Fan Fiction FF

Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy

07:06

Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy

It's about rainbow, love, hate, glory, loyalty, betrayal and destiny.......
 
 
. Judul: “Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy”
. Author: shytUrtle_yUi
. Rate: Serial/Straight/Fantasy-Romance.
. Cast:
-                  Song Hyu Ri (송휴리)
-                  Rosmary Magi
-                  Han Su Ri (한수리)
-                  Jung Shin Ae (정신애)
-                  Song Ha Mi (송하미)
-                  Lee Hye Rin (이혜린)
-                  Park Sung Rin (박선린)
-                  Song Joongki, L,Joe Teen Top, L Infinite, Jung Daehyun B.A.P, Jo Jonghwan 100%, Baro B1A4, Jang Geunsuk, Yoo Seungho, Kim Sunggyu Infinite, Choi Joonghun FT.Island, Cho Kyuhyun Super Junior, and many other found it by read the FF.

...Ketika kau melihat pelangi, apa yang ada di benakmu? Tujuh warnanya yang indah atau...? Di sini, Wisteria Land, kami percaya jika pelangi adalah jelmaan sang Naga. Naga arif dan bijaksana yang selalu mengawasi dan menjaga tanah Wisteria Land. Naga yang pada suatu waktu muncul dengan keelokan wujudnya dengan tujuh warna pelangi. Apa kau juga percaya akan hal ini...?
***
 
 
Land #32


                Magi mengamati Joongki dari atas ek bawah. “Apa dia benar-benar menguntit kami? Apa yang dia cari dari kami? Siapa sebenarnya orang ini?” batin Magi masih mengamati Joongki yang terus menatapnya dengan wajah tersenyum.

“Magi!” panggil L.Joe yang akhirnya menemukan Magi sedang berdiri mematung di tengah kerumuman. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya L.Joe yang sempat turut memandang Joongki. “Apa dia mengganggumu?” imbuhnya khawatir.

“Tidak. Mari kita pergi!” ajak Magi buru-buru sebelum kecurigaan L.Joe makin menjadi.

L.Joe menatap curiga pada Joongki. Ia gandeng tangan kanan Magi dan menuntunnya pergi. Joongki tetap berdiri tenang saat L.Joe menatapnya dengan sinis. Joongki masih memerhatikan L.Joe dan Magi yang bergandengan tangan berjalan menjauh darinya. Joongki menghela napas dan merasa penasaran pada siapakah pemuda yang menggandeng gadis incarannya itu.

Sementara itu Kyuhyun yang berada tak jauh memantau Joongki mengalihkan pandangannya sejenak untuk menatap kekasihnya Sungrin. Senyum manis terkembang di wajah Kyuhyun ketika ia menatap Sungrin dari kejauhan. Ingin sekali Kyuhyun mendekat dan bermain layang-layang bersama Sungrin, namun ia tak bisa. Ada hal yang lebih penting yang harus ia kerjakan yaitu menjaga Joongki. Kyuhyun menghela napas dan tersenyum getir masih menatap Sungrin yang terlihat ayu dan anggun dalam balutan Hanbok pemberiannya. Ada rasa lega di hati Kyuhyun. Walau ia tak bisa menemani Sungrin untuk menikmati indahnya Festival Gardenia, ia masih bisa menatap kekasihnya itu tersenyum bahagia bersama teman-teman barunya.
***

Tak hanya pasangan muda-mudi yang turut dalam festival layang-layang. Beberapa pasangan suami-istri yang tak muda lagi turut bermain layang-layang. Bahkan ada beberapa pasangan lanjut usia juga turut berpartisipasi.

Seungho kesal karena Shin Ae lebih memilih Sukjin untuk menemaninya bermain layang-layang. Ia menatap kesal pada Shin Ae yang bersiap-siap menerbangkan layang-layang bersama Sukjin. Seungho mendesah kesal. Wajahnya semakin murung ketika menatap Jonghwan dan Suri yang terlihat sangat bahagia bermain layang-layang bersama. Ditambah ketika L.Joe dan Magi datang bergabung lalu menerbangkan layang-layang mereka. Seungho kembali menghela napas. Tatapannya terhenti pada Sungrin yang berdiri tak jauh darinya dan senyum-senyum sendiri melihat Jonghwan-Suri, Sukjin-Shin Ae dan L.Joe-Magi menerbangkan layang-layang bersama. Seungho tersenyum dan berjalan menghampiri Sungrin lalu mengajak gadis itu bermain layang-layang bersama.

Tersisa Hyuri yang masih berdiri diam memegang layang-layangnya sambil menatap teman-temannya yang telah berhasil menerbangkan layanglayang mereka. Hyuri tersenyum getir. Andai Myungsoo ada di sini sekarang. Hyuri benar-benar mengharapkan hal itu. Hyuri menatap layang-layang di tangannya. “Bagaimana ini? Aku tak menemukan seseorang yang bisa aku ajak untuk memainkan layang-layang ini. Apa aku harus memainkannya sendiri?” batin Hyuri dalam hati masih menatap layang-layang di tangannya. “Kris. Kenapa tiba-tiba aku merindukanmu? Amber, JB, Rap Monster. Aku rindu kalian...” bisik Hyuri dalam hati dan membuatnya tertunduk semakin dalam.

“Bagaimana jika kita memainkan layang-layang itu bersama?” suara itu membuyarkan kekhusyukan Hyuri yang sedang meutuki nasibnya. Hyuri mengangkat kepala dan menoleh ke kanan dimana suara berasal.

Joongki yang menatap para pasangan yang sedang menerbangkan layang-layang-lebih tepatnya terfokus pada Magi- tersenyum getir. Ia tak mengalihkan tatapannya pada Hyuri yang sedang mengamatinya dengan tatapan heran.

“Orang ini... sepertinya tak asing.....” gumam Hyuri dalam hati masih mengamati pemuda yang mengenakan Hanbok berwarna ungu itu.

Joongki tersenyum lebih tulus ketika menoleh dan menatap Hyuri. Terlihat sangat manis dan bersinar wajah tampan Joongki ketika tersenyum seperti itu. “Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya. Apa Nona tak mengingatku? Aku saja masih mengingat Nona walau Nona tampak sangat jauh berbeda dalam balutan Hanbok ini.” sapa Joongki sopan.

Hyuri masih bungkam, terus mengamati Joongki sambil mengingat-ingat benarkah tentang apa yang dikatakan Joongki itu jika mereka pernah bertemu sebelumnya.

“Club Golden Rod. Kita pertama kali bertemu di sana. Nona yang menyiapkan meja untuk kami malam itu, untuk melihat pertunjukan Snapdragon. Jika dugaanku benar, Nona pasti adalah pelayan club malam itu yang membantu kami mendapatkan meja.”

“Oh itu! Iya, aku ingat sekarang. Maaf tidak mengenali Tuan. Tuan terlihat sangat berbeda dalam balutan Hanbok ini.” Hyuri akhirnya mengingat tentang siapakah Joongki yang juga sempat ia lihat sejak Festival Gardenia itu dimulai. “Anda pun kemari? Penggemar Snapdragon ya? Pantas saja. Mereka akan tampil malam ini, tapi tanpa Magi.”

Joongki tersenyum dan mengangguk. “Sepertinya Nona tak memiliki patner untuk memainkan layang-layang itu. Aku pun sama. Bagaimana jika kita menerbangkannya bersama?”

“Nee??” Hyuri melotot kaget. Pemuda tampan dengan wajah bersinar bak pangeran itu menawarkan diri untuk bermain layang-layang dengannya? Hyuri mengerjapkan kedua matanya dan diam-diam mencubit lengannya sendiri. Hyuri terkesiap karena sakit akibat cubitannya sendiri. “Ini bukan mimpi...” gumam Hyuri dalam hati.

Joongki menatap heran Hyuri yang berdiri terdiam di hadapannya. “Apa... Nona sudah punya pasangan?”

“Ah, anee... aniya...” Hyuri menggelang antusias. “Benar Anda ingin bermain layang-layang denganku?”

“Nee. Aku rasa nasib telah mempertemukan kita untuk memainkan layang-layang itu bersama. Tapi ini pertama kalinya bagiku. Aku tak yakin aku bisa.”

Hyuri tersenyum tulus. “Jangan khawatir. Aku akan memimpin permainannya.”

Joongki tersenyum dan mengangguk lalu keduanya maju bersama ke tengah area untuk menerbangkan layang-layang.
***

Hyuri dan Joongki masuk dalam barisan muda-mudi yang berjajar menerbangkan layang-layang mereka. Keduanya berada satu baris dengan Magi dan L.Joe. Hyuri mulai mempersiapkan layang-layangnya. Joongki berdiri terdiam memperhatikan Magi. konsentrasi Joongki buyar ketika Hyuri meminta bantuannya. Joongki dan Hyuri pun bekerja sama untuk menerbangkan layang-layang mereka.

Tatapan Magi menangkap sosok Hyuri yang telah bergabung dalam barisan pemain layang-layang. Magi mengerutkan dahi ketika memerhatikan siapa teman yang membantu Hyuri menerbangkan layang-layangnya. “Hyuri mengenal pemuda itu?” gumam Magi lirih kemudian kembali memperhatikan Joongki. “Sepertinya dia pemuda yang baik. Wajahnya begitu bersinar. Sepertinya dia bukan bangsawan biasa.” Magi terus memperhatikan Joongki. “Terima kasih. Kau membuat Hyuri bisa menerbangkan layang-layang itu. Myungsoo pasti sangat senang.” Magi tersenyum dan kembali konsentrasi untuk membantu L.Joe.

Hyuri mendongakan kepala. Ia tersenyum puas melihat layang-layangnya terbang tinggi di udara. Layang-layang cantik itu mengudara dengan indah turut memenuhi langit Ambrosia. “Myungsoo, lihat! Layang-layang kita terbang dengan baik. Terima kasih telah mempercayakannya padaku. Mungkin saat ini tak bisa, semoga kelak kita bisa menerbangkannya bersama. Kau mau kan?” gumam Hyuri dalam hati masih menatap layang-layang ungu miliknya yang terbang di udara.

“Nona! Layang-layangmu sangat cantik saat terbang seperti itu.” puji Joongki membuyarkan lamunan Hyuri.

“Ah... nee. Gomawo...” Hyuri tersipu.

“Apa Nona membelinya?”

“Anee. Seseorang yang sangat spesial yang membuatnya untukku.”

“Aigo. Pasti menyenangkan.” Joongki tersenyum menanggapinya. “Seseorang yang spesial?” Joongki menatap Hyuri dengan heran. “Kenapa tak memainkan layang-layang ini dengannya?”

“Dia sakit. Karenanya dia tak bisa kemari.” Hyuri terdengar tak bersemangat menjawab pertanyaan Joongki.

“Ah, mianhae. Aku membuatmu sedih.”

Hyuri tersenyum dan menggeleng pelan.
***

“Shin Ae!” Ilwoo memegang tangan Shin Ae yang baru saja mundur dari area para pemain layang-layang.

Shin Ae tersentak kaget lalu menatap tajam Ilwoo yang masih memegang tangan kanannya. “Anda siapa?” tanya Shin Ae dengan mimik wajah panik.

“Mwo?? Ya, Shin Ae! Kau tak kenal aku?? Ini aku.” Ilwoo  heran melihat reaksi Shin Ae.

“Tolong lepaskan tangannku!” Shin Ae berusaha berontak.

Ilwoo melepas genggamannya pada lengan Shin Ae. “Heran melihatmu dalam festival ini, dari tempo hari dengan ekspresi riang itu. Dan sekarang seolah kau tak mengenali aku.”

“Maaf. Tapi aku benar-benar tak mengenali Anda.”

“Ck! Apa kau sedang dalam misi khusus?”

“Nee??”

“Ya! Jung Shin Ae! Berhenti berpura-pura di depanku! Aku ini ketuamu! Bagaimana bisa kau menerima tugas tanpa sepengetahuanku, ha?!”

“Saya benar-benar tak paham dengan maksud Anda.”

“Ada apa ini, Lizzy?” Sukjin menghampiri Shin Ae.

“Lizzy??” gumam Ilwoo lirih dengan ekspresi bingung.

“Aboji kemari?” Shin Ae balik bertanya.

“Maaf. Layang-layang kita putus. Ada apa? Apa pemuda ini mengganggumu?” Sukjin menatap Ilwoo dari atas ke bawah.

“Anee.” Shin Ae berdiri lebih dekat pada Sukjin. “Aku rasa dia teman Jung Shin Ae,” bisik Lizzy.

“Mwo?! Ah...” Sukjin tersenyum sungkan. Ia khawatir teman Shin Ae akan mempersulit putrinya, Lizzy yang kini tengah memakai tubuh Shin Ae. “Anakku, sebaiknya kita pergi!” Sukjin buru-buru membawa Shin Ae pergi dari hadapan Ilwoo.

“Lizzy?? Aboji??” Ilwoo memiringkan kepala masih dibuat bingung oleh tingakh Shin Ae.
***

“Ess!” Joongki meringis menahan sakit. Karena kurang hati-hati benang layang-layang mengiris tipis kulit jari telunjuk tangan kananJoongki.

“Omo! Tangan Tuan terluka!” Hyuri panik melihat tangan Joongki berdarah.

Magi yang sesekali memperhatikan Hyuri dan Joongki melihat kepanikan Hyuri. Ia pun meminta izin pada L.Joe untuk menghampiri Hyuri. “Ada apa, Hyuri?” tanya Magi ketika sampai di tempat Hyuri berada.

“Tuan Muda ini jari telunjuknya berdarah!” tuding Hyuri pada jari telunjuk tangan kanan Joongki.

“Ah... ini tak mengapa,” Joongki berubah kikuk karena ada Magi menghampirinya.

Tanpa bicara Magi meraih tangan kanan Joongki dan membungkus luka di telunjuk tangan kanan Joongki dengan sapu tangan miliknya. Joongki terdiam menatap Magi yang berdiri sedekat itu di hadapannya. Jantungnya berdetub kencang. Mata Joongki tak berkedip menatap Magi.

“Benang layang-layang itu cukup tajam, Tuan harus lebih berhati-hati lagi,” kata Magi usai membungkus luka di tangan Joongki. Magi diam melihat Joongki yang tertegun menatapnya.

“Tuan!” Hyuri menyenggol Joongki hingga kesadaran pemuda itu kembali.

“Ah... gomawo...” Joongki menarik tangannya kembali. “Sapu tangan ini... aku akan mengembalikannya padamu, Nona Kupu-kupu.”

Magi tersenyum manis dan melangkah pergi meninggalkan Joongki yang masih berdiri tertegun menatapnya.

“Yah... layang-layang kita jatuh, Tuan!” sesal Hyuri.

Joongki seolah tak mendengar seruan Hyuri. Ia tersenyum dan kembali melihat jari telunjuk tangan kanannya yang terbungkus sapu tangan milik Magi.
***

Festival layang-layang telah selesai digelar. Senja tiba bersiap mengantar malam. Kesibukan berganti di lapangan Ambrosia. Warga mulai menyalakan lampion-lampion hasta karya mereka. Lampion dari berbagai bentuk dan ukuran mulai di tata di area yang tealh disediakan di lapangan. Kesemuanya mulai dinyalakan ketika senja si ufuk Barat berubah warna semakin gelap.

Kesibukan pun mulai terlihat di atas panggung pertunjukan untuk mempersiapkan pagelaran seni tradisional Ambrosia. Ketika langit berubah gelop sepenuhnya, gemerlap di lapangan Ambrosia karena ribuan lampion menampakan kecantikannya. Pengunjung benar-benar dimanjakan dan dibuat kagum dengan suguhan indahnya pemandangan  malam di lapangan Ambrosia yang dipenuhi lampion hias.

Magi dan kelompoknya berhenti di depan panggung utama usai berkeliling di taman lampion. Mereka menunggu penampilan empat personel Snapdragon yang akan tampil di atas panggung itu malam ini.

“Kapan kita kembali ke sekolah?” rengek Shin Ae sembari menggoyang lengan Magi.

“Sebentar lagi. Setelah Geumgang Chory tampil,” jawab Magi tanpa mengalihkan pandangannya dari menatap panggung.

“Geumgang Chory?” tanya Sungrin tak paham.

“Diamond Bluebell atau Geumgang Chory. Itu nama kelompok dari empat member Snapdragon yang akan tampil malam ini. Mereka juga dikenal sebagai Sepuluh Gadis Penabuh Genderang. Mereka sangat terkenal dan akhirnya malam ini aku bisa melihat penampilan mereka,”jawab Suri. “Mereka para seniman muda berbakat dari Kampung Lupin.”

“Snapdragon itu artinya teman-teman Magi kan? Wah, Magi...” Sungrin menatap Magi yang fokus lurus menatap panggung.

Penonton bersorak ketika nama ‘Geumgang Chory’ disebut sebagai pengisi panggung berikutnya yang akan tampil. Magi dan teman-temannya pun turut bertepuk tangan antusias menyambut penampilan Diamond Bluebell yang di dalamnya berisi empat rekan Magi dalam Snapdragon yaitu Yeonmi, Sori, Songeun dan Minchi.

Tiga orang penari muncul di atas panggung. Songeung mengenakan Hanbok perpaduan warna hijau, merah dan kuning menari dengan membawa Janggu ditemani dua gadis penari lainnya yang mengenakan Hanbok laki-laki berwarna putih biru yang juga menggendong Janggu seperti Songeun. Kedua gadis penari itu mengenakan topi dimana di puncak topi tersebut berhiaskan pita panjang. Geumgang Chory atau yang juga dikenal sebagai Diamond Bluebell memulai pertunjukan mereka menampilkan tarian Tiga Genderang.

Berikutnya Sori muncul dalam balutan Hanbok perpaduan warna putih dan pink ditemani empat gadis penari yang mengenakan Hanbok perpaduan kuning dan merah. Kelima gadis ini menari dengan membawa Janggu kecil di tangan mereka.

Minchi yang mengenakan kostum yang sama dengan Songeun muncul bersama Songeun dan memainkan tiga genderang yang berada di sisi kanan dan kiri panggung menemani Sori yang memainkan tarian Tiga Genderang  di tengah panggung bersama empat gadis penari lain yang menemaninya. Secara kompak ketujuh gadis ini menabuh tiga genderang menampilkan tarian Tiga Genderang. Penonton bertepuk tangan untuk mereka.

“Keren!” puji Suri.

“Tahun ini Geumgang Chory Onni lebih kreatif. Jauh lebih atraktif,” Magi tersenyum kagum.

Yeonmi  muncul dengan mengenakan Hanbok pria berwarna coklat dan menabuh genderang besar yang berada di atas panggung yang sedikit lebih tinggi dari panggung utama. Jika tak jeli, orang pastilah menduga kelompok Geumgang Chory ini terdiri dari tujuh gadis dan tiga pemuda. Padahal seluruhnya adalah gadis-gadis seniman muda berbakat kampung Lupin. Para seniman muda kebanggaan rumah seni Snowdrop milik Tuan Yoon, ayah Songeun.

Pertunjukan yang disajikan Geumgang Chory benar-benar apik dan menyihir para penonton. Semua dibuat terkagum-kagum oleh kelihaian mereka memainkan tarian Tiga Genderang. Sesuai janjinya, usai Geumgang Chory tampil, Magi dan teman-temannya meninggalkan lapangan Ambrosia untuk kembali ke Hwaseong Academy.
***

Di tengah gelap dan heningnya area Hwaseong Academy, samar-samar terdengar keceriaan dan canda tawa dari taman belakang sekolah. Taman yang biasanya hening dan gelap itu terlihat sangat berbeda malam ini. Cahaya lampion menghiasi taman. Tak hanya itu, keceriaan Magi dan teman-temannya yang memainkan kembang api menambah hangatnya suasana di taman belakang yang terkenal angker itu.

Baro dan Myungsoo yang mengawasi dari atas tembok pagar Hwaseong Academy itu turut tersenyum menyaksikan keceriaan Magi dan teman-temannya yang menggelar pesta lampion di taman belakang sekolah. Keduanya ingin mendekat, namun itu tak mungkin karena pasti teman-teman Magi, Hyuri dan Suri akan ketakutan ketika melihat Baro. Myungsoo memilih menemani Baro bersembunyi di sisi gelap dari taman belakang sekolah usai keduanya mempersiapkan pesta lampion untuk Magi dan teman-temannya.

Senyuman yang tersungging di wajah Baro terlihat tak tulus. Jelas terlihat jika ia merasakan getir. Jauh di dasarnya hatinya Baro merutuki nasibnya yang ditakdirkan dengan kutukan mengerikan itu. Perih. Hati Baro seolah teriris-iris melihat Suri begitu akrab dengan pemuda lain.

“Ini pertama kalinya aku melihat pesta lampion. Sangat indah. Itu kita yang membuatnya,” Myungsoo memecah kebisuan.

“Kau bisa mendekat ke sana. Mereka tak akan takut padamu. Aku akan menunggu di sini,’ Baro rela Myungsoo pergi meninggalkannya.

“Susah senang aku bersamamu, hanya demi godaan ini, aku tak akan meninggalkanmu teman.”

Baro tersenyum lebih tulus. “Terima kasih. Rasanya aku benar terharu kini. Untuk pertama kalinya. Entahlah. Benar-benar terima kasih Myungsoo. Aku pasti akan membayar semua kebaikanmu ini.”

“Kau ini bicara apa!”

“Ini pertama kalinya bagi kita. Selama ini tak pernah ada pesta lampion di kastil Asphodel, dan malam ini kita membuatnya di sini. Kau bisa saja turun dan menikmati pesta bersama gadis yang kau cintai, Hyuri. Tapi kau malah memilih menemaniku di sini. Tahukah kau, baru kali ini aku merasa menyesal dengan keadaanku ini.”

Myungsoo menepuk pundak Baro. “Kau pikir aku akan senyaman ini jika berada di sana bersama Hyuri dan yang lain? Tidak. Aku lebih nyaman di sini bersamamu. Kelak jika kita terbebas dari kutukan ini, kita lakukan bersama-sama. Pesta lampion bersama Nona, Hyuri, Suri dan yang lain. Itu baru akan membuatku nyaman seperti berada di dekatmu.”

“Kapan? Mungkinkah itu terjadi?”

“Kau tak percaya pada petunjuk Sang Pengusa Alam?”

“Entahlah,” Baro mendongak menatap langit malam.
***

Magi dan L.Joe melarungkan lampion-lampion kecil yang mereka nyalakan ke danau buatan yang berada di taman belakang sekolah. Jonghwan, Suri, Sungrin, Seungho, Shin Ae, Sukjin dan Hyuri turut melakukannya. Danau yang tadinya gelap gulita kini mulai terang dihiasi cahaya-cahaya cantik dari lampion yang dilarungkan dari tepi danau.

Nichkhun dan Sungjeong duduk memperhatikan dari bangku taman tempat dimana makanan dan minuman diletakan. “Sepertinya,,, mereka memiliki hubungan yang tak biasa,” Nichkhun memulai obrolan. Ia mengamati Magi dan L.Joe.

“Em?” Sungjeong menoleh menatap Nichkhun usai menyeruput teh di cangkir yang ia bawa di tangan kanannya.

“Magi dan pemuda itu. Apa kau tak merabanya?”

“Oh, itu... iya akun pun merasakannya. Setelah semua ini selesai, aku akan bicara pada Nona.” Sungjeong menyanggupi.

“Hah...” Nichkhun menghela napas panjang melihat Magi dan L.Joe.

Sungrin, Hyuri, Suri dan Jonghwan berkumpul menikmati hidangan yang sengaja disajikan untuk menemani pesta lampion malam ini. Magi duduk di tepi danau, di bawah pohon besar dimana ia biasa duduk ketika siang hari di sekolah. Magi tersenyum menatap ke tengah danau. Menatap indahnya lampion yang menerangi danau. L.Joe duduk di samping kanan Magi, terus menatap Magi sambil sesekali tersenyum. Bagi L.Joe, gadis yang duduk di samping kirinya itu lebih menarik untuk ditatap daripada indahnya gemerlap lampion di danau.

Magi menoleh usai selama beberapa saat terpesona menatap danau. Magi menemukan L.Joe sedang tersenyum menatapnya. “Kenapa menatapku seperti itu?” Magi merasa risih.

L.Joe tersenyum manis. “Terima kasih. Selama tiga hari ini aku benar-benar merasa sangat bahagia. Terutama hari ini. Melihatmu mengenakan kostum ini...” L.Joe lagi-lagi tersenyum kagum, “... benar-benar membuatku sangat senang. Tadinya aku pikir kau tak akan suka. Hari pertama kau memakai Hanbok berwarna merah. Aku rasa aku telah salah pilih. Yang aku tahu hanyalah kau adalah Butterfly  Bronze Snapdragon yang selalu menyukai warna oranye,” L.Joe terdengar lebih cerewet dari biasanya. Magi hanya tersenyum menanggapi ungkapan hati L.Joe.

“Oya, aku penasaran. Kau kenapa tadi menatap panggung seperti itu? Ketika Diamond Bluebell tampil. Aku melihat ada suatu hasrat dari sorot matamu. Kenapa tak meminta untuk turut andil? Bukankah kau juga belajar musik di rumah seni Snowdrop?”

Magi kembali tersenyum. “Aku pikir Oppa hanya fokus pada kamera.”

“Oppa...?” L.Joe tersenyum sendiri mendengar Magi memanggilnya Oppa.

“Aku ingin menjadi seniman seperti mereka,” tatapan Magi kembali menerawang ke tengah danau.

“Mm-mwo??” pekik L.Joe. “Menjadi seniman seperti mereka?? Maksudmu seniman Gisaeng?”

“Bukankah begitu keren memainkan alat musik dan menari tarian tradisional seperti itu? Budaya kita.”

“Tapi... tapi menjadi seniman Gisaeng itu...” L.Joe menggeleng. “Jika menjadi seniman Gisaeng maka kau harus melewati ritual malam pertama dengan pejabat atau bangsawan pilihan. Bangsawan yang terpilih. Tidak. Kau tidak boleh. Cukup menjadi Snapdragon saja dan sekolah dengan baik.” L.Joe berubah panik.

“Di rumah seni Snowdrop tak begitu,” Magi memiringkan kepala. “Aku rasa,” imbuhnya ragu. Magi menoleh cepat kembali menatap L.Joe. “Oppa, seandainya Oppa menemukan aku sebagai seorang Gisaeng apakah Oppa akan tetap memilihku seperti ini?” tanya Magi dengan mata berbinar menatap L.Joe.

“Aku tak mau berandai-andai dan membayangkan itu semua. Apa yang aku dapatkan sebagai kenyataan saat ini adalah hal yang paling aku inginkan dan aku syukuri. Selain beruntung menajdi anak Lee Byungman, mendapatkanmu adalah sebagai kekasihku adalah keberuntungan lain yang aku dapatkan dan sangat aku syukuri. Jadi mohon jangan memintaku untuk membayangkan apa yang kau andai-andaikan itu. Sungguh itu mengerikan. Itu membuatku takut.

“Tapi orang beranggapan jika siapapun itu yang berada di kampung Lupin adalah Gisaeng walau sebenarnya tak semuanya adalah Gisaeng. Cepat atau lambat orang akan tahu aku berasal dari kampung seniman itu dan bukan tak mungkin mereka pun beranggapan aku ini Gisaeng. Apa Oppa akan siap menghadapi itu semua?”

L.Joe meraih tangan kanan Magi dan menggenggamnya erat. “Selama kau yakin dan percaya padaku, aku akan tetap berdiri tegak di sampingmu, menemanimu menghadapi semua. Aku berjanji padamu, atas nama cintaku padamu, hanya maut yang bisa memisahkan kita. Aku telah menyerahkan seluruh hatiku padamu dan meminta Sang Penguasa Alam mengamininya. Aku percaya inilah takdirku. Berada bersamamu.”

“Oppa...” Magi menatap haru pada L.Joe.

L.Joe tersenyum dan meraih Magi lebih dekat padanya, merangkulnya. Magi tersenyum dan menyandarkan kepala di pundak L.Joe. Nichkhun yang terus mengamati tersedak ketika meminum teh sembari menatap Magi dan L.Joe. Sungjeong yang juga menyaksikan hal itu hanya bisa menepuk pelan keningnya.
***

Malu-malu Seungho menghampiri Shin Ae yang duduk sendirian di salah satu bangku taman yang menghadap danau. Bangku yang agak jauh dari keramaian teman-teman Magi yang sedang berpesta. Shin Ae duduk menyendiri di sana dan menatap danau. Seungho duduk di samping kanan Shin Ae namun tetap bungkam. Beberapa saat kemudian, ragu-ragu Seungho menoleh dan menatap Shin Ae yang duduk cukup dekat di samping kanannya. Ada guratan senyum terkembang di wajah Shin Ae membuat gadis itu terlihat sangat manis. Seungho turut tersenyum melihatnya.

“Walau kau begitu menyebalkan tiga hari ini, tapi aku sangat senang karena dengan adanya dirimu di dalam tubuhnya, selama tiga hari ini aku bisa pergi bersamanya dan bisa menatapnya sedekat ini tanpa harus merasa sungkan dan khawatir atau risih karena dia akan marah karena ulahku,” Seungho memulai obrolan mengungkapkan isi hatinya.

Ekpresi Shin Ae tak berubah mendengar curahan hati Seungho. Ia tetap seperti itu. Diam dan tersenyum menatap danau. Seungho menghela napas pelan melihatnya.

“Jum’at, Sabtu dan Mingguku jadi amat menyenangkan karena aku bisa pergi dan berada begitu dekat dengan gadis yang aku kagumi. Maafkan aku karena selalu merasa kesal padamu beberapa hari ini. Walau aku tahu itu kau, tetap saja aku cemburu melihatmu dekat dengan Ji Sukjin Ajushi. Aku hanya ingin berterima kasih padamu. Karena permintaanmu ini kesempatan indah selama tiga hari ini tercipta untukku. Terima kasih, Lizzy.”

Shin Ae menoleh, tersenyum kecil dan mengangguk. Seungho membalas senyum menatap Shin Ae.

“Sunbaenim!” Suri datang menyela. “Magi mengatakan sudah saatnya berpisah dan meminta kita berkumpul.”

“Sunbaenim??” bisik Seungho. Ia kembali menoleh dan mengamati Shin Ae. Shin Ae tersenyum dan mengangguk lalu bangkit dari duduknya dan pergi.

“Tunggu!” Seungho menahan langkah Suri. Ia bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Suri, menghadang langkah Suri. “Sunbaenim??”

“Nee.” Suri mengangguk.

“Apa maksudnya Sunbaenim? Bukankah itu Lizzy??”

“Liizy telah meninggalkan tubuh Jung Shin Ae Sunbaenim sejak setengah jam yang lalu. Begitu penjelasan Magi.”

“Mm-mwo...??” Seungho melotot kaget menatap Suri.

“Iya. Kenapa kau kaget seperti itu?”

“Aish! Baboya!” Seungho memukul pelan kepalanya.

Suri menggeleng pelan dan meninggalkan Seungho sendirian.
***

Sukjin  berdiri di tengah-tengah di antara Magi dan Shin Ae di tepi danau. Ketiganya menghadap danau. Magi dan Shin Ae tersenyum menatap danau. Sukjin menyeka air matanya yang menetes pelan menuruni pipinya.

“Terima kasih,” bisik Lizzy yang malam itu terlihat sangat cantik. Rona bahagia terpancar dari wajah pucat Lizzy. Ia tersenyum pada Magi, Sukjin dan Shin Ae lalu berjalan di atas danau menuju ke tengah danau dimana dahulu ia tenggelam dan tewas.

Lizzy sampai di tengah danau dan berhenti. Ia kembali membalikan badan dan tersenyum kembali pada Magi, Sukjin dan Shin Ae. Lizzy melambaikan tangan, masih tersenyum manis menatap ke  tepi danau. Cahaya putih terang itu muncul tepat di atas kepala Lizzy. Lizzy mendongakan kepala menatap cahaya benderang itu dan tersenyum lega. Sejenak Lizzy kembali menatap ke tepi danau dan tersenyum. Cahaya terang itu menyinari seluruh tubuh Lizzy. Perlahan tubuh Lizzy melebur bersama cahaya putih benderang itu. Tubuh Lizzy berubah menjadi cahaya putih kecil-kecil yang bersinar seperti kunang-kunang. Butiran cahaya kerlap-kerlip dari tubuh Lizzy yang melebur itu membentuk sebuah pusaran dan bergerak ke atas menuju pusat cahaya berada.

“Selamat tinggal, Lizzy,” bisik Magi sembari mengusap air matanya yang meleleh.

Shin Ae merangkul Sukjin yang tertunduk dan menangis. “Dia bahagia dan tenang sekarang. Jangan menangisinya lagi. Biarkan dia tenang di alamnya, em?” bisik Shin Ae menenangkan Sukjin. Shin Ae meraih tangan Sukjin dan memberikan kalung perak dengan liontin bundar di atas tangan Sukjin yang ia pegang. “Setelah di telusuri, benda yang tertinggal di dasar danau ini akhirnya ketemu juga. Lizzy ingin Ajushi menyimpannya. Benda ini yang ia pakai sejak ia kecil.”

Sukjin menangis tersedu, jatuh berlutut sambil menggenggam erat kalung peninggalan Lizzy. Magi turut jongkok dan mengelus pundak Sukjin agar pria itu tenang.

“Tugasku telah selesai. Buku ini harus kembali pada pewarisnya,” Magi mengembalikan buku agenda milik Lizzy kepada Sukjin.

Sukjin menangis semakin keras. Menggenggam erat kalung dan memeluk buku agenda peninggalan Lizzy. “Ucapan maaf dan keinginan terakhir telah terwujud, semoga Lizzy tenang setelah ini,” Magi kembali mengelus lengan Sukjin.

Sukjin hanya mengangguk-anggukan kepala di tengah tangisannya. Shin Ae turut jongkok dan menenangkan Sukjin.

Sungrin menitikan air mata, terharu melihat Sukjin. Suri pun sama. Ia menangis melihat bagaimana Sukjin dan Lizzy berpisah usai selama tiga hari menikmati waktu bersama. Sungjeong yang memiliki perasaan sepeerti perempuan pun turut menitikan air mata. Seungho, Hyuri, Jonghwan dan Nichkhun terdiam melihat adegan haru perpisahan Sukjin dan Lizzy.

Tukang kebun Hwaseong Academy yang sedari awal jalannya pesta terus mengintai itu juga merasakan haru melihat Sukjin jatuh terduduk dan menangis tersedu di tepi danau. “Sungguh aku sangat membenci sebuah perpisahan tragis, apa pun bentuknya,” bisik tukang kebun itu lirih.
***

Festival Gardenia telah selesai digelar. Bahkan upacara penutupan untuk mengantar para Dewa dan Dewi kembali ke kayangan pun telah rampung dilaksanakan pada tanggal 7 Mei. Wisatawan mulai meninggalkan Ambrosia. Begitu juga Joongki dan ketiga pengawalnya.

Dalam perjalanan pulang kembali ke istana binar bahagia jelas tergambar di wajah Joongki. Senyum terus terkembang di wajahnya. Joongki kembali melihat luka di jari telunjuk tangan kanannya yang sudah mengering. Kenangan bagaimana Magi meraih tangan Joongki dan membalut tangan Joongki dengan sapu tangan miliknya kembali melintas di benak Joongki. Bagaimana Magi tersenyum usai merawat luka Joongki pun tergambar jelas dalam ingatan Joongki. Mengingatnya membuat wajah Joongki bersemu pink ketika ia tersenyum sendiri.

Joongki meraih sapu tangan milik Magi yang ia lipat rapi dan ia simpan dalam sakunya. Sapu tangan beerwarna jingga dengan sulaman setangkai bunga snapdragon ungu pada salah satu sudutnya itu membuat Joongki kembali tersenyum sendiri.

“Tunggulah aku. Tak lama lagi aku akan datang menjemputmu. Kita akan bertemu kembali. Aku janji padamu. Saat aku datang kembali, aku harap kau tak akan menolakku ketika kau tahu siapa aku yang sebenarnya,” gumam Joongki dalam hati masih menatap sapu tangan jingga yang ia pegang.

Burung gagak yang terbang mengikuti mobil yang membawa Joongki kembali ke istana itu merubah arah dan terbang ke arah berlawanan dengan mobil Joongki. Burung gagak itu terbang tinggi udara menuju Kastil Basil tempat majikannya tinggal yang tak lain adalah Ratu Maesil.
***

Ratu Maesil sedang duduk menatap senja di balkon kamarnya ketika burung gagak kesayaangannya tiba. Ratu Maesil menyambut baik burung gagak yang menjadi mata-mata baginya itu.

Burung gagak dalam ukuran yang lumayan besar itu menukik dan mendarat lalu hinggap di lengan kanan Ratu Maesil. “Kau pasti lelah sayangku,” sapa Ratu Maesil memanjakan burung kesayangannya.

Ratu Maesil menatap mata legam burung gagak yang masih hinggap di lengan kirinya itu selama beberapa saat. Ia mengumpulkan informasi yang berhasil dikumpulkan oleh mata-mata yang paling ia percayai itu.

“Sebaiknya kau istirahat sekarang, Sayangku,” Ratu Maesil usai mengorek semua informasi yang berhasil dikumpulkan burung gagak kesayangannya.

Burung gagak itu berkoak sekali lalu kembali terbang dan menghilang menuju tempat dimana ia biasa menghabiskan waktu untuk beristirahat.

“Sempurna! Tahun ini akan sangat berbeda. Sore ini sayangku kembali dan sore ini pula aku akan bertemu Acanthus. Bagaimana kerinduan ini bisa terobati di waktu yang sama? Inilah takdir yang aku ciptakan. Bahkan sampai detik ini alam masih memihak dan tunduk padaku. Raja muda dungu dan bodoh itu akan segera menghadapiku dalam perang yanag sebenarnya. Hahaha...” tawa Ratu Maesil pecah.

Terdengar suara ketukan pintu. Ratu Maesil memerintahkan siapapun itu yang mengetuk pintu untuk masuk. Seorang pengawal masuk dan menghadap Ratu Maesil. “Yang Mulia, Tuan Acanthus telah menunggu Yang Mulia di aula utama,” pengawal itu menyampaikan pesan Acanthus untuk Ratu Maesil.

“Well, kekasihku yang lain telah datang. Manjakan dia dengan hidangan terbaik kita dan katakan aku akan segera menemuinya,” perintah Ratu Maesil.

“Baik, Yang Mulia.”
***

Karena Kastil Basil dihuni oleh Ratu penganut kegelapan kastil ini pun terkesan seram. Aura mistis nan hitam menyelimuti Kastil Basil membuat siapa saja yang menatapnya merasa merinding sendiri. Aura mencekam itu tak hanya terpancar di luar kastil, di dalam kastil pun semakin jelas terasa. Begitu juga di dalam aula utama Kastil Basil tempat Acanthus—kekasih Ratu Maesil yang lain itu- menunggu. Walau aula ini memiliki pencahayaan yang cukup terang namun tetap saja terasa begitu angker.

Hening, dingin dan sepi begitulah suasana di dalam aula utama dimana Acanthus berdiri menunggu. Namun perlahan suasana itu mulai terusik oleh berisik suara derap kaki yang semakin lama semakin jelas mendekat. Sosok pria tinggi besar dengan kostum serba hitam itu tetap berdiri tenang walau mendengar suara derap kaki itu semakin dekat disusul kemudian dengan suara pintu aula utama terbuka.

Ratu Maesil menyincingkan senyum bengis melihat sosok gagah yang berdiri membelakanginya itu. “Acanthus. Kau kah itu sayang?” sapa Ratu Maesil.

Pria bertubuh tegap itu membalikan badan. Park Shi Hoo tersenyum melihat Ratu Maesil berjalan mendekatinya.”Senang bertemu dengan Anda kembali Yang Mulia,” Shihoo menunduk sopan di depan Ratu Maesil yang berdiri di hadapannya.

***

-------TBC--------

Keep on Fighting
                shytUrtle


Search This Blog

Total Pageviews