AWAKE "Rigel Story" - Bab XXI

05:26

AWAKE - Rigel Story

 


 



Bab XXI

 


Teman-teman Rue telah pulang. Usai membersihkan diri, ia membongkar bingkisan yang dikirim Hongjoon. Ada satu boneka tomat warna merah dengan wajah tersenyum. Rue tersenyum melihatnya. Lalu, mengusuk tangkai hijau pada puncak boneka tomat.
Tas kertas itu tak hanya berisi boneka tomat. Tapi, ada sekotak coklat impor yang terkenal dan mahal seperti yang diceritakan Rio. Rue kembali memeriksa tas kertas, namun tidak menemukan apa-apa.
“Nggak ada kartu ucapannya? Atau... dia sengaja datang untuk ngobrol? Berterima kasih secara langsung?” Rue memiringkan kepala. Rue meletakkan kotak coklat ke atas meja dan membiarkan boneka tomat tetap di sampingnya.
Punggung Rue tegang ketika sosok pria dengan wajah berlumuran darah itu kembali muncul. Berdiri tanpa ekspresi tak jauh di seberang meja. Rue tahu itu bukan hantu. Melainkan sesosok arwah. Ia pun menghela napas.
“Apa yang ingin Anda sampaikan?” Rue membangun komunikasi dengan arwah yang mendatanginya.
Perlahan darah yang menutupi wajah pria itu menghilang hingga Rue bisa melihat dengan jelas wajah pria yang kira-kira berusia 50 tahunan itu.
“Terima kasih, Nona. Tolong bantu saya.” Arwah pria itu menanggapi pertanyaan Rue.
“Kenapa harus saya?”
“Karena, hanya Nona harapan saya.”
Rue menghela napas pelan. “Saya tidak bisa berjanji, tapi jika saya mampu, saya akan coba bantu.”
“Tolong doakan saya, Nona. Saya meninggal dalam sebuah kecelakaan semalam.”
Rue mengerutkan kening. Korban kecelakaan seringnya menemuinya karena ada bagian tubuhnya yang tertinggal dan keluarganya tidak tahu. Ia menduga-duga apakah permintaan pria itu sama seperti mereka yang kebanyakan datang padanya.
“Saya sangat menyesal karena telah menyebabkan kecelakaan yang turut mencelakai Tuan Muda yang sangat saya sayangi.”
Kening Rue berkerut semakin dalam. Ia diam dan menunggu si arwah melanjutkan ceritanya.
“Saya hidup sendirian. Istri saya meninggal enam tahun yang lalu. Lalu, saya bekerja pada keluarga Tuan Muda sebagai sopir. Tuan Muda sangat baik. Beliau memperlakukan saya seperti ayahnya sendiri. Hingga membuat saya tak merasa kesepian dan seolah memiliki keluarga setelah istri saya pergi meninggalkan saya.
“Tapi, kemarin saya lalai dalam menjalankan tugas. Ketika saya membawa Tuan Muda, truk tiba-tiba muncul dari gang dan menabrak mobil kami. Saya meninggal di lokasi. Tapi, say tidak tahu bagaimana kondisi Tuan Muda. Saya melihatnya tak sadarkan diri di kursi belakang.
“Saya sangat menyesal karena menyebabkan Tuan Muda celaka. Saya ingin meminta maaf pada Tuan Muda dan keluarga besar Tuan Muda yang telah mempekerjakan saya selama lima tahun terakhir. Bisa Nona menyampaikan permintaan maaf saya pada Tuan Muda dan keluarga besarnya?”
Rue pun bertanya lokasi kejadian kecelakaan di mana. Arwah itu menjawab sesuai apa yang ia ingat.
“Terima kasih Nona. Tolong doakan saya ya. Agar saya bisa melewati perjalanan dengan tenang.” Arwah itu tersenyum, lalu menghilang.

Hening di dalam ruang tamu. Rue tercenung selama beberapa detik. Setelah kesadarannya kembali, ia segera meraih ponselnya dan mencari informasi tentang kecelakaan yang terjadi semalam pada lokasi yang disebutkan arwah pria yang menemuinya. Berita itu muncul paling atas dalam hasil pencarian. Rue segera membaca beritanya. Rue seolah kehilangan jiwanya selama beberapa detik usai ia membaca berita itu.
Kecelakaan terjadi antara sebuah truk dan mobil sedan berwarna hitam. Truk mengalami rem blong dan menghantam mobil sedan dari arah kanan. Mobil terdorong hingga terhenti pada portal pembatas jalan. Ditulis satu korban meninggal dunia di lokasi dan satu lainnya kritis.
Yang membuat Rue syok adalah identitas korban kecelakaan yang sedang kritis. Korban berjenis kelamin laki-laki, berusia 16 tahun dengan inisial JHJ. Entah kenapa, ia merasa korban itu adalah Jin Hongjoon yang kemarin datang mengirim kado untuknya, yang tadi dikabarkan Yano tak masuk sekolah.
Ketika Rue sedang menduga-duga sekaligus berusaha menepisnya, ia mendengar bunyi gedebuk. Seolah ada benda berat yang jatuh tak jauh darinya. Ia pun mencari sesuatu itu dan menemukan sesosok putih yang jatuh tersungkur di seberang meja.
Rue tak beranjak dari sofa tempat ia duduk. Ia mengamati sosok yang bergerak-gerak itu. Ketika sosok itu berlutut dan tatapannya bertemu pandang dengannya, Rue terkejut. Sosok itu tak lain adalah Jin Hongjoon.
Hongjoon pun menunjukkan ekpresi yang sama. Terkejut mendapati Rue berada di depannya.
***


Hongjoon duduk di atas sofa. Memperhatikan Rue yang berjalan mondar-mandir di hadapannya. Setelah saling tertegun satu sama lain, Rue akhirnya kembali pada kesadaran menyebut namanya. Hongjoon senang karena Rue masih mengenalinya. Tapi, ia masih bingung dengan bagaimana ia bisa berada di dalam rumah Rue. Ketika Rue bertanya apa yang terjadi, ia pun menjelaskan apa yang ia ingat.
Rue menghentikan langkahnya. Mendesah dengan kasar, lalu menoleh ke arah kanan. Hongjoon yang tiba-tiba ditatap seperti itu pun kaget dan segera mengalihkan pandangan.
“Apa kau tahu jika kau mengalami kecelakaan sepulangmu dari sini?”
“Maaf?” Hongjoon merasa salah dengar. “Jadi ini...” ia mengamati dirinya sendiri.
“Iya. Itu rohmu. Kau tersesat dan dikembalikan ke dunia sebelum menyeberang. Artinya, kau belum mati. Mungkin saja kau koma. Karena, di berita yang aku baca, kau dinyatakan kritis.”
Seonbae tahu? Eh, maaf. Maksudku, Kak Rue tahu?” Hongjoon meralat karena menggunakan bahasa Korea. Seonbae adalah panggilan untuk senior dalam bahasa Korea.
“Baru saja membacanya.”
“Jadi, aku tidak hidup, juga belum mati? Lalu, aku harus bagaimana?”
“Aku juga tidak tahu. Ini pertama kalinya aku didatangi orang koma.” Rue duduk di atas permadani yang mentutupi lantai. Menatap Hongjoon yang duduk di atas sofa.
Merasa sungkan, Hongjoon pun melorot dan turut duduk di atas permadani. “Benar-benar tidak punya solusi?”
“Belum.”
Hongjoon menatap Rue yang kembali diam. Ia menunggu Rue kembali bicara.
“Sopirmu, namanya siapa?”
“Mm? Oh! Paman Darwin?”
“Beliau meninggal di lokasi.”
“Apa?? Pam-paman Darwin meninggal??”
“Mm.” Rue menganggukkan kepala. “Beliau meminta maaf karena telah membuatmu celaka.”
“Paman Darwin di sini? Mana?”
Rue bungkam.
“Itu bukan salah Paman Darwin. Aku yakin. Paman Darwin selalu sopan dalam berkendara.”
Truk itu mengalami rem blong dan menabrak mobil kalian. Begitu yang aku baca.” Hongjoon diam dengan kepala sedikit tertunduk.
“Aku minta maaf, tapi dalam kondisi seperti ini apakah keluargamu akan menyalahkan Paman Darwin?”
Hongjoon bergeming.
“Hongjoon?”
“Tidak. Tidak mungkin. Mereka tahu bagaimana baiknya Paman Darwin padaku. Dia memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Dia sangat menyanyangi aku.” Hongjoon tertunduk semakin dalam dan menangis.
Rue hanya diam menatapnya. Membiarkan Hongjoon meluapkan kesedihannya.
***


Esya mendekati Nenek Hongjoon yang berdiri di depan tembok kaca. Di dalam sana Hongjoon terbaring tak sadarkan diri. Alat bantu di pasang di sana-sini demi membantu Hongjoon agar tetap bertahan hidup.
“Nek, istirahat dulu ya. Nenek belum istirahat sama sekali sejak kemarin.” Esya membujuk neneknya.
“Bagaimana aku bisa beristirahat, sedang dia sedang berjuang sendirian di sana.” Nenek Hongjoon menyentuh dinding kaca dan mengelusnya. “Cucuku yang malang.”
Esya turut menatap ke dalam ruang ICU tempat Hongjoon dirawat. Melihat saudara sepupunya koma, ia pun tak bisa berpura-pura tak sedih.
“Besok kau harus sekolah. Jangan lama-lama membolos.”
“Asal nenek mau istirahat. Kalau tidak, aku akan tetap di sini. Menemani nenek.”
Nenek Hongjoon menghela napas. “Kau pikir aku di sini terus? Tidak, Sayang. Rumah sakit ini menyediakan tempat istirahat untuk keluarga pasien. Aku beristirahat di sana. Mama Hongjoon akan tiba malam ini. Aku akan membiarkan dia menjaga putranya dan aku akan istirahat. Kau pulang saja dulu dan istirahatlah.”
“Aku tidak akan masuk sekolah besok, Nek. Besok adalah pemakaman Paman Darwin. Hanya kita keluarga yang dia miliki.”
“Ah iya. Aku terlalu fokus pada Hongjoon hingga melupakan Darwin.”
Kita istirahat sama-sama yuk?"
Nenek Hongjoon menatap ke dalam ruang ICU, diam selama beberapa detik. Lalu, menganggukkan kepala dan setuju untuk beristirahat dengan Esya.
Esya tersenyum dan menuntun neneknya ke ruang istirahat untuk keluarga pasien.
***


Rue terkejut ketika keluar dari kamar mandi. Hongjoon sudah berdiri di dapur dan tersenyum padanya. Ia lupa jika sejak semalam roh Hongjoon tinggal di rumahnya.
Noona akan ke sekolah hari ini?” Sambut Hongjoon ceria. Ia sengaja memanggil Rue dengan Noona. Panggilan dari adik laki-laki untuk kakak perempuan dalam bahasa Korea.
“Kalau nggak sekolah mau ngapain?” Jawab Rue seraya berjalan menuju kamarnya.
Hongjoon mengerucutkan bibir. Tetap bertahan di dapur, menunggu Rue.
Rue keluar. Ia sudah memakai seragam SMA Horison. Ia menuju dapur untuk membuat sarapan.
Hongjoon minggir. Memberi ruang untuk Rue. “Kalau mau masak, kenapa pakai seragam dulu? Kan nanti kotor.”
Rue tersenyum. Ia sibuk membuat jus buah dan roti bakar. Setelah siap, ia membawanya ke ruang tamu untuk sarapan. Hongjoon mengikutinya.
“Kalau kamu ngarep ikut ke sekolah, maaf. Aku nggak bakalan kasih izin. Sekolah sedang situasi genting. Bahaya kalau kamu ikutan.” Rue sudah duduk di atas permadani dan bersiap sarapan.
“Karena itu, belakangan sering terjadi kesurupan?”
“He’em. Ada pasukan setan yang mengepung sekolah. Makanya, bahaya kalau kamu ikut aku. Bisa jadi tawanan kamu ntar.”
“Kok gitu? Pasukan setan?”
“Iya. Kami masih menyelidikinya. Benar-benar membuatku pusing. Ditambah adanya kau di sini.”
“Aku kan sudah janji nggak bakal ngrepotin.”
“Tetep aja nggak terbiasa.”
“Nanti juga akan terbiasa. Lagian, aku nggak punya tempat lain untuk dituju.”
Rue menatap Hongjoon sejenak, lalu menghela napas dan mulai makan. “Kalau gitu, diem aja di sini. Tunggu sampai aku pulang.”
Hongjoon tersenyum dan menganggukkan kepala.

Rue selesai mengunci pintu. Ia berjalan menuruni tangga. Hongjoon mengikuti di belakangnya.
“Kak Rue!”
Rue kaget ketika sampai di ujung tangga terbawah. Rio tiba-tiba muncul dan memanggilnya. “Bikin kaget aja!”
“Kakak udah tahu? Ituuu... kakak yang ke sini nitip hadiah dan ngasih aku coklat. Dia kecelakaan dan kritis!”
Rue menatap Rio dengan datar. Sedang Hongjoon yang berdiri di belakangnya tersenyum.
“Kak Rue udah tahu ya? Aku baru tahu beritanya pagi ini. Dapat kiriman di grup chat.” Rio menggaruk kepalanya. “Kak.”
“Apa?”
“Aku penasaran. Apa arwahnya dateng nemuin kakak? Aku kan Orion.”
“Udah sekolah sana!” Rue pergi meninggalkan Rio. Pemuda itu menggerutu tak jelas dan kembali masuk ke rumah.
“Dia Orion? Pantas tahu banget kelakuan Orion.” Hongjoon mengomentari tingkah Rio.
“Dia ngaku Orion kalau ada maunya.”
“Dia pemuda yang lucu.”
“Mau ngikutin aku sampai mana?” Rue menghentikan langkahnya.
Hongjoon turut menghentikan langkah. Ia kelincutan. “Baiklah. Aku balik sekarang. Hati-hati di jalan Noona.” Hongjoon membalikan badan, membelakangi Rue, dan berlari, kemudian menghilang.
Rue yang menatapnya tersenyum. Pagi yang berbeda. Ada yang melepasnya berangkat.
Rue menghela napas dan kembali berjalan. Langkahnya memelan ketika sampai di perempatan tempat ia biasa bertemu dengan Dio, Byungjae, dan Hanjoo. Bukan ketiga rekannya yang berada di sana. Melainkan Malaikat Maut yang sering secara tiba-tiba menampakan diri padanya.
Dengan langkah lambat, Rue melewati Malaikat Maut yang berdiri di tepi jalan dan menatapnya. Kepala Rue tertunduk, tapi ia masih bisa mencuri pandang, memperhatikan bagaimana Malaikat Maut menatapnya saat ia melintas di depannya.
***


“Kenapa Kakak tiba-tiba ingin tahu?” Yano balik bertanya pada Rue.
Rue mendesah. Ia sengaja menemui Yano di kelasnya saat jam istirahat demi mencari informasi tentang Hongjoon.
“Kemarin kakak seperti nggak tertarik.” Yano sok jual mahal.
“Kemarin aku sibuk. Kamu nggak tahu kami kena sidang karena Dio berantem sama Pearl?”
“Oh itu. Iya. Sudah heboh dibicarakan. Kak Dio beneran dipecat dari Dewan Senior? Sayang sekali.”
“Kamu tahu nggak sih di mana Hongjoon dirawat?”
“Nggak tahu. Tapi, temenku kayaknya tahu. Sebentar. Tunggu dia sebentar. Tadi dia masih ke toilet. Kak Rue juga pasti udah tahu dia siapa.”
“Esya?”
“Bukan. Axton. Nah, itu dia.” Yano tersenyum lebar menyambut kedatangan Axton.
“Wah! Ada Kak Rue di sini. Tumben?” Wajah putih Axton dihiasi semburat pink ketika ia melihat Rue duduk di bangkunya.
“Kak Rue nanya soal Hongjoon. Kamu tahu nggak? Dia dirawat di mana?” Tanya Yano.
“Esya cuman bales, hari ini pemakaman sopir pribadi Hongjoon. Tapi, belum kasih tahu di rumah sakit mana Hongjoon dirawat.” Jawab Axton. “Nanti kalau Esya udah masuk, aku tanyain. Emang kenapa kok Kak Rue nyari rumah sakit tempat Hongjoon dirawat?”
“Pemakamannya diadain jam berapa? Di mana?” Rue segera mengalihkan topik. Membuat Axton dan Yano bingung.
“Sebentar.” Axton meraih ponsel di saku celananya dan memeriksa kembali pesan Esya. “Jam sembilan, Kak. Udah lewat.”
“Makamnya?”
Axton menyebutkan lokasi pemakaman sopir pribadi Hongjoon. Ia merasa senang karena bisa memberikan informasi untuk Rue.
“Makasih ya. Maaf udah ganggu kalian.” Rue bangkit dari duduknya.
“Nanti kalau Esya udah masuk, aku tanyain rumah sakit tempat Hongjoon dirawat.” Yano menyanggupi.
“Oke.” Rue pun meninggalkan Yano dan Axton.
“Kak Rue ke sini,” Axton buru-buru duduk di bangkunya. “Duduk di bangkuku!”
“Biasa aja kali. Makan yuk!” Yano bangkit dari duduknya.
***


Pearl, Ruby, dan Linde berada di kantin. Pearl masih menekuk wajah sejak pagi. Ia masih kesal karena peristiwa kemarin. Ia marah karena dikeluarkan dan dicoret dari daftar calon Dewan Senior. Walau Ruby dan Linde terus menenangkannya, Pearl tetap tidak bisa terima.
“Liat! Pangeran pujaanmu tuh. Jangan cemberut mulu napa.” Ruby berbisik. Memberi tahu jika Yano datang ke kantin.
“Itu ya yang namanya Yano.” Linde mengangguk-anggukkan kepala sambil mengamati Yano.
Pearl mengangkat kepala dan mengamati Yano. Senyum samar terkembang di wajahnya yang kuyu.
“Eh, itu Yano. Tahu nggak sih, tadi Kak Rue nyamperin dia ke kelas lho!”
“Kak Rue? Nyamperin Yano ke kelas? Masa?? Ngapain??”
“Nggak tahu lah. Kebetulan aku masih di kelas. Kak Rue tengok-tengok kelas, trus nemuin Yano masih duduk di bangkunya. Masuk lah dia. Duduk di samping Yano.”
“Ya ampun! Trus mereka ngapain?”
“Ngobrol aja sih kayaknya. Aku buru-buru keluar dong. Sungkan. Karena di kelas cuman ada aku sama Yano sebelum Kak Rue datang.”
“Yah. Harusnya kamu tetep di sana. Biar tahu mereka lagi ngobrolin apa.”
“Iya. Kenapa kamu malah pergi.”
“Kan aku sungkan. Kak Rue akrab gitu ya sama Yano. Kayak udah lama kenal.”
“Iya. Dari pas mereka ngobrol di depan UKS kan?”
“Iya. Bener banget. Aku jadi penasaran. Mereka punya hubungan apa ya?”
Pearl meremas sendok dan garpu yang ada di tangan kanan dan kirinya. Lalu membanting kedua tangannya ke meja, beranjak dari duduknya dan pergi. Ia kesal mendengar obrolan siswi-siswi yang duduk di belakangnya. Dengan langkah lebar-lebar ia berjalan keluar dari kantin. Ruby dan Linde saling memandang. Lalu, kompak menghela napas panjang.
***


Dio, Byungjae, dan Hanjoo kompak tercenung usai mendengar penjelasan Rue. Keempatnya berkumpul di sebuah restoran cepat saji usai pulang sekolah.
“Ngomong-ngomong, apa Hongjoon ada di sini?” Dio dengan lirih.
“Nggak. Dia aku suruh diem di rumah. Bahaya kalau ikutan ke sekolah. Sekolah lagi genting.”
“Jadi, itu alasan kamu sampai nekat nemuin Yano?” Hanjoo paham alasan di balik hebohnya berita Rue menemui Yano di kelasnya.
“Nggak efektif kalau nanya lewat pesan. Mending langsung ketemu aja.”
“Mikir nggak efeknya gimana?”
“Kak Nicky ya? Wah. Gawat juga kalau Kak Nicky tahu trus cemburu.” Byungjae menanggapi dengan serius.
“Aku sama Kak Nicky nggak ada apa-apa tau! Gawat tuh aku baru inget soal Pearl.” Rue membantah tuduhan Byungjae.
“Pearl? Kenapa lagi?” Tanya Dio.
“Pearl kan suka sama Yano.”
Dio, Hanjoo, dan Byungjae dibuat tercenung untuk yang kedua kalinya.
“Bukannya cuman Fabian dan Kak Nicky ya?” Hanjoo memastikan.
“Sama Yano juga.”
“Ada apa sih?” Dio bingung.
“Iya. Apa yang kalian tahu, tapi aku dan Dio nggak.” Byungjae pun menuntut penjelasan.
Rue menghela napas. Lalu, menjelaskan tentang ketika ia berada di dalam toilet dan tak sengaja mendengar obrolan Pearl, Ruby, dan Linde.
Dio tidak bisa menahan tawa usai mendengar penjelasan Rue. “Pantesan benci banget sama kamu. Urusan cowok ternyata. Sekarang apa pula pakek naksir Yano? Tahu fakta tentang kamu sama Yano, mampus dia. Bunuh diri bisa-bisa.”
“Hush! Ngeri tahu!”
“Bisa jadi, kan? Dia tuh bukan cewek psiko. Tapi, skizofrenia. Gila!”
“Suer aku baru inget soal itu waktu Byungjae nyebut nama Kak Nicky.”
“Kita harus hati-hati nih. Bisa jadi Pearl mikir Rue sengaja makin hancurin dia. Kemarin udah dipecat, hari ini ditambah denger tentang Rue nyamperin Yano. Bisa makin menjadi dia.” Byungjae bergidik hanya karena membayangkan kemungkinan yang akan dilakukan Pearl untuk membalas Rue.
“Rue bisa salah perhitungan juga ya.” Hanjoo menggelengkan kepala.
Rue tersenyum dan mengangkat kedua bahunya. Saat menatap ke dinding kaca bagian depan restoran cepat saji, senyum di wajahnya sirna. Di luar sana, sang Malaikat Maut sedang berdiri menatapnya.
***

 


You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews