¤ 14 Nights ¤

23:25

Assalamualaikum,

annyeong haseyo nae saranghaneun shi-gUi ^^



Jika kUra-kUra sudah menyapa seperti ini, maka bisa di pastikan jika ff gaje bakal mengudara ^,^v. Ummm... ff kali ini saya mencomot Triple Kim sebagai cast dan sebuah persembahan untuk fans KeYoung Couple xixixi *pede amat saya nulis kayak gitu, amat aja kagak pede-pede banget*. Terima kasih kepada ALLOH SWT yang selalu memberikan ide-ide kepada saya. Terima kasih kepada KPOP idols yang ngga' pernah marah ketika nama-namanya saya comot begitu saja tanpa ijin secara langsung *Mimpi yang Sempurna kalo saya bisa minta ijin langsung sama artis KPOP*. Terima kasih kepada teman-teman, shi-gUi dan silent reader yang selalu memberi dukungan pada saya. Terima kasih buat yang tersayang 'blackjack' yang sudah menjadi jembatan penghubung antara saya dan dunia maya yang bernama 'fb'. Terima kasih semua :D



Ok, shi-gUi!



- selamat datang dalam lautan khyalan shytUrte -





¤ 14 Nights ¤





. Genre: Oneshoot/Straight/Romance

. Author: shytUrtle

. Cast: Lee Youngie, Kim Kibum (Almighty Key SHINee), Kim Jaejoong (Jaejoong JYJ of TVXQ), Kimjae (Thypoon TRAX)

. Other Cast: Jung Hyunri

. Special appearance: Jung Il Woo, Shim Changmin (Changmin TVXQ), Jung Shin Ae+Han Sunyoung (Geng Mujigae)

. Theme song: As One-12 Nights (main song of KeYoung Couple), Park Bom 2NE1-U&I, 2NE1-It's Hurt, f(x)-Beautifull Goodbye, other KPOP song.





Untuk orang-orang yang tersakiti karena mencintai. Cinta itu memiliki jalan sendiri. Sering kita ingin memilih cinta, akan tetapi pada akhirnya cintalah yang memilih kita. Terkadang Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta, akan tetapi Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan.





Hanya suara gemercik air hujan yang menjadi backsound malam ini. Sepasang earphone juga tak bertengger di kedua telinganya. Dengan di balut jas hujan, tangan kanan membawa payung yang ia sandarkan di bahu kanannya dan sepatu boot itu benar-benar membuat tubuhnya terlindung dari serangan air hujan yang lumayan deras. Tidak ada orang lain kecuali dirinya yang berjalan menyusuri trotoar malam ini. Jalan yang sama yang selalu ia lalui setiap pagi dan malam selama 2 tahun ini. Youngie -Lee Youngie- gadis pendiam yang terkesan angkuh pada lingkungan sekitarnya. Gadis yang selalu berjalan dengan langkah medium (tidak cepat juga tidak pelan) dan kepala tertunduk. Gadis yang tidak banyak tahu tentang kejadian-kejadian di sekitar. Dia bukan menutup diri, tapi terlalu asik dengan dunianya sendiri. Gadis penyendiri yang terlalu sibuk bermain-main dengan alam imajinasinya sendiri.



Youngie tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mengangkat kepala seraya menoleh ke arah kiri. Jalan raya yang tampak sepi dan seekor anak kucing yang hendak menyeberang. Dari arah depan terlihat mobil yang melaju agak kencang di tengah guyuran hujan. Entah apa yang sedang ada dalam otaknya malam ini, tiba-tiba saja Youngie melempar payungnya ke segala arah dan langsung berlari menuju jalan raya. Tanpa ragu ia berdiri di tengah jalan dan merentangkan kedua tangannya. "Ciiíiit...!!!!!!!" terdengar bunyi rem mobil yang di injak mendadak.



"Hey! Kau gila ya!" maki pengemudi itu ketika mobil box yang ia kemudikan berhasil berhenti jarak selangkah saja dari tempat Youngie berdiri.



"Ma'af, Paman!" Youngie membungkuk sopan kemudian segera menggendong anak kucing itu. "Sekali lagi ma'afkan saya Paman," Youngie terus membungkukkan badan dan meminta ma'af seraya minggir dari jalan raya.



"Dasar!" maki pengemudi itu sebelum kembali melajukan mobil box-nya.



"Fiuh~..." Youngie menghela nafas. Di angkatnya tubuh kucing kecil itu hingga sejajar dengan wajahnya, "hey, cari mati ya?" Ia berbicara pada kucing kecil itu. "Hampir saja!" Youngie meletakkan ujung jarinya tepat di kening kucing kecil itu. "Aku tidak bisa membawa mu pulang karena kakak iparku alergi pada bulu kucing," lanjut Youngie sedikit berbisik di telinga kucing itu.



"Meow~" kucing itu mengeong dan telinganya bergerak membuat Youngie tersenyum lebar.



"Kau paham rupanya? Hmmm..." Youngie mengedarkan pandangannya mengawasi sekitar.



Tidak mungkin jika ia membawa kucing kecil itu ke klinik tempat ia bekerja, itu terlalu jauh. Adakah tempat yang layak di sekitar sini? Di mana? Youngie tersenyum teringat sebuah gang buntu yang hanya berjarak 10 meter dari tempat ia berada kini. Youngie bersemangat menggendong kucing kecil menuju gang buntu itu. Tempat ini di gunakan untuk menampung sampah dari warga sekitar. Sedikit gelap, Youngie memaksa kerja matanya untuk mengais sesuatu yang bisa di jadikan tempat berlindung bagi kucing kecil itu.



"Selesai!!" seru Youngie riang. "Kau aman sekarang," usai membuat sebuah tempat berlindung untuk kucing kecil itu. "Adik kecil, dengar aku! Baik-baik di sini, ok! Besok, aku akan kembali dan membawa sarapan untuk mu, ok!" Youngie mengelus kepalb kucing itu kemudian kembali berdiri.



"Meow~"



"Aku janji, besok aku akan kembali dan membawa sarapan untuk mu, ok!" Youngie berjalan pergi.



Sementara itu si kucing kecil tetap menatap punggung Youngie hingga sosok itu hilang dari pandangan.





"Aku pulang!" seru Youngie.



Shin Ae -Jung Shin Ae- segera menyambut. "Apa yang terjadi?" tanya Shin Ae dengan tatapan iseng.



Istri dari si pemilik rumah Jung Il Woo ini memang sering bersikap iseng pada Youngie. Gadis yang kost di rumahnya sejak dua tahun yang lalu ketika kakak kandung Youngie, Lee Junki harus mengikuti wajib militer. Tak tega adik satu-satunya hidup sendiri, Junki sengaja menitipkan Youngie pada sahabatnya, Jung Il Woo.



"Ada apa?" tanya Youngie usai melepas mantelnya. "Tidak ada apa-apa, hanya hujan yang kurang bersahabat," tambah Youngie.



"Kau terlambat 15 menit, apa ada sesuatu di jalan?" sahut Ilwoo -Jung Ilwoo-.



"Tidak," Youngie menggeleng pelan mencoba menepis tatapan sangsi Ilwoo.



"Lekas bersihkan badan mu," sadar situasi mulai tak bersahabat, Shin Ae menengahi. "Aku akan menyiapkan makan malam, jadi cepat kembali ya!" tambahnya seraya berjalan menuju dapur.

***





Pagi yang sedikit cerah. Sa'at sarapan, Youngie menceritakan perihal keterlambatannya semalam. Ilwoo melempar pandangan pada Shin Ae, lalu keduanya tersenyum. Aneh, Youngie yang teramat acuh pada lingkungan sekitar tiba-tiba saja menolong seekor kucing kecil yang hampir tertabrak mobil. Ada tetangga baru saja Youngie tak mau tahu, tapi semalam ia sedikit menaruh perhatian meski hanya pada seekor anak kucing. Lumayan, sedikit perubahan yang lebih baik.



Penuh semangat Youngie berjalan menuju klinik tempat ia bekerja yang hanya berjarak 45 menit dari rumah Ilwoo. Youngie menepati janjinya untuk mampir mengantar sarapan pada kucing kecil yang ia tolong semalam. Youngie jongkok di hadapan kucing kecil yang masih tertidur pulas itu. Youngie membuka bungkusan berisi makanan dan meletakkannya tepat di depan hidung kucing kecil itu. Youngie kembali mengelus pelan kepala kucing kecil itu lalu bangkit dan mulai berjalan pergi.



"Meow~"



"Sudah makan sana! Aku harus bekerja, bye!" Youngie mengangkat tangan kanannya tanpa membalikkan badan.





Youngie bekerja sebagai office girl di klinik milik Kimjae sejak 2 tahun yang lalu.



"Tumben kau telat?" sapa Hyunri -Jung Hyunri- gadis resepsionis berambut pendek itu pada Youngie.



Youngie hanya tersenyum manis sambil sibuk membuka pintu klinik. Youngie dan Hyunri bekerja sama mempersiapkan klinik sebelum Kimjae tiba untuk memulai prakteknya. 15 menit kemudian si apoteker tampan Kim Jaejoong tiba. Kim Jaejoong, pemuda tampan yang berhasil menarik perhatian Youngie sejak ia bergabung di klinik Kimjae setahun yang lalu. Youngie selalu mengatakan pada Hyunri jika ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Jaejoong. Namun Youngie hanya memendam perasaan itu dan mencintai Jaejoong dalam diam.



"Hari ini genap setahun," Hyunri menyikut Youngie.



"Genap setahun??" Youngie menatap Hyunri dengan ekspresi tak paham.



"He'em! Si tampan itu!" Hyunri melempar pandangannya ke arah Jaejoong.



"Iyakah?? Lalu...haruskah aku memberinya selamat??"



"Coba saja, sana!"



Youngie mengangguk antusias lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Youngie menghampiri Jaejoong, "hey, JJ! Selamat ya!"



Jaejoong menghentikan aktifitasnya menata obat-obatan. "Selamat?? Untuk apa??"



"Eng..." Youngie menunduk dan memainkan kedua jari telunjuknya. "Hyunri bilang, hari ini genap setahun kau bergabung di klinik ini, karena itu aku mengucapkan selamat," lanjutnya kemudian.



"Wah~ aku saja tidak tahu tentang itu hehehe, terima kasih ya sudah memperhatikan aku," Jaejoong membungkukkan badan.



"Kalau begitu, traktir kami," Hyunri merangkul Youngie. "Kami ini kan Sunbae mu," lanjutnya.



"Boleh, nanti malam usai jam tutup bagaimana?" Jaejoong langsung setuju.



"Nanti malam? Kemana?" sahut Kimjae si dokter tampan yang baru saja sampai.



"Jaejoong akan mentraktir kita," jawab Hyunri.



"Aku juga??" Kimjae menunjuk hidungnya sendiri dan Jaejoong mengangguk mengiyakan. "Ok! Tapi, aku mau sarapan masakan Youngie dulu ya! Youngie, mana sarapan ku hari ini?" tanpa sungkan Kimjae merangkul Youngie.



Nyaman, karena itu Youngie bertahan di klinik milik Kimjae. Meski di tempat itu, ia memiliki kedudukan paling rendah, Kimjae tak pernah memperlakukannya seolah ia benar 'pembantu' di kliniknya. Kimjae memperlakukan Hyunri, Jaejoong dan Youngie sama rata.





"Sudah malam, Jaejoong, kau antar Youngie ya!" perintah Kimjae. "Aku akan membawa Hyunri bersama ku," tambahnya.



"Tidak usah, aku bisa jalan kaki dari sini, aku sudah terbiasa seperti itu," tolak Youngie.



"Kita kan searah, daripada jalan kaki, ikut saja dengan ku. Tenang saja, aku tidak suka ngebut kok!" Jaejoong meyakinkan.



"Jaejoong benar, kalau jalan kaki bisa 1,5 jam," Kimjae mendukung Jaejoong.



"Aku..."



Hyunri tersenyum kecil menyadari perasaan Youngie. "Sudah sana!" Ia mendorong Youngie lebih dekat pada Jaejoong.



"Ayo naik!" perintah Jaejoong.





* Park Bom - You and I *



Dentingan lagu romantis milik lead vokal 2NE1 ini mengalun syahdu di benak Youngie ketika ia berada dalam boncengan Jaejoong. Mimpi apa ia semalam, hingga malam ini Youngie ada dalam boncengan Jaejoong. Berbunga-bunga, seolah menari di atas awan, itulah yang di rasakan Youngie. Entah sadar atau tidak, Youngie terus senyum-senyum sendiri. Youngie serasa terbang tak memijak bumi sampai pada akhirnya seorang pemuda yang berdiri di seberang jalan itu tersenyum kemudian melambaikan tangan padanya. Pemuda?! Seketika itu juga Youngie tersadar dari khayalannya.



"Jaejoong~aa, tolong berhenti!" Youngie menepuk punggung Jaejoong.



"Kenapa??" tanya Jaejoong setelah berhasil menghentikan motornya secara mendadak.



Youngie turun dari boncengan Jaejoong dan celingukkan mengamati sekitar. Ini adalah jalan di mana semalam Youngie menyelamatkan kucing kecil di seberang sana.



"Youngie!" nada suara Jaejoong sedikit meninggi.



"Kau tadi juga melihat pemuda di seberang sana kan?" tanya Youngie sembari menuding ke arah yang ia maksud.



"Pemuda??"



"Iya! Dia berdiri di tepi jalan, disana! Ia tersenyum dan melambaikan tangan pada kita!"



"Ish~" Jaejoong mengelus tengkuknya. "Tidak ada siapa-siapa di sana!" bantah Jaejoong.



"Apa??"



"Ish! Cepat naik! Kalau tidak, ku tinggalkan kau di sini!"



Bukan menuruti perintah Jaejoong, Youngie malah berlari ke seberang mencari pemuda yang ia maksud. Jaejoong hanya bisa menahan kesal dan tetap menunggu Youngie.



"Siapa pemuda itu?? Cepat sekali dia pergi??" tanya Youngie setelah ia kembali ke hadapan Jaejoong.



"Mana aku tahu!" jawab Jaejoong penuh kekesalan.





"Pacar mu?" sambut Ilwoo sa'at Youngie sampai di ruang tengah.



"Oppa mengintip?!"



"Kakak mu mendengar suara motor berhenti di depan rumah, karena itu dia melihat keluar," Shin Ae membela suami tercintanya.



"Jadi, dia pacar mu atau bukan?" tanya Ilwoo lagi.



Youngie mengerutkan keningnya. "Bukan!" jawabnya singkat seraya berjalan menuju kamarnya.



Youngie merebahkan tubuh lelahnya di ranjang dan terdiam menatap langit-langit kamarnya. Sosok pemuda misterius yang tersenyum dan melambaikan tangan padanya tiba-tiba muncul dalam pikiran Youngie. Youngie cepat menggelengkan kepala mengusir bayangan itu dari pikirannya. Ia memasang earphone di kedua telinganya serta menarik selimut dan memejamkan mata.

***





Pagi ini cerah sekali, padahal semalam hujan turun begitu derasnya. Youngie kembali mampir ke gang buntu tempat ia meninggalkan kucing kecil. Youngie celingukan mencari anak kucing berwarna hitam itu dan sesekali meneriakkan kata 'adik kecil' seperti biasa ia memanggil kucing itu, tapi tidak ada tanda-tanda kucing kecil itu muncul. Youngie meninggalkan bungkusan yang ia bawa tepat di tempat kucing kecil itu biasa tidur.



"Youngie~aa!" panggil Jaejoong sa'at jam istirahat siang tiba.



"Apalagi?!!" jawab Youngie ketus. "Belum puas seharian ini terus mengolok ku perihal kejadian semalam?!" Youngie bersungut-sungut kesal.



Jaejoong terkekeh melihat ekspresi Youngie. Hyunri yang berdiri selangkah di belakang Youngie menatap skeptis pada Jaejoong.



"Tidak," Jaejoong berusaha menghentikan tawanya. "Ma'afkan aku, aku hanya ingin mengenalkan seseorang," sambil mengajak gadis yang ada di sampingnya sedikit maju. "Kenalkan, ini pacar ku!"



JEDER~!!!!!



Entah darimana datangnya suara petir itu. Youngie seolah merasakan bagaimana tersambar petir di siang bolong yang cerah tanpa mendung sedikit pun. Entah, Youngie tak tahu apa warna wajahnya kini. Ia hanya merasakan rasa panas, bukan hanya di wajah tapi di sekujur tubuhnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak, dadanya terasa sesak seolah akan meledak sa'at itu juga. Hyunri tak kalah kaget dari Youngie. Ia berpikir apa yang harus ia lakukan kini? Youngie, apakah gadis itu baik saja?



Secepat kilat Youngie mengembangkan senyum, "annyeong, aku Lee Youngie!" ucapnya terdengar sopan dan renyah memperkenalkan diri di hadapan kekasih Jaejoong.



Hyunri termangu. Tadinya ia berpikir jika Youngie akan mengucap kata ma'af lalu berlari menarik diri dari hadapan Jaejoong. Hyunri salah memprediksikan keadaan.



"Annyeong, aku Sunyoung, Han Sunyoung," gadis manis yang berdiri di samping Jaejoong itu menjabat tangan Youngie yang terulur.



"Hyunri, Jung Hyunri," kata Hyunri singkat seraya menjabat tangan Sunyoung.



"Senang bisa berkunjung kemari dan bertemu langsung dengan kalian. Jaejoong Oppa sering cerita tentang klinik ini juga kalian," jelas Sunyoung.



"Sudah ku duga jika dia itu memang suka bergosip," olok Hyunri, "kelihatannya saja pendiam," tambahnya.



"Hehehe~ begitulah," Sunyoung membenarkan ucapan Hyunri.



Youngie hanya tersenyum lesu menatap Jaejoong.





* 2NE1 - It's Hurt *



Alunan lagu melow milik 2NE1-It's Hurt memenuhi dapur klinik. Youngie duduk termenung membiarkan ponselnya memutar lagu itu berulang-ulang. Hancur lebur hati Youngie, bagaikan sebuah cermin kecil yang terjatuh dari lantai 10, hancur berkeping-keping. Cuplikan adegan canda tawa kemesraan Jaejoong-Sunyoung terus lalu lalang di pikirannya. Youngie tak bisa menepisnya tapi tak bisa juga menangis meluapkan rasa sesak yang kini memenuhi seluruh ruang hati dan jantungnya. Ingin berlari sambil berteriak kemudian menangis sekeras ia bisa, tapi tak mungkin Youngie melakukan itu. Ia tak mau menjadi tontonan gratis orang-orang di jam makan siang ini. Hanya membayangkan itu semua dan duduk merutuki nasibnya di dapur klinik.



"Hey!" Kimjae menggoyang tangannya tepat di depan wajah Youngie, namun gadis itu tak merespon. Kimjae memiringkan kepala mengikuti arah tatapan kosong Youngie, lalu ia tersenyum. "Youngie~aa!" panggil Kimjae seraya menggoyang lengan Youngie.



"Dokter?!!" Youngie melotot kaget.



"Apa?" jawab Kimjae santai.



"Tid-tidak," Youngie menundukkan kepala kelincutan terlanjur malu.



"Kenapa bekalnya di diamkan? Tidak lapar?"



Youngie diam menatap Kimjae kemudian menggeleng antusias.



"Kau sakit??"

***



Hari dengan jam kerja yang sama, namun terasa amat panjang dan lama bagi Youngie.



"Kau yakin kau baik-baik saja?" tanya Hyunri sekali lagi. "Kau ingin pergi ke suatu tempat? Mau aku temani?"



"Sungguh aku memang merasa tidak baik, tapi aku hanya ingin pulang, terima kasih Hyunri," Youngie membungkuk.



"Mau aku antar?"



"Aku bukan anak kecil yang cengeng tau! Sudahlah kau pulang saja."



"Hm, iya. Aku rasa memang lebih baik kau segera pulang lalu mengunci diri dalam kamar dan menangis memeluk boneka panda besar mu!"



Youngie tersenyum lesu, "kau sudah tahu rupanya."



"Bagaimana dengan Dokter Kim?"



"Cinderella hanya ada dalam dongeng," Youngie memutar tubuhnya membelakangi Hyunri. "Selamat malam! Semoga tidur mu nyenyak dan kau mimpi indah!" seru Youngie mulai berjalan pulang.



"Hey, kepang dua! Hati-hati di jalan!" seru Hyunri yang hanya di balas lambaian tangan Youngie.





* FT.Island - Only One Person *



Youngie berjalan pelan, masih menundukkan kepala dan mengantongi kedua tangan di saku jaketnya. Earphone setia bertengger di kedua telinga Youngie. Alunan sendu lagu milik FT.Island 'Only One Person' memenuhi gendang telinga Youngie. Apa ini? Pantaskah Youngie merasa seperti ini? Semalam adalah momen yang amat menyenangkan baginya, tapi hari ini? Rasa sesak gabungan dari amarah, kecewa dan juga rasa lega. Iya, setidaknya Youngie tidak perlu berharap lagi pada Jaejoong, tapi apakah ia mampu? Cinta yang terpendam sudah cukup menyiksanya dan perhatian Jaejoong membuat Youngie berharap lebih. Tidak, itu hanya buah pikirannya sendiri. Youngie menghentikan langkahnya dan lagi-lagi wajah tampan serta senyum mempesona Jaejoong melintas di pikirannya. Jaejoong, seorang yang ia cintai dan selalu ia harapkan untuk datang membalas cintanya. Youngie menundukkan kepala dan memejamkan mata. Air mata yang meluncur pelan itu terasa hangat di pipi pucat Youngie. Akhirnya Youngie menangis karena patah hati. Youngie menutup wajah dengan kedua tangannya dan menangis tersedu.



Youngie kembali mencari kucing kecil yang tak berhasil ia temui pagi tadi. Suasana gelap dalam gang buntu itu tak membuatnya takut sedikit pun.



"Adik kecil~ apa kau di sini? Adik kecil!" Youngie berharap kucing kecil itu muncul. "Adik kecil! Kau dengar aku? Lihat! Aku membawa makan malam untuk mu!" Youngie mengangkat kantung kertas di tangannya.



Krik...krik...krik... Hening, tak ada tanda-tanda kucing kecil itu.



Youngie kembali menundukkan kepala dan menurunkan lengannya. "Aku hanya ingin makan malam dengan mu, aku benar-benar sedih dan kesepian malam ini, hiks...hiks...hiks..." Youngie kembali menangis.



"Ayo! Kita makan malam bersama!" tiba-tiba terdengar suara pemuda yang arahnya jelas dari belakang Youngie.



Seketika itu Youngie menghentikan tangisnya dan berubah was-was. Ia memeluk kantung yang berisi dua potong ayam goreng hangat itu. Youngie terlihat berusaha meyakinkan dirinya sebelum membalikkan badan. Dengan cepat otak Youngie mengatur rencana penyerangan dan melarikan diri. Youngie takut, ia tak bisa memungkirinya dan itu terlihat jelas di wajahnya. Tubuhnya sedikit gemetar, Youngie mengepalkan tangan dan memejamkan mata meyakinkan dirinya sendiri bersiap membalikan badan.



...1...2...3!!!



* Oh Wonbin feat. miss $ - Falling From Before *



Mata Youngie melebar mendapati sosok yang telah berdiri di hadapannya kini. "Malaikat?" bisiknya lirih menatap pemuda berkulit putih bersih dan berwajah tampan itu. Youngie mengerjapkan mata dan menggeleng pelan kembali menyadari posisinya.



Pemuda itu menyimpan senyumnya dan beralih mengamati wajah Youngie dengan seksama. "Kenapa wajah mu basah?" Kibum -Kim Kibum- sedikit membungkukkan badannya agar lebih jelas menatap wajah Youngie. "Aneh," kembali menegakkan badannya dan mendongak menatap langit, "padahal tidak hujan," menggelengkan kepala.



Youngie menelan ludah dan bersiap kabur.



"Eits!" Kibum menggeser posisinya dan menghadang langkah Youngie. "Kau bilang ingin makan malam bersama ku, lalu kenapa kau seolah akan melarikan diri?"



Youngie mengerutkan dahi tanda protes atas sikap Kibum. Tunggu! Youngie mengamati wajah itu dengan seksama. Dia, dia! Dia pemuda itu!



"Kenapa?" tanya Kibum menyadari bahasa tubuh Youngie. "Ayo!" seolah sudah mengenal Youngie sebelumnya tanpa sungkan Kibum menarik tangan kanan Youngie.



Youngie masih bertahan diam namun protes dengan berusaha melepas genggaman erat Kibum.



"Jangan berontak! Ayo! Aku sudah lapar!" Kibum menyeret Youngie keluar dari gang buntu yang teramat gelap itu.





Youngie diam duduk di samping kiri Kibum di salah satu bangku yang tersedia di pinggir trotoar. Terus di pandanginya Kibum yang terlihat lahap menyantap sepotong ayam goreng di tangannya. Benar, Youngie tidak salah. Orang ini adalah pemuda yang tersenyum kemudian melambaikan tangan padanya.



Sadar jika Youngie terus menatapnya, Kibum pun menoleh, "Kenapa?"



"Tidak~" Youngie menggeleng kecil dan menunduk.



"Rasanya pedas, cocok untuk suasana malam ini yang lumayan dingin dan... patah hati."



Youngie langsung mengangkat wajah dan menatap Kibum dengan ekspresi kesal dan protes.



"Ess~" Kibum mengalihkan pandangannya, "aku tidak tahu jika ada yang patah hati di sini!"



Youngie langsung bangkit dari duduknya. Ia benar-benar kesal kini.



"Kenapa? Kau marah?" Kibum mendongak menatap Youngie. "Kau gadis aneh, kenapa semalam kau senyam-senyum seperti itu, em?"



BHUK!!! Youngie melayangkan tasnya dan mendarat indah di lengan kiri Kibum.



"Auw~!" pekik Kibum seraya mengelus lengannya. "Ini tindakan kekerasan! Aku bisa melaporkan mu ke polisi tau!"



"Laporkan saja!"



"Tunggu!" Kibum bangkit dari duduknya kembali menghalangi langkah Youngie.



Youngie menarik diri selangkah mundur dari hadapan Kibum. "Ma'af~" Kibum memelas, "aku tidak bermaksud membuat hati mu yang sudah patah dan hancur itu jadi makin dongkol."



BHUK!!! Kali ini tangan Youngie meninju lengan kiri Kibum.



"Auw~!" pekik Kibum untuk yang kedua kali. "Hobi sekali memukul orang," protes Kibum masih mengelus pelan lengannya. "Awas ya! Sekali lagi kau memukul ku..."



"Ma'af!" Youngie tiba-tiba membungkukkan badan dan Kibum termangu di buatnya. "Aku harus pulang."



"Oh~ em, iya! Tapi, besok kau pasti kembali kan? Ingat, aku akan menunggu mu di sini, seperti sebelumnya."



Youngie kembali menunjukkan ekspresi tak ramah.



"Ah~ silahkan," Kibum memberi jalan untuk Youngie lewat. Gadis itu pun berjalan pergi. Kibum tersenyum menatapnya, "hey! Terima kasih! Ingat ya, aku akan menunggu mu!" teriaknya.





Youngie menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Rentetan kejadian hari ini melintas cepat di otaknya. Jaejoong, ketika wajah itu kembali muncul, terasa amat sakit di hati Youngie.



"Oppa~, aku sangat rindu pada mu, cinta ku bertepuk sebelah tangan Oppa~" Youngie menangis tersedu memeluk boneka panda besar berwarna biru putih kesayangannya.

***





Gerimis, Youngie meletakkan anak kucing berwarna hitam itu di bawah kardus. Youngie tersenyum dan mengelus kepala kucing kecil itu lalu berjalan pergi. Tiga langkah Youngie berjalan, suasana gang buntu yang gelap itu berubah menjadi terang benderang. Youngie menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. Kucing kecil itu berdiri jarak dua langkah dari tempat Youngie berdiri. Cahaya putih benderang itu tiba-tiba menyelimuti tubuh kucing kecil. Youngie mengangkat tangan kanannya tak kuasa menahan silau cahaya itu. Ia tak bisa melihat apa yang terjadi. Ketika kilau cahaya itu mulai berkurang, perlahan Youngie menurunkan tangannya. Cahaya itu sirna dan Youngie melotot kaget melihat kucing kecil yang tadi berdiri di hadapannya kini telah berubah wujud menjadi pemuda tampan yang ia sebut 'malaikat' semalam. Kibum berdiri dan tersenyum dengan memakai kostum serba hitam itu. Sungguh, ia terlihat tampan dan berkilau.





"Aaargh...!!!" Youngie menjerit terbangun dari tidurnya. "Huft~ syukurlah hanya mimpi," keluh Youngie seraya mengusap peluh di keningnya.



Sisa tangisan semalam tak bisa Youngie sembunyikan. Ilwoo dan Shin Ae hanya bisa bertanya dalam diam pagi itu. Mereka tak mau membuat Youngie kesal dengan pertanyaan yang mereka pendam. Keduanya memilih diam memendam rasa ingin tahu mereka dan menunggu Youngie bicara.



Youngie menghentikan langkahnya dan menatap gang buntu itu. Ia menggeleng pelan kemudian melanjutkan langkahnya menuju klinik. Youngie sengaja berangkat 30 menit lebih awal dari jadwalnya sehari-hari. Ia harus benar-benar menata hati untuk bertemu Jaejoong hari ini. Terus membisikkan kata menyemangati dirinya sendiri, iya pasti bisa! Hyunri tak lupa memberi dukungan pada Youngie. Beruntung ketika Jaejoong tiba, Youngie bisa mengatasi kegalauan hatinya dan bersikap wajar.



Setengah hari yang berat bagi Youngie. Sekarang apalagi? Kenapa Jaejoong bergabung untuk makan siang bersama di dapur klinik? Bukankah sebelumnya ia tak pernah ikut makan siang bersama seperti ini. Youngie diam merutuki kondisi ini. Hyunri melirik Youngie yang duduk di samping kirinya dan berhadapan dengan Jaejoong. Hyunri menggeleng pelan melìhat dua makhluk Tuhan di hadapannya ini.



"Jaejoong~aa," Hyunri memecah kebisuan, "kemarin itu, kau niat pamer ya?"



"Em?" Jaejoong berhenti mengunyah makanan di mulutnya. "Pamer??" usai menelan makanan di mulutnya dan Hyunri mengangguk antusias. "Ah~ tidak! Kemarin Sunyoung kebetulan mampir, sudah lama ia ingin tahu tempat kerja ku ini," jelas Jaejoong berseri-seri.



"Cerita apa saja kau, sampai pacar mu begitu penasaran pada tempat ini?"



Youngie hanya mengaduk-aduk bekalnya. Meski diam namun ia terus protes dalam hatinya. Ia berharap Hyunri diam, tak terus-terusan mewawancarai Jaejoong seperti itu. "Apa ini? Berniat mengolok kerterpurukan ku?" Youngie menggerutu di batinnya.



"Youngie! Kapan kau bawa pacar mu kemari?" Hyunri seraya menendang kecil kaki Youngie.



"Uhuk-uhuk!" Youngie terbatuk-batuk mendengar celetukan Hyunri.



"Youngie sudah punya pacar??" Jaejoong tertarik pada bahasan ini.



"Kenapa? Kau percaya jika dia tidak punya pacar?" tanya Hyunri pada Jaejoong.



"Hmm... tidak! Youngie kan cantik, tidak mungkin jika dia tidak punya pacar," Jaejoong mengutarakan pandangannya.



DEG!! CANTIK??? Wajah Youngie bersemu merah. Ia tak berani mengangkat kepala menatap Jaejoong yang duduk tepat di hadapannya.



"Lihat!" Hyunri menuding wajah Youngie. "Kau membuatnya malu!" menepuk lengan Jaejoong.



"Ahahaha~ aku bicara tentang kenyataan, iya Youngie itu cantik."



"Kau sempat menyukainya tidak?" celetuk Hyunri ringan.



Youngie merasa tegang. Nafasnya seolah berhenti. Ia berharap menjadi tuli sejenak, takut mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Jaejoong.



"Kagum, aku kagum pada gadis ini," Jaejoong menatap lembut gadis yang duduk menundukkan kepala di hadapannya. "Kadang aku berpikir, siapa pria beruntung yang berhasil menarik perhatiannya," tambahnya.



Hyunri melirik Youngie sejenak, "bagaimana jika itu kau?"



"Apa??" mulut Jaejoong membulat.



"Hyunri!!! Apa-apa'an Kau ini!!!" bentak Youngie tapi hanya dalam batinnya.



"Bisa jadi itu kau, kan?!" tambah Hyunri seolah benar mengacuhkan perasaan Youngie.



"Kalau itu aku... berarti, Youngie akan terluka karena aku, benar tidak?" Jaejoong menatap Youngie lalu Hyunri.



"Hey! Diam saja, kenapa?" Hyunri menggoyang tangan Youngie yang tergeletak di atas meja.



"Kenapa jadi membahas tentang aku??" komentar Youngie malu-malu.



"Karena pasti bukan hanya aku saja yang penasaran ingin tahu lebih tentang mu," jawab Kimjae seraya duduk di hadapan Hyunri. "Berhenti membuatnya malu! Lihat, wajahnya sudah seperti wortel sekarang!" olok Kimjae.



"Dokter Kim membelanya terus, ada apa ini?" Hyunri menatap skeptis pada Kimjae.



"Karena dia adik ku!" Kimjae meletakkan tangan kanannya di pundak kiri Youngie.



"Adik??!" pekik Hyunri. "Adik darimana?!" protesnya.



"Saudara ku laki-laki semua, merasa senang ketika bertemu Youngie. Wajahnya yang lembut benar-benar sosok adik yang aku dambakan," jelas Kimjae. "Aku sangat menyayangi adik ku ini," Kimjae mengelus kepala Youngie.



"Dia, juga teman baik ku!" Jaejoong tak mau kalah seraya melempar senyum pada Youngie.



Senyum Youngie tertahan sa'at ia menerima pengakuan adik dan teman baik dari dua pria tampan itu. Hyunri yang berada di tengah situasi hanya bisa menggeleng pelan.





* f(x)-Beautifull Goodbye *



Hanya seorang adik dan teman baik, itu sudah cukup bagi Youngie. Youngie tersanjung dan menghargai pengakuan Kimjae juga Jaejoong tentang dirinya. Jika menjadi seorang kekasih, suatu sa'at bisa saja putus. Tapi tidak ada kata putus untuk hubungan adik dan teman baik, bukankah ini lebih berharga? Youngie tersenyum miris mengingat semua ini. Pantaskah jika Youngie protes kepada Tuhan akan kondisi ini? Bersyukur atau merutuki keadaan ini? Ia benar merindukan Junki, kakak yang akan memeluk dan menenangkannya di sa'at seperti ini. Youngie menghembuskan nafas panjang, memang harus mengucapkan 'selamat tinggal' pada semua harapan dan mulai menyambut awal yang baru ini.



Langkah Youngie terhenti ketika sepasang kaki itu menghadangnya. Youngie mendengus kesal dan mengangkat kepala menatap Kibum yang sudah berdiri di hadapannya lengkap dengan senyum manis itu. Ekspresi Youngie benar-benar tak bersahabat pada Kibum.



"Annyeong~" sapa Kibum ramah tetap terlihat sumringah meskipun Youngie tak menyambutnya dengan ramah. "Aku menepati janji ku, aku menunggu mu hehehe."



Youngie masih menekuk muka menatap Kibum. Tapi ketika mengingat mimpinya semalam, Youngie jadi penasaran siapa sebenarnya pemuda yang berdiri di hadapannya ini.



"Kenapa diam saja? Aku datang untuk menghibur mu, kenapa tidak menyambut ku dengan senyuman? Kau lupa jika kau punya hutang pada ku?"



"Hutang?!" Youngie akhirnya bersuara juga.



"Mungkin kemarin kau merasa tak nyaman, tapi malam ini kau bisa menceritkan semua pada ku, gratis kok!"



"Apa?!!"



"Bukankah kau janji akan memberitahu ku alasan mu menangis semalam?"



"Ish! Hey, Tuan Alien! Aku bukan orang bodoh, jadi berhenti mengganggu ku!"



"Tuan Al-lien??"



"Sudahlah~" Youngie menggeser tubuhnya ke samping kiri.



"Tunggu!" Kibum ikut menggeser posisinya dan menghadang Youngie. "Ayolah~, jangan bersikap seperti ini, bukankah kita ini teman?"



"Teman?? Ma'af, aku tak tahu siapa kau..."



"Tapi aku tahu siapa kamu," potong Kibum cepat. Youngie mengerutkan keningnya tanda protes. "Nama mu Lee Youngie, 20 tahun. Sa'at ini kau tinggal bersama Jung Ilwoo dan istrinya, Jung Shin Ae. Kau bekerja di klinik milik dokter Kimjae sejak klinik itu mulai buka, dua tahun yang lalu. Rekan kerja mu, Dokter Kimjae, Jung Hyunri gadis resepsionis dan apoteker Noh Yi Young, tapi sekarang gadis itu telah di gantikan oleh Kim Jaejoong," cerocos Kibum sukses membuat Youngie termangu menatapnya.



Kibum menghirup udara dingin malam itu dalam-dalam lalu menghembuskannya. "Kalau aku tidak salah, kemarin adalah hari terburuk bagi mu dan," Kibum menatap Youngie yang masih termangu, "karena itu kau menangis."



Youngie berdiri tertegun. 'Siapa orang ini? Kenapa ia tahu semua tentang aku?' Begitu tanya dalam benak Youngie.



"Ess~, kau itu amat sangat tidak peduli lingkungan sekitar mu, aku tahu kau merasa minder, tapi itu bukan alasan yang tepat. Katakan, kau benar kesepian bukan?"



'Tidak! Aku tidak kesepian! Aku, aku sudah terbiasa seperti ini!' arti tatapan protes Youngie.



"Lee Junki, pasti hanya orang itu yang paling kau rindukan sa'at ini, sungguh malang."



Mata Youngie terasa panas. Sakit, kenapa orang ini mengatakan semua itu tanpa belas kasihan?



"Youngie yang malang, tapi masih saja bersikap angkuh seperti ini."



Tak tahan lagi mendengar semua itu, menerima kenyataan tentang keterpurukannya. Youngie jongkok lalu menangis tersedu. Kibum di buat kebingungan melìhat Youngie menangis menjadi-jadi. Kibum celingukkan, khawatir jika ada orang yang melihat lalu berpikir buruk tentangnya. Iya, malam-malam seorang pemuda membuat seorang gadis menangis tersedu. Bisa-bisa Kibum di hajar massa karena hal itu.



Kibum ikut jongkok di hadapan Youngie. Ia benar-benar merasa bersalah dan bingung. "Hey," Kibum menyentuh bahu Youngie yang bergoyang karena tangisannya. "Cengeng! Ayolah, berhenti menangis begini," bujuknya. "Youngie~aa," Kibum menggoyang bahu Youngie. "Kau tidak malu apa menangis seperti ini di hadapan ku!" Kibum dengan suara agak meninggi.



Bahu Youngie berhenti bergoyang. Isak tangisnya tak terdengar lagi. Perlahan ia mengangkat wajah yang tadi ia benamkan dalam telapak tangannya. Dengan mata basah itu Youngie menatap Kibum.





Kibum-Youngie kembali duduk berdampingan di kursi yang sama seperti malam sebelumnya namun saling diam. Kibum merogoh saku celananya, kemudian ia mengulurkan tangan pada Youngie. Tawa Youngie tertahan melihat sapu tangan berwarna pink di tangan Kibum.



"Kenapa?" tanya Kibum.



Youngie mengeluarkan tissu dari dalam tasnya, lalu membersihkan sisa air mata di wajahnya. "Adegan yang kau lakukan itu, sudah terlalu banyak di praktekkan, bahkan dalam ribuan film," komentar Youngie.



"Aku tahu kau benci warna pink," Kibum menarik tangannya dan kembali mengantongi sapu tangan miliknya.



"Bukan benci, hanya tidak suka," Youngie meralat pernyataan Kibum.



"Ya ya ya, kau tidak mau membenci sesuatu, apalagi jika sesuatu itu adalah ciptaan Tuhan. Karena itu, kau lebih nyaman memakai kata 'tidak suka' daripada kata 'benci', hm! Mengesankan!"



"Ok! Kau tahu banyak tentang aku, Tuan Alien! Tapi ma'af, aku harus pulang sekarang!" merapikan tissu dan menyangklet tasnya.



"Tunggu!" Kibum memegang tangan kanan Youngie. "Aku ingin kita berteman, bisa kan? Aku tahu cara ku memenangkan teman sangat buruk, bukannya membuat calon temanku tertawa, aku malah membuatnya menangis, tapi sungguh aku ingin menjadi teman mu! Kau bukan orang yang menyebalkan tapi kau itu terlalu pendiam dan menutup diri."



"Lalu, kenapa kau malah ingin menjadi teman ku?" potong Youngie.



"Entahlah, tapi aku sangat ingin berteman dengan mu, kau mau kan jadi teman ku?"



"Aku harap, kau tidak menyesalinya."



"Jadi, mulai sekarang kita berteman?? Ok! Kita adalah teman, sekarang pulanglah!" Kibum melepas genggaman tangannya.

***



* Infinite - Julia *



Hari ini terasa lebih ringan bagi Youngie. Youngie paham, kemarin Hyunri sengaja mengintrogasi Jaejoong tak lain hanya untuk membantunya. Kini ia tahu, jika Jaejoong pernah menyimpan kekaguman padanya. Sebagai bonus, Youngie jadi tahu apa yang di pikirkan Kimjae tentang dirinya. Sudah sepantasnya Youngie membuang jauh rasa kecewa itu.



Malam ketiga. Kibum bangkit dari duduknya ketika sosok Youngie muncul. Kibum menyambut Youngie dengan senyum manisnya. Malam ini Youngie tak menunjukkan ekspresi garangnya. Ia membalas sapa'an Kibum lengkap dengan senyum manisnya. Kibum tak lupa memberikan penghargaan berupa pujian pada Youngie. Kibum memang pribadi yang supel dan pandai mencari bahan obrolan agar suasana tak menjadi kosong. Tak banyak waktu yang mereka luangkan bersama, namun itu cukup membuat Youngie merasa senang.



Malam berikutnya, Kibum masih melakukan hal yang sama. Menunggu dan menyapa Youngie, lalu ngobrol sejenak ketika gadis itu pulang. Bahkan sa'at hujan turun, tak menyurutkan niat Kibum untuk sekedar menyapa Youngie. Youngie mulai terbiasa menerima perlakuan Kibum. Ia tak mau memburu Kibum dengan ribuan pertanyaan penasarannya. Youngie takut untuk mengenal 'Tuan Alien' lebih jauh. Gadis ini mudah terbawa perasaan, jadi wajar jika ia menarik garis batas namun tetap menikmati setiap waktu yang ada bersama Kibum.



Sabtu malam, Youngie pulang lebih awal dari jadwal biasanya. Ia berpikir tak mungkin Kibum menunggunya. Tapi dugaannya salah, Kibum sudah duduk di kursi tempat keduanya biasa meluangkan waktu bersama sejenak. Kibum bangkit dari duduknya dan tersenyum manis.



"Annyeong~," sapa Youngie lebih dulu. "Tuan Alien, Anda sudah di sini?"



"Iya, kenapa? Kau tidak suka?"



"Tidak, bukan begitu..."



"Kau pikir, kita tidak akan bertemu karena malam ini, kau pulang lebih awal begitu?"



Youngie tersenyum kecil dan mengangguk pelan. "Sepertinya Tuan Alien benar tahu segalanya ya?"



"Tidak, aku hanya tahu tentang kau, bukan tentang segalanya," bantah Kibum. "Kau pulang satu jam lebih cepat, bagaimana kalau malam ini kita jalan-jalan?"



"Iya?? Eng... aku..." Youngie menunduk dan memainkan kedua ujung jari telunjuknya.



"Hari ini, genap tujuh hari kita resmi berteman, aku ingin mengajak mu jalan-jalan, kau mau kan? Terserah kau mau kemana, mungkin ke karaoke atau nonton."



Youngie diam menatap Kibum. Sungguh ia merasa bingung tak tahu harus menjawab apa. Ini pertama kalinya bagi Youngie, seorang pria mengajaknya jalan-jalan.



"Hey! Kenapa malah diam?" tanya Kibum sedikit membungkukkan badan lebih dekat menatap wajah Youngie. "Apa kau tidak ingin pergi ke suatu tempat?"



"Aku tidak tahu," Youngie benar-benar terlihat bodoh dengan ekspresi itu.



Kibum tersenyum sembari mengelus salah satu kepangan rambut Youngie. "Karaoke, kau mau?"



"Apa?? Ak-aku tidak pernah pergi ke tempat seperti itu."



"Iya aku tahu! Kau itu kan phobia keramaian!" cela Kibum membuat Youngie sedikit cemberut. "Kau ini gadis rumahan sekali, ah aku jadi bingung harus mengajak mu kemana malam ini?" Kibum menggaruk kepalanya.



"Bawa saja aku untuk melihat keramaian."



Kibum menatap heran Youngie. Kemudian ia tersenyum dan mengulurkan tangan. Youngie tersenyum dan meraih tangan Kibum.





* FT.Island - Geudae wa nan *



Kibum menggenggam erat tangan Youngie. Keduanya naik bus untuk sampai ke pusat kota. Youngie terus menatap keluar jendela bus, sementara Kibum yang duduk di sampingnya hanya tersenyum melihat tingkah Youngie.



Akhir pekan, bisa di pastikan taman kota, pusat perbelanjaan dan tempat-tempat hang-out ramai di padati pengunjung. Memperhatikan keramaian itu, lalu lalang orang. Youngie terlihat begitu menikmatinya. Kibum mengajak gadis kuper itu berkeliling mall. Seenak hatinya, Kibum menarik Youngie masuk ke toko baju dan menyuruh gadis itu mencoba beberapa baju. Youngie serta merta menolak dan keluar toko meninggalkan Kibum. Tidak cukup di situ saja keusilan Kibum. Kini ia menarik Youngie untuk masuk ke toko asesoris. Ia memilih-milih asesoris lalu mencoba mencocokkannya di tubuh Youngie. Mulai dari anting, kalung, gelang, bandana, jepit rambut, Kibum tanpa sungkan menempelkan benda-benda itu di tubuh Youngie untuk menilai kecocokannya. Youngie terus berusaha menolak tapi Kibum sama sekali tak peduli pada protes yang di layangkan Youngie. Youngie bukan tipe gadis yang terlalu memperhatikan fashion, jadi berburu baju dan pernak-pernik bukan hal yang menarik baginya. Puas mengobrak-abrik toko asesoris, Kibum kembali menggandeng tangan Youngie untuk lanjut berkeliling mall. Kibum menunjuk toko boneka, Youngie menggelengkan kepala. Youngie berbinar lalu menepuk lengan Kibum, kemudian menuding toko buku. Kibum melebarkan mata sipitnya, tapi Youngie tersenyum mendahului.



Youngie tampak asik memilih-milih buku. Sementara Kibum mengekor di belakang Youngie dengan setia menemani gadis itu.



"Siapa?" tanya Kibum seraya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.



"Ilwoo Oppa, dia tanya aku dimana," jawab Youngie.



"Lalu, kau jawab apa?"



"Sedang melihat keramaian, tapi Oppa tak membalas sms ku."



"Dia pasti sedang tersenyum senang sekarang."



"Yakin sekali?"



"Iyalah~, apa kau tidak yakin pada ku?"



Youngie hanya tersenyum kecil menatap Kibum.

***





* FT.Island - One Word *



Riang sekali wajah Youngie pagi ini. Ia berjalan dan mencoba tersenyum kepada setiap orang yang menatapnya. Sebelumnya Youngie bersikap seperti ini hanya kepada orang yang benar-benar telah lama ia kenal, tapi tampaknya Youngie ingin memulai hal baru dalam hidupnya.



"Belakangan ini ceria sekali, aku jadi curiga," Hyunri dengan tatapan isengnya.



"Iya, entahlah, tapi terasa amat baik hehehe," kenang Youngie.



"Jatuh cinta??"



"Jatuh cinta??" Youngie balik menatap Hyunri dan gadis itu mengangguk. Youngie diam sejenak merenungi ucapan Hyunri.



"Iya ya?? Pada siapa??" desak Hyunri.



"Hey!" Jaejoong datang menyela. "Kapan kita wujudkan rencana triple date kita?"



"Triple date?!!" Youngie mengulang kata itu.



"Dia penasaran siapa pacar mu, jadi dia mengusulkan triple date," Hyunri menjelaskan maksud Jaejoong.



Jaejoong mengangguk membenarkan seraya tersenyum lebar menatap Youngie yang tampak shock.





Triple date. Kata itu berputar-putar di otak Youngie. Ia menatap Kibum yang duduk di samping kanannya. 'Haruskah aku minta bantuan padanya?' tanya di benak Youngie. Tidak mungkin, selain gengsi, Youngie tak akan berani mengutarakan hal itu pada Kibum.

***





* As One - Day By Day *



Malam-malam Youngie terasa indah belakangan ini karena hadirnya Kibum. Pemuda yang awalnya membuatnya kesal namun belakangan selalu membuatnya tersenyum. Youngie baru sadar jika ia belum mengetahui siapa nama dari 'Tuan Alien' itu. Bodoh! Youngie selalu saja bertindak bodoh seperti ini.





"Apa malam ini ada perayaan?" tanya Kibum ketika Youngie datang membawa banyak coklat.



"Apa harus menunggu merayakan sesuatu untuk membeli dan memakan coklat?"



"Tidak juga, tapi tradisi mengajarkan seperti itu bukan?"



"Aku tidak mengenal tradisi seperti itu."



"Eh, atau orang yang kau taksir telah menyatakan cintanya padamu, kau bahagia, karena itu kau membeli banyak coklat dan membaginya dengan ku, benar tidak?" Kibum mencoba menebak.



Youngie tersenyum tulus. Kibum senang melihatnya dan tak berkata-kata lagi.



"Tidak ada perayaan, tapi benar aku ingin membagi coklat ini dengan mu," kata Youngie.



"Tapi, kau terlihat senang begitu, tergambar jelas di wajah mu!"



"Ah~" Youngie memegang kedua pipinya, "terlihat jelas sekali ya?"



Kibum menggeser duduknya lebih dekat pada Youngie. Youngie menurunkan kedua tangannya membalas tatapan lembut Kibum. Jantung Youngie tiba-tiba berdetub kencang berada begitu dekat dengan Kibum. Kibum menangkup wajah Youngie dengan kedua tangannya lalu ia tersenyum.



"Berjanjilah untuk tetap tersenyum seperti ini," pinta Kibum. "Setiap kali aku menatap mu, yang aku inginkan hanyalah senyum mu, karena... aku sangat menyukai senyum mu, Youngie."



BLUSH!!! Entah apa warna wajah Youngie kini. Ia tak bisa berkata-kata, hanya mengangguk pelan menyanggupi permintaan Kibum.



Kibum kembali tersenyum sembari melepas kedua tangannya. "Aku pegang janji mu!"



"Apa perlu kita saling mengaitkan jari kelingking kita??"



Keduanya tertawa bersama. "Sekarang, ayo kita makan coklat untuk merayakan malam keempat belas kita!" Kibum antusias.



"Malam keempat belas??"



"Iya! Malam ini adalah malam keempat belas kita resmi berteman."



"Ah~, aku tidak tahu, ma'af ya..."



"Aku suka sekali angka 14."



"Iya kah?? Kenapa??"



"Entahlah, tapi banyak hari bagus yang di rayakan pada tanggal 14, sebut saja hari kasih sayang, lalu white day."



"Juga black day," tambah Youngie.



"Yap! Begitulah. Karena itu malam ini terasa istimewa bagiku."



"Istimewa??"



"Kau tahu, hari ini aku telah mengirimkan sebuah amplop merah pada gadis yang aku sukai."



JEDER!!! Suara petir seolah menggelegar jelas di telinga Youngie. Apa ini? Kenapa Youngie merasa sakit mendengarnya? Kenapa rasa sakit ketika Jaejoong memperkenalkan kekasihnya muncul kembali malam ini? Tadi Youngie datang membawa coklat dengan sejuta rasa kebahagiaan di hatinya. Tapi, kini semua itu sirna. Youngie memaksa menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman tulus.



"Itu berita bagus!" komentar Youngie terdengar renyah.



"Kok??"



"Amplop merah, pasti surat cinta, benar tidak? Aigo~ jadi benar? Berita bagusnya, jika cinta mu di terima gadis itu, maka aku bisa pulang dengan tenang seperti dulu tanpa ada gangguan dan halangan dari Tuan Alien lagi."



"Hahaha..." tawa Kibum pecah mendengarnya. "Mungkin saja begitu. Youngie, kenapa aku jadi begini nervous ya?" Kibum meletakkan tangan di dadanya.

***





* FT.Island - I'm Happy *



Youngie berjalan pulang dengan langkah pelan. Ia tersenyum miris menertawakan dirinya sendiri.



'Tuan Alien yang baik, eh?' Youngie menghentikan langkahnya. Bukankah tadi ia berniat menanyakan nama dari 'Tuan Alien' itu? "Ish! Bodoh!" Youngie memukul pelan kepalanya sendiri. Semua jadi kacau, bahkan ia sampai lupa pada hal penting itu.



Bagaimana jika besok malam Tuan Alien tidak menunggunya lagi? Bahkan Youngie belum sempat mengucapkan terima kasih pada Tuan Alien itu.



Youngie merutuki kebodohannya. "Tuan Alien, terima kasih. Kau tahu, meski malam ini aku merasa sakit, tapi jujur aku merasa bahagia bisa mengenal mu dan merasakan indahnya berbagi dengan seseorang. Aku merasa benar memiliki seorang kekasih selama empat belas malam. Aku merasa berarti, dan... tidak kata lain, selain aku bahagia. Aku amat bahagia bersama mu..." Youngie tak melanjutkan ocehannya. Ia tersenyum getir dan melanjutkan perjalanan pulang.





Alunan musik FT.Island-I'm Happy memenuhi kamar Youngie. Lirih ia bersenandung mengikuti Hongki bernyanyi. Iya, lagu yang sangat cocok menggambarkan perasaan Youngie malam ini.



DEG! Beku, seketika itu Youngie menghentikan nyanyiannya. Mata Youngie melebar menatap sebuah amplop merah kecil yang tergeletak di ranjang di antara barang-barang miliknya, usai ia memuntahkan seluruh isi tasnya. Jantung Youngie berdetak kencang, sesak, sampai-sampai terasa amat sulit untuk bernafas. Perlahan Youngie mengulurkan tangan memungut amplop merah itu. Youngie benar-benar menata hati, memejamkan mata sejenak, menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya sebelum akhirnya membuka amplop merah itu.





* As One - 12 Nights *



Youngie berlari keluar tanpa menyambar baju hangatnya. Teriakan keras Ilwoo yang bertanya ia hendak kemana di abaikan Youngie. Berlari sekencang ia bisa untuk segera sampai ke tempat ia biasa duduk meluangkan waktu sejenak bersama Kibum. Hanya butuh 15 menit, tapi kenapa terasa begitu jauh?



Ngos...ngos...ngos... Youngie membungkuk memegang kedua lututnya sambil mengatur nafasnya. Ia menegakkan badan mengawasi seluruh sudut tempat itu mencari sosok 'Tuan Alien'. Hening, tak ada siapa pun di sana kecuali dirinya. Hilang, dia sudah pergi. Youngie terlihat putus asa dan berusaha keras menahan air matanya.



Youngie duduk termenung di bangku yang sama, hanya sendiri kembali merutuki nasibnya. Andai saja tadi ia langsung membongkar isi tasnya lebih dulu, andai, andai, dan andai. Youngie menutup wajah dengan kedua tangannya berusaha menekan air matanya yang mulai meleleh.



"Meow~," suara kucing kecil itu memecah kesunyian.



Youngie membuka tangan mengusap air matanya. Kucing kecil itu berdiri menatapnya. Youngie tersenyum malas dan bangkit dari duduknya. Baru ia sadari jika ia berlari tanpa memakai alas kaki dan juga baju hangat. Youngie menyilangkan kedua tangannya kemudian mengusuk lengannya berusaha mengusir hawa dingin yang kini menyelimutinya.



Gerimis. Youngie mulai melangkahkan kakinya pelan. "Sudah larut, aku harus pulang!" kata Youngie malas.



"Meow~"



Youngie terus melangkah walau kucing kecil itu terus mengeong seolah meminta Youngie tetap tinggal.



- Youngie~aa, mau kah kau menjadi kekasih ku? Aku mencintai mu. Aku ingin dengar jawaban mu, jadi aku tunggu di tempat biasa ya :D -



Youngie menundukkan kepala dan terus memaki dirinya sendiri. Wajah Kibum melintas cepat dalam ingatan Youngie semakin membuatnya sedih. Mobil box melaju kencang, Youngie mengacuhkannya.



Tunggu! Youngie menghentikan langkahnya. Ia teringat pada kucing kecil dan juga mimpinya. Mimpi tentang kucing kecil yang tiba-tiba berubah menjadi 'Tuan Alien'. Secepat kilat Youngie membalikkan tubuhnya dan berlari kembali ke tempat kucing kecil tadi berada.



"Adik kecil!" panggil Youngie seraya mencari sosok anak kucing berwarna hitam itu. "Adik kecil~ ad..." Youngie tertegun. Tubuhnya gemetar menemukan kucing kecil itu sudah tergeletak di pinggir aspal.



Youngie menguatkan langkahnya mendekati kucing kecil yang terlihat sekarat itu. Youngie menjatuhkan lututnya, "adik kecil~" suara Youngie hampir tak terdengar. Di raihnya tubuh kucing kecil itu dalam pangkuannya. Tidak ada luka tapi telinga dan hidung kucing kecil itu mengeluarkan darah.



"Ma'afkan aku..." bisik Youngie. "Aku mohon ma'afkan aku..." pinta Youngie di sela isak tangisnya. "Ma'afkan aku... aku mohon... jangan pergi..."



Kucing kecil itu mengeong lirih lalu memejamkan mata menghembuskan nafas terakhirnya. Youngie menangis tersedu menyadari kucing itu telah mati.





Ilwoo dan Shin Ae yang sengaja menunggu Youngie kembali di buat kaget. Youngie kembali pulang dengan baju basah, mata sembab, ekspresi putus asa yang teramat sangat serta menggendong seekor kucing kecil yang terlihat sedang tertidur dalam dekapan Youngie. Ilwoo dan Shin Ae tertegun, tak berani bertanya apa-apa pada Youngie. Gadis itu terlihat kosong, entah terbang kemana jiwa yang mengendalikan raga Youngie.



Youngie memandikan jasad kucing kecil itu lalu menidurkannya dalam balutan handuk putih miliknya. Air mata itu terus mengalir menuruni pipi putih Youngie. Youngie membawa jasad kucing kecil itu ke kamarnya membuat Ilwoo dan Shin Ae yang sedari tadi mengawasi setiap geraknya makin terheran-heran. Youngie diam seribu bahasa dan menangis, tentu saja membuat Ilwoo dan Shin Ae heran juga khawatir.



* Naege oh gaetni (OST) *



Youngie terus menatap jasad kucing yang terbungkus handuk. Kucing itu terlihat seolah sedang tidur pulas. Youngie mengusap air matanya. Youngie benar menyesal dan ketakutan. Bagaimana jika mimpinya itu benar? Kucing kecil itu adalah jelmaan 'Tuan Alien' yang tampan. Jika itu benar, berarti Youngie kehilangan pemuda itu untuk selamanya. Menangis dan menyesali semua kebodohannya.



"Bagaimana jika benar ini adalah kau Tuan Alien?" Youngie membelai jasad kucing kecil. "Ma'afkan aku... Kau pantas membenci ku, tapi kenapa kau pergi secepat ini? Aku bahkan belum sempat bertanya siapa nama mu dan...dan... aku belum sempat berterima kasih pada mu... Kenapa kau tinggalkan aku dengan cara seperti ini? Kenapa kau tidak menunggu ku sejenak dan mendengar jawaban ku? Aku... Aku mau menjadi kekasih mu... Aku mau menjadi kekasih mu..." Youngie menangis tersedu.

***





* Ryewook Super Junior - One Fine Spring Day *



Youngie mengecup pelan kening jasad kucing kecil itu. "Aku pasti akan sangat merindukan mu..." bisik Youngie kemudian mengubur jasad kucing kecil itu.



Youngie tak membuat bekal sarapan untuk Kimjae, juga tak menyentuh sarapan yang sudah di siapkan Shin Ae. Ia melamun, diam seribu bahasa. Youngie bangkit dari duduknya dan memutuskan berangkat kerja.





* FT.Island - Meeting *



Youngie duduk di bangku dimana ia biasa duduk dengan Kibum. Ia termenung dan memori selama 14 malam bersama Kibum satu per satu muncul dalam ingatan Youngie. Wajah tampan, senyuman, tawa dan suara cerewet Kibum masih terekam jelas dalam ingatan Youngie. Youngie mendongak menatap langit mendung pagi ini. Youngie masih berharap kejadian semalam hanyalah mimpi dan malam nanti Kibum kembali duduk di bangku ini menunggunya. Mata sendu Youngie kembali menitikan air mata mengenang semua kejadian yang telah ia lalui juga harapannya.



Setelah sekitar 15 menit duduk di bangku, Youngie mampir ke gang buntu tempat ia meletakkan kucing kecil yang di tolongnya. Youngie mengedarkan pandangannya pada seluruh sudut tempat itu.



"Aku berharap ini hanya mimpi buruk. Aku akan tetap menunggu mu kembali untuk mengucapkan terima kasih dan... Aku juga mencintai mu..." batin Youngie sebelum pergi meninggalkan gang buntu itu.





Hyunri, Jaejoong dan Kimjae benar di buat heran juga serba salah dengan perubahan drastis Youngie. Seharian gadis itu lebih banyak diam dan sangat murung, lebih banyak melamun.

***





Youngie berjalan pelan menyusuri trotoar. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya ia simpan rapi dalam saku jaketnya. Mix phone berwarna hitam dengan aksen sebuah bintang berwarna putih itu menutup kedua telinga Youngie. Lagu-lagu sendu memenuhi dua gendang telinga Youngie. Ia berhenti dan kembali menatap gang buntu di samping kanannya.



Tiba-tiba seseorang melepas mix phone dari telinga Youngie.



"Di sini kau rupanya!" kata Kibum yang sudah berdiri di hadapan Youngie.



* As One - 12 Nights *



Youngie tertegun tak percaya melihat sosok yang kini berdiri tepat di hadapannya. Lidahnya kelu tak mampu berkata apa-apa. Matanya memanas menahan air mata.



"Youngie~aa, kau kenapa?" tanya Kibum yang menatap Youngie keheranan.



Youngie diam seribu bahasa, hanya air matanya yang meleleh itu yang menjawab.



Sadar gadis di hadapannya akan beranjak pergi, Kibum menarik tangan Youngie dan mendekap tubuh gadis itu dalam pelukannya.



"Ma'af, aku memang seorang pengecut, hanya berani mengungkapkan perasaan ku lewat secarik kertas," kata Kibum. "Semalam aku menunggu mu, tapi prediksi ku salah, kau..."



Youngie melingkarkan kedua tangannya membalas pelukan Kibum. Kibum tak melanjutkan kata-katanya sadar pelukan Youngie mengisyaratkan sebuah kata 'jangan pergi'. Youngie lega mendengar detak jantung Kibum. Youngie menangis menyandarkan kepalanya di dada Kibum. Kibum tersenyum lega kemudian mengecup mesra puncak kepala Youngie.

***





"Kibum, Kim Kibum." Youngie berseri memperkenalkan pemuda yang berdiri di samping kanannya pada Hyunri, Jaejoong dan Sunyoung.



"Akhirnya, terwujud juga triple date ini." Jaejoong tersenyum lega.



"Triple date?? Aku dan Kibum, Jaejoong dan Sunyoung, lalu apakah Hyunri akan pergi bersama Kimjae Oppa??" tanya di benak Youngie.



"Nah itu dia! Ish~ dasar tukang ngaret!" gerutu Hyunri menatap pemuda yang baru sampai itu.



"Annyeong~" Changmin -Shim Changmin- membungkuk sopan. "Ma'af aku terlambat," tambahnya.



Youngie tersenyum menatap pemuda itu lalu menatap Hyunri yang terlihat kesal.



"Kalian mau meninggalkan aku??" Kimjae datang bergabung dan tampak menggandeng mesra seorang wanita cantik. "Tunggu apalagi? Ayo, kita kencan ramai-ramai!"

***





* As One - 12 Nights *



Youngie memasang salah satu earphone di telinga kiri Kibum lalu ia menyandarkan kepala di pundak Kibum.



"Aigo! Ini lagu tahun berapa??" komentar Kibum.



"99, mungkin."



"Oh?? Selera mu, tembang lawas ya?"



"Dengarkan saja liriknya!"



Kibum menurut. Ia tersenyum lalu merangkul Youngie lebih dekat pada dirinya. Youngie pun tersenyum merasa nyaman dalam dekapan Kibum.



"Oya, kau belum mengatakan alasan kenapa malam itu kau menangis? Ada apa dengan gang itu? Bukannya disana hanya ada tumpukan sampah? Dulu, pertama kali aku menemui mu juga disana, ada apa sebenarnya?" tanya Kibum.



"Aku menangis, aku merasa lega ketika melihat mu kembali dan masih hidup."



"He?!! Kenapa begitu??"



"Tadinya aku berpikir jika mimpi ku benar adanya, kau adalah jelmaan kucing kecil yang aku tolong, kau tahu, aku benar-benar frustasi ketika kucing itu mati tertabrak mobil."



"Apa?? Hagh~ bagaimana kau bisa punya pikiran sekonyol itu??" Kibum dengan tawa tertahan.



"Ish~" Youngie memukul pelan lengan Kibum. "Tertawa saja. Aku berpikir itu benar, karena kau hanya muncul di malam hari saja!"



Kibum terbahak menertawakan ekspresi Youngie. Youngie makin kesal dan terus memukul Kibum. Keduanya terlihat mesra bercanda seperti itu.





"Terima kasih Tuhan. Selama ini aku terlalu sibuk mengharap Jaejoong membalas cintaku hingga tak menyadari ada malaikat berwujud manusia yang selalu memperhatikan aku. Kibum, orang yang tak pernah luput mengawasi aku sejak ia pindah ke komplek ini sebulan yang lalu. Terima kasîh Tuhan, telah Engkau hadirkan dia dalam hidup ku. Kini aku sadar, Kibum lah orang yang aku butuhkan dalam hidup ku. Kibum, aku mencintai mu..."

- Youngie -









--- THE END ---







-shytUrtle-

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews