AWAKE "Rigel Story" - Bab XXIV

04:44

AWAKE - Rigel Story

 


 



Bab XXIV

 

 


Sepanjang perjalanan pulang Rue memikirkan kejadian di sekolah. Kesurupan massal, munculnya Malaikat Maut di tengah kesurupan massal, rapat dadakan dan kesepakatan yang dicapai. Ia bertanya-tanya, apakah pembina ekstrakurikuler Metafisik juga melihat keberadaan Malaikat Maut. Sebenarnya ia ingin bertanya langsung, namun urung. Menurutnya situasi sedang tidak pas.
Hongjoon menyambut Rue seperti tempo hari ketika gadis itu pulang. Ia mengerutkan kening melihat wajah lesu Rue.
“Ada masalah di sekolah?” Tanya Hongjoon.
Rue menjatuhkan tubuh lelahnya di sofa. Ia memejamkan mata dan memijat keningnya.
Walau penasaran, Hongjoon tak bertanya lagi. Ia berdiri tak jauh dari Rue dan menunggu.
Rue membuka mata, mendesah, lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menuju kamar mandi.
Hongjoon yang memperhatikannya mengerucutkan bibir. “Apa dia sudah kehilangan kemampuan untuk melihat dan mendengarkan aku?” Gerutunya.

Rue keluar dari kamar mandi. Kepalanya terbungkus handuk. Hongjoon yang duduk di ruang tamu memperhatikannya. Ekspresi Rue terlihat lebih santai. “Hari ini terjadi kesurupan massal di sekolah.” Ujar Rue sembari mengeringkan rambutnya yang basah.
“Ap-apa?? Kesurupan massal??”
“Iya. Di kelasmu. 23 siswi kesurupan. Merepotkan sekali.”
“Esya bagaimana?”
“Dia baik.”
“Yano? Axton?”
“Semua baik.”
“Syukurlah.” Hongjoon lega. “Sebelumnya pernah kejadian kayak gitu?”
“Ini yang pertama.”
“Kenapa bisa gitu ya?”
“Pasukan setan. Ingat tidak? Itu ulah mereka. Itu kenapa aku melarangmu ke sekolah. Bahaya.”
Hongjoon diam. Membayangkan situasi di sekolah yang sedang genting.
“Kami akan melakukan ritual pembersihan.”
“Kami?? Rigel??”
“Semua yang punya kemampuan diminta bergabung. Pembina ekstrakurikuler Metafisik yang akan memimpin ritual.”
Hongjoon menatap Rue dalam diam. Ia merasa khawatir. “Kapan itu? Boleh aku pergi bersama Noona?”
“Kamis malam. Nggak boleh. Aku nggak akan bisa lindungin kamu.”
“Selama ini Noona selalu menjagaku!”
Rue terkejut mendengar pengakuan Hongjoon. Ia menatap Hongjoon dalam diam.
“Anu, maksudku saat jurit malam itu.”
“Ini berbeda. Kau tetap di sini saja. Tunggu aku kembali. Jangan menyusulku ke sekolah. Paham?”
Hongjoon diam.
“Kalau kau sampai nekat pergi, maka aku akan menganggapmu tidak ada. Selamanya!”
“Kejam sekali. Selamanya itu kan lama sekali.”
Rue mengabaikan protes Hongjoon. Ia berjalan menuju kamar tidurnya. Hongjoon mengerucutkan bibir karena kesal.
“Hongjoon.” Rue kembali membuka pintu.
Hongjoon mengangkat kepala dan menatap Rue.
“Selama kau di sini, apa kau pernah melihat sosok pemuda dengan kostum serba hitam?”
“Itu ya? Beberapa kali muncul. Aku melihatnya seperti sedang menunggu Noona saat Noona hendak berangkat ke sekolah. Dia siapa?”
“Jadi, kau juga melihatnya. Dia tidak mengajakmu bicara?”
Hongjoon menggelengkan kepala.
Rue diam sejenak, lalu kembali menutup pintu kamarnya.
“Aneh sekali dia hari ini.” Hongjoon menelengkan kepala.
***


Sehari pasca kesurupan massal muncul gosip di antara murid. Gosip tentang penyebab kesurupan massal itu adalah Rue. Bahkan, ada pula hasutan dan provokasi agar tak memilih Rue sebagai ketua Dewan Senior yang baru.
Rue tak terlalu ambil pusing. Tapi, Dio dan Byungjae yang tersulut mendengar gosipan-gosipan itu. Hanjoo dan Nath terus menenangkan keduanya.
“Kamu lupa apa kata Goong? Kalau kamu nggak jadi ketua yang baru, akan gawat kan?!” Byungjae terus membujuk Rue untuk melakukan serangan balik.
Byungjae dan Dio yakin jika pelakunya adalah Pearl. Memanfaatkan kejadian luar biasa di sekolah yaitu kesurupan massal untuk menyerang Rue.
“Ritual akan dilakukan besok malam, dan statusku saat ini masih ketua Dewan Senior. Percayalah! Gosipan dan hasutan itu tidak akan bekerja pada kita.” Rue meyakinkan Byungjae.
“Iya ya. Ritualnya besok.” Byungjae memiringkan kepala.
“Sekarang fokus saja pada ritual besok. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi perang antara kami dan pasukan setan itu. Seperti yang dibahas kemarin, untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi, kita harus mengalahkan mereka dan mengintrogasi mereka.”
Mendengarnya, Nath, Dio, Byungjae, dan Hanjoo merasa ngeri. Jika melihat kekhawatiran Rue belakangan ini, keempatnya yakin yang disebut sebagai pasukan setan pastilah berjumlah luar biasa.
“Katanya para alumni yang mendengar tentang ini akan turut membantu. Semoga saja besok berjalan dengan lancar.” Nath mengucap harapan yang segera diamini Dio, Byungjae, Hanjoo, dan Rue.
Kelimanya yang sedang duduk berkumpul di depan UKS melihat Pearl, Ruby, dan Linde yang baru kembali dari kantin. Pearl sudah tak lesu lagi. Bahkan ia tertawa-tawa seolah sedang sangat bahagia ketika lewat di jalan yang berada di depan ruang UKS.
“Sungguh aku pengen jambakin dia lagi.” Dio geram.
“Byungjae.” Panggil Rue.
“Iya?” Byungjae menaruh perhatian pada Rue.
“Tolong unggah video di Gedung Kematian. Setelah selesai, bagi link-nya di grup chat Rigel. Lalu, tolong kerjasamanya untuk membagikan link. Tapi, esok saja kita serempak membagikan link nya.”
“Wah... wah... serangan balik ya?” Dio tersenyum puas.
“Walau kita tidak menyebutkan Pearl, aku yakin Orion yang bersekolah di sini bisa menebak pelakunya adalah Pearl. Jangan-jangan kalian sudah merencanakannya.” Nath menyipitkan mata ketika menatap Dio, lalu Rue.
Dio dan Rue kompak tersenyum.
***


Malam ini Rue akan pergi ke sekolah untuk ritual. Gadis itu mengatakan mungkin ia akan menginap. Hongjoon merasa khawatir. Ia ingin Rue tak pergi saja. Tapi, ia tahu gadis itu tidak akan mendengar usulnya untuk tetap tinggal. Tanggung jawabnya sebagai ketua Dewan Senior mengharuskannya untuk tetap pergi.

“Kenapa ritualnya harus Kamis malam sih? Ah ya! Mereka bilang itu malam yang sakral. Apa aku bisa pergi? Tidak! Tidak! Aku nggak mau Kak Rue menganggapku tidak ada selamanya. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan seperti ini. Dia satu-satunya yang aku punya sekarang. Aku nggak mau kehilangan dia.” Hongjoon berjalan mondar-mandir di teras rooftop.
“Aku sudah bilang jangan pergi. Tapi, dia nggak bisa tinggal. Apa Esya, Yano, dan Axton juga datang? Ah! Nggak mungkin! Itu kan ritual diam-diam. Tidak semua murid diberi tahu.”
“Terima kasih sudah memintanya tetap tinggal.”
“Astaga!” Hongjoon kaget ketika tiba-tiba mendengar suara. Suara seorang pemuda. Ia pun membalikkan badan dan menemukan sosok pemuda dengan kostum serba hitam. Dia... dia kan yang ditanyakan Noona kemarin. Ia membatin sambil mengamati pemuda itu dari atas ke bawah.
Pemuda yang biasa disebut Rue dengan panggilan Malaikat Maut itu tersenyum. “Kau jangan khawatir. Rue adalah gadis yang hebat.”
“Iiiyaaa aku tahu itu. Tapi, kau siapa? Apa sama sepertiku?”
“Rue sering menyebutku Malaikat Maut atau Dewa Kematian.”
“Apa?” Pekik Hongjoon. “Lal-llu untuk apa kau datang ke sini?” Hongjoon terdiam sejenak, lalu mendelik. “Kau datang untuk menjemputku?”
Malaikat Maut tersenyum. “Nggak. Aku datang untuk menemani Rue.”
Kedua mata sipit Hongjoon semakin membelalak. “Noon-noona?? Kau datang untuk menemaninya?”
“Air doa ini berat!” Gerutu Byungjae yang keluar dari dalam rooftop.
Hongjoon dan Malaikat Maut kompak menatap pada Byungjae.
“Angkat sampai bawah aja. Om Toni bakalan ikut kita. Ayo!” Dio menepuk pundak Byungjae.
“Bantuin napa!”
“Kamu kan cowok. Masa nggak kuat!”
“Ayo.” Hanjoo menghampiri Byungjae. Lalu, bersama-sama membawa satu tas plastik berisi beberapa botol air doa yang disiapkan Rue.
Hongjoon dan Malaikat Maut memperhatikan aktivitas ketiga teman Rue.
“Turuti apa yang Rue katakan. Tetaplah di sini.” Malaikat Maut kembali berbicara.
“Tapi, apa maksudmu kau akan pergi mendampinginya, anu menemai Rue?”
Rue keluar lalu mengunci pintu. Menyita perhatian Hongjoon dan Malaikat Maut. Hongjoon bergegas mendekati Rue.
Noona, jangan pergi!” Hongjoon meminta Rue untuk tinggal.
“Nggak bisa. Aku haru pergi. Ritual ini, aku nggak bisa lakuin dari jarak jauh.” Rue melirik Malaikat Maut, sambil terus berjalan menuju tangga.
“Tapi, Noona. Itu cukup berbahaya.” Hongjoon mengejar Rue. “Noona! Ada yang ingin aku katakan padamu!”
“Tunggu sampai aku kembali. Kita akan membahasnya nanti!” Rue berlari kecil menuruni tangga.
Hongjoon pasrah melihat Rue pergi. Ia membalikkan badan, namun Malaikat Maut sudah menghilang.
***


Toni mengantar Rigel menuju SMA Horison. Hening setelah mobil melaju selama beberapa menit. Suasananya terasa canggung.

“Aku akan tinggal. Turut bergabung dalam ritual.” Toni memecah keheningan.
“Wah! Bunda Berta yang meminta Om menemani Rue?” Dio yang duduk di samping kiri Toni memberi respon.
“Keinginanku sendiri. Tapi, Berta mendukung. Ia pun akan membantu. Jadi, Rue jangan ragu. Walau yang memimpin ritual bukan kamu, tapi mereka menganggap kamu lah pemimpinnya. Kau harus yakin dan percaya diri dalam membawa pasukanmu ke medan perang.”
“Kita beneran perang?” Tanya Byungjae.
“Kalau pelajaran sejarah kamu nyimak nggak sih? Emangnya ada penjajah yang mau pergi secara suka rela saat diusir sama rakyat dari negeri yang mau mereka jajah?” Dio yang merespon pertanyaan Byungjae.
“Iya juga sih. Hehehe.” Byungjae meringis.
“Kalian bantu doa aja. Itu kekuatan yang luar biasa.” Toni mengingatkan tugas Dio, Byungjae, dan Hanjoo.

Mobil Toni sampai di SMA Horison. Ia membawa mobil masuk ke area sekolah dan memarkirkannya di area parkir yang biasa digunakan guru. Rombongan Rue—termasuk Toni—langsung menuju ruang UKS. Di sekolah lumayan ramai. Walau didominasi anggota ekstrakurikuler PMR dan Metafisik, ada beberapa anggota eksul yang sengaja datang dan menginap di sekolah demi menonton jalannya ritual.
Beberapa anggota Dewan Senior dan MPK juga hadir. Nicky dan Kevin ada di antara anggota Dewan Senior dan MPK yang hadir. Alumni yang hadir pun bukan dari ekstrakurikuler Metafisik saja, beberapa alumni PMR juga hadir.
Bekerja sama, anggota ekstrakurikuler PMR dan Metafisik mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk ritual. Anggota Dewan Senior dan MPK yang hadir turut membantu. Karena mendapat izin untuk merekam jalannya ritual, Rigel pun mulai mempersiapkan kamera mereka.
Setelah semua persiapan selesai, orang-orang yang akan terlibat dalam ritual berkumpul di tengah lokasi ritual yang digelar di tanah lapang di taman belakang sekolah. Dio, Byungjae, dan Hanjoo siap dengan kamera masing-masing. Menyebar di pinggir area ritual. Toni ada bersama Byungjae.
Rue terus memanjatkan doa. Ia merasa lebih gugup dari sebelumnya. Walau ia bukan satu-satunya gadis yang akan turut andil dalam ritual pengusiran, ia merasakan gugup yang lebih dari saat ia beraksi bersama Rigel.
“Rue.” Nicky menghampiri Rue. “Tolong hati-hati.”
Rue tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia kembali melihat Malaikat Maut tak jauh di belakang Nicky. Rue menarik napas dan menghembuskannya. Ia pun berjalan masuk ke dalam area ritual.
***


Pembina ekstrakurikuler yang memimpin jalannya ritual membagi tugas. Ada yang bertugas membuat pagar gaib untuk melindungi siapa saja yang berada di taman belakang sekolah. Semua yang ada di sekolah malam itu diminta mendekat ke lokasi agar lebih mudah untuk membuat pagar perlindungan.
Tim kedua bertugas membuat pagar gaib untuk melindungi orang-orang yang akan melaksanakan ritual. Orang-orang yang akan maju untuk melawan secara langsung pasukan setan yang sudah sejak lama bersiaga di taman belakang sekolah. Rue berada dalam tim inti, orang-orang yang akan maju melawan pasukan setan. Ia satu-satunya gadis yang berada di dalam tim inti yang berjumlah tujuh orang itu.
Ketika ritual dimulai, angin dingin yang cukup kencang tiba-tiba muncul. Tim pembuat pagar gaib tetap fokus untuk membuat benteng pertahanan. Sedang tim inti mulai siaga. Setelah angin dingin yang cukup kencang, tiba-tiba muncul kabut. Tujuh orang tim inti melihatnya dengan jelas. Termasuk Rue. Kabut tebal itu perlahan mulai pecah. Samar-samar terlihat pasukan setan yang pernah dilihat Rue. Pasukan yang berisi berbagai jenis buto dengan satu pimpinan seorang buto dengan wajah mengerikan.
Raja Buto yang memimpin pasukan setan bertubuh sangat besar dan memiliki wajah yang mengerikan. Wajahnya putih dengan dua mata lebar melotot berwarna merah. Hidung dan mulutnya besar dengan empat gigi taring besar yang mencuat keluar. Rambutnya berwarna coklat panjang dan acak-acakan. Tubuhnya kekar berwarna abu-abu.
Pemimpin ritual meyakinkan agar pasukannya tak merasa gentar. Karena, bagaimanapun manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna.
Walau yang kedua kalinya melihat pasukan buto, Rue masih dibuat terperangah. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mampu menghadapi mereka. Dalam hati ia terus memanjatkan doa. Meminta bantuan dan perlindungan Tuhan. Ia juga meminta restu pada ibunya, kakek, dan leluhurnya. Rue memantapkan hati. Ia pasti bisa melawan pasukan buto itu.
Angin dingin berhembus semakin kencang. Raja Buto mulai melancarkan serangan. Sadar ia dan pasukannya akan diusir, ia pun memulai serangan.
Tim yang melakukan ritual pembersihan kukuh. Ketika pasukan buto mulai maju dan menyerang, mereka pun bertahan dan melakukan perlawanan. Tim inti pun berpencar untuk membantu tim perlindungan melakukan pertahanan dan perlawanan.
Terdengar bunyi ledakan. Lingkaran api muncul mengitari Rue dan dua tim inti lainnya. Melihat Rue dan dua anggotanya dikepung lingkaran api, pemimpin ritual meminta anggota yang bebas dari tugas memadamkan api. Beruntung mereka telah menyiapkan beberapa tong berisi air di lokasi ritual. Tim pun bergerak cepat untuk memadamkan api.
“Rue diseret ke alam mereka!” Seru seorang pria yang turut terjebak dalam lingkaran api bersama Rue.
“Rue!” Mendengarnya, Nicky hendak mendekati lingkaran api. Kevin dengan sigap, menahannya dan memintanya tetap tenang.
“Kita harus percaya pada mereka. Tolong percayalah pada Rue.” Kevin menenangkan Nicky.
Nicky melihat pada Dio, Byungjae, Hanjoo. Tiga anggota Rigel itu tetap pada posisi mereka walau mendengar bahwa Rue diseret ke alam gaib. Sedang dari balik kobaran api, samar-samar ia melihat tubuh Rue yang duduk dengan kepala tertunduk. Sepertinya tak sadarkan diri. Nicky menguatkan dirinya. Ia hanya bisa berdoa agar Rue baik-baik saja.
“Buat pagar perlindungan untuk Rue!” Pemimpin ritual berseru. Memberi perintah tim untuk membuat perlindungan gaib untuk Rue.
***


You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews