Random (KPOP)

¤ Happy Saturday 23rd for Reed 23 ¤

09:02



Sabtu, 23 November 2013.


Woa! Today is 23rd ^^//
First, want to say happy b'day to duo Jo, Jonghwan and L.Joe \(*O*)/
Happy b'day Jonghwan :*
Happy b'day L.Joe :*
Wish you all the best.

Semalem puas begadang nungguin jam 12 malem waktu Korea. Padahal capek sehabis membabu ria. Semua hanya karena tanggal 23 November 2013. Bolehlah sebut saya lebe or alay or jablay (?) gegara ini semua. Iyalah, temen-temen dah pada sibuk nikahan, sibuk sama anak, tapi saya malah sibuk fangirling. Kadang gimana gitu rasanya kalo ingat umur. Malu. Eh, kok jadi curcol. Lupakan saja kegajean sebelumnya.

Lanjut~ Yuk, mari!

Sebelumnya ada publish cerpen horor based on true story yang kapan hari kalah lomba. Responnya mengejutkan banget. Ya walau nggak ngalahin rating "Gajah Kesepian" tapi lumayanlah pengunjungnya di banding "Wisteria Land" dan "Black Note". Bahkan komentar dalam link yang saya bagikan juga lumayan. Mungkin menjadi menarik karena fotonya kali ya. Atau mungkin memang cerita horor based on true story itu memang menarik. Auk ah lap.

Sehabis publish, ngegaje di twitter. Jujur saya lupa sampai akhirnya Changbum ngetwit, ngucapin met ultah buat "Jo". Mungkin maksudnya "Jo" adalah Jonghwan dan L.Joe yang ultahnya samaan tanggal 23 November. Baru keinget kalo dua member geng 23 ini ultah. Langsung browsing nyari gambar tart unik. Pengennya ngasih gambar tart kura-kura, tapi nggak nemu. Tiba-tiba otak cancer saya membayangkan tumpeng. Dan menemukan tumpeng unik berbentuk hati. Ambil dan mensen Jonari+Eljo xD


Well, lupa tepatnya kapan mencetuskan geng 23. Seingat saya setelah membaca profil 100%. Akhirnya saya mencetuskan berdirinya geng 23.

Yuk, kenalan dulu sama geng 23. Geng 23 are:
- Key Kim Kibum (September 23)
- Jo Jonghwan (November 23)
- Lee Sihyeon (June 23)
- L.Joe Lee Byunghun (November 23)
- Lee Sanghoon (December 23)

Dan hari ini kami meresmikan sebuah nama untuk geng 23 kami yaitu Reed 23 \(*O*)/

Reed yang menurut budaya Celtic melambangkan:
- Purpose
- Protection
- Purification
- Clarification
- Communication

Keren kan? Keren dong xD
Tapi saya masih bingung sama pohon reed itu kayak gimana. Apakah reed itu alang-alang atau suket gajah, I don't know.


Well, happy saturday 23rd for Reed 23 \(^o^)/
-shytUrtle-

Tambahan xD

Kenapa dinamakan geng 23 pada awalnya dan kemudian menjadi Reed 23 adalah karena semua member lahir di tanggal 23. Dan karena saya tergila-gila pada angka 23 ini, setara kegilaan saya pada naga. Awalnya cuman kenal (?) sama Key SHINee, seneng sih tahu dia juga lahir di tanggal 23. Lalu datanglah L.Joe, ngajak kenalan juga (?). Dan ternyata eh ternyata dia lahir di tanggal 23 juga. Yew~ got new friend that born in 23rd again. Seneng. Tapi belum ada pengen bikin geng. Sampai pada pertengahan ngegarap ff “Wisteria Land” gegara Han Suri jadi iseng nglirik 100%. Karna di ff itu ada Jonghwan 100% yang juga jadi cast. Pas liat profil 100% ternyata si Jonari (Jonghwan) lahir tanggal 23 November 1992. Wow~! 23 lagi…? Dan ketemu si Sanghoon yang juga lahir tanggal 23, tepatnya 23 Desember 1993. Trus tiba-tiba kepikiran buat geng 23. Tapi sebelum deal sama lima member yang sekarang, saya sempet nanya Mbah Google sapa aja KPOP idol yang juga lahir di tanggal 23. Dari sekian banyak ada Lee Hyunwoo yang sempet narik perhatian. Tapi ati kurang sreg. Akhirnya saya mutusin bikin geng 23 dengan lima anggota yaitu Key SHINee, Jonghwan 100%, L.Joe Teen Top, Sanghoon 100% dan pastinya saya sendiri >.<

Sejak saat itu saya sering nyapa L.Joe, Jonari dan Sanghoon dengan sebutan geng 23 dimana untuk Key hanya memakai #Key karena setahu saya Key nggak punya akun twitter. Setelah semalam begadang, siang tadi di tempat kerja, pas nggak ada pembeli saya jungkir balik (?) nyari nama buat geng 23 ini. ya masak nama gengnya “geng 23”. Nggak keren ah. Kebetulan juga saya lagi gandrung sama tumbuh-tumbuhan. Bunga dan tanaman lainnya. Nggak lucu kalo pakek nama bunga, secara membernya 4 cowok 1 cewek. Akhirnya saya beralih pakek nama kayu atau pohon. Nah di ff “Wisteria Land” saya memakai pohon Reed dan Birch. Gatau kenapa langsung mempertimbangkan dua nama pohon itu. Reed 23 or Birch 23…? Lebih sreg sama Reed 23. Lebih enak di dengarnya daripada Birch 23. Lagi pula Reed adalah (katanya nui ya) missal buat Wand atau tongkat sihir adalah yang cocok buat orang yang lahirnya di 23 November. Kebetulan dig eng 23 ada dua member yang lahir di 23 November yaitu Jonari aka Jonghwan sama L.Joe. akhirnya saya pilih nama Reed 23 untuk geng saya ^^//

Semalem sambil tumpengan buat ngrayain ultah Jonghwan-L.Joe sekalian ngresmiin nama Reed 23 buat geng kami. Yuhu \(*o*)/

Dan inilah kami geng Reed 23 àKey, Jonghwan, Sihyeon, L.Joe, Sanghoon >.<

Next project saya pengen nyelipin geng Reed 23 sebagai cast. Aseek.

Sekian dan terima kasih :D

                                                 


Tumpeng ultah Jonghwan-L.Joe plus tumpeng syukuran peresmian geng Reed 23 >.<

Reed 23 >.<

- Key


 - Jonghwan


- L.Joe



- Sanghoon

- Sihyeon (?)


Reed 23 (font -- Wide Latin)


Creepy Story

¤ Tolong, aku! ¤

05:18


Tolong, aku!

“Aku Meriel. Aku mohon, tolong aku.”



       Berbuat iseng boleh saja, asal nggak keterlaluan. Apalagi iseng pada hal yang berbau mistis. Hal yang nggak bisa kita nilai dengan logika. Jangan sampai kalian mengalami seperti apa yang aku alami karena keisenganku. Percayalah! Karena mereka ada dalam ruang waktu yang tak terbatas. Mereka bisa melihat dan mendengar kita sedang kita tak bisa melihat dan mendengar mereka. Dan ketika kita menyinggung tentang mereka, saat inilah mereka benar ingin diakui tentang keberadaan mereka.

***

       Siang itu hanya ada aku dan Tunjung di basecamp. Untuk mengusir rasa bosan kami pun membereskan tumpukan koran yang mulai tak rapi di rak. Koran baru bercampur aduk dengan koran bekas yang kemarin dibawa Ibu ke basecamp. Tak sekedar merapikan, kami juga melihat lembar demi lembar halaman koran.

       Mataku terbelalak ketika sampai pada salah satu halaman koran bekas yang sedang aku rapikan. Di kolom sebelah kanan ada artikel misteri yang dipermanis dengan gambar penampakan gadis cantik berwajah pucat merayap di lantai. Tak membaca artikel itu, aku hanya memperhatikan gambar si penampakan cantik. Wajahnya pucat, mata lebar dan hidung mancung. Kulitnya terlihat sedikit keriput. Khas tubuh yang sudah lama tak bernyawa. Menurutku.

       “Njung, liat deh! Ini asli nggak sih?” suaraku memecah kebisuan.

       “Apanya yang asli?” jawab Tunjung tanpa mengalihkan pandangan dari koran di pangkuannya.

       “Liat dulu napa!” aku melemparkan koran di tanganku pada Tunjung. “Itu gambar penampakan asli nggak?”

       Tunjung yang sering kami sebut “abnormal” ini memungut koran yang jatuh di kakinya yang sedang duduk berselonjoran di atas lantai. Tunjung bukan gadis autis atau benar tak normal. Kami menyebutnya abnormal karena Tunjung memiliki kemampuan di atas manusia normal pada umumnya. Tunjung bisa melihat hal-hal tak kasat mata yang manusia biasa atau manusia normal pada umumnya tak bisa melihatnya. Sebut saja Tunjung memiliki indera keenam.

       “Asli nggak?” tanyaku lagi benar penasaran menatap Tunjung yang masih mengamati gambar di koran itu.

       “Nggak!” Tunjung melempar koran itu kembali padaku.

       Mendadak sumringah kuraih ponsel di saku celanaku. Mengambil beberapa foto gambar penampakan itu dan memilih satu yang terbaik.

       “Dasar usil. Ngapain kamu foto gambar itu?” tanya Tunjung.

       “Ntar aku mau bilang sama anak-anak kalau aku berhasil motret penampakan.” jawabku sembari meringis.

       “Siapa motret penampakan?” sahut Asti yang baru memasuki basecamp. Ia duduk menatap kami penasaran.

       “Wuni .” jawab Tunjung.

       “Mbak Wuni…? Serius…? Mana gambarnya mana?” Asti penasaran.

       Aku memberikan ponselku pada Asti dan segera menyembunyikan koran yang memuat gambar penampakan cantik.

       “Buset! Cantik bener! Ini penampakan dimana?” tanya Asti masih mengamati foto dalam ponselku.

       “Di PUSKESMAS depan tuh.” jawab Tunjung lagi. Aku bungkam.

       “Serius, Mbak…? Kapan ini motretnya…? Ini tepatnya di sebelah mana…?” buru Asti.

       “Serius. Semalem waktu aku nemenin Wuni sama Ibu ke apotek PUSKESMAS buat ngambil obat Wuni yang ketinggalan. Itu di depan ruang BP.” terang Tunjung. Aku masih bungkam.

       “Depan ruang BP…? Deket apotek dong…? Ruangan ibuku…?” Asti parno.

***

       Mungkin kalau Tunjung tak membubuhi bumbu penyedap pada bualanku, Asti dan anak-anak yang biasa ngumpul di basecamp nggak bakal percaya pada pada bualanku. Menjadi heboh sesudahnya. Asti menceritakan foto penampakan dalam ponselku pada ibunya Bu Yanti yang bekerja di PUSKESMAS depan basecamp. Karena penasaran, Bu Yanti langsung menemuiku. Bertanya beberapa pertanyaan dan melihat foto penampakan cantik dalam ponselku. Senada dengan Asti, Bu Yanti juga percaya pada bualan yang aku dapat dari mengcopi penjelasan Tunjung pada Asti.

       Asti menceritakan foto penampakan cantik pada Bu Yanti dan Bu Yanti menceritakan foto penampakan cantik pada rekan-rekannya yang bekerja di PUSKESMAS depan basecamp. Ibuku yang kebetulan juga bekerja di PUSKESMAS depan basecamp tak luput menjadi incaran rekan-rekannya. Kehebohan berlanjut bahkan semakin menjadi. Ibu tak tahu menahu dan meminta rekan-rekannya yang penasaran menemui aku langsung. Alhasil basecamp jadi ramai diserbu karyaawan PUSKESMAS yang penasaran pada foto penampakan cantik di depan ruang BP. Hari Senin ini aku benar-benar sibuk meladeni teman-teman Ibu yang ingin melihat foto penampakan cantik di depan ruang BP. Bahkan harus menjawab pertanyaan mereka yang rata-rata sama. Bagaimana bisa motret penampakan ini? Kapan motretnya? Kira-kira gadis itu siapa dan matinya kenapa ya? Bahkan salah satu Bidan meminta foto penampakan di ponselku dan saat itu juga menyebarkan pada teman-temannya jika di PUSKESMAS tempat ia bekerja ada penampakan hantu cantik. Mapuslah aku!

***

       Hari Selasa baru ketemu lagi sama Asti si pembuat kehebohan. Andai Asti nggak cerita ke ibunya, nggak mungkin foto penampakan itu jadi heboh dan aku diburu bak artis yang lagi bikin skandal.

       “Ya, maaf. Ibu tuh yang heboh. Tapi seneng kan Mbak Wuni mendadak tenar.” jawab Asti enteng.

       “Gundulmu!” umpatku kesal.

       “Eh tapi aku masih penasaran deh, Mbak. Itu cewek siapa dan dia matinya gara-gara apa.”

       “Udah! Jangan dilanjut!” sela Tunjung. “Beli makan sana. Laper nih.” pintanya.

       Tak puas karena pertanyaan penasarannya di potong Tunjung saat ngobrol di basecamp, dalam perjalanan membeli makan siang Asti melanjutkan obrolan. Asti yang duduk di belakang dalam boncengan motorku masih saja mengoceh membahas tentang penampakan cantik itu. Tentang eloknya wajah si penampakan dan merembet kembali pada siapa dia dan apa penyebab kematiannya.

       “Ya aku penasaran aja Mbak. Penyebab kematian dia apa. Liat dari wajahnya, dia kayaknya bule gitu ya. Memangnya Mbak Tunjung nggak tahu apa?” lanjut Asti mengoceh.

       “Udahan napa?!” aku memintanya berhenti mengoceh membahas penampakan cantik itu. Jujur aku jadi merinding setiap kali membahas foto penampakan itu. Setelah foto itu heboh dibicarakan banyak orang.

       “Kan katanya dulu PUSKESMAS itu rumah seorang Tuan Tanah Belanda. Beneran nggak sih? Mbak Tunjung pasti tahu sesuatu, tapi nggak mau sharing aja. Bikin penasaran banget.” bukannya berhenti mengoceh, Asti malah menjadi-jadi. “Bisa jadi cewek itu putri dari Tuan Tanah kan? Kira-kira matinya gara-gara apa ya?”

       “Kenapa nggak kamu panggil aja dia pakek jelangkung? Daripada ngoceh mulu bahas itu. Mana aku tahu coba?” aku benar kesal mendengar ocehan Asti.

       “Ih! Mbak Wuni nggak asik!” Asti sewot dan langsung diam.

***

       Rabu pagi aku dan Asti sudah standby di basecamp. Lagi asik nyanyi-nyanyi berdua, tiba-tiba Tunjung datang bersungut-sungut dan mematikan music box. Aku dan Asti melongo dibuatnya.

       “Ini gara-gara kalian!” tuduh Tunjung penuh kekesalan pada kami.

       “Kok… gara-gara kami sih Mbak? Ada apa emang?” tanya Asti.

       “Iya nih. Dateng-dateng matiin music box trus marah-marah.” responku santai.

       “Aku udah minta kalian berhenti membahas tentang gadis itu kan?”

       Aku dan Asti kembali diam. Lalu kami sadar gadis yang dimaksud Tunjung adalah penampakan cantik itu.

       “Asti tuh yang ngoceh mulu bahas cewek itu.” tudingku.

       “Dia dateng nemuin aku semalam!”

       Glek! Aku dan Asti diam. Mendadak kaku. Merinding. Nggak mungkin Tunjung berbohong perkara ini.

       “Dia dateng jelasin semua. Menjawab pertanyaan kalian.” lanjut Tunjung yang kini sudah duduk bergabung bersama kami. Lesehan di atas lantai basecamp.

       “Jelasin semua…?” tanyaku. Jujur aku penasaran. “Gimana dia bisa nemuin kamu, Njung?”

       “Aku lagi baca semalem.” Tunjung mulai menceritakan apa yang ia alami semalam. “Sekitar jam dua pagi, tiba-tiba ada angin dingin berhembus di sekitarku. Aku mikir, siapa yang mau dateng. Lalu bayangan seperti orang duduk itu muncul di depanku. Peralahan berubah semakin jelas dan jadilah cewek cantik berambut lurus hitam panjang, mata belok dan hidung mancung.”

       Aku menelan ludah mendengarnya.

       “Ekspresinya sedih banget. Aku tanya dia siapa dan buat apa dateng nemuin aku. Sempet diem cukup lama lalu dia ngomong. Namanya Meriel. Keturunan Belanda asli. Dia mati dibunuh. Diculik kaum pribumi, di siksa sampai mati.” lanjut Tunjung.

       Hening. Aku dan Asti benar-benar bungkam mendengarnya. Miris mendengar kematian tragis gadis cantik keturunan Belanda bernama Meriel itu.

       “Dia minta tolong untuk disempurnakan agar ia bisa menyeberang.” Tunjung kembali bicara.

       “Di sempurnakan? Dia hantu kan?” sahutku.

       “Ngawur! Dia itu arwah yang nggak bisa menyeberang.”

       “Beda sama hantu?” sela Asti.

       “Trus, cara nyempurnainnya gimana?” tanyaku.

       “Kita harus nyari tempat ia dikubur. Ngambil sedikit tanahnya dan membuangnya ke laut.” terang Tunjung.

       “Nyari kuburannya?” pekikku.

       “Kasihan banget diculik lalu disiksa sampek mati. Dikuburnya sembarangan pasti itu. Trus jadi arwah penasaran.” Asti sok paham. “Tapi kok tanahnya dibuang ke laut sih Mbak?”

       “Karena dalam kepercayaan yang dia anut, kalo ada orang meninggal jasadnya di kremasi. Dibakar. Nah, dia kan udah jadi satu sama tanah tuh, dia mintanya gitu.” Tunjung menjelaskan.

       “Masalahnya sekarang dimana Meriel dikubur?” selaku. “Dia nggak ngasih petunjuk gitu?”

       “Ada sih. Tempatnya di pinggir sungai, deket sawah, ada pohon kelapa, ada tanaman awar-awar.” Tunjung berusaha mengingat petunjuk yang diberikan Meriel.

       “Masih di sekitar sini?” tanyaku.

       “Iya.” jawab Tunjung yakin.

       Aku berusaha mengingat-ingat tempat yang sering aku kunjungi untuk mencari bunga Elder Flower. “Eh, apa bukan di Kali Wakap tuh? Di sana kan ada pohon kelengkeng sama pohon kelapa. Apa di sana Meriel dikubur?”

       “Kali Wakap?” Tunjung berusaha mengingatnya. “Iya ya. Di sana kan banyak tanaman awar-awar juga. Kita kesana sekarang yuk!” Tunjung antusias.

       “Sekarang…?” tanyaku sangsi.

***

Aku dan Asti diam menunggu Tunjung yang entah melakukan ritual apa. Mulut Tunjung bergumam seperti merapal mantra. Kami bertiga berkumpul di Kali Wakap, sungai kecil di dekat sawah dimana aku biasa lewat di jembatan di samping kiri sungai ini untuk menyeberang ke sawah sisi timur untuk mengambil bunga Elder Flower. Aku nggak nyangka, di dekat pohon kelapa doyong ini tubuh Meriel di kubur. Padahal aku sering lewat di depannya.

Usai mulutnya bergerak seolah merapal mantra, Tunjung mengambil sedikit tanah yang kemudian ia simpan dalam kantung plastik. Tunjung kembali berdiri dan tersenyum pada kami. “Ayo kita pulang.” ajaknya sambil berjalan mendahului.

***

Hari Minggu, bersama-sama kami pergi ke pantai Selatan. Pantai yang berada dekat dari jangkauan kami. Sesampainya di pantai, Tunjung langsung melaksanakan ritual penyempurnaan. Lagi-lagi aku dan Asti hanya berdiri diam agak jauh di belakang Tunjung. Setelah berdiri cukup lama menghadap pantai, Tunjung menghanyutkan tanah yang diambilnya dari kuburan Meriel di pantai. Setelah itu Tunjung kembali menghampiri kami.

“Sudah.” ucapnya tersenyum lega.

“Alhamdulillah. Semoga ia bisa menyeberang dan tenang di alam sana. Amin.” harapan Asti.

Aku lega mendengarnya. Kembali kutatap foto penampakan dalam ponselku. Selamat jalan, Meriel. Maaf atas semua keisenganku. Batinku dalam hati lalu menghapus foto penampakan itu dari ponselku. Aku menghela napas lega dan tersenyum menatap hamparan biru laut yang terbentang luas di depan kami bertiga.

***

“Setelah ini mau iseng motret gambar penampakan lagi?” Tunjung menghampiriku yang sibuk membakar tumpukan koran bekas.

“Nggak ah. Aku kapok. Iya kalo dia datangnya ke kamu, nah kalo ke aku? Mampuslah aku.”

Tunjung tertawa geli.

Aku kembali menatap koran yang memuat gambar Meriel. Aku tersenyum sejenak menatapnya. Lalu kulemparkan koran itu ke dalam kobaran api sambil berbisik dalam hati aku kapok iseng lagi.

THE END

Based on true story.

By:

shytUrtle


       ini lokasinya :)
menurut petunjuk dari si empunya makam, di sinilah ia di kubur secara tak layak.



Search This Blog

Total Pageviews