The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’ (다음 이야기 화성 아카데미’사랑, 음악과 꿈’)

04:21

The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
            다음 이야기 화성 아카데사랑, 음악과
 
. Judul: The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
. Revised Romanization: da-eum iyagi Hwaseong Akademi 'salang, eum-aggwa kkum'
. Hangul: 다음 이야기 화성 아카데미사랑, 음악과
. Author: shytUrtle
. Rate: Serial/Straight
. Cast
- Fujiwara Ayumu (
藤原歩) aka Jung Jiyoo (정지유)
- YOWL
1. Kim Jaejoong (
김재중)
2. Oh Wonbin (
오원빈)
3. Lee Jaejin (
이재진)
4. Kang Minhyuk (
강민혁)
- Song Hyuri (
송휴리)
- Kim Myungsoo (
김명수)
- Jang Hanbyul (
장한별) and all cast in Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’ ver. 1


New Cast:
- Jung Shin Ae
- Trio Orenji High School:
1. Kim Hyerien
2. Han Sunyoung
3. Song Hami
- Kim Taerin
- Kim Changmi
- Etc…
   

Cinta, musik dan impian adalah tiga ritme yang mampu membuat manusia tetap bersemangat dalam hidup. Cinta akan menunjukan jalan untuk meraih impian, dan musik memberikan harapan dalam mengiringinya. Cinta menguatkanmu, musik menginspirasimu dan impian akan memberimu ribuan harapan untuk tetap berjuang dan hidup…
   


Episode #14
Ai berdiri di tengah-tengah di dalam basecamp yang luas dan kosong hari ini. ia menghela napas panjang dan menundukan kepala. Tragedi pembakaran calon gudang bunga, pernikahan Junki, Yongbae yang koma dan kini ditambah kemungkinan YOWL akan debut di Jeonggu Dong. Ai benar terlihat lesu.
Wooyoung tiba bersama anak buah Yongbae. Ai membalikan badan dan menguntai seutas senyum tulus di wajah lelahnya. Wooyoung turut tersenyum dan berjalan mendekat diikuti yang lain. Mereka kemudian duduk mengitari meja kotak dimana Ai biasa menggelar diskusi bersama. Ai serius mengungkapkan rencananya, sedang Wooyoung dan anak buah Yongbae fokus menyimak.
Satu jam kemudian mereka bersiap pergi. Mereka bertujuh, Ai, Wooyoung dan lima anak buah Yongbae. Dengan mengendarai empat motor, Ai berada dalam boncengan Wooyoung. Mereka menuju markas musuh.
-------
TOP buru-buru memasuki basecamp dengan wajah panik. Ia berteriak memanggil nama Ai namun tak ada jawaban. Basecamp sepi tak berpenghuni. Mendengar teriakan TOP salah seorang anak buah Yongbae keluar. Ia ditugaskan untuk menjaga basecamp. TOP segera mendekati pemuda itu.
“Dimana dia, dia dimana, ha?!!” Bentak TOP.
“Hyung-nim…”
“Nona dimana dia?!!”
“Hyung-nim, tenanglah.” Pemuda ini sedikit takut melihat TOP seperti ini.
“Tenanglah? Kau sadar mengatakan itu, ha?! Nona menyerang balik ke markas musuh?? Katakan!!!”
“Nona meminta kita tetap tenang dan menunggu.”
“Tenang? Menunggu? Berapa orang yang menemani Nona?”
“Mereka bertujuh.”
“Bertujuh?? Dia benar ingin bunuh diri?? Aku akan membawa anak buahku menyusul.”
“Jangan, Hyung!” Tahan pemuda itu. Nona meminta kita menunggu. Bahkan Minki Hyung tak turut pergi mendampingi Nona.”
“Lee Minki?? Dia juga tak pergi??”
“Iya, Hyung. Aku rasa ini sudah benar-benar diperhitungkan.”
“Hah!” TOP berkacak pinggang. “Apa yang dilakukannya hanya dengan enam anak buah yang mengawalnya?” Gumamnya masih khawatir.
“Percayalah padanya Hyung. Em?”
TOP masih berkacak pinggang menatap pemuda ini kemudian kembali menghembuskan napas panjang.

Minki selesai membuat buket bunga lili putih. Gerak tangannya terhenti dan ia duduk termenung. Minki mengkhawatirkan Ai dan kembali menghela napas panjang. Kemudian ia kembali mengoreksi buket bunga di tangannya.
***
Ai berada dalam sebuah ruangan dan duduk berhadapan dengan Kim Yeongcheol. Di belakang Ai berdiri Wooyoung dan di belakang pria itu berdiri Kim Hyunsik. Kim Yeongcheol kembali memperhatikan Ai.
“Jadi ini gadis kecil itu? Fujiwara Ayumu yang selalu membuat kekacauan dimana-mana dan berusaha mengacaukan bisnis kami?” Kim Yeongcheol mulai bicara. Sebenarnya tak tampak wajah bengis sedikit pun di wajah pria paruh baya ini, tapi dialah kepala dari kubu musuh, pimpinan tertinggi kubu musuh.
Ai masih tenang dalam duduknya dan melirik Hyunsik. Hyunsik segera mengalihkan pandangannya menatap langit-langit ruangan itu. Ai kembali menatap Yeongcheol. “Bagaimana jika semua itu hanya salah paham? Seberapa banyak yang Anda dengar tentang saya? Apakah sumbernya… Kim Hyunsik ini?” Ai kembali melirik Hyunsik yang segera menatap tajam padanya.
“Apa maksudmu datang kemari dan meminta bertemu denganku? Itu adalah peringatan!”
“Kebakaran itu saya terima sebagai musibah. Terima kasih.” Ai tersenyum. “Apa Anda mengenal ini?” Ai meletakan plat nomor di meja. Yeongcheol dan Hyunsik sama-sama terkejut melihatnya. “Tidak asing? Ini adalah plat nomor dari motor yang menabrak Yongbae. Tersangkut pada Yongbae.” Wajah Yeongcheol mendadak pucat. “Dong Yongbae mengalami luka parah dan dinyatakan koma. Ada banyak saksi dan plat nomer itu, saksi bisu. Kalau tidak salah plat nomor ini ada pada motor…”
“Cukup!” Potong Hyunsik dengan mimik panik dan nafas tak beraturan. Yeongcheol menatapnya heran.
“Ada apa sebenarnya?” Tanya Yeongcheol bingung.
Hyunsik menatap geram pada Ai. Ai tersenyum mencibir. “Walau tidak tahu bagaimana secara pasti kronologi kejadian, tapi yang saya tahu, pemilik plat nomor ini telah menabrak Yongbae hingga ia koma kini. Bagaimana jika kasus ini dilaporkan pada polisi? Saksi-saksi sudah siap dan…”
“Cukup! Cukup! Fujiwara!” Hyunsik benar geram.
“Jadi, kau mengancamku?” Yeongceol pun menunjukan ekspresi yang sama.
“Tenanglah Tuan Kim.”
“Lalu apa tujuanmu dan…” Ai menyambar plat nomor di atas meja sebelum Yeongcheol mengambilnya. Yeongcheol menghela napas kesal. “Apa maumu? Ganti rugi?”
“Tuan Kim takut aku benar melapor?”
“Kau!!! Hah! Berapa ganti rugi yang harus kubayar? Jangan melaporkannya ke polisi.” Yeongcheol lirih dalam kalimat terakhir.
“Kerjasama. Aku mau kerjasama.”
Yeongcheol juga Hyunsik sama-sama menatap heran pada Ai. “Kerjasama??” Tanya Yeongcheol.
“Tuan begitu membenciku? Pikirkan kembali, kekacauan apa yang aku buat? Bisnis Anda yang mana yang coba aku kacaukan? Pernahkah aku menyentuh wilayah Anda? Tentang bangunan milik Bibi Han, tanyakan pada Kim Hyunsik. Aku telah melunasi hutang Bibi Han pada Tuan, beserta bunganya. Karena itu gedung itu jadi milikku.” Yeongcheol menoleh, menatap tajam Hyunsik yang segera menundukan kepala. “Tuan keberatan Yongbae berpindah mendukung kami?” Tanya Ai.
Yeongcheol menatap sinis Ai. “Siapa kau ini?”
“Terima kerjasamanya atau tidak? Tidak penting tentang siapa saya.”
“Apa yang ingin kau tawarkan?”
“Tenggang waktu.”
“Tenggang waktu??”
“Saya benci kekerasan dan benar menyesalkan kejadian pembakaran juga tragedi Yongbae. Saya harap Tuan mau memberikan kami tenggang waktu.”
“Aku tak paham, apa yang kau inginkan sebenarnya?”
“Musim panas akan segera berakhir dan musim gugur akan tiba, hanya sampai pada akhir musim gugur saja, tolong jangan sentuh wilayah kami. Jangan mengganggu apapun yang kami lakukan. Hanya itu saja. Bagaimana? Apa Anda sanggup memberikannya pada kami?”
“Apa yang membuatmu yakin aku akan mengabulkan permintaanmu ini?”
“Plat nomor ini, keteguhan hatiku dan welas asih Tuan Kim.”
“Sadarkah apa yang kau inginkan itu cukup khayal? Apa yang kau harapkan dari Jeonggu Dong ini? Kenyataan apa yang ingin kau rubah? Kau yakin ancamanmu berhasil padaku?”
“Pemilik plat nomor ini dan aku, status kami sama, pelajar. Sangat tak menguntungkan jika sampai pada polisi dan…” Ai menatap Yeongcheol sejenak, “aku hanya ingin menawarkan titik aman bagi kita semua. Jika diseret  ke ranah hokum posisi kita 2:1, aku masih lebih unggul darimu, Tuan.” Ai tersenyum sinis.
Lagi-lagi Yeongcheol menghela napas panjang.

Ai, Wooyoung dan kelima anak buah Yongbae meninggalkan markas musuh. Senyum terkembang di wajah Ai juga Wooyoung. Di dalam ruangan Kim Yeongcheol, ia marah dan memukul Hyunsik bertubi-tubi. Ia kesal juga marah pada Hyunsik. Yeongcheol tak sepenuhnya tahu permasalahan apa yang dibuat Ai sebenarnya dan ia terima saja usulan Hyunsik dan mengabulkan setiap apa yang diingikan Hyunsik untuk menyerang kubu Ai. Kecerobohan Yeongcheol kini menyeret keselamatan putra semata wayangnya yang tak lain adalah pemilik plat nomor yang dibawa Ai dan tak lain pelaku yang menabrak Yongbae.
***
Rombongan Ai dibuat terkejut ketika sampai di basecamp. Tidak hanya ada TOP dan beberapa anak buahnya di sana, tapi juga ada Byunghun dan Minhwan.
“Mereka sudah di sini?” Bisik Wooyoung ketika TOP, Byunghun dan Minhwan berjalan berurutan mendekati Ai.
“Nona baik-baik saja?” TOP memeriksa Ai.
“Ada apa sebenarnya?” Tanya Byunghun juga TOP bersamaan. Keduanya kemudian saling menatap. Byunghun kemudian mempersilahkan TOP bicara lebih dulu.
“Tidak terjadi sesuatu yang buruk kan? Apa yang Nona lakukan di sana?” TOP masih dengan mimik khawatir.
“Keberuntungan berpihak pada kita. Terima kasih, Hyung banyak membantu.” Jawab Ai sambil tersenyum.
“Hyung???” TOP melotot mendengar Ai memanggilnya ‘Hyung’, panggilan yang seharusnya diperuntukan bagi adik laki-laki kepada kakak laki-laki.
Ai terkikik. “Semua beres. Aku membutuhkan banyak bantuan sebentar lagi untuk menjalankan rencana kita.”
“Aku kira Nona benar-benar melakukan serangan balik.” Gumam TOP.
“Kita benar melakukannya, Hyung. Hanya saja tak memakai kekerasan. Sebaiknya aku jelaskan.” Wooyoung mengajak TOP pergi diikuti anak buah Yongbae juga.
“Kalian kemari?” Ai beralih pada Byunghun dan Minhwan.
“Hanbyul menggila. Kau tak masuk sekolah lalu ponselmu tak aktif dan kau melarangnya kemari.” Terang Minhwan.
“Kalian paham bagaimana situasinya bukan? Aku sendiri khawatir jika kalian sering-sering kemari.”
“Kami sudah tahu. Mengejutkan. Tindakan mereka itu. Tapi kami sudah janji akan membantumu. Lagipula kau mengatakan semua beres, jadi kami akan tetap mendukungmu dan membantumu.”
“Terima kasih.” Ai tersenyum.
“Kenapa kau melarang Hanbyul kemari?” Tanya Byunghun.
“Tak ada, hanya kurang nyaman jika ia tiba-tiba muncul di sini.”
“Kau mulai bosan dengannya?” Sela Minhwan lengkap dengan wajah innocent-nya. “Auw!” Pekik Minhwan ketika Byunghun menyikut pinggangnya.
“Aku tak ingin kekacauan di Jeonggu Dong membebaninya. Hanbyul harus ke Amerika, meraih impiannya. Aku tak ingin kekhawatirannya ia jadikan alasan untuk tetap tinggal. Aku akan menjelaskan pada Hanbyul, nanti.”
“Oh.” Minhwan mengangguk paham. “Aku takut jika kau mulai bosan.”
“Em?” Ai menatap Minhwan heran.
“Hehehe.” Mihwan meringis kikuk.
“Nona. Persiapan kerja bakti sudah beres.” Shin Ae menyela.
Wajah Minhwan berubah berseri ketika Shin Ae tiba. Ai tersenyum dan menggelengan kepala melihatnya lalu berjalan pergi. Byunghun menyusul langkah Ai, sedang Shin Ae menatap heran pada Minhwan lalu turut berjalan menyusul Ai. Minhwan mengerucutkan bibirnya dan menyusul Shin Ae.
***
Rombongan Ai bersama-sama menuju lahan kosong di samping rumah Paman Hwang. Mereka kemudian bersama-sama membersihkan sisa-sisa reruntuhan akibat kebakaran. Paman Hwang dan warga sekitar yang berempati turut membantu. Minhwan dan Byunghun pun turut membantu. Mereka tak peduli tubuh mereka jadi kotor karena arang hitam bekas kebakaran.
Ai sendiri tak mau tinggal diam. Walau hanya dengan satu tangan, ia turut kerja bakti bersama yang lain. Byunghun tampak selalu berada di sekitar Ai. Keduanya bekerja sama mengangkat reruntuhan. Byunghun tersenyum melihat corengan hitam di pipi Ai. ia kemudian mendekati Ai dan membersihkan corengan hitam itu dengan punggung tangan kanannya yang bersih. Ai tersenyum geli lalu kembali bekerja meninggalkan Byunghun. Byunghun tersenyum sendiri dan menatap punggung tangan kanannya lalu menatap Ai. Byunghun menghela napas dan menyusul Ai.
Minhwan berbinar. Ia menemukan sekuntum bunga perdu berwarna putih sedang mekar sempurna diantara reruntuhan. Minhwan memetiknya dan terlihat celingukan. Minhwan tersenyum lebar ketika menemukan Shin Ae. Buru-buru ia mendekati gadis itu. Minhwan menghadang langkah Shin Ae dengan kepala tertunduk. Lagi-lagi Shin Ae menatap heran Minhwan. Kenapa pemuda ini? Begitu pikir di benak Shin Ae.
“Jung Shin Ae! Untukmu!” Minhwan tanpa mengangkat kepala menyodorkan kedua tangannya yang memegang bunga berwarna putih itu.
Shin Ae menunjukan ekspresi kaget lebih dari sebelumnya. “Untukku??” Tanyanya kemudian yang hanya dijawab anggukan kepala Minhwan. “Kau dapat dari mana?”
Minhwan mengangkat kepala. Gantian ia yang menatap heran pada Shin Ae. “Di antara reruntuhan. Dia mekar sempurna walau di sekitarnya terbakar hangus. Ajaib bukan? Lihat, bahkan warna putihnya tak ternoda.”
“Harusnya kau berikan ini pada Nona.”
“He??”
“Ah, Nona!” Panggil Shin Ae. Ai pun mendekat.
“Iya?” Saat Ai sudah berada di antara Shin Ae dan Minhwan. Ai menatap Minhwan, lebih fokus pada bunga di tangan Minhwan.
“Dia menemukannya di antara reruntuhan. Choi Minhwan!” Desak Shin Ae.
“Benarkah?” Ai kembali menatap wajah Minhwan.
Minhwan segera mengangguk antusias. “Ia tak layu walau sekitarnya terbakar. Bunga apa ini?”
“Daisy, bunga matahari kecil. Daisy putih, kepolosan dan cinta setia.” Ai tersenyum lalu pergi.
Shin Ae dan Minhwan sama-sama menatap Ai, lalu sama-sama beralih menatap masing-masing. Keduanya terlihat sama-sama kikuk. Shin Ae menunduk, Minhwan tersenyum salah tingkah. Minhwan kemudian meraih tangan kanan Shin Ae.
“Untukmu.” Minhwan meletakan bunga daisy putih di atas telapak tangan kanan Shin Ae lalu buru-buru pergi.
Shin Ae berdiri tertegun menatap bunga daisy putih di tangannya. Ia kemudian menatap punggung Minhwan yang pergi menjauh. Shin Ae kembali tertunduk lesu.
***
Usai gotong royong membersihkan lahan kosong di samping rumah Paman Hwang, rombongan Ai kembali ke basecamp. Kedatangan mereka sudah ditunggu Kibum yang sibuk menata kotak-kotak makanan. Jinwoon dan Daehyun juga sibuk membantu.
“Oppa? Daehyun? Kalian kemari?” Sapa Ai.
“Bagaimana hasil check up hari ini?” Jinwoon balik bertanya.
“Jika tak ada perubahan, kunjungan berikutnya akan ditanggalkan.”
“Cepat sekali?” Daehyun keheranan. “Tapi tetap bersyukur, ini lebih baik bukan?”
“Em.” Ai tersenyum menganggukan kepala. “Oppa, di rumah apa Appa dan Omma baik-baik saja?” Ai kembali bertanya pada Jinwoon.
“Orang tua mana yang tak khawatir mendengar putri bungsunya terancam dan berada sendiri jauh diluar rumah? Appa dan Omma, mereka sangat mengkhawatirkanmu. Temui mereka jika ada waktu. Walau Appa mengatakan sepenuhnya percaya padamu, bukan berarti Appa bisa tenang.”
“Aku tahu.” Ai kembali lesu.
“Jiyoo Fujiwara, tolong perintahkan beberapa orang untuk membagikan makanan pada warga yang tadi sudah membantu.” Sela Daehyun.
“Aku saja yang minta bantuan mereka.” Jawab Kibum. “Kau mau ikut?” Tawarnya pada Daehyun.
“Biarkan mereka makan dahulu. Usai makan baru ajak mereka membagikan makanan.” Pinta Ai.
“Eum, baiklah.” Kibum mengangguk paham.
-------
Kibum dibantu beberapa orang membagikan makanan untuk warga yang turut kerja bakti membersihkan lahan kosong di samping rumah Paman Hwang. Shin Ae meletakan bunga pemberian Minhwan dalam gelas berisi air. Dipandanginya bunga itu hingga Shin Ae tak menyadari kehadiran Ai. Ai tersenyum melihatnya.
“Cantik?” Celetuk Ai.
“Nona??” Shin Ae terkejut dan menoleh, melotot menatap Ai. “Sejak kapan Nona berdiri di sana??”
“Baru saja.” Ai mendekat. Ia tersenyum lalu mengelus salah satu kelopak bunga daisy milik Shin Ae. “Diam dan menatapnya, apa yang kau pikirkan?”
“Eng, ini keajaiban. Keajaiban yang sebenarnya.”
“Keajaiban?”
“Dia bertahan diantara reruntuhan, tetap mekar, bahkan warnanya tak ternoda. Tamanan yang lain di sekitar lahan itu layu, bahkan hangus tapi tidak dengan bunga ini. itu keajaiban yang nyata Nona. Andai aku memiliki kekuatan membekukan benda seperti Periwinkle, aku akan mengawetkan bunga ini, untuk basecamp agar terkenang hingga kelak, walau kita tak ada lagi di sini.”
Ai terdiam. Ia teringat nama Wisteria Land. Tuhan menunjukan kebesaran-Nya hari ini. Tuhan mendukungku?  Batin Ai.
“Aku rasa ini pertanda baik, Nona. Bahkan Sang Penguasa Alam memberikan dukungan pada Nona.”
“Semoga.”
Keduanya kembali terdiam, sama-sama menatap bunga dalam gelas. Shin Ae memperhatikan Ai. “Nona, tolong jangan salah paham.” Kata Shin Ae memecah kebisuan.
“Salah paham?” Ai menatap heran Shin Ae.
“Tentang Raja Muda itu… Choi Minhwan, dia…”
“Menyukaimu.” Potong Ai. Shin Ae tertegun menatap Ai. Ai tersenyum melihatnya. “Kenapa? Bagimu itu tak mungkin?” Shin Ae mengangguk. “Seperti cerita dalam dongeng?” Shin Ae mengangguk lebih antusias. “Memang bisa jadi tidak mungkin, tapi semua bisa saja terjadi. Selama masih ada napas, jantung masih berdetak, dan Tuhan berkehendak, kucing pun bisa jatuh cinta pada ikan.”
Shin Ae diam menundukan kepala. Ai menepuk pundak kiri Shin Ae lalu pergi. Shin Ae kembali menatap bunga daisy dalam gelas. Ia kemudian menghela napas panjang.
***
Ai kembali dari dapur. Ia benar terkejut melihat Byunghun dan Minhwan berdiri bersama Yiyoung dan Junhyung. Byunghun dan Minhwan berubah khawatir melihat ekspresi Ai. Ai yang tadinya kembali dengan wajah dihiasi senyum kini ekspresinya berubah masam. Ai mengalihkan pandangan pada Jinwoon namun pemuda itu bersikap cuek seolah tak mengetahui keberadaan Yiyoung di sana.
Byunghun membawa Yiyoung dan Junhyung lebih dekat pada Ai. Daehyun yang pura-pura acuh namun sedikit curi-curi pandang semakin penasaran melihatnya. Daehyun menggoyang lengan Jinwoon melihat Yiyoung dan Junhyung sudah berhadapan jarak satu lengan saja dengan Ai. Namun Jinwoon mengacuhkannya.
“Maaf. Aku membantu mereka kemari. Aku katakan aku kemari hari ini.” Terang Byunghun.
Wooyoung dan Kibum baru kembali. Keduanya mengerutkan dahi melihat Yiyoung dan Junhyung ada di basecamp. Kibum hendak mendekat namun Wooyoung menahannya. Kibum paham dan membiarkan Wooyoung pergi.
“Ada apa ini?” Wooyoung segera berdiri dekat di samping kanan Ai.
-------
Hening dalam ruangan 4x4 meter ini. Orang-orang di basecamp biasa menyebutnyaa kantor walau belum benar resmi menjadi kantor basecamp. Salah satu bilik di basecamp ini, di dalamnya Ai, Wooyoung, Junhyung dan Yiyoung berada. Wooyoung setia menunggu, berdiri di belakang Ai yang duduk. Junhyung dan Yiyoung duduk dihadapan keduanya.
Di luar kantor duduk berjajar di tepi panggung, Minhwan, Byunghun, Kibum, Daehyun dan Jinwoon. Mereka hanyaa diam dan sesekali menatap pintu kantor yang tertutup rapat.
“Ya, Kibum~aa, masak kau tak tahu sama sekali? Untuk apa Yiyoung dan Junhyung datang kemari?” Daehyun yang dipenuhi pertanyaan akhirnya angkat bicara.
“Aku sungguh tak tahu apa-apa.” Kibum kesal.
“Yiyoung datang untuk mencari Jaejoong? Setelah Jaejoong terkenal ia jadi menyukai Jaejoong? Padahal dulu Yiyoung sangat benci pada Jaejoong dan santer mendekati Jinwoon Hyung,” Daehyun melirik Jinwoon, “wanita, gampang sekali perpindah hati.” Daehyun menggelengkan kepala. Ia kemudian terkejut menerima tatapan tajam dari rekan-rekannya yang lain. Daehyun segera menunduk.
-------
Junhyung berlutut, namun Ai tetap bersikap dingin. Walau Yiyoung telah mengutarakan maksud kedatangannya dan meminta maaf untuk Junhyung, Ai tetap datar. Bahkan ketika Junhyung angkat bicara, Ai tetap tak menunjukan reaksi. Sorot mata Ai memancarkan kemarahan yang teramat sangat. Yiyoung menatap Ai penuh kebencian. Hingga Junhyung berlutut dihadapannya, Ai tetap bersikap begini angkuh. Yiyoung benci melihatnya.
“Kau pantas marah… kau pantas membenciku…” Junhyung dengan kepala tertunduk dan masih berlutut. “Jika kau benar ingin menghukumku… aku siap. Aku telah menghancurkan impianmu, aku… aku pantas mendapaatkan hukuman…”
“Beruntung Sunbaenim datang saat Yongbae tak ada.” Kata Ai setelah bertahan bungkam. Yiyoung terjekut mendengar Ai masih memanggil Junhyung dengan sebutan ‘sunbaenim’. Terdengar sopan, padahal Ai menunjukan ekspresi yang sangat tak berhabat. Sikap dingin dan sorot mata penuh kemarahan itu, Yiyoung tak menduga pada tindakan Ai ini. “Tak bisa kubayangkan bagaimana jadinya jika Yongbae di sini. Kenapa baru sekarang Sunbaenim datang dan meminta maaf padaku? Selama ini, apa yang menahan langkah kalian? Aku ragu, apakah Sunbaenim tulus melakukan ini?” Ai masih fokus menatap Junhyung yang berlutut dan tertunduk dihadapannya. “Ini karena… Noh Yiyoung? Hanya karena Noh Yiyoung tersiksa dan Sunbaenim tak tega melihat hal itu lalu Sunbaenim setuju datang dan meminta maaf padaku? Sempurna sekali. Bahkan sampai rela berlutut di depanku.”
“Fujiwara!” Yiyoung dengan nada meninggi. Yiyoung kembali menatap kesal Ai. Ia merasa salah menilai Ai. Kesopanan bahasa yang Ai pilih terasa lebih menyakitkan bagi Yiyoung daripada sebuah tamparan ketika pada akhirnya Ai melontarkan keraguannya pada ketulusan Junghyung. “Aku memang meminta Junhyung Oppa pergi bersamaku mengakui ini semua dan meminta maaf padamu. Aku tahu ini tidak akan mudah, tapi…”
“Sunbaenim bersedia pergi karena Noh Yiyoung?” Potong Ai dengan pertanyaan yang ia tujukan untuk Junhyung.
Yiyoung seolah kehabisan bahasa untuk menghadapi Ai. Keangkuhan Ai dan sorot mata penuh kemarahan itu semakin membuat Yiyoung yang dirundung rasa bersalah terpojok. Yiyoung memutar otak, berpikir, memilih kata yang tepat agar Ai sedikit luluh. “Akar semua masalah ada padaku. Sumber semua masalah itu adalah aku. Jika kau marah daan benar ingin menghukum seseorang, maka hukumlah aku.” Kata-kata ini meluncur dari bibir Yiyoung. “Amarahmu, luapkan padaku. Tapi aku mohon maafkan Junhyung Oppa. Oppa melakukan semua itu karena aku. Oppa melakukan semua karena terlampau menyanyangiku. Aku tahu jalan yang ia tempuh salah dan ini… ini, terlambat.” Yiyoung lirih pada kata ‘terlambat’. Ia kembali diam, mengatur emosinya untuk bisa kembali bicara. “Semua ini… pada akhirnya, sangat menyiksaku, menyiksa kami. Setiap kali melihatmu, setiap kali bertemu. Bahkan saat aku mulai terlelap, kau… kau pun muncul hingga tak jarang aku terjaga sepanjang malam.” Air mata itu meleleh menuruni pipi mulus Yiyoung. Bahu Yiyoung sedikit bergoyang karena tangisnya.
“Selama ini aku picik, aku jahat pada Jaejoong juga padamu. Akulah yang patut untuk tak dimaafkan olehmu. Kau boleh membenciku selamanya dan tak memaafkan aku, tapi… tapi aku mohon maafkan Junhyung Oppa dan lepaskan dia.” Yiyoung disela isak tangisnya. “Aku mohon lepaskan Junhyung Oppa… jika kau menyeretnya ka jalur hukum, ini tidak hanya akan melukai kami tapi juga keluarga kami terlebih keluarga Junhyung Oppa. Oppa satu-satunya harapan bagi kedua orang tuanya.” Yiyoung tertunduk dan larut dalam tangisannya.
Wooyoung merasa iba melihatnya. Apalagi bahu Yiyoung sampai bergoyang karena tangisannya. Tatapan Wooyoung meredup. Ia menatap Ai yang masih duduk angkuh. Yiyoung mengangkat kepala dan menatap Ai dengan mata basah. Ia tak menduga Ai begitu keras bagai batu. Ai tetap tak bergeming. Tetap terlihat datar dan dingin. Yiyoung kembali menundukan kepala. Ia pasrah. Sepertinya pendirian Ai tak akan berubah. Suasana hening di dalam kantor. Yang terdengar hanya keributan dari aktifitas orang-orang di basecamp, di luar kantor.
Wooyoung hendak bicara namun  ia urungkan ketika Ai tiba-tiba bangkit dari duduknya. Ai berjalan mendekati Junhyung yang masih berlutut. Wooyoung khawatir. Yiyoung pun sama namun hanya bisa diam menelan ludah melihatnya. Yiyoung makin dibuat gemetar ketika Ai berhenti tepat di depan Junhyung dengan ekspresi dingin itu. Yiyoung menggigit bibirnya dan menunduk. Ia tak sanggup jika harus menyaksikan Junhyung dihajar di depannya.
“Fuj-fujiwara…” Bisik Junhyung terbata membuat Yiyoung kembali mengangkat kepala. Yiyoung terbelalak melihat Ai mengulurkan tangan kanannya pada Junhyung.
Ai tersenyum tulus. “Sunbaenim tidak lelah berlutut seperti ini?” Tanya Ai terdengar begitu lembut. Junhyung makin dibuat keheranan, begitu juga Yiyoung. “Ayo, bangun.” Ai masih dengan tangan terulur.
Wooyoung tersenyum melihatnya. Junhyung menatap tak percaya pada Ai namun perlahan menggerakan tangannya dan meraih tangan Ai yang terulur. Junhyung kembali berdiri. Perasaannya benar campur aduk. Malu, bahagia juga sedih. Tak kuasa menahan semua itu, Junhyung langsung memeluk Ai dan menangis.
“Terima kasih… terima kasih, Fujiwara…” Bisik Junhyung berulang kali disela tangisannya. Yiyoung turut bangkit dari duduknya dan mengusap air matanya yang kembali meleleh. Ai mengusuk punggung Junhyung yang kemudian melepas pelukannya. Junhyung mengusap air matanya dan tampak malu-malu di depan Ai. “Terima kasih, Fujiwara.” Ungkap Junhyung lagi.
“Aku bukan Tuhan Yang Maha Pengampun dan Maha Sabar. Aku marah, bahkan sangat marah ketika tanganku dinyatakan cidera. Aku tak akan bisa terbang bersama YOWL. Ini pilihan yang sangat sulit dan aku terpuruk. Semakin marah ketika tahu bahwa pelaku itu… Sunbaenim. Setiap kali bertemu, rasa marah itu memuncak hingga memenuhi ubun-ubunku. Setiap kali bertemu dengan Sunbaenim, aku harus berperang dengan diriku sendiri dan meredam rasa marah itu. Bukan perkara mudah. Walau sangat marah pada Sunbaenim, tapi apa kuasaku? Semua ini tak akan terjadi jika Tuhan tak menghendakinya.” Ai kemudian tersenyum menatap Junhyung. “Cinta, terkadang memang bisa membuat gila siapa pun yang memujanya. Aku bersyukur, Tuhan masih memberiku kesempatan hidup untuk melihat YOWL dan melihatn semua ini. Walau tak mudah, mari kita lupakan apa yang sudah terjadi dan kita mulai menulis cerita di lembaran baru kisah kita. Sunbaenim, mau kan?” Junhyung mengangguk antusias.
Yiyoung yang tak kuasa menahan haru memeluk Ai. Masih menangis sambil membisikan kata terima kasih. Ai mengangguk dan mengelus punggung Yiyoung. Wooyoung yang terharu turut menitikan air mata melihatnya.
“Ada Jinwoon Oppa di luar, kau tidak malu jika nanti Jinwoon Oppa melihatmu dengan mata sembab seperti ini?” Goda Ai yang segera mendapat pukulan manja dari Yiyoung. Ai tersenyum dan Yiyoung melepas pelukannya.
Yiyoung tersenyum, mengusap air matanya dan berjalan ke samping kiri Junhyung. “Aku sudah memilikinya,” Yiyoung melingkarkan tanganya di lengan Junhyung, “Jinwoon Sunbaenim, untukmu saja.” Balasnya menggoda Ai.
“Ok, deal! Pilihan yang bagus.” Ai setuju dengan menunjukan ekspresi yang sukses membuat Junhyung dan Yiyoung tertawa geli.

Minhwan, Byunghun, Kibum, Daehyun dan Jinwoon kompak berdiri ketika Wooyoung, Ai, Yiyoung dan Junhyung keluar bersama. Byunghun dan Minhwan tersenyum lega. Ai mengajak Yiyoung dan Junhyung bergabung dengan yang lain. Ia menjelaskan kejadian di dalam kantor. Byunghun dan Minhwan turut senang mendengar Ai memaafkan Junhyung dan Yiyoung. Kibum pun turut menerima kenyataan itu. Jinwoon terlihat ikut saja pada suasana di basecamp dan masih acuh pada Yiyoung. Shin Ae turut tersenyum lebar melihat Ai dan teman-temannya.
***
“Hari yang lumayan melelahkan ya.” Kata Byunghun.
“Em. Terima kasih sudah membantu.” Ai kemudian menoleh ke kursi belakang mobil. Minhwan terlelap di sana. “Sepertinya dia lelah sekali.”
“Asal bisa bertemu Shin Ae, dia senang-senang saja.”
Ai tersenyum mendengarnya. “Semoga setelah ini semua jadi makin baik.”
“Bunga yang ditemukan Minhwan, menurutku itu pertanda baik. Jangan menyerah. Majulah untuk impianmu Fujiwara. Aku akan selalu mendukungmu dan selalu siap membantu.” Byunghun tersenyum tulus disetujui anggukan kepala Ai.
Keduanya kembali terdiam. Byunghun fokus dibalik kemudi. Ia melirik bucket lili putih dipangkuan Ai. “Bunga itu, bunga favoritmu?”
“Lili putih, bunga favoritku dan Jaejoong. Aku suka menyebutnya bunga bintang.”
“Bunga bintang?” Tanya Byunghun. Hanbyul? Bisiknya dalam hati.
“Jika diperhatikan, menurutku seperti bentuk bintang. Itu saja.”
Mobil Byunghun berhenti. “Kita sampai.” Kata Byunghun.
“Terima kasih atas tumpangannya.” Ai pamit dan turun dari mobil Byunghun.
Byunghun masih duduk dibalik kemudi, menatap Ai yang turun dari mobilnya kemudian menutup pintu mobil dan berdiri membelakangi Byunghun. Byunghun menunduk dan menghela napas panjang. Ia kembali mengangkat kepala dan menatap Ai yang mulai berjalan menjauhinya. Byunghun kembali menunduk lalu melajukan mobilnya.
Ai menghentikan langkahnya dan membalikan badan menatap mobil Byunghun yang melaju pergi. Ia menghela napas dan kemudian kembali berjalan.

Terdengar bunyi bel berdering. Hanbyul berdecak kesal dan segera menuju pintu. “Oh!” Hanbyul terbelalak menemukan Ai sudah berdiri di depan pintu lengkap dengan senyum manisnya dan tangan kanan membawa bucket lili putih. Hanbyul tertegun.
“Aku akan menginap di sini.” Kata Ai sambil menerobos masuk ke dalam rumah Hanbyul.


---TBC---
 
  shytUrtle

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews