Senin, 24 September 2018

My 4D's Seonbae - Episode #19 "Menjaga Sebuah Rahasia Itu Tidak Mudah"


Episode #19 "Menjaga Sebuah Rahasia Itu Tidak Mudah"



Jaehwan duduk di atas sebuah sofa berwarna hitam. Kedua kakinya yang naik ke atas meja pendek di depan sofa dan berselonjor bergoyang-goyang. Kedua telinganya tertutup headset. Sedang kedua tangannya sibuk dengan ponsel.
“Woojin? Ngajak jalan? Sama Bae Jinyoung dan Minhyun? Malem mingguan bareng?” Jaehwan bergumam. Pandangannya masih terfokus pada layar ponselnya.
“Boleh juga. Lama nggak malem mingguan rame-rame.” Ia tersenyum lebar dan segera membalas pesan Woojin. Jaehwan setuju untuk bergabung dengan Woojin, Jinyoung, dan Minhyun.
Jaehwan mendongakkan kepala setelah merasakan ada yang menyentuh pundaknya. Ia melepas headset yang menutupi kedua telinganya.
“Tolong jaga di depan. Appa mau pipis sebentar.” Ayah Jaehwan melepas tangan kirinya yang memegang pundak Jaehwan.
“Oke.” Jaehwan mematikan mp3 dalam ponselnya. Menurunkan kedua kakinya, lalu meletakkan ponsel di atas meja. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang istirahat yang nyaman itu.
Jika tidak ada kegiatan, setiap akhir pekan Jaehwan selalu membantu ayahnya. Ayah Jaehwan memiliki peternakan ikan air tawar yang menjual langsung produk mereka. Pekerjaan yang sempat tak ia sukai. Tapi, pemikirannya berubah sejak ia tak sengaja bertemu Luna di tambak milih ayahnya.

Hari itu hari Minggu. Seperti sebelumnya, dengan terpaksa Jaehwan membantu ayahnya di peternakan. Karena ramainya pembeli, Jaehwan sampai harus turut turun tangan melayani pembeli. Ada sepasang suami istri non Korea menghampirinya. Pasutri itu ingin membeli ikan gurame. Jaehwan bersiap melayani, tapi kedua matanya terbelalak ketika seorang gadis menghampiri pasutri itu. Gadis yang ia kenal di sekolah. Gadis itu adalah Luna.
Jaehwan hendak menghindar, tapi Luna lebih dulu melihatnya. Luna pun tampak kaget. Tapi, kemudian tersenyum manis pada Jaehwan. Saat momen canggung itu berlangsung, ayah Jaehwan datang. Beliau menyambut ramah kedua orang tua Luna yang merupakan pelanggan tetapnya. Di tengah obrolan basa-basi antar orang tua itu, Ayah Jaehwan memperkenalkan putranya. Saat itu lah Luna mengaku jika Jaehwan adalah  temannya. Para orang tua itu pun senang. Ayah Jaehwan meminta Jaehwan menemani Luna berkeliling tambak.
Sepanjang menemani Luna berkeliling, Jaehwan diam. Sebenarnya ia malu. Karena ketahuan membantu ayahnya di tambak. Selama ini tak ada satu pun teman sekolahnya yang tahu jika ia sering membantu di tambak ayahnya. Tak banyak pula yang tahu jika ayahnya adalah seorang peternak ikan air tawar. Lamunan Jaehwan buyar ketika Luna tiba-tiba berseru karena menemukan kolam ikan lele. Gadis itu menuding gambar ikan lele yang berada di papan di atas kolam buatan.
“Aku pikir di Korea nggak ada ikan lele. Ternyata ada!” Luna dengan wajah berbinar.
“Kamu suka ikan lele?” Jaehwan dengan hati-hati. Ia khawatir merusak momen bahagia Luna. Bahagia karena menemukan ikan lele di tambaknya.
“Nggak.” Luna menggeleng.
Kening Jaehwan berkerut. “Trus, kenapa ekspresinya gitu banget? Kayak nemu emas.”
“Nggak nyangka aja di Korea ada ikan lele. Hehehe.”
“Korea masih di bumi juga. Ikan lele bisa aja ada di sini.”
Dari penemuan ikan lele di tambak milik ayah Jaehwan itu lah obrolan terus berlanjut. Jaehwan yang lumayan  pandai mencari bahan obrolan membuat tur keliling tambak bersama Luna tak diisi dengan keheningan. Hingga mereka membicarakan orang tua masing-masing.
Luna mengungkapkan jika ayahnya pernah menjadi seorang tukang kebun saat kuliah. Itu demi menambal biaya kebutuhan sehari-hari sebagai mahasiswa pas-pasan yang berkuliah di kota besar. Berkat kerja keras ayahnya, kini ayahnya bisa mendapat posisi baik di perusahaan. Bahkan, sampai membawa Luna berserta keluarganya ke Korea.
Mendengar Luna yang dengan bangga menceritakan masa lalu ayahnya, Jaehwan merasa malu. Malu pada dirinya sendiri yang kurang mensyukuri keadaannya yang jauh lebih beruntung dari masa muda ayah Luna. Sejak saat itu, ia membuang jauh-jauh rasa gengsi di dalam dirinya. Apa pun keadaannya, ayahnya adalah orang paling berjasa dalam hidupnya. Yang selalu menjaganya dan membesarkannya dengan baik. Membiayai segala kebutuhannya dengan baik pula.


Jaehwan tersenyum. “Kenapa aku tiba-tiba ingat momen itu?” Ia memiringkan kepala dan kembali tersenyum. “Apa karena aku pakek kaos ini ya?” Ia mengelus kaos pemberian Luna saat ia terjatuh ke dalam selokan karena dikejar Bogi.
“Permisi!” Terdengar suara seorang pria. Jaehwan segera melihat siapa yang datang.
“Oh!” Mulut Jaehwan membulat ketika ia mengetahui siapa yang datang ke tambak milik ayahnya. “Rania?” Ia kemudian tersenyum lebar.
“Oh!” Rania pun terkejut melihat Jaehwan. “Kim Jaehwan?”
“Siapa dia?” Tanya wanita yang berdiri di dekat Rania dengan menggunakan bahasa Indonesia.
“Temen sekelas, Ma. Namanya Kim Jaehwan.”
“Wah! Jadi, temen…”
Rania mendelik menatap sang ibu. Memberi kode agar ibunya tak melanjutkan kalimatnya.
“Oh!”  Ibu Rania tersenyum kikuk. “Senang bertemu dengan teman Rania.” Beliau pun menyapa Jaehwan dalam bahasa Korea.
“Senang juga bertemu Tante dan Om.” Jaehwan membalas sapaan ibu Rania dengan bahasa Indonesia. Membuat ayah dan ibu Rania kaget. “Saya punya teman orang Indonesia juga. Selain Rania. Namanya Luna. Saya belajar bahasa Indonesia dari Luna.”
Rania menertawakan logat Jaehwan yang menurutnya lucu saat menggunakan bahasa Indonesia.
“Silahkan. Silahkan. Mau mencari ikan apa?” Jaehwan kembali menggunakan bahasa Korea.
Ayah Jaehwan kembali. Lalu, turut menyambut pelanggan yang datang. Setelah tahu jika Rania adalah teman sekelas Jaehwan, ia meminta putranya membawa Rania berjalan-jalan di tambak.

Jaehwan yang berjalan di samping kanan Rania menundukkan kepala dan tersenyum. Rania heran melihat tingkah Jaehwan.
“Kenapa kamu senyum-senyum gitu?” Rania menegur Jaehwan.
“Nggak papa. Merasa deja vu aja.”
Deja vu? Ngomong-ngomong kaos kamu bagus.”
“Ini ya? Dikasih Luna.”
“Dikasih Luna??”
Giliran Jaehwan yang heran melihat reaksi Rania. “Kenapa kaget gitu sih?”
“Kamu deket banget sama Luna? Sampai dikasih kaos segala. Itu kaos merk terkenal di Indonesia lho! Punya oppanya Luna yang pertama. Kebanyakan yang pakek kaos merk itu artis. Orang kalangan menengah ke atas lah.” Rania tersenyum bangga.
Jaehwan melongo. “Kok… kamu tahu?”
Rania menarik senyumnya. “Ya… ya tahu lah! Luna itu kan jadi selebgram gara-gara sering disebut sama oppanya yang kedua. Yang jadi artis itu.” Ia menggigit bibir bawahnya.
“Oh iya ya.” Jaehwan manggut-manggut. “Di Indonesia pasti tenar banget.”
“Iya dong! Oppanya Luna yang jadi artis, terkenal juga di kalangan pecinta kpop Indonesia. Dia kan pernah jadi trainee salah satu agensi besar Korea.”
“Masa sih?”
“Emang Luna nggak pernah cerita?”
“Kayaknya nggak.”
“Dia emang kurang akur sih sama Mas Dinar.”
“Mas Dinar?”
“Itu nama oppanya Luna yang jadi artis. Dinar Oppa. Bahasa Indonesianya Mas Dinar.”
“Oh. Rania banyak tahu soal Luna ya.”
Rania hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.
***

Puas bermain-main di game zone, Jaehwan, Woojin, Jinyoung, dan Minhyun makan malam bersama.
“Tadi Rania ke tempatku lho!” Jaehwan memulai obrolan di tengah makan malam bersama.
Minhyun langsung berhenti mengunyah makanan di dalam mulutnya. Ia melirik Jaehwan.
“Pasti beli ikan, kan? Ngapain lagi.” Woojin menebak. Ia terlihat santai. Tak terkejut sama sekali.
“Hehehe. Iya.” Jaehwan membenarkan.
Minhyun menghela napas dan kembali makan.
“Dia kaget karena aku pakek kaos ini.” Jaehwan lanjut menceritakan pertemuan tak sengajanya dengan Rania di tambak milik ayahnya.
“Kaget karena kaos itu pemberian Luna?” Lagi-lagi Woojin menebak.
Minhyun kembali dibuat kaget hingga berhenti mengunyah makanan di dalam mulutnya. “Luna ngasih kamu kaos?” Ia penasaran.
“Iya. Kaos yang dia pakai itu pemberian Luna.” Woojin membenarkan.
“Jangan salah paham, Minhyun. Nggak seperti yang kamu bayangin kok.” Jaehwan memperjelas maksud Woojin.
Jinyoung tersenyum melirik Minhyun. “Minhyun cemburu ya?” Godanya.
“Nggak kok! Aku dan Luna dulu hanya teman. Nggak lebih dari itu.” Minhyun membantah.
“Sayang ya kalian putus.” Woojin menimpali. “Padahal kalau temen kan harusnya nggak ada kata putus. Salah paham antar teman kan bisa diluruskan.”
Jinyoung dan Jaehwan kompak melirik Minhyun. Woojin melontarkan kalimat yang bisa saja membuat Minhyun merasa terpojok bahkan marah.
“Maaf. Aku keterlaluan.” Woojin segera meminta maaf.
“Harusnya tadi aku ajak Rania ikut ya.” Jaehwan berakting seolah tidak ada ketegangan beberapa detik lalu. “Dia tahu banyak tentang Luna ternyata.”
“Kan sama-sama orang Indonesia. Luna lumayan terkenal karena oppanya ada yang jadi idol itu.” Woojin menanggapi. “Jadi waktu itu kami ke rumah Luna. Aku dan Jaehwan. Kami bertiga pulang bareng. Di jalan, kami dikejar anjing. Jaehwan jatuh ke selokan. Karena seragamnya kotor, Luna ngasih dia kaos itu dan celana training.”
“Luna takut anjing?” Jinyoung merespon penjelasan Woojin.
“Karena waktu SD pernah dikejar anjing. Dia jadi trauma.” Minhyun menyahut. Memberi penjelasan. Membuat ketiga temannya kompak menatapnya. “Bagaimanapun, aku lebih dulu mengenal Luna daripada kalian,” imbuhnya.
“Jadi, Luna itu, bagaimana?” Woojin sengaja memberi sedikit jeda saat bertanya pada Minhyun tentang Luna.
“Ada yang bilang dia aneh. Kadang aku berpikir anehnya di mana.” Jinyoung menyambung.
“Wah, Jinyoung diam-diam memperhatikan ya.” Jaehwan tersenyum jahil pada Jinyoung. Membuat pemuda super pendiam itu tersipu.
“Kalian kan juga berteman sama dia. Pasti kalian juga udah tahu dia kayak gimana,” jawab Minhyun.
“Untung aja tadi Rania nggak nanya gimana aku dapat kaos ini dari Luna. Kalau nanya kan aku malu. Masa iya aku bilang gara-gara aku nyemplung selokan?” Jaehwan berusaha mengalihkan topik.
“Kalau mau baikan sama Luna, bilang aja ke aku. Aku siap bantu.” Woojin tersenyum lebar, menunjukkan gigi gingsulnya pada Minhyun.
Minhyun menghela napas dan menggeleng. Kemudian, mereka melanjutkan makan malam dalam diam.
***

Luna tertegun usai Daehwi membuat pengakuan di depannya. Ia sama sekali tak menduga Daehwi akan mencurahkan semua isi hati yang ia pendam padanya.
“Seonbae?” Daehwi memanggil Luna karena sepertinya gadis itu melamun usai ia mengungkapkan semua unek-uneknya.
“Aku masih di sini kok!” Luna mengerjapkan kedua matanya. “Kenapa cerita ke aku?”
“Mau ke siapa lagi? Hatiku memilih Seonbae. Seonbae bilang, kalau suka ungkapkan aja. Hasil akhirnya serahin pada takdir Tuhan.”
“Ya kenapa ngungkapinnya ke aku? Bukan ke Joohee langsung?”
“Aku… aku nggak tahu gimana memulainya.”
“Kamu laki bukan sih? Tinggal ngomong doang, kan?”
“Ngomong itu bukan perkara gampang,” Jihoon ikut bersuara.
“Nah, kan? Bener kata Jihoon. Untuk ngungkapin ini semua ke Seonbae aja, aku sampai bawa Jihoon. Takut dia cemburu sih! Dia kan cemburuan. Ntar kalau dia cemburu dan marah, aku bisa mampus!”
“Kok jadi aku yang di bully?” Jihoon tidak terima.
“Trus, kamu maunya apa?” Luna menyela.
“Tolong, bantu aku. Untuk bisa mendekati Joohee. Aku ingin dia tahu kalau aku suka dia. Aku mohon… jebal.” Daehwi memelas.
“Sejauh ini, apa yang kamu lakuin? Buat nunjukin kalau kamu suka dia?”
“Mmm, cuman nyapa dan ngobrol singkat sama dia pas dia ke perpustakaan.”
“Nah, itu bagus.”
“Trus, aku harus ngapain lagi? Ayolah, Seonbae! Bantu aku. Jebal…”
“Tunggu aja kesempatan.”
“Menunggu??” Pekik Daehwi.
“Iya. Kamu punya rencana?”
“Nggak. Makanya aku minta bantuan Seonbae.”
“Aku belum pernah jadi mak comblang lho!”
“Nggak papa. Aku percaya sama Seonbae. Aku rela jadi kelinci percobaan Seonbae.”
“Idih! Gitu amat ini anak.”
“Aku harus minta bantuan ke siapa? Aku anak tunggal. Masa iya aku harus minta bantuan ommaku?”
Luna dan Jihoon kompak tersenyum. Menertawakan Daehwi.
“Ya udah. Jihoon, bantu Daehwi ya.”
“Mwo?? Kok aku??”
“Joohee satu kelas sama kamu, kan?”
“Satu kelompok juga!” Daehwi antusias.
“Nah, jadi ayo kita bantu Daehwi.”
Jihoon menatap Luna. Sebenarnya ia enggan ikut campur urusan orang lain. Tapi, karena Luna bersedia membantu Daehwi. Ia pun jadi merasa harus turut membantu Daehwi. Ia tidak mau membiarkan Daehwi sering-sering berduaan dengan Luna.
“Baiklah.” Jihoon pun setuju membantu.
“Asik!!” Daehwi bertepuk tangan karena senang.
“Laporkan momen apa aja yang udah terjadi antara kamu dan Joohee.” Luna memberi perintah.
“Nee?” Daehwi merasa salah dengar.
“Udah lakuin aja. Aku butuh kesempatan dan skenario untuk bantu kamu.”
“Oke.” Daehwi mengangguk paham.
“Jihoon, bisa tolong cari informasi tentang Joohee?”
“Akan aku coba.” Jihoon menyanggupi.
“Baiklah. Kerjasama dimulai. Ingat, Daehwi. Laporkan setiap momenmu bersama Joohee. Semoga aja ada kesempatan untuk kalian.”

Luna tersenyum ketika ia mengingat bagaimana Daehwi meminta bantuan padanya. Jihoon yang duduk di samping kanannya pun turut tersenyum. Sejak masuk ke dalam mobil, Luna memang tak berkata sepatah katapun. Tapi, sesekali ia tersenyum dengan wajah bersemu merah.
“Senang sekali ya?” Jihoon akhirnya memulai obrolan.
Luna mengangguk. “Lega sekali karena rencana berjalan lancar. Terima kasih ya.”
Jihoon tersenyum. “Kalau kamu senang, aku juga senang.”
Luna terkejut karena Jihoon tidak lagi memanggilnya 'seonbae'.
“Kenapa kaget gitu? Kita kan seumuran. Di luar sekolah nggak papa kan kalau aku nggak manggil kamu dengan sebutan seonbae?”
“Walau seumuran, aku ini tetap seniormu!” Luna pura-pura tak terima.
“Neomu kiyowo!” Jihoon mengelus puncak kepala Luna.
Luna kaget ketika Jihoon tiba-tiba mengelus puncak kepalanya. Jantungnya serasa akan copot. Tubuhnya pun tiba-tiba memanas. Dia mulai lagi! Sialan! Gumamnya dalam hati.
Jihoon menurunkan tangannya yang mengelus puncak kepala Luna. Ia senang melihat semburat warna merah di wajah Luna. Dia bukan robot. Rona merah itu, mungkin aja dia punya rasa yang sama padaku. Tapi, malu mengakuinya. Atau, belum menyadarinya.
“Besok aku mau main ke kebun kakek Sungwoon. Ramai-ramai. Sama Sungwoon, Jisung, Seongwoo, Woojin, dan Rania.” Luna mengalihkan topik.
“Rania? Murid baru itu?”
“Mm. Aku nggak mau pergi cewek sendirian. Buat main-main, bukan ngerjain tugas sekolah. Risih aja rasanya. Baru juga satu kelompok sama mereka.”
“Kalau berdua sama aku, nggak risih.”
“Nggak lah. Kamu kan pacarku.”
Jihoon tersipu mendengar pengakuan Luna.
“Aku lagi akting tahu! Ekspresinya nggak usah gitu banget!”
“Akting? Untuk mengelabuhi siapa?”
“Itu, Paman Sopir.”
“Dasar! Ha Sungwoon Seonbae kan udah nggak di sini.”
“Untung ya ada dia.”
“He’em.”
“Tapi, aku lega sih temen-temen kamu batal dateng. Aku bisa canggung di depan mereka.”
Jihoon tersenyum dan mengangguk. “Kira-kira Daehwi sama Joohee, di dalam bus, pulang bareng, ngobrolin apa ya?”
“Mau aku telponin?”
“Kamu ini!” Jihoon menangkup wajah Luna dengan kedua tangannya karena merasa gemas. Menyentuh wajah Luna, membuatnya merasakan panas yang berpusat di wajahnya. Jantungnya pun berdetub dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
Lagi-lagi Luna dibuat terkejut oleh perlakuan Jihoon. Kali ini karena pemuda itu tiba-tiba menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasakan panas itu berpusat di wajahnya.
“Kita, masih dibawah umur.” Kalimat itu keluar dari mulut Luna. Membuat Jihoon tersenyum dan menurunkan kedua tangannya dari menangkup wajah Luna.
Jihoon melihat sopir pribadinya tersenyum ketika ia menatap spion. Ia tak marah, tapi malu. Ia pun membalas senyum sebelum mengalihkan pandangan.
***

Berlari kecil Luna menaiki tangga menuju rooftop-nya. Mobil Jihoon sudah pergi. Ia lega karena Jihoon tidak bertingkah berlebihan seperti saat kencan pertama mereka. Luna memiringkan kepala ketika kata kencan itu lewat dalam pikirannya.
“Kencan! Kencan apaan!” Luna memaki dirinya sendiri.
Langkah Luna terhenti ketika ia sampai di tangga teratas. Ia menemukan seorang pemuda sedang menari di depan rooftop-nya. Keningnya berkerut, mencoba mengenali sosok tinggi yang dibalut kostum serba hitam itu. Kepalanya tertutup topi hoodie. Luna tidak beranjak. Ia tetap berada di tempatnya berdiri. Pemuda yang sedang asik menari itu membalikkan badan. Menghadap pada Luna. Gerakannya terhenti.
“Daniel?” Luna akhirnya bisa mengenali pemuda yang sedang menari di depan rooftop-nya.
“Eh, Seonbae.” Daniel menyapa dengan canggung sambil membuka topi hoodie yang ia kenakan.
“Udah lama?” Luna berjalan menghampiri Daniel.
“Ya, lumayan.” Daniel tersenyum manis.
Luna membalas senyum, lalu membuka pintu dan mempersilahkan Daniel masuk.
“Aku cuman bentar kok.” Daniel enggan untuk masuk. “Lagi pula ini udah malam. Hampir jam sembilan. Kalau di Indonesia, jam kunjungan malam untuk seorang anak gadis, maksimal jam delapan kan?”
Luna menghela napas dan tersenyum. “Maaf ya.”
“Nggak papa kok. Aku cuman mau bilang, besok ommaku akan membantu mencari jeruk untuk Seonbae.”
Senyum di wajah Luna sirna. “Tapi, besok aku ada janji sama squad Moon Kingdom. Mau pergi ke kebun kakek Sungwoon.”
“Nggak papa. Omma mau membelinya untuk Seonbae. Hari ini udah dapat empat lho! Kurang tiga.”
“Woa! Cepat sekali. Aku jadi merepotkan.”
“Nggak kok. Omma seneng bisa bantuin Seonbae. Hidup sendirian di negara asing pasti tidak gampang.”
“Makasih ya. Besok pulang dari kebun kakek Sungwoon, kalau nggak kemaleman, aku mau main ke tempatmu boleh? Aku pengen ketemu tante langsung dan bilang makasih.”
“Tante?”
“Iya. Omma kamu.”
“Oh. Tentu saja boleh.”
“Oke. Makasih ya.”
Daniel tersenyum dan mengangguk. “Kalau begitu aku pulang ya.”
“Nee.”
Daniel pun pamit dan berjalan pergi. Saat akan menuruni tangga, ia menoleh dan tersenyum pada Luna. Luna membalas senyum. Lalu, Daniel menghilang dari jangkaun pandangnya. Ia menghela napas dan menutup pintu rooftop.

Luna selesai membersihkan diri. Ia merebahkan diri dan menatap langit-langit kamarnya. Ia tersenyum ketika teringat bagaimana Daehwi menyatakan cintanya pada Joohee. Ia pun menghela napas panjang.
“Sesuatu yang nyata itu emang indah ya,” Luna berbicara pada langit-langit kamarnya. Kemudian kembali menghela napas panjang.
Perhatian Luna teralihkan pada ponselnya yang bergetar. Ia pun meraihnya. Ada sebuah pesan masuk. Sebuah pesan dari Daniel. Luna tersenyum lebar dan segera membukanya.

Omma menunggu kedatangan Seonbae. Beliau siap menyambut Seonbae dengan baik :)

Senyum Luna semakin lebar usai ia membaca pesan Daniel. Kemudian ia teringat saat Daniel menari dengan luwes di teras rooftop-nya yang luas.

Asik! Tolong sampaikan terima kasihku pada Tante :D Dance kamu tadi keren! ^^b Kenapa nggak ikut Klub Dance aja di sekolah?

Luna mengirim pesan balasan untuk Daniel dan menunggu Daniel membalasnya.

Omma bilang, tidak sabar ingin ketemu Seonbae secara langsung ^^
Ingin gabung, tapi malu T.T

Luna mengerutkan kening ketika membaca pesan balasan dari Daniel.

Kenapa malu? Dance kamu oke lho! Luwes banget! Sayang tadi aku liat cuman bentar.

Luna kembali menunggu.

Waktu SMP pernah gabung b-boy. Pernah ikut kompetisi di Busan juga. Kami pindah ke Seoul setelah aku lulus SMP. Aku berhenti setahun karena masalah ekonomi. Tahun ini baru mulai lagi. Jadi, sebenarnya kita seangkatan ^___^

Kedua mata bulat Luna melebar saat membaca pesan Daniel. “Jadi, sebenarnya dia seangkatan sama Jisung cs? Lebih tua dari aku dong?”

Keren! Videonya ada? Aku pengen liat. Hehehe. Kalau boleh sih.

Luna sengaja tak mengomentari perihal Daniel menunggu selama setahun untuk bisa melanjutkan pendidikannya. Karena Daniel tak kunjung membalas pesannya, Luna pun memilih untuk berusaha tidur. Besok pagi-pagi Sungwoon akan menjemputnya. Mereka akan bersama-sama pergi ke Ilsan. Tempat kebun kakek Sungwoon berada. Akhirnya Luna pun terlelap. Terbang ke alam mimpi.
***

Ini. Kenangan yang aku miliki. Selamat menonton ^^

Luna tersenyum. Membaca pesan Daniel yang dikirim semalam namun baru ia baca setelah ia membuka mata keesokan harinya. Tak langsung turun ke ranjang untuk membersihkan diri, Luna memilih menonton video yang dikirim Daniel padanya.
Luna tersenyum melihat penampilan Daniel dalam video dance yang ia kirim. Pemuda itu masih terlihat cupu dan sedikit chubby. Performance dance Daniel dalam video itu membuat Luna terpukau.

Yang terbaru. Versi kamu udah SMA ini ada?

Luna membalas pesan Daniel. Lalu, ia turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Ia harus bersiap untuk pergi bersama squad Moon Kingdom.
Luna sudah siap pergi. Ia menunggu Sungwoon menjemputnya. Ketika ponselnya bergetar, ia buru-buru memeriksa. Bukan dari Daniel, melainkan Sungwoon yang memberi tahu jika ia sudah dekat. Ia pun menyimpan ponsel di saku jaketnya dan berjalan menuruni tangga dengan langkah malas. Tak lama kemudian mobil Sungwoon muncul.
Sungwoon turun dari mobil dan menyapa Luna. Ia membuka pintu depan dan mempersilahkan Luna masuk. Luna menengok ke dalam. Di bangku paling belakang duduk Woojin, Jisung, dan Seongwoo.
“Semua squad Moon Kingdom ikut lho!” Sungwoon membusungkan dada. Merasa bangga karena berhasil mengajak seluruh anggota kelompoknya.
“Woojin-aa, aku mau duduk di dekat jendela. Deket kamu!” Luna meminta tempat. Membuat Woojin yang duduk di sisi kanan dan dekat jendela terkejut.
“Bukannya kamu mabuk darat kalau duduk di belakang?” Sungwoon juga kaget.
“Kata siapa?” Luna membuka pintu belakang mobil. Menuding Woojin untuk bergeser.
“Semalam. Di mobil Jihoon. Kamu minta duduk deket sopir karena mabuk darat.”
“Satu pindah dong!” Luna menegur tiga pemuda yang masih anteng duduk di kursi belakang. “Aku mau duduk deket Woojin.”
“Ken-na-pa? Dek-ket ak-ku?” Woojin kikuk.
“Mau tanya soal malem mingguan kamu sama Bae Jinyoung!”
“Oh.” Woojin tersenyum kikuk.
“Ya udah. Aku aja yang pindah.” Jisung yang duduk di tengah di kursi belakang pindah duduk ke kursi tengah dekat jendela.
Woojin begeser ke tengah. Luna pun masuk dan duduk di tempat Woojin sebelumnya duduk.
Sungwoon menggeleng dan menutup pintu belakang. Ia kemudian naik dan duduk di kursi depan. “Kita jemput Rania dulu.”
“Jisung, nanti Rania duduk di dekat jendela ya. Bukan dekat pintu. Itu tempat favorit dia.” Luna membuat permintaan pada Jisung saat mobil Sungwoon mulai melaju.
Sungwoon, Jisung, dan Woojin menunjukkan ekspresi heran ketika mendengar permintaan Luna.
“Bagaimana dia bisa tahu tempat favorit Rania?” Sungwoon bergumam.
“Luna, tadi Sungwoon cerita. Katanya semalam kamu bantuin Daehwi nembak temannya ya?” Seongwoo memulai obrolan. Membuat Jisung yang sudah membuka mulut batal berbicara.
“Dasar Ha Sungwoon! Ngapain sih gitu diceritain?” Luna langsung menegur Sungwoon.
“Kita kan satu tim. Jadi, nggak papa kan aku cerita ke anggota tim kita. Lagian semalem itu misi pertamaku sama kamu kan Luna.” Sungwoon menoleh dan tersenyum lebar pada Luna.
“Apaan! Kamu nggak sengaja nongol.”
“Dan, jadi malaikat penolongmu. Benar kan? Mulai sekarang, aku mau jadi malaikat penolong untuk Luna.” Sungwoon tersenyum manis.
Luna mengalihkan pandangan. Menatap keluar jendela. Lalu, secepat kilat ia menoleh pada Woojin. Teringat jika ia ingin bertanya tentang Bae Jinyoung. “Gimana Jinyoung bisa ngajak kamu keluar?”
“Aku yang ngajak dia.” Woojin nyengir.
“Sudah kuduga. Aneh aja kalau Bae Jinyoung tiba-tiba ngajak kamu jalan.”
“Aku kan belajar dari kamu. Menulis skenario seperti itu ternyata bikin ketagihan ya.”
“Itu sama aja dengan berbohong kan?” Jisung berkomentar. “Kamu bilang ke Jinyoung kalau Jaehwan dan Minhyun yang ngajak keluar. Tapi, ke lainnya bilang lain lagi.”
“Kata Luna, bohong demi kebaikan nggak papa. Asal nggak ketahuan sih. Kalau ketahuan bisa gawat. Iya kan Luna?” Woojin tersenyum lebar ketika menoleh pada Luna.
Luna segera membuang muka. Kembali menatap keluar jendela. Dalam hati ia mengumpat. Kenapa harus bahas soal bohong sih? Ia merasa diadili karena telah berbohong tentang hubungannya dengan Jihoon.
“Jangan-jangan Luna sama Minhyun jadi berantem karena ketahuan bohong?” Seongwoo menebak.
“Atau beneran karena ada kisah asmara.” Jisung menimpali.
“Nggak kok. Kemarin kami godain Minhyun. Bukan perkara asmara.” Woojin membantah.
Luna bergeming. Tak merubah posisinya sedikitpun. Melihat tingkah Luna, keempat temannya itu pun menjadi canggung. Saling melempar pandangan.
Woojin berdehem. “Ngomong-ngomong soal menyatukan dua hati, aku jadi pengen bikin Bae Jinyoung sama Lucy jadian.”
Jisung menoleh. Ekspresi kagetnya benar-benar mengerikan. “Kamu habis over dosis obat ya?”
Seongwoo juga kaget mendengar pernyataan Woojin. “Mungkin dia kerasukan.” Komentarnya.
“Ide brilian. Aku nggak bisa bayangin dua manusia super pendiam itu kalau pacaran gimana.” Di bangku depan Sungwoon tergelak.
Semua melirik Luna yang masih betah bungkam dengan posisi menatap keluar jendela. Keempat pemuda itu lagi-lagi saling melempar pandangan. Bibir mereka bergerak tanpa suara. Saling menyalahkan atas berubahnya sikap Luna.
Mobil Sungwoon sampai di depan rumah Rania. Melihat rumah itu, Luna menjadi sedikit gusar. Ia bergerak sampai tak sengaja mendorong Woojin. Hingga membuat pemuda itu menoleh padanya. Luna pura-pura tak melihat reaksi Woojin. Ia tetap bersikap cuek.
Rania sudah berdiri menunggu di depan gerbang rumahnya. Ketika mobil berhenti, Sungwoon turun untuk menjemput Rania. Ia menawarkan kursi depan untuk Rania, tapi gadis itu menolak.
Saat sampai di dekat mobil, Jisung membuka pintu dan turun. Mempersilahkan Rania naik ke dalam mobil dan duduk di kursi dekat jendela seperi permintaan Luna. Saat naik ke dalam mobil, tatapan Rania langsung tertuju pada Luna yang duduk di kursi belakang dekat jendela.
“Kamu nggak papa duduk di belakang gitu?” Celetuk Rania sambil duduk di kursinya.
Luna tetap bungkam. Pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan Luna. Sedang Woojin dan Seongwoo tampak bingung. Pada siapa Rania bertanya.
Menyadari reaksi tiga orang yang duduk di belakang, Rania langsung menghadap ke depan dan merasa kikuk.
Jisung dan Sungwoon naik ke dalam mobil hampir bersamaan.
“Baiklah! Kita berangkat!” Seru Sungwoon penuh semangat. Mobil pun kembali melaju. Menuju kebun milik kakek Sungwoon.
***

Selama dalam perjalanan, obrolan di dominasi oleh Sungwoon, Jisung, Seongwoo, dan Woojin. Para pemuda itu tak pernah kehabisan bahan obrolan. Mereka mengobrol sambil makan cemilan yang dibawa Rania. Sesekali Rania merespon obrolan para pemuda itu. Itu pun kalau dia diminta untuk berkomentar. Selebihnya ia banyak diam. Sedang Luna memilih untuk tidur sambil mendengarkan musik dalam ponselnya dengan menggunakan headset. Saat hampir sampai, Luna terbangun.
“Nyenyak tidurnya?” Woojin menyambut Luna yang terbangun. “Nggak capek apa tidur nyandar ke jendela gitu? Kamu kan bisa nyandar di bahuku.”
“Park Woojin! Luna udah ada yang punya lho! Jangan coba merayunya!” Seongwoo menegur Woojin.
“Betah banget tidurnya. Apa kamu kalau perjalanan jauh selalu kayak gitu? Wah, jangan-jangan kamu beneran mabuk? Kayak apa kata Sungwoon?” Jisung mengoceh.
“Dia emang kebiasaan kayak gitu kalau di mobil. Padahal sebenernya nggak tidur. Hanya malas untuk bercakap-cakap dalam perjalanan.” Rania merespon ocehan Jisung.
Pernyataan Rania kembali membuat teman-teman Luna tercenung. Luna menghela napas dan menjatuhkan punggung ke sandaran punggung kursi.

Rombongan sampai di perkebunan kakek Sungwoon. Sang kakek menyambut Sungwoon dan teman-temannya.
“Rezeki banget bisa liat perkebunan di Korea.” Rania tersenyum puas.
“Sama nggak sama di Indonesia?” Jisung penasaran.
“Mirip.”
“Trus kita ke sini mau ngapain?” Woojin menyela. “Aku sebenernya bingung. Kita main ke kebun, main apa?” Ia menatap Sungwoon yang sedang bercakap-cakap dengan kakeknya.
Luna sibuk mempersiapkan peralatannya. Ia kemudian membuat video, merekam pemandangan di perkebunan kakek Sungwoon. “Seongwoo bawa kamera?”
“Iya.” Seongwoo mengangguk.
“Pasti bisa bersenang-senang di sini ya?”
Sejenak Seongwoo tampak bingung.
“Liat sekitar deh!” Luna selesai dengan kameranya.
Seongwoo menuruti apa yang dikatakan Luna. Ia kemudian tersenyum lebar dan bergegas mengeluarkan kamera DSLR-nya. Kemudian ia pun dibuat sibuk mengabadikan para pekerja yang sedang sibuk di perkebunan kakek Sungwoon.

Rombongan Sungwoon sudah berganti dengan pakaian khas petani Korea. Setelah saling menertawakan satu sama lain, mereka terjun ke kebun untuk membantu pekerjaan di kebun. Seongwoo yang seorang anggota Klub Fotografi sengaja tidak dibebani pekerjaan di kebun. Luna memberinya tugas untuk mengabadikan setiap momen yang mereka lakukan di kebun. Saat ia ingin di foto, Seongwoo meminta bantuan Luna.
Rania tanpa sengaja menangkap Sungwoon sedang memperhatikan Luna yang sedang bekerja sambil sesekali bercanda dengan Woojin.
“Rania, bantuin aku!” Jisung menegakkan punggungnya. Ia menemukan Rania sedang berdiri diam memperhatikan Sungwoon. Ia pun mendekati Rania. “Ngapain?”
“Eh?” Rania kaget. “Itu.” Ia menuding Sungwoon. “Segitunya kalau liat Luna.”
“Banyak kok cowok yang natap Luna kayak gitu.” Jisung ikut memperhatikan Sungwoon.
“Sayang ya Luna udah sold out. Nggak nyangka aja seleranya seorang Park Jihoon.” Rania menggeleng heran.
Jisung tersenyum. “Beresin kerjaan kita yuk!”
“Oke.” Rania membantu Jisung mendorong gerobak besi yang berisi rumput yang sebelumnya mereka cabuti.

Kakek Sungwoon menyiapkan hidangan untuk makan siang cucu kesayangannya yang datang berkunjung bersama teman-temannya. Kakek Sungwoon menyediakan ikan air tawar untuk dipanggang bersama.
“Wah! Ikan! Kesukaanmu!” Rania mengedipkan mata pada Luna.
“Wah, seladanya belum ada ya Kek?” Sungwoon memeriksa menu yang tersaji di meja.
“Petik saja di kebun.” Jawab Kakek Sungwoon santai.
“Siapa mau bantu?” Sungwoon penuh semangat.
“Aku bantu!” Karena tidak ada yang merespon, Rania pun menawarkan diri untuk membantu.
“Oke! Ayo!” Sungwoon melirik Luna sebelum pergi.
Woojin dan Seongwoo mempersiapkan keperluan untuk memanggang ikan.
“Kakek, terima kasih untuk ini semua. Maaf kami merepotkan.” Jisung kembali berterima kasih pada Kakek Sungwoon. Ia merasa sungkan karena mendapat jamuan makan seperti itu.
“Kalian sudah bekerja keras untuk membantu di kebun. Nikmatilah. Semua itu bagus untuk stamina kalian yang masih muda.” Kakek Sungwoon tersenyum puas sambil menatap Luna yang fokus memperhatikan Woojin menyiapkan api. “Luna, semoga suka sama ikannya.”
Luna mengangkat kepala dan tersenyum sungkan pada Kakek Sungwoon. “Terima kasih, Kakek. Maaf merepotkan.”
“Walau kamu bukan orang Korea, tapi karena Sungwoon menyukaimu. Aku bisa menerima dan kita pasti bisa beradaptasi.”
“Nee??” Kedua mata bulat Luna membesar mendengarnya.
Jisung, Woojin, dan Seongwoo kompak menahan tawa dengan kepala tertunduk saat mendengar ungkapan Kakek Sungwoon.
“Selamat menikmati.” Kakek Sungwoon berdehem lalu pergi.
“Eh, itu tadi maksudnya apa sih?” Luna menyikut Woojin. Tapi, pemuda itu hanya mengangkat kedua bahunya.
“Orang tua sering salah paham. Abaikan saja.” Jisung meminta Luna tak memikirkan ucapan kakek Sungwoon.

Usai makan siang dan berganti pakaian, Sungwoon dan teman-temannya pamit untuk pulang. Kakek Sungwoon memberi mereka sayuran segar hasil kebun. Ia tak lupa membungkus satu paket sayuran khusus untuk Luna. Jisung, Woojin, dan Seongwoo lagi-lagi kompak cekikikan melihatnya. Perjalanan pulang ke Seoul lebih banyak hening. Karena mereka kelelahan usai bermain seharian di kebun kakek Sungwoon, mereka terlelap hampir selama perjalanan.
***

Hari sudah gelap saat mobil Sungwoon tiba di Seoul. Luna sibuk dengan ponselnya dan terlihat gusar. Sungwoon mengamatinya dari spion.
“Teman-teman, bagaimana kalau kita mengantar Luna dulu?” Sungwoon bertanya pada yang lain.
Mendengarnya, Luna langsung mengangkat kepala. Rania yang duduk di sampingnya di kursi tengah pun turut menoleh ke arahnya. Di kursi belakang, Woojin, Jisung, dan Seongwoo pun menatap bagian belakang tubuh Luna.
“Luna keliatan gusar gitu.” Sungwoon mengutarakan alasannya meminta persetujuan yang lain untuk mengantar Luna lebih dulu.
“Nanti malah memutar. Nggak papa antar Rania dulu.” Luna menolak usulan Sungwoon.
“Gusar kenapa sih Luna? Butuh toilet?” Jisung sampai melongok ke depan.
“Nggak.” Luna ketus. “Udah, anterin Rania aja dulu. Baru aku. Nggak papa kok.”
“Oke.” Sungwoon pun setuju.

Luna menaiki tangga dengan sedikit berlari. Napasnya terengah-engah ketika ia sampai di tangga teratas. Daniel yang duduk di atas bangku di teras rooftop Luna pun berdiri. Menyambut Luna yang berjalan ke arahnya.
“Udah lama?” Luna berhenti jarak satu langkah di depan Daniel.
“Lumayan.” Daniel tersenyum manis.
“Maaf ya. Mau masuk dulu?”
“Capek ya? Mau istirahat dulu?”
“Nggak sih.”
“Ya udah kalau gitu kita langsung pergi aja. Omma udah nungguin.”
“Tapi, aku seharian belum mandi. Kucel gini.”
Daniel terkejut mendengar alasan Luna. Ia pun tersenyum sambil berujar, “Nggak papa. Ayo!”
Luna tersenyum kikuk karena ibu Daniel mengamatinya dari atas ke bawah. Wanita itu menatapnya dengan senyum terkembang di wajah cantiknya. Karena merasa canggung, Luna pun menunduk dan baru menyadari jika ia masih membawa tas plastik berisi sayur pemberian kakek Sungwoon.
“Omma!” Daniel menegur ibunya.
“Eh iya. Maaf. Ayo masuk.” Ibu Daniel mempersilahkan Luna masuk.
Luna yang berdiri di ambang pintu bersama Daniel pun masuk. Luna lebih dulu masuk. Daniel menyusul di belakangnya lalu menutup pintu.
Ibu Daniel menyambut dan menuntun Luna untuk duduk di sofa ruang tamu berdampingan dengannya. “Jadi ini yang namanya Luna.” Ia tersenyum masih menatap Luna.
“Nee.” Luna masih kikuk. Ini kedua kalinya ia bertemu dengan ibu dari teman laki-lakinya. Pertama saat ia SMP. Ketika ia di ajak mampir ke rumah Minhyun.
“Cantik ya.” Ibu Daniel memuji Luna.
Mendengar pujian ibu Daniel, wajah Luna terasa panas. Ia pun tersipu. Daniel yang duduk di sofa seberang, tersenyum melihat wajah Luna yang dihiasi rona pink.
“Oiya, ini tadi saya dari main ke kebun kakek teman saya. Saya dikasih banyak sayuran segar. Untuk Bibi saja ya.” Luna meletakkan tas plastik berisi sayuran yang ia bawa ke atas meja.
“Kok buat ibu?”
“Banyak banget. Saya nggak pernah masak. Nanti malah busuk.”
“Ibu Kecil bagaimana?” Daniel menyela.
“Ibu kecil?” Ibu Daniel bingung.
“Luna Seonbae memanggil bibi pemilik rooftop ibu kecil.”
“Oh. Kalau begitu kita bagi tiga saja ya? Sayurnya banyak sekali.”
“Bagi dua saja.”
“Kamu?”
“Nanti saya bisa minta Ibu Kecil kalau butuh.”
Ibu Daniel tersenyum. “Makasih ya. Oya, ayo ke dapur. Ibu sudah masak untuk kalian.”
Luna tercenung. Ia kemudian menatap Daniel. Pemuda itu hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.
“Nak, bawa sayurnya.” Ibu Daniel memberi perintah pada Daniel. “Ayo, Nak.” Ibu Daniel kembali menuntun Luna menuju dapur. Di atas meja, sudah tertata hidangan makan malam.

Daniel dan ibunya tinggal di salah satu rumah susun yang letaknya tak jauh dari rooftop tempat Luna tinggal. Jaraknya sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Hunian itu terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur yang juga dijadikan ruang makan, dan sebuah ruang tamu kecil. Tidak ada ruang keluarga. Tapi, hunian mungil itu sangat bersih dan rapi.
Ibu Daniel, Daniel, dan Luna duduk di kursi yang mengitari sebuah meja kecil di dapur. Ibu Daniel mengambil nasi untuk Daniel, Luna, lalu untuk dirinya sendiri. Daniel menciumi bau hidangan yang tersaji di meja.
“Daniel!” Ibu Daniel menegur. Ia tersenyum sungkan pada Luna. “Maaf ya, Nak. Daniel punya kebiasaan membaui makanan sebelum ia makan.”
“Nggak papa kok.” Luna tersenyum memaklumi
“Ayo! Selamat makan!”

Makan malam sederhana itu berjalan lancar dan hangat. Usai makan, Luna menawarkan diri untuk mencuci piring. Ibu Daniel sempat menolak, tapi Luna kukuh ingin mencuci piring. Akhirnya wanita itu pun menyerah. Membiarkan Luna mencuci piring. Daniel pun membantu Luna. Selesai dengan mencuci piring, Daniel mengajak Luna kembali ke ruang tamu. Di sana Ibu Daniel sudah duduk menunggu. Ia meminta Luna duduk di sampingnya.
“Coba lihat ini. Apa sudah benar?” Ibu Daniel menyodorkan sebuah tas plastik.
Luna menerimanya, lalu memeriksa isi tas plastik. Di dalamnya berisi buah jeruk berbagai macam. “Wah! Terima kasih, Tante! Eh!” Luna tersenyum kikuk setelah sadar menggunakan bahasa Indonesia. “Anu, terima kasih Bibi.” Ia meralat. Kembali mengucap terima kasih dalam bahasa Korea.
“Itu tadi ngomong apa?”
“Terima kasih Bibi dalam bahasa Indonesia. Di Indonesia, kami biasa memanggil ibu teman kami dengan sebutan tante.”
“Kalau gitu, nggak papa panggil ibu dengan sebutan itu.”
“Tante?”
“Iya.” Ibu Daniel tersenyum.
“Baiklah. Ini banyak banget Tante?”
“Cek dulu. Sudah benar? Itu tujuh macam buah jeruk.”
Luna memeriksa jeruk-jeruk dalam kantong plastik. Jumlahnya ada tujuh buah jeruk.
“Kata Daniel, kamu hanya butuh satu untuk tiap jenisnya. Jadi, ibu belikan satu-satu.”
“Makasih, Tante. Maaf jadi merepotkan. Anu, maaf lagi. Ini semuanya berapa ya?”
“Duh! Kamu ini nggemesin banget jadi anak! Udah itu buat kamu.”
“E?? Gratis, Tante?”
“Iya.”
“Anu, kok gratis? Saya kan udah ngrepotin Tante. Minta tolong beliin tujuh buah jeruk ini. Masa iya dikasih gratis.”
Ibu Daniel tersenyum, lalu mengelus puncak kepala Luna. “Nggak papa. Ibu senang bisa bantu kamu. Hidup sendiri di Korea, pasti nggak gampang buat kamu. Kalau butuh apa-apa, bilang aja ke ibu, ya? Kalau ibu bisa, pasti ibu bantu.”
Luna merasakan rasa hangat menjalari tubuhnya ketika ibu Daniel mengelus puncak kepalanya. Tiba-tiba ia merasa rindu pada ibunya. Rasa nyaman dan rindu itu bercampur menjadi satu membuat dadanya merasa sesak. “Terima kasih, Tante. Saya jadi kangen sama ibu saya.” Luna tersenyum canggung. Berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
Ibu Daniel tiba-tiba memeluk Luna. Membuat gadis itu terkejut, namun tak bisa menolak perlakuan hangat itu. Luna pun pasrah. Membiarkan ibu Daniel memeluknya. Ketika ia memejamkan mata, air mata itu menetes menuruni pipinya.
Daniel tersenyum dan menghela napas. Melihat ibunya memeluk Luna. Ia merasa senang ibunya dan Luna bisa langsung akrab seperti itu di pertemuan pertama mereka.
Luna berjingkat kaget ketika ada sesuatu yang berbulu menyentuh kakinya. Ibu Daniel sampai melepas pelukannya.
“Kucing!” Luna kaget ketika menemukan seekor kucing bergeliat manja di kakinya.
“Rooney!” Daniel menghampiri Luna dan menggendong kucingnya yang bergeliat manja di kaki Luna.
“Kamu takut kucing, Nak?” Ibu Daniel heran melihat tingkah Luna.
“Anu, Tante. Geli aja. Aa! Kucing lagi!” Luna sampai mengangkat kakinya karena satu kucing lainnya menghampirinya.
“Peter! Sini!” Daniel mengambil satu kucing lainnya dengan tangan kanannya yang bebas.
“Anak ini benar-benar menggemaskan!” Ibu Daniel kembali mengelus puncak kepala Luna.
***

Daniel mengantar Luna pulang. Ia membawakan kantung plastik berisi separuh sayuran dan tujuh buah jeruk. Sejak keluar dari rumahnya, ia dan Luna sama-sama diam.
“Tante baik banget ya. Aku sampai sungkan. Malu. Baru pertama ketemu udah ngrepotin.” Luna memecah keheningan.
Daniel tersenyum manis. “Omma juga seneng ketemu Seonbae.”
“Kalau di luar jangan manggil seonbae. Sebenernya kamu lebih tua setahun dari aku kan?”
“Boleh. Lalu, Luna mau manggil aku oppa?”
“Eh?” Luna sampai menoleh karena kaget.
Daniel terkekeh. “Bercanda. Maaf ya.”
Luna tersenyum. Suasana kembali hening.
“Takut kucing juga?” Daniel kembali bicara.
“Geli aja.”
“Ngakunya Luna si Kucing Bulan. Tapi, kok takut kucing?”
“Nggak takut! Geli doang tahu!”
Daniel kembali terkekeh. “Oya, maaf soal kebiasaanku saat makan tadi.”
“Nggak papa. Lucu sih. Kayak kucing aja kalau mau makan diendus dulu.”
“Lucu? Beneran? Jadi, mau pelihara aku? Aku juga bisa jadi kelinci.” Daniel menunjukkan gigi kelincinya dan bertingkah cute.
Luna tergelak dan memukul pelan lengan Daniel.
“Kami pernah mengalami masa sulit. Kami tinggal di basement selama seminggu. Kamar mandi kami berada di depan ruangan kami. Aku selalu mencium bau kamar mandi setiap aku ingin makan dan itu membuatku ingin muntah. Karena itu semua, aku jadi punya kebiasaan mencium makanan terlebih dahulu sebelum makan, untuk memastikan apakah baunya enak atau nggak.”
Mendengar cerita Daniel, Luna merasa iba. Sekarang ia paham kenapa Daniel memiliki rasa minder.
“Ketika aku cerita tentang Seonbae, omma tertarik. Selama ini di sekolah aku sering diejek. Terlebih sama para gadis.”
“Di ejek? Maaf, karena kisah hidup kamu?”
“Yap. Karena orang tuaku bercerai. Dan, kata mereka aku jelek.”
“Jelek??” Luna menghentikan langkah dan menghadap pada Daniel. Daniel pun ikut berhenti. “Mereka butuh kacamata tuh. Orang cakep dikatain jelek.”
Daniel tercenung karena Luna memujinya. Wajahnya bersemu merah karenanya.
“Nggak usah tersipu gitu. Coba deh ngaca. Kamu itu cakep. Berbakat lagi. Harusnya kamu nggak sembunyi kayak gini.” Luna tersenyum, lalu menghadap ke depan, dan kembali berjalan.
Daniel pun ikut berjalan. Dia masih tersipu-sipu karena pujian Luna.
“Ngomong-ngomong soal bakat, kita bikin video dance yuk!”
“Kita??” Daniel mengangkat kepala dan menoleh menatap Luna. Ia kaget mendengar kata kita.
“Iya. Kamu dan aku. Kamu pasti bisa ciptain koreografinya kan? Ada satu lagu yang aku suka. Aku ngebayanginnya pasti bagus kalau dibuat dance couple gitu.”
“Lagu apa?”
The Chainsmokers, Closer. Aku suka lagu itu.” Luna mulai menaiki tangga menuju rooftop tempat tinggalnya.
“Oh lagu itu. Aku tahu!” Daniel berjalan di belakangnya.
“He’em. Ayo kita buat video dance-nya.” Luna berhenti di depan pintu. Berbalik menghadap Daniel. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk meminta tas plastik di tangan Daniel.
Daniel memberikan tas plastik di tangannya pada Luna. “Aku nggak janji, tapi akan aku coba bikin koreografinya. Trus mau latihan di mana?”
“Di sini? Kayak kamu waktu itu?”
Daniel mengamati sekitar. “Boleh. Asal seonbae nggka malu aja.”
Luna memiringkan kepala dan cemberut.
“Oh! Maaf. Asal kamu nggak malu aja.” Daniel tersenyum lebar.
Luna membalas senyum. “Makasih ya. Makasih untuk semuanya. Kamu orang baik. Tuhan pasti membalas semua kebaikanmu. Aku yakin nasib baik pasti akan segera datang padamu.”
“Terima kasih, Luna.”
Daniel dan Luna sama-sama terdiam selama beberapa detik. Mereka hanya saling menatap satu sama lain.
“Ya udah. Istirahat sana!” Daniel berbicara lebih dulu.
“Kamu juga.”
“Udah masuk sana.”
“Nggak. Kamu aja pulang dulu sana.”
“Kamu masuk duluan.”
“Kamu pulang duluan.”
Daniel menggeleng pelan. “Baiklah. Aku pulang. Selamat malam, Luna. Selamat istirahat. Semoga tidurmu nyenyak. Dan, semoga kita bertemu dalam mimpi indah.” Daniel tersenyum manis, lalu berjalan meninggalkan Luna.
Luna menatap punggung Daniel yang berjalan semakin menjauhinya. “Aku nggak mau ketemu dalam mimpi!”
Mendengarnya, Daniel pun menghentikan langkah dan berbalik menghadap Luna. “Kenapa?”
“Karena kalau aku bangun, semua akan hilang. Termasuk kamu.”
“Kalau gitu, aku akan jadi mimpi yang menjelma jadi kenyataan buat kamu. Jadi, aku akan selalu ada. Untukmu. Baik saat kamu tidur, atau terjaga.”
Luna merasakan panas di wajahnya. Kemudian ia pun tergelak. “Kita kayak duo pengombal aja.”
“Bukan. Tapi, kita couple yang sama-sama suka ngegombal. Couple!” Daniel menuding Luna sambil mengerlingkan mata kanannya. Kemudian ia berbalik dan berjalan cepat menuruni tangga.
Luna menyandarkan punggung ke daun pintu. Ia masih menatap ke arah yang sama walau Daniel sudah tak ada di sana.
“Ingat ya! Kita ini couple!” Daniel tiba-tiba muncul. Kembali menuding Luna.
Luna terkejut dibuatnya. Daniel tergelak karena melihat Luna kaget. Kemudian ia kembali menuruni tangga dan menghilang. Luna menghela napas dan menggeleng pelan. Ia membuka pintu rooftop dan masuk ke dalamnya.
Daniel kembali muncul, menatap pintu rooftop Luna yang sudah tertutup. Ia tersenyum menatap pintu itu. Setelah menghela napas panjang, ia pun berjalan menuruni tangga untuk pulang.
***