Khayalan shytUrtle

Fly High! - Sepuluh

07:58

Fly High!



Sepuluh


Jia dan Oi berdiri di barisan paling depan dalam kerumunan yang sedang mengerubungi malajah dinding sekolah. Senin pagi pengumuman peserta audisi yang lolos untuk mengisi pentas seni ulang tahun sekolah sudah dipasang di majalah dinding sekolah. Karenanya, usai upacara bendera murid-murid peserta audisi menyerbu majalah dinding sekolah, termasuk Al dan Oi.

Al yang tak terlalu suka dengan keramaian sebenarnya mengajak Oi melihat pengumuman saat jam istirahat saja. Karena, jika setelah bubaran upacara pasti ramai. Tapi, Oi sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya. Saat upacara bendera usai, Oi mengajak Al langsung menuju majalah dinding sekolah. Jia turut bersama mereka.
Karena malas berdesak-desakan, Al menunggu di belakang kerumunan. Sedang Oi dan Jia rela berdesak-desakan hingga bisa mencapai barisan paling depan. Jia dan Oi membaca daftar nama peserta yang lolos dengan pelan.
“Kok nama kalian nggak ada?” Jia membaca ulang daftar peserta audisi yang lolos. “Eh, Eri lolos! Itu nomer lima belas. Kalian nggak lolos?”
“Alhamdulillah.” Oi tersenyum lebar. Ia pun tak menemukan Al & Oi dalam daftar peserta audisi yang lolos. “Ayo wes!” Ia mengajak Jia pergi.
“Gimana?” Sambut Al saat Oi dan Jia menghampirinya.
“Kita nggak lolos.” Jawab Oi dengan wajah dihiasi senyum.
“Alhamdulillah.” Al tersenyum lega.
“Awakmu iki edan a rek?” Jia bingung melihat reaksi Al dan Oi. “Nggak lolos kok pada alhamdulillah.”
“Kalau lolos malah repot kan? Kalau nggak mau nampilin yang kemarin itu kudu nyari lagu lagi. Latihan lagi. Hafalan lagi. Ribet tau!” Oi merangkul Jia.
“Iya juga sih. Eh, Eri lolos lho.”
“Masa? Wah, nomer tujuh emang lucky number ya.” Al tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
“Padahal nurut aku bagusan penampilan kalian daripada Eri.” Jia mengungkapkan penilaiannya saat berjalan menuju kelas XI-IPA2. Ia berjalan di tengah, di antara Al dan Oi. “Eri tuh teriak, bukan nyanyi. Heran deh dia bisa lolos.”
“Tapi, dia bisa nyanyiin nada tingginya dengan baik lho.” Al menanggapi.
“Iya tahu. Tapi, itu tetep aja teriak namanya. Bukan nyanyi. Masa ntar dia mau nyanyi lagu itu juga?”
“Kita liat aja ntar.”
“Gimana? Lolos?” Sambut Nurul saat Al, Jia, dan Oi tiba di kelas. Ia sengaja menunggu di meja Oi.
“Lolos jadi penonton.” Jawab Oi.
“Lhah? Jadi nggak lolos?” Tanya Aning.
“Alhamdulillah nggak lolos.” Al tersenyum riang.
“Yah… nggak lolos?” Rifqi kecewa. “Padahal aku ngarep kalian lolos.”
“Eri yang lolos.” Oi mengabarkan jika Eri lolos audisi.
“Moso??” Rifqi melotot tak percaya. “Padahal suaranya biasa aja. Nyanyinya juga ngotot. Nada nggak kuat dikuat-kuatin.”
“Kok umak tahu?” Tanya Fuad yang berdiri di samping Rifqi.
“Kan aku nginceng pas audisi. Kamu se ndak dateng.” Rifqi kembali memperhatikan Al dan Oi. “Kalian nggak lolos kok malah berseri-seri gitu mukanya? Seneng?”
“Iya lah. Nggak bisa bayangin tampil di panggung pentas seni yang tinggi dan besar.” Oi mengusuk kedua lengannya. Ia merinding hanya dengan membayangkan berada di atas panggung pentas seni ulang tahun sekolah.
Eri masuk ke dalam kelas. Tiara dan Nesya langsung menyambutnya dan memberi selamat. Murid-murid yang berkumpul di meja Oi turut memperhatikan. Eri dan ketiga temannya berbicara dengan keras. Lalu, mereka tertawa bersama-sama. Eri pun sesekali melirik ke bangku Oi.
Oi memiringkan kepala dan tersenyum melihat tingkah Eri. “Eri, selamat ya. Kamu lolos.” Ia pun memberi ucapan selamat dengan suara lantang.
“Kalian nggak lolos ya? Padahal pengenya maju bersama.” Eri menyunggingkan senyum. Mencibir Oi.
“Kita nggak bisa maju bersama. Kamu kan bukan pecinta udel dan plastik.”
Murid-murid yang berkumpul di sekitar meja Oi kompak tersenyum mendengar sindirian Oi untuk Eri.
“Bisa dong! Al kan suka Westlife. Kamu juga kan? Aku juga suka. Jadi, kita bisa maju bareng. Apa perlu aku bilang ke panitia kalau nanti aku tampil sebagai grup? Sama-sama penyuka lagu 90-an. Jadi, bisa maju bersama.”
“Nggak deh makasih. Kami malah seneng nggak lolos. Hilang deh beban di pundak. Rasanya lega banget.”
“Padahal udah syukuran ya. Sayang banget nggak lolos.”
“Syukuran bukan untuk merayakan lolos kok. Tapi, untuk merayakan kami. Comeback-nya mantan artis cilik kampung Welas ke panggung hiburan.” Oi membusungkan dada. Ia sama sekali tak terlihat sedih walau tak lolos dan diejek Eri. Bahkan, ia menyebutkan julukan masa lalunya bersama Al dan Gia; Artis Kampung Welas.
“Dasar arek gendeng!” Eri mencibir lalu menghadap ke depan kelas. Memunggungi Oi dan teman-temannya.
Arwan masuk ke dalam kelas. Disusul guru yang akan memberi materi. Murid kelas XI-IPA2 pun segera membubarkan diri untuk duduk di bangku masing-masing.
***

Al, Oi, Aning, Jia, Nurul, Arwan, Rifqi, Fuad, dan Yani berkumpul di kantin untuk makan siang bersama saat jam istirahat. Mereka sengaja berkumpul mendekati jam istirahat berakhir karena menghindari antrian padat. Mereka duduk berkumpul di meja yang letaknya berada di ujung paling timur di dalam kantin.

“Wan, gimana ceritanya Eri bisa lolos?” Rifqi yang merasa keputusan dewan juri tidak adil merasa penasaran.
“Anak pandai yang dekat dengan beberapa guru. Prestasi di ekskul juga lumayan. Nilai plus katanya.” Jawab Arwan.
“Sudah kuduga. Padahal suaranya biasa aja.” Jia masih kesal karena Al dan Oi tidak lolos.
“Katanya nyari yang sempurna. Kalau gini, apanya yang sempurna?” Rifqi pun sama kesalnya.
“Sempurna berdasarkan penilaian manusia itu relatif. Sempurna nurut kita, belum tentu sempurna nurut orang lain, kan?” Al ngimbrung dalam obrolan.
“Iya juga sih.” Rifqi membenarkan pendapat Al.
“Itu sempat jajak pendapat lho!” Ujar Arwan.
“Jajak pendapat?” Oi memiringkan kepala. Merasa tak paham.
“Iya. Jadi, waktu jajak pendapat buat nentuin siapa aja peserta yang lolos, Pak Iskandar memperjuangkan Al sama Oi buat lolos. Menurut beliau penampilan Al dan Oi unik. Pak Pri juga mendukung. Tapi, kalah suara aja.”
“Itu diskusi namanya. Bukan jajak pendapat.” Oi meralat pemilihan kata yang digunakan Arwan.
“Yo wes apalah itu. Pokoknya rundingan buat nentuin peserta yang lolos. Nilai Al dan Oi juga beda tipis sama Eri. Tapi, kalah voting. Jadi, sebenernya kalau banyak yang milih Al dan Oi, mereka udah pasti lolos. Selisihnya satu suara aja.”
“Beti ya. Beda tipis. Tapi, harusnya kalau nilai udah masuk kategori untuk lolos kan bisa lolos.” Nurul menyesalkan penyebab Al dan Oi tidak lolos audisi.
“Ada yang langsung dilolosin karena nilainya emang memenuhi syarat lolos. Tapi, ada yang butuh untuk dirundingkan kayak kasus Al dan Oi.”
“Apa emang satu kelas wakilnya satu aja?” Tanya Jia.
“Nggak deh kayaknya. Kalau ada target gitu, tiap kelas jadi wajib dong ngirim perwakilan buat ikutan audisi. Ini kan bebas. Siapa aja boleh ikut asal memenuhi syarat audisi.” Oi menjawab pertanyaan Jia.
“Mungkin jurinya puyeng karena nggak ngerti bahasa India dan Korea.” Sahut Aning asal-asalan.
“Hahaha. Iya bisa jadi.” Jia membenarkan.
“Kalau dipikir-pikir, pendapat Mey Eonni bener juga.” Oi seolah bergumam pada dirinya sendiri.
“Apa pendapatnya?” Nurul penasaran.
“Kalau nyanyi pakek lirik asing, spelling-nya susah kalau kudu sama persis kayak spelling aslinya. Karena kita belajar otodidak dari lagu yang kita dengar. Tapi, kalau kita bisa nyanyi dengan nada yang tepat dan meresapi lagunya, pesan lagu pasti bisa tersampaikan. Menyentuh hati pendengarnya. Apa kami kurang meresapi saat nyanyi ya? Walau nggak ngerti liriknya, kalau kami nyanyinya meresapi kan bisa nyentuh hati dewan juri yang dengerin kami nyanyi.”
“Bisa jadi. Tapi, kata Arwan nilai kalian beda tipis sama nilai Eri. Jadi, sebenernya juri terkesan dong sama penampilan kalian.”
“Kalian harusnya bikin sajen dan minta bantuan dukun biar bisa lolos.” Celetuk Rifqi. Membuat teman-temanya tertawa dan beberapa mengoloknya.
***

“Nggak papa. Yang penting kalian udah berusaha dan memberikan penampilan yang terbaik.” Meyra tersenyum tulus. Ia tak terlihat terkejut ketika mendengar kabar tidak lolosnya Al dan Oi dari Al.

“Mey Eonni udah tahu ya kalau kami nggak bakalan lolos? Kayaknya nggak kaget gitu tahu kami nggak lolos.” Oi penasaran.
“Ajaib namanya kalau kalian langsung lolos pada percobaan pertama. Kecuali kelas kalian emang udah sekelas artis ibukota Malang.”
“Dih! Ibukota Malang.” Al mencibir.
“Aku tahu kalian udah latihan keras. Menurutku penampilan kalian pun udah bagus. Mengingat ini pertama kalinya kalian balik naik panggung setelah vakum lama. Bukan hal aneh kalau kalian nggak lolos. Walau hanya dalam lingkup SMA Wijaya Kusuma, tapi ada berapa murid di sana? Seribu? Bahkan mungkin lebih. Dari seribu itu berapa murid yang berbakat. Pasti tidak sedikit. Dibanding mereka yang benar-benar serius mempersiapkan untuk audisi, kalian nggak ada apa-apanya.”
“Iya juga sih.” Oi membenarkan pendapat Meyra. “Jujur perasaan Eonni gimana?”
“Munafik kalau aku bilang aku nggak ngarep kalian lolos. Tentu aja aku ngarep kalian lolos dan nunjukin ke Eri kalau si pecinta udel dan plastik ini punya bakat. Bukan sekedar fans biasa. Tapi, aku cukup tahu diri. Mengingat kalian vakum lama. Trus, kurangnya persiapan juga.”
“Pasti Mbak Mey udah yakin dari awal kalau kami nggak bakalan lolos.” Al menebak.
“Pemikiran itu ada. Tapi, nggak salah kan kalau aku berpikir positif dan ngarep kalian lolos? Aku udah nembung omongan ke Ryo. Minta tolong buat bikin instrumen buat kalian kalau kalian lolos. Karena kalian nggak lolos, aku bisa ngirit pengeluaran jadinya.”
“Maaf ya Eonni. Kami selalu merepotkan.”
“Baru nyadar ya?”
Al dan Oi tersenyum malu.
“Videonya aku unggah ya. Ke Youtube sama Facebook. Ntar di IG juga.”
“Emang nggak malu-maluin apa?” Al memanyunkan bibir.
“Udah biasa malu-maluin kan?”
“Itu kan Mbak Mey. Kami nggak.”
“Nggak salah?”
Ketiga gadis yang sedang berkumpul di kamar Meyra itu pun tertawa bersama.
“Videonya udah di edit Eonni?” Tanya Oi.
“Sedikit lagi. Ntar kalau udah aku unggah, share ya.” Pinta Meyra.
“Siap! 86!” Oi ala-ala anggota polisi.
“Kalian masih sebel sama Eri? Karena dia lolos?”
“Dia tiap hari nyebelin Eonni. Kalau masalah dia lolos mah do amat!” Jawab Oi.
“Al?”
“Sama kayak Oi. Tapi, aku masih sakit hati gara-gara dia ngatain Mbak Mey.”
Meyra tersenyum. “Cuekin aja. Toh ini bukan yang pertama, kan?”
“Makanya Eonni nikah sana! Biar nggak diledekin mulu.” Oi bercanda seperti tempo hari jika mendengar Meyra diolok karena tak kunjung menikah.
“Kan udah nikah ama Mas Jeje. Orang-orang aja yang nggak tahu.”
“Hadeh! Nikah beneran Eonni!” Oi memutar kedua bola matanya.
Meyra diam sejenak dan berpikir. “Sama kayak mati dan rezeki, jodoh itu rahasia Tuhan. Sekarang aku hanya menjalani dan menikmati hidup. Selebihnya, ngikut apa kata Tuhan.”
Sejenak suasana berubah hening di dalam kamar Meyra.
“Kalau nikah hanya buat kita sakit, ngenes, ya mending nggak. Ya, kan? Tapi, kalau Tuhan ngasih rezeki buat nikah. Saat tiba waktunya, aku pasti nikah.”
“Iya juga sih. Lagian kalau nurutin omongan orang, nggak bakalan tenang idup kita.” Oi tersenyum pada Meyra.
“Nah, udah tahu gitu. Yang penting, bahagiain diri kalian dulu. Lalu, orang tua kalian. Lainnya mah belakangan aja.”
Al dan Oi kompak tersenyum mendengarnya.
“Hidup bisa santai dan enjoy kayak Eonni tuh bikin ngiri.”
“Kok demennya ngiri mulu. Sekali-kali nganan napa?”
“Hahaha. Iya ya. Jangan ke kiri mulu. Sekali-kali ke kanan.” Oi tergelak.
“Semua itu butuh proses. Kalian udah tahu kan gimana aku sebelum aku sampai di titik ini?”
Al dan Oi terdiam. Menatap iba pada Meyra.
“Untuk kalian, kehidupan baru dimulai. Jalan kalian masih panjang. Jalani dan nikmati. Nggak ada jalan yang mulus. Jalan tol aja kadang masih terasa gronjal-gronjal. Tapi, jangan pernah takut. Ada Tuhan bersama kita. Kalau kata Mbah Sujiwo Tejo, Tuhan Maha Asik. Itu beneran. Asal kitanya asik, Tuhan pun pasti asik. Yang penting, jangan lelah untuk berusaha dan berdoa. Selebihnya, serahin pada Tuhan.”
“Aku merasa beruntung bisa kenal dan deket sama Mey Eonni. Dulu aku sering berpikir, beruntung banget Al punya kakak kayak Mey Eonni. Nggak kayak aku, di rumah laki semua. Aku yang bungsu sering jadi bahan bullyan mas-masku.”
“Itu tanda sayang lho!” Meyra menghibur. “I feel you as anak bungsu.”
“Bungsu atau sulung, tengah sama aja. Tergantung gimana kita nikmatinya. Ya kan, Mbak?” Al menghibur Oi.
“Betul!” Meyra sembari menuding Al.
“Aku juga sering berpikir, enak banget jadi Oi. Anak bungsu, berkecukupan. Mau apa tinggal minta.”
“Semua itu sawang sinawang. Dan, seringnya rumput tetangga tampak lebih hijau. Boleh sesekali kita mendongak. Tapi, yang terbaik adalah banyak menunduk dan merenung. Itu akan membuat kita lebih banyak bersyukur atas keadaan kita. Just enjoy your life, girls. And be yourself!” Meyra menghibur Al dan Oi.
“Boleh peluk Eonni nggak?” Tanya Oi.
Meyra pun membuka lebar kedua tangannya. Oi segera maju dan memeluk Meyra.
“Gomawo[1], Eonni.” Bisik Oi.
Al tersenyum menatap Meyra dan Oi yang berpelukan. “Dasar lesbian pecinta udel dan plastik.” Ia memotret Meyra dan Oi yang sedang berpelukan. “Aku unggah foto kalian, lesbi!”
“Unggah aja! Do amat!” Oi tidak peduli pada ancaman Al. Membuat Al menatapnya kesal. Sedang Meyra, tertawa melihat tingkah kedua adiknya.
***

Tidak ada yang berubah tentang Eri. Ia masih gemar mengolok Al dan Oi. Bahkan, ia semakin congkak setelah berhasil lolos audisi. Ia merasa menang dan lebih unggul dari Al dan Oi. Oi tak ambil pusing. Ia pun meminta Al cuek.

“Kamu tahu nggak apa yang bikin bunga bisa tumbuh subur dan berbunga indah? Pupuk, kan? Pupuk ya ng paling murah apa? Tai, kan? Anggep aja Eri tuh tai yang jadi pupuk kita tanaman bunga. Nanti, kita pasti akan tumbuh subur dan berbunga indah.” Oi saat berdua saja dengan Al.
“Kasar banget sih. Masa Eri disamain sama tai.” Al memprotes. “Emang kamu mau disamain sama tai? Udah bau, nggak ada yang mau lagi.”
“Hahaha. Kalau aku mah bukan tai. Tapi, bunga bangkai. Cantik dan elegan, tapi sulit buat dideketin. Karena baunya. Tapi, justru bau itu yang menarik perhatian.”
“Sak karepmu Oi!”
Ponsel Oi dan Al sama-sama bergetar. Keduanya pun langsung mengeceknya. Pesan dari Meyra. Berisi sebuah tautan dari Youtube dan Facebook.
“Eh, udah di upload!” Oi antusias.
“Kayaknya iya.” Al yang sedang menatap ponselnya pun bereaksi sama. Keduanya pun segera membuka tautan yang dikirim Meyra.
Benar dugaan Al dan Oi, Meyra sudah mengunggah video penampilan mereka saat mengikuti audisi di akun Facebook dan kanal Youtube-nya.

Gara-gara dikatain pecinta plastik dan udel, dua cewek ini ikutan audisi bawain lagu Korea dan India (dua lol emoticon)
Sayang belum beruntung (cry emoticon)
Tetep semangat ya dongsaeng-dongsaeng[2] nya eonni (dua kiss emoticon)
I’m proud of both of you (love emoticon)
Akhirnya kalian comeback juga setelah vakum hampir 5 tahun (smile emoticon)
Kapan nih trio AOG bisa comeback sama-sama lagi?
#coversing #kpop #hallyuwood #bollywood #wannaone #blackpink #energetic #whistle #jeenajeena #AtifAslam #badlapur

“Caption-nya Mey Eonni random, tapi bikin baper.” Oi usai membaca tulisan yang menyertai unggahan video penampilannya dan Al di Facebook. “Apa perlu kita mention Gia?”
“Boleh. Eh! Ini kita bertiga di mention di komentar.” Al menuding layar ponsel di tangan kanannya.
“Kita share ya videonya. Kamu juga. Jangan malu. Biarin aja kalau Eri baca. Kamu bertemen kan sama dia di Facebook?
“Iya.”
“Aku nggak. Hahaha. Aku bagiin ke yang lain juga ah.” Oi pun membagikan tautan yang dikirim Meyra pada nomer teman-teman sekelasnya yang ia simpan.
“Kalau kamu share videonya, apa Eri bakalan tahu ya?” Oi penasaran.
“Penasaran banget sih umak!”
“Pengen tahu reaksinya. Caption-nya Mey Eonni kan jelas banget nyindir dia. Sengaja apa gimana si eonni tuh? Harusnya kita di tag aja ya. Bukan di mention di komentar kayak gini.”
“Kan kamu tahu Mbak Mey itu kadang merasa nggak enak kalau tag. Katanya, ya kalau yang di tag suka, kalau nggak suka dan merasa terganggu kan nggak enak.”
“Tapi, ini kita. Mey Eonni lebay ah.”
“Eh, di kelas pada heboh karena video kalian.” Jia menghampiri Al dan Oi yang duduk di depan perpustakaan. Ia datang bersama Nurul. “Caption-nya lho aku suka!” Ia duduk di bangku di kosong di depan tempat Al dan Oi duduk.
“Iya. Nampar banget. Semoga Eri baca.” Nurul duduk di samping kanan Jia.
“Full version-nya di Youtube ya.” Oi memberi tahu.
“Itu kan udah full?” Komentar Jia.
“Full performance. Kalau yang di Youtube, ada komentar juri dari awal sampai akhir.”
“Ntar deh pulang sekolah sempetin nonton dulu. Hehehe.”
“Dasar pemburu wifi!” Oi mengolok Jia.
“Biarin!” Jia menjulurkan lidah, membalas olokan Oi.
***

“Wong edan! Caption-nya sengaja nyindir aku!” Eri yang berada di UKS usai jam sekolah selesai kesal. Ia tahu perihal postingan Meyra yang dibagikan Al dan Oi dari Neysa. Saat di kelas, ia sengaja cuek. Pura-pura tak peduli. Tapi, saat berada di UKS bersama Diana, ia meluapkan kekesalannya.

“Tapi, itu kenyataannya kan Er? Untung aja nggak ditulis, gara-gara kesal kakaknya dikataian perawan tua, dua cewek ini nantangin temannya yang suka ngejek ikutan audisi, mereka bawain lagu Korea dan India saat audisi. Sayang belum beruntung.” Diana menggoda Eri.
“Sialan kamu!”
Diana terkekeh. “Kamu udah nonton videonya? Bagus ya ternyata penampilan Al dan Oi. Gitu kok bisa nggak lolos audisi ya?”
“Trus, aku nggak bagus gitu? Dan, kenapa aku yang lolos audisi? Aku nggak KKN atau nyuap juri. Aku juga kaget waktu tahu lolos!”
“Sensi amat sih. Kamu juga bagus waktu audisi. Rezeki kamu kan berarti? Bisa tampil di puncak HUT sekolah.”
“Awalnya seneng, tapi sekarang rasanya jadi beban. Berdiri sendiri di tengah panggung megah di lapangan basket. Sial bener sih aku!”
“Itu kenapa kamu ngajakin Al dan Oi gabung? Jangan-jangan emang kamu beneran pengen mereka gabung.”
“Itu aku sengaja buat ngolok mereka. Tapi, dipikir-pikir, emang lebih baik ada temen daripada sendirian. Walau males ngakuin, emang penampilan Al sama Oi bagus. Bahkan, lebih santai dan lebih ekspresif dari aku.”
“Ciee… nonton videonya juga nih?”
“Penasaran aja. Kok di kelas heboh banget.”
“Kalau emang mau mereka bantuin kamu buat tampil ntar, lamar lagi dong. Dengan lebih tulus.”
“Males” Lalu, Eri terkejut karena melihat Al dan Oi memasuki UKS.
Al dan Oi tak berdua saja. Bersama Aning, mereka menggendong seorang siswi yang tak sadarkan diri. Aning juga bergabung PMR saat kelas X. Namun, hanya sampai diklat mendapat scraf pertama saja ia aktif. Setelah mendapatkan scraf pertamanya, ia vakum hingga kini. Karena itu Aning tahu bagaimana memberikan pertolongan pertama pada korban pingsan.
Usai menidurkan siswi yang tak sadarkan diri di atas salah satu ranjang di dalam UKS, dengan cekatan Al, Oi, dan Aning melakukan pertolongan pertama. Aning membuka sepatu sebelah kiri dan Oi sebelah kanan. Sedang Al segera mengendorkan dasi, kerah baju, dan sabuk yang dikenakan siswi itu. Lalu dengan cekatan mengambil minyak kayu putih dalam tas obat di dalam tasnya, dan mengolesi kening sisi kanan dan kiri siswi pingsan. Berlanjut pada bawah hidung dan perut. Lalu, ia mendekatkan botol minyak kayu putih berukuran kecil itu ke hidung siswi yang tak sadarkan diri.
Eri dan Diana terpaku di tempatnya berdiri. Menatap Al, Oi, dan Aning yang sibuk merawat siswi tak sadarkan diri di ranjang yang paling dekat dengan pintu masuk.
“Ada apa ini?” Angga, ketua PMR saat ini keluar dari ruang bagian dalam UKS.
“Tiba-tiba pingsan di depan kantor guru.” Jawab Oi. “Kelas X kayaknya.”
“Wah. Kenapa ya?” Tanya Angga, gadis berambut lurus sepanjang di bawah telinga itu.
“Tau nih. Pucet banget mukanya.”
“Dia mulai sadar nih.” Al dengan suara lirih.
Semua yang berada di dalam UKS memfokuskan pandangan pada siswi yang tak sadarkan diri. Angga bergerak mendekati ranjang. Berdiri di samping kanan Al. Turut menunggu siswi itu benar-benar sadar. Eri dan Diana masih bertahan di tempatnya. Berdiri di dekat ranjang paling timur. Setelah siswi itu benar-benar sadar, Angga bertanya apa yang ia rasakan hingga pingsan.
“Oh dilepen[3] tho.” Komentar Angga setelah mendengar penjelasan siswi kelas X itu. Siswi itu pingsan karena tak tahan sakit dari nyeri haid yang dia alami. “Bentar tak ambilin obat.”
“Di aku ada!” Al sibuk memeriksa isi tas obatnya, lalu memberikan satu buah pil pada adik kelasnya yang baru sadar. Tak hanya pil, Al juga memberikan botol air mineral miliknya pada adik kelasnya itu.
“Lekas diminum. Inshaa ALLOH lima belas menit udah bereaksi dan sakitnya ilang.” Al tersenyum tulus.
“Makasih, Kak.” Siswi itu pun segera meminum pil pemberian Al dengan air mineral yang juga ia dapat dari Al.
“Masih jadi apotek berjalan kamu ya.” Angga menepuk lengan Al. Keduanya satu kelas saat kelas X. Tentu saja Angga tahu tentang julukan apotek berjalan yang disematkan pada Al.
“Ajaran Mbak Mey. Ternyata banyak manfaatnya.”
Mendengar nama Meyra disebut, jantung Eri seolah terjun bebas ke lantai. Ia heran dengan reaksi berlebihannya itu.
“Dulu anak PMR juga kan?”
“Yo’i. Itu kenapa Al ngajakin aku gabung PMR. Mau kayak Mey Eonni katanya.” Oi yang menjawab pertanyaan Angga.
“Bukannya kamu yang ngomong gitu Oi?” Al menegur Oi yang memutar balikan fakta. Oi hanya tergelak menanggapinya. “Aku tinggal ya, Ngga. Kan udah ada kamu, Eri, dan Diana di sini.”
“Oke. Makasih ya Al. Kalau ada kamu, obat di UKS bisa awet.” Angga menepuk pundak kanan Al.
“Irit anggaran kan jadinya.”
“Bisa aja kamu.”
Eri menatap Al dan Oi yang pergi meninggalkan UKS bersama Aning. Di luar UKS, Jia dan Nurul menunggu. Lima gadis itu pun pulang bersama. Pintu dan tembok bagian depan UKS terbuat dari kaca. Jika kelambunya di buka seluruhnya seperti sekarang, tentu saja pemandangan di luar ruangan bisa terlihat jelas dari dalam ruangan. Eri masih menatap Al dan gengnya yang berjalan menjauh.
“Kalau semua murid mandiri kayak Al, enak kita ya. UKS nggak usah sediain obat.” Ujar Angga. Suaranya membawa fokus Eri kembali. Gadis itu mengalihkan pandangan padanya.
“Kenapa Al dipanggil apotek berjalan?” Tanya Diana.
“Diana nggak satu kelas sih ya waktu kelas X. Itu karena Al selalu bawa obat di tasnya. Obat yang penting ada semua. Jadi, kalau temen-temen di kelas sakit tinggal minta ke dia. Nggak minta ke UKS. Sejak tau Al selalu bawa obat, Guntur, ketua kelas kami kasih dia julukan apotek berjalan. Semua jadi ikutan manggil kayak gitu.”
“Oh. Trus, apa maksudnya ajaran Mbak Mey?”
“Katanya, itu Mbak Meyra yang nyuruh dia bawa tas obat ke sekolah. Mbak Meyra dulu juga anggota PMR. Tahun berapa ya… sekitar 2002-2003 gitu.”
“Udah lama banget ya. Pernah ke sini dia?”
“Nggak pernah. Aku pernah ketemu sekali. Pas kelas X ikutan main ke rumah Al. Cantik lho orangnya. Walau katakan udah berumur, tapi mukanya masih muda. Andai disuruh pakek seragam SMA kayak kita, masih pantes lah.”
“Moso?”
“Iya. Beneran. Cari aja di FB ku ada. Aku temenan sama dia di FB.”
“Jadi penasaran. Ntar deh aku kepoin. Kan tadi Al bagiin postingan dia tuh. Di kelas jadi pada heboh.”
“Postingan apaan? Aku belum cek FB.”
“Video Al sama Oi saat audisi.”
“Iya? Wah, bentar aku cek FB ku.”
Eri yang duduk di tepi ranjang paling timur hanya diam. Menyimak obrolan Angga dan Diana. Muncul rasa aneh di dalam dirinya. Tiba-tiba ia penasaran pada sosok Meyra. Ia meraih ponselnya. Diam-diam mengintip akun Facebook milik Meyra. Ia mendapatkan tautan yang dibagikan Oi dari Neysa. Dari tautan itu dia mengintip akun Facebook Meyra. Karena Meyra tak menggunakan foto asli, Eri harus mencari foto asli Meyra.
Eri menjadi teman sekelas Al dan Oi sejak kelas X. Ia tahu perihal kakak Al yang masih single dari gosipan teman-teman satu gengnya saat kelas X. Salah satu anggota gengnya tinggal satu kampung dengan Al dan Oi. Dari temannya itu Eri tahu tentang Meyra yang sering disebut Oi dengan panggilan Meyra Eonni.
Eri menemukan foto asli Meyra dalam album foto profil. Cantik. Dalam hati ia memuji jika Meyra cantik. Setelahnya, ia pun membenarkan pendapat Angga yang mengatakan Meyra terlihat lebih muda dari umurnya.
Aku udah salah sama mbak ini. Apa aku harus minta maaf? Nggak ah! Ngapain minta maaf. Tapi, gimana kalau Al-Oi cerita soal aku ngatain dia perawan tua? Buat apa sih minta maaf? Toh nggak bakalan ketemu juga. Eri bergumam dalam hati, lalu buru-buru menghentikan aktivitasnya yang sedang mengintip akun Facebook Meyra.
***

“Sumpah tadi aku liat tuh Eri kayak kaget gitu waktu kamu masuk UKS. Keliatan dari luar. Jelas keliatan.” Jia yang sedang berjalan menuju terminal bersama Aning, Nurul, Al, dan Oi ngotot. Ia yakin Eri terkejut ketika Al dan Oi masuk ke dalam UKS. “Jangan-jangan dia lagi ngomongin kalian.”

“Wajar dong. Hari ini aku bagiin link video ke teman-teman sekelas di WhatsApp, termasuk Neysa. Pasti Nyesa kasih tahu Eri soal link itu. Jadinya nggak heran kalau tadi di UKS dia sama Diana ngomongin kami.” Oi tidak terkejut dengan dugaan Jia.
“Dia itu katanya anggota PMR paling pinter. Sering ikutan lomba juga. Tapi, liat ada anak pingsan kok malah diem aja. Pinter beneran apa nggak sih dia?” Nurul yang juga mengamati tingkah Eri dari luar ruang UKS turut berkomentar.
“Kan udah ada Al, Oi, dan Aning. Bos ya nonton aja. Kalau anak buahnya nggak bener baru deh ditegur.” Ujar Jia.
“Bosnya kan Angga.”
“Eri itu wakil ketua.”
“Moso? Maklum aku bukan anak PMR. Jadi nggak tahu.”
“Aku yo bukan anak PMR. Tapi, tahu.”
“Kepomu luar biasa. Jadinya tahu apa aja.”
“Nggak yo!”
Al dan Oi kompak tersenyum melihat Jia dan Nurul yang berjalan di depannya cek-cok.
“Tadi Aning juga cekatan banget nolongin korban. Aku kaget liatnya.” Nurul berganti mengomentari Aning.
“Aning dulu juga anak PMR.”
“Lho kan Jia tahu aja. Emang kayak tim buser ini anak. Tahu apa aja.”
“Hahaha.” Jia tergelak. “Aku udah bagiin video kalian yang di FB Mbak Mey. Kalau ntar video kalian viral gimana? Biasanya di FB kalau banyak dibagiin kan jadi viral.”
“Nggak mungkin lah. Udah banyak video cover sing macem gitu. Bahkan lebih bagus dari video kami.” Oi menyangkal. Baginya tidak mungkin video penampilannya akan viral di Facebook.
“Bisa aja lah Oi. Asal banyak yang bagiin, banyak yang omongin, pasti viral.” Aning merasa mungkin saja video penampilan Al dan Oi jadi viral.
“The power of netizen ya. Kalau sampai viral, Al dan Oi bakalan terkenal.” Nurul mengungkapkan hal pasti yang akan terjadi jika video Al dan Oi sampai viral di Facebook.
“Aku bergidik lho bayangin komentar netizen. Apa lagi caption Mbak Mey kan bisa mengundang war.” Al mengusuk kedua lengannya.
“Iya. Pasti ada pro dan kontra. Seru pasti.” Jia setuju. “Ntar aku mau komen kasih tahu siapa yang ngatain pecinta plastik dan udel.”
“Jahat kamu!” Nurul menegur.
“Biarin. Eri nggak bisa dibaikin.”
“Jangan lah. Kasian Eri kalau jadi korban teror netizen.” Al meminta Jia membatalkan niatnya.
“Aku doain video kalian viral. Aamiin.” Aning mengungkap harapan dengan tulus.
“Aamiin.” Nurul mengamini.
“Aamiin.” Jia turut mengamini. “Aku bakal memantau komentar netizen. Hehehe.”
“Dasar tukang kepo!” Nurul mengolok Jia.
Al dan Oi hanya diam. Keduanya sama-sama merasa merinding hanya dengan membayangkan video mereka menjadi viral di Facebook.
Semoga aja nggak sampai viral. Al mengucap harapannya dalam hati.
Viral pun nggak papa. Tapi, ngeri juga kalau ada komentar jahat. Duh. Oi pun merasa gundah.
***


[1] Terima kasih dalam bahasa Korea
[2] Adik dalam bahasa Korea
[3] Nyeri haid
 


Khayalan shytUrtle

AWAKE "Rigel Story" - Bab II

04:24

AWAKE - Rigel Story



Bab II


SMA Horison didirikan pada 15 Juni 1962 oleh Nyonya Athena Park. Setiap tahunnya, jumlah murid SMA Horison ada 600 orang. Dengan perbandingan murid laki-laki lebih banyak daripada murid perempuan. Setiap kelas berisi 25 murid. Hal ini agar proses belajar-mengajar berjalan lebih efektif.
Bunga krisan kuning adalah bunga SMA Horison yang diartikan sebagai optisme. Pohon jati adalah pohon SMA Horison yang merupakan simbol kekuatan dan keunggulan. Warna identitas SMA Horison adalah biru, putih, kuning, merah, dan hitam. Motto SMA Horison adalah Bersama Meraih Kemenangan. Proses belajar-mengajar di SMA Horison berlangsung dari hari Senin sampai Jumat. Dimulai dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore.
SMA Horison memilki dua seragam. Untuk hari Senin dan Selasa, atasan putih dan bawahan oranye. Untuk hari Rabu dan Kamis, atasan kuning dan bawahan abu-abu. Rok untuk siswi bermodel lipit dengan panjang selutut. Untuk seragam olah raga, kaos berwarna kuning dan celana hitam. Masing-masing seragam memiliki logo SMA Horison di dada sebelah kiri. Atribut tambahan bagi murid adalah dasi kupu-kupu untuk murid putri dan dasi segitiga untuk murid putra. Sedang untuk hari Jumat, murid mengenakan pakaian bebas.
Selama masa MPLS, para senior yang terdiri dari anggota Dewan Senior (DS) dan Majelis Perwakilan Siswa (MPK) mengenakan seragam kuning abu-abu. Sedang para junior mengenakan seragam putih hitam.
***

Mobil sedan hitam berhenti tak jauh dari gerbang SMA Horison. Seorang siswa yang mengenakan seragam putih hitam turun dari mobil sedan mewah itu. Ia berdiri menatap kerumunan di depan gerbang SMA Horison. Ia menyipitkan mata, lalu membetulkan letak kacamatanya. “Kenapa mereka berkerumun di sana?” tanyanya ketika seorang gadis berhijab menyusulnya turun dari mobil.
“Kenakan atributmu!” Gadis berhijab putih itu memberikan kertas manila berbentuk segi empat sama sisi berwarna biru berukuran 15 x 15 cm. Ada pita berwarna putih yang mengikat setiap pojok papan nama dari kertas itu. Kemudian, ia membetulkan kertas berbentuk dan berukuran sama namun berwarna merah yang sudah tergantung bagai rompi kotak yang menutupi dadanya. Tertulis nama Esya di atas kertas itu.
Pemuda berkacamata menggunakan atribut yang diberikan Esya padanya. Tertera nama Hojoon di atas kertas berwarna biru itu. Mobil sedan yang mengantarnya pun pergi usai si sopir berpamitan padanya.
“Kenapa mereka berkumpul di depan gerbang? Apa ada aturan seperti itu di surat edaran tentang MPLS?” Hojoon mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab oleh Esya.
“Mm?” Esya mengangkat kepalanya dan menatap ke arah gerbang; tempat para murid berkerumun. “Oh… mereka itu Orion. Mereka pasti sedang menunggu kedatangan Rigel.”
“Rigel? Kelompok pemburu hantu yang sering kamu ceritakan itu?”
“He’em!” Esya mengangguk mantab.
“Hagh! Sebegitunya!” Hojoon kembali membetulkan letak kacamatanya.
“Hey!” Esya menegur Hojoon. “Rigel itu keren! Kamu lihat video-video yang mereka buat? Nggak hanya menangkap orbs, tapi juga penampakannya. Video mereka ditonton jutaan orang. Mereka pantas mendapat perlakuan itu!”
Hojoon memutar kedua bola matanya. “Percuma berdebat tentang Rigel denganmu. Sebaiknya kita masuk!”
Baru dua langkah berjalan, Hojoon dan Esya kompak berhenti ketika empat orang murid mengenakan seragam SMA Horison muncul dari jalan yang berada di samping kiri bangunan sekolah. Dua murid putri dan dua murid putra.
Melihat kehebohan murid yang berkumpul di depan gerbang—yang menurut Esya adalah Orion, Hojoon bisa menebak jika empat murid senior itu adalah Rigel. Terlebih ketika ia menoleh ke arah kiri dan mendapati wajah Esya berbinar menatap keempat murid senior itu. Semakin membenarkan tebakannya jika mereka adalah Rigel.
“Hanjoo benar-benar tampan!” bisik Esya memuji Hanjoo.
“Hanjoo?” pekik Hojoon.
“Hush!” Esya memberi kode agar Hojoon menurunkan volume suaranya.
Hojoon mengerucutkan bibir dan menatap empat murid senior yang kini sedang berdiri di depan para penggemar mereka.
“Sayang sekali Dio memangkas rambutnya jadi pendek. Padahal aku suka sekali gaya pony tail-nya.”
“Dio??”
Esya menoleh, menyipitkan mata menatap Hojoon.
“Aku bukan Orion. Jadi, aku nggak tahu apa-apa tentang Rigel!” Hojoon mengangkat kedua tangannya dan menggelengkan kepala.
“Baiklah! Sebelum terlambat, aku harus memberi tahu tentang Rigel padamu sekarang.”
“Kenapa aku harus tahu?”
“Karena Rigel adalah orang penting di sekolah kita.”
“Ya, aku tahu mereka senior kita. Mereka anggota Dewan Senior atau MPK, mungkin? Atau hanya perwakilan ekstrakurikuler seperti PMR yang membantu jalannya MPLS? Pentingnya itu aja kan?”
Esya melipat tangan di dada. Memiringkan kepala, menatap Hojoon dengan sinis.
“Oke! Katakan padaku tentang Rigel, wahai sahabatku.”
“Rigel bukan perwakilan eskul. Rigel adalah anggota Dewan Senior. Bahkan, Rue adalah Ketua Dewan Senior saat ini.” Esya menjelaskan dengan kesal.
“Rr-Rue??”
“Mm!” Esya mengangguk singkat. Ia melihat ekspresi tak paham di wajah Hojoon. “Gadis yang rambutnya dikuncir ekor kuda dan dikepang itu, dia adalah Rue. Ketua Dewan Senior SMA Horison.” Esya memperjelas sambil menuding gadis yang ia maksud.
Hojoon kembali menatap kerumuman—lebih tepatnya kembali menatap gadis yang ditunjuk Esya sebagai Rue.Ia memperhatikan gadis berambut ikal dan bermata panda yang memiliki postur tubuh tinggi besar. Walau berambut ikal, gadis bernama Rue itu berkulit kuning langsat. Ia memiliki sepasang mata bulat, hidung yang tak terlalu mancung dan bibir tipis. Ia juga memiliki satu lesung pipi di pipi kanannya. Ketika ia tersenyum, lesung pipi itu terlihat jelas.
“Kita masuk!” suara Esya membuyarkan lamunan Hojoon yang sedang fokus memperhatikan Rue.
Hojoon berjalan cepat. Menyusul langkah Esya yang sudah berjalan lebih dulu menuju kerumunan.
***

Rigel; Rue, Hanjoo, Dio, dan Byungjae. Rue yang memiliki kemampuan bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk astral tentu saja yang memiliki paling banyak penggemar. Hanjoo yang peka dan pandai menggambar pun memiliki pendukung sendiri.
Dio yang tak peka dan tak bisa menggambar namun pandai mengambil gambar dengan baik melalui kameranya juga memiliki fans sendiri. Byungjae yang unik karena kerap kali hampir kesurupan saat berburu penampakan atau ditempeli makhluk halus usai berburu penampakan pun punya fans fanatik sendiri. Walau cukup tenar di dunia maya, keempat member Rigel tak menyangka akan mendapat kejutan di dunia nyata di hari pertama MPLS.
“Superstar kita sudah datang!” sambut siswa berkacamata saat Rue dan ketiga rekannya memasuki kantor Dewan Senior.
“Selamat pagi, Kevin!” Rue membalas sambutan itu dengan sapaan riang.
“Pagi, Rue! Kau senang pada kejutannya?” Kevin membalas sapaan Rue. Pemuda berdarah Inggris-Korea itu menyunggingkan sebuah senyuman.
“Jujur, itu terlalu berlebihan.” Dio menyahut. “Apa geng mutiara sudah datang?” tanyanya sedikit berbisik.
“Belum.” Kevin menutup buku di tangannya. “Jika mereka sudah ada di sini bisa aku pas—”
“What's wrong with them all?” gadis yang baru memasuki kantor Dewan Senior sambil mengomel itu memotong ucapan Kevin.
“Yang kau cari sudah datang,” Kevin berbisik pada Dio yang berdiri di samping kirinya.
“Hai, Pearl!” Rue menyapa gadis yang baru memasuki kantor Dewan Senior bersama kedua rekannya itu.
“Mana yang lain?” Pearl, gadis berdarah Amerika-Korea itu tak membalas sapaan Rue. Ia bertanya pada Kevin. Di samping kanannya berdiri Ruby. Si gadis Amerika-Cina. Dan, di samping kirinya berdiri Linde. Gadis berambut pirang dan bermata hijau.
“Kalian anggota Dewan Senior yang datang paling akhir. Yang lain sedang menyiapkan lapangan untuk upacara pembukaan MPLS.” jawab Kevin.
“Kalau begitu kita ke lapangan saja. Di sini terlalu sesak.” Pearl melirik sinis pada Rue. Lalu berjalan keluar diikuti kedua rekannya.
“Dia terlihat seperti ibu tiri dan kedua putrinya dalam dongeng Cinderella.” Dio bergidik ngeri. “Tak bisa kubayangkan jika kau juga berada di sana bersamanya. Bisa-bisa kau jadi Cinderella-nya,” imbuhnya sembari menatap Rue.
“Jangan membawa urusan pribadi ke forum!” Kevin memperingatkan.
“Dih! Mentang-mentang jadi Ketua Panitia MPLS, kau jadi begini sombong!” Dio mengolok Kevin.
“Hey! Dia wakilku yang terbaik!” Rue membela Kevin.
“Kau dengar? Rue saja mencintaiku. Masa kau tidak?” Kevin membanggakan dirinya sendiri.
Dio berlagak akan muntah mendengarnya. Membuat Kevin terbahak.
“Oh! Lapangan sudah siap. Semua murid baru sudah berkumpul di sana. Sebaiknya kita naik.” Kevin membaca pesan yang baru saja memasuki ponselnya. Kemudian, ia merapikan kertas yang berserakan di meja. Ia pun keluar ruangan bersama keempat member Rigel.
Mereka berlima berjalan bersama menuju lapangan basket yang digunakan sebagai lapangan upacara pembukaan MPLS pagi ini. Mereka menghentikan langkah ketika melintas di depan kantor MPK. Karena, bersamaan dengan mereka sampai di depan kantor MPK, Ketua MPK dan wakilnya keluar dari kantor. Kevin dan keempat member Rigel segera membungkukkan badan untuk memberi salam pada Ketua MPK.
Nicholas Lee yang lebih akrab disapa Nicky Lee itu tersenyum. Tatapannya langsung tertuju pada Rue. “Apa semalam kau begadang?” ia bertanya pada Rue tanpa basa-basi.
“Eung… iya.” Rue selalu salah tingkah ketika berhadapan dengan Nicky. Bukan hanya karena Nicky adalah senior dan juga atasannya di organisasi. Tapi, juga karena Nicky sangat tampan bak anggota boy band di mata Rue. Dan, pemuda itu selalu memperhatikannya. Semua alasan itu cukup untuk membuat Rue selalu dibuat salah tingkah di depan Nicky.
“Jangan terlalu banyak begadang. Lihat! Lingkar hitam di matamu semakin tebal saja.”
Wajah Rue memanas. Rona merah—yang selalu tak diinginkannya—muncul menghiasi wajah pucatnya.
“Mari bersemangat dan bekerja sama untuk hari ini dan dua hari ke depan.” Nicky tersenyum manis pada Rue, lalu kepada keempat rekan Rue. Ia lalu berjalan lebih dulu menuju lapangan diikuti wakilnya yang juga berwajah tampan bak anggota boy band.
“Pantas saja Nath memanggilmu Tomato!” Dio menggelengkan kepala sambil mengamati wajah Rue yang merona.
“Kenapa kalian tidak pacaran saja? Ketua MPK dan Ketua Dewan Senior pacaran. Kau akan menambah catatan sejarah sekolah. Setelah menjadi siswi pertama yang menjabat sebagai Ketua Dewan Senior, kau akan tercatat sebagai Ketua Dewan Senior pertama yang berpacaran dengan Ketua MPK. Wow! Bukankah itu keren?” Kevin segera mendapat hadiah pukulan di lengan kanannya dari Rue.
“Berhenti menggodaku!” Rue memperingatkan.
“Oke! Oke!” Kevin kembali berjalan. Begitu juga Rue, Dio, Byungjae, dan Hanjoo yang mengekor di belakangnya. “Semoga di MPLS tahun ini tak ada murid yang kesurupan.” Kevin mengucap harapan yang segera diamini oleh keempat member Rigel.
***

Semua murid kelas X dikumpulkan dan berbaris di lapangan basket. Anggota Dewan Senior dan MPK yang ditunjuk sebagai panitia MPLS sibuk di depan lapangan. Ada yang bersiap menjadi pemimpin upacara, ada yang bertugas menjadi paduan suara dan dirijen. Anggota Dewan Senior dan MPK yang tersisa, berbaris di sisi kiri lapangan. Berhadapan dengan tim paduan suara yang berada di sisi kanan lapangan. Kevin selaku ketua panitia bertindak sebagai pembina upacara pembukaan MPLS.
Karena postur tubuhnya tinggi, Rue pun berdiri di barisan paling depan untuk anggota Dewan Senior dan MPK putri. Ia tersenyum melihat rekan-rekannya yang sedang sibuk menyiapkan segala perlengkapan upacara. Ia merasa beruntung memiliki Kevin sebagai wakilnya. Pemuda tampan dan berkacamata itu sangat banyak membantunya sejak mereka menjabat sebagai ketua dan wakil ketua Dewan Senior.
Rue mengalihkan pandangan. Menatap deretan murid baru yang berbaris sesuai kelas mereka. Ia mengamati dari kelas X-1 sampai kelas X-8. Kening Rue berkerut. Tatapannya terfokus pada barisan kelas X-8.
Rue melihat sosok pemuda yang mengenakan kostum serba hitam sedang berdiri di belakang barisan kelas X-8. Sosok yang selalu ia lihat ketika akan ada kematian. Sosok yang ia yakini sebagai malaikat maut.
Ekspresi Rue berubah tegang. Kenapa malaikat maut itu muncul di hari pertama MPLS? gumamnya dalam hati.
“Kau baik-baik saja, Rue?” tanya pemuda yang berdiri di samping kanan Rue. Rupanya rekan sesama anggota Dewan Senior itu menyadari perubahan ekspresi Rue.
“Eung? Ah, ya! Aku baik-baik saja.” Rue tersenyum kaku.
“Jika matahari membuatmu tak nyaman, kau bisa berteduh, di pinggir lapangan. Bersama para petugas medis dari PMR.” saran pemuda itu.
“Aku baik-baik saja.” Rue meyakinkan.
Bisik-bisik antara Rue dan rekannya menyita perhatian Nicky hingga pemuda itu menoleh pada Rue. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan pertanyaan ada apa.
Rue tersenyum dan menggeleng canggung. Nicky mengangguk, lalu kembali menatap lurus ke depan. Rue kembali menatap ke barisan kelas X-8. Sosok pemuda berkostum serba hitam itu masih berdiri di sana, balas menatapnya.
Rue berdehem. Lalu mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Upacara pembukaan MPLS pun dimulai.
***


Review bacaan dan tontonan

Review Drama Korea Hotel Del Luna (2019)

07:59

Hotel Del Luna




From AsianWiki

Profile

Drama: Hotel Del Luna
Revised romanization: Hotel Delluna
Hangul: 호텔 델루나
Director: Oh Choong-Hwan
Writer: Hong Jung-Eun, Hong Mi-Ran
Network: tvN
Episodes: 16
Release Date: July 13 - September 1, 2019
Runtime: Sat. & Sun. 21:00
Language: Korean
Country: South Korea

Plot Synopsis by AsianWiki Staff ©

Jang Man-Wol (IU) is the CEO of Hotel del Luna. The hotel is situated in downtown in Seoul and has a very old appearance. She made a big error many years ago and, because of this, she has been stuck at Hotel del Luna. She is beautiful, but she is fickle, suspicious and greedy.

Koo Chan-Sung (Yeo Jin-Goo) worked as the youngest assistant manager ever at a multinational hotel corporation. He is a sincere perfectionist. He looks level-headed, but he actually has a soft disposition. Due to an unexpected case, he begins to work as a manager at Hotel del Luna. The hotel's clientele consists of ghosts.

Notes

1. "Hotel Del Luna" takes over the tvN Sat. & Sun. 21:00 time slot previously occupied by "Arthdal Chronicles" and followed by "Arthdal Chronicles" on September 7, 2019.
2. First still images of Yeo Jin-Goo and IU in tvN drama series "Hotel Del Luna."
3. Group poster for tvN drama series “Hotel Del Luna."
4. Lee Joon-Gi to make cameo appearance in tvN drama series “Hotel Del Luna.”

Cast

. IU as Jang Man-Wol
. Yeo Jin-Goo as Koo Chan-Sung
. Cho Hyun-Chul as Sanchez
. Park Yoo-Na as Lee Mi-Ra
. Shin Jung-Keun as Kim Sun-Bi
. Bae Hae-Sun as Choi Seo-Hee
. P.O as Ji Hyun-Joong
. Kang Mi-Na as Kim Yoo-Na
. Jeong Dong-Hwan as No Joon-Seok
. Seo Yi-Sook as God Mago
. Kang Hong-Suk as Death Angel
. Lee Do-Hyun as Ko Choeng-Myung
. Lee Tae-Sun as Yeon-Woo

Additional Cast Members:

Lee Su-A - Yoon-Seo
Jo Hyun-Sik - #404 human customer
Kim Won-Hae - corrupt mayor (ep.1)
Park Ga-Ram - Jung Soo-Jung (ep.3)


Jang Man-Wol (IU) adalah CEO Hotel del Luna. Hotel ini terletak di pusat kota Seoul dan memiliki penampilan yang sangat tua. Dia membuat kesalahan besar bertahun-tahun yang lalu dan, karena ini, dia terjebak di Hotel del Luna. Dia cantik, tapi dia berubah-ubah, curiga dan serakah.

Koo Chan-Sung (Yeo Jin-Goo) bekerja sebagai asisten manajer termuda yang pernah ada di sebuah perusahaan perhotelan multinasional. Dia adalah perfeksionis yang tulus. Dia terlihat berkepala dingin, tetapi sebenarnya dia memiliki kecenderungan yang lembut. Karena kasus yang tidak terduga, ia mulai bekerja sebagai manajer di Hotel del Luna. Pelanggan hotel terdiri dari hantu.




Akhirnya drama ini nyampek ending juga. Hiks! Seneng akhirnya masa penyiksaan selesai sudah. Kekeke.

Kenapa masa penyiksaan? Karena nonton drama ini saat masih tayang di Korea alias ongoing. Jadi, setelah tayang pasti dibikin penasaran ama gimana cerita di episode selanjutnya.

Awalnya saya tidak berniat nonton Hotel Del Luna walau promosi dramanya berseliweran di timeline Facebook dan Twitter. Resiko nonton drama ongoing selain kuras kuota, rasa penasarannya yang bikin nggak nyaman. Bahkan, ketika sudah tayang saya pun belum berniat nonton.

Sampai ketika saya chat sama Kookie Noona, dia bilang kalau Hotel Del Luna kayak Goblin tapi versi cewek. Kebetulan saya sama Kookie Noona juga ada niat nulis fan fiction yang terinspirasi dari Goblin. Makhluk abadinya si cewek. Begitu Hotel Del Luna tayang, kaget lah saya. Ternyata dasar idenya sama; makhluk abadinya cewek.

Saya jadi penasaran dan akhirnya nonton. Alhamdulillah ada bahan riset. Waktu itu saya lagi ada niatan nonton Mama Fairy and The Woodcutter juga sebagai riset untuk proyek fan fiction kami. Jadilah saya nonton Hotel Del Luna dan... tertarik untuk lanjut nonton. Ngikutin deh itu drama ongoing. Siapin kuota, siapin mental juga. Kekeke.

Sekarang saya mau berbagi kesan saya setelah menonton Hotel Del Luna dari episode 1-16. Mari kita sharing!




Hotel Del Luna berkisah tentang sebuah hotel yang diperuntukan bagi para hantu atau arwah yang hendak menyeberang ke alam baka. Hotel tersebut menyediakan berbagai fasilitas untuk hantu atau arwah yang hendak menyeberang. Misalnya fasilitas yang tidak pernah diterima hantu/arwah semasa mereka hidup.

Pemilik Hotel Del Luna seorang wanita cantik bernama Jang Man Wol (IU). Jang Sajang ini penampilannya selalu membuat mulut saya ternganga. Pakaiannya bagus-bagus, mewah, elegan. Top banget dah! Nggak pernah kusut.




Man Wol itu orangnya rada serakah. Gila uang lah. Maklum doi demen hidup bermewah-mewahan. Super kaya deh pokoknya.

Suatu malam ada arwah orang koma yang masuk ke Hotel Del Luna dan hendak mencuri. Man Wol menangkap arwah itu. Sebagai ganti dari perbuatan curang arwah itu, Man Wol meminta kelak anak semata wayangnya pria itu harus mengabdi pada Man Wol. Si pria pun dibebaskan dan diberi banyak uang untuk membesarkan putra semata wayangnya.

Waktu pun berlalu dan si anak tumbuh menjadi pemuda yang pintar. Lulusan Harvard dan bekerja sebagai manajer hotel. Pemuda itu bernama Koo Chan Sung (Yeo Jin Go).




Merasa sudah dewasa dan aman, Chan Sung yang sebelumnya tinggal di luar negeri pun kembali ke Korea. Ia pun mulai mengalami kejadian aneh ketika kembali ke Korea. Terlebih ketika akhirnya ia bertemu Jang Man Wol. Chan Sung jadi bisa melihat hantu.

Dalam mengelola Hotel Del Luna, Man Wol dibantu oleh Manajer No (Jeong Dong Hwan) yang seorang manusia. Manajer No sudah tua dan sakit-sakitan. Karenanya, Man Wol hendak menagih janji dan menjadikan Chan Sung sebagai manajer baru di Hotel Del Luna. Karena itu, ia membuat Chan Sung bisa melihat hantu.

Man Wol juga dibantu oleh tiga hantu yang memilih tinggal di Hotel Del Luna karena urusan mereka yang belum selesai.

Kim Seonbae (Shin Jung-Keun) seorang cendekiawan era Joseon yang sudah tinggal selama 500 tahun di Hotel Del Luna. Ia adalah seorang bartender di Hotel Del Luna.



Gaeksilljang Choi Seo-Hee (Bae Hae-Sun) yang sudah tinggal selama 200 tahun di Hotel Del Luna. Beliau ini semacam kepala pelayan di hotel. Tinggal karena dendam kesumat pada keluarga suaminya. Ia akan pergi setelah keturunan terakhir dari keluarga suaminya mati.



Ji Hyun-Joong (P.O) resepsionis tampan yang sudah tinggal selama 70 tahun di Hotel Del Luna. Ia sengaja tinggal demi menunggu adiknya yang masih hidup.


Awalnya Chan Sung menolak, tapi akhirnya ia luluh juga dan mau bekerja sebagai manajer di Hotel Del Luna. Chan Sung mulai mengenal Man Wol, Kim Seonbae, Gaeksilljang, dan Hyun Joong. Juga mulai terbiasa berurusan dengan hantu.

Oya, ada satu tokoh yang unik. Unik menurut saya karena sebenarnya dia hantu yang tinggal di dalam tubuh seorang gadis bernama Kim Yoo Na. Tokoh ini diperankan oleh Kang Mina Gugudan. Baru kali ini nemu hantu bisa tinggal lama di tubuh seseorang. Hehehe. Makanya saya bilang unik.



Bekerja di Hotel Del Luna dan mengenal Man Wol lebih jauh, Chan Sung mulai bisa melihat masa lalu Man Wol lewat mimpi-mimpinya. Masa lalu Man Wol yang mengerikan dan penuh amarah dan dendam. Dendam yang terus Man Wol bawa bahkan setelah ia hidup abadi selama 1000 tahun di dunia.

Yap! Man Wol terjebak di antara alam manusia dan alam arwah. Dia terikat dengan pohon bulan yang tumbuh di Hotel Del Luna. Ia tidak bisa lari, karena kemanapun ia pergi. Pohon itu akan pergi bersamanya.

Masa lalu Man Wol mulai terungkap. Chan Sung dan Man Wol yang dekat pun mulai tertarik satu sama lain. Benih cinta mulai tumbuh di hati masing-masing. Perlahan Chan Sung mulai merubah Man Wol menjadi manusia yang lebih baik.




Fantasi berbumbu romansa. Man Wol dan Chan Sung saling jatuh hati. Saling membutuhkan, saling menggantungkan. Saling melindungi. Tapi, lagi-lagi saya terkena SLS alias Second Lead Syndrome. Eh? Apa bisa disebut second lead ya? Intinya saya lebih baper ke kisah kasih Man Wol di masa lalu, daripada di masa depan.

Di masa lalu Man Wol jatuh hati pada panglima bernama Ko Choeng-Myung (Lee Do Hyun). Namun, mereka nggak bisa bersatu. Komplotan Man Wol berakhir mati di tangan Choeng Myung, dan Choeng Myung berakhir mati di tangan Man Wol.



Suer itu panglima bikin baper. Saya sempat menduga-duga apakah si kunang-kunang yang tinggal di Hotel Del Luna adalah si panglima—yang awalnya saya sebut hwarang. Soalnya pas hotelnya dipindahin ama Man Wol, itu kunang-kunang berubah jadi siluet kayak si panglima. Makin menjelang ending ternyata beneran itu dia. Cinta saya tidak berubah ternyata. Eh? Kekeke.




Yang unik itu ketika Mago menyatukan dua musuh di masa lalu menjadi sepasang kekasih di masa sekarang. Yaitu reinkarnasi putri dan Yeon Woo (Lee Tae Sun). Putri menjadi Lee Mi Ra (Park Yoo Na) yang ngakunya mantan si Chan Sung. Saking emosinya, Man Wol pernah jeburin Mi Ra ke laut.



Di masa sekarang, reinkarnasi Yeon Woo menjadi seorang polisi. Ia akhirnya pacaran, bahkan berencana nikah ama Mi Ra. Mereka sering cek-cok, tapi saling mencintai. Unik deh kopel satu ini.



Dewa Mago (Seo Yi Sook) yang mukanya sama, tapi penampilan beda-beda. Ada yang penampilannya kayak nenek-nenek demen nenteng anting kayu berisi bunga lily putih. Ada yang nyentrik dengan kostum pink dan rambut pirang. Ada yang sederhana, dan ada yang sangar dengan pakaian serba hitam. Bahkan, ada yang penampilannya bak pengemis.



Malaikat Maut dengan ciri khasnya yang berpakaian serba hitam. Kadang sok cool, tapi kadang iseng juga.



Seribu tahun bersama, Man Wol dan makhluk-makhluk astral yang tinggal bersamanya di hotel pun layaknya keluarga. Saya nangis pas adegan perpisahan ama Hyun Joong. Entah kenapa nyesek banget. Juga pas adegan perpisahan ama Gaeksilljang.

Satu per satu trio pengurus utama hotel pun pergi. Hingga menyisakan Man Wol seorang. Kita akan merasa kehilangan ketika orang yang kita sayangi sudah nggak ada bersama kita. Itu lah yang dirasakan Man Wol setelah Kim Seonbae, Gaeksilljang, dan Hyung Joong pergi. Btw, CMIIW ya soal 'gaeksilljang'. Seingat saya itu sih nama julukannya. Maaf jika saya salah.



Oya, ada satu tokoh yang macem... apa ya, ibu peri? Yaitu Sanchez (Cho Hyun Chul). Kang pizza yang udah kayak hyung sendiri buat Chan Sung.


Drama ini komedinya ada, romansanya ada, tragisnya yang bikin mewek juga ada. Selain itu bertabur cameo. Sebut saja Mas Junki. Eh, maksud saya Lee Junki Oppa. Lalu, dedek emesh yang jadi penunggu sumur satu ini.


Selain bertabur cowok tampan mulai dari oppa sampai dedek emesh, drama ini juga bertabur cameo cewek-cewek cantik. Sebut aja yang jadi Veronica dan Sulli. Bahkan, ada Kim Soo Hyun juga. Doi nongol bentar di episode 16. Jadi pemilik sangraloka bulan yang baru yang dia kasih nama Hotel Blue Moon. Dari siluetnya sih udah nebak itu Kim Soo Hyun. Ternyata beneran. Kekeke.

Saya puas setelah mengikuti dan menonton drama ongoing ini. Hotel Del Luna tidak menyisakan kesan buruk bagi saya. Semua konflik terselesaikan. Ending-nya pun jelas menurut saya. Jadi, sebelum ditolong Yeon Woo di masa lalu, Man Wol bertemu anak laki-laki dan ayahnya. Anak laki-laki itu lah yang menolong Man Wol pertama kali. Anak laki-laki yang di masa sekarang adalah Chan Sung. CMIIW.

Lalu, bagaimana dengan adegan Chan Sung bertemu Man Wol di tamans setelah Man Wol menyeberang? Kayaknya si writer pengen membuat penonton menyimpulkannya sendiri. Kesimpulan saya sih, itu hanya mimpi Chan Sung. Karena keduanya berjanji akan bertemu di kehidupan berikutnya. Keduanya yakin ada cara. Bisa juga itu adalah kehidupan berikutnya bagi Man Wol dan Chan Sung. Hehehe.

Drama bagus dengan ost-ost yang keren juga. Silahkan ditonton sendiri. Selamat menonton.




Sekian review dari saya. Mohon maaf jika ada salah kata. Terima kasih. Selamat menonton.

Photo by: Hancinema.


Tempurung kura-kura, 02 September 2019.
- shytUrtle -

Review bacaan dan tontonan

Review Love Alarm (2019)

05:05

Love Alarm



From AsianWiki

Profile

Drama: Love Alarm (English title)R
evised romanization: Joahamyun Woolrineun
Hangul: 좋아하면 울리는
Director: Lee Na-Jeong
Writer: Cheon Kye-Young (webcomic), Lee A-Yeon, Seo Bo-Ra
Network: Netflix
Episodes: 8
Release Date: August 22, 2019
Runtime:
Language: Korean
Country: South Korea

Plot

Cellphone app Joalarm is created. If someone likes you and they are within 10 meters of you, the alarm for the app rings. The app also shows how many people like you, but the app doesn't reveal specific details on who likes you.

Kim Jo-Jo (Kim So-Hyun) is a high school student. She is pretty and smart. She seems like cheerful person, but her parents died when she was young. Since the death of her parents, Kim Jo-Jo has lived with aunt's family. Living there is not easy for Kim Jo-Jo. She doesn't download the app Joalarm.

Meanwhile, Hwang Sun-O is a popular male student at the same high school where Kim Jo-Jo attends. He is the son of a wealthy family, but he is not loved by his parents. His best friend Lee Hye-Young also attends the same high school. Hwang Sun-O notices that his best friend Lee Hye-Young likes Kim Jo-Jo. Hwang Sun-O wants to know if his friend really likes her, so he kisses her.

Notes

Based on webcomic "Joahamyun Woolrineun” by Cheon Kye-Young (first published September 14, 2014 via webtoon.daum.net/)

Cast

- Kim So-Hyun as Kim Jo-Jo
- Jung Ga-Ram as Lee Hye-Young
- Song Kang as Hwang Sun-O

Additional Cast Members:

Choi Joo-Won - Joo-Won
Go Min-Si - Park Gool-Mi
Song Geon-Hee - Marks
Shin Seung-Ho - Il-Sik
Shim Yi-Young - Hye-Young's mother
Song Seon-Mi - Sun-O's mother
Kim Young-Ok - Jo-Jo's grandmother
Son Su-Min
Kim Hee-Chang
Kim Si-Eun
Yoo In-Soo




Aplikasi ponsel Joalarm dibuat. Jika seseorang menyukai Anda dan mereka berada dalam jarak 10 meter dari Anda, alarm untuk aplikasi berdering. Aplikasi ini juga menunjukkan berapa banyak orang menyukai Anda, tetapi aplikasi tersebut tidak mengungkapkan detail spesifik tentang siapa yang menyukai Anda.

Kim Jo-Jo (Kim So-Hyun) adalah seorang siswa sekolah menengah. Dia cantik dan pintar. Dia tampak seperti orang yang ceria, tetapi orang tuanya meninggal ketika dia masih muda. Sejak kematian orang tuanya, Kim Jo-Jo telah tinggal bersama keluarga bibi. Tinggal di sana tidak mudah bagi Kim Jo-Jo. Dia tidak mengunduh aplikasi Joalarm.

Sementara itu, Hwang Sun-O adalah siswa pria yang populer di sekolah menengah yang sama tempat Kim Jo-Jo hadir. Dia adalah putra keluarga kaya, tetapi dia tidak dicintai oleh orang tuanya. Sahabatnya Lee Hye-Young juga menghadiri sekolah menengah yang sama. Hwang Sun-O memperhatikan bahwa sahabatnya Lee Hye-Young menyukai Kim Jo-Jo. Hwang Sun-O ingin tahu apakah temannya benar-benar menyukainya, jadi dia menciumnya.




Akhirnya kelar juga nonton Love Alarm yang lagi rame dibicarain temen-temen pecinta drama. Padahal dari rilis udah dikasih link ama Kookie Noona. Tapi, masih sok sibuk aje dan nggak kunjung nonton. Gomawo Kookie Noona. Sekarang mari kita tulis kesan setelah nonton drama yang berjumlah delapan episode ini.


Berkisah tentang tiga remaja SMA yaitu Kim Jo Jo (Kim So Hyun), Lee Hye Young ( Jung Ga Ram) dan Hwang Sun Oh (Song Kang) yang terlibat cinta segitiga. Tema yang umum banget sebenernya ya. Tapi, tetep asik buat ditonton karena dikemas secara unik dengan latar belakang adanya aplikasi Love Alarm.





Aplikasi itu akan mengidentifikasi orang yang menyukai kita jika orang itu berada dalam jarak 10 meter dari kita. Syaratnya, kudu sama-sama punya aplikasi dan kudu sama-sama nekan tombol Love Alarm. Intinya itu aplikasi buat nembak seseorang.

Hye Young menyukai Jo Jo dalam diam. Ia selalu memperhatikan gadis itu, namun nggak berani ngomong suka atau ungkapin perasaannya. Hingga suatu hari, majikan yang sekaligus sahabatnya Sun Oh kembali dari Amerika.



Sun Oh yang sengaja membuntuti Hye Young menemukan jika Hye Young sedang menguntit seorang gadis. Tanpa sengaja, Sun Oh dan gadis yang bernama Kim Jo Jo itu saling beradu pandang. Tanpa ragu Jo Jo menatap Sun Oh.

Sun Oh pun jadi penasaran pada Jo Jo dan diam-diam mendekati Jo Jo. Ia bertanya pada Hye Young apakah Hye Young menyukai Jo Jo. Namun Hye Young membantah dengan mengatakan tak menyukai Jo Jo, karena Jo Jo sudah punya pacar—namanya Il Sik.



Sun Oh membuntuti Jo Jo dan kemudian mencium gadis itu. Jo Jo pun tak menolak. Hubungan keduanya pun dimulai setelah ciuman di sebuah gang itu.




Waktu menonton adegan kisseu Sun Oh dan Jo Jo, saya dibuat tercengang. Bagaimana seorang gadis mau berciuman dengan orang yang bahkan belum ia kenal? Tapi, siapa yang bisa menolak pesona cowok tampan seperti Sun Oh? Tampan, kaya, dan terkenal. Seandainya saya di posisi Jo Jo pun bisa-bisa saya juga khilaf dan mau aja dicium. Wkwkwk.

Tapi, kemudian memang tumbuh rasa saling suka di hati Sun Oh dan Jo Jo. Sun Oh walaupun terkenal, tampan, dan kaya, namun masih terkesan lugu. Perasaannya ke Jo Jo juga murni dan tulus. Seperti cinta pertama di kala SMA. Tipikal cowok cool, ceplas-ceplos, dan perhatian ke ceweknya. Perfect banget!

Nah liat Jo Jo, saya malah mikir ini cewek gampang banget move on. Kekeke. Putus dari Il Sik langsung jadian ama Sun Oh. Kalau dia nggak ada rasa ama Il Sik, ngapain mau jadian ama Il Sik gitu. Habis itu mau aja di kisseu ama Sun Oh.

Kalau Hye Young tipikal pemuja rahasia. Mencintai tanpa harus terbalas. Tulus dan selalu ingin ada, melindungi orang yang disayanginya. Namun, enggan menunjukkan jati dirinya.


Seperti yang saya tulis di atas, drama ini mengisahkan kehidupan remaja SMA pada umumnya. Ada tokoh yang benci dan dengki ama tokoh utama cewek. Sebenernya kayak drama Korea kebanyakan sih. Si tokoh cewek miskin dan hidup ama saudara dia yang kejem. Udah banyak kan, kayak gitu?

Kayak hubungan antara Il Sik, Jo Jo, dan Sun Oh. Zaman SMA dulu saya pernah melihat fenomena semacam ini. Putus dari A, jadian ama B. Macem Jo Jo putus ama Il Sik, trus jadian ama Sun Oh. Jadi, macem gitu ada di dunia nyata.

Unik itu Duk Gu. Saya curiga dia beneran yang buat aplikasi Love Alarm
 Tapi, kok di ending kayake dia yang mimpin gerakan anti Love Alarm, yak?

Trus, Sun Oh, Jo Jo, dan Hye Young ini ending nya gimana? Maybe si Jo Jo ntar bakalan ama Hye Young. Tapi, sapa tahu kalau dia balik ama Sun Oh. Hati Jo Jo kayaknya rapuh banget. Kekeke.

Semoga aja beneran ada season 2-nya. Untuk sementara saya jadi tim Sun Oh. Kekeke. Saya belum bisa move on dari Sun Oh. Tapi, siapa tahu kalau afa season 2 saya justru berpaling ke Hye Young. Kekeke.


Berikan tanganmu, karena akan kugenggam.



Hye Young mengalah karena Sun Oh adalah majikan dan sahabatnya?


Kata-kata keren dari Love Alarm!










Sekian review dari saya. Mohon maaf jika ada salah kata. Terima kasih. Selamat menonton.

Photo by: Hancinema & screenshot by me.


Tempurung kura-kura, 02 September 2019.
- shytUrtle -

Search This Blog

Total Pageviews