¤ HWASEONG ACADEMY -Love, Music and Dreams- (화성 아카데미-사랑, 음악과 꿈-) ¤

06:32

¤ HWASEONG ACADEMY -Love, Music and Dreams- (화성 아카데미-사랑, 음악과 꿈-) ¤

 

. Judul: Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
. Revised Romanization: Hwaseong Akademi ’salang, eum-aggwa kkum’
. Hangul: 화성 아카데미’사랑, 음악과 꿈’
. Author: shytUrtle_yUi
. Rate: Serial/Straight
 
 
Episode #20

Ai berdiri mematung hingga mobil Hanbyul hilang dari pandangannya. Jaejoong yang masih menunggu, berjalan menghampiri Ai.
“Ai.”
“Oh, Jaejoong. Kau kemari. Bagaimana pestanya?”
“Membosankan karena kau tidak di sana. Gitar itu?”
“Aku bosan dan bermain ke Hongdae sebentar. Benarkah Jinwoon Oppa juga tidak hadir di pesta?”
“Kau tahu?”
“Hyuri, Hanbyul dan Myungsoo menyusul ku ke Hongdae, mereka mengatakan hal itu dan beberapa kembali membahas skandal ku dan Oppa.”
Jaejoong kesal, benci Ai berkata jujur seperti ini. Apalagi mendengar nama Hanbyul di sebut. “Ai, aku lapar.”
“Di pesta tidak ada makanan? Kau mau aku buatkan ramen?”
“Boleh.”
“Baiklah. Ayo masuk.”
-------

Hyuri berjalan pelan memasuki rumahnya. Mobil Myungsoo melaju pergi dan Hyuri menghentikan langkahnya. Hyuri berbalik menatap jalan yang kembali sepi. Kemudian ia memegang bibirnya. Hyuri kembali teringat sa’at Myungsoo tiba-tiba menciumnya.

“Sekarang aku yakin pada apa yang aku rasa. Dan aku tak ingin melepaskan orang yang aku suka, yaitu kau, Song Hyuri.” Ucapan Myungsoo kembali terniang di telinga Hyuri. Hyuri menunduk lalu berjalan masuk.
***

Ai kembali sekolah setelah vakum selama beberapa hari. Ai berhenti ketika melihat Junki. Ia kemudian tersenyum dan memberanikan diri mendekati Junki.

“Good morning, Songsaengnim.” Sapa Ai.
“Oh, Fujiwara. Nice to see you again. How are you? Are you fine right now?”
“How could you ask me like that after you break my heart, Songsaengnim?”
“Sorry??”
“Please forgive me, just kidding.” Ai segera tersenyum.
“Kau benar sakit karena aku?”
“Ess… hah… dua bulan ini benar-benar menguras tenaga dan pikiran.”
“Ma’afkan aku. Dan terima kasih untuk semua.” Junki menatap Ai begitu sebaliknya dan keduanya terdiam.
Joongki yang melihat keduanya pun mendekat. “Kau sudah kembali?”
“Dokter Song. Nee, terima kasih untuk cutinya.”
“Em. Kau terlihat sangat baik sekarang.”
“Hehehe ini berkat Dokter.”
-------

Ai berdiri diam di atap sekolah. Ia melihat murid-murid di bawah sana. Ai kemudian kembali turun dan berjalan pelan sambil melihat murid-murid yang duduk istirahat bersama di koridor juga di taman. Ai kembali menyendiri di taman belakang sekolah, duduk di bangku favoritnya menghadap danau. Ai membuka netbook, melihat foto-fotonya bersama YOWL, Minki dan Kibum. Ia tersenyum sendiri lalu beralih menatap danau. Betapa terkejutnya Ai melihat Joongki sudah duduk di depannya.

“Dokter Song??”
“Apa yang kau lihat?”
“Tidak ada!” Ai segera menutup netbooknya.
“Ish! Pelit sekali.”
“Untuk apa Dokter kemari?”
“Ini.” Joongki membawa kotak berisi bekal makan siang untuk Ai. “Mulai sekarang, aku sendiri yang akan membawanya untuk mu.”
Ai merasa sungkan. “Kamsahamnida.”
“Jangan sampai terlambat makan.”
Ai tersenyum dan terlihat mengawasi sekitar membuat Joongki ikut melihat sekelilingnya. “Wae?” tanya Joongki.
“Animnida.” Ai kembali menunduk dan membuka bekal pemberian Joongki. “Woa~ sedap sekali, pasti sangat enak. Aku makan.” Joongki tersenyum manis dan mengangguk. Ia senang melihat Ai mau memakan bekal buatannya.
“Liburan musim panas, kau ada rencana?”
“Liburan musim panas? Entahlah, mungkin begitu saja. Mengurus florist.”
“Setelah semua kerja keras itu, kau tak ingin rehat sejenak?”
“Ingin. Biasanya kami punya rencana dadakan.”
“Kami? Kau dan YOWL?”
“Nee.”
“Ikutlah bersama kami.”
“Kami?”
“Em. Aku dan Hyuri juga YOWL.”
“YOWL?? Ck! Mereka merencanakan sesuatu di belakang ku??”
-------

“Senang melihat mu kembali.” Sapa Jinwoon sa’at berpapasan dengan Ai. “Kau benar sudah merasa baik?”
“Nee. Ini berkat Omma juga. Sekarang aku sangat baik! Hehehe…”
“Beberapa kali aku menjenguk mu namun kau tidak ada di rumah.”
“Benarkah? Aa, mianhamnida.”
“Akhirnya redam juga.”
“Nee. Fans Oppa lebih mengerikan daripada fans Viceroy, sudah tahu pamor ku begitu buruk, mereka masih berani maju menemui ku langsung, daebak…” Ai menggelengkan kepala membuat Jinwoon tersenyum melihatnya.
“Jika terjadi hal buruk lagi, jangan halangi aku untuk mengatakan bahwa kau adalah adik ku.”
“Oppa mengharapkan hal buruk terjadi lagi?”
“Bukan begitu, hanya saja itu mungkin terjadi lagi.”
“Em, Oppa benar.”
“Jika ada waktu, aku ingin pergi dengan mu.”
“Nee?? Apa ini ajakan kencan??”
“Jiyoo~aa!”
“Hehehe choa.”
Jinwoon tersenyum lega. “Aku menunggu kesempatan itu.” Ia kemudian pergi.
***

“Hari ini dan kemarin sangat tenang sekali di sekolah. Apa semua telah berubah menjadi malaikat?” Ai kemudian menatap Hyuri yang duduk berhadapan dengannya.

Ai memiringkan kepala mengamati ekspresi Hyuri. Hyuri tak mendengar ocehan Ai. Hyuri terlihat melamun dan tersenyum sendiri. Ai mengerutkan dahi, penasaran pada apa yang di pikirkan Hyuri kini. Ai lebih dekat pada Hyuri.
“Song-Hyu-Ri!” panggil Ai yang sudah berada begini dekat di depan Hyuri. Hyuri tersadar. Mata Hyuri melebar melihat Ai berada tepat di hadapannya yang hanya berjarak satu jari telunjuk saja. Hyuri segera menarik dirinya mundur.
“Ya! Kau ini! Kau mau kita di katakan lesbian lagi?!!”
Ai kembali duduk, dengan wajah tanpa ekspresinya. Ia benar tak merasa bersalah membuat Hyuri begitu ketakutan. “Liburan musim panas, apa yang kau rencanakan dengan Dokter Song?”
“Oh, Joongki Oppa sudah mengatakannya pada mu? Aku ingin kita liburan bersama, Nenek tidak tega jika kau pergi sendiri dan meminta Joongki Oppa ikut serta.”
“Dasar manja.”
“Bukan begitu… Ah, Jaejoong, Wonbin, Minhyuk dan Jaejin menyetujui rencana ini. Aku juga mengajak Kibum dan Wooyoung.”
“Ya sudah, pergi saja.”
“Kau tidak tertarik?”
“Pantai akan membuat ku meleleh, ini musim panas.”
“Ya! Kau itu manusia, bukan vampire! Berhenti bercanda! Kau harus ikut!”
“Kenapa kau memaksa?”
“Ayolah. Ini hadiah dari Nenek, untuk kesuksesan tim kita.”
“Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?”
“Nee?? Ai! Kau ini gemar sekali mengganti topik dan bicara sesuka hati mu sendiri!”
“Aku rasa terjadi sesuatu pada mu. Ekspresi mu itu…”
Hyuri segera memegang wajahnya, “ada apa dengan ekspresi ku??” Kemudian tatapan Hyuri pada Viceroy yang melintas. Ai menoleh dan mengamati Viceroy lalu kembali menatap Hyuri yang sudah menundukan kepala.
“Terjadi sesuatu antara kau dan Myungsoo?”
“Nee??” Hyuri kembali menatap Ai. “Aa-aniya…” tiba-tiba Hyuri merasa udara hari ini sangat panas.
“Wajah ju memerah, Song Hyuri.”
“Huft! Bisakah kau menghentikannya?!”
“Jadi benar terjadi sesuatu antara Song Hyuri dan Kim Myungsoo?”
“Ai!”
Ai melipat tangan menatap lurus Hyuri. “Banyak kejadian ganjil dan aku terus memikirkannya.”
“Kejadian ganjil?”
“Hasil ramalan waktu itu, mungkin adalah semua kejadian sa’at ini. Kartu yang rumit, secara global, aku dan YOWL. Begitu banyak kebetulan yang terjadi.”
“Itu kejadian ganjilnya?”
“Yang hingga kini menjadi pertanyaan di otak ku, bagaimana seorang Viceroy Jang Hanbyul mendapatkan nomer ponsel ku.”
Hyuri tersentak, punggungnya menegang. Jantungnya hampir lepas karena pernyataan mengagetkan yang terlontar ringan dari mulut Ai. “Hanbyul mengetahu nomer ponsel ku, sebelum aku membagikan lamaran YOWL. Itu kejadian ganjil yang aku maksud.” Imbuh Ai semakin membuat Hyuri merasa di adili untuk mengakui itu adalah perbuatannya.
Hyuri tak kuasa membalas tatapan Ai. Ia menundukan kepala di depan Ai, sementara itu, Ai masih lurus menatapnya. Perlahan Hyuri mengangkat kepala, memberanikan diri menatap Ai. “Ai, jika kau berkata jujur pada mu, apa kau akan marah dan membenci ku?”
“Jujur? Tentang?”
-------

Hyuri mondar-mandir sambil menggigit kuku jari tangannya. Ia terlihat bingung dan panik. Jaejoong tak sengaja melihat Hyuri. Ia pun menghampiri Hyuri.
“Song Hyuri.”
“Jaejoong.”

Jaejoong heran melihat ekspresi Hyuri. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk?”
Jaejoong dan Hyuri duduk bersama. Hyuri menceritakan semua pada Jaejoong. Hyuri mengakui semua pada Ai dan kini ia melakukan hal yang sama, mengakui semua pada Jaejoong. Hyuri mengaku jika dia-lah yang memberikan nomer ponsel Ai pada Hanbyul sebagai imbalan tumpangan yang di berikan Hanbyul untuknya. Setelah mengakui semua pada Ai, kini Hyuri khawatir bahkan sangat takut Ai akan marah dan membencinya. Ai tak mengucap sepatah kata pun usai mendengar pengakuan Hyuri. Ai pergi begitu saja meninggalkan Hyuri.

“Jadi ancaman waktu itu benar adanya? Kau tidak main-main ingin mengacaukan YOWL dan Viceroy dengan membuat Ai dan Hanbyul saling menyukai?”
“Jaejoong, bukan begitu… hah… aku tahu aku salah tapi sungguh bukan seperti itu. Jika kau juga menyadarinya, Hanbyul memang menyukai Ai dari awal, bukan karena aku.”
“Kau mempermulus jalan Hanbyul.”
“Baiklah, iya, ini salah ku. Aku siap menerima konsekwensinya. Kalian pantas membenci ku.” Hyuri menunduk pasrah.
Jaejoong terdiam. Ia benar kesal dan marah namun ia tak boleh melampiaskan itu semua terlebih pada Hyuri. Karena Jaejoong tahu, Ai sangat menyayangi Hyuri. Tapi setelah mengetahui Hyuri berkhianat, apakah Ai akan tetap mempertahankan Hyuri? Jaejoong gusar karena pertanyaan di benaknya itu.
Hyuri menoleh mengamati Jaejoong. Melihat ekspresi Jaejoong, Hyuri makin di buru rasa bersalah. “Jaj-jaejoong~aa, kau, kau menyukai Ai?”
Jaejoong menoleh dan menatap tajam Hyuri. Ia menghela nafas, berdiri dan meninggalkan Hyuri.
“Babo! Kau benar-benar bodoh, Song Hyuri! Sekarang, apa kau bisa mempertanggung jawabkan semua ini?” gerutu Hyuri.
-------

Ai duduk melipat tangan dan memejamkan mata di toilet. Yoojin melayang mondar-mandir di depan Ai. Ia hanya bisa melalakukan ini.

Jaejoong tampak kesal berjalan cepat, sendiri. Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Hanbyul. “Ya! Jang Hanbyul!” Jaejoong menahan langkah Hanbyul. Hanbyul menghentikan langkahnya, masih berdiri membelakangi Jaejoong, diam menunggu Jaejoong kembali bicara.
“Kau dan Ai… kalian…”
“Aku menyukai Fujiwara Ayumu,” potong Hanbyul, “dan aku tidak akan mundur. Jika kau bertanya kenapa Fujiwara, aku tak tahu harus menjawab apa, karena aku sendiri tak tahu apa alasan ku menyukai Fujiwara Ayumu.”
Jaejoong mengepalkan tangannya berusaha mengendalikan emosinya. “Yang aku tahu, aku tidak bisa berhenti berpikir tentang Fujiwara Ayumu sejak ia menolong ku di Jeonggu Dong.” Imbuh Hanbyul.
Jaejoong mendekati Hanbyul menatap geram pemuda itu. Jaejoong masih mengepalkan tangannya berusaha keras menahan emosinya. “Kau marah pada ku? Bagaimana jika Fujiwara merasakan hal yang sama, seperti yang aku rasakan padanya? Bagaimana jika kami saling menyukai?” tanya Hanbyul.
“Jang Hanbyul!” Jaejoong hendak melayangkan pukulannya namun ia urungkan karena ada beberapa siswa lewat. Jaejoong juga Hanbyul diam sampai gerombolan murid itu jauh.
“Jika itu benar adanya, apa kau masih pantas bersikap seperti ini, Kim Jaejoong?”
Jaejoong menatap sengit Hanbyul. Tangannya gemetar karena menahan emosinya yang memuncak.
“Jika kau menyukai Fujiwara, harusnya kau menjaganya dengan baik, tapi apa yang kau lakukan? Disini kau mati-matian mengejar Noh Yiyoung. Masih pantaskah kau menyebut Fujiwara ‘gadis ku’? Kau kembali pada Fujiwara setelah Yiyoung mengabaikan mu dan Fujiwara meraih pamor melebihi Yiyoung di sekolah. Perasaan seperti itu yang kau sebut menyukai dan menyayangi? Perasaan macam apa itu? Aku akui Fujiwara belum menerima ku sepenuhnya, tapi perlu kau tahu, aku tidak akan mundur.” Hanbyul menatap serius Jaejoong sebelum ia pergi.
***

Keempat member YOWL duduk di dekat pintu keluar sa’at jam sekolah usai. Mereka meunggu Ai keluar. Minhyuk dan Jaejin asik bercanda sementara Wonbin sibuk dengan ponselnya. Jaejoong duduk mengamati murid-murid yang berjalan pulang. Beberapa dari mereka berpasangan. Jaejoong melebarkan kedua matanya. Ia melihat Ai dan Hanbyul pulang bersama. Keduanya berjalan bersama dengan raut wajah berbinar bahagia. Jaejoong mengerjapkan kedua matanya dan menggelengkan kepala lalu memejamkan matanya.

“Fiksi, fiksi, fiksi…” Jaejoong terus mengulang kata itu dengan mata terpejam.
“Ya! Kau kenapa?” Minhyuk menganggetkan Jaejoong.
“Ah, anee.”
“Fiksi? Apa maksudnya?”
“Red Venus.” Jaejin sambil menggerakan kepala ke arah Red Venus.
Jaejoong menatap Yiyoung. Yang ia rasa, biasa, tak menggebu seperti dulu.

Hyuri menunggu tak jauh dari tangga. Rasa bersalah masih mengitarinya. Ai tak membalas SMS yang ia kirim bahkan tak menggubris panggilan Hyuri. Hyuri benar takut, ia yakin Ai pasti sangat marah padanya kini. Bahkan Ai mungkin sangat membencinya kini. Jaeki dan Luhan yang pulang bersama menyapa Hyuri dan pamit pulang lebih dulu. Hyuri menyandarkan punggungya pada tembok bertahan menunggu Ai muncul. Kibum dan Wooyoung pulang bersama. Keduanya berhenti menyapa Hyuri dan menurut mereka Ai menghilang tak kembali sejak jam istirahat usai. Hyuri memilih tetap tinggal dengan dalih menunggu Joongki. Hyuri kembali menyandarkan punggung di tembok sambil terus mengirim SMS berisi permintaan ma’af pada Ai.

Myungsoo berjalan sendiri menuruni tangga. Senyum terkembang di wajah Myungsoo ketika ia menangkap sosok Hyuri yang sedang berdiri sendirian. Myungsoo mengamati sekitar, sepertinya Hyuri benar-benar sendirian. Myungsoo hendak mendekat namun ia kembali menarik dirinya dan bersembunyi ketika melihat Joongki muncul.

“Oppa.”
“Ck! Kenapa kau murung?”
“Anee.”
“Hyuri, aku sudah menentukan lokasinya.”
“Nee?”
“Liburan musim panas kita, Seongsan Ilchulbong, Jeju.” Joongki penuh semangat.
“Seongsan Ilchulbong??” bisik Myungsoo.
“Wae? Kau tidak suka?” Joongki memperhatikan ekspresi Hyuri.
“Anee, aku suka. Lalu apa yang lain setuju? Ai?”
“Eum, sepertinya.”
“Oppa yakin?”
“Kugjungmayo, aku pasti akan membuat Fujiwara Ayumu setuju. Ayo kita pulang!”
Hyuri tersenyum dan mengangguk lalu pulang bersama Joongki. Myungsoo keluar dari tempat persembunyiaanya setelah Hyuri dan Joongki pergi.
“Seongsan Ilchulbong??” bisik Myungsoo lagi.

Ai berjalan sendirian. Myungsoo menoleh dan keduanya saling menatap. Ai menangkap binary bahagia di wajah Myungsoo. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Myungsoo, datar.

“Wa-wae??” tanya Myungsoo.
“Aku percayakan dia pada mu, dengan syarat kau harus menjaganya dengan baik. Jika kau membuatnya menangis atau sedih, maka aku akan membunuh mu.”
“Mm-mwo??”
“Song Hyuri.” Jawab Ai singkat. Myungsoo menunduk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ini pertama kalinya ia terlihat bodoh di depan seorang gadis. Ai menyincingkan senyum dan menggeleng pelan lalu kembali berjalan.
“Cham-kam-man.” Tahan Myungsoo. Ai berhenti dan kembali menghadap Myungsoo.
“Apalagi?”
“Apa yang kau rasakan pada Hanbyul?”
“Penting untuk mu untuk tahu tentang itu?”
“Ini pertama kalinya Hanbyul menyukai seorang gadis.”
“Kau mau aku percaya?”
“Terserah kau mau percaya atau tidak. Kenyataan yang aku tahu, ini pertama kalinya Hanbyul menyukai seorang gadis, sama halnya dengan ku. Awalnya aku sangat penasaran pada mu, namun aku terlalu gengsi untuk mengakui hal itu dan mengambil langkah untuk lebih dekat dengan mu.”
“Lalu?”
“Setelah semua yang ia lakukan, apa kau akan membiarkan Hanbyul patah hati? Kau tega melakukannya?”
“Em?”
“Hanbyul, dia menyukai mu bukan?”
“Entahlah.”
“Mwo?”
“Mwo??”
“Tidak ada hubungan khusus di antara kalian? Kalian tidak pacaran?”
“Anee.”
“Aish!” Myungsoo kembali mengacak rambutnya.
“Aku pergi!”
“Oh, nee.” Myungsoo memandang punggung Ai. Ia malu pada dirinya sendiri yang tampak bodoh di depan Ai. “Hah, gadis macam apa dia? Alien? Atau benar vampire?” gumam Myungsoo sendiri.
***

Perasaan Hyuri benar-benar buruk hari ini. Ia memainkan biolanya, di kamarnya. Melody sendu itu memenuhi seluruh sudut ruang tidur Hyuri. Hyuri menghela nafas dan menundukan kepala ketika usai memainkan biolanya. Suara tepuk tangan itu mengejutkan Hyuri. Ia segera berbalik menatap ke arah pintu. Hyuri terkejut melihat Nyonya Shin sudah berdiri disana bersama Ai.

“Ai??” Hyuri terkejut sekaligus senang melihat Ai.
“Kalian lanjutkan saja.” Nyonya Shin pamit.
Hyuri tersenyum, merasa terharu melihat Ai. “Masuklah. Apa kau akan tetap berdiri seperti itu?”

Ai pun masuk dan memberikan bunga hydrangea putih ia tata rapi dalam pot kecil berwarna hijau muda. Tampilan bunga ini makin cantik dengan di tambahnya beberapa daun yang menemani empat tangkai bunga hydrangea putih itu. Sederhana namun terkesan elegan.

“For me?” tanya Hyuri.
“Is there another girl right here?”
Hyuri tersipu dan menerima bunga pemberian Ai. “What the name of this flower? and what it means?”
“Hydrangea, symbolizes friendship, sense of devotion. White is perfect color for our friendship.”
Hyuri tersenyum lebar, “then, that’s meant you’re not angry to me?”
“I’m angry.”
Hyuri menarik senyumnya dan kembali lesu. “Jeosonghamnida…”
“But you’re the only girl that I have as my best friend here. I don’t have any choice and choose back to you, I love you Song Hyuri.”
“Ish! Mwoya~” Hyuri mengusap air matanya yang hampir jatuh.
“Are you crying?”
“No, I’m not.”
“Cengeng!”
“Kau jahat, Ai.”
“Kau lebih kejam, Song Hyuri.”
“Marah saja pada ku.”

Ai mengamati kamar Hyuri. Nuansa yang benar-benar mencerminkan kamar seorang gadis. Sangat jauh berbeda dari kamar Ai. Ai tersenyum geli.
“Kau tahu kenapa aku memberikan nomer ponsel mu pada Hanbyul Sunbae?”
“Entahlah. Itu sangat konyol.”
“Karena aku yakin, jika ka uterus mengejar Lee Junki Songsaengnim, itu akan berujung pada patah hati, dan terbukti bukan?”
“Cenayang Song?”
“Ya! Fujiwara Ayumu, aku serius!”
“Kenapa Jang Hanbyul?” tatapan Ai berubah serius. Tatapan datar yang Hyuri sukai namun juga ia benci.
“Aku yakin dia menyukai mu dan menurut ku kalian tampak baik bersama. Aku selalu tersenyum sendiri setiap kali mengingat kalian berdua, apalagi sa’at kalian adu mulut di Hongdae, kalian benar terlihat seperti sepasang kekasih.”
“Saraf otak orang-orang ini benar-benar kacau.”
“Mwo??”
“Aku harus pergi.”
“Kau mau kemana? Boleh aku ikut?”
Ai menatap heran Hyuri. “Aku bosan di rumah sepanjang sore. Bawa aku kemana kau akan pergi, aku jamin aku tidak akan merepotkan mu.” Hyuri memelas.
-------

Ai tersenyum kecil dan menggeleng melihat tingkah Hyuri. Hyuri terlihat benar menikmati perjalanannya.

“Hah.. ini menyenangkan! Ini pertama kalinya aku naik bus.” Ungkap Hyuri sambil tersenyum.
“Dasar orang-orang aneh! Apa istimewanya naik bus?”
“Aku sering melihatnya di TV, kadang sampai berdesakan dan berdiri,” Hyuri tersenyum geli. “Dari tadi ka uterus menyebut ku, orang-orang? Orang-orang? Maksudnya?”

Ai mengabaikan pertanyaan Hyuri dan menatap keluar jendela. Ia teringat kejadian sa’at ia pergi ke Namsan bersama Hanbyul dan sa’at pulang terjebak dalam bus yang sesak. Ponsel Ai berdering. “Nee. Aku menuju kesana. Aku di dalam bus sekarang, bersama Song Hyuri.” Ai diam mendengarkan seseorang di seberang sana bicara. “Kau keberatan? Bukankah kau bilang ini hanya pertemuan biasa? Jika kau keberatan, aku bisa memaksa Hyuri turun disini.” Pernyataan Ai segera mendapat reaksi tatapan tajam Hyuri. “Nee, choa.”

“Ya! Memaksa ku turun disini??” protes Hyuri. “Siapa yang menelfon mu??”
“Hah… sudah gelap ya?”
“Ck!”

Ai dan Hyuri sampai di sebuah café. Keduanya berhenti dan Ai mencari meja nomer 8.

“Meja nomer 8, dimana?”  gumam Ai.
Hyuri ikut mengamati seluruh sudut café. “Disana!” tunjuk Hyuri. “Siapa yang duduk disana? Sepertinya tidak asing…”
Ai mengerutkan dahi lalu berjalan mendahului menuju meja nomer 8. Ai tiba di meja nomer 8 dan menemukan Myungsoo sedang duduk sendiri disana. Hyuri kaget melihat Myungsoo.
“Kim Myungsoo?”
Myungsoo menoleh, kaget melihat Ai dan Hyuri. “Fujiwara? Song Hyuri?”
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau duduk disini?” tanya Ai tanpa basa-basi membuat Myungsoo menatapnya kesal.
“Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?” Myungsoo balik bertanya.
“Aku ada janji dengan seseorang, disini, meja nomer 8.”
“Oh, jadi Hanbyul juga mengundang mu?”
“Nee?? Hanbyul??” Hyuri menatap Myungsoo lalu Ai. “Ai! Jadi kau pergi untuk menemui Hanbyul? Ah, Song Hyuri! Kau memanga bodoh! Kenapa kau memaksa ikut??”
Ai teringat sa’at Hanbyul menelfonnya ketika ia dalam bus. “Hanbyul meminta mu datang karena tahu aku pergi bersama Hyuri?”
“Itu…” Myungsoo melirik Hyuri yang juga menatapnya dengan tatapan ingin tahu. “Ehem! Jadi, diam-diam kau berkencan dengan Hanbyul?” Myungsoo balik memojokan Ai.
“Aku tidak berkencan!”
“Lalu apa arti pertemuan diam-diam ini?”
“Bukan urusan mu untuk tahu.”
“Aku disini sekarang, jadi aku berhak tahu.”
Hyuri menepuk keningnya sendiri. “Dua anak ini selalu saja tidak pernah akur. Wahai Tuan Kim Myungsoo dan Nona Fujiwara Ayumu, apa bisa kita duduk dan menunggu Tuan Jang Hanbyul?” sela Hyuri. “Lihatlah orang-orang di sekitar kita,” Hyuri sedikit berbisik sementara Myungsoo dan Ai masih menatap tajam satu sama lain. “Huft…” Hyuri meniup poninya. “Atau kalian ingin aku pergi?”

Ai menarik Hyuri lalu mendudukan gadis itu pada kursi yang sudah ia siapkan lebih dulu. Lalu Ai duduk di kursi di samping Hyuri berhadapan dengan Myungsoo. Myungsoo ikut duduk. Hyuri menatap Ai lalu Myungsoo kemudian ia menggelengkan kepala melihat tingkah dua anak manusia ini yang sama-sama memasang ekspresi kesal. Myungsoo kemudian memainkan gelas di hadapannya sedang Ai duduk diam masih menatap Myungsoo. Lima menit berjalan seperti ini, Hyuri mulai gusar. Ia mulai bosan berada di antara Ai dan Myungsoo.

“Thanks for coming tonight.” Suara Hanbyul terdengar menggema menarik perhatian.

Tatapan ketiga teman Hanbyul langsung tertuju pada panggung. “Apa yang di lakukannya disana?” gumam Myungsoo menatap Hanbyul berdiri sendiri di atas panggung.

Hanbyul tersenyum melihat meja nomer 8. “Selamat malam semua. Saya Jang Hanbyul dan mala mini saya berdiri disini untuk…” Hanbyul menatap Ai sejenak, “… untuk menyanyikan lagu ini Bruno Mars-Marry You, special for you, Jung Jiyoo.”

Pengunjung café bersorak, bertepuk tangan dan intro musik ‘Bruno Mars-Marry You’ pun terdengar. Hyuri yang sempat terkejut mendengarnya tersenyum lebar menatap Ai dan bertepuk tangan antusias memberi dukungan Hanbyul. Myungsoo juga tersenyum ikhlas dan turut bertepuk tangan. Ai menghela nafas dan menunduk karena perhatian hampir seluruh pengunjung tertuju pada meja nomer 8. Hanbyul mulai bernyanyi dan tatapannya terus tertuju pada meja nomer 8, pada Ai. Ai masih bisa bersikap datar, diam menatap panggung. Myungsoo menggeleng melihatnya. Lalu ia menatap Hyuri yang justru terlihat sangat terpukau dengan tindakan Hanbyul. Myungsoo tak suka melihatnya. Ia segera menggerakan kakinya di bawah meja menyentuh kaki Hyuri. Hyuri tersadar dan langsung menatap Myungoo dengan tatapan heran.

Hanbyul mungkin benar-benar sudah gila dan berada di luar kendali kini. Ia tiba-tiba menuruni panggung menjelang lagu berakhir dan menuju meja nomer 8. Melihatnya kali ini jantung Ai tiba-tiba berdetub kencang. Semakin tak karuan ketika Hanbyul semakin dekat daan berhenti tepat di depan Ai.

“I think I’m wanna marry you…..” Hanbyul selesai bernyanyi dan tiba-tiba berlutut mengulurkan setangkai mawar merah. “Aku menyukai mu, Jung Jiyoo. Mau kah kau menerima ku untuk menjadi kekasih mu?” Hanbyul menyatakan cintanya kepada Ai di depan seluruh pengunjung café.

Hyuri benar di buat terkejut hingga ia menutup separuh wajahnya dengan kedua tangannya. Myungsoo ikut merasa panas karena semua mata kini tertuju pada meja tempat ia duduk bersama Hyuri dan Ai.

“Anak ini benar-benar gila,” gumam Myungsoo lirih yang segera mendapat respon tajam dari Hyuri.

Seluruh tubuh Ai terasa panas kini. Ia benci karena jika begini wajahnya sudah bisa di pastikan memerah bak tomat masak. Hanbyul masih berlutut menunggu jawaban Ai.

“Terima! Terima! Terima!” seorang pengunjung lelaki memulai memberi dukungan untuk Hanbyul dan kemudian di ikuti hampir seluruh pengunjung café.

Hanbyul menatap Ai penuh harap. Ai mengembangkan senyumnya dan mengangguk sambil menerima mawar pemberian Hanbyul. Pengunjung bersorak dan Hanbyul kembali berdiri merasa sangat senang. Hyuri ikut senang melihatnya.

“So sweet…..” komentar Hyuri kemudian ikut bertepuk tangan.
-------

Hyuri dan Myungsoo duduk berdampingan menghadap sungai Han. Keduanya sengaja memisahkan diri dari Hanbyul dan Ai. Hyuri diam dengan wajah berseri menatap indahnya pemandangan sungai Han sa’at malam. Sesekali Myungsoo menoleh menatap Hyuri lalu tersenyum.

“Jang Hanbyul Sunbaenim benar-benar keren! Kira-kira, sekarang apa yang mereka lakukan?” Hyuri memulai obrolan.
“Kau merasa sukses menyatukan mereka?”
“Aku tak berbuat apa-apa. Jang Hanbyul Sunbaenim melalukan semuanya sendiri.”
“Mwo?? Lalu ancaman mu kala itu?”
“Itu bualan ku saja. Mana aku mampu membuat kekacauan seperti itu.”
“Jadi semua itu bukan kau? Termasuk skandal foto-foto itu?”
“Nee?? Kau menuduh aku pelakunya??”
“Aa-anee. Kau sering kemana-mana dengan membawa kamera.”
“Sering?? Hanya sa’at tugas saja! Lagi pula aku tidak minat pada cara rendahan itu, ck!”
Myungsoo merasa bersalah melihat Hyuri sewot. “Mian.” Ucap Myungsoo lirih.
“Lupakan saja. Untung aku sedang merasa senang malam ini.”
Myungsoo tersenyum lega. “Ternyata bualan mu itu menjadi bukan sekedar bualan.”
“Nee??”
“Hanbyul dan Fujiwara, mereka akan benar bersama. Aku tidak menyangka Hanbyul memilih cara seperti itu untuk menyatakan cintanya pada Fujiwara.”
“Itu sangat keren bukan? Aku tidak bisa membayangkannya. Butuh berapa hari untuk mempersiapkan perasaannya? Bagus jika langsung di terima, kalau di tolak? Hah…”
Keduanya kembali terdiam. “Aku memang tidak bisa melakukan hal yang begitu nekat dank au sebut keren, tapi aku benar menyukai mu, Song Hyuri.” Kata Myungsoo tiba-tiba.
Hyuri kaget dan langsung menoleh menatap Myungsoo. “Secepat itu??”
“Nee??”
“Kau menyukai ku?? Secepat itu??”
“Beginilah kenyataan yang aku rasakan, apa itu salah? Tiba-tiba saja kau selalu muncul dalam otak ku daan aku tidak bisa berhenti memikirkan mu. Aku terus memperhatikan mu di sekolah. Aku rasa aku benar-benar menyukai mu, Song Hyuri.”
“Yakin sekali? Bagaimana kalau itu hanya perasaan sesa’at? Sebelumnya, kau sangat penasaran pada Ai bukan? Malam ini kau bilang suka, bagaimana jika besok kau tiba-tiba membenci ku?”
“Kau tidak percaya pada ku? Ya, Song Hyuri, apa perlu aku teriak mengatakan aku suka pada mu?” Myungsoo lalu berdiri.
“Babo!”
“Mwo??”
“Ya! Kim Myungsoo, duduklah! Kau terlihat bodoh seperti itu.”
“Kau percaya pada ku?” Myungsoo tiba-tiba berlutut di depan Hyuri yang masih duduk di bangku. “Kau menyukai ku atau tidak?” Myungsoo menatap lekat Hyuri. “Kau tidak suka aku ya?”
“Kau benar-benar menyukai aku?” tanya Hyuri dan Myungsoo segera mengangguk antusias. Hyuri menghela nafas. Sebenarnya Hyuri benar di buat terkejut oleh pernyataan Myungsoo namun ia tak mau terlalu senang karenanya. Ia takut Myungsoo tak serius mengucapkan hal itu.
“Baiklah. Kita jalani saja.” kata Hyuri.
“Nee??”
“Aku pun tidak tahu, tapi ada rasa senang sa’at aku melihat mu dan jadi begitu gugup sa’at berada di dekat mu. Selama kita sama-sama memiliki rasa ini, mari kita coba menikmatinya, bagaimana?”
Myungsoo terdiam sejenak. Ia kemudian tersenyum dan mengangguk, “baiklah.”
Hyuri tersenyum manis. “Berhenti berlutut di depan ku.”
Myungsoo tersenyum dan kembali duduk di samping Hyuri. “Lalu bagaimana dengan Hanbyul Sunbae dan Ai?” tanya Hyuri.
“Nee??”


Ai dan Hanbyul duduk di tepi sungai Han. Ai duduk menekuk lutut menghadap sungai sedang Hanbyul duduk bersila menghadap Ai. Hanbyul terus tersenyum menatap Ai seolah ia tak akan lelah melakukannya.

“Hentikan menatap ku seperti itu.”
“Biarkan saja, aku suka.” Hanbyul tersenyum senang. “Aku masih tidak percaya, kau langsung menerima ku.”
“Apa jadinya jika aku menolak mu? Mungkin kau tidak malu, tapi aku akan jadi bahan gunjingan para pengunjung itu. Mengerikan.”
“Jadi kau tidak serius menerima ku?? kau hanya Kasihan pada ku??”
Ai menoleh menatap Hanbyul. “Ada begitu banyak gadis cantik di sekelilingi Viceroy, kenapa kau malah mengatakan suka pada ku? Aku vampire dengan asal-usul tidak jelas. Aku cenderung menyebalkan dengan berbuat sesuka hati ku. Aku rasa terjadi kesalahan pada saraf otak mu, sebaiknya kau segera kembali pada kesadaran mu Jang Hanbyul.”
“Hagh! Kau pikir aku tidak normal karena menyukai mu?”
“Nee. Tidak kah kau merasa bodoh dengan melakukan itu semua?”
“Menurut mu itu bodoh?”
“Menurut gadis lain pasti keren bukan? Eum, iya itu keren.”
“Keren?”
Ai tersenyum dan mengangguk. “Bagaimana bisa kau senekat itu?”
“Karena rasa disini,” Hanbyul meraih tangan kanan Ai dan meletakan di dadanya, “terus menggebu, terasa hampir meledak. Aku tidak bisa menahannya lagi.”
Telapak tangan Ai bisa merasakan detak jantung Hanbyul. Memang sedikit tak beraturan. “Kau bahkan lebih nekat dari Jaejoong.” Ai kembali menarik tangannya.
Hanbyul merasa tak nyaman nama Jaejoong di sebut, di bawa masuk dalam obrolan mereka. “Jaejoong? Nekat? Apa yang dia lakukan pada mu? Dia menyukai mu? Menyatakan rasa itu pada mu?” buru Hanbyul.
“Noh Yiyoung.”
“Kau yakin Jaejoong menyukai Noh Yiyoung?”
“Entahlah.”
“Kalian begitu dekat.”
“Nee. Kami merasa sama, senasib. Karena merasa punya banyak kesamaan itu, kami menjadi dekat. Aku menganggap Jaejoong seperti saudara seumur, kami sama-sama adik Minki Oppa.” Ai tersenyum mengenangnya.
Hanbyul sedikit lega mendengarnya. “Tapi sepertinya Jaejoong tak menganggap mu demikian. Dia selalu mengatakan, kau adalah gadisnya.”
“Sikapnya memang terkadang berlebihan. Iya, Jaejoong sering menyebut ku ‘gadis ku’, hagh! Dia itu lucu. Dia akan marah jika Minhyuk atau Jaejin ikut memanggil ‘gadis ku’, menggelikan.” Ai kembali tersenyum.
“Jadi, kau suka aku atau Jaejoong?”
“Em?” Ai kembali menoleh dan menatap Hanbyul yang menatapnya lekat. Bertatapan seperti ini, jantung Ai kembali berdetub kencang. Ai segera mengalihkan pandangannya kembali menatap sungai.

Hanbyul tersenyum di buatnya. Ia kemudian beralih duduk di belakang Ai, beradu punggung dengan Ai. “Kau tidak bisa menjawabnya, kalau begitu aku akan tetap bertahan hingga kau benar meminta ku pergi.” Hanbyul tersenyum menatap langit lalu menyandarkan punggungnya pada punggung Ai.
Ai terdiam.


-------TBC-------


hydrangea


matur suwun ^_^
.shytUrtle_yUi.
 
 

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews