Khayalan shytUrtle

AWAKE "Rigel Story" - Bab XXII

04:16

AWAKE - Rigel Story

 

 

Bab XXII

 

“Selamat datang!”
Rue terkejut ketika memasuki rooftop-nya. Karena tiba-tiba ada yang mengucapkan selamat datang. Ia mengerjapkan mata. Kemudian menatap Hongjoon yang berdiri dengan kedua tangan terbuka. Senyum manis menghiasi wajah pemuda itu.
Rue menghela napas, tersenyum, dan menggelengkan kepala. Baru ia ingat jika sejak semalam ada roh Hongjoon yang menumpang tinggal di rooftop-nya.
“Bagaimana di sekolah hari ini?” Hongjoon mengikuti Rue yang kemudian duduk merebahkan diri di sofa. “Melelahkan sekali ya?”
“Aku belum menemukan di rumah sakit mana kau dirawat. Esya belum masuk. Hari ini pemakaman Paman Darwin. Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke sana. Tapi, pemakaman digelar pukul sembilan pagi. Aku tidak bisa meninggalkan sekolah. Maaf ya.” Rue sambil menyamankan posisi punggungnya yang bersandar pada punggung sofa.
Hongjoon menatap Rue yang memejamkan kedua matanya. Ia merasa bersalah karena telah membuat Rue kerepotan. “Kenapa mencari rumah sakit tempat aku dirawat?”
“Di sana pasti ada keluargamu. Aku ingin bertemu mereka. Ada hal yang harus aku sampaikan. Pesan Paman Darwin. Permintaan maaf darinya.”
Setiap kali mendengar kata Paman Darwin, Hongjoon merasakan sakit di dadanya. Ia teringat fakta tentang Paman Darwin yang kehilangan nyawa dalam menjalankan tugas untuk menjaganya.
“Bagaimanapun juga, kita tidak bisa melawan takdir. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri.” Rue berbicara dengan kedua mata masih terpejam. Kemudian ia membuka mata. “Seharian ini apa yang kau lakukan?”
“Mm?” Hongjoon mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatap Rue. “Berjalan-jalan di sekitar. Tak apa kan?”
“Asal jangan menyusulku ke sekolah.” Rue tersenyum, bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju kamarnya.
Hongjoon menghela napas dan tersenyum menatap punggung Rue yang kemudian menghilang di balik pintu.
***


Rue masih belum terbiasa dengan keberadaan Hongjoon. Walau sudah berjalan tiga hari, ia masih sering dibuat kaget setiap kali pemuda itu menyapanya atau menyambutnya saat pulang. Ia membagi cerita itu pada Dio, Byungjae, dan Hanjoo. Juga tentang Malaikat Kematian yang lebih sering muncul sejak roh Hongjoon bersamanya.
“Apa itu artinya seperti, baiklah aku beri kesempatan kau bersama Rue, lalu aku akan membawamu pergi?” Dio menebak.
“Bukannya Hongjoon cerita kalau di udah hampir menyeberang, tapi di balikin lagi ke dunia manusia?” Hanjoo ingat Rue pernah menceritakan tentang itu.
“Iya. Pada saat itu, karena ia belum waktunya mati. Kalau udah waktunya mati, ya tetep aja bakalan dibawa pergi lagi kan?” Dio mengaduk jus jeruk di hadapannya.
Sepulang sekolah, Rigel berkumpul di salah satu kafe yang berada di jalan yang mereka lewati saat berangkat dan pulang sekolah. Sejak roh Hongjoon tinggal bersama Rue, mereka belum pernah berkumpul di markas.
“Iya juga sih. Trus, gimana caranya biar roh Hongjoon bisa balik ke raganya?” Hanjoo bertanya pada Rue.
“Entahlah. Ini pertama kalinya aku didatengin roh orang koma. Aku sempet nanya ke Om Toni, katanya itu misteri.”
“Misteri?” Byungjae merasa salah dengar.
“Iya. Kalau arwah penasaran akan pergi setelah disempurnakan. Om Toni belum bisa menemukan bagaimana motif roh orang koma bisa kembali ke raganya. Bukan karena telah menyelesaikan urusannya yang tertunda atau sejenisnya. Om Toni menyimpulkannya lebih pada faktor takdir dan pertolongan Tuhan.”
“Kalau begitu malah sulit ditebak ya.” Byungjae mengetuk-ngetukan jari telunjuk tangan kanan ke dagunya.
“Mengejutkan sekali ya hari ini. Yano adalah calon ketua Dewan Senior dari kelas X.” Dio mengalihkan topik. “Sepertinya dia terpengaruh pada ucapan kita ya Byungjae.”
“Iya. Untung publik nggak tahu kalau Yano adik tiri Rue. Kalau tahu, bisa makin heboh.”
“Dan, Pearl makin frustasi. Tahu nggak, tatapannya ngeri banget. Aku tadi papasan sama dia. Beneran dia kayak frustasi banget. Aku sampai bergidik.” Dio mengusuk lengannya sendiri.
“Aku juga kepikirian Pearl terus. Apa dia bakalan baik-baik aja pasca kita pojokin dia di sidang. Setelah mengancam, begitu hening. Aku khawatir dia sedang menyusun rencana yang lebih heboh buat serangan balik.” Rue mengutarakan kekhawatirannya.
“Jangan berlebihan.” Byungjae menenangkan Rue. “Tapi, bener sih yang dibilang Hanjoo waktu itu. Orang cemburu itu bisa berubah sangat mengerikan.”
“Semoga aja dia nggak senekat itu. Semoga aja pikirannya masih waras. Tapi, tetep aja kita kudu siaga. Kalau dia tahu fakta Hongjoon kecelakaan setelah menemui Rue, bisa gawat.” Dio mengucap harapan sekaligus membagi pemikirannya.
“Besok kalian mau ikut? Aku mau nemenin Rue besuk Hongjoon.” Tanya Hanjoo.
“Udah dapat alamat rumah sakitnya?” Byungjae balik bertanya.
“Udah. Sekalian besok mau mengunjungi makam sopirnya Hongjoon.”
“Boleh lah. Aku ikut. Aku nyantai kok.” Byungjae setuju ikut. “Dio?”
“Ikut lah. Aku penasaran sama keluarga Hongjoon.” Dio pun setuju ikut.
***


“Selamat datang! Oh!” Hongjoon terkejut melihat Rue datang bersama Dio, Byungjae, dan Hanjoo.
“Nggak usah kaget gitu. Mereka udah biasa mampir. Kau lupa ini markas Rigel?” Rue berjalan melewati Hongjoon yang berdiri tertegun.
Hongjoon menepi ketika Dio, Byungjae, dan Hanjoo menyusul masuk. Ia khawatir tiga seniornya itu akan menabraknya. Hongjoon terkejut ketika Hanjoo tiba-tiba berhenti di dekatnya. Pemuda itu diam sejenak, kemudian berlalu.
Dio, Byungjae, dan Hanjoo duduk di atas permadani di ruang tamu. Rue keluar dari kamar dengan membawa laptop dan bergabung dengan ketiga temannya.
“Rasanya lega bisa lepas dari kesibukan di sekolah.” Dio meregangkan badannya.
“Kamu yakin bakalan unggah video di Gedung Mati tanpa mengeditnya lebih dahulu?” Byungjae sibuk dengan laptop milik Rue.
“Iya. Tapi, tidak dalam waktu dekat ini.” Rue menyanggupi.
“Kenapa gitu?”
“Pokoknya tunggu aja.”
“Rue.” Dio berbisik. “Hongjoon di sini?”
“Iya.”
Dio mengamati sekitar. “Di mana?”
“Lagi berdiri tuh. Liatin kita.”
Dio, Byungjae, dan Hanjoo kompak menatap titik yang ditunjuk Rue dengan gerakan kepalanya.

Dio, Byungjae, dan Hanjoo sudah pulang. Rue pun sedang mandi. Hongjoon duduk di sofa, menunggu Rue menyelesaikan ritual membersihkan diri. Rue keluar dengan kepala terbungkus handuk. Ia langsung menuju dapur dan sibuk di sana. Hongjoon tetap dalam posisinya. Mengamati setiap gerak Rue dari ruang tamu. Rue berjalan ke ruang tamu dengan membawa sebuah mug yang mengepulkan asap di tangan kanannya. Lalu, meletakannya di atas meja. Hongjoon menatap mug itu.
“Kesukaanmu?” Tanya Rue.
“Semua orang pasti suka coklat panas.” Hongjoon membasahi bibirnya.
Rue tersenyum. “Besok kita pergi.”
“Kemana?” Hongjoon antusias.
“Menjenguk ragamu.”
Binar antusias di wajah Hongjoon sirna. Ia berubah murung.
“Sekalian mengunjungi makam Paman Darwin. Kamu pasti ingin mengucap selamat tinggal, kan?”
Hongjoon yang tertunduk menganggukkan kepala.
“Aku tahu ini berat buatmu. Tapi, ini adalah salah satu fase yang harus kamu jalani dalam hidupmu. Jadi, bersemangatlah. Aku yakin kau orang yang tegar dan kuat.”
Hongjoon tersenyum mendengarnya. Ia merasa lebih baik. Ia pun mengangkat kepala dan memperhatikan Rue yang sedang menyeruput coklat panas. “Boleh aku tanya sesuatu?”
“Silahkan.”
“Kenapa aku jadi pakai baju ini ya? Seingatku, waktu kecelakaan aku nggak pakek baju ini.”
Rue mengamati penampilan Hongjoon. Pemuda mengenakan kostum serba putih dengan atasan berkerah Shanghai. “Memangnya kenapa dengan kostum ini?”
Hongjoon tersenyum malu-malu. “Ini baju favoritku. Oleh-oleh dari Mama. Entah kenapa setiap kali aku memakai baju ini, aku merasa diriku seperti pangeran.” Ia berseri-seri.
Rue tersenyum mendengarnya. “Tingkahmu masih kayak bocah tau! Pangeran negeri dongeng?”
Hongjoon tersipu dan mengangguk.
“Mungkin karena itu adalah baju favoritmu. Makanya kamu jadi muncul dengan penampilan ini. Ah, aku benar-benar nggak tahu tentang roh koma.”
Hongjoon tersenyum mengamati Rue.
***


Sabtu pagi Rue, Hanjoo, Dio, dan Byungjae tiba di rumah sakit tempat Hongjoon dirawat. Keempatnya berdiri di depan bangunan megah dari rumah sakit termahal di kota tempat mereka tinggal.
“Nggak main-main, Hongjoon pasti anak orang berada.” Dio terkagum-kagum.
“Rue, di rumah sakit sebagus ini apa ada penampakan?” Byungjae memberikan tanggapan lain.
“Yang namanya rumah sakit pasti gudangnya penampakan!” Rue berjalan mendahului.
Hanjoo tersenyum dan menyusul langkah Rue.
“Pertanyaanmu konyol!” Maki Dio pada Byungjae. Kemudian, ia menyusul Rue dan Hanjoo.
“Kali aja rumah sakit bagus dan megah kayak gini nggak ada penampakan.” Byungjae menyusul dan berjalan di samping kanan Dio.

Hongjoon berjalan di samping kiri Rue. “Ini rumah sakit keluarga.”
“Rumah sakit keluarga?” Rue menoleh ke arah kiri.
“Mm.” Hongjoon mengangguk. “Nenek punya saham terbesar di rumah sakit ini. Beberapa saudara juga bekerja di sini.”
“Kau mendapatkan yang terbaik.”
Hongjoon tersenyum dan mengangguk.
Bersama Dio, Byungjae, dan Hanjoo, Rue dan Hongjoon masuk ke dalam rumah sakit. Saat memasuki rumah sakit, penampakan-penampakan makhluk tak kasat mata menyambut Rue. Ia berusaha mengabaikannya.
Dio bertanya pada resepsionis tentang lokasi ruang ICU. Setelah mendapatkan informasi, mereka pun menuju lokasi ruang ICU.
“Kenapa aku gugup ya?” Hongjoon meletakkan tangan kanan di atas dadanya.
“Wajar. Selain bakalan liat raga kamu, ntar kamu juga bakalan ketemu sama keluarga kamu.”

Rombongan Rue tiba di depan ruang ICU. Sekali kunjungan hanya diizinkan dua orang saja. Itu pun tak langsung masuk ke dalam ruang rawat. Hanya menengok dari luar dinding kaca. Karena itu Dio meminta Rue dan Hanjoo untuk masuk lebih dulu.
Rue dan Hanjoo masuk lebih dulu. Hongjoon yang tak kasat mata ikut masuk. Mereka pun sampai di depan ruang ICU tempat Hongjoon dirawat. Rue dan Hanjoo berdiri menatap dan menatap ke dalam dinding kaca. Di dalam sana Hongjoon sedang terbaring koma. Banyak alat medis yang ditempelkan ke tubuh pemuda itu.
Rue menoleh ke arah kiri, menatap Hongjoon dengan iba. “Kau baik-baik saja?” Dengan hati-hati ia pun bertanya.
Hongjoon menatap raganya yang sedang terbaring di dalam ruang ICU. Ia menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan Rue.
“Masuklah. Nggak papa. Lihat dirimu lebih dekat.”
“Nggak. Dari sini aja udah cukup.”
“Kak Hanjoo? Kak Rue?”
Suara seorang gadis mengejutkan Hongjoon, Rue, dan Hanjoo. Membuat ketiganya kompak menoleh ke arah kanan.
“Esya!” Hongjoon berlari menghampiri Esya. Tapi, gadis itu mengabaikannya dan terus berjalan mendekati Rue dan Hanjoo.
Rue dan Hanjoo tersenyum menyambut kedatangan Esya.
“Kakak berdua ke sini, saya tidak percaya. Ini nyata?” Esya merasa apa yang dilihatnya adalah ilusi.
“Kami nyata.” Jawab Hanjoo.
“Terima kasih sekali. Bagaimana kakak berdua tahu kalau Hongjoon dirawat di sini?”
“Axton dan Yano.” Jawab Rue.
“Ah! Pantas saja mereka ngeyel bertanya. Kupikir mereka yang akan kemari.” Esya tersenyum lebar. Rona bahagia terpancar dari wajahnya.
“Esya sendirian?” Tanya Rue.
“Nggak. Ada Nenek sama Tante.” Esya diam sejenak. Menyadari jika ada yang ganjil dalam pertanyaan Rue. “Kak Rue kemari bukan hanya sekedar untuk menjenguk Hongjoon ya?” Esya memberanikan diri untuk bertanya. Mendadak ia merasa takut.

Esya dan neneknya menemui Rue, Hanjoo, Dio, dan Byungjae di kantin. Saat Esya menyampaikan tentang kunjungan Rue, neneknya langsung mengajaknya pergi. Hanya berdua, tanpa ibu Hongjoon yang juga kebetulan ada di ruang istirahat bagi keluarga pasien VIP.
Nenek Hongjoon mengamati Rue, lalu tersenyum. “Terima kasih sudah menjenguk cucuku. Kau pasti sempat bertemu dengannya sebelum ia mengalami kecelakaan.”
“Saya minta maaf, Nyonya. Saat Hongjoon datang ke tempat tinggal saya, saya sedang tidak berada di rumah.” Rue meminta maaf.
Nenek Hongjoon terkejut, sedetik kemudian ia tersenyum. “Begitu ya. Jadi, kalian belum sempat bertemu.”
“Tapi, saya menerima bingkisan dari Hongjoon. Ia menitipkannya pada saudara saya. Saya sangat berterima kasih untuk bingkisannya.”
Nenek Hongjoon kembali tersenyum. “Apa pun alasanmu datang hari ini, aku sangat berterima kasih.”
Hongjoon yang turut berada di kantin mengerutkan kening. “Nenek! Bukankah itu kata yang kurang pas!” Protesnya.
“Alasan saya kemari adalah karena Hongjoon. Saya harus berterima kasih padanya. Sekaligus meminta maaf. Seandainya malam itu dia tidak menemui saya, mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi.”
Hening selama beberapa detik. Nenek Hongjoon kembali tersenyum. “Itu bukan salahmu. Aku lah yang menyuruhnya pergi malam itu. Walau Hongjoon mengatakan, mungkin kau tidak akan ada di rumah, aku tetap memaksanya untuk pergi.”
Terlihat sebuah penyesalan di wajah renta Nenek Hongjoon. Ia berusaha tetap tersenyum. “Takdir memang tidak bisa diubah, Nak. Itu bukan salahmu.”
Rue hanya bisa diam. Ia tak mampu untuk menyampaikan bahwa Hongjoon ada bersama mereka. “Saya membawa pesan dari Paman Darwin.” Ia pun menyampaikan alasan utama yang mendorongnya datang.
Nenek Hongjoon menatap Rue dengan ekspresi terkejut. Begitu juga Esya.
“Sedikit tak masuk akal memang, tapi beliau menemui saya. Beliau sangat menyesal karena menyebabkan Hongjoon mengalami kecelakaan. Beliau meminta maaf untuk hal itu. Beliau juga sangat berterima kasih karena Nyonya mengurus beliau dengan baik, hingga akhir.”
Pertahanan Nenek Hongjoon tumbang. Ia pun menangis. Esya merangkul neneknya. Membiarkan wanita tua itu menangis dalam pelukannya.
***


Hening selama perjalanan menuju komplek pemakaman tempat jasad Paman Darwin disemayamkan. Suasana di rumah sakit cukup membuat Rigel turut merasakan keharuan. Namun, mereka lega karena keluarga Hongjoon telah memaafkan Darwin.
Usai meletakkan karangan bunga, Rue bergabung bersama Hanjoo, Dio, dan Byungjae yang berdiri di depan makam Darwin. Mereka berdoa untuk Darwin. Hongjoon berdiri di samping kanan makam. Menatap makam itu dengan sedih.
Hanjoo, Dio, dan Byungjae meninggalkan makam lebih dulu. Rue tetap tinggal, menemani Hongjoon. Dengan sabar ia menunggu Hongjoon. Rue sedikit terkejut ketika melihat Darwin muncul. Pria itu berdiri di sisi kiri makam. Berhadapan dengan Hongjoon.
“Hongjoon.” Rue memanggil Hongjoon agar pemuda itu menyadari kehadiran Darwin.
Saat mengangkat kepala, Hongjoon dibuat kaget karena sosok Darwin sudah berdiri di seberang, berhadapan dengannya. “Paman!” Bulir bening itu jatuh menuruni pipi Hongjoon.
Darwin tersenyum. “Saya sangat menyayangi Tuan Muda. Terima kasih untuk segalanya.”
“Paman!”
Darwin menatap Rue sejenak, masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya. “Terima kasih, Nona. Tolong jaga Tuan Muda dengan baik.”
Rue hanya diam menatap Darwin.
Darwin kembali menatap Hongjoon. Ia tersenyum lebih lebar. “Selamat tinggal, Anakku.”
“Paman! Paman!” Hongjoon panik melihat tubuh Darwin bercahaya. “Paman!” Ia semakin panik ketika cahaya itu semakin menyilukan dan perlahan tubuh Darwin berpendar, lalu melebur dengan cahaya yang mengelilinginya dan hilang.
Rue menundukkan kepala.
Hongjoon menjatuhkan lutut dan menangis di dekat pusara Darwin.
***

 

Khayalan shytUrtle

AWAKE "Rigel Story" - Bab XXI

05:26

AWAKE - Rigel Story

 


 



Bab XXI

 


Teman-teman Rue telah pulang. Usai membersihkan diri, ia membongkar bingkisan yang dikirim Hongjoon. Ada satu boneka tomat warna merah dengan wajah tersenyum. Rue tersenyum melihatnya. Lalu, mengusuk tangkai hijau pada puncak boneka tomat.
Tas kertas itu tak hanya berisi boneka tomat. Tapi, ada sekotak coklat impor yang terkenal dan mahal seperti yang diceritakan Rio. Rue kembali memeriksa tas kertas, namun tidak menemukan apa-apa.
“Nggak ada kartu ucapannya? Atau... dia sengaja datang untuk ngobrol? Berterima kasih secara langsung?” Rue memiringkan kepala. Rue meletakkan kotak coklat ke atas meja dan membiarkan boneka tomat tetap di sampingnya.
Punggung Rue tegang ketika sosok pria dengan wajah berlumuran darah itu kembali muncul. Berdiri tanpa ekspresi tak jauh di seberang meja. Rue tahu itu bukan hantu. Melainkan sesosok arwah. Ia pun menghela napas.
“Apa yang ingin Anda sampaikan?” Rue membangun komunikasi dengan arwah yang mendatanginya.
Perlahan darah yang menutupi wajah pria itu menghilang hingga Rue bisa melihat dengan jelas wajah pria yang kira-kira berusia 50 tahunan itu.
“Terima kasih, Nona. Tolong bantu saya.” Arwah pria itu menanggapi pertanyaan Rue.
“Kenapa harus saya?”
“Karena, hanya Nona harapan saya.”
Rue menghela napas pelan. “Saya tidak bisa berjanji, tapi jika saya mampu, saya akan coba bantu.”
“Tolong doakan saya, Nona. Saya meninggal dalam sebuah kecelakaan semalam.”
Rue mengerutkan kening. Korban kecelakaan seringnya menemuinya karena ada bagian tubuhnya yang tertinggal dan keluarganya tidak tahu. Ia menduga-duga apakah permintaan pria itu sama seperti mereka yang kebanyakan datang padanya.
“Saya sangat menyesal karena telah menyebabkan kecelakaan yang turut mencelakai Tuan Muda yang sangat saya sayangi.”
Kening Rue berkerut semakin dalam. Ia diam dan menunggu si arwah melanjutkan ceritanya.
“Saya hidup sendirian. Istri saya meninggal enam tahun yang lalu. Lalu, saya bekerja pada keluarga Tuan Muda sebagai sopir. Tuan Muda sangat baik. Beliau memperlakukan saya seperti ayahnya sendiri. Hingga membuat saya tak merasa kesepian dan seolah memiliki keluarga setelah istri saya pergi meninggalkan saya.
“Tapi, kemarin saya lalai dalam menjalankan tugas. Ketika saya membawa Tuan Muda, truk tiba-tiba muncul dari gang dan menabrak mobil kami. Saya meninggal di lokasi. Tapi, say tidak tahu bagaimana kondisi Tuan Muda. Saya melihatnya tak sadarkan diri di kursi belakang.
“Saya sangat menyesal karena menyebabkan Tuan Muda celaka. Saya ingin meminta maaf pada Tuan Muda dan keluarga besar Tuan Muda yang telah mempekerjakan saya selama lima tahun terakhir. Bisa Nona menyampaikan permintaan maaf saya pada Tuan Muda dan keluarga besarnya?”
Rue pun bertanya lokasi kejadian kecelakaan di mana. Arwah itu menjawab sesuai apa yang ia ingat.
“Terima kasih Nona. Tolong doakan saya ya. Agar saya bisa melewati perjalanan dengan tenang.” Arwah itu tersenyum, lalu menghilang.

Hening di dalam ruang tamu. Rue tercenung selama beberapa detik. Setelah kesadarannya kembali, ia segera meraih ponselnya dan mencari informasi tentang kecelakaan yang terjadi semalam pada lokasi yang disebutkan arwah pria yang menemuinya. Berita itu muncul paling atas dalam hasil pencarian. Rue segera membaca beritanya. Rue seolah kehilangan jiwanya selama beberapa detik usai ia membaca berita itu.
Kecelakaan terjadi antara sebuah truk dan mobil sedan berwarna hitam. Truk mengalami rem blong dan menghantam mobil sedan dari arah kanan. Mobil terdorong hingga terhenti pada portal pembatas jalan. Ditulis satu korban meninggal dunia di lokasi dan satu lainnya kritis.
Yang membuat Rue syok adalah identitas korban kecelakaan yang sedang kritis. Korban berjenis kelamin laki-laki, berusia 16 tahun dengan inisial JHJ. Entah kenapa, ia merasa korban itu adalah Jin Hongjoon yang kemarin datang mengirim kado untuknya, yang tadi dikabarkan Yano tak masuk sekolah.
Ketika Rue sedang menduga-duga sekaligus berusaha menepisnya, ia mendengar bunyi gedebuk. Seolah ada benda berat yang jatuh tak jauh darinya. Ia pun mencari sesuatu itu dan menemukan sesosok putih yang jatuh tersungkur di seberang meja.
Rue tak beranjak dari sofa tempat ia duduk. Ia mengamati sosok yang bergerak-gerak itu. Ketika sosok itu berlutut dan tatapannya bertemu pandang dengannya, Rue terkejut. Sosok itu tak lain adalah Jin Hongjoon.
Hongjoon pun menunjukkan ekpresi yang sama. Terkejut mendapati Rue berada di depannya.
***


Hongjoon duduk di atas sofa. Memperhatikan Rue yang berjalan mondar-mandir di hadapannya. Setelah saling tertegun satu sama lain, Rue akhirnya kembali pada kesadaran menyebut namanya. Hongjoon senang karena Rue masih mengenalinya. Tapi, ia masih bingung dengan bagaimana ia bisa berada di dalam rumah Rue. Ketika Rue bertanya apa yang terjadi, ia pun menjelaskan apa yang ia ingat.
Rue menghentikan langkahnya. Mendesah dengan kasar, lalu menoleh ke arah kanan. Hongjoon yang tiba-tiba ditatap seperti itu pun kaget dan segera mengalihkan pandangan.
“Apa kau tahu jika kau mengalami kecelakaan sepulangmu dari sini?”
“Maaf?” Hongjoon merasa salah dengar. “Jadi ini...” ia mengamati dirinya sendiri.
“Iya. Itu rohmu. Kau tersesat dan dikembalikan ke dunia sebelum menyeberang. Artinya, kau belum mati. Mungkin saja kau koma. Karena, di berita yang aku baca, kau dinyatakan kritis.”
Seonbae tahu? Eh, maaf. Maksudku, Kak Rue tahu?” Hongjoon meralat karena menggunakan bahasa Korea. Seonbae adalah panggilan untuk senior dalam bahasa Korea.
“Baru saja membacanya.”
“Jadi, aku tidak hidup, juga belum mati? Lalu, aku harus bagaimana?”
“Aku juga tidak tahu. Ini pertama kalinya aku didatangi orang koma.” Rue duduk di atas permadani yang mentutupi lantai. Menatap Hongjoon yang duduk di atas sofa.
Merasa sungkan, Hongjoon pun melorot dan turut duduk di atas permadani. “Benar-benar tidak punya solusi?”
“Belum.”
Hongjoon menatap Rue yang kembali diam. Ia menunggu Rue kembali bicara.
“Sopirmu, namanya siapa?”
“Mm? Oh! Paman Darwin?”
“Beliau meninggal di lokasi.”
“Apa?? Pam-paman Darwin meninggal??”
“Mm.” Rue menganggukkan kepala. “Beliau meminta maaf karena telah membuatmu celaka.”
“Paman Darwin di sini? Mana?”
Rue bungkam.
“Itu bukan salah Paman Darwin. Aku yakin. Paman Darwin selalu sopan dalam berkendara.”
Truk itu mengalami rem blong dan menabrak mobil kalian. Begitu yang aku baca.” Hongjoon diam dengan kepala sedikit tertunduk.
“Aku minta maaf, tapi dalam kondisi seperti ini apakah keluargamu akan menyalahkan Paman Darwin?”
Hongjoon bergeming.
“Hongjoon?”
“Tidak. Tidak mungkin. Mereka tahu bagaimana baiknya Paman Darwin padaku. Dia memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Dia sangat menyanyangi aku.” Hongjoon tertunduk semakin dalam dan menangis.
Rue hanya diam menatapnya. Membiarkan Hongjoon meluapkan kesedihannya.
***


Esya mendekati Nenek Hongjoon yang berdiri di depan tembok kaca. Di dalam sana Hongjoon terbaring tak sadarkan diri. Alat bantu di pasang di sana-sini demi membantu Hongjoon agar tetap bertahan hidup.
“Nek, istirahat dulu ya. Nenek belum istirahat sama sekali sejak kemarin.” Esya membujuk neneknya.
“Bagaimana aku bisa beristirahat, sedang dia sedang berjuang sendirian di sana.” Nenek Hongjoon menyentuh dinding kaca dan mengelusnya. “Cucuku yang malang.”
Esya turut menatap ke dalam ruang ICU tempat Hongjoon dirawat. Melihat saudara sepupunya koma, ia pun tak bisa berpura-pura tak sedih.
“Besok kau harus sekolah. Jangan lama-lama membolos.”
“Asal nenek mau istirahat. Kalau tidak, aku akan tetap di sini. Menemani nenek.”
Nenek Hongjoon menghela napas. “Kau pikir aku di sini terus? Tidak, Sayang. Rumah sakit ini menyediakan tempat istirahat untuk keluarga pasien. Aku beristirahat di sana. Mama Hongjoon akan tiba malam ini. Aku akan membiarkan dia menjaga putranya dan aku akan istirahat. Kau pulang saja dulu dan istirahatlah.”
“Aku tidak akan masuk sekolah besok, Nek. Besok adalah pemakaman Paman Darwin. Hanya kita keluarga yang dia miliki.”
“Ah iya. Aku terlalu fokus pada Hongjoon hingga melupakan Darwin.”
Kita istirahat sama-sama yuk?"
Nenek Hongjoon menatap ke dalam ruang ICU, diam selama beberapa detik. Lalu, menganggukkan kepala dan setuju untuk beristirahat dengan Esya.
Esya tersenyum dan menuntun neneknya ke ruang istirahat untuk keluarga pasien.
***


Rue terkejut ketika keluar dari kamar mandi. Hongjoon sudah berdiri di dapur dan tersenyum padanya. Ia lupa jika sejak semalam roh Hongjoon tinggal di rumahnya.
Noona akan ke sekolah hari ini?” Sambut Hongjoon ceria. Ia sengaja memanggil Rue dengan Noona. Panggilan dari adik laki-laki untuk kakak perempuan dalam bahasa Korea.
“Kalau nggak sekolah mau ngapain?” Jawab Rue seraya berjalan menuju kamarnya.
Hongjoon mengerucutkan bibir. Tetap bertahan di dapur, menunggu Rue.
Rue keluar. Ia sudah memakai seragam SMA Horison. Ia menuju dapur untuk membuat sarapan.
Hongjoon minggir. Memberi ruang untuk Rue. “Kalau mau masak, kenapa pakai seragam dulu? Kan nanti kotor.”
Rue tersenyum. Ia sibuk membuat jus buah dan roti bakar. Setelah siap, ia membawanya ke ruang tamu untuk sarapan. Hongjoon mengikutinya.
“Kalau kamu ngarep ikut ke sekolah, maaf. Aku nggak bakalan kasih izin. Sekolah sedang situasi genting. Bahaya kalau kamu ikutan.” Rue sudah duduk di atas permadani dan bersiap sarapan.
“Karena itu, belakangan sering terjadi kesurupan?”
“He’em. Ada pasukan setan yang mengepung sekolah. Makanya, bahaya kalau kamu ikut aku. Bisa jadi tawanan kamu ntar.”
“Kok gitu? Pasukan setan?”
“Iya. Kami masih menyelidikinya. Benar-benar membuatku pusing. Ditambah adanya kau di sini.”
“Aku kan sudah janji nggak bakal ngrepotin.”
“Tetep aja nggak terbiasa.”
“Nanti juga akan terbiasa. Lagian, aku nggak punya tempat lain untuk dituju.”
Rue menatap Hongjoon sejenak, lalu menghela napas dan mulai makan. “Kalau gitu, diem aja di sini. Tunggu sampai aku pulang.”
Hongjoon tersenyum dan menganggukkan kepala.

Rue selesai mengunci pintu. Ia berjalan menuruni tangga. Hongjoon mengikuti di belakangnya.
“Kak Rue!”
Rue kaget ketika sampai di ujung tangga terbawah. Rio tiba-tiba muncul dan memanggilnya. “Bikin kaget aja!”
“Kakak udah tahu? Ituuu... kakak yang ke sini nitip hadiah dan ngasih aku coklat. Dia kecelakaan dan kritis!”
Rue menatap Rio dengan datar. Sedang Hongjoon yang berdiri di belakangnya tersenyum.
“Kak Rue udah tahu ya? Aku baru tahu beritanya pagi ini. Dapat kiriman di grup chat.” Rio menggaruk kepalanya. “Kak.”
“Apa?”
“Aku penasaran. Apa arwahnya dateng nemuin kakak? Aku kan Orion.”
“Udah sekolah sana!” Rue pergi meninggalkan Rio. Pemuda itu menggerutu tak jelas dan kembali masuk ke rumah.
“Dia Orion? Pantas tahu banget kelakuan Orion.” Hongjoon mengomentari tingkah Rio.
“Dia ngaku Orion kalau ada maunya.”
“Dia pemuda yang lucu.”
“Mau ngikutin aku sampai mana?” Rue menghentikan langkahnya.
Hongjoon turut menghentikan langkah. Ia kelincutan. “Baiklah. Aku balik sekarang. Hati-hati di jalan Noona.” Hongjoon membalikan badan, membelakangi Rue, dan berlari, kemudian menghilang.
Rue yang menatapnya tersenyum. Pagi yang berbeda. Ada yang melepasnya berangkat.
Rue menghela napas dan kembali berjalan. Langkahnya memelan ketika sampai di perempatan tempat ia biasa bertemu dengan Dio, Byungjae, dan Hanjoo. Bukan ketiga rekannya yang berada di sana. Melainkan Malaikat Maut yang sering secara tiba-tiba menampakan diri padanya.
Dengan langkah lambat, Rue melewati Malaikat Maut yang berdiri di tepi jalan dan menatapnya. Kepala Rue tertunduk, tapi ia masih bisa mencuri pandang, memperhatikan bagaimana Malaikat Maut menatapnya saat ia melintas di depannya.
***


“Kenapa Kakak tiba-tiba ingin tahu?” Yano balik bertanya pada Rue.
Rue mendesah. Ia sengaja menemui Yano di kelasnya saat jam istirahat demi mencari informasi tentang Hongjoon.
“Kemarin kakak seperti nggak tertarik.” Yano sok jual mahal.
“Kemarin aku sibuk. Kamu nggak tahu kami kena sidang karena Dio berantem sama Pearl?”
“Oh itu. Iya. Sudah heboh dibicarakan. Kak Dio beneran dipecat dari Dewan Senior? Sayang sekali.”
“Kamu tahu nggak sih di mana Hongjoon dirawat?”
“Nggak tahu. Tapi, temenku kayaknya tahu. Sebentar. Tunggu dia sebentar. Tadi dia masih ke toilet. Kak Rue juga pasti udah tahu dia siapa.”
“Esya?”
“Bukan. Axton. Nah, itu dia.” Yano tersenyum lebar menyambut kedatangan Axton.
“Wah! Ada Kak Rue di sini. Tumben?” Wajah putih Axton dihiasi semburat pink ketika ia melihat Rue duduk di bangkunya.
“Kak Rue nanya soal Hongjoon. Kamu tahu nggak? Dia dirawat di mana?” Tanya Yano.
“Esya cuman bales, hari ini pemakaman sopir pribadi Hongjoon. Tapi, belum kasih tahu di rumah sakit mana Hongjoon dirawat.” Jawab Axton. “Nanti kalau Esya udah masuk, aku tanyain. Emang kenapa kok Kak Rue nyari rumah sakit tempat Hongjoon dirawat?”
“Pemakamannya diadain jam berapa? Di mana?” Rue segera mengalihkan topik. Membuat Axton dan Yano bingung.
“Sebentar.” Axton meraih ponsel di saku celananya dan memeriksa kembali pesan Esya. “Jam sembilan, Kak. Udah lewat.”
“Makamnya?”
Axton menyebutkan lokasi pemakaman sopir pribadi Hongjoon. Ia merasa senang karena bisa memberikan informasi untuk Rue.
“Makasih ya. Maaf udah ganggu kalian.” Rue bangkit dari duduknya.
“Nanti kalau Esya udah masuk, aku tanyain rumah sakit tempat Hongjoon dirawat.” Yano menyanggupi.
“Oke.” Rue pun meninggalkan Yano dan Axton.
“Kak Rue ke sini,” Axton buru-buru duduk di bangkunya. “Duduk di bangkuku!”
“Biasa aja kali. Makan yuk!” Yano bangkit dari duduknya.
***


Pearl, Ruby, dan Linde berada di kantin. Pearl masih menekuk wajah sejak pagi. Ia masih kesal karena peristiwa kemarin. Ia marah karena dikeluarkan dan dicoret dari daftar calon Dewan Senior. Walau Ruby dan Linde terus menenangkannya, Pearl tetap tidak bisa terima.
“Liat! Pangeran pujaanmu tuh. Jangan cemberut mulu napa.” Ruby berbisik. Memberi tahu jika Yano datang ke kantin.
“Itu ya yang namanya Yano.” Linde mengangguk-anggukkan kepala sambil mengamati Yano.
Pearl mengangkat kepala dan mengamati Yano. Senyum samar terkembang di wajahnya yang kuyu.
“Eh, itu Yano. Tahu nggak sih, tadi Kak Rue nyamperin dia ke kelas lho!”
“Kak Rue? Nyamperin Yano ke kelas? Masa?? Ngapain??”
“Nggak tahu lah. Kebetulan aku masih di kelas. Kak Rue tengok-tengok kelas, trus nemuin Yano masih duduk di bangkunya. Masuk lah dia. Duduk di samping Yano.”
“Ya ampun! Trus mereka ngapain?”
“Ngobrol aja sih kayaknya. Aku buru-buru keluar dong. Sungkan. Karena di kelas cuman ada aku sama Yano sebelum Kak Rue datang.”
“Yah. Harusnya kamu tetep di sana. Biar tahu mereka lagi ngobrolin apa.”
“Iya. Kenapa kamu malah pergi.”
“Kan aku sungkan. Kak Rue akrab gitu ya sama Yano. Kayak udah lama kenal.”
“Iya. Dari pas mereka ngobrol di depan UKS kan?”
“Iya. Bener banget. Aku jadi penasaran. Mereka punya hubungan apa ya?”
Pearl meremas sendok dan garpu yang ada di tangan kanan dan kirinya. Lalu membanting kedua tangannya ke meja, beranjak dari duduknya dan pergi. Ia kesal mendengar obrolan siswi-siswi yang duduk di belakangnya. Dengan langkah lebar-lebar ia berjalan keluar dari kantin. Ruby dan Linde saling memandang. Lalu, kompak menghela napas panjang.
***


Dio, Byungjae, dan Hanjoo kompak tercenung usai mendengar penjelasan Rue. Keempatnya berkumpul di sebuah restoran cepat saji usai pulang sekolah.
“Ngomong-ngomong, apa Hongjoon ada di sini?” Dio dengan lirih.
“Nggak. Dia aku suruh diem di rumah. Bahaya kalau ikutan ke sekolah. Sekolah lagi genting.”
“Jadi, itu alasan kamu sampai nekat nemuin Yano?” Hanjoo paham alasan di balik hebohnya berita Rue menemui Yano di kelasnya.
“Nggak efektif kalau nanya lewat pesan. Mending langsung ketemu aja.”
“Mikir nggak efeknya gimana?”
“Kak Nicky ya? Wah. Gawat juga kalau Kak Nicky tahu trus cemburu.” Byungjae menanggapi dengan serius.
“Aku sama Kak Nicky nggak ada apa-apa tau! Gawat tuh aku baru inget soal Pearl.” Rue membantah tuduhan Byungjae.
“Pearl? Kenapa lagi?” Tanya Dio.
“Pearl kan suka sama Yano.”
Dio, Hanjoo, dan Byungjae dibuat tercenung untuk yang kedua kalinya.
“Bukannya cuman Fabian dan Kak Nicky ya?” Hanjoo memastikan.
“Sama Yano juga.”
“Ada apa sih?” Dio bingung.
“Iya. Apa yang kalian tahu, tapi aku dan Dio nggak.” Byungjae pun menuntut penjelasan.
Rue menghela napas. Lalu, menjelaskan tentang ketika ia berada di dalam toilet dan tak sengaja mendengar obrolan Pearl, Ruby, dan Linde.
Dio tidak bisa menahan tawa usai mendengar penjelasan Rue. “Pantesan benci banget sama kamu. Urusan cowok ternyata. Sekarang apa pula pakek naksir Yano? Tahu fakta tentang kamu sama Yano, mampus dia. Bunuh diri bisa-bisa.”
“Hush! Ngeri tahu!”
“Bisa jadi, kan? Dia tuh bukan cewek psiko. Tapi, skizofrenia. Gila!”
“Suer aku baru inget soal itu waktu Byungjae nyebut nama Kak Nicky.”
“Kita harus hati-hati nih. Bisa jadi Pearl mikir Rue sengaja makin hancurin dia. Kemarin udah dipecat, hari ini ditambah denger tentang Rue nyamperin Yano. Bisa makin menjadi dia.” Byungjae bergidik hanya karena membayangkan kemungkinan yang akan dilakukan Pearl untuk membalas Rue.
“Rue bisa salah perhitungan juga ya.” Hanjoo menggelengkan kepala.
Rue tersenyum dan mengangkat kedua bahunya. Saat menatap ke dinding kaca bagian depan restoran cepat saji, senyum di wajahnya sirna. Di luar sana, sang Malaikat Maut sedang berdiri menatapnya.
***

 


Search This Blog

Total Pageviews