Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy - Land #36

05:05

 

Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy

 

It's about rainbow, love, hate, glory, loyalty, betrayal and destiny.

 

  

 

. Judul: “Wisteria Land: Another Story of Hwaseong Academy”

. Author: shytUrtle

. Rate: Serial/Straight/Fantasy/Romance.

. Cast:

-                  Song Hyu Ri (송휴리)

-                  Rosmary Magi

-                  Han Su Ri (한수리)

-                  Jung Shin Ae (정신애)

-                  Song Ha Mi (송하미)

-                  Lee Hye Rin (이혜린)

-                  Park Sung Rin (박선린)

-                  Song Joongki, L,Joe Teen Top, L Infinite, Jung Daehyun B.A.P, Jo Jonghwan 100%, Baro B1A4, Jang Geunsuk, Yoo Seungho, Kim Sunggyu Infinite, Choi Joonghun FT.Island, Cho Kyuhyun Super Junior, and many other found it by read the FF.

 

 

Ketika kau melihat pelangi, apa yang ada di benakmu? Tujuh warnanya yang indah atau...? Di sini, di Wisteria Land, kami percaya jika pelangi adalah jelmaan sang Naga. Naga arif dan bijaksana yang selalu mengawasi dan menjaga tanah Wisteria Land. Naga yang pada suatu waktu muncul dengan keelokan wujudnya dengan tujuh warna pelangi. Apa kau juga percaya akan hal ini?

 

Land #36

 

Hyuri dan Hami berada di ruang belajar. Bangunan yang tak begitu luas, seluruhnya terbuat dari kayu dan di dalamnya berisi banyak buku. Hyuri dan Hami duduk berhadapan di atas bantal agar membuat mereka nyaman karena harus duduk di atas lantai kayu. Dua dayang meletakkan dua tumpukkan buku di atas meja, lalu pamit pergi.

            Hyuri melongo menatap dua tumpukan buku-buku tebal di hadapannya. “Jangan katakan semua ini yang harus aku baca,” ujarnya.

“Iya. Semua buku itu yang harus Yang Mulia pelajari. Buku-buku itu memuat tentang protokol istana, tentang sistim pemerintahan, serta tata cara dalam istana lainnya. Semua hal paling mendasar tentang istana ada di sana. Salah satunya adalah panduan untuk menjadi tuan putri yang baik sesuai aturan istana.” Hami memberi penjelasan.

Hyuri menghela napas panjang. Menatap tumpukan buku itu sudah membuatnya mual dan pusing. Ia sama sekali tak memiliki minat untuk membaca semuanya.

“Walau tak ingin, Yang Mulia harus tahan dengan ini semua. Saya sengaja meminta kesempatan ini kepada Ibu, agar kita bisa belajar bersama. Bukannya saya merasa lebih unggul dari Yang Mulia, tapi saya lebih lama tinggal di istana. Jadi dibanding Yang Mulia, saya lebih berpengalaman tentang istana. Saya hanya ingin membantu Yang Mulia belajar. Saya pikir Yang Mulia harus memiliki persiapan sebelum nantinya harus berhadapan dengan Dayang Choi.”

Awalnya Hyuri merasa kesal karena mendengar ocehan Hami yang baginya terdengar seperti tindakan sok peduli dan menunjukkan statusnya sebagai putri sah saat ini. Namun, ketika nama Dayang Choi disebut, ia kembali merasakan kepanikan. “Day-yang Choi?” tanyanya terbata.

Nee. Dayang Choi adalah dayang senior terbaik. Setiap wanita yang masuk ke istana dan akan tinggal di dalamnya, Dayang Choi lah yang bertugas mendidiknya. Dayang Choi tidak hanya mengajarkan tata krama pada calon dayang, tapi juga pada perempuan bangsawan yang akan memasuki istana. Tak terkecuali saya.”

Menyebalkan! Dia pasti wanita diktator dan kejam! Kalau begitu, lebih baik belajar bersama Tuan Putri yang sok ini saja! Hyuri menggerutu dalam hati.

“Sebaiknya kita mulai. Kita tidak punya banyak waktu untuk bersantai. Saya dengar Dayang Choi sangat bersemangat ketika mendengar Yang Mulia telah kembali ke istana. Dayang Choi telah menyiapkan materi khusus untuk Yang Mulia pelajari nanti.”

Demi para Dewa! Hancurlah hidupku sekarang! Hyuri mengeluh dalam hati.

Hami tersenyum melihat ekpresi Hyuri. Tangan kanannya terulur mengambil sebuah buku dan meletakkannya tepat di depan Hyuri. “Kita mulai dengan buku ini. Silahkan dibaca.”

Hyuri mendengus pelan, dengan malas tangannya bergerak membuka buku bersampul coklat tua di hadapannya.

***

 

Satu jam berlalu. Hami serius dengan buku yang ia baca. Hyuri tidak hanya bosan, ia mulai mengantuk. Hyuri memperhatikan Hami selama beberapa detik. Setelah yakin jika Hami benar-benar fokus pada buku yang sedang ia baca, perlahan kedua tangan Hyuri bergerak turun dan meraih ponselnya. Ia teringat penjelasan Hami tentang barang-barang miliknya yang telah dikemas oleh Suri. Ia ingin memastikan apakah Suri benar-benar telah mengemasi semua barangnya dan membawanya keluar dari Kastil Asphodel. Ia ingin tahu alasan Suri melakukan hal itu. Ia pun khawatir jika Suri diusir oleh keluarga Magi, dampak dari apa yang ia alami saat ini.

Han Suri, kau mengemasi barang-barangku dan menitipkannya pada Lee Hyerin? Benarkah? Kenapa kau melakukan hal itu? Alih-alih menolongku, kenapa kau malah menendangku keluar dari Kastil Asphodel? Atau itu perintah dari keluarga Magi? Bagaimana dengan Magi? Kamu nggak diusir dari Kastil Asphodel, kan? Terjadi sesuatu yang rumit di sini, dan aku nggak bisa menjelaskannya pada kalian sekarang—

“Tolong matikan ponsel Anda!” Hami menegur tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca.

Hyuri yang sedang fokus mengetik pesan secepat ia bisa pun terkejut. Ia mengangkat  kepala, kedua matanya melebar menatap Hami. Tuan Putri ini! Sok sekali di depanku! Iya, ini wilayahmu! Daerah kekuasaanmu! Tapi ada satu hal penting yang harus aku konfirmasi sekarang! Hyuri mengoceh, meluapkan kekesalannya di dalam hati saja.

“Kau mengatakan, ah, maaf. Anda mengatakan jika Han Suri sudah mengemasi barang-barang milik saya pagi ini, saya hanya ingin memastikan hal itu. Saya ingin tahu alasan kenapa Han Suri mengemasi barang saya. Sekaligus memastikan apakah Han Suri dan Magi baik-baik saja. Karenanya, saya memainkan ponsel, untuk mengetik pesan pada Han Suri.” Hyuri berusaha sesopan mungkin saat menyampaikan isi kepalanya pada Hami.

“Yang Mulia harus bersabar. Banyak hal yang harus kami urus sejak Yang Mulia kembali ke istana. Yang Mulia Raja pasti mengusahakan yang terbaik. Selain itu ada banyak hal yang harus kita persiapkan untuk Yang Mulia. Setelah semua selesai, Yang Mulia pasti akan diberi kesempatan untuk menemui Han Suri dan Rosemary Magi. Saya yakin mereka baik-baik saja, walau pasti mereka sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa salah satu teman mereka tak lain adalah Putri Ahreum.” Hami menurunkan tangannya yang memegang buku dan menaruh perhatian pada Hyuri.

“Kenapa Han Suri bergegas mengemasi barang Yang Mulia, menurut saya ia hanya panik. Siapa pun pasti tak ingin berurusan dengan istana terlebih jika berhubungan dengan Putri Ahreum. Saya rasa Han Suri sudah bisa memprediksikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tindakannya tidak hanya dipengaruhi oleh kebiasaannya yang hobi menonton film hingga menuntunnya untuk bertindak seperti itu. Lagi pula, bagaimanapun Yang Mulia tidak akan kembali tinggal bersamanya. Dia gadis yang luar biasa. Yang Mulia dan Han Suri sebelumnya tinggal bersama, pasti akan sangat tidak nyaman baginya jika ada petugas istana yang datang untuk mengambil barang-barang milik Yang Mulia. Han Suri pasti tidak ingin menjadi sorotan. Ia tidak ingin ada orang asing mengusik wilayah pribadinya. Saya rasa tindakannya benar.”

Hyuri kesal karena harus membenarkan pendapat Hami. Jika pihak istana sampai menemukan Kastil Asphodel akan semakin rumit. Apa mungkin itu permintaan Nichkhun Seonbaenim? Demi melindungi Kastil Asphodel? Ia menduga-duga dalam hati.

“Sepertinya Yang Mulia bosan. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sejenak?” Hami menawarkan kegiatan yang mungkin saja akan membuat Hyuri setuju untuk mengusir kebosanan.

“Jalan-jalan?? Keluar istana??” Hyuri mendadak antusias.

“Animnida. Kita akan berkeliling istana. Apa Yang Mulia tidak ingin mengenang masa kecil Yang Mulia saat masih tinggal di istana?”

“Masa… kecil….” Bisik Hyuri lirih.

Hami terkejut. Ia baru menyadari jika ucapannya mungkin saja melukai perasaan Hyuri. Masa kecil gadis itu banyak menyimpan kisah pilu. “Maafkan saya, Yang Mulia. Jika tidak berkenan, kita bisa tetap tinggal di sini, karena saya tidak bisa membawa Yang Mulia keluar istana. Itu sangat berbahaya bagi Yang Mulia.”

Hyuri hanya diam. Tak merespon permintaan maaf Hami.

***

Hami mengantar Hyuri berkeliling istana. Hyuri menikmati perjalanan itu. Kesempatan yang sangat langka bagi rakyat jelata seperti dirinya. Ia merasa beruntung karena bisa memasuki istana dengan mudah dan berkeliling dengan bebas. Sejenak ia lupa pada beban berat yang sedang ia tanggung yakni menjadi Putri Ahreum.

Hami berhenti di sebuah taman. Bunga-bunga di taman itu sedang bermekaran, warna-warninya begitu indah. Hyuri turut berhenti. Ia tersenyum, menatap kagum indahnya hamparan bunga warna-warni di hadapannya.

“Dahulu, di sini kita sering bermain bersama. Apa Yang Mulia masih mengingatnya?” Hami menoleh ke kiri demi menatap Hyuri.

“I-iya??” Hyuri terkejut. Ia kebingungan di depan Hami. Karena ia bukanlah Putri Ahreum, ia sama sekali tak tahu tentang bagaimana masa kecil Putri Ahreum di istana.

Hami tersenyum getir dan kembali menatap taman. “Kita berlarian, berusaha menangkap kupu-kupu. Tak jarang Joongki Oppa turut bermain. Kita sering bersekongkol dan berbuat curang pada Joongki Oppa.” Hami tersenyum geli mengenang kenakalan masa kecilnya bersama Putri Ahreum.

“Joongki Oppa terus tersenyum sejak Yang Mulia kembali ke istana kemarin. Oppa merasa mendapatkan kekuatan dan dukungan baru. Menjadi raja di usia muda sangat membebaninya. Saya mohon maafkanlah ketidakcakapan Oppa saya dalam mengemban tugas sebagai raja selama ia memerintah.” Hami menunduk sopan di depan Hyuri.

“Jangan meminta maaf pada saya, karena yang pantas meminta maaf adalah saya. Tindakan Raja pasti memiliki alasan. Semua yang kita lakukan saat ini memiliki alasan tersendiri. Orang lain sering abai pada alasan dari tindakan yang kita lakukan. Mereka lebih memilih mengadili kita. Tapi, abaikan saja! Tentang kita hanya kita yang tahu. Yang terpenting jangan sampai lelah untuk memperbaiki diri sendiri.”

Hami tersenyum menatap Hyuri.

***

 

“Aku akan mengambil barang-barang milik Putri Ahreum dan akan mengantarkannya langsung ke istana. Apa kalian nggak ingin nitip pesan untuk Putri Ahreum?” Hyerin kembali menemui Magi, Suri, dan Sungrin.

“Terima kasih. Maaf, kami jadi begini merepotkan. Tolong sampaikan salam kami untuk Putri Ahreum, katakan bahwa kami baik-baik saja. Saya yakin Putri Ahreum pasti mengkhawatirkan kami. Saya berharap Putri Ahreum bisa benar-benar menolong Wisteria Land yang sedang krisis.” Suri menjawab.

“Sepertinya kau sedang kesal, Han Suri.”

“Saya yakin Seonbaenim paham alasannya kenapa. Semua ini, kenyataan ini benar-benar membuat saya kesal. Merepotkan!”

“Jangan khawatir. Putri Ahreum pasti akan membalas budi baik kalian kelak.”

“Jika dia ingat.”

“Apa kalian sudah mendengar berita terbaru?”

“Saya tidak tertarik!”

“Lusa istana akan mengumumkan secara resmi tentang kembalinya Putri Ahreum, sekaligus akan memperkenalkan Putri Ahreum pada rakyat Wisteria Land.”

“Apa??” Magi terkejut mendengarnya. “Kenapa cepat sekali?”

Hyerin beralih menatap Magi. “Kali ini aku memiliki pemikiran yang sama denganmu. Sepertinya istana ingin rakyat memaklumi kondisi Putri Ahreum yang ya bisa jadi tak sesuai harapan rakyat.”

“Apa maksud Seonbaenim dengan tidak sesuai harapan?” Tanya Suri.

Hyerin menyincingkan senyum saat menatap Suri. “Sebagai teman, aku tak yakin jika kalian tak paham siapa Song Hyuri. Akan membutuhkan bimbingan khusus untuk benar-benar menjadikannya seorang putri.”

“Saya yakin rakyat akan memakluminya. Terutama bagi yang mendukung Putri Ahreum. Semua butuh waktu untuk berproses. Bukankah sangat tidak sopan dan bertentangan dengan hukum kerajaan jika kita meragukan kemampuan Yang Mulia Putri Ahreum?” Magi merespon ucapan Hyerin.

Hyerin kesal mendengar jawaban Magi. “Akan aku sampaikan salam kalian!” Ia pun pergi.

“Dia itu! Selalu saja pedas kalau ngomong!” Suri kesal pada sikap Hyerin.

“Bukannya kamu sama ya?” Goda Sungrin.

“Kalau aku memang perlu bertindak seperti itu!” Suri membela diri.

Suri dan Sungrin menatap Magi yang diam. “Ada apa?” Tanya Suri.

“Permainan telah dimulai. Semua ini akan membuat Hyuri semakin kesulitan.” Magi membagi apa yang ia khawatirkan.

“Kau terus mengkhawatirkan Hyuri, lalu bagaimana denganmu? Mengingat nama besar Putri Ahreum, aku yakin pasti banyak yang melindunginya di istana.”

“Pamor Putri Ahreum membuat Hyuri dibenci sekaligus dicintai. Wajar jika Magi mengkhawatirkannya.” Sela Sungrin.

“Magi!” L.Joe tiba-tiba muncul. Ia datang bersama Shin Ae untuk menemui Magi. “Kamu baik-baik aja? Kemarin, kenapa tiba-tiba menghilang?” L.Joe yang sampai di depan Magi mengamati Magi demi memastikan bahwa kekasihnya itu baik-baik saja.

“Maaf membuat Seonbaenim khawatir. Melihat Hyuri diseret pengawal istana, kami ketakutan dan memutuskan untuk kabur.” Magi mengulas alasan kenapa ia tiba-tiba menghilang dari sekolah.

“Memang sangat mengejutkan. Ternyata salah satu dari kalian adalah Putri Ahreum.” Sahut Shin Ae.

Magi tersenyum saat menatap Shin Ae, lalu menganggukkan kepala dengan pelan.

***

 

“Tak ada reaksi! Tak ada reaksi! Bahkan tak ada tindakan dari Lesovik! Apa kurang matang dalam memperhitungkan hal ini? Putri Ahreum palsu ini apa kurang menarik bagi mereka?” Ratu Maesil mondar-mandir di dalam kamarnya sambil bergumam.

Ratu Maesil menghentikan langkahnya dan menatap keluar jendela. “Apa caraku terlalu kuno? Sudah terbaca?” Ia kembali bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Terdengar suara ketukan di pintu. “Masuklah!” Ratu Maesil memberi izin.

Salah seorang pria kepercayaannya masuk, kemudian membisikkan sesuatu di telinga kanan Ratu Maesil. Ratu Maesil menyeringai ketika pria itu pergi.

“Akan segera diperkenalkan ke rakyat? Lusa? Hm, buru-buru sekali. Tapi permainan jadi sedikit lebih menarik. Jung Hyeyoung, kenapa kau jadi begini ceroboh? Atau rakyat benar terlalu mendesakmu? Baiklah! Aku akan bersiap-siap.” Ratu Maesil kembali menyeringai, kemudian melangkah pergi meninggalkan kamarnya.

***

 

Seluruh penghuni Kastil Asphodel berkumpul di ruang keluarga. Kembali membahas tentang Hyuri yang tanpa sengaja dinobatkan sebagai Putri Ahreum Yang Hilang.

“Cepat sekali istana mengambil keputusan. Jadi, Kamis nanti Song Hyuri akan diperkenalkan secara resmi sebagai Putri Ahreum Yang Hilang. Bukankah ini terlalu gegabah?” Nichkhun menaruh perhatian penuh pada Magi.

“Aku yakin orang-orang di dalam istana yang masih menjadi pendukung mendiang Ayah sama penasarannya dengan Ratu Maesil. Rasanya tidak mungkin jika mereka tidak mengendus kejanggalan dalam kasus munculnya Putri Ahreum. Istana memberi reaksi atas tindakan Ratu Maesil, mungkin untuk mencari tahu tentang rencana selanjutnya dari Ratu Maesil. Menurutku begitu.” Magi mengutarakan hasil analisisnya.

“Sekaligus untuk menjawab rasa penasaran rakyat pada sosok Putri Ahreum. Konvoi digelar bertepatan dengan jam sekolah. Yang Mulia pasti akan melihat rombongan konvoi istana. Apa sebaiknya Yang Mulia menghindarinya?” Tanya Sungjeong.

“Aku ingin melihatnya. Konvoi itu....” Suara Magi lirih pada kalimat terakhir yang menggantung.

Semua diam menatap Magi. Suasana berunah hening.

“Setiap kali memikirkannya, aku terus dihantui oleh banyak hal. Rasa bersalah pada Hyuri, juga ketakutan akan segala kemungkinan yang bisa saja menimpa Hyuri. Terlebih setelah istana mengumumkan secara resmi bahwa benar Putri Ahreum telah ditemukan dan kembali ke istana. Setelah istana memperkenalkan Hyuri ke publik, apa yang akan terjadi padanya? Aku sangat ketakutan.

“Lalu, terlintas dalam benakku, bagaimana jika kita culik saja Hyuri dari istana? Menyudahi perannya sebagai boneka Ratu Maesil. Karena semua itu pasti membebaninya. Pikiran lain muncul, apa sebaiknya aku muncul saja? Menunjukkan jati diriku dan membantah keaslian Hyuri. Namun, aku akhirnya tersadar. Semua itu hanyalah buah dari rasa frustasi yang aku rasakan saat ini.” Magi berhasil menyelesaikan kalimatnya yang menggantung. Suasana kembali hening.

“Maaf.” Suri memecah keheningan. “Saya penasaran, kenapa tidak ada respon dari Lesovik? Lesovik disebut sebagai organisasi pembela rakyat, pembela kaum lemah yang juga pendukung raja terdahulu dan Putri Ahreum. Ketika istana mengumumkan bahwa Putri Ahreum telah ditemukan, bukankah seharusnya mereka memberi reaksi?”

“Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutmu,” sahut Sungjeong seraya tersenyum tipis dengan tatapan terfokus pada Suri. “Pengetahuanmu tentang politik dan organisasi di Wisteria Land tidak bisa dianggap remeh.”

Suri menjadi kikuk usai mendengarnya.

“Saat satu fakta mencuat ke permukaan, kode etik pasti segera disebarkan. Lesovik adalah musuh para pejabat korup dan juga musuh Ratu Maesil. Diam-diam mereka pasti menyelidiki tentang peristiwa mengejutkan ini. Mereka pasti juga sudah memiliki rencana untuk menghadapi apa pun itu yang akan terjadi setelah Putri Ahreum dikenalkan ke publik.” Baro buka suara. Mengutarakan pendapatnya.

“Mereka selalu membuat saya penasaran. Lusa, kira-kira mereka apa akan muncul dan membuat kekacauan? Bisa saja itu terjadi, kan?” Suri merespon pendapat Baro.

“Aku juga sempat memikirkan hal itu,” sahut Magi. “Besar kemungkinan jika mereka tahu bahwa Hyuri bukanlah Putri Ahreum.”

“Yang Mulia tidak memiliki akses atau koneksi dengan Lesovik? Dengan Leshy?” Suri semakin penasaran.

“Wah! Bahkan kau tahu tentang Leshy.” Senyum samar terkembang di wajah Magi.

“Saya rasa itu bukan hal aneh, kan? Leshy adalah pimpinan Lesovik. Saya rasa banyak rakyat jelata yang tahu akan hal itu.”

“Mereka mendukungku namun aku tak tahu menahu tentang mereka. Hubungan yang miris, kan?”

“Maaf.” Suri merasa bersalah dan meminta maaf pada Magi.

“Tak mengapa. Hubungan miris ini mungkin kelak bisa menjadi hubungan nyata yang kuat saat kami bertemu.”

“Pasti. Saya yakin Lesovik pasti akan mendukung Yang Mulia sampai akhir. Saya pun akan melakukannya.”

“Terima kasih.”

Suri yang tersenyum lebar dan menatap Magi menganggukkan kepala dengan antusias. “Oya, Baro Seobaenim, Myungsoo Seonbaenim, bolehkah saya meminta bantuan?” Suri beralih menatap Baro, lalu Myungsoo.

“Bantuan apa?” Baro yang memberi respon, sedang Myungsoo seperti biasa; membisu.

“Tolong ajari saya ilmu bela diri. Apa pun itu yang Seobaenim berdua kuasai. Saat ada Hyuri, saya merasa tenang karena dia jago bela diri. Tapi, sekarang hanya ada saya. Saya juga ingin melindungi Yang Mulia.” Suri yang merasa sungkan melirik Magi.

Magi tersenyum geli mendengarnya, begitu juga Sungjeong dan Nichkhun. Baro melongo karena terkejut mendengar permintaan Suri. Sedang Myungsoo seperti biasa; menunjukkan ekspresi datar.

“Ajari saja. Aku rasa akan berguna nantinya. Tentukan bela diri dan senjata apa yang sesuai untuknya. Sejak dikenal sebagai teman Putri Ahreum Song Hyuri, aku rasa perlu baginya untuk belajar ilmu bela diri. Walau agak terlambat, itu lebih baik kan daripada tidak sama sekali, kan?” Sungjeong yang biasa ketus tiba-tiba bersikap ramah dan mendukung permintaan Suri.

Baro dan Myungsoo menatap Magi untuk meminta persetujuan.

“Tidak apa-apa. Ajari saja.” Magi memberi izin.

“Baiklah. Saya akan mencobanya.” Baro menyanggupi.

Kamsahamnida!” Suri menghadap pada Baro dan membungkuk dalam-dalam. “Mohon bimbingannya!”

Senyum di wajah Magi perlahan sirna. Melihat Suri begitu antusias, hatinya merasa sakit. Ia telah menyeret Suri dan Hyuri dalam masalah rumit. Ia tak yakin apakah ia akan sanggup bertanggung jawab untuk melindungi keduanya.

***

 

Hyerin mengantar barang-barang milik Hyuri yang ia ambil dari rental DVD milik Junho. Ditemani Hami, ia pergi menuju kediaman pribadi Hyuri.

“Kamsahamnida,” Hyuri membungkuk singkat, berterima kasih pada Hyerin. Ia menatap lesu barang-barang miliknya yang tergeletak di atas meja.

“Saya merasa senang bisa membantu Yang Mulia.” Hyerin berusaha menunjukkan senyum terbaiknya.

Lamunan Hyuri buyar ketika Hyerin bersuara. Ia menatap wajah ayu Hyerin. Ada senyum menghiasi wajah itu. Walau senyuman itu lebar dan manis, Hyuri merasa bahwa senyum itu dibuat dengan terpaksa.

“Bagaimana teman-temanku? Apa mereka baik-baik saja di sekolah?” Hyuri tak ingin ketahuan jika ia Putri Ahreum palsu di depan Hyerin. Ia berbicara dengan tegas dan tenang di depan Hyerin.

“Apa mereka pernah terlihat tak baik? Yang Mulia pasti lebih tahu bagaimana Han Suri dan Rosemary Magi. Kalian bertiga selalu tampak baik-baik saja di sekolah. Walau saya tahu pasti kali ini lebih membuat Han Suri dan Rosemary Magi tak nyaman.”

“Syukurlah. Mereka memang selalu lebih tegar dariku. Pandai menguasai situasi.”

“Yang Mulia tidak perlu mengkhawatirkan Han Suri dan Rosemary Magi. Mungkin saat ini Yang Mulia juga mengkhawatirkan soal konvoi lusa nanti?”

“Aku rasa juga begitu. Yang Mulia jadi makin murung usai mendengar keputusan istana untuk konvoi lusa.” Hami menyela. “Padahal aku sudah berjanji untuk selalu membantu dan menemani Yang Mulia.”

“Yang Mulia Raja, tiba!” Terdengar suara pengawal yang mengabarkan kehadiran Joongki.

Hyuri, Hami, dan Hyerin segera bangkit dari duduk dan berdiri berjajar untuk menyambut kedatangan Joongki. Joongki terkejut ketika sampai, karena menemukan Hami dan Hyerin di tempat tinggal Hyuri.

“Sedang ada pertemuan para gadis?” Tanya Joongki dengan nada ramah. Seolah ketiga gadis di hadapannya adalah adiknya, bukan hanya Hami.

“Hanya mengantar barang-barang milik Yang Mulia Putri Ahreum. Kami sudah selesai. Jadi, kami mohon diri.” Hami pamit. Ia pun pergi bersama Hyerin setelah memberi salam pada Joongki dan Hyuri.

Sebenarnya Hyuri keberatan, tapi ia tidak bisa menahan Hami dan Hyerin untuk tetap tinggal. Kata-kata untuk meminta keduanya tinggal seolah tersangkut di tenggorokannya.

Joongki tersenyum menatap Hyuri yang masih melihat pada Hami dan Hyerin yang berjalan pergi. “Tolong tinggalkan kami. Aku ingin berbicara empat mata dengan Putri Ahreum.”

Hyuri terkejut karena Joongki tiba-tiba memberi perintah pada dayang dan pengawal untuk pergi. Ia merasa gugup karena harus berhadapan dengan Raja Wisteria Land yang dicintai sekaligus dibenci oleh rakyat.

***

 

Baro, Suri, dan Myungsoo ada di dalam ruangan yang lumayan luas, tapi tidak ada perabot di dalamnya kecuali deretan tongkat dan pedang kayu yang tertata rapi di sudut kanan ruangan di dekat pintu masuk.

“Daripada menusuk atau menyayat, aku lebih suka memukul. Aku rasa kekuatanku di sana,” kata Suri sembari mengambil sebuah tongkat kayu.

“Jadi kamu memilih tongkat?” Baro sembari mengamati Suri yang sedang memainkan tongkat.

Myungsoo juga turut mengamati dalam diamnya.

“Iya. Bolehkah?” Suri terus memainkan tongkat di tangannya.

“Itu memang sesuai untuknya.” Myungsoo berkomentar. Suaranya terdengar seperti gumaman. Hanya Baro yang mendengarnya, sedang Suri tetap sibuk dengan tongkat kayu di tangannya.

“Kau yakin?” Baro sangsi pada keputusan Myungsoo.

Myungsoo menganggukkan kepala.

“Baiklah!” Baro berbicara dengan lantang agar Suri bisa mendengarnya. “Han Suri! Kita akan memulai latihan dengan teknik dasar bertarung dengan tongkat kayu.”

“Nee!” Suri antusias dan berlari kecil mendekati Baro.

Saat Suri mendekat, Myungsoo justru menjauh. Ia memilih duduk bersila di atas lantai dan menyandarkan punggung pada dinding. Menonton Baro yang mulai melatih Suri.

Suri bingung melihat tingkah Myungsoo, tapi ia tak berani bertanya pada Baro. Ia pun fokus menyimak penjelasan Baro tentang teknik dasar bertarung dengan menggunakan tongkat.

Usai memberi penjelasan singkat, Baro mulai mengajari Suri. Dimulai dengan bagaimana cara memegang tongkat yang benar. Karena keduanya telah akrab sebelumnya, Baro tak merasa canggung harus mengajari Suri.

Sungjeong datang dengan membawa nampan berisi poci dan beberapa gelas. Kemudian ia duduk di samping kiri Myungsoo dan meletakkan nampan tepat di depannya.

“Dia memilih tongkat?” Tanya Sungjeong setelah duduk dengan nyaman.

“Nee.” Jawab Myungsoo singkat. Suaranya terdengar seperti suara robot; kaku.

“Apa cocok untuknya? Bagaimana menurutmu?”

“Han Suri sebenarnya lebih unggul dalam strategi. Dia tidak cocok untuk menjadi prajurit yang maju ke medan perang. Aku rasa tongkat adalah senjata terbaik untuknya. Tapi, sebenarnya dia tipe petarung jarak jauh.”

“Kalau begitu, kenapa kau memberinya tongkat? Bukan busur dan anak panah?”

“Dia sendiri yang memilihnya. Itu tidak buruk. Lagi pula ini masih awal, jadi kita lihat saja bagaimana perkembangannya.”

“Tapi kita tidak punya banyak waktu.” Sungjeong menghela napas dengan berlebihan.

Myungsoo acuh tak acuh pada apa yang dikeluhkan Sungjeong. Ia diam dan fokus memperhatikan Baro yang sedang melatih Suri.

***

 

Hyuri yang duduk berhadapan dengan Joongki tak berani mengangkat kepala. Ia tertunduk dan tak membuka mulut kecuali Joongki menanyakan sesuatu padanya. Suasana di antara keduanya sangat kaku dan canggung.

Joongki menghela napas. “Ini memang tidak mudah, tapi Yang Mulia harus mulai membiasakan diri dengan kehidupan istana. Mari kita tidak berbicara dengan aturan kerajaan. Saat berdua saja, atau bertiga bersama Hami, kau bisa memanggilku oppa, seperti dulu.” Ia tersenyum menatap Hyuri yang masih menundukkan kepala.

“Baik, Yang Mulia.” Jawab Hyuri masih dengan kepala tertunduk.

“Kau ini kenapa? Angkat kepalamu!” Pinta Joongki yang merasa risih karena harus berbicara dengan puncak kepala Hyuri alih-alih saling bertatap muka dengan gadis itu. “Bukankah kita teman? Teman ngobrol dengan saling bertatap muka, tapi kenapa kau membuatku menatap puncak kepalamu terus menerus?”

Perlahan Hyuri mengangkat kepala, lalu ragu-ragu menatap Joongki. Pria tampan itu tersenyum manis padanya.

“Selama lima belas tahun hidup sendiri di luar istana, kau bertumbuh dengan baik menjadi gadis yang tak hanya cantik, tapi juga kuat dan tegas. Setiap kali mengingat bagaimana awal pertemuan kita, aku selalu merasa sedih. Aku telah membiarkan pewaris sah dari tahta bekerja di kafe yang dipenuhi orang-orang berbahaya.”

“Semua yang terjadi bukan salah Yang Mulia. Semua yang saya alami adalah nasib yang merupakan bagian dari takdir. Tolong jangan bersedih lagi, karena itu akan membuat dada saya sesak karena rasa bersalah. Karena kita telah bertemu di sini, bersama-sama, sebaiknya kita lupakan semua kenangan buruk itu dan memulai semua dari awal.”

Joongki tersenyum, kembali menghela napas dan mengangguk-anggukkan kepala. “Benar sekali. Mari bersama memulainya dari awal.”

Hyuri yang mulai rileks pun turut tersenyum. “Terima kasih untuk kebaikan Yang Mulia saat Festival Gardenia berlangsung. Karena Yang Mulia, saya bisa menerbangkan layang-layang milik saya. Maaf karena sikap saya tak sopan waktu itu.”

“Festival Gardenia...” Joongki tersenyum lebar mengingat pengalaman pertamanya menghadiri Festival Gardenia sebagai rakyat jelata, bukan sebagai raja. “Kau membuatku ingin kembali keluar istana tanpa gelar raja. Menyamar menjadi rakyat jelata sangat menyenangkan. Kebebasan yang amat sulit aku dapatkan. Tapi dalam waktu dekat ini kita akan sangat sibuk.”

“Bagaimana jika kita pergi bersama? Tentang dunia di luar istana, saya lebih paham dibanding Yang Mulia. Suatu hari nanti, saya ingin membawa Yang Mulia keluar dari penjara ini untuk melihat indahnya dunia luar dan menikmati kebebasan yang sebenarnya.”

“Aku anggap itu sebagai janjimu padaku. Kau berhutang padaku.”

“Algesseumnida.” Hyuri menyetujui permintaan Joongki. “Jika ada kelonggaran, kapan pun itu, mari kita pergi bersama.”

“Oke!” Joongki tak bisa menyembunyikan senyum bahagia di wajahnya saat menatap Hyuri. “Kau pasti sangat kesepian dan takut. Itu terlihat jelas di wajahmu. Baru sehari tinggal di istana, maaf membuatmu terbebani. Bertahanlah.”

“Saya sangat merindukan Han Suri dan Rosemary Magi. Satu-satunya keluarga terbaik yang saya miliki.” Wajah Hyuri kembali redup.

Kedua mata sipit Joongki melebar ketika mendengar nama Magi disebut.

“Tiba-tiba mereka menjadi sangat berarti bagi saya.” Suara Hyuri lirih dan ia kembali menunduk. Menahan air matanya agar tidak jatuh.

Joongki merasa iba. Ia berpikir bagaimana cara agar Hyuri tak lagi sedih. “Kalau begitu, ceritakan tentang kalian padaku. Bagaimana kau dan mereka, Han Suri dan Rosemary Magi bersama.”

“Nee??” Hyuri mengangkat kepala menatap Joongki dengan ekspresi heran. Kenapa Raja ingin mendengar tentang Suri dan Magi? Tanya di benaknya.

“Ada yang bilang, jika kau merindukan seseorang, maka bagilah kisahnya dengan orang lain. Dengan begitu rasa sesak di dadamu karena rindu akan sedikit berkurang karena kau akan merasakan kehadiran mereka. Aku pun bosan karena setiap hari harus mendengar tentang politik dan pemerintahan. Dua topik itu pula yang aku jadikan alasan untuk bisa bertemu dan ngobrol denganmu sekarang. Jika kamu nggak keberatan, ceritakan tentang kehidupanmu dan teman-temanmu di luar sana. Pasti menyenangkan memiliki teman dekat, geng. Jadi, berbagilah denganku tentangmu, Han Suri, dan Rosemary Magi.” Wajah Joongki berseri ketika ia menyebut nama Magi.

Hyuri mengernyitkan dahi saat mengamati perubahan mimik wajah Joongki. “Ada apa dengan Rosemary Magi?” Tanyanya langsung.

“Nee??” Joongki terkejut mendengar pertanyaan frontal Hyuri.

“Maafkan kelancangan saya.” Hyuri segera meminta maaf. “Ekspresi Yang Mulia berubah saat menyebut nama Rosemary Magi. Menjadi berseri dan merona karena semu merah itu.”

Mwo?? Benarkah??” Joongki menyentuh pipi dengan kedua tangannya. Wajahnya memang terasa panas. “Hah! Aku benar-benar bodoh! Aku tidak bisa menyembunyikannya.”

“Menyembunyikannya?” Hyuri semakin penasaran.

“Nee.” Joongki tersipu.

“Menyembunyikan apa?” Desak Hyuri.

“Benar adanya tentang jatuh cinta itu seperti batuk. Sama-sama tidak bisa disembunyikan. Begitulah yang aku rasakan pada Rosemary Magi. Aku tidak bisa menyembunyikan jika aku telah jatuh hati padanya.”

Tubuh Hyuri seolah tersambar petir. Kedua matanya melotot dan tubuhnya memanas karena terkejut. “Yang Mulia jatuh hati pada Magi?!!”

***

 

“Bibi mencariku?” Shin Ae memenuhi panggilan Hyeyoung. Ia datang ke kamar pribadi Hyeyoung.

Hyeyoung tersenyum menyambut kehadiran Shin Ae. “Kemarilah! Duduk lebih dekat padaku.”

Shin Ae menurut. Ia mendekat pada Hyeyoung yang duduk bersila di atas lantai berlapis permadani tebal dan hangat. “Malam-malam begini ingin bertemu, ada hal mendesak apa?”

“Aku tak sanggup menyimpan semua sendiri, jadi aku akan membaginya denganmu. Maafkan aku karena lagi-lagi memanggilmu untuk membagi beban.”

“Beban?” Shin Ae tersenyum tulus. “Suatu kehormatan bagiku karena Bibi memercayaiku untuk membagi apa pun itu yang Bibi ingin bagi denganku. Ceritakan kali ini beban apa?”

“Kau bersikap demikian bukan karena kita masih memiliki hubungan darah, kan?”

“Melebihi itu semua.”

Hyeyoung menghela napas panjang. “Baiklah. Aku akan menceritakan semua padamu, malam ini. Jika sewaktu-waktu aku pergi meninggalkan dunia ini, harapanku hanya kamu. Bukan hanya karena kita adalah keluarga. Hubungan darah memang mengalahkan segalanya, tapi aku memercayaimu lebih dari yang lain. Jika tiba-tiba aku pergi, aku percayakan semua padamu, semua tanggung jawab dan tugas yang selama ini aku emban.”

“Bibi...”

“Peperangan semakin dekat di depan mata. Sudah saatnya kamu tahu semua. Banyak hal yang belum aku bagi denganmu. Aku akan menyelesaikannya malam ini.”

Shin Ae menelan ludah dan menatap Hyeyoung lekat-lekat. “Karena Bibi percaya,  aku akan berusaha mengembannya dengan baik. Menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku.”

Hyeyoung tersenyum. Ada guratan kesedihan dalam senyum itu. “Dengarkan baik-baik semua yang akan aku katakan padamu malam ini. Karena itu semua akan menjadi dasar bagimu untuk melanjutkan perjuangan ini.”

“Iya, Bibi.”

Hyeyoung mulai menceritakan pada Shin Ae tentang semua rahasia yang selama ini ia pendam sendiri sebagai satu-satunya sahabat mendiang raja terdahulu yang masih hidup. Ia menceritakan dari awal pada Shin Ae, tentang raja terdahulu, tentang ketiga sahabatnya, tentang kemalangan yang menimpa mereka semua. Ia tak lupa menceritakan apa yang ia tahu tentang Putri Ahreum.

“Saat ini Putri Ahreum telah kembali, aku rasa kita bisa sedikit bernapas lega dan kembali menaruh harapan padanya.” Shin Ae merasa lega karena akhirnya Putri Ahreum ditemukan.

“Justru itulah masalah sebenarnya.”

Nee?? Apakah karena Tuan Putri terlalu lama hidup di luar istana hingga kita harus mengajarinya pelan-pelan dari dasar? Karena Ratu Maesil telah mengetahui tentang kembalinya Yang Mulia Putri Ahreum?”

“Lebih dari itu semua. Kau pasti tidak akan menduganya. Aku, Dokter Kim, dan gadis bernama Song Hyuri itu, juga Ratu Maesil, saat ini kami bersekongkol untuk menipu Raja.”

“Nee??”

“Bukan! Bukan hanya Raja dan keluarga kerajaan, tapi seluruh istana, bahkan seluruh Wisteria Land.”

“Bibi! Apa maksudnya Bibi bersekongkol dengan Ratu Maesil untuk menipu kami semua??”

Hyeyoung menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan cepat. “Gadis bernama Song Hyuri itu, dia bukan Putri Ahreum yang asli.”

“Mwo?!!” Shin Ae dibuat benar terkejut oleh pengakuan Hyeyoung. “Bibi... bagaimana itu bisa terjadi?” Ia merasa limbung.

“Selama ini apa yang tidak bisa dilakulan Ratu Maesil?”

Shin Ae sedikit tertunduk.

“Aku sudah menceritakan semua padamu, termasuk ciri-ciri Putri Ahreum yang asli. Ciri-ciri khusus itu yang akan membuktikan bahwa dia adalah putri yang asli selain kalung naga yang saat ini ada pada Song Hyuri. Putri Ahreum yang asli, aku yakin masih berada di luar sana. Karena itu kau harus bertahan dan menyimpan semua rahasia ini bersamamu. Aku ingin diam-diam kau melakukan penyelidikan untuk menemukan Putri Ahreum yang asli.”

“Aku akan melakukannya. Bukan aku, tapi kita. Seperti sebelumnya, kita, aku dan Bibi akan melakukan tugas ini bersama-sama. Kita akan menemukan Putri Ahreum yang sebenarnya. Aku yakin Bibi tidak akan kemana-mana sampai semua ini selesai. Harapan kami hanya Bibi. Aku akan melindungi Bibi hingga akhir.”

Hyeyoung tersenyum, mengelus puncak kepala Shin Ae, lalu memeluk keponakan kesayangannya itu.

***

 

 

 

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews