It's Our Creepy Story: Kolong Wewe Numpang Ngumpet

05:37

Photo by Google search.


Note: Terserah mau percaya atau nggak. Mau anggep saya ngarang atau apa. Itu hak asasi masing-masing. Di sini aku hanya membagi cerita tentang kejadian yang kami alami.


Cerita dimulai pada hari Rabu malam. Aku berada di markas bersama bocah-bocah seperti tempo hari. Dan memang sebulan sekali setiap hari Rabu Wage sampai Jumat Legi, markas pasti rame. Jadi tempat penitipan bocah-bocah 😂😂😂


Emaknya bukan pada pergi buat ritual ya. Tapi, kerja jualan kembang yang paling laris pas Rabu Wage dan Kamis Kliwon. Di tempat kami setiap bulan pada Kamis Kliwon, para warga punya tradisi ziarah ke makam. Karenanya, sebulan sekali beberapa dari kami mengais rejeki dengan berjualan kembang untuk ziarah ke makam. Lumayan buat tambahan penghasilan. Aku dulu juga gitu. Sayangnya udah berhenti sejak beberapa tahun yang lalu.


Dari siang udah ramai di markas. Aku kebetulan dapat bagian momong si Tahu Bulet. Emaknya Tahu Bulet sibuk jualan kembang dari hari Rabu siang. Jam kerjanya siang sampai sore, kadang sampai habis maghrib. Tergantung sepi/ramainya pembeli.


Karena belakangan hawanya panas banget, suhu di dalam markas pun turut naik. Nah, pas habis maghrib si Tahu Bulet oyeng. Minta ngisis. Kami pun duduk-duduk di teras samping markas. Ini semacem udah ada sinyal khusus atau entah apa, si Njung Beb main ke markas. Seneng sih ada temen, karena ortu lagi keluar kulakan kembang buat nenek. Tapi, kenapa Tunjung coba 😂😂😂


Lagi asik duduk-duduk, Tahu Bulet tiba-tiba ketakutan dan nangis. "Eh, kenapa ini Tahu Bulet tiba-tiba nangis?" Aku sambil berusaha nenangin. Sedang Tunjung mendadak siaga.


Feeling udah nggak enak. Sebut aja malam sakral atau malam yang dikeramatkan, ada Tunjung, dan bayi yang tiba-tiba nangis ketakutan. Pasti something happen dan aku nggak tahu itu apa.


"Sini biar aku gendong. Kamu nyalain lampu sana." Tunjung mengambil Tahu Bulet dari gendonganku.


Memang sih di ruangan tempat naruh motor, deket kandang burung jarang dinyalain lampunya. Karena pencahayaan dari dapur udah cukup terang. Jadi, lampu di ruangan itu dinyalakan pada saat tertentu saja. Bahkan, sangat jarang. Btw, di deket kandang burung itu tempat Jeff liat Mr. Poci pas awal-awal kami pindah kr markas baru.


Aku nyalain lampu. Tahu Bulet udah nggak nangis. Tapi, masih waspada. Ia menggenggam erat baju Tunjung. Sambil terus memperhatikan ke arah atap lemari barang yang berada di dalam ruangan dekat kandang burung.


"Iya, Nak. Itu yang nakal. Pukul saja. Tangan takut!" Ujar Tunjung pada Tahu Bulet.
"Ada apaan sih?" Tanyaku penasaran.
"Biasalah. Habis maghrib ada anak kecil. Ada yang dateng."
"Apaan yang dateng?"
"Udah jangan dibahas."


Kamis pagi. Rasanya lega banget usai golden monkey alias keramas 😂😂😂
Udara yang panas bikin rambut cepet kotor. Keramas pagi-pagi bikin fresh. Perasaan jadi ikut membaik. Perasaan yang membaik. Fisik berasa aneh. Capeknya kebangetan sampai pundak sebelah kanan sakit. Padahal udah biasa momong Tahu Bulet. Jadwal seminggu dua kali malahan momong. Tapi, ndak pernah secapek itu. Usai sarapan, kepalaku malah pusing.


Kebetulan tanggal merah. Jadi, libur. Nggak kerja. Tahu Bulet di antar agak pagian ke markas. Emaknya mau dines lagi. Jualan kembang lagi. Momong sambil nahan sakit kepala. Alhamdulillah Tahu Bulet nggak rewel. Malah banyakan bobok, walau boboknya minta gendong.


Karena Kamis, sampai maghrib emaknya Tahu Bulet belum pulang. Lagi rame kayaknya jualan kembangnya. Lagi-lagi Njung Beb yang nemenin. Udah nggak tahan sama sakit kepala, aku kasih Tahu Bulet ke Tunjung. Aku rebahan di dalam tempurung kura-kura. Tunjung sama Tahu Bulet ngisis di teras samping. Jendela tempurung kura-kura terbuka. Kebetulan ada Nduk Ra juga di markas. Dia nggak ikut ortu kulakan kembang buat nenek.


Lagi fokus rileksasi, tiba-tiba Tahu Bulet nangis kejer. "Nduk Ra, tolong ambilin garam! Jangan garam yang dibuat masak ya!" Tunjung berteriak.
"Ada apa?" Tanyaku dari dalam kamar.
"Aduh, U! Masuk ke kamarmu!"
"Apa?!!"
"Cepet keluar!!!"
Aku bergegas keluar dari dalam tempurung kura-kura. Berlari ke teras samping. Mengambil Tahu Bulet yang menangis dalam gendongan Tunjung.
"Ada apa lagi?" Tanyaku pada Tunjung yang sedang sibuk menaburkan garam di teras samping.
"Yang kemarin datang lagi. Tak serang lari ke kamarmu."
"Haduh! Trus, gimana?"
"Udah nggak papa."


Karena parno, Kamis malam aku tidur nyalain lampu tidur. Padahal sejak pindah ke tempurung yang baru (?), lampu itu jarang digunakan. Kalau lampu tidur nyala, berarti dalam situasi genting atau aku dalam kondisi parno alias ketakutan. Hehehe.


Jumat pagi, sakit kepala masih ada. Malah semakin siang semakin terasa sebagai migren. Sakitnya sampai ke pundak kanan. Tetep kerja, hanya setengah hari karena siangnya ada tugas yang harus dikerjakan. Pergi sama Thata. Niatnya mau sekalian beli degan ijo. I think I need degan ijo. Tapi, kenapa para penjual degan ijo yang biasa aku beli pada nggak jualan? Oh, mungkin karena Jumat Legi jadi pada libur. Kami pulang tanpa membawa degan ijo.


Sampai markas, ada Tunjung. Mulai lah aku berkeluh kesah ke dia.
"Butuh degan ijo nggak sih?" Tanyaku.
"Nurut kamu gimana?" Tunjung balik bertanya.
"Kamu ini ditanya malah balik tanya."
"Aku capek tahu! Pakek insting kamu dong, perlu nggak. Percayain insting kamu. Kan nggak pernah salah tuh! Tapi, aku liat normal kok."
"Nggak ada faktor X ya?"
"Nggak ada."
"Jadi, minum obat aja?"
"Iya."


Jumat malam, bikin herbal tea jahe+adas bintang+pala. Setelah minum tidur, tanpa minum obat. Alhamdulillah tidurnya lelap.


Sabtu pagi, ada WhatsApp dari Tunjung.


[12/5 8.09 AM] Njung Beb: Gimana pusingmu?
[12/5 8.09 AM] Kurayui 🐢: 🤣
[12/5 8.10 AM] Kurayui 🐢: Alhamdulillah udah ilang yang migren. Tanpa obat.
[12/5 8.12 AM] Njung Beb: Alhamdulillah...
[12/5 8.12 AM] Njung Beb: Berarti sudah pergi dia
[12/5 8.12 AM] Njung Beb: Yang lari ke umak kemarin itu
[12/5 8.13 AM] Kurayui 🐢: Anjir! Emang dia nemplok di aku?
[12/5 8.13 AM] Njung Beb: Anjir dewe
[12/5 8.14 AM] Kurayui 🐢: Emang iyo nempok di aku???
[12/5 8.28 AM] Njung Beb: Kiro2...
[12/5 8.30 AM] Kurayui 🐢: Nempel kayak biasae apa piye? Jare pean ndak ada faktor X. Kok sekarang kayak gini 😭
[12/5 8.39 AM] Njung Beb: Gpp
[12/5 8.54 AM] Kurayui 🐢: Itu ancen dia nemplok gitu di aku? Apa gimana?
[12/5 8.55 AM] Njung Beb: Ya berlindung kan kemarin itu yang tak uber itu masuk kamarmu
[12/5 8.55 AM] Njung Beb: Kamu gak ndang metu
[12/5 8.55 AM] Njung Beb: Lha dia tau q g tega nyakitin kamu
[12/5 8.55 AM] Njung Beb: Trus q lak pulang se
[12/5 8.56 AM] Njung Beb: Pagi ne q kesana lagi eh dindong umak
[12/5 8.56 AM] Njung Beb: Ngelayat gitu di bahu
[12/5 8.56 AM] Njung Beb: Ya wis hajar
[12/5 8.57 AM] Kurayui 🐢: 😨
[12/5 8.57 AM] Kurayui 🐢: Kok kurang ajar emen 😟
[12/5 8.57 AM] Njung Beb: Apane umak gak sigap se
[12/5 8.57 AM] Kurayui 🐢: Mangkane kesel e ra umum. Aku gak tau ngemong Tahu Bulet secapek itu
[12/5 8.58 AM] Njung Beb: Eh'hem...
[12/5 8.58 AM] Njung Beb: Mau nya dia nggoda si tahu bulet
[12/5 8.58 AM] Njung Beb: Aku lg tempramen waktu itu jd antem kromo
[12/5 8.59 AM] Njung Beb: Dia sungitan di kmu
[12/5 9.03 AM] Kurayui 🐢: Kan dari Kamis pagi itu kroso e. Ngelu mari sarapan karo empok.


Jadi, itu makhluk dari Rabu malem dah di markas. Kamis malem godain Tahu Bulet lagi dan bikin Tunjung marah. Dihajar sama Tunjung, dia lari masuk ke dalam tempurung kura-kura. Karena aku kurang sigap, kurang cepet menghindarnya, dia ngumpet di balik punggungku. Jumat pagi pas Tunjung datengin aku, dia lihat itu makhluk gendong aku. Bergelayut di pundakku. Tunjung kesel liatnya, dihajarlah makhluk itu.


Pas aku tanya makhluknya kayak apa, Tunjung kasih aku gambar ini. Setelah aku googling, ternyata namanya Kolong Wewe. Kalau di sini dikenal Wewe Gombel.


Untung nggak bisa lihat. Bayangin aja, makhluk wujudnya kayak gini gendong di punggung, bergelayut di pundak. Kalau bisa lihat, mungkin dah pingsan aku 😭😭😭


Based on true story.
Tempurung kura-kura, 12 Mei 2018.
- shytUrtle -

 

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews