My 4D's Seonbae - Episode #22 “Tuhan, Tolong Jangan Ubah Skenario Yang Sudah Aku Buat.”

05:36


Episode #22 “Tuhan, Tolong Jangan Ubah Skenario Yang Sudah Aku Buat.”



Daniel: Maaf. Hari ini aku jadi obat nyamuk. Meski aku tahu kalian hanya pura-pura, tetap saja aku merasa sakit T.T
Daniel: Tidak! Tidak! Aku hanya bercanda. Terima kasih untuk tumpangan hari ini. Terima kasih terbesarnya untuk tidak mengabaikan aku ketika Jihoon datang untuk membawamu. Hatiku sangat berbunga-bunga untuk itu.
Daniel: Ketika orang yang aku sukai juga menyukaiku, itu adalah sebuah keajaiban. Terima kasih. Kamu adalah keajaiban itu.

Daniel menggigit bibir bawahnya. Luna belum membalas pesan-pesan yang ia kirim. “Apa Jihoon masih di sana? Sampai jam segini?” Ia bergumam.
“Daniel.” Suara itu membuyarkan lamunan Daniel. Ia pun menoleh ke arah pintu. Kepala seorang perempuan menyembul di sela pintu yang terbuka sedikit.
“Noona?”
“Syukurlah kamu belum pulang.”
“Ada apa?”
“Kamu keluar sini. Masa iya aku masuk ruang tunggu karyawan.”
Daniel tersenyum, berdiri menutup locker-nya, dan keluar untuk menghampiri rekan kerjanya. “Ada apa Noona?” Saat ia sudah berdiri di depan perempuan cantik bertubuh jangkung itu.
“Temanmu masih ingin mencoba kerja di sini?”
“Aku rasa iya. Kenapa?”
“Dia beneran adiknya idol ya?”
“Iya. Oppa keduanya jadi idol di Indonesia.”
“Jadi, dia murid asing?”
“Iya. Kan dari awal aku udah bilang. Bahkan, aku udah kasih username IG dia ke Noona, kan?”
“Iya. Aku udah tengkok IG dia.”
“Kenapa Noona tiba-tiba bertanya soal ini?”
“Aku udah bicara tentang ini ke manajer.”
“Benar kah?” Daniel terkejut mendengar pengakuan rekan kerjanya. Wajahnya berbinar karena semangat. “Lalu, bagaimana respon Pak Manajer?”
“Sepertinya tertarik. Tapi, belum memberi kepastian. Berdoa aja. Semoga beliau mau terima permintaan temanmu.”
“Terima kasih, Noona.”
Wanita cantik itu menyipitkan mata. “Dia teman apa teman? Kamu berusaha keras banget untuk mewujudkan keinginannya.”
“Eumm…” Daniel tersenyum. “Dia keajaiban dalam hidupku.”
“Dih!” Wanita itu memukul lengan Daniel. “Malam ini, manajer akan mampir. Akan aku coba untuk meminta kepastian. Pastikan keajaiban dalam hidupmu itu siap kalau-kalau Pak Manajer tiba-tiba setuju.”
“Baik. Terima kasih untuk semuanya, Noona.”
Wanita itu tersenyum. “Semoga kamu beruntung dengan keajaiban dalam hidupmu.”
“Gomawo, Noona.”
“Selama mengenalmu di sini, aku tahu kamu orang baik. Jadi, aku sih yakin dia pasti menyukaimu. Aku akan terus berdoa, yang terbaik untukmu.”
“Gomawo.”
“Sudah pulang sana! Kasian, Ajumma pasti sudah menunggumu.”
“Nee. Aku pulang.” Daniel pun pamit pergi.

Di dalam bus, Daniel kembali memeriksa ponselnya. Luna belum membalas pesannya. Ia membaca ulang pesannya.
“Apa ini keterlaluan hingga dia marah?” Daniel bergumam. Menimbang kembali pesan yang ia kirim. “Apa aku hapus aja? Tapi, percuma. Luna kan udah membacanya. Ya, mungkin hanya membukanya aja. Belum membacanya. Jadi, harus kah aku hapus?”
“Yang sudah terlanjur tertulis dan terkirim, biarkan saja. Karena itu adalah ungkapan hatimu yang paling jujur.” Kakek yang duduk di samping kiri Daniel berkomentar. Membuat Daniel terkejut.
“Walau aku sudah tua, pendengaranku masih baik. Pasti masalah gadis ya?”
Daniel tersipu dan mengangguk.
“Tidak apa-apa. Apa pun itu isi pesan yang sedang kamu risaukan, itu adalah ungkapan hatimu yang paling jujur. Biarkan dia membacanya. Isinya bukan umpatan, kan?”
“Tentu saja bukan.”
“Kalau begitu biarkan saja. Perempuan memang makhluk yang rumit dan sulit dipahami. Tapi, ketika kamu berhasil mendapatkan hatinya. Dia tidak akan pernah berpaling darimu. Kamu akan selalu ada dalam napasnya. Dia pasti akan mencarimu.”
Mendengarnya Daniel kembali tersipu. Ia pun menghela napas. “Semoga yang kakek katakan itu benar adanya.”

Daniel berjalan cepat, menyusuri jalan yang sepi untuk mencapai rumahnya. Saat mendekati rooftop tempat Luna tinggal, langkahnya memelan. Ia tak bisa menolak untuk tidak melakukan hal itu setiap kali ia melintas di jalan itu. Ia selalu mendongakkan kepala untuk menatap rooftop yang tentu saja tak bisa dijangkau oleh pandangannya.
Kening Daniel berkerut. Malam ini, pemandangan berbeda tersaji di atas sana. Ia melihat Luna sedang berdiri menyandarkan punggung pada tembok pembatas. Tembok itu hanya setinggi dada orang dewasa. Siapapun yang berdiri di dekat tembok itu, pasti bisa terlihat dari jalan raya di bawah sana. Daniel menghentikan langkahnya. Ia memperhatikan Luna yang berdiri memunggunginya di atas sana. Gadis itu terlihat sedang berbicara dengan seseorang.
“Jam segini ngobrol di luar? Dengan siapa? Ibu kecil?” Daniel memiringkan kepala. Sejenak lengah dari mengamati Luna. Saat ia kembali mendongak, ia menemukan seseorang di samping Luna. Bukan seseorang yang ia kenal. Seorang gadis yang juga memunggunginya. Berdiri di samping kanan Luna.
“Siapa dia?” Daniel penasaran dan terus memperhatikan Luna dari tempatnya berdiri.
Luna menegakkan badan dan menggeser posisinya. Ibu kecil muncul dan berjalan menuruni tangga. Daniel bergerak mendekati tangga.
“Oh! Daniel? Baru pulang ya?” Ibu Kecil menyapa Daniel.
“Nee, Ajumma.” Daniel tersenyum manis dan sedikit membungkukkan badan. Ia menatap ke atas tangga. Di ujung tangga teratas, Luna menatapnya. Ekspresi gadis itu tak terbaca. Sedang gadis yang berdiri di samping Luna, tersenyum pada Daniel.
***

Daniel duduk di bangku di teras rooftop. Setelah melihatnya menyapa Ibu Kecil, Luna memintanya untuk naik. Ia pun tak menolak. Karena Ibu Kecil memberi izin ketika Luna mengatakan ada hal penting yang harus mereka bahas. Ibu Kecil memberinya waktu 30 menit saja.
Daniel menatap Luna yang juga duduk di atas bangku. Gadis itu menekuk kedua lututnya dan memeluknya. Sedang gadis lain yang bersama Luna, juga duduk bersila di atas bangku. Ia juga menatap Luna.
“Kenapa kamu selalu datang untuk mengetahui rahasiaku?” Luna memecah keheningan. Sebelumnya ia telah berbicara pada Daniel. Menjelaskan siapa gadis yang bersamanya. “Dan, kenapa juga aku nggak bisa bohong ke kamu.” Luna kembali menunduk.
Gadis yang dikenalkan Luna sebagai Rania menatap Luna dengan ekspresi bingung. Daniel tahu jika Rania adalah murid pindahan asal Indonesia di sekolahnya. Yang baru ia tahu adalah tentang Rania yang merupakan sahabat Luna dari kecil. Salah satu anggota dalam geng Pretty Soldier.
“Kamu punya rahasia apa lagi sih, Cing?” Rania menggunakan bahasa Indonesia. “Selain merahasiakan kalau aku ini temen kamu.”
“Bukan saat yang tepat untuk debat, Cue!” Luna pun menggunakan bahasa Indonesia.
“Bukan saat yang tepat? Hey, Kucing Anggora! Kamu tahu kenapa aku malem-malem nekat ke sini? Karena aku khawatir sama kamu. Aku tahu kamu dapat surat ancaman di sekolah! Trus, kamu nggak nerima telponku. Nggak bales pesanku! Aku khawatir kamu kenapa-napa tahu! Udah! Jangan main rahasia-rahasiaan lagi!”
Daniel menatap Luna, lalu Rania, dan kembali pada Luna.
“Nggak penting buat dibahas sekarang, Cue. Ini bocah udah tahu tentang kita. Itu yang penting!”
“Bukannya squad Moon Kingdom juga udah tahu ya? Tentang kita.”
“Itu karena kamu keceplosan!”
“Hey! Nggak ya! Sebelum aku gabung, kamu udah minta Jisung kasih tempat buat aku. Kita sama-sama keceplosan tahu!”
“Maaf, menyela!” Daniel menengahi. “Aku nggak tahu kalian lagi debat tentang apa. Aku hanya ingin bilang, kalau rahasia kalian aman bersamaku. Aku jamin. Bukankah kamu udah tahu tentang itu Luna? Rahasiamu dan Jihoon, sampai saat ini masih aman bersamaku.”
“Luna dan Jihoon? Mereka kenapa?” Rania kembali menggunakan bahasa Korea.
“Luna nggak bilang ke kamu kalau dia dan Jihoon hanya pura-pura berpacaran?” Daniel menatap Rania.
Rania terkejut sampai mulutnya ternganga. “Cing! Apa-apaan sih, lu? Idup di Korea segininya banget!” Rania kembali menggunakan bahasa Indonesia dan mendadak menggunakan bahasa gaul.
“Ya, Kang Daniel! Kenapa kamu ngomong soal itu?!” Luna mengabaikan protes Rania dan menegur Daniel.
“Rania sahabat kamu. Dia sangat mengkhawatirkan kamu. Baiknya dia emang tahu. Kenapa main rahasia-rahasiaan ke sahabat? Kenapa pula kamu sembunyiin dia?” Daniel merespon teguran Luna.
“Aku nggak nyembunyiin Cue! Maksudku Rania. Aku hanya nggak ingin dia dibikin susah kalau aku bilang dia sahabat baikku dari Indonesia.”
“Dibikin susah kayak gimana? Linda baik-baik aja. Dia juga dari Indonesia.”
“Itu karena Linda nggak ada hubungannya sama aku. Kebetulan aja kami sama-sama dari Indonesia. Aku bukannya nggak mengakui Cue sebagai sahabatku. Aku hanya menyembunyikan status hubungan dekat kami. Demi kebaikan dia. Itu aja!”
Hening. Daniel dan Luna sama-sama diam setelah adu mulut. Rania melirik Daniel, lalu beralih menatap Luna.
“Aku nggak keberatan kok harus nyembunyiin status hubunganku sama kamu, Cing.” Rania memecah keheningan. Ia tak menggunakan bahasa Indonesia agar Daniel bisa memahami apa yang ingin ia sampaikan.
“Aku tahu kamu pasti punya alasan. Karena kamu nggak mungkin ambil keputusan dan tindakan tanpa ada alasan yang kuat. Terima kasih karena telah menjagaku. Jaehwan bilang, kalau kamu minta dia bantu aku.” Rania masih menatap Luna yang menundukkan kepala.
“Aku nggak tahu alasan kamu apa sampai kamu bertindak segini jauh. Bukan tentang aku, tapi hubunganmu dan Jihoon. Tapi, sekarang aku ada di sini. Kita akan sama-sama sampai lulus SMA nanti. Bahkan, mungkin lebih dari  itu. Kamu nggak sendirian lagi, Cing. Ada aku.” Rania menyentuh pundak kiri Luna dan mengusuknya.
“Kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita ke aku. Mungkin aku nggak bisa bantu. Tapi, nggak nutup kemungkinan solusi bisa kamu temukan saat kamu membuka diri dan berdiskusi dengan orang lain, kan?”
Daniel fokus pada Luna yang masih menundukkan kepala.
“Aku memang masih baru di sini. Tapi, aku tetaplah Cue yang kamu kenal. Di sini aku akan manut, nurut sama kamu. Tapi, maaf. Ada kalanya aku harus bertindak. Seperti hari ini. Maaf karena ini membuatmu tak nyaman karena Kang Daniel sampai tahu tentang kita.” Rania menatap Daniel.
“You have no to worry about him. He is a nice guy. Everything will be fine. He help me so much.” Luna akhirnya bersuara.
“I know. If he is not a nice guy, you will kick him out of your life. You let him stay, I bet you like him so much.”
“I don't like him!” Luna mengangkat kepala dan menatap Rania.
Rania tersenyum. “You like him, but you love him yet.”
Luna terdiam.
“Or maybe you already love him but not sure for what you feel.”
“Cue!”
“Sudah malam.” Daniel menyela. “Aku nggak paham sama apa yang kalian omongin. Aku mau pamit.”
“Gomawo, Kang Daniel.” Rania berterima kasih. “Kita harus bekerja sama. Mulai sekarang.”
“Nee.” Daniel mengangguk. Kemudian, ia kembali menatap Luna.
“Jangan khawatir. Malam ini aku nginep sini. Besok Subuh bakalan dijemput sama papa.” Rania meredam kekhawatiran Daniel.
“Baiklah. Aku pergi.” Daniel bangkit dari duduknya, membalikkan badan, dan mulai berjalan. Tapi, ia berhenti di dekat tangga dan kembali menghadap pada bangku tempat Luna dan Rania duduk.
“Kemungkinan permohonanmu untuk mencoba kerja paruh waktu di cafe tempatku bekerja akan dikabulkan. Temanku menyampaikan keinginanmu pada Pak Manajer. Sepertinya beliau tertarik. Jadi, siap-siap aja. Siapa tahu benar diterima.” Daniel tersenyum pada Luna yang tercenung menatapnya. Ia pun berjalan menuruni tangga dan menghilang.
Daniel menghela napas saat sampai di ujung tangga terbawah. Ia mendongakkan kepala, menatap sesuatu yang tentu saja tidak bisa di jangkau oleh pandangannya; Luna. Daniel tersenyum. Lalu berjalan meninggalkan rooftop tempat Luna tinggal.
***

Luna dan Rania terbaring di ruang tamu. Mereka menepikan meja dan menggelar kasur lipat untuk tidur bersama. Lampu utama sudah dimatikan. Hanya tersisa lampu tidur yang temaram. Keduanya tak banyak bicara sejak Daniel pergi dan mereka memasuki rooftop.
Karena Luna tak kunjung membalas pesannya, juga tak menerima panggilan teleponnya. Rania merasa khawatir. Ia pun sedang di rumah sendirian. Mengingat surat ancaman yang diterima Luna di sekolah, Rania pun panik. Rania pun nekat pergi ke rooftop Luna dengan naik taksi. Saat sampai, Rania tak sengaja bertemu dengan ibu pemilik rooftop. Beliaulah yang mengantar Rania ke rooftop. Rania lega melihat Luna baik-baik saja.
Rania menghela napas. “Kalau kamu nggak mampu hidup sendiri di sini, kenapa kamu nggak ikut balik ke Indonesia aja? Semua kebohongan itu untuk bertahan hidup? Pertahanan diri? Dari apa?”
Luna bergeming. Ia berbaring memunggungi Rania yang berbaring telentang, menatap langit-langit ruang tamu.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita soal ini ke aku? Takut aku batal berangkat ke Korea? Sekolah di mana-mana sama. Ada yang sok berkuasa, ada yang ditindas.” Rania tiba-tiba bangkit dan duduk. “Apa kamu di bully? Cing!” Ia menggoyang lengan Luna.
“Menjadi mencolok di sekolah, bukan berarti membuatmu aman. Bukan mauku juga mencolok dengan nilai Matematika 92. Terjadi dua kali pula. Di tahun ajaran baru.”
“Bener juga sih. Trus, kamu di bully karena itu? Cerita dong, Cing! Ada gue di sini!”
“Jangan khawatir. Aku baik-baik aja. Sejauh ini masih berjalan sesuai rencana. Aku juga lega karena Daniel yang tahu tentang kita.”
“Gimana dengan squad Moon Kingdom? Kamu ingetnya Daniel doang!”
Luna tersenyum getir. “Mereka orang baik. Nggak usah khawatir. Lagian lama-lama bakal terbongkar juga kan tentang kita.”
“Aku nggak nyangka otak dan pemikiranmu yang rumit itu sampai kamu bawa ke dunia nyata.”
“Udah. Tidur sana. Besok dijemput subuh lho!”
Rania kembali merebahkan tubuhnya. “Kalau kamu balik ke Indo, belum tentu juga kamu aman ya. Apa pun itu yang sedang terjadi padamu, keep strong. Bersabarlah.”
“Mm!” Luna hanya bergumam.
“Benar kata artikel. Sekolah di Korea nggak seindah di drama.”
“Di Indo sekolah ndak seindah di sinetron juga kan?”
Rania dan Luna tertawa bersama.
“Aku yakin ada yang salah sama kamu dan Jihoon. Ketemu dah jawabannya. Ternyata cuman sandiwara. Lagian Jihoon bego banget. Dia cakep dan terkenal, mau-maunya pacaran sama kucing buluk macem kamu!”
“Cinta nggak memandang fisik kali.”
“Emang Jihoon cinta sama kamu?”
“Entahlah.”
“Justeru nurut aku, Ha Sungwoon yang cinta sama kamu. Kamu nggak tahu sih gimana dia merhatiin kamu pas di kebun kakeknya. Waktu kami metik selada berdua, dia juga terus bahas tentang kamu. Trus nanya tentang kamu. Kenapa kamu nggak jadian sama dia aja sih? Dia cakep dan baik.”
Luna menutup telinganya dengan guling.
Rania menghela napas. “Sorry. Selamat tidur.”
Beberapa menit kemudian, hening. Luna dan Rania sama-sama terlelap.
***

Luna dan Seongwoo duduk di taman. Di bangku Luna biasa menghabiskan waktu. Luna fokus pada binder di depannya. Sedang Seongwoo yang duduk di samping kanannya diam sambil mengamati sekitar.
Seongwoo menghela napas. “Melihat mereka, pasti mereka juga punya masalah ya. Walau terlihat haha-hihi sana-sini.”
“Tiap orang punya masalah. Aku dan kamu juga.” Luna tanpa mengalihkan fokusnya.
“Makasih udah mau denger keluh kesahku.”
“Tapi, aku nggak tahu harus bantu kamu apa.”
Seongwoo tersenyum. “Nggak papa. Ada yang denger aja aku udah lega.”
“Kenapa kamu nggak cerita ke teman cowok aja?”
“Teman dekatku hanya Jisung. Dan, kamu tahu lah.”
Luna tersenyum. “Rumit ya. Mau nunggu sampai kapan?”
“Entahlah. Aku sendiri nggak yakin.”
“Kalau ragu-ragu hasilnya bisa nggak baik lho. Baiknya ada yang memulai.”
“Tapi, apa bisa diterima?”
“Bisa aja sih. Walau butuh waktu.”
Seongwoo diam. Merenungi usul Luna.
“Salah satu memulai dan lainnya mengakhiri. Harusnya begitu. Biar jadi jelas. Tapi, emang nggak mudah sih.”
“Aku sih ngarepnya kamu mau bantu.”
“Posisiku sulit. Baiknya kamu maju sendiri.”
Seongwoo kembali menghela napas. Saat ia akan berbicara, ia melihat Sungwoon berlari kecil ke arahnya. “Sungwoon ke sini.” Ia menoleh ke kiri dan mendapati Luna masih fokus pada bindernya.
“Luna!” Sungwoon sampai di bangku tempat Luna dan Seongwoo duduk. Ia pun duduk di bangku seberang, berhadapan dengan Luna.
Sungwoon tersenyum pada Luna yang mengangkat kepala dan menatapnya. “Perkembangan penyelidikan kasus surat ancaman yang ditemukan di locker milik Mezzaluna.” Ia mulai melapor.
Seongwoo tersenyum meledek mendengar gaya bicara Sungwoon. “Ngomongnya biasa aja kenapa sih?”
Sungwoon mengabaikan Seongwoo. “Tim kami mencurigai beberapa orang yang berada di kelas XI-E pada hari Sabtu dan Minggu. Kami mulai bergerak untuk penyelidikan lebih lanjut.” Ia kemudian menyebutkan nama-nama orang yang sedang dicurigai dan diselidiki. Lalu, ia bertanya apakah Luna mengenal mereka atau paling tidak pernah berhubungan dengan mereka.
“Nggak ada yang aku kenal. Kenapa kamu nggak berhenti aja sih?” Luna menjawab pertanyaan Sungwoon.
“Nanggung. Udah jalan juga. Biarin aku nemuin pelakunya. Kan udah aku bilang, bukan untuk kamu. Tapi, untuk diriku sendiri. Kalau dibiarin, bisa-bisa dia lakuin ke murid lain juga.”
“Mau jadi pahlawan?” Seongwoo menyela.
“Aku emang pahlawan.” Sungwoon membusungkan dada.
“Ya ya ya. Preman budiman.” Seongwoo mengiyakan. Kemudian ia kompak tersenyum bersama Luna.
Luna berhenti tersenyum ketika ia melihat Rania berjalan bersama Jinyoung dan Minhyun. Sepertinya mereka akan makan siang ke kantin.
“Rania akrab ya sama Minhyun. Kamu nggak cemburu?” Seongwoo yang paham ke mana mata Luna terfokus menggoda.
“Ngapain Luna cemburu. Dia kan udah punya aku. Iya kan Luna?” Sungwoon mengerlingkan mata kanannya.
Melihatnya, Luna mendadak ingat pengakuan Rania semalam. Tentang Sungwoon yang mungkin saja menyukainya.
“Hey! Hey! Hati-hati! Luna pacarnya Park Jihoon!” Seongwoo mengingatkan Sungwoon tentang status Luna.
“Aku tahu! Boleh lah sampai hari ini status Luna adalah pacar Park Jihoon. Tapi apa yang terjadi esok, kita nggak tahu kan? Jadi, aku juga punya kesempatan. Hehehe.”
“Dasar preman edan!” Seongwoo melihat Jisung berjalan mendekat. “Eung… Sungwoon, kita ke kantin yuk?”
“Tahu aja aku udah laper. Kalau nungguin Luna, cacing diperutku bisa-bisa menggerogoti daging perutku.” Sungwoon langsung setuju.
Seongwoo dan Sungwoon bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Luna. Saat berpapasan dengan Jisung, hanya Sungwoon yang menyapa. Luna yang memperhatikan hal itu hanya bisa menggelengkan kepala.
“Bisa-bisanya mereka pergi makan duluan!” Jisung sampai di tempat Luna berada dan langsung duduk di tempat Sungwoon sebelumnya duduk. “Luna, kamu nggak laper apa? Woojin entah ke mana.”
“Sejak kapan kita kudu makan bareng?”
“Ya, biar seru aja.” Jisung tersenyum.
“Trus, kamu ngapain ke sini? Kalau laper, buruan nyusul Seongwoo dan Sungwoon.”
“Nggak ah! Seongwoo rada aneh sikapnya ke aku belakangan ini. Dia kenapa sih?”
“Mana aku tahu. Yang temennya sejak SMP kan kamu.”
“Iya juga sih.” Jisung lalu diam. “Nanti aja dah aku tanya. Oya, Jihoon udah bilang tentang ide dialog yang dia punya ke kamu?”
“Udah kami bahas. Liat ini.” Luna memberikan bindernya. Selanjutnya, ia dan Jisung mendiskusikan naskah drama yang akan mereka pentaskan.
***

Jaehwan dan Woojin bertemu di dekat basecamp Klub Taekwondo. Jaehwan yang meminta bertemu. Hanya berdua saja.
“Kamu pikir itu bakalan aman?” Woojin menuntut kepastian.
“Emang kenapa kok nggak aman? Anggep aja ini reuni kita. Setelah kasus Bae Jinyoung selesai.” Jaehwan yakin pada pilihannya.
“Kalau gitu, kamu undang Taemin Seonbae juga dong. Kan reuni.”
“Kamu mau aku pukul pakek sepatu?”
Woojin nyengir.
“Rania antusias banget. Pasti seru bakaran ikan di tempatku. Gitu katanya. Dulu Luna sama keluarganya juga pernah makan-makan di tempat kami.”
Woojin diam. Hanya mengedipkan mata. Dia tahu nggak sih kalau Rania sama Luna itu sahabatan? Ia membatin.
“Aku akan ngundang Rania sama Minhyun. Jinyoung, kamu, dan Luna. Kita ngumpul, bakar-bakar ikan. Luna punya resep keluarga yang enak lho!”
Woojin menelan ludah. Membayangkan enaknya makan ikan bakar buatan Luna. “Kalau gitu, ajak Lucy juga.”
“Kamu lapar ya? Dari tadi ngomongnya nggak masuk akal!”
“Kan reuni. Jinyoung dan Lucy jadi bagian dari reuni. Ingat, mereka terduga tersangka dan korban. Kita tim penyelidik dan pembela. Aku, kamu, Minhyun, dan Luna. Pekerja lapangan. Rania… dia undangan. Anggep aja gitu.”
Jaehwan memiringkan kepala menatap Woojin. “Mau kamu apa sih?”
“Nggak ada. Kan reuni.” Woojin tersenyum lebar menunjukkan gigi gingsulnya.
“Ya udah. Boleh. Tapi, gimana caranya ngajak Lucy?”
“Biar Luna yang ngajak.”
“Bakalan mau dia?”
“Hmm, entahlah. Serahin aja ke aku. Ntar aku yang ngomong ke Luna.”
“Oke deh.”
“Kok aku khawatir soal Minhyun dan Luna ya?”
“Aku juga iya sih. Tapi siapa tahu dengan kita ajak reuni ini, mereka jadi baikan.”
“Emang mereka mau baikan?”
“Nggak tahu juga sih. Hehehe.”
“Kamu udah bilang ke Luna?”
“Belum sih. Nanti rencananya. Kata Rania hari Minggu aja kita ngumpulnya.”
“Aku sih oke aja. Ntar kalau kamu udah bilang ke Luna, kasih tahu aku. Baru aku minta bantuan dia buat ngajak Lucy.”
“Oke.”
“Makasih ya. Udah mau ngajakin aku. Hehehe.”
“Aku sendiri nggak tahu kenapa pengen ngajak kamu.”
“Kita kan satu tim. Reuni.” Woojin nyengir.
Jaehwan menggelengkan kepala. “Aku mau makan. Barengan?”
“Boleh.”
Jaehwan dan Woojin pun berjalan bersama menuju kantin.
***

“Jadi hari Sabtu itu positif lho ya! Linda, aku jemput kamu ya?” Guanlin menuding Linda dengan ujung sumpit di tangannya.
“Aku bisa pergi sendiri kok.” Linda menolak.
“Nggak papa. Kan satu jalur.”
“Kamu nggak jemput Song Hami Seonbae?”
“Dia maunya ketemuan di lokasi aja.” Guanlin tersipu.
Linda turut tersenyum. “Seneng banget ya. Orang yang kamu suka, memiliki rasa yang sama seperti apa yang kamu rasakan.”
“Emang kamu nggak?”
“Aku mengagumi orang yang tepat. Tapi, tidak bisa lebih dari itu.”
“Nggak papa sih. Tuhan pasti nyiapin orang yang lebih kamu butuhkan. Bukan yang kamu mau.”
“Gitu ya?”
Daniel meletakkan nampan di meja dan duduk bergabung. Guanlin dan Linda hanya menatapnya. Daniel pun tak menyapa kedua teman sekelasnya itu dan langsung makan.
“Dateng-dateng nggak permisi dulu, langsung makan.” Linda mengolok.
Daniel hanya tersenyum dan mengunyah makanan di dalam mulutnya.
Guanlin tiba-tiba mengangkat tangan kanannya dan melambaikannya. Senyum terkembang di wajah tampannya. Linda dan Daniel turut menatap kemana Guanlin terfokus. Daniel tersedak ketika melihat Jisung berjalan mendekati meja tempat ia berkumpul bersama Guanlin dan Linda. Ada Luna di belakang Jisung.
“Hello! Hello!” Jisung meletakkan nampan di meja dan menyapa. Ia mengambil duduk tepat di samping kanan Linda.
Luna duduk di samping kanan Jisung. Daniel yang duduk di samping kanan Guanlin meliriknya. Kenapa dia duduk di sana? Bukan di sini. Dekat di depanku. Ia menggerutu dalam hati.
“Linda sudah selesai makannya?” Jisung menyapa Linda dengan manis.
“Hampir.” Linda tersenyum kikuk.
Luna diam tak menyapa juga tak berkomentar. Ia langsung memakan makanannya. Melihatnya, Daniel menghela napas dan melanjutkan makan.
“Seonbae, jangan lupa hari Sabtu ya.” Guanlin mengingatkan.
“Beres! Kamu yang traktir kan?”
“Iya. Jangan mikir soal tiket masuk.”
“Sip! Linda, Sabtu nanti aku jemput kamu ya.”
Linda tersedak mendengar pernyataan Jisung. Ia segera mengambil gelas yang berada di samping kiri dan meneguk isinya. Guanlin tersenyum melihat reaksi Linda. Sedang Luna tetap tenang menikmati menu makan siangnya. Daniel mengamati Luna sambil melanjutkan makan.
“Tadinya aku mau jemput Linda. Kalau Seonbae mau ya nggak papa.” Guanlin mundur. Membuat Linda mendelik padanya. Tapi, ia mengabaikan protes teman sekelasnya itu.
“Aku aja yang jemput Linda. Kamu siapin diri aja.”
“Emang aku mau ngapain?”
“Kencan pertama kan?”
“Hehehe.” Guanlin tersipu. “Jadinya ini triple date ya?”
Tangan Luna berhenti di udara. Ia tak jadi menyuapkan makanan ke dalam mulutnya selama beberapa detik. Setelah kesadarannya kembali, ia kembali menggerakan tangannya dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Daniel yang terus memperhatikan Luna menyadari reaksi gadis itu ketika Guanlin menyebut triple date.
“Kamu dan aku, double date.” Jisung meralat pernyataan Guanlin.
Linda kembali tersedak karena ulah Jisung. Melihat air di gelas Linda habis, Jisung pun memberikan gelas miliknya.
“Belum aku minum kok.” Jisung tersenyum manis pada Linda. “Kamu dan cewek yang kamu taksir bakalan jadi couple. Siapa tahu aku dan Linda berjodoh.” Jisung tersenyum melirik Linda yang tertunduk. “Tapi, Luna kan statusnya udah pacaran sama Jihoon.” Ia beralih menatap Daniel dengan iba.
Luna mengabaikan ocehan Jisung dan terus makan.
Daniel tersenyum manis. “Siapa tahu aku dan Luna Seonbae juga berjodoh. Bisa aja kan kalau Tuhan berkehendak?”
“Bener banget.” Guanlin mendukung Daniel.
“Yang terbaik buat kalian deh. Tapi, sainganmu Jihoon lho! Nggak takut apa?”
“Nggak. Ngapain mesti takut?”
“Kamu kurang cepat sih geraknya. Kalah deh sama Jihoon.”
“Itu memang kesahalan terbesarku.” Daniel melirik Luna. Ekspresi menyesal itu terlihat jelas di wajah tampannya.
“Kok obrolannya jadi serius gini sih?” Linda yang menyadari bagaimana ekspresi Daniel merasa tak enak. Ia menatap Luna yang bersikap dingin. Tiba-tiba ia merasa benci pada gadis itu.
“Guanlin tuh yang mulai!” Jisung menyalahkan Guanlin.
“Kalau ada jodoh, Tuhan pasti ngasih kesempatan kedua buat Daniel. Iya, kan?” Guanlin tersenyum lebar.
“Benar sekali!” Jisung mendukung Guanlin. “Eh! Aku ngomong apa sih! Maaf ya Luna. Maaf ya Daniel.” Ia segera meminta maaf.
Luna bergeming. Daniel merespon permintaan maaf Jisung dengan senyuman tulus.
Melihat sikap Luna, Linda semakin kesal. Sok banget sih dia! Ia mengumpat dalam hati.
Luna bangkit dari duduknya dan membawa nampannya. “Aku pergi dulu.” Ia berpamitan lalu pergi.
“Seonbae, Luna Seonbae kenapa?” Guanlin bertanya pada Jisung setelah Luna pergi. Daniel dan Linda ikut menyimak.
“Lagi banyak pikiran kayaknya. Kalian pasti tahu tentang video Daehwi dan Joohee. Itu berdampak buruk pada Luna.”
“Kenapa lagi?” Guanlin penasaran.
“Luna dapat surat di locker-nya. Sebelas surat. Di antaranya ada surat ancaman.” Jisung melirihkan suaranya.
“Surat ancaman?” Linda bergumam. Ia menatap Daniel yang duduk tepat di hadapannya. Pemuda itu tak bereaksi mendengar Luna mendapat surat ancaman.
“Iya. Aku cerita ke kalian karena aku percaya kalian. Ini rahasia lho ya! Sungwoon sedang mencari pelakunya. Luna bilang sih nggak usah. Tapi, Sungwoon tetap maju.”
“Semoga aja pelakunya segera ketemu.” Linda dengan tulus. Ia bergidik ngeri hanya dengan membayangkan andai dirinya yang mendapat surat ancaman itu. Rasa kesalnya pada Luna pun sirna.
“Aamiin…” Jisung mengamini harapan Linda.
“Harusnya dia nggak pura-pura kuat gitu.” Guanlin menggeleng heran.
“Luna? Dia kan emang gitu orangnya. Selalu bertindak semaunya sendiri. Tapi, di situlah keunikannya. Dia gadis yang baik. Hanya saja kadang terlalu tertutup. Semua berusaha ia lakukan sendiri.”
“Bener banget. Sikap yang kayak gitu yang sering bikin aku dan Amber sebel.”
Linda dan Daniel diam. Hanya menyimak obrolan Jisung dan Guanlin.
***

Jam pulang pun tiba. Jaehwan mendekati bangku Rania. Senyum menghiasi wajahnya yang berpipi chubby. Jinyoung melirik Jaehwan, mengamatinya di sela merapikan peralatannya.
“Rania, hari Minggu jadi ya? Minhyun dan Jinyoung setuju gabung. Iya, kan teman-teman?” Jaehwan menatap Minhyun, lalu Jinyoung.
Rania turut menatap Minhyun, lalu menoleh untuk menatap Jinyoung. Jinyoung langsung mengangguk dan tersenyum pada Rania. “Siapa aja yang jadi ikut?” Rania beralih menatap Jaehwan.
“Kita berempat, mungkin Woojin dan Luna juga akan gabung. Luna akan memasak untuk kita.”
“Aku udah nggak sabar. Udah lama nggak makan masakan dia.” Rania riang.
Minhyun mengerutkan dahi mendengar ucapan Rania. Jinyoung pun menunjukkan reaksi yang hampir sama dengan Minhyun. Ia merasa ada yang salah pada ucapan Rania.
“Emang kapan kamu pernah makan masakan Luna?” Tanpa sungkan Jaehwan pun bertanya. Minhyun dan Jinyoung kompak menatapnya dengan ekspresi puas. Merasa terwakili untuk bertanya.
“Aku bisa terlambat!” Rania bangkit dari duduknya dan buru-buru keluar kelas. Meninggalkan Minhyun, Jaehwan, dan Jinyoung yang kebingungan.
“Minhyun, nggak papa kan aku ngajak Luna? Ini kan reuni?” Jaehwan yang telah kembali pada kesadarannya langsung meminta maaf pada Minhyun.
“Mm. Nggak papa.” Minhyun mengangguk. “Belakangan aku mulai terbiasa berada dekat dengannya.”
“Baguslah. Lagian kenapa sih kamu sampai berantem tahunan gini sama Luna?”
Minhyun tersenyum. “Aku pergi.” Ia pun meninggalkan kelas.
Jaehwan beralih pada Jinyoung. “Gabung ya! Ada Woojin juga.”
Jinyoung hanya menganggukkan kepala.
“Ya udah. Aku pergi. Mau ketemu sama Luna. Aku belum ngomong langsung sih ke dia. Semoga aja dia nggak nolak.” Jaehwan turut meninggalkan kelas.
Hanya tersisa Jinyoung di kelas. Ia teringat pada celetukan Rania. Kalimat yang diucapkan Rania lengkap dengan ekspresi riangnya melintas di benak Jinyoung. Ia memiringkan kepala dan berpikir selama beberapa detik. Kemudian ia menghela napas, menyangklet tasnya, dan pergi meninggalkan kelas.

Jaehwan berlari kecil menuju bangku taman tempat Luna duduk menunggunya. Gadis itu tak sendiri. Ada Woojin bersamanya.
“Kamu ngapain di sini sama Luna?” Jaehwan langsung menegur Woojin saat sampai.
“Pengen mastiin kalau hari Minggu nanti Luna gabung sama kita.” Woojin tersenyum manis.
“Emang Luna nggak bisa?” Jaehwan duduk berseberangan tepat berhadapan dengan Luna. “Bisa kan? Luna?” Ia beralih menatap Luna.
“Kalian punya rencana apa sih?” Luna balik bertanya.
“Kata Appa, ada baiknya ngajak kamu dan Rania ngumpul bareng di tambak. Bakaran ikan. Omma juga udah kangen sama kamu. Eh, masakan kamu.”
“Hubungan kalian sedekat itu?” Woojin yang duduk di samping kiri Luna menatap Luna, lalu Jaehwan.
“Papa Luna langganan kami. Appa akrab sama papanya Luna. Omma sama mamanya Luna juga akrab. Itu aja.”
“Oo…”
“Luna, kamu punya hubungan apa sama Rania?”
Bukan hanya Luna yang terkejut mendengar pertanyaan Jaehwan. Woojin juga sama terkejutnya.
“Rania tadi bilang nggak sabar pengen makan masakan kamu. Katanya udah lama nggak makan masakan kamu.”
Dasar, Cue! Bisa-bisanya dia keceplosan lagi! Luna memaki dalam hati.
“Luna, kamu udah minta bantuan Hami?” Woojin segera mengalihkan topik.
“Hami? Untuk apa?”
“Aku pengen Lucy ikut.”
Kedua mata bulat Luna melebar mendengarnya.
“Aku ingin mendekatkan Lucy sama Jinyoung.” Woojin melirihkan suaranya.
“Edan kamu?!” Jaehwan terkejut.
“Aku yakin mereka dipertemukan karena suatu alasan. Kita bisa jadi jembatan.”
“Apa itu nggak keterlaluan? Secara nggak sengaja status mereka tersangka dan korban lho! Ide ini bisa memunculkan alibi korban perkosaaan yang dinikahkan sama pelaku.”
Woojin dan Jaehwan kompak melongo mendengar pendapat Luna.
“Kalian nggak pernah baca berita tentang masalah itu? Ada kok.”
“Tapi kan Lucy bukan korban perkosaan Jinyoung. Kan kamu yang buktiin!” Jaehwan menggeleng heran.
“Tapi, mereka dipertemukan karena kasus yang ya boleh dibilang seperti itu. Walau memang pada akhirnya itu hanya salah paham.”
“Kamu mikirnya kejauhan.” Woojin mengolok.
“Lagian kenapa Lucy sih? Kamu tahu nggak, kayaknya Jinyoung mulai suka pada Rania.”
Luna terkejut mendengar pengakuan Jaehwan. Untung saja Jaehwan sedang terfokus pada Woojin. Hingga tak menyadari perubahan ekspresinya yang hanya sepersekian detik itu.
“Aku tahu. Jinyoung bilang Rania baik. Dia seneng karena gadis itu membuatnya merasa sama dan normal kayak murid lain.” Woojin membenarkan.
“Trus, kenapa malah mau kamu jodohin sama Lucy? Bukan sama Rania?”
“Jinyoung nggak cocok sama Rania. Lagian Rania masih anak baru. Kasihan kalau dia harus jadian sama Jinyoung yang reputasinya belum 100% diakui sebagai orang baik.”
“Ya! Emang kamu Tuhan apa mau ngatur jodoh-jodoh orang?” Luna menegur Woojin.
“Bukan. Tapi, ide ini datangnya dari Tuhan, kan? Aku hanya berusaha mewujudkannya. Belajar dari kamu.” Woojin tersenyum lebar pada Luna.
“Dasar kunyuk gingsul!” Jaehwan mengolok Woojin.
“Setidaknya biarin aku mencoba. Kalau mereka nggak ada jodoh, Tuhan nggak mungkin bikin mereka jalan kan? Jadi, tolong bantu aku. Biarkan Lucy ikut.”
Luna dan Jaehwan sama-sama terdiam.
“Aku sih terserah. Asal dia mau nggak papa ajak aja. Apa dia bakal nyaman sama kita?” Jaehwan kembali bicara.
“Makanya aku butuh bantuan Luna. Hami yang bisa bantu kita, kan?”
“Ngomong sendiri sama Hami. Ribet tahu!” Luna ketus.
“Nggak bisa kalau kamu nggak bantuin. Maksudku, aku bisa aja. Tapi, belum tentu Hami setuju. Jadi, aku butuh kamu.”
“Jelas aja Hami nggak setuju. Ide kamu gila tahu!” Jaehwan kembali menghujat Woojin. “Luna, nurut kamu gimana?” Ia beralih pada Luna.
“I have no idea for that stupid thing!”
Lagi-lagi Jaehwan dan Woojin kompak melongo menatap Luna.
“Kenapa harus Lucy?” Luna menoleh dan menatap Woojin.
“Apa kamu setuju kalau itu Rania.”
“Nggak. Rania bisa cari gandengan sendiri. Ngapain kamu jodoh-jodohin? Kecuali kalau Rania juga suka dan mau jalan sama Jinyoung. Itu nggak papa. Dia bisa usaha sendiri.”
“Iya, ini kunyuk gingsul! Kenapa Lucy sih?”
Woojin menghela napas panjang. Ekspresinya berubah lesu. Luna dan Jaehwan menatapnya dalam diam.
Luna menghembuskan napas pelan. “kan aku coba ngomong ke Hami.”
Woojin melongo, tapi kemudian tersenyum lebar. Sedang Jaehwan, melongo kaget.
“Tujuannya baik. Siapa tahu emang mereka ada jodoh. Lagian Jinyoung bukan tipenya Rania.”
“Emang kamu tahu tipenya Rania?” Jaehwan langsung mengajukan pertanyaan.
“Gomawo, Luna. Tolong bawa Lucy aja. Selanjutnya, biarkan aku yang bekerja.” Woojin terseyum manis.
“Kalau gitu aku pergi.” Luna bangkit dari duduknya. Kemudian pergi meninggalkan Woojin dan Jaehwan.
Jaehwan menatap Woojin yang menatap Luna dengan senyum menghiasi wajahnya. Jaehwan menghela napas dan menggeleng pelan.
***

Dengan kepala tertunduk, Luna berjalan cepat menyusuri koridor. Dari arah berlawanan, Daerin juga berjalan sendirian. Daerin menyipitkan mata, melihat Luna yang berjalan cepat ke arahnya. Ia pun memelankan langkahnya. Ia dan Luna semakin dekat, dan dekat. Daerin sudah bersiap untuk menghentikan Luna.
“Seonbae!” Daehwi tiba-tiba muncul. Ia berlari untuk mengejar Luna.
Daerin dan Luna sama-sama dibuat terkejut oleh suara Daehwi. Luna mengangkat kepala, menghentikan langkahnya, dan membalikkan badan. Daerin mengepalkan kedua tangannya karena kesal. Kecepatan langkahnya bertambah. Saat melewati Luna dan Daehwi, ia sama sekali tak melirik ke arah kanan.
Luna menerima buku yang diberikan Daehwi. Ketika ia melihat sampul buku itu, Daerin melintas. Luna pun sedikit mengangkat wajahnya, menyeringai pada Daerin yang tak meliriknya.
“Terima kasih, Daehwi.” Luna menggoyang buku di tangannya. Karena malas ke perpustakaan, ia meminta bantuan Daehwi untuk meminjamkan sebuah buku untuknya mengerjakan tugas.
“Sama-sama. Seonbae mau langsung pulang?”
“Mm.” Luna mengangguk.
“Ya udah. Hati-hati di jalan, Noona.”
Luna tersenyum dan mengangguk. “Aku pergi.” Ia pun melanjutkan perjalanannya.

Luna berjalan menuju gerbang dengan langkah sedang. Tangan kanannya sibuk dengan ponsel. Hingga ia tak menyadari kehadiran Jihoon yang tiba-tiba berjalan di samping kanannya.

Aku pulang duluan. Maaf ya ^_^

Luna membaca pesan dari Daniel. Ia menghela napas pelan dan menyimpan kembali ponselnya. “Oh! Jihoon?” Luna baru menyadari keberadaan Jihoon di samping kanannya.
“Aku anter kamu pulang. Naik bus.” Jihoon tersenyum manis.
“Naik bus?”
“He’em. Aku udah bilang hari ini nggak usah di jemput ke sekolah. Aku pengen pulang bareng sama kamu. Naik bus.”
Luna tersenyum dan menggeleng. Ia kemudian teringat pesan Daniel yang minta izin pamit duluan. Apa gara-gara Jihoon? Jadinya dia pulang duluan?
“Ini pertama kalinya aku naik angkutan umum.”
“Masa? Ya ampun! Miris banget. Tapi, hidup kamu nggak akan sia-sia kok. Karena, hari ini kamu akan merasakan gimana serunya naik angkutan umum.”
“Sepertinya seru. Apalagi kalau sampai berdiri.” Jihoon tersenyum antusias.
“Seru apanya. Capek tahu! Kalau kondisi bus ramai, harus ekstra hati-hati juga. Ngeri kalau harus berdiri deket-deket sama penumpang laki-laki.”
Jihoon menoleh dan memperhatikan Luna.
“Aku aja yang mikirnya keterlaluan. Takut ada pelecehan seksual di kendaraan.”
“Pernah liat?”
“Nggak secara langsung sih. Ketemu korbannya, nangis di halte. Katanya habis dilecehin di bus yang dia tumpangi. Dia nggak berani teriak.”
“Itu di bus di jalur ke sekolah?”
“Untungnya bukan. Udah lama kok. Waktu keluargaku masih tinggal di sini.”
“Naik bus terlalu beresiko, gimana kalau aku antar jemput kamu?”
“Aku bukan anak kecil tahu! I'm fine. Kamu nggak perlu khawatir.”
“Aku tahu gadisku ini memang gadis yang tangguh. Kalau nggak, nggak mungkin dia nyampek ke Simni Cherry Blossom Road sendirian.”
Mendengarnya Luna merasa tak nyaman. Ia heran pada apa yang dirasakannya. Bukankah seharusnya pujian itu membuatnya bahagia. Tapi, ia justeru merasa sebaliknya; tak nyaman.
Jihoon dan Luna sampai di halte. Keduanya duduk untuk menunggu datangnya bus. Sama-sama terdiam. Luna sedikit menunduk. Tatapannya tertuju pada trotoar. Tapi, kosong. Sedang Jihoon, menatap kendaraan yang lalu lalang di jalan.
“Busnya datang!” Jihoon antusias. Sampai bangkit dari duduknya.
Luna mendongak, mengamati Jihoon yang berdiri menjulang di samping kanannya. Ia tersenyum pada monster imut itu. Kemudian bangkit dan berdiri di sampingnya. Menunggu bus berhenti.
Saat bus berhenti, Luna lebih dulu masuk. Beruntung kondisi bus tak padat. Ada kursi kosong yang kemudian ia duduki bersama Jihoon. Bus mulai melaju, Luna menoleh ke arah kanan demi melihat reaksi Jihoon. Senyum terkembang di wajah tampan Jihoon. Bahkan, mulutnya sampai terbuka karena merasa kagum pada perjalanan pertamanya naik angkutan umum. Ia mengamati keluar jendela.
“Aku memberimu posisi yang tepat?” Luna menyela kekhusyukan Jihoon.
“Nee. Gomawo.” Jihoon masih menatap takjub pemandangan di luar jendela.
Luna turut menatap keluar jendela. “Bukankah seharusnya sama? Baik dari sini atau dari dalam mobilmu.”
“Aku tidak pernah memperhatikan keluar jendela sebelumnya.”
“Lalu, apa yang kamu lakukan saat di dalam mobil?”
“Bermain game.”
“Kebiasaan kaum adam.”
“Tapi, aku punya kebiasaan baru.”
“Apa itu? Membaca?”
“Anee. Menonton video Mezzaluna.”
Luna tersenyum kecil menanggapinya.
“Kapan-kapan, ayo kita melakukan perjalanan berdua. Seperti ini. Ajak aku bermain-main seperti yang kamu lakukan sebelumnya.”
“Nanti kamu malah merepotkan.”
“Aku akan jadi anjing penurut. Peliharalah aku. Dan, ajak aku jalan-jalan.” Jihoon mengangkat kedua tangannya sejajar dada dan berakting seolah ia adalah anak anjing. Tingkahnya benar-benar cute.
“Aku takut pada anjing.”
Jihoon menurunkan tangannya. Ia kemudian terseyum riang dan kembali bertingkah cute. “Kalau begitu, aku adalah kelinci yang lucu!” Jihoon meletakkan kedua tangannya di kepala. Mencoba menirukan telinga kelinci. Ia pun berusaha tampil seolah memiliki gigi kelinci.
Luna tersenyum lebar. Tapi, perlahan senyum itu memudar. Ia teringat pada Daniel yang pernah berakting menjadi kelinci di depannya. “Aku tidak pandai memelihara binatang.” Ia berusaha mengalihkan rasa canggungnya sendiri.
Jihoon menurunkan tangannya. “Kalau begitu, aku akan jadi Park Jihoon yang penurut. Jadi, tolong jaga aku.”
Jihoon menatap Luna dengan tatapan teduh. Senyum samar yang terkembang di wajahnya, membuat pemuda itu semakin mempesona. Luna yang balas menatap Jihoon kembali merasakan panas di wajahnya. Reaksi yang sangat ia benci ketika Jihoon bersikap manis di depannya. Ia pun meluruskan posisi kepalanya dan menatap ke depan. Namun, ia tak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Jihoon benar-benar tersenyum melihat tingkah Luna. Ia pun beralih menatap keluar jendela. “Aku tidak pernah tahu jika pemandangan di luar jendela bus bisa begini bagus.” Gumamnya yang tak mendapat respon dari Luna.
***

Jihoon dan Luna mulai berjalan menuju rooftop tempat tinggal Luna.
“Kamu nggak papa jalan kaki? Lumayan jauh lho!” Luna memulai obrolan.
“Kenapa kamu nggak bilang kalau ada anjing yang bikin kamu takut?” Jihoon balik bertanya.
“Aku masih bisa mengatasinya sendiri. Lagi pula sekarang Bogi udah nggak ada.”
“Lain kali, kalau butuh bantuan, bilang padaku. Jangan gengsi.”
“Siapa juga yang gengsi. Kalau aku gengsi, mana mungkin kita sampai sejauh ini? Mengambil resiko dengan pura-pura jadi couple.”
“Benar juga. Kamu nggak gengsi, tapi kamu gila.”
Luna tersenyum mendengarnya.
“Pelaku belum ditemukan ya? Yang ngirim surat ancaman.”
“Sebenarnya aku nggak terlalu tertarik juga sih.”
“Pasti udah ada yang kamu curigai. Aku yakin itu.”
“Itu rumah tempat Bogi dulu tinggal.” Luna mengalihkan obrolan. Ia menunjuk rumah merah maroon tempat Bogi dulu tinggal. Kemudian, Luna menceritakan kisah konyol bersama Woojin dan Jaehwan. Ia tak lupa menunjukkan posisi selokan tempat Jaehwan terjatuh. Selokan itu sudah selesai direnovasi. Lubang yang membuat Jaehwan terjatuh sudah tertutup cor.

Luna dan Jihoon sampai di teras rooftop.
“Mau masuk dulu?” Luna menawari Jihoon untuk mampir ke gubuknya.
“Lain kali aja. Paman udah nunggu di bawah.”
“Makasih ya. Udah nemenin aku, nganter aku pulang.”
“Lain kali kita lakukan lagi. Tapi, nggak sering-sering. Nanti kamu bosan.”
Luna tersenyum manis.
“Lalu, kapan kamu akan ngajak aku jalan-jalan naik angkutan umum?”
“Yang pasti nggak dalam waktu dekat ini. Aku sibuk banget.”
“Liburan musim panas nanti? Setelah festival sekolah usai. Bagaimana?”
“Kita bisa membicarakannya nanti.”
Jihoon tersenyum dan mengangguk. “Aku pergi. Sampai ketemu besok.” Jihoon membalikkan badan dan berjalan tanpa menoleh lagi.
Luna menghela napas. Berbalik untuk membuka pintu, lalu masuk ke dalam rooftop-nya.

Usai membersihkan diri, Luna merebahkan diri di sofa ruang tamu. Ia diam menatap langit-langit ruang tamu. Menerawang jauh selama beberapa menit. Ia menghela napas panjang, lalu meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. Di amatinya foto Jisung dan Linda yang berjalan bersama. Foto itu di ambil dari belakang.
Luna kembali menghela napas panjang dan terdiam. Memikirkan banyak hal yang memenuhi kepalanya. Ia pun menegakkan badan dan menyalakan laptopnya yang berada di atas meja. Ketika menunggu laptop itu siap, ponsel Luna bergetar. Sebuah panggilan video dari Aro.
“Lagi nyantai, Mas?” Luna menyapa saat wajah Aro muncul di layar ponselnya.
“He’em. Kamu lagi ngapain?”
“Baru pulang. Ini lagi ngaso aja.”
“Udah makan?”
“Udah di sekolah tadi. Masih kenyang.”
Everything good, Dear?
“Kenapa? Mas liat something bad about me?”
“Jangan terlalu lelah ya. Ingat, kamu punya keterbatasan. Nggak mungkin semua bisa kamu kerjain.”
Luna tersenyum dan mengangguk. “Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan.”
“Tapi, kamu mengambil sedikit lebih banyak. Jangan serakah.”
Luna menghela napas panjang. “Apa karena itu, Tuhan jadi mengubah sedikit dari skenario yang aku buat?”
“Bukannya kamu ngajak Tuhan buat kerjasama?”
“Iya sih.”
“Nah, Tuhan udah ambil bagian tuh.”
Luna terdiam. Merenungi ucapan Aro. Apa yang dikatakan kakak sulungnya itu benar adanya.
“Tuhan nggak akan selalu memberi apa yang kamu minta. Karena Tuhan tahu, apa yang kamu minta belum tentu yang kamu butuhkan. Poin pentingnya, apa yang kamu minta, belum tentu yang terbaik buat kamu. Karenanya, Tuhan selalu mengambil langkah untuk menyelamatkanmu.”
“Jadi, semua itu untuk menyelamatkanku?”
“Hanya kamu yang tahu jawabannya.”
Luna kembali diam selama beberapa detik. “Mas…”
“Mm?”
“Nggak deh.”
“Kenapa?”
“Nggak jadi.”
“Mereka semua baik kok. Tapi, pasti ada satu yang terbaik.”
Luna terkejut mendengarnya. Aro tersenyum melihat reaksi adik bungsunya.
“Kamu masih muda, Dek. Nikmati aja apa yang ada. Mas sih ngarepnya kamu nggak usah pacaran-pacaran dulu. Fokus sama sekolah aja dulu. Tapi, kalau emang fase yang kudu kamu lewati kayak gini, ya jalani aja.”
“Mas tahu aku pac—,” Luna tak melanjutkan ucapannya. Aro bisa tahu apa saja yang ia mau tahu karena kelebihan indera keenamnya. “Sayang banget kan kalau nggak diambil. Cowok di sekolahku cakep-cakep. Kayak idol.”
“Jangan lupa buat Cue.”
“Dia mah bisa nyari sendiri. Dia kan ada di kelas artis.”
“Lebih enak mana? Sembunyi-sembunyi apa kayak sekarang?”
“Cue aktingnya nggak bagus! Keceplosan mulu! Kan nggak seru jadinya!”
Aro menertawakan tingkah Luna. “Kejutan yang dikasih Tuhan itu biar kamu makin pinter. Rahasia Cue terbongkar, kamu jadi mikirin cara baru untuk membuat Cue aman. Itu bikin kamu tambah pinter kan? Lihat segi positifnya pada setiap peristiwa. Maka, semua akan baik-baik aja. Kamu pasti bisa mengatasinya, mm?”
Luna tersenyum dan mengangguk.
“Kamu tadi mau ngapain?”
“Mau ngerjain tugas.”
“Ya udah. Mas tutup ya.”
“Makasih, Mas.”
“Mas sih lebih mantap ke insial D.”
Luna tercenung menatap layar ponselnya. Aro tersenyum, melambaikan tangan. Kemudian, panggilan video itu pun berakhir.
Luna mengerjapkan kedua matanya. Kesadarannya telah kembali. “Inisial D??” Ia pun mengetik pesan dengan cepat. Pesan untuk Aro. Ia menuntut penjelasan Aro tentang pernyataan terakhirnya sebelum panggilan video itu berakhir. Luna menggigit pojok atas ponselnya. Harap-harap cemas menunggu balasan Aro.
***


You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews