The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’ (다음 이야기 화성 아카데미’사랑, 음악과 꿈’)

04:37

The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
            다음 이야기 화성 아카데사랑, 음악과
 
. Judul: The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
. Revised Romanization: da-eum iyagi Hwaseong Akademi 'salang, eum-aggwa kkum'
. Hangul: 다음 이야기 화성 아카데미사랑, 음악과
. Author: shytUrtle
. Rate: Serial/Straight
. Cast
- Fujiwara Ayumu (
藤原歩) aka Jung Jiyoo (정지유)
- YOWL
1. Kim Jaejoong (
김재중)
2. Oh Wonbin (
오원빈)
3. Lee Jaejin (
이재진)
4. Kang Minhyuk (
강민혁)
- Song Hyuri (
송휴리)
- Kim Myungsoo (
김명수)
- Jang Hanbyul (
장한별) and all cast in Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’ ver. 1


New Cast:
- Jung Shin Ae
- Trio Orenji High School:
1. Kim Hyerien
2. Han Sunyoung
3. Song Hami
- Kim Taerin
- Kim Changmi
- Etc…
   

Cinta, musik dan impian adalah tiga ritme yang mampu membuat manusia tetap bersemangat dalam hidup. Cinta akan menunjukan jalan untuk meraih impian, dan musik memberikan harapan dalam mengiringinya. Cinta menguatkanmu, musik menginspirasimu dan impian akan memberimu ribuan harapan untuk tetap berjuang dan hidup…
   

EPISODE #12

Penonton bertepuk tangan ketika Ai dan Hanbyul sampai. Bertahan berdiri dan menunggu kerumunan ini selesai memberikan bayaran seikhlasnya untuk pertunjukan yang entah digelar oleh siapa. Ai juga Hanbyul tak bisa melihat siapa orang yang menggelar pertunjukan di sini, di tempat dimana Ai biasa menggelar pertunjukan.
Tersisa dua orang terakhir. Ai berdiri diam menatap pemuda yang sibuk berterima kasih pada orang-orang yang memberinya bayaran. Pemuda itu menyadari keberadaan Ai dan terlihat risih. Ai berjalan mendekat. Hanbyul mengikuti di belakang Ai. Ia khawatir emosi Ai meledak dan marah pada pemuda itu. Ai berhenti jarak dua langkah dari pemuda itu. Si pemuda meringis. Kemudian tersenyum sungkan pada Ai. Hanbyul siaga. Ia siap mengambil tindakan jika tiba-tiba Ai mengamuk.
“Di sini sendirian, itu terlalu berbahaya.” Kata Ai lembut. Hanbyul melongo mendengarnya. Nada bicara Ai begitu lembut layaknya  seorang kakak berbicara pada adiknya. “Tanpa satu pengawal pun?”
“Susah payah untuk bisa kemari. Ini yang ketiga.” Pemuda itu berbisik pada kalimat terakhir. “Dan menemukan Nuna. Ajaib!” Imbuhnya riang.
Ai menyadari ekspresi Hanbyul. “Jung Sungha. Adik Daehyun.” Terang Ai.
“Oh? Adik Daehyun?” Hanbyul menatap Jung Sungha. Tatapan tak percaya, juga kagum.
“Tiga kali? Tempatmu bukan di sini.” Ai kembali menatap Sungha.
“Nuna lumayan terkenal di sini. Lumayan kan aku mengisi kekosongan Nuna. Beberapa sempat mengira Nuna akan kembali tampil dan tak jarang yang kecewa ketika menemukan aku.”
“Orang tak mengenal Jung Sungha di jalanan. Kau itu maestro gitar muda, bukan musisi jalanan.”
“Nuna, bernyanyilah untukku. Aku akan mainkan gitar dan Nuna bernyanyi. Mau ya? Ya…” Rengek Sungha. “Hyung…” Ia meminta dukungan Hanbyul.
“Ide bagus! Lakukan!” Hanbyul tersenyum lebar mendukung.
Sungha memberi isyarat agar Ai duduk di sampingnya. Ia kemudian menyiapkan gitar akustiknya dan mencoba menggenjrengnya. Sungha siap, menoleh menatap Ai dan tersenyum. Hanbyul duduk di atas aspal siap menonton pertunjukan Ai-Sungha.
“Saat liburan, Nuna memainkan lagu ini bukan? Christina Perri-A Thousand Years. Nuna mau menyanyikannya untukku?” Ai mengangguk. Sungha tersenyum. “Ok. Kita mulai.” Sungha mulai memetik gitar akustiknya memainkan melody Christina Perri-A Thousand Years. Ai mulai bernyanyi.
Hanbyul duduk manis menonton. Tatapan Hanbyul tak lepas terus memandang Ai. Lagu romantis ini membawa kenangan Hanbyul saat liburan di pulau Jeju. Turut menyeret kenangan manis bersama Ai yang lain pula. Rasa kalut itu kembali menyelimuti Hanbyul. Mampukah ia jauh dari Ai? Sanggupkah ia menepis semua kekhawatirannya ketika berjauhan nanti? Hanbyul tersenyum getir seiring berakhirnya permainan gitar Sungha.
Tepuk tangan penonton mengejutkan Hanbyul. Baru ia sadari jika di belakang dan sekelilingnya kembali ramai orang menonton pertunjukan Ai-Sungha. Melihat antusiasme penonton, Sungha kembali mengajak Ai berduet satu lagu lagi. Ai pun setuju. Ai-Sungha kembali duet membawakan lagu Green Day-Wake Me Up When September Ends. Kemahiran Sungha memainkan gitar akustik dipadukan dengan vocal Ai. Duet yang sempurna.
Usai mengamen bersama, Ai mentraktir Sungha makan malam di restoran milik Ibu Myungsoo. Sungha yang supel dengan mudah akrab dengan Hanbyul yang juga mudah bergaul dengan siapa saja. Keduanya antusias berbagi cerita yang pastinya tak jauh dari membahas Ai. Ai lebih banyak diam. Tak lama kemudian Myungsoo muncul. Ia menyapa Hanbyul, Ai dan Sungha kemudian duduk bergabung. Myungsoo berharap Hyuri ada di sini bersama mereka. Namun ia cukup tahu diri. Selama ini ia dan Hyuri sering merepotkan Ai dan Hanbyul. Myungsoo tersenyum menatap Ai kemudian Hanbyul. Apakah sepasang kekasih ini akan benar-benar terpisah jarak Korea-Amerika?
***
Usai mengantar Sungha, Hanbyul mengantar Ai kembali ke Jeonggu Dong. Mobil Hanbyul berhenti. Wajah Hanbyul berseri. Sepanjang perjalanan ia tak hentinya membicarakan tentang keluarga Jung, keluarga besar Ai.
“Kesimpulanku, andai keluarga Jung membentuk sebuah band, pasti akan terkenal. Sayang Daehyun tak pernah menunjukan kemampuannya bernyanyi.” Hanbyul tersenyum menatap Ai. “Ingin melihat kalian tampil bersama, mungkinkah?”
Ai tersenyum. “Aku turun.”
“Tunggu!” Tahan Hanbyul. “Tunggu sebentar,” Bisik Hanbyul sambil merogoh saku jaketnya. Ai menunggu dengan ekspresi penasaran. Hanbyul tersenyum menunjukan sebuah kalung. Kemudian ia memakaikan kalung itu pada leher Ai.
“Owl?” Ai memegang liontin kalung yang sudah tergantung di lehernya.
Hanbyul mengangguk. “Kau punya banyak kalung unik. Bahkan kau juga memiliki kalung dengan liontin bintang berwarna hitam. Aku melihatnya dipenampilan perdanamu.” Hanbyul lirih pada kalimat terakhir. “Aku rasa kau tak perlu kalung dengan liontin bintang lagi, karena kau telah memiliki bintang di sisimu, itu aku.”
Ai tersenyum tersipu. “Arigatou. Owl, binatang ini keren. Mulia.”
Hanbyul menyentuh liontin kalung yang tergantung di leher Ai. “Owl, dia yang selalu tenang duduk sendiri di atas dahan, diam dan memperhatikan. Kedua mata lebarnya mampu mengamati dua obyek sekaligus. Tak banyak bertingkah, tak banyak bicara, berbeda dar burung lain yang gemar memamerkan dirinya. Ia diam memperhatikan, mendengarkan, semakin banyak tahu dan barulah bertindak. Sorot matanya yang tajam,” Hanbyul masih menatap lekat Ai, “dan bijaksana. Aku yakin, kau bisa menjadi pemimpin yang arif dan bijak bagi para pengikutmu nanti. Basecamp belum memiliki nama?” Ai menggeleng. “Satu lagi, bentuk tubuh dari burung hantu ini,” Hanbyul mengelus liontin berbentuk burung hantu itu, “hatiku, yang selalu bersamamu, dimana pun itu.”
“Jadi menurutmu aku benar mirip burung hantu?” Hanbyul mengangguk. “Bukan vampire?” Lagi-lagi Hanbyul mengangguk. “Kau melupakan satu hal tentang burung hantu.”
“Eum? Apa itu?”
“Burung hantu adalah burung yang setia. Dalam hidupnya, hanya sekali ia kawin. Sama seperti serigala, yang hanya mencintai satu betina dalam hidupnya.”
Hanbyul dan Ai berada dalam jarak yang sangat dekat. Menatap satu sama lain. Hanbyul tersenyum, “aku akan menjadi serigala itu,” ia kemudian mencium bibir merah Ai.
Taerin menghentikan langkahnya. Ia yang melintas tak sengaja melihat Hanbyul dan Ai berciuman di dalam mobil. Tangan kanan Taerin mengepal, menatap keduanya penuh kebencian. Ekspresi itu tergambar jelas di wajah manis Taerin. Taerin membuang muka dan dengan langkah kesal melanjutkan perjalanan pulangnya.
***
Kibum, Wooyoung dan Yongbae ada di rooftop bersama Minki saat Ai sampai. Hari minggu yang lumayan melelahkan, pikir Ai sembari duduk bergabung. Bahkan setelah menemani Hanbyul jalan-jalan di Hongdae, saat pulang Ai tak bisa istirahat. Walau lelah memeluknya erat, Ai tetap duduk dan sabar mendengarkan laporan masing-masing rekannya. Ai terlihat bosan.
“Dan kita belum menemukan nama yang cocok untuk basecamp.” Tutup Kibum.
“Ah, Nona. Aku telah mengumpulkan beberapa kata, jika tak keberatan, apa Nona mau mendengarnya?” Yongbae dengan wajah berseri. Ia berharap Ai akan mengangguk setuju.
“Jangan, Nona! Semua kata yang dikumpulkan Yongbae terdengar aneh. Sungguh itu kumpulan kata-kata aneh.” Cegah Wooyoung.
“Aku menguras pikiran untuk mengumpulkan itu semua! Memeras otak, tahu!” Yongbae bersungut-sungut kesal karena Wooyoung mengoloknya.
“Menguras otak? Memeras pikiran? Namun hasilnya?” Kibum disetujui senyum puas Wooyoung. Minki turut tersenyum.
“Puas-puaskan saja mengolokku!” Yongbae sewot.
“Wisteria.” Celetuk Ai setelah sebelumnya hanya diam mendengarkan. Semua diam, menatap Ai.
“Wisteria?” Tanya Kibum.
“Em. Wisteria Land.”
“Wisteria Land, Wisteria?” Wooyoung masih tak paham.
“Wisteria? Apa maksudnya?” Yongbae pun sama tak paham.
“Wisteria atau Wistaria adalah jenis tanaman polong-polongan. Tumbuhan ini merambat indah dan kuat dengan bunga menggantung seperti anggur. Bunga Wisteria harum dan lebih lebat dari daunnya, hingga terlihat sangat indah dan misterius. Apa benar itu yang kau maksud?” Terang Minki.
“Exactly!” Ai membenarkan. “Di Jepang, Wisteria disebut sebagai bunga Fuji. Dalam budaya Jepang, bunga Wisteria menjadi subyek Otsu-e, lukisan rakyat Jepang di Otsu-Shiga. Lukisan untuk keberuntungan pernikahan.”
“Woa~” Mulut Kibum terbuka. Ia kagum pada penjelasan tentang bunga Wisteria.
“Menurut ahli botani Thomas Nuttal, Wisteria merujuk pada kata ‘bunyi merdu’. Bagaimana jika nama basecamp kita ini Wisteria Land?”
“Ini baru sempurna.” Yongbae terkagum-kagum.
“Kenapa baru menyampaikannya sekarang?” Protes Kibum.
“Perpaduan antara Nona dan Minki Hyung?” Wooyoung penasaran.
“Aku baru mendegarnya sekarang, bersama kelian. Tapi kemarin aku menemukan kertas bersisi coretan tentang Wisteria ketika membereskan meja belajar Jiyoo.” Terang Minki.
“Wisteria adalah lambang selamat datang, cinta dan umur panjang. Harapanku, semoga tempat ini bisa menjadi tempat yang nyaman bagi siapa saja yang masuk ke dalamnya, sampai kapanpun itu.” Ai kembali mengutarakan pendapatnya.
“Wisteria Land, Wish-teria Land,” Kibum memainkan kata Wisteria, “Wish-teria, tanah penuh harapan?”
“Em. Masuk akal.” Ai mengangguk setuju.
“That’s perfect! I’m agree with you.” Kibum tersenyum puas. “Apa kalian juga setuju? Hyung?” Semua mengangguk setuju. “Ok. Kita akan umumkan Wisteria Land pada yang lain.”
“Aku masih memikirkan bagaimana bentuk logo kita nanti. Aku ingin menggunakan warna dari bunga Wisteria dalam logo kita nanti. Putih, ungu, biru dan pink. Putih untuk perdamaian, ungu untuk harga diri, biru untuk perlindungan dan pink untuk cinta, kasih sayang.”
“Otak Nona apa seukuran dengan otakku? Bagaimana Nona bisa membuat semua ini?” Yongbae terkagum-kagum. “Ini, sempurna. Aku suka! Sangat suka!” Ungkapnya antusias. “Aku yakin Wisteria Land akan maju dan berkembang pesat, juga membawa nama Jeonggu Dong menjadi lebih baik. Aku akan mendukung Nona, sampai akhir.”
Ai tersenyum tulus dan mengangguk.
***
Ai sengaja duduk di bangkunya saat kelas usai dan semua murid keluar kelas. Hanya menyisakan Ai dan Junki yang sibuk menata buku-bukunya di dalam kelas. Ai sengaja menunggu, kalau apa yang dikatakan Minki benar adanya –Junki akan menemuinya di sekolah hari ini. Junki selesai merapikan bukunya, ia menatap Ai sejenak. Ai duduk tenang tak menatapnya, sibuk membuat coretan di kertas. Ai cuek, seolah tak peduli pada keberadaan Junki yang berdiri menatapnya.
“Ah, Junki!” Gahee masuk ke dalam kelas. “Eh, Fujiwara? Kau di sini juga?” Ia berbinar menemukan Ai masih di dalam kelas. Ai mengangkat kepala, tersenyum sambil menundukan kepala tanda memberi salam. “Kebetulan sekali, jadi aku tak perlu susah-susah mencarimu.”
“Iya, Sonsaengnim?”
“Aku ingin kita ngobrol sejenak, aku tunggu kau di café ujung gang ya! Pulang sekolah nanti!” Seru Gahee semangat kemudian segera menyeret Junki keluar.
“Café?” Bisik Ai kemudian tersenyum geli.
-------
Sekolah lumayan sepi. Ai berjalan pelan, sendirian. Changmi dan Naeun sempat bertemu dengannya. Mereka hanya saling melempar senyum sebagai simbol sapaan. Ai menemukan Hyuri buru-buru pulang bersama Joongki. Ai menghentikan langkahnya dan kemudian tersenyum sendiri. Kasihan. Bisiknya dalam hati ketika ia tiba-tiba ingat pada Kim Myungsoo. Ai lagi-lagi tersenyum dan menggeleng pelan.
Ai benar terkejut dan refleks mundur selangkah ketika Hanbyul tiba-tiba muncul dihadapannya. Hanbyul yang tadinya tersenyum lebar langsung menarik kembali lengkungan di bibirnya itu.
“Maaf. Aku membuatmu sangat terkejut.” Hanbyul dengan ekspresi menyesal.
“Hanya kurang fokus. Bukannya kau ada latihan?”
“Latihan terus membuatku sangat lelah. Lagipula waktuku tak akan banyak lagi di sini. Aku tak mau menghabiskannya hanya dengan latihan. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu.” Hanbyul kembali tersenyum manis.
“Kalau begitu, ayo temani aku!” Ai penuh semangat.
“Kemana?”
“Aku ada janji dengan klien hari ini.” Ai mulai berjalan.
“Klien?? Di mana??” Hanbyul berlari kecil menyusul langkah Ai. “Jalan kaki?” Saat ia sampai di samping kanan Ai.
“Kita akan bertemu dengan mereka di kedai di ujung gang sekolah.”
“Kedai??”
“Itu hanya kedai tteokbokki, kenapa dia menyebutnya café?” Gerutu Ai sambil terus berjalan. Sedang Hanbyul tampak bingung menggaruk kepalanya dan mengikuti langkah Ai.

Myungsoo menghela napas panjang melihat Hanbyul dan Ai. Wajahnya berubah lesu dan muncul kata dibenaknya, andai aku dan Hyuri bisa sebebas itu. Myungsoo iri melihat kebersamaan Hanbyul dan Ai.
“Iri atau masih menyukainya?” Goda Sunghyun.
“Ck!” Myungsoo sewot.
“Susah sekali menjadi kekasih Song Hyuri. Cucu pendiri Hwaseong Academy. Kau jarang sekali terlihat bersamanya.” Jungshin ikut bicara.
“Hanya jika Ai bersedia pergi bersama kami.”
“Wah, kasihan sekali Ai.” Sunghyun masih dengan nada mengolok.
“Hanbyul dan Ai, mereka akan terpisah jarak. Entah kenapa aku jadi memikirkan hal itu.” Kata Jungshin. “Hubungan jarak jauh ini, apa akan bertahan?” Imbuhnya.
“Ai lumayan banyak yang naksir, tapi sikapnya terlalu garang hingga tak ada yang berani maju. Hanbyul termasuk pria nekat, menurutku. Selama ini tak ada yang tahu jika Ai dan Hanbyul pacaran, walau ada beberapa yang menduga-duga. Melihat keduanya, aku rasa jarak tak akan jadi masalah bagi mereka.” Pendapat Sunghyun.
Myungsoo hanya diam, masih menatap arah kemana Hanbyul dan Ai melangkah pergi.
***
Gahee melambaikan tangan pada Ai ketika gadis itu masuk. Ai tersenyum, kemudian memimpin Hanbyul menuju meja yang terletak di pojok itu. Junki duduk berhadapan dengan Gahee, namun ketika Ai sampai, Gahee beralih duduk di samping Junki. Wajah keduanya memerah dan terlihat kepedasan. Ai dan Hanbyul duduk bergabung. Semangkuk tteokbokki panas terhidang di meja.
“Kalian suka pedas?” Tanya Gahee sambil berusaha mengusir rasa pedas di mulutnya. “Ini level 7, kalo suka pedas, ayo dicoba.” Kemudian menyuapkan sepotong tteokbokki ke dalam mulutnya.
Junki juga memberi isyarat mempersilahkan Ai dan Hanbyul untuk turut makan. Hanbyul penasaran dan mengambil sepotong. Hanbyul terkejut dan kebingungan mencari air. Ia tak kuat memakan makanan yang menurutnya sangat pedas sekali ini. Gahee tertawa geli sambil memberikan sebotol air mineral pada Hanbyul. Gahee menatap Ai, disusul Junki. Tatapan menantang, bagaimana denganmu? Mau mencobanya?  Dengan tenang Ai emngambil sepotong dan memakannya. Gahee, Junki dan Hanbyul yang menatap Ai termangu. Ekspresi gadis itu tak berubah. Tetap tenang memakan tteokbokki dengan level pedas tertinggi itu. Ai tetap tenang hingga menalan habis tteokbokki dalam mulutnya. Mulut Hanbyul ternganga dibuatnya, Junki menelan ludah melihatnya.
Rasa panas yang menyelimuti Gahee semakin bertambah. Ia mengibas-ngibaskan tangannya. “Bagaimana kau bisa setenang itu memakan tteokbokki level teratas ini?” Tanyanya penasaran. “Kau ini manusia bukan? Atau kau benar vampire?”
“Pedas memang, namun ini biasa.” Jawab Ai santai.
“Biasa??” Pekik Hanbyul. “Huft…” Ia menggeleng dan kembali meneguk air mineral di tangannya.
“Yah, makanan ini sepertinya jadi tawar di mulut si vampire.” Goda Gahee yang hanya ditanggapi senyuman oleh Ai. “Jang Hanbyul, kau mau level berapa?” Tanya Gahee.
“Tidak perlu, Sonsaengnim.” Tolak Hanbyu seraya tersenyum manis.
“Kapok ya? Di sini dulu tempat favoritku dan Junki. Kami berteman sejak SMP dan sama-sama bersekolah di Hwaseong Academy.” Gahee mulai bercerita.
“Benarkah? Jadi Gahee Sonsaengnim dan Junki Sonsaengnim berteman sejak lama hingga kini sama-sama menjadi pengajar di Hwaseong Academy? Itu keren.” Respon Hanbyul antusias.
Gahee memesan satu mangkuk tteokbokki dengan pedas level 1 untuk Hanbyul. Gahee semangat mengoceh menceritakan perihal masa mudanya bersama Junki. Sesekali Junki menimpali dan Hanbyul berkomentar. Ditemani dua mangkuk tteokbokki dan air mineral, suasana terasa begitu akrab antara guru dan murid ini. Sepanjang cerita Ai hanya diam dan sesekali tersenyum.
“Suatu kebanggaan bagi kami karena bisa bergabung menjadi staf pengajar dalam Hwaseong Academy. Aku mengikuti tentang YOWL sejak kau masuk, melihatmu dan Jaejoong, seolah membawaku kembali ke masa itu, kala kami SMA dulu.” Kenang Gahee. “Kalian lebih hebat dan nekat dari kami.”
Ai kembali tersenyum menanggapinya. “Lee Junki Sonsaengnim juga pandai bernyanyi dan memainkan alat musik?” Ai bersuara juga.
“Kami dulu menekuni teater, dance dan vocal.” Jawab Gahee.
“Dance?? Kenapa tak pernah unjuk kebolehan saat ada pentas seni di sekolah?” Sahut Hanbyul. Ai mengelus lengan Hanbyul.
“Sudah-sudah. Aku membuang banyak waktu.” Gahee menghela napas. “Fujiwara, aku rasa kau sudah tahu alasan kenapa kami mengundangmu kemari?”
“Minki Oppa menyampaikan pesan itu. Kita berkumpul untuk membahas itu?”
“Iya. Sebenarnya ini sepenuhnya ideku. Junki dan Young Ah tak ingin ada pesta, cukup pernikahan di gereja, itu saja. Tapi menurutku itu… itu kurang menarik. Ini peristiwa penting yang hanya akan terjadi sekali seumur hidup, sayang jika tak ada pesta. Mereka menolak karena mereka sama-sama yatim piatu, ini alasan yang sedikit tak masuk akal bagiku. Aku adalah keluarga mereka, keluargaku juga keluarga mereka. Kau tahu kan?” Gahee berputar-putar menjelaskan. Aku tak setuju dan kemarin menyeret Junki padamu.”
Ai mengerutkan dahi mendengar kalimat terakhir Gahee. “Maaf??”
“Ah, begini. Walau hanya pernikahan di gereja, aku ingin ada pesta walau hanya pesta kecil. Makan-makan dengan kerabat dan teman-teman dekat. Kau setuju kan? Fujiwara…” Gahee penuh harap. Suasana hening sejenak di meja itu. “Ini memang terlalu mendadak, lalu yang muncul di otakku adalah kau, Fujiwara Ayumu. Jadi begitulah dan aku membawa Junki pergi ke Morning Glory Florist, kemarin. Kau orang yang penuh kejutan. Aku harap kau punya ide untuk pernikahan Junki. Aku mohon bantu kami.” Gahee memelas.
“Kejutan sederhana untuk Young Ah.” Junki menambahi.
“Terlalu mendadak ya?” Tanya Gahee.
“Mendadak? Berapa hari waktu yang kita punya?” Tanya Ai.
“Sepuluh hari.” Gahee tersenyum.
“Sepuluh hari??” Hanbyul dan Ai kompak.


---TBC---
 
  shytUrtle

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews