Random (KPOP)

Kenangan di Friendster Bersama Lee Junki dan Oh Wonbin.

03:29



Ini lanjutan dari kisah saya jadi KPOPers yang sebelumnya saya posting.
Awal saya kenal KPOP pada tahun 2008 sosial media yang tren kala itu adalah Friendster. Ini sebatas pengetahuan saya. Maaf kalau salah.

Target setelah membuat Email di Yahoo tentu saja membuat akun di Friendster. Dibantu Rendra, saya daftar Friendster dan berhasil! Yey!!! Dan akun yang pertama kali saya add--seingat saya itu istilahnya, maaf kalau salah- adalah semua akun bernama Kim Jaejoong. Maruk banget! Dulu mah gatau itu akun asli apa palsu. Add aja semua. Edyan!

Waktu punya Friendster, teman saya kebanyakan orang Filipina sama Thailand. Ada beberapa yang jadi teman di Facebook dan berteman baik sampai sekarang. Salah satunya Lyn yang ternyata adalah seorang model di Manila sono. Daebak. Sampai sekarang dia masih demen manggil saya "Mommy". Kata dia saya baik dan perhatian kaya mamanya. Karena itu dia manggil saya Mommy.

Selain akun dengan nama member DB5K, saya juga berteman sama akun Lee Taemin dari SHINee, Kevin Woo--yang ini akun asli dari Kevin Woo alias Kevin UKISS-, Lee Junki dan Wonbin ex member FT.Island. Anehnya di Friendster saya nggak ngukir kenangan manis sama Mas Jeje yang notabene cinta pertama saya. Di FS saya punya kisah lucu dan... haru? Ya haru mungkin. Kisah lucu bersama akun Wonbin dan haru bersama akun Lee Junki.

Saya akan mulai dari kisah lucu bersama Oh Wonbin ex member FT.Island.


Dapet akun Wonbin dari list teman Nao. Menurut penyelidikan Nao akun Oh Wonbin 95% mendekati asli. Iseng saya add eh dikonfirmasi. Alhamdulillah. Trus kejadian lucunya di mana?

Waktu itu Nao jatuh sakit dan entah kenapa saya malah kirim ke dinding Wonbin, marah-marahin dia. Intinya saya marah karena Nao sakit itu gara-gara dia. Untungnya dulu di FS ada pengaturan yang mengizinkan kiriman itu dipublis agar bisa dilihat teman atau diprivasi yang hanya bisa dilihat si pengirim dan yang dikirimin. Pada akun Wonbin berlaku semua kiriman yang masuk ke dinding dia menunggu persetujuan dia untuk dipublis atau tidak. Ah saya lupa istilahnya.

Wonbin menanggapi pesan saya dengan bingung. Dia mengaku tidak baik dalam berbahasa Inggris dan tidak mengerti dengan maksud kiriman saya. Namun sepertinya dia sadar kalau saya marah-marahin dia.

Jedeng! Kiriman saya dibaca sama Oh Wonbin yang katanya asli itu. Demi Emak Bapak saya gatau harus jawab apa. Akhirnya saya minta maaf dan menceritakan tentang Nao yang sangat mengagumi dia. Dia bilang nggak papa dan berterima kasih karena Nao sudah mengagumi dan selalu mendukung juga memperhatikan dia.

Setelah peristiwa itu saya nggak pernah kirim-kirim lagi ke wall Oh Wonbin. Visit akunnya pun nggak pernah. Saya malu, malu sekali. Entah dia asli atau palsu tapi dia selalu memperhatikan dan membaca kiriman yang masuk pada akunnya. Kapok saya!


Kenangan kedua adalah bersama akun bernama Lee Junki.

Saya dapet akun Lee Junki dari temen saya Ve. Waktu itu saya nggak sengaja liat chatt dia sama Lee Junki. Lee Junki?? Ve chatt sama Lee Junki?? Beneran??
Penasaran saya pun nanya sama Ve, "Itu akun Lee Junki asli? Seneng banget chatt kamu dibales." "Nggak tahu asli atau palsu, aku enjoy aja chatt sama dia," jawab Ve.
Saya tertarik dan add akun Lee Junki itu. Dikonfirmasi dan... saya lupa tepatnya kapan awal saya chatt sama Mas Junki yang entah asli apa palsu itu. Yang pasti chatt saya direspon dan disambut hangat sama Mas Junki.

Setiap Sabtu malam selalu standy nunggu pesan dari Mas Junki yang isinya "online?"
Kiriman itu selalu masuk di jam 1-2 malam. Itu berarti di Korea udah jam 3-4 pagi. Selanjutnya kami akan mengobrol. Chatt berakhir di subuh hari. Untung saja chatt-nya di hari Sabtu hingga saya bisa ngebake bangun siang di hari Minggu-nya. Mungkin Mas Junki sendiri waktu luangnya di hari Sabtu.

Saya menikmati momen itu, chatting sama Mas Junki yang entah asli atau palsu. Kadang iseng menanyakan tentang sesuatu yang berhubungan sama Mas Junki. Si empunya akun bisa menjawab dengan tepat. Keren! Hal itu membuat saya berpikir, anggap aja dia asli. Hehehe. Kalaupun bukan asli, mungkin dia manajer atau asisten Mas Junki hingga ia tahu banyak tentang Mas Junki. Atau mungkin kalau sekarang itu bisa dikategorikan role player. Semacam itulah. Dan pada akhirnya saya nggak peduli itu akun asli atau palsu. Saya nyaman chatt dengan dia dan saya menikmati momen itu.

Tak beda jauh dengan Wonbin, Mas Junki mengaku tak mahir berbahasa Inggris sedang aku sama sekali tak bisa berbahasa Korea. Tapi dia bilang nggak papa, dia paham yang saya utarakan. Chatt sama akun Mas Junki lebih pakek rasa daripada bahasa. Hahaha. Kadang dia merespon dalam Bahasa Korea yang ditulis pakek Hangul. Mana saya paham? Hape saya dulu Nokia 6600 yang nggak ada Hangulnya dan nggak bisa di copy paste untuk diterjemahkan ke google translate. Kesempatan itu hanya saya dapatkan kalau saya online ke warnet. Walau hasil terjemahannya kacau, tetep bikin saya mesem-mesem sendiri di warnet.

Obrolan saat chatt nggak jauh-jauh tentang Mas Junki. Saya sering bahas tentang film dia yang baru saya tonton. Waktu itu saya ngeluh ke dia karena saya belum nemuin film King and The Clown yang dia bintangi. Dia meminta saya bersabar dan memaklumi karena sebelumnya saya pernah cerita kalau tempat tinggal saya di desa jadi agak susah untuk berburu film dll.

Kadang akun Mas Junki itu nanya kegiatan apa yang saya kerjakan selama seharian. Pernah sekali dia nanya dan waktu itu bertepatan sama bulan Ramadhan. Saya cerita kalau saya seharian puasa. Dia tertarik dan bertanya tentang apa itu Ramadhan dan tradisi apa saja yang dikerjakan selama Ramadhan. Saya terharu dan pengen meluk dia waktu dengan antusiasnya dia nanya soal Ramadhan.

Waktu ada bencana di Indonesia, kalau nggak salah gempa di Sukabumi apa mana ya. Pokoknya Mas Junki dulu pernah berkunjung ke tempat itu waktu ke Indonesia, aku juga cerita ke dia. Dia terkejut lalu mendoakan.

Pernah saya bertanya kapan Oppa ke Indonesia lagi. Dia bilang dia suka Indonesia dan rindu Indonesia tapi nggak tahu kapan bakal ke Indonesia lagi.

Saya bilang ke Oppa kalau ke Indonesia ke Malang saja nanti saya ajak ke Gunung Bromo. Hal itu membuat Oppa penasaran tentang Malang. Aku pun menceritakan kalau Malang itu kondisi kotanya sama kaya Daegu. Sama-sama dikelilingi gunung dan sama-sama kota apel. Informasi itu saya peroleh dari radio RRI Malang yang kala itu kedatangan tamu seorang Dokter wanita asli dari Korea.

Mas Junki tertarik. Apalagi ketika saya menceritakan tentang Gunung Bromo, tentang legenda Joko Seger dan Roro Anteng. Oppa bilang ingin berkunjung ke Malang. I'm in heaven. Kekeke.

Tak ada keindahan yang abadi. Waktu itu pun tiba. Chatt terakhir kami. Oppa mengatakan akan sibuk dalam beberapa bulan ke depan dan tidak bisa chatt. Sedih rasanya. Tapi mau gimana lagi? Oppa punya pekerjaan yang super sibuk dan padat jadwalnya. Saya pun hanya bisa mengiyakan sambil mengatakan "Aku akan menunggu Oppa kembali."

Sejak saat itu Oppa nggak pernah aktif lagi di akun Friendster-nya. Setiap Sabtu saya masih rajin mengirim pesan pada Oppa tapi tidak pernah ada balasan. Kangen. Rindu itu benar-benar menyiksa.

Penyesalan itu ada. Kenapa saya nggak nanya apa Oppa punya akun Facebook atau Twitter saat chatt terakhir. Bodoh! Kura-kura bodoh!

Selanjutnya Friendster eror. Akun saya masih bisa dibuka tapi tidak bisa mengirim pesan atau wall juga mengkonfirmasi teman. Banyak teman yang bertanya apa saya baik-baik saja namun saya tidak bisa membalas. Sempet masih bisa mengunjungi akun Oppa, tapi lagi-lagi tak ada aktifitas di sana. Sampai akhirnya saya mendengar kabar bahwa Oppa masuk wajib militer dan Friendster akhirnya benar-benar eror. Tak bisa diakses.
Ketika kabar Mas Junki mau keluar wamil bikin saya senang. Mulai memburu akun sosial media milik Oppa. Di Facebook ada tapi palsu. Sampai menemukan akun Twitter Oppa. Oh senangnya. Dan di Twitter Oppa tertulis "Joined: 3rd Jul 2009 (~1 tweet per day)". Juli 2009?? Itu artinya saat saya chatt sama Oppa di FS dia udah punya Twitter dan saya nggak tahu itu? Parah!

Mengetahui fakta itu saya jadi mikir, Mas Junki di FS itu asli apa palsu? Saya menepis kecurigaan itu dan mulai sering mengirim pesan di Twitter. Tapi rasanya tak sama dengan Oppa di FS. Oppa di Twitter tak pernah berinteraksi dengan followernya. Sangat berbeda dengan Oppa yang di FS.

Pada akhirnya itulah kenyataannya. Oppa yang di Twitter adalah Oppa yang asli. Junki Oppa yang sebenarnya. Sempat sedih tapi... ya itulah kenyataannya. Selama pencarian Va sampai berkomentar, "Omma nyari Junki Oppa kayak anak nyari bapaknya." Hehehe. Setelah ketemu kenyataannya berbeda.

Akun Junki Oppa di Friendster memberikan kenangan yang indah. Saya berterima kasih padanya, siapapun dia dibalik akun itu. Terima kasih untuk kenangan indah yang sudah diciptakan bersama di Friendster.


Btw dulu lebih suka online di Friendster karena tarifnya murah. Kalau ke Facebook atau Twitter lebih mahalan lagi. Dan dulu masih bodoh banget soal Twitter. Hehehe.

Tunggu kisah KPOPers babo ini selanjutnya ya. Sekian dan terima kasih. Maaf jika ada kata yang tak berkenan.


tempurung kUra-kUra, 04 Maret 2016.
.shytUrtle.


Random (KPOP)

Ngaku KPOPers Tapi Buta KPOP

03:25

Siapa sih yang nggak kenal sama KPOP yang belakangan makin menjamur tak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Karena lama nggak nulis tentang KPOP, kali ini saya mau curhat tentang saya dan KPOP.

Sejak SD udah suka yang berbau oriental cuman zaman saya SD yang dominan film/drama mandarin. Tokoh-tokoh yang mendominasi kala itu ada Andy Lau, Jimmy Lin, Aaron Kwok dan masih banyak lagi. Cuman yang paling fame ya tiga tokoh itu bersama Jet Li dan Jackie Chan pastinya. Jimmy Lin dan Aaron Kwok adalah sosok flower boy yang sangat digandrungi kala itu.

Selain mandarin saya juga suka sama anime Jepang yang pada masa itu banyak menghiasi televisi nasional Indonesia. Saya demen banget sama Sailormoon dan Kstaria Baja Hitam. Eh, Ksatria Baja Hitam mah bukan anime xD

Lupa tepatnya kapan kenal Naruto dan Inuyasha. Jadi makin suka sama Jejepangan. Apalagi lagu-lagu pengisi soundtrack dua anime itu enak-enak.

Tahun 2006 apa 2007 gitu mulai ngelirik Korea. Tepatnya pas drama Goong aka Princess Hours yang dibintangi YEH Eonni tampil di Indosiar. Itu drama Korea yang pertama kali saya tonton. Dan ternyata drama Korea keren juga ya.

Bagaimana suka KPOP? Itu gara-gara Mas Jeje aka Kim Jaejoong. Waktu itu saya dapet bonusan kalender meja dari salah satu Eonni yang saya suka pesen cd lagu-lagu Korea ke dia. Sampul paling depan kalender ada foto lima cowok dan saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada salah satu dari mereka yang kemudian saya ketahui bernama Hero atau Kim Jaejoong. Dunia saya berbalik 180° sesudahnya.

Sebelumnya saya penikmat musik barat. Suka sama Westlife yang jadi boyband pertama yang saya idolakan zaman itu. Tapi setelah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Mas Jeje, saya jadi suka KPOP dan kudet soal musik barat, musik Indo dan Jejepangan. Parah.
Pada masa itu nggak segampang sekarang. Walau internet sudah ada tapi saya gaptek. Mas Jeje-lah yang membuat saya kembali belajar dari nol tentang internet dan komputer. Saya berguru pada teman saya. Lalu membuat Email agar bisa daftat Friendster dan kenalan sama Mas Jeje. Dulu mah mana tahu itu akun asli apa palsu. Googling diarahin ke sana jadi pengen bikin Friendster, Facebook dan ada satu nama lagi Alive Not Dead karena di tiga web itu ada nama akun Mas Jeje. Saya terobsesi dan itu menyiksa sebelum saya mendapatkannya. Oh my!

Berhasil! Bikin Email berhasil! Saya punya Friendster dan Facebook. Aku akan bisa berkomunikasi secara langsung dengan Kim Jaejoong. Tapi bagaimana? Aku nggak bisa Bahasa Korea. Dan apa Jaejoong bisa Bahasa Inggris? Pasti bisa! Masak idola besar nggak bisa Bahasa Inggris?

Memiliki Friendster bukan mengukir kisah indah bersama Mas Jeje tapi malah sama Mas Junki dan Wonbin ex FT.Island. Nanti akan kuceritakan tentang kisah ini.
Lalu apa maksudnya ngaku KPOPers tapi buta KPOP?

Sejak suka Mas Jeje jadi suka TVXQ aka DB5K dan ngaku Cassiopeia. Dari situ mulai kenal SHINee, 2PM dan FT.Island. Sampai-sampai bikin grup via SMS namanya Red and Blue Hottest Club yang disingkat R&BHC. Punya slogan "I'm the Hottest Cassiopeia in the SHINee World" dan punya sebutan Primanoona yang merupakan bagian dari Primadona nama fans FT.Island. Saya jadi admin yang pegang grup Cassie.

Walau jadi admin sebuah grup, bukan berarti saya paham segala tentang KPOP atau paling tidak tentang boy band dari grup yang saya pegang. Nah, inilah yang saya sebut sebagai buta KPOP. Selain itu saya nggak tahu seluk beluk dunia KPOP dan KPOPers. Boleh dibilang waktu itu cuman bondo nekat. Suka Jaejoong dan tahu beberapa lagu DB5K udah bikin saya berani maju jadi admin, leader pula. Apa kalo nggak nekat namanya?
Untungnya KPOPers itu rukun. Nggak ada cibir-cibiran ke newbie. Malahan newbie dibantu biar makin paham. Sempet tersandung beberapa masalah juga karena kebutaan saya. Oh my! Babo jara!

Saya nggak tahu fan fiction itu apa padahal tahun 2009 saya nulis cerita dengan personel DB5K sebagai tokoh-tokoh dalam ceritanya.
Saya nggak tahu fansite dan fansite noona itu apa. Baru tahu diakhir 2013 ketika saya suka ToppDogg. Iya, 2013. Jadi dari 2008-2012 saya nggak tahu sama sekali tentang fansite dan fansite noona. Parah!

Sering lihat foto-foto KPOP Idol dengan adanya tulisan nama--yang belakangan saya ketahui sebagai trademark/watermark. Cuman saya nggak kepikiran itu foto fansite milik fansite noona. Kau benar-benar parah kura-kura!
Ada kisah unik bersama fansite ToppDogg. Nanti saya tulis kisahnya dalam bab tersendiri. Hehehe.

Walau rajin nulis fanfiction dari 2009, saya nggak pernah paham sama istilah-istilah dalam fanfiction. Tahunya hanya yaoi itu cowok suka cowok dan yuri itu cewek suka cewek. Kalau PG, NC dst dsb dan sejenisnya saya nggak paham betul. Tahu NC itu apa juga belakangan. Aigo!!!

Saya kalo nulis ff yaudah nulis aja kayak anak SD disuruh ngarang buat tugas cerpen dari Guru Bahasa Indonesia. Nggak ada keterangan genre atau apalah khas fanfiction yang ditulis anak-anak KPOPers. Opo ngene iki lek gak sak karepe dewe? Bagi saya asal yang baca bisa menikmati ceritanya sudah cukup. Alhamdulillah juga kalau mau ada yang baca. Hehehe.

Saya juga banyak nggak paham sama istilah-istilah yang dipakek KPOPers macam OTP atau apalah gitu. Ke laut aja sono! Ya ampun... parah lu kura-kura! Anehnya dengan semua kebutaan itu saya bisa bertahan dari 2008-2016 jadi KPOPers. Benar-benar ilegal.

Intinya jangan malu bertanya. Misal gini, saya lagi chatt sama sesama KPOPers, trus lawan chatt saya pakek satu istilah yang saya nggak paham. Saya nanya ke temen KPOPers yang lain kalo ga nemu jawaban ya saya minta maaf trus nanya sama yang nulis istilah. Bukankah kata pepatah malu bertanya sesat di jalan? Jadi jangan malu untuk bertanya jika Anda tak paham. Hehehe.

Sekian dan terima kasih. Maaf jika ada kata yang tidak berkenan.

tempurung kUra-kUra, 04 Maret 2016.
.shytUrtle.

Fan Fiction FF

The White Prince and The Red Princess #13 (Ending)

04:53

The White Prince and The Red Princess.

* Cast:
- Lee Taemin SHINee as White Prince
- Choi Min Hee (reader) as Red Princess
- All SHINee and f(x) members.

Cinta adalah berat dan ringan, terang dan gelap, panas dan dingin, sakit dan senang, terbangun dan terjaga. Cinta adalah semuanya, kecuali apa arti dia yang sesungguhnya. - William Shakespeare, Romeo and Juliet.





#13 (Ending)

Krystal dan Minho tiba, berhenti jarak satu langkah di hadapan Taemin. Taemin diam menatap keduanya. Ekspresi pemuda berwajah tampan itu sedikit merengut ketika menatap Krystal. Sementara itu Jinki masih bertahan di tempat persembunyiannya, terus mengawasi.

"Kau bilang kau akan datang sendiri," Taemin memulai percakapan yang ia tujukan untuk Krystal.
"Situasi sedikit tak aman, Minho Oppa tak ingin sesuatu yang buruk juga menimpaku, karena itu Minho Oppa turut pergi bersamaku. Dia juga... ingin bertemu denganmu," Krystal menjelaskan alasan kenapa ia datang ditemani Minho.
"Sesuatu yang buruk juga menimpamu? Apa terjadi sesuatu pada Minhee? Katakan padaku! Di mana Minhee-ku?" Taemin berubah panik.
"Dia..."

Belum selesai Krystal bicara tiba-tiba terdengar suara ribut. Dari arah belakang muncul beberapa orang pemuda dengan langkah tergesa-gesa berjalan menghampiri Krystal, Minho dan Taemin. Minho mengerutkan dahi dan segera berdiri di depan Krystal.

"Kenapa kalian berbondong-bondong kemari?" tanya Minho yang sudah berdiri di depan Krystal.
"Hyung menemui dia di belakang kami?" kata salah seorang pemuda di barisan depan sembari menggerakan kepala menuding Taemin.
"Sebaiknya kalian pergi. Ada hal yang harus aku selesaikan di sini," perintah Minho.
Jinki yang masih bertahan di tempat persembunyiannya mulai panik. Namun ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Jaejin.
"Urusan apa hingga harus menemuinya secara diam-diam? Hyung tahu kan dia siapa?" pemuda yang sebelumnya bersuara kembali angkat bicara.
"Iya, aku tahu."
"Dan Hyung pasti juga tahu siapa pelaku dibalik kecelakaan yang dialami Nona Besar."
"Kecelakaan?" sela Taemin. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pemuda yang sepertinya menjadi pemimpin dari kelompok Keluarga Choi yang tiba-tiba datang malam ini tersenyum mencibir pada Taemin. "Lihat bagaimana ia berakting seolah ia tak tahu apa-apa. Padahal anak buahnya yang menjadi dalang dibalik kecelakaan yang menimpa Nona Besar."
"Sudah, hentikan!" bentak Minho.
"Krystal, apa yang sebenarnya terjadi pada Minhee?" Taemin mendesak Krystal yang berdiri di sampingnya untuk bicara.
"Seorang anak buahmu sengaja menabrak Nona Besar dan hingga kini Nona Besar belum sadarkan diri. Ck! Aktingmu benar-benar..." pemuda itu menggelengkan kepala usai menjawab pertanyaan Taemin.
Taemin maju dan menarik baju pemuda yang sedari awal menyerangnya dengan kata-kata pedas. "Apa yang kau katakan?!" tanyanya dengan nafas memburu penuh amarah.
Pemuda itu melepas cengkeraman Taemin di bajunya. "Jika kata-kata tak mampu menjadi penjelasan bagimu, maka terima ini!" ia pun melayangkan kepalan tangan kanannya dan mendaratkannya di pipi kiri Taemin.

Krystal menjerit ketika Taemin di tempeleng hingga tubuhnya terpelanting dan jatuh terduduk. Darah segar menetes dari luka di pojok bibir kiri Taemin. Krystal menggigil di balik punggung Minho melihat Taemin berdarah. Jinki berusaha menghubungi Jaejin namun Jaejin tak kunjung menerima panggilannya.

"Sudah hentikan!" Minho berdiri menghadang di depan Taemin yang masih terduduk.
"Kau baik-baik saja?" Krystal yang gemetaran mendekati dan membantu Taemin berdiri.
"Hyung melindungi bajingan ini?"
"Aku tahu anak buahnya bersalah tapi bukan dia."
"Nona Besar pun tak bersalah tapi kenapa mereka menyerang Nona Besar? Minggir, Hyung! Biarkan kami memberinya pelajaran."
"Krystal, bawa dia pergi!" perintah Minho pada Krystal.
"Apa??" Krystal merasa salah dengar dan menatap heran pada Minho.
"Cepat pergi dari sini!" Minho dengan nada suara meninggi menegaskan perintahnya pada Krystal.
"Hyung lebih memilih membelanya dan melawan kami?"
"Oppa..." rengek Krystal.
"Pergi!" bentak Minho.
"Lindungi Blue Pearl dan tangkap White Prince!" perintah pemuda yang memimpin gerombolan kubu Keluarga Choi.
"Choi Jonghoon!" Minho menatap tajam Jonghoon yang sedari awal terus menyerangnya dengan kata-kata tajam.
"Serang!" perintah Jonghoon mengabaikan gertakan Minho.
"Ayo!" Taemin meraih tangan Krystal dan menariknya untuk pergi.
"Oppa!" Krystal benar mengkhawatirkan Minho yang hanya seorang diri menghadang.
"Taemin!" Jinki keluar dari tempat persembunyian.
"Jinki??" Taemin bingung melihat Jinki tiba-tiba muncul.
"Bawa Blue Pearl pergi. Aku akan membantunya!" perintah Jinki pada Taemin.
"Apa??"
"Pergi!" Jinki mendorong Taemin dan kemudian berlari untuk membantu Minho.
"Kita pergi!" ajak Taemin pada Krystal namun gadis itu memilih diam di tempatnya berdiri.
"Kenapa?"
"Kau tega meninggalkan mereka berdua?"
"Bawa aku pada Minhee. Aku mohon."

Krystal pasrah ketika Taemin kembali menyeretnya untuk berjalan. Namun langkah keduanya terhenti karena beberapa orang pemuda dari kelompok Keluarga Choi berhasil mengejar dan menghadang mereka. Taemin berdiri di depan Krystal bermaksud melindungi gadis itu.

"Lindungi Blue Pearl dan tangkap White Prince," ucap salah satu pemuda mengulang perintah Jonghoon.
"Lepaskan aku!" Krystal berontak ketika satu orang pemuda menyeretnya untuk minggir. "Sunbaenim!" teriaknya mengkhawatirkan Taemin yang sudah terkepung.
Jinki yang mendengar teriakan Krystal pun mengalihkan perhatian hingga membuatnya lengah dan segera mendapat serangan dari kubu lawan. Ia jatuh berlutut dan menerima pukulan bertubi-tubi.

Perkelahian tak bisa dihindari. Krystal yang tertahan dalam dekapan satu pemuda anggota kelompok Keluarga Choi tak bisa berbuat apa-apa melihat Minho, Jinki dan Taemin berkelahi melawan Jonghoon dan anak buahnya. Taman di mana mereka berada cukup sepi di hari yang sudah berubah gelap itu. Seandainya ada orang yang melintas pun mereka pasti tak akan berani melerai perkelahian itu.

Suasana sangat kacau. Minho dan Jinki berhasil menyusul Taemin dan membantunya. Namun kekuatan mereka bertiga tak cukup untuk melawan Jonghoon dan anak buahnya.

"Sunbaenim!!!" jerit Krystal sekuat ia bisa ketika ia melihat salah seorang anak buah Jonghoon menusuk Taemin dari belakang.
Pemuda yang masih memegang belati yang ia gunakan untuk menusuk Taemin itu terlihat syok. Ia menggelengkan kepala dan menjatuhkan belati di tangannya ketika melihat Taemin ambruk dengan pinggang berdarah.
Seketika itu perkelahian terhenti. Krystal melepaskan diri dan menghampiri Taemin. Ia mengambil sapu tangan untuk menyumbat luka Taemin. Jinki pun mendekati Taemin dan mulai panik.

"Sak... sakit..." bisik Taemin yang meringis kesakitan.
"Bertahanlah... bertahanlah Sunbaenim..." Krystal tak mampu membendung air matanya.
Minho mengambil alih tugas Krystal yang menekan sapu tangan pada luka Taemin untuk menghentikan pendarahan. "Telefon ambulan dan amankan dia!" perintahnya yang segera dipatuhi oleh anak buah Jonghoon.
Jonghoon berdiri mematung menatap bagaimana Krystal dan Minho berusaha menyelamatkan nyawa Taemin.
***

Jinki dan Minho membantu mendorong brankar tempat Taemin terbaring memasuki IGD rumah sakit. Krystal turut berlari di belakangnya.

"Krystal?" Joongki yang malam itu bertugas di IGD terkejut melihat Krystal datang ke IGD.
"Uisa-nim, aku mohon tolong dia!" pintanya masih dengan menangis.
"Kenapa dia?" Joongki segera menbantu untuk merawat Taemin.
"Luka tusuk di pinggang," Minho menjawab pertanyaan Joongki.

 Perawat meminta Jinki, Minho dan Krystal untuk minggir. Krystal duduk di antara Minho dan Jinki yang babak belur. Minho merangkulnya, berusaha menenangkannya.
Tak lama kemudian Jaejin datang ke rumah sakit. Ia menemukan Jinki yang duduk bersama Krystal dan Minho. Jinki berdiri menyambut Jaejin kemudian mengajak pemuda itu menjauh dari Minho dan Krystal.

Lima belas menit kemudian Jinki dan Jaejin kembali ke tempat di mana Minho dan Krystal duduk.

"Terima kasih. Walau aku masih tak percaya kau mati-matian membela Taemin, aku ucapkan terima kasih untuk semua itu." Jaejin memulai obrolan.
"Aku melakukannya demi Minhee dan Krystal," jawab Minho yang masih bertahan duduk berdampingan dengan Krystal.
Jaejin yang berdiri di depan Minho menghela napas pelan. "Tentang Choi Minhee, maafkan aku. Pelaku yang menabraknya mengendarai motor salah satu anggota kelompokku. Dia saudara dari pemilik motor. Kami sudah mengamankannya."
"Karena salah paham, anggotaku melukai Lee Taemin. Aku pun minta maaf untuk hal itu. Kami sudah mengamankan pelaku. Kami akan menyerahkannya pada pihak berwajib."
"Sebaiknya jangan. Kau paham maksudku kan?"
Minho menghela napas panjang dan mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Minho bangkit dari duduknya. Krystal pun ikut berdiri.
"Ada kalian di sini, kami pamit pergi," Minho berpamitan.
"Choi Minhee juga dirawat di sini?" tanya Jinki.
"Iya," jawab Krystal dengan suara serak.
"Ini benar-benar..." gumam Jinki sembari menggelengkan kepala.
"Kami pergi," Minho mengulang untuk berpamitan.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Choi?" pertanyaan Jaejin berhasil menghentikan langkah Minho.
Minho berbalik dan menatap Jaejin. "Bagaimana dengan Nyonya Lee?" ia balik bertanya.
Jaejin balas menatap Minho namun tak berkata apa-apa.
***

Taemin sudah dipindahkan ke kamar rawat inap. Jaejin dan Jinki masih bertahan di rumah sakit untuk menjaganya. Walau telah dirawat dan dipindahkan, Taemin belum sadarkan diri. Hal itu membuat Jaejin dan Jinki khawatir. Apalagi keduanya telah mendapat kabar bahwa Nyonya Lee telah kembali dari ke Korea semalam. Beliau akan sampai pagi ini dan akan segera menuju rumah sakit untuk menemui putra semata wayangnya.

Minho yang menjaga Minhee sejak semalam pun tampak suntuk. Semalam ia menerima telefon dari Tuan Choi. Pria itu marah besar mendengar insiden yang menimpa Minhee. Ia menyalahkan Minho karena merahasiakan musibah yang menimpa Minhee darinya. Tuan Choi pun telah bertolak kembali ke Korea dan akan tiba di Seoul pagi ini. Minho mengelus lembut tangan Minhee. Ia berharap gadis itu segera membuka mata.

Hari menjelang siang. Mobil sedan mewah berwarna putih tiba di halaman depan rumah sakit. Nyonya Lee keluar dari dalam mobil. Jaejin menyambutnya. Wanita itu berbincang sejenak bersama Jaejin lalu keduanya terburu-buru memasuki rumah sakit.

Selang beberapa menit, mobil sedan mewah berwarna hitam tiba di rumah sakit. Tuan Choi keluar dari dalam mobil. Dengan langkah tenang ia berjalan memasuki rumah sakit.

Jinki yang sedang duduk di pinggir ranjang Taemin segera berdiri ketika Nyonya Lee memasuki kamar tempat Taemin dirawat. Wanita itu duduk di kursi tempat Jinki sebelumnya duduk. Jinki beralih berdiri di samping Jaejin.

Nyonya Lee mengelus tangan kanan Taemin dan menatap anak semata wayangnya dengan tatapan sendu.

"Bagaimana ini bisa terjadi? Taemin-aa, bangunlah. Buka matamu. Jangan buat Eomma menjadi begini takut," bisik Nyonya Lee.
Jinki dan Jaejin sama-sama menundukan kepala melihat dan mendengarnya.


Jonghoon terkejut ketika Tuan Choi tiba-tiba menampar Minho. Krystal yang juga berada di depan kamar tempat Minhee dirawat pun ikut dibuat syok. Minho hanya bisa menundukan kepala tak melakukan perlawanan.

"Ajushi!" protes Krystal.
"Diam, kau!" Tuan Choi menuding Krystal. "Kalian berdua benar-benar..." ia menatap Krystal lalu Minho. Usai menghembuskan napas secara kasar, ia pun masuk untuk menengok keadaan putri bungsunya yang koma.
"Oppa..." Krystal memeriksa pipi Minho.
Jonghoon hanya bisa menundukan kepala merasa sungkan tak bisa membela Minho di depan Tuan Choi.
***

24 jam berlalu Taemin belum juga sadarkan diri. Nyonya Lee masih bertahan menungguinya. Wajahnya terlihat lelah namun ia enggan beranjak ketika Jinki membujuknya untuk istirahat.

"Kau selalu sakit ketika keinginanmu tak terpenuhi, kali ini apa yang kau inginkan hingga kau seperti ini?" Nyonya Lee yang hanya ada berdua saja dengan Taemin mulai bicara. Dielusnya dengan lembut rambut Taemin yang terlihat seperti sedang tertidur pulas.
"Katakan pada Eomma apa yang kau inginkan. Bukalah matamu. Katakan apa yang kau inginkan. Eomma akan memberikan semua yang kau inginkan. Apa pun itu," Nyonya Lee menundukan kepala. Berusaha keras menahan air matanya agar tak runtuh.

Terdengar suara pintu terbuka, Jinki masuk bersama seorang perawat. Nyonya Lee bangkit dari duduknya.
"Anda Nyonya Lee?" sapa perawat itu.
"Iya," Nyonya Lee membenarkan.
"Bisa ikut saya sebentar? Dokter Song ingin bertemu Anda."
"Dokter Song?"
"Dokter yang menangani Taemin ketika kami membawanya kemari," sela Jinki.
"Baiklah," Nyonya Lee mengangguk setuju.
"Mari," Perawat itu berjalan memimpin dan Nyonya Lee mengikuti di belakangnya meninggalkan Jinki dan Taemin yang masih terbaring tak sadarkan diri.

Nyonya Lee berjalan di belakang Perawat yang menjemputnya. Tampak dari arah berlawanan seorang perawat berjalan dengan diikuti oleh seorang pria. Nyonya Lee menyipitkan mata ketika mengetahui pria yang berjalan di belakang perawat yang berjalan dari arah berlawan adalah Tuan Choi.

Kedua perawat itu sama-sama berhenti di depan pintu sebuah ruangan. Keduanya saling menyapa dengan ramah. Di belakang masing-masing, Tuan Choi dan Nyonya Lee berdiri dengan saling menatap sengit.

 "Silahkan masuk," pinta perawat yang menjemput Nyonya Lee. "Dokter Song sudah menunggu di dalam," imbuhnya.
"Aku... sekarang?" tanya Nyonya Lee.
"Iya."
"Tuan silahkan masuk juga," pinta perawat yang menjemput Tuan Choi dengan sopan.
"Aku juga??"
"Iya. Kami permisi," ucap perawat yang menjemput Tuan Choi yang juga pamit pergi bersama temannya--perawat yang menjemput Nyonya Lee.
Tuan Choi dan Nyonya Lee saling melempar pandangan. Nyonya Lee membuang muka lebih dulu lalu membuka pintu dan mengucap permisi untuk masuk ke dalam ruangan Dokter Song. Tuan Choi mengekor dibelakangnya.

Nyonya Lee dan Tuan Choi terkejut ketika sampai di dalam ruangan Dokter Song. Dokter muda dan tampan itu tak sendiri di dalam ruang kerjanya. Ada Krystal yang duduk manis di kursi kerjanya.

"Krystal??" sapa Tuan Choi dengan ekspresi terkejut.
"Annyeong hasimnika, Ajushi," Krystal yang sudah berdiri memberi salam dengan sopan. "Annyeong hasimnikka, Nyonya Lee," ia berganti menyapa Nyonya Lee. "Silahkan duduk," pintanya masih dengan suara lembut dan sopan.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Tuan Choi.
"Mohon duduklah dahulu. Pembicaraan kita akan sangat panjang," Krystal kembali duduk.
Nyonya Lee duduk di salah satu kursi di balik meja.
Tuan Choi menatap Dokter Song yang tersenyum manis dan tulus padanya sejenak. Kemudian ia pun duduk di kursi kosong di samping Nyonya Lee.
"Kau Blue Pearl kan?" Nyonya Lee mulai bersuara.
"Iya, Nyonya. Senang sekali Anda mengenali saya. Tentu Anda mengenal Red Princess juga kan? Karena kami sejoli yang selalu bersama, aku yakin Anda pasti juga mengenalnya. Apalagi Anda seorang penggiat sastra. Kalian mempunyai kesamaan," Krystal tersenyum manis juga sinis membuat Nyonya Lee sedikit gusar.
"Kenapa kau mengundang kami atas nama Dokter Song?" giliran Tuan Choi bertanya.
"Jika aku meminta bertemu Anda berdua atas namaku sendiri, apa Anda berdua bersedia datang seperti ini? Dokter Song adalah Dokter keluargaku. Saat Red Princess mengalami kecelakaan, hanya dia yang terpikir olehku. Karenanya aku membawa Tuan Putri kesayanganku kemari."
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?!" Tuan Choi sudah tak sabar mendengar basa-basi Krystal.
"Ajushi sudah tidak sabar rupanya? Inilah sifat Ajushi yang paling aku benci. Tidak sabaran dan selalu merasa paling benar. Egois. Karena itu semua aku dan Minhee harus kehilangan Choi Minhwa Eonni."

Suasana berubah hening dan kaku. Tuan Choi terlihat sedikit salah tingkah sedang Nyonya Lee ekspresinya berubah sedikit sendu.
"Tuhan itu gemar sekali bermain-main. Sebelumnya aku selalu berdo'a, cukup Choi Minhwa Eonni saja yang mengalami tragedi tapi Tuhan kembali memainkan dadu permainan. Sejarah terulang lagi," Krystal berbicara dengan tatapan kosong seolah ia berbicara dengan dirinya sendiri.
"Apa maksudmu?!" bentak Tuan Choi.
"Jangan katakan jika..."
"Ya," Krystal memotong ungkapan Nyonya Lee. "Semua itu benar. Lee Taemin dan Choi Minhee, mereka saling jatuh cinta. Menurut Anda berdua itu tak boleh kan? Kenapa? Karena Minhee adalah seorang Choi dan Taemin adalah seorang Lee. Karena Minhee adalah merah dan Taemin adalah putih. Begitu menurut kalian, tapi tidak bagi Tuhan. Kebersamaan mereka adalah keindahan bagi-Nya."
Tuan Choi dan Nyonya Lee sama-sama menatap Krystal dengan tatapan marah.
"Kenapa Anda berdua menatapku seperti itu? Anda marah? Marahlah pada Tuhan yang telah menuliskan kisah ini. Aku, Minhee dan juga Taemin Sunbaenim hanyalah pemain. Akan aku ceritakan semuanya sekarang. Di sini, di depan Anda berdua, Tuan Choi dan Nyonya Lee."

Krystal pun menjelaskan kronologi bagaimana Minhee dan Taemin bertemu hingga keduanya saling jatuh cinta. Tuan Choi sempat menyela, memintanya untuk berhenti. Namun Krystal berhasil membuat pria itu diam dengan kata-katanya.

Krystal pun tak lupa membeberkan tentang rencana pernikahan Minhee dan Taemin yang dibuat kacau oleh kecelakaan yang kini membuat Minhee koma.

"Kenapa Taemin Sunbaenim dan Minhee merencanakan pernikahan? Itu karena..." Krsytal diam sejenak, "karena Minhee telah mengandung anak Taemin Sunbaenim."
Kalimat terakhir yang diucapkan Krystal terdengar bagai suara guntur yang menggelegar dekat di telinga Tuan Choi dan Nyonya Lee. Keduanya terbelalak menatap Krystal. Syok mendengar pengakuan gadis itu.
"Benar-benar di luar dugaan Anda berdua bukan? Aku pun sama terkejutnya dengan Anda berdua ketika mendengar pengakuan mereka. Aku pun berusaha menolak, tapi sekali lagi aku hanya manusia biasa. Aku tak akan mampu menentang ketentuan yang dibuat Tuhan. Permainan yang Ia buat pun melumpuhkanku sejenak. Kenapa Minhee-ku tega melakukan itu padaku?" tatapan Krystal kembali kosong dan butiran bening yang sempat tertahan di kedua matanya meluncur menuruni pipi mulusnya.
"Tak ada pilihan lain kecuali mengikuti permainan-Nya. Aku dan Minhee menyusun banyak skenario seandainya rencana yang kami susun gagal, tapi lagi-lagi Tuhan memberi kejutan. Minhee kecelakaan dan koma. Saat aku ingin memberi tahu Taemin Sunbaenim tentang kemalangan yang dialami Minhee, Tuhan kembali memberiku kejutan. Kami diserang dan Taemin Sunbaenim terluka, tak sadarkan diri hingga kini," Krystal mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Tuhan telah memberi kita banyak teguran, tapi kenapa kita masih bersikap angkuh? Aku benar-benar takut sekarang. Takut jika tragedi yang menimpa Choi Minhwa Eonni akan terulang. Jika itu terjadi, aku akan kehilangan sahabatku satu-satunya dan Anda berdua akan kehilangan anak kesayangan Anda masing-masing. Bukan hanya anak, tapi juga cucu. Bagiku tak akan terlalu miris, tapi..." Krystal tak melanjutkan perkataannya. Ia diam sejenak membiarkan air matanya yang bicara.
"Aku mengatakan ini semua untuk memohon kepada Anda berdua. Aku mohon ampuni Minhee-ku dan Taemin Sunbaenim. Aku mohon restui mereka. Bukankah setiap orang tua ingin melihat anaknya hidup bahagia? Bukankah Ajushi dan Nyonya Lee dahulu teman baik? Bukankah sebenarnya salah paham itu sudah diluruskan? Aku tak berharap banyak, tapi... tapi aku hanya ingin melihat Minhee tersenyum bahagia. Baik saat ia kembali atau saat..." Krystal lagi-lagi tak melanjutkan ucapannya. Ia bangkit dari duduknya dan masih menangis, berlari menuju pintu dan keluar meninggalkan ruangan Dokter Song.

Hening dan kaku di dalam ruangan Dokter Song. Joongki, Tuan Choi dan Nyonya Lee sama-sama terdiam.

"Dukungan dari keluarga dan orang-orang yang dicintai, hanya itu yang bisa menolong Choi Minhee sekarang. Luka di fisiknya sudah membaik, tapi sepertinya jiwanya enggan untuk bangkit," Joongki memecah kebisuan. "Jalan kesembuhan seseorang tak serta merta dari jalan medis saja. Doa dan cinta dari orang-orang terkasihlah yang paling penting karena tak ada kekuatan yang lebih besar dari do'a dan cinta. Keduanya sungguh dahsyat. Selalu ada keajaiban di dalamnya."
Joongki menunduk sopan meninggalkan Tuan Choi dan Nyonya Lee di dalam ruangannya.
***

Nyonya Lee berjalan lesu menuju kamar tempat Taemin dirawat. Tampak Jaejin duduk di kursi di depan ruangan. Pemuda itu segera berdiri ketika melihat Nyonya Lee berjalan ke arahnya.

Jaejin menunduk memberi salam namun Nyonya Lee mengacuhkannya. Ia berjalan melewati Jaejin dan langsung membuka pintu kamar Taemin.

Mata Nyonya Lee terbelalak ketika pintu kamar tempat Taemin dirawat terbuka. Ruangan itu kosong.
"Taemin! Taemin, di mana dia?" tanya Nyonya Lee panik.
"Taemin..." Jaejin terlihat ragu.

Nyonya Lee berjalan terburu-buru menuju kamar tempat Minhee dirawat. Lima menit setelah Nyonya Lee pergi bersama perawat yang menjemputnya, Taemin sadar. Sejak membuka mata ia merengek untuk mengunjungi Minhee. Setelah Dokter memeriksanya, Taemin meminta Jinki untuk mengantarnya ke kamar Minhee.

Nyonya Lee melewati kapel rumah sakit. Ia berhenti sejenak dan memerhatikan Krystal yang sedang duduk di dalam kapel. Gadis itu terlibat khusyuk berdo'a. Ia menghela napas dan kembali berjalan menuju kamar tempat Minhee dirawat.

Langkah Nyonya Lee mengendur ketika semakin dekat dengan kamar Minhee. Tuan Choi terlihat duduk di kursi di depan kamar Minhee. Ada Jinki yang menemaninya.
Jinki bangkit dari duduknya ketika mengetahui Nyonya Lee berjalan ke arahnya. Tuan Choi ikut berdiri.

"Taemin, apa dia di sini?" sapa Nyonya Lee ketika sudah berhenti di depan kamar tempat Minhee dirawat.
Tuan Choi mengangguk. "Duduklah. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka," ucapnya sembari kembali duduk.
Nyonya Lee terkejut mendengar ucapan dan sikap lembut Tuan Choi padanya.
***

(Satu bulan kemudian)

Taemin berdiri di dekat altar dengan senyum manis terkembang. Ia terlihat tampan dalam balutan tuxedo putih dan celana dengan warna senada.
Minhee berjalan menuju altar. Ia terlihat anggun dan cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna putih. Krystal berjalan mengiringi dibelakangnya.

Setelah sadar Taemin mengabaikan lukanya dan selalu menemani Minhee. Setiap hari ia datang ke kamar Minhee untuk berbagi cerita.
Minhee yang sempat terbaring koma selama satu minggu akhirnya membuka mata. Ia diperbolehkan pulang dua hari kemudian dan dinyatakan sembuh.

Taemin menyambut Minhee dan menuntunnya ke depan altar. Pendeta yang sudah menunggu tersenyum menyambut keduanya. Hari itu keduanya mengikat janji suci di gereja kecil yang dahulu menjadi tempat pernikahan mendiang Choi Minhwa dan kekasihnya yang seorang klan Keluarga Lee.

Nyonya Lee menyeka air matanya menyaksikan Taemin dan Minhee berdiri di depan pendeta untuk mengikat janji suci.
"Kau menangis?" tanya Tuan Choi yang duduk di samping Nyonya Lee.
"Entah kenapa aku merasa begitu terharu," ungkap Nyonya Lee.
"Andai dulu aku berani jujur padamu, mungkin kita akan seperti mereka."
Nyonya Lee tersenyum. "Sayangnya Tuhan menciptakan cerita lain untuk kita. Putrimu sangat cantik dan pandai."
"Dan dia seorang penggiat sastra. Kalian pasti akan cocok."
Nyonya Lee tersenyum tersipu. "Putramu juga sangat tampan."
"Dia juga hobi balap motor. Tak jauh beda denganmu."
"Tuhan benar-benar keren kan?" sela Krystal yang duduk di samping Tuan Choi.
Tuan Choi tersenyum dan merangkul Krystal.
"Aku tak sabar menanti kelahiran keponakanku. Ayahnya tampan dan ibunya cantik, keponakanku pasti keren!" Krystal dengan wajah berbinar.
Tuan Choi dan Nyonya Lee kompak tersenyum mendengar ocehan Krystal.

Taemin berdiri berhadapan dengan Minhee. Ia tersenyum bahagia menatap pujaan hatinya dengan penuh kasih. Janji suci untuk sehidup semati telah mereka ikrarkan bersama. Hari ini mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Taemin merendahkan kepalanya dan mencium Minhee di depan para tamu yang hadir di gereja.

"Kau lihat kan? Kisah kita tak seperti Romeo and Juliet. Kau dan aku, kita akhirnya bersama." --Taemin.
"Terima kasih Eonni. Terima kasih telah menyampaikan do'aku pada Tuhan." --Minhee.
"Karena Engkau telah mendengar do'aku, mulai hari ini aku akan menjaga mereka semua dengan baik, seperti janjiku pada-Mu." --Krystal.

------- THE END --------


.shytUrtle.
 

Search This Blog

Total Pageviews