Fan Fiction FF

¤ HWASEONG ACADEMY -Love, Music and Dreams- (화성 아카데미-사랑, 음악과 꿈-) ¤

05:27

¤ HWASEONG ACADEMY -Love, Music and Dreams- (화성 아카데미-사랑, 음악과 꿈-) ¤

 


 


. Judul: Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
. Revised Romanization: Hwaseong Akademi ’salang, eum-aggwa kkum’
. Hangul: 화성 아카데미’사랑, 음악과 꿈’
. Author: shytUrtle_yUi
. Rate: Serial/Straight

 Episode #3



Daehyun mengendap-endap mendekati Taemin yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya. “Taemin!!!” panggil Daehyun sambil memegang bahu sahabatnya itu.
“Omo!” Taemin tersentak kaget. “Daehyun! Kau ini!”
Daehyun terkekeh melihat ekspresi kaget Taemin. “Ma’af… ma’af…” kata Daehyun di sela tawanya. “Apa yang kau lakukan? Oh, YOWL?”
“Iya, YOWL. Kenapa?”
“Kau… tertarik pada mereka? Dewa Kegelapan itu?”
“Rumor tentang member kelima YOWL cukup menghebohkan murid-murid Hwaseong Academy, aku penasaran siapakah member kelima YOWL itu.”
“Dan kita lihat apa yang kau temukan.” Daehyun ikut menatap laptop Taemin.
“Tidak ada. Dalam akun resmi YOWL tidak ada foto asli member kelima. Coba lihat, semua hanya berisi gambar anime dan boneka, gothic.”
“Hitam, gelap, tapi bercahaya ckckck… Besok pasti akan sangat sibuk. Oh…” Daehyun membaca pesan singkat yang baru saja memasuki inbox-nya. “Taemin, aku pergi dulu.” Pamitnya.

Seorang pelayan mengantar Daehyun ketika ia sampai di rumah sepupunya, Jinwoon. Daehyun pun masuk ke kamar Jinwoon. “Hyung!” panggil Daehyun. “Oh, Sunbaenim.” Daehyun segera membungkuk memberi salam.
“Annyeong.” Sapa Joonghun –Choi Joonghun- yang sedang asik bermain game.
‘Kenapa Joonghun Sunbaenim ada disini juga? Lalu kenapa Jinwoon Hyung meminta ku kemari?’ gumam Daehyun dalam hati.
“Kau sudah datang.” Jinwoon memasuki kamarnya.
“Nee, Hyung. Ada apa meminta ku kemari?”
“Apa kau menemukan sesuatu?”
“Nee?? Tentang apa??”
Jinwoon tersenyum simpul dan terlihat kecewa.
***

Ai berdiri di depan gerbang Hwaseong Academy yang masih tertutup rapat. Hawa dingin pagi ini sama sekali tak mengusiknya hingga 10 menit berlalu. Kemudian seorang pria paruh baya muncul dan membuka pintu gerbang. Ai berjalan mendekat dan berhenti di dekat pria paruh yang telah membuka setengah dari gerbang.

“Paman terlambat 10 menit dari jadwal. Aku berdiri disana selama 15 menit.” Ai dengan wajah tanpa ekspresinya, datar.
Lee Moonsik mengerjapkan kedua matanya. Ia masih memegang daun pintu gerbang dan menatap heran pada siswi di hadapannya. “Harusnya gerbang di buka 15 menit lebih awal dari jadwal yang di tentukan.” Imbuh Ai yang kemudian berjalan masuk.
“Ck! Siapa dia?! Ini juga sudah pagi. Omo! Apa dia Nona Cucu Ibu Presedir??” gumam Moonsik sendiri.

Ai berjalan menuju bangunan utama sekolah. Para petugas kebersihan sekolah menatapnya heran. Siapakah gadis itu? Kenapa ia berangkat sepagi ini? Ai tersenyum kecil menyadari hal itu dan tetap berjalan dengan tenang. Ai memasuki koridor dan berhenti di depan denah sekolah.
“Tetap saja kalah dari mu.” Kibum baru sampai 10 menit kemudian. Ia berdiri di samping kanan Ai ikut memperhatikan denah sekolah.
“Toilet perempuan kelas X terletak di pojok.” Tunjuk Ai.
“Ish! Kenapa kau selalu mempermasalahkan hal itu? Kau tidak pernah berubah Ai. Dimana-mana memang seperti itu bukan tata letak toilet? Pada umumnya.”
Jieun berlari kecil memasuki sekolah. Buku di tangannya jatuh ketika ia memasuki koridor utama. Ia memungut buku-buku itu dan menoleh kea rah kiri. Jieun selesai memungut buku-bukunya namun masih jongkok memperhatikan dua murid yang berangkat lebih awal darinya di hari pertama sekolah. Kibum menoleh dan menatap gadis yang sedang jongkok dan melihat kepadanya. Kibum dan Jieun saling memandang.
“Ayo!” Ai berjalan pergi. Kibum segera mengikuti langkah Ai.
“Pagi sekali mereka?” gumam Jieun sambil kembali berdiri.
Kibum berjalan di samping kiri Ai, menemani gadis itu berkeliling lantai dasar yang di khususkan untuk murid kelas X. Selesai untuk lantai dasar, Ai menaiki tangga menuju lantai dua untuk kelas XI. Inilah tujuan Ai berangkat pagi-pagi, untuk berkeliling sekolah.
“Ai, jangan katakan kau juga ingin melihat ke tingkat tiga.” Kibum mencoba mencegah Ai yang bersiap menaiki tangga.
“Aku harus memeriksa semuanya!” Ai mengabaikan Kibum dan tetap naik menuju lantai tiga.

Minki berdiri melipat tangan, tersenyum dan mengangguk. “Ck! Apa ini menjadi tradisi baginya di hari pertama sekolah?” gerutu Jaejoong.
“Ingat! Kalian jangan mencarinya!” kata Minki.
“Nee? Kenapa Hyung?” Tanya Jaejoong.
“Ck! Anak ini! Masak begitu saja kau tidak paham?!” cela Minhyuk. “Kontroversi tentang member kelima YOWL bergabung dalam Hwaseong Academy masih ramai di bicarakan, hari ini Ai pasti akan sangat di buru dan jika kita ada bersamanya tidak akan jadi kejutan lagi, tau!”
“Ah! Aku paham hehehe…”
“Ai ingin bermain-main, karenanya kita harus menjaga jarak?” komentar Jaejin. “Umm, ini pasti akan menyenangkan.”
“Benar! Karena itu jangan melakukan tindakan yang terlalu menonjol, kalian paham?” Tanya Minki.
“Araso. Hyung, kami pergi!” pamit Jaejoong di ikuti Minhyuk dan Jaejin. “Apa pribadi Ai terbentuk mengikuti dia?” bisik Jaejoong yang segera mendapat hadiah sikutan Minhyuk. “Dugaan ku benar kan??”
“Wonbin sudah menunggu di sekolah.” Jaejin membaca pesan di ponselnya.

Hwaseong Academy kembali memulai rutinitasnya. Murid senior dan murid baru berbaur. Daehyun berdiri di pinggir gerbang mengamati satu per satu murid yang memasuki sekolah.
“Daehyun? Apa yang kau lakukan disini?” sapa Taemin. “Kau… menunggu seseorang?”
“Aa, aku hanya menunggu Jinwoon Hyung hehehe…”
“Oh. Baiklah, aku masuk dulu!”
“Nee. Sampai jumpa lagi di kelas. Huft…” Daehyun lega Taemin tidak mengintrogasi dirinya. Ia pun kembali memperhatikan murid-murid yang memasuki sekolah. Pandangan Daehyun terhenti di arah seberang. Baru ia sadari jika Wonbin berdiri disana dan menatap lurus padanya. Tatapan dingin dan tajam Wonbin sukses membuat Daehyun salah tingkah dan langsung membuang pandangannya ke segala arah menghindari tatapan Wonbin yang seolah mengadilinya itu.
Jaejoong mengejutkan Wonbin namun seperti biasa ekspresi Wonbin tetap datar membuat Jaejoong sedikit kecewa, selalu demikian. Keempat member YOWL ini berkumpul di dekat gerbang dan sedikit menyita perhatian murid-murid lain. Yiyoung datang bersama Soojung. Jaejoong tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menyapa. Seperti yang sudah terjadi tempo hari, Jaejoong di acuhkan. Jaejoong tak lepas menjadi bahan olokan Minhyuk dan Jaejin sesudahnya. Viceroy tiba tak lama kemudian. Myungsoo menghentikan langkahnya dan di ikuti oleh lima member Viceroy. Kedua kubu ini sempat menatap satu sama lain, kemudian Viceroy pergi lebih dahulu.
“Sepertinya akan semakin memanas.” Komentar Joonghun yang melihat keluar jendela dari lantai III tempat kelasnya berada. “YOWL dan Viceroy.”
Jinwoon menghela nafas. “Orang-orang yang selalu merepotkan.”
“Kenapa orang-orang biasa itu bisa menjadi sangat menyita perhatian?”
“Nee??” Jinwoon menoleh dan menatap Joonghun.
“YOWL. Karena mereka berbeda meskipun mereka orang biasa. Lalu, jika kembali memanas, kau akan mendukung siapa? YOWL atau Viceroy?”
“Kau sendiri?”
“Ess, ini sulit! Siapa yang menarik perhatian ku, aku akan mendukung mereka, sepenuhnya.”

Dewan Senior mengumpulkan murid baru di dalam aula pertemuan yang mampu menampung seluruh murid Hwaseong Academy beserta para staf. Taemin membuka acara, kemudian Son Hyun Joo selaku Kepala Sekolah maju memberikan sambutan. Usai menyampaikan pidato singkatnya, Hyunjoo menyerahkan tanggung jawab kepada Dewan Senior. Hyunjoo dan staf pengajar meninggalkan aula. Viceroy dan Red Venus minus Jieun memasuki aula. Tak lama kemudian keempat member YOWL menyusul masuk. Taemin kembali maju, ia memperkenalkan tentang sekolah dan segala seluk beluk Hwaseong Academy. Joonghun dan Jinwoon masuk ketika Taemin memulai sesi perkenalan. Taemin membawa daftar nama murid baru dari delapan kelas yang sudah di tentukan. Taemin menyebut nama acak dari tiap kelas. Murid yang di sebutkan namanya segera berdiri dan memperkenalkan diri. Taemin sampai pada daftar nama kelas X-F. ia mengamati nama dari atas ke bawah dan jari telunjuk Taemin berhenti di nomer absen tujuh.
“Fu-ji-wa-ra Ayu-mu?” panggil Taemin. Murid baru mulai ribut karena mendengar nama Jepang yang di sebutkan Taemin.
Dewan Senior, Viceroy, Red Venus, Jinwoon dan Joonghun memperhatikan murid baru. Mereka penasaran siapakah yang akan berdiri memperkenalkan diri sebagai Fujiwara Ayumu. Hanya YOWL yang terlihat tenang. Di sa’at murid baru ribut dan para senior di liputi penasaran tiba-tiba seseorang mengangkat tangan. Seperti di komando, semua mata langsung tertuju pada seseorang itu.
“Ma’af…” kata Kibum terbata. “Dia, tidak disini.” Wooyoung yang duduk disamping Kibum langsung menunduk dan menutup wajahnya. Sedangkan keempat member YOWL sontak tertawa.

Moonsik kesal. Ia tak tahu harus berkata apalagi agar gadis ini pergi dari kediamannya. Ai melirik Moonsik lalu tersenyum manis. “Aku akan pergi setelah mereka selesai.” Terang Ai.
“Bukankah seharusnya Nona mengikuti presentasi itu agar Nona lebih mengenal sekolah ini?”
“Aku sudah melakukannya dan cerita tentang sekolah ini sudah memenuhi hari-hari ku, sampai penuh. Duduk di sana, sangat membosankan. Apa Paman kesal pada ku karena peristiwa tadi pagi?”
“Aa, tidak. Hanya sedikit terkejut saja. jadi benar Nona adalah cucu Nyonya Shin?”
“Nenek 75 tahun itu?”
“Non-na?? Menyebut Beliau, Nenek 75 tahun itu??”
“Aku Fujiwara Ayumu, apa ada unsur yang sama dengan Nyonya Shin Min Gi?”
“Fu-fu-ji-wa-ra Ay-yu-mu??”
“Ai, panggil saja aku Ai. Berhenti memanggil ku Nona, aku tidak suka panggilan itu, ok?” Moonsik mengangguk paham. “Paman, aku suka tempat ini dan ini akan menjadi sarang baru ku.”
“Apa?? Sarang??”
-------
“Dia benar-benar menikmati permainan ini.” Minhyuk tersenyum dan menggeleng pelan.
“Menurut kalian, apakah Viceroy sudah menduga hal ini? Member kelima YOWL adalah… Ai??” Tanya Jaejin.
“Itu bukan hal yang sulit.” Jawab Wonbin.
“Sobat, menurut kalian siapa yang menyebarkan rumor itu? Member kelima YOWL bergabung dalam Hwaseong Academy?” Tanya Jaejoong.
“Kibum??” Jawab Jaejin.

Kibum memegang tangan Wooyoung. “Tempat ini sudah ada pemiliknya!” cegah Kibum.
“Benarkah? Aku melihatnya masih kosong!” Wooyoung bersikeras ingin duduk di bangku nomer dua dari belakang dan dekat jendela itu. Ai muncul, menerobos Wooyoung dan Kibum lalu duduk di kursi yang di perebutkan dua pemuda itu. Kibum tersenyum mencibir pada Wooyoung karena merasa menang dari pemuda itu.
“Kemana saja kau?” Tanya Kibum yang sudah duduk di kursi tepat di depan Ai. “Dewan Senior memanggil nama mu, suasana jadi gaduh dan aku terpaksa mengangkat tangan dan mengatakan kau tidak di tempat.”
Ai tersenyum, “arigatou gozaimasu.”
Wooyoung yang duduk tepat di belakang Ai terus memperhatikan Ai dan Kibum. Ia berusaha mendengar obrolan dua teman sekelasnya itu. Ai menyadarkan punggung pada sandaran kursi agar lebih dekat pada Wooyoung.
“Moshi! Moshi! Teisatsu-san!” sapa Ai pada Wooyoung. (Teisatsu 偵察 = pengintai)
Mata sipit Wooyoung melebar mendengarnya. “Mm-mwo??”
“Kau sudah tertangkap! Sebaiknya kau tidak jauh-jauh dari ku.”
“Ap-apa maksud mu??”
Kibum terlihat bingung melihat Ai dan Wooyoung. Dia terus memperhatikan kedua makhluk yang tiba-tiba terlihat seperti sudah saling mengenal sebelumnya. Ai memutar badan dan menghadap Wooyoung. Ai tersenyum kecil, lebih tepatnya mencibir.
“Teisatsu! Mata-mata! Pengintai!” bisik Ai.
“Mm-mwo??!!!”
“Ck! Berlebihan sekali ekspresi mu itu! Jung Eui Chul, dia mengirim mu bukan?”
“Iya, itu benar! Tapi, aku bukan mata-mata. Dan Nona adalah orang yang harus aku lindungi.”
Ai tersenyum dan kembali menghadap Kibum. “Kau mengenalnya?” Tanya Kibum.
“Dia orang kita.”
“Oh.” Kibum mengangguk namun masih mengamati Wooyoung.
-------
Viceroy berkumpul di studio musik sekolah. Minhwan asik menggebuk drum dan Jungshin memainkan bass. Sunghyun duduk berhadapan dengan Myungsoo dan memetik gitar akustiknya. Hanbyul duduk di samping Myungsoo dengan telinga tertutup headphone. Byunghun yang duduk di samping Sunghyun sibuk mencorat-coret kertas di meja.
“Got it!” Byunghun tersenyum bangga. “Fujiwara Ayumu, gadis itu member kelima YOWL.” Semua menaruh perhatian pada Byunghun menghentikan aktifitas masing-masing. “Ai di ambil dari kata Ayumu, Ay. Ai () itu cinta dalam bahasa Jepang. Aku yakin Fujiwara Ayumu adalah member kelima YOWL.”
“Tidak ada pendukung YOWL di sini? Kita butuh memastikannya.” Minhwan sangsi.
“Ish! Anak ini! Kau lihat profil Ai di akun resmi YOWL? Identik dengan Jepang, foto-foto anime dan boneka-boneka yang ia gunakan…”
“Gothic.” Sahut Sunghyun.
“Lalu seperti apa gadis bernama Fujiwara Ayumu itu?” Tanya Hanbyul.

“Tidak ada foto asli, hanya foto anime dan boneka?” Soojung fokus pada tab di tangannya bersama Gyuri.
“Hitam, gelap, gothic. Apa dia benar-benar sesat?” komentar Gyuri.
“Fujiwara Ayumu??” celetuk Chaerin.
“Fujiwara Ayumu?” Tanya Soojung.
“Ada apa dengan Fujiwara Ayumu?” sambung Gyuri.
“SMS Byunghun!” Chaerin menunjukan ponselnya. “Ai tak lain adalah murid baru bernama Fujiwara Ayumu.”
“Apa Byunghun sudah membuktikannya?” Tanya Yiyoung.
“Aa, kita kurang jeli. Aku rasa pendapat Byunghun benar jika Ai adalah Fujiwara Ayumu.” Kata Soojung. “Ai adalah bahasa Jepang dari cinta. Ayumu, Ay adalah Ai. Masuk akal bukan? Ai di sebut-sebut sebagai berkah berkelimpahan, cinta.”
“Wah, itu benar!” Chaerin setuju pada penjelasan Soojung.
“Lalu, seperti apa Fujiwara Ayumu itu?” Tanya Yiyoung, lagi.
-------
“Kau kenapa?” Tanya Taemin pada Daehyun.
“Aniya.”
Taemin menghela nafas dan beralih pada Jieun. “Jieun, apa Red Venus akan ikut andil jika peresteruan YOWL dan Viceroy kembali memanas?”
Jieun rupanya tak mendengar pertanyaan Taemin karena kedua telinganya tertutup headset. Daehyun segera menyikut Jieun. “Nee?? Ada apa??” Tanya Jieun sambil melepas headsetnya. “Ma’af…” Jieun dengan wajah menyesal.
“Red Venus ada di antara Viceroy dan YOWL dan sepertinya babak baru akan di mulai…”
“Aku tidak tertarik!” Potong Jieun. “Sebenarnya hanya Yiyoung yang berada di tengah Jaejoong dan Myungsoo, bukan Red Venus. Apa untungnya juga ikut andil?”
“Dia itu! Ck!” Daehyun tiba-tiba berdecak kesal membuat Taemin dan Jieun kompak menatapnya. “Oh, ma’af. Itu bukan kalian. Aku harus pergi!” Daehyun bergegas meninggalkan kantor Dewan Senior.
Daehyun berjalan sendiri menyusuri koridor sekolah. Ia menangkap sekelebatan sosok Jinwoon dan mengejarnya. “Hyung!” Daehyun merangkul Jinwoon yang tetap bersikap dingin padanya. “Hyung sudah bertemu dengannya?”
“Aku tidak pergi untuk mencarinya dan bertindak bodoh seperti yang kau lakukan pagi ini di depan gerbang.”
“Hyung tidak ingin bertemu dengannya? Kenapa Hyung mencari tahu tentang dia namun sekarang tak ingin melihatnya?”
“Jangan berpura-pura peduli!” Jinwoon menghentikan langkahnya, begitu juga Daehyun. “sebenarnya, kau ini berdiri di pihak siapa?”
“Nee?? Aku??”
“Datanglah ke kelas X-F jika kau ingin bertemu langsung dengannya!” Jinwoon melangkah pergi.
“Hyung! Ah, aku bingung pada orang itu!”
***
Ai sibuk memotong apel merah dan Minki menyantap menu makan malamnya. “Bagaimana hari pertama mu di sekolah?” Tanya Minki.
“Sekolah selalu saja seperti itu, monoton dan membosankan. Hah, bagaimana bisa aku memutuskan untuk mengambil jalan ini?” Ai menyuapkan sepotong apel ke dalam mulutnya.
“Seharian ini kau sibuk melarikan diri, apa itu benar?”
“Aku hanya sedang menyusun strategi.”
“Ish! Strategi??”
“Em! Dan aku berhasil menangkap teisatsu yang mereka kirim.”
“Tei-sat-su??”
“Em! Mata-mata, Euichul Oppa. Menangkapnya di hari pertama sekolah, hebat bukan?”
“Itu bukan mata-mata, tapi bodyguard. Mereka melakukannya karena mereka sayang pada mu.”
“Sayang?? Apa itu istilah lain untuk pembatasan kebebasan? Aku hanya gadis biasa, bukan putrid raja, jadi apa gunanya mengirim bodyguard ke sekolah? Mereka itu kekanak-kanakan sekali.”
“Jung Ji Yoo! Setiap orang tua pasti ingin melindungi anaknya dan melakukan yang terbaik untuk itu. Apa kau tidak lelah terus melarikan diri seperti ini?”
“Aku tidak melarikan diri. Inilah hidup ku dan aku bukanlah anak kecil lagi. Aku sudah punya Oppa disini, bagi ku itu sudah cukup dan aku bahagia dengan jalan hidup ini.”
“Sampai kapan?”
“Em? Mungkin selamanya atau jika salah satu dari kami lelah dan mengaku kalah.”
“Kau ini benar-benar kepala batu!”
“Makanlah Oppa, makan.” Ai tersenyum manis.
-------
YOWL berlatih di studio mini milik mereka. Jaejoong menyanyikan lagu Pieces yang di populerkan SUM 41 dengan apik di iringi permainan musik keempat rekannya. Kelima remaja ini sangat apik membawakan lagu tersebut.
“Besok aku akan menagih janji Myungsoo.” Kata Jaejoong usai latihan. Ai mengambil lollipop di tasnya dan menghamburkannya di meja. “Apa ini??”
“Berhenti merokok dan hidup sehat!” Ai memasukan lollipop ke dalam mulutnya.
“Woa! Ini baik untuk mu, Jaejoong.” Jaejin mengambil satu buah lollipop.
“Dia makin parah sa’at kau pergi!” Minhyuk ikut mengambil satu dan menuding Jaejoong. “Sepertinya dia memang tidak bisa tanpa mu Ai.”
“Ish!” Jaejoong melempar satu buah lollipop pada Minhyuk. “Ai, jangan percaya padanya! Aku sudah menguranginya.”
“Bagaimana tanpa Ai?” goda Jaejin.
“Anak-anak ini!!”
“Janji Myungsoo? YOWL boleh tampil dalam even sekolah dengan lima member jika semua member adalah murid Hwaseong Academy?” Tanya Ai dan Jaejoong mengangguk. “Kenapa terburu-buru? Kau yakin ingin tampil di sekolah itu?”
“Kau sudah resmi menjadi murid Hwaseong Academy, sudah sa’atnya mereka tahu siapa itu YOWL.”
“Em? Hagh! Rileks, pelan-pelan saja. Jangan terburu-buru, maka mereka akan datang sendiri dan menyerah pada mu.”
“Ai, daebak!” Minhyuk memberikan dua jempolnya untuk Ai.
“Hah, terserah kau saja. Oya, apa kalian tahu siapa yang menyebarkan rumor member kelima YOWL masuk Hwaseong Academy?”
“Sudah ku katakan sebelumnya, aku menduga itu ulah Kibum.” Terang Jaejin.
“Wonbin!” Minhyuk menuding Wonbin yang segera menggeleng.
“Itu aku!” jawab Ai dan semua kompak menatapnya. “Butuh pemanasan sebelum perang yang sesungguhnya dan ini manjur, pengunjung akun resmi kita membludak dan Viceroy mendapatkan apa yang mereka inginkan. Adil bukan?”
“Ai benar-benar hebat! Viceroy dengan mudah mendapatkan mu. Hah! Permainan yang licik. Kau serigala sebenarnya!” komentar Minhyuk.
“Pagi tadi Daehyun terus berdiri di gerbang, mengamati murid-murid, aku rasa dia menunggu mu. Apa dia menemui mu, Ai?” Wonbin bersuara juga.
“Jung Dae Hyun?? Untuk apa dia mencari Ai??” Tanya Minhyuk.
“Dia keluarga Jung, bodoh!” cela Jaejin.
“Dia tidak datang mencari ku. Aku hanya menangkap teisatsu yang di kirim Euichul Oppa.” Jawab Ai.
“Teisatsu?? Bodyguard??” Tanya Wonbin.
“Mereka juga mengirimnya ke sekolah? Ada berapa orang?” Tanya Jaejin.
“Mereka itu berlebihan sekali.” Komentar Minhyuk.
“Sampai kapan kau akan terus melarikan diri?” Tanya Jaejoong.
“Kita harus segera mengemasi barang-barang kita!” Ai bangkit dari duduknya. “Besok sore tempat ini harus di kosongkan.”
“Kita bisa menggunakan garasi rumah ku seperti dulu.” Minhyuk ikut berdiri.
“Aku tidak mau!” tolak Ai.
“Nee?? Wae??”
“Ai benar! Aku tidak mau kita di demo lagi dan di anggap mengganggu ketenangan. Tetangga mu itu mengerikan.” Jaejin mendukung Ai.
“Lalu bagaimana?” Tanya Minhyuk.
“Gedung milik Bibi Han, aku pasti akan mendapatkannya!” Ai penuh keyakinan.
“Mwo??” Jaejoong, Minhyuk dan Jaejin kompak.
“Bibi Han? Kau jangan bercanda!” Wonbin juga kaget mendengarnya.
“Tidak. Kalian tahu jika aku menginginkan tempat itu sejak lama dan sekarang waktunya.”
“Kau tahu siapa Bibi Han itu?” Tanya Minhyuk.
“Tentu saja aku tahu. Aku tumbuh berkembang di Jeonggu Dong, aneh jika aku tak tahu siapa wanita hebat itu.”
“Dasar gila!” cela Wonbin.
“Dari dulu aku memang gila. Ayo kita bereskan!”
Jaejoong tersenyum melihat Ai. “Aku senang dia kembali, dan YOWL akan baik-baik saja karena memiliki Ai.”
“Ya! Ayo bantu kami!” panggil Jaejin yang sudah sibuk berkemas bersama Ai dan Wonbin.
“Ma’af aku terlambat.” Kibum berlari masuk.
“Aiya! Kau ini manajer macam apa? Ha? Ayo, kita selesaikan!” Minhyuk merangkul Kibum dan bergabung bersama Ai, Jaejin dan Wonbin.
Jaejoong tersenyum melihat teman-temannya. “Aku bahagia, sangat bahagia. Aku ingin selamanya seperti ini, bersama mereka. Aku cinta kalian, Sobat.” Gumam Jaejoong lalu ia ikut bergabung untuk mengemasi barang-barang YOWL.


-------TBC--------


.shytUrtle_yUi.

 

Fan Fiction FF

¤ HWASEONG ACADEMY -Love, Music and Dreams- (화성 아카데미-사랑, 음악과 꿈-) ¤

20:43

HWASEONG ACADEMY -Love, Music and Dreams-
       (화성 아카데미-사랑, 음악과 -)
 
 

 


 

. Judul: Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
. Revised Romanization: Hwaseong Akademi ’salang, eum-aggwa kkum’
. Hangul: 화성 아카데미’사랑, 음악과 꿈’
. Author: shytUrtle_yUi
. Rate: Serial/Straight
 
 
 
Episode #2

“Kau mau menantang ku, ha?!” Yongbae mengulang pertanyaannya. Yongbae menyincingkan senyum. “Dengarkan baik-baik! Jika kau mengadakan pertunjukan di sini, maka kau harus membayar pajak pada ku!” Gadis itu malah menodongkan tangan kanannya pada Yongbae. Yongbae shock dibuatnya.

“Kalian harus membayar tiket pertunjukan!” kata gadis itu santai.

“Kak-kau!! Ish! Anak ini! Kau cari mati ha?!” bentak Yongbae. “Berani sekali bertingkah di depan ku!”

“Ya!!” teriak Jaejoong berlari mendekat di ikuti Wonbin, Minhyuk, Jaejin dan Kibum. “Huh! Suku Pengacau!” olok Jaejoong yang sudah berdiri di depan Yongbae bermaksud melindungi gadis disampingnya.

“Kenapa kau ikut campur!”

“Aku harus ikut campur, karena dia adalah tanggung jawab ku!”

“Ish! Tanggung jawab?? Pergi dari sini!” Yongbae mendorong dada Jaejoong. “Kim Jae Joong!” Yongbae masih terus mendorong dada Jaejoong.

“HENTIKAN!!” perintah gadis itu tiba-tiba. Yongbae menghentikan gerak tangannya dan beralih menatap gadis yang masih bertahan ditempat ia berdiri.

“Kau, gemar sekali membuat kekacauan!” imbuh gadis itu.

“Ck! Siapa kau berani sekali memerintah ku?!” tantang Yongbae.

“Aku, Fujiwara Ayumu!” ungkap gadis itu sambil membuka topi jaketnya. Mata Yongbae melebar melihat gadis dihadapannya. “Wae? Kau terkejut melihat ku?” Tanya gadis dengan riasan gothic itu.

“Anee! Kenapa kau kembali?! Kau itu selalu saja merusak kesenangan ku dan mengganggu ketenangan ku!” Yongbae menutupi rasa kagetnya.

Ai –Fujiwara Ayumu- memiringkan kepala menatap Yongbae dengan tatapan dan ekspresi datarnya. “Begitukah??”

“Dia sudah pasti terkejut melihat mu!” komentar Minhyuk.

“Berapa kali dia harus menahan malu karena kalah melawan kita!” sambung Jaejin yang kemudian tertawa bersama Minhyuk.

“Kalian pikir kalian hebat, ha?!! Aku sudah lebih kuat sekarang!” Yongbae sambil menepuk dadanya sendiri. “Jangan berlagak paling hebat di depan ku!”

Jaejoong mendekatkan wajahnya pada Yongbae. “Benarkah??” Tanyanya lirih. “Kalau begitu, ayo kita buktikan…”

*THE OFFSPRING- The Kids Aren't Alright*

Ai menendang dada Yongbae. Jaejoong kemudian maju dan menghalau Yongbae yang hendak melakukan serangan balik. Wonbin, Minhyuk dan Jaejin maju dan berkelahi melawan anak buah Yongbae. Kibum mundur dan merapat ke tembok. Ia panik melihat perkelahian antara YOWL dan geng Yongbae. Ai menyunggingkan senyum di bibir tipisnya dan berjalan mundur kemudian kembali naik ke atas tembok dan terlihat menikmati perkelahian di depannya. Kibum mendekati Ai namun gadis itu terlalu asik melihat perkelahian antara YOWL dan geng Yongbae. Kibum segera meraih ponsel di sakunya dan terlihat sibuk mengetik sms.

To Minki Hyung: Tolong! Mereka berkelahi lagi! Dekat gang!

Minki yang baru sampai dan hendak memasuki rumah terkejut membaca pesan singkat yang di kirim Kibum. Minki langsung berlari pergi menuju tempat yang di sebutkan Kibum.

“Ya!!” Minki berlari mendekat dan kemudian membantu YOWL melawan geng Yongbae. Ai tetap tenang duduk menyilangkan kaki diatas tembok. Kibum merapat lebih dekat padanya namun tak ikut naik ke atas tembok.

“Ya! Aku pikir kau telah berubah setelah berkelana!” suara Kibum hampir tak terdengar oleh Ai.

“Sesekali kau juga harus mencobanya, agar kau tahu bagaimana hidup sebagai laki-laki sebenarnya.” Respon Ai tanpa mengalihkan pandangannya pada Kibum.

“Mwo??” Kibum membetulkan letak kacamatanya. “Aku ini laki-laki sebenarnya!”

“Kenapa kau undang dia kemari?” Ai menatap sinis pada Kibum. Kibum tak berani menjawab dan langsung menunduk.

Yongbae dan  ketujuh anak buahnya lari tunggang langgang. Minki mengatur nafasnya yang terengah-engah. Ia berdiri berkacak pinggang di depan Ai. “Cepat turun!” perintah Minki.

“Kenapa Oppa datang di sa’at seperti ini? Kami tidak butuh bantuan, Oppa lihat kan? Kami bisa mengatasinya. Oppa merusak suasana hati ku saja.” bukannya turun, Ai malah mengomel.

“FUJIWARA AYUMU!! APA PERLU AKU YANG MENARIK MU TURUN?!!” Minki dengan wajah serius membuat Ai langsung turun dari singgasananya. “Kenapa kau buat keributan lagi?!”

“Mereka yang memulai dan aku hanya mengikuti permainan saja.”

“Kau!” Minki benar geram namun seperti sebelumnya ia tidak bisa marah lebih dari itu pada Ai. “Kita pulang!” Minki meraih tangan Ai dan menggandengnya pergi.


Jaejoong, Wonbin, Minhyuk dan Jaejin sibuk mengobati luka mereka usai perkelahian. Kibum membantu menyiapkan obat bagi keempatnya dan Ai duduk memperhatikan. Minki muncul membawa sepanci ramen panas.

“Woa~ makan! Makan!” sambut Minhyuk antusias. Kibum beralih membantu Minki membagikan mangkok kepada yang lain.

“Eum, sedap sekali…” Jaejin menghirup asap yang mengepul dari panci yang baru di buka. Ai tersenyum melihat teman-temannya antusias makan bersama, walau hanya ramen instan yang terhidang di meja.

“Ai, kau akan tinggal seperti dulu?” Tanya Minhyuk dengan mulut penuh.

“Em.” Ai mengangguk.

“Itu artinya kita akan bersama lagi?” sambung Jaejin.

“Em.”

“Itu bagus.” Wonbin tersenyum lega.

“Kau akan melanjutkan sekolah? Kau akan masuk Hwaseong Academy?” buru Jaejoong. Semua kompak menatap Ai.

“Aku akan memikirkannya.” Jawab Ai santai.

“Aku akan memikirkannya? Ish!” Jaejoong benar kesal.

“Aku telah menyiapkan pertunjukan pemanasan YOWL.”

“Aku tidak berminat!” tolak Jaejoong.

“Apa begini cara mu menyambut ku setelah aku kembali?”

“Kau egois! Bagaimana dengan kami?! Haruskah kami berlutut dan memohon padamu?!”

“Aku lelah!” Ai bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke kamarnya.

Jaejoong membanting sumpitnya di meja benar kehilangan nafsu makan karena sikap Ai. Kibum menggigit sumpitnya dan menatap Jaejoong kemudian Minhyuk, Jaejin dan Wonbin. Suasana menjadi dingin sejenak. Minki tersenyum melihat teman-teman Ai.

“Bencilah dia sepenuhnya atau percaya padanya sepenuhnya.” Minki memecah kebisuan. Ia kembali tersenyum kemudian beranjak pergi meninggalkan lima pemuda itu.
***

“Mwo??” Wooyoung –Jang Woo Young- merasa salah dengar. Ia terkejut hingga mulutnya membulat dan mata sipitnya melebar. “Sek-kol-lah??” tanyanya terbata, “Hyung tidak sedang bercanda kan??”

Jung Eui Chul tersenyum, “Aku tidak sedang bercanda, Wooyoung. Kau akan masuk Hwaseong Academy dan memulai pendidikan mu tahun ini.”

“Hwaseong Academy?? Hyung, kenapa aku?? Aku tidak mengajukan permohonan beasiswa untuk melajutkan sekolah.”

“Memang tidak. Apa kau ingin selamanya seperti ini? Mengabdi pada ku tanpa dasar pendidikan yang kuat? Setidaknya kau harus lulus SMA. Aku suka pada hasil kerja mu dan aku percaya pada mu karena itu aku memilih mu untuk misi ini.”

“Misi?? Di sekolah??”

“Ini. Datanglah siang ini ke Hwaseong Academy untuk melihat pengumuman dan mengurus administrasi yang tersisa.”

“Hyung…..”


Daehyun –Jung Dae Hyun- berjalan sambil membuka lembaran-lembaran kertas ditangannya. Karena tak fokus memperhatikan jalan, ia pun bertabrakan dengan seseorang. “Oh, Hyung??” Daehyun kaget melihat orang yang di tabraknya.

Jinwoon –Jung Jin Woon- menghela nafas. “Perhatikan jalanmu!”

“Aigoo, Hyung juga tak memperhatikan jalan, karenanya kita bertabrakan. Untuk apa Hyung ke sekolah hari ini?”

Jinwoon memperhatikan kertas ditangan Daehyun. “Apakah itu daftar murid baru?”

“Ini??” Daehyun diam sejenak. “Omo! Hyung??”

“Ikut aku!” Jinwoon menyeret Daehyun.


Kibum berdiri di depan gerbang Hwaseong Academy yang masih tertutup rapat. Di amatinya bangunan megah yang berada di balik gerbang itu. Kibum terpana.

“Kibum~aa!!” Minhyuk datang bersama Jaejin. “Aku mengejutkan mu??”

“Jantung ku hampir lepas. Ada apa kalian kemari?”

“Untuk apa kau berdiri disini?” Jaejin balik bertanya.

“Tentu saja menunggu gerbang di buka untuk melihat pengumuman. Kalian juga datang untuk itu?” Kibum membetulkan letak kacamatanya.

“Ini akan lama. Ayo!” Jaejin merangkul Kibum dan membawanya pergi.


Daehyun menghela nafas. “Jadi karena itu Hyung kemari?”

“Aku hanya ingin tahu apakah dia lolos seleksi atau gagal.”

“Sayangnya daftar murid baru ada pada Taemin dan Jieun, mereka sedang memasangnya kini.” Kata Daehyun enteng membuat Jinwoon menatap kesal padanya. “Ini hanya jadwal kegiatan Dewan Senior hehehe…” Daehyun tersenyum seolah ia tak bersalah walau telah membuat Jinwoon kesal. Jinwoon benar marah pada pemuda di depannya ini.

BRUK! Minhyuk meloncat masuk dan turun tepat di dekat Daehyun dan Jinwoon. Di susul kemudian Jaejin dan Kibum yang sempat terjatuh. Daehyun melongo kaget, Jinwoon pun sama terkejutnya. Daehyun mengamati pemuda asing yang sedang di bantu Jaejin untuk berdiri.

“Kau lihat apa?!” Tanya Minhyuk.

“Anee.” Daehyun segera menunduk.

Minhyuk menatap Jinwoon yang juga menatapnya. Ia tak berbicara apapun begitu juga Jinwoon. Minhyuk, Jaejin dan Kibum pun pergi.

“Astaga…” Daehyun mengelus dadanya.


Daehyun berlari menghampiri Taemin dan Jieun. “Wae??” Tanya Daehyun melihat ekspresi kesal Taemin.

“Mereka merampas satu lembar hasil pengumuman.” Keluh Taemin –Lee Taemin-.

“Kedua member YOWL itu??”

“Nee…”

“Mereka itu benar-benar!” umpat Daehyun.
***

Ai tidak mengamen sendiri malam ini, ada Minki yang menemaninya mengamen di Hongdae. Minki dan Ai sama-sama memainkan gitar membawakan lagu ‘’Patience-Gun n’ Roses’’ lalu Minki mengambil bagian untuk menyanyi. Duet kakak beradik ini lumayan menyita perhatian dan seperti malam-malam sebelumnya beberapa pengunjung segera membentuk kerumunan untuk melihat pertunjukan musisi jalanan ini. Beberapa dari mereka adalah penggemar setia Ai.

Kibum menemui Jaejin dan Minhyuk sesuai janjinya siang tadi. Ketiganya terlihat riang dan buru-buru berlari menuju rumah Wonbin. Minhyuk menunjukan kertas di tangannya pada Wonbin. Wonbin tersenyum lebar dan ikut bersama rombongan Minhyuk. Mereka berempat bergegas menuju kediaman Jaejoong. Jaejoong terlihat lesu dan berjalan dengan langkah malas ketika menemui teman-temannya. Minhyuk menunjukan kertas yang ia bawa pada Jaejoong dan seketika itu wajah Jaejoong berubah ceria. Jaejoong sangat senang dan ia memeluk Minhyuk lalu bergabung pergi. Kelima pemuda ini pergi bersama untuk mencari Ai.

Minki dan Ai mendapat tepuk tangan meriah ketika pertunjukan usai. Keduanya berdiri dan membungkuk ke segala arah.

Jaejoong, Minhyuk, Jaejin, Kibum dan Wonbin tiba di Hongdae. Kelimanya berdiri berjajar menatap ramainya jalan Hongdae. “Kau yakin dia di sana?” Tanya Jaejin.

“Em!” Kibum mengangguk mantab.

“Sobat! Ayo kita cari dia! Dan kita hajar Ai habis-habisan!” Jaejoong berjalan memimpin. Kelimanya menyusuri jalan Hongdae, menembus keramaian untuk mencari Ai. Kibum menunjuk tempat dimana Ai biasa menggelar pertunjukannya. Mereka sampai namun Ai tak nampak disana. Mereka mengawasi sekitar namun sosok Ai tak ada di antara keramaian itu.

“Ck! Dimana dia?!” Jaejoong berkacak pinggang dan kesal. Mata sipit Jaejoong melebar dan senyum terkembang di bibir tipisnya. Jaejoong berlari mendekat. “Annyeong!” sapa Jaejoong.

Empat gadis itu kompak menghentikan langkahnya. Gyuri, Chaerin, Yiyoung dan Soojung kompak menatap Jaejoong, tatapan tak sudi dan merasa terganggu. “Kau menghalangi langkah kami!” kata Gyuri ketus.

“Aku hanya ingin menyapa Tuan Putri.” Jaejoong melirik nakal pada Yiyoung yang langsung membuang muka. Empat gadis itu kembali berjalan melewati Jaejoong yang masih tersenyum. “Apa yang mereka lakukan di Hongdae?” gumam Jaejoong.

“Itu restoran milik Ibu Myungsoo.” Tunjuk Jaejin.

“Myungsoo??” Jaejoong menoleh.

“Ish! Anak ini! Semua sibuk mencari Ai, kau malah sibuk merayu Yiyoung!” cela Minhyuk kesal.

“Ayo kita pergi!” ajak Wonbin.


“Hah! Menyebalkan sekali!” keluh Gyuri ketika tiba di meja tempat Jieun menunggu.

“Ada masalah?” Tanya Jieun.

“Kenapa Myungsoo mengundang kita kemari?” Tanya Soojung.

“Ini restoran milik Bibi Kim.”

“Bibi Kim?? Oh, mianhae, aku tidak tahu. Lalu dimana Myungsoo?”

“Dia baru saja pamit.”

“Kami terlalu lama ya?” Tanya Yiyoung dengan ekspresi kecewa.

“Anee. Tiba-tiba ada panggilan darurat, begitu kata Myungsoo. Dia pergi setelah pertunjukan usai.”

“Pertunjukan?” Tanya Chaerin.

“Nee. Musisi jalanan, kami melihatnya bersama. Eh, kalian mau pesan apa?”

“Wajah mu riang sekali menyebut musisi jalanan itu.” Protes Gyuri. Jieun hanya tersenyum menanggapinya. “Hah, apa yang mereka lakukan disini?”

“Siapa?” Tanya Jieun.

“Jaejoong, YOWL?” jawab Gyuri.


“Isu ini terus berkembang sejak pengumuman tadi siang.” Minhwan menutup penjelasannya. “Jika tadi membicarakan hal ini di depan para gadis itu, bisa gawat.” Imbuhnya.

“Apa yang perlu di khawatirkan?” Tanya Jungshin.

“Tidak ada. Hanya saja bisa jadi sedikit masalah.”

“Apa Sunghyun, Hanbyul dan Byunghun tahu?” Tanya Myungsoo.

“Hanya Byunghun yang memberi respon. Dia mengatakan, dia akan mencari dan menemukan member kelima YOWL itu.”

“Serangan balik??” bisik Myungsoo. “Mereka telah memulainya. Apa kalian siap?”

“Selalu.” Jawab Jungshin tenang.

“Pasti.” Minhwan pun yakin.


Ai dan Minki duduk berdampingan di kursi taman menatap gemerlap lampu kota. Ai tersenyum kecil. “Ada apa?” Tanya Minki.

“Anee.” Minki menghela nafas dan turut tersenyum. “Mulai sekarang, mereka harus percaya satu sama lain.” Minki mengangguk dan kembali menatap gemerlap kota.
***

Jieun memegang gelas berisi teh herbal yang di sajikan untuknya. Ia hanya diam melihat keempat rekannya sibuk bergosip dan mengabaikan dirinya. Pagi ini Chaerin menerima sma Byunghun tentang isu member kelima YOWL yang telah resmi menjadi murid Hwaseong Academy dan pertemuan kali ini untuk membahas hal itu.

“Ma’af, tapi haruskah kita ikut campur?” sela Jieun.

“Mau tidak mau kita psti terlibat!” jawab Chaerin ketus. “Walau sebenarnya hanya Yiyoung, tapi Red Venus tetap saja akan terseret.”

“Sadarkah kau jika pertanyaan mu itu sangat konyol?” cela Gyuri.

“Kau tidak menyadarinya atau pura-pura tidak paham? Atau kau tidak suka?” Tanya Soojung.

“Sudahlah. Aku pribadi sebenarnya tidak terlalu peduli pada perseteruan Viceroy dan YOWL.”  Chaerin menengahi.

“Lalu bagaimana dengan ku?” Tanya Yiyoung.

“Sebaiknya kau hati-hati menjaga perasaan mu. Aku tidak yakin jika Myungsoo benar menyukai mu. Aku khawatir kau terbawa suasana dan ternyata kau hanya di jadikan sebagai alat untuk menyerang Jaejoong.” Saran Chaerin. “Kalau Jaejoong, aku melihat ketulusan, tapi aku yakin kau tidak minat padanya. Aku juga tidak yakin Myungsoo itu tertarik pada seorang gadis, dia itu terlalu dingin.”

“Chaerin! Jaga bicara mu!” bentak Gyuri. “Apa kau pikir Myungsoo itu tidak normal?!”

“Aku hanya mengatakan dia terlalu dingin, bukan tidak normal.” Chaerin membela diri. “Yiyoung, bagaimana jika suatu sa’at Jaejoong berubah menjadi pemuda luar biasa? Kau tidak akan menyesal telah mengabaikannya?”

“Chaerin!!” giliran Soojung membentak. “Orang biasa tidak akan bisa menjadi lebih dari itu! Cinderella dan sejenisnya hanya dongeng jadi berhenti meracau!”

Chaerin bersikap biasa saja melihat kedua rekannya naik darah tentang ocehannya. Jieun menggeleng melihat tingkah rekan-rekannya.


Myungsoo tersenyum kecil melihat tingkah Byunghun dan Minhwan yang tengah berduet di ruang karaoke VVIP yang mereka sewa malam ini.

“Ck! Mereka membuat telinga ku sakit!” keluh Jungshin.

“Biarkan saja mereka menikmati malam mereka, hahg…” Sunghyun menahan tawanya.

“Jadi rumor ini semakin ramai di bicarakan?” Hanbyul sibuk dengan tab di tangannya. “Siapa member kelima YOWL itu?”

“Bukankah ini akan jadi sangat menarik?” komentar Sunghyun. “Mereka telah memulai serangan balik mereka.”

“Yang aku dengar akun resmi YOWL makin ramai.” Minhwan duduk bergabung.

“Mereka punya akun resmi?” Tanya Byunghun.

“Pirang! Matikan mic-mu!” olok Jungshin.

“Ma’af. Jadi YOWL punya akun resmi?” Byunghun mengulangi pertanyaannya dan Minhwan mengangguk membenarkan. “Aigoo, kita terlalu meremehkan mereka. Aa, Myungsoo, setelah ini apa kau akan menepati janji mu? YOWL boleh tampil di even sekolah.”

“Tidak akan semudah itu. Aku ingin bersenang-senang dulu.”

“Anak ini!” Byunghun merangkul Myungsoo.
***

Ai menyimpan lolipop dalam mulutnya. Ia berdiri mengamati seragam yang tergantung di depannya.
“Ada masalah?” Tanya Minki.

“Hwaseong Academy, kenapa serba kuning? Kenapa bukan Geumsong Academy saja?” –Geumsong: venus- “Bukankah ini aneh?”

“Aneh??”

“Hwaseong, mars, merah, Dewa Perang, kenapa bukan merah? Mars planet ke empat namun memiliki lima sisi dan lima warna.” Ai menyetuh emblem pada seragamnya. “Perpaduan menarik, tapi tetap saja aku akan terlihat aneh! Ini tidak sesuai konsep ku! Coba jika merah di padukan dengan hitam.” Ai kembali memasukan lolipop ke dalam mulutnya.

Minki ikut mengamati seragam milik Ai. “Ini normal. Itu karena kau tidak terbiasa memakai warna cerah, lihat saja isi lemari mu! Tidak bisakah kau menjadi seperti Gwen Stefany? Dia bisa beradaptasi dengan segala warna walaupun dia lady rocker.”

“Bagaimana dengan Amy Lee? Dia bisa bertahan dengan baik dalam konsep gothic. Hah… Onni itu benar-benar keren! Tapi aku tidak bisa menyanyikan lagu-lagunya, dan mengikuti suaranya, miris.”

Minki tersenyum lalu mengelus kepala Ai. “Kau hanya kurang serius. Jiyoo, tetap yang terhebat bagi ku.”

“Hehehe… gomawo, Oppa.”

“Tadi kau bilang tidak sesuai konsep mu?” Ai mengangguk. “Kalau begitu dirikan saja Fujiwara Academy dan buat sekolah itu sesuai konsep mu, em?”

“Suatu sa’at nanti.”

Minki tersenyum. “Aku akan selalu mendukung mu. Sekarang waktunya kita bekerja!”

“Nee?? Oppa, kita akan kemana??”

“Pemanasan!” Minki merangkul Ai dan membawa gadis itu pergi.


Penonton antusias mengangkat kedua tangan ke atas dan melompat, bergoyang. Ai mengambil alih posisi Jaejoong dan menyanyikan lagu ‘All The Small Things-Blink 182’ lagu kedua yang di bawakan YOWL malam ini. Ini pertama kalinya YOWL kembali tampil di atas panggung setelah vakum selama delapan bulan karena kepergian Ai meninggalkan Korea. Minki duduk dan terus tersenyum melihat penampilan YOWL.

“Uri shining star YOWL!” Yoo Jae Suk menepuk pundak Minki. “Aku senang mereka kembali bersama. Club kecil milik ku ini pasti akan ramai lagi.” Minki tersenyum dan mengangguk. “Hah.. melihat mereka mengingatkan aku pada mu.”

“Hyung harus terus melihat mereka dan melupakan tentang aku.”

“Sesekali kau bisa tampil bersama mereka. Itu bukan ide buruk kan?”

“Hyung ingin membandingan aku dengan semangat YOWL?”

“Ai tidak memungkiri jika YOWL tumbuh baik karena mu. Sesekali guru dan murid tampi bersama adalah hal wajar.” Minki hanya tersenyum. “Aish! Anak ini! Aa, aku dengar Ai akan kembali sekolah dan dia telah di terima di Hwaseong Academy, apa itu benar?”

“Em! Itu telah menjadi pilihannya.”

Jaesuk menatap YOWL di atas panggung dan tersenyum. “Jaejoong dan yang lain pasti akan sangat senang. Berjuanglah, YOWL!”


“Hu! Ini benar-benar membuat ku hidup kembali!” Jaejoong tersenyum lebar dan terbaring menatap langit malam. “YOWL telah kembali dan kita akan meraung keras memenuhi Hwaseong Academy. Ai ma’afkan aku karena sempat meragukan mu.”

“Aku harus segera mencari gedung baru untuk tempat latihan kita, waktu sewa tempat latihan kita akan segera berakhir.” Jawab Ai.

“Ai, kau sama sekali tidak tertarik membicarakan tentang sekolah?” Tanya Jaejin.

“Hwaseong Academy? Email yang kalian kirim tempo hari membuat ku kenyang akan segala sesuatu tentang sekolah itu. Aku telah memikirkannya.”

“Memikirkannya?? Rencanya balas dendam??” Tanya Minhyuk antusias.

“Gedung baru untuk tempat latihan YOWL.”

“Oh… harusnya aku tidak memakai uang ku untuk membeli drum set baru, pasti uang itu akan lebih berguna sekarang.” Sesal Minhyuk.

“Kau sudah melakukan yang terbaik, tindakan mu itu benar. Kau menginginkan drum set warna  biru, kau bekerja keras dan kau membelinya, itu sangat baik, jujur pada diri mu sendiri, aku suka itu.”

“Kau selalu saja pandai membesarkan hati orang.” Minhyuk tersipu.

“Kau sudah punya target gedung baru?” Tanya Wonbin.

“Em! Gedung yang sudah lama aku incar. Kali ini aku pasti mendapatkannya.”

“Omo!” Jaejin bangkit dari tidurnya. “Ai, jangan katakan itu…”

“Nee. Kau benar!” Ai ikut bangun, begitu juga Wonbin, Minhyuk dan Jaejoong. “Hah… aku harus pulang.”

“Kau akan pergi?” Tanya Jaejoong.

“Aku harus benar-benar mempersiapkan diri untuk sekolah senin nanti. Aku pergi!”

“Dia bisa gugup juga?” Tanya Jaejin.

“Ai juga manusia.” Minhyuk merangkul Jaejin. “Dia itu kan memilki dunia terbalik, apa yang biasa bagi kita bisa jadi sangat mengerikan baginya dan hal yang menurut kita mengerikan, hal itu di nilai biasa bagi Ai.”

“Sobat! Kita juga harus bersiap!” Jaejoong mengulurkan tangannya. Wonbin tersenyum dan memegang tangan Jaejoong di susul Minhyuk dan Jaejin. Mereka tersenyum bersama.

“YOWL!!!” seru Jaejoong.
 
“Auuu!!!!!” keempatnya meraung bersama.
 
 
 
 
-----TBC-------
 
 
 
 
 kamsahamnida
-shytUrtle_yUi- 

 

Fan Fiction FF

¤ HWASEONG ACADEMY -Love, Music and Dreams- (화성 아카데미-사랑, 음악과 꿈-) ¤

07:13

HWASEONG ACADEMY -Love, Music and Dreams-
       (화성 아카데미-사랑, 음악과 -)





. Judul: Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
. Revised Romanization: Hwaseong Akademi ’salang, eum-aggwa kkum’
. Hangul: 화성 아카데미’사랑, 음악과 꿈’
. Author: shytUrtle_yUi
. Rate: Serial/Straight


Episode #1

Hwaseong Academy adalah salah satu sekolah menengah umum terkenal di Seoul. Sekolah yang masuk jajaran sekolah mewah dan impian bagi remaja Korea Selatan. Meskipun tidak ada kriteria khusus, namun rata-rata murid Hwaseong Academy adalah golongan menengah ke atas. Rata-rata murid Hwaseong Academy adalah putra-putri dari orang ternama Korea Selatan, mulai dari pengusaha sampai pejabat. Bangunan sekolah nan megah serta fasilitas mewah lainnya disediakan untuk siswa-siswi Hwaseong Academy. Tenaga pengajar juga orang-orang pilihan sehingga setiap tahunnya Hwaseong Academy melahirkan lulusan yang berkualitas.

Hingar-bingar  musik dan teriakan penonton membaur dalam aula serbaguna Hwaseong Academy.  Penonton mengangkat tangan dan melompat, bergoyang mengikuti alunan musik yang di tampilkan band favorit SMU ini, Viceroy. Para gadis tak hentinya meneriakan nama idola masing-masing mulai dari leader Viceroy Kim Myung Soo -L Infinite-, sang bassis Lee Jung Shin, sang gitaris Woo Sung Hyun –Kevin UKISS-, sang keyboardis Lee Byung Hun –L.Joe Teen Top-, sang drummer Choi Min Hwan dan sang vokalis Jang Han Byul. Band yang beranggotakan enam pangeran tampan ini benar-benar menyihir seluruh penonton yang berada dalam aula serbaguna. Suasana semakin panas ketika Viceroy membawakan lagu ‘Youth Of Nation-P.O.D’. Hanbyul mengundang Byunghun untuk menyanyi bersamanya. Kedua pangeran tampan ini pun menunjukan kemahiran rap mereka. Semakin membuat merinding ketika penonton turut berteriak ‘we are we are the youth of the nation!’ sesuai instruksi Hanbyul dan Byunghun.

Kim Jae Joong, Oh Won Bin, Kang Min Hyuk dan Lee Jae Jin berdiri di barisan paling belakang. Keempatnya diam menatap lurus kearah panggung dengan tatapan dan ekspresi dingin. Keempat pemuda ini adalah member YOWL. Band rock yang dianggap sebagai band berandalan dan selama tahun pertama mereka di Hwaseong Academy, mereka tidak bisa tampil dalam even-even sekolah. Viceroy dan YOWL berseteru sejak pertemuan pertama mereka dan karena alasan yang Myungsoo disetujui pihak sekolah, YOWL pun tidak bisa tampil disekolah jika salah satu membernya bukanlah murid Hwaseong Academy. Jaejoong dan ketiga rekannya makin kesal ketika para gadis disekeliling mereka tak henti-hentinya membicarakan dan memuji Viceroy. Jaejoong memutuskan keluar meninggalkan aula diikuti Wonbin, Minhyuk dan Jaejin.

“Sudah ku katakan, sebaiknya tak ke sekolah tapi kau tetap saja memaksa.” Jaejin melirik Jaejoong. “Mereka seolah menari diatas tangisan kita.” imbuhnya.
“Tangisan kita? Tangisan mu!” protes Minhyuk sambil mengacak rambut Jaejin. “Sesama musisi harus saling menghargai selera musik musisi yang lain.” Minhyuk merangkul Jaejin.
 “Sekarang kau membicarakan siapa? Kau menirukan kata-katanya lagi, ck!”
Jaejoong kembali menghembuskan nafas panjang. “Sobat, ayo kita buat kekacauan dan kita rebut panggung!” ucapnya kemudian.
“Mwo??” Jaejin dan Minhyuk kompak hingga mulutnya membulat. “Kembalilah pada kesadaran mu, Sobat!” Minhyuk sambil memijat pundak Jaejoong.
“Kau sudah gila?? Kau mau mati konyol??” cerca Jaejin. “Jika membuat kekacauan lagi, kita pasti di tendang keluar dari Hwaseong Academy. Aku tidak mau di gantung hidup-hidup oleh Ayah ku. Memilih bersekolah disini sudah cukup membuat ku menderita.” Ungkap Jaejin.
“Kau benar! Dia ini sudah cukup membuat kita semua menderita.” Minhyuk melingkarkan tangannya di leher Jaejoong. “Jika saja waktu kau tidak memukul Myungsoo, mungkin kita tidak akan menderita seperti ini.”
“Mungkin? Hanya mungkin.” Jaejoong melepas tangan Minhyuk yang merangkulnya. “YOWL tidak bisa tampil dipanggung sekolah bukan karena aku memukul Myungsoo, itu karena alasan konyolnya.”
Semua diam kembali mengenang peristiwa di bulan ketiga member YOWL menempuh pendidikan di Hwaseong Academy.

*flashback*
Myungsoo tersenyum mencibir ketika berhadapan dengan Jaejoong. Baru saja pihak sekolah mengamini pernyataan Myungsoo bahwa YOWL tidak bisa tampil di sekolah jika membawa member non murid Hwaseong Academy. Bertahan tampil dengan empat member atau tidak tampil selamanya.
“Kau lihat, betapa kuatnya aku! Betapa berpengaruhnya aku! Kau tidak akan pernah bisa menandingi itu. Kalian benar-benar tidak berguna layaknya SAM-PAH! Untuk apa membuat diri kalian menderita hanya untuk membela penghianat yang membuat kalian menderita? Buang saja penghianat tidak berguna itu. Keluarkan saja penghianat itu! Bod-doh!” Kata Myungsoo pada Jaejoong.
Jaejoong yang sudah berusaha keras menahan emosinya pun tumbang. Ia langsung melayangkan pukulan tepat diwajah tampan Myungsoo.
*end of flashback*

“Hah… dia pantas mendapatkannya. Dia sudah keterlaluan.” Kenang Jaejoong.
“Sebenarnya aku juga ingin memukulnya.” Kata Jaejin.
“Kau ini!” Minhyuk merangkul Jaejin usai mengacak-acak rambut pemuda itu. “Hah… aku pun sama dan ini tak sepenuhnya salah mu, Sobat.” Ia menepuk pundak Jaejoong.
“Hah… sepertinya benar tak ada harapan.” Keluh Jaejoong.
“Memang sulit untuk berharap.” Minhyuk membenarkan.
“Kau sedang tidak membicarakan YOWL kan?” Jaejin mengikuti arah pandangan Jaejoong.
Jaejoong tak berkedip menatap melihat lima orang gadis yang berjarak kurang lebih 7 meter dari tempat ia duduk berkumpul bersama Wonbin, Minhyuk dan Jaejin. Park Gyu Ri, Lee Chae Rin –CL 2NE1-, Noh Yi Young –E-Young After School-, Lee Ji Eun –IU- dan Jung Soo Jung –Krystal f(x)- berjalan bersama. Mereka adalah Red Venus. Band beranggotakan lima gadis yang tidak hanya cantik, namun juga kaya dan berbakat. Red Venus juga disebut sebagai Viceroy versi cewek dan merupakan maskot Hwaseong Academy. Senyum kecil terkembang di wajah Jaejoong.
“Ya! Jaejoong~aa!” Minhyuk menjitak kepala Jaejoong. “Sadarlah! Jangan terus bermimpi! Dia tidak akan melihat mu! Tidak kah kau lelah terus mengejarnya namun terus diacuhkan?”
“Ish!” Jaejoong mengelus kepalanya dan menatap kesal pada Minhyuk.
“Dia tidak pernah melihat mu walaupun kau selalu berusaha menunjukan rasa suka mu padanya. Kau dan Yiyoung, bagai langit dan bumi, jadi sudahi saja.” Jaejin mendukung pendapat Minhyuk yang segera mendapat acungan jempol dari Minhyuk.
“Dia pasti akan melihat ku! Setelah mendengar suara ku, dia pasti tidak akan bisa melupakan itu dan akan terus menatapku.” Kata Jaejoong yakin.
“Kapan? Ha?!” Tanya Minhyuk. “Kau membuat YOWL menjadi serigala tua tanpa pita suara, serigala tanpa taring.” Minhyuk menyebutkan celaan Viceroy pada YOWL tempo hari.
“Sudahlah.” Sela Wonbin. “Kalian terus saling menyalahkan, apa itu akan menyelesaikan masalah? Ini bukan salah Jaejoong sepenuhnya.”
“Lalu kau ingin menyalahkan dia??” sahut Minhyuk. “Kita tidak bisa menahannya dan dia tetap pergi meninggalkan YOWL.”
“Apa menjadi masalah besar jika kita tidak bisa tampil disekolah ini?”
“Bagaimana dengan penghinaan itu? Kau tidak sakit hati?” suasana sedikit tegang antara Minhyuk dan Wonbin. “Itu penting! Sangat penting! Aku ingin mereka melihat siapa YOWL sebenarnya!”
“Baiklah, Sobat!” Jaejoong bangkit dari duduknya. “Ayo kita bawa dia masuk ke Hwaseong Academy dan kita tunjukan siapa YOWL sebenarnya!” Jaejoong tersenyum menatap ketiga sahabatnya.
“Wow! Wow! Lihat siapa yang sedang berkumpul disini?” Minhwan bersama member Viceroy menghampiri YOWL. Jaejoong membalikan badan mengahadap kelompok Viceroy. Wonbin, Minhyuk dan Jaejin segera berdiri dibelakang Jaejoong.
“Serigala tua tanpa pita suara sedang merutuki nasib buruknya, menyedihkan.” Olok Byunghun.
Jaejoong memasukan ujung jari telunjuk ke dalam lubang telinganya. “Kau terlalu banyak bicara, Pangeran Warna-warni. Aku pikir suara mu sudah habis disana.”
“Kau!” Byunghun terpancing dan Minhwan mengahalaunya.
“Wah, dia mau berkelahi lagi? Seingat ku, terakhir duel dengan Jaejoong, ia berakhir dengan menginap seminggu di rumah sakit. Memalukan untuk seorang ketua club taekwondo.” Minhyuk membalas olokan Byunghun membuat pemuda berambut pirang itu makin emosi.
“Kalian masih tidak terima pada nasib buruk kalian?” Tanya Myungsoo.
“Anee. Ini sangat menyenangkan. Sampai jumpa di tahun ajaran baru.” Jaejoong menepuk pundak Myungsoo dan pergi.
“Mereka mengancam?” bisik Minhwan.
***

Jaejoong, Wonbin, Minhyuk dan Jaejin berdiri berjajar menatap lurus ke depan. Mereka tak peduli pada lalu lalang orang yang tak jarang memperhatikan mereka. Wajah keempatnya terlihat sangat lelah.

“Kemana lagi kita akan pergi mencarinya?” Tanya Jaejoong. “Aku benar-benar ingin membunuhnya.”
“Aku akan membunuhmu lebih dulu.” Ancam Minhyuk.
“Dia sudah kembali, aku yakin dia ada disuatu tempat.” Kata Jaejin.
“Aku harus menemukannya dan membawanya masuk Hwaseong Academy. Aku harus memastikan hal itu. Selama ini aku sudah cukup bersabar menjadi leader yang tak dianggap dan terinjak-injak.” Ungkap Jaejoong.
“Kau berlebihan, Sobat!” komentar Minhyuk. “Aku juga terabaikan.”
“Berhenti mengutuknya.” Sela Wonbin.
“Sobat, sampai kapan kita berhenti seperti ini?” Tanya Jaejin. “Coba lihat sekitar.” Orang-orang yang lewat menatap aneh pada keempat pemuda tampan ini.
“Khaja!” Jaejoong kembali berjalan memimpin.

Jaejoong, Wonbin, Minhyuk dan Jaejin berhenti didepan sebuah toko bunga yang masih beroperasi malam ini. ‘Morning Glory Florist’ papan nama itu tergantung diatas pintu masuk.

“Ayo kita masuk!” ajak Jaejoong.
“Aku tidak bisa.” Tolak Jaejin.
“Aiya! Mian, mian, aku lupa jika kau alergi serbuk bunga. Minhyuk temani Jaejin. Khaja!” Jaejoong merangkul Wonbin dan keduanya masuk ke dalam toko bunga.
“Sa’at dia tumbuh menjadi remaja, aku tidak bisa mengendalikannya lagi.” Lee Min Ki masih sibuk menata bunga-bunga dan mengacuhkan Jaejoong dan Wonbin yang terus mengekor dibelakangnya. “Aigoo, bunga ini tumbuh dengan baik dan mekar dengan cantik.” Minki memuji setangkai lili putih dihadapannya.
“Hyung, bantulah kami. Dimana dia sekarang? Kami tahu dia sudah kembali ke Korea.” Desak Jaejoong. “Dia akan kembali sekolah? Ia mendaftar kemana? Hyung…” rengek Jaejoong berharap Minki mau bicara.
“Aku sangat sibuk. Hah, sebentar lagi pesanan bucket bunga itu akan diambil.” Minki pergi meninggalkan Jaejoong dan Wonbin.
“Minki Hyung! Dia itu benar-benar!” umpat Jaejoong kesal ketika keluar florist. “Dan sifat itu menurun padanya!”
“Jaejoong~aa! Wonbin~aa! Ottoke??” Tanya Minhyuk.
“Cukup untuk hari ini. Kita pulang dan istirahat.” Jawab Wonbin.
“Bahkan Minki Hyung tak mau membantu?” Tanya Jaejin.
“Kita pulang!” Jaejoong merangkul Jaejin.
***

Myungsoo keluar sejenak untuk mengusir penatnya. Selama liburan ini ia memilih membantu Sang Ibu mengelola bisnis restoran di wilayah Hongdae. Myungsoo tersenyum mengamati jalanan yang padat pengunjung malam ini. Myungsoo menoleh ke arah kiri dan memperhatikan kerumunan orang. Karena penasaran Myungsoo berjalan mendekat dan berhenti diantara kerumunan. ‘Orang-orang ini berkumpul untuk melihat pengamen?’ gumam dibenak Myungsoo. Myungsoo turut menonton pertunjukan seoramg gadis yang duduk bersila memainkan gitar akustiknya sambil bernyanyi membawakan lagu ‘Knockin’ On Heavens Door’. Terus diperhatikannya gadis dengan kostum serba hitam itu. Myungsoo tidak bisa melihat jelas wajah si gadis karena ia memakai topi jaket yang dikenakannya. Rambut panjang yang dibiarkan terurai semakin menyamarkan wajah gadis itu. Myungsoo berusaha melihat wajah gadis itu hingga kepalanya bergerak turun namun sia-sia, ia hanya bisa melihat bibir merah gadis itu.

Penonton bertepuk tangan ketika pertunjukan usai. Gadis itu berdiri dan segera membungkuk ke segala arah tanda terima kasih atas perhatian para penonton. Satu per satu penonton menaruh uang pada tas gitar yang dibiarkan terbuka dan sengaja diletakan didepan. Kerumunan itu hanya menyisakan Myungsoo yang masih berdiri memperhatikan gadis yang menurutnya ‘misterius’.

“Ini berlebihan!” gadis itu memungut uang pemberian Myungsoo dan mengembalikannya.
“Aku tidak punya uang receh. Ambil saja untukmu.”
“Baiklah! Lain kali datang lagi, aku berhutang padamu.” Gadis itu menyangklet tas gitarnya dan berjalan pergi. Myungsoo masih bertahan menatap punggung gadis misterius yang berjalan semakin jauh meninggalkan dirinya dan kemudian lenyap dalam kerumunan.
“Tuan Muda.” dua orang bodyguard menghampiri Myungsoo.
“Ma’afkan kami karena kelalaian kami Tuan Muda harus turun tangan sendiri menangani masalah ini.” Ucap bodyguard lainnya. “Besok biarkan kami yang mengusir pengacau itu.”
“Pengacau? Biarkan saja, dia berada diluar area kita. Jangan menyentuhnya.”
“Baik, Tuan Muda.”
***

Jaejoong, Wonbin, Minhyuk dan Jaejin serius menatap orang dihadapan mereka. “Katakan yang sebenarnya!” tegas Jaejoong.

“Katakan saja!” desak Minhyuk.
“Kau juga tidak mau bicara?” Tanya Jaejin.
“Katakan. Kami ingin mendengarnya.” sambung Wonbin masih dengan ekspresi datar itu.
Kim Ki Bum –Key SHINee- menatap satu per satu member YOWL yang duduk dihadapannya. Mulai dari Jaejoong, Wonbin, Minhyuk dan Jaejin. Kibum membetulkan letak kacamatanya. “Aku memang memasukan lamaran ke Hwaseong Academy tapi aku tidak tahu apakah aku akan lolos seleksi.” Terangnya.
“Tahun lalu kau lolos dan mengabaikan kesempatan itu, apa kali ini kau pikir mereka akan mema’afkan mu?” Tanya Minhyuk.
“Sepertinya tidak ada harapan.” Jaejin menggelengkan kepala dengan wajah putus asa.
“Aku sudah memberikan penjelasan tentang itu, semoga di maklumi, tapi tidak berani berharap juga, sangat tipis kemungkinannya.” Kibum menunduk.
“Lalu bagaimana denganya?” Tanya Jeajoong.
“Kalian datang bersama hanya untuk menanyakan hal itu?” Kibum balik bertanya.
“Kau harus membawanya masuk Hwaseong Academy, bersama mu.”
“Kenapa harus aku?? Kenapa tidak kalian lakukan sendri? Jadi… kalian meminta bantuan ku?” Kibum sedikit merasa bangga melihat keempat member YOWL mengiba padanya.
“Kau ini! Bukankah kau sendiri yang selalu berkoar, aku ini manajer YOWL!” Minhyuk menirukan gaya Kibum. “Sekarang kami meminta pertanggung jawaban mu.”
“Pertanggung jawaban ku?? Ish! Kalian benar-benar!”
“Aku benci mengatakan ini padamu… aku mohon bantu kami.” Pinta Jaejoong. “Aku mohon bantu kami membawanya masuk Hwaseong Academy tahun ini.”
“Dia sudah kembali, namun aku tidak tahu menahu tentang rencananya.”
“Ayolah, Kibum~aa..” rengek Jaejin. “Kau kan manajer YOWL.” Rayunya.
“Ck! Itu pengakuan karena terpaksa. Setelah aku pikir ulang, aku tidak pantas menjadi manajer YOWL. Minki Hyung, dia sangat cocok.” Kibum melipat tangan dan menganggukan kepala. “Hah! Aku tidak suka mendengarnya dan melihat kalian seperti ini, membuat ku… mual. Apa kalian pernah melihat dia mendengar ucapan ku? Bagaimana kalian memohon tentang ini pada ku?”
“Tidak akan berguna.” Minhyuk merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Kita lakukan bersama-sama. Aku punya keyakinan padanya namun aku ingin memastikannya juga.” Kata Kibum.
“Kau tahu dimana dia sekarang?” Tanya Wonbin.


Lee Ji Eun –IU- berjalan sendiri ditengah padatnya jalan Hongdae. Ia terlihat nyaman walau berada sendri ditengah keramaian. Jieun berhenti didekat restoran milik keluarga Myungsoo. Ia diam dan menatap tempat dimana biasa orang-orang berkerumun untuk melihat pertunjukan musisi jalanan yang berhasil menarik perhatian Jieun. Myungsoo kembali keluar. Ia memperhatikan jalan sejenak lalu menoleh ke arah kiri. Ia tersenyum lebar dan segera berlari kecil menuju Jieun.

“Jieun~aa!”
“Oh!” Jieun benar terkejut.
“Aku membuat mu kaget?”
“Aniya.” Jieun tersenyum manis kemudian memperhatikan Myungsoo. “Apa yang kau lakukan disini?”
“Ck! Harusnya aku yang menanyakan hal itu pada mu. Kau… ah, kau juga melihatnya?”
“Nee?? Ah, gadis itu? Iya. Kau juga?”
“Em! Kau kenal dia?”
“Aniya. Wae? Apa dia buat masalah disini?”
“Anee.”
Jieun memperhatikan bangunan disamping Myungsoo berdiri. “Akh~ mianhae, aku lupa restoran ini milik Bibi Kim. Jadi karena itu kau disini?”
“Nee. Selama liburan ini dan menyenangkan.”
“Kau mulai melirik dunia bisnis sekarang?”
Myungsoo tersenyum manis mendengarnya. “Khaja! Kita makan malam bersama.”
“Nee??”
“Jangan menolaknya.” Myungsoo merangkul Jieun dan membawa gadis itu masuk ke restoran.


Dong Yong Bae –Taeyang Big Bang- sedang berjalan bersama gengnya dan melihat seseorang sedang duduk memainkan gitar diatas sebuah tembok setinggi setengah meter ditepi jalan. Yongbae mengamatinya dan ia tahu jika orang itu adalah seorang gadis.

“Ya! Turun kau dari sana!” perintah Yongbae yang sudah berdiri tak jauh dari tempat sang gadis duduk. Namun gadis itu mengacuhkannya dan tetap asik menggenjreng gitarnya. “Ck! Ya!!” bentak Yongbae dengan nada lebih tinggi dan suara lebih keras. “Kau tidak mendengar ku, ha?!!”
Gadis itu menghentikan gerak tangannya dari menggenjreng gitar namun tetap bertahan ditempat ia duduk. “Kau dengar rupanya. Cepat turun!” Yongbae berkacak pinggang menunjukan kekuasaannya. “Kau tidak tahu siapa aku ha?! Aku penguasa disini! Kau cari mati?? Kenapa kau mengabaikan perintah ku, ha?!!”
Gadis itu meletakan gitarnya dan meloncat turun kemudian berjalan mendekat pada Yongbae. Masih dengan kepala tertutup topi jaket dan kedua tangan tersimpan rapi dalam saku jaket, gadis itu berdiri tepat dihadapan Yongbae. Yongabe maju selangkah lebih dekat.
“Kau menantang ku?!”


-------TBC-------



kamsahamnida...

.shytUrtle_yUi.


Search This Blog

Total Pageviews