Creepy Story

Wisata Mistis Bersama Tunjung

04:29

Wisata Mistis Bersama Tunjung


Hari ini memaksa Tunjung untuk bertemu, karena saya membutuhkan dia untuk keperluan riset. Setelah melakukan riset bersama Tunjung, saya mendengarkan fakta yang mencengangkan tentang hubungan lama saya dengan Mbak Cantik Yang Mengaku Cinta Kepada Saya.

Jadi, inti masalahnya adalah muka saya, wajah saya. Karena muka saya ini mirip muka seseorang, jadilah hubungan ruwet antara saya dan mbaknya terus mbulet sampai sekarang. Ngeri-ngeri serem. Sedih juga. Hiks!

Tapi, dalam tulisan kali ini saya tidak akan membahas tentang riset. Karena itu untuk keperluan tulisan. Jadi, ditunggu aja ya tulisannya. Hehehe.

Saya akan membahas tur saya tadi pagi menjelang siang bersama Tunjung. Tadi itu sebelum riset saya sempat di ajak jalan-jalan sebentar sama Tunjung. Jalan-jalan biasa sih, cuman karena temen jalannya adalah Tunjung, udah pasti ada cerita creepy yang terselip. Begitu juga dengan jalan-jalan singkat hari ini.

"U, mbakmu jualan di pasar ya?" Tanya Tunjung yang baru nyamperin saya.
"Iyo. Dodol kembang gantiin Mbah."
"Ayo diinceng."
"Ngapain ngintip? Di jenguk lah, jangan diintip doang."
"Iyo. Kamsudku iku. Ayo diungak mbakmu ndek pasar."
"Yowes! Ayo!"

Kami pun berangkat ke pasar. Menjenguk kakak sulung saya yang baru merintis usaha menjual bunga. Awalnya biasa saja. Kami ngumpul dan ngobrol di lapak kakak saya.

"U!" Tunjung mendekatkan wajahnya ke telinga saya, berbisik memanggil nama saya.
"Opo se!"
"Aku liat makhluk-makhluk itu nyereti orang buat dibawa ke lapak tuan-tuan mereka."
"Makhluk apaan?"
"Jadi gitu cara kerja mereka."
"Apaan sih?"
"Liat itu tuh! Nah, di situ ada pocong."
"Pocong? Eh iya ya. Mr. Poci kan bisa buat penglaris juga. Tapi, moso iya Mr. Poci nya nyereti pembeli? Sambil loncat-loncat gitu? Kasian dong ya! Capek dia."
"Ndagel ae arek iki! Dia diem aja di depan lapaknya si tuan. Melambai-lambaiin tangan ke pembeli biar mampir."
"Kalau Mr. Poci yang ngawe-ngawe, mana berani mampir, Njung! Serem tau!" Saya bergidik. "Jadi, pembeli disihir gitu ya? Dimantrai ama si Poci biar mampir ke lapak tuannya? Ya ampun."
"Kalau yang itu kayak makhluk kartun di bantal lehermu tuh! Tuh tuh dia nuntun pembeli buat beli ke lapak tuannya."
"Taz-Mania?"
"Iya. Seng coklat itu lho!"
"Iyo iku Taz-Mania. Ih serem yo!"
"Lek itu kayak buto kecil seng kita bahas kapan hari. Seng kamu tak kasih liat kayak ndek film apa itu lho."
"Buto apa se? Kayak seng ndek orang jual bakso ndek film Mereka Yang Tak Terlihat itu a?"
"Bukan. Seng katamu apa itu seng kayak di film Lord of The Ring. Ijo itu lho!"
"Oh! Goblin?"
"Nah, iya itu. Ada dua yang kayak gitu. Jadi cara kerja mereka kayak gini tho?"
"Kalau aku pernah nonton di tivi itu pembelie matae di tutupin ama penglarisnya. Trus dituntun ke lapak tuannya."
"Kalau ini nggak, U. Ya langsung dituntun gitu. Setengah diseret."

Tiba-tiba saya teringat peristiwa ketika saya belanja di salah satu toko, lalu kaki saya tiba-tiba nyeri berat. Jalan pulang pincang, lalu tiga hari nggak bisa jalan. Kata Nyai, penyebabnya adalah saya nggak sengaja nginjek makhluk begituan.

"Njung! Inget nggak yang kakiku tiba-tiba pincang trus nggak bisa jalan tiga hari?"
"Inget. Kenapa?"
"Itu aku nginjek apaan sih? Di toko X sebelah sono tuh."
"Oh. Iku ulo. Kowe ra sengojo nyenggol."
"Ular?? Trus, itu aku diapain? Digigit?"
"Disebet karo buntute tok koen iku. Lek dicokot yo modyar koen!"
"Widih! Serem yo! Trus, inget nggak pas di toko tetiba kakiku sakit? Katamu ada makhluk kayak iguana bawa buku ama pensil. Trus karena ekornya nggak sengaja tak injek, dia tusuk kakiku ama pensilnya."
"Iyo yo. Apes tok koen iku yo U! Hehehe."
"Tak pikir-pikir curang lho mereka itu. Mereka bisa liat kita, tapi kita nggak. Giliran kita nggak sengaja nyenggol, mereka marah. Padahal kadang mereka yang usil."
"Menungso kan yo ono seng model ngunu, U. Sok banget ke orang. Usil. Tapi, kalau nggak sengaja kesentil, ngamok."
"Hehehe. Iya sih."

Kami pun pulang bersama-sama, lalu makan siang di markas.

Jadi, bener ya istilah 'ndek pasar iku rusuh'. Artinya persaingan di pasar benar-benar ketat hingga banyak yang menggunakan jasa makhluk astral untuk membantu usaha mereka.

Kerjo ndek pasar iku golekane duwek gampang, tapi gudho ne yo gedhe. Begitu kata Tunjung. Kerja di pasar itu cari duit gampang, tapi banyak godaannya. Semua tergantung pada pribadi masing-masing.

Di sini saya hanya berbagi. Boleh percaya boleh tidak. Tapi, itu lah yang benar kami alami. Maaf jika ada salah kata. Terima kasih. Semoga bermanfaat.


Tempurung kura-kura, 26 September 2019.
- shytUrtle -

Creepy Story

Tamu Tak Diundang: Ular Hitam Raksasa

00:23

Tamu Tak Diundang: Ular Hitam Raksasa





U, ntar kalau mau bobok semprot kamarmu pakek parfum ya. Aku tadi liat ada ular item gede masuk ke kamarmu lewat jendela atas.

Tercenung menatap layar ponsel usai membaca pesan yang dikirim Tunjung. Ular besar? Masuk kamarku?

Bayangin aja, lagi nyantai, kumpul-kumpul, lalu mendapat pesan yang isinya kayak gitu. Posisi sedang nggak ada di rumah. Ngeri! Terlebih itu Tunjung. Udah pasti ularnya bukan ular kasat mata. Dan, ini bulan Suro. Kombinasi yang sempurna sekali sih!

Tapi, saya penasaran!

Ular gede? Serius umak? Saya pun segera membalas pesan Tunjung.
Iyo serius! Ular e item gede, ada plendik-plendik putihnya gitu. Kepalae seukuran hapemu.
Njir! Kepalanya seukuran hape? Badannya pasti gede banget itu. Dan, masuk ke kamarku?? Oke. Ntar tak semprote parfum. Tak bakar dupa sekalian. Saya kembali membalas pesan.
Ojo lek dupo! Parfum ae. Pokok kamarmu harus wangi. Ular kan nggak seneng bau wangi.
Masa sih ular nggak suka bau wangi. Baru tahu lho saya. Tapi, itu kan ular tak kasat mata. Bukan ular nyata, binatang melata. Apa sama? Emboh lah! Oke. Ntar aku semprot parfum.
Umak ndek mana?
Ndek rumah e Emak. Mau pulang ini. Kenapa?
Umak pulang ama siapa?
Sendirian.
Jangan! Bahaya! Ntar pulange sama-sama aja.
Oke deh. Ntar aku pulang ama Ibu.
Sip! Itu kurang ajar banget. Suro-suro datang masuk kamarmu!
Wuik! Tunjung sampai emosi. Emang dia sapa?
Belum tahu. Aku juga belum nyampek rumah. Ntar kalau nyampek rumah aku beresin.
Tolong ya. Ngeri banget tau! Makasih ya.

Saya pulang ke rumah pukul sepuluh malam. Ada rasa ragu dan ngeri waktu mau masuk kamar. Bismillah. Saya memantabkan langkah dan masuk ke dalam kamar. Lalu, menutup pintu rapat-rapat dan menyemprot parfum ke segala arah. Bahkan kolong ranjang pun semprot. Pokoknya semua celah yang bisa dijadiin tempat ngumpet buat ular.

Jadilah kamar saya wangi. Wangi agak kebangetan karena saya menyemprotkan parfum secara brutal. Saya berharap si ular mabok dan bergegas keluar dari kamar.

Lampu terang nggak bisa tidur. Dimatiin, terlalu gelap, malah nggak bisa tidur. Walau udah pakek lampu belajar, tetep aja nggak bisa tidur. Saya kepikiran si ular yang kepalanya segede hape. Ular segede itu nggak mungkin dikirim untuk menyebarkan 'penyakit'. Gimana kalau ntar pas tidur saya dililit? Serem! Semprot parfum secara brutal lagi. Mata perih karena habis semprot parfum, saya rebahan di kasur. Alhasil saya tejaga semalaman. Sial!

Keesokan harinya saya meminta Tunjung datang. Sekalian melihat kamar saya dan si ular. Apakah si ular masih berada di sana atau sudah pergi.

"Udah nggak ada kok."
Alhamdulillah. Saya lega mendengar jawaban Tunjung. "Itu ular apaan sih? Segede itu. Nggak mungkin kan buat ngirim penyakit atau sejenisnya."
"Iya. Yang ada ntar mangsanya dililit."
"Nah gara-gara itu aku terjaga semalaman. Takut kalau bobok tiba-tiba badanku dililit. Serem! Emang dia apaan? Kiriman? Siluman?"
"Bukan. Dia itu ingon-ingon."
"Peliharaan??"
"Iya. Semacam pesugihan gitu."
"Waduh! Trus, ke markas ngapain?"
"Cara mangsa lah. Lagi Suro gini."
"Kok ke markas sih nyari mangsanya? Emang ada yang bisa dia mangsa gitu di markas? Trus, mangsanya diapain? Dililit trus ditelen? Serem ya. Efeknya ke si mangsa apaan?"
"Dihisap saripatinya. Bisa lumpuh juga."
"Wuik! Serem ya? Lumpuh seumur hidup?"
"Iya kalau nggak diobati."
"Tapi, bisa sembuh ya?"
"Bisa."
"Trus itu cari mangsanya acak apa bagimana? Kenapa nyari mangsa ke markas?"

Tidak ada jawaban dari Tunjung untuk pertanyaan terakhir, sampai saya menuliskan kisah ini.

Sekian. Maaf jika ada salah kata. Semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal buruk. Aamiin....

Photo by: Google search.

Tempurung kura-kura, 12 September 2019.
- shytUrtle -

Creepy Story

Gadis Yang Membunuhku Di Dalam Mimpi

23:09

Gadis Yang Membunuhku Di Dalam Mimpi


Sebelum menulis ulang, izinkan aku meluapkan kekesalanku terlebih dahulu. Jadi, hari ini aku sudah menulis catatan ini dari pagi. Tapi, ketika tinggal menyelesaikan bagian akhir terjadi kesalahan fatal hingga seluruh catatan terhapus dari ponselku.

Sedih juga kesal! Harusnya aku menulis di aplikasi saja agar langsung tersimpan ketika tiba-tiba ada panggilan masuk atau sejenisnya. Karena, kadang jempol ini bisa saja salah tekan. Nikmati saja kesialanmu, kura! Atau jangan-jangan kisah ini tidak boleh dipublikasikan?

Bismillah. Baiklah. Aku akan menulisnya ulang. Semoga tidak terjadi kesalahan lagi. Seandainya terjadi, mungkin kisah ini memang tidak boleh dipublikasi.


Wes suro, Ngger. Seng kuat melek. Seng akeh tirakate.

Sudah masuk bulan Suro ya? Tepatnya tanggal 1 September 2019 kemarin, kan?

Pada umumnya, orang sering menghubungkan bulan Suro dengan hal-hal mistis. Pada prakteknya, bulan Suro memang cenderung bahkan khas dengan hal-hal berbau mistis dan klenik. Contohnya, pada bulan Suro biasanya pusaka-pusaka bertuah akan dikeluarkan untuk 'dimandikan'.

Selain itu, bulan Suro juga sering dikatakan sebagai bulannya kaum astral atau yang lebih populer kalian sebut dengan lelembut untuk meningkatkan kekuatan dan sejenisnya. Boleh percaya boleh tidak. Itu hak kalian masing-masing.

Tentu saja bagi orang-orang tertentu, kedatangan bulan Suro sangat ditunggu-tunggu. Oya, setiap bulan Suro, Nyai selalu mengingatkan kami untuk lebih waspada dan lebih banyak berdoa.

Ada yang bilang, pada bulan Suro segala keberkahan juga kesialan ditumpahkan secara bersamaan ke bumi. Karena itu, kebanyakan orang melakukan berbagai ritual untuk membersihkan diri demi menghindari kesialan dan menyambut keberkahan. Ada pula ritual-ritual yang digelar untuk menolak balak.

Selain itu, bulan Suro juga identik dengan kemunculan makhluk astral yang ditakuti sebagian besar masyarakat. Kalian pasti sudah tahu makhluk apakah itu. Makhluk yang konon katanya bisa membawa kematian bagi siapa saja yang disambanginya.

Aku jadi ingat salah satu kenangan dengan almarhumah Nenek. Dahulu sekali saat aku masih kanak-kanak dan selalu tidur di rumah Nenek, di malam-malam tertentu pada bulan Suro, Nenek akan mengajakku tidur di atas lantai tanah. Beralaskan tikar jerami dan bantal sapu lidi, dengan posisi kepala menghadap pintu. Katanya, dengan begitu kami tidak akan bisa terdeteksi oleh makhluk astral yang mengerikan dan hanya muncul di bulan Suro.

Tapi, dalam catatan kali ini bukan semua yang tersebut di atas yang akan  aku bahas. Tapi, tentang mimpi buruk yang aku alami menjelang datangnya bulan Suro.


Semua orang pasti pernah mengalami mimpi buruk, kan? Kalian pasti juga pernah. Mimpi buruk apa yang paling membekas dalam ingatan kalian? Pasti tidak ada yang ingin terus mengingat mimpi buruknya. Seiring berjalannya waktu, ingatan tentang mimpi buruk itu akan memudar. Terlebih otak kita tidak bisa mengingat semua kejadian dalam mimpi. Karena itu, mimpi buruk sering menjadi momen sesaat yang singgah dalam ingatan kita.

Jumat dinihari aku terbangun dari tidurku. Tanpa napas terengah-engah setelah terbebas dari sesak napas. Tapi, ada rasa nyeri di pergelangan tangan kananku. Aku memeriksa pergelangan tangan kananku, masih utuh. Tidak ada luka. Aku menghela napas lega. Aku masih hidup. Iya, aku masih hidup.

Satu hari sebelum bulan Suro tiba. Aku mendapatkan mimpi buruk itu. Mimpi tak berawal. Tiba-tiba saja aku berada di sana tanpa tahu awal mulanya. Berada di dalam sebuah ruang yang hanya tampak warna hitam bercampur abu-abu.

Lalu, tiba-tiba dia muncul. Gadis itu. Gadis berambut lurus sebawah telinga, berwarna hitam legam, dan berponi. Gadis berwajah putih pucat dengan senyum mengerikan. Tak tahu dari arah mana ia muncul. Tiba-tiba saja ia ada di depanku dan meraih tanganku. Ia berkata, "Ayo! Ikut aku! Hanya aku yang bisa membebaskanmu!" Sambil menyeretku pergi, tanpa sempat aku menghindar.

Tanpa ragu ia mengayunkan tangannya yang memegang pisau dan dengan sekali tebas, ia melukai pergelangan tangan kananku. Aku tidak bisa merasakan apa-apa. Hanya tertegun menatap luka menganga di pergelangan tangan kananku. Darah segar menetes. Ketika aku mengalihkan pandangan dan menatap gadis itu, dia menyeringai. Sungguh wajah yang mengerikan.

"Kau sudah mati!" Bisiknya. Lalu, kembali menyeringai sembari menatapku.

Aku mati? Mati? Aku mati? Mati? Mati?

Aku bingung. Benarkah aku sudah mati? Tiba-tiba aku mulai sesak. Seolah perlahan udara itu dihisap keluar dari tubuhku.

Benarkah ini? Aku mati? Aku akan mati? Mati? Sebentar lagi? Mati?

Tiba-tiba aku merasakan genggaman di pergelangan tangan kananku. Aku terkesiap dan menoleh. Dia? Dia tersenyum padaku. Lalu berkata, "Pulang yuk!"

Tunjung tiba-tiba muncul. Menggenggam pergelangan tanganku. Eh? Luka itu mana? Tidak ada?

Tanpa sempat bertanya atau mengamati sekitar, Tunjung menuntunku. Aku tidak memberontak. Berjalan saja mengikuti Tunjung. Dia membawaku pulang.

Rumah yang asing. Namun, di sana ada orang-orang yang aku kenal. Pakdhe dan ibu juga ada di sana. Tapi, semua orang itu, orang-orang yang aku kenal, keluargaku. Sama sekali tidak mengenaliku. Bahkan, Pakdhe mengatakan, aku sudah mati.

Aku mati? Mati? Sudah mati?

Tapi, Tunjung tidak melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan kananku. Ia menjelaskan jika gadis yang ada bersamanya adalah aku. Aku yang mereka kenal.

Aku pun terbangun. Jumat dinihari, satu hari menjelang bulan Suro. Bukan, dua hari. Artinya, satu hari sebelum malam satu suro ya? Selanjutnya, aku terjaga hingga pagi. Takut untuk kembali terlelap. Takut mimpi buruk lagi.


Jangan terlalu dipikirkan! Mimpi itu hanya bunga tidur. Mimpi buruk bisa terjadi karena pengaruh stres. Pengaruh pikiran kita yang kacau. Tapi, aku tidak sedang kacau walau sedang berada pada fase monster.

Ada yang bilang, mimpi itu bukan sekedar bunga tidur. Bisa jadi mimpi adalah pralambang atau pertanda yang dikirim untuk kita.

Aku bukan tipikal orang yang bisa mengabaikan mimpi begitu saja. Aku tipikal orang yang mudah penasaran. Terlebih karena ada Tunjung di dalam mimpiku. Kami memang sangat dekat. Tapi, kemunculan Tunjung di dalam mimpiku sangat jarang. Seringnya, mimpi bersama Tunjung bukanlah 'sekedar bunga tidur'.

Pernah aku bermimpi mengunjungi suatu tempat bersama Tunjung. Lalu, aku bercerita tentang mimpi itu padanya. "Kamu nggak mimpi kok. Semalam aku emang ngajak kamu jalan-jalan," komentarnya enteng.

Emang bisa?

"Bisa! Gampang kayak gitu. Tinggal panggil dan ajak jalan."

Begitu ya? Kalau dipikir-pikir, ini bukan kali pertama Tunjung datang menolongku dalam mimpi. Dan, bukan kali pertama ada gadis cantik namun mengerikan dalam mimpiku. Gadis itu beberapa kali ada di dalam mimpiku. Tingkahnya selalu aneh. Selalu mengajakku pergi bersamanya.

Pernah dia mengajakku berjalan bersama pada jalan yang gelap dan tak berujung. Hingga tiba pada sebuah persimpangan. Di persimpangan itu, Tunjung menungguku. Lalu, mengajakku berjalan ke arah kanan. Bukan arah kiri seperti yang disarankan si gadis.

Pernah pula gadis itu berkata jika aku sudah mati dan mengajakku menyusuri sebuah jalan yang lebih mirip pasar. Lagi-lagi Tunjung datang untuk menuntunku ke jalan yang benar.

Aku pun menceritakan mimpiku pada Tunjung. "Biasalah. Kan Suro udah di depan mata. Kamu juga udah tahu dia siapa," responnya.
"Tapi, kenapa rambutnya pendek?" Aku penasaran. Karena sebelumnya gadis itu berpenampilan rambut panjang hitam terurai. Walau sama-sama lurus, rasanya aneh melihatnya berambut pendek.
"Habis smoothing di salon kali dia." Jawab Tunjung enteng.
Aku tersenyum simpul. Bukankah merubah penampilan memang hal mudah bagi mereka. Semudah kita berkedip.
"Seperti manusia, mereka itu kalau punya keinginan pun selalu berusaha keras untuk mendapatkannya. Sampai menambah kekuatan dan sejenisnya."
Aku bergidik ngeri mendengarnya.
"Hati-hati! Dia pasti akan datang kelak saat kamu di ujung maut. Seperti yang dia katakan tentang dia nggak mau pergi ninggalin kamu. Dia pasti akan terus berusaha untuk mendapatkanmu. Bahkan jika napasmu sudah di tenggorokan. Dia menginginkan jiwamu untuk ada bersamanya."


Tempurung kura-kura, 05 September 2019.
- shytUrtle -

Creepy Story

Kejadian Aneh Di Toko - Ada Mr. Poci Di Toko!

20:48

Kejadian Aneh Di Toko - Ada Mr. Poci Di Toko!





Tunjung selalu mengatakan, penampakan yang masih sering membuatnya gap adalah Mr. Poci alias pocong.

Saya pribadi pernah melihat secara langsung penampakan Mr. Poci di markas lama. Mengerikan memang! Kulit coklat keriput kayak daging kehabisan cairan, mata merah menyala, terbungkus kain kafan lusuh.

Beberapa penghuni Sarang Clover pun pernah dipertemukan dengan sosok Mr. Poci. Selain saya sendiri, ada Jeff, Thata, dan Tunjung sendiri. Semua kisah pertemuan dengan Mr. Poci alias Pocong sudah kami bahas dan kami terbitkan menjadi buku berjudul AWAKE. Buku berisi kisah-kisah creepy yang dialami oleh seluruh penghuni Sarang Clover. Kisah-kisah creepy based on true story, berdasarkan kisah nyata yang benar-benar kami alami. Kalau minat baca, bisa beli bukunya di saya ya. Hehehe. Numpang promo ini mah!

Back to kisah yang mau saya ceritakan hari ini. Saya bekerja di toko sejak tahun... berapa ya... 2011? Kira-kira tahun segitu, atau bahkan sebelumnya. Dulu, sebelum bekerja di toko, saya sering dibuat heran sama curhatan Bulek yang kebetulan juga dagang.

Bulek yang dagang makanan mateng sering curhat dagangannya tetiba busuk saat dibawa ke tempat jualan. Padahal sebelumnya, di rumah masakan itu baik-baik aja. Pernah juga masakan yang masih panas, umep, tiba-tiba mengeluarkan belatung. Logikanya ulet atau belatung bakalan mati kan kena air mendidih? Nah, itu nggak. Malah hidup gembira, menari, meloncat-loncat di atas kuah mendidih. Alhasil, masakannya dibuang. Gagal dijual.

Ketika ibu saya terjun ke dunia dagang masakan matang, fenomena seperti tersebut di atas saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Kalau masakan keluar belatung belum pernah. Tapi, masakan tiba-tiba berbau busuk ketika dibawa ke warung pernah. Lalu, pernah juga ada lidi tajam di dalam bakwan jagung.

Fakta itu membuat saya tercengang. Ternyata, sihir semacam itu memang ada. Kalau selama ini saya hanya membaca artikel tentang hal seperti itu atau curhatan tentang hal seperti itu. Tapi, sekarang siaran langsung. Menyaksikan beberapa fenomena seperti yang pernah dikeluhkan oleh orang-orang yang berdagang.

Dagang apa pun itu, sependek pengamatan saya, keluhannya rata-rata sama. Kalau nggak uang ilang ya toko sepi atau sejenisnya. Sharing dengan sesama pedagang pun keluhannya hampir sama.

Percaya atau nggak, hal-hal semacam itu seringnya memang karena pengaruh 'sihir' yang sengaja dikirim untuk mengganggu kinerja usaha dagang.

Pada catatan sebelumnya saya pernah membahas tentang kejadian aneh di toko berupa ditemukannya rambut Genderuwo di toko. Ada juga bahasan tentang iler Buto Ijo.

Sebenarnya tidak hanya itu. Pernah juga kejadian ada yang sengaja 'ngompol' di warung. Beberapa waktu lalu juga kejadian sejenis ini sempat terulang lagi. Tapi, yang ngompol bukan anak kecil, melainkan Genderuwo.

Kalau di toko, pernah suatu siang saya menemukan gulungan rambut berwarna putih di pojokan depan toko. Merasa ada yang aneh, saya memungut rambut tersebut dan membawanya pada Tunjung. Kata Tunjung, itu 'rambut nenek'.

Tunjung meminta saya untuk membakar gulungan rambut berwarna putih tersebut. Berbeda dengan rambut Genderuwo yang tidak bisa terbakar kala itu, rambut nenek itu langsung habis terbakar.

Fungsinya apa sih? Seperti yang saya bahas sebelumnya, tergantung mau dipakek apa. Tapi, kalau sengaja dikirim, seperti pada umumnya jelas fungsinya untuk mengganggu kinerja tempat yang mendapat kiriman. Misal iler Buto Ijo, ketika kena makanan maka makanan bisa jadi basi.


Saya pernah membaca artikel yang menceritakan tentang sebuah warung yang mendadak sepi. Padahal sebelumnya warung itu berjalan stabil. Usut punya usut, ternyata ada yang sengaja 'memasang' Genderuwo di depan warung. Sehingga orang merasa enggan, bahkan takut untuk masuk ke dalam warung tersebut.

Uniknya, beberapa hari yang lalu, saya mengalaminya di toko. Tapi, di toko bukan Genderuwo yang nangkring tampan di depan toko. Melainkan Mr. Poci alias Pocong.

Kalau tidak salah ingat, kejadiannya Selasa pagi. Seperti biasa, setelah menyiapkan toko—bersih-bersih dan menata barang dagangan, saya berjemur di depan toko. Kebetulan berjemur pagi sering ditemani si Gembul Afra. Selasa pagi itu pun sama. Saya dan Afra berjemur di depan toko sembari menonton senam pagi murid-murid di TK depan toko.

Selesai melihat senam, saya hendak mengajak Afra masuk ke dalam toko. Lalu, ada Prime Eonni datang. Jadilah kami ngobrol di depan toko, melanjutkan berjemur. Hari itu memang sepi. Padahal biasanya kalau pagi ada saja yang jajan ke toko. Mungkin lagi bosen ama jajanan di toko, begitu pikir saya.

Afra yang merasa bosan dan mungkin udah mulai gerah juga karena kelamaan berjemur meminta permen. Seperti biasa, saya menggodanya untuk mengambil permen sendiri. Ketika hendak mendekati etalase permen, Afra mendadak berbalik dan meminta gendong sambil berkata, "Wedi! Wedi, Ma!" Ia ketakutan.

Saya pun menggendong Afra dan bertanya takut apa. "Wedi Pocong, Ma! Wedi, Pocong!" Jawab Afra sembari menyembunyikan wajahnya di leher saya. Mendengarnya, saya dan Prime Eonni auto diem dong. Saling melempar pandangan.

Prime Eonni minggir ke arah utara sambil berkata, "Aku merinding lho!" Ketika saya mengalihkan pandangan dari etalase permen ke Prime Eonni, saya melihat anak rambut di puncak kepala Prime Eonni bergerak naik.

Itu bukan lelucon! Prime Eonni benar-benar dibuat bergidik, merinding dengan celotehan Afra yang mengaku takut Pocong. Saya dan Prime Eonni pun antara percaya dan tidak. Pocong di pagi hari?? Yang bener aja!

Penasaran, saya pun segera menghubungi Tunjung dan menunjukkan seluruh sudut toko. Sambil menceritakan pengakuan Afra dan fenomena anak rambut di puncak kepala Prime Eonni yang bergerak naik.

"Oh! Iya tuh. Dia ada di sana. Lusuh banget itu kain kafannya. Serem banget pula tampangnya. Udah tua banget kayaknya. Jelas aja rambut Mbak Prime naik ke atas, orang dia berdiri deketan ama si Poci!"

Mendengar penjelasan Tunjung, Prime Eonni pun segera pamit dan meninggalkan toko. Menyisakan saya, sendirian.

"Aneh lho!" Ujar saya.
"Aneh kenapa?" Tanya Tunjung.
"Ini lho aku masih nyetel Ratib. Setting-nya mono. Jadi keulang-ulang. Nah, itu Poci kenapa betah di toko coba? Bukannya mereka bakalan kebakar kalau denger ayat-ayat suci?"
"Nah itu dia. Aku tadi juga heran. Kamu lagi nyetel Ratib kok dia betah berdiri di situ. Telinganya disumpel kapas kali!"
Saya diam sejenak. "Bukannya pocong tuh emang semua lubang ditutupi kapas ya?"
Saya dan Tunjung saling memandang, tapi nggak ada yang berucap. Suasana pun berubah hening.

Seharian pun sepi. Anyep. Nggak ada yang jajan ke toko. Duduk jagain toko, saya jadi mikir. Mungkin yang mau beli ke toko takut. Terutama anak-anak. Takut karena ada Pocong. Mungkin karena itu toko jadi sepi. Nggak ada yang jajan sama sekali.

Buru-buru saya menggelengkan kepala. Nggak lah. Bisa jadi lagi bosen sama jajanan di toko. Saya sendiri kalau lagi bosen makan di warung emak juga jajan di luar. Orang lain pasti gitu juga. Kalau bosen jajan di toko, jajan di tempat lain juga.

Tapi, saya penasaran! Akhirnya saya bertanya lagi pada Tunjung. Masa iya itu pengaruh Mr. Poci nangkring di depan toko?

"Pakek nanya ini kura!" Jawab Tunjung.
Saya hanya bisa nyengir.
"Bentar ya, U. Aku jek cuapek banget! Moso ndak ada mandek e lho! Kalau ndak toko, warung. Gitu terus ndek kamu itu."
Saya tercenung mendengarnya.
"Sabar ya."
"Iya. Sekarang saya kerja tuh lillahita'ala. Kerja karena ALLOH. Terserah kalau mau ada yang usilin, jahatin. Semua perbuatan ada itungannya, pun ada balasannya. Biarin Gusti ALLOH aja yang atur."
"Sip!"


Saya penasaran. Ketika ketemu Afra lagi, saya nanya ke dia. Apa bener yang dilihat dia itu pocong. Dia jawab, iya. Hmm... bayi kan emang masih bisa liat makhluk tak kasat mata.

Beberapa hari sebelum kejadian itu, Afra memang ikut saya menonton video Ki Prana Lewu yang ada prank penampakan Pocong di tengah-tengah video. Afra kaget dan takut, lalu bertanya apa itu momok uwo—hantu. Saya jawab, iya. Itu momok uwo namanya pocong. Rupanya wujud dan nama pocong terekam dengan baik dalam ingatan Afra.

Sore harinya Tunjung mengirim gambar pocong ke saya. "Coba kasih liat Afra. Tanya apa kayak gitu penampakan pocong di tokomu tadi."

Menuruti permintaan Tunjung, saya pun menunjukkan gambar pocong itu pada Afra. Kata Afra, iya kayak gitu.

Jadi, kira-kira seperti ini lah penampakan pocong yang ada di toko. Mata merah, kulit coklat kisut, dan kain kafan lusuh. Tentu saja lebih mengerikan dari gambar ini.




Prime Eonni pun mengirim pesan pada saya. Takut kalau Mr. Poci nya ngikut doi.
Saya jawab, "Nggak mungkin lah Eonni. Dia kan sengaja ditaruh di toko, jadi mau nggak mau ya bakal stay di toko sampai masa kontraknya habis. Beda kalau dia mampir atau dateng ke toko. Nah, kalau kayak gitu bisa jadi dia nempel dan ngikut Eonni kalau dia tertarik buat ikut Eonni."
"Oh, gitu. Syukurlah. Nah, masa kontrak? Emang ada?"
"Iya lah Eonni."
"Berapa lama?"
"Biasanya sih 40 hari. Sihir dan sejenisnya itu katanya berlaku hanya 40 hari saja. Nah, kalau tahan lama, itu katanya setelah 40 hari dikirim lagi."
"Ya ampun! Serem ya."
"Banget."
"Kayak gitu lho tujuannya apa ya? Ngirim-ngirim kan pasti keluar duit. Nggak sayang duitnya apa?"
"Kita mah mending buat beli bakso ya Eonni?"
"Iya. Mending buat jajan."

Dasar kita ini orang-orang demen jajan. Kekeke....

Nah, kalau fenomena duit ilang itu karena apa?

Umumnya sih tuyul ya. Penghuni Sarang Clover pernah lho diajak nangkep tuyul. Mau tau ceritanya? Tunggu ya! Siapa tahu di acc buat dipublikasi.


Mohon maaf jika ada salah kata. Sekian dan terima kasih.

Photo by: Google search.


Tempurung kura-kura, 08 Agustus 2019.
- shytUrtle -

Creepy Story

Creepy Story: Kesandung Watu

06:20

Kesandung Watu



Judul direkomendasikan oleh Njung Beb. Maaf kalau ternyata setelah baca malah merasa judul ndak sesuai dengan isi. Kekeke.

Saya menulis kisah yang berdasarkan kisah nyata ini hanya ingin berbagi. Harapannya agar kita bisa sama-sama memetik hikmah dan lebih berhati-hati untuk setiap langkah kita. Maaf jika ada salah kata.

Kita, manusia pasti pernah mengalami yang namanya 'kesandung watu' atau tersandung batu dalam kehidupan kita. Tidak ada jalan yang mulus dalam setiap kehidupan. Walau udah berhati-hati, kadang kita masih saja ketiban sial dengan mengalami 'kesandung watu'.

Kok sial sih, Kura?

Pikir deh, emang kesandung watu atau kesandung batu itu enak? Sama dengan kesialan, kan? Rasanya nggak enak. Sakit, bahkan nyesek.

Sial karena kadang kejadian itu menimpa kita bukan karena kecerobohan atau ulah kita sendiri. Melainkan karena ulah orang lain. Didorong orang lain, misalnya. Atau, nggak sengaja tersenggol orang lain hingga kesandung watu.

Apa yang saya alami beberapa waktu lalu boleh dibilang bukan karena ulah saya sendiri.

Sebelumnya maaf pada pihak terkait kisah ini. Sekali lagi saya menulis kisah ini hanya untuk berbagi pengalaman untuk kita sama-sama belajar. Bukan kah hidup itu adalah untuk belajar dan belajar? Semoga tidak ada pihak yang merasa dirugikan dengan dipublikasikannya tulisan ini. Aamiin...

Beberapa waktu yang lalu alhamdulillah saya kembali dikasih kesempatan buat mengunjungi Wana Wisata Coban Bidadari, Gubugklakah. Ketiga kalinya saya berkunjung kesana.

Kunjungan pertama saya sempat merasa khawatir karena kami tiba terlalu sore. Alhamdulillah saya aman, tapi Thata yang KO. Usut punya usut ternyata ada tiga bidadari yang ikutan kami pulang. Kebetulan kondisi saya lagi oke, jadi fine aja. Beda cerita ama Thata. Entah karena alasan apa jadinya Thata yang KO.

Kalau tidak salah ingat, itu pertama kalinya Thata ngalamin fenomena kayak saya. KO kalau nggak sengaja bersinggungan sama makhluk astral. Sejak kejadian itu, tiap kali main ke Coban Bidadari, Thata selalu KO pas pulang. Migren berat.

Kok bisa? Kenapa?

Nah, alasannya itu yang nggak bisa dijelaskan secara pasti kenapa. Padahal setahu saya, Thata selalu bersikap sopan. Tapi, kadang kayak kita manusia yang kadang nggak suka ama seseorang tanpa alasan, atau suka banget ke seseorang hingga pengen nempelin dia kapanpun dan dimanapun. Begitu juga dengan makhluk astral. Terlebih karena mereka bisa melihat kita, tapi kita nggak bisa lihat mereka. Nah, tidak bisa berkomunikasi secara dua arah itu lah yang seringnya menimbulkan salah paham dan bikin kita, bangsa manusia awam jadi kerepotan.

Kesempatan kedua, saya berkunjung ke Coban Bidadari untuk melakukan pemotretan dari novel My Creepy Love Story. Kebetulan salah satu setting dalam novel adalah Coban Bidadari. Ditemani Rama—yang sekaligus jadi model—alhamdulillah proses pun lancar.

Kisah berbeda pada kunjungan ketiga. Saya pergi ke Coban Bidadari bersama beberapa teman. Tempatnya makin apik. Area selfi, spot untuk berfoto semakin banyak.

Kayak sebelumnya, kalau mau masuk rumah orang, saya permisi dulu dong. Membatin, ngucapin salam, menyapa kembali setelah lama nggak jumpa. Setelah peristiwa pertama kali berkunjung dan ada bidadari yang ikut pulang, saya menyimpulkan kenapa wana wisata baru itu diberi nama Coban Bidadari. Terlebih, menurut Njung Beb, memang ada kerajaan bidadari di sana. Lokasinya di sekitaran coban/air terjun. Karena informasi itu, saya selalu berusaha bersikap sopan ketika berkunjung ke Coban Bidadari.

Dua kali berkunjung ke Coban Bidadari, saya tidak turun untuk mencapai air terjun. Bukan karena takut ketempelan or something like that. Tapi, karena medannya masih susah. Turunnya jauh dan medannya itu susah. Saya dapat bocoran ini dari salah satu teman yang udah pernah turun sampai ke air terjun. Padahal air terjunnya apik lho! Ndak terlalu besar kayak Coban Pelangi. Jadi, kemungkinan kita bisa main air sampai di bawah air terjun.

Karena tidak pernah turun, jadi saya tidak punya foto bagaimana rupa air terjun di Coban Bidadari. Mungkin bisa nanya Mbah Google aja kalau penasaran. Hehehe.

Pun demikian pada kunjungan ketiga. Terlebih waktu itu kondisi fisik saya emang rada capek. Sehari sebelumnya ada perjalanan jauh. Jadi, saya memilih untuk menunggu di Puncak Bidadari saja. Sedang teman-teman yang lain turun menuju air terjun.

Alhamdulillah teman-teman bisa mencapai air terjun walau medannya sangat susah. Walau ada yang balik jalan juga. Kalau mau main dan turun ke air terjun di Coban Bidadari, tolong benar-benar persiapkan fisik dan mental. Pun gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman.

Melepas lelah, saya menemani teman-teman berkumpul di salah satu warung di area kafetaria. Teman-teman saling bercerita tentang perjuangan mereka untuk bisa sampai ke air terjun. Salah satu satu mereka mengungkapkan kekecewaannya. Medan yang lumayan sulit, namun kondisi air terjun tampaknya membuat dia kecewa hingga terlontar kalimat, "Cobannya jelek!"

DEG!

Kaget dong! Auto keinget tentang kerajaan bidadari yang lokasinya di dekat air terjun. Wah, apa ini bakalan baik-baik saja?


Turun dari coban, saya KO. KO karena mabok darat. Kekeke. Kura biasa naik motor diajak naik mobil, mabok lah dia. Karena gejala tidak reda hanya dengan minum air hangat, saya pun memutuskan untuk menelan DHD. Lucunya, saya malah melek ombo. Terjaga. Padahal biasanya selepas minum DHD saya terlelap hingga satu jam lamanya. Tapi, tidak dengan hari itu. Jam tidur saya normal. Tapi, alhamdulillah gejala sakit kepala yang berat udah berkurang. Saya pun tidur dengan lelap.

Next day terbangun dengan kondisi badan sakit semua. Kepala masih sakit. Saya pikir hanya efek kecapekan. Karena dua hari touring terus. Juga sisa parno karena mabok. Sialnya otak orang yang ada anxiety tuh gitu. Parnonya ndak ilang-ilang.

Saya cuekin dong! Tapi, kok sakit kepala makin menjadi. Tensi dong. Selalu tindakan medis dulu yang saya pilih. Hasilnya tensi drop. Oke. Deal efek kecapekan. Makan segala makanan yang bisa naikin tensi plus istirahat. Sampai stop nggak kecengin gUi sama sekali. Mata saya ikutan sakit. Pantengin hape lama-lama aja nggak bisa. Apalagi laptop. Alhasil selama seminggu nggak setor bab baru di semua jadwal pos tulisan.

Ketika semua tindakan medis sudah diambil tapi kondisi belum juga membaik, barulah saya berasumsi bahwa, ada yang nggak beres ini. Nanya Tunjung, tapi doi cuman senyum-senyum aja. "Lha nurut kamu kenapa lho?" Tunjung balik nanya. Sialan banget dah tu anak. Kekeke.

Oke lah. Kayaknya saya butuh degan ijo. Alhamdulillah dapat. Tapiii... kondisi belum juga membaik. Udah capek berasa sakit terus, nanya langsung ke Nyai. Nyai, saya ini kenapa tho? Kalau emang ada something, tolong bantu saya. Kasih tahu saya gimana caranya biar sembuh.

Solusinya: mandi di kali yang punya grojokan tengah malam.

GLEK!

Seriusan? Dengan kondisi cuaca dingin yang lagi ekstrim gini? Tapi, saya mau sembuh. Bismillah.

Kamis malam, ditemani Tunjung udah standby di salah satu sungai yang punya grojokan. Pukul dua belas malam udah siap nyemplung, tapi ditunda sama Tunjung.

"Ojo disek, U. Ada pertemuan di lapangan pinggir kali tuh. Semua pada ngumpul di sana. Bahaya kalau kamu ritual dan ketahuan mereka." Tunjung menjelaskan situasi.

Saya nurut aja. Kami pun pulang dan menunggu. Pukul empat pagi baru diajak balik lagi ke kali sama Tunjung. Katanya pertemuan makhluk astralnya baru bubar.

Bismillah saya pun nyemplung ke kali. Njebur basahi badan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jangan ditanya gimana rasanya. Itu air sungai dah kayak lelehan es. Dan, saya balik ke rumah dengan baju basah karena njebur ke kali sekalian ama bajunya. Di pagi buta. Nikmat sekali! Beku rasanya.

Ndilalah kersane Gusti ALLOH, saya sembuh setelah melakukan ritual mandi di kali pada dini hari—yang pada prakteknya pada subuh hari. Kata Nyai sih sebelum matahari terbit. Jadi, subuh hari masih fine lah.

Karena penasaran, saya pun bertanya pada Nyai, ada apa gerangan. Apa sebenarnya yang saya alami.

"Itu salah satu penduduk yang tinggal di sana niatnya negur kamu. Gini lho maunya dia, 'Temenmu itu lho mbok diajari sopan santun. Jangan suka menghina. Bagaimanapun juga ini adalah ciptaan Gusti ALLOH. Jadi manusia mbok ya jangan suka menghina ciptaan Tuhan'. Gitu. Trus, kayak biasanya. Kamu nggak kuat. Jadinya kamu KO."
Saya diam. Merenungi penjelasan Nyai. "Itu yang negur ikut saya, Nyai?"
"Iya. Ada jejaknya. Dia itu rakyat jelata, tapi punya kemampuan. Sakti lah simpelnya."
"Jadi, bukan dari kerajaan atau golongan bangsawannya?"
"Bukan. Lek dari kerjaane ya emboh kowe ngger. Mangkane di ati-ati maneh yo."

Karena saya hanya manusia biasa, ada rasa nggak terima dong. Manusiawi, kan? Bukan saya yang berbuat kenapa saya yang kena teguran sampai tepar? Tapi, balik lagi, saya yang lebih dulu ngenal lokasi dan saya yang ngajak kesana. Dan, kayak sebelumnya, mereka salah duga, mengira saya bisa melihat dan berkomunikasi sama mereka. Poor you, kura! Heuheuheu...


Pelajaran bagi kita semua, kemanapun kita pergi sebaiknya tetap bisa menjaga sikap. Karena kita hidup berdampingan dengan mereka yang kita tidak bisa melihat mereka, tapi mereka bisa melihat kita. Yang terpenting adalah jangan pernah menghina apa pun itu ciptaan Tuhan.

Bagian itu yang nampar saya banget: jangan pernah menghina ciptaan Tuhan. Sebagai manusia biasa saya pasti pernah luput, kesandung watu dan berbuat salah.

Boleh percaya boleh tidak. Tapi, demikian adanya yang saya alami. Mohon maaf jika ada salah kata. Terima kasih.


Tempurung kura-kura, 25 Juli 2019.
- shytUrtle -

Creepy Story

Kejadian Aneh Di Toko - Rambut Genderuwo

17:24

Kejadian Aneh Di Toko - Rambut Genderuwo


Semalam, untuk melepas lelah usai berkeliling untuk silaturahmi lebaran, saya rebahan sambil berjalan-jalan di beranda Facebook. Aktivitas yang sangat jarang saya lakukan. Biasanya buka Facebook hanya untuk posting dan balas komentar. Jarang banget jalan-jalan di beranda.

Setiap kali jalan-jalan di beranda pasti nemu sesuatu yang unik. Semalam pun begitu. Nggak sengaja nemu postingan temen yang bagiin postingan tentang sihir yang seringnya di alami oleh pemilik usaha dagang. Jadi inget kalau saya pengen bahas kejadian-kejadian unik yang pernah saya alami sepanjang saya kerja di toko.

Dalam postingan itu ditulis keluhan beberapa rekan si pembuat postingan yang mengeluh seperti, toko buka dibilang tutup. Jual masakan, baru masak, eh tetiba basi semua. Waktu baca postingan itu, saya cuman bisa senyum sambil bergumam, ini problem sejuta umat yang punya kerjaan dagang.

I mean, ya kebanyakan masalah yang dihadapi kayak gitu. Pun demikian dengan kami. Maklum rata-rata penghuni Sarang Clover kerjaannya dagang. Dan, mayoritas dagang makanan mateng. Emak jualan nasi, Bulek pun sama. Prime Eonni jualan kue basah. Jadi, waktu baca postingan itu cuman bisa senyum sambil bergumam, semua itu kami pernah mengalaminya. Hehehe.

Sebelum bekerja di toko, saya sering mendengar keluhan orang yang punya usaha dagang mengeluh toko mereka sering dibilang tutup. Bulek sendiri pernah mengalami, ketika mau jualan di sebuah event. Ketika nasi dibawa ke lapak tempat bulek jualan, langsung lembek kayak bubur. Dibawa pulang, normal lagi nasinya.

Percaya nggak percaya kan? Emak saya sendiri juga pernah ngalamin hal kayak gitu. Masak lumbu (daun talas) sewajan penuh. Dibawa ke warung, basi. Lumbu emang jadi primadona di warung Emak. Tiap kali bikin selalu sold out. Sejak masak trus basi itu, sampai sekarang Emak belum pernah masak lumbu lagi.

Yang paling ekstrim yang pernah saya dengar dan saya lihat bukti nyatanya adalah masakan yang lagi umep, panas di atas kompor malah keluar belatungnya. Belatung hidup. Logikanya belatung bakalan mati kan kena kuah yang mendidih, nah itu nggak. Malah masih hidup segar bugar kruget-kruget di atas kuah mendidih. Aneh tapi nyata, kan?

Sebelumnya saya pernah menulis tentang Iler Buto Ijo. Iler Buto Ijo ini termasuk salah satu sihir yang sering digunakan untuk usaha. Tergantung penggunaannya. Bisa buat penglarisan, pun bisa untuk menghancurkan usaha.

Silahkan baca Creepy Story: Iler Buto Ijo bagi yang penasaran.

Ketika sudah bekerja di toko, saya jadi tidak asing dengan hal-hal semacam itu. Jadi, sering cek-cok sama sales karena salesnya bilang toko tutup. Sedang saya ngotot toko nggak pernah tutup. Guru di TK depan toko juga pernah bercerita pada saya. Beliau berdua melihat sales yang berhenti di depan toko, lalu celingukan sebentar, dan pergi lagi. Katanya sering kayak gitu. Tetangga toko pun mengakui hal yang sama. Toko kayak tutup, tapi pas nekat didatengin, toko buka.

Pengakuannya tertulis di komentar pada postingan yang saya bagikan ini lho!


Ketika Emak masih bekerja di puskesmas pun sering cek-cok sama pasien. Karena pasien seringnya lama kalau disuruh fotocopy. Padahal toko ada di depan puskesmas. Pas pasien ditanya kenapa nggak fotocopy di toko depan, jawabnya toko depan tutup. Emak sampai belain nengok ke toko. Padahal ya buka tokonya.

Salah satu kejadian unik yang saya alami di toko adalah pada 22 Maret 2019 lalu. Ini tuh antara percaya nggak percaya juga.

Ketika saya meladeni pelanggan yang datanf untuk fotocopy, tiba-tiba keluar sehelai rambut dari dalam mesin fotocopy. Rambutnya kaku banget. Pelanggan yang kebetulan nungguin sampai heboh karena juga melihat rambut itu keluar dari mesin.

"Lho! Lho! Apa itu, Mbak? Ya ALLOH!" Ujar si ibu pelanggan sambil menuding-nuding rambut yang turut keluar bersama kertas.
Saya senyum aja. Sambil memungut sehelai rambut yang ternyata kaku banget. Sekaku sapu ijuk. "Sapu ijuk kayaknya, Bu." Jawab saya santai.
"Sapu ijuk? Emang mesinnya dibersihin pakek sapu ijuk?" Ibu pelanggan nggak percaya.
"Nggak sih."
"Nah, trus gimana itu sapu bisa masuk mesin, Mbak?"
Saya nggak bisa jawab, jadi cuman senyumin aja.

Saya menyimpan sehelai rambut itu, lalu ketika toko luang segera menghubungi Tunjung. Sama Tunjung disuruh membakar itu rambut. Saya turuti. Anehnya, itu rambut nggak mempang dibakar. Saya masukin ke tumpukan kertas, saya bakar. Kertasnya kebakar habis. Rambutnya tetep utuh.

Ini penampakan rambutnya.


Laporan lagi ke Tunjung kalau rambutnya nggak mempan dibakar. Lalu, Tunjung meminta saya memotong rambut itu dan kembali membakarnya. Nggak mempan pula dipotong. Ngeri sendiri, saya simpan rambut itu dan membawanya kepada Nyai.

"Oalah! Iki ngono rambute Gendruwo!" Kata Nyai usai melihat sehelai rambut yang saya bawa.
Terbengong dong saya. "Rambut Genderuwo, Nyai?"
"Iyo, Ngger. Iku ngono rambut Gendruwo. Mangkane mesinmu sering rewel dicek mas servise hasile normal yo."
Emang sering gitu sih. Mesin rewel, tapi ketika mamas servisnya cek. Nggak ada yang eror. Atau kadang sekalinya ketemu erornya ndak umum. Sampai mamas servisnya ngomong gini, "Mbak, mesin ini tolong di selameti ya Mbak. Kok gudo ne nemen ke sampeyan."
Udah pernah di selameti dan dikirim doa. Doa buat toko setelah mamasnya kasih saran gitu. Ndilalah kok keluar rambut super kaku yang nggak mempan dibakar juga dipotong.

"Rambut Genderuwo fungsinya buat apa tho Nyai?" Penasaran saya pun nanya.
"Macem-macem, Ngger. Kamu udah coba nanya Google belum?" Nyai balik bertanya.
"Sampun, Nyai."
"Opo jare Google?"
"Buat pengasihan dan kewibaan, Nyai. Trus, katanya bisa buat penglarisan juga ya?"
"Iyo. Opo iku kowe ngger? Sengojo pasang gawe penglarisan?"
"Walah! Mboten lah, Nyai. Pun ngantos, jangan sampai kulo pakek gitu-gitu buat toko. Cukup nyuwun dateng Gusti ALLOH mawon supados rezeki ten toko lancar."
"Tenane?"
"Enggeh, Nyai. Kalau itu punya saya, ngapain saya bawa ke sini? Sok-sokan nanya ke Nyai."
"Be'e kowe ngetes aku, Ngger!"
Usil juga si Nyai yak. Kekeke.
"Gini lho ngger, sama kayak kasus iler Buto Ijo yang kamu tanyain kapan waktu itu, rambut Gendruwo pun sama. Maksudnya fungsinya itu sama kayak iler Buto Ijo. Sak njaluke seng gawe. Tergantung permintaan yang makek. Kalau yang makek mintanya buat penglaris, iso. Buat kebiwaan, iso. Buat pelet, pengasihan, iso. Buat ngrusak usaha ne wong yo iso. Dadi tergantung njalukmu opo."
Wuik! Jadi sama aja kayak iler Buto Ijo? Trus, itu jadinya rambut Genderuwo buat ngusilin mesin saya dong?
"Ojo suudzon yo, Ngger. Semua itu terjadi karena kehendak ALLOH. Mikir seng apik-apik ae ben awakmu kegowo apik."
"Nggeh, Nyai. Kulo ndak punya pikiran jelek kok. Ini tadi aneh aja tetiba keluar rambut dari mesin. Saya penasaran. Kok dibakar ndak bisa, dipotong pun ndak bisa."

Ternyata oh ternyata... itu rambut Genderuwo. Ketika saya bawa rambutnya ke markas, para penghuni Sarang Clover heboh dong. Sempat ada yang bawa. Tapi, dibalikin lagi. Entah kenapa. Sekarang malah entah kemana itu rambut Genderuwo. Kadang emang gitu. Tetiba raif, hilang tanpa bekas dari markas.

Entah tujuannya apa dan kenapa itu rambut bisa keluar dari dalam mesin, saya tetap berusaha berpikir santai. Berpikir positif. Seperti kata Nyai, semua nggak akan terjadi tanpa kehendak ALLOH. Terus berdoa saja pada ALLOH. Rezeki udah diatur dan rezeki nggak akan salah alamat.

Kalau mesin eror, saya mikirnya mungkin terlalu capek dipakek kerja. Udah gitu. Panggil mamas yang biasa servis, udah. Kapan hari itu emang rada kebangetan. Mamasnya sampai lembur di toko, trus bolak-balik selama tiga hari. Makanya sampai ngomong kayak gitu. Mesinnya disuruh nylameti. Hehehe.

Sebenarnya banyak cerita unik sejak saya kerja di toko. Pernah saking sepinya itu seharian kerja di toko yang waktu itu jam bukanya masih 15 jam, dapat uang Rp. 200,- aja. Zaman mesin lama. Cuman satu orang fotocopy satu lembar. Bayangin aja, kerja 15 jam, dapat 200 perak doang. Nyesek banget, kan?

Trus, pernah juga di fase saya males banget kerja. Jadi kerja cuman pagi sampai jam 12 atau jam 1 siang. Habis itu tutup. Alasannya kalau ditanya siang sepi, mau buka ntar habis Ashar aja. Tapi, habis Ashar malah nggak buka. Sampai kehilangan banyak pelanggan. Pernah di fase itu juga.

Kalau dulu dipikir sampai stres, sampai sakit. Sekarang dibawa santai. Kerja semampunya, nggak ngoyo. Dan, yang pasti nggak lupa minta tolongnya sama ALLOH. Karena hanya Dia yang Maha Segalanya.

Kalaupun hal-hal yang pernah saya alami di atas juga Anda alami, bersabarlah. Jangan menyerah. Orang usaha itu pasti ada aja cobaannya, kan? Yang penting terus berusaha dan berdoa. Selanjutnya pasrah. Rezeki kita nggak akan tertukar kok. Jadi, tetap semangat berkarya ya.

Mohon maaf jika ada salah kata. Terima kasih. Semoga bermanfaat.


Tempurung kura-kura, 06 Juni 2019.
- shytUrtle -







Creepy Story

Markas Sarang Clover Disambangi Goblin

03:15

Markas Sarang Clover Disambangi Goblin


Ingatkah kalian pada Cermis - Penampakan Nggak Ikut Libur Puasa? Tahun ini markas kembali mengalami kejadian itu.

Sebenarnya walau bulan Ramadan memang ada hal creepy yang menyambangi markas. Terlebih ketika Tunjung berada di markas. Hal-hal creepy tersebut pasti akan terungkap. Pun demikian dengan kejadian dua hari yang lalu.

Ketika aku mengatakan, "Ini pasti gara-gara ada kamu di markas. Makanya mereka pada menampakan diri!"
Tunjung mengelak dengan berkata, "Nggak lah. Kamunya aja yang nggak bisa lihat mereka. Aslinya emang mereka sering berkunjung ke markas walau aku nggak ada."

DEG!

We-te-ef banget kalau kenyataannya kayak gitu. Kan jadi mengurangi nyali pas lagi bersendirian di markas! Heuheuheu...

Selasa, dua hari yang lalu kami berbuka puasa bersama di markas—aku dan Tunjung. Selesai berbuka dan membereskan segala peralatan makan, kami duduk-duduk di ruang tengah menunggu Isya'. Kebetulan ada Tahu Bulet juga. Intinya markas rame malam itu.

Pas lagi ngumpul, Tahu Bulet tiba-tiba ketakutan. Sambil minta gendong, ia menuding ke arah kulkas. Ia mengatakan, "Wedi. Wedi. Wedi." Tahu Bulet ketakutan.

Kami yang ngumpul di ruang tengah pun reflek ikut menatap ke arah kulkas. Tentu saja kami nggak melihat apa-apa di sana. Dan, tentu aja nggak dengan Tunjung. Kami kepo, ingin tahu apa yang ada di sana hingga membuat Tahu Bulet ketakutan.

"Ada apaan sih?" Tanyaku kepo.
Tunjung yang duduk bersila di atas lantai, fokus menatap kulkas.
Aku pun menunggu. Biasanya kalau Tahu Bulet sampai ketakutan, wujud makhluk astral yang dateng pasti ngeri. Pengalaman pas markas disamperin kolong wewe kan macem gitu reaksi Tahu Bulet. Ketakutan banget.
"Apa yang dateng?" Aku kembali bertanya pada Tunjung.
"Apa sih itu namanya, goblin ya?" Tunjung akhirnya buka suara.
"Yang kayak gimana?"
"Yang ijo kecil itu lho! Kayak di Lord Of The Ring."
"The Lord Of The Ring? Iya, ada goblin. Telinga runcing? Eh, lebar, giginya runcing."
"Iya. Telinga lebar."
"Hidung panjang?"
"Dia nggak punya hidung malahan."
"Ngapain ke sini?"
"Tau!"
"Di mana dia sekarang?"
"Itu malah jongkok di depan kulkas."
"Waduuu."



Tahu Bulet yang ketatukan ngajak masuk ke dalam tempurung kura-kura, ke dalam kamarku. Kami pun membubarkan diri, aku dan Tahu Bulet masuk ke kamar. Meninggalkan Tunjung sendirian di ruang tengah.

"Aduh U! Iki seng teko tambah sangar!" Ujar Tunjung dari ruang tengah. Katanya, ada lagi yang datang dan lebih menyeramkan.
"Apaan?" Aku pun penasaran.
"Parah deh! Sangar bener!"
"Apaan sih?"
"Nggak bisa aku sebutin! Dia di sini. Kamu diem di kamar dulu ya. Jangan keluar. Aku halau dia biar di ruang tamu aja. Nggak sampai ke sini."
"Oke."

Tunjung kembali diam. Aku ikutan deg-degan. Kalau Tunjung sampai ndak sebutin wujudnya, pasti genting banget. Kalau udah gini, aku pun nggak berani nanya macem-macem.

Setengah jam kemudian, Tunjung udah ngebolehin kami keluar kamar. Kami pun balik ngumpul di ruang tengah.

"Masih di sini mereka?" Tanyaku. "Apaan yang sangar?"
Tunjung pun membisikan wujud makhluk yang datang ke markas setelah goblin.
"Njir! Serem banget! Eh, aku jadi ngebayangin wujudnya dia. Kondisi terakhirnya pasti kayak gitu. Ngapain dia ke sini? Masa yang itu sih?"
"Bukan."

Maaf ya. Untuk bagian itu belum dapat izin untuk dipublikasi. Intinya percakapan kami kayak di atas itu.

Lagi-lagi bulan Ramadan, penampakan nggak libur. Walau katanya setan pada di kerangkeng waktu puasa, tapi masih ada aja penampakan. Emang penampakan itu setan??

Kalau goblin ini yang dateng ke markas, nggak bakalan takut yak. Kekeke. Om Goblin yang cakep.



Tapiii goblin ini yang nyambangin markas. Ngeri banget kan!!! Heuheuheu...



Lagi-lagi, Penampakan Nggak Ikut Libur Puasa.


Tempurung kura-kura, 16 Mei 2019.
- shytUrtle -

Creepy Story

Creepy Story: Iler Buto Ijo.

04:30


Creepy Story: Iler Buto Ijo.



Halo! Lama tidak bersua dalam bab Creepy Story. Yang selalu menyimak kisah dalam bab ini pasti paham kenapa saya lama tidak memposting bahasan yang masuk dalam bab ini. Benar sekali! Karena untuk membuat postingan dalam bab Creepy Story membutuhkan proses mediasi. Meminta izin apakah cerita boleh dipublikasi dan dibagikan pada khalayak.

Sebenarnya bahasan kali ini cukup sensitif. Tapi, karena saya ingin menulisnya, ya udah nggak papa tulis saja. Tulisan ini tidak memiliki tujuan tertentu. Hanya membahas fenomena yang percaya atau nggak emang ada dalam kehidupan masyarakat kita.

Sebenarnya, kalau shi-gUi mau browsing, nanya Mbah Google, banyak kok artikel yang membahas tentang Ludah Buto Ijo. Ntar jangan kaget kalau artikelnya rata-rata bahas tentang penglarisan. Yap! Pada umumnya, Ludah Buto Ijo atau Iler Buto Ijo memang digunakan untuk penglaris.

shi-gUi pernah nonton film Mereka Yang Tak Terlihat, kah? Itu film horor terbaik yang pernah saya tonton. Kalau belum, ini review saya tentang film Review Film Mereka yang Tak Terlihat.

Salah satu adegan dalam film Mereka yang Tak Terlihat ada yang memvisualisasikan tentang penglaris Ludah Buto Ijo. Adegannya di sebuah warung bakso yang larisnya minta ampun. Ternyata mangkok berisi bakso diileri sama makhluk berwarna ijo. Selain itu, si penjual mencelupkan kakinya ke air yang dijadikan kuah bakso.

Katanya nih ya, katanya orang-orang sepuh, fenomena kayak gitu emang nyata adanya. Mangkok diileri Buto Ijo dan penjual cepulin kaki ke air yang buat kuah emang sebenernya nyata adanya. Beruntung lah kita yang menjadi manusia biasa hingga tidak bisa melihat makhluk-makhluk tak biasa yang tak kasat mata. Bayangin aja, lagi laper banget, masuk warung, ternyata liat mangkoknya diileri Buto Ijo. Enek nggak? Muntah iya, kalau saya. Untung aja nggak bisa liat. Hehehe.

Tapi, beberapa waktu yang lalu kru Sarang Clover menemukan fakta baru tentang ludah/iler Buto Ijo. Walau umumnya digunakan sebagai penglaris, iler Buto Ijo bisa memiliki fungsi lain. Jadi, tergantung pemakaian. Jika klien minta buat penglaris, ya maka fungsinya bisa untuk melariskan dagangan. Dengan tambahan iler dari Buto Ijo, rasa produk yang dijual jadi makin enak dan bikin ketagihan.

Lain lagi kalau mau digunakan untuk merusak produk. Fungsi iler Buto Ijo yang digunakan sebagai serum perusak produk akan membuat produk busuk. Wow banget ya! Jadi, produk yang terkena tetesan iler Buto Ijo akan membusuk. Nggak tanggung-tanggung, bukan rasanya jadi nggak enak, tapi langsung busuk. Bagaimana wujud iler Buto Ijo? Ya sama kayak iler kita sih. Bening. Kekeke...

Sebenarnya kru Sarang Clover sempat melihat wujudnya—iler Buto Ijo—di TKP. Tapi, lupa nggak di abadikan. Lebih tepatnya sengaja nggak di foto. Padahal kalau ada foto kan bisa dilampirkan dalam postingan ini ya.

Ketika di TKP, kru saling menuding untuk membersihkan iler Buto Ijo yang tercecer. Akhirnya, Tunjung yang kena sial. Dia kebagian bersihin iler Buto Ijo pakek tisu. Kami? Minggir dan menjauh. Anggota tim yang kejam! Selang beberapa menit setelah membersihkan iler itu, muncul memar hitam di telapak tangan kanan Tunjung. Mendadak tubuhnya pun demam. Tunjung yang nyata-nyata abnormal, punya kemampuan aja telapak tangannya gosong dan badannya demam. Gimana kalau kami yang bersihin? Gimana kalau saya yang bersihin? Ngeri banget kan!

Selain iler Buto Ijo, saya juga pernah mendengar penglaris dengan menggunakan (maaf ya ini terlalu vulgar dan kasar) rambut kemaluan kuntilanak. Mungkin shi-gUi pernah tahu keributan tentang film horor yang berjudul Misteri Jembut Kuntilanak. Saya belum nonton filmnya dan sampai detik saya nulis ini belum pengen nonton. Itu emang nyata adanya. Dan, jembut kuntilanak itu bisa dijadikan penglaris.

Pernah salah satu teman bercerita tentang pengalamannya ketika pergi berwisata dengan keluarga besarnya. Mereka mampir ke sebuah warung soto yang ramenya ndak umum. Semua udah duduk ngumpul, pesan makanan. Salah satu om temen saya nggak mau makan. Dipesenin minum pun nggak mau. Cuman mau minum minuman dalam botol. Sesampainya di rumah, temen saya nanya kenapa omnya nggak mau makan. Karena udah di rumah, omnya cerita kalau pas di warung soto liat anak kuntilanak duduk di atas jedi kuah soto. Nah, jembutnya (ya ampun ini bahasa saya kok kasar banget ya) rontok ke dalam jedi. Kata omnya, itu yang bikin rasa sotonya enak. Mendengar penjelasan itu, temen saya langsung muntah-muntah. Nguras. Keluar semua deh itu soto dari dalam lambungnya.

Sama kayak iler buto ijo, jembut kuntilanak pun bisa berfungsi sebagai perusak. Kalau jembutnya rontok di tempat yang mau dirusak, tempat itu kesannya jadi suram. Kayak hutan bambu angker. Tapi, biasanya yang sering menjadi perusak dengan metode  ini adalah gendruwes. Makhluk ini biasanya merontokan bulu kemaluannya di tempat yang mau dirusak hingga tempat itu jadinya sepi. Kalau orang yang bisa lihat makhluk astral atau punya indera keenam, tempatnya jadi kayak hutan bambu angker tadi. Gelap dan mengerikan.

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa penglaris yang memakasi jasa kuntilanak, yang dirontokan ke makanan adalah belatung dari tubuh mereka—punggungnya yang bolong dan bau busuk.

Selain yang tersebut di atas, ada banyak jenis penglarisan dan perusak lainnya. Saya pernah denger cerita perusak dengan metode dipasangi genderuwo di tempat yang mau dirusak. Ada yang dipasangi sosok wanita berwarna hijau yang sekujur tubuhnya mengeluarkan lendir seperti ingus yang berbau sangat busuk. Ada juga yang menggunakan pipis aka urine dari makhluk halus.

Ada kejadian, Tunjung nggak sengaja nemuin makhluk yang kata dia kayak balita gitu pipis di salah satu warung. Tunjung suruh saya nyapa makhluk itu. Dia cuman ngasih tahu posisi pasnya si makhluk di mana. Lagi jongkok di bawah meja deket kami dianya. Percaya nggak percaya, itu salah satu kaki meja jadi basah setelah Tunjung ngomong, “Eh, U! Ada yang ngompol tuh.” Padahal sebelumnya kering.

Saya pun menyapa dengan dialog yang disarankan Tunjung. “Halo. Assalamulaikum. Kenapa kamu pipis sembarangan di sini?” Saya ngomong sambil membungkuk tepat di dekat meja yang salah satu kakinya tiba-tiba basah sampai ke lantai.
“Eh dia ketakutan lho! Kayak anak kecil yang dimarahin emaknya. Tuh, dia kayak mau nangis.” Kata Tunjung.
“Kalau pipis jangan sembarangan ya. Coba itu dibersihin bekas pipisnya. Kan kasihan yang punya tempat.” Sok-sokan menasehati saya. Hehehe.
“Eh dia marah! Eh, bukan dia.” Tunjung diam selama beberapa saat. Saya ikutan diam.
“Marah dia. Bukan dia sih. Tapi, dukun yang nyuruh dia. Masa dia ngomong gini ke aku, Kamu tau nggak, aku lakuin ini pakek duit! Ya, masa aku yang nyuruh ya? Kan, aku cuman nggak sengaja tahu barang suruhan dia. Eh, dia sewot. Pakek nantang gelut pula.” Tunjung ngoceh setelah diam selama beberapa saat.
“Emang fungsinya apa kalau diompolin gitu?”
“Pakek nanya ini anak. Bukannya kamu udah tahu jawabannya?”

Saya heran aja sama orang-orang yang memilih cari penglaris ke dukun daripada perbaiki produk dan promosi serta berdoa pada Tuhan biar dibantuin Tuhan usahanya. Kalau saya mikirnya daripada duit dipakek ke dukun, mending dipakek jajan bakso. Hehehe. Herannya lagi yang rela buang-buang duit buat ke dukun buat suruh si dukun kacauin usaha orang lain. Tapi, cara pikir tiap orang kan beda ya. Semoga kita selalu dijaga dari hal-hal yang termasuk dalam menyekutukan ALLOH. Aamiin...

Saya juga dagang, emak juga dagang. Alhamdulillah kami hanya mengandalkan Gusti ALLOH untuk usaha kami.

Yakin loe, kura? Itu kenapa di atas pintu toko ada cermin fengshui?
Oh itu. Jadi gini, beberapa tahun lalu sering kejadian uang hilang di toko. Yang hilang selalu duit merah, sama duit biru. Katanya sih ulah tuyul. Nah, saya sempat cerita ke salah satu teman tentang hal itu. Lalu, teman saya membawakan cermin fengshui itu ke toko. Katanya, coba aja siapa tahu bisa membantu. Di pasanglah cermin itu. Niat temen mau bantuin, ya udah saya kasih izin pasang.
Trus, apa duitnya nggak ilang setelah pasang itu cermin?
Tetep aja ilang. Hehehe. Namanya juga temen bantuin, usaha biar duitnya nggak ilang. Iya, kan? Kalau Tuhan berkehendak duitnya ilang hari itu ya tetep aja ilang. Keputusan tetap mutlak di tangan-Nya. Cerminnya unik, bagus juga buat ornamen, hiasan toko. Itu kenapa tidak di copot.

Nggak munafik kadang kita emang butuh usaha untuk melindungi apa yang jadi milik kita. Kalau nurut saya nggak papa sih. Tetep niat awalnya minta tolong ke Gusti ALLOH. Nah, pertolongan itu bisa lewat siapa aja. Lewat Kyai, misalnya. Gunakan untuk melindungi milikmu sendiri, bukan untuk mengganggu milik orang lain.

Udah ya, udah malem. Udah ngantuk juga. Maaf jika ada salah kata. Semoga bermanfaat. Terima kasih yang udah mampir dan baca.

Tempurung kura-kura, 21 Februari 2019.
- shytUrtle -

Search This Blog

Total Pageviews