Khayalan shytUrtle

BLACK NOTE

06:47

BLACK NOTE

“Percayai mimpimu, ikuti petunjuknya dan temukan kebenaran.”

           Di dunia ini begitu banyak misteri. Hitam dan putih, maya dan nyata bersanding. Tentang kebenaran bukanlah hal mudah untuk di temukan. Saat alam sadar tak lagi bisa menuntunmu, akankah kau mempercayai mimpi-mimpimu dan meyakininya sebagai petunjuk?

***

NOTE #10


Lampion berbagai bentuk menghiasi sepanjang jalan menuju aula utama. Keceriaan terpancar dari dalam Parama Academy. Inilah puncak penghargaan untuk Festival Asadel, pesta dansa untuk menghormati para peserta dan pemenang khususnya. Sherwin Otadan menatap puas murid-murid yang terlihat tampan dan cantik malam ini. Jevera Lee mendampingi Sherwin, berdiri di sampingnya.
Lavina terlihat cantik dalam balutan gaun warna kuning berjalan di samping kiri Kevin. Edsel tersenyum melihat keduanya memasuki aula utama. Di belakang Lavina dan Kevin, Neva berjalan sendiri. Cantik dalam balutan gaun warna hijaunya. Edsel menyambut Neva, kemudian berdiri di samping kanan gadis itu.
“Ada satu hal yang lupa tak aku sampaikan padamu.” Neva yang berjalan dalam gandengan Edsel berbisik. “Winola sempat mempermasalahkaan tentang pesta dansa ini. Karena malam ini, malam bulan purnama penuh.”
“Aku tahu tentang ini.”
“Oh?” Neva heran. “Satu lagi. Ia berpesan sebelum kami berangkat, jangan dengarkan melodi dari permainan solo, tutup telingamu rapat-rapat.”
Edsel menghentikan langkahnya membuat Neva turut berhenti. Keduanya terdiam, saling menatap. Saling bertanya dalam diam tentang apa maksud dari pesan itu. Yocelyn menyapa Edsel dan Neva. Ia terlihat cantik dan anggun dalam balutan gaun berwarna merah itu. Terlihat serasi dengan Christoper yang berdiri di samping kanannya. Dua pasangan ini bersama memasuki aula utama.

***


Joe duduk di jendela koridor. Sendiri sambil memainkan apel hijau di tangannya. “Harusnya Tuan mengajaknya pergi bersama.” Richard melayang-layang ke kanan dan ke kiri di depan Joe. “Sungguh, dia gadis yang baik.”
“Karena tak menghancurkanmu setelah menangkapmu?”
“Ricky melihatnya, Tuan. Ricky melihat kebaikan dalam tatapan gadis itu. Tak ada keraguan, teduh dan penuh kasih. Mata yang indah.”
Joe melempar apel di tangannya menembus badan Richard dan menghantam tembok hingga hancur. Richard ketakutan dan menepi. Joe adalah sosok arogan yang tak jarang bertindak kasar pada Richard. Namun Richard bertahan karena ia telah berjanji untuk mengabdikan diri pada Joe hingga akhir hayat Joe.
Terdengar derap langkah kaki. Gerakan teratur yang semakin dekat pada tempat Joe berada. Joe, entah sadar atau tidak langsung bangkit dari duduknya ketika Winola muncul. Gadis itu terlihat sangat anggun dalam balutan gaun berwarna biru. Dan cantik dengan rambut tersanggul rapi dan riasan minimalis yang melukis wajah pucat Winola. Joe terpesona melihatnya. Bibir merah Winola bak buah cherry masak itu tersenyum menyapa Richard yang melambaikan tangan padanya. Joe menatap Winola tanpa berkedip, bahkan saat gadis itu berjalan melewatinya.
“Kejar dia, Tuan. Kejar.” Bisik Richard. “Dia hanya sendiri. Ini kesempatan emas untukmu, Tuan.”
Kaki Joe bergerak selangkah. Namun kembali terhenti ketika Alden tiba-tiba muncul menyambut Winola. Joe kembali mengerutkan muka melihatnya. Alden tersenyum puas menatap Winola yang berdiri di hadapannya. Alden mencium tangan Winola lalu menggandeng gadis itu pergi. Joe kembali duduk dan terlihat kesal.
“Tuan terlalu lambat!” Sesal Richard.
“Kau sudah siap?” Kenzie Choi menghampiri Joe.
“Aku malas!” Jawab Joe singkat.
“Apa begitu buruk pergi tanpa memiliki pasangan seorang gadis hingga membuatmu malas?” Joe bungkam. “Kesempatan yang kau dapat untuk tampil solo malam ini, jangan kau sia-siakan. Guru Odell Bayanaka tak suka pria plin-plan dan suka ingkar janji.” Kenzie pergi meninggalkan Joe sendiri.

***


Alden menggandeng Winola memasuki aula utama. Hampir seluruh pasang mata menatap pasangan ini. Pendapat mereka rata-rata sama. Tak menyangka jika Alden Jason si bintang sekolah pergi ke pesta dansa dengan mengajak Winola sebagai pasangannya. Winola gadis yang terkesan ‘aneh’ bagi kebanyakan murid.
Sherwin membuka acara dengan pidato singkatnya. Tak lupa ia memberi selamat pada para pemenang. Tim jawara dan tim runner up diundang ke tengah lantai dansa, diberi kesempatan untuk berdansa terlebih dahulu. Joe berdiri di pinggir dan menatap kesal pada Alden dan Winola. Sedang Richard yang berdiri di sampingnya, justru terlihat sangat menikmati pesta. Satu per satu pasangan murid turut bergabung. Berdansa dengan iringan musik dari club Nohan yang langsung di pimpin sendiri oleh Odell Bayanaka.
Hazel duduk di jendela kamar bilik 505 yang terbuka, menatap langit malam. Bulan purnama penuh dengan sinar yang terang, sangat indah. Malam yang sempurna untuk pesta yang sempurna. Lamunan Hazel terganggu oleh Gavin yang terlihat gusar dalam sangkarnya. Hazel terbang menghampiri Gavin. Burung wren berwarna biru itu hinggap lebih dekat pada Hazel. Dua makhluk ini terlihat sedang berkomunikasi.
Semua bertepuk tangan ketika musik berakhir. Odell tersenyum puas, lalu kembali mengangkat kedua tangannya memimpin anak-anak asuhnya untuk kembali memainkan sebuah lagu. Kali ini musik lembut untuk menemani murid-murid berdansa. Beberapa pasangan tetap bertahan dan beberapa mundur termasuk Edsel dan Neva. Mereka memilih menepi dari lantai dansa. Alden tersenyum, masih menatap kagum Winola yang berada sedekat ini dengannya. Edsel memperhatikannya, Alden dan Winola. Ia tersenyum getir dibuatnya. Kemudian Neva menyikutnya, menunjuk Kenzie yang berdiri di seberang. Edsel membisikan sesuatu di telinga Neva, kemudian pergi meninggalkan aula utama. Neva menemukan Joe, berdiri agak jauh dari kerumunan murid dan menatap ke lantai dansa. Neva paham jika tatapan Joe fokus pada Winola.
Violin unjuk kebolehan. Memainkan biola kesayangannya. Winola tak betah dalam suasana pesta ini dan memutuskan pergi. Melihat Winola keluar, Alden bergegas menyusulnya. Joe memperhatikannya dan hendak menyusul, namun Odell menemukannya di dekat pintu dan merangkul Joe kembali masuk.
Alden membuntuti Winola, namun gadis itu tiba-tiba menghilang di dekat taman. Alden menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari dimana Winola berada. Tiba-tiba seseorang membungkamnya dan menyeretnya dalam sisi gelap taman. Alden terbelalak dan Winola memberi isyarat agar ia tetap tenang. Alden mengangguk dan perlahan Winola menurunkan tangannya dari membungkam mulut Alden. Alden diam, berada sangat dekat dengan Winola yang terlihat siaga mengawasi taman. Winola mengintip, melihat dua Orc berjalan melewati tempat keduanya. Alden tersenyum melihat Winola yang berada begitu dekat di depannya. Winola kembali menatap Alden dan menemukan ekspresi berbinar Alden. Wajah Alden segera bersemu merah dibuatnya.
“Orc berkeliaran di dalam Parama Academy. Dimana para penjaga?” Winola seolah tak menyadari bagaimana ekspresi Alden.
“Or-orc??”

***


Joe selesai memainkan piano. Semua yang berada dalam aula utama jatuh tergeletak di lantai. Mereka tertidur usai mendengar alunan piano yang dimainkan Joe. Joe bangkit dan berlutut ketika burung gagak berukuran besar itu terbang memasuki aula utama dan berubah wujud menjadi Ozora. Joe masih berlutut dan menundukan kepala ketika Ozora berdiri diatas panggung. Ozora menatap puas pada hasil kerja Joe. Vegard dan dua Orc berjalan memasuki aula utama.
“Parama Academy dalam kendali kita Tuanku.” Vegard melaporkan situasi dalam Parama Academy. “Pasukan kita menyebar, menyisir seluruh sudut sekolah.”
Ozora tersenyum dingin. Ia berhasil menyusup masuk dalam Parama Academy dan meniupkan pasukan Orc yang sebelumnya ia rubah menjadi butiran debu untuk mempermudah membawa mereka masuk dalam Parama Academy tanpa terendus pasukan penjaga. “Joe Leverrett, yang mana dari manusia-manusia lemah ini adalah Pangeran dan Putri Elsdon?”
Joe tertunduk semakin dalam. Ia tahu Alden dan Yocelyn tak berada di sini, di dalam aula utama.

***


“Burung wren itu dan Hazel, mereka tak di sini.” Neva usai menutup jendela.
“Wren? Hazel? Siapa mereka?” Tanya Violin.
“Sahabat dari Orea.” Neva menatap Yocelyn yang terlihat ketakutan dalam dekapan Edsel.
Violin tiba-tiba mendorong Lavina hingga gadis itu terjepit di tembok. “Siapa sebenarnya kalian?! Kau dan Amabel Winola itu?!” Tandasnya dengan tatapan tajam pada Lavina.
“Violin, hentikan! Mereka di pihak kita!” Neva melerai. “Kita tak akan selamat jika Lavina tak membawa kita keluar aula.”
“Aula? Apa yang terjadi di sana?”
“Entahlah. Kita pergi saat Joe akan memulai pertunjukannya. Aku hanya menelaah pesan Winola, jangan dengarkan melodi dari permainan solo, tutup telingamu rapat-rapat. Aku rasa itu bukan kau, tapi Joe.” Terang Lavina.
“Pangeran Alden, aku melalaikannya.” Sesal Violin.
Tiba-tiba terdengar suara. Edsel berdiri paling depan, bermaksud melindungi para gadis. Violin siaga di sampingnya, sedang Neva dan Lavina berada di samping kanan dan kiri Yocelyn. Kunci yang tergantung di pintu terjatuh. Seseorang mencoba membuka pintu bilik 505. Edsel mengangkat kursi, hanya itu yang bisa ia jadikan senjata. Gagang pintu bergerak dan perlahan pintu mulai terbuka membuat semua yang berada dalam bilik 505 tegang.
“Oh! Halo, semua!”
“Kakak!” Lavina berbinar melihat Leif muncul dari balik pintu.
Leif membongkar barang yang ia bawa di lantai. Ia memberikan tongkat pada Lavina dan pedang pada Edsel. “Aku juga bisa menggunakan pedang.” Ucap Violin menyadari Leif mengabaikannya. Leif menatap Violin sejenak. Pemuda tampan ini sedikit mengerutkan dahi. Lalu memberikan pedang pada Violin. “Terima kasih.” Kata Violin namun Leif seolah tak mendengarnya.
“Oh, maaf. Sampai lupa tak memberi salam pada Tuan Putri.” Leif kemudian memberi salam pada Yocelyn. “Lalu, dimana Winola?” Leif menatap Lavina yang terlihat bingung, tak tahu dimana Winola berada.
“Aku rasa ia bersama Pangeran Alden, tapi entah dimana.” Jawab Edsel. “Aku akan mencarinya.”
“Tidak, tidak! Ini bukan tugasmu, tapi tugasku. Kau harus mengamankan Tuan Putri.”
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Sela Violin. “Kau ini, siapa??”
“Oh, Anak Panglima Elsdon ini benar-benar payah.” Violin menekuk muka mendengar olokan Leif. “Aku Leif Riordan, Pejuang Orea. Kau tak menyadari jika malam ini Ozora telah kembali?”
“Oz-zor-ra kem-bal-li?”
“Em. Dia di sini, di dalam Parama Academy bersama pasukannya, Orc. Jangan takut walau mereka pemakan daging manusia. Kau cukup menusuk jantungnya, atau kau tebas saja lehernya.” Terang Leif membuat Violin menelan ludah mendengarnya. “Aku berada di sini sejak kemarin lusa dan ramalan yang sempurna. Penyihir Sunee benar-benar hebat. Aku rasa Raja Elsdon harus memberi penghargaan untuknya. Ia rela mengorbankan dirinya untuk melindungi Orea.”
“Orea, bukan Elsdon.” Violin sedikit geram pada pemuda tampan ini.
“Kau tahu jika Penyihir Sunee tak mengorbankan nyawa untuk melindungi Otea? Hutan suci akan ternodai dan Elsdon kehilangan kekuatan pendukung dari timur. Ah, kujelaskan kau belum tentu paham.” Lagi-lagi Violin dibuat kesal.
“Ini alasan kenapa Winola meributkan tentang pesta dansa yang bertepatan dengan bulan purnama penuh?” Neva berubah pucat.
“Tepat sekali! Dia dan Penyihir Sunee, sedikit banyak memang mirip.”
“Hazel dan burung wren itu tak ada saat kami datang.”
“Ah, aku rasa dia membawa Gavin keluar sangkar. Baiklah, kita harus bekerja cepat. Paskuan Ozora sudah bergerak, menyisir seluruh sudut sekolah untuk mencari Pangeran dan Putri Elsdon.”
“Tapi ada prajurit muda yang menyamar.” Sela Edsel.
“Beberapa yang tak mempercayai ucapanku tumbang. Aku tak tahu apa rencana Ozora menggunakan Parama Academy. Kita harus menyelamatkan Pangeran dan Putri Elsdon. Lavina, kau temani prajurit muda ini menuju dapur sekolah. Bawa Tuan Putri ke tempat penyimpanan, ruang bawah tanah di dapur sekolah. Di sana terdapat terowongan dan pasukan Orea akan masuk dari sana. Semoga Orc tak menemukannya lebih dulu. Dan aku akan mencari Winola. Semoga benar ia bersama Pangeran Alden.”
“Aku akan pergi bersamamu. Pangeran Alden, dia tanggung jawabku.” Kata Violin.
Leif menatapnya sejenak, “OK! Asal tak merepotkan.” Leif diam sejenak, lalu menghampiri Lavina dan memeluknya. “Jangan takut adikku, inilah perang yang sebenarnya.” Lavina mengangguk dalam dekapan Leif. Leif melepas pelukannya dan tersenyum menatap Lavina. “Hah! Aku harap kalian pun tak gentar. Inilah perang yang sesungguhnya.”
Leif dan Violin berpisah dari Lavina, Edsel, Neva dan Yocelyn. Lavina memegang erat tongkatnya. Begitu juga Violin, ia memegang erat pedang di tangannya. Neva menggandeng erat tangan Yocelyn yang berjalan di sampingnya. Neva tersenyum ketika Yocelyn menoleh padanya. Edsel yang berjalan paling belakang tampak siaga. Edsel tertunduk sejenak. Ada rasa khawatir dalam dirinya. Mengkhawatirkan keselamatan Yocelyn juga Winola yang entah ada dimana saat ini. Edsel mendesah dan kembali siaga.

***


Raja Landry meremas kertas di tangannya. Mengepalkan tangan, benar-benar dibuat emosi oleh surat ancaman yang dikirim Ozora untuknya.
James Vincent diam menunggu. Apa yang ia khawatirkan terjadi juga. Ketika Empat Ksatria Utama dikirim ke utara dan selatan bersama beberapa pasukan, Ozora datang menyerang Elsdon. Ini rencananya dan James menyadari hal itu namun tak bisa bertindak gesit.
“Siapkan pasukan. Kita akan berperang melawan Ozora, dalam Parama Academy.” Titah Raja Landry.
“Tapi Yang Mulia, ini tindakan gegabah. Jangan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kali.” Salah seorang Tetua keberatan.
“Yang Mulia tak boleh meninggalkan istana. Inilah rencana Ozora.” Tetua lain menimpali.
“Ini bukan hanya misi penyelamatan Elsdon atau Pangeran dan Putri, akan tetapi…” Raja Landry tak melanjutkan perkataannya. Ia menatap James yang juga menatapnya.
“Baik Yang Mulia juga Panglima James Vincent tak seharusnya meninggalkan istana.” Salah seorang Tetua lagi bicara. “Ini bukan isyarat baik Yang Mulia.”

Raja Landry menatap rombongan pasukan yang di pimpin langsung oleh Panglima James Vincent menuju Parama Academy. Raja Landry tak bisa menyembunyikan ketakutan itu. Ratu Eleanor menghampirinya, mengelus lengan Raja Landry. Raja Landry meraih tangan Ratu Eleanor dan menggenggamnya erat. Ia kemudian menatap bulan purnama penuh malam ini.

***
 
-------TBC--------
 .shytUrtle. 

Fan Fiction FF

Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy

04:59

Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy
It's about rainbow, love, hate, glory, loyalty, betrayal and destiny.......
 

 


. Judul: “Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy”
. Author: shytUrtle_yUi
. Rate: Serial/Straight/Fantasy-Romance.
. Cast:
-                  Song Hyu Ri (송휴리)
-                  Rosmary Magi
-                  Han Su Ri (한수리)
-                  Jung Shin Ae (정신애)
-                  Song Ha Mi (송하미)
-                  Lee Hye Rin (이혜린)
-                  Park Sung Rin (박선린)
-                  Song Joongki, L,Joe Teen Top, L Infinite, Jung Daehyun B.A.P, Jo Jonghwan 100%, Baro B1A4, Jang Geunsuk, Yoo Seungho, Kim Sunggyu Infinite, Choi Joonghun FT.Island, Cho Kyuhyun Super Junior, and many other found it by read the FF.
 
 
...Ketika kau melihat pelangi, apa yang ada di benakmu? Tujuh warnanya yang indah atau...? Di sini, Wisteria Land, kami percaya jika pelangi adalah jelmaan sang Naga. Naga arif dan bijaksana yang selalu mengawasi dan menjaga tanah Wisteria Land. Naga yang pada suatu waktu muncul dengan keelokan wujudnya dengan tujuh warna pelangi. Apa kau juga percaya akan hal ini...?
***
  
Land  #4
               
                Seperti biasa keluarga Junho menyambut hangat kehadiran Hyuri. Mereka kembali makan malam bersama.

                “Hari ini pengumuman resminya keluar bukan?” tanya Nyonya Lee.

                Hyuri tersedak mendengarnya. Tuan dan Nyonya Lee juga Junho menatap curiga pada Hyuri.

                “Apa ada masalah? Ke sekolah mana kau ditransfer?” Nyonya Lee kembali bertanya.

                “Itu...” Hyuri ragu. Kemudian ia menatap Tuan dan Nyonya Lee lalu Junho. Ketiga orang itu menatapnya penasaran. “Hwaseong Academy.” lanjut Hyuri lirih.

                “Mwo...? Hwaseong Academy...? Daebak!” Junho berbinar. Tuan dan Nyonya Lee pun sama.

                “Ini patut dirayakan. Aku senang mendengarnya.” Tuan Lee terlihat amat senang. “Dulu Junho mencoba daftar kesana, namun tak diterima. Ini peluang emas bagimu, Hyuri.” imbuhnya.

                “Aku tak akan pergi.” Hyuri tertunduk lesu.

                “Mwo...?!” mulut Junho membulat. “Wae...? Apa geng Chrysaor tak ditransfer ke sekolah yang sama denganmu? Hanya karena itu? Babo!”

                Hyuri diam menundukan kepala. Tuan dan Nyonya Lee menatapnya lalu menghela napas.

                “Yang lain ditransfer kemana?” tanya Nyonya Lee lembut.

                “Semua pergi ke Hyeseong Highschool. Mereka akan tetap bersama, tanpa aku.” Hyuri lirih.

                “Babo! Jinja baboya! Itu hanya masalah teman. Selain dirimu pasti ada murid lain yang juga ditransfer ke Hwaseong Academy kan? Sering aku katakan padamu, bergaulah dengan banyak orang, jangan hanya monoton dengan gengmu. Sekarang apa kau paham maksudku?” Junho terlihat emosi mendengar keputusan Hyuri. “Sadarlah, ini bukan akhir, tapi inilah awalnya.”

                Hyuri terdiam lalu teringat pada kejadian siang tadi di pinggir lapangan sepak bola SMA Maehwa. Sosok Magi kembali muncul dalam ingatan Hyuri.

                “Song Hyuri.” panggil Tuan Lee yang segera membuyarkan lamunan Hyuri.

                Hyuri mengangkat kepala dan menaruh perhatian –penuh pada Tuan Lee.

                “Kami sebagai orang tua sangat bahagia mendengar berita ini. Anak gadis kami terpilih masuk Hwaseong Academy. Ini benar-benar membanggakan. Aku mohon, pikirkan kembali. Timbang ulang keputusanmu. Apa kau benar-benar ingin mundur? Apakah ini pilihan yang benar? Apa nanti kau tak akan menyesalinya? Ini tentang langkah awal bagi dirimu dan masa depanmu. Selamanya apa kau ingin tetap bekerja pada Junho? Menjadi pengantar susu dan koran setiap pagi? Kau tak ingin merubah nasibmu barang sedikit saja? Coba pikirkan lebih dalam lagi, kenapa seorang gadis miskin, yatim piatu yang kabur dari rumah orang tua asuhnya ini justeru yang terpilih ditransfer ke sekolah terbaik nomer satu di Wisteria Land ini? Terlintaskah kau akana rencana indah-Nya untukmu? Lalu kau akan mundur begitu saja sebelum maju? Begini apakah pantas kau menyebut dirimu ksatria seperti Chrysaor dalam artian sebenarnya?”

                Hening. Hyuri terdiam membalas tatapan Tuan Lee. Nyonya Lee dan Junho menatapnya.

                “Ini permintaan seorang ayah kepada anak gadisnya. Tolong pertimbangkan kembali pilihanmu.” Tuan Lee tersenyum. Senyuman yang selalu membuat Hyuri tenang dan seolah benar menjadi putri dari keluarga Lee ini.
***

                Sepanjang perjalanan pulang kata-kata Tuan Lee terniang di telinga Hyuri. Ia terus memikirkannya. Hyuri di rundung bimbang. Entah berapa kali ia mendesah. Membuang napas panjang.


                “Terus mengehela napas sepert itu tak akan membuat bimbangmu hilang.”

                Hyuri mengangkat kepala. Sedikit terkejut mendapati si gadis aneh Rosmary Magi berdiri di tepi jalan menuntun sepeda. Hyuri mengamati Magi dari atas ke bawah. Kemudian ia teringat pada gadis yang malam itu melintas, mengayuh sepedanya penuh semangat di jalan di depan rooftop tempat Hyuri tinggal.

                “Wae...? Merasa Deja Vu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Iya, kita pernah bertemu. Siang tadi di lapangan sepak bola. Sebenarnya aku sering memperhatikanmu. Sayangnya kau terlalu acuh pada sekitar.” cerocos Magi.

                Hyuri bersikap cuek dan kembali berjalan.

                “Tolong pikirkan ulang!” Magi sedikit berteriak.

                Hyuri bersikap seolah tak mendengar teriakan Magi. Ia tetap berjalan pergi.

                “Ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Ada rencana indah bagi kita.” imbuh Magi dan masih tak digubris Hyuri. “Aku tak akan berhenti mengganggumu sampai kau setuju untuk pergi!”

                Hyuri menghentikan langkahnya. Magi masih bertahan di tempat ia berdiri. Jarak beberapa langkah dari Hyuri berhenti. Magi menelan ludah menatap punggung Hyuri. Hyuri membalikan badan, kembali menghadap Magi.

                “Kau pikir siapa dirimu?” tanya Hyuri angkuh.

                “Aku Rosmary Magi. Semua orang yang bertemu denganku pasti akan mengingatku, tak terkecuali kau! Song-Hyu-Ri!” Magi dengan nada menekan dan tanpa ragu membalas tatapan tajam Hyuri.

                Hyuri masih menatap tajam Magi selama beberapa detik. “Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan.” Hyuri kembali membelakangi Magi.

                “Pengecut!”

                Hyuri batal melangkah. Ia kembali menatap tajam Magi.

                “Kau hanya seorang pengecut yang takut menghadapi kenyataan! Kau hanya pengecut yang sombong dan merasa hebat. Karena Chrysaor? Kau tidak bisa tanpa mereka? Begitukah sikap ksatria yang sebenarnya? Ok! Aku salah menilaimu. Salah menilai seorang Silence Viscaria! Baiklah. Lakukan apa saja yang ingin kau lakukan.” Magi menaiki sepedanya dan meninggalkan Hyuri.

                Hyuri berdiri tertegun di tengah jalan yang sepi. “Hah!” Hyuri kembali menendang udara membuang kesalnya. “Pengecut? Hash!” umpatnya kesal.
***

                Hyuri berjalan menuruni tangga pagi ini. Bersiap berangkat sekolah.

                “Annyeong!” sapa Magi ramah sambil melambaikan tangan kanannya. Ia sudah berdiri di ujung tangga terbawah menyambut Hyuri.

                Hyuri terkejut sampai hampir terjatuh. Hyuri kembali bersikap angkuh menutupi keterkejutannya.

                Magi menarik senyum lebarnya dan menurunkan tangan kanannya.

                Hyuri berjalan angkuh melewati Magi  yang berdiri memengan sepedanya begitu saja.

                “Mianhae! Soal semalam.”  teriakan Magi ini pun diacuhkan Hyuri. Magi menghela napas. Ia kemudian berjalan menuntun sepedanya di belakang Hyuri.

                Hyuri tetap berjalan angkuh mengacuhkan Magi yang membuntuti di belakangnya. Di ujung gang teman-teman Hyuri, geng Chrysaor sudah menunggu. Hyuri berlari menghampiri Amber, JB, Kris dan Rap Monster. Magi menghentikan langkahnya menatap geng Chrysaor berjalan bersama. Magi kembali menuntun sepedanya setelah geng Chrysaor berjalan lumayan jauh di depannya.
***

                “Dia tidak hanya aneh, tapi juga gila. Menurutku.” Junki menatap keluar jendela.

                “Harusnya ini tugas Sonsaengnim kan?” tanya Suri.

                “Nee...?” Junki menoleh, melotot menatap Suri.

                Suri tersenyum geli lalu menatap keluar jendela. “Hah! Anak itu.” keluh Suri melihat di luar sana Magi terus mengekor di belakang Hyuri walau Hyuri mengabaikannya.

                “Apa dia tak lelah melakukan itu? Jika Song Hyuri tak mau bergabung ya biarkan saja. Itu haknya untuk memilih bukan?”

                “Aigo! Hanya sampai di sini nyali Sonsaengnim? Harusnya Sonsaengnim yang membujuk Song Hyuri agar ia mau bergabung. Bukan Magi.”

                “Maju atau mundur, menolak atau menerima keputusan transfer adalah hak asasi tiap murid.”

                “Seorang guru tertampan dan teladan di SMA Maehwa ini, pantaskah mengatakan hal itu?”

                Junki terdiam. Ia tahu ia salah. Ia menunduk. “Ini... juga membebaniku.” ucapnya lirih.

                “Beban kita sama. Ditimbang dari segi apapun tetap sama karena dari sinilah asal kita. SMA Maehwa. Karena itu kemarin Bapak Kepala Sekolah mengumpulkan kita. Itu sama saja dengan, ayo bergandengan tangan, kalian harus membentuk pondasi kuat, kekuatan yang harus kalian bawa untuk memasuki Hwaseong Academy. Kekuatan dari SMA Maehwa.” Suri tersenyum masih menatap keluar jendela. “Pondasi kita harus kuat karena kita kaum minoritas yang akan memasuki kaum mayoritas. Ini tak akan mudah bagi kita.”

                Junki memperhatikan Suri yang berdiri di samping kirinya. Kemudian Junki tersenyum. Ia salut pada tekad dan rasa solidaritas yang dimiliki Suri.

                “Ah! Betapa kerennya jika Hyuri mau bergabung. Seperti Charlie’s Angels.” Suri tersenyum geli. “Maehwa’s Angels.”

                “Charlie’s Angels? Maehwa’s Angels?”

                “Nee. Aku, Magi dan Hyuri sebagai Angels, Lee Junki Sonsaengnim Bosly dan Bapak Kepala Sekolah Charlie. Misi kita di dalam Hwaseong Academy.”  Suri menoleh tersenyum pada Junki yang menatapnya.

                Junki tersenyum menggelengkan kepala.
***

                Hyuri bersembunyi di antara rak-rak yang berjajar ketika melihat Magi memasuki Swallow DVD’s Rental. Hyuri perlahan mengintip, memperhatikan Magi yang sedang mengobrol bersama Junho yang menjaga kasir. Magi terlihat memberikan sesuatu pada Junho lalu pamit pergi. Hyuri masih mengamati dalam persembuyiannya. Memastikan Magi benar-benar pergi meninggalkan Swallow DVD’s Rental. Hyuri bernapas lega dan keluar dari tempat persembunyiannya.

                “Tega sekali menghindarinya. Dia gadis yang baik. Wae?” tanya Junho.

                “Dia itu mengerikan. Seharian ini mengikuti kemanapun aku pergi.”

                “Hanya untuk membuatmu setuju bergabung kan? Aku salut pada kegigihannya menakhlukanmu. Berani taruhan, kau pasti kalah.”

                “Ish! Whatever.”

                “Dia mengatakan terlalu lelah hari ini terus mengejarmu. Dia menitipkan ini, memintaku memberikannya padamu langsung dan memastikan kau melihatnya dahulu sebelum membuangnya.”

                “Mwo...?”

                “Wajar jika dia berpikiran begitu kan? Kau kenapa tega sekali bertindak demikian? Ha?”

                “Setuju bergabung sama artinya membuang setahun waktuku di SMA Maehwa.”

                “Dan memilih mundur sama artinya membuang kesempatan emas untuk perubahan nasib seumur hidupmu. Pikirkan. Lebih untung mana?”

                Hyuri terdiam.

                Junho meraih tangan kanan Hyuri dan meletakan brosur yang ditinggalkan Magi di atas telapak tangan Hyuri. “Tolong pikirkan kembali pilihanmu, Song Hyuri. Ini permintaan seorang bos pada bawahannya, permintaan seorang teman baik, permintaan seorang kakak pada adiknya.” Junho menepuk pundak Hyuri sebelum pergi.

                Hyuri duduk di belakang meja kasir. Dibukanya brosur pemberian Magi. Brosur lengkap tentang Hwaseong Academy. Hyuri membacanya. Detail Hwaseong Academy dijelaskan singkat dalam brosur.

                “Hwaseong tapi kenapa identik dengan warna kuning? Bukan merah?” gumam Hyuri.

                “Annyeong!”

                Hyuri terhenyak. Mengangkat kepala menatap pemuda yang tiba-tiba sudah berdiri di depan meja kasir.

                “Jeosonghamnida. Aku mengejutkan Nuna.” Pemuda tampan ini meminta maaf dengan sopan.

                “Aniya.” Hyuri tersenyum. “Ada yang bisa aku bantu?”

                “Aku Jung Sungha, adik dari Jung Daehyun. Hari ini Daehyun Hyung memintaku mengembalikan DVD yang ia sewa tempo hari dan mengambil kembali kartu pelajar milik Daehyun Hyung.”

                “Kau adik Jung Daehyun?” Hyuri terlihat tak percaya.

                “Nee. Wae, Nuna?” Sungha menatap heran Hyuri.

                “Aniya. Hehehe.” Hyuri kembali tersenyum. “Setan itu memiliki adik malaikat. Dunia.” gumam Hyuri lirih. “Mohon tunggu sebentar.” Hyuri memeriksa DVD yang dikembalikan Sungha. “Ok. Lengkap. Tunggu sebentar.”Hyuri sambil kemudian mencari kartu pelajar milik Daehyun. Hyuri menemukan kartu pelajar milik Daehyun dan membacanya.

                “Jung Daehyun sekolah di Hwaseong Academy...?” Hyuri dengan suara sedikit keras.

                Sungha terkejut. “I-iye.” jawabnya terbata. “Wae, Nuna?”

                “Oh, anee. Hehehe. Mian.” Hyuri benar terlihat bodoh di depan Sungha. “Terima kasih sudah menyewa di rental kami. Jangan kapok untuk kembali.” Hyuri membungkukan badan.

                Sungha membalas, membungkukkan badan lalu buru-buru pergi.

                “Huft...” Hyuri meniup poninya. Ia merasakan panas di sekujur tubuhnya. Ini cukup memalukan bagi Hyuri.

                “Jung Daehyun bersekolah juga di Hwaseong Academy. Apa ini tak cukup juga untuk membuatmu setuju bergabung?”

                Hyuri kembali dibuat terkejut oleh kehadiran Magi yang muncul secara tiba-tiba. Hyuri melotot menatap Magi yang sudah berdiri menyandarkan punggung di dekat pintu masuk rental.

                “Iya, ini aku. Dari tadi aku di sini, mengamatimu. Bahkan aku tahu keu bersembunyi dan menghindari aku.” kata Magi menjawab semua pertanyaan yang ditunjukan oleh ekspresi Hyuri. “Kau menyukai Jung Daehyun?”

                “Mm-mwo...? Setan itu...?”

                “Setan...?”

                “Ini bukan urusanmu!”

                “Tampaknya benci sekali. Kau tak ingin balas dendam?”

                “Mwo...? Kau!”

                “Besok. Usai sekolah. Di kedai ujung gang sekolah. Jika kau berubah pikiran.” Magi kemudian menuntun sepedanya dan pergi.

                Hyuri masih menatapnya dari dalam Swallow DVD’s Rental.
***

                Junki terlihat tak nyaman duduk di dalam kedai yang hampir seluruh penghuninya adalah murid-murid SMA Maehwa. Ia gusar mengamati sekitar. Junki tersentak kaget ketika posisinya kembali lurus. Magi sudah duduk tepat di hadapannya dan menatapnya dengan tatapan lurus, kosong.

                “Sej-sejak kapan kau duduk di sana?” tanya Junki masih dengan ekspresi terkejut.

                “Baru saja.”

                Junki menenangkan dirinya kembali. “Kenapa memilih tempat ini? Apa ini tempat favoritmu?”

                “Sonsaengnim antusias apa penasaran? Datangnya awal sekali.”

                “Mwo...? Eum, hanya tak ingin kalian menunggu lama.”

                “Ini bukan tempat favoritku.”

                “Han Suri...?”

                “Aku tak tahu.”

                “Song Hyuri...?”

                “Monster itu suka di duduk-duduk di sini tanpa kerjaan...?”

                Junki memendam rasa geramnya yang memuncak menanggapi sikap Magi. “Lalu kenapa kau memilih tempat ini? Banyak tempat yang lebih nyaman untuk ngobrol daripada ini.”

                “Bukankah ini paling sesuai dengan kantong pelajar? Eiy, Sonsaengnim merasa tua...?”

                “Mm-mwo...?”

                “Annyeong hasimnikka.” Suri datang, memberi salam, menyela adu mulut Junki dan Magi. “Maaf terlambat.” Suri kembali membungkuk meminta maaf.

                “Sonsaengnim datang paling awal. Entahlah. Sepertinya begitu antusias atau penasaran.” jawab Magi.

                “Benarkah...?” Suri menatap Junki. Ia menemukan ekspresi kesal di wajah tampan Junki. “Sonsaengnim sepertinya bosan.”

                “Duduklah! Mau pesan apa?” Magi menatap Junki. “Eum... bagaimana kalau kita beradu makan tteubokki pedas? Level tertinggi?”

                “Mm-mwo...?” mulut Junki membulat.
***
                Magi tersenyum puas saat keluar kedai. Suri yang menyusul di belakang Magi menunjukan ekspresi yang sama. Paling belakang ada Junki, muncul sambil memegang perutnya. Wajahnya memerah dan kedua matanya masih berair sisa tangisnya di dalam sana ketika harus beradu makan tteuboki dengan level pedas tertinggi.

                “Sonsaengnim baik-baik saja?” tanya Suri khawatir menyambut Junki.

                Junki melambaikan tangan kanannya, memberi kode jika ia baik-baik saja sambil berusaha menghilangkan rasa pedas yang masih mencekat erat dalam mulutnya.

                “Minum banyak air putih saja.” saran Magi menatap datar Junki.

                “Kau ini manusia bukan?” tanya Junki.

                Suri menahan tawanya melihat Junki dan Magi. Suri menarik senyumnya melihat Hyuri datang mendekat. Junki dan Magi turut menatap Hyuri yang baru sampai setelah satu jam pertemuan berlalu.
               
                Hyuri menghentikan langkahnya jarak beberapa langkah dari tempat Junki, Magi dan Suri berada. Hyuri menatap Junki, Magi dan Suri. Diam selama beberapa detik. Lalu Hyuri maju dua langkah.

                “Jeosonghamnida.” Hyuri membungkukkan badan.

                “Kau berniat meledek?” Magi kesal. “Pesta telah usai. Untuk apa kau datang?” imbuhnya ketus.

                “Magi!” Junki menyela.

                “Jadi kapan kita pergi ke Hwaseong Academy?” Hyuri menunjukan senyum terbaiknya.

                “Jadi kau setuju bergabung...?” Suri sumringah. “Ini hebat! Kita akan benar-benar menjadi Maehwa’s Angels. Iya kan Sonsaengnim?” Suri antusias.

                “Aku pergi!” Magi mengambil sepedanya yang terparkir di dekat kedai dan mengayuhnya pergi.

                Hyuri menatapnya dan terlihat merasa bersalah.

                “Nanti dia juga akan kembali seperti semula. Sangat tak bisa ditebak. Tak perlu kau khawatirkan.” Junki menenangkan Hyuri.

                Hyuri tersenyum lesu dan mengangguk.
***
                Hyuri dan Suri berjalan beriringan. Sama-sama diam.

                “Dia pasti sangat marah padaku.” Hyuri memecah kebisuan.

                “Magi...? Aku rasa tidak.”

                “Kau cukup mengenalnya?”

                “Tidak juga. Aku rasa dia buru-buru menuju jalan Elder Flower.”

                “Jalan Elder Flower...?”

                “Em.” Suri mengangguk daan menghentikan langkahnya. “Aku pun berencana ke sana. Kau mau ikut?”

                “Un-tuk apa...?”

                “Agar kau tahu apa yang dilakukan Magi di sana. Ayo!” Suri menggandeng tangan Hyuri dan menuntunnya pergi.

                Sepanjang perjalanan Suri menggandeng tangan Hyuri. Hyuri tiba-tiba tersenyum melihat bagaimana Suri yang berjalan memimpin di depannya menuntunnya. Hyuri diam dan menurut saja. Jika langkah Suri cepat bahkan sedikit berlari, Hyuri pun demikian. Langkah Suri mulai pelan, Hyuri pun demikian. Suri masih menuntun Hyuri, berjalan pelan mendekati kerumunan orang di taman di jalan Elder Flower.

                “Oh, maaf.” Suri melepas pegangannnya pada tangan kiri Hyuri ketika sadar Hyuri menatapnya sambil tersenyum. “Kenapa kau menatapku demikian?”

                “Kugjungma. Aku normal kok.” jawab Hyuri santai.

                Suri menertawakan dirinya sendiri. “Mian. Jinja mianhaeyo. Otakku ini benar payah. Ayo ikuti aku!” Suri memimpin menembus kerumunan. Hyuri mengekor di belakangnya.

                “Ah, itu dia!” tuding Suri ke tengah kerumunan.

                Hyuri sampai dan berdiri di samping kiri Suri. Ia menemukan Magi sedang bercerita di tengah kerumunan. Hyuri memperhatikan Magi yang bergerak kesana-kemari sembari mendongeng pada kerumunan massa yang mengerubutinya. Hyuri tersenyum kecil melihatnya.

                Suri menoleh dan menemukan senyum di wajah Hyuri. Suri turut tersenyum melihatnya. Suri mengalihkan pandangan  kembali menatap Magi. Belakangan ini Suri rajin menonton pertunjukan Magi. Suri melayangkan pandangannya pada para penonton. Lagi-lagi ia menemukan pemuda berambut blonde itu;L.joe.

                “Dia penggemar setianya ya?” gumam Suri lirih.

                “Nee...?” Hyuri menoleh, menatap kaget pada Suri.

                “Hehehe. Anee, anee.” Suri kembali menatap ke arah Magi.
***
                “Selalu sukses.” Suri berjalan mendekati Magi yang berkemas. Hyuri mengikuti di belakangnya. “Kenapa tak memakai nama panggung?” lanjut Suri penasaran.

                “Namaku sudah bagus.” Magi melirik sinis pada Hyuri. “Untuk apa merubah nama ketika menyebar ketenaran.”

                Hyuri cemberut mendengarnya.

                Suri serba salah menatap Hyuri lalu Magi. “Eh, aku juga punya nama tenat di Cypress. Eglantine Suri. Nama tenar atau nama julukan itu terkadang perlu juga kan? Dan siapapun sah-sah saja menggunakannya.” Suri bermaksud menengahi.

                “Aku juga.” Magi selesai berkemas, menyangklet tas dan menuntun sepedanya.

                Suri menyeret Hyuri untuk bergegas mengikuti langkah Magi.

               
                Sepanjang perjalanan lebih banyak diam. Sesekali Suri bicara memecah kebisuan namun masih saja terasa kaku.

                “Jadi kita berpisah di sini?” Suri masih menjadi pencair suasana. Ketiganya berhenti di perempatan.

                “Sekolah akan dimulai Senin nanti. Kalau besok kalian ingin melihat calon sekolah baru kita, di sini jam 7 pagi aku tunggu kalian.” Magi datar.

                “Pagi sekali...” keluh Suri.

                “Semakin siang semakin banyak mata di sana. Sekolah itu tak pernah sepenuhnya libur dan kosong. Ada saja kegiatan murid. Harusnya jam 7 pagi kita sudah di sana. Aku memberi kalian tenggang waktu untuk menyelesaikan tugas pagi masing-masing.”

                Hyuri mengangguk paham. Suri pun sama.

                “Aku pergi!” Magi pamit dan pergi lebih dulu.

                Suri tersenyum menatap Magi yang berjalan menjauh lalu menaiki sepedanya. “Aku rasa ini akan sangat menyenangkan. Kau mulai menikmatinya. Aku pergi.” pamit Suri pergi ke arah berlawanan dari arah Magi pergi.

                Hyuri tersenyum dan membalikan badan lalu berjalan pergi meninggalkan perempatan.
***
                Walau tak terlambat, tetap saja Hyuri datang paling akhir. Magi berjalan memimpin membawa ketiga rekannya menuju Hwaseong Academy. Setengah jam berjalan kaki dari perempatan, mereka pun sampai di depan komplek bangunan Hwaseong Academy. Ketiganya berdiri tak jauh dari gerbang utama dan menatap megahnya bangunan Hwaseong Academy.

                “Kita... kita tidak sedang bermimpi kan?” Suri terkesima. “Benar kita akan sekolah di sana mulai Senin ini?” Suri masih menatap takjub bangunan megah di hadapannya. “Kita tidak sedang main drama TV kan...?”

                Hyuri tersenyum menatap Suri.

                “Ini penjara.” celetuk Magi. “Harus mencari tahu benar tentang penjara ini.” imbuhnya.

                “Penjara...?” Suri keheranan menatap Magi.

                “Begitu rapat penutup di sana-sini. Apalagi kalau bukan penjara? Seperti ketakutan murid-murid akan kabur saja.”

                “Ey, semua sekolah bagus dan mahal memang begitu kan? Apalagi ini, Hwaseong Academy. Sekolah terbaik nomer satu di Wisteria Land. Sekolah yang dipantau langsung oleh kerajaan.”

                “Sama saja. Aku rasa kita harus  memegang si Kepala Sipir agar kita mendapat sedikit kelonggaran di ikat pinggang seragam kita.”

                “Ish! Anak ini! Kau mau sekolah apa mau kudeta?”

                “Dua-duanya.”

                “Aku salut pada niatmu itu. Tapi kita ini orang baru dan terlebih murid SMA Maehwa, yang ada pasti banyak kesulitan yang kita akan hadapi di sana. Walau Lee Junki Sonsaengnim ada bersama kita, kedudukan kita sama. Jadi jangan berharap lebih.”

                “Siapa yang akan menggunakan pria lemah itu.”

                Suri dan Hyuri kompak melotot mendengarnya.

                “Belum maju pondasi kalian sudah lemah begini, bagaimana menghadapi teror di dalam sana? Harusnya begini, apapun yang terjadi, apapun kesulitannya, aku tak akan menyerah. Karena aku murid SMA Maehwa, akulah yang terkuat. Aku kuat menghadapi semua ini. Tak terkecuali!”

                Suri tersenyum kagum menatap Magi. Hyuri pun tersenyum mendengarnya.

                “Kau benar! Kita harus kuat!” Suri merangkul Hyuri dan Magi yang berada di samping kanan dan kirinya. “Selama kita bersama dan menopang satu sama lain, aku yakin sesulit apapun itu yang menanti kita di dalam sana, kita pasti bisa menghadapinya.” Suri tersenyum penuh keyakinan dan kebanggaan menatap megahnya bagunan Hwaseong Academy. “Karena kita adalah Maehwa’s Angels.”

                Hyuri menahan tawa mendengarnya.

                “Wae...? Kenapa kau tertawa...?” protes Suri.

                “Sungguh itu menggelikan.” Hyuri masih menahan tawanya.

                “Tapi cocok kan...?”

                “ASH.” celetuk Magi.

                Suri dan Hyuri kompak menoleh menatap Magi.

                “Arrogant, Sanguine and Hazy. Song Hyuri, Han Suri and Rosmary Magi. Arogan, Periang dan Aneh.”

                “Woa! Keren! Daebak! Aku suka! Jadi Hyuri leader kita..?” Suri antusias.

                “Apa karena namanya disebut di depan dia berhak jadi leader?” Magi baik bertanya membuat Suri serba salah.

                “Aku juga tak ingin jadi leader! Kau saja yang merasa hebat yang pantas menjadi leader!” Hyuri sedikit emosi.

                “Aku tak merasa hebat. Apa aku terlihat demikian? Bukankah itu kau? Song Hyuri? Kau merasa hebat karena kedudukan dan pamormu dalam Chrysaor.”

                “Sudah! Sudah! Kalian selalu saja tak akur!” Suri menyela.

                Magi dan Hyuri masih saling menatap tajam. Tiba-tiba Magi tertawa geli membuat Suri dan Hyuri keheranan.

                “Di dalam sana, mungkin lebih kejam dari ini yang akan kita alami. Tetaplah kuat. Teman-temanku.” Kata Magi tersenyum manis. “Mianhae.”

                “Kau ini!” Suri kesal.

                “Ayo kita pergi! Mulai berdatangan dan kita akan menarik perhatian mereka. Ini tak akan menjadi kejutan lagi nanti.”

                Suri merangkul Hyuri menyusul langkah Magi.
***
                Hyuri dan Suri duduk berdampingan di bangku taman menatap Magi yang asik bermain bersama anak-anak di taman bermain. Gadis itu terlihat ceria, bercanda seolah tak ada beban dalam hidupnya. Suri dan Hyuri sama-sama iri menatapnya.

                Junki yang baru sampai di depan Hyuri dan Suri duduk turut menatap Magi. Junki tersenyum melihat tingkah Magi. “Jadi kalian sudah lama di sini?”

                “Oh, Sonsaengnim.” Suri bangkit dari duduknya diikuti Hyuri.

                “Annyeong!” Magi kembali bergabung.

                Junki tersenyum menatap tiga gadis cantik di hadapannya. Lalu ia mengulurkan kedua tangannya yang memegang tiga buah tas plastik. “Ada nama masing-masing kalian di sana.”

                Suri meraih tas plastik itu dan membagikan sesuai nama. “Woa! Seragam Hwaseong Academy!” seru Suri riang mengintip isi dalam tas plastik itu.

                “Bapak Kepala Sekolah tak ingin kalian terlihat berbeda dengan murid Hwaseong Academy yang lain, karenanya beliau menghadiahkan ini untuk kalian.” terang Junki.

                “Wah, kita harus berterima kasih pada Bapak  Kepala Sekolah karena telah memberikan seragam baru ini untuk kita.” kata Suri.

                “Jadi kalian siap untuk Senin nanti?” tanya Junki.

                “Siap!” jawab Hyuri, Magi dan Suri kompak.
***

Kita akan jadi kuat bersama-sama. Melawannya.

-------TBC--------

Keep on Fighting
shytUrtle
 

Search This Blog

Total Pageviews