Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy

05:54

Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy

It's about rainbow, love, hate, glory, loyalty, betrayal and destiny.......
 
. Judul: “Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy”
. Author: shytUrtle_yUi
. Rate: Serial/Straight/Fantasy-Romance.
. Cast:
-                  Song Hyu Ri (송휴리)
-                  Rosmary Magi
-                  Han Su Ri (한수리)
-                  Jung Shin Ae (정신애)
-                  Song Ha Mi (송하미)
-                  Lee Hye Rin (이혜린)
-                  Park Sung Rin (박선린)
-                  Song Joongki, L,Joe Teen Top, L Infinite, Jung Daehyun B.A.P, Jo Jonghwan 100%, Baro B1A4, Jang Geunsuk, Yoo Seungho, Kim Sunggyu Infinite, Choi Joonghun FT.Island, Cho Kyuhyun Super Junior, and many other found it by read the FF.

...Ketika kau melihat pelangi, apa yang ada di benakmu? Tujuh warnanya yang indah atau...? Di sini, Wisteria Land, kami percaya jika pelangi adalah jelmaan sang Naga. Naga arif dan bijaksana yang selalu mengawasi dan menjaga tanah Wisteria Land. Naga yang pada suatu waktu muncul dengan keelokan wujudnya dengan tujuh warna pelangi. Apa kau juga percaya akan hal ini...?
***
 
Land #26

                Geunsuk yang sengaja menunggu Shin Ae segera menegakan badannya yang bersandar pada salah satu pilar di teras kuil istana. Shin Ae yang baru saja selesai mengikuti ritual sembahyang pagi itu tak terlihat terkejut menemukan Geunsuk di depan kuil. Seperti biasa Shin Ae terlihat datar dan terkesan cuek. Hari ini pun sama ketika Geunsuk menghampirinya.

                “Aku sengaja menunggumu. Kita harus bicara.” Geunsuk yang berdiri menghadang Shin Ae tak mau berbasa-basi.

                “Hal penting apa yang membuatmu menginjakan kaki di sini? Menghadangku seperti ini.” respon Shin Ae datar.

                “Ini darurat.”

                Mendengarnya Shin Ae menaruh sedikit perhatian lebih ketika menatap Geunsuk.

                “Bukan masalah pribadi kita, tapi bukan hanya antara kau dan aku.”

                Shin Ae mengerutkan kening masih menatap Geunsuk.

                “Ini... menyangkut orang-orang yang kita sayangi, teman-teman kita dan... Yang Mulia Raja,” Geunsuk lirih ketika menyebut ‘Yang Mulia Raja’ di depan Shin Ae. “Semalam aku...”

                “Ikut aku!” potong Shin Ae yang segera membelakangi Geunsuk dan berjalan memimpin.

               
Shin Ae membawa Geunsuk ke sisi kanan kuil istana. Ia berhenti di bawah pohon buah Thoo (Ndaru) besar yang tumbuh rindang di samping kuil. Geunsuk mengamati pohon buah Thoo nan rindang itu. Ia kemudian tersenyum.

“Jika kita duduk di bawah pohon buah Thoo ini dan ada satu buah yang jatuh menimpa kita, maka dikatakan kita akan selalu beruntung jika kita memakan buah itu dan menyimpan bijinya. Benarkah itu?” Geunsuk masih menatap pohon buah Thoo.

“Kau datang kemari untuk hal itu?” Shin Ae balik bertanya.

“Ah. Di sini nyaman juga.” Geunsuk duduk pada batu-batu yang tertata melingkar rapi mengelilingi buah Thoo. “Siapa tahu aku beruntung.”

“Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan? Hari ini aku sangat sibuk, jadi tolong jangan berbasa-basi.”

“Aku tahu. Duduklah lebih dekat padaku.” Pinta Geunsuk. Shin Ae menatapnya tajam. “Aigo! Ekspresimu itu! Jangan berpikir macam-macam. Ini hanya karena obrolan kita sangatlah rahasia dan akan berlangsung cukup lama. Jadi jangan berpikir aneh tentangku. Lagi pula jika kau tetap bertahan berdiri, leherku ini akan sangat sakit karena terlalu lama mendongak hanya untuk bicara padamu.”

Shin Ae mendesah kesal dan duduk lumayan jauh dari Geunsuk. Geunsuk menggeleng pelan lalu menggeser duduknya lebih dekat pada Shin Ae. Menyadari hal itu Shin Ae turut menggeser duduknya sedikit menjauh dari Geunsuk.

“Ya! Kalau kau begini kekanak-kanakan, kapan obrolan kita selesai?!” protes Geunsuk kesal.

“Dalam jarak ini aku masih bisa mendengarmu dengan jelas tanpa harus kau berteriak padaku.” Shin Ae tak mengalihkan pandangannya yang lurus ke depan.

Geunsuk mendesah dan menggeleng pelan. “Jangan menggeser posisi dudukmu lagi!” Geunsuk menggeser duduknya cepat seraya memegang erat tangan kanan Shin Ae, menahan agar gadis itu tak bergerak.

“Kau hanya ingin main-main saja?!” ancam Shin Ae.

“Kau yang memulai! Sudahlah. Duduk saja jadi masalah. Aku akan mulai. Tolong dengarkan baik-baik karena ini sangat rahasia.”

“Kalau tidak serius, aku pergi!” ancam Shin Ae lagi dan kali ini dia kembali berdiri.

“Ketus begini, pantas tak ada lelaki yang berani mendekati.”

Shin Ae tak membalikan badan. Ia mendesah pelan dan mulai berjalan.

“Ini menyangkut sahabatmu. Lee Byunghun.”

Ucapan Geunsuk berhasil menghentikan langkah Shin Ae. Masih dalam posisi membelakangi Geunsuk, Shin Ae berdiri terdiam.

“Jika kau benar peduli padanya, duduklah. Akan aku katakan semua. Dan ini memang sengaja aku meminta bantuanmu.”

Shin Ae tak mau membuang waktu. Ia berbalik dan kembali duduk di dekat Geunsuk. “Ada apa? Kenapa menyangkut L.Joe?” tanya Shin Ae to the point.

Geunsuk menghembuskan napas panjang seolah. Tersirat jika desahan itu adalah cara Geunsuk membuang sedikit beban pikirannya. “Seperti yang tahu, sejak kecil aku diasuh keluarga Yoo, Walikota Poinsettia Yoo Donggeun. Aku pun sangat dekat dengan putra semata wayangnya Yoo Seungho. Bahkan baginya aku adalah kakak. Kau juga dekat dengan putra bungsu saudagar kaya raya Lee Byungman, Lee Byunghun yang lebih sering kau panggil L.Joe itu. Dan saat ini teman-teman yang kita sayangi ini begitu dekat dengan tro Maehwa.”

“Kau berputar-putar. Intinya apa?”

“Apa kau tak paham dengan isu politik yang belakangan beredar dan sedang ramai dibicarakan?”

“Tentang titik terang keberadaan Putri Lee Ah Reum?”

“Iya tentang itu. SMA Maehwa dibubarkan bukan hanya karena statusnya sebagai sekolah terburuk di Wisteria Land, tapi juga karena adanya dugaan jika Putri Lee Ah Reum masih hidup dan menempuh pendidikan di sana.”

“Lalu apakah saat ini rumor berkembang dan kuat dugaan jika Putri Ahreum adalah salah satu dari trio Maehwa yang ada di sekolah kita?”

“Belum pasti. Tapi semua siswi SMA Maehwa yang di transfer diawasi secara ketat dan diam-diam oleh istana. Baik oleh pihak pro dan pihak kontra. Trio Maehwa di sekolah kita pun sama.”

“Apa ini artinya teman-teman kita masuk daftar hitam juga? Ini tak adil. Mereka hanya berteman tanpa tahu siapa sebenarnya trio Maehwa itu.”

“Aku meminta Seungho menjauh, namun sepertinya ia enggan.”

Shin Ae diam. Saat Geunsuk menyebut nama Seungho, ingatannya tiba-tiba kembali pada momen dimana Seungho memberinya bunga Gloxinia merah kala itu.

“Siapa Putri Ahreum yang  masih misteri, namun melihat adikku dekat dengan trio Maehwa itu benar-benar membuatku khawatir. Terlebih status adikku adalah anak Walikota Poinsettia. Ini terlalu menonjol. Begitu juga Jo Jonghwan. Walau belum tentu masuk daftar hitam, tapi jelaslah mereka turut diawasi.”

Shin Ae terdiam merenungi kata-kata Geunsuk. Rasa khawatir itu kembali muncul. Rasa khawatirnya pada kedekatannya L.Joe dan Magi yang besar kemungkinan akan membawa L.Joe pada kesulitan.

“Yang lebih mengejutkan adalah apa yang aku dengar semalam.” Geunsuk kembali bicara. Shin Ae diam menunggu Geunsuk melanjutkan perkataannya. Geunsuk menoleh ke arah kiri dan menatap Shin Ae yang duduk tak jauh di sampingnya. “Maaf sebelumnya, tapi bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Shin Ae menoleh ke arah kanan. Tatapannya bertemu dengan tatapan Geunsuk. Sejenak ketika tatapan keduanya bertemu, Shin Ae merasa getaran di dalam jantungnya. Getaran cepat  yang hanya ia rasakan sepersekian detik saja. Shin Ae segera menunduk. Mengalihkan pandanganya dari menatap Geunsuk.

“Silahkan kau mau tanya apa,” kata Shin Ae lirih.

“Apa benar rumor yang aku dengar jika Lee Byunghun dan gadis itu, Rosmary Magi, mereka berpacaran? Sepasang kekasih?” tanya Geunsuk dengan sangat hati-hati menuturkannya.

Shin Ae tersenyum kecil dan mengangguk. “Iya. Temanku, L.Joe sangat tergila-gila pada gadis itu. Dan menurut pengakuannya, mereka resmi berpacaran saat cluyb Foxglove menggelar kegiatan di Juniper Botanical Garden. Itu terdengar menggelikan bagiku, tapi begitulah kenyataannya. Aku tak bisa menghalaunya lagi.”

“Hah... ini lebih rumit dari yang aku duga.” Keluh Geunsuk.

“Lebih rumit??” Shin Ae kembali menatap Geunsuk dengan tatapan tak paham.

Lagi-lagi Geunsuk mendesah. Ia kemudian fokus menatap Shin Ae dengan tatapan mengiba. “Bisakah kau minta Lee Byunghun menjauhi gadis itu?”

“Mwo??” Shin Ae benar terkejut mendengar permintaan Geunsuk.
***

Shin Ae menghentikan langkahnya di dekat pohon besar nan rindang di dalam hutan itu. Shin Ae menatap jam di tangan kanannya yang kini menunjukan pukul sembilan tepat di Minggu pagi ini. Dengan hati-hati Shin Ae menggerakan badannya, mengintip dari balik pohon tempat ia bersembunyi. Shin Ae melihat L.Joe yang sedang berlatih pedang sendirian di depan sebuah rumah sederhana yang seluruhnya terbuat dari kayu dan berwarna hitam di tengah hutan itu.

L.Joe tetap fokus berlatih pedang kayu. Sepertinya ia tak menyadari kehadiran Shin Ae yang bersembunyi di balin pohon dan diam-diam memantaunya. Shin Ae terus memantau L.Joe. Mengamati setiap gerak tubuh pemuda itu.

L.Joe menghentikan gerakannya. Ia menghela napas dan tersenyum lalu berbalik menghadap arah lurus dengan pohon tempat Shin Ae bersembunyi. L.Joe mengangkat kepala sedikit mendongak dan berkacak pinggang. “Kau terlambat lagi Jung Shin Ae! Dan kenapa kau bertingkah seperti penguntit seperti itu?” serunya lantang. “Itu tak akan berguna.”

Shin Ae keluar dari tempat persembunyiannya. “Jangan merasa hebat hanya karena hari ini kau datang lebih awal dariku.” Shin Ae sambil berjalan turun menuju L.Joe.

“Menjadi anggota Reed apa benar-benar membuatmu sibuk? Kau mengirim pesan dan mengatakan tak akan datang hari ini. Tapi tiba-tiba kau berdiri di sana mengintai. Apa tugasmu untuk mengawasi aku yang sangat dekat dengan trio Maehwa ini?”

Tuduhan L.Joe hanya ditanggapi senyum menyincing di wajah manis Shin Ae. “Sejak resmi berkencan dengan Rosmary Magi... kau berubah sensitif Lee Byunghun.” Shin Ae telah sampai di depan L.Joe.

“Hanya karena kau adalah anggota Reed yang dipercaya istana dan Magi mantan siswi SMA Maehwa. Aku tahu di sini aku berada dalam posisi sulit. Tapi aku berdiri untuk melindunginya.” L.Joe mengangkat pedang kayunya. “Kekasihku, Rosmary Magi,” imbuhnya sembari menghunuskan ujung pedang kayunya tepat di depan Shin Ae. Sejajar dengan wajah Shin Ae.

Lagi-lagi Shin Ae menyincingkan senyum. “Kau merasa hebat sekarang, Lee Byunghun?”

“Jangan merasa hebat hanya karena kau seorang Reed, Jung Shin Ae. Selama ini aku tak pernah kalah darimu. Ambil pedangmu!”

Shin Ae meraih pedang kayu yang tertancap di tanah di samping kanannya. “Bagaimana kalau hari ini kita bertarung dengan satu taruhan?”

“Aku sudah menduganya. Jika aku kalah, kau pasti akan memintaku menjauhi Magi kan? Itu tak akan aku lakukan. Sampai kapanpun.”

“Bicaramu seperti orang tua saja Lee Byunghun.” Shin Ae mengangkat pedang kayu di tangannya. Siap menerima tantangan duet L.Joe.

“Untuk Rosmary Magi, aku tak akan pernah mundur. Walau nyawaku taruhannya.”

“Itu omong kosong Lee Byunghun.”

Keduanya saling beradu pandang dengan tatapan tajam, lalu sama-sama menyeringai dan kemudian saling menyerang. Duel pun dimulai antara L.Joe dan Shin Ae.

“Kau benar-benar resmi berpacaran dengan Rosmary Magi?” tanya Shin Ae di tengah-tengah duel.

“Kami sepasang kekasih sekarang.” Jawab L.Joe sembari menghalau serangan Shin Ae.

“Sebesar apa cintamu padanya?”

“Seumur hidupku hanya aku ingin bersamanya. Untuknya.”

“Bagaimana jika itu semua hanyalah sihir?”

“Aku rela menerimanya.”

“Tak bisakah kau meninggalkannya?”

L.Joe dan Shin Ae sama-sama terpental. Bergerak saling menjauh. Napas keduanya terengah-engah dan saling menatap satu sama lain saat duel terhenti sejenak. L.Joe bergerak cepat kembali menyerang Shin Ae. Shin Ae sedikit kelabakan menghalau serangan L.Joe yang bertubi-tubi lebih dari sebelumnya.

Shin Ae terbelalak ketika L.Joe berhasil membuatnya kehilangan pedang kayu dari tangannya dan ujung pedang kayu L.Joe sudah terhunus tepat di depan wajahnya sejajar dititik tengah diantara kedua mata Shin Ae.

“Ada apa sebenarnya?” tanya L.Joe dengan nada berat dan tatapan tajam pada Shin Ae.

Shin Ae diam terpaku. Seolah benar ditodong oleh pedang asli Shin Ae tak berani bergerak. Ia diam dan menatap ujung pedang kayu yag dihunuskan L.Joe padanya. Shin Ae kemudian beralih menatap L.Joe yang menatapnya dengan tatapan tajam menelisik. Kedua mata elang itu benar menghujam Shin Ae. Mengadili Shin Ae. Ekspresi Shin Ae meredup. Ia teringat obrolannya bersama Geunsuk pagi ini.



Itu benar mengejutkanku. Semua yang diceritakan Kyuhyun Hyung padaku semalam. Aku tak menyangka jika Yang Mulia Raja bisa jatuh hati pada gadis itu hanya karena mendengar cerita tentang Rosmary Magi dari Yang  Tuan Putri. Hanya dengan mendengar cerita dan melihat lukisan Rosmary Magi yang dibuat oleh Yang Mulia Tuan Putri, Baginda Raja bisa jatuh cinta? Katakan padaku jika ini hanya lelucon Jung Shin Ae. Terlebih setelah melihat pertunjukan Snapdragon di Club Golden Rod, Yang Mulia Raja merasa yakin akan perasaannya. Beliau benar-benar jatuh hati pada Rosmary Magi. Baginda mencurahkan isi hantinya pada Kyuhyun Hyung. Beliau juga Kyuhyun Hyung merasa khawatir ini akn terendus. Hah... bagaimana Yang Mulia Raja bisa jatuh hati pada mantan siswi SMA Maehwa itu? Terlebih image yang ia sandang bertambah karena ia belajar seni di kampung Lupin. Ia pun dicurigai sebagai gisaeng. Semua dugaan itu benar-benar memberatkan cinta Baginda bukan? Lalu kau membenarkan jika Rosmary Magi dan Lee Byunghun adalah sepasang kekasih. Bisa kau bayangkan bagimana jika kisah ini terendus pihak istana? Terlebih pihak anti Raja. Kubu pendukung Ratu Maesil. Pasti akan sangat mengerikan. Akan sangat membahayakan temanmu Lee Byunghun juga Rosmary Magi itu sendiri. Segala kemungkinan bisa saja terjadi dan Kyuhyun Hyung benar dibuat pusing olehnya. Sikap tidak tegas Yang Mulia dan perasaan cinta yang pertama kali tumbuh pada seorang gadis di tengah kekacauan politik negara. Aku rasa kau bisa meraba sendiri tentang semua kemungkinan terburuknya. Desakan agar Yang Mulia segera menikah dan... bagaimana kekacauan ini benar menjadi begini sempurna? Apakah benar kita telah terkutuk selamanya oleh kekejaman Ratu Maesil? Memikirkan ini semua semalaman kemudian aku teringat padamu. Walau selama ini aku terkesan jahat dan seolah membencimu, tapi dalam urusan istana tak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayaimu Jung Shin Ae. Kyuhyun Hyung bertanya padaku, apa kau punya solusi? Dan kini pertanyaan itu pula yang aku tujukan padamu, apa kau punya solusi Jung Shin Ae? Aku perhatikan belakangan kau juga terlihat akrab dengan Rosmary Magi. Aku harap kita bisa sama-sama menjaga rahasia ini dan sambil berjalan mencari solusi.

L.Joe menurunkan pedangnya. Masih menatap Shin Ae yang berdiri mematung dihadapannya.
***

Hening diantara L.Joe dan Shin Ae yang duduk berdampingan di atas rerumputan hijau di depan rumah kayu di tengah hutan itu. Yang terdengar hanya desiran angin musim semi yang berhembus di sekitar mereka dan nyanyian burung-burung di pepohonan. Rumah kayu milik mereka yang lama tak mereka kunjungi itu turut membisu. Sejak berumur tujuh tahun L.Joe dan Shin Ae selalu berlatih pedang bersama di sini. Di bawah ajaran mendiang kakek L.Joe keduanya selalu berlatih bersama-sama hingga keduanya beranjak remaja. Shin Ae semakin jarang mengunjungi rumah kayu itu sejak ia tergabung dalam Reed dua tahun yang lalu. Hanya L.Joe yang sesekali datang untuk berlatih sendirian.

Sabtu kemarin L.Joe meminta Shin Ae datang hari ini. Ia merasa rindu susana berlatih bersama seperti dulu. Namun Shin Ae mengatakan tak bisa datang memenuhi permintaan L.Joe. L.Joe tetap pergi dan seperti apa yang ia yakini sebelumnya jika Shin Ae pasti datang, kenyataan pun mengamini keyakinan L.Joe. Shin Ae benar-benar datang hari ini. Namun reuni hari ini membuat suasana diantara keduanya menjadi kaku.

Shin Ae tak mau menyembunyikan apa yang ia tahu dari L.Joe. Seperti selama ini ia selalu menceritakan apa saja yang ia tahu tentang istana pada L.Joe walau terkadang L.Joe terkesan malas-malasan mendengarnya. Hari ini pun Shin Ae mengungkap semua tentang obrolannya bersama Geunsuk pagi tadi.

“Kau sama sekali tak terkejut mendengarnya?” Shin Ae menatap keheranan pada L.Joe.

L.Joe menghela napas dan merebahkan tubuh lelahnya di atas rerumputan hijau. Ia diam dan berbaring menatap langit. L.Joe kemudian tersenyum. “Dulu selesai latihan kita selalu berbaring seperti ini... di sini. Coba lakukan dan lihatlah. Apakah langit itu tetap sama?”

“Apa arti ekspresimu itu? Dan kenapa kau malah mengatakan hal yang lain seperti itu? Menatap langit seperti itu bagiku tetaplah sama. Ia akan tetap berwarna biru dengan sedikit semburan awan di sana-sini. Kecuali jika mendung dan akan turun hujan. Tapi pada intinya tetap saja sama. Seperti kita bukan? Tetap sama menjadi sahabat. Kau selalu mengatakan itu. Ingin kita seperti langit yang selalu sama.”

“Untuk menjadi seperti langit yang selalu sama adalah keinginan yang terlalu mustahil bagiku kini. Ia begitu setia menaungi bumi, sedang aku tidak. Terkadang aku berpikir telah berkhianat padamu karena hatiku lumpuh karena pesona Magi.”

“Jatuh cinta bukanlah suatu kesalahan, sahabatku. Hanya saja... orang kau cintai kini itu... cukup menonjol. Kau tahu maksudku kan?”

“Bukan hanya kau yang menentang. Seseorang mengatakan padaku jika aku tetap bersamanya, jalan yang akan kami lewati tidaklah mudah. Tapi jika kami bisa melewatinya, maka hidup kami akan berakhir bahagia selamanya. Magi begitu terkenal di Club Golden Rod. Tak sedikit bangsawan yang mencoba mendekatinya. Sosoknya yang misterius, sepertinya menjadi daya tarik tersendiri. Aku tak heran jika Yang Mulia juga menaruh hati padanya. Bukannya tak terkejut mendengar Yang Mulia menjadi salah satu dari pemuja rahasia Magi. Itu benar diluar dugaanku. Tapi di sisi lain aku bangga. Akulah pemilik dari gadis yang diperebutkan itu. Entah perasaan apa ini.”

“Itu manusiawi. Tapi berurusan dengan Raja, dengan istana, akan lain lagi ceritanya.”

“Aku tahu. Aku yakin Yang Mulia Raja adalah orang yang baik. Mana mungkin Beliau tega memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai ini?”

“Yang Mulia memang baik, tapi apa kau yakin dengan orang-orang istana?”

“Apa ini awal dari ujian itu?”

“Mungkin. Kau tahu, aku menjadi begitu ketakutan usai mendengar itu semua. Aku sangat mengkhawatirkanmu, sahabatku.”

L.Joe kembali duduk. “Terima kasih untuk mengkhawatirkan aku. Kau memang pantas menjadi langit yang tetap sama itu. Langit yang selalu setia menaungi bumi yang terkadang acuh bahkan tak jarang menyakitinya.”

“Aku bukan langit. Aku hanya seorang sahabat, temanmu sejak kecil itu saja.”

L.Joe tersenyum dan mengangguk pelan.

“Tapi... bagaimana jika setelah mengetahui ini nantinya Magi memilih untuk pergi darimu?”

“Apa menurutmu Magiku akan bersikap demikian?”

Shin Ae terdiam.

“Hah... daripada aku harus melihatnya dengan pria lain, lebih baik kami mati bersama.”

“Byunghun-ya!” Shin Ae memukul lengan kiri L.Joe.

L.Joe tersenyum. Kembali merebahkan badannya di atas rerumputan dan memejamkan mata.
***

Joongki duduk bersama keluarga Raja menyaksikan pertunjukan musik tradisional yang disajikan kelompok musik istana. Hami dan Ratu Kyeongmi yang turut menemani duduk di samping kiri dan kanan Joongki itu terlihat begitu menikmati pertunjukan.

Joongki terkejut. Ia melihat Magi duduk diantara para musisi istana yang sedang memainkan alat musik masing-masing. Magi yang anggun dalam balutan hanbok dan memetik senar kecapinya. Joongki mengerjapkan kedua matanya dan kembali menatap para musisi istana. Ia tersenyum malu. Magi tak ada di sana.

Kyuhyun yang berdiri diantara barisan Reed yang berjaga mengerutkan dahi. Sejak berdiri di sini tatapan Kyuhyun hanya terfokus pada Joongki. Sejak mendengar pengakuan Joongki semalam Kyuhyun terus dirundung dilema. Ia menyesalkan situasi ini. Kenapa Joongki harus jatuh hati pada seorang Rosmary Magi?


Seusai pertunjukan Kyuhyun menemani Joongki berjalan-jalan. Ia berjalan tak jauh dibelakang Joongki. Hanya ada mereka yang berjalan menyusuri jembatan yang menghubungkan daratan ke gazebo di tengah kolam lotus itu. Joongki menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah jembatan.

“Semalam, aku kembali mengunjungi galeri hanya untuk melihat wajahnya sejenak. Bagaimana jika aku meminta lukisan itu saja?” kata Joongki yang berdiri menyamping di depan Kyuhyun.

“Hamba rasa Yang Mulia Tuan Putri akan bertanya banyak hal tentang itu Yang Mulia.”

“Hah... kau benar. Kenapa jatuh cinta itu... begini menyiksa? Aku iri padamu dan kekasihmu. Hah... bahkan hari ini aku melihatnya dalam barisan para musisi istana, namun ketika mata ini mengerjap dan terbuka kembali, dia tak ada di sana.” Joongki tersenyum yang terkesan menertawakan dirinya sendiri itu. “Kyuhyun-aa, menurutmu apa yang harus aku lakukan? Ini pertama kalinya aku merasa demikian pada seorang gadis. Tolong katakan padaku, aku harus bagaimana.”

“Yang Mulia benar-benar ingin mendengar pendapat hamba?”

“Nee.”

“Mohon maafkan hamba Yang Mulia, sebelumnya bolehkah hamba bertanya sesuatu pada Yang Mulia?”

“Tentu saja.”

“Apakah Yang Mulia benar-benar yakin pada perasaan Yang Mulia ini sebagai cinta? Bukan hanya sekedar rasa penasaran saja?”

Joongki diam sejenak. “Aku sendiri meragu, tapi jantungku selalu saja berdetub kencang setiap kali menatap lukisan Rosmary Magi. Menurutmu apa itu?”

“Hal sepele seperti ini bisa jadi sangat rumit karena Yang Mulia yang mengalaminya.”

Joongki terkekeh mendengar candaan Kyuhyun.

“Lalu, apakah Yang Mulia benar-benar ingin bersamanya?”

“Nee.” Joongki tampak ragu. “Jika dia bersedia hidup bersamaku, mendampingiku di istana ini.” ralatnya.

“Semalam suntuk hamba memikirkan hal ini dan karena Yang Mulia meminta pendapat hamba, maka hamba tak akan sungkan mengungkapnya kini.”

“Itu yang aku tunggu. Kita bicarakan dengan duduk di gazebo.”

Joongki dan Kyuhyun duduk di dalam gazebo di tengah kolam lotus. Joongki siap mendengar apa pun itu yang akan dikatakan Kyuhyun padanya.

“Informasi tentang gadis ini sangat minim Yang Mulia. Bahkan kami belum menemukan informasi dimana ia tinggal dan apa latar belakang keluarganya. Karena ia termasuk mantan siswi Maehwa, banyak pihak yang turut mengawasinya. Ini mempermudah sekaligus mempersulit kami. Beberapa mengatakan ia tinggal di kampung Lupin, namun beberapa menyangkalnya.” Kyuhyun memulai obrolan.

“Kampung Lupin? Kampung Gisaeng? Gadis itu tinggal di sana?”

“Kami belum bisa memastikannya. Akan tetapi ia sering terlihat di salah satu rumah seni di kampung Lupin. Ia pun sering terlihat kerap kali menginap di Panti Jompo Peony.”

Joongki diam mencerna penjelasan Kyuhyun. “Apa mungkin dia seorang gadis yatim piatu dan tuna wisma?”

“Dengan kenyataan yang begitu misterius dan kondisi politik negara saat ini, menurut informasi yang saya kumpulkan, untuk sementara ia dikategorikan dalam pengawasan tingkat satu. Itu artinya dia termasuk golongan yang harus diwaspadai. Termasuk dalam golongan yang dicurigai terlibat dalam pemberontakan.”

Joongki menghembuskan napas berat mendengarnya.

“Mengesampingkan semua kemungkinan buruk tersebut, sebenarnya gadis ini tak memiliki catatan buruk sepanjang ia hidup. Di SMA Maehwa ia termasuk deretan siswi berprestasi. Beberapa skandal yang melibatkannya sejak masuk ke dalam Hwaseong Academy hamba rasa hanya pengaruh tekanan karena penolakan akan keberadaan mereka dari murid lain.”

Joongki tersenyum lega sembari mengangguk-angguk pelan.

“Beberapa mengatakan gadis ini anaka dari salah satu seniman di kampung Lupin. Hamba sendiri menjadi sangat penasaran padanya. Kenapa dia harus tampil seperti itu ketika bersekolah? Sedang jika di atas panggung ia terlihat begitu sempurna.”

“Aku pun sama.”

“Hamba sama sekali tak memiliki niat untuk menghalangi Yang Mulia atau mendorong maju Yang Mulia dalam urusan gadis ini. Masalah hati dan wanita sangatlah sensitif.”

“Iya. Aku paham akan hal itu. Ini yang pertama dan aku sangat mempercayaimu, karena itulah aku berani bicara jujur padamu.”

“Lalu apakah Yang Mulia benar-benar ingin berjuang untuk gadis ini?”

“Nee. Setidaknya jika benar menururt dugaanmu ini hanya penasaran, maka biarkanlah rasa penasaran itu hilang dengan aku mengenalnya. Bolehkah?”

“Tak ada larangan untuk itu Yang Mulia.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Menurut penilaian hamba, gadis ini sangat mencintai kebebasan. Proses alami sangatlah bagus untuknya. Jadi Yang Mulia harus mendekatinya secara perlahan tanpa harus menunjukan siapa sebenarnya jati diri Yang Mulia. Apa Yang Mulia sanggup? Wanita itu sulit ditebak, namun pada dasarnya semuanya sama. Mereka mendambakan ketulusan. Gelar sebagai Raja, orang nomer satu di Wisteria Land yang Baginda sandang bisa saja membuatnya tunduk, tapi apakah cinta yang seperti ini yang Baginda inginkan?”

“Aku tak mau. Semua kisah bahagia selamanya antara pangeran dan putri dalam dongeng diukir dengan indah secara alami. Ketulusan yang tumbuh di dalam hati kedua anak manusia itu aku pun menginginkan kisah yang seperti itu. Aku ingin ia juga merasakan rasa suka yang aku rasakan padanya sebagai rasa suka yang ia rasakan padaku dengan alami dan tulus bukan paksaan. Aku ingin memupuknya bersama-sama dengannya.”

Kyuhyun tersenyum mendengar impian Joongki akan Magi. “Kalau begitu Yang Mulia harus berjanji ini akan menjadi rahasia kita. Kita akan bergerak diam-diam dan membuatnya jatuh hati.”

“Apa itu mungkin?”

“Jika tak mengambil resiko untuk mencoba, bagaimana kita tahu itu mungkin atau tak mungkin?”

“Hah... kau benar. Membayangkannya saja aku sudah begini gugup.”

Kyuhyun kembali tersenyum melihat bagaimana tingkah Joongki yang sedang jatuh cinta itu. “Aku tak tahu ini benar atau salah. Magi adalah teman baik Sungrin, dan Yang Mulia adalah langitku. Wahai Sang Penguasa Alam, tentang hasil akhir, aku pasrahkan pada-Mu,” gumam Kyuhyun dalam hati.
***

Magi duduk memainkan kecapi di salah satu gazebo di rumah seni Snowdrop milik Tuan Yoon, ayah Songeun, tempat dimana Snapdragon biasa berlatih untuk permainan alat musik tradisional mereka.

L. Joe duduk di depan Magi. Menyaksikan Magi memainkan kecapi dan menikmati alunannya. Masih sama seperti sebelumnya, L.Joe selalu menatap Magi dengan tatapan teduh berbinar penuh kekaguman. L.Joe bertepuk tangan ketika Magi menyelesaikan permainan kecapinya.

“Hah... aku benar-benar tampak seperti gisaeng seperti ini. Dibalut hanbok duduk memainkan kecapi menemani seorang Tuan Muda dengan berbagai hidagan mewah di gazebo seperti ini. Aku periksa hanya arak yang kurang di sini,” kata Magi setelah menyelesaikan permainan kecapinya.

“Gisaeng selalu bertutur kata lembut, bukan kasar dan tak beraturan seperti yang kau lakukan baru saja.” Sanggah L.Joe. “Tutur kata para gisaeng itu selalu lembut dan terdengar merdu di telinga hingga membuat siapa saja merasa nyaman duduk bersama mereka.”

“Ey...” Magi menyipitkan kedua matanya menatap skeptis pada L.Joe.

“Aniya!” bantah L.Joe yang menyadari arti tatapan mengadili Magi padanya. “Aku tak pernah pergi ke rumah hiburan gisaeng. Sungguh.”

“Tapi Sunbaenim tahu detailnya.”

“Ya! Itu... itu hanya... hanya yang aku dengar. Lagi pula banyak film tentang gisaeng, kau bisa tahu dari sana juga kan.”

Magi masih menatap L.Joe dengan tatapan skeptis. Membuat L.Joe makin dibuat serba salah.

“Ya. Aku sungguh-sungguh. Apa kau tak percaya? Alasan yang membuatku rajin datang ke Club Golden Rod adalah kau. Aku hanya datang ke sana di Senin dan Kamis malam. Untuk melihatmu.”

Tiba-tiba Magi terkikik geli melihat tingkah L.Joe. “Sunbaenim, penjelasan itu sangatlah kacau,” ungkap Magi ditengah tawanya.

“Ish! Kau ini!” L.Joe kesal dibuatnya.

“Aku rela menjadi gisaeng yang melayani Tuan.”

L.Joe tertegun mendengarnya. Sedang Magi tiba-tiba bertingkah anggun ketika menuangkan teh ke cawan L.Joe. Magi tersenyum melihat ekspresi kaget L.Joe.

“Selama ini hidupku hanya aku abdikan untuk keluarga yang membesarkan aku dan pada seni musik yang aku cintai. Aku hanya ingin menjadi gadis yang mereka inginkan dengan sedikit pemberontakan yaitu bersikeras belajar musik. Membacakan sebuah cerita dan bermusik di jalanan adalah hidupku dan dengan itu semua aku merasa benar bahagia. Sampai pada waktu engkau datang menunjukan diri. Aku sama sekali tak pernah menduga kita akan sampai sejauh ini. Awalnya bagiku Sunbaenim adalah sama dengan bangsawan-bangsawan itu. Hanya membutuhkan kesenangan. Tapi aku salah. Mungkin benar apa yang mereka katakan, aku sudah gila kini. Aku sendiri tak tahu mengapa. Awalnya aku tak pernah memikirkan tentang semua ini. Menjalin hubungan dengan seorang pria. Sunbaenim datang mengusikku dan tanpa lelah mengetuk lembut pintu hatiku yang tanpa aku sadari sebelumnya telah tertutup rapat untuk siapapun tanpa alasan yang jelas. Pernah berusaha menolaknya, namun aku tak kuasa. Aku tak bisa. Aku pun luluh dan menyerah pada Sunbaenim. Bagaimana kita bisa sampai di titik ini, proses itu sesungguhnya hingga kini jika aku memikirkannya, aku masih merasa tak paham dan tak seolah tak percaya jika ini benar terjadi dalam hidupku.”

L.Joe tersenyum mendengar ungkapan hati Magi. “Tapi itu terjadi dan itulah kenyataannya. Berhentilah berpikir dan menganggap semua ini seolah mimpi dalam hidupmu.”

“Aku tak main-main. Tanpa ragu aku katakan, aku rela meninggalkan segala yang aku miliki asal aku bisa selalu bersama Sunbaenim. Aku yakin pada pilihan dan keputusanku ini.”

L.Joe terdiam menatap Magi. Ia tak menyangka Magi mengatakan itu semua.

“Kenapa menatapku seperti itu? Apakah itu konyol?” tanya Magi dengan wajah bersemu merah.

L.Joe tersenyum lalu mendekati Magi dan berbaring menyandarkan kepala di pangkuan Magi. Magi terkejut ketika L.Joe tiba-tiba menjatuhkan kepala dalam pangkuannya.

“Aku pun merasakan hal yang sama. Ingin memilikimu, merengkuhmu dekat dipelukku dan hidup bersamamu. Untuk itu semua aku pun rela meninggalkan semua yang aku miliki, untuk bisa bersamamu. Selamanya.” Kata L.Joe yang telah terbaring dengan menjadikan pangkuan Magi sebagai bantal untuk sandaran kepalanya.

“Apa kita ini keterlaluan? Terlalu melankolis? Masih ada begitu banyak tanggung jawab yang harus kita penuhi selain hanya memikirkan persaan egois kita yang ingin saling memiliki ini kan?” logika Magi kembali mendominasi. “Segala perhatian dan cinta kasih Sunbaenum sejenak membuatku melayang dan serakah hingga mengabaikan yang lain.”

L.Joe tersenyum, meraih kedua tangan Magi dan melingkarkannya di lehernya. “Tapi aku memang serakah dan egois jika itu menyangkut dirimu. Maaf jika pilihan ini terlalu kejam, bagiku lebih baik kita mati bersama daripada aku harus hidup dan melihatmu bersama pria lain.”

“Aigo! Itu kejam sekali. Tapi untuk alasan apa aku memilih hidup dengan pria lain selain Sunbaenim?”

“Bagaimana jika pesaingku, pria yang lain yang mencoba merebut hatimu adalah seorang pangeran. Pangeran yang sebenarnya. Pangeran yang akan menjadi raja di negeri ini. Apakah kau akan tetap memilih tinggal disisiku dan mengabaikan uluran tangan pengeran itu?”

Tangan kanan Magi bisa merasakan dengan jelas detak jantung L.Joe. Meraba dari detak jantung itu Magi yakin jika L.Joe tak main-main dengan pertanyaanya. Magi tersenyum lembut. “Apa yang aku miliki melebihi apa yang dimiliki Raja negeri ini. Aku tak membutuhkannya untuk mendampingi hidupku. Aku telah memiliki segalanya dan semakin lengkap dengan hadirnya Sunbaenim di hidupku. Jika pangeran itu benar-benar datang untuk menjadi pesaing Sunbaenim, aku akan mengatakan padanya jika hatiku hanya satu dan telah aku serahkan sepenuhnya kepada seorang pemuda yang sangat aku cintai bernama Lee Byunghun.”

L.Joe tersenyum lega dan menyamankan posisi kepalanya di dalam pangkuan Magi.

“Lalu bagaimana jika pesaingku adalah putri negeri ini? Apa Sunbaenim masih akan setia padaku?”

“Kenapa kau bertanya begitu?”

“Aku hanya menanyakan hal yang sama seperti yang Sunbaenim tanyakan padaku.”

“Hah... aku sangat lelah dan mengantuk.” L.Joe meraih kedua tangan Magi yang merangkulnya, memegangnya erat dan memejamkan kedua matanya. “Saranghae. Nomu, nomu saranghae Magi...” kata L.Joe dengan kedua mata terpejam dan senyum terkembang di wajahnya.

Magi tersenyum dan membiarkan L.Joe terlelap dalam pangkuannya.
***

Suri menikmati waktunya bersama Baro di ruang kerja Baro. Baro tak keberatan ketika Suri meminta izin untuk ikut membantu. Dengan telaten Baro mengajari Suri bagaimana meramu adonan dan membuat botol keramik.

“Woa! Lihat! Aku berhasil!” seru Suri riang ketika ia berhasil membuat botol keramik pertamanya. “Bagaimana? Bagus tidak?”

“Untuk ukuran pemula... yah lumayan.”

“Bentuknya masih tak sempurna.”

“Nanti juga bisa semakin baik jika kau mau terus belajar.”

“Asal kau tak merasa kerepotan olehku, aku mau saja terus belajar di sini, bersamamu.” Suri tersenyum lebar.

“Han Suri.”

“Nee?”

“Aku ingin menunjukan sesuatu padamu, tapi berjanjilah padaku kau tak akan marah padaku.”

“Kenapa aku harus marah padamu? Apa yang ingin kaub tunjukan padaku?”

“Aku takut kau akan marah karena aku tak meminta izin dahulu kepadamu.”

Suri menetap Baro dengan ekspresi tak paham. “Tunjukan saja. Aku janji aku tak akan marah.” Suri menyanggupi.

Baro segera tersenyum lebar. “Ikut aku!” ajaknya pada Suri dan segera berjalan memimpin menuju salah satu sudut dari ruang kerjanya.

“Berjanjilah kau tak akan marah padaku.” Baro mengulurkan jari kelingking tangan kanannya.

“Kau ini seperti anak kecil saja.”

“Kalau kau tak mau berjanji, aku tak akan menunjukannya padamu.”

“Hah... baiklah...” Suri mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Baro. “Aku berjanji aku tak akan marah ketika melihat apa pun itu yang ingin kau tunjukan padaku.”

“Hehehe gomawo.”

Suri menarik jari kelingkingnya kembali. “Sekarang tunjukan apa itu yang ingin kau tunjukan padaku.”

Baro menunjuk sesuatu di atas meja yang tertutup kalin cokelat. Suri mengerutkan dahi menatap sesuatu itu. Ia penasaran pada apa yang berada dibalik kain berwarna cokelat itu. Baro tersenyum lebar melihat ekspresi penasaran Suri. Ia kemudian menarik kain cokelat yang menutupi benda yang ingin ia tunjukan pada Suri itu.

“Woa...” Suri terpesona melihat sebuah patung dari tanah liat berbentuk kepala seorang gadis. “Ini... aku??” tanya Suri sembari menuding patung di atas meja itu.

“Nee. Dulu aku selalu berkhayal tentang putri cantik yang datang ke kastil ini dan membebaskan aku dari kutukan ini. Berulang kali aku mencoba membuat patung ini namun selalu gagal ketika harus melukis bagaimana wajahnya. Aku menghancurkannya kembali. Tapi ketika kau datang, inilah hasilnya. Aku berhasil membuatnya setelah kau datang bersama kaktus lucu malam itu. Aku menyelesaikannya dalam waktu semalam.”

“Woa! Kau keren.” Puji Suri. “Tapi... Baro-ssi, aku bukanlah putri dan...”

“Aku tahu.” Potong Baro sebelum Suri menyelesaikan kalimatnya. “Aku hanya ingin menunjukan hasta karyaku ini padamu. Akhirnya berkat bantuanmu, patung impianku ini selesai. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa membuatnya. Terima kasih Han Suri dan maaf karena aku tak meminta izin dahulu untuk melukis wajahmu dalam patung buatanku ini.”

Suri tersenyum sungkan.

“Kutukan ini tak akan hilang hanya dengan datangnya seorang gadis cantik yang kemudian rela menciumku seperti dalam dongeng. Kau tak perlu merasa sungkan atau iba padaku. Ini takdir yang harus aku jalani, walau kadang aku merasa terpuruk juga karenanya tapi bukankah itu manusiawi?”

“Mianhae... Baro-ssi.”

“Lalu bagaimana menurutmu? Apakah ini sempurna? Katakan jika ada yang kurang. Aku akan memperbaikinya.”

“Ini sempurna.”

“Kau yakin?”

Suri tersenyum dan mengangguk.

“Ah, syukurlah. Berarti daya imajinasiku sangat bagus kan? Hehehe.”

“Baro-ssi, jika bukan gadis yang bisa melepasmu dari kutukan ini lalu apakah tak ada cara lain untuk melepaskan kalian dari kutukan ini?”

“Willow yang merawat kami mengatakan kutukan ini akan hilang jikaa kami berhasil membunuh si pembuat kutukan. Karena mantra kutukannya terlalu kuat.”

“Membunuh si pembuat kutukan? Lalu siapakah si pembuat kutukan itu?”

“Kau pasti mengenalnya. Orang yang paling ditakuti dan terkenal kejam di Wisteria Land ini.”

“Rat... Ratu Maesil??” Suri terbata.

“Nee... dia terlalu kuat untuk ditakhlukan bukan?”

“Tapi menurut ramalan Putri Ah Reum lah yang bisa mengalahkannya dan aku yakin Putri Ahreum masih hidup di luar sana. Ia pasti kembali untuk menyelamatkan rakyatnya.”

“Jika benar ia masih hidup, bagiku ia begitu pengecut karena membiarkan masalah yang menimpa rakyatnya berlarut-larut. Ah... sebaiknya aku melanjutkan pekerjaanku.” Baro sembari berjalan pergi meninggalkan Suri yang berdiri mematung menatapnya.

Suri kembali menatap patung kepala yang dibuat Baro. Suri menyentuhnya pelan lalu tertunduk dengan wajah menyesal.

***

-------TBC--------

Keep on Fighting
                shytUrtle


 

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews