahan waktu itu tapi Yui sampai detik ini Aku tidak tahu di mana Dia berada"



"Kacau sekali..." Hyeoseo terlihat menyesalkan semua kejadian itu.

***







Hyunri tampak cantik memakai hanbok dengan motif dan warna musim semi berjalan di samping Yoochun yang terlihat menggandengnya. Keduanya menyambut kehadiran para Tetua di Kediaman Keluarga Park. Seperti kebanyakan pasangan yang menikah karena perjodohan,Yoochun juga mengajukan permintaan untuk tinggal di kediaman miliknya sendiri. Para Tetua memaklumi hal ini dan mengabulkan permintaan Calon Presiden Utopia ini.





Keesokkan harinya Yoochun memboyong Hyunri lengkap dengan orang-orang kepercayaannya. Song Joongki,kini memiliki jabatan sebagai Sekretaris pribadi Yoochun. Sedang Park Jisun naik jabatan menjadi Kepala Pelayan di kediaman Yoochun menggantikan Joongki.





"Kak Jisun...ini menyenangkan bukan? Kakak sudah menjadi Kepala Pelayan kini! Aiya~! Kepala Pelayan Park!" Gyuri membungkuk di hadapan Jisun.



"Kau ini berlebìhan sekali! Ini membebani Ku,tahu!" protes Jisun merasa risih.



"Rasanya kurang lengkap tanpa Chaebin di sini...Kak Jisun,apa Kakak tahu sesuatu tentang Chaebin? Sunyoung! Dia dekat dengan Mu bukan!"



"Aku tidak tahu pasti tapi terakhir menelfon Chaebin bilang Dia sudah tamat dan sejak sa'at itu Aku tidak bisa menghubunginya lagi" jelas Sunyoung "Dia juga sempat bilang Dia telah menyerah dan menjadi Pengikut Yui ya begitu" memastikan bahwa apa yang di ingatnya adalah benar.



"Pengikut Yui??" sahut Joongki "Yui...Park Youngie??"



"Tuan?? Sejak kapan Tuan berdiri di sana??" Jisun tampak kaget begitu juga Gyuri dan Sunyoung langsung bangkit dan menunduk memberi salam.



"Apa maksudnya Pengikut Yui??" tanya Joongki dengan ekspresi penasaran.



"Saya rasa bukan apa-apa" sanggah Jisun "Chaebin dan Youngie suka memakai istilah aneh dan tidak baku dalam obrolan Mereka dan Sunyoung tidak paham jadi mengucapkan apa yang seperti di ucapkan Chaebin padanya...abaikan saja tentang itu..."



"Situasi di luar sangat kacau di luar sana jadi Kalian harus menjaga obrolan Kalian"



"Baik,Tuan!" jawab Jisun,Gyuri dan Sunyoung kompak.



"Baiklah. Aku percaya pada Kalian!" Joongki tersenyum manis kemudian pergi.



"Aaa~ senyum Sekretaris Song benar-benar menusuk hati Ku..." Gyuri dengan wajah bersemu merah.



"Sudah-sudah! Ayo kembali bekerja!" perintah Jisun pada keduanya.









"Kau dan Aku...Kita terkesan seperti tokoh dalam novel saja,tidak kah ini lucu? Kita menuruti pernikahan Utopia dan..." Yoochun melirik Hyunri "...seperti dalam novel kebanyakan Kita memerankan sandiwara ini..."



"lalu apakah kisah Kita juga akan berakhir bahagia...Kau mencintai Aku dan Aku...mencintai Mu..." gumam Hyunri dalam hati.



"Aku rasa Kau paham permainannya. Ini kamar Mu!" sambung Yoochun. "Kau bebas melakukan apa yang Kau mau tapi jangan sampai melanggar garis batas aman Kita,Kau paham kan?"



"Akhirnya terjadi juga..." Hyunri masih bergumam dalam hati dan hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Yoochun.



"Kau...Aku...Kita...hah~ Kita sama-sama menjadi boneka dan terseret dalam lingkaran ini. Ma'af...Aku jadi melibatkan Mu dalam permasalahan ini...Aku melakukan ini semua demi rakyat dan..." Yoochun diam sejenak "...dan...demi gadis yang Aku cintai..."



Hyunri kaget hingga mengangkat kepala menatap Yoochun. "Demi rakyat atau demi gadis yang Tuan cintai?" begitu protes di benak Hyunri tapi tiba-tiba saja Yoochun mencetuskan hal itu.



"Ini memang terdengar tak adil bagi Mu,tapi...Aku tidak akan melepaskan Mu"



"Apa??" suara Hyunri akhirnya terdengar juga.



"Para Tetua memilih Mu untuk menjadi pendamping Ku,Aku yakin Kau bukan gadis sembarangan,jadi...Aku mohon beri Aku waktu...beri Aku waktu dan Aku akan belajar mencintai Mu...ketika sa'at itu tiba...maka...Aku akan memberikan seluruh hati Ku pada Mu" bangkit dari duduknya lalu keluar dari kamar Hyunri.



Hyunri memukul pelan kepalanya "Bodoh! Bodoh! Kau benar-benar bodoh Jung Hyunri!" makinya sendiri "Bagaimana bisa Kau menyiapkan kata-kata keji di otak Mu untuk menyerangnya? Kau lìhat! Betapa lembutnya Ia bertutur kata pada Mu?! Aish~ ini efek dari gemar membaca novel. Aiya~" menjatuhkan tubuhnya di ranjang dan diam menatap langit-langit kamar. "Apakah ini mimpi?" memegang kedua pipinya "Pangeran Si Jidat Lebar meminta waktu pada Ku dan menyanggupi akan memberikan hatinya untuk Ku? Apakah Ia tulus? Atau ini hanya senjata,rayuan agar Aku tak berkhianat? Astaga...Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang!" menutup wajahnya dengan bantal.







Hyunri keluar kamar. Karena terlalu lelah,Ia ketiduran dan melewatkan makan siang. Kini cacing dalam perutnya benar-benar kelaparan dan berteriak minta makan. Rumah tampak lenggang menjelang sore itu sa'at Hyunri mengawasi semua sudut ruangan di ruang tengah. Ada tiga orang pelayan Yoon Eunhye,Lee Minjung dan Ham Eunjoong berjalan beriringan sembari bercanda. Ketiganya langsung diam ketika menyadari Hyunri sudah berdiri mematung di ruang tengah. "Selamat siang,Nyonya!" sapa ketiganya ketika melintas di hadapan Hyunri. Hyunri merasa aneh menerima perlakuan itu. Ia benar-benar tidak suka akan hal itu.





"Dia terlihat biasa saja bukan orang dengan prestasi menonjol,bukankah ini aneh?" Gyuri sambil sibuk melap piring "Tuan Muda orang yang isimewa,harusnya Beliau mendapat orang yang istimewa pula"



"Siapa? Jung Heebyul? yang benar saja!" sahut Sunyoung "Kenapa dari Keluarga Jung? Apa benar untuk meredam isu..." tak melanjutkan ucapannya "...akh! Mulut Ku! Kacau sekali!"



"yang Aku dengar Tuan Muda langsung setuju karena yang memilih gadis itu adalah Tetua Lee Baek Mo" Jisun ikut bicara.



"Oh iya,Chaebin pernah cerita Nenek itulah yang meloloskan Yui sa'at penyaringan calon siswi di Hyesõng Academy padahal Chaebin yakin Yui tidak akan lolos" Sunyoung membuat obrolan makin seru "Menurut Chaebin,Yui Si Mata Uang Won itu gadis dengan asal-usul tidak jelas pantas saja akan sulit menembus akademi!"



"Tapi Dia itu anak asuh Tuan Muda! Aku melihat sepertinya ada cinta di mata Tuan Muda ketika menatap Youngie,sa'at menatap gadis itu..." kenang Jisun "...benar-benar romantis aigo~"



"Kau benar Kak Jisun!" Gyuri setuju "Tadinya Aku berpikir Tuan Muda akan benar-benar menikahi Yui. Lihat saja perhatiannya sampai menganugerahkan nama Park Youngie untuk Yui...betapa kerennya jika itu terjadi...Aku akan mendirikan fans club Cinderella Park Youngie untuknya aigoo~"



"Kau itu terlalu banyak nonton sinetron!" olok Sunyoung "Pantas saja Kau berkhayal sampai seperti itu! Tapi...bisa jadi Tuan Muda benar menikahi Yui jika gadis itu tidak menghilang secara misterius"



"Tapi lebih baik tidak,karena pernikahan itu tidak akan mudah bagi keduanya" sambung Jisun.



"Ehem!" Hyunri berdehem membuat ketiga pelayan itu terkejut dan menunjukkan ekspresi "sejak kapan Dia berdiri di sana?". "Aku haus dan perut Ku sangat lapar" ucap Hyunri memecah kebisuan "Karena ketiduran...Aku melewatkan makan siang Ku...". Gyuri-Jisun-Sunyoung terdiam di tempat Mereka berdiri membuat Hyunri sedikit kesal. "Apa Kalian tidak mendengar ucapan Ku?! Aku lapar! Apa Kalian tidak bisa memberi Ku makan?!!"







Yoochun berdiam di perpustakaan kecil yang sekaligus menjadi ruang kerjanya di rumah. "Park Sunyoung mengatakan jika Park Chaebin mengucap kata "menjadi pengikut Yui" apakah ini berarti Park Youngie masih hidup di luar sana?" suara Joongki masih terniang di telinga Yoochun. "Apakah benar Kau masih hidup? Dimana Kau sebenarnya Yui..."

***







Hyeoseo kembali membasuh wajahnya. Berulang kali Ia melakukan hal ini. Ia kembali diam dan menatap bayangannya dalam cermin. Perlahan tangan kanannya menyentuh cermin lalu bergerak menyentuh wajah yang masih basah di penuhi sisa air.



"Hyeoseo! Apa Kau baik-baik saja?" suara Geunyoung terdengar usai suara ketukan pintu.



"Ii...iya,Kak!!! Aku baik-baik saja!"



"Lekas kembali! Ada yang datang untuk Mu!"



Hyeoseo menghela nafas panjang. Jaebum baru saja pamit sekarang siapa lagi yang datang menjenguknya? Mata Hyeoseo melebar ketika Ia membuka pintu kamar mandi dan mendapati Heebyul sudah berdiri di samping Yoochun dan memeluk bucket lily kuning. Hyeoseo kembali duduk di ranjang. Yoochun duduk di kursi di samping kanan ranjang sementara Heebyul sibuk menata lily kuning di dalam vas.



Hyeoseo tersenyum menyambut Heebyul yang kini duduk di samping Yoochun. "Ma'af Aku jadi merepotkan Kalian" sedikit menundukkan kepala "Tuan,Aku turut berduka cita atas meninggalnya Tuan Presiden..."



Yoochun tersenyum menenangkan "Emm" mengangguk pelan "Semua sudah berlalu,maka dari itu Kau harus cepat kembali"



Hyeoseo tersenyum "Iya...dan selamat atas pernikahan itu"



"Eh,tidak usah memberinya selamat!" sela Heebyul "Dia tidak bahagia atas pernikahan itu"



"Kau ini tidak berubah ya..." Hyeoseo semakin tersenyum lebar "Terima kasih,bagaimana Kau bisa tahu Aku suka lily kuning?"



"Kak Hyeoseo yang mengatakannya"



"Oya?? Kapan??"



"Hehehe tidak,Aku hanya menebak dan ternyata Kakak suka. Eummm...tapi apa maksud Kakak "Kau ini tidak berubah ya?" itu??"



"Aaa...itu..."









Hyuri membaca ulang isi amplop yang di berikan Youngie padanya. Ia terlihat amat serius membaca isinya. "Hyuri~aa" Seunghyun melongok dari balik daun pintu "Semua sudah berkumpul"



"Emm. Iya,Kak!" bangkit dari duduknya dan menyusul langkah Seunghyun.

Seunghyo,Junho,Taemin,Jinki dan Seunghyun mengitari meja kotak di ruang tengah. Semua serius mendengarkan penjelasan Hyuri tentang informasi yang berhasil Ia kumpulkan. "Tentang Ratu Shima...sebelumnya Saya telah membahas hal ini dengan Tuan Muda Taemin" Hyuri melanjutkan penjelasannya. "Ratu Shima adalah nama seorang Ratu dari Kerajaan Kalingga yang terkenal sangat adil dan sejarah ini berasal dari Indonesia"



"Indonesia??" Seunghyo mengulang nama negara itu.



"Iya,Paman. Aku mempelajarinya di sekolah selama Aku di Indonesia" Taemin menegaskan. "Siapapun orang yang bersembunyi di balik nama Ratu Shima,Aku yakin Ia pasti memiliki tujuan yang mulia...keadilan,itulah tujuannya"



"Tapi Aku rasa orang yang memakai nama itu sengaja memberi isyarat seolah-olah Ratu Shima ada di pihak Kita" sahut Junho.



"Itu benar Kak,nama itu membuat tuduhan koalisi semakin mengarah pada Kita" Taemin membenarkan.



"Hal itu juga menjadi pertanyaan Saya" Hyuri kembali bicara "yang Saya tahu Utopia juga tidak bisa mengendus keberadaan kelompok ini"



"Dia itu...kawan atau lawan?" bisik Junho.



"Mungkin pihak netral" giliran Jinki bicara "Sa'at menghadang Pasukan Saviour yang hendak menangkap Tuan Junho,Ratu Shima menyampaikan pesan agar pihak Utopia melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan lebih teliti,ini artinya Ratu Shima memberi ruang pada pihak Kita juga Utopia".



Semua yang ada dalam ruangan itu terdiam memikirkan ucapan Jinki.









"Sudah Ku bilang Dia itu Kim Hyejin sekali,Kak Yoochun tidak percaya" Heebyul berhenti di depan rumah sakit dan mendongak menatap jendela kamar tempat Hyeoseo di rawat. "Mereka memiliki banyak kesamaan,bunga kesukaannya pun sama,atau Aku yang deja vu ya?"



Yoochun tersenyum kemudian mengelus pelan kepala Heebyul. "Menurut Mu bagaimana Nona Cenayang?"



"Cenayang??" menatap lurus ke arah Yoochun "Aku bukan orang seperti itu!" mengerucutkan bibirnya "Aku tidak bisa meramal! Tidak bisa melihat sesuatu yang maya...ah,sudahlah! Cukup untuk hari ini! Kita berpisah di sini,annyeong..." membelakangi Yoochun dan melambaikan tangan kanannya.



"Byul~aa!!!" seru Yoochun.



"Umm???" menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Yoochun.



"Terima kasih"



Heebyul tersenyum dan membetulkan letak kaca matanya lalu pergi.









Hyuri terdiam menatap Junho dan Taemin yang masih duduk di ruang tengah bersama Jinki dan Seunghyun. "Kau orang yang berdiri di antara dua pihak. Kau tahu Aku bisa membuat kacau semua tatanan itu. Kau salah satu orang kepercayaan Lee Junho tapi Kau juga sudah memberikan janji Mu pada Ku jadi...apa yang akan Kau pilih? Bagi Ku menghancurkan tatanan ini semudah membalikkan tangan..."



"Huft~..." Hyuri menyandarkan punggungnya di tembok "Permintaan Mu sulit sekali Blackjack...Aku tahu Kau bercanda tapi...bisa jadi itu ancaman yang serius untuk Ku...apa yang harus Aku lakukan?"

***









Malam yang sedikit berkabut. Kucing berbulu putih bersih itu berjalan sendiri menyusuri trotoar. Jalanan sangat sepi malam itu tapi tak menyurutkan Taemin untuk melanjutkan perjalanannya. Ia merasa bosan lalu memutuskan merubah wujudnya menjadi kucing putìh dan pergi keluar menghilangkan penatnya. Taemin sampai di taman yang letaknya tak jauh dari komplek Hyesõng Academy. Menurut informasi yang Ia terima di taman ini sering muncul Viper. Viper? Aneh sekali,bukankah kawasan ini dekat dengan sekolah para Saviour dan Valour? Seperti apa sekolah itu? Taemin ingin masuk tapi apa bisa? Mata hitam tajam kucing putih itu menangkap sosok yang tiba-tiba sudah duduk di bangku taman. Orang itu memakai kostum serba hitam itu duduk di pada punggung kursi taman. Taemin terus memperhatikan sambil terus bertanya-tanya siapa gerangan orang misterius itu. Kenapa Ia duduk seperti itu sambil menatap langit?



Sadar seolah ada yang mengawasinya Youngie pun menoleh tepat ke arah kucing putih yang berhenti dan menatap lurus ke arahnya. Youngie menyincingkan senyum di bibir tipisnya menyadari kehadiran kucing itu. "Dasar! Siapa Dia? Berkeliaran sendiri selarut ini" bisiknya lirih.



Gadis?? Sosok misterius itu seorang gadis? Taemin menangkap wajah yang terlihat sekilas ketika orang misterius itu menoleh. Taemin yakin sosok misterius itu adalah seorang gadis. Tapi gadis itu tersenyum pada seekor kucing? Tanya di benak Taemin dan Taemin kehilangan sosok itu. Cepat sekali perginya? Padahal Taemin hanya lengah selama beberapa detik saja.



"Hey~" suara lembut itu terdengar begitu dekat di telinga Taemin.



"Meow~" Taemin kaget sosok misterius yang tadi di carinya kini sudah berdiri tepat di belakangnya.



Youngie membungkuk mengulurkan tangan kanan dan kemudian mendaratkannya tepat di atas kepala kucing putih itu. "Anak manis..." mengelus lembut kepala kucing itu "...bisa berbahaya jika Kau tetap di sini" kini sudah jongkok di hadapan kucing putih itu. "Ini terlalu larut dan Aku tahu Kau bukan kaum liar,sebaiknya Kau cepat pulang emm" mengelus punggung kucing itu.



"Meow~" Taemin masih penasaran karena Ia hanya bisa melihat hidung dan bibir dari gadis yang sedari tadi mengajaknya bicara. Bagian atas wajah gadis itu tertutup topi jubah yang di kenakannya.



"Kau kesepian..." Youngie menyeringai.



"Meow!!!" Taemin bergerak agak menjauh melihat gigi taring tajam terlihat ketika gadis itu menyeringai. "Dia Viper!" gumam Taemin dalam hati dan menunjukkan sikap lebih garang.



"Kau tidak suka ya? Ok,Kita berpisah di sini" Youngie menegakkan badannya. Di sa'at yang sama angin berhembus agak kencang dan berhasil menggoyang topi jubah hitam Youngie.



"Meow~" Taemin tersentak. Taemin mengenali wajah itu. Dia adalah gadis pelayan dan siswi itu. Dia adalah Blackjack! Kenapa Dia bertaring layaknya Viper.



Youngie membenahi topi jubahnya. "Belakangan ini angin bertiup membawa isyarat buruk,kawasan ini tidak aman bagi Mu,sebaiknya Kau segera pergi"



"Meow~" Taemin mencoba menahan langkah Youngie.



Youngie kembali membungkuk dan mengelus puncak kepala kucing putih itu "Siapa pun Kau...sebaiknya Kau pergi..." tersenyum dan dengan cepat hilang di tengah-tengah kabut.



Taemin tetap berdiri terpaku. Ada perasaan aneh ketika gadis tadi mengelus kepalanya. Tak ingin mengabaikan peringatan Youngie,Taemin segera berlari meninggalkan taman.









Jaejoong membanting botol wine di tangannya. Darah segar itu dengan cepat mengotori lantai. "Panglima Shim...Pangeran Nichkhun...haaa!!!" raungan itu terdengar sangat mengerikan.









"Kabut" suara Youngie mengejutkan Chaebin.



"Darimana saja Kau? Sejak kapan Kau disini"



"Kenapa malah memanjat atap dan melamun? Sudah Ku bilang Kau harus menghentikan kebiasaan ini!"



"Aku hanya meniru Mu"



"Tapi ini berbahaya! Otak Dollar! Aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpa anak Kita!"



"Apa?? Anak Kita?? Haish..."



"Kau harus hati-hati dan menjaga anak Kita dengan baik! Atau Aku akan marah!". Chaebin tersenyum lesu. Youngie berdiri berkacak pinggang menatap langit "Aigo~ ck! Iya,Kak! Aku juga setuju dengan Mu! Otak Dollar ini memang payah! Lihat saja,Dia terlihat tidak percaya diri pada dirinya sendiri. Padahal Aku sudah berjanji Aku akan menjaga dan melindunginya sampai akhir".



Chaebin terlihat bingung melihat tingkah Youngie. "Kau bicara pada siapa?"



"Kak Jonghyun,siapa lagi?!". Mendengar nama Jonghyun wajah Chaebin kembali meredup. Youngie menyadari mimik Chaebin berubah sedih "Ya,Chaebin~aa" duduk di samping Chaebin "Aku sudah menandatangani kontrak dengan Kak Jonghyun,Aku telah berjanji di atas kontrak itu akan menjaga Mu dan kelak membesarkan anak Kita bersama,jadi Kau tidak perlu khawatir. Kau hanya perlu menjaga kandungan Mu dengan baik untuk Ku. Aku janji Aku akan jadi Ayah yang baik untuknya!"



"Kau ini apa-apa'an!" Chaebin memukul pelan lengan kiri Youngie sambil berusaha keras menahan air matanya. "Jangan bercanda lagi! Kau membuat Ku sedih" mengusap matanya.



"Ya sudah menangis saja,Aku tidak heran karena Chaebin memang cengeng haha"



"Yui!" kembali memukul lengan kiri Youngie "Ya,Mata Uang Won! Apa Kau itu benar adalah Lee Youngie si legendaris itu??"



"Menurut Mu bagaimana??"



"Entahlah~ tapi Aku senang bisa mengenal Mu sejauh ini. Aku tidak peduli siapa sebenarnya Kau ini,makhluk apa Kau ini...karena bagi Ku...Kau tetaplah Yui Kagemiya si Mata Uang Won...terima kasih..."



"Hehe iya,Otak Dollar!" merangkul Chaebin "...jadi Kau tidak akan menggugurkan anak Kita kan?"



"Kau ini!!! Apa Kau sudah gila!! Dia yang paling berharga yang Aku miliki sekarang!" memegang perutnya.



"Iya~ iya~ Aku percaya jadi jangan memanjat atap lagi demi anak Kita,Kau paham!". Chaebin tersenyum manis dan mengangguk paham. "Hihihi...oya satu lagi,kelak kalau anak Kita lahir ajari Dia memanggil Ku...Ibu,Kau mau kan?"



"Permintaan Mu aneh sekali! Kenapa Kau tidak menikah lalu hamil dan melahirkan anak Mu sendiri?!"



"Aigo~ kalau Aku bisa Aku tidak akan memohon pada Mu seperti ini! Boleh ya?"



"Aish! Dasar gila!" Chaebin beranjak turun meninggalkan Youngie.



"Hah~..." Youngie menghela nafas dan tersenyum sendiri.

***







Yoochun kembali muncul di depan publik. Yoochun membuka kampanye-nya sebagai calon presiden dengan melakukan pidato terbuka di depan gedung Utopia. Rakyat sudah berkumpul dan tak sabar ingin melihat pidato Yoochun secara langsung. Rakyat penasaran pada visi dan misi Yoochun yang pernah mengundurkan diri dari Utopia dan memilih menjadi koki ini. Massa berkumpul mengikuti pidato terbuka calon presiden yang sedang berlangsung. Hyuri dan Youngie lagi-lagi terlihat bersama di antara kerumunan massa. Hyunri terlihat duduk tenang mendampingi Pidato Yoochun yang mendapat sambutan positif dari rakyat. Pidato perdana Yoochun yang berlangsung selama satu jam berakhir apik dan dukungan mulai bermunculan untuk putra sulung mendiang Park Jinyoung itu.







"Menurut Mu ini awal yang baik atau buruk??" Hyuri masih memegang cangkir di tangannya.



"Kau pikir Aku ini Tuhan apa?? Maha Mengetahui segalanya" jawab Youngie seenaknya "Aku mana tahu"



"Biasanya ini mudah saja bagi Mu"



"Aku tidak berminat! Hah...Aku rindu restoran Phunggyõng,Kak Juyeon...mengantar coklat dan susu ke toko permen Minkyung...Chaebin...Heebyul...Kak Hyeoseo...bagaimana kabar Mereka semua?"



Hyuri meletakkan cangkir seraya menggelengkan kepala melihat Youngie. Hyuri tampak sibuk mengacak isi tasnya namun Youngie mengacuhkannya dan tetap duduk menopang kepala dengan kedua tangan di bawah dagunya. Hyuri mengeluarkan amplop coklat berukuran sedang kemudian meletakkannya di meja dan menggesernya tepat di hadapan Youngie. Youngie sadar dari lamunan dan menatap heran pada Hyuri.



"Sungguh...Kau benar,Aku memang berada di posisi yang sulit...Aku tidak bisa mengkhianati langit Ku dan Aku juga tak ingin kehilangan Blackjack...Aku tidak mau Kau menghancurkan harmoni ini tapi...hanya ini yang bisa Aku lakukan..." Hyuri melepas tangannya dari atas amplop dan tersenyum tulus pada Youngie.







Hyeoseo duduk di ranjang usai menyaksikan siaran langsung pidato Yoochun di televisi. Hyeoseo terlihat sedih melihat Yoochun. "Aku janji...Aku akan segera kembali dan membantu Mu...Kak Yoochun..."







Heebyul mengawasi seluruh sudut restoran Phunggyông. "Hari ini padat sekali" menyuapkan es krim ke dalam mulutnya.



"Musim panas dan restoran calon presiden,kombinasi yang menarik bukan?" komentar Chansung yang duduk di hadapan Heebyul.



"Emm!" Heebyul mengangguk yakin "Beberapa hari Aku duduk di sini memperhatikan Mereka" pandangannya tertuju pada pelayang restoran yang sibuk melayani pelanggan "...dan diam-diam mempelajarinya di rumah,Aku rasa Aku bisa sekarang" tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit.



"Kau ini bicara apa?? Aku benar-benar tidak paham..."



"Aesook meninggal sa'at bertempur lalu Chaebin dan juga Yui menghilang,tidak ada gunanya Aku bertahan di sekolah itu! Aku akan mundur dan keluar dari rumah,Aku akan bekerja di sini,bagus kan?"



"Byul??"



"Sebelum menemukan tempat yang cocok,Kak Victoria mau berbagi apartemen dengan Ku dan..." menatap tajam Chansung "...JANGAN MENGHALANGI AKU!!!" Heebyul menegaskan "...atau Aku akan membenci Oppa selamanya!"



"Iya...Iya...Aku tidak akan ikut campur" mengangkat kedua tangannya "Gadis Ku yang aneh...".



Heebyul hanya meringis menanggapinya.

***









Youngie selesai mengerjakan tugasnya. Ia duduk di sofa hitam bermotif klasik yang ada di dalam kamarnya dan memegang amplop pemberian Hyuri. "Apa Dia mengembalikan semua pemberian Ku?" gumamnya sambil berpikir sejenak. Youngie menggeleng lalu membuka amplop itu dan sepucuk kertas putih terjatuh. Youngie memungut dan mengamati kertas itu lalu perlahan membuka.



"...Blackjack! Ini Aku...Ginger ^_^ Aku sayang Kau Blackjack dan Aku juga sayang Tuan Muda Juno,jadi bagaimana? Aku tidak bisa memilih salah satu dari Kalian...jadi Aku membawa Mereka dalam amplop ini...semoga ini membuat Mu senang _Ginger_..." isi tulisan dalam kertas itu.



Youngie tersenyum lalu membuka keselurahan amplop. Ada beberapa foto berukuran 10R dalam amplop itu. Foto pertama yang menyambut tatapan Youngie adalah foto Junho. "...ini Tuan Muda kesayangan Ku ^_^ Lee Junho" isi tulisan di balik foto dan sukses membuat Youngie tersenyum lebar. Foto kedua gambar Junho dan Seunghyo dan foto ketiga masih gambar Junho. Tiba di foto ke empat mata Youngie melebar. Pemuda dengan senyum cute dalam foto yang di ambil Hyuri secara diam-diam itu tampak tak asing bagi Youngie. Youngie berusaha keras mengingatnya lalu Ia berhasil mengumpulkan memori di otaknya tentang pemuda itu. Dia adalah pemuda di pesta ulang tahun presiden dan pemuda yang sama sa'at pasukan Seunghyo datang membantu di Hutan Gõwl. Kenapa Hyuri memberikan foto pemuda itu? Tanya di benak Youngie dan dengan cepat membalik foto itu. "...Pangeran Koyangi yang tersisa...Lee Taemin...lihat! Betapa tampannya Dia ^,^..." tulis Hyuri di balik foto itu.



"DEG!!!" jantung Youngie serasa berhenti sa'at itu juga usai membaca tulisan Hyuri. Tangan kanan Youngie bergerak pelan dan jatuh di wajah pemuda dalam foto itu dan membelainya. "Ayah..." bisik Youngie seiring dengan jatuhnya air mata di pipi pucat Youngie. "...Ayah...Ibu...Taemin Ku...Taemin Kita masih hidup...Taemin Kita masih hidup..." Youngie menangis tersedu memeluk foto Taemin "...Pangeran Ku...Pangeran Kita masih hidup...Ayah...Ibu..." dengan berderai air mata. Youngie kembali menatap foto Taemin dan tersenyum bangga "...lihat Dia...Dia sangat tampan kan? Dia mewarisi ketampanan dan senyum sempurna Ayah...Taemin benar-benar mewarisi kesempurnaan Ayah..." mengusap air matanya dan beralîh pada foto kelima. Lagi-lagi air mata Youngie meleleh melihat fot Taemin "...Ginger pandai sekali mencuri sisi keren Mu..." kembali mengelus foto Taemin "...berulang kali Kita bertemu...pantas saja Aku merasa sangat aneh..." meletakkan telapak tangan kanan di dadanya. "...Kau berubah setampan ini...pantas saja Aku tidak mengenali Mu..." tersenyum dan masih berderai air mata. Foto ke enam Taemin masih memukau Youngie dengan senyumannya. Tiba di foto ketujuh membuat Youngie tak paham. Ada lima orang pria dalam foto itu dan Youngie benar-benar tak mengenali pemuda yang berada di samping Taemin. Youngie segera membalik foto mencari petunjuk Hyuri.



"...hah~ bagian ini yang tersulit tapi Aku berhasil meminta lima orang tampan ini berpose bersama ^...^ baca baik-baik urutannya! Seunghyun-Junho-Seunghyo-Taemin-Jinki..."



"Jinki???" bisik Youngie kemudian dengan cepat membalik foto dan memperhatikan pemuda yang berdiri paling ujung di dekat Taemin. Bibir Youngie bergetar tak bisa mengucapkan sepatah kata pun hanya menangis dan tangannya mengelus pelan wajah Jinki dalam foto.









Jinki yang melamun sendiri di atas pohon tersenyum menatap langit. "...Kau! Tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Aku rindu...sangat rindu...Aku rindu mengolok Mu ketika Kau berjalan dengan menyincing hanbok Mu...Aku rindu memarahi Mu ketika Kau mulai bicara meracau...apakah Kau enggan melihat Ku lagi? Dimana Engkau berada?"







Youngie mengusap sisa air matanya dan bangkit dari duduknya. Sedikit terkejut ketika mendapati Kibum sudah berdiri di tengah pintu kamar yang terbuka. Kibum pun sama sedikit terkejut ketika mendapati mata Youngie basah oleh sisa air matanya. Keduanya saling bertatapan sejenak sebelum akhirnya Youngie mempersilahkan Kibum masuk. Keduanya duduk bersama dan Youngie menunjukkan foto-foto yang baru Ia peroleh pada Kibum. Kibum mengamati satu per satu foto di tangannya lalu tersenyum dan menatap Youngie.



"Ada apa?" tanya Youngie sedikit salah tingkah karena tatapan Kibum.



"...tidak!! Tuan Muda Taemin sangat tampan,bagian apa pada diri Ku ketika Kakak melihatnya dan seolah menatap Tuan Muda Taemin?"



"Bicara Mu kacau sekali?"



"Akh~...Aku terlampau senang duduk di samping Kakak dan melihat foto-foto ini,itu...membuat Ku merasa jika Aku benar bagian dari Kakak"



"Cih~ ada-ada saja! Hmm...entahlah~ sa'at pertama kali melihat Mu malam itu...Aku merasa benar ada sisi Taemin Ku dalam diri Mu dan...sejak sa'at itu Aku tidak ingin Kau jauh dari Ku dan...dan sangat takut kehilangan Mu...rasanya sesuatu yang hilang telah kembali sa'at Kau datang...". Keduanya terdiam dan suasana jadi hening di kamar itu. "...Kau merasa keberatan??" menatap lembut Kibum.



Kibum mengembangkan senyum terbaiknya dan menggeleng antusias membuat Youngie tersenyum manis. "Oya,apa penghuni kastil Yõng sudah tahu perihal ini?" mengangkat tangan kanannya yang masih memegang foto.



"Belum,hanya Kau dan Aku tapi...Aku rasa Mereka akan segera tahu. Ada lagi yang ingin Kau tanyakan?"



"Emm?? Itu...iya! Sudah lama sekali ingin menanyakannya..." menyentuh leher kirinya.



Youngie tersenyum tipis "Apa Kau merasa lapar??"



"Eng...iya,sangat lapar dan haus. Kenapa tidak bisa makan makanan biasa? Dan...dan jadi hilang akal sa'at mencium bau darah dan..." menyentuh gigi taringnya yang memanjang dengan lidahnya "...semua ini jadi sangat mengganggu...Aku sangat sensitif pada cahaya dan...sinar matahari bisa membakar kulit Ku...apakah Aku benar-benar telah bertransformasi menjadi Viper?"



"Kau harus belajar cara mengendalikan itu semua"



"Jadi...Aku sekarang benar menjadi...Viper??"



Youngie mengangguk pelan. "Malam itu Kau di ambang kematian,Aku tidak mau kehilangan Kim Kibum dan Aku tidak mau melihatnya berubah menjadi Voracious..."



"Kakak..." Kibum mencoba mengingat kejadian di malam sa'at kediamannya di serang gerombolan Voracious dan Vipur.







Kibum merasa kematiannya sudah di depan mata. Terlalu banyak darah yang mengucur dari tubuhnya. Pandangannya mulai kabur dan tubuhnya menggigil karena kedinginan yang teramat sangat. Tiba-tiba sosok itu memeluknya dan sejenak terasa hangat. Kibum dapat mendengar teriakan yang memintanya untuk tetap bertahan itu. Tidak mungkin,Kibum tidak akan mampu bertahan. Tatapanannya mulai redup tapi seketika itu Ia merasa ada yang menggigit leher kirinya dan pelan-pelan menghisap darah. Sakit...teramat sakit. Itu yang di rasakan Kibum sebelum Ia kehilangan kesadarannya.







"Kak Youngie..." Kibum kembali menatap Youngie dengan mata berkaca-kaca dan tatapan bingung.



"Akhirnya terlepas juga" Junsu tiba-tiba muncul.



"Kak Junsu..." Kibum beralih menatap Junsu berharap pemuda itu mau menjelaskan padanya.



"Kau bertanya-tanya makhluk apakah Aku ini?". Kibum mengangguk antusias namun Youngie hanya tersenyum dingin dan diam.



"Dia itu...tidak hanya setengah siluman tapi...ada darah Viper mengalir dalam tubuhnya" Junsu kembali bicara dan berhasil membuat Kibum makin kebingungan. "Youngie...Dia yang menggigit Mu malam itu dan menjadikan Kau...Viper"



"Kak Youngie!" Kibum beralih menatap Youngie "Katakan jika semua itu bohong! Katakan itu bohong! Kak Youngie bukanlah Viper! Kak Youngie!" Kibum menggoyang lengan Youngie "KATAKAN KAK...KATAKAN YANG SEBENARNYA!!!"



Youngie tetap tenang dalam duduknya dan tak bergeming sedikit pun.















_______TBC_______







Cameo:

1. Kang Jiyoung KARA

2. Go Hara KARA

3. Sulli f(x)

4. Yoon Eun Hye

5. Lee Min Jung

6. Ham Eun Joong T-ara









_shytUrtle_

Fan Fiction FF

¤ FF TVXQ.JYJ,SHINee,2PM - TRIANGLE ¤

06:28

¤ T.R.I.A.N.G.L.E ¤





* Cast:

- Girls On Top ---> Lee Youngie/Yui Kagemiya,Jung Heebyul,Song Hyuri,Park Chaebin,Kim Hyejin/Moon Hyeoseo.

- TVXQ.JYJ,SHINee,2PM



* Genre: Serial/Straight/Horor-Fantasy



* Daftar Istilah:

- Hallow: makhluk 1/2 siluman atau darah campuran.

- Hyõnin: para pejabat tinggi pemegang pemerintahan dalam Utopia.

- Hon: golongan roh gentayangan.

- Saviour: golongan manusia ksatria pembasmi Viper yang tergabung dalam Utopia.

- Utopia: tempat berkumpulnya para ksatria pembasmi.

- Valour: golongan ksatria dari kaum Yowl.

- Viper: siluman golongan hitam yang menggunakan kekuatan goblin dan bertransformasi menjadi makhluk abadi penghisap darah (vampir)

- Voracious: siluman yang telah terinfeksi racun Viper dan menjadi monster yang selalu haus darah dan pemakan daging dan merupakan budak kaum Viper.

- Yowl: golongan siluman putih.











Episode #10







Jaejoong meremas dan membanting surat yang di serahkan Taecyeon. Berusaha keras menekan emosinya usai membaca surat yang di tulis atas nama Ratu Shima. Pasukan Ratu Shima menyerbu kediaman 4 Putri Vampir dan menyandra ke-empatnya. Siapakah sebenarnya Ratu Shima?

***







Malam berganti pagi. Geunyoung terbangun dari tidurnya. Semalaman Ia menjaga Hyeoseo yang di nyatakan mengalami koma usai kecelakaan. Terjadi benturan keras di kepala Hyeoseo dan menurut Dokter ini kedua kalinya Hyeoseo mengalami benturan itu. Yoochun tampak masih bertahan juga pagi itu. Ia merasa khawatir akan kondisi Hyeoseo. Sebelum mengalami kecelakaan Hyeoseo datang menemui Yoochun dan hal itu membuat Yoochun merasa bersalah.



Minkyung dan Eunsuh datang membesuk Hyeoseo pagi itu. Dari kedua gadis ini Yoochun tahu jika Youngie semalam hendak di tangkap pihak Utopia. Yoochun jadi panik,apalagi orang kepercayaannya membenarkan tentang hal itu. Seketika itu juga Yoochun meninggalkan rumah sakit dan segera mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk mencari Youngie.







"Heebyul! Heebyul!" panggil Hyuri sedikit berbisik dan menjulurkan kakinya berusaha meraih kaki Heebyul yang juga duduk terikat tak jauh dari dirinya. "Heebyul! Heebyul,Kau dengar Aku? Heebyul!"



"Aku dengar!" Heebyul seraya mengangkat kepala namun rambut coklat dan acak-acakan itu masih menutupi wajahnya.



"Kau baik-baik saja? Hah~ tadi Aku pikir Kau pingsan. Yui,dimana Dia? Apa ini Utopia?"

Heebyul menggoyang kepalanya mencoba menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya "Bukan! Ini bukan Utopia!" kini berusaha melepaskan ikatan tangannya "Aku rasa Mereka sengaja menculik Yui,juga Kita sepertinya bukan perintah Utopia"



"Apa?? Jadi ini kudeta?? Tapi Choi Siwon,bukannya Dia salah satu Panglima Saviour Utopia?? Kau...kenapa Kau bisa menyimpulkan seperti itu?"



Heebyul masih sibuk menggerakkan tangannya "Sungguh,Aku takut Mereka akan mencuci otak Kita! Lebih baik mati dari pada mengalami hal itu!"



"Heebyul! Berhenti meracau! Lalu dimana Yui? Kenapa Dia tidak ada disini bersama Kita?"



"Yui! Mereka menyiksa Yui!"



"Ap...apa??"



Seorang bawahan Siwon mengguyur Youngie dengan sekaleng penuh air agar gadis itu kembali sadar. Sejak berhasil membawa Youngie semalam,Siwon dan ke-empat bawahannya terus mengintrogasi gadis itu perihal penyerangan Voracious pada dua pemuda yang menyewa rumah milik keluarga Han juga tentang kejadian di hutan Gõwl dan hilangnya Park Chaebin. Siwon semakin keras mengintrogasi Youngie tapi sekeras itu pula Youngie bertahan. Meski Siwon terus menyiksanya namun Youngie tetap bertahan pada jawabannya bahwa Ia tidak tahu apapun dari semua pertanyaan yang di ajukan Siwon. Youngie tak bergeming dan memilih diam menahan sakit dari siksaan yang Ia peroleh.







Heebyul dan Hyuri tidak ada di rumah Yoochun. Seharian Yoochun turun tangan sendiri mencari Youngie,Heebyul dan Hyuri. Panik,ketika orang kepercayaan Yoochun mengatakan bahwa ketiga gadis yang di cari Yoochun tidak ada di Utopia. Bahkan tidak ada perintah dari Utopia untuk menangkap Youngie. Apa yang sebenarnya terjadi?

***









Jinyoung hanya membawa empat orang pengawal. Malam ini Ia berjanji untuk bertemu seseorang di sebuah gudang tua di perbatasan antara wilayah Gyõndong dan ibu kota Changgong. Sa'at sampai 3 orang berpakaian serba yang menyambut Jinyoung meminta para pengawal Jinyoung untuk tetap tinggal di luar. Jinyoung menurut dan masuk ke dalam gudang sendirian. Jaejoong tersenyum dan masih terkesan dingin menyambut kedatangan Jinyoung. Dua orang dengan kedudukan tertinggi dalam kelompok masing-masing ini kemudian duduk bersama.



"Lama sekali,Tuan Presiden tapi Kau terlihat sangat baik" Jaejoong memulai.



"Apakah sudah waktunya?" tanya Jinyoung dengan ekspresi tak sabar.



Jaejoong menyincingkan senyum di bibir tipisnya "Terburu-buru sekali"



"Aku sangat merindukannya"



"Sangat manusiawi"



"Kenapa ada pasukan Viper dan Voracious yang datang menyerang perkemahan di hutan Gõwl?"



"Sepertinya Tuan Presiden tidak senang akan hal itu"



"Itu terlalu berlebihan,Mereka tidak bersalah"



"Untuk mencapai kesempurnaan harus ada yang di korbankan,itu hukum alam. Bukankah ini menguntungkan Tuan Presiden? Pihak Keluarga Lee semakin terpojok dan kedudukan Tuan Presiden semakin aman". Jinyoung diam menatap Jaejoong lalu mengangguk pelan pasrah dan membenarkan penjelasan Jaejoong. "Aku ingin bertanya sesuatu"



"Emm?? Silahkan"



"Apakah Tuan Presiden mengetahui tentang Ratu Shima?"



"Ratu Shima?"











Changmin kembali menemui Minrie yang terlihat semakin parah. Entah kenapa Ia masih bertahan melindungi Minrie hingga kini meskipun Ia tidak bisa berbuat banyak. Ia dalam posisi sulit. Minrie telah terinfeksi racun Voracious dan semakin parah. Jika Minrie tetap bertahan,pada akhirnya Ia akan tetap berubah menjadi Voracious yang haus daging dan darah. Akan percuma juga jika Changmin menghisap darah Minrie,gadis itu tidak akan berubah menjadi Viper dan kemungkin terburuk hal itu akan mempercepat proses perubahan Minrie menjadi Voracious. Changmin benar-benar bingung. Ia tak mengerti kenapa Ia begitu kukuh menginginkan Minrie tetap hidup.







"Apa yang Kau lihat?" bisik Hyuri lagi.



"Mereka masih menyiksa Yui. Gadis bodoh! Keras kepala!" Heebyul masih menunduk dengan rambut menutupi seluruh wajahnya. "Dia...pingsan"



"Yui tidak akan mati semudah itu,Aku tahu!" Hyuri mulai menangis "Dia memang bodoh!" tangisannya pun pecah. Sesenggukan Hyuri kembali menoleh ke arah Heebyul "Tidak bisakah Kau dengan kemampuan telepati Mu itu meminta bantuan pada siapapun di luar sana?! Byul!"



"Apa~" Heebyul menoleh ke arah Hyuri,suaranya amat lirih hampir tak terdengar. "Hey! Fallen Leaves~ Yui akan sangat marah jika melihat Mu seperti itu...Dia...Dia selalu meminta Kita untuk tetap tegar apapun yang terjadi...Kita...Kau...Aku...Yui...Kita...tidak akan mati malam ini..."



"Kau membuat Ku semakin ketakutan Heebyul!"



"Kau ini bicara apa? Tenanglah...Aku rasa Yui bukan gadis biasa dan Ia tidak akan menyerah lalu membiarkan Kita semua mati seperti ini!"



"Heebyul~aa"





Youngie tertunduk dan tak sadarkan diri. Rumah kecil di pinggir hutan itu masih di jaga ketat oleh pasukan Siwon. Sangat hening ketika malam semakin larut. Youngie masih terpejam ketika hawa dingin itu mengitarinya. Youngie menyadari hal itu dan perlahan mulai membuka mata. Samar-samar Ia melìhat sosok tegap berjubah hitam sudah berdiri di hadapannya.





"Kau dengar itu?" bisik Hyuri seraya menajamkan telinganya.



Heebyul juga melakukan hal yang sama. "Iya Aku dengar...tunggu! Ada yang mendekat!"



Pintu kamar tempat Heebyul dan Hyuri terbuka. "Heebyul~aa" Yunho menerobos masuk dan bergegas melepas ikatan Heebyul.



"Kau kemari?" tanya Heebyul datar melihat Sang Kakak muncul.



"Aku datang untuk menolong Mu"



"Bagaimana Kau bisa tahu Aku di sini?!"



"Heebyul~aa!!!" gertak Hyuri yang merasa sungkan pada Yunho.

***







Masih terlalu pagi tapi Yoochun sudah tak sabar dan bergegas menuju kediaman Keluarga Jung. Merasa kecewa ketika sampai karena tidak ada Youngie di sana. Yunho hanya berhasil menemukan Heebyul dan Hyuri di rumah kecil itu.



"Viper menyerang tempat itu,salah seorang Saviour menghubungi Utopia" jelas Yunho "Aku juga kaget melihat Heebyul terikat di sana"



"Kaget??" potong Heebyul "Bukankah semalam Kau bilang Kau datang untuk menyelamatkan Aku?"



"Heebyul! Sudahlah!" gertak Yoomi "Tuan Muda,ma'afkan kelakuan Adik Ku"



Yoochun tersenyum kecil lalu menatap ke arah Heebyul "Aku akan membawa Hyuri pergi dari sini,apa Kau tidak keberatan?"



Heebyul menatap ke arah Hyuri. Bukan merasa berat hati jika Yoochun membawa gadis itu pergi tapi sebenarnya Heebyul ingin sekali ikut pergi bersama Yoochun dan Hyuri. "Bawa saja! Tempatnya bukan di sini!"



Yoochun mengangguk paham kemudian menatap Hyuri dan menganggukkan kepala memberi isyarat Hyuri ayo Kita pergi sekarang. Hyuri mengangguk paham dan berdiri lebih dekat di samping Yoochun. Heebyul menatap keduanya lalu membuang muka berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya. Hyuri menatap punggung Heebyul yang sama sekali tak berpaling menatapnya lalu menundukkan kepala.



"Kami pamit" ucap Yoochun memecah kebisuan "Yunho,terima kasih"



Yunho menganggukkan kepala. Yoochun tersenyum lalu meletakkan tangan kanannya pada bahu Hyuri mengajak gadis itu pergi. "Yoochun~aa" tahan Yunho dan Yoochun kembali menatap Yunho. "Ma'af tidak bisa menemukan gadis itu,sungguh sa'at Aku tiba di sana hanya ada Heebyul dan gadis itu" menatap ke arah Hyuri.



"Tidak apa-apa. Kau sudah melakukan yang terbaik. Aku pergi!"



Heebyul mengantar Yoochun dan Hyuri dari balik jendela kamarnya. "Kak Yoochun...Hyuri~aa..." bisiknya lirih.







Yoochun diam fokus ke depan duduk di belakang kemudi. Hyuri benar-benar merasa tak nyaman berada dalam situasi ini,namun hanya bisa diam menundukkan kepala. "Aku yakin Dia baik-baik saja,apa Kau juga?" tanya Yoochun seraya sedikit merubah tatapannya ke arah Hyuri "Apa yang Ia katakan sa'at Kalian terakhir bersama? Pasti Dia tetap seperti itu...hah~ gadis keras kepala"



"Dia juga teman lama Ku" bisik Hyuri membuat Yoochun benar-benar menoleh padanya. Hyuri tersenyum seolah mengenang sesuatu tanpa mengalihkan pandangannya "Blackjack memang seperti itu tapi...Aku yakin Dia akan baik-baik saja...bagaimana ini?" kini menatap Yoochun.



"Bag-gai-ma-na?" tanya Yoochun benar tak paham.



"Kita berdua mencintai orang yang sama jadi bagaimana?"





Hyuri menatap mobil Yoochun yang segera melaju meninggalkannya. "Berjuanglah,Tuan Muda!" ucapnya seraya tersenyum lalu mulai berjalan menuju apartemennya.

***







Belum habis rasa sedih dan lelah belum menemukan Youngie,Yoochun di kejutkan oleh berita kematian Jinyoung Sang Ayah sekaligus orang nomer satu dalam Utopia itu. Jinyoung di temukan tewas dengan luka sayatan pedang tepat di lehernya beserta ke-empat pengawalnya di desa suaka Koyangi. Hal ini membuat gempar seluruh Utopia dan juga penduduk Gyõndong terutama Junho dan keluarganya. Pimpinan tertinggi Utopia tewas terbunuh dengan cara mengenaskan. Siapakah pelakunya? Utopia berduka dan Keluarga Presiden amat terluka menerima kenyataan ini.







"Kau sudah sadar" Changmin kembali menemui Youngie. "Bagaimana luka Mu?"



"Ada apa tiba-tiba menolong Ku?! Kau ingin Aku berterima kasih pada Mu?"



"Aku membutuhkan bantuan Mu"



"Bantuan Ku?? Hagh~ Tuan Viper,apa Kau sedang bermimpi mengatakan hal itu?"



"Aku Shim Changmin,benar membutuhkan bantuan Mu"



"Kau bukan Viper biasa,siapa sebenarnya Kau ini?"



"Aku Shim Changmin,ya Aku Panglima Viper"



Youngie tersentak mendengar kata Panglima. Kenangan buruk tentang masa lalunya kembali muncul. "Panglima Viper dan pasukannya menyerang Kita!" teriakan para pengawal keluarga Lee seolah terdengar jelas di telinga Youngie.



"Nona?" suara Changmin membangunkan Youngie dari lamunannya. "Ada berita yang mungkin Kau ingin mendengarnya". Youngie tak bergeming tetap menatap tajam ke arah Changmin. "Presiden Utopia,Park Jinyoung di temukan tewas pagi ini di desa suaka,Koyangi".



Youngie lagi-lagi tersentak kaget. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apakah ini benar terjadi? Bagaimana dengan Yoochun? Pertanyaan itu seketika memenuhi benak Youngie.



"Apa ini penting bagi Mu?" tanya Changmin lagi "Pasti bukan Presiden tapi Koyangi dan..."



"Apa untungnya bagi Mu??" potong Youngie "Katakan! Apa tujuan Mu sebenarnya melakukan ini?"



"Kau pikir Aku terlibat?"



"Mungkin,tapi itu bukan urusan Ku!"



"Aku...Aku membutuhkan bantuan Mu"



"Bantuan Ku?? Kau benar-benar bermimpi Panglima? Apa Kau tidak menyadari itu terdengar amat menjijikkan?"



"Aku melihat semua yang terjadi di hutan Gõwl"



"Mengancam Ku? Kau...pemimpin pasukan yang menyerbu perkemahan? Kalian benar-benar biadab!"



"Aku mohon!" nada suara Changmin meninggi "Aku mohon ikutlah dengan Ku dulu! Setelah itu,Aku...Aku akan menyerahkan hidup Ku pada Mu"











"Nona menghilang dan Kau terus menangis seperti ini! Wahai Para Dewa di langit,apa yang harus Aku lakukan?!" Junsu mondar-mandir tidak tahu harus berbuat apa melihat Chaebin yang masih saja menangisi kematian Presiden Utopia. "Daripada Kau menangis di sini lebih baik Kau melayat saja huh! Wooyoung! Kemana Dia??" pergi meninggalkan Chaebin.



Chaebin mengusap air matanya yang tidak bisa berhenti terus menatap punggung Junsu kemudian kembali memeluk lututnya dan menangis. Ada seseorang yang mendekat,Chaebin menyadari hal itu. Sepertinya sudah berhenti tepat di hadapannya. Perlahan Chaebin mengangkat kepala dan seseorang berwajah pucat itu sudah berdiri di hadapannya sambil menyodorkan sebuah sapu tangan.



"Berhentilah menangis! Itu sangat berisik!" ucapnya pemuda berwajah pucat itu.



Wajah ini sangat asing bagi Chaebin. "Kak...Kau,siapa?"



"Kibum,Kim Kibum"











Youngie sibuk memeriksa Minrie. "Aku membutuhkan beberapa tanaman obat untuk menyembuhkan Kak Minrie,ini sudah terlalu lambat"



"Aku akan mencarinya!"



"Kau tidak bisa melakukannya,beberapa tanaman obat bisa membuat kulit Viper melepuh! Aku akan pergi,dimana Kita sekarang?"

***











Bendera duka berkibar di kediaman Keluarga Park. Awan hitam kesedihan menyelimuti Keluarga Besar Utopia. Hyochan terus mendampingi Nyonya Park yang masih tampak shock mendapati kematian suaminya yang begitu tragis. Yoohwan juga terlihat sembab usai menangis,Ia tak menyangka kemarin sore adalah pertemuan terakhirnya dengan Sang Ayah. Kerabat dekat,sahabat dan para Petinggi Utopia datang melayat. Yunho,Yoomi,Heebyul dan Chansung melayat bersama. Tampak pula Hyuri yang datang bersama Hami. Perhatian pelayat beralih ketika Seunghyo datang melayat bersama Junho. Kedatangan Keluarga Lee benar menyita perhatian. Presiden Utopia di temukan tewas terbunuh di desa suaka Koyangi,hal ini menimbulkan dugaan sebagian besar orang jika Keluarga Lee ada di balik tragedi ini. Seunghyo sempat mendapat penolakan beruntung Yoochun segera muncul dan mengizinkannya masuk. Seunghyo dan Junho ikut mengantar jenazah ke peristirahatan terakhir dan mengikuti prosesi pemakaman.





"Ini akan sangat menyulitkan Mu" Yoochun masih bertahan duduk di sisi pusara Sang Ayah. Para pelayat telah bubar,hanya tersisa Yoochun,Yunho dan Junho. "Aku sama sekali tidak curiga pada Mu meskipun bisa saja benar seperti itu kenyataannya,ma'afkan Aku..."



"Aku ikut bertanggung jawab atas hal ini. Aku tahu tuduhan mengarah pada Ku,Aku tidak akan lari dan Aku akan menyelidiki hal ini. Mungkin tidak berguna tapi Aku benar ingin membantu Mu" Junho menepuk bahu Yoochun. "Aku juga Putra Hyõnin,dalam berlatih pedang Kita di ajari untuk menusuk bukan menebas karena musuh Kita tidak akan tumbang dengan hanya di tebas" tambahnya sebelum pergi.

***







"Kak Yoochun..." Youngie menatap langit malam "Kakak pasti sangat sedih sekarang...ma'af...harusnya Aku ada di sisi Kakak...Aku tidak tahu perasaan apa ini tapi...Aku benar-benar ingin berada di sisi Kakak..."



"Yui..." Minrie berjalan menghampiri Youngie.



Youngie segera menghapus air matanya dan menyambut Minrie "Harusnya Kakak bilang pada Ku jika ingin keluar" memapah Minrie kemudian membantu gadis itu duduk "Merasa bosan?". Minrie mengembangkan senyum di wajah lesunya dan mengangguk pelan. "Jika ada matahari itu lebih baik" duduk di samping Minrie dan kembali menatap langit "itu bisa mempercepat kesembuhan Kakak"



"Terima kasih" bisik Minrie "Tadinya Aku pikir Aku akan mati"



"Kau bisa saja mati,bunuh diri sesuai aturan Utopia tapi Viper itu mencegah Mu" menoleh menatap Minrie yang segera mengangguk membenarkan ucapan Youngie. "Utopia yang berduka" kembali menatap langit "Apa Kakak juga merasa sedih dan kehilangan?"



"Aku hidup karena belas kasihan Tuan Presiden karena itu Aku ingin menjadi Saviour agar bisa membalas kebaikan Tuan Presiden tapi...kenapa jadi begini kacau?"









Taecyeon datang menghadap memenuhi panggilan Jaejoong. Keduanya terlihat membicarakan sesuatu kemudian Jaejoong memberikan sebuah botol wine berisi darah pada Taecyeon. Taecyeon mengangguk paham kemudian pamit dari hadapan Jaejoong.









"Yui,haruskah Aku berterima kasih pada Viper itu?" tanya Minrie usai suasana menjadi hening selama beberapa sa'at. "Kenapa Dia menyelamatkan Aku?"



"Hati mudah saja berubah. Belakangan jadi makin samar siapa lawan dan siapa kawan". Minrie terlìhat tak paham akan jawaban yang di ucapkan Youngie. "Mungkin terlalu dini untuk memastikan hal itu tapi sebaiknya Kakak mempersiapkan diri,apapun bisa terjadi" tersenyum pada Minrie yang masih memasang ekspresi tak paham. "Ayo! Kakak harus istirahat"









Taecyeon tiba di rumah sewaan tempat Nichkhun tinggal. Nichkhun menyambut hangat kunjungan Panglima Viper itu. "Yang Mulia Raja benar mengkhawatirkan keselamatan Pangeran usai peristiwa yang menimpa ke-empat Putri Vampir" Taecyeon sudah duduk di hadapan Nichkhun. "Yang Mulia Raja juga meminta Saya untuk menyampaikan permintaan ma'af karena Yang Mulia Raja tidak dapat menemui Pangeran secara langsung"



"Belakangan situasi memang sangat kacau,terima kasih atas semua perhatian dari Yang Mulia Raja" balas Nichkhun "Aku berencana besok malam menghadap Yang Mulia Raja,Aku sendiri belum sempat memberi selamat atas kenaikan tahta Yang Mulia Raja". Taecyeon tersenyum memaklumi. "Di pusingkan dengan hilangnya empat Putri tapi Yang Mulia Raja masih sempat memikirkan tentang keselamatan Ku,Aku sangat berterima kasih akan hal ini"



"Akan Saya sampaikan pada Yang Mulia Raja" lalu mengambil botol wine yang berisi darah dan sudah terbungkus rapi "Yang Mulia Raja meminta Saya menyampaikan ini" menggeser botol itu tepat lebih dekat di hadapan Nichkhun "Mohon di terima"



Nichkhun tersenyum dan menunjukkan ekspresi tersanjung "Terima kasih,terima kasih Panglima"











Youngie menutup pintu kamar Minrie dan Changmin baru saja kembali. Keduanya saling diam dan beradu pandang.



"Ada yang ingin Aku sampaikan" Youngie memulai pembicaraan sa'at keduanya sudah duduk di balkon.



"Terima kasih sudah menyelamatkan gadis itu" Changmin mengacuhkan permintaan Youngie.



"Apa Kau akan menyerahkan hidup Mu pada Ku?" menatap Changmin "Park Minrie...sadarkah Kau jika Dia seorang Saviour? Hagh~ kucing jatuh cinta pada tikus buruannya". Changmin tersentak mendengarnya. "Lupakan saja,itu bukan urusan Ku"



"Siapa sebenarnya Kau ini?!". Youngie tersenyum dingin tak bergeming. "Detak jantung yang datar,ekspresi yang datar seolah Kau ini bukan manusia. Aku melihat semuanya yang terjadi di Hutan Gõwl,sa'at Kau berubah wujud...Aku terus memikirkannya,apakah Kau itu Hallow? Atau Viper?". Youngie tidak mengucapkan sepatah kata pun dan tetap menatap Changmin. "Mungkin Kau lah gadis yang di cari Yang Mulia Raja selama ini. Jangan khawatir,Aku akan tetap tutup mulut dan memenuhi janji Ku pada Mu" menggoyang kalung yang melingkar di lehernya.



Youngie memperhatikan kalung bukan tapi lebih pantas di sebut besi pengikat budak di leher Changmin. Ia tahu Viper yang menggunakan kalung itu tidak akan bisa lepas dari Jaejoong. "Yang Mulia Raja?? Penasehat itu sudah sampai pada posisi itu?? Jadi...Ia benar-benar membunuh Ratu Black Widow..."



Changmin benar terkejut mendengarnya. "Bagaimana Kau bisa tahu tentang hal itu?"



"Apa yang harus Aku hentikan?"

***









Para pejabat tinggi Utopia mengkhawatirkan kekosongan kursi presiden dalam Utopia dan mendesak Yoochun untuk segera naik tahta. Yoochun di lingkari rasa bimbang. Ia memikirkan tentang keluarga,Utopia,rakyat dan Youngie yang masih belum juga di temukan. Yoochun sadar jika Ia adalah kandidat utama yang harus menggantikan Jinyoung untuk memimpin Utopia dan menjaga perdamaian dalam kehidupan rakyat biasa. Ia tak memungkiri ada rasa keberatan di hatinya. Jika Ia menerima untuk naik tahta,hal itu juga berarti Ia juga menerima pernikahan yang telah di atur Tetua Utopia,lalu bagaimana dengan Youngie? Yoochun hanya menginginkan Youngie,Park Youngie anak asuhnya untuk mendampinginya naik tahta. Yoochun berusaha mengulur waktu untuk menemukan Youngie tapi hal ini semakin mendapat tekanan dari para pejabat tinggi Utopia. Haruskah Ia tetap bertahan pada cintanya dan bersikap egois mengorbankan rakyatnya? Atau kah Ia harus mengorbankan perasaannya dan mengabdi pada rakyat?







"Pasukan Ratu Shima menghalangi proses penangkapan Lee Junho?" Park Jungmin Sang Penasehat Presiden terkejut menerima laporan begitu juga ke-empat Panglima Saviour Jung Yunho,Kim Jeonghoon,Park Jungsoo (Leeteuk) dan Choi Siwon.



"Iya,Tuan!" Cho Kyuhyun selaku Komandan yang memimpin pasukan yang di perintahkan menangkap Junho membenarkan "Orang-orang bertopeng itu menghadang Kami dan Mereka mengaku sebagai pasukan dari Ratu Shima,tidak ada bentrok antara Kami dan pemimpin pasukan itu meminta Saya menyampaikan ini pada Utopia" menyerahkan surat di tangannya pada Jungmin.



Jungmin membuka dan kemudian membaca isi surat itu. "Hah~ Ratu Shima,siapa Dia? Dia meminta Utopia untuk bertindak lebih bijak dan menyelidiki lebih lanjut perihal pembunuhan mendiang Presiden,jika memaksa menangkap Lee Junho maka Ratu Shima menyatakan perang pada Utopia". Ke-empat Panglima saling melempar pandangan mendengarnya.



"Tuan Penasehat" Kim Jeonghoon angkat bicara "Ma'af jika hal ini tidak berkenan tapi Saya setuju dengan isi surat tersebut,Saya rasa tindakan Kita tergesa-gesa,bagaimana jika Keluarga Lee menuntut Utopia karena mencemarkan nama baik Mereka? Kita tidak punya bukti yang kuat untuk melakukan penangkapan"



"Saya setuju dengan Panglima Kim" Park Jungsoo ikut bicara "Sebaiknya memberi surat panggilan untuk memberi kesaksian pada Keluarga Lee bukan langsung memberi perintah penangkapan. Kursi Kepresidenan masih kosong,Tuan Park Yoochun belum memberi keputusan,menurut Saya tindakan ini terlalu lancang"



"Lalu apakah Kita harus diam dan menunggu?" Choi Siwon menyela "Pembunuhan Presiden ini kasus besar dan berat"



"Itu benar dan karena itu Kita harus sangat berhati-hati menyelidikinya" jawab Jeonghoon.



"Panglima Jung,Aku serahkan penyelidikan ini pada Mu" Jungmin memberi perintah "Lee Junho adalah teman Panglima Jung di masa kecil jadi Aku rasa Panglima Jung lebih memahami bagaimana cara untuk menyelidikinya di bandingkan Panglima yang lain"



Yunho terlihat enggan namun tidak bisa menolak perintah "Baik,Tuan!" jawabnya dengan tegas.







"Menyelidiki sahabat lama,apa Kau bisa berlaku adil?" tanya Siwon sa'at ke-empatnya keluar bersama dari ruangan Jungmin.



"Kenapa Panglima Choi bertanya seperti itu?" tanya Jungsoo "Di antara Kita berempat,Yunho lah yang terbaik" jawab Jungsoo.



"Hagh! Terbaik?? Tapi tidak bisa mengatur keluarganya dengan baik" cela Siwon seraya berjalan mendahului.



Jungsoo menepuk bahu Yunho kemudian pergi. "Siwon...sedikit keterlaluan" ucap Jeonghoon.



"Tapi apa yang Ia katakan benar adanya" Yunho tak bersemangat.



"Kau tahu apa yang terbaik untuk Mu dan Adik Mu" seraya tersenyum kemudian pergi meninggalkan Yunho.













Yoochun terbaring di kursi taman. Terlihat sangat sejuk. Bunga-bunga bermekaran dan kupu-kupu menari riang di antara bunga-bunga. Kicauan burung menambah syahdu lukisan alam ini. "Tuan~" terdengar suara gadis berbisik dan sangat tak asing di telinga Yoochun. Yoochun membuka mata dan gadis itu tersenyum padanya.



"Yui!!!" Yoochun langsung duduk.



"Apa yang Tuan lakukan di sini?" Youngie duduk di samping Yoochun.



"Benar ini Kau??" menyentuh kedua bahu Youngie "Kau datang" langsung memeluk tubuh Youngie "Benar ini Kau..." membenamkan kepalanya di bahu Youngie "kemana saja Kau?? Em?? Tahu kah Kau jika Aku benar-benar rindu pada Mu??"



"Emm" Youngie menganggukkan kepala "Aku juga sangat rindu pada Tuan" melingkarkan tangannya di pinggang Yoochun. "Tuan...bisakah Kau tidak membuang waktu seperti ini?"



"Apa??" Yoochun melepas pelukannya dan menatap lekat gadis yang sangat Ia cintai itu. "Aku tidak membuang waktu tapi Aku menunggu Mu kembali"



"Aku tahu dan Aku sudah kembali. Aku akan selalu ada untuk Mu,Tuan jadi bisa kah Kita berjuang bersama seperti dulu?". Yoochun menatap Youngie dengan tatapan tak paham. "Bisakah Kita berjuang bersama tanpa bertindak egois?"







Bunyi ponsel Yoochun yang berdering keras membangunkannya. Yoochun terhenyak dan menyadari Ia tertidur di kursi santai yang berada di balkon kamarnya. Ia menghela nafas panjang merasa kecewa itu hanya mimpi. "Apakah itu jawabannya? Jika Kau ada dalam posisi Ku,itu kah yang akan Kau lakukan...Youngie~aa"

***











Heebyul janji bertemu dengan Hyuri kemudian bersama-sama menjenguk Hyeoseo yang masih koma. Sudah hampir dua minggu namun Hyeoseo belum juga menunjukkan perubahan.



"Rasanya makin terbatas ya?" Heebyul sa'at berjalan pulang "Aesook terbunuh,Yui dan Chaebin menghilang,lalu Kak Hyeoseo kecelakaan dan mengalami koma,hanya tersisa Kita. Eh,Kau merasa jadi bagian dalam lingkaran takdir ini tidak?". Hyuri tersenyum dan mengangguk pelan. "Sejenak saja jadi kacau balau"



"Menurut Mu apa Tuan Yoochun akan naik tahta?"



"Ummm...entahlah" Heebyul mengangkat kedua bahunya "Tapi para Tetua sudah sibuk mempersiapkan pernikahan untuknya"



"Kasihan..."



"Tapi sudah menjadi garis hidup Mereka,Yui dan Kak Yoochun tidak akan bisa bersatu"



Hyuri diam menatap Heebyul yang terlihat amat yakin pada ucapannya. "Padahal Aku sangat berharap Mereka akan bersama memimpin Utopia"



"Mereka tidak akan membiarkan gadis dengan asal-usul tidak jelas mendampingi Raja"



"Kau benar..."



"Belakangan ini kedua Kakak Ku terus membicarakan tentang Ratu Shima"



"Ratu...?? Shima...??"



"Aku ingin keluar dari rumah itu"



"Kau bisa tinggal dengan Ku"



"Tidak boleh! Jika itu terjadi berarti Mereka menang dan mendapatkan apa yang Mereka mau! Aku harus bertahan karena Aku kuat! Aku duluan..." Heebyul mempercepat langkahnya kemudian menghentikan taksi dan menghilang.







Hyuri masih diam di tempat Ia berdiri mencoba menela'ah kata-kata Heebyul. Ia kemudian tersenyum paham akan semua ucapan Heebyul dan kembali berjalan. Hyuri sampai di rumah kontrakan Seunghyun. Di sana sudah menunggu Seunghyun,Jinki dan Taemin.



"Apa?? Utopia mengirim pasukan untuk menangkap Tuan Muda Lee??" Hyuri benar tidak mengetahui tentang itu.



"Iya tapi ada pasukan bertopeng menghadang Mereka dan mengaku sebagai pasukan Ratu Shima" Seunghyun melanjutkan ceritanya "Pasukan Utopia kembali dan menurut yang Aku dengar dengan membawa pesan dari Ratu Shima karena itu Kami membutuhkan bantuan Mu"



"Bantuan Ku? Aku akan melakukan apapun itu"



"Tapi pasti akan sedikit sulit" Jinki ikut bicara "Selama ini Nona Song bekerja sama dengan Tuan Muda Park Yoochun bukan?"



"Iya,setelah 2 tahun mengejarnya akhirnya bisa mendapatkan kepercayaan Tuan Muda Park tapi benar ucapan Tuan,belakangan jadi sulit usai rentetan masalah sampai penculikan itu"



"Oh~ iya,Tuan Muda Lee meminta ma'af atas tragedi itu dan Beliau sangat mengkhawatirkan Nona Song"



Hyuri tersipu mendengar bahwa Junho mengkhawatirkannya. "Sebenarnya Saya juga bekerja sama dengan Blackjack"

"Blackjack??" tanya Taemin.



"Em! Dia lebih hebat dari Tuan Muda Park dan Ia tahu tentang banyak hal. Tuan Muda sudah pernah bertemu juga dengannya"



"Aku???" Taemin menunjuk hidungnya sendiri dan Hyuri mengangguk "Benarkah?? Dimana??"



"Hutan Gôwl,Dia gadis yang pandai meracik ramuan obat itu"



Taemin dan Jinki saling melempar pandangan mencoba mengingatnya. "Oh~ Nona itu...Dia memang terlihat bukan orang biasa" ucap Jinki yakin.



"Ah~ Kakak ramah itu? Iya Aku ingat" Taemin membenarkan "Jadi Kita bisa meminta bantuannya bukan?"



"Dia menghilang sa'at Kami di sandera,yang Aku dengar Viper menyerang rumah tempat Kami di sandera dan membawa Yui"



Semua terdiam menyesalkan kesempatan yang hilang. Mereka paham,orang-orang yang di culik Viper tidak ada yang kembali.









Heebyul duduk di hadapan Yoochun yang kacau. Sa'at perjalanan pulang Yoochun menelfon dan ingin bertemu. Heebyul memilih mini cafè tempat Ia biasa berkumpul bersama Caliptra sebagai tempat pertemuan. Awalnya Yoochun terlihat ragu,namun perlahan Ia pun menceritakan perihal mimpinya pada Heebyul.



"Hupft..." Heebyul menghela nafas panjang "Akhirnya Dia muncul juga menemui Kakak" merebahkan punggungnya di kursi.



"Jadi itu benar Youngie??"



"Youngie???"



"Yui...Park Youngie"



"Oh~" Heebyul manggut-manggut. "Semua kekacauan ini...Aku sangat benci di awasi,lalu dimana Yui Kagemiya berada? Apa Dia masih hidup? Atau Viper sudah membunuhnya? Tapi Dia datang dalam mimpi Kak Yoochun,gadis itu"



"Byul~aa Aku benar-benar tidak bisa berpikir sekarang"



"Ummm...Aku juga,mungkin juga Hyuri dan Yui Park Youngie...ah~ mundur atau bertahan"



"Bertahan"



"Ya sudah,naik tahta dan nikahi Jung Hyunri" membereskan tasnya "Kak Yoochun,jika bukan hal yang sulit itu bukan pilihan namanya" bangkit dari duduknya dan pergi.



Yoochun menatap punggung Heebyul dan tampak berpikir lagi. "Byul~aa!!!" bangkit dari duduknya dan menyusul langkah Heebyul.

***







"Jadi Pangeran Nichkhun sudah menerima pesan Ku?"



"Iya Yang Mulia dan Beliau sangat berterima kasih pada perhatian Yang Mulia Raja" Taecyeon ikut berbinar.



"Em..." Jaejoong mengangguk paham.



"Yang Mulia,haruskah Saya meminta Panglima Shim kemari?"



"Tidak,biarkan saja Dia beristirahat. Kau juga beristirahatlah Panglima Ok"



"Baik,Yang Mulia!"











Youngie kembali menyendiri dan menatap langit malam. Tanpa Ia sadari Minrie memperhatikan hal itu. Changmin menghampiri Minrie setelah sempat diam memperhatikan gadis itu selama beberapa sa'at.



"Kenapa tidak mendekat?" sapa Changmin.



"Emm!" Minrie sedikit kaget "Tidak. Aku lebih suka melihatnya seperti itu". Changmin mengangguk dan keduanya kembali saling terdiam. "Tuan Aku..." Minrie terlihat ragu sementara Changmin menunggu Minrie melanjutkan kata-katanya. "Terima kasih" ucap Minrie cepat.



"Berterima kasihlah pada gadis itu"



"Tapi,Tuan yang menyelamatkan Aku"



"Baiklah. Apa Kau ingin kembali pada keluarga Mu?"



"Aku ini yatim piatu" jawab Minrie lirih.



"Kalau begitu bawa Dia pergi bersama Mu" celetuk Youngie membuat Minrie dan Changmin kaget kemudian kompak menatapnya.



"Yui!!! Sejak kapan Kau di sana?!!" Minrie terdengar kesal.



"Tenang saja Aku tidak menguping! Ayo Kita pergi sekarang!"



"Eh,kemana??"



"Kau bilang Kau ingin memberi penghormatan terakhir di depan pusara Presiden Utopia,Nona Kagemiya akan membawa Mu kesana" jawab Changmin.



"Tapi...apa Kau bisa menembus penjaga??"



"Ck! Kakak meragukan Aku??"



"Panglima Shim!" salah satu pengikut Changmin menyela "Pangeran Nichkhun menuju kemari"



"Pangeran Nichkhun??" Changmin kemudian menatap Youngie.



Youngie mendongak menatap langit "Sangat tidak wajar" ucapnya kemudian.











"Kak Youngie...Dia suka sekali menatap langit malam seperti ini" Kibum duduk di atap Kastil Yong bersama Chaebin. "Aku sangat mengaguminya...apa menurut Mu ini cinta?"



"Entahlah..." Chaebin menggeleng pelan "Mata Uang Won itu gadis yang aneh dan misterius,jika Kau mencintainya Kau harus bersaing dengan Tuan Muda Park Yoochun"



"Aku tahu dan meskipun Aku mengatakan jika Aku mencintainya dari awal Aku menatapnya,perasaan Kak Youngie tidak akan berubah karena baginya Aku adalah Taemin...Adiknya yang hilang"



"Sangat tidak adil..."



"Tidak. Ini sangat adil" Kibum tersenyum menatap langit membuat Chaebin bingung menatapnya. "Aku merasa beruntung,Aku bisa berada terus di sisinya"



"Meskipun Kau hanya bisa mencintainya dalam diam?"



"Emm!" Kibum mengangguk yakin. "Apa Kau masih merasa sedih Nona Park?"



"Tidak...Apa Yui Kagemiya Si Mata Uang Won akan kembali?"



"Pasti! Aku yakin Kak Youngie akan kembali"













Nichkhun datang tidak untuk berkunjung tapi untuk menyerang. Ia memerintahkan pasukannya untuk menyerbu kediaman Changmin. Youngie dan Minrie ikut bertarung melawan pasukan Nichkhun.



"Kau bilang Dia Pangeran Vampir yang baik,tapi kenapa Dia menyerang Panglima Shim?" tanya Minrie di sela pertempuran.



Youngie beradu punggung dengan Minrie dan beberapa vampir mengitari keduanya bersiap menyerang. "Ini bukan dirinya" ucap Youngie.



"Apa??"



"Pangeran Nichkhun di kendalikan seseorang"







Jaejoong duduk bersila di kamarnya. Bibirnya terus melafalkan mantra dan tepat di hadapannya terdapat sebuah boneka jerami.







"Di kendalikan? Ini sihir?" tanya Minrie tak paham.



"Iya! Kakak,Kita lawan bersama,Kita harus menemukan Pangeran Nichkhun dan Panglima Shim"



"Emm!" Minrie mengangguk paham lalu keduanya bekerja sama mengalahkan vampir-vampir yang mengepungnya. "Itu Mereka!" tunjuk Minrie pada Changmin dan Nichkhun yang tengah berduel.



Youngie menatap Nichkhun yang benar berubah. "Tetaplah di sini"



"Yui! Apa yang akan Kau lakukan?"



"Panglima Shim tidak akan sanggup menghadapinya sendirian" seraya melayang turun ke lantai dasar kediaman Changmin.



"Harusnya Kau bawa gadis itu pergi" ucap Changmin sa'at Youngie tiba-tiba muncul membantunya.



"Kita akan pergi bersama-sama" Youngie masìh mengangkat pedangnya "Panglima tidak akan sanggup menghadapinya sendiri"



"Aku tahu. Pangeran Nichkhun di bawah kendali Kim Jaejoong"



Youngie menoleh ke arah Changmin dengan tatapan serius. Lalu keduanya saling memberi isyarat dan bersama-sama melawan Nichkhun. Minrie mengamati pertarungan dari lantai 2 kediaman Changmin sambil terus memanjatkan do'a. Berulang kali Youngie mencoba membuat Nichkhun sadar tapi usahanya terlihat sia-sia. Changmin terlempar sa'at Nichkhun dengan kuat menghempaskannya. Changmin yang terluka terus merayap mencoba meraih pedangnya.



"Pangeran! Aku mohon sadarlah! Ini Aku,Yui!" Youngie terus meneriakan kata-kata itu sambil berusaha melawan serangan Nichkhun. Nichkhun tak bergeming sedikit pun malah semakin gencar menyerang Youngie. Youngie terdorong hingga merapat ke tembok. Ujung pedang di tangannya sudah mengarah tepat ke dada Nichkhun namun Youngie tak tega untuk menghunuskannya. Youngie tak tega,benar-benar tak tega. Kedua tangannya gemetar dan masih memegang pedang. "Pangeran...Aku mohon sadarlah...ini bukan diri Mu yang sebenarnya...Aku Yu..." Nichkhun mencekik leher Youngie dan menekan gadis itu semakin rapat pada tembok. Air mata Youngie meluncur pelan ketika Ia menatap Nichkhun yang menatapnya dengan tatapan kosong. Youngie hanya bisa menangis.



Changmin hanya tinggal dua jengkal dari pedangnya namun Minrie dengan gesit mengambil pedang Changmin. "Hentikan!" teriak Changmin "Itu berbahaya!"



Minrie tak menggubris peringatan Changmin "Hyaaaaaa!!!" sekuat tenaga Ia menebas punggung Nichkhun namun sia-sia pedang di tangannya patah jadi dua. "Aaa~" Minrie meronta sa'at Nichkhun mencekiknya sejajar dengan Youngie.

Dua gadis itu terjepit dan Nichkhun mencekik keduanya. Changmin berteriak dan terus merayap mencoba menolong Minrie dan Youngie. Minrie terus meronta kesakitan.



Youngie memejamkan mata "Pangeran,ma'afkan Aku..." bisiknya seraya mengangkat pedang dan menusuk dada Nichkhun.



"Yui~" suara lembut Nichkhun terdengar seiring mengucurnya darah segar dari luka di dada Nichkhun.



"Uhuk! Uhuk!" Minrie duduk terjatuh ketika Nichkhun melepaskan cengkraman di lehernya.



"Pangeran~" bisik Youngie. Nichkhun tersenyum lalu mengusap pelan sisa air mata di pipi Youngie. "Pangeran Kau kembali?"



Nichkhun mengangguk pelan masih mengelus lembut pipi Youngie. "Aku tidak bisa mengkhianati janji Ku dan Aku tidak bisa menyerahkan gadis yang Aku cintai..." tersenyum dan menatap lembut Youngie. "Yui...Aku mencintai Mu..." memegang erat pedang Youngie dan menancapkan pedang itu hingga menembus jantungnya. Perlahan tubuh Nichkhun terbakar dan hilang seluruhnya menjadi debu.



Minrie menangis dalam pelukan Changmin tak tega melihat kejadian itu. "Klunting" pedang di tangan Youngie terjatuh ke lantai namun gadis itu tetap berdiri pada posisinya dan terlihat shock.









Jaejoong membuka mata ketika boneka jerami di hadapannya tiba-tiba terbakar. Ia bergegas turun dan berteriak memanggil nama Taecyeon. Taecyeon buru-buru menghadap dan Jaejoong memerintahkannya untuk segera membawa pasukan menuju kediaman Changmin. Taecyeon bergegas membawa pasukan menuju kediaman Changmin. Ketika sampai Ia di buat terkejut melihat rumah megah Changmin terbakar.

***







Utopia terlihat sangat sibuk. Yoochun telah memberi jawaban bahwa Ia bersedia naik tahta dan menerima pernikahan Utopia. Berita pernikahan Putra Sulung sekaligus penerus tahta Presiden ini dengan cepat menyebar luas dalam masyarakat. Tetua Utopia telah menetapkan Jung Hyunri salah satu keturunan dari Klan Jung dalam Hyõnin Trisula sebagai calon istri Yoochun. Putri salah satu pejabat tinggi Utopia ini memang tak terlalu menonjol sebelumnya meski Ia tergabung dalam Badan Pengawas. Gadis cantik bertubuh mungil ini jadi ramai di bicarakan ketika namanya muncul sebagai calon istri Park Yoochun.





Sehari menjelang pesta pernikahannya,Yoochun di temani Heebyul datang menjenguk Hyeoseo yang masih koma. Yoochun bercerita banyak pada Hyeoseo sekaligus meminta ucapan ma'af dan menyampaikan berita pernikahannya. Yoochun juga tak lupa menemui Baekmo salah satu Tetua Utopia yang selalu Ia jadikan tempat meminta pertimbangan. Nenek Baekmo merestui pernikahan Yoochun dan meminta pemuda itu untuk tidak mengkhawatirkan Youngie. Yoochun menyanggupi dan berjanji akan menjalankan tugasnya dengan baik sa'at Ia naik tahta menjadi Presiden Utopia.





Pernikahan Utopia pun di gelar. Upacara pernikahan dan pemberkatan di lakukan dalam Utopia. Prosesi berjalan lancar dan khidmat. Masyarakat memadati sepanjang jalan utama dari Utopia menuju Kediaman Keluarga Presiden. Dengan sabar Mereka menunggu arak-arakan yang akan lewat memboyong pasangan pengantin penerus tahta Presiden. Sekitar 2 jam menunggu,mobil pengiring mulai muncul membuat massa yang berkumpul bersorak sorai. Usai dua mobil sedan mewah muncul bersama tiga baris pasukan motor besar,kemudian muncul pasukan berkuda. Tepat di belakang pasukan berkuda tampak Yoochun duduk di atas kereta kuda yang di hias indah. Ia terlihat tampan dengan hanbok pengantin berwarna merah itu. Senyum terus terkembang di wajah tampan Yoochun. Dengan anggun Ia melambaikan tangan pada rakyat yang memadati sisi kanan dan kiri jalan utama. Tepat di belakang kereta kuda Yoochun dan hanya di pisahkan dua prajurit berkuda tampak Hyuri duduk dengan tenang dalam kereta kuda yang terlìhat lebìh indah dari kereta kuda Yoochun.





Hyuri dan Youngie berdiri di antara ribuan rakyat yang memadati jalan utama untuk menyaksikan rombongan pernikahan ini. Youngie terus tersenyum dan terlìhat tenang menyaksikan arak-arakan. Hyuri sesekali mengambil gambar dan ketika Yoochun lewat di hadapannya Ia menatap Youngie dengan tatapan iba. Youngie terlihat amat baik dan terus tersenyum lebar. Di dalam hatinya Ia terus memberikan dukungan pada Yoochun dan membenarkan jalan yang di pilih Yoochun.







Televisi masih terus menayangkan pernikahan Yoochun-Hyunri meski massa telah membubarkan diri dari jalan utama. Aktifitas rakyat kembali normal usai rehat sejenak. Youngie dan Hyuri menghabiskan sore Mereka bersama di sebuah cafè kecil. Tak beda dari tempat lain,di café itu masih saja ada beberapa orang yang berkumpul di depan televisi untuk menonton siaran ulang liputan pernikahan Yoochun-Hyunri.



"Apa Kau tidak merasa ini terlalu berlebihan?" komentar Youngie "Apa tidak puas setelah tadi memadati jalan?"



Hyuri tersenyum "Kau cemburu? Harusnya Kau yang duduk di atas kereta kuda kedua"



"Aish~ cemburu? Aku berulang kali menolak lamaran Park Yoochun jadi buat apa Aku cemburu?"



"Aigo~ baru kali ini Aku melihat Mu seperti itu,tapi Aku malah merasa menyesal Kau tidak menikah dengan Tuan Yoochun"



"Eh??"



"Hahaha...Aku bercanda tapi jujur Aku merasa sangat khawatir Kau patah hati"



"Kau lebih khawatir Aku patah hati daripada Aku mati?"



"Aku tahu Kau tidak akan mati semudah itu! Kau belum mendirikan surga Mu jadi Kau tidak boleh mati sebelum itu"



"Iya~" Youngie tersenyum mengenang sesuatu. Kemudian Ia mengambil sebuah amplop dari sakunya dan menyerahkan pada Hyuri.



"Eh?? Apa ini??"



"Jangan di buka!" cegah Youngie "Kau lupa perjanjian Kita?"



"Ma'af...Aku penasaran apa isinya"



"Hanya sebuah pengakuan"



"Sebuah pengakuan?"



"Aku akan tetap membantu Mu seperti sebelumnya tapi bisakah Kau berpura-pura seolah-olah Aku ini tidak pernah ada"



"Apa?? Kau ingin Aku menghapus Mu dari memori Ku?"



"Yui Kagemiya adalah buronan Utopia dan Ia telah mati di culik Viper,begitu kenyataannya". Hyuri terdiam. "Aku ingin Kau tetap hidup Ginger,Kau harus tetap hidup untuk mencatat sejarah. Aku percayakan semua ini pada Mu karena Aku tahu Fallen Leaves selalu menilai sesuatu dari dua sisi. Aku tidak akan membiarkan Mu mati mendahului Aku"



"Memangnya Kau ini Tuhan??" canda Hyuri menutupi kesedihannya. "Terima kasih telah mempercayai Aku"



"Itu karena Kau telah membayar mahal Aku"



"Blackjack~!!! Oya,bagaimana Chaebin? Malam itu Dia pergi bersama Mu"



"Kami berpisah dan Aku tidak tahu Dia dimana". Hyuri kembali memasang ekspresi bingung. "Kau tidak percaya pada Ku?"



"Bukan begitu..."



"Kalau Kau bertemu Chaebin,tolong katakan padanya kalau Kim Jonghyun telah mati" potong Youngie dan Hyuri jadi tegang mendengarnya "Tidak ada yang kembali hidup-hidup setelah di culik Viper" tambah Youngie.



Keduanya terdiam sejenak. "Heebyul terus meracau dan Hyeoseo koma"



"Kecelakaan itu penyebabnya?"



"Kau tahu?"



"Sedikit. Kak Hyeoseo koma tidak akan ada Yoochun's Angels setelah ini karena Park Yoochun telah menikah dan akan menjadi Raja hah~ hidup memang sulit di tebak"



"Bagaimana tentang Ratu Shima?"



"Orang yang hanya bersembunyi di belakang pasukannya itu? Entahlah,tanyakan saja pada klan Gyôndong,Kau salah satu orang kepercayaan Junho kan?"



"Yui!!!"



"Kenapa?? Apa Junho datang membawa Youngie si Makhluk Hallow dan Taemin si Siluman Kucing?"



"Yui!!! Hentikan menyebut nama Tuan Muda Lee seperti itu! Kau tidak sopan sekali!"



"Ckckck! Calon istri Lee Junho marah,Aku hanya bertanya dan Aku bukan pengikut Lee Junho,Aku rasa tidak perlu terlalu formal Nona Aroma Melon! Aku tidak mau di sebut-sebut sebagai pengikut Hyõnin Lee Si Pemberontak"



"Yui!!!"



"Situasi benar-benar kacau sekarang...Ratu Shima..."



"Iya,Ratu Shima! Menurut Mu Dia lawan atau kawan?"



"Entahlah~"

***







Jinki,Taemin dan Seunghyun masih bertahan di depan televisi ketika Hyuri datang. Hyuri tersenyum seraya menggelengkan kepala berjalan menuju dapur.







Tiba-tiba saja Youngie sudah berada di dalam kamar Hyeoseo. Youngie diam berdiri tepat di samping kanan ranjang Hyeoseo. Perlahan Youngie mendekat kemudian membungkukan badannya lebih dekat menatap Hyeoseo. Perlahan tangan Youngie bergerak dan membuka alat bantu pernapasan Hyeoseo. Youngie meniupkan hawa murninya tepat ke mulut Hyeoseo.







Hyuri mencuci piring usai makan malam. Sedikit melamun terus memikirkan kejadian sepanjang hari ini. Di pagi buta ponselnya berdering dan suara comel Youngie langsung menyerbu telinga Hyuri.



"Calon istri Lee Junho?? Aish!!"



"Ma'af??" tanya Taemin.



"Tuan??" Hyuri kaget mendapati Taemin sudah berdiri di sampingnya. "Sejak kapan Tuan Muda di sini??"



"Baru saja,kenapa Nuna begitu terkejut? Apa Aku mengganggu?"



"Ah~ tidak" melanjutkan mencuci piring.



"Pasti karena Blackjack?"



"Tuan??"







Chaebin makin merasa kesepian belakangan ini. Hanya sesekali saja Kibum muncul menemaninya. Youngie tak kunjung kembali tapi tampaknya semua penghuni Kastil Yong tetap tenang. Chaebin merasa kurang sehat. Ia berjalan menuju kamar mandi. Alat tes kehamilan itu sudah di tangannya namun Chaebin tampak ragu. Ia menghela nafas panjang dan memejamkan mata selama beberapa sa'at. Perlahan Chaebin membuka matanya dan melirik alat tes kehamilan yang masih Ia pegang. Chaebin terbelalak melihat dua garis merah muncul dalam alat berwarna putih itu. Seketika itu juga Chaebin terduduk lemas dan menangis.









"Jadi Nona Blackjack memiliki analisis seperti itu?" tanya Taemin usai Hyuri menceritakan obrolannya. "Dia meminta Nuna pura-pura tak melihatnya...Dia benar-benar ingin di anggap telah mati..."



"Iya,tapi Saya tidak bisa menutupi hal ini dari Tuan Muda Taemin,entah kenapa Aku merasa seperti ini". Taemin tersenyum mendengarnya. "Kenapa Tuan Muda Taemin terlihat begitu tertarik pada Blackjack?"



"Entahlah...sa'at pertama kali bertemu dengannya di pesta ulang tahun Tuan Presiden rasanya sangat tenang seolah-olah Aku telah mengenal Nona itu sebelumnya bahkan Aku sempat berpikir jika Dia mungkin adalah Silence Nuna yang Aku cari"



"Teman chatting Tuan Muda itu?"



"Em! Dia juga siswi Hyesông Academy"



"Tapi Blackjack itu sangat malas mempelajari dunia maya,menurutnya hanya membuang waktu saja"



"Benarkah?? Jadi dugaan Ku salah"











Chaebin kembali membasuh wajahnya dengan air. Walau membasuhnya berulang kali tetap saja mata sembab Chaebin tak bisa di sembunyikan. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan. Sudah terlalu lama Ia mengunci diri di dalam kamar mandi. Chaebin memegang gagang pintu dan membukanya.



"Oh~ Yui!!!" Chaebin tersentak mendapati Youngie sudah berdiri di depan pintu kamar mandi hingga alat tes kehamilan di tangannya jatuh mengenai kaki Youngie. Youngie menundukkan kepala mengamati benda yang terdiam di ujung kakinya. "Yui~aa" rengek Chaebin ketika Youngie membungkuk dan memungut benda di ujung kakinya itu."Yui~"

















_________TBC_________









cameo:

1. Park Jungmin

2. Leeteuk Super Junior

3. siwon Super Junior

4. Kyuhyun Super Junior













_shytUrtle_

Search This Blog

Total Pageviews