Fly High! - Empat Belas

05:37

Fly High!

 

 

Empat Belas

 

 

Jadi, besok ya? Semangat Al Noona[1]! Semangat Oi Noona!
Besok aku mau bolos aja jam terakhir!
Aku pakek jilbab. Bisa dengerin dalam kelas sambil nyimak pelajaran.
Podo! Aku ya gitu.
Enak kalian pakek jilbab. Headset-nya ndak keliatan. Tapi, awas ketauan guru.
Harusnya jam terakhir dibebasin aja ya. Biar bisa dengerin Al dan Oi.
Eonni kan udah kelas XII, nggak bisa apa bikin sekolah bebasin jam terakhir? Kekeke.
Kalau aku anak sultan bakalan aku liburin aja sekolah. Hahaha.
Kaum minoritas, ayo bolos berjamaah aja!
Enak kelas XI-IPA2 tuh. Pak Adim udah acc besok jam terakhir free. Biar bisa dengerin siaran Al dan Oi.
Auto pengen balik jadi penghuni kelas XI-IPA2. Hiks… hiks… hiks....

Ruang chat dalam grup WhatsApp yang beranggotakan 17 orang itu ramai malam ini. Anggota sibuk mempersiapkan rencana untuk hari esok agar bisa mendengar siaran langsung Al dan Oi. Bahkan, ada yang sengaja membolos agar bisa mendengarkan siaran dengan bebas.

Walau berada di tempat yang berbeda, Al dan Oi sama-sama menyimak obrolan dalam grup chat itu. Sari, siswi kelas XII-IPS2 yang membuat grup chat itu. Anggotanya murid SMA Wijaya Kusuma yang menyukai Kpop. Selain Al, dan Oi, Jia juga bergabung di sana. Nurul dan Aning memilih keluar karena anggota grup pecinta Kpop dan K-drama. Aning dan Nurul cenderung menyukai Bollywood dibanding Hallyuwood. Karenanya keduanya memilih keluar.
Al dan Oi merasa senang karena teman-teman di grup memberinya dukungan. Keduanya pun melarang anggota yang berencana membolos. Tapi, siswa kelas X itu kukuh akan membolos saja. Dari 17 anggota grup, ada dua anggota berjenis kelamin laki-laki. Keduanya siswa kelas X. Besok, keduanya kompak akan membolos. Al dan Oi tidak bisa melarang keduanya.
Walau kesulitan mencuri waktu untuk mendengarkan siaran Al dan Oi, anggota grup tetap merasa beruntung karena besok di kelas mereka tidak ada ulangan. Mereka berharap esok Tuhan berpihak pada mereka, hingga mereka bisa mendengarkan siaran langsung Al dan Oi.
***

Rasa gugup itu ada. Tapi, antusiasme dalam diri Al dan Oi pun sama besarnya. Keduanya tak sabar menunggu pukul dua belas siang. Karena pada jam itu mereka akan izin pulang lebih awal dan Meyra akan menjemput keduanya, lalu bersama-sama berangkat menuju Malang kota.

Di kelas, ketika luang, teman-temannya terus menggoda Al dan Oi. Hal itu semakin membuat detub jantung Al dan Oi bertalu-talu. Sikap teman-teman sekelas Al dan Oi itu membuat Eri memberengut sepanjang hari karena kesal.

“Udah biasa di Indonesia. Yang viral langsung deh diundang siaran di radio, atau tivi. Ntar bisa-bisa ngadain fan meet juga tuh si Al sama Oi. Kayak yang viral dari Tic Toc itu.” Eri mengomentari Neysa yang sedang mengutarakan rasa kagumnya pada Al dan Oi.
“Ini beda. Kalau di Tic Toc kan lip sync. Kalau Al dan Oi kan beneran nyanyi. Nurut aku, Al dan Oi pantes viral. Penampilan mereka bagus.” Neysa tetap memberi dukungan pada Al dan Oi.
Eri memutar kedua bola matanya. Lalu, bangkit dari duduknya dan keluar kelas. “Na! Ayo!” Ia memanggil Diana untuk mengikutinya.
Patuh, Diana pun bangkit dari duduknya dan menyusul Eri.
“Eri marah tuh kayaknya.” Tiara yang duduk sebangku dengan Neysa menegur.
“Aku ngomong tentang kenyataan, kan?” Neysa membela diri.
“Tapi, kayaknya Eri nggak suka.”
“Berarti dia iri dong? Lagian nurut aku penampilan Al dan Oi lebih bagus dari Eri.”
Tiara terkejut mendengar perkataan Neysa. Ia kemudian menghela napas dan menggeleng.
“Makan yuk! Laper aku!” Neysa bangkit dari duduknya.
Tiara pun mengikutinya. Berdua keluar kelas dan menuju kantin.
“Aku sebenernya juga penasaran sama siaran Al dan Oi.” Tiara mengungkap perasaannya saat berjalan berdampingan dengan Neysa menuju kantin.
“Ya udah ntar dengerin aja. Udah bawa headset kan?”
“Udah. Tapi, aku sungkan sama Eri.”
“Aku yakin Eri nggak bakalan di kelas. Mungkin dia bakalan di UKS.”
“Kamu dengerin?”
“Iya. Aku penasaran.”
“Ya udah. Kita dengerin bareng ya.”
“Oke.”
Neysa dan Tiara saling melempar senyum. Melanjutkan perjalanan menuju kantin.
***

Pukul setengah dua belas, Meyra, Gia, dan Linda sudah sampai di depan gerbang SMA Wijaya Kusuma. Meyra meminta izin untuk masuk kepada satpam. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, Meyra dan kedua rekannya pun diizinkan masuk. Ketiganya duduk menunggu di dekat pos satpam. Karena Al tak kunjung membalas pesannya, Meyra pun menelpon Al. Sedang Gia dan Linda meladeni satpam yang mengajak keduanya mengobrol.

Al merasakan ponsel di sakunya bergetar. Dengan hati-hati, ia memeriksanya. Kedua mata bulatnya melebar melihat nama Meyra muncul di layar ponselnya. Ia pun menyikut Oi.
Oi yang sedang mengerjakan tugas dari guru pun kaget ketika Al tiba-tiba menyikutnya. Ia menoleh ke kanan dan mengikuti arah pandangan Al. Mey Eonni? Bibir Oi bergerak tanpa suara.
Al mengangguk.
“Ya udah. Kita izin sekarang.” Oi berbisik. Lalu, perlahan merapikan perlengkapannya.
Al pun mengikuti Oi.
Setelah selesai, keduanya pamit pada Lila dan Rina yang ada di depannya. Dan, pada Aning dan Yani yang ada di belakangnya.
“Sekarang?” Arwan bertanya dengan lirih.
Al dan Oi kompak menganggukkan kepala.
“Sukses ya! Aku akan dengerin kalian. Di sini.” Pandangan Arwan terfokus pada Al.
Al mengikuti Oi yang sudah berdiri. Lalu, keduanya berjalan menuju meja guru. Oi yang menjadi juru bicara untuk meminta izin.
Guru wanita itu langsung mengizinkan Al dan Oi. Sepertinya beliau sudah mengetahui perihal Al dan Oi yang akan siaran langsung di radio. Selesai berpamitan pada guru, Al dan Oi berpamitan pada teman-teman sekelasnya. Lalu, keduanya keluar kelas. Bergegas menuju pos satpam. Tempat Meyra menunggu.
Al dan Oi langsung menghampiri Meyra. Meyra langsung membongkar isi ranselnya dan memberikannya pada Al dan Oi. Setelah menerima pemberian Meyra, Al dan Oi pergi ke toilet untuk ganti baju. Keduanya menuju ke toilet kelas XI yang posisinya paling dekat dengan mereka.
Selesai berganti kostum, Al dan Oi kembali pada Meyra. Kemudian, Linda melukis wajah keduanya dengan make up minimalis. Al sempat menolak. Tapi, Meyra mendukung Linda yang ingin merias wajah Al dan Oi. Meyra yakin, nanti pasti ada sesi foto bersama saat di studio. Meyra tidak ingin Al dan Oi tampil kucel. Karena itu, Meyra mendukung Linda untuk merias wajah Al dan Oi.
Selesai mempersiapkan diri, Al dan rombongannya masih menunggu di pos satpam. Menunggu jemputan yang akan mengantar mereka ke radio tempat Al dan Oi akan siaran bersama. Tak lama kemudian, sebuah mobil tiba di depan gerbang. Linda yang pertama bangkit dari duduknya.
“Ayo! Udah dateng tuh!” Ajak Linda.
“Naik mobil?” Tanya Oi.
“Cuaca nggak menentu. Jadi, mending naik mobil. Ayo!” Meyra menyangklet tas punggungnya.
Meyra meminta izin untuk duduk di kursi depan, di samping sopir. Ia khawatir mabuk. Karena itu ia meminta izin untuk duduk di depan. Al dan Oi duduk di kursi tengah. Sedang Linda dan Gia duduk di kursi belakang. Mobil hitam itu pun melaju. Meniggalkan SMA Wijaya Kusuma untuk membawa rombongan Al ke kota.
“Nih, makan dulu.” Linda menyerahkan dua mika berisi gimbab pada Al dan Oi. “Kata Mbak Mey, makan ini dulu.”
“Wah, makasih.” Al berterima kasih.
“Makasih, Linda Eonni.” Oi pun berterima kasih. “Mey Eonni nggak makan? Gia?”
“Kami udah dong.” Jawab Gia. “Moga aja nggak macet ya. Malang kota macetnya minta ampun sekarang.”
“Walau macet, inshaa ALLOH nggak akan telat kok. Karena kita udah berangkat lebih awal.” Linda menenangkan.
Perjalanan menuju radio tempat Al dan Oi akan siaran itu diisi dengan keceriaan. Sesekali pak sopir ikut ngimbrung. Mereka sempat terjebak macet. Namun, mereka berhasil sampai pada pukul dua lebih lima belas menit.
Sebelum turun dari mobil, Meyra berterima kasjh dan meninggalkan satu mika berisi gimbab untuk pak sopir. Meyra menjelaskan jika gimbab itu adalah Gimbab Akang Niel dan memperkenalkan Linda sebagai owner-nya.
Walau siaran I Love Asian sudah dimulai, Al dan Oi tidak terlambat. Mereka dijadwalkan on air pada pukul tiga sore. Kru I Love Asian menyambut kedatangan rombongan Al dengan ramah. Setelah perkenalan, Linda memberikan satu tas plastik berisi gimbab dalam mika kepada salah satu kru I Love Asian.
Meyra memesan beberapa gimbab pada Linda untuk dibawa ke radio sebagai buah tangan. Saat Linda menyerahkan tas plastik berisi gimbab itu pada salah satu kru, Meyra mempersilahkan kru untuk menikmati gimbab itu bersama-sama. Tak lupa ia meminta maaf karena jumlahnya yang sedikit—yang tentunya tidak akan cukup untuk seluruh karyawan radio, tapi bisa dinikmati oleh seluruh kru I Love Asian. Meyra juga tak lupa mempromosikan Gimbab Akang Niel, sekaligus membanggakan Linda sebagai owner sekaligus chef yang memasak gimbab.
Sambil menunggu jadwal on air, rombongan Al menerima arahan dari kru. Bahkan, kru membacakan pertanyaan yang akan diajukan pada Al dan Oi. Mereka tidak keberatan menghapus pertanyaan yang tak ingin dijawab oleh Al dan Oi. Namun, tidak ada pertanyaan yang mengganggu hingga membuat Al dan Oi tak ingin menjawabnya. Bukan hanya Al dan Oi yang terkesima dengan gedung radio dan studio tempat siaran. Tapi juga Meyra, Linda, dan Gia. Ketiganya mendadak ikut gugup ketika jam semakin mendekati angka tiga.
Di dalam studio, penyiar laki-laki bernama Tian Pratama menggoda pendengar dengan mengabarkan bahwa Al dan Oi sudah berada di studio dan siap mengudara. Mendengar hal itu, ritme detub jantung Al dan Oi spontan berubah semakin cepat. Pukul tiga kurang sepuluh menit, mereka di undang masuk ke dalam studio. Meyra yang sudah mendapat izin untuk ikut siaran juga ikut masuk.
Tian Pratama, penyiar berwajah oriental itu menyambut kehadiran Al, Oi, dan Meyra dengan ramah. Ia menyalami tiga gadis yang kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan. Salah satu kru membantu dan memandu Al, Oi, dan Meyra. Sembari menunggu lagu dan iklan selesai diputar, Tian mengajak Al, Oi, dan Meyra ngobrol. Meyra yang lebih banyak merespon, karena keduanya sudah sering ngobrol via WhatsApp sejak Tian menghubungi Meyra untuk mengundang Al dan Oi.
“Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Di studio sedang duduk bersama saya tiga gadis cantik. Mereka akan menemani saya ngobrol sampai satu jam ke depan. Teman-teman ILA Lovers—sebutan untuk pendegar setia I Love Asian—pasti sudah tahu mereka siapa. Yap! Bener banget! Ada Al dan Oi, plus bonus sang Manajer Eonni. Eh, saya harusnya manggil Manajer Noona ya.” Tian bercuap-cuap menyapa kembali penggemar usai satu lagu Jepang berakhir.
“Seperti yang kita tahu, video penampilan Al dan Oi menjadi viral setelah diunggah di Facebook. Bukan hanya di Malang Raya, tapi se Indonesia. Saya sendiri sudah menonton videonya dan, ah ini bagus sekali. Jadinya, saya bersama kru I Love Asian sepakat untuk mengajak Al dan Oi siaran bersama.
“Senang sekali Al dan Oi menerima undangan kami daaan… hari ini datang ke studio untuk menemani siaran. Annyeong[2], Al. Annyeong, Oi. Annyeong, Manajer Noona.” Tian menyapa Al, Oi, dan Meyra yang ada bersamanya di dalam studio. Baru-baru ini Meyra mendapat julukan Manajer Eonni/Noona dari pendukung Al dan Oi.
Annyeong.” Al, Oi, dan Meyra menjawab dengan kompak. Detub jantung Al dan Oi semakin kencang. Meyra yang sebelumnya terlihat santai pun merasakan hal yang sama.
“Wah! Suaranya lembut sekali ya. Selamat datang di I Love Asian. Silahkan perkenalkan diri kalian dan menyapa ILA Lovers.”
“Hai! Saya Al.” Al lebih dulu memperkenalkan diri.
“Halo! Saya Oi.” Oi menyambung.
“Halo! Saya Mey yang barusan diberi julukan baru, Manajer.” Merya menutup perkenalan.
“Nah, tiga gadis cantik yang menemani saya sudah memperkenalkan diri. Kalian siap ngobrol sama mereka? Sabar ya. Kita nikmati dulu satu lagu dari Wanna One yang berjudul Energetic. Lagu untuk menyambut kedatangan Al dan Oi ya.”
Al, Oi, dan Meyra merasa lega setelah sesi perkenalan dimulai. Saat lagu Wanna One - Energetic diputar, Al dan Oi bersenandung ikut bernyanyi. Sementara Tian kembali mengajak ngobrol Meyra.
Setelah beberapa lagu diputar, sesi ngobrol bersama Al dan Oi pun dimulai. Tian mulai mewawancarai Al dan Oi. Secara bergantian Al dan Oi menjawab pertanyaan yang diajukan Tian. Obrolan yang mengalir, membuat keduanya semakin rileks. Perlahan ritme detub jantung keduanya pun menurun. Setelah bertanya tentang kesukaan Al dan Oi di dunia Kpop, Tian melontarkan pertanyaan berhubungak dengan video penampilan Al dan Oi.
“Kami sekolah di SMA Wijaya Kusuma. Setiap tahunnya ada audisi bernama SMA Wijaya Kusuma Mencari Bakat. Audisi ini untuk mencari murid-murid berbakat dan yang dinilai sempurna untuk nantinya tampil di pentas seni yang menjadi puncak perayaan ulang tahun sekolah.
“Jujur kami merasa kesal karena sering dikatain pecinta plastik dan udel. Karena itu, Al mengajak saya untuk ikutan audisi SMA Wijaya Kusuma Mencari Bakat. Awalnya saya ragu, tapi akhirnya saya setuju. Lalu, kami curhat ke Mey Eonni. Mey Eonni yang memilih lagu untuk kami.” Oi menjawab salah satu pertanyaan yang diajukan Tian. Seperti saat audisi, ia menjadi juru bicara duo Al and Oi.
“Kalau dari penilaian saya, juga beberapa netizen yang komentar di postingan video, penampilan kalian itu bagus. Kami menyayangkan kalian tidak lolos. Apakah kalian tidak memenuhi kriteria atau bagaimana?” Tian melanjutkan pada pertanyaan berikutnya.
“Mengingat persiapan kami yang minim, itu sangat kurang sekali. Jadi, sebenarnya kami tidak kaget kalau kami tidak lolos.” Oi sedikit menertawakan ketidakberuntungannya. “Kalau Kak Tian udah nonton video di Youtube, di sana ada full video yang menampilkan komentar dari dewan juri.”
“Nah itu saya juga udah nonton. Komentar juri juga positif. Bikin heran kalian nggak lolos audisi.”
“Ada kriteria penilaian. Sepertinya kami tidak memenuhi kriteria.” Al menjawab dengan hati-hati. Ia mengingat apa yang dikatakan Arwan tentang metode lolosnya peserta. Tapi, ia tidak bisa menjelaskan dengan gamblang seperti apa yang dijelaskan Arwan. Ia takut jika terlalu terbuka menjelaskan, justru akan menjelekan sekolahnya. “Terlebih lagu yang kami nyanyikan adalah lagu India dan Korea. Saya rasa dewan juri pun kesulitan memahaminya.”
Tian terus mengajukan pertanyaan, secara bergantian. Al dan Oi pun secara bergantian memberikan jawaban. Lalu, ada jeda untuk iklan dan lagu. Setelah itu, Al dan Oi menyanyikan lagu yang mereka bawakan saat audisi.
Meyra yang duduk di samping kanan Al menyimak dan menikmati penampilan Al dan Oi. Dalam hati ia tak hentinya memanjatkan doa agar Al dan Oi tak membuat kesalahan saat tampil on air di radio. Di luar studio, Linda dan Gia pun sama. Sembari menikmati penampilan live Al dan Oi, keduanya terus memanjatkan doa dalam hati agar Al dan Oi bisa tampil sempurna.
Ketika Al dan Oi menyelesaikan penampilannya, Meyra, Linda, dan Gia bernapas lega. Seolah tali yang mengikat leher mereka terlepas. Mereka lega karena Al dan Oi berhasil bernyanyi tanpa membuat kesalahan.
Tian memuji penampilan Al dan Oi. Lalu, membuka sesi tanya jawab bagi pendengar. Jalur telepon di buka. Sembari menunggu pendengar bergabung. Tian bertanya pada Meyra tentang pembentukan duo Al and Oi.
Mendapat kesempatan, Meyra pun langsung menjelaskan tentang pondasi awal terbentuknya duo Al and Oi. Ia menjelaskan tentang trio AOG di masa lalu. Mulai dari masa aktif hingga vakum.
“Jadi sebenarnya mereka trio ya? Al, Oi, dan Gi. AOG. Keren ya. Jadi, postingan kamu itu bikin AOG bersatu lagi?” Tian merespon penjelasan Meyra.
“Itu dampak yang paling saya syukuri. Akhirnya AOG bersatu lagi setelah sempat putus komunikasi.”
“Menyambung silaturahmi ya. Aku pikir AOG singkatan dari rangkaian kata yang mempunya arti khusus. Ternyata singkatan nama ketiga member.”
“Beberapa waktu lalu Linda, pemilik dan chef Gimbab Akang Niel yang lagi duduk di luar studio dengerin kita, nyari artinya dalam bahasa Korea. Al berarti telur, Oi berarti timun, dan Gi berarti jiwa. Baginya itu sangat random. Memang random ya. Tapi, saya pikir bisa diartikan awal mula sebuah kehidupan yang segar.”
“Awal mula kehidupan yang segar?”
“Telur adalah awal mula sebuah kehidupan. Jiwa adalah intisari dari kehidupan. Lalu, segar itu dari timun. Jadinya, awal mula sebuah kehidupan yang segar. Segar dalam artian penuh semangat dan kebahagiaan. Random, tapi cukup masuk akal. Hehehe.”
“Manajer Noona ini lucu juga ya. Oh! Sudah ada yang bergabung. Halo! Dengan siapa, dimana?”
“Halo. Dengan Yuri di Malang.”
“Oke, Yuri. Mau tanya apa ke Al dan Oi?”
“Kalau tidak keberatan, tolong dijawab tentang siapa yang menjuluki kalian pecinta plastik dan udel? Pertanyaan ini bahkan tidak dijawab dalam komentar.”
“Yuri, mau dengerin lagu apa?”
“Lagu SNSD yang apa aja.”
“Oke. Terima kasih, Yuri.”
Sambungan telepon pun terputus. Al dan Oi saling melempar pandangan. Saling bertanya, apakah harus dijawab dengan jujur. Dan, juga saling menuding, kamu yang jawab, dalam diam.
“Nah, siapa yang mau jawab? Al? Oi?” Tian bertanya pada Al dan Oi.
“Sebenarnya saling mengolok itu wajar kan terjadi dalam dunia remaja. Kalau di zaman saya dulu, ada yang ngolok temen saya dengan sebutan Manusia Sabun, karena namanya Lukman. Saya rasa demikian juga pada Al dan Oi.” Meyra tiba-tiba menjawab.
“Benar sekali! Karena kami suka Korea dan India, kami dikatain pecinta plastik dan udel. Itu merujuk pada kebiasaan operasi plastik di Korea dan baju khas India yang selalu mamerkan udel.
“Saya aja yang sensi dan merasa sakit hati. Hingga akhirnya ingin ikut audisi untuk membuktikan bahwa apa yang disebut plastik dan udel itu bisa menginspirasi kami untuk menghasilkan karya. Selama ini kami hanya aktif bernyanyi di Smule. Saya pikir, sudah saatnya bernyanyi di depan orang banyak.” Al menyambung penjelasan Meyra. Walau ada emosi dalam setiap kata-katanya, ia tak menyebutkan tentang siapa yang mengoloknya sebagai pecinta plastik dan udel.
“Saya tahu bagaimana rasanya jadi fangirl. Karena, saya sendiri juga fanboy. Udah pasti kalau idol yang kita idolakan dihina bakalan sakit hati. Untungnya kalian bisa menunjukan perlawanan dengan hal yang positif ya. Salut sama kalian berdua.” Tian memuji Al dan Oi.
“Di luar sana banyak fangirl yang lebih hebat dari kami. Tapi, kami tidak akan berhenti sampai di sini. Ini baru permulaan. Kami akan terus belajar dan berkarya.” Oi menyanggupi.
Good! Selama hal itu positif, lanjutkan!” Tian mendukung.
Sesi tanya jawab dengan pendengar hanya menerima tiga orang pendengar saja yang menelpon. Ada yang bertanya tentang rencana selanjutnya dari AOG. Ada pula yang bertanya bagaimana perasaan Al dan Oi setelah menjadi viral dan terkenal.
Satu jam sesi on air berjalan dengan lancar. Walau tidak sempat menyanyikan cover song lagu Mirotic, Meyra tetap merasa bangga. Ia lega bisa mempromosikan AOG dan juga Gimbab Akang Niel milik Linda. Karena, di akhir siaran, Tian berterima kasih pada Linda yang membawa banyak gimbab untuk kru I Love Asian. Siaran di hari Selasa sore itu pun berakhir dengan penuh kehangatan.
***


[1] Panggilan dari adik laki-laki untuk kakak perempuan dalam bahasa Korea.
[2] Halo

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews