Khayalan shytUrtle

AWAKE "Rigel Story" - Bab III

06:41

AWAKE - Rigel Story



 Bab III

MPLS di SMA Horison digelar selama tiga hari pada minggu terakhir liburan tahun ajaran baru. Usai mengikuti upacara pembukaan MPLS, seluruh murid baru digiring ke aula untuk mengikuti pidato sambutan dari Kepala Sekolah, juga untuk mendengarkan materi-materi yang disampaikan oleh guru pembimbing.
Aula itu memiliki empat buah pintu besar. Dua di sisi kanan, dua di sisi kiri. Untuk kegiatan MPLS, hanya dua pintu di sebelah barat yang di buka. Satu pintu di sisi kanan, dan satu pintu di sisi kiri.
Murid kelas X-1, 2, 3, 4 digiring masuk dari pintu sebelah kanan. Sedang murid X-5, 6, 7, 8 dari pintu di sisi kiri. Kemudian, semua murid dipersilahkan duduk di atas lantai sesuai kelas masing-masing. Karena, merangkap sebagai lapangan indoor untuk olah raga bulu tangkis. Tidak ada kursi di dalam aula.
Di depan panggung terdapat kursi dan meja yang diperuntukan guru pembimbing yang akan memberi materi. Di atas panggung terdapat layar OHP. Anggota Dewan Senior dan MPK menyebar. Mendampingi kelas yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Setiap kelas di dampingi oleh dua Dewan Senior dan dua MPK.
Satu anggota Dewan Senior putri dan satu anggota MPK putra yang bertindak sebagai MC membuka acara. Setelah dibacakan susunan acara hari itu, Kepala Sekolah yang menjabat saat ini, Nyonya Amira Park memberi sambutan.
Meski sebagian besar anggota Dewan Senior berada di dalam aula, Rue memilih berdiam diri di dalam kantor Dewan Senior. Ia duduk di atas kursi kebesarannya yang berada di ujung meja kotak panjang. Jari-jari tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja. Sedang tangan kirinya bertindak untuk menopang dagunya.
Rue tersadar dari lamunannya ketika pintu kantor Dewan Senior terbuka. Dio, Byungjae, dan Hanjoo menghambur masuk ke dalam ruangan. Hanjoo duduk di kursi di samping kanan Rue. Sedang Dio duduk di atas meja di hadapan Rue, dan Byungjae duduk di samping Dio.
“Kenapa kamu malah melamun di sini?” tanya Dio. “Kamu nggak keberatan Pearl dan geng mutiaranya itu tebar pesona pada adik-adik kita?”
Senyum tersungging di wajah Rue ketika mendengar Dio kembali menyebut ‘Pearl dan geng mutiaranya’. Dio yang memberi nama ‘geng mutiara’ untuk Pearl dan kedua temannya. Entah kebetulan atau sengaja, Pearl, Ruby, dan Linde adalah nama dari batu-batu mulia. Mereka selalu berkumpul dan ke mana-mana bersama. Karenanya, Dio memberi nama trio itu sebagai geng mutiara.
“Pesona Rigel tak tergantikan. Kau tak perlu khawatir.” Rue berkomentar.
“Tentu saja. Tapi, tetap saja aku nggak percaya kalau dulu semasa SD kamu pernah satu geng dengannya.” Dio mengibaskan tangan kanannya ke udara.
“Kenapa kamu menyendiri di sini?” Hanjoo menyela. Ia menyadari ada sesuatu yang dikhawatirkan Rue dibalik sikap cerianya. Hal itu ia sadari ketika mereka meninggalkan lapangan basket usai upacara pembukaan MPLS. “Aku tahu, sekarang kau sedang mengkhawatirkan sesuatu,” imbuhnya.
“Ada apa?” Byungjae menatap Rue dengan ekspresi serius. Begitu juga Dio.
Rue menghela napas. “Aku melihatnya lagi. Di lapangan, saat upacara pembukaan.”
“Melihatnya?” Byungjae dengan ekspresi tak paham.
“Siapa?” sambung Dio yang sama tak pahamnya dengan Byungjae.
“Omo! Jangan katakan, kau melihat salah satu korban kecelakaan yang semalam mengikutimu?!” Byungjae bergidik ngeri dan melirik sekitar. “Apa dia masih di sini?” ia berbisik.
“Bukan dia. Tapi, sosok berbaju serba hitam yang selalu menampakan diri sebelum ada… kematian.” Rue lirih pada kata kematian.
Suasana berubah hening di dalam kantor Dewan Senior. Semua mata terfokus pada Rue.
Rue kembali menghela napas. “Ini di sekolah. Dan, sedang digelar MPLS. Aku jadi sedikit khawatir. Itu saja. Dia berada di belakang barisan kelas X-8. Kelas kita dulu.”
“Sepanjang sejarah MPLS SMA Horison tidak pernah ada kasus kematian. Kalau kesurupan itu sering. Khawatirmu berlebihan, Rue.” Dio memberi pendapat untuk meredam kekhawatiran Rue.
“Kasus kematian murid SMA Horison juga amat sangat sedikit sekali. Dalam kurun waktu berapa puluh tahun baru ada kasus kematian karena sakit. Selama lima puluh lima tahun sejak berdiri, setahuku hanya ada beberapa kasus kematian murid. Penyebabnya beragam. Mulai dari sakit hingga kecelakaan.” Byungjae menyambung penjelasan Dio.
“Lagi pula, sejak kau menjabat jadi Ketua Dewan Senior. Kasus kesurupan menurun drastis. Perjanjianmu berhasil. Jika dia yang kamu yakini sebagai malaikat maut itu muncul, aku rasa…” Dio tak melanjutkan ucapannya.
“Malaikat maut selalu berada dekat dengan calon orang yang akan meninggal kan? Mungkin kita bisa mencari sesuatu dari kelas X-8.” Hanjoo memberikan usul. “Setahuku jumlah muridnya tak lengkap tadi.”
“Kalau begitu, kita harus ke aula sekarang.” Dio melompat turun dan berdiri di samping Rue.
“Dio benar. Saatnya beraksi.” Byungjae pun bangkit dari duduknya.
Hanjoo juga berdiri. Ia turut menatap Rue.
“Oke!” Rue bangkit dari duduknya.
Dio tersenyum dan merangkul Rue. Berjalan menuju pintu. Hanjoo dan Byungjae menyusul di belakangnya.
***


Murid-murid peserta MPLS terlihat bosan. Beberapa dari mereka terlihat menguap. Hojoon duduk menopang dagu dengan tangan kanannya yang ia sandarkan di pahanya yang sedang duduk bersila. Ia terlihat bosan dan beberapa kali menguap. Hojoon tersentak kaget ketika Esya yang duduk di samping kirinya tiba-tiba menepuk lengannya. Dengan bibir mengerucut ia menoleh ke arah kiri dan menatap Esya dengan ekspresi kesal.
Kening Hojoon berkerut ketika menyadari ekspresi Esya yang berseri-seri. Ia kemudian mengikuti arah pandangan Esya yang fokus ke arah pintu masuk aula di sebelah kanan. Keempat member Rigel berdiri di ambang pintu.
Bukan hanya Esya yang menjadi ‘melek’ dan ‘sedikit berisik’ ketika Rigel muncul di aula. Beberapa murid pun demikian. Bahkan, guru pembimbing yang sedang memberikan materi sampai berdehem. Dan, para kakak pendamping harus memberi peringatan pada adik-adiknya agar kembali tenang dan mendengarkan materi yang sedang disampaikan.
Di kursi yang berjajar di dekat pintu masuk di aula di sebelah kiri, Pearl duduk bersama Ruby dan Linde, juga beberapa senior lainnya. Pearl langsung mencibir ketika melihat reaksi para junior ketika Rue dan ketiga temannya tiba di aula.
“Aku berharap mereka tak muncul.” Ruby yang duduk di sebelah kanan Pearl berbisik.
“Rigel tebar pesona. Ini kesempatan, kan? Untuk tebar pesona pada junior,” sambung Linde yang duduk di sebelah kiri Pearl. Mereka bertiga sibuk dengan kipas masing-masing.
“Hanya orang bodoh yang mengidolakan mereka. Apa hebatnya pemburu hantu?” Pearl ikut berkomentar sambil memicing ketika menatap Rue yang berjalan menuju ke arah belakang murid-murid peserta MPLS yang duduk berjajar di atas lantai sesuai kelas masing-masing.

“Astaga!!! Mereka menuju kemari!” Esya dibuat salah tingkah ketika melihat Rigel berjalan menuju ke arahnya; ke arah kelasnya lebih tepatnya.
Hojoon menghela napas sambil memperhatikan Esya yang tiba-tiba sibuk mengoreksi penampilannya.
Esya mendadak tegang ketika keempat member Rigel berhenti tepat di belakangnya. Ia meletakkan tangan di dada dan melirik Hojoon dengan tatapan yang mengisyaratkan ‘tolong aku’.
Hojoon menggendikan bahu. Lalu, kembali menatap lurus ke depan.
Hojoon dan Esya duduk di deretan paling belakang dari kelas mereka. Hojoon biasa saja. Tapi, tidak dengan Esya. Sejak Rigel datang dan berhenti di belakangnya. Ia tak bisa berkonsentrasi untuk mendengarkan guru pembimbing yang sedang menyampaikan materi di depan sana.
Walau Rue terdengar berbicara selirih mungkin, Esya masih bisa mendengar apa yang gadis itu tanyakan pada kakak-kakak pembimbing kelasnya. Rue bertanya kenapa jumlah murid di kelasnya tak lengkap. Dan, kakak pembimbing menjelaskan bahwa satu murid kelas X-8 izin tak bisa mengikuti MPLS karena masih dirawat di rumah sakit usai mengalami cidera usai mengikuti pertandingan sepak bola bersama klubnya.
Esya memiringkan kepala. Ia penasaran. Kenapa Rue menanyakan tentang teman sekelasku?
“Kita duduk di sini saja!”
Punggung Esya menengang. Ia tahu itu adalah suara Byungjae. Pemuda itu duduk di belakangnya.
“Sepertinya semua bosan.”
Dan… itu… Mulut Esya terbuka. Itu adalah Hanjoo. Hanjoo juga duduk di belakangnya. Esya memejamkan mata dan menjerit dalam hati karena terlampau senang.
“Dek!” Esya merasakan colekan di punggungnya. Ia pun menoleh. Hojoon yang juga mendengar panggilan itu ikut menoleh.
Byungjae tersenyum manis. “Bosan ya?”
Wajah Esya memanas. Senyum Byungjae sangat manis. Ia terpesona. Lalu, hanya bisa mengangguk malu-malu. Berusaha menutupi wajahnya yang kini mungkin sudah memerah. Hojoon yang melihat reaksi Esya hanya bisa menghela napas pelan.
“Beliau memang begitu.” Byungjae kembali bicara. Kali ini tentang guru pembimbing yang sedang bicara di depan sana. “Tapi, kau tak perlu khawatir. Beliau tak mengajar kelas X. Kami yang akan menjadi pendengarnya setelah ini.” Byungjae memasang ekspresi seolah akan menangis.
Esya tersenyum melihatnya. Ternyata benar apa yang ditulis Orion di halaman Rigel. Byungjae orangnya lucu.
“Sudah jangan ganggu mereka.” Hanjoo menyela.
Esya mengalihkan pandangannya. Ia menatap Hanjoo. Pemuda itu terlihat lebih tampan jika dilihat secara langsung dan dalam jarak yang cukup dekat seperti ini. Esya segera menundukkan kepala. Lalu kembali menghadap ke depan. Ia tak sanggup menatap Hanjoo lama-lama. Karena, ia merasakan panas di wajahnya semakin meningkat.
“Kamu norak, tahu!” Hojoon berbisik mengolok Esya.
Esya menoleh dan menatap Hojoon dengan tatapan sengit.
Hojoon mengalihkan pandangan. Kembali menatap ke depan.
Esya kesal melihat tingkah Hojoon. Ia pun kembali menatap ke depan.
“Rue mana?” terdengar suara Byungjae bertanya.
Sebenarnya Esya tak mau mendengarnya. Tapi, posisi mereka cukup dekat. Jadi, mau tak mau ia pun bisa mendengar suara Byungjae yang duduk di belakangnya.
“Masih ngobrol dengan Pangeran.” Dio menjawab.
“Kalian kenapa malah ngumpul di sini?” suara seorang gadis yang Esya kenali sebagai kakak pendampingnya.
“Di depan ada geng mutiara. Nanti, kami bisa dianggap merusuh.” Lagi-lagi Dio yang menjawab.
“Kau itu bisa saja, Dio! Tapi, lihat! Banyak yang curi-curi pandang ke belakang lho!” siswi yang menjadi kakak pendaming kelas X-8 kembali bicara.
“Karena, Rigel adalah bintang paling terang di rasi Orion. Jadi, walau mereka tersembunyi di belakang sini. Mereka akan tetap bisa terlihat.” Byungjae membanggakan gengnya membuat rekannya—kakak pendamping kelas X-8—terkekeh.
Esya turut tersenyum mendengarnya.
“Apa sebentar lagi materi lagi?” terdengar suara siswi lagi. Esya tahu itu Rue. “Sepertinya adik-adik kita mulai bosan. Mereka butuh hiburan sejenak. Agar ngantuk dan bosannya hilang.”
“Kamu bisa bilang ke Kevin. Kasihan juga lihat mereka bosan dan ngantuk begitu.” Dio memberi saran.
“Sebentar lagi sesi santai kok.” jawab siswi pendamping kelas X-8.
“Oh! Syukurlah!” Dio lega.

MC mengambil alih acara setelah sesi materi selesai. Duo senior itu kembali menghidupkan suasana dengan candaan-candaan mereka. Karena melihat keberadaan Rigel jauh di belakang sana, MC pun mengundang mereka untuk maju ke depan. Mereka meminta Rue yang menjabat sebagai Ketua Dewan Senior memberikan sambutan.
Murid-murid peserta MPLS yang mengaku sebagai Orion bersorak mendukung ketika Rue dan ketiga temannya berjalan ke depan lewat jalan di sisi kanan. Pearl dan kedua temannya kompak cemberut melihat aksi penyambutan itu.
Esya bertepuk tangan antusias. Turut mendukung Rue. Sedang Hojoon, tetap bersikap datar.
Rue menerima mic yang diberikan MC. Ia tersenyum kikuk. Tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. “Halo, semua!” Rue mulai menyapa. Para junior di depannya kembali tenang. “Aku Ruta Way. Kalian bisa memanggilku—”
“Rue!!!” seru para Orion yang duduk menjadi peserta MPLS kompak.
Rue terkejut. Lalu, tersenyum malu-malu. Ia pun berterima kasih. Kemudian memberikan ucapan selamat datang dan selamat bergabung menjadi keluarga besar SMA Horison kepada adik-adiknya.
Suasana semakin ceria dan penuh antusiasme ketika MC membuka sesi tanya jawab. Para junior diberikan kesempatan bertanya pada Rue dengan aturan hanya pertanyaan yang berhubungan dengan SMA Horison.
Pada kesempatan itu pula, Rue menjelaskan aturan-aturan tertulis namun tak secara resmi seperti peraturan sekolah yang harus dipatuhi para murid SMA Horison. Peraturan yang merupakan hasil perundingan dan perjanjian yang ia buat dengan penghuni lain, penghuni tak kasat mata yang juga tinggal di SMA Horison.
***
 


Bilik shytUrtle

Sarang Clover dan Heboh Kisah KNN Desa Penari

20:43

Sarang Clover dan Heboh Kisah KNN Desa Penari




Seperti yang kita tahu, jagad dunia maya belakangan sedang ramai membicarakan kisah horor yang diberi judul KKN Desa Penari. Viralnya cerita horor tersebut pun turut menyita perhatian penghuni Sarang Clover termasuk saya. Something creepy memang selalu menarik perhatian ya!

Sebelum hebohnya kisah KKN Desa Penari, ada beberapa kehebohan di Twitter. Salah satunya adalah tertangkapnya sosok Mr. Poci pada foto yang dipajang di Google Map. Walau saya pengguna Twitter, tapi saya sama sekali tidak tahu tentang kehebohan tersebut hingga... kalau tidak salah ingat, Kookie Noona yang menyebut saya dan bertanya apakah penampakan itu asli.

Seringnya memang begitu, saya tahu thread-thread horor viral di Twitter setelah di mention teman. Atau kadang karena kebetulan lewat di beranda saya karena di re-tweet atau di reply salah satu teman.

Untuk kisah KKN Desa Penari pun sama. Secara tidak sengaja saya menemukan teman membagikan thread-nya. Karena berbau horor, saya pun membaca thread tersebut. Pertama saya baca dari versi Widya. Tapi, tidak sampai selesai. Lalu, saya beralih ke versi Nur. Tapi, berakhir sama; tidak sampai selesai membacanya. Karena thread-nya panjang banget, saya jadi bosan di tengah-tengah dan memilih berhenti saja.

Keesokan harinya, ternyata cerita itu heboh dibagikan di Facebook. Makin hari makin rame, terus dibagikan dan dibicarakan. Banyak ulasan yang beredar pula. Bahkan Raditya Dika ikut membahas kisah tersebut dalam kanal Youtube-nya. Wah, lumayan nih. Jadi nonton videonya Bang Radit aja. Tapi, lagi-lagi tidak menyelesaikannya.

Saya sendiri heran, kenapa saya tidak bisa membaca bahkan menontonnya sampai habis. Bahkan untuk video konfirmasi pun tidak saya tonton sampai habis. Padahal biasanya thread misteri selalu saya saya baca sampai habis. Nggak peduli bacanya siang atau malam. Tapi, kenapa dengan kisah KKN Desa Penari ini?

Saya pun tidak memaksakan diri untuk menyelesaikan. Lalu, saya menemukan tulisan di Komunitas Bisa Menulis (KBM) yang meringkas kisah KKN Desa Penari. Saya membaca ringkasan tersebut. Kata penulisnya, akar masalahnya adalah cinta segitiga. Lalu, dari cinta segitiga itu ada campur tangan mistis dan ada yang terjebak zina. Ending-nya ada dua tokoh yang meninggal dunia.

Dari tulisan itu, berkembang. Saya pun jadi tahu cinta segitiga itu antara Ayu, Bima, dan Widya. Ayu naksir Bima, tapi Bima naksir Widya. Untuk mendapatkan Widya, Bima bekerjasama dengan makhluk halus. Semacam santet gitu kali ya. Eh pelet, bukam santet. Begitu juga Ayu. Lalu, Ayu dan Bima terlibat zina di tempat wingit dan mereka akhirnya meninggal.

Ada juga yang menuturkan jika sebenarnya Widya adalah korban yang akan digunakan untuk membebaskan jiwa Pak Prabu yang terikat pada desa. Bahkan katanya si Ayu juga bercinta ama Pak Prabu. Ending-nya sama, Ayu dan Bima mati.

Di tengah kehebohan itu, salah satu temen saya nanya, "Eh, kisah KKN Desa Penari itu beneran tah?"

Nah lho! Kenapa kalian selalu nanya sama sih? Saya kan bukan ahli dalam hal per-creepy-an dan per-misteri-an.

Walau mendapat pertanyaan, tapi malas melanjutkan membaca. Saya langsung tanya ke Tunjung. Eh, si Tunjung malah nggak tahu ada heboh KKN Desa Penari. "Itu apaan?" Doi balik nanya ke saya.

Saya pun menjelaskan garis besar dari cerita. Tapi, sampai detik saya menulis catatan ini, Tunjung tidak memberikan komentar sama sekali tentang KKN Desa Penari. Saya pun hanya bisa menjawab, "Maaf ya, saya nggak tahu," pada teman saya. Kamus mistisnya tutup mulut. Jadi, saya tidak bisa memberi jawaban apa-apa. Maaf ya.

Layaknya hal viral pada umumnya, KKN Desa Penari pun menimbulkan pro dan kontra. Ada yang mengklaim itu kisah nyata. Ada yang mengklaim itu hanya fiksi. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa itu hanya strategi bisnis. Bisnis? Bisnis apaan?

Saya sempat membaca postingan yang menyangkal keaslian kisah tersebut. Karena memang cerita dilabeli berdasarkan kisah nyata. Jadi, ada seseorang yang membuat postingan menyangkal keaslian kisah tersebut. Postingan panjang yang disertai fakta-fakta penyangkalan.

Fenomena lainnya yang turut muncul adalah banyak netizen yang mendadak jadi detektif. Menyelidiki keberadaan Desa Penari yang sebenarnya dan membagikannya di sosial media. Amazing banget, kan?

Lalu, apa hubungannya KKN Desa Penari dengan Sarang Clover? Nggak ada sih! Hehehe.

Semalam, saat bermain-main di Twitter, saya menemukan postingan promo buku KKN Dess Penari. Beberapa hari sebelumnya memang sempat heboh juga tentang editor yang memposting naskah KKN Desa Penari. Pro dan kontra lagi. Katanya, Bang Radit lah tokoh di balik terbitnya buku tersebut. Saya sih nggak tahu pasti, dan nggak nyari tahu juga.

Saya pun iseng membagikan postingan open PO buku KKN Desa Penari di grup Sarang Clover. Sejak kisah itu viral, nggak ada satu pun yang membahasnya di grup. Padahal biasanya yang berbau creepy ramai diobrolin di grup. Jadilah grup yang sebelumnya amat sangat hening sekali pakek banget itu ramai. Para penghuni Sarang Clover bermunculan.

Sebagian besar dari kami penasaran, tapi hanya Prime Eonni yang tamat membaca ceritanya. Dree sama dengan saya, membaca sekilas, tidak sampai habis. Sedang Kelinci malah tidak membaca sama sekali karena takut. Namun, Tunjung tidak berkomentar sama sekali.

Dari penjelasan Prime Eonni saya jadi tahu Ayu dan Bima meninggalnya kenapa. Karena di semua ringkasan yang saya baca tidak dituliskan penyebab kematian keduanya.

Cerita e mereka tiba-tiba oma gitu mba.. Pas masih di desa nya itu.. Trus dibawa pulang, 3 bulan kemudian meninggal.. 
Kata e sukma nya si ayu disuruh nari keliling hutan gantiin Badarawuhi, lha sukma si Bima kawin sama Badarawuhi nya. Gitu mba..

Membaca disuruh menari keliling hutan, saya langsung teringat pada kisah Giselle karya Akiyoshi Rikako sensei. Bedanya, dalam novel yang disuruh menari sampai mati laki-laki. Dasar otak kura ya! Hehehe.

Kami pun mengobrol tentang kisah KKN Desa Penari. Ada yang berpendapat kisah itu fiksi--yang dia tegaskan nggak tahu nyata atau fiktif, hanya saja menurutnya fiktif.

Ada yang berpendapat bahwa sebenarnya mungkin cerita itu udah sering kita denger dari versi-versi yang lebih serem, cuman ya emang cerita itu yang viral. Cerita X dulu juga gitu yang di desa Y, dalam versi lain juga mistis. Punya samean yang di desa Y juga. Cuman kalah tenar. Aku bukannya ndak percaya atau ape cuma biasa aje atau mungkin udah sering denger dari sampean. Hehehe.

Ngomong-ngomong soal pendapat di atas, sebelumnya saya sudah membahas sedikit tentang KKN Desa Penari dengan Prime Eonni. Kalau tidak salah pada salah satu postingan di Facebook saya.

Saya menulis, kenapa cerita kita yang beneran based on true story kok ndak pernah viral. Ngiri ni ye! Manusiawi dong kalau saya ngiri. Kekeke.

Tapi, saya pikir lagi, kalau misal cerita kami viral serem juga. Seremnya itu ngadepin kekepoan netizen yang sampai jadi detektif dadakan. Mencari lokasi kejadian.

Bayangin aja misal buku AWAKE viral, lalu ada orang-orang yang tiba-tiba mencari lokasi makam Meriel, atau mencari bukit tempat kami tersesat. Udah pasti kami dan saya khususnya sebagai penulis kena pro dan kontra. Itu mengerikan! Belum lagi kalau si Meriel dan makhluk-makhluk astral lainnya dalam buku protes karena merasa terusik dengan kehadiran manusia-manusia yang penasaran sama mereka.

Saya rasa saya tidak akan sanggup menanggungnya. Saya bersyukur kisah kami dan buku AWAKE tidak viral. Kalau yang mengikuti jejak kami, pasti tahu tentang buku AWAKE yang sempat 'berulah' ketika sampai ke tangan pembaca.

Oya, sebelum kisah KKN Desa Penari viral, dulu saya sering membaca thread dari Simple Man. Karena thread-nya emang tentang kisah-kisah horor. Hanya saja yang viral KKN Desa Penari. Kalau udah di bukuin, ndak menutup kemungkinan bakal dibuat film dong ya. Kayak kisah Keluarga Tak Kasat Mata.

Well, terlepas dari nyata atau fiktif, pelajaran yang bisa kita ambil dari KKN Desa Penari banyak sekali. Jaga sikap dimanapun kita berada. Karena kita hidup berdampingan dengan mereka yang tak kasat mata. Patuhi aturan dari tempat yang kita kunjungi. Dimanapun itu. Saling menghormati. Satu lagi, jangan zina di sembarang tempat. Sebenarnya sudah banyak kisah mistis berujung maut yang penyebabnya zina sembarangan.

Saya di sini hanya menuangkan unek-unek saya. Maaf jika ada salah kata. Terima kasih.


Photo by: Google search.


Tempurung kura-kura, 10 September 2019.
- shytUrtle -

Bilik shytUrtle

Tidak Mudah Hidup Dengan Anxiety.

21:26

Tidak Mudah Hidup Dengan Anxiety.



Saya sering kali ditanya, Sudah sembuh dari anxiety? Terkadang saya bingung harus menjawab apa, karena seringnya kesimpulan sembuh bagi sebagian besar orang adalah kembali 100% normal seperti sebelum terjangkit penyakit jiwa yang sangat menyiksa ini.

Siapapun pasti menginginkan untuk bisa kembali normal, 100% normal seperti sebelum sakit dulu. Saya pun demikian. Andai bisa. Yap, andai bisa. Lalu, apakah itu sama artinya kita tidak bisa 100% sembuh seperti sedia kala? Nah, saya pun jadi bingung gimana harus jelasinnya. Tapi, di sini saya akan berbagi tentang tidak mudahnya hidup dengan penyakit jiwa bernama anxiety dan psikosomatis.

Sebenarnya yang bisa mendiagnosis kita ini benar menderita anxiety dan psikosomatis tentulah melalui pemeriksaan dokter. Lebih akurat jika menemui psikiater, dan tentunya kita akan mendapatkan penanganan yang tepat jika mau berobat ke psikiater. Tapi, seringnya kita merasa, bahkan berkeyakinan bahwa kita tidak perlu. Atau kadang ada yang merasa malu jika harus berobat ke psikiater. Karena, dalam masyarakat awam, berobat ke psikiater identik dengan gila. Orang pasti tidak mau dianggap gila, kan? Padahal penyakit jiwa itu banyak macamnya. Tidak hanya gila.

Saya termasuk golongan yang tidak mengunjungi psikiater. Dulu pernah hampir mengunjungi psikiater, tapi urung. Saya sudah menuliskannya pada buku Aku, GERD-Anxiety, dan Adenomiosis. Kenapa saya urung berobat ke psikiater. Intinya waktu itu saya diberi waktu selama dua bulan untuk terapi menyembuhkan diri sendiri. Alhamdulillah terapi itu berhasil hingga saya batal berobat ke psikiater.

Pilihan ada pada kita. Kalau kita emang merasa butuh, ya udah nggak papa. Pergi aja. Karena memang ada kalanya kita tidak bisa menolong diri kita sendiri dan membutuhkan bantuan dari ahli kejiwaan. Jadi, jika memang sudah tidak sanggup mengatasi anxiety kita, jangan ragu untuk berobat ke psikiater.

Saya sering kali menulis bahwa bagi penderita anxiety, setiap detik dalam hidup adalah perjuangan. Lho? Gimana tho? Bukannya tadi di atas ditulis kalau cara self healing atau menyembuhkan diri sendirinya udah berhasil? Tapi, kok setiap detik dalam hidup adalah perjuangan? Bukannya berhasil itu artinya udah sembuh ya?

Nah, ini. Definisi sembuh itu kayak gimana? Di atas pun saya sudah menulis harapannya pasti bisa normal 100% seperti sebelum terjangkit anxiety. Sayangnya, sejak hidup bersama anxiety saya memiliki kesimpulan bahwa definisi sembuh 100% normal itu tidak ada. Kok gitu?

Sama seperti gangguan asam lambung yang biang keroknya atau penyebab sakitnya adalah asam lambung yang merupakan bagian dari tubuh kita. Anxiety juga sama. Anxiety bersarang pada pikiran kita, sedang pikiran adalah bagian dari tubuh kita. Asam lambung dan pikiran selalu ada dalam diri kita, karena merupakan bagian dari diri kita.

Cara mudah tapi tidak mudah adalah melakukan kontrol diri. Pengendalian diri dengan menerapkan 3P seperti yang diajarkan oleh suhu-suhu dalam grup GAI (GERD Anxiety Indonesia). Search aja di Facebook. Blognya juga ada. Di sana banyak tips untuk sembuh dari GERD dan Anxiety.

Jika pola makan, pola pikir, dan pola hidup (3P) kita baik dan terkendali. Inshaa ALLOH anxiety pun ikut terkendali. Ingat! Baik GERD/gangguan asam lambung dan anxiety itu bisa dikendalikan. Pun bisa kambuh lagi jika ada pemicunya.

Untuk GERD, pemicu bisa saja karena telat makan. Yap! Bisa dari hal sesimpel itu. Telat makan, perut perih, pikiran kacau. Takut ini takut itu. Jadilah anxiety nya ikutan kambuh. Tapi, yang perlu benar-benar kita waspadai dan kendalikan adalah pikiran kita. Kenapa? Stres adalah biang keroka segala penyakit. Pernah dengar tidak?

Jadi, jika pikiran kita kacau, stres maka akan merembet ke lambung. Fisik ikutan sakit. Lalu, tak jarang anxiety pun ikut kumat. Jadi, sebisa mungkin kendalikan pikiran. Jangan sampai stres.

Hidup dengan anxiety memang tidak mudah. Namun, tidak sulit juga jika kita bisa menjinakkannya. Anxiety bisa muncul jika ada pemicunya. Lalu, bagaimana jika anxiety kambuh? Biasanya dimulai dengan serangan panik atau panick attack. Lalu, sesudah itu parnonya ikutan muncul. Membuat kita takut ini takut ini. Sialnya, kadang parno ini bisa menghantui selama beberapa hari.

Minggu lalu tiba-tiba saya terkena serangan panik. Kebetulan tubuh memanh sedang dalam fase monster. Serangan panik itu terjadi di tempat kerja. Setelah menyiapkan toko, ketika saya duduk sambil bermain ponsel, tiba-tiba tubuh terasa ringan. Seolah-olah mau pingsan. Panik dong! Saya menggerak-gerakan jari-jari kaki. Lalu, minum air putih banyak-banyak. Terus berusaha menenangkan diri.

Setelah serangan panik yang boleh dibilang sekejap mata itu, tubuh langsung berasa nggak enak. Berdiri takut roboh, takut jatuh. Kepala juga sakit. Akhirnya saya meminta izin untuk rebahan sejenak. Saat rebahan, saya menerapkan pernapasan 4-7-8 dan berusaha merilekskan tubuh. Alhamdulillah sesudahnya tubuh terasa lebih baik walau masih lemes.

Setelah serangan panik, pasti menyisakan parno. Perbanyak istirahat saja. Yakinkan diri bahwa semua baik-baik saja. Keesokan harinya, di jam kritis--jam saat terjadinya serangan panik--saya menyibukan diri dengan membaca buku. Setelah menyiapkan toko, saya menghindari hape dan lebih memilih membaca buku. Kenapa? Karena hari sebelumnya saya terkena serangan panik saat main ponsel. Karena alasan itu saya menghindari ponsel. Alhamdulillah bisa melewati jam kritis.

Seringnya begitu, kan? Setelah serangan panik, menyisakan was-was dan parno. Terlebih ketika mendekati jam kritis atau waktu terjadinya serangan panik.

Memang tidak ada sebab khusus atau pemicu. Hanya saja tubuh saya memang sedang fase monster. Cewek pasti ngalamin ini setiap bulan. Untuk menenangkan pikiran, saya pun melakukan tensi. Ternyata tensi saya normal. Jadi, kesimpulan saya serangan panik itu terjadi karena tubuh dalam fase monster saja.

Bersahabat lah dengan anxiety, lalu kendalikan. Begitu cara saya hidup dengan gangguan anxiety. Sebisa mungkin hindari pemicu agar anxiety tidak muncul. Jika kambuh, terima keadaan dan berusaha untuk rileks.

Demikian sharing saya. Maaf jika ada salah kata. Semoga bermanfaat.

Tempurung kura-kura, 09 September 2019.

- shytUrtle -



Review bacaan dan tontonan

Review Novel Confessions (Kokuhaku)

15:31

Review Novel Confessions (Kokuhaku)



Judul: Confessions (Kokuhaku)
Penulis: Kanae Minato
Terbit di Jepang: 2007
Terbit di Indonesia: Cetakan pertama, Agustus 2019
Penerbit: Penerbit Haru
Jumlah halaman: 304 hlm ; 19 cm


Moriguchi Yuko adalah seorang guru SMP. Saat anaknya yang berusia 4 tahun ditemukan meninggal, semua orang mengira itu cuma kecelakaan nahas.

Akan tetapi, Moriguchi yakin anaknya dibunuh oleh dua dari anak didiknya.
Karena itu, dia tidak akan membiarkan kedua anak itu bebas.
Dia ingin membalas dendam, dan balas dendam yang dia lakukan itu hanyalah awal dari sebuah mimpi buruk....


Wow! Kata itu yang keluar dari mulut saya setelah saya selesai membaca J-Lit berjudul Confessions ini. Novel yang benar-benar membuat saya berdecak kagum setelah membaca sampai ending.

Seperti sebelumnya, saya akan membagi kesan saya setelah membaca novel J-Lit karya Minato Kanae sensei ini. Mari kita sharing!


Diurutkan dari catatan-catatan saya sebelumnya, Confessions menjadi J-Lit keempat yang menarik perhatian saya. Girls In The Dark dan sederetan karya Akiyoshi Rikako sensei saya masukan dalam kategori J-Lit pertama yang berhasil menarik perhatian saya, sekaligus merubah cara pandang saya tentang novel Jepang.

Berikutnya ada empat seri Hyouka karya Yonezawa Honobu sensei sebagai J-Lit kedua yang menarik perhatian saya. Disusul dua seri Another karya Ayatsuji Yukito sensei yang menjadi J-Lit ketiga yang menarik perhatian saya.

Ah! Rasanya kurang sopan ya kalau saya menyebut buku dan penulis lain dalam menulis tentang kesan setelah membaca buku dari salah satu penulis. Maafkan saya yang sengaja menuliskan cerita singkat bagaimana saya bisa jatuh hati pada novel J-Lit terbitan Penerbit Haru.

Alasan saya jatuh hati pada novel Confessions karya Minato Kanae sensei tentu saja karena promosi yang gencar dilakukan Penerbit Haru. Jujur saja pengetahuan saya tentang novel-novel bagus dari luar negeri sangat minus. Entah saya ini pembaca jenis apa. Melahap novel yang hanya menarik perhatian saja, mungkin?

Jadi, kamu adalah korban promosi penerbit? Hmm, boleh dikatakan begitu. Tapi, saya sama sekali tidak menyesal telah—berulang kali—menjadi korban promosi Penerbit Haru. Kekeke.

Seperti yang dibagikan Penerbit Haru pada promosinya, Confessions menerima banyak penghargaan. Dan, membaca komentar positif pembaca Indonesia, saya jadi semakin penasaran hingga akhirnya mengadopsi novel Confessions. Prosesnya melalui toko buku online langganan Toko TM Indo.

Btw, Toko TM Indo ini keren banget. Saya rekomendasikan untuk belanja buku di sana. Karena prosesnya nggak ribet. Bisa pesan lewat WhatsApp. Gampang banget, no ribet. Senengnya, Toko TM Indo selalu kerjasama sama Penerbit Haru yang notabene penerbit favorit saya. Jadi, sangat membantu sekali setiap saya pengen beli buku Haru. Terima kasih Toko TM Indo.

Karena beli lewat sistem PO, bonusnya saya mendapat satu buah totebag. Seneng banget kalau beli buku dapat bonusan. Kekeke.




Confessions terdiri dari enam bab. Saya sempat merasa bosan ketika membaca bab pertama. Mungkin karena yang digunakan adalah bahasa seorang guru kepada murid. Jadi, bahasanya terkesan kaku dan membosankan. Walau demikian, di bab pertama kita langsung disuguhi fakta mengejutkan tentang kematian Manami yang bukan kecelakaan, tapi dibunuh!

Pada bab pertama yang dikisahkan dari sudut pandang Moriguchi Yuko, bagaimana kronologi kematian Manami dan proses balas dendam langsung dijelaskan secara gamblang. Hingga membuat saya membatin, lho kok udah dijelasin semua gini? Ntar bab selanjutnya bahas apa dong? Tapi, hal itu justru membuat saya semakin penasaran untuk melanjutkan membaca.

Setelah sampai pada bab kedua, baru paham kalau setiap bab dijelaskan dari sudut pandang yang berbeda. Bab kedua diceritakan lewat sudut pandang Mizuki, sang ketua kelas dari kelas 2-B. Pada bab dua ini lah terbongkar jati diri murid A dan B yang menjadi tersangka pembunuhan Manami.

Bab ketiga diceritakan lewat sudut pandang kakak perempuan Naoki yang tak lain adalah salah satu pembunuh Manami. Tapi, detail cerita justru dari buku diary Ibu Naoki yang telah tewas dibunuh Naoki. Tuh kan serem. Ada adegan anak bunuh emaknya segala!

Bab empat diceritakan dengan menggunakan sudut pandang Naoki, salah satu pelaku pembunuhan. Bab lima, dari sudut pandang Shuya yang juga menjadi pembunuh Manami. Dan, bab enam kembali pada Moriguchi Yuko.

Seperti yang saya tulis di atas, awal membaca bab satu saya merasa bosan. Tapi, ketika masuk bab dua yang diceritakan dari sudut pandang Mizuki, mulai menarik. Di sini Sensei benar menunjukan perbedaan bahasa orang tua (Yuko Sensei) dan anak muda (Mizuki). Setiap bab gaya penuturannya berbeda sesuai karakter yang menjadi sudut pandang cerita.

Jujur ketika membaca bab dua yang dituturkan Mizuki, saya sempat bersimpati pada Shuya. Bahkan bisa dibilang saya mulai jatuh hati pada karakter Shuya. Tapi, ketika membaca penuturan Shuya, saya malah bergidik ngeri. Shuya yang sebenarnya adalah sosok yang mengerikan.

Dari penuturan masing-masing tokoh kronologi kematian Manami dijelaskan secara rinci. Alur balas dendam Yuko Sensei pun semakin jelas dengan ujung yang mengejutkan. Boom! Benar-benar boom! Dengan kesabarannya, Yuko Sensei sukses membalas dendam atas kematian putri semata wayangnya Manami. Lagi-lagi berkisah tentang kasih sayang seorang ibu yang bisa berubah menjadi senjata paling mengerikan.

Novel ini sukses mempermainkan emosi saya. Ketika Yuko Sensei yang menjadi penutur, saya layaknya murid dalam kelas yang menyimaknya dengan sedikit rasa bosan. Lalu, dibuat terkejut ketika Yuko Sensei mengungkap tentang kematian putrinya yang ia yakin karena dibunuh.

Ketika masuk pada penuturan Mizuki, seolah-olah saya lah Mizuki yang dipenuhi rasa penasaran. Yang kemudian jatuh hati pada Shuya. Tapi, ketika masuk pada bagian Ibu Naoki dan Naoki, yang ada justru rasa kesal. Dua karakter yang gemar menyalahkan orang lain atas ketidakmampuan mereka sendiri. Masuk pada bagian Shuya, saya seolah si 'orang-orang bodoh' yang dibenci Shuya. Lalu, dibuat bergidik pada kenyataan bagaimana pemikiran remaja SMP paling pintar di SMP S itu.

Novel ini juga menggambarkan bahwa pada dasarnya ada iblis yang bersemayam di dalam diri manusia dan setiap orang setidaknya pernah—walau hanya sekali saja—memiliki pikiran atau keinginan untuk membunuh seseorang. Sepolos apa pun, selugu apa pun manusia itu. Penyebabnya, cinta buta. Dalam artian bukan hanya cinta buta antara laki-laki dan perempuan. Tapi, bisa juga antara ibu dan anak.

TOP BANGET DEH POKOKNYA! Saya rekomendasikan untuk dibaca!

Benar pada bab satu kebanyakan orang mengatakan bosan. Tapi, ketika masuk bab dua, waktu seolah berjalan cepat. Tahu-tahu udah sampai pada ending yang membuat pembaca ternganga dan bisa saja bersorak, keren!


Sekian kesan saya setelah membaca novel Confessions. Oya, novel ini sudah ada live action-nya lho! Tapi, saya belum berburu hingga belum menonton bagaimana versi live action dari Confessions. Jangan ditanya, sudah pasti saya penasaran!

Maaf jika ada salah kata. Terima kasih.


Tempurung kura-kura, 05 September 2019.
- shytUrtle -




Creepy Story

Gadis Yang Membunuhku Di Dalam Mimpi

23:09

Gadis Yang Membunuhku Di Dalam Mimpi


Sebelum menulis ulang, izinkan aku meluapkan kekesalanku terlebih dahulu. Jadi, hari ini aku sudah menulis catatan ini dari pagi. Tapi, ketika tinggal menyelesaikan bagian akhir terjadi kesalahan fatal hingga seluruh catatan terhapus dari ponselku.

Sedih juga kesal! Harusnya aku menulis di aplikasi saja agar langsung tersimpan ketika tiba-tiba ada panggilan masuk atau sejenisnya. Karena, kadang jempol ini bisa saja salah tekan. Nikmati saja kesialanmu, kura! Atau jangan-jangan kisah ini tidak boleh dipublikasikan?

Bismillah. Baiklah. Aku akan menulisnya ulang. Semoga tidak terjadi kesalahan lagi. Seandainya terjadi, mungkin kisah ini memang tidak boleh dipublikasi.


Wes suro, Ngger. Seng kuat melek. Seng akeh tirakate.

Sudah masuk bulan Suro ya? Tepatnya tanggal 1 September 2019 kemarin, kan?

Pada umumnya, orang sering menghubungkan bulan Suro dengan hal-hal mistis. Pada prakteknya, bulan Suro memang cenderung bahkan khas dengan hal-hal berbau mistis dan klenik. Contohnya, pada bulan Suro biasanya pusaka-pusaka bertuah akan dikeluarkan untuk 'dimandikan'.

Selain itu, bulan Suro juga sering dikatakan sebagai bulannya kaum astral atau yang lebih populer kalian sebut dengan lelembut untuk meningkatkan kekuatan dan sejenisnya. Boleh percaya boleh tidak. Itu hak kalian masing-masing.

Tentu saja bagi orang-orang tertentu, kedatangan bulan Suro sangat ditunggu-tunggu. Oya, setiap bulan Suro, Nyai selalu mengingatkan kami untuk lebih waspada dan lebih banyak berdoa.

Ada yang bilang, pada bulan Suro segala keberkahan juga kesialan ditumpahkan secara bersamaan ke bumi. Karena itu, kebanyakan orang melakukan berbagai ritual untuk membersihkan diri demi menghindari kesialan dan menyambut keberkahan. Ada pula ritual-ritual yang digelar untuk menolak balak.

Selain itu, bulan Suro juga identik dengan kemunculan makhluk astral yang ditakuti sebagian besar masyarakat. Kalian pasti sudah tahu makhluk apakah itu. Makhluk yang konon katanya bisa membawa kematian bagi siapa saja yang disambanginya.

Aku jadi ingat salah satu kenangan dengan almarhumah Nenek. Dahulu sekali saat aku masih kanak-kanak dan selalu tidur di rumah Nenek, di malam-malam tertentu pada bulan Suro, Nenek akan mengajakku tidur di atas lantai tanah. Beralaskan tikar jerami dan bantal sapu lidi, dengan posisi kepala menghadap pintu. Katanya, dengan begitu kami tidak akan bisa terdeteksi oleh makhluk astral yang mengerikan dan hanya muncul di bulan Suro.

Tapi, dalam catatan kali ini bukan semua yang tersebut di atas yang akan  aku bahas. Tapi, tentang mimpi buruk yang aku alami menjelang datangnya bulan Suro.


Semua orang pasti pernah mengalami mimpi buruk, kan? Kalian pasti juga pernah. Mimpi buruk apa yang paling membekas dalam ingatan kalian? Pasti tidak ada yang ingin terus mengingat mimpi buruknya. Seiring berjalannya waktu, ingatan tentang mimpi buruk itu akan memudar. Terlebih otak kita tidak bisa mengingat semua kejadian dalam mimpi. Karena itu, mimpi buruk sering menjadi momen sesaat yang singgah dalam ingatan kita.

Jumat dinihari aku terbangun dari tidurku. Tanpa napas terengah-engah setelah terbebas dari sesak napas. Tapi, ada rasa nyeri di pergelangan tangan kananku. Aku memeriksa pergelangan tangan kananku, masih utuh. Tidak ada luka. Aku menghela napas lega. Aku masih hidup. Iya, aku masih hidup.

Satu hari sebelum bulan Suro tiba. Aku mendapatkan mimpi buruk itu. Mimpi tak berawal. Tiba-tiba saja aku berada di sana tanpa tahu awal mulanya. Berada di dalam sebuah ruang yang hanya tampak warna hitam bercampur abu-abu.

Lalu, tiba-tiba dia muncul. Gadis itu. Gadis berambut lurus sebawah telinga, berwarna hitam legam, dan berponi. Gadis berwajah putih pucat dengan senyum mengerikan. Tak tahu dari arah mana ia muncul. Tiba-tiba saja ia ada di depanku dan meraih tanganku. Ia berkata, "Ayo! Ikut aku! Hanya aku yang bisa membebaskanmu!" Sambil menyeretku pergi, tanpa sempat aku menghindar.

Tanpa ragu ia mengayunkan tangannya yang memegang pisau dan dengan sekali tebas, ia melukai pergelangan tangan kananku. Aku tidak bisa merasakan apa-apa. Hanya tertegun menatap luka menganga di pergelangan tangan kananku. Darah segar menetes. Ketika aku mengalihkan pandangan dan menatap gadis itu, dia menyeringai. Sungguh wajah yang mengerikan.

"Kau sudah mati!" Bisiknya. Lalu, kembali menyeringai sembari menatapku.

Aku mati? Mati? Aku mati? Mati? Mati?

Aku bingung. Benarkah aku sudah mati? Tiba-tiba aku mulai sesak. Seolah perlahan udara itu dihisap keluar dari tubuhku.

Benarkah ini? Aku mati? Aku akan mati? Mati? Sebentar lagi? Mati?

Tiba-tiba aku merasakan genggaman di pergelangan tangan kananku. Aku terkesiap dan menoleh. Dia? Dia tersenyum padaku. Lalu berkata, "Pulang yuk!"

Tunjung tiba-tiba muncul. Menggenggam pergelangan tanganku. Eh? Luka itu mana? Tidak ada?

Tanpa sempat bertanya atau mengamati sekitar, Tunjung menuntunku. Aku tidak memberontak. Berjalan saja mengikuti Tunjung. Dia membawaku pulang.

Rumah yang asing. Namun, di sana ada orang-orang yang aku kenal. Pakdhe dan ibu juga ada di sana. Tapi, semua orang itu, orang-orang yang aku kenal, keluargaku. Sama sekali tidak mengenaliku. Bahkan, Pakdhe mengatakan, aku sudah mati.

Aku mati? Mati? Sudah mati?

Tapi, Tunjung tidak melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan kananku. Ia menjelaskan jika gadis yang ada bersamanya adalah aku. Aku yang mereka kenal.

Aku pun terbangun. Jumat dinihari, satu hari menjelang bulan Suro. Bukan, dua hari. Artinya, satu hari sebelum malam satu suro ya? Selanjutnya, aku terjaga hingga pagi. Takut untuk kembali terlelap. Takut mimpi buruk lagi.


Jangan terlalu dipikirkan! Mimpi itu hanya bunga tidur. Mimpi buruk bisa terjadi karena pengaruh stres. Pengaruh pikiran kita yang kacau. Tapi, aku tidak sedang kacau walau sedang berada pada fase monster.

Ada yang bilang, mimpi itu bukan sekedar bunga tidur. Bisa jadi mimpi adalah pralambang atau pertanda yang dikirim untuk kita.

Aku bukan tipikal orang yang bisa mengabaikan mimpi begitu saja. Aku tipikal orang yang mudah penasaran. Terlebih karena ada Tunjung di dalam mimpiku. Kami memang sangat dekat. Tapi, kemunculan Tunjung di dalam mimpiku sangat jarang. Seringnya, mimpi bersama Tunjung bukanlah 'sekedar bunga tidur'.

Pernah aku bermimpi mengunjungi suatu tempat bersama Tunjung. Lalu, aku bercerita tentang mimpi itu padanya. "Kamu nggak mimpi kok. Semalam aku emang ngajak kamu jalan-jalan," komentarnya enteng.

Emang bisa?

"Bisa! Gampang kayak gitu. Tinggal panggil dan ajak jalan."

Begitu ya? Kalau dipikir-pikir, ini bukan kali pertama Tunjung datang menolongku dalam mimpi. Dan, bukan kali pertama ada gadis cantik namun mengerikan dalam mimpiku. Gadis itu beberapa kali ada di dalam mimpiku. Tingkahnya selalu aneh. Selalu mengajakku pergi bersamanya.

Pernah dia mengajakku berjalan bersama pada jalan yang gelap dan tak berujung. Hingga tiba pada sebuah persimpangan. Di persimpangan itu, Tunjung menungguku. Lalu, mengajakku berjalan ke arah kanan. Bukan arah kiri seperti yang disarankan si gadis.

Pernah pula gadis itu berkata jika aku sudah mati dan mengajakku menyusuri sebuah jalan yang lebih mirip pasar. Lagi-lagi Tunjung datang untuk menuntunku ke jalan yang benar.

Aku pun menceritakan mimpiku pada Tunjung. "Biasalah. Kan Suro udah di depan mata. Kamu juga udah tahu dia siapa," responnya.
"Tapi, kenapa rambutnya pendek?" Aku penasaran. Karena sebelumnya gadis itu berpenampilan rambut panjang hitam terurai. Walau sama-sama lurus, rasanya aneh melihatnya berambut pendek.
"Habis smoothing di salon kali dia." Jawab Tunjung enteng.
Aku tersenyum simpul. Bukankah merubah penampilan memang hal mudah bagi mereka. Semudah kita berkedip.
"Seperti manusia, mereka itu kalau punya keinginan pun selalu berusaha keras untuk mendapatkannya. Sampai menambah kekuatan dan sejenisnya."
Aku bergidik ngeri mendengarnya.
"Hati-hati! Dia pasti akan datang kelak saat kamu di ujung maut. Seperti yang dia katakan tentang dia nggak mau pergi ninggalin kamu. Dia pasti akan terus berusaha untuk mendapatkanmu. Bahkan jika napasmu sudah di tenggorokan. Dia menginginkan jiwamu untuk ada bersamanya."


Tempurung kura-kura, 05 September 2019.
- shytUrtle -

Search This Blog

Total Pageviews