Rue terkejut ketika memasuki rooftop-nya. Karena tiba-tiba ada yang
mengucapkan selamat datang. Ia mengerjapkan mata. Kemudian menatap Hongjoon
yang berdiri dengan kedua tangan terbuka. Senyum manis menghiasi wajah pemuda
itu.
Rue menghela napas, tersenyum, dan
menggelengkan kepala. Baru ia ingat jika sejak semalam ada roh Hongjoon yang
menumpang tinggal di rooftop-nya.
“Bagaimana di sekolah hari ini?” Hongjoon
mengikuti Rue yang kemudian duduk merebahkan diri di sofa. “Melelahkan sekali
ya?”
“Aku belum menemukan di rumah sakit
mana kau dirawat. Esya belum masuk. Hari ini pemakaman Paman Darwin. Sebenarnya
aku ingin mengajakmu ke sana. Tapi, pemakaman digelar pukul sembilan pagi. Aku
tidak bisa meninggalkan sekolah. Maaf ya.” Rue sambil menyamankan posisi
punggungnya yang bersandar pada punggung sofa.
Hongjoon menatap Rue yang memejamkan
kedua matanya. Ia merasa bersalah karena telah membuat Rue kerepotan. “Kenapa
mencari rumah sakit tempat aku dirawat?”
“Di sana pasti ada keluargamu. Aku
ingin bertemu mereka. Ada hal yang harus aku sampaikan. Pesan Paman Darwin.
Permintaan maaf darinya.”
Setiap kali mendengar kata Paman
Darwin, Hongjoon merasakan sakit di dadanya. Ia teringat fakta tentang Paman
Darwin yang kehilangan nyawa dalam menjalankan tugas untuk menjaganya.
“Bagaimanapun juga, kita tidak bisa
melawan takdir. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri.” Rue berbicara dengan
kedua mata masih terpejam. Kemudian ia membuka mata. “Seharian ini apa yang kau
lakukan?”
“Mm?” Hongjoon mengangkat wajahnya yang
tertunduk dan menatap Rue. “Berjalan-jalan di sekitar. Tak apa kan?”
“Asal jangan menyusulku ke sekolah.”
Rue tersenyum, bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju kamarnya.
Hongjoon menghela napas dan
tersenyum menatap punggung Rue yang kemudian menghilang di balik pintu.
***
Rue masih belum terbiasa dengan
keberadaan Hongjoon. Walau sudah berjalan tiga hari, ia masih sering dibuat
kaget setiap kali pemuda itu menyapanya atau menyambutnya saat pulang. Ia
membagi cerita itu pada Dio, Byungjae, dan Hanjoo. Juga tentang Malaikat
Kematian yang lebih sering muncul sejak roh Hongjoon bersamanya.
“Apa itu artinya seperti, baiklah aku beri kesempatan kau bersama Rue,
lalu aku akan membawamu pergi?” Dio menebak.
“Bukannya Hongjoon cerita kalau di udah
hampir menyeberang, tapi di balikin lagi ke dunia manusia?” Hanjoo ingat Rue
pernah menceritakan tentang itu.
“Iya. Pada saat itu, karena ia belum
waktunya mati. Kalau udah waktunya mati, ya tetep aja bakalan dibawa pergi lagi
kan?” Dio mengaduk jus jeruk di hadapannya.
Sepulang sekolah, Rigel berkumpul di
salah satu kafe yang berada di jalan yang mereka lewati saat berangkat dan
pulang sekolah. Sejak roh Hongjoon tinggal bersama Rue, mereka belum pernah
berkumpul di markas.
“Iya juga sih. Trus, gimana caranya
biar roh Hongjoon bisa balik ke raganya?” Hanjoo bertanya pada Rue.
“Entahlah. Ini pertama kalinya aku
didatengin roh orang koma. Aku sempet nanya ke Om Toni, katanya itu misteri.”
“Misteri?” Byungjae merasa salah
dengar.
“Iya. Kalau arwah penasaran akan
pergi setelah disempurnakan. Om Toni belum bisa menemukan bagaimana motif roh
orang koma bisa kembali ke raganya. Bukan karena telah menyelesaikan urusannya
yang tertunda atau sejenisnya. Om Toni menyimpulkannya lebih pada faktor takdir
dan pertolongan Tuhan.”
“Kalau begitu malah sulit ditebak
ya.” Byungjae mengetuk-ngetukan jari telunjuk tangan kanan ke dagunya.
“Mengejutkan sekali ya hari ini.
Yano adalah calon ketua Dewan Senior dari kelas X.” Dio mengalihkan topik. “Sepertinya
dia terpengaruh pada ucapan kita ya Byungjae.”
“Dan, Pearl makin frustasi. Tahu
nggak, tatapannya ngeri banget. Aku tadi papasan sama dia. Beneran dia kayak
frustasi banget. Aku sampai bergidik.” Dio mengusuk lengannya sendiri.
“Aku juga kepikirian Pearl terus.
Apa dia bakalan baik-baik aja pasca kita pojokin dia di sidang. Setelah
mengancam, begitu hening. Aku khawatir dia sedang menyusun rencana yang lebih
heboh buat serangan balik.” Rue mengutarakan kekhawatirannya.
“Jangan berlebihan.” Byungjae
menenangkan Rue. “Tapi, bener sih yang dibilang Hanjoo waktu itu. Orang cemburu
itu bisa berubah sangat mengerikan.”
“Semoga aja dia nggak senekat itu.
Semoga aja pikirannya masih waras. Tapi, tetep aja kita kudu siaga. Kalau dia
tahu fakta Hongjoon kecelakaan setelah menemui Rue, bisa gawat.” Dio mengucap
harapan sekaligus membagi pemikirannya.
“Besok kalian mau ikut? Aku mau
nemenin Rue besuk Hongjoon.” Tanya Hanjoo.
“Udah dapat alamat rumah sakitnya?” Byungjae
balik bertanya.
“Udah. Sekalian besok mau mengunjungi
makam sopirnya Hongjoon.”
“Boleh lah. Aku ikut. Aku nyantai
kok.” Byungjae setuju ikut. “Dio?”
“Ikut lah. Aku penasaran sama
keluarga Hongjoon.” Dio pun setuju ikut.
***
“Selamat datang! Oh!” Hongjoon
terkejut melihat Rue datang bersama Dio, Byungjae, dan Hanjoo.
“Nggak usah kaget gitu. Mereka udah
biasa mampir. Kau lupa ini markas Rigel?” Rue berjalan melewati Hongjoon yang
berdiri tertegun.
Hongjoon menepi ketika Dio,
Byungjae, dan Hanjoo menyusul masuk. Ia khawatir tiga seniornya itu akan
menabraknya. Hongjoon terkejut ketika Hanjoo tiba-tiba berhenti di dekatnya.
Pemuda itu diam sejenak, kemudian berlalu.
Dio, Byungjae, dan Hanjoo duduk di
atas permadani di ruang tamu. Rue keluar dari kamar dengan membawa laptop dan
bergabung dengan ketiga temannya.
“Rasanya lega bisa lepas dari
kesibukan di sekolah.” Dio meregangkan badannya.
“Kamu yakin bakalan unggah video di
Gedung Mati tanpa mengeditnya lebih dahulu?” Byungjae sibuk dengan laptop milik
Rue.
“Iya. Tapi, tidak dalam waktu dekat
ini.” Rue menyanggupi.
“Kenapa gitu?”
“Pokoknya tunggu aja.”
“Rue.” Dio berbisik. “Hongjoon di
sini?”
“Iya.”
Dio mengamati sekitar. “Di mana?”
“Lagi berdiri tuh. Liatin kita.”
Dio, Byungjae, dan Hanjoo kompak
menatap titik yang ditunjuk Rue dengan gerakan kepalanya.
Dio, Byungjae, dan Hanjoo sudah
pulang. Rue pun sedang mandi. Hongjoon duduk di sofa, menunggu Rue
menyelesaikan ritual membersihkan diri. Rue keluar dengan kepala terbungkus
handuk. Ia langsung menuju dapur dan sibuk di sana. Hongjoon tetap dalam
posisinya. Mengamati setiap gerak Rue dari ruang tamu. Rue berjalan ke ruang
tamu dengan membawa sebuah mug yang mengepulkan asap di tangan kanannya. Lalu,
meletakannya di atas meja. Hongjoon menatap mug itu.
“Kesukaanmu?” Tanya Rue.
“Semua orang pasti suka coklat
panas.” Hongjoon membasahi bibirnya.
Rue tersenyum. “Besok kita pergi.”
“Kemana?” Hongjoon antusias.
“Menjenguk ragamu.”
Binar antusias di wajah Hongjoon
sirna. Ia berubah murung.
“Sekalian mengunjungi makam Paman
Darwin. Kamu pasti ingin mengucap selamat tinggal, kan?”
Hongjoon yang tertunduk
menganggukkan kepala.
“Aku tahu ini berat buatmu. Tapi,
ini adalah salah satu fase yang harus kamu jalani dalam hidupmu. Jadi,
bersemangatlah. Aku yakin kau orang yang tegar dan kuat.”
Hongjoon tersenyum mendengarnya. Ia
merasa lebih baik. Ia pun mengangkat kepala dan memperhatikan Rue yang sedang
menyeruput coklat panas. “Boleh aku tanya sesuatu?”
“Silahkan.”
“Kenapa aku jadi pakai baju ini ya?
Seingatku, waktu kecelakaan aku nggak pakek baju ini.”
Rue mengamati penampilan Hongjoon.
Pemuda mengenakan kostum serba putih dengan atasan berkerah Shanghai. “Memangnya
kenapa dengan kostum ini?”
Hongjoon tersenyum malu-malu. “Ini
baju favoritku. Oleh-oleh dari Mama. Entah kenapa setiap kali aku memakai baju
ini, aku merasa diriku seperti pangeran.” Ia berseri-seri.
Rue tersenyum mendengarnya. “Tingkahmu
masih kayak bocah tau! Pangeran negeri dongeng?”
Hongjoon tersipu dan mengangguk.
“Mungkin karena itu adalah baju
favoritmu. Makanya kamu jadi muncul dengan penampilan ini. Ah, aku benar-benar
nggak tahu tentang roh koma.”
Hongjoon tersenyum mengamati Rue.
***
Sabtu pagi Rue, Hanjoo, Dio, dan
Byungjae tiba di rumah sakit tempat Hongjoon dirawat. Keempatnya berdiri di
depan bangunan megah dari rumah sakit termahal di kota tempat mereka tinggal.
“Nggak main-main, Hongjoon pasti
anak orang berada.” Dio terkagum-kagum.
“Rue, di rumah sakit sebagus ini apa
ada penampakan?” Byungjae memberikan tanggapan lain.
“Yang namanya rumah sakit pasti
gudangnya penampakan!” Rue berjalan mendahului.
Hanjoo tersenyum dan menyusul
langkah Rue.
“Pertanyaanmu konyol!” Maki Dio pada
Byungjae. Kemudian, ia menyusul Rue dan Hanjoo.
“Kali aja rumah sakit bagus dan
megah kayak gini nggak ada penampakan.” Byungjae menyusul dan berjalan di
samping kanan Dio.
Hongjoon berjalan di samping kiri
Rue. “Ini rumah sakit keluarga.”
“Rumah sakit keluarga?” Rue menoleh
ke arah kiri.
“Mm.” Hongjoon mengangguk. “Nenek
punya saham terbesar di rumah sakit ini. Beberapa saudara juga bekerja di
sini.”
“Kau mendapatkan yang terbaik.”
Hongjoon tersenyum dan mengangguk.
Bersama Dio, Byungjae, dan Hanjoo,
Rue dan Hongjoon masuk ke dalam rumah sakit. Saat memasuki rumah sakit,
penampakan-penampakan makhluk tak kasat mata menyambut Rue. Ia berusaha
mengabaikannya.
Dio bertanya pada resepsionis
tentang lokasi ruang ICU. Setelah mendapatkan informasi, mereka pun menuju
lokasi ruang ICU.
“Kenapa aku gugup ya?” Hongjoon
meletakkan tangan kanan di atas dadanya.
“Wajar. Selain bakalan liat raga
kamu, ntar kamu juga bakalan ketemu sama keluarga kamu.”
Rombongan Rue tiba di depan ruang
ICU. Sekali kunjungan hanya diizinkan dua orang saja. Itu pun tak langsung
masuk ke dalam ruang rawat. Hanya menengok dari luar dinding kaca. Karena itu
Dio meminta Rue dan Hanjoo untuk masuk lebih dulu.
Rue dan Hanjoo masuk lebih dulu.
Hongjoon yang tak kasat mata ikut masuk. Mereka pun sampai di depan ruang ICU
tempat Hongjoon dirawat. Rue dan Hanjoo berdiri menatap dan menatap ke dalam
dinding kaca. Di dalam sana Hongjoon sedang terbaring koma. Banyak alat medis
yang ditempelkan ke tubuh pemuda itu.
Rue menoleh ke arah kiri, menatap
Hongjoon dengan iba. “Kau baik-baik saja?” Dengan hati-hati ia pun bertanya.
Hongjoon menatap raganya yang sedang
terbaring di dalam ruang ICU. Ia menganggukkan kepala sebagai jawaban dari
pertanyaan Rue.
“Masuklah. Nggak papa. Lihat dirimu
lebih dekat.”
“Nggak. Dari sini aja udah cukup.”
“Kak Hanjoo? Kak Rue?”
Suara seorang gadis mengejutkan
Hongjoon, Rue, dan Hanjoo. Membuat ketiganya kompak menoleh ke arah kanan.
“Esya!” Hongjoon berlari menghampiri
Esya. Tapi, gadis itu mengabaikannya dan terus berjalan mendekati Rue dan
Hanjoo.
Rue dan Hanjoo tersenyum menyambut
kedatangan Esya.
“Kakak berdua ke sini, saya tidak percaya.
Ini nyata?” Esya merasa apa yang dilihatnya adalah ilusi.
“Ah! Pantas saja mereka ngeyel
bertanya. Kupikir mereka yang akan kemari.” Esya tersenyum lebar. Rona bahagia
terpancar dari wajahnya.
“Esya sendirian?” Tanya Rue.
“Nggak. Ada Nenek sama Tante.” Esya
diam sejenak. Menyadari jika ada yang ganjil dalam pertanyaan Rue. “Kak Rue
kemari bukan hanya sekedar untuk menjenguk Hongjoon ya?” Esya memberanikan diri
untuk bertanya. Mendadak ia merasa takut.
Esya dan neneknya menemui Rue,
Hanjoo, Dio, dan Byungjae di kantin. Saat Esya menyampaikan tentang kunjungan
Rue, neneknya langsung mengajaknya pergi. Hanya berdua, tanpa ibu Hongjoon yang
juga kebetulan ada di ruang istirahat bagi keluarga pasien VIP.
Nenek Hongjoon mengamati Rue, lalu
tersenyum. “Terima kasih sudah menjenguk cucuku. Kau pasti sempat bertemu
dengannya sebelum ia mengalami kecelakaan.”
“Saya minta maaf, Nyonya. Saat
Hongjoon datang ke tempat tinggal saya, saya sedang tidak berada di rumah.” Rue
meminta maaf.
Nenek Hongjoon terkejut, sedetik
kemudian ia tersenyum. “Begitu ya. Jadi, kalian belum sempat bertemu.”
“Tapi, saya menerima bingkisan dari
Hongjoon. Ia menitipkannya pada saudara saya. Saya sangat berterima kasih untuk
bingkisannya.”
Nenek Hongjoon kembali tersenyum. “Apa
pun alasanmu datang hari ini, aku sangat berterima kasih.”
Hongjoon yang turut berada di kantin
mengerutkan kening. “Nenek! Bukankah itu kata yang kurang pas!” Protesnya.
“Alasan saya kemari adalah karena
Hongjoon. Saya harus berterima kasih padanya. Sekaligus meminta maaf.
Seandainya malam itu dia tidak menemui saya, mungkin kecelakaan itu tidak akan
terjadi.”
Hening selama beberapa detik. Nenek
Hongjoon kembali tersenyum. “Itu bukan salahmu. Aku lah yang menyuruhnya pergi
malam itu. Walau Hongjoon mengatakan, mungkin kau tidak akan ada di rumah, aku
tetap memaksanya untuk pergi.”
Terlihat sebuah penyesalan di wajah
renta Nenek Hongjoon. Ia berusaha tetap tersenyum. “Takdir memang tidak bisa diubah,
Nak. Itu bukan salahmu.”
Rue hanya bisa diam. Ia tak mampu
untuk menyampaikan bahwa Hongjoon ada bersama mereka. “Saya membawa pesan dari
Paman Darwin.” Ia pun menyampaikan alasan utama yang mendorongnya datang.
Nenek Hongjoon menatap Rue dengan
ekspresi terkejut. Begitu juga Esya.
“Sedikit tak masuk akal memang, tapi
beliau menemui saya. Beliau sangat menyesal karena menyebabkan Hongjoon
mengalami kecelakaan. Beliau meminta maaf untuk hal itu. Beliau juga sangat
berterima kasih karena Nyonya mengurus beliau dengan baik, hingga akhir.”
Pertahanan Nenek Hongjoon tumbang.
Ia pun menangis. Esya merangkul neneknya. Membiarkan wanita tua itu menangis
dalam pelukannya.
***
Hening selama perjalanan menuju
komplek pemakaman tempat jasad Paman Darwin disemayamkan. Suasana di rumah
sakit cukup membuat Rigel turut merasakan keharuan. Namun, mereka lega karena
keluarga Hongjoon telah memaafkan Darwin.
Usai meletakkan karangan bunga, Rue
bergabung bersama Hanjoo, Dio, dan Byungjae yang berdiri di depan makam Darwin.
Mereka berdoa untuk Darwin. Hongjoon berdiri di samping kanan makam. Menatap
makam itu dengan sedih.
Hanjoo, Dio, dan Byungjae
meninggalkan makam lebih dulu. Rue tetap tinggal, menemani Hongjoon. Dengan
sabar ia menunggu Hongjoon. Rue sedikit terkejut ketika melihat Darwin muncul.
Pria itu berdiri di sisi kiri makam. Berhadapan dengan Hongjoon.
“Hongjoon.” Rue memanggil Hongjoon
agar pemuda itu menyadari kehadiran Darwin.
Saat mengangkat kepala, Hongjoon
dibuat kaget karena sosok Darwin sudah berdiri di seberang, berhadapan
dengannya. “Paman!” Bulir bening itu jatuh menuruni pipi Hongjoon.
Darwin tersenyum. “Saya sangat
menyayangi Tuan Muda. Terima kasih untuk segalanya.”
“Paman!”
Darwin menatap Rue sejenak, masih
dengan senyum yang menghiasi wajahnya. “Terima kasih, Nona. Tolong jaga Tuan
Muda dengan baik.”
Rue hanya diam menatap Darwin.
Darwin kembali menatap Hongjoon. Ia
tersenyum lebih lebar. “Selamat tinggal, Anakku.”
“Paman! Paman!” Hongjoon panik melihat
tubuh Darwin bercahaya. “Paman!” Ia semakin panik ketika cahaya itu semakin
menyilukan dan perlahan tubuh Darwin berpendar, lalu melebur dengan cahaya yang
mengelilinginya dan hilang.
Rue menundukkan kepala.
Hongjoon menjatuhkan lutut dan
menangis di dekat pusara Darwin.
Teman-teman Rue telah pulang. Usai
membersihkan diri, ia membongkar bingkisan yang dikirim Hongjoon. Ada satu
boneka tomat warna merah dengan wajah tersenyum. Rue tersenyum melihatnya.
Lalu, mengusuk tangkai hijau pada puncak boneka tomat.
Tas kertas itu tak hanya berisi
boneka tomat. Tapi, ada sekotak coklat impor yang terkenal dan mahal seperti
yang diceritakan Rio. Rue kembali memeriksa tas kertas, namun tidak menemukan
apa-apa.
“Nggak ada kartu ucapannya? Atau...
dia sengaja datang untuk ngobrol? Berterima kasih secara langsung?” Rue
memiringkan kepala. Rue meletakkan kotak coklat ke atas meja dan membiarkan
boneka tomat tetap di sampingnya.
Punggung Rue tegang ketika sosok
pria dengan wajah berlumuran darah itu kembali muncul. Berdiri tanpa ekspresi
tak jauh di seberang meja. Rue tahu itu bukan hantu. Melainkan sesosok arwah.
Ia pun menghela napas.
“Apa yang ingin Anda sampaikan?” Rue
membangun komunikasi dengan arwah yang mendatanginya.
Perlahan darah yang menutupi wajah
pria itu menghilang hingga Rue bisa melihat dengan jelas wajah pria yang
kira-kira berusia 50 tahunan itu.
Rue menghela napas pelan. “Saya tidak
bisa berjanji, tapi jika saya mampu, saya akan coba bantu.”
“Tolong doakan saya, Nona. Saya
meninggal dalam sebuah kecelakaan semalam.”
Rue mengerutkan kening. Korban
kecelakaan seringnya menemuinya karena ada bagian tubuhnya yang tertinggal dan
keluarganya tidak tahu. Ia menduga-duga apakah permintaan pria itu sama seperti
mereka yang kebanyakan datang padanya.
“Saya sangat menyesal karena telah
menyebabkan kecelakaan yang turut mencelakai Tuan Muda yang sangat saya
sayangi.”
Kening Rue berkerut semakin dalam.
Ia diam dan menunggu si arwah melanjutkan ceritanya.
“Saya hidup sendirian. Istri saya
meninggal enam tahun yang lalu. Lalu, saya bekerja pada keluarga Tuan Muda
sebagai sopir. Tuan Muda sangat baik. Beliau memperlakukan saya seperti ayahnya
sendiri. Hingga membuat saya tak merasa kesepian dan seolah memiliki keluarga
setelah istri saya pergi meninggalkan saya.
“Tapi, kemarin saya lalai dalam
menjalankan tugas. Ketika saya membawa Tuan Muda, truk tiba-tiba muncul dari
gang dan menabrak mobil kami. Saya meninggal di lokasi. Tapi, say tidak tahu
bagaimana kondisi Tuan Muda. Saya melihatnya tak sadarkan diri di kursi
belakang.
“Saya sangat menyesal karena
menyebabkan Tuan Muda celaka. Saya ingin meminta maaf pada Tuan Muda dan
keluarga besar Tuan Muda yang telah mempekerjakan saya selama lima tahun
terakhir. Bisa Nona menyampaikan permintaan maaf saya pada Tuan Muda dan
keluarga besarnya?”
Rue pun bertanya lokasi kejadian
kecelakaan di mana. Arwah itu menjawab sesuai apa yang ia ingat.
“Terima kasih Nona. Tolong doakan
saya ya. Agar saya bisa melewati perjalanan dengan tenang.” Arwah itu
tersenyum, lalu menghilang.
Hening di dalam ruang tamu. Rue
tercenung selama beberapa detik. Setelah kesadarannya kembali, ia segera meraih
ponselnya dan mencari informasi tentang kecelakaan yang terjadi semalam pada
lokasi yang disebutkan arwah pria yang menemuinya. Berita itu muncul paling
atas dalam hasil pencarian. Rue segera membaca beritanya. Rue seolah kehilangan
jiwanya selama beberapa detik usai ia membaca berita itu.
Kecelakaan terjadi antara sebuah
truk dan mobil sedan berwarna hitam. Truk mengalami rem blong dan menghantam
mobil sedan dari arah kanan. Mobil terdorong hingga terhenti pada portal
pembatas jalan. Ditulis satu korban meninggal dunia di lokasi dan satu lainnya
kritis.
Yang membuat Rue syok adalah
identitas korban kecelakaan yang sedang kritis. Korban berjenis kelamin
laki-laki, berusia 16 tahun dengan inisial JHJ. Entah kenapa, ia merasa korban
itu adalah Jin Hongjoon yang kemarin datang mengirim kado untuknya, yang tadi
dikabarkan Yano tak masuk sekolah.
Ketika Rue sedang menduga-duga
sekaligus berusaha menepisnya, ia mendengar bunyi gedebuk. Seolah ada benda
berat yang jatuh tak jauh darinya. Ia pun mencari sesuatu itu dan menemukan
sesosok putih yang jatuh tersungkur di seberang meja.
Rue tak beranjak dari sofa tempat ia
duduk. Ia mengamati sosok yang bergerak-gerak itu. Ketika sosok itu berlutut
dan tatapannya bertemu pandang dengannya, Rue terkejut. Sosok itu tak lain
adalah Jin Hongjoon.
Hongjoon pun menunjukkan ekpresi
yang sama. Terkejut mendapati Rue berada di depannya.
***
Hongjoon duduk di atas sofa.
Memperhatikan Rue yang berjalan mondar-mandir di hadapannya. Setelah saling
tertegun satu sama lain, Rue akhirnya kembali pada kesadaran menyebut namanya.
Hongjoon senang karena Rue masih mengenalinya. Tapi, ia masih bingung dengan
bagaimana ia bisa berada di dalam rumah Rue. Ketika Rue bertanya apa yang
terjadi, ia pun menjelaskan apa yang ia ingat.
Rue menghentikan langkahnya.
Mendesah dengan kasar, lalu menoleh ke arah kanan. Hongjoon yang tiba-tiba
ditatap seperti itu pun kaget dan segera mengalihkan pandangan.
“Apa kau tahu jika kau mengalami
kecelakaan sepulangmu dari sini?”
“Maaf?” Hongjoon merasa salah
dengar. “Jadi ini...” ia mengamati dirinya sendiri.
“Iya. Itu rohmu. Kau tersesat dan
dikembalikan ke dunia sebelum menyeberang. Artinya, kau belum mati. Mungkin
saja kau koma. Karena, di berita yang aku baca, kau dinyatakan kritis.”
“Seonbae
tahu? Eh, maaf. Maksudku, Kak Rue tahu?” Hongjoon meralat karena menggunakan
bahasa Korea. Seonbae adalah
panggilan untuk senior dalam bahasa Korea.
“Baru saja membacanya.”
“Jadi, aku tidak hidup, juga belum mati?
Lalu, aku harus bagaimana?”
“Aku juga tidak tahu. Ini pertama
kalinya aku didatangi orang koma.” Rue duduk di atas permadani yang mentutupi
lantai. Menatap Hongjoon yang duduk di atas sofa.
Merasa sungkan, Hongjoon pun melorot
dan turut duduk di atas permadani. “Benar-benar tidak punya solusi?”
“Belum.”
Hongjoon menatap Rue yang kembali
diam. Ia menunggu Rue kembali bicara.
“Sopirmu, namanya siapa?”
“Mm? Oh! Paman Darwin?”
“Beliau meninggal di lokasi.”
“Apa?? Pam-paman Darwin meninggal??”
“Mm.” Rue menganggukkan kepala. “Beliau
meminta maaf karena telah membuatmu celaka.”
“Paman Darwin di sini? Mana?”
Rue bungkam.
“Itu bukan salah Paman Darwin. Aku
yakin. Paman Darwin selalu sopan dalam berkendara.”
Truk itu mengalami rem blong dan
menabrak mobil kalian. Begitu yang aku baca.” Hongjoon diam dengan kepala
sedikit tertunduk.
“Aku minta maaf, tapi dalam kondisi
seperti ini apakah keluargamu akan menyalahkan Paman Darwin?”
Hongjoon bergeming.
“Hongjoon?”
“Tidak. Tidak mungkin. Mereka tahu
bagaimana baiknya Paman Darwin padaku. Dia memperlakukan aku seperti anaknya
sendiri. Dia sangat menyanyangi aku.” Hongjoon tertunduk semakin dalam dan
menangis.
Rue hanya diam menatapnya.
Membiarkan Hongjoon meluapkan kesedihannya.
***
Esya mendekati Nenek Hongjoon yang
berdiri di depan tembok kaca. Di dalam sana Hongjoon terbaring tak sadarkan
diri. Alat bantu di pasang di sana-sini demi membantu Hongjoon agar tetap
bertahan hidup.
“Nek, istirahat dulu ya. Nenek belum
istirahat sama sekali sejak kemarin.” Esya membujuk neneknya.
“Bagaimana aku bisa beristirahat,
sedang dia sedang berjuang sendirian di sana.” Nenek Hongjoon menyentuh dinding
kaca dan mengelusnya. “Cucuku yang malang.”
Esya turut menatap ke dalam ruang
ICU tempat Hongjoon dirawat. Melihat saudara sepupunya koma, ia pun tak bisa
berpura-pura tak sedih.
“Besok kau harus sekolah. Jangan
lama-lama membolos.”
“Asal nenek mau istirahat. Kalau
tidak, aku akan tetap di sini. Menemani nenek.”
Nenek Hongjoon menghela napas. “Kau
pikir aku di sini terus? Tidak, Sayang. Rumah sakit ini menyediakan tempat
istirahat untuk keluarga pasien. Aku beristirahat di sana. Mama Hongjoon akan
tiba malam ini. Aku akan membiarkan dia menjaga putranya dan aku akan
istirahat. Kau pulang saja dulu dan istirahatlah.”
“Aku tidak akan masuk sekolah besok,
Nek. Besok adalah pemakaman Paman Darwin. Hanya kita keluarga yang dia miliki.”
“Ah iya. Aku terlalu fokus pada Hongjoon
hingga melupakan Darwin.”
Kita istirahat sama-sama yuk?"
Nenek Hongjoon menatap ke dalam
ruang ICU, diam selama beberapa detik. Lalu, menganggukkan kepala dan setuju
untuk beristirahat dengan Esya.
Esya tersenyum dan menuntun neneknya
ke ruang istirahat untuk keluarga pasien.
***
Rue terkejut ketika keluar dari
kamar mandi. Hongjoon sudah berdiri di dapur dan tersenyum padanya. Ia lupa
jika sejak semalam roh Hongjoon tinggal di rumahnya.
“Noona
akan ke sekolah hari ini?” Sambut Hongjoon ceria. Ia sengaja memanggil Rue
dengan Noona. Panggilan dari adik
laki-laki untuk kakak perempuan dalam bahasa Korea.
“Kalau nggak sekolah mau ngapain?” Jawab
Rue seraya berjalan menuju kamarnya.
Hongjoon mengerucutkan bibir. Tetap
bertahan di dapur, menunggu Rue.
Rue keluar. Ia sudah memakai seragam
SMA Horison. Ia menuju dapur untuk membuat sarapan.
Hongjoon minggir. Memberi ruang
untuk Rue. “Kalau mau masak, kenapa pakai seragam dulu? Kan nanti kotor.”
Rue tersenyum. Ia sibuk membuat jus
buah dan roti bakar. Setelah siap, ia membawanya ke ruang tamu untuk sarapan.
Hongjoon mengikutinya.
“Kalau kamu ngarep ikut ke sekolah,
maaf. Aku nggak bakalan kasih izin. Sekolah sedang situasi genting. Bahaya
kalau kamu ikutan.” Rue sudah duduk di atas permadani dan bersiap sarapan.
“Karena itu, belakangan sering
terjadi kesurupan?”
“He’em. Ada pasukan setan yang
mengepung sekolah. Makanya, bahaya kalau kamu ikut aku. Bisa jadi tawanan kamu
ntar.”
“Kok gitu? Pasukan setan?”
“Iya. Kami masih menyelidikinya.
Benar-benar membuatku pusing. Ditambah adanya kau di sini.”
“Aku kan sudah janji nggak bakal
ngrepotin.”
“Tetep aja nggak terbiasa.”
“Nanti juga akan terbiasa. Lagian,
aku nggak punya tempat lain untuk dituju.”
Rue menatap Hongjoon sejenak, lalu menghela
napas dan mulai makan. “Kalau gitu, diem aja di sini. Tunggu sampai aku
pulang.”
Hongjoon tersenyum dan menganggukkan
kepala.
Rue selesai mengunci pintu. Ia
berjalan menuruni tangga. Hongjoon mengikuti di belakangnya.
“Kak Rue!”
Rue kaget ketika sampai di ujung
tangga terbawah. Rio tiba-tiba muncul dan memanggilnya. “Bikin kaget aja!”
“Kakak udah tahu? Ituuu... kakak
yang ke sini nitip hadiah dan ngasih aku coklat. Dia kecelakaan dan kritis!”
Rue menatap Rio dengan datar. Sedang
Hongjoon yang berdiri di belakangnya tersenyum.
“Kak Rue udah tahu ya? Aku baru tahu
beritanya pagi ini. Dapat kiriman di grup chat.” Rio menggaruk kepalanya.
“Kak.”
“Apa?”
“Aku penasaran. Apa arwahnya dateng
nemuin kakak? Aku kan Orion.”
“Udah sekolah sana!” Rue pergi
meninggalkan Rio. Pemuda itu menggerutu tak jelas dan kembali masuk ke rumah.
“Mau ngikutin aku sampai mana?” Rue
menghentikan langkahnya.
Hongjoon turut menghentikan langkah.
Ia kelincutan. “Baiklah. Aku balik sekarang. Hati-hati di jalan Noona.” Hongjoon membalikan badan,
membelakangi Rue, dan berlari, kemudian menghilang.
Rue yang menatapnya tersenyum. Pagi
yang berbeda. Ada yang melepasnya berangkat.
Rue menghela napas dan kembali
berjalan. Langkahnya memelan ketika sampai di perempatan tempat ia biasa
bertemu dengan Dio, Byungjae, dan Hanjoo. Bukan ketiga rekannya yang berada di
sana. Melainkan Malaikat Maut yang sering secara tiba-tiba menampakan diri
padanya.
Dengan langkah lambat, Rue melewati
Malaikat Maut yang berdiri di tepi jalan dan menatapnya. Kepala Rue tertunduk,
tapi ia masih bisa mencuri pandang, memperhatikan bagaimana Malaikat Maut
menatapnya saat ia melintas di depannya.
***
“Kenapa Kakak tiba-tiba ingin tahu?”
Yano balik bertanya pada Rue.
Rue mendesah. Ia sengaja menemui
Yano di kelasnya saat jam istirahat demi mencari informasi tentang Hongjoon.
“Kemarin kakak seperti nggak
tertarik.” Yano sok jual mahal.
“Kemarin aku sibuk. Kamu nggak tahu
kami kena sidang karena Dio berantem sama Pearl?”
“Oh itu. Iya. Sudah heboh
dibicarakan. Kak Dio beneran dipecat dari Dewan Senior? Sayang sekali.”
“Kamu tahu nggak sih di mana
Hongjoon dirawat?”
“Nggak tahu. Tapi, temenku kayaknya
tahu. Sebentar. Tunggu dia sebentar. Tadi dia masih ke toilet. Kak Rue juga
pasti udah tahu dia siapa.”
“Wah! Ada Kak Rue di sini. Tumben?” Wajah
putih Axton dihiasi semburat pink ketika ia melihat Rue duduk di bangkunya.
“Kak Rue nanya soal Hongjoon. Kamu
tahu nggak? Dia dirawat di mana?” Tanya Yano.
“Esya cuman bales, hari ini
pemakaman sopir pribadi Hongjoon. Tapi, belum kasih tahu di rumah sakit mana
Hongjoon dirawat.” Jawab Axton. “Nanti kalau Esya udah masuk, aku tanyain.
Emang kenapa kok Kak Rue nyari rumah sakit tempat Hongjoon dirawat?”
“Pemakamannya diadain jam berapa? Di
mana?” Rue segera mengalihkan topik. Membuat Axton dan Yano bingung.
“Sebentar.” Axton meraih ponsel di
saku celananya dan memeriksa kembali pesan Esya. “Jam sembilan, Kak. Udah
lewat.”
“Makamnya?”
Axton menyebutkan lokasi pemakaman
sopir pribadi Hongjoon. Ia merasa senang karena bisa memberikan informasi untuk
Rue.
“Makasih ya. Maaf udah ganggu
kalian.” Rue bangkit dari duduknya.
“Nanti kalau Esya udah masuk, aku
tanyain rumah sakit tempat Hongjoon dirawat.” Yano menyanggupi.
“Oke.” Rue pun meninggalkan Yano dan
Axton.
“Kak Rue ke sini,” Axton buru-buru
duduk di bangkunya. “Duduk di bangkuku!”
“Biasa aja kali. Makan yuk!” Yano
bangkit dari duduknya.
***
Pearl, Ruby, dan Linde berada di
kantin. Pearl masih menekuk wajah sejak pagi. Ia masih kesal karena peristiwa
kemarin. Ia marah karena dikeluarkan dan dicoret dari daftar calon Dewan
Senior. Walau Ruby dan Linde terus menenangkannya, Pearl tetap tidak bisa
terima.
“Liat! Pangeran pujaanmu tuh. Jangan
cemberut mulu napa.” Ruby berbisik. Memberi tahu jika Yano datang ke kantin.
“Itu ya yang namanya Yano.” Linde
mengangguk-anggukkan kepala sambil mengamati Yano.
Pearl mengangkat kepala dan
mengamati Yano. Senyum samar terkembang di wajahnya yang kuyu.
“Eh, itu Yano. Tahu nggak sih, tadi
Kak Rue nyamperin dia ke kelas lho!”
“Kak Rue? Nyamperin Yano ke kelas?
Masa?? Ngapain??”
“Nggak tahu lah. Kebetulan aku masih
di kelas. Kak Rue tengok-tengok kelas, trus nemuin Yano masih duduk di
bangkunya. Masuk lah dia. Duduk di samping Yano.”
“Ya ampun! Trus mereka ngapain?”
“Ngobrol aja sih kayaknya. Aku
buru-buru keluar dong. Sungkan. Karena di kelas cuman ada aku sama Yano sebelum
Kak Rue datang.”
“Yah. Harusnya kamu tetep di sana.
Biar tahu mereka lagi ngobrolin apa.”
“Iya. Kenapa kamu malah pergi.”
“Kan aku sungkan. Kak Rue akrab gitu
ya sama Yano. Kayak udah lama kenal.”
“Iya. Dari pas mereka ngobrol di
depan UKS kan?”
“Iya. Bener banget. Aku jadi
penasaran. Mereka punya hubungan apa ya?”
Pearl meremas sendok dan garpu yang
ada di tangan kanan dan kirinya. Lalu membanting kedua tangannya ke meja,
beranjak dari duduknya dan pergi. Ia kesal mendengar obrolan siswi-siswi yang
duduk di belakangnya. Dengan langkah lebar-lebar ia berjalan keluar dari
kantin. Ruby dan Linde saling memandang. Lalu, kompak menghela napas panjang.
***
Dio, Byungjae, dan Hanjoo kompak
tercenung usai mendengar penjelasan Rue. Keempatnya berkumpul di sebuah
restoran cepat saji usai pulang sekolah.
“Ngomong-ngomong, apa Hongjoon ada
di sini?” Dio dengan lirih.
“Nggak. Dia aku suruh diem di rumah.
Bahaya kalau ikutan ke sekolah. Sekolah lagi genting.”
“Jadi, itu alasan kamu sampai nekat
nemuin Yano?” Hanjoo paham alasan di balik hebohnya berita Rue menemui Yano di
kelasnya.
“Nggak efektif kalau nanya lewat
pesan. Mending langsung ketemu aja.”
“Mikir nggak efeknya gimana?”
“Kak Nicky ya? Wah. Gawat juga kalau
Kak Nicky tahu trus cemburu.” Byungjae menanggapi dengan serius.
“Aku sama Kak Nicky nggak ada
apa-apa tau! Gawat tuh aku baru inget soal Pearl.” Rue membantah tuduhan
Byungjae.
“Pearl? Kenapa lagi?” Tanya Dio.
“Pearl kan suka sama Yano.”
Dio, Hanjoo, dan Byungjae dibuat tercenung
untuk yang kedua kalinya.
“Bukannya cuman Fabian dan Kak Nicky
ya?” Hanjoo memastikan.
“Sama Yano juga.”
“Ada apa sih?” Dio bingung.
“Iya. Apa yang kalian tahu, tapi aku
dan Dio nggak.” Byungjae pun menuntut penjelasan.
Rue menghela napas. Lalu, menjelaskan
tentang ketika ia berada di dalam toilet dan tak sengaja mendengar obrolan
Pearl, Ruby, dan Linde.
Dio tidak bisa menahan tawa usai
mendengar penjelasan Rue. “Pantesan benci banget sama kamu. Urusan cowok
ternyata. Sekarang apa pula pakek naksir Yano? Tahu fakta tentang kamu sama
Yano, mampus dia. Bunuh diri bisa-bisa.”
“Hush! Ngeri tahu!”
“Bisa jadi, kan? Dia tuh bukan cewek
psiko. Tapi, skizofrenia. Gila!”
“Suer aku baru inget soal itu waktu Byungjae
nyebut nama Kak Nicky.”
“Kita harus hati-hati nih. Bisa jadi
Pearl mikir Rue sengaja makin hancurin dia. Kemarin udah dipecat, hari ini
ditambah denger tentang Rue nyamperin Yano. Bisa makin menjadi dia.” Byungjae
bergidik hanya karena membayangkan kemungkinan yang akan dilakukan Pearl untuk
membalas Rue.
“Rue bisa salah perhitungan juga
ya.” Hanjoo menggelengkan kepala.
Rue tersenyum dan mengangkat kedua
bahunya. Saat menatap ke dinding kaca bagian depan restoran cepat saji, senyum
di wajahnya sirna. Di luar sana, sang Malaikat Maut sedang berdiri menatapnya.