The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’ (다음 이야기 화성 아카데미’사랑, 음악과 꿈’)

08:34

The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’

            다음 이야기 화성 아카데사랑, 음악과

 

. Judul: The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
. Revised Romanization: da-eum iyagi Hwaseong Akademi 'salang, eum-aggwa kkum'
. Hangul: 다음 이야기 화성 아카데미사랑, 음악과
. Author: shytUrtle
. Rate: Serial/Straight
. Cast
- Fujiwara Ayumu (
藤原歩) aka Jung Jiyoo (정지유)
- YOWL
1. Kim Jaejoong (
김재중)
2. Oh Wonbin (
오원빈)
3. Lee Jaejin (
이재진)
4. Kang Minhyuk (
강민혁)
- Song Hyuri (
송휴리)
- Kim Myungsoo (
김명수)
- Jang Hanbyul (
장한별) and all cast in Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’ ver. 1

New Cast:
- Jung Shin Ae
- Trio Orenji High School:
1. Kim Hyerien
2. Han Sunyoung
3. Song Hami
- Kim Taerin
- Kim Changmi
- Etc…
   


Cinta, musik dan impian adalah tiga ritme yang mampu membuat manusia tetap bersemangat dalam hidup. Cinta akan menunjukan jalan untuk meraih impian, dan musik memberikan harapan dalam mengiringinya. Cinta menguatkanmu, musik menginspirasimu dan impian akan memberimu ribuan harapan untuk tetap berjuang dan hidup…

   


Episode #24
Euforia itu masih terasa walau sudah seminggu berlalu. Warga Jeonggu Dong masih terus membicarakan bagaimana hebohnya pesta rakyat di kampung mereka seminggu yang lalu itu. Mereka terus membahas betapa ramainya pengunjung yang hadir, bagaimana pertunjukan persembahan anak-anak dan warga Jeonggu Dong serta kembalinya YOWL turut meramaikan pesta rakyat itu. Wisteria Land dan nama Ai tak luput masuk dalam pembicaraan mereka.
***
Viceroy, Jinwoon, Euichul, Daehyun dan Hyuri berkumpul di club milik Jaesuk di akhir pekan yang padat pengunjung ini. Di atas panggung Taerin menyanyikan lagu A Gift Of A Friend-Demi Lovato.
Berulang kali Byunghun melirik Ai yang duduk satu meja dengan Jinwoon, Euichul, Daehyun dan Minki. Byunghun selalu tersenyum ketika melirik Ai.
Ai yang tadinya terfokus menatap panggung menoleh. Tatapannya bertemu dengaan tatapan Byunghun. Byunghun tak mengelak dan tersenyum manis. Ai membalas senyum lalu kembali menatap panggung.
Usai bernyanyi, Taerin mengundang Ai ke atas panggung. Pengunjung bertepuk tangan menyambutnya anatusias. Ai mengundang Clovis naik ke atas panggung dan mengajak pengunjung untuk bersenang-senang malam ini. Clovis memainkan musik Kissing You-SNSD dan Ai bernyanyi. Ai dan Clovis membawakan  cover Kissing You versi band.
Hyuri yang duduk satu meja dengan Myungsoo, Sunghyun, Jungshin dan Byunghun heboh sendiri. Ia terus menggoyang lengan Myungsoo mengingatkan pemuda itu tentang kegilaannya bersama Hanbyul ketika bersama menyanyikan Kissing You lengkap dengan dance di tempat karaoke.
Bernyanyi dan bersenang-senang di club Jaesuk, Ai, Hyuri, Shin Ae dan Taerin juga tampil bersama menyanyikan Love Love Love-After School. Menutup kegilaan malam itu Ai menyanyikan Who Am I-Casting Crown. Senyum terus terkembang di wajah Byunghun saat ia melihat Ai bernyanyi di atas panggung.

Kita hanya manusia biasa. Siapa kita? Menuntut ini dan itu. Semua adalah di tangan Tuhan. Mereka-reka rencana, membangunnya rapi, optimis akan keberhasilannya. Namun semudah membalikan tangan Tuhan membuat keputusan akan akhir dari itu semua. Terombang-ambing, jatuh terpuruk dan sangat hancur. Tuhan memberikan ujian tidak hanya karena menilai kita mampu, namun juga karena Tuhan menyayangi kita. Ketika Tuhan tak memberikan keberhasilan pada satu rencana kita, bukan berarti Tuhan tak menyukai atau membenci rencana kita itu. Menurut-Nya tentu rencana itu tak baik untuk kita. Tuhan punya rencana lain yang lebih indah untuk kita. Tuhan akan memberikan apa yang paling kita inginkan di dalam hati kecil kita. Bangunlah keyakinanmu, susun rencana yang baik lalu berdo’a dan berpasrahlah pada-Nya Yang Maha Menguasai segalanya. Tuhan pasti akan berpihak padamu.
Ai tersenyum ketika selesai membawakan lagu Casting Crown-Who Am I. Dan pengunjung segera bertepuk tangan untuknya. Ai tersenyum dan turun dari panggung kembali bergabung dengan teman-temannya.
Tuan Kim ditemani Hyunsik dan beberapa anak buahnya memasuki club milik Jaesuk. Ia menuju meja dimana Ai duduk. Melihatnya Minki, Yongbae dan Wooyoung kompak berdiri. Mereka siaga berdiri melindungi Ai. Tuan Kim berhenti tepat di depan tempat Ai duduk. Ai bangkit dari duduknya dan tersenyum ramah menyambut kedatangan Tuan Kim.
“Aboji!” Hyoseok buru-buru menghampiri Tuan Kim. “Aboji, Aboji kenapa kemari…?” Hyoseok menatap Tuan Kim lalu Ai. “Aboji!”
Hyunsik menyeret Hyoseok minggir.
“Aboji! Aboji!” panggil Hyoseok dengan panik.
“Ada apa gerangan hingga Tuan Kim datang kemari?” tanya Ai sopan.
Tuan Kim maju selangkah lebih dekat di depan Ai. Diam dan menatap Ai. Beberapa detik kemudian senyum lebar terkembang di wajah Tuan Kim. Ia meraih tangan kanan Ai. Menjabatnya.
Ai terkejut. Tertegun menatap Tuan Kim.
“Ini benar-benar… menyenangkan bisa bertemu Nona sedekat ini.” Tuan Kim masih dengan sumringah dan menggoyang tangan Ai yang ia genggam. “Julukan Putri Jeonggu Dong memang pantas disematkan untuk Nona. Nona Ju…”
“Ah.. iya terima kasih kembali.” potong Ai balas menggoyang genggaman tangannya hingga Tuan Kim tak melanjutkan kalimatnya. “Terima kasih atas waktu yang Tuan Kim berikan pada kami. Berhenti memanggilku Nona, ini tidak lucu. Bukankah aku dan Hyoseok teman? Ajushi.” Ai sedikit meremas tangan Tuan Kim.
“A’aa, iya.” Tuan Kim terbata.
Ai tersenyum. “Gomawo Ajushi.” sambil membungkuk lebih dekat pada Tuan Kim. “Akan lebih aman bagi kita jika Paman tetap bungkam.” bisik Ai.
“A’aa, nee… hahaha.” Tuan Kim kembali menggoyang jabatan tangannya.
Hyoseok kebingungan melihat adegan ganjil ini.
“Maafkan aku Nona. Aku bertemu Tuan Besar seminggu yang lalu.” bisik Tuan Kim yang mencondongkan badannya lebih dekat pada Ai.
“Mari kita bersama-sama membangun citra baru Jeonggu Dong.” Ai menarik tangannya.
“Nee, nee…” Tuan Kim manggut-manggut masih membuat beberapa orang disekitarnya bingung.
***
Ai melihat-lihat buku yang tertata rapi di rak. Byunghun dengan sabar menemani sambil membawakan tas plastik untuk belanja. Byunghun mengamati buku-buku yang dipilih Ai.
“Ya, Jiyoo~ya, semua tentang wedding dan gardening…?” tanya Byunghun.
“Nee. Mengandalkan pencarian di internet saja tidak cukup. Aku mau serius di usaha ini. Wedding planner dan gardening. Morning Glory Florist dan Wisteria Land, aku rasa ini akan menjadi ide yang brilian.” Ai tersenyum yakin.
“Tapi ini bukan berarti kau akan mundur dari sekolah kan?”
“Entahlah.” Ai diam sejenak. “Ah, aku harus membicarakannya. Di sudut Wisteria Land harus ada rak buku. Orang-orangku harus memiliki banyak pengetahuan juga. Ya, Byunghun-ya, bagaimana tentang perpustakaan mini?”
“Nee…?”
“Wisteria Land harus jadi gudang ilmu juga. Buku-buku yang siapa saja bebas membacanya ketika mereka main ke Wisteria Land. Ini… akan sangat menyenangkan. Aku akan merundingkannya dengan yang lain.” Ai antusias.
Byunghun tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Onni sudah selesai?” Taerin datang bersama Seunghyun di sampingnya.
“Nee. Kau sendiri? Buku-buku yang kau cari?”
“Sudah dapat semua.” Taerin menunjukan tas plastic di tangannya.
“Ini, tolong kau bawa ke kasir ya.” Ai memberikan tas plastik miliknya dan kartu gesek untuk membayar buku-buku itu.
“Nee, Onni.” Taerin dibantu Seunghyun menuju kasir.
“Jiyoo~ya, setelah ini kita makan ya? Aku lapar.” pinta Byunghun.
“Choa. Kita tunggu mereka di luar.” Ai setuju.
“Kaja.”

Ai, Byunghun, Taerin dan Seunghyun duduk mengitari meja makan dan menikmati menu makan siang. Keempaatnya terlihat begitu akrab. Makan bersama dan mengobrol.
Mata Ai terbelalak. Semua tercengang. Saat Ai hendak menyentuh gelasnya tiba-tiba saja gelas itu pecah terbelah menjadi dua.
“Gwaenchana…?” Byunghun segera mengelap air yang meluber di meja makan dengan tissue. Kemudian ia memeriksa tangan kanan Ai.
“Aku belum menyentuhnya.” Ai dengan suara bergetar dan hampir tak terdengar.
“Ini aneh…” bisik Seunghyun keheranan.
“Taerin, tolong hubungi Jaejoong, tanyakan apa semua baik-baik saja. Seunghyun, kau punya nomer ponsel Kibum kan? Tanyakan pula apa ia baik-baik saja.” pinta Ai.
Taerin dan Seunghyun mengangguk lalu sibuk dengan ponsel masing-masing.
“Oppa… Minki Oppa… Euichul Oppa… Jinwoon Oppa… Appa… Omma…” Ai berubah panik sambil mengotak-atik ponselnya. Saking paniknya ponsel Ai pun jatuh.
“Jiyoo! Jiyoo! Tenanglah!” Byunghun meminta Ai tenang.
Wajah Ai berubah pucat dan tubuhnya gemetar.
“Tenanglah. Semua pasti baik-baik saja, em?” Byunghun menggenggam tangan Ai.
“Ak-aku tidak bisa tenang. Ak-aku tidak bisa tenang.” Ai terbata. “Peristiwa serupa, saat itu, saat itu pesawat yang ditumpangi Ayah dan Ibu kecelakaan. Ini… ini bukan firasat baik.” Ai masih panik.
“Kita pulang.” Byunghun memapah Ai.

Sepanjang perjalanan Ai hanya diam. Duduk menatap keluar jendela mobil dan menggigit kuku jari tangannya.
“Jaejoong Oppa dan semua personel YOWL baik-baik saja Onni.” kata Taerin yang duduk di kursi belakang.
“Kibum, Yongbae dan Minki Hyung juga baik.” sambung Seunghyun.
Ai tak merespon, tetap diam menatap keluar jendela mobil.
Byunghun menatap khawatir Ai yang duduk di sampingnya. Di kursi belakang, Taerin dan Seunghyun diam saling melempar pandangan.
***
Ai mondar-mandir di teras rooftop sambil menelfon. Ai mengakhiri panggilan dan memulainya lagi. Masih mondar-mandir di depan Byunghun yang duduk diam menatap setiap gerak-geriknya.
“Hah! Kenapa ia tak menerima panggilanku…?” gerutu Ai kesal sambil mengulang lagi panggilannya.

Sebuah kecelakaan hebat. Mobil metalik itu terbalik. Asap tebal mengepul. Pecahan kaca mobil berserakan. Terdengar suara dering ponsel disertai getarannya. Ponsel berwarna hitam itu tergeletak di atas aspal. Lampunya menyala-nyala sambil terus bergerak dan berdering. Nama Jiyoo muncul dalam layar ponsel itu. Samar-samar terdengar sirine dan semakin lama semakin dekat. Mobil ambulan itu berhenti dan tanpa sengaja melindas ponsel hitam yang tergeletak di aspal. Tim evakuasi segera turun dan menyelamatkan korban kecelakaan.

Ai menurunkan tangannya. “Tak bisa dihubungi lagi.” keluhnya dengan wajah putus asa.
“Siapa?” tanya Byunghun.
“Jang Hanbyul…”
Dugaan Byunghun benar. Ai mondar-mandir dan panik sambil mencoba menelfon Hanbyul.
“Mungkin Hanbyul masih sibuk.”
“Tapi dia juga tak membalas pesanku. Dan kini benar-benar tak bisa dihubungi. Jika dia sibuk, apa tak bisa sekedar membalas pesanku…?”
Byunghun berdiri mendekati Ai kemudian merangkul gadis itu. “Tolong tenangkan dirimu. Jika hari ini tak bisa, kau bisa mencobanyaa esok. Em?”
***
Ai mencoba menenangkan kekalutan pikirannya dengan meditasi namun tak bisa. Ia terus menyebut nama Hanbyul berharap dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi, namun hal itu pun nihil. Ai tak menemukan apa-apa.
Semakin dibuat panik dan juga putus asa. Ai buru-buru menyalakan laptopnya dan mengirim pesan pada Suri. Ia berharap akan mendapat informasi dari Suri.
Ai mencoba untuk tidur. Ia berbaring dan menggenggam erat kalung pemberian Hanbyul.
***
Setiap hari Ai mencoba menghubungi ponsel Hanbyul, namun tetap tak bisa. Nomer Hanbyul terus tidak aktif. Suri pun tak kungjung membalas pesan Ai. Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Genap sebulan sudah Hanbyul menghilang.
“Akun Han Suri di nonaktifkan.” keluh Ai. “Ada apa sebenarnya? Aku tak bisa meraba ini semua. Mimpi pun tak mau bekerja sama.” Ai benar putus asa.
Melihat Ai seperti ini Byunghun pun turut sedih. Begitu juga Hyuri dan Myungsoo.
“Apa benar samaa sekali tak teraba?” Hyuri memastikan. Ia tahu Ai memiliki kelebihan di luar batas manusia normal.
Ai menggeleng.
“Mungkin Hanbyul benar sibuk sekali.” Myungsoo turut menenangkan.
“Jika ganti nomer ponsel, kenapa tak memberitahu kalian? Viceroy adalah orang terdekat Hanbyul di Korea sebelum ia mengenal Ai kan?” Hyuri mementahkan dugaan Myungsoo. “Lalu kenapa Han Suri tiba-tiba menonaktifkan akunnya? Dan akun Hanbyul dibiarkan terbengkalai begitu saja.”
“Fujiwara, apa kau benar merasakan suatu hal yang buruk?” tanya Minhwan.
Ai mengangguk.
“Mungkinkah terjadi sesuatu yang buruk pada Hanbyul?” Minhwan seolah bertanya pada dirinya sendiri.
“Kenapa Bibi Jang tak memberitahu kita jika benar terjadi hal buruk pada Hanbyul?” Sunghyun balik bertanya pada Minhwan.
“Sebenarnya dari yang kau raba, apa yang kau rasakan?” Jungshin bertanya pada Ai. “Kau tahu maksudku kan? Katanya orang yang sudah mati atau masih hidup punya sinyal tersendiri.”
Ai diam dan menunduk.
“Jika kau mau, liburan nanti ikutlah denganku ke Amerika. Kita cari Hanbyul bersama-sama.” Byunghun menawarkan diri.
“Dia tak membalas emailku, nomernya pun tak aktif. Sebulan ini…” Ai diam sejenak. “Tujuannya adalah ada hal yang dia ingin aku tak tahu. Jika ini keputusannya, aku akan hargai itu.”
Semua diam menatap Ai. Gadis itu benar terlihat putus asa. Wajahnya redup dan lusuh. Seutas senyum terkembang di wajah lesu Ai.
“Maaf. Karena aku kalian jadi ikut dibuat panik seperti ini.” kata Ai. Ia kemudian bangkit dari duduknya. “Ada banyak hal yang harus aku lakukan. Begitu juga kalian kan? Aku pergi.” pamit Ai sambil membungkukan badan.
“Jiyoo~ya!” tahan Byunghun.
“Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Aku… aku akan menunggunya.” Ai tersenyum tulus lalu berjalan pergi.]
“Jiyoo!”
“Jangan.” tahan Myungsoo pada Byunghun yang hendak mengejar Ai. “Dia butuh waktu untuk sendiri.”
“Saat kau ke Amerika nanti, bisakah kau benar-benar mencari tahu tentang Hanbyul?” tanya Hyuri penuh harap pada Byunghun.
Byunghun menganggukan kepala lalu kembali menatap Ai yang semakin jauh berjalan pergi.
***
Menepis segala kekhawatirannya tentu bukanlah hal mudah bagi Ai. Namun ia tak boleh terlihat rapuh di depan rekan-rekannya yang bersemangat mulai menata Wisteria Land menuju impian Ai. Rasa sesak itu semakin mendera ketika Ai sendiri. Tak jarang ia dibuat menangis karenanya. Minki tak lelah membesarkan hati Ai dan memberinya dukungan. Begitu juga Byunghun, Hyuri, Kibum dan teman-teman dekat Ai.
Menjalaninya hari demi hari, bulan demi bulan hingga musim berganti. Ai semakin pandai menyembunyikan keresahannya. Hanya Minki yang paham dan masih merasakan hal yang sama pada Ai.
Ketika rindu itu semakin meremukan pertahanan Ai, ia kembali membongkar barang-barang pemberian Hanbyul yang ia kumpulakan rapi dalam sebuah kotak kayu. Ai menyendiri di kamarnya kembali menonton CD pemberian Hanbyul ketika ulang tahun Ai. Ai tersenyum geli dibuatnya. Kemudian Ai kembali merapikan barang-barang pemberian Hanbyul. Ai menyentuh kalung pemberian Hanbyul yang masih tergantung di lehernya. Ai melepas kalung dengan liontin burung hantu itu. Kembali dielusnya liontin kalung itu. Ai tersenyum getir lalu menyimpan kalung itu dalam kotak kecil dan menyatukannya bersama semua barang pemberian Hanbyul.
“Onni sudah siap?” Taerin melongok dari balik pintu. “Kita berangkat sekarang? Semua sudah berkumpul di Wisteria Land. Jangan sampai kita terlambat. Kembang api tak akan dinyalakan sebelum Onni datang.”
Ai tersenyum dan mengangguk lalu bangkit dari duduknya.
Taerin tersenyum menyambut Ai memberikan baju hangat untuk gadis itu. “Kaja! Kaja!” Taerin semangat menggandeng tangan Ai.

Wisteria Land ramai malam ini. Tak hanya kru Wisteria Land yang berkumpul di sana, namun banyak pula warga yang berkumpul ingin menyaksikan pesta kembang api sebagai tanda pergantian tahun. Berkumpul bersama menunggu malam pergantian tahun.
Tepat pukul 12 malam, kembang api diluncurkan. Kilatan cahaya mereka indah menghiasi malam. Orang-orang yang berkumpul menikmati pemandangan buatan ini. Begitu juga Ai.
Ai mendongak menatap langit malam yang menjadi meriah karena kembang api yang bersautan diluncurkan ke udara. Ai tersenyum kecut.
“Byunghun~aa.” Panggil Ai.
“Em…?” Byunghun yang duduk di samping Ai menoleh.
“Aku lelah sekali, sangat lelah. Bolehkah aku bersandar padamu? Sejenak saja.”
Byunghun terdiam. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Jantung Byunghun tiba-tiba berdetub kencang. Perlahan Byunghun merangkul Ai dan membawa gadis itu dekat padanya.
Ai tersenyum  dan menyandarkan kepalanya di bahu Byunghun. “Arigatou.” bisik Ai.
“Anytime.” jawab Byunghun.
Ai menghela napas panjang. “Esok tahun telah berganti.” lalu memejamkan matanya.
Byunghun diam dan merangkul Ai.
Keduanya hening dalam hingar bingar suasana pergantian tahun di Wisteria Land.
***
Euforia kelulusan memenuhi Hwaseong Academy. Murid-murid tingkat III lulus 100%. Pesta pelepasan siswa-siswi tingkat III pun digelar. Murid tingkat III terlihat cantik dan tampan malam ini. Para siswi memakai gaun dan para siswa memakai tuxedo.
Aula utama diubah menjadi arena pesta. Murid tingkat III akan memberikan last present mereka untuk sekolah dan untuk adik-adik tingkat I&II. Murid tingkat I&II pun sama, mereka juga diberi kesempatan untuk tampil menghibur kakak-kakak senior sebelum mereka benar-benar meninggalkan Hwaseong Academy.
Stardust, Viceroy dan Red Venus para mascot Hwaseong Academy tampil turut meramaikan panggung perpisahan. Harapan untuk bisa mendatangkan YOWL saat acara perpisahan ini tumbang karena jadwal YOWL begitu padat.
Penampilan yang tak biasa pada malam pelepasan tahun ini adalah penampilan perdana keenam anak Jeonggu Dong, Ai, Yonghwa, Dongwoo, Taerin, Kibum dan Seunghyun. Keenamnya tampil menjadi sebuah band tanpa nama dengan tambahan Kibum pada vokal dan Taerin pada keyboard. Anak-anak Jeonggu Dong ini tampil membawakan tiga lagu. Anak-anak Jeonggu Dong ini menutup penampilan mereka dengan membawakan lagu Seremedy-Bulletproof Roulette. Mereka mendapat sambutan yang hangat di sekolah.
 Penampilan khusus di puncak acara adalah Ai, Red Venus, Stardust dan Viceroy naik ke atas panggung dan bersama-sama menyanyikan lagu Let the Music Heal Your Soul yang dipopulerkan oleh Bravo All Stars. Penampilan penutupan yang sempurna. Bahkan murid-murid turut bersama-sama menyanyikan lagu ini sampai akhir.
***
“Liburan kali ini kau tak pulang ke Amerika?” tanya Ai saat Byunghun menemaninya memeriksa stok bunga di gudang penyimpanan bunga.
“Sampai Natal, aku merasa bosan sendirian di sana.” Byunghun berjalan di belakang mengikuti Ai. “Maaf. Pencarianku nihil. Kau bertanya demikian, apa punya rencana ke Amerika dan mencarinya sendiri?”
“Kau pikir aku tak percaya pada apa yang kau katakan? Jang Hanbyul pindah rumah dan kau tak menemukan alamat barunya?”
“Kau terlalu cerdik untuk dibodohi dengan alasan konyol seperti itu.”
“Aku percaya.” Ai menghentikan langkahnya. Ia tersenyum lalu membalikan badan menghadap Byunghun.
Byunghun tak kuasa membalas tatapan Ai.
“Why?”
“Nothing.”
“Apa pun itu tak perlu merasa bersalah padaku. Dan aku harap kau tak percaya pada apa yang dikatakan Hyuri padamu. Aku bisa melihat semua kebenaran hanya dengan beradu pandang? Ish! Itu hanya bualan.”
“Aku tahu kau memang memiliki kemampuan itu. Dari awal melihatmu, aku tahu kau bukan gadis biasa.”
Ai kembali tersenyum. “Namun tak semua hal bisa aku raba.”
Byunghun mengangkat kepala menatap Ai. “Menurutmu ini sifat pengecut?”
Ai kembali membelakangi Byunghun dan melanjutkan memeriksa stok bunga. “Entahlah. Aku tak begitu mengenalnya. Tapi aku coba memahaminya. Semua tindakan pasti memiliki alasan.”
“Lalu kau akan tetap menunggunya?”
Ai tersenyum getir. “Entahlah. Jika aku katakan iya, itu terdengar sangat bodoh. Tapi jika aku katakan tidak, pada kenyataannya sampai sekarang aku menunggunya. Kepastian.” Ai tertunduk.
Hening. Byunghun masih berdiri di belakang Ai. terdiam menatap Ai yang berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk.
Ai menghela napas panjang. “Saat ini sangat sibuk dengan Morning Glory Florist dan Wisteria Land. Promosi untuk semua ini. Cukup membantuku.”
“Tak akan menimbangnya lagi?”
Ai berbalik menghadap Byunghun. “Satu-satunya yang aku pikirkan kini adalah kenapa kau tetap bertahan? Sedang kau tahu aka tak bisa menjanjikan apa pun. Ini membuatku merasa bersalah setiap kali mengingat semua kebaikanmu.”
Byunghun terdiam.
“Nanti adalah waktu yang sangat lama. Mungkin tak terbatas. Kenapa kau sia-siakan waktumu? Em?”
“Aku hanya penasaran pada apa yang akan terjadi nanti.”
“Dan kau rela mengambil resikonya?”
“Nee.”
“Bagaimana jika pada kenyataannya nanti, tak seperti yang kau harapkan?”
“Bagaimana juga jika tak seperti yang kau harapkan?”
Ai terdiam. Berpikir.
“Kita tak pernah tahu. Tentang nanti, tak akan pernah tahu. Karenanya aku hanya ingin menikmati apa yang ada sekarang. Pelan-pelan. Jangan merasa bersalah padaku. Itu akan membuatku merasa bersalah juga padamu. Bukankah seorang teman tak akan melakukan ini? Aku telah berjanji untuk menjagamu, sebatas yang aku mampu. Saat aku tak sanggup lagi… aku akan pergi. Aku janji untuk semua keputusan ini.” Byunghun tersenyum.
Ai turut tersenyum. “Choa. Kita akan menjalaninya. Apa yang ada sekarang. Pelan-pelan. Jangan merasa bersalah satu sama lain. Aku ingin tetap bertahan seperti sebelumnya, tapi jika pertahananku tumbang. Aku janji, aku tak akan lari dan mengakui hal itu. hingga saat nanti entah aku menyerah pada keadaan dan tetap menunggu kepastian atau aku menyerah… padamu.”
Byunghun tampak terkejut mendengarnya. Ia terdiam menatap Ai.
“Berulang kali aku katakan aku lelah menjadi sangat khawatir. Namun  kenyataannya, aku masih tak bisa lepas dari belenggu itu. Ini sangat tak adil untukmu. Hanya ini yang bisa aku lalukan. Membiarkanmu mengusikku sampai kau bosan. Maafkan aku.”
Byunghun tersenyum dan mengangguk.
“Malam ini kami akan kembali mengisi panggung club Paman Jaesuk. Clovis mulai mendapat perhatian dan punya fans. Eum… kau punya ide nama untuk fans Clovis?” Ai mengalihkan obrolan.
“Permainan kata kau ahlinya. Aku tak ada ide.” Byunghun kembali berjalan mengikuti Ai.
“Musim semi tahun ini… Jaejin apa masih sama? Keluar dengan maskernya? Ah, anak itu.”
Ai dan Byunghun melanjutkan memeriksa stok bunga di gudang.
***
Shin Ae berdiri di depan gerbang Hwaseong Academy. Ada yang berbeda dari penampilannya hari ini. Shin Ae memakai seragam Hwaseong Academy. Shin Ae sumringah menatap megahnya bangunan Hwaseong Academy.
“Selamat pagi, Paman!” Shin Ae menyapa Moonsik yang muncul untuk membuka gerbang.
“Jung… Jung Shin Ae…?” Moonsik mengerjapkan kedua matanya.
“Nee. Ini aku, Paman.” Shin Ae tersenyum lebar.
“Aigoo, kau terlihat cantik memakai seragammu.”
“Tapi aku sangat gugup. Bagaimana ini…?”
“Hah. Masak begini saja kau takut, ha? Ckckck, anak Jeonggu Dong semakin terlihat baik dan hebat. Kenapa kalian gemar sekali berangkat pagi-pagi?”
“Tour pagi.” sahut Ai yang datang bersama Kibum dan Wooyoung.
“Kami harus mengenalkan Hwaseong Academy pada adik baru kami.” Kibum merangkul Shin Ae.
“Dan aku bukan anak Jeonggu Dong, tapi aku senang menjadi bagian dari Jeonggu Dong.” Wooyoung meralat membuat semua tertawa.
Tahun ajaran baru dimulai. Murid baru hadir dalam Hwaseong Academy. Kibum memandu Shin Ae berkeliling pagi itu. Wooyoung turut bersama keduanya. Sedang Ai memilih tinggal di rumah Moonsik. Kembali tidur.
***
“Fujiwara!”
“Oh! Sonsaengnim.” Ai sedikit membungkukan badan di depan Junki yang menghampirinya.
“Selamat tahun ajaran baru.”
“Nee. Selamat tahun ajaran baru.”
“Kau tampak semakin baik.” Junki berbinar. Sepertinya ia sangat bahagia hari ini.
“Sonsaengnim…?”
“Ah, iya aku… aku…”
“Ada apa?”
“Istriku positif hamil.” ungkap Junki penuh kebahagiaan.
“Jin-jinja…? Woa, chukae! Akan segera menjadi ayah.”
Junki mengusuk tengkuknya. Salah tingkah di depan Ai. “Gomawo. Entah kenapa aku ingin membagi berita bahagia ini denganmu. Mian.”
“Karena kita teman.” Ai tersenyum tulus.
Junki tersenyum lega lalu pamit pergi.
Ai berdiri dan tersenyum menatap Junki yang berjalan meninggalkannya.
“Kau tak lupa sarapanmu pagi ini?”
“Dokter Song. Nee, aku tak lupa sarapan.” Ai tersenyum menyambut Joongki.
“Aku menagih janjimu. Musim semi sudah tiba, kapan aku akan datang dan membuat taman untukku?”
“Oh, iya. Maafkan aku. Aku lupa jika aku berjanji pada Dokter Song.”
“Dokter Song…?”
“Ck! Ini di sekolah. Masak iya aku harus memanggil Oppa…?”
Ai dan Joongki tertawa bersama.
“Selamat pagi Tuan Putri.” sapa Kim Jaehyuk –Kimjay-.
“Selamat pagi, Sonsaengnim.” Ai membungkuk membari salam.
“Hah, tahun ajaran baru kali ini terasa lebih hangat. Kau setuju Dokter Song?” tanya Jaehyuk.
“Nee.” Joongki membenarkan.
“Semoga tak ada kekacauan lagi.” Park Shihoo turut bergabung. “Tapi pasti tak akan menarik ya?”
Semua tertawa bersama.
“Istimewa sekali karena Anda sekalian menyapa pagi ini. Terima kasih.” Ai kembali membungkukan badan.
“Club musik masih terbuka. Aku harap kau berubah pikiran, Fujiwara.” Jaehyuk tersenyum sebelum pergi bersama Shihoo.
“Stardust telah lulus, Red Venus tetap seperti itu dan Viceroy sedikit redup. Sepertinya kau akan jadi mascot baru sekolah.” kata Joongki.
“Maskot baru sekolah? Ish! Aku tidak mau. Hidupku adalah di Jeonggu Dong, bukan Hwaseong Academy.”
“Ish! Bagaimana mimisanmu…?”
“Nee…? Dokter Song… tahu…?”
“Apa yang tak aku tahu?!”
“Ish!”
Joongki terkikik geli melihat ekspresi Ai.
***
Ai memetik gitar akustiknya. Ia kembali menggelar pertunjukan di jalan Hongdae. Ai menyanyikan lagu Only One Person-FT.Island. Ketika menyanyikan lagu ini semua kenangan bersama Hanbyul kembali muncul dalam ingatan Ai.
Byunghun berada diantara kerumuman penonton. Tampak pula Minhwan, Shin Ae, Taerin, Seunghyun, Kibum, Wooyoung, Hyuri dan Myungsoo berdiri menonton pertunjukan Ai.
Usai menggelar pertunjukan jalanan, Ai dan teman-temannya berkumpul di restoran Myungsoo. Mereka berkumpul mengitari meja besar yang dipenuhi sajian berbagai menu makanan.
“Yorobun!” Ai berdiri. “Hari ini hari pertama sekolah. Tahun ajaran baru dimulai. Dan malam ini akan menjadi titik awal bagi kita semua. Aku berharap, tahun depan, tahun berikutnya lagi hingga tahun-tahun berikutnya kita bisa berkumpul seperti ini.” Ai tersenyum. “Lima tahun lagi, semoga kita masih bisa berkumpul kembali seperti malam ini.”
“Lima tahun lagi?” tanya Minhwan.
“Paling tidak butuh waktu sampai lima tahun untuk bisa meraih impian kita. Menurut teori.” Ai kembali tersenyum. “Yorobun. Mari angkat gelas kita dan bersulang.”
Semua berdiri. “Konbae!” seru mereka lalu bersulang dan meneguk habis isi gelas masing-masing.
***
Ai berdiri di tepi sungai Han. Menatap pemandangan malam dari tepi sungai Han.
Semua yang telah kita lalui bersama, kenapa terasa begitu indah dan berarti setelah kita terpisah? Aku merindukan itu semua dan ingin kembali ke masa itu. Menahanmu untuk tetap tinggal di sisiku. Aku terlalu angkuh menutupinya. Menutupi jika sebenarnya aku benar-benar membutuhkanmu untuk selalu tetap dekat di sisiku. Waktu… andai aku bisa memutar kembali waktu dan kembali ke masa itu. Aku ingin membuatmu tetap tinggal di sini. Dekat di sampingku.
Ai mendongak menatap langit malam di musim semi.
Aku menghargai keputusanmu saat ini. Sakit. Tak bisa kupungkiri rasa sakit itu. Sakit ketika kau tiba-tiba menghilang tanpa kata perpisahan. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Apa pun yang terjadi, aku akan menunggu. Aku akan menunggumu kembali dan memberikan kepastian atas hubungan kita ini, Jang Hanbyul. Ini janjiku padamu.
Ai tersenyum menatap langit lalu berjalan pergi.
***
Mungkin inilah bagian tersulitnya. Mencatat semua peristiwa secara mendetail. Aku mencoba mencatat semua. Apa yang terjadi secara terperinci. Mencatat semua yang aku tahu setelah malam itu. Malam dimana kami berkumpul di restoran milik Kim Myungsoo di salah satu sudut Hongdae. Bahkan aku mengumpulkan semua informasi dari awal. Bagaimana tentang YOWL, Viceroy dan Red Venus. Kami harus punya buku sejarah agar kelak anak cucu kami mengenang kisah ini.
Setelah malam itu, di sekolah berjalan monoton. YOWL hanya datang ke sekolah saat ujian akhir. Mereka terlihat hebat. Tak menyangka anak berandalan Jeonggu Dong ini berubah menjadi begitu bersinar. Dan kami tiba pada tingkat akhir. Tingkat yang paling menjemukan. Cerita jadi berbeda ketika kami semua dinyatakan lulus dari Hwaseong Academy. Kemana setelah itu? Terpisah. Semua pergi mengejar impian masing-masing. Aku akan sedikit ceritakan di sini.
Bintang utama kita, YOWL. Mereka yang pertama ingin aku bagi kisahnya di sini. Karir YOWL merangkak naik dengan mudah? Tidak. Sedikit iya, beberapa orang membenarkan pendapat itu. Banyak pihak yang ingin menguak sisi kehidupan pribadi dari masing-masing personel. Manajemen YOWL berusaha menutupi namun akhirnya tumbang juga. Yah, itulah secuil kehebohan yang mewarnai karir YOWL. Selain itu, sifat arogan YOWL juga sempat menimbulkan beberapa masalah dan skandal. Namun karir di dunia hiburan tanpa ini semua rasanya bagai masakan tanpa garam dan penyedap. Hambar. Ini mengajarkan banyak hal bagi mereka. YOWL. Mereka benar-benar meroket dan mencapai puncak. Tanpa memungkiri kenyataan dan masa lalu mereka. YOWL diakui sebagai salah satu band rock papan atas Korea. Debut mereka di Jepang juga sukses. World Tour yang mereka gelar pun meraih kata… fantastis. Saat ini mereka sedang mempersiapkan album internasional mereka. YOWL berfokus pada hal itu dan tinggal di Amerika. Well, akhirnya mereka sampai di sana. Di negeri Paman Sam yang menjadi impian bagi sebagian besar warga Korea untuk mengunjunginya.
Red Venus. Walau tak begitu tertarik pada mereka, namun tak akan adil jika aku tak menulis sedikit tentang mereka. Tadinya aku berpikir Red Venus yang akan tetap langgeng dan Berjaya. Tapi dugaan ini 100% salah. Dunia glamour dari menjadi superstar yang sesungguhnya seperti yang mereka impikan sebelumnya kandas. Saat mereka dinyatakan lulus, Jung Soojung meninggalkan Korea. Ia memilih kembali ke Amerika dan kuliah di sana. Yiyoung yang multitalenta sempat menghiasi panggung hiburan Korea, bahkan ia sempat dinobatkan sebagai Peri Nasional Korea. Gyuri dan Chaerin kuliah di Universitas yang sama. Lalu Jieun aktif di sebuah teater. Aku lebih suka melihat gadis ini. Seperti saat awal aku melihatnya.
Ketiga yang paling ingin kalian ketahui pasti tentang Viceroy.  Menurutku mereka yang paling hancur. Viceroy. Sempat dikenal sebagi mascot sekolah dalam panggung hiburan Hwaseong Academy, namun tak satu pun member Viceroy yang berkecimpung di dunia musik. Lee Jungshin menjadi fotografer muda terkenal. Woo Sunghyun kembali ke negara asalnya, Inggris. Viceroy yang pernah menorehkan prestasi hebat semasa mereka menempuh pendidikan di Hwaseong Academy, kini hanya tinggal sebuah nama Viceroy. Kim Myungsoo sibuk mengurus bisnis restorannya yang kini sudah membuka banyak anak cabang di kota-kota besar di Korea. Aku dengar dia akan buka cabang baru di Jepang. Sedang Choi Monhwan dan Lee Byunghun  yang hatinya sudah tertahan di Jeonggu Dong tetap bertahan di sini. Byunghun mendirikan sekolah taekwondo di Jeonggu Dong. Sedang Minhwan disibukan dengan bisnis tempat karaokenya. Awalnya hanya ada di Jeonggu Dong. Kini senada dengan Myungsoo, Minhwan mulai membuka banyak anak cabang untuk tempat karaoke miliknya. Tentang Jang Hanbyul… tak ada satu pun yang tahu.
Jeonggu Dong. Tak sama lagi kini. Semakin baik dan ramai. Orang tak takut lagi berkungjung ke markas para penjahat ini. Home industry makanan dan minuman, kerajinan tangan dan sekolah musik tradisinonal menjadikan Jeonggu Dong menarik untuk dikunjungi. Dan tentu saja karena tempat yang paling terkenal Wisteria Land. Hiburan malam dan tempat perjudian juga masih beroperasi di wilayah selatan Jeonggu Dong. Yongbae, Wooyoung, Kibum dan Minki Oppa masih di sana. Wisteria Land dan Morning Glory Florist masih menjadi tempat bermain mereka.
Lalu bagaimana dengan Fujiwara “Ai” Ayumu? Dia ada. Kondisi kesehatannya sempat menurun drastis. Kami semua sempat putus asa. Namun seperti biasa, gadis ini selalu membuat kejutan. Setelah ia memimpin kami bersulang malam itu, Ai menghilang. Keesokan harinya kami mendapat kabar Ai sudah dirawat dirumah sakit. Ia ditemukan pingsan di tepi sungai Han. Ia mimisan parah malam itu dan pingsan. Satu bulan setengah Ai di rawat dirumah sakit. Setelah kembali ia memutuskan berhenti dari sekolah. Keinginan lama yang ia pendam dan akhirnya terwujud juga. Ia menghabiskan waktu untuk Wisteria Land dan Morning Glory Florist. Sesekali ia tampak mengamen di Hongdae atau mengisi panggung di club Paman Jaesuk. Selebihnya Ai lebih banyak menyendiri. Ai membangun sebuah rumah pohon di kebun bunga miliknya dan lebih banyak menghabiskan waktu di sana. Sering aku bertanya apakah ia sakit? Namun tak ada yang tahu pasti tentang itu.
Aku ingin mengingatkan kalian pada Clovis. Band dadakan ini saat ini sedang menemani World Tour II yang digelar YOWL ditengah kesibukan mereka mempersiapkan album internasional YOWL. Kim Taehee tertarik usai beberapa kali melihat penampilan Clovis. Kemudian ia meminta Clovis untuk bergabung dalam Caliptra Seta Entertainment. Mereka akan debut tahun ini. Dan aku jadi sangat merindukan Seunghyun, sahabatku.
Oppa dan sahabatku pergi meniti karir mereka di dunia musik. Kesepian? Hanya saja terkadang jadi rindu pada mereka. Namun aku senang di sini. Menemaninya. Onniku, Jiyoo Onni. Mempelajari tentang bunga-bunga sangat menyenangkan. Jiyoo Onni membimbingku dengan baik. Karenanya aku memlilih untuk tetap tinggal di sisinya. Di samping Ai, Jiyoo Onni. Membagi kesepian kami, duka dan canda tawa. Bersamanya aku merasa kembali menemukan hidupku yang entah pergi kemana selama ini. Aku, Rosewood, Kim Taerin menjadi orang kedua yang bertanggung jawab atas perkebunan. Satu kedudukan dibawah Jiyoo Onni. Hal yang tak pernah aku duga sebelumnya.
***
“Hari ini ada yang menawar gitarku lagi?” Ai duduk di teras rumah pohonnya.
“Nee. Kali ini Noh Yiyoung. Dia akan segera menikah dengan Junhyung dan berharap gitar itu menjadi hadiah untuk pernikahannya.” terang Yongbae.
“Dia masih mengincarnya sejak melihat gitar itu pada festival pembukaan Wisteria Land.” Kibum menggelengkan kepala.
“Noh Yiyoung menggunakan jasa Morning Glory Florist untuk dekorasi pesta pernikahannya. Karena itu Minki Hyung meminta kami kemari.” kata Wooyoung.
“Kapan Nona akan berkunjung lagi ke Jeonggu Dong? Wisteria Land?” tanya Yongbae.
“Bagaimana kabar yang lain? Rasanya begitu lama.” Ai meminum tehnya.
“Setahun Nona tak pulang ke Jeonggu Dong. Terakhir saat pernikahan Kim Myungsoo dan Song Hyuri kan?” jawab Yongbae.
“Harusnya aku segera menjenguk anak pertama Shin Ae dan Minhwan.” Ai tersenyum.
“Bayi mungil yang cantik. Ess, lucu sekali.” Yongbae berseri.
“Nona tahu jika Byunghun ke Amerika?” tanya Wooyoung.
“Em.” Ai mengangguk. “Dia mengatakan ada sedikit urusan dan akan segera kembali. Kompetisi taekwondo nasional juga sudah menunggunya bukan?”
Wooyoung mengangguk.
“Menurut kalian, apakah aku harus menjual gitar-gitar itu…?” Ai dengan tatapan kosong lurus ke depan.
Taerin, Wooyoung dan Yongbae diam dan saling melempar pandangan.
***
Senja. Ai berdiri di teras rumah pohonnya. Rumah pohon yang indah dan mewah. Rumah pohon yanag telah lama ia impikan.
“Angin berhembus sedikit ekstrim belakangan ini.” Taerin memakaikan baju hangat untuk Ai.
“Gomawo.” Ai kemudian menegadahkan tangan kanannya. “Musim semi.” ia menatap langit. “Tahun ajaran baru. Hyuri dan Myungsoo pasti akan sangat sibuk. Hwaseong Academy.” Ai tersenyum.
“Shin Ae-Minhwan, Hyuri-Myungsoo, mereka pasangan  muda yang benar membuat iri.”
“Ey… kau benar ingin menyusul mereka? Tapi dengan siapa? Kibum? Atau Seunghyun…?”
“Ish! Onni!” Taerin turut menatap langit. “Entahlah. Aku dan Kibum hanya teman. Onni tahu sendiri kan, kami lebih sering cek-cok daripada akur. Seunghyun… hah… dia akan jaddi bintang besar. Aku rasa aku tak akan sanggup untuk ada di sampingnya. Aku ini tipe pencemburu.”
“Kalau begitu tetaplah tinggal di sisiku. Itu membuatmu aman bukan?”
Taerin tersenyum dan mengangguk. “Tapi… aku ingin menikah juga.” Taerin menoleh, menatap Ai. “Onni tak ingin menikah…?”
Ai membetulkan baju hangatnya. “Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Nona Kim Taehee sudah menunggu lagu untuk mini album kedua Clovis. Belum lagi Jaejoong.” Ai menggeleng lalu berjalan masuk menuju studio mini di dalam rumah pohon tempat ia biasa bekerja.
“Ya! Taerin~aa! Bantu aku menyiapkan meja makan!” panggil Kibum dari dapur.
“Nee! Gidaryo!” Taerin memenuhi panggilan Kibum.

Ai berhenti dari sekolah dan fokus mengurus Morning Glory Florist dan Wisteria Land. Berkat keuletannya, bisnis yang dirintis Ai pun merangkak naik dan kini menjadi salah satu aset terkenal Jeonggu Dong. Ai pun masih mendampingi YOWL hingga kini. Ia membantu Jaejoong dan Wonbin dalam mencipta lagu. Saat tiba di puncak karir di Jeonggu Dong, Ai memilih pergi dan menyendiri di rumah pohon yang ia bangun di perkebunan bunga miliknya. Berada di tempat yang sedikit terpencil ini membuat Ai tenang. Taerin dan Kibum turut menemaninya untuk mengurus perkebunan.
***
Usai menikmati makan malam, Taerin dan Kibum duduk di teras. Keduanya diskusi mengevaluasi pekerjaan hari ini. Sedang Ai masih berkutat di studio mini miliknya.
Taerin dan Kibum ngobrol dan sesekali bercanda. Keduanya kompak terdiam ketika Wooyoung datang bersama Byunghun. Kibum dan Taerin kompak bangkit dari duduknya. Masih terdiam. Tertegun.
Headphone bertengger di kepala Ai menutup kedua telinganya. Tangan kiri Ai berkutat pada keyboard laptop dan tangan kirinya pada mouse, sedang tatapannya fokus menatap monitor. Ai serius melakukan cek ulang aransemen lagu yang akan ia kirimkan kembali pada Jaejoong. Saking fokusnya, Ai sampai tak menyadari jika Byunghun masuk.
“Oh! Byunghun~aa!” Ai baru menyadari keberadaan Byunghun ketika pemuda itu duduk di sampingnya.
Byunghun  tersenyum, duduk menunggu Ai.
“Kapan kau kembali?” Ai melepas headphone di kepalanya. “Sepulang dari Amerika langsung sibuk mengurus kompetisi. Selamat ya. Anak didikmu menang lagi.” Ai tersenyum lebar.
“Kau rindu padaku ya?” goda Byunghun.
“Ish!”
“Aku rindu padamu.”
“Berhenti menggodaku. Kau sama sekali tak terlihat serius!”
“Hagh! Harus bagaimana agar kau percaya jika aku rindu padamu? Ha?”
“Baiklah. Aku percaya. Lalu kau mau apa? Aku datang dan memelukmu? Ish. Kita bukan anak SMA lagi.”
Byunghun tersenyum geli. “Ayo, kita keluar. Apa kau tidak bosan berada di dalam sini terus?”
“Aku baru mulai.”
Byunghun memasang ekspresi geram.
Ai tertawa geli. “Baik, baik. Ayo. Apa kau ingin melihat kunang-kunang lagi?”
“Em.” Byunghun mengangguk. “Apa ini masih menjadi rahasia?” Byunghun turut bangkit dari duduknya.
“Taerin dan Kibum sudah tahu. Sepertinya lama-lama akan terbongkar juga.” Ai mulai berjalan keluar.
“Wah, tak istimewa lagi.”
“Masih sama. Hal istimewa jika dibagi akan lebih baiak bukan?”
“Em.” Byunghun mengangguk. “Saat di Amerika kemarin, aku menonton World Tour YOWL bersama teman di sana.”
“Oya…? Ish, di Korea kau tak mau nonton, tapi di Amerika malah nonton.”
“Jaejoong, Wonbin, Jaejin dan Minhyuk sangat keren. Clovis pun sama.”
“Mereka tampak hebat saat di atas panggung tapi saat di…” Ai tak melanjutkan perkataannya saat sampai di teras. Ai berdiri tertegun menatap ke arah orang-orang yang sedang duduk bersama di teras. Taerin, Kibum, Wooyoung dan Hanbyul juga seorang gadis. Ai ingat wajah itu, Han Suri.
Hanbyul bangkit dari duduknya. Tangan kanan Hanbyul memegang tongkat yang membantunya berdiri.
Ai masih berdiri mematung menatap ini semua. Bungkam.
Hanbyul berjalan dengan bantuan tongkat mendekati Ai. Hanbyul berhenti jarak selangkah di depan Ai. Rona bahagia terlukis jelas di wajah Hanbyul ketika ia berdiri sedekat ini dengan Ai.
Ai masih terdiam menatap pria yang entah kemana selama lima tahun ini. Pria yang tiba-tiba menghilang dari kehidupannya tanpa mengucap kata perpisahan.
Hanbyul tersenyum bahagia juga haru. Tangannya bergerak hendak menyentuh wajah Ai. Namun tiba-tiba Ai mundur selangkah menghindar. Semua yang berada di teras terkejut melihat reaksi Ai. Hanbyul bergerak pelan menurunkan tangannya dan menunduk. Ia menyadari jika ia salah, tiba-tiba menghilang selama lima tahun ini. Suasana begitu hening.
“Firasatmu kala itu tak salah. Semua yang ada di sini baik-baik saja, namun tidaak dengan Hanbyul. Hari dimana gelas itu tiba-tiba pecah adalah hari yang sama dimana Hanbyul mengalami kecelakaan. Hanbyul dan teman-teman satu timnya merayakan kemenangan. Mereka berpesta dan mabuk. Lalu kecelakaan maut itu terjadi. Hanbyul mengalami cacat permanen di kakinya. Sejak saat itu ia tak bisa main basket lagi.” terang Byunghun memecah keheningan.
“Ponselku tak ditemukan di lokasi kejadian. Dan ketika aku terbangun, setelah tertidur selama seminggu, aku menerima kenyataan pahit itu. Cacat permanen pada kaki kiriku. Aku tak akan bisa main basket lagi. Aku terpuruk. Kecewa dan marah padaa diriku sendiri. Tak berani menghubungimu, tak berani menghubungi Myungsoo, Sunghyun, Jungshin, Minhwan dan Byunghun. Mengabaikan semua emailmu…” Hanbyul masih tertunduk di depan Ai. “Aku terpuruk dan takut menerima kenyataan ini. Takut untuk mengatakan kebenaran padamu. Suri merasa bersalah padamu karena harus menuruti permintaanku untuk mengabaikan semua pertanyaanmu tentangku. Karenanya Suri memilih menutup akunnya.” Hanbyul kembali terdiam. Mengatur emosinya.
“Hingga hari itu Byunghun datang. Menemukan alamat baruku. Byunghun menceritakan semua. Tentangmu. Saat itu aku seolah kembali menemukan semangat hidupku. Tapi aku masih takut untuk jujur padamu. Aku meminta Byunghun berbohong dan… dan aku memintanya untuk menjagamu.” lanjut Hanbyul.
Ai menahan air matanya. Berdiri diam di depan Hanbyul. “Kenapa kau lakukan ini semua Jang Hanbyul? Kenapa kau begitu egois? Melakukan ini semua… lima tahun…” air mata Ai leleh. “Tega sekali kau melakukannya pada kami.”
Hanbyul mengangkat kepala menatap Ai. Melihat Ai menangis ia semakin merasa bersalah. “Mianhae…” bisik Hanbyul.
“Apa menurutmu aku akan berpaling saat tahu kau tak akan bisa menjadi atlit basket terkenal? Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu. Bagaimana bisa…” Ai tertunduk dan menangis.
Hanbyul merengkuh Ai dalam pelukannya. “Mianhae. Jongmal mianhae.” bisik Hanbyul di sela tangisnya. “Maafkan sifat pengecut dan egoisku ini. Maafkan aku…”
***
Ai dan Hanbyul duduk berdampingan di teras. Hanya mereka berdua.
“Gomawo.” kata Ai memecah kebisuan.
Hanbyul menoleh, menatap heran pada Ai.
Ai pun menoleh, tersenyum menatap Hanbyul. “Aku senang melihatmu masih mengenakan kalung bintang hitam itu.”
Hanbyul tersenyum manis. “Seperti dirimu, bersamaku dan memberiku kekuatan.”
“Saat kau tiba-tiba menghilang… itu menyiksaku. Aku mengumpulkannya semua dalam kotak kayu dan sesekali membukanya saat aku benar merindukannmu. Aku takut kau akan benar pergi untuk waktu yang sangat lama, karena itu aku menyimpan semua. Juga kalung dengan liontin burung hantu itu. Mianhae.”
Hanbyul tersenyum. “Setiap orang punya cara masing-masing.” Hanbyul menghela napas panjang. “Tadinya aku pikir kau akan berpaling pada Byunghun. Dia menjagamu dengan baik selama ini.”
“Ish! Bukankah itu salahmu?!”
Hanbyul terkekeh.
“Byunghun sangat baik. Namun hatiku tak bisa menerimanya lebih dari teman.”
“Kau sama sekali tak berpikir buruk tentangku? Setelah mengetahui perihal Suri, kau tak curiga pada kami?”
“Aku menghargai keputusanmu. Walau itu menyakitkan.”
“Tapi kau tetap menunggu.”
“Karena aku punya keyakinan. Dan hari ini keyakinanku itu terjawab sudah.” AI tersenyum mengenangnya.
Hanbyul turut tersenyum. “Aku akan merawatmu dengan baik.” Hanbyul meraih tangan kanan Ai dan menggenggamnya. “Aku harap kau tak membenciku karena aku seorang Dokter kini. Dulu kau sangat anti pada Dokter kan?”
“Ish!” memukul pelang lengan Hanbyul.
Hanbyul tersenyum dan merangkul Ai lebih dekat padanya. Ia tersenyum lega menatap langit malam.
***
Pesta pernikahan sederhana digelar di gereja kecil dimana dahulu pernikahan Junki dan Young Ah digelar. Hanbyul dan Ai menikah di sana, mewujudkan khayalan Hanbyul enam tahun silam. Hanya di hadiri keluarga dan kerabat dekat yang menjadi saksi Hanbyul dan Ai ketika mengikat janji suci pernikahan.
Rumah pohon dipenuhi hiasan di sana-sini namun tampak hening. Sedikit redup dalam kamar pengantin. Hanbyul duduk berhadapan dengan Ai. Keduanya saling memandang dan terdiam. Hanbyul mengecup kening Ai kemudian mengecup lembut bibir merah Ai. Hanbyul melempas kecupannya dan kembali menatap Ai. Hanbyul bergerak perlahan hendak mencumbu Ai kembali. Namun Ai tiba-tiba menutup hidungnya dan berlari ke kamar mandi.
“Wae?” Hanbyul menyusul Ai ke kamar mandi. “Omo! Kau mimisan…?” Hanbyul mendekati Ai yang membasuh hidungnya di wastafel. Ia meletakan telapan tangan di kening Ai. “Tidak demam. Kita ke rumah sakit!”
“Aniya. Kugjungmayo. Ini biasa terjadi.” Ai dengan hidung tertutup tissu.
“Mwo…? Mimisan ini.. biasa terjadi…? Sejak kapan…?”
“Hah… setelah sekian lama tak kambuh, kenapa tiba-tiba malam ini…?”
“Ada apa sebenarnya…?”
“Dokter mengatakan ini akibat trauma. Setelah kecelakaan itu. Aneh memang. Aku rasa terapiku berhasil dan semakin jarang mimisan, bahkan tidak sama sekali setahun ini. Tapi tiba-tiba malam ini…” Ai menatap Hanbyul. “Mianhae… akau rasa aku terlalu gugup hingga aku mimisan. Kita harus menunggu sampai mimisannya berhenti.” Ai tersenyum meringis.
Hanbyul menghela napas terlihat kesal.
***
Cinta, musik dan impian adalah tiga ritme yang mampu membuat manusia tetap bersemangat dalam hidup. Cinta akan menunjukan jalan untuk meraih impian, dan musikmemberikan harapan dalam mengiringinya. Cinta menguatkanmu, musikmenginspirasimu dan impian akan memberimu ribuan harapan untuk tetap berjuang dan hidup…
Kau boleh terjatuh dan merasa rapuh, namun janganlah kau terpuruk. Tuhan akan selalu mendukung langkahmu. Pupuklah keyakinanmu, berusahalah dengan keras lalu berdoa dan pasrah pada Sang Penguasa Alam. Tuhan akan memberikan kebahagiaan pada orang-orang yang sabar. Tuhan akan mewujudkan impian orang-orang yang mempunyai keyakinan kuat. Percaya dan yakinlah akan itu semua. Maka suatu hari nanti kau akan tersenyum di atas keberhasilanmu. –Fujiwara “Ai” Ayumu-


-------THE END------- 


.shytUrtle.

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews