My 4D's Seonbae - Episode #24 “Setiap Rahasia Punya Resiko Untuk Terbongkar."

06:53

Episode #24 “Setiap Rahasia Punya Resiko Untuk Terbongkar.”

Linda dan Jisung duduk berdampingan di dalam bus. Namun, sama-sama terdiam. Pagi tadi, dengan perasaan berbunga-bunga Jisung menunggu Linda di halte bus. Sebenarnya ia ingin menjemput gadis itu. Tapi, Linda menolak dan meminta untuk bertemu di halte saja, lalu berangkat bersama menuju tempat janjian.
Linda muncul lima menit sebelum waktu yang ditentukan untuk janjian. Jisung sempat dibuat tertegun saat gadis asal Indonesia itu muncul. Dalam balutan baju casual itu, Linda terlihat sangat manis. Dengan topi yang dipakainya sebagai pelengkap dadanan simple boyish, Linda terlihat semakin manis. Jisung menyukai gaya simpel Linda.
Setelah naik bus, mereka sama-sama terdiam. Sesekali Jisung memulai obrolan. Linda menanggapi, lalu mereka ngobrol. Lalu, saling diam dan sesekali mengobrol lagi. Siklus itu terus berputar sampai bus tiba di halte terakhir. Saat perjalanan pulang pun sama. Setelah masuk ke dalam bus, mereka saling terdiam.
“Sebenarnya, perjalanan ke Lotte World lebih cepat dan lebih seru naik subway.” Jisung memulai obrolan. “Tapi, naik bus juga menyenangkan ya.” Ia tersenyum. Linda turut tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Huft…” Jisung menghela napas panjang. “Sangat lelah sekali ya. Dan, aku merasa bersalah pada Guanlin. Dia harus mentraktir kita semua.”
“Sama. Tapi, dia bilang dia patungan sama Luna Seonbae.” Linda akhirnya buka suara.
“Eh? Masa??”
“Iya. Tadinya aku mau bayar tiketku sendiri. Saat ada kesempatan, aku mengutarakan keinginanku pada Lin Lin. Tapi, dia bilang nggak usah. Luna Seonbae udah bantu dia banyak.”
“Anak itu selalu begitu. Bertindak semaunya! Tahu gitu kan aku juga bantu!” Jisung menggerutu cepat. Ia malu pada Linda karena tak membantu Guanlin seperti yang dilakukan Luna. “Tapi, jadi Luna itu enak ya. Walau masih sekolah udah bisa hasilin duit.”
Linda tersenyum dan mengangguk. “Tapi, apa yang kita lihat belum tentu beneran enak kan?”
“Iya. Contohnya surat ancaman itu. Aku yakin Luna terbebani walau dia berakting cuek dan minta Sungwoon berhenti mencari pelaku.”
“Luna Seonbae itu baik ya?”
Jisung menoleh ke arah kanan, menatap Linda yang duduk di dekat jendela. “Menurutmu?”
Linda mengerjapkan kedua matanya ketika mendapat pertanyaan balik dari Jisung.
Jisung tersenyum melihat reaksi Linda. “Luna baik atau nggak, jawabannya tergantung pada siapa kamu bertanya. Karena kamu bertanya padaku, maka akan aku jawab sesuai cara pandangku. Maaf jika jawabanku bertentangan dengan apa yang kamu yakini selama ini tentang sosok Luna.”
Linda mengangguk samar.
“Luna itu baik. Walau kadang sikapnya suka semaunya sendiri dan itu membuatku sebal. Dia baik dan perhatian pada teman. Jika ada yang minta bantuan dan dia mampu, dia pasti mau bantu. Tapi, kadang ia menyebalkan juga.” Jisung diam sejenak. Linda pun diam, menunggunya melanjutkan penjelasan.
“Bukan hanya Luna, setiap orang pasti dinilai baik dan buruk. Yang suka akan mendukung dan menilai baik. Yang benci pasti akan menghujat dan menilai jelek. Ada yang bilang Luna itu angkuh. Sebenarnya, dia hanya pendiam. Dia sering mengaku khawatir untuk mulai menyapa atau sejenisnya. Makanya banyak yang bilang dia angkuh dan sombong.”
“Padahal udah terkenal, tapi kok kesannya Luna Seonbae minder gitu ya?” Linda menanggapi penjabaran Jisung tentang Luna.
“Jadi terkenal itu bukan kemauan Luna. Dia sering bilang gitu. Dia sendiri nggak nyangka dapat keajaiban nilai Matematika bagus dan tertinggi di sekolah. Jadi, sebenarnya itu membebaninya juga.”
“Karena itu dia terkesan menarik diri?”
Jisung menganggukkan kepala. “Aku juga nggak begitu memahami dia. Tapi, aku senang bisa berteman dengannya.” Ia melirik Linda yang hanya diam, tak memberi komentar.
“Dia bahkan mengancamku.” Jisung kembali bicara.
“Lho?” Linda menoleh, menatap Jisung. “Diancam siapa?”
“Luna.”
“Luna Seonbae? Diancam bagaimana?”
“Walaupun Linda nggak punya hubungan khusus sama aku, tapi aku nggak akan tinggal diam kalau kamu manfaatin dia buat pelarian doang!” Jisung menirukan bagaimana Luna memperingatkannya tentang Linda.
Mulut Linda membulat mendengar pengakuan Jisung. Ia tertegun dengan mulut terbuka selama beberapa detik. Kemudian ia mengerjapkan kedua matanya dan menggelengkan kepala. “Tunggu! Apa maksudnya manfaatin buat pelarian?” Linda kembali menatap Jisung.
Jisung menghela napas. “Jangan salah paham seperti Luna. Akan aku jelasin semua. Tapi, ini rahasia. Karena, menyangkut orang lain. Jadi, kamu harus simpen rahasia ini kan?”
Kening Linda berkerut.
“Aku percaya kamu kok. Dengar baik-baik. Aku akan ceritakan semua padamu.” Jisung pun menceritakan kenapa Luna sampai memberinya peringatan tentang Linda. Ia menceritakan semua, termasuk tentang dirinya, Daerin, dan Seongwoo.
Linda diam dan menyimak. Ia menyimpulkan jika sikap Daerin kurang baik pada Luna, karena Jisung dekat dengan Luna. Rumit sekali, ia membatin.
“Aku emang masih bingung sama perasaanku ke kamu. Tapi, aku suka sama kamu, Linda.”
Jantung Linda seolah terjun bebas ke lantai bus ketika Jisung tiba-tiba mengakui perasaannya. Tubuhnya pun memanas dan panas itu berpusat di wajahnya. Ia pun menunduk. Tak berani mengangkat kepalanya.
“Karena itu aku ingin dekat denganmu, Linda. Aku berharap, aku bisa menemukan jawaban dari pertanyaanku. Aku harap, kamu nggak akan berubah ke aku. Setelah aku mengakui semua ini.” Jisung menatap Linda yang duduk dengan kepala tertunduk. “Linda? Apa aku membuatku nggak nyaman?”
“Nggak. Nggak kok.” Linda perlahan mengangkat kepalanya dan tersenyum kikuk pada Jisung.
Jisung tersenyum ketika melihat wajah Linda yang memerah. “Maaf ya. Maaf karena udah lancang menyukai kamu.” Mata sipit Jisung tiba-tiba melebar. “Pasti ini membuatmu nggak nyaman banget. Kamu suka Dan—.”
“Nggak papa.” Linda memotong ucapan Jisung. “Aku kagum sama Daniel. Bukan berarti suka seperti yang seonbae maksud, kan?”
Jisung menghela napas panjang. “Daniel sama menderitanya denganmu. Dia suka Luna, tapi Luna udah pacaran sama Jihoon. Baginya, bisa jadi teman Luna pasti udah cukup. Bisa berada di dekat orang yang dia sayangi. Kayak apa yang dilakuin Seongwoo ke Daerin. Kayak apa yang aku lakuin ke kamu.”
Linda kembali menundukkan kepala.
“Aku nggak hanya suka ke kamu. Tapi, juga sayang ke kamu. Apa ini terlalu dini?”
Linda bergeming dan menunduk semakin dalam. Tidak memberi respon pada ungkapan Jisung.
***

Rania yang keluar dari rumahnya dibuat terkejut karena ada motor terparkir di depan pagar rumahnya, di dekat pintu masuk pagar. Seseorang yang duduk di atas motor sport itu menegakkan punggungnya ketika Rania muncul. Rania sempat memperhatikan motor dan pengendaranya itu, kemudian ia yang hendak berjalan pergi dibuat urung karena pengendara itu memanggil namanya sembari mengangkat tangan kanannya untuk menahan langkahnya.
Rania yang urung berjalan kembali memperhatikan pengendara motor yang sedang membuka helm full face yang dikenakannya. Kedua mata Rania melebar ketika melihat wajah di dalam helm yang sudah terlepas itu.
“Hwang Minhyun?” Rania kemudian mengerjapkan kedua matanya.
Minhyun tersenyum dan mengangguk.
“Kamu ngapain di sini?” Rania berjalan mendekati Minhyun yang berada jarak tiga langkah darinya.
“Jaehwan memintaku menjemputmu. Dia khawatir kamu nyasar kalau pergi sendirian.”
Rania tercenung mendengar penjelasan Minhyun.
“Kata Jaehwan, kamu memang udah pernah ke peternakannya. Tapi, itu sama orang tuamu. Sebenarnya Woojin yang khawatir kalau kamu pergi sendirian. Karenanya, Woojin meminta Jaehwan untuk memintaku menjemputmu.”
“Park Woojin? Pasti itu kamu kan, Cing!” Rania bergumam dalam Bahasa Indonesia.
“Rania?”
“Eh! Iya!” Rania tersenyum kikuk pada Minhyun yang sudah mengulurkan helm. Ia pun menerima helm itu dan memakainya. Kemudian naik ke atas motor Minhyun. “Terima kasih. Maaf merepotkan.”
Minhyun menyunggingkan sebuah senyuman. Menutup kaca helm full face yang sudah ia kenakan kembali. Ia pun menyalakan mesin motornya, lalu membawa Rania dalam boncengannya untuk menuju peternakan ikan air tawar milik ayah Jaehwan.
***

Luna memperhatikan Jinyoung yang duduk di bangku sebelah kanan darinya dan Woojin. Ia duduk satu bangku bersebelahan dengan Woojin. Pagi-pagi Woojin sudah datang ke rooftop-nya bersama Jinyoung. Menurut Woojin, Jinyoung yang datang menjemputnya dan mengatakan ingin ikut pergi menjemput Luna. Karena kunjungan mendadak di hari Minggu pagi itu, Luna pun harus menjamu kedua tamunya untuk sarapan. Ia pun membuat sandwich sederhana sebagai menu sarapan untuk mereka bertiga.
Memperhatikan Jinyoung yang duduk sendiri di seberang sana, Luna pun tersenyum. Ia teringat ketika pemuda itu melahap sandwich buatannya, lalu memujinya enak. Luna merasa senang, karena akhirnya Jinyoung bisa membaur dan mulai hidup normal layaknya remaja kebanyakan.
Woojin menoleh ke kiri dan mendapati Luna sedang memperhatikan Jinyoung. “Wae?”
“Dia keliatan seneng banget. Harusnya kamu duduk sama dia. Biar dia ada temen ngobrol.” Luna tanpa mengalihkan fokusnya.
Woojin beralih menoleh ke kanan, ikut memperhatikan Jinyoung. Ia pun tersenyum, lalu kembali menoleh pada Luna. “Makanya, ayo kita bantu dia biar bisa pacaran sama Lucy.” Imbuhnya dengan lirih.
Luna beralih menatap Woojin. “Kamu yakin itu yang dia butuhkan?”
Woojin diam dan berpikir. “Coba dibikin deket aja dulu. Ending-nya gimana, terserah mereka.”
Luna tersenyum nakal pada Woojin.
“Wae??”
“Mau buka biro jodoh ya?”
“Kalau bisa jadi bisnis yang menjanjikan, kenapa nggak?”
Tangan kanan Luna melayang dan jatuh di dada Woojin hingga membuat pemuda itu memekik. Luna mengabaikan reaksi Woojin. Ia menyandarkan punggung ke punggung kursi bus. Ia menatap keluar jendela.
Woojin yang masih mengelus dadanya, terus memperhatikan Luna. Ia merasa gemas pada tingkah Luna. Beberapa detik lalu gadis itu terus memperhatikan Jinyoung, lalu menggodanya. Tapi, setelah melayangkan pukulan itu, ia kembali dingin.
“Kamu kenapa?” Woojin kembali bertanya pada Luna.
“Cue, apa bisa sampai dengan selamat di tempat Jaehwan.” Luna menatap keluar jendela.
“Rania? Tenang. Aku udah minta Jaehwan menjemputnya kok. Tapi, Jaehwan nggak bisa. Jadinya, Minhyun yang jemput Rania. Sekalian berangkat.”
“Minhyun?” Suara Luna hampir tak keluar ketika ia menyebut nama itu sembari beralih menghadap Woojin.
“Iya. Kenapa? Reaksimu gitu banget. Cemburu ya?”
Tangan kanan Luna kembali melayang dan mendarat di dada Woojin.
“Anarkis banget sih!” Woojin kembali mengelus dadanya. “Emang kenapa kalau Minhyun jemput Rania?”
“Cue gampang keceplosan.”
“Trus kenapa?”
Luna mengalihkan pandangan ke tempat Jinyoung berada. Di sana, Jinyoung menatapnya. Entah sejak kapan. Karena Luna diam, tak memberinya respon, dan justeru menatap ke tempat Jinyoung duduk. Woojin pun turut menatap ke tempat Jinyoung berada. Jinyoung tersenyum padanya.
“Kalau kalian seperti itu, nanti dikira kalian itu sepasang kekasih lho!” Jinyoung mengomentari keakraban Luna dan Woojin. Wajahnya dihiasi senyum.
“Diam kau! Kalau Jihoon dengar, aku bisa mampus!” Woojin memprotes komentar Jinyoung. Tapi, ia tak bisa menyembunyikan senyum itu. Ia merasa ada sesuatu yang membuncah di dadanya karena komentar Jinyoung. Sesuatu yang membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
Luna menggelengkan kepala. Menyandarkan punggungnya kembali pada punggung kursi. Mengabaikan bagaimana Woojin menatapnya dengan wajah dihiasi senyuman itu.
***

Woojin, Luna, dan Jinyoung tiba di perempatan tempat Luna janjian untuk bertemu Lucy dan Hami. Hami bersedia membantu Woojin. Ia membujuk Lucy untuk ikut bergabung dalam undangan reuni Jaehwan. Hami mengatakan ia juga akan ikut dalam acara reuni itu. Ketika Lucy setuju untuk ikut, Woojin lah yang paling berbahagia. Ia jadi percaya diri bahwa rencananya akan sukses.
Ketika ketiganya sampai, Lucy sudah berada di sana. Berdiri di dekat sebuah toko yang letaknya paling dekat dengan perempatan. Luna menyapa Lucy. Jinyoung dan Lucy sempat terlihat kaget satu sama lain saat kembali bertemu. Keduanya juga canggung. Woojin berusaha menengahi. Sedang Luna, menelpon Hami yang belum muncul.
“Mwo?? Kamu nggak bisa dateng?? Gimana sih??” Suara Luna menyita perhatian Woojin, Lucy, dan Jinyoung. Woojin tersenyum samar mendengarnya. Sedang Jinyoung datar saja. Lucy menggigit bibir bawahnya dan terlihat khawatir.
“Iya lah Lucy udah di sini! Dia udah di sini sebelum aku datang!” Kening Luna berkerut. “Trus gimana dong?”
Woojin, Lucy, dan Jinyoung kompak menatap Luna. Menyimak Luna yang sedang menelpon Hami.
“Ya udah. Lucy biar sama aku aja. Jangan khawatir! Aku bakalan jaga dia. Semoga lekas membaik.” Luna mengakhiri obrolannya dengan Hami. Ia menghela napas dan menatap Lucy dengan ekspresi menyesal. “Hami agak nggak enak badan. Dia nggak bisa dateng. Kayaknya kecapekan karena kemarin main entah sampai jam berapa di taman bermain.”
“Sama kamu?” Woojin yang pertama memberi respon.
“Iya. Tapi, aku pulang duluan. Hami tetap tinggal sama Edward, Jisung, dan Linda.”
“Edward?”
“Guanlin.”
“Oh.”
“Ya udah. Lucy sama aku aja ya?” Wajah Luna kembali berseri. Ia tersenyum manis pada Lucy.
Woojin lagi-lagi memperhatikan perubahan ekspresi dan emosi Luna. Ia tersenyum melihatnya. “Kamu emang pantes masuk Klub Teater!” Ia berbisik dekat di telinga Luna.
Luna mengabaikan bisikan Woojin. Ia berdiri di samping kanan Lucy, menggandeng tangan gadis itu dan mulai berjalan bersama menuju peternakan ikan air tawar milik ayah Jaehwan.
Dari perempatan tempat janjian itu, hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke peternakan ikan air tawar milik ayah Jaehwan dengan berjalan kaki. Di samping kanan dan kiri jalan utama berjejer toko-toko yang menjual ikan hias. Ada juga yang menjual ikan segar langsung dari kolamnya seperti ayah Jaehwan.
Luna dan Lucy berjalan dalam diam. Namun, tangan Luna masih melingkar di lengan kanan Lucy. Woojin dan Jinyoung berjalan di belakang keduanya. Saat sampai di peternakan ikan air tawar milik ayah Jaehwan, Rania dan Minhyun sudah ada di sana bersama Jaehwan. Ketika mendengar Luna datang, ibu Jaehwan muncul dan menyambut baik gadis asal Indonesia itu.
***

Peternakan ikan air tawar milik ayah Jaehwan berada di belakang gedung yang dijadikan tempat pemasaran produk. Gedung itu digunakan untuk menerima pembeli. Sedang tempat budidaya ikan air tawar ada di kolam-kolam buatan di belakang bangunan sederhana yang memiliki satu ruang yang dijadikan kantor, satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur. Kamar tidur itu di bangun karena ayah Jaehwan sering menginap di peternakannya. Terlebih jika mendekati musim panen. Walau sudah memiliki penjaga yang setiap malam menginap, ayah Jaehwan kadang memilih tinggal. Menginap di peternakannya.
Walau gedung utama peternakan tergolong sederhana, peternakan ikan air tawar milik ayah Jaehwan termasuk dalam lima peternakan terbaik di area itu. Peternakan itu memiliki pelanggan tetap berupa beberapa restoran kenamaan di Seoul.
Para pemuda bersiap untuk menangkap ikan. Sedang para gadis digiring ke dapur oleh ibu Jaehwan. Wanita itu terus menempel pada Luna sejak gadis itu tiba. Rania dan Lucy mengikuti di belakang keduanya. Ibu Jaehwan sudah mempersiapkan bumbu yang dibutuhkan Luna.
“Luna, punya resep rahasia yang enak sekali untuk membakar ikan.” Ibu Jaehwan membanggakan Luna di depan Rania dan Lucy. “Aku mencoba membuatnya. Tapi, kata Jaehwan itu tidak seenak buatan Luna. Padahal bumbunya sama. Hanya dilumuri bawang putih dan garam yang dihaluskan. Tapi, tetap saja kata Jaehwan rasanya berbeda.”
Rania tersenyum jahil pada Luna yang berdiri di samping ibu Jaehwan. Luna mendelik padanya. “Bumbunya jangan diblender Imo. Tapi, digerus.” Rania kemudian berkomentar.
“Iya. Udah. Itu alat pemberian ibu Luna. Oleh-oleh dari Indonesia.” Ibu Jaehwan menuding cobek dan ulekan yang sudah siap di dapur. “Aku sudah mengupas bawangnya. Kamu bisa mulai membuat bumbu.” Ibu Jaehwan mempersilahkan Luna untuk mulai membuat bumbu. Ibu Jaehwan pun pamit karena suaminya memanggil untuk meminta bantuan.
“Selalu kelupaan jeruk nipisnya.” Luna mengamati bumbu-bumbu yang disiapkan ibu Jaehwan. “Lucy, bisa tolong ambilkan jeruk nipis dalam tasku? Ada di gazebo di dekat kolam.” Ia meminta bantuan Lucy.
Lucy mengangguk. Lalu pergi meninggalkan dapur.
“Calon mantu idaman ibunya Jaehwan nih!” Rania mendekati Luna dan menyikut sahabatnya itu. Ia berbicara dalam Bahasa Indonesia. “Oleh-olehnya cobek sama ulekan. Dalem banget maknanya. Trus, itu si Jaehwan pakek kaos yang kamu kasih lagi. Jangan-jangan…”
“Diam kau!” Luna membentak Rania.
Rania tergelak. “Kenapa sih, Cing? Dari semuanya, kok loe bisa kejebak sandiwara sama Jihoon? Ya kan ada Sungwoon yang jelas care sama loe.”
“Kok selalu ke Sungwoon sih larinya?”
“Trus, ada Jaehwan yang… loe liat. Ortunya welcome dan baik ke loe. Kenapa malah jatuhnya ke pelukan Jihoon? Gue heran deh sama elu!” Rania mengelus dagunya.
Lucy kembali. Membawa jeruk nipis permintaan Luna.
“Tolong bantu cuci dan iris jadi dua ya.” Luna kembali meminta bantuan pada Lucy.
“Aku aja.” Rania mengambil alih tugas yang diberikan Luna pada Lucy.
“Lalu, saya bantu apa?” Lucy canggung.
“Jangan terlalu formal. Ini kan bukan di sekolah. Santai saja.” Luna menghibur. Tapi, Lucy masih tampak canggung. “Mau tahu cara orang Indonesia masak?”
Lucy menatap Luna dengan ekspresi bingung.
“Sini! Mendekat padaku!”
Lucy pun mendekat dan berdiri di samping kiri Luna. Ia melihat Luna meletakkan beberapa siung bawang putih ke atas alat yang sebelumnya dituding ibu Jaehwan.
“Eh, kita mau bakar berapa ikan ya Cue?” Luna bertanya pada Rania dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Membuat Lucy menatapnya, lalu beralih pada Rania.
“Mana gue tahu! Ya udah lu ulek aja berapa gitu. Kalau nyisa kan bisa disimpen buat calon ibu mertua lu itu.” Rania menjawab dengan Bahasa Indonesia.
“Sialan lu, Cue!”
Rania tergelak. “Maaf, Lucy. Itu tadi Luna nanya baiknya dia membuat bumbu seberapa banyak. Aku suruh dia bikin yang banyak. Kan nanti bisa disimpen buat Imo.”
Lucy tersenyum dan mengangguk. Ia pun memperhatikan Luna yang mulai menghaluskan bumbu. “Begitu itu apa tidak sulit?” Ia penasaran.
“Kalau bawang putih sama garam sih nggak. Kan cukup empuk. Lain cerita kalau harus gerus bumbu masakan lain yang ada… apa ya Bahasa Korea-nya. Ada jahe, kunyit, lengkuas. Seperti itu.”
Lucy memiringkan kepala dan memasang ekspresi bingung. “Jahe ada di sini. Lainnya itu apa?”
“Bumbu masakan Indonesia beragam. Kapan-kapan kita masak bareng. Kita ngumpul aja cewek-cewek. Di rumahku, atau di tempat Luna. Kita masak makanan Indonesia.” Rania menyela.
Lucy berbinar mendengarnya. “Boleh ya?”
“Tentu aja boleh. Iya kan, Cing?”
“Iya.” Luna mengangguk.
“Cing?” Lucy bingung.
“Luna si kucing bulan. Pasti tahu kan?”
“Foto profil Luna Seonbae ya?”
“Nah! Itu!” Rania menuding Lucy karena jawaban gadis itu tepat. “Lucy tahu tentang Luna ya?”
“Karena Luna Seonbae pernah menolongku. Aku jadi mengintip akun sosial medianya.” Lucy malu-malu.
“Penasaran ya? Dan yang kamu temuin, ternyata dia memang gila.”
Lucy tersenyum malu-malu.
“Selesai! Yuk! Kita liat. Para lelaki dapat apa!” Luna mengajak Lucy dan Rania untuk melihat apa yang sedang dilakukan para pemuda.

Luna, Lucy, dan Rania sampai di area kolam. Mereka melihat Jaehwan, Woojin, Jinyoung, dan Minhyun yang berusaha menangkap ikan. Jaehwan sibuk menangkap ikan sambil mengoceh memberi tahu cara menangkap ikan pada Woojin, Jinyoung, dan Minhyun.
“Cing,” Rania yang berdiri di samping kiri Luna menyikut lengan kiri Luna. “Inget liburan terakhir kita nggak? Sebelum loe berangkat ke Korea. Ke rumah nenekku dan kita tuwu ikan di kolam liar yang airnya lagi surut.”
“Kamu pasti ingetnya bagian aku jatuh trus badan kena lumpur semua.”
“Hehehe. Iya. Masa kecil kita indah banget ya.”
Luna dan Rania sama-sama menatap kolam ikan dengan wajah dihiasi senyuman. Mereka mengenang masa kecil yang mereka lalui bersama saat masih di Indonesia.
Rania menghela napas panjang. “Nggak nyangka setelah ketemu lagi, loe jadi makin aneh.”
Luna tersenyum mendengar keluhan Rania. Sedang Lucy yang berdiri di samping kanannya tetap diam. Tentu saja gadis itu tak paham apa yang sedang ia bicarakan dengan Rania. Karena ia dan Rania menggunakan Bahasa Indonesia.
“Kami hanya mengenang masa kecil saat di Indonesia. Kami mempunyai masa kecil yang hampir sama. Berhubungan dengan kolam ikan.” Luna memberi penjelasan pada Lucy.
“Aku tidak apa-apa Seonbae. Jangan merasa sungkan. Pasti menyenangkan bisa bertemu dengan orang dari negara yang sama ketika kita berada di negara asing.” Lucy memaklumi.
“Gomawo, Lucy.”
Kemudian, ketiga gadis itu diam dan menonton para pemuda yang sedang sibuk menangkap ikan dibawah arahan Jaehwan.

“Ya, bagaimana kalau kita adu kemampuan?” Woojin mengutarakan ide yang muncul di kepalanya.
“Adu kemampuan apa?” Tanya Jaehwan.
“Tangkap ikan yang besar dan berikan untuk salah satu gadis di sana.” Woojin menggerakkan kepala, menunjuk pada Lucy, Luna, dan Rania. “Berikan pada gadis yang kalian suka.”
“Ya! Semua ikan di peternakan ayahku ini besar! Apalagi di kolam ini. Ini kolam siap panen tahu!”
“Kamu khawatir nggak bisa dapat ikan besar atau nggak berani ngasih ke gadis yang kamu suka?”
“Aku… Nggak! Aku nggak takut!” Jaehwan membusungkan dada. “Ayo! Kita adu kemampuan! Aku pasti akan mendapatkan ikan yang besar.”
“Gadis yang sudah diberi ikan lebih dulu, tidak boleh diberi oleh yang lain.”
“Oke! Oke!”
“Bagaimana? Minhyun? Jinyoung?”
Minhyun dan Jinyoung sama-sama diam.
“Ayolah! Ini hanya permainan. Suka bukan berarti cinta kan?” Jaehwan berkacak pinggang.
“Tapi, suka bisa jadi awal dari cinta.” Woojin menyanggah. “Oke! Ayo kita mulai permainannya!”
Woojin mengerlingkan mata pada Jaehwan. Jaehwan terlihat bingung, tapi kemudian mengangguk. Woojin tersenyum dan bergerak mendekati Minhyun sambil melirik Jinyoung yang mulai sibuk dengan alat penangkap ikannya.
“Tolong hindari Lucy.” Woojin berbisik lirih pada Minhyun.
Mendengarnya, Minhyun mengangkat kepala dan menatap Woojin dengan ekspresi bingung.
“Ikuti saja. Ini permainan untuk mendekatkan Jinyoung dan Lucy.”
“Mwo??”
“Pokoknya hindari Lucy ya.” Woojin menepuk pundak Minhyun dan menjauh.

Dari tempatnya berdiri, Luna memperhatikan tingkah empat pemuda yang sedang sibuk di salah satu kolam ikan. Keningnya berkerut memperhatikan tingkah Woojin. Dia mulai menjalankan rencananya? Ia membatin. “Kita duduk aja yuk! Atau kalian ingin nyoba nangkap ikan?”
“Kalau boleh tuwu, aku mau.” Rania menjawab dalam Bahasa Indonesia. Sembari berjalan menuju salah satu gazebo di pinggir kolam. Gazebo tempat barang-barang mereka di letakkan.
Luna dan Lucy menyusul langkah Rania. Lalu, ketiganya duduk di dalam gazebo. Menunggu para pemuda menangkap ikan.
“Harusnya Minhyun nggak usah ikutan nangkep ikan. Momen kayak gini kan bagus buat diabadikan.” Luna mengomentari keikutsertaan Minhyun dalam usaha menangkap ikan.
“Kenapa gitu?” Rania memberi respon.
“Dia kan anak Klub Fotografi. Ingat bagaimana Seongwoo saat di kebun kakek Sungwoon? Hasil fotonya bagus, kan? Candid-nya.”
“Ah iya!” Rania tersenyum dan menganggukkan kepala.
Ketiga gadis yang duduk di dalam gazebo dibuat terkejut karena keempat pemuda yang sebelumnya sibuk menangkap ikan, tiba-tiba berjalan cepat ke arah mereka.
“Mereka ngapain?” Rania berubah tegang.
Lucy yang duduk di sebelahnya pun menunjukkan reaksi yang sama. Luna yang juga kaget, berusaha bersikap paling datar. Ia sendiri bingung dengan apa yang terjadi.
Tiga gadis semakin tegang ketika melihat empat pemuda yang sebelumnya sibuk menangkap ikan tergesa-gesa menuju ke arah mereka. Luna, Rania, dan Lucy sama-sama menunjukkan ekspresi panik ketika melihat para pemuda mulai berlari.
Minhyun dan Jaehwan memimpin di depan. Sama-sama berlari sekencang mereka bisa. Jinyoung berada di belakang keduanya dan Woojin berada di urutan paling belakang. Jaehwan tiba lebih dulu di depan Rania. Ia tersenyum lebar dan mengatur napasnya yang terengah-engah. Ketika melihat Jinyoung akan menyusul Minhyun, Woojin menarik baju Jinyoung.
“Ya! Mwoya!” Jinyoung memprotes tindakan Woojin.
Minhyun sampai di depan Luna. Ia kemudian membungkuk, memegang kedua lututnya sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.
Woojin mendorong Jinyoung hingga pemuda itu hampir menabrak Lucy yang sedang duduk. Untung Jinyoung bisa mengendalikan tubuhnya hingga ia tak jatuh menimpa Lucy.
Woojin berhenti tepat di belakang Jaehwan yang sudah duduk di depan Rania yang duduk di antara Luna dan Lucy di dalam gazebo. “Game over! Aku kalah!” Woojin tersenyum puas. “Jadi, itu kah gadis-gadis yang kalian sukai?”
Jaehwan yang masih duduk di depan Rania menoleh, dan meringis sambil menatap Rania yang terkejut sampai mulutnya terbuka. Lucy menatap Jinyoung yang berdiri di depannya dengan bingung. Jinyoung pun tersenyum canggung pada Lucy. Luna menatap Minhyun yang berjongkok di hadapannya, memunggungi dirinya. Luna tersenyum samar, lalu beralih menatap Woojin. Pemuda itu tersenyum puas padanya.
***

Jaehwan dan Woojin berada di dapur. Mereka membersihkan ikan-ikan yang mereka tangkap. Karena Jaehwan memilih Rania, gadis itu pun turut berada di dapur. Membantunya dan Woojin yang sedang membersihkan ikan. Rania menggelengkan kepala, karena Jaehwan dan Woojin terus cek-cok soal cara membersihkan ikan yang benar.
“Kalau kalian adu mulut terus, kapan selesainya?” Rania angkat bicara. Menengahi cek-cok antara Jaehwan dan Woojin.
“Kan aku ahlinya!” Jaehwan merasa dirinya yang paling mahir dalam membersihkan ikan.
“Ya udah. Kamu kerjain sendiri!” Woojin hendak cuci tangan.
“Eh! Eh! Kamu kan bisa bantu cuci ikan yang sudah aku bersihin!” Jaehwan menahan Woojin.
Rania tersenyum dan menggeleng melihat tingkah dua temannya itu.
“Rania, maaf ya. Itu tadi hanya permainan. Tujuanku membuat permainan itu, tak lain untuk mendekatkan Jinyoung dan Lucy.” Woojin mengakui ulahnya pada Rania.
“Mereka saling suka ya?” Rania penasaran.
“Nggak sih. Tapi, aku pengen bikin mereka deket aja. Kamu tahu cara mereka bertemu itu unik? Siapa tahu mereka emang ada jodoh.”
“Luna tahu?”
“Tahu. Dia sempet nggak setuju. Tapi, akhirnya bantu juga. Lucy mau ikut itu karena Luna. Luna minta bantuan Hami untuk membujuk Lucy agar mau ikut. Sebenarnya Luna membuat rencana agar Hami tak datang hari ini. Demi menghindari Lucy yang mungkin akan nempel Hami terus kalau Hami di sini. Sepertinya Tuhan memihak kami. Hari ini, Hami benar-benar tidak enak badan.”
“Wah!” Rania kagum.
“Untung Minhyun mau bantu. Jadi, dia nggak milih berhenti di depan Lucy.”
Rania tersenyum dan mengangguk.
“Aku tadi sengaja lari cepat dan milih Rania, itu biar Minhyun milih Luna. Aku liat pas kamu deketin Minhyun. Aku yakin kamu kasih instruksi Minhyun buat nggak milih Lucy.” Jaehwan mengutarakan alasan kenapa dia memilih Rania.
“Jadi, kamu milih Rania karena alasan itu? Bukan karena kamu suka Rania?” Woojin menggoda.
“Nggak gitu. Aku suka Rania. Suka Luna juga.”
“Serakah!”
“Karena kamu pengen bikin Jinyoung dan Lucy deket, aku jadi pengen bikin Luna sama Minhyun baikan.”
“Niat kamu bagus sih. Tapi, liat nggak gimana tadi Minhyun di depan Luna? Masa dia jongkok membelakangi Luna.”
“Kan masih awal. Pas proses penyelidikan kasus Jinyoung, mereka juga nggak ngobrol kan? Malah aku jadi tukang pos! Aku berharap sih mereka bisa baikan.”
“Karena itu, aku bagi tugas per couple kayak gini.”
“Kira-kira Luna sama Minhyun berhasil siapin api buat manggang nggak ya? Trus, gimana Jinyoung dan Lucy yang kebagian nyiapin sayur buat lalapan.”
Rania diam. Menyimak obrolan Woojin dan Jaehwan tentang Luna dan Minhyun.
“Kalau mereka nggak berantem, pasti Luna sama Minhyun bisa jadi couple terkenal kayak Song Hyuri dan Kim Myungsoo Seonbaenim. Sebenernya Luna kepilih jadi anggota OSIS lho! Tapi, dia mundur. Alasannya nggak suka organisasi. Aku yakin karena ada Minhyun di sana.”
“Song Hyuri dan Kim Myungsoo Seonbaenim kan pacaran. Luna sama Minhyun nggak.” Woojin membantah pendapat Jaehwan.
“Tapi, masa iya gara-gara tugas sekolah berantemnya awet? Sampai tahunan? Pasti ada masalah lain.”
“Luna sama Minhyun kenapa sih?” Tidak tahan dengan rasa penasarannya, Rania pun angkat bicara. Menyela obrolan Jaehwan dan Woojin.
“Luna nggak cerita ke kamu?” Woojin menoleh. Demi melihat Rania yang berdiri di belakangnya.
Rania menggeleng.
“Ngapain juga Luna cerita ke Rania? Kan, mereka baru kenal.”
Woojin dan Rania saling melempar pandangan, lalu kompak tersenyum. Karena Jaehwan tak tahu jika Rania adalah sahabat Luna dari Indonesia, wajar jika pemuda itu mengatakan sanggahan itu.
“Luna sama Minhyun itu teman baik semasa SMP. Cerita itu masuk ke sekolah kita setelah Luna meraih nilai Matematika tertinggi untuk kelas X. Salah satu siswi yang dulunya satu SMP sama mereka yang mulai menyebarkan cerita. Sebagai tambahan dari cerita 'sejarah Luna mendapat nilai Matematika tertinggi terulang lagi'. Banyak yang tertarik dengan kisah Luna dan Minhyun. Katanya, mereka berantem karena Luna ngilangin tugas sekolah mereka. Tugas kelompok Minhyun dan Luna. Trus, mereka saling diam sampai lulus dan sampai jadi satu sekolah lagi di SMA Hak Kun. Sampai sekarang sih.” Jaehwan menceritakan tengang Minhyun dan Luna.
Rania diam. Menelaah cerita Jaehwan tentang Luna dan Minhyun. “Jangan-jangan…” ia bergumam. Ekspresinya berubah serius.
“Lanjutin ya! Aku mau liat persiapan di luar.” Woojin mengeringkan tangannya. “Sekalian aku panggil Luna buat bumbui ikannya.”
“Rania, bantu aku cuci ikannya.” Jaehwan meminta bantuan Rania setelah Woojin meninggalkan dapur.
“Eh! Iya! Iya!” Rania bergegas mengambil alih tugas Woojin.

Saat sampai di lokasi yang akan digunakan untuk membakar ikan, Woojin menemukan Minhyun sedang membantu ayah Jaehwan memberi makan ikan-ikan di kolam. Lucy dan Jinyoung duduk di gazebo, menata sayuran yang akan digunakan untuk lalap.
Woojin mendekati gazebo. “Luna mana?” Ia bertanya pada Lucy dan Jinyoung.
“Ke depan sama ibu Jaehwan.” Jinyoung menjawab.
“Kok nggak nyiapin api sama Minhyun?”
“Katanya nunggu ikan dibaluri bumbu dulu. Dari ikan dibaluri bumbu, nunggu lima belas menit dulu sebelum dibakar. Kata Luna, lima belas menit itu untuk nyiapin api.”
“Luna ngobrol sama Minhyun?” Woojin melirihkan suaranya.
Jinyoung diam sejenak, lalu mengangguk. “Di dekat panggangan tadi. Sebelum ngasih tahu kami soal api. Lalu, ayah dan ibu Jaehwan datang. Luna pergi sama ibu Jaehwan, Minhyun ikut ayah Jaehwan.”
Woojin menghela napas dan berkacak pinggang. “Aku cari Luna dulu. Ikannya udah selesai dibersihin.”

Rania duduk di gazebo bersama Lucy. Tak jauh dari gazebo, Minhyun, Woojin, dan Jinyoung sedang menyiapkan api. Jaehwan dan Luna masih ada di dapur bersama ibu Jaehwan.
Tatapan Rania terfokus pada Minhyun. Benaknya dipenuhi pertanyaan tentang Minhyun dan Luna. Ia ingin sekali menemui Luna dan bertanya secara langsung, tapi di dapur sana Luna tak sendirian. Ia pun menghela napas panjang dan baru teringat pada Lucy yang ada bersamanya.
Rania tersenyum, karena teringat tentang rencana Woojin yang ingin mendekatkan Lucy dengan Jinyoung. “Lucy.” Ia pun memberanikan diri untuk mengajak Lucy ngobrol.
“Iya?” Lucy yang sibuk dengan ponselnya pun mengalihkan perhatian pada Rania.
“Tadi itu… mengejutkan ya? Itu, ketika mereka membawa ikan ke depan kita.”
Lucy menundukkan kepala dan mengangguk.
“Aku kaget. Masa iya Jaehwan suka padaku? Lalu, Jinyoung ke kamu. Dan, Minhyun ke Luna. Kasihan banget Minhyun. Kan Luna udah pacaran sama Jihoon.” Rania melirik Lucy. Menunggu respon gadis itu. “Padahal kalau Minhyun bisa sama Luna kan keren. Sama-sama terkenal. Ya, walau Jihoon juga terkenal sih. Tapi, kan lebih keren Minhyun.”
Lucy masih menunduk. Rania merasa putus asa. Sepertinya Lucy tidak akan meresponnya.
“Siswi asing yang pintar dan wakil ketua OSIS. Dua tokoh yang indah.” Rania menambahkan. Tapi, Lucy masih bergeming. “Lalu, tentang Jinyoung dan kamu. Pertemuan kalian unik ya.”
Lucy serta merta mengangkat kepala ketika mendengar ungkapan Rania. Rania sampai dibuat terkejut karena reaksi gadis itu.
“Aku datang ke sekolah tepat setelah cerita tentang kamu dan Jinyoung ramai dibicarakan. Aku duduk tepat di depan Bae Jinyoung. Jaehwan menceritakan semua. Agar aku tak salah paham. Menurutku kisah kalian unik. Nggak nyangka ternyata Jinyoung beneran suka sama kamu.” Rania tersenyum.
“Seonbae, tidak lihat kalau tadi Park Woojin Seonbae mendorong Bae Jinyoung Soenbae?” Lucy berbicara dengan hati-hati.
Rania menarik senyumnya. Ia tak menyangka jika Lucy begitu jeli. “Bisa jadi karena Woojin memang membantunya. Setahuku mereka satu klub kan? Di Klub Basket. Layaknya kita kaum cewek, cowok pun kadang saling berbagi cerita. Aku rasa Jinyoung cerita ke Woojin kalau dia suka kamu. Tapi, Jinyoung kan juga pendiam sama kayak kamu. Jadinya, susah buat memulai. Karena itu, Woojin membantunya.”
Wajah Lucy memerah. Ia kembali menundukkan kepala. Rania tersenyum melihat perubahan warna wajah Lucy.
“Kalau Lucy juga suka, aku dukung lho! Aku siap membantu!” Rania menyanggupi.
“Seonbae…” Wajah Lucy memerah.
Rania pun menertawakannya.

Luna muncul bersama Jaehwan dan ibunya. Luna membawa ikan yang sudah dibumbui dan diletakan dalam satu wadah. Ketika Luna mendekati tempat pemangang, Minhyun segera minggir. Menjaga jarak dari Luna. Rania memperhatikannya dari tempat ia duduk. Ketika Luna mulai memanggang, Minhyun, Woojin, dan Jinyoung minggir dan bergabung duduk di gazebo. Meninggalkan Luna bersama Jaehwan dan ibunya. Ketiganya sibuk membakar ikan dan terlihat sangat akrab. Rania tersenyum melihatnya.
Setelah ikan selesai dibakar, Jaehwan menyajikannya di gazebo. Sedang Luna membantu ibu Jaehwan membawa ikan bakar untuk ibu dan ayah Jaehwan yang akan makan bersama di dalam gedung. Selesai membantu ibu Jaehwan, Luna kembali ke gazebo dan bergabung untuk makan siang bersama. Teman-teman Luna memuji ikan hasil olahan Luna. Hanya Minhyun yang diam dalam menikmati hidangan. Rania masih memperhatikan gerak-gerik Luna dan Minhyun.

Rania menarik Luna ke dapur ketika gadis itu hendak kembali dari kamar mandi.
“Ada apa sih?! Bikin kaget aja!” Luna sedikit kesal karena ulah Rania.
“Gue pengin tanya sesuatu sama lu!”
“Harus sekarang ya?”
Rania mengangguk.
“Oke. Kenapa pakek bahasa Indonesia?”
“Karena ini tentang kita.”
“Oke. Mau tanya apa?”
“Mm, bukan tanya sih. Tapi, ngaku.”
Kening Luna berkerut saat ia menatap Rania yang berada dekat di depannya.
“Jadi… Prince itu Hwang Minhyun?”
Ekspresi Luna berubah. Rania bisa melihatnya dengan jelas. Tapi, beberapa detik kemudian Luna tersenyum.
“Pada akhirnya akan ketahuan juga, kan?” Luna dengan santai.
“Kenapa lu nggak bilang sih, Cing!” Rania memukul lengan Luna.
“Nggak semua harus aku ceritain ke kamu kan, Cue? Lagian nggak penting juga buat dibahas, kan?”
“Penting lah! Prince itu masa lalu yang bikin loe gagal move on!”
“Siapa bilang? Look! I'm good!
“Kalau cuman salah paham doang, kenapa lu nggak coba jelasin ke dia sih? Lu bilang Prince teman pertamamu yang super baik dan lu sedih pas kehilangan dia. Tapi, malah berantem sampai tahunan gini. Kekanak-kanakan banget sih lu, Cing!”
Minhyun menghentikan langkahnya. Ia hendak ke kamar mandi yang posisinya harus melewati dapur. Mendengar ada suara dua gadis di dapur, ia pun menghentikan langkahnya. Ia tahu dua gadis itu adalah Luna dan Rania. Karena, dua gadis itu yang tidak ada di gazebo. Luna izin ke kamar mandi, sedang Rania menawarkan diri untuk mengambil sayuran di dapur. Yang membuat Minhyun penasaran, apa yang sedang dilakukan dua gadis itu di dapur. Terlebih keduanya berbicara dalam bahasa orang tua mereka; Bahasa Indonesia.
“Bukannya aku nggak mencoba, Cue! Aku udah coba. Tapi, Prince nggak mau baikan. Masa iya aku mau maksa dia? Itu hak dia kalau dia udah nggak mau temenan lagi sama aku.” Luna membela diri.
“Loe yakin itu cuman gara-gara tugas sekolah yang ilang?” Rania menuntut kepastian.
“Iya. Salahku cuman itu ke dia. Nggak ada yang lain.”
“Yakin nggak ada hubungannya sama feeling-feeling gitu?”
“Kan udah aku bilang, aku suka ke Prince karena dia baik ke aku. Bukan suka yang lebih dari temen.”
“Yakin? Minhyun kan ganteng!”
Minhyun terkejut mendengar namanya disebut.
“Iya dia emang ganteng! Tapi, dia bukan tipeku. Aku suka dia karena dia baik dan perhatian ke aku. Kayak Mas Aro!”
“Ooo… jadi suka kayak adek ke kakak?”
“Penting banget ya kita bahas ini sekarang?”
“Gue udah nggak tahan sejak denger cerita tentang lu sama Minhyun dari Jaehwan.”
Minhyun kembali terkejut karena mendengar namanya kembali disebut. Mereka ribut tentang aku? Ia bertanya dalam hati.
“Ya, bener! Minhyun emang Prince. Cepat atau lambat kamu bakalan tahu juga!”
Rania diam. Menatap Luna yang mulai kesal. “Gue nggak marah kok. Kaget doang. Lagian, setiap rahasia pasti punya resiko buat terbongkar. Termasuk tentang kita.”
Luna bergeming.
“Oke. Kita juga kudu siap kalau rahasia kebongkar.”
“Aku nggak takut soal itu. Karena aku tahu, kamu lebih kuat dari aku sekarang. Buktinya waktu itu. Kamu jago beladiri sekarang.”
“Demi loe tahu! Inget pas loe berantem sama Bagas pas kita kelas enam? Loe hampir ditempeleng sama dia. Lagian loe nggak bisa bela diri sok-sokan banget ngajak dia berantem. Gue mikir kalau gue bisa bela diri kan kita bisa saling melindungi.”
“Lebe lu, Cue!”
Rania terkekeh. “Jadi, nggak papa kalau nantinya orang tahu rahasia kita?”
“Waktu itu pasti akan datang. Semua akan baik-baik aja.”
“Baiklah!” Rania kembali menggunakan Bahasa Korea. “Aku nggak akan sembunyi lagi. Annyeong, jonun Rania. Sahabat baik Mezzaluna. Kami berteman dari SD lho! Dan, kami tergabung dalam geng Pretty Soldier. Mezzaluna mempunyai panggilan Kucing atau Koyangi. Sedang julukanku Cue. Cue itu nama ikan yang sering dijadikan makanan kucing. Kenapa kucing dan ikan ini bisa bersahabat? Karena kami punya kisah yang sangat unik! Ottokke?”
Luna dan Rania tertawa bersama. Sedang Minhyun yang masih menguping, benar dibuat terkejut karena menemukan fakta bahwa Rania dan Luna adalah sahabat. Minhyun menelan ludah, lalu bergegas masuk ke dalam toilet. Luna dan Rania keluar dari dapur. Bersama kembali ke gazebo.
***

Luna dan Rania duduk berdampingan di dalam bus. Luna berulang kali mengendus bau tubuhnya sendiri.
“Napa sih lu, Cing?” Rania risih dengan apa yang dilakukan Luna.
“Badanku bau sangit nggak sih? Tadi kan aku bantuin bakar ikan. Kita kelamaan main di tempat Jaehwan sih! Kalau pulang dulu bisa telat ke pertemuan.”
“Yelah! Badan loe udah wangi, bau parfum. Suer! Lagian tadi kenapa nggak nebeng mandi trus pinjem baju Jurle.”
“Edan lu, Cue!”
Rania tergelak. “Mamaknya Jurle baik banget ke loe. Kayak-kayak loe tuh beneran calon mantunya. Trus si Jurle juga gitu banget ke lu. Tau lu mau main, dia pakek kaos yang lu kasih.”
“Bukannya dia milih loe?”
“Dia sengaja biar Minhyun milih loe. Minhyun udah dikasih tahu Woojin kalau nggak boleh milih Lucy. Jadinya Jurle milih gue biar Minhyun milih loe. Niatnya baik. Biar kalian baikan!”
“Kamu tahu rencana Woojin?”
“Gue kan kopelnya Jurle tuh. Pas nemenin dia boleng ikan di dapur, dia ngoceh sama Woojin tentang Jinyoung, Lucy, dan loe sama Minhyun.”
“Dasar, Jaehwan! Itu mulut nggak dijaga banget. Nurut dia, Jinyoung suka kamu lho!”
“Halah! Nggak mungkin lah! Biarin aja dia sama Lucy. Aku suka kok liat mereka. Kira-kira, di jalan mereka ngapain ya? Woojin suruh Jinyoung ngantar Lucy kan? Masa iya duduk diem-dieman?”
“Iyo. Anteng-antengan. Yang anteng pulang duluan.”
Lagi-lagi Rania tergelak. “Inget zaman TK? Btw, gimana dulu bisa akrab sama Minhyun? Cocok banget loe kasih dia nama Prince. Emang cakep kayak pangeran. Dari dulu cakep gitu?”
“Cakep dari orok dia. Aku kenal zaman dia masih ABG buluk. SMA makin cakep aja. Efek udah ngerti pakek make up kali ya?”
“Bisa aja lu, Cing!”
“Karena aku tinggi, aku disuruh duduk di belakang. Kebetulan Minhyun duduk di samping kiri bangkuku. Dia duduk di deket jendela. Kami sama-sama di barisan paling belakang. Nggak ada yang aku kenal, dan di kelas itu aku satu-satunya murid asing. Hari pertama aku sama sekali nggak keluar kelas. Bahkan nggak makan siang. Hari ketiga Minhyun menghampiri mejaku dan bertanya kenapa aku nggak pernah keluar kelas.”
Rania diam. Menyimak cerita Luna.
“Aku bilang aku takut keluar sendiri. Takut di bully, takut dikerjain. Dia bilang, mulai sekarang kita istirahat sama-sama. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang ke aku. Kita berteman. Kamu mau? Aku Hwang Minhyun. Dia mengulurkan tangan kanannya dan tersenyum. Lalu bilang, di Indonesia kalau berkenalan ditandai dengan berjabat tangan kan? Dari situ pertemanan kami dimulai. Dia teman pertamaku di sekolah.
Minhyun termasuk murid yang rajin dan patuh. Dia pendiam tapi supel. Maksudnya, walau nggak banyak bicara. Dia gampang akrab sama siapa aja. Sejak hari itu, dia selalu menemaniku setiap kali aku butuh keluar kelas. Jika malas, kami tinggal di kelas untuk membahas pelajaran atau bertukar cerita tentang Korea dan Indonesia. Aku murid asing pertama yang menjadi teman Minhyun.”
“Sama-sama yang pertama.” Rania bergumam dengan kepala mengangguk.
“Ketika aku dapat nilai Matematika tertinggi, orang-orang mulai tahu kalau ada murid asing dengan nama Mezzaluna di sana. Mereka jadi tahu juga kalau aku berteman baik dengan Minhyun. Di mana ada Luna, di situ pasti ada Minhyun. Selain itu, banyak gadis yang mulai mendekati aku. Pengen berteman sama aku.”
“Trus berantem sama Minhyun beneran karena tugas ilang? Kok gue curiga bukan itu penyebab sebenarnya ya?”
“Minhyun terakhir bicara padaku, marah soal tugas itu. Lalu, mendiamkan aku. Sampai sekarang.”
Childish banget sih si Minhyun! Masa gara-gara tugas doang sampai tahunan marahnya?”
“Aku udah coba jelasin, tapi dia nggak mau ngomong lagi sama aku. Sayang banget sebenernya. Teman baik yang singkat.”
“Jangan-jangan loe ada feeling ke Minhyun trus dia tahu? Makanya dia marah?”
“Nggak lah. Dari awal kan udah aku bilang aku nggak ada feeling ke Minhyun.”
“Atau, Minhyun yang suka sama loe. Trus, loe malah naksir cowok lain. Begonya, loe cerita itu ke Minhyun?”
“Ngawur! Nggak lah! Kita masih kelas tujuh masa iya udah suka-sukaan!”
“Puber lho! Wajar!”
Luna diam sejenak. “Iya juga. Setelah aku jadi femes karena nilai Matematika itu, cewek yang deketin aku nggak cuman mau jadiin aku anggota geng mereka. Tapi, dibalik itu ada yang minta dicomblangin sama Minhyun.”
Rania terkejut mendengarnya. “Trus, loe comblangin?!”
“Nggak lah. Gila apa!”
Luna dan Rania sama-sama terdiam. Lalu saling memandang seolah mereka telah menemukan kata mufakat dari diskusi mereka.
“Jangan-jangan…” Rania bergumam dan bus berhenti.
“Kita udah sampai!” Luna bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Rania menyusul. Ia masih penasaran tentang Minhyun. Ia bertanya-tanya apakah Luna memiliki pemikiran yang sama dengannya.
***

Ketika sampai, suasana di cafe tempat pertemuan Persatuan Murid Asing SMA Hak Kun digelar sudah ramai. Pengunjung cafe itu hampir kesemuanya orang asing. Ketua Persatuan Murid Asing SMA Hak Kun menunda pertemuan menjadi hari Minggu karena pertemuan rutin setiap bulan bagi anggota Klub Anak Rantau juga digelar hari Minggu. Daripada harus berkumpyl dua kali, lebih baik satu kali berkumpul. Karena, hampir seluruh murid asing di SMA Hak Kun juga anggota Klub Anak Rantau.
Amber menyambut Luna dan Rania. “Edward udah dateng?” Luna langsung menanyakan keberadaan Guanlin.
“Udah. Sama siapa tadi namanya…” Amber berusaha mengingat nama seseorang yang datang bersama Guanlin.
“Linda?” Luna menebak.
“Ah iya! Itu. Hari ini didominasi anak-anak SMA Hak Kun.”
“Oya, kenalin. Ini Rania.” Luna memperkenalkan Rania yang berdiri di samping kirinya.
“Hi, Rania! Aku Amber!” Amber mengulurkan tangan kanannya.
“Hi, Amber. Aku Rania. Teman Luna dari kecil. Panggil aja aku Rania atau Cue. Cue itu nama panggilanku di grup Pretty Soldier.” Rania tersenyum lebar.
Luna menatap heran pada Rania. Sedang Amber, melongo. Lalu tertawa dan menggoyang tangan Rania.
“Jadi, dia?” Amber menuding Rania dengan tangan kirinya. Sedang ia menatap pada Luna.
“Iya.” Luna membenarkan.
“Selamat bergabung. Pasti seneng banget kalian bisa sama-sama lagi.”
Amber dan Rania saling bertukar senyum lalu melepas jabatan tangan mereka.
“Anak Hak Kun berkumpul di sebelah sana. Guanlin ada di meja nomer 8. Sengaja memesannya untukmu.” Amber menepuk bahu Luna lalu pergi.
“Lebe banget kenalannya!” Luna menegur Rania. Keduanya berjalan sama-sama menuju meja tempat Guanlin dan Linda duduk.
“Biarin. Aku nggak mau disembunyiin lagi. Setidaknya di sini. Di depan teman-teman baikmu.” Rania membela diri.
“Serah lu deh, Cue!”

Luna dan Rania sampai di meja tempat Guanlin dan Linda duduk. Luna pun memperkenalkan Rania pada Guanlin dan Linda. Seperti saat dikenalkan pada Amber, Rania pun menjelaskan detail siapa dirinya di depan Guanlin dan Linda. Sama seperti Amber, Guanlin menyambut ramah Rania. Linda yang dibuat kaget mengetahui fakta bahwa Rania dan Luna teman sejak SD.
Luna duduk di seberang. Berhadapan dengan Linda. Rania duduk di sampingnya, berhadapan dengan Guanlin. Linda mengamati Luna yang sedang membaca buku menu. Ia teringat tentang apa yang diceritakan Jisung tentang gadis itu. Ia pun tersenyum samar.
Luna mengangkat kepala dan mendapati Linda sedang menatapnya. Ia bertemu pandang dengan Linda yang kemudian tersenyum kikuk. Luna membalas senyum.
“Edward emang kejam ya! Kalian udah datang duluan, tapi nggak diajakin pesen duluan!” Luna mengolok Guanlin. Tapi, tatapannya tertuju pada Linda.
“Kan biar sekalian pesennya.” Guanlin membela diri.
“Kamu mau pesan apa Cue?” Luna bertanya pada Rania dengan Bahasa Indonesia.
“Aku ngikut Mbak Luna aja.” Linda menyahut. Ikut menggunakan Bahasa Indonesia.
“Kok ngikut aku?” Luna beralih menatap Linda.
“Aku nggak tahu yang enak di sini apa. Baru pertama kali juga. Hehehe.”
“Gue juga ngikut loe, Cing!” Rania mengikuti jejak Linda.
“Kok pada ngikut aku sih?? Gini deh, aku kasih rekomen makanan sama minuman yang enak ya. Enak buat lidah Indonesia kita.”
“Boleh.”
“Iya.”
Rania dan Linda hampir bersamaan. Luna pun menyebutkan menu-menu yang menurutnya enak dan cocok dengan lidah Indonesia mereka. Guanlin tersenyum menatap Luna. Lalu ia beralih pada dua gadis Indonesia lainnya yang duduk bersama di mejanya.
***

Diskusi Persatuan Murid Asing pun dimulai dibawah kendali Mark Lee, selaku wakil ketua. Ide-ide untuk pertunjukan yang akan ditampilkan saat festival sekolah pun dibacakan.
“Kenapa ribet banget gini sih? Sampai kita kudu urun penampilan juga?” Rania mengungkap rasa penasarannya.
“Kupikir kamu udah beneran mempelajari semua tentang SMA Hak Kun.” Luna merespon. Mereka ngobrol dalam Bahasa Indonesia.
“Ada yang aku lewatkan?”
“Linda tahu?” Luna bertanya pada Linda. Gadis itu menggeleng. “Festival sekolah digelar pada bulan Juni. Karena ulang tahun sekolah juga di bulan Juni. Jadi, emang selalu ramai dan digelar selama beberapa hari.”
“Kalian jangan pakai Bahasa Indonesia dong! Aku kan nggak ngerti. Aku merasa jadi anak tiri di sini.” Guanlin protes.
Luna, Rania, dan Linda hanya menanggapinya dengan senyuman.
“Oya, ada yang lupa. Kami menerima pemberitahuan dari OSIS selaku panitia. Tahun ini mereka akan mengadakan proyek untuk penampilan khusus.” Mark menambahkan hal penting yang lupa ia sampaikan.
Anggota Persatuan Murid Asing pun berkasak-kusuk tentang apa itu penampilan khusus.
“Penampilan khusus itu sudah disediakan konsepnya oleh panitia. Yang menampilkan adalah anggota OSIS dan murid asing. Nama kita para murid asing akan di undi secara acak dengan nama anggota OSIS. Nama yang keluar yang akan menampilkan pertunjukan khusus itu.” Mark melanjutkan penjelasan.
Seorang gadis asal India mengangkat tangan. “Apakah konsepnya couple? Laki-laki dan perempuan? Lalu, penampilan khusus itu apa?”
“Itu akan dijelaskan lebih lanjut oleh OSIS. Kita diberi tahu hanya agar kita bersiap-siap. Jadi, persiapakan saja diri kita masing-masing. Karena seluruh nama kita akan diundi.”
Anggota Persatuan Murid Asing SMA Hak Kun kembali berkasak-kusuk. Di meja Guanlin pun sama.
“Penampilan khusus seperti apa yang mereka rencanakan?” Guanlin penasaran.
“Semoga bukan aku yang terpilih.” Linda memanjatkan doa dengan khusyuk.
“Tiap tahun ada kayak gini?” Rania yang baru pertama kali mengikuti pertemuan antusias.
“Antusias banget sih lu, Cue! Baru tahun ini ada kayak gitu.” Luna kemudian menyeruput jus di hadapannya.
“Kira-kira idenya siapa ya?” Guanlin kembali mengungkap rasa penasarannya.
“Penting banget ya buat nyari tahu itu ide siapa?” Luna merespon pertanyaan Guanlin. “Setuju sama Linda, semoga bukan aku yang kepilih. Lagian ada-ada aja itu anak-anak OSIS.”
“Lu takut ntar kepilih kopelan sama Minhyun ya?” Rania menggoda Luna.
“Atau Taemin Seonbae?” Linda menyambung.
“Siapa itu Taemin Seonbae?” Rania bingung.
“Ketua OSIS kita. Mbak Luna dulu ada gosip sama Taemin Seonbae.”
“Moso? Idih! Ini kucing buluk laris manis ya di Korea!”
Luna mengabaikan Linda dan Rania yang kompak mengoloknya. Ia sibuk dengan ponselnya. Kemudian tersenyum sendiri. “Jisung nitip salam buat Linda.” Ia berujar tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya dan menggunakan Bahasa Korea.
“Cieee…” Rania menggoda Linda.
Guanlin pun tersenyum dan menyikut Linda yang tiba-tiba menundukkan kepala. Ikut menggoda Linda.
“Tolong jaga Linda ya.” Luna menambahkan.
“Cieee… cieee…” Rania kembali menggoda Linda. “Comblangin aja sama Jisung.”
“Nggak usah dicomblangin juga udah jalan ndiri mereka.”
“Lho, udah jadi pasangan?” Guanlin menyela.
“Tau! Tanya ndiri tuh ke yang bersangkutan.”
“Kayaknya udah deh. Liat tuh, nunduk sampai mau nyium meja.” Rania terus melancarkan serangan.
“Meja nomer 8. Apa kalian menyimak diskusi?” Mark menegur meja tempat Guanlin, Linda, Luna, dan Rania duduk.
“Iya. Kami mendengarkan dengan baik!” Guanlin mengangkat tangan kanannya.
“Oke. Luna, Linda, dan Rania, jadi kalian setuju ya gabung dalam tim pertunjukan?”
Linda mengangkat kepala, memandang pada Luna, lalu Rania. Luna dan Rania pun sama bingungnya dengannya.
“Astaga. Sepertinya kita melewatkan sebuah momen penting.” Guanlin menepuk keningnya.
***
 

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews