Review bacaan dan tontonan

Review Korean Movie Canola

03:38

Canola (Korean Movie)



From AsianWiki

Profile

Movie: Canola (English title) / Grandmother Gye-Choon (literal title)
Revised romanization: Gyechoonhalmang
Hangul: 계춘할망Director: Chang
Writer: Yang Seo-Hyun, Ha A-Reum, Chang
Producer: Kim Jung-Gon, Choi Hyun-Mok
Cinematographer: Park Jang-Hyuk
Release Date: May 19, 2016
Runtime: 116 min.
Genre: Drama / Family
Distributor: Nanda Kinda
Language: Korean
Country: South Korea

Plot Synopsis by AsianWiki Staff ©

High school student Hye-Ji (Kim Go-Eun) is a troubled teen with a scarred mind and a secret. She is dramatically reunited with her grandmother, Gye-Choon (Youn Yuh-Jung), after going missing for 12 years. Gye-Choon lives as a hanyeo (female diver) on Jeju Island.

Notes

1. Filming began April 21, 2015 on Jeju Island and finished July 9, 2015 at a set in Paju, South Korea. The last scene filmed involved Gye-Choon (Youn Yuh-Jung) becoming shocked after learning of a secret that Hye-Ji (Kim Go-Eun) kept hidden.
3. First movie acting role for Minho (from idol group "SHINee").

Cast:

- Youn Yuh-Jung as Gye-Choon
- Kim Go-Eun as Hye-Ji
- Kim Hee-Won as Suk-Ho
- Shin Eun-Jung as Myung-Ok
- Yang Ik-June as Art Teacher Choong-Seob
- Minho as Han-Yi
- Ryoo Joon-Yeol as Chul-Hun
- Nam Tae-Boo as Choong-Hee

Additional Cast Members:

. Park Min-Ji - Min-Hee
. Jang Hyuk-Jin - Real Estate Agent Byun
. Choi Moon-Kyoung - green umbrella 1
. Kim Dae-Myung - fitness trainer
. Park Jung-Chul - Attorney Seo
. Kim Nan-Hee - Han-Yi's mother
. Oh Hee-Joon - police officer Gye-Choon's house
. Joo Suk-Je - city hall employee
. Kim Joon-Won - Kim Joon-Won
. Lee Ye-Sun - Eun-Joo (young)
. Shin Mun-Sung - detective 1


Pelajar sekolah Hye-Ji (Kim Go-Eun) adalah seorang remaja bermasalah dengan pikiran yang terluka dan sebuah rahasia. Dia secara dramatis bersatu kembali dengan neneknya, Gye-Choon (Youn Yuh-Jung), setelah hilang selama 12 tahun. Gye-Choon hidup sebagai hanyeo (penyelam wanita) di Pulau Jeju.




Berkisah tentang seorang nenek bernama Gye Choon (Youn Yuh Jung) yang hidup bersama cucu perempuannya, Hye Ji. Gye Choon bekerja sebagai hanyeo (penyelam wanita) di Pulau Jeju. Ia sangat menyayangi Hye Ji.




Suatu ketika, Hye Ji bertanya tentang apa itu surga dan kematian. Lalu, ia meminta sang nenek untuk tetap tinggal bersamanya selamanya. Gye Choon pun berjanji bahwa ia tak akan meninggalkan Hye Ji.


Hye Ji kecil sangat gemar menggambar. Ia juga disayangi oleh teman-teman Gye Choon. Termasuk sepasang suami istri yang sehari-hari bekerja bersama Gye Choon, Suk Ho dan Myung Ok.

Suatu hari, Gye Choon mengajak Hye Ji ke pasar. Sialnya, Hye Ji melepaskan genggaman tangannya pada Gye Choon hingga ia hilang di pasar. Gye Choon berusaha mencarinya, namun tak pernah ketemu hingga 12 tahun berlalu.



Hye Ji (Kim Go Eun) hidup di jalanan bersama Min Hee (Park Min Ji). Keduanya terlibat kasus penipuan yang didalangi oleh Chul Hun (Ryoo Joon Yeol) dan Choong Hee (Nam Tae Boo). Mereka kabur demi menghindari pencarian polisi.

Ketika sedang makan bersama Min Hee, Min Hee melihat iklan pencarian anak hilang pada kemasan susu. Anak yang juga bernama Hye Ji. Hye Ji yang membaca iklan itu pun merenung dan mengatakan jika ia merasa iba kepada si anak dan keluarga si anak.



Gye Choon mendapat kabar jika Hye Ji ditemukan. Ditemani Suk Ho dan Myung Ok, ia menjemput Hye Ji. Setelah 12 tahun berpisah, Gye Choon akhirnya bisa bertatap muka kembali dengan Hye Ji (Kim Go Eun).



Gye Choon membawa Hye Ji pulang dan menggelar pesta perayaan. Berita tentang kembalinya Hye Ji pun tersebar ke seantero kampung. Hal itu membawa Hye Ji bertemu dengan Han Yi (Minho). Mereka pun kemudian menjadi satu sekolah.



Gye Choon menyekolahkan Hye Ji di sebuah SMA yang memiliku jurusan seni. Gye Choon merasa itu sekolah yang cocok untuk Hye Ji yang gemar menggambar. Gye Choon ingin Hye Ji serius belajar melukis. Di sekolah itu, Hye Ji bertemu dengan guru kesenian bernama Choong Seob (Yang Ik-June).


Walau Choong Seob membimbing Hye Ji dengan sabar, Hye Ji tetap menjadi murid bandel. Hingga Choong Seob membongkar sebuah rahasia dan Hye Ji pun akhirnya sadar dan mulai serius belajar. Bahkan, bersedia ikut lomba lukis ke Seoul.




Film dengan plot twist yang benar-benar wow! Beneran nggak nyangka realita hubungan antara Gye Choon dan Hye Ji setelah 12 tahun terpisah.

Gye Choon sosok nenek tangguh yang sangat menyayangi cucunya. Yang rela melakukan apa pun demi cucu tercintanya.

Saya sempat dibuat geram sama sikap Hye Ji setelah kembali ke Jeju. Sikapnya yang kaku, dingin, angkuh, bahkan sampai tega mencuri buku rekening Gye Choon benar-benar bikin geram. Tapi, semua itu karena Hye Ji punya alasan.

Pada akhirnya Hye Ji sadar dan memilih untuk hidup bersama Gye Choon. Menemani hari-hari terakhir Gyr Choon hingga Gye Choon menghebuskan napas terakhir dengan menggenggam tangannya.

Alasan saya download film ini karena ada Minho. Ternyata filmnya benar-benar keren. Kekeke. Minho jadi sosok pemuda kampung yang cakep dan baik. Kayak anak kepala desa impian gitu deh. Kekeke.



"Setiap individu dalam hidup ini, pastinya akan berbuat kesalahan yang nantinya bisa dia perbaiki, kedepannya. Kau juga pasti akan melakukan beberapa kesalahan itu. Nenek hanya ingin kau mengetahui itu."




Sekian review dari saya. Mohon maaf jika ada salah kata. Terima kasih. Selamat menonton.

Photo by: Hancinema.

Tempurung kura-kura, 28 Juli 2019.
- shytUrtle -




Creepy Story

Creepy Story: Kesandung Watu

06:20

Kesandung Watu



Judul direkomendasikan oleh Njung Beb. Maaf kalau ternyata setelah baca malah merasa judul ndak sesuai dengan isi. Kekeke.

Saya menulis kisah yang berdasarkan kisah nyata ini hanya ingin berbagi. Harapannya agar kita bisa sama-sama memetik hikmah dan lebih berhati-hati untuk setiap langkah kita. Maaf jika ada salah kata.

Kita, manusia pasti pernah mengalami yang namanya 'kesandung watu' atau tersandung batu dalam kehidupan kita. Tidak ada jalan yang mulus dalam setiap kehidupan. Walau udah berhati-hati, kadang kita masih saja ketiban sial dengan mengalami 'kesandung watu'.

Kok sial sih, Kura?

Pikir deh, emang kesandung watu atau kesandung batu itu enak? Sama dengan kesialan, kan? Rasanya nggak enak. Sakit, bahkan nyesek.

Sial karena kadang kejadian itu menimpa kita bukan karena kecerobohan atau ulah kita sendiri. Melainkan karena ulah orang lain. Didorong orang lain, misalnya. Atau, nggak sengaja tersenggol orang lain hingga kesandung watu.

Apa yang saya alami beberapa waktu lalu boleh dibilang bukan karena ulah saya sendiri.

Sebelumnya maaf pada pihak terkait kisah ini. Sekali lagi saya menulis kisah ini hanya untuk berbagi pengalaman untuk kita sama-sama belajar. Bukan kah hidup itu adalah untuk belajar dan belajar? Semoga tidak ada pihak yang merasa dirugikan dengan dipublikasikannya tulisan ini. Aamiin...

Beberapa waktu yang lalu alhamdulillah saya kembali dikasih kesempatan buat mengunjungi Wana Wisata Coban Bidadari, Gubugklakah. Ketiga kalinya saya berkunjung kesana.

Kunjungan pertama saya sempat merasa khawatir karena kami tiba terlalu sore. Alhamdulillah saya aman, tapi Thata yang KO. Usut punya usut ternyata ada tiga bidadari yang ikutan kami pulang. Kebetulan kondisi saya lagi oke, jadi fine aja. Beda cerita ama Thata. Entah karena alasan apa jadinya Thata yang KO.

Kalau tidak salah ingat, itu pertama kalinya Thata ngalamin fenomena kayak saya. KO kalau nggak sengaja bersinggungan sama makhluk astral. Sejak kejadian itu, tiap kali main ke Coban Bidadari, Thata selalu KO pas pulang. Migren berat.

Kok bisa? Kenapa?

Nah, alasannya itu yang nggak bisa dijelaskan secara pasti kenapa. Padahal setahu saya, Thata selalu bersikap sopan. Tapi, kadang kayak kita manusia yang kadang nggak suka ama seseorang tanpa alasan, atau suka banget ke seseorang hingga pengen nempelin dia kapanpun dan dimanapun. Begitu juga dengan makhluk astral. Terlebih karena mereka bisa melihat kita, tapi kita nggak bisa lihat mereka. Nah, tidak bisa berkomunikasi secara dua arah itu lah yang seringnya menimbulkan salah paham dan bikin kita, bangsa manusia awam jadi kerepotan.

Kesempatan kedua, saya berkunjung ke Coban Bidadari untuk melakukan pemotretan dari novel My Creepy Love Story. Kebetulan salah satu setting dalam novel adalah Coban Bidadari. Ditemani Rama—yang sekaligus jadi model—alhamdulillah proses pun lancar.

Kisah berbeda pada kunjungan ketiga. Saya pergi ke Coban Bidadari bersama beberapa teman. Tempatnya makin apik. Area selfi, spot untuk berfoto semakin banyak.

Kayak sebelumnya, kalau mau masuk rumah orang, saya permisi dulu dong. Membatin, ngucapin salam, menyapa kembali setelah lama nggak jumpa. Setelah peristiwa pertama kali berkunjung dan ada bidadari yang ikut pulang, saya menyimpulkan kenapa wana wisata baru itu diberi nama Coban Bidadari. Terlebih, menurut Njung Beb, memang ada kerajaan bidadari di sana. Lokasinya di sekitaran coban/air terjun. Karena informasi itu, saya selalu berusaha bersikap sopan ketika berkunjung ke Coban Bidadari.

Dua kali berkunjung ke Coban Bidadari, saya tidak turun untuk mencapai air terjun. Bukan karena takut ketempelan or something like that. Tapi, karena medannya masih susah. Turunnya jauh dan medannya itu susah. Saya dapat bocoran ini dari salah satu teman yang udah pernah turun sampai ke air terjun. Padahal air terjunnya apik lho! Ndak terlalu besar kayak Coban Pelangi. Jadi, kemungkinan kita bisa main air sampai di bawah air terjun.

Karena tidak pernah turun, jadi saya tidak punya foto bagaimana rupa air terjun di Coban Bidadari. Mungkin bisa nanya Mbah Google aja kalau penasaran. Hehehe.

Pun demikian pada kunjungan ketiga. Terlebih waktu itu kondisi fisik saya emang rada capek. Sehari sebelumnya ada perjalanan jauh. Jadi, saya memilih untuk menunggu di Puncak Bidadari saja. Sedang teman-teman yang lain turun menuju air terjun.

Alhamdulillah teman-teman bisa mencapai air terjun walau medannya sangat susah. Walau ada yang balik jalan juga. Kalau mau main dan turun ke air terjun di Coban Bidadari, tolong benar-benar persiapkan fisik dan mental. Pun gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman.

Melepas lelah, saya menemani teman-teman berkumpul di salah satu warung di area kafetaria. Teman-teman saling bercerita tentang perjuangan mereka untuk bisa sampai ke air terjun. Salah satu satu mereka mengungkapkan kekecewaannya. Medan yang lumayan sulit, namun kondisi air terjun tampaknya membuat dia kecewa hingga terlontar kalimat, "Cobannya jelek!"

DEG!

Kaget dong! Auto keinget tentang kerajaan bidadari yang lokasinya di dekat air terjun. Wah, apa ini bakalan baik-baik saja?


Turun dari coban, saya KO. KO karena mabok darat. Kekeke. Kura biasa naik motor diajak naik mobil, mabok lah dia. Karena gejala tidak reda hanya dengan minum air hangat, saya pun memutuskan untuk menelan DHD. Lucunya, saya malah melek ombo. Terjaga. Padahal biasanya selepas minum DHD saya terlelap hingga satu jam lamanya. Tapi, tidak dengan hari itu. Jam tidur saya normal. Tapi, alhamdulillah gejala sakit kepala yang berat udah berkurang. Saya pun tidur dengan lelap.

Next day terbangun dengan kondisi badan sakit semua. Kepala masih sakit. Saya pikir hanya efek kecapekan. Karena dua hari touring terus. Juga sisa parno karena mabok. Sialnya otak orang yang ada anxiety tuh gitu. Parnonya ndak ilang-ilang.

Saya cuekin dong! Tapi, kok sakit kepala makin menjadi. Tensi dong. Selalu tindakan medis dulu yang saya pilih. Hasilnya tensi drop. Oke. Deal efek kecapekan. Makan segala makanan yang bisa naikin tensi plus istirahat. Sampai stop nggak kecengin gUi sama sekali. Mata saya ikutan sakit. Pantengin hape lama-lama aja nggak bisa. Apalagi laptop. Alhasil selama seminggu nggak setor bab baru di semua jadwal pos tulisan.

Ketika semua tindakan medis sudah diambil tapi kondisi belum juga membaik, barulah saya berasumsi bahwa, ada yang nggak beres ini. Nanya Tunjung, tapi doi cuman senyum-senyum aja. "Lha nurut kamu kenapa lho?" Tunjung balik nanya. Sialan banget dah tu anak. Kekeke.

Oke lah. Kayaknya saya butuh degan ijo. Alhamdulillah dapat. Tapiii... kondisi belum juga membaik. Udah capek berasa sakit terus, nanya langsung ke Nyai. Nyai, saya ini kenapa tho? Kalau emang ada something, tolong bantu saya. Kasih tahu saya gimana caranya biar sembuh.

Solusinya: mandi di kali yang punya grojokan tengah malam.

GLEK!

Seriusan? Dengan kondisi cuaca dingin yang lagi ekstrim gini? Tapi, saya mau sembuh. Bismillah.

Kamis malam, ditemani Tunjung udah standby di salah satu sungai yang punya grojokan. Pukul dua belas malam udah siap nyemplung, tapi ditunda sama Tunjung.

"Ojo disek, U. Ada pertemuan di lapangan pinggir kali tuh. Semua pada ngumpul di sana. Bahaya kalau kamu ritual dan ketahuan mereka." Tunjung menjelaskan situasi.

Saya nurut aja. Kami pun pulang dan menunggu. Pukul empat pagi baru diajak balik lagi ke kali sama Tunjung. Katanya pertemuan makhluk astralnya baru bubar.

Bismillah saya pun nyemplung ke kali. Njebur basahi badan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jangan ditanya gimana rasanya. Itu air sungai dah kayak lelehan es. Dan, saya balik ke rumah dengan baju basah karena njebur ke kali sekalian ama bajunya. Di pagi buta. Nikmat sekali! Beku rasanya.

Ndilalah kersane Gusti ALLOH, saya sembuh setelah melakukan ritual mandi di kali pada dini hari—yang pada prakteknya pada subuh hari. Kata Nyai sih sebelum matahari terbit. Jadi, subuh hari masih fine lah.

Karena penasaran, saya pun bertanya pada Nyai, ada apa gerangan. Apa sebenarnya yang saya alami.

"Itu salah satu penduduk yang tinggal di sana niatnya negur kamu. Gini lho maunya dia, 'Temenmu itu lho mbok diajari sopan santun. Jangan suka menghina. Bagaimanapun juga ini adalah ciptaan Gusti ALLOH. Jadi manusia mbok ya jangan suka menghina ciptaan Tuhan'. Gitu. Trus, kayak biasanya. Kamu nggak kuat. Jadinya kamu KO."
Saya diam. Merenungi penjelasan Nyai. "Itu yang negur ikut saya, Nyai?"
"Iya. Ada jejaknya. Dia itu rakyat jelata, tapi punya kemampuan. Sakti lah simpelnya."
"Jadi, bukan dari kerajaan atau golongan bangsawannya?"
"Bukan. Lek dari kerjaane ya emboh kowe ngger. Mangkane di ati-ati maneh yo."

Karena saya hanya manusia biasa, ada rasa nggak terima dong. Manusiawi, kan? Bukan saya yang berbuat kenapa saya yang kena teguran sampai tepar? Tapi, balik lagi, saya yang lebih dulu ngenal lokasi dan saya yang ngajak kesana. Dan, kayak sebelumnya, mereka salah duga, mengira saya bisa melihat dan berkomunikasi sama mereka. Poor you, kura! Heuheuheu...


Pelajaran bagi kita semua, kemanapun kita pergi sebaiknya tetap bisa menjaga sikap. Karena kita hidup berdampingan dengan mereka yang kita tidak bisa melihat mereka, tapi mereka bisa melihat kita. Yang terpenting adalah jangan pernah menghina apa pun itu ciptaan Tuhan.

Bagian itu yang nampar saya banget: jangan pernah menghina ciptaan Tuhan. Sebagai manusia biasa saya pasti pernah luput, kesandung watu dan berbuat salah.

Boleh percaya boleh tidak. Tapi, demikian adanya yang saya alami. Mohon maaf jika ada salah kata. Terima kasih.


Tempurung kura-kura, 25 Juli 2019.
- shytUrtle -

Khayalan shytUrtle

Fly High! - Enam

04:22

Fly High!




- Enam -


Al dan Arwan duduk berdampingan di bangku yang berada di dekat taman kecil di samping gedung perpustakaan. Al mengajari Arwan cara mengoperasikan kamera milik Meyra.

“Oh, jadi gini ya.” Arwan mempraktekan cara yang diajarkan Al. “Eh! Waduh! Salah ya? Gimana, gimana?”
Al pun mengulangi dari awal. Arwan kembali menyimak. Lalu, mencoba mengoperasikan kamera milik Meyra.
“Wah! Begini ya? Oke. Oke. Inshaa ALLOH bisa.” Arwan senang karena akhirnya bisa mengoperasikan kamera milik Meyra.
“Pokoknya pilih yang kualitas HD ya. Makasih. Maaf udah ngrepotin.” Al masih merasa sungkan.
“Nggak papa. Gini ya, ntar aku rekam pakek hapeku juga. Ntar sapa tahu yang dari kamera aku nggak bisa bagus ngambilnya. Baru pertama pegang, nggak pede.”
“Terserah kamu deh. Asal bisa aja rekam pakek kamera ini dan hape kamu.”
“Bisa lah. Ntar aku minta tolong temen.”
Al tersenyum dan mengangguk. Suasana berubah hening. Sejak tahu Arwan ada hati padanya, Al sering merasa canggung jika berada di dekat pemuda itu. Terlebih jika berdua saja seperti saat ini. Dalam hati Al terus menyebut nama Oi. Berharap sahabatnya itu segera muncul.
“Udah siap ya buat besok?” Arwan memulai obrolan. “Kata Jia, penampilan kalian makin bagus. Tapi, dia nggak mau bilang kalian mau nampilin apa. Aku jadi penasaran.”
“Lumayan lah. Semoga aja besok aku nggak gugup dan nggak ngrusak penampilan. Kami sama-sama gugup buat besok. Oi walau keliatannya tenang dan pede, gugup juga dia.”
“Wajar lah. Comeback setelah lima tahun vakum. Tapi, aku yakin kalian pasti bisa nampilin yang terbaik. Di Smule suara kalian bagus lho!”
“Di Smule ada filter segala macem yang bikin suara jelek jadi bagus. Beda sama versi live.”
“Sama aja. Di filter kalau suaranya ancur ya tetep aja ancur. Suara kamu tuh cute. Beneran. Aku suka.”
Al merasakan panas di wajahnya. Ia pun tersipu.
“Besok anggep aja kalian lagi di dalam ruang karaoke. Abaikan juri. Anggep aja mereka monitor di ruang karaoke.”
“Lumayan juga idenya.”
Al dan Arwan tertawa bersama.
“Dua-duaan di sini awas ada yang cemburu!” Oi datang bersama Nurul.
“Siapa yang cemburu? Oh! Al udah punya gebetan ya? Pacar?” Arwan menebak.
Umak lah. Pacar Al kan aku!” Oi duduk di samping kiri Al dan merangkul sahabatnya itu. “Umak pasti punya banyak fans, kan? Umak kan cakep. Udah gitu anggota OSIS pula. Anggota OSIS kan selalu punya nilai plus. Heran plusnya di mana. Padahal biasa aja sih.”
Al tersenyun mendengar ocehan Oi. Benar yang dikatakan Oi, pasti banyak yang mengidolakan Arwan. Pemuda itu berwajah tampan, kulitnya bersih, penampilannya selalu rapi, dan wangi. Tipe-tipe cowok metroseksual karena Arwan sangat memperhatikan penampilannya. Selain itu, sikapnya juga sangat lemah lembut. Walau Oi sering menyebut Arwan kurang manly, Al tetap mengagumi pemuda itu.
“Fans opo? Nggak ada. Aku tuh nggak ada fans. Malah Al tuh yang banyak yang ngidolain. Cantik, pinter pula.” Arwan menyangkal.
“Cantikan mana sama Eri? Eri naksir kamu ya? Makanya dia benci banget sama Al karena Al deket sama kamu.” Oi tiba-tiba menyerang. Al merasa sungkan, tapi Oi terkesan cuek dan tidak peduli pada bahasa tubuh yang ditunjukan Al.
“Nggak. Eri kan pacaran sama mantan ketua PMR. Masa kalian nggak tahu sih? Payah banget. Padahal satu organisasi.” Arwan menggelengkan kepala karena heran.
Al dan Oi juga tergabung dalam ekstrakurikuler PMR. Ini pun mengikuti jejak Meyra di masa lalu. Saat SMA, Meyra juga bergabung dalam ekstrakurikuler PMR. Saat masuk ke SMA Wijaya Kusuma, SMA yang juga tempat Meyra menuntut ilmu, Al dan Oi sepakat bergabung ekstrakurikuler PMR. Setelah naik ke kelas XI dan berstatus sebagai senior, Al dan Oi jarang aktif di PMR.
“Tahu. Tapi, pacaran bukan berarti saling suka kan? Bisa pacaran sama ketua PMR bisa naikin gengsi, plus sapa tahu bisa bikin kamu cemburu.” Oi terus menggoda Arwan.
“Nggak mungkin ya Eri naksir aku. Aku lebih goblok dari dia, mana mau dia?”
“Mas Argo bukan cowok pinter sih walau anak IPA. Prestasinya biasa aja. Nggak cakep-cakep amat juga.”
“Cakep itu relatif, Oi. Nggak cakep di mata kamu, tapi cakep di mata Eri.” Nurul menyahut.
“Betul itu!” Arwan membenarkan.
“Mas Argo emang biasa aja, tapi dia bersahaja. Mungkin itu daya tariknya yang bikin Eri kepincut.” Al turut mengutarakan pendapat.
“Kok kita jadi bahas Eri sih?” Oi mengerutkan kening.
“Kan umak yang mulai. Yapo se?” Al menatap Oi dengan sebal.
“Ya sih. Sorry ye. Pulang yuk!” Oi bangkit dari duduknya. “Arwan masih sibuk ya? Nyiapin buat audisi besok.”
“He’em.” Arwan menganggukan kepala.
Al bangkit dari duduknya. “Makasih ya. Maaf udah ngrepotin. Tolong jaga kamera Mbak Mey baik-baik.”
“Siap!” Arwan tersenyum manis dan tulus. “Sampaikan salamku pada Mbak Mey. Makasih udah percayain kameranya ke aku.”
“Moga aja hasilnya nggak jelek. Jujur aku nggak yakin sama umak. Tapi, cuman umak harapan kami.” Oi mengolok.
“Ngenyek arek iki! Liat aja hasilnya besok.” Arwan menyombongkan diri.
Oi pun tertawa. “Suwun ya, Wan. Kami pulang dulu. Selamat lembur!” Ia berterima kasih pada Arwan.
Oi, Al, dan Nurul pun pulang. Meninggalkan Arwan yang masih duduk di bangku taman. Arwan menghela napas, menatap kamera Meyra di berada di tangannya. Ia pun tersenyum, dan bangkit dari duduknya kemudian beranjak pergi.
***

“Jangan minum es!” Nurul memperingatkan Oi yang hendak memesan es degan. “Besok kalian audisi. Jangan minum es. Nggak baik buat suara kalian. Minum air putih aja!”

Oi terbengong, namun kemudian menuruti apa kata Nurul. Karena lapar,  Oi mengajak Al dan Nurul mampir ke warung bakso favorit mereka di terminal. Tiga porsi bakso pun tersaji. Demi menghormati Al dan Oi, Nurul pun tak memesan es sebagai minuman. Walau sore itu cukup gerah. Gadis bertubuh mungil itu mengambil tiga gelas air mineral kemasan untuk dirinya sendiri, Al, dan Oi.
“Jangan makan sambal!” Nurul kembali mengeluarkan larangannya ketika Oi akan mengambil sambal. “Kalau sampai panas dalam dan tenggorokan sakit, besok kamu nggak bisa tampil maksimal!”
Oi menghela napas dan meletakan kembali tempat sambal yang sudah ia angkat.
“Hari ini aja tolong niru Al. Makan baksonya beningan aja. Tanpa saos, tanpa sambel. Oke?” Nurul tersenyum manis pada Oi.
“Al kan emang nggak suka pedes. Apa rasanya bakso ini tanpa sambel, tanpa kecap, tanpa saos.” Oi menatap iba mangkok berisi bakso di hadapannya.
“Kecap nggak papa.” Nurul menyodorkan kecap ke depan Oi.
“Bakso beningan enak kok. Asin dan gurih.” Al tersenyum melihat ekspresi lesu Oi.
“Tanpa sambel dunia terasa hampa.” Oi mengaduk bakso dalam mangkok di hadapannya.
“Hari ini aja lho. Kalau udah audisi, bebas lagi kamu mau makan sambel semangkok nggak bakalan aku larang. Aku nggak mau aja apa yang udah kamu siapin selama dua minggu ancur cuman gara-gara semangkok bakso pedes dan segelas es degan.”
“Makasih ya udah care ke Oi.” Al berterima kasih dengan tulus.
Oi pun tersenyum. “Nuwus[1] ya Rul.” Ia turut berterima kasih. “Hah… bakso tanpa sambel bak dunia tanpa musik. Hampa.” Keluhnya usai menyeruput kuah bakso dalam sendok di tangan kanannya.
“Sabar ya. Ini ujian.” Nurul menertawakan.
Ketiga gadis itu pun menikmati bakso panas dalam mangkok di hadapan masing-masing.
“Rul, nurut kamu kenapa sih Eri kok kesannya benci banget sama kita?” Oi membuka obrolan.
“Mm, apa ya? Kadang aku juga mikir kenapa? Apa sebabnya? Kita lho nggak pernah bahas tentang Korea dan India di depan dia dengan heboh. Aku juga heran kenapa dia selalu ngatain kita pecinta plastik dan udel. Apa yang salah sih dari suka Korea dan India?”
“Oi tuh yang sering heboh.” Al menuding Oi dengan ujung garpu di tangan kirinya.
“Tapi kan nggak tiap hari Al. Palingan kayak pas dapet album debut Wanna One itu.” Nurul membela Oi. “Itu pun hebohnya di bangku kalian. Nggak di depan kelas buat sengaja pamer.”
“Aku juga heran kok. Padahal Eri itu cantik, pinter. Apa pula yang bikin dia sakit hati atau iri dari kita?” Al turut berkomentar tentang Eri.
“Cantikan kamu lah Al. Secara fisik kamu lebih dari Eri. Lebih cantik, lebih tinggi, lebih—”
“Lebih gendut juga.” Al menambahkan, memotong ucapan Nurul. “Oi tuh banyak lebihnya.”
“Kamu tuh nggak gendut. Tapi, sintal tau. Kayak body-body artis India. Iya, nggak Rul?” Oi meminta persetujuan Nurul.
“Kamu tuh terlalu rendah diri, Al. Padahal fisik kamu sempurna. Kalau aku yang dibandingin sama Eri emang nggak ada apa-apanya. Fisik juga kalah jauh. Aku lebih pendek dari Eri. Tampangku juga gini aja. Tapi, kalau kamu sama Eri, andai kamu mau pakek make up tipis kayak Eri, kamu nggak kalah cantik dari dia. Kamu tuh cantiknya alami, Al. Soal body, aku setuju sama Oi. Eh, nyadar nggak sih kalian, kalau figur kalian tuh kayak orang India sama orang Korea? Satu tinggi besar, mata belo. Satu tinggi kurus, mata sipit.”
“Aku yang kayak orang Korea?” Oi menuding hidungnya sendiri dan kemudian tergelak. “Orang Korea habis dibakar ya. Gosong!”
“Nah, itu. Harusnya kulit Al yang agak gelapan, dan kamu yang agak putihan. Al putih banget, tapi kamu coklat.” Nurul meringis. Nurul memang bertubuh mungil dan wajahnya sederhana. Tubuhnya pun sedikit berisi. Penampilannya pun sederhana. Tapi, gadis itu manis.
“Coba tanya Jia, pasti pendapatnya sama kayak aku. Aning juga. Secara fisik Eri emang kalah dari kalian. Trus, di kelas, kalian bisa akrab sama hampir seluruh anak di kelas. Geng kita aja ada berapa anak tuh. Kita cewek berlima, tapi cowoknya hampir separo kelas. Kita sering main bareng kalau akhir pekan. Nah, Eri? Mentok sama Diana, Tiara, dan Nesya. Itu aja udah bikin ngiri.” Nurul melanjutkan analisisnya.
“Kita banyakan temen cowok karena Aning. Dia yang tomboy dan bisa berteman hampir dengan seluruh cowok di kelas. Terutama cowok yang ya boleh dibilang nakal lah. Jadi, kita punya banyak temen tuh karena Aning.” Oi mengoreksi analisis Nurul.
“Tapi, tetap aja karena kalian juga. Kalau mereka nggak nyaman sama kalian, mereka nggak bakalan mau kan deket-deket kalian walau ada Aning, kan? Kalian nggak pelit juga sih soal ilmu. Soal pelajaran di kelas. Jadi, aku rasa karena itu cowok-cowok jadi nyaman berteman dan deket-deket kalian berdua. Karena itu, Eri jadi iri. Dia yang paling pandai di kelas, tapi justru kalian yang dapat perhatian khusus dari mayoritas cowok di kelas.”
“Mereka tuh takut mau nyontek PR atau minta ajarin Eri. Aku pernah nanya soal itu. Ada yang ngaku pernah minta contekan Eri. Dikasih sih, tapi diceramahin dulu. Suruh belajar bla bla bla. Kan males tuh. Katanya, Eri tuh kayak emak-emak killer aja.”
“Nah, kan? Kalau Al dan kamu kan beda. Mereka minta contekan ya udah kalian kasih tanpa ngomel.”
“Aku sih, I don’t care. Mereka mau nyontek trus jadi bodoh ya urusan mereka. Nggak rugi kok hasil kerjaku dicontek. Kalau nilai mereka bagus, toh itu cuman nilai. Yang penting kan pemahamnya, ilmunya nyantol. Bukan nilainya.” Al kembali bersuara.
“Masalahnya yang jadi tolok ukur emang selalu nilai. Nilai bagus berarti pinter. Padahal ya, bagus kadang hasil nyontek. Hasil ngerpek.”
“He’em.” Nurul membenarkan pendapat Oi.
“Eh, kita kok jadi bahas Eri sih?” Lagi-lagi Oi bertanya kenapa mereka jadi membahas Eri. Seperti satu jam yang lalu saat duduk di taman bersama Arwan.
“Kan umak yang mulai. Dari tadi gitu ih arek iki! Pura-pura bego!” Al menepuk lengan Oi.
Oi meringis, lalu menyuapkan sesendok bakso ke dalam mulutnya.
***

Al dan Oi bernyanyi di depan Meyra. Malam itu mereka menggelar gladi bersih di ruang tengah rumah Meyra. Bukan hanya Meyra yang menonton pertunjukan Al dan Oi. Tapi, ada ibu Meyra, juga orang tua dan adik Al.

“Udah bagus!” Meyra memberikan dua jempolnya untuk Al dan Oi. “Gitu dong Al. Nyanyinya los. Suara dibebasin. Pertahanin kayak gitu ya besok.”
“Aku jadi ingat waktu Al TK. Dilatih Mey, Al jadi juara satu lomba menyanyi tingkat kecamatan.” Ibu Al mengenang masa kanak-kanak Al. “Sekarang mau tampil lagi di sekolah. Ibu bangga, Nak.”
Suasana jadi sedikit haru setelah Ibu Al mengungkapkan perasaannya.
“Al keren ya, Lek. Padahal waktu itu nggak ada yang dampingi. Cuman sama Bu Guru. Tapi, Al bisa tampil apik. Bahkan, jadi juara.” Meyra turut mengenang masa kanak-kanak Al bersama ibu Al.
“Karena kamu itu. Karena kamu disiplin waktu dampingi Al latihan nyanyi.”
“Bukan, Lek. Itu karena Al sendiri. Walau aku disiplin, kalau Al nya nggak niat ya nggak bakalan bagus hasilnya.”
“Waktu perpisahan SD, Al dan Oi juga bagus penampilannya.” Giliran Ayah Al yang mengenang masa kecil Al.
“Itu juga karena Mey yang ngajari mereka.” Ibu Al kembali mengatakan keberhasilan Al berkat bantuan Meyra.
Meyra tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Ia merasa bangga mendengarnya. Tapi, tak mau takabur. Karena, bagaimanapun juga keberhasilan yang diraih Al dan Oi adalah karena usaha dan kerja keras kedua gadis itu. Bukan karena dirinya.
“Pokoknya besok pede aja. Aku yakin kalian pasti bisa.” Ayah Al menyemangati.
“Aku sih pede aja Paklek. Al tuh yang nervous. Gugup.” Oi menuding Al.
“Pret! Kamu dewe lho ya gugup. Nggak usah sok pede deh.” Al balas mengolok Oi.
“Kalau aku di posisi kalian, aku pun pasti gugup. Nggak papa itu normal. Apalagi setelah hampir lima tahun kalian vakum. Rasa gugup itu pasti ada. Tapi, aku yakin kalian pasti bisa mengatasinya. Semangat ya!” Meyra menyemangati Al dan Oi.

Malam itu Al merengek ingin tidur bersama Meyra, tapi Meyra menolak. Kalau mereka tidur bersama, sudah pasti mereka akan banyak ngobrol dan tidur telat. Meyra tidak mau hal itu terjadi, karena kurang tidur bisa merusak kualitas suara Al. Meyra pun meminta Al tidur di kamarnya sendiri dan segera beristirahat. Bahkan, Meyra memastikan Al tak bermain ponsel. Karena keasikan bermain ponsel pun bisa membuat Al lupa waktu dan tidur telat.
Memikirkan tentang audisi besok membuat Al terjaga. Ia ingin menghubungi Oi untuk berbagi keresahan, tapi Meyra menyita ponselnya. Al pun mendesah. Lalu, memejamkan kedua matanya.
Di kamarnya, Oi pun merasakan hal yang sama dengan Al; tidak bisa tidur karena memikirkan audisi esok. Ia mengirim pesan pada Al. Tapi, bukan balasan dari Al yang sampai ke ponselnya. Melainkan sebuah panggilan video dari Meyra. Meyra meminta Oi lekas istirahat demi audisi esok. Ajaibnya, setelah mendapat panggilan video dari Meyra, Oi merasa lebih tenang. Ia pun memejamkan kedua matanya, berusaha untuk tidur.
***


[1] Terima kasih. Nuwus adalah bahasa walikan (bahasa khas Malangan) dari suwun yang berarti terima kasih


Search This Blog

Total Pageviews