The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’ (다음 이야기 화성 아카데미’사랑, 음악과 꿈’)

06:07

The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
            다음 이야기 화성 아카데사랑, 음악과
 
. Judul: The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
. Revised Romanization: da-eum iyagi Hwaseong Akademi 'salang, eum-aggwa kkum'
. Hangul: 다음 이야기 화성 아카데미사랑, 음악과
. Author: shytUrtle
. Rate: Serial/Straight
. Cast
- Fujiwara Ayumu (
藤原歩) aka Jung Jiyoo (정지유)
- YOWL
1. Kim Jaejoong (
김재중)
2. Oh Wonbin (
오원빈)
3. Lee Jaejin (
이재진)
4. Kang Minhyuk (
강민혁)
- Song Hyuri (
송휴리)
- Kim Myungsoo (
김명수)
- Jang Hanbyul (
장한별) and all cast in Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’ ver. 1

New Cast:
- Jung Shin Ae
- Trio Orenji High School:
1. Kim Hyerien
2. Han Sunyoung
3. Song Hami
- Kim Taerin
- Kim Changmi
- Etc…
   

Cinta, musik dan impian adalah tiga ritme yang mampu membuat manusia tetap bersemangat dalam hidup. Cinta akan menunjukan jalan untuk meraih impian, dan musik memberikan harapan dalam mengiringinya. Cinta menguatkanmu, musik menginspirasimu dan impian akan memberimu ribuan harapan untuk tetap berjuang dan hidup…
   


Episode #23
Ai sumringah berjalan keluar ruangan usai menjalani pemeriksaan. “Sekarang kau percaya? I’m 100% OK!” katanya riang.
“Tapi tetap saja kau harus banyak istirahat, tidak boleh berpikir terlalu berat.”
“Em.” Ai manggut-manggut.
“Hah, apa yang terjadi padamu itu selalu tergolong langka. Aneh.”
“Langka…? Aneh…?”
“Tanganmu pulih lebih awal, tapi tiba-tiba kau sering mimisan. Dokter mengatakan itu trauma akibat kecelakaan yang kau alami. Dokter sendiri dibuat termangu akan hal ini. Kecelakaan itu hampir tiga bulan berlalu. Harusnya kau melakukan CT Scan dan tes darah.”
“Aku yakin aku baik-baik saja. Sebenarnya ini membuang waktu.”
“Ish!”
Langkah keduanya terhenti menatap televisi di ruang tunggu klinik yang sedang menyiarkan liputan tentang YOWL.
“Kenapa RS dan klinik gemar memutar stasiun tv yang menayangkan mereka?” gumam Ai lirih.
Byunghun tersenyum.
“YOWL jadi terlalu mainstream.”
“Ish! Kau tak suka? YOWL kan sedang naik daun.”
“Kalau keseringan bosan juga kan.”
“Tim YOWL yang lebih paham tentang itu. Jadi kau mau tidak? CT Scan dan tes darah..?”
“Aku sudah terapi.” Ai kembali berjalan.
“Terapi…?” Byunghun mengejarnya.
“Iya.”
“Terapi apa?”
“Meditasi.”
“Meditasi…? Bisa ya…?”
“Tentu.”
Byunghun memiringkan kepala. Ia tak paham, apakah benar meditasi bisa jadi terapi manjur untuk Ai.
***
“Setelah ini, kau harus makan dan istirahat dengan baik.” Byunghun duduk berhadapan dengan Ai menikmati menu yang tersaji di hadapan mereka. “Kau suka tempat ini? Ini restoran vegetarian favoritku. Sudah lama ingin mengajakmu kemari, namun baru kali ini bisa.”
“Tempat yang nyaman dan makanan yang enak. Terima kasih mengajakku kemari.”
“Aku perhatikan kau jarang makan, seringnya hanya apel merah. Aku pikir kau vegetarian.”
“Aku makan makanan lain juga kok.” Ai tersenyum. “Hah, apel merah.” Ai kembali tersenyum seolah sedang mengenang sesuatu.
“Kenapa dengan apel merah?”
“Gara-gara aku suka apel merah, Minki Oppa kadang suka memanggilku Ryuke.”
“Ryuke…?”
“Kau pernah membaca komik Death Note? Atau menonton filmnya?”
Byunghun menggeleng.
“Ryuke itu Dewa Kematian di sana.”
“Dewa Kematian…?”
Ai meraih ponselnya, lalu menunjukan gambar Ryuke pada Byunghun.
“Ih!” Byunghun merasa ngeri. “Bagaimana bisa Minki Hyung menyamakan kau dan Ryuke…? Kau kan… cantik.” Byunghun lirih pada kata ‘cantik’.
Ai pura-pura tak mendengar. Masih sibuk dengan ponselnya. “Karena aku suka makan apel, lebih dari makanan pokok manusia. Ryuke di Death Note juga suka makan apel.”
“Hanya gara-gara itu…?!”
“Ekspresimu berlebihan sekali. Minki Oppa hanya bercanda.”
“Tapi makhluk itu benar menyeramkan.”
“Kau takut?”
“Ish!”
Ai terkikik geli.
Keduanya kembali diam. Berulang kali Byunghun curi-curi pandang pada Ai.
“Hari ini kau cukup membuatku senang, Lee Byunghun. Terima kasih.” kata Ai.
Byunghun tersenyum tulus. “Jika aku tak bisa merebut posisi Hanbyul, bolehkah aku tinggal sebagai teman?”
“Kau serius akan merebut posisi Hanbyul…?”
“Jika ada kesempatan.”
“Ish!”
“Lupakan. Aku memang menyukaimu, tapi tak mungkin aku mengkhianati Hanbyul.”
“Jika suatu saat nanti, tiba-tiba hatiku goyah dan beralih menyukaimu, bagaimana?”
“Kita lihat saja nanti. Karena kita tidak akan pernah tahu pada apa yang akan terjadi nanti.”
Ai tersenyum lebar. “Jawaban yang bagus.”
Byunghun membalas senyum kemudian melanjutkan makan.
***
Minki berdiri melipat tangan di ambang pintu kamar Ai. Ia memperhatikan Ai yang sibuk berkutat dengan laptopnya.
“Sampai kapan Oppa akan berdiri seperti itu? Tidak baik berdiri di ambang pintu seperti itu.”
Minki tersenyum dan mendekat lalu duduk di atas karpet di kamar Ai. “Jadi seharian ini Byunghun menemanimu? Kalian membolos bersama?”
“Byunghun mengantarku periksa.”
“Periksa…?”
“Aku bohong pada Oppa itu benar. Belakangan ini beberapa kali aku mimisan.”
“Mimisan…?” Minki berubah panik. “Kau merokok lagi…?”
“Tidak, Oppa. Dokter mengatakan ini trauma akibat kecelakaan yang aku alami.”
“Tapi kecelakaan itu sudah berlalu, hampir tiga bulan yang lalu.”
“Dokter juga heran.”
“Kita lakukan CT Scan.”
“Ah, Oppa berlebihan. Sama seperti Byunghun.”
“Tapi…” Minki tak melanjutkan perkataannya. Ia sadar betapa keras kepalanya Ai. “Baiklah. Terserah kau saja.”
“Nanti kalau ada hal ganjil yang aku rasakan di kepalaku atau dimanapun itu, aku akan minta Oppa mengantarku periksa. Aku tak mau bohong lagi pada Oppa.”
“Janji?”
“Yap. Aku janji.”
“Belakangan, aku perhatikan kau makin dekat dengan Lee Byunghun.”
“Dia baik. Jadi dekat karena beberapa kali tak sengaja ia menemukan keterpurukanku, termasuk insiden mimisan itu. Itu saja.”
“Kau dan Apel Merah awalnya juga demikian kan? Banyak kebetulan dan… kalian dekat lalu pacaran. Hatimu mulai meragu pada Hanbyul?”
“Oppa lihat apa yang aku lakukan?” Ai menunjukan laptpnya. Ia sedang chatt dengan Hanbyul. “Itu akun si Apel Merah.”
“Long Distance Relationship hanya sedikit yang berakhir happy. Menurutku pribadi 1:100.”
“Oppa meragukan aku? Aku tak peduli tentang nanti, esok atau lusa dan apalah nama lainnya dan masa depan hubunganku dan Jang Hanbyul. Aku telah memilihnya dan memilih jalan ini. Kemudian aku menjadi terlalu lelah pada rasa khawatir. Lelah menjadi khawatir, setiap hari. Itu tak hanya membuang waktu, tapi juga tenaga dan pikiranku. Kerutan di wajahku bisa muncul lebih cepat dari waktunya.”
Minki tersenyum geli mendengar canda Ai pada kalimat terakhirnya.
“Kepergian YOWL terbang tinggi di awan tanpa aku adalah terapi kejut yang cukup lumayan membantuku. Sebelumnya aku juga beberapa kali mengalami hal ini. Kehilangan. Harusnya aku kebal dan tak terpuruk. Aku terlalu menganggap rapuh diriku dan menjadikan ketergantungan pada mereka. Pada Oppa. Aku ingin menjadi kebal. Menjadi kuat. Aku sedang mempelajarinya kini. Aku akan menikmati hidupku dari hari ke hari, dari jam ke jam, dari menit ke menit, dari detik ke detik. Hari ini, cukup hari ini. Menikmatinya tanpa harus mengkhawatirkan hari esok. Begitu seterusnya.”
“Jangan menolaknya. Itu akan menyakitkanmu.”
“Aku tahu. Oppa tahu, kemarin aku menangis tersedu karena rindu. Rindu pada YOWL, rindu pada Hanbyul. Lalu aku mimisan dan tadi malas ke sekolah.”
“Lalu membolos bersama Byunghun?”
“Em, begitulah.”
“Ish! YOWL luang lusa, kita berkunjung?”
“Taerin akan kesana. Seunghyun minta izin, mungkin akan sedikit terlambat saat latihan karena Taerin memintanya menemani untuk berkunjung ke dorm YOWL.”
Minki mengangguk paham. Lalu mengelus kepala Ai. “Eum, tak ngobrol via webcam?” sambil menatap laptop Ai.
“Ada Oppa di sini, bagaimana kami bisa bercumbu mesra…?”
“Ish!” Minki memutar tangannya yang masih berada di puncak kepala Ai.
“Oppa! Sakit, tau!!!” protes Ai.
Minki terkikik geli.
“Oh! Hanbyul mengirim foto.”
Minki mengerutkan dahi. “Siapa gadis itu…?”
“Han Suri. Menurutku sebagai saudara mereka sama sekali tak mirip. Bagaimana menurutmu, Oppa?”
“Mereka saudara…?” Minki kembali mengamati foto Hanbyul yang sedang bersama seorang gadis itu.
“Mereka lebih cocok sebagai sepasang… kekasih. Oppa setuju denganku?”
“Ish!” Minki menjitak pelan kepala Ai. “Mana boleh kerabat dekat menjalin hubungan kasih…?”
Ai memiringkan kepala. “Sungguh tak terlihat jika mereka kerabat…” gumamnya.
***
Hari-hari Ai disibukan dengan persiapan pembukaan Wisteria Land. Di Amerika, Hanbyul juga sibuk mempersiapkan pertandingan bergengsi bersama clubnya. Karena kesibukan maasing-masing, komunikasi pun makin jarang dilakukan.
Persiapan menuju pembukaan Wisteria Land semakin matang. Gambaran bagaimana acara ini akan digelar sudah matang. Semua sudah didiskusikan dan tersusun rapi. Latihan pun berjalan rutin setiap sore di basecamp.
Disela kesibukannya Ai tak lupa mengunjungi Jinyoung dan Hyunjung. Ia juga beberapa kali menemani Yongbae terapi. Ritual lainnya adalah berkunjung ke dorm YOWL. Ai benar-benar menyibukan diri. Memberi dan meminta dukungan pada orang-orang yang ia kasihi.
“Hah… makin sulit saja menaruh buket mawar merah di depan rumahnya.” keluh salah seorang rekan Ai. “Nona, sepertinya Kim Taerin sudah tahu jika di hari-hari tertentu Nona memintaku menaruh buket bunga di depan pintu rumahnya. Sepertinya ada yang membocorkan rahasia kita.”
Kibum yang sedang minum tiba-tiba terbatuk-batuk karena tersedak mendengar laporan itu.
Ai diam, hanya melirik Kibum.
Kibum salah tingkah sendiri dibuatnya.
“Tapi Nona jangan khawatir. Aku punya cara sendiri. Selalu ada celah untuk melakukan tugas ini.” tutup pemuda itu seraya tersenyum bangga.
“Terima kasih. Maaf ya, aku jadi sangat merepotkanmu.”
“Tak masalah, Nona. Rata-rata gadis itu suka mawar merah ya…? Padahal kan banyak bunga lain yang juga wangi dan indah.”
“Marar merah…?” gumam Ai. Tadinya Ai ingin menegur Kibum, namun ia urungkan ketika ia mendengar kata mawar merah. Ai kembali duduk dan bergegas menyalakan laptopnya. Ai segera mengunjungi blog Autumn Field dan mengamatinya.
Ai menemukan mawar merah di sana-sini dalam blog Autumn Field. Semua hiasan dalam blog itu bernuansa mawar merah. Ai menjatuhkan punggungnya pada punggung kursi.
“Ini tidak mungkin…” bisik Ai lirih. “Rosewood…”
“Ai, ini…” Kibum menghampiri Ai.
“Kau urus saja.” Ai bangkit dari duduknya dan pergi.
Kibum bingung dibuatnya lalu menatap laptop Ai yang masih menyala. Kibum penasaran dan duduk menatapa monitor laptop Ai. “Autumn Field…?”
***
Taerin terkejut. Langkahnya terhenti tiba-tiba. Kedua mata sipitnya terbelalak melihat Ai berdiri melipat tangan dengan punggung bersandar pada tembok di sisi kiri pintu rumah Taerin.
Ai menegakkan badannya kembali ketika Taerin sampai.
“Kau kemari.” sapa Taerin.
“Em.” Ai mengangguk. “Terima kasih sudah merawatnya dengan baik.” Ai menoleh dan menatap tamanan dalam pot kesukaan Jaejoong. “Harusnya kau taruh ia di dalam rumah. Aromanya akan membuatmu tenang.”
“Masuk?”
“Aku hanya sebentar.”
Taerin berdiri di depaan pintu dan Ai beralih berdiri di hadapan Taerin.
“Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Taerin.
“Tentu saja. Tak mungkin aku kemari hanya untuk berbasa-basi menyapamu.”
Taerin sedikit tersentak. Nada bicara Ai terdengar ketus.
“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu.”
“Soal tissue dan bindermu?”
“Untuk semuanya. Rosewood, Autumn Field.”
Jantung Taerin seolah copot mendengarnya. Mimik wajahnya terlihat jelas jika ia benar terkejut mendengar kata Rosewood, Autumn Field.
“Aku tak yakin apakah Rosewood, Autumn Field itu kau. Kata hatiku membawaku kemari. Semua itu bukan kebetulan. Selama ini, orang dibalik semua peristiwa itu, foto-foto dalam Hwaseong Academy Community, kau kah itu? Bahkan foto ancaman pada Jinwoon Oppa dan Daehyun, apa itu juga kau?”
“Ya! Fujiwara! Atas dasar apa kau menuduhku…?!” nada bicara Taerin meninggi.
Ai menyincingkan senyum. Ia puas melihat kemarahan Taerin. “Ide yang brilian dan pengemasan yang sangat rapi. Beruntung Jaejoong tak terlalu peduli pada hal semacam itu.”
“Kak-kau akan mengatakannya pada Jaejoong Oppa…?!”
“Kenapa kau berubah panik?” Ai dengan tatapan datarnya.
Taerin bungkam. Seolah ia kehabisan kata.
“Terima kasih. Semua itu menguatkan kami. Aku akui kau keren dan brilian. Dibalik wajah innocent itu… hagh! Ada untungnya. Itu semua menguatkan kami, membuat YOWL mencuat ke permukaan dengan cepat. Sekali lagi terima kasih.” Ai membalikan badan dan maju dua langkah. “Sebaiknya kau berhenti sekarang, Kim Taerin. Walau permainan itu benar mengasikan, tapi itu bukan cara yang tepat untuk mengusir kesepian yang menderamu. Jika keu tetap memaksa, aku jamin kau akan tetap kesepian. Bagaimanapun juga, akulah pemenangnya.” Ai menekankan pada kata ‘akulah pemenangnya’. Ia kemudian berjalan pergi meninggalkan Taerin yang berdiri terpaku di depan pintu masuk rumahnya.
Punggung Taerin jatuh menimpa daun pintu yang masih tertutup. Kepalanya tertunduk begitu dalam.
“Kim Taerin!” suara pemuda yang memanggilnya dengan sedikit berbisik itu kembali mengejutkan Taerin.
Taerin mengangkat kepala. Seorang pemuda dengan kepala tertutup topi jaket yang dikenakannya tampak mengamati sekitar dan berjalan mendekati Taerin. “Hyoseok…? Kim Hyoseok, kau kah itu…?” Taerin turut was-was.
“Nee, ini aku.” Hyoseok sudah sampai di depan Taerin.
“Untuk apa kau kemari…? Ayo, masuk!”
“Tidak!” tolak Hyoseok. “Aku hany sebentar.” Hyoseok kembali mengamati sekitar. “Aku hanya ingin mengatakan, aku tak mau lagi bekerja sama denganmu. Aku tak mau mencuri-curi foto dan diam-diam menyebarkannya seperti dulu. Aku berhenti. Maafkan aku, Kim Taerin.” Hyoseok masih was-was.
“Wa-wae…?”
“Itu semua tak menarik lagi bagiku. Membuang waktu saja. Maafkan aku. Anggap saja kita tak pernah melakukan itu sebelumnya. Anggap saja kau tak pernah meminta bantuanku untuk melakukan itu semua. Aku benar-benar ingin berhenti.”
“Wa-wae…?”
“Fujiwara melamarku untuk bekerja sama dengannya. Awalnya aku tak tertarik, namun makin hari aku makin ingin bergabung. Maafkan aku. Menurutku akan sangat baik jika kita bergabung dalam tim Wisteria Land.”
“Kau akan melawan Ayahmu sendiri…?”
“Nee.”
“Hyo-hyoseok…?”
“Mianhae, Taerin.” Hyoseok bergegas pergi.
Taerin kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh terduduk di depan pintu rumahnya. “Oppa… mianhae…” bisik Taerin lirih.
***
Ai kembali ke basecamp usai menemui Taerin. Ia kemudian duduk melamun mengabaikan bunyi gaduh musik dari atas panggung dimana Seunghyun, Yonghwa dan Dongwoo berlatih. Tatapan Ai kosong mengabaikan lalu lalang orang di sekitarnya. Ai menghela napas panjang dan bangkit dari duduknya.
“Sambil menunggu Minik Oppa datang, kita latihan dulu.” kata Ai sambil bergabung ke atas panggung. Ia kemudian duduk siap menabuh drum.
“Fujiwara, kau benar-benar akan melakukannya? Kau yakin tanganmu akan baik saja?” Dongwoo khawatir. “Harusnya kau menjadi frontman. Kau cukup menguasai panggung.”
“Itu tugas Yonghwa. Harusnya aku tak ikut tampil, jika kita ada drummer.” jawab Ai sambil sibuk memeriksa drum.
“Aku tak yakin. Ini akan jadi sangat sulit.” Yonghwa masih saja keberatan pada keputusan Ai.
“Suaramu paling bagus. Kau pasti bisa. Karenanya persiapkan dari sekarang.” Ai massih dengan santainya. Ai kemudian menghentikan aktifitasnya. Ia menatap Yonghwa, Dongwoo dan Seunghyun yang berdiri mengahadap padanya lengkap dengan alat musik masing-masing. “Lihat! Betapa sempurnanya kalian. Andai saja dia mau menduduki kursi ini.” Ai kembali lesu.
“Memangnya siapa yang kau lamar untuk menduduki kursi itu?” tanya Dongwoo.
Ai kembali menghembuskan napas panjang. “Kim Hyoseok.”
“Kim Hyoseok…?” Dongwoo dan Seunghyun kompak.
“Nuna, dia kan anak dari Tuan Kim. Orang yang paling menentang segala kegiatan Nuna ini.” protes Seunghyun.
“Tapi dia pemain drum yang hebat.”
“Mana mungkin dia mau terima. Itu sama saja memberontak pada ayahnya sendiri.” sambung Dongwoo.
“Tujuannya adalah membuka mata Tuan Kim…?” tanya Yonghwa.
Ai tersenyum dan mengangguk. “Sudahlah. Ayo kita latihan.”

Usai latihan Ai, Seunghyun, Dongwoo dan Yonghwa duduk di atas lantai panggung. Minki tak kunjung datang. Basecamp kembali sepi. Hanya tersisa beberapa orang saja di sana. Ai menjelaskan sesuatu pada Seunghyun, Dongwoo dan Yonghwa. Tiga pemuda ini duduk diam menyimak.
“Halo! Permisi!” suara lantang Ai membuat Ai bungkam seketika.
Ai, Seunghyun, Dongwoo dan Yonghwa kompak menatap ke arah pintu utama.
“Oh. Rupanya dia kemari.” respon Ai datar.
Hyoseok berdiri di ambang pintu dengan senyumnya yang lebar.
“Biarkan dia masuk!” tahan Ai ketika rekan-rekannya akan menghadang Hyoseok yang datang masih ditemani anak buahnya.
“Aku akan maju sendiri.” Hyoseok lirih lalu berjalan tergopoh-gopoh menuju panggung.
“Datang membawa pasukan, kau ingin menentangku berkelahi?” sambut Ai dengan nada malas. “Aku sangat sibuk malam ini.”
“Tidak. Tidak.” Hyoseok menggoyang kedua tangannya. “Tolong sisakan kursi drummer itu untukku. Aku ingin bergabung dengan kalian.” Hyoseok memelas.
“Harus kah aku percaya…?”
Hyoseok tertegun.
“Berapa lama dari waktu yang aku tentukan? Gerakanmu lebih lambat dari kura-kura!”
“Jadi… aku sudah terlambat?”
“Apa kau bisa meyakinkanku?”
“Aku benar ingin bergabung, tak ada niatan lain.”
“Lalu mereka?” Ai menggerakan kepala menunjuk anak buah Hyoseok. “Kau yakin mereka semua setia padamu? Tak ada mata-mata diantara mereka?”
“Kau tak tahu betapa sulitnya menjadi aku. Dilema. Bukan hal yang mudah. Setiap hari aku menabuh drum di kamarku keras-keras agar ibu marah pada ayah. Aku adu mulut dengan ayah. Kau tahu siapa yang kemudian membelaku? Ibuku. Ibuku membelaku karena bosan dengan suara gaduh drumku. Biarkan saja ia menabuh drum di sana dengan leluasa, di sini itu membuat kepalaku sakit. Begitu kata ibuku. Ayah semakin terpojok dan bungkam ketika aku memilih pergi. Kau, kau bisa tanya teman dekatku, di sana.” Hyoseok menunjuk salah satu anak buahnya.
“Lambat, penakut, pelit, banyak bicara dan…” Ai menggerakan jarinya menghitung kejelekan Hyoseok, “tak yakin pada dirinya sendiri. Bahkan kau tak berani meyakinkanku pada kenyataan yang kau hadapi. Kau tetap meminta dukungan anak buahmu. Padahal pemimpin itu tak boleh percaya pada siapa pun.”
Lagi-lagi Hyoseok diam tertegun.
“Lupakan saja. Naiklah. Aku ingin lihat bagaimana permainanmu.” Ai bangkit dari duduknya diikuti Seunghyun, Dongwoo dan Yonghwa.
Hyoseok sumringah bergegas naik ke atas panggung, menuju drum. “Ini drum yang biasa digunakan Kang Minhyuk?” Hyoseok mengamati drum berwarna biru itu.
“Nee. Ini pusaka Wisteria Land. Kau harus serius memainkannya.” Ai membenarkan.
Seunghyun, Dongwoo dan Yonghwa tersenyum geli melihat tingkah Hyoseok.
“Arasho! Ini kehormatan. Aku tak akan merusaknya.” jawab Hyoseok.
“Jadi… kau ini sebenarnya fans dari YOWL juga?” goda Ai.
Hyoseok hendak bicara.
“Cepat, mainkan!” potong Ai sebelum Hyoseok sempat bicara.
Hyoseok kembali menutup mulutnya yang terbuka. Dengan kesal ia duduk di balik drum.
Ai mengulum senyum puas dan duduk bersiap menyaksikan penampilan Hyoseok.
***
Semakin hari YOWL semakin merangkak naik. Lagu-lagu mereka turut duduk di tangga lagu populer di Korea. Bahkan di Jepang, single YOWL menduduki peringkat pertama chart untuk pendatang baru. Wajah keempat personel YOWL mulai bermunculan di TV untuk iklan dan reality show. Bahkan YOWL telah memiliki realty show khusus untuk YOWL sendiri yang dibuat untuk mendongkrak popularitas YOWL. Selain menjadi model iklan di TV, YOWL juga menjadi model iklan untuk beberapa pemilik usaha kenamaan di Korea. Jaejoong bahkan tengah dikontrak untuk menjadi model MV dari penyanyi solo senior mereka. Minhyuk dan Jaejin juga sering menjadi sepasang MC tamu untuk beberapa acara. Wonbin sendiri mendapat satu kontrak untuk membuat satu lagu untuk mengisi album soundtrack untuk film.
Senada dengan kemajuan YOWL, persiapan di basecamp juga semakin matang. Boleh dikatakan sempurna. Tim Wisteria Land telah siap untuk unjuk kebolehan di depan publik. Hanya tersisa beberapa orang usai latihan. Hari sudah berubah gelap. Desiran angin pun berubah. Tanda musim panas akan pergi dan berganti musim gugur. Dongwoo, Seunghyun, Yonghwa, Hyoseok duduk di atas lantai panggung menikmati makan malam. Kibum, Wooyoung dan Shin Ae berkumpul menikamati makan melam mereka di dekat kantor basecamp. Tim pengajar merangkai bunga sibuk merapikan meja.
Ai berjalan mengamati rangkaian bunga hasta karya para peserta latihan. Ai tersenyum puas. Semakin rapi, walau belum sepenuhnya sempurna. “Clovis!” celetuk Ai tiba-tiba. Wajah Ai berseri dan segera menuju panggung.
“Clovis! Kalian setuju…?” kata Ai pada Dongwoo, Seunghyun, Yonghwa dan Hyoseok membuat keempat pemuda itu melongo kaget menghentikan acara makan mereka. “Clovis! Prajurit terkenal! Ah…” Ai mondar-mandir di depan panggung. “Clovis! Nama ini akan mudah dikenal setelah kalian muncul. Aku yakin itu!” Ai berhenti dan tersenyum pada keempat pemuda yang masih menatapnya keheranan.
“Clovis…?” Dongwoo buka suara.
“Suntuk mencari nama untuk kalian. Ketika mengamati rangkaian bunga yang berjajar di sana, tiba-tiba kata itu muncul. Kalian yang berjajar di barisan depan, tak hanya gagah namun juga indah. Para prajurit pemberani. Cukup untuk mendeskripsikan kalian berempat. Kalian harus punya nama.” terang Ai.
“Prajurit yang gagah berani dan terkenal, ah…” Hyoseok tersenyum, “aku setuju. Membayangkannya… itu keren!”
“Aku juga setuju!” Seunghyun sambil mengangkat tangan kanannya.
“Kata yang mudah diingat. Aku suka.” Yonghwa tersenyum manis.
“Aku juga suka.” Dongwoo pun tak menolak.
“Ok! Clovis.” Ai membalikan badan dan tersenyum riang kemudian berjalan pergi. “Tema. Untuk Wisteria Land dan Jeonggu Dong… apa yang tepat…?” gumamnya lirih.
“Bantu aku!” Ai menyela Shin Ae, Kibum dan Wooyoung.
“Untuk…?” tanya Kibum.
“Tema. Satu kalimat untuk menyatukan Wisteria Land dan Jeonggu Dong. Kita harus punya tema itu untuk pembukaan nanti.”
“Autumn… melody…?” usul Wooyoung.
“Musim gugur dan Wisteria Land akan menciptakan melody indah di Jeonggu Dong. Masuk akal kan?” Kibum mendukung usul Wooyoung.
“Jangan autumn. Aku… aku agak risih dengan kata itu.” Ai keberatan. Hal itu membuatnya teringat pada blog Autumn Field dan authornya Rosewood.
“Lalu apa…?” Kibum dengan wajah putus asa.
Ai, Wooyoung, Kibum dan Shin Ae diam. Masing-masing berpikir.
“Sunrise and the beginning. Wisteria Land. Bagaimana?” usul Shin Ae. “Matahari terbit dimana kita memulai awal yang baru.”
“Aa, simpel. Masuk akal. Aku setuju.” Kibum langsung setuju.
“Merangkum semuanya.” Wooyoung manggut-manggut.
“Ok. Tulis itu di banner promosi kita. Jangan lupa.” tuding Ai pada Wooyoung.
“Nee.” Wooyoung menundukan kepala.
“Hah… aku jadi begini nervous.” keluh Kibum.
***
Ai berjalan pulang sendiri. Tak hanya sekali Ai tampak tersenyum sendiri.
Inilah perjuangan yang sesungguhnya. Dimana aku merasakan kesepian dan perihnya rindu. Dimana aku benar ingin kembali bersandar dibahumu ketika aku lelah. Rasanya sangat tak sama. Aku ingin kau. Kau yang di sana.
Ai menghela napas panjang dan mendongak menatap langit.
Apa aku ini orang yang dilahirkan dibawah naungan bintang kematian? Hingga semua yang dekat dan aku sayangi pergi. Aku yang terlahir untuk sendiri.
Ai membetulkan headset di telinga kanannya.
Ingin berbagi denganmu seperti dulu. Aku rindu senyummu. Aku rindu tawamu yang selalu menjagaku. Hah… selalu terlambat untuk menyadari. Aku benar membutuhkanmu.
Ai berjalan menaiki tangga menuju rooftopnya. Ai tetap datar ketika sampai di atas dan menemukan Taerin sudah duduk di bangku yang berada di teras rooftop. Ai melepas headset yang bertengger di kedua telinganya.
“Sudah lama kau duduk menungguku di sini?” sapa Ai.
“Baru saja.”
“Tumben kau kemari?” Ai benar-benar datar dan dingin pada Taerin.
“Aku…”
“Ingin mengakui kesalahanmu? Ingin minta maaf?” potong Ai. “Lupakan saja! Lupakan semua.”
“Fujiwara.” Taerin memegang lengan kiri Ai. Menahan langkah Ai. “Kau memang pantas marah padaku.”
Ai menoleh. Lurus menatap datar Taerin. “Bukan aku tapi Jaejoong.”
Taerin tercekat. Terdiam. Perlahan pegangannya pada lengan Ai merenggang kemudian lepas.
“Tenang saja. Aku jamin, Jaejoong, YOWL, Kibum, semua tak akan tahu tentang ini.” kata Ai.
Taerin jatuh berlutut. Kepalanya tertunduk dalam. “Maafkan aku… maafkan aku, Fujiwara…” air mata Taerin meleleh. “Aku memang jahat. Aku jahat padamu, pada Jaejoong Oppa, pada YOWL, pada semua…”
Ai turut berlutut. Ia merengkuh Taerin dalam pelukannya. “Hentikan. Lupakan yang sudaha berlalu. Kita mulai semua darai awal.” bisik Ai sambil membelai rambut Taerin.
“Maafkan aku. Maafkan semua keculasanku.” Taerin disela isak tangisnya.
“Itu manusiawi. Aku kesal iya, marah pun sempat, tapi aku tak berhak untuk mengadili ini semua. Kau berani datang, mengakui semua dan meminta maaf, ini… ini benar-benar menakjubkan. Aku salut padamu Taerin.”
Taerin melepas pelukan Ai dan mengusap air matanya. “Ini tak hanya memalukan, tapi… sangat jahat. Padahal kau tak hanya baik pada Oppaku, tapi padaku juga.”
“Membuat kesalahan lalu menyadarinya dan bertobat, itu berkah yang… yang sangat nikmat dari Tuhan. Aku pun pernah melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan. Mata dan otak kita ini kadang memang terlalu egois. Menganggap apa yang kita lihat dan pikirkan adalah benar. Tapi hati akan memberikan analisis lain. Inilah yang akan membawa kita pada kesadaran yang sebenarnya. Maka berbahagialah kita yang pernah membuat kesalahan.”
Taerin tersenyum dan mengangguk. “Oya, waktu itu… kau mimisan…? Apa kau baik-baik saja…?”
“Kau khawatir?”
“Eum, aneh melihatmu begitu.”
Ai tersenyum. “Aku baik saja.”
Taerin tersenyum lega.
“Well, kau mau bergabung dengan kami?”
“Apa yang lain akan menerima?”
“Tentu saja. Pintu Wisteria Land dan pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu.”
Taerin tersenyum berseri. “Gamsahaeyo.” bisiknya.
Ai kembali berdiri. “Kau mau masuk?” Ai mengulurkan tangan kanannya.
Taerin tersenyum lebar menyambut uluran tangan Ai.
Ai membalas senyum. “Ah, aku jadi lapar. Aku ingin membuat ramyun ala YOWL. Kau mau coba?”
“Boleh. Sudah lama aku penasaran ingin mencobanya. Jaejoong Oppa sering kali cerita tentang ramyun ala YOWL.”
Dua gadis ini tersenyum bersama dan masuk ke dalam rooftop.
Malam ini, aku pun tak menduga akan demikian. Aku terhibur ditengah rindu yang mendera. Malam-malam berikutnya aku harap tak akan begini menyiksa. Aku sudah sangat lelah menjadi khawatir dan merasakan ini semua. Tuhan…
Ai mendongak menatap langit malam.
***
Bendera warna-warni berukuran kecil ditata rapi dalam seutas tali tergantung di udara menghiasi langit, atap terbuka jalan masuk menuju kawasan Jeonggu Dong. Di kanan-kiri jalan pun berdiri bendera berebentuk persegi panjang warna merah, biru, kuning, hijau dan putih berselang-seling senada dengan bendera-bendera kecil yang tergantung zig-zag di udara. Stan dipenuhi hiasan warna-warni juga berjajar meramaikan bazaar. Berbagai macam produk yang dibuat oleh warga Jeonggu Dong mengisi stan-stan bazaar, mulai dari makanan hingga hasil kerajinan tangan.
Pintu masuk basecamp dihiasi dengan replica bunga wisteria berwarna biru keunguan. Ada kesan mistis dan misterius namun juga indah dan anggun menyambut di pintu masuk basecamp. Di dalam basecamp, desain diatur agar pengunjung bisa berjalan mengitari basecamp searah jarum jam. Gitar-gitar koleksi Ai turut dipamerkan. Rangkaian bunga hasta karya Ai dan mantan preman anak buah Yongbae serta peserta pelatihan juga dipamerkan. Foto-foto masa lalu YOWL sebelum debut dan juga foto-foto Jeonggu Dong juga turut dipamerkan. Di atas panggung, alat musik yang biasa digunakan YOWL untuk berlatih sebelum mereka debut ditata rapi. Bagian tengah basecamp tak dibiarkan kosong. Dibuatlah miniature taman di bagian tengah basecamp lengkap dengan kolam. Warna-warni bunga dalam pot tertata rapi menghiasi miniature taman. Dengan jalan  searah jarum jam yang cukup luas, pengunjung bisa puas berkeliling di dalam basecamp. Di dekat pintu keluar di letakan barner para personel YOWL yang ukurannya sama seperti postur tubuh member YOWL.
Keluar dari basecamp, tak jauh dari gedung ini terdapat panggung megah. Di atas panggung ini pertunjukan hiburan akan digelar selama festival berlangsung.
“Aku membawa mereka untuk membantu berjaga.” Hyoseok membawa anak buahnya.
“Awas jika kalian mengacau lagi!” ancam Yongbae.
“Ya! Besok adalah penampilan perdanaku, bagaimana mungkin aku mengacaukannya?!”
“Lalu kenapa kau membawa semua anak buahmu kemari? Walau Nona mempercayaimu, tapi tidak denganku.”
“Ya! Dong Yongbae. Apa kata maafku tak cukup meyakinkanmu? Aku benar-benar ingin orang melihat permainanku, terutama ayah dan ibuku.”
“Nah, itu dia. Mungkin kau tidak, tapi ayahmu? Bisa jadi satu atau dua diantara anak buahmu adalah mata-mata.”
“Kugjungma. Ibu sudah menjinakan ayahku. Aku mohon percayalah. Aku benar-benar sudah bertobat.”
Yongbae menggelengkan kepala dan berjalan pergi. Hyoseok masih terus mengoceh dan membuntututi Yongbae.
-------
“Sangat megah. Kenapa kau terlihat redup?” Byunghun menghampiri Ai.
“Menatapnya… ingin sekali menatap semua ini bersamanya, bersama mereka. Entah kenapa malam ini aku merasa begitu kesepian. Walau begitu banyak orang di sekelilingku, namun masih terasa ada yang kurang.”
“Hanbyul masih tak ada kabar?”
“Mungkin dia sangat sibuk. Jaejoong pun demikian. Wonbin, Jaejin, Minhyuk.”
“Musim gugur tahun ini akan menjadi sejarah. Jangan terlalu murung. Citra baru Jeonggu Dong akan dimulai esok.”
“Jadi begini nervous.” Ai meletakan tangan di dadanya. “Lebih khawatir melebihi sebelumnya. Takut.”
Byunghun meraih tangan kanan Ai dan menggenggamnya. “Kau tidak sendiri. Ada kami. Em? Kita sudah berusaha keras. Aku yakin Tuhan akan berpihak padamu untuk tujuan mulia ini.”
“Jeonggu Dong terlihat sangat berbeda malam ini.” Kibum bergabung. “Sangat, sangat… ah, aku tak bisa melukiskannya dengan kata-kata.” Kibum penuh kekaguman.
“Nona, Tuan Besar mengirim orang-orangnya untuk pengamanan lokasi hari ini dan besok.” Wooyoung pun bergabung.
“Appa…” Ai tersenyum, “ini bukan perang.”
“Apa salahnya jaga-jaga.” sahut Kibum.
“Yowlism antusias menyambut festival besok.” Shin Ae bersama Minhwan turut bergabung.
“Aku tak sabar untuk menunggu esok.” Myungsoo tersenyum tulus.
“Aku tak sabar untuk berkumpul di rooftop Ai. ah, akhirnya aku bisa kembali bebas.” Hyuri merangkul Ai.
Ai tersenyum lega. Walau ada ruang hampa itu, namun ia benar senang. Basecamp dan rooftop-nya akan ramai malam ini.
***
Para gadis, Shin Ae, Hyuri dan Taerin menginap di rooftop Ai. Sedang para lelaki menginap di rumah Taerin. Rumah Taerin berubah menjadi asrama bagi para lelaki dimana Minki menjadi kepala asrama mereka.
“Jadi ini ramyun ala YOWL…? Heum… sedap sekali.” Hyuri mencumbu asap yang mengepul dari dalam panci yang terhidang di atas meja.
Ai, Shin Ae, Hyuri dan Taerin duduk mengitari meja.
“Aku kira kau tak bisa masak.” Hyuri tersenyum melirik Ai.
“Hanya ramyun, siapa pun bisa membuatnya.” balas Ai.
“Ini beda. Ini ramyun ala Ryuke. Aku rasa kita harus sedikit berhati-hati memakannya. Coba lihat. Dia, yang membuat ramyun ini justru makan apel merah.”
Shin Ae dan Taerin tersenyum mendengar celotehan Hyuri.
“Aku rindu apel merah, karenanya lebih baik aku memakannya agar ia menyatu dalam tubuhku.”
“Aigo. Bukannya apel merah memang makanan pokokmu?”
“Cepat makan. Mumpung masih panas. Kalau sudah dingin tak akan enak rasanya.”
“Heummm… ini enak sekali! Enak! Sangat enak!” puji Hyuri.
“Kau ini berlebihan sekali.”
“Iya. Nona Song ini selalu saja heboh sendiri.” Shin Ae membenarkan ungkapan Ai.
“Ya. Jung Shin Ae. Tolong berhenti memanggilku dengan sebutan ‘Nona’. Bisa kan? Kita ini teman.” Hyuri keberatan.
“Tapi, Nona. Ini tak akan mudah.”
“Ia pun berlaku demikian padaku.” sela Ai. “Padahal aku lebih dulu meminta Shin Ae berhenti memanggilku dengan sebutan ‘Nona’. Susah sekali sepertinya.”
“Saya sudah mencobanya, tapi yang keluar selalu saja seperti itu. Maaf.” Shin Ae sedikit menundukan kepala.
“Harus terbiasa dan sedikit di paksa. Pasti bisa.” Hyuri menyemangati.
Shin Ae tersenyum dan mengangguk.
“Senang melihat adik Jaejoong akhirnya bergabung.”
“Namanya Taerin.” Ai mengingatkan Hyuri pada nama dari ‘adik Jaejoong’.
“Ah, iya Taerin. Selamat ya. Kau juga menang kan waktu itu?”
Taerin mengangguk. “Terima kasih.”
“Oya, aku lupa. Untukmu Jung Shin Ae, tahun ajaran baru nanti kau mulai menempuh pendidikanmu di Hwaseong Academy ya. Mendengar ceritaku tentangmu, Nenek ingin kau sekolah di Hwaseong Academy.”
“Benar kah…? Tapi, tapi Nona Jung juga akan memintaku bersekolah di sana. Bagaimana ini…? Shin Ae menatap Hyuri lalu Ai.
“Ai tak perlu repot-repot melakukan itu karena Nenek akan memberikan beasiswa padamu. Tiga tahun sekolah gratis di Hwaseong Academy.”
Shin Ae terlampau senang mendengarnya dan tak mampu berkata-kata.
“Selamat ya. Kita akan berkumpul lagi di sekolah. Bersemangatlah Jung Shin Ae.” Taerin menyemangati.
“Terima kasih Nona Jung. Terima kasih Nona Song. Terima kasih semua.” Shin Ae membungkukan badan.
“Lanjutkan makannya.” perintah Ai.
Shin Ae mengangguk antusias dan melanjutkan makan.
“Aku penasaran. Kira-kira apa yang dilakukan para lelaki ketika mereka berkumpul ya…?” celetuk Hyuri. “Hah… jadi teringat kala liburan waktu itu. Ai, kapan kita liburan bersama lagi…?” Hyuri penuh semangat.
Ai hanya tersenyum  menanggapinya.
-------
Hyuri dan Shin Ae sudah terlelap. Mereka sengaja memilih ruang tengah dan tidur bersama-sama di sana.
Taerin tak bisa memejamkan mata lelahnya. Ia kembali duduk dan menemukan Ai masih duduk berkutat di depan laptopnya.
“Tak bisa tidur?” tanya Ai tanpa mengalihkan pandangannya.
“Nee. Tak terbiasa tidur bersama-sama seperti ini.” jawab Taerin. Taerin mengamati Ai. “Boleh aku ke sana?” pintanya ragu.
“Silahkan.” Ai masih kukuh tak mengalihkan pandangannya.
“Ah, maaf. Kalian sedang pacaran…?” Taerin sungkan mendapati Ai sedang bermain-main di akun Hanbyul.
“Anee. Dia tak muncul belakangan ini.”
“Pasti tak mudah. Pacaran jarak jauh semacam ini.”
“Sangat. Apalagi saat dirundung rindu.”
“Kau juga punya rasa seperti itu…? Dibalik semua sikapmu itu…?” Taerin  keheranan.
“Aku hanya manusia biasa.”
Taerin tersenyum. “Sampai saat ini aku masih seolah tak percaya jika kau memilih Hanbyul. Tadinya aku pikir kau benar menyukai Jaejoong Oppa.”
“Apa jadinya jika aku benar berpacaran dengan Jaejoong…? Bisa-bisa kau membunuhku.”
“Ih. Aku bukan psikopat tahu!”
Ai tersenyum geli. “Cinta pertamaku adalah Minki Oppa. Mungkin karena ia adalah pria yang muncul menjadi pahlawan dalam hidupku.”
Taerin tersenyum mendengarnya.
“Sempat aku menyukai Jaejoong, namun Jaejoong menyukai gadis lain. Gadis yang sangat ia puja dan membuatnya tergila-gila, Noh Yiyoung.”
“Ah, aku tak suka pada gadis itu.”
“Kau tak suka padaku juga Noh Yiyoung…? Apa kau ingin oppa-mu itu sendiri seumur hidupnya?” canda Ai.
“Bukan begitu. Aku tak suka saja padanya. Alasan kenapa aku tak menyukaimu, dari yang aku dengar dan lihat, Jaejoong Oppa sangat sayang padamu, namun kau terkesan tak memperdulikan hal itu dan menganggap apa yang Jaejoong Oppa berikan padamu adalah sama seperti yang lain lakukan padamu. Jaejoong Oppa lebih sering bercerita tentangmu daripada tentang Yiyoung. Dari situ aku tahu jika Jaejoong Oppa menyukaimu.”
Taerin tersenyum. “Jika dipikir ulang, dulu sebenarnya kalian saling menyukai, hanya saja terlalu egois untuk menyatakan perasaan masing-masing. Lalu datanglah Hanbyul yang lebih  mampu merebut perhatian dan hatimu. Jaejoong Oppa kalah. Dia terlalu pengecut untuk mengakui perasaannya.”
“Karena melihat Jaejoong begitu menyukai Yiyoung, aku berniat membantunya kelak saat aku juga masuk Hwaseong Academy. Semua itu berubah ketika aku bertemu langsung dengan Yiyoung. Jaejoong terlalu baik untuknya. Aku berusaha mengingatkannya namun Jaejoong acuh. Hingga aku melihat Lee Junki Sonsaengnim dan merasa jatuh hati padanya.”
“Jaejoong Oppa juga mengeluhkan hal itu. Ia dibuat kesal ketika tahu kau menyukai Lee Junki Sonsaengnim.”
Ai dan Taerin sama-sama tersenyum mengenang itu semua.
“Pada akhirnya aku hanya bisa menyanyangi Jaejoong sebatas ini. Jaejoong seperti saudaraku sendiri. Sifat kami… saling melengkapi.” kenang Ai sambil kemudian tersenyum kecut. “Entah kenapa hatiku tiba-tiba menyerah pada Hanbyul.”
“Cintalah yang memilih kita. Cinta itu tangan Tuhan. Manusia hanya bisa mereka-reka rencana, namun tetap Tuhan yang menentukan akhirnya. Kisah cinta kalian benar penuh perjuangan. Aku berharap ini akan langgeng.”
Ai tersenyum tulus.
“Jika Jaejoong Oppa adalah saudara seumuran denganmu, jadi… aku harus memanggilmu, Onni. Jiyoo Onni. Onn-chan. Onni…” panggil Taerin dengan manja.
Ai tersenyum dan mengangguk.
“Mau kah Onni memelukku? Sebentar saja.”
Ai pun memeluk Taerin.
Taerin merasa terharu. Gadis yang memeluknya ini sangat baik padanya, namun selama ini Taerin telah berbuat jahat pada Ai. “Mianhae, jongmal mianhae…” bisik Taerin masi mendekap tubuh Ai yang memeluknya.
“Setiap orang pasti pernah membuat kesalahan. Tolong jangan terus meminta maaf padaku. Itu benar membuatku tak enak.”
“Gomawo, Onni.”
Ai tersenyum dan mengangguk masih memeluk Taerin.
***
Ai berdiri di teras rooftop. Merentangkan kedua tangannya dengan kedua matya terpejam menyambut datangnya pagi. Peralahan Ai membuka mata dan menatap langit. “Omoni. Ibu, Ayah. Bibi Lee. Tolong bantu kami hari ini.” Ai tersenyum menatap langit.
Tim Wisteria Land bekerja menyebar sesuai tim dan tugas masing-masing. Anak buah Hyoseok dan orang-orang yang dikirim Jinyoung melebur, turut bekerja sama sesuai arahan tim Wisteria Land. Tim keamanan ini berkumpul di pos masing-masing.
Ai berdiri tepat di depan pintu masuk basecamp. Diamatinya pintu yang tampak indah dengan hiasan replikan bunga wisteria dengan warna biru keunguan itu. Pandangan Ai berkelana meraba bangunan besar yang dulunya tak terawat itu. Gedung itu kini telah berubah total dan hari ini akam diperkenalkan ke dunia luar. Semua bergemuruh dalam dada Ai. Senang, gugup dan juga takut bercampur aduk membentuk gemuruh dahsyat di dalam dada Ai. Rasa yang sedikit membuat dada Ai terasa sesak.
Ai tersentak ketika merasakan sentuhan hangat itu dipuncak kepalanya. Ai menoleh ke arah kanan. Mata bulat Ai melebar, mulut Ai terbuka tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Wanita cantik dan anggun ini berdiri turut menatap bangunan megah di hadapannya.
“Omoni…” bisik Ai.
Wanita cantik ini tersenyum dan mengangguk.
Ai tersenyum haru. Masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, Ai kembali dibuat terkejut oleh seseorang yang tiba-tiba menggenggam tangan kirinya. Ai menoleh ke arah kiri. Lagi-lagi Ai dibuat terkejut. “Ibu… Ayah…” bisik Ai dengan tatapan bahagia dan haru.
Pasangan suami istri berwajah Jepang ini tersenyum menatap Ai kemudian mengangguk.
Ai semakin dibuat terharu.
Wanita cantik di sebelah kanan Ai turut menggandeng tangan Ai. Ibu kandung dan orang tua angkat Ai berdiri di samping kanan dan kiri Ai turut menatap bangunan Wisteria Land.
Ai tersenyum dan mengusap air matanya yang meleleh menuruni pipi pucatnya. Tatapan Ai terhenti di antara lalu lalang orang. Ai melihat Bibi Lee berjalan diantara orang-oranag itu. Bibi Lee, ibu Minki tersenyum bangga pada Ai.
Ai makin tersedu. Ia taak kuasa menahannya lagi. Rasa senang bercampur haru. “Kamsahamnida, jongmal kamsahamnida.” bisik Ai.
***
Benar-benar diluar dugaan. Pengunjung yang datang membludak mulai dari acara di buka pada pukul 01.00 siang. Orang tua dan anak-anak turut hadir membaur dengan kaum muda yang mendominasi pengunjung.
Pengunjung yang berusia lanjut lebih nyaman duduk dibawah tenda dan menikmati pertunjukan kelompok musik tradisional yang berada di bawah asuhan Paman Hwang. Ibu-ibu antusias menyerbu stan-stan bazaar. Anak-anak nyaman bermain di area playground yang memang disediakan untuk pengunjung anak-anak. Remaja yang sebagian besar adalah Yowlism langsung menyerbu basecamp. Mereka melihat-lihat koleksi gitar Ai dan segala tentang YOWL. Mereka juga mengantri untuk bisa berfoto di atas panggung yang di jaga ketat oleh tim keamanan Wisteria Land. Beberapa mengantri untuk foto bersama baner member YOWL di dekat pintu keluar.
Hami, Hyerin dan Sunyoung juga hadir dalam festival ini. Mereka langsung menuju basecamp dan betah berlama-lama di sana.
Tuan Kim dan Kim Hyusik juga hadir. Mereka tak menduga festival yang digelar anak-anak muda di basecamp Wisteria Land mampu mengundang minat banyak orang untuk mengunjungi Jeonggu Dong yang terkenal dengan reputasi buruknya selama ini. Tuan Kim, ayah Hyoseok benar-benar dibuat terkagum-kagum.
Jung Jinyoung datang bersama istrinya Go Hyunjung dan juga adik kandungnya beserta istri; orang tua Daehyun. Jinyoung seolah kembali ke masa lalu. Di sinilah dulu ia berasal, Jeonggu Dong. Kini tempat itu telah di sulap dari kesan angker menjadi hangat dan bersahabat. Keluarga Jung benar-benar menikmati festival ini.
Tuan Kim menemukan Jinyoung yang dahulunya adalah orang nomer satu yang paling disegani di Jeonggu Dong.
“Tuan, Tuan Besar kemari?” sapa Tuan Kim; ayah Hyoseok.
“Oh, nee. Acara yang sangat bagus, sayang kalau dilewatkan.”
“Selamat datang kembali di Jeonggu Dong. Ah, tidak menyangka Tuan Besar bersedir hadir menengok acara yang kami gelar.”
“Bagaimana mungkin aku melewatkan even besar yang digelar oleh putri bungsuku sendiri?”
Tawa Tuan Kim terhenti. “Maaf? Putri bungsu?”
“Iya. Even ini, putri bungsuku yang menggelarnya.”
Tuan Kim tampak kebingungan.
“Putri bungsuku, Jung Jiyoo atau yang lebih dikenal sebagai Fujiwara Ai Ayumu. Bukan kah dia yang menggelar even ini?”
Tuan Kim tersentak kaget mendengar pernyataan itu. “Fuj-fujiwara Ayumu adalah putri bungsu Tuan Besar…?”
“Hah… cerita yang panjang. Dimana anakku itu.” Jinyoung kembali melanjutkan perjalanannya.
Hyunjung tersenyum pada Tuan Kim sebelum menyusul langkah Jinyoung. Begitu juga kedua orang tua Daehyun.
“Omo!” Tuan Kim tiba-tiba merasa pusing dan sedikit kehilangan keseimbangan. Hyunsik segera menangkap tubuh Tuan Kim dan membawanya menepi.
***
Kibum dan Shin Ae yang di daulat sebagai MC mulai membuka acara di atas panggung untuk menarik perhatian pengunjung ketika senja tiba. Sepanjang siang banyak pertunjukan persembahan dari Jeonggu Dong digelar di panggung ini. Pertunjukan siang tadi lebih banyak di dominasi oleh pertunjukan khas rakyat yang bersifat tradisional. Ketika senja tiba dan hari mulai gelap, panggung disediakan untuk anak-anak muda yang masih rela tinggal di Jeonggu Dong. Modern dance dan cover song mengisi pembukaan acara. Minki juga sempat naik panggung sebagai perwakilan Wisteria Land untuk memberikan sambutan dan ucapan terima kasih.
Ai yang paling ditunggu-tunggu oleh penggemar setianya akhirnya muncul di atas panggung. Ai duduk di balik keyboard ditemani Seunghyun, Yonghwa, Dongwoo dan Hyoseok yang siap dengan alat masing-masing. Beberapa anak-anak Jeonggu Dong turut naik ke atas panggung dan berbaris rapi bak tim paduan suara. Hyuri turut naik untuk memainkan biola. Ai bernyanyi membawakan lagu Somang (Wish)-FT.Island (Choi Junghoon). Penonton benar dibuat terpesona oleh kolaborasi apik ini. Suasana semakin terasa menyentuh ketika anak-anak yang membawa lightstick berbagai warna ini turut ambil bagian bernyanyi. Senyum penuh takjub terkembang di wajah para penonton yang kemudian bertepuk tangan ketika pertunjukan usai. Taehee dan Sukjin yang datang ditengah-tengah pertunjukan kolaborasi ini turut bertepuk tangan penuh semangat.
Ai memberikan sapaan dan tak lupa berterima kasih. Ai kemudian memperkenalkan Clovis. “Inilah band dari Jeonggu Dong. Give applause, Clovis-Hot Summer, untuk menghangatkan kembali musim gugur ini.”
Yonghwa selaku frontman memberi sapaan sebelum akhirnya bersama Seunghyun, Dongwoo dan Hyoseok membawakan lagu Hot Summer-f(x) versi band.
“Secepat ini dia membentuk band..?” komentar pemuda jangkung dengan kepala tertutup topi jaket yang ia kenakan.
Clovis tampil apik membawakan cover Hot Summer versi band. Penampilan yang fresh dan menghibur.
Viceroy juga urun penampilan. Senada dengan Clovis, tiga penampilan di persembahkan Viceroy untuk penonton.
Hami memulai menerikan untuk meminta Ai kembali tampil saat Viceroy masih berada di atas panggung. Yowlism para pendukung Ai mendukung permintaan Hami.  Teriakan mereka semakin kompak dan keras.
“Huuu…!!!” seru penonton ketika Clovis kembali naik dan memainkan alat musik.
Intro lagu Butterfly-Ost. To The Beautiful You dimainkan Clovis. Penonton bersorak ketika Ai muncul ke atas panggung bersama Taerin. Ai dan Taerin duet menyanyikan Butterfly diiringi permainan musik Clovis.
“Wah, wah! Kalian senang!” seru Kibum bertanya pada penonton ketika penampilan Ai, Taerin dan Clovis usai. “Ya, Ai, apakah ini penampilan terakhir…?” tanya Kibum pada Ai.
“Penampilan terkahir…?” Taehee berubah panik. “Ayo, cepat! Cepat!”
“Huuu!!!” seru penonton kompak merespon pertanyaan Kibum.
“Kali ini aku akan mengajak pria-pria tampan yang merelakan diri mereka untuk tampil secara gratis di sini.” jawab Ai.
Penonton kembali bersorak. Kemudian mereka kompak mengucap “We want YOWL” berulang-ulang.
“Aniya.” ucap Ai. “Wahai pria-pria tampan, silahkan naik ke atas panggung.” pintanya kemudian.

“Oh! Jinwoon Sunbaenim!?” tuding Gyuri yang berada di antara kerumunan penonton bersama Chaerin, Soojung, Yiyoung, Junhyung, Jieun dan Taemin.
“Daehyun…?” Jieun tak percaya melihat Daehyun ikut naik panggung.
“Itu kan Jung Euichul, eksekutif muda itu…” Chaerin heran melihat Euichul. “Dan Jung Ilwoo…? Kakak Daehyun…? Mereka keluarga Jung dari grup Jung’s Family kan? Mereka kenal Fujiwara…?”

“Wew! Apa nama grup ini?” tanya Kibum.
“Mereka tak punya nama.” jawab Shin Ae.
“Band tanpa nama?” tanya Kibum lagi.
“Nee. Kita sebut saja mereka Jung’s Family.”
“Jung’s Family? Itu nama grup dari sebuah perusahaan terkenal kan?”
“Ah, kau ini banyak bicara. Ok, beri tepuk tangan untuk Jung’s Family!!!” seru Shin Ae.
Jinwoon dan Ilwoo siap dengan gitar mereka, Euichul dengam bass dan Ai duduk dibalik drum. Melihatnya penonton bersorak. Daehyun terlihat nervous. Ia menoleh menatap Ai. Ai tersenyum dan mengangguk. Daehyun membalas senyum lalu ia terlihat lebih rileks dan percaya diri menyapa penonton. Lagu pertama yang dibawakan Jung’s Family adalah cover TRAX-Crazy. Vokal apik Daehyun membuat takjub teman-temannya yang hadir dalam festival ini. Mereka tak menyangka jika Daehyun memiliki vokal yang apik ketika bernyanyi. Lagu kedua sekaligus lagu penutup yang dibawakan Jung’s Family adalah cover Richocet-Seremedy. Lagu yang sedikit asing ditelinga penonton ini tetap saja membuat penonton enjoy.
Penonton bersorak sorai ketika pertunjukan Jung’s Family usai. Mereka beralih berteriak “We want more” karena merasa belum puas.
Shin Ae dan Kibum kembali naik panggung saat Jung’s Family bersiap turun.
“Ada satu penampilan lagi.” kata Shin Ae membuat Ai dan keempat Oppa-nya bingung.
“Iya. Ini surprise show dari sahabat yang datang dari jauh.” sambung Kibum.
Sahabat dari jauh…? Hanbyul kah…? Batin Ai.
“Aku merindukannya.” kata Kibum.
“Aku, kau, kita semua merindukannya.” kata Shin Ae.
“Sudah, sudah, jangan buat penonton penasaran. Berikan tepuk tangan meriah untuk sahabat kita!” seru Kibum lalu menatap Shin Ae.
“Young, Ordinary, Wild and Lovely, YOWL!” seru Kibum dan Shin Ae kompak.
Penonton bersorak. Ai berdiri tertegun melihat Jaejoong naik ke atas panggung di susul Wonbin, Jaejin dan Minhyuk. Keempat personel YOWL ini kemudian bergantian memeluk Ai di atas panggung sedikit membuat suasana jadi haru.
Taehee mengabulkan permintaan Jaejoong agar YOWL diijinkan tampil saat festival pembukaan Wisteria Land di gelar.
YOWL tampil di puncak acara. Malam ini sekaligus menjadi reuni bagi YOWL dan Ai karena mereka juga tampil kembali berlima memuaskan rindu Yowlism pada formasi awal YOWL.



---TBC---
 
  shytUrtle

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews