¤ HWASEONG ACADEMY -Love, Music and Dreams- (화성 아카데미-사랑, 음악과 꿈-) ¤

05:18

¤ HWASEONG ACADEMY -Love, Music and Dreams- (화성 아카데미-사랑, 음악과 꿈-) ¤

 

. Judul: Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
. Revised Romanization: Hwaseong Akademi ’salang, eum-aggwa kkum’
. Hangul: 화성 아카데미’사랑, 음악과 꿈’
. Author: shytUrtle_yUi
. Rate: Serial/Straight
 
 
Episode #19

Wonbin dan Jaejoong tiba di toilet perempuan kelas X. Keduanya langsung masuk ke dalam toilet, namun tidak ada siapa-siapa di sana hingga membuat bulu kuduk Wonbin dan Jaejoong berdiri. YOWL menyebar mencari Ai di tempat gadis itu biasa berada, namun Ai tak ada di semua tempat itu. Bahkan Ai juga mematikan ponselnya.
“Bagaimana ini?” tanya Wooyoung.
“Sebaiknya Tuan Besar pulang. Aku bisa menjamin, Jiyoo baik-baik saja. Dia biasa seperti ini. Jika perasaannya sudah kembali tenang, dia pasti akan kembali.” Minki menenangkan Jinyoung yang ikut panik.
“Hah…” Jinyoung menghela nafas panjang. “Baiklah. Di banding kami, kau memang paling mengerti bagaimana Jiyoo. Aku pergi.”
“Nee. Saya akan segera memberi kabar jika Jiyoo kembali.”
Euichul menepuk pundak Minki dan ikut pergi bersama Jinyoung dan Hyunjung. Jinwoon juga ikut pamit. Viceroy juga menyempatkan diri menyapa YOWL sebelum mereka pergi.
“Hah… kenapa Nona Fujiwara tiba-tiba menghilang?” gumam Moonsik yang ikut membantu mencari Ai.
Gahee yang mendengar berita tentang Ai ikut merasa bersalah. Ia memberitahukan hal ini pada Junki yang sudah pulang lebih dahulu. Junki merasa bersalah dan ikut di buat panik. Ia berusaha menelfon Ai namun ponsel gadis itu tidak aktif.
Hyuri mendekati Jaejoong. Melihat Jaejoong sangat khawatir, Hyuri ikut sedih. Hyuri menyentuh pundak Jaejoong. “Aku pamit pulang.”
“Oh, nee.” Jaejoong menunjukan senyum terbaiknya.
“Jangan khawatir. Bukankah kau pernah bilang, Ai biasa seperti ini. Aku yakin dia baik-baik saja di mana pun ia berada.”
“Kenapa dia tiba-tiba pergi?”
“Yang aku dengar dari Gahee Songsaengnim, tadi Ai menemuinya dan di sana mereka bertemu Junki Songsaengnim.”
“Lee Junki Songsaengnim? Apa mungkin Ai pergi bersamanya?”
“Lee Junki Songsaengnim memperkenalkan tunangannya pada Ai.”
“Akhirnya terjadi juga.” Komentar Wonbin. Ia kemudian bergabung dengan Hyuri dan Jaejoong. “Akhirnya Ai mengetahui kenyataan ini.”
“Hah… dia pasti sangat sedih sekarang,” sesal Jaejoong.
“Walau demikian tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali menunggu.” Wonbin menepuk bahu Jaejoong. “Ayo kita pulang.”
-------
Hanbyul membawa Ai ke rumahnya. Ai mengamati seluruh sudut rumah Hanbyul. Rumah minimalis ini masih terkesan mewah. Hanbyul tersenyum melihat ekspresi Ai.
“Ayo kita pergi!” ajak Hanbyul.
“Kemana?”
Hanbyul tersenyum dan menggandeng tangan Ai. Hanbyul membawa Ai keluar, ke lapangan basket outdoor yang letaknya tak jauh dari rumah Hanbyul. Ai diam melihat Hanbyul yang sibuk memainkan bola basket di tangannya. Hanbyul kemudian melemparkan bola itu pada Ai. Dengan sigap Ai menangkap bola itu.
“Sa’at aku merasa tidak baik, perasaan ku kacau, aku selalu kemari dan bermain basket. Kau mau coba?”
“Aku tidak bisa main basket.” Tolak Ai sambil melempar kembali bola pada Hanbyul.
“Kau bohong! Aku pernah melihat permainan mu di sekolah, bahkan aku memotretnya. Ayolah!” Hanbyul kembali melempar bola pada Ai.
“Aku tidak bisa.” Ai melempar bola kembali pada Hanbyul.
“Kau bisa!” Hanbyul melempar bola kembali pada Ai.
Saling lempar bola terjadi hingga beberapa kali. Ai tersenyum dan akhirnya bermain basket bersama Hanbyul. Suasana yang tadinya hening berubah gaduh karena Hanbyul. Ia tak segan berteriak heboh ketika Ai berhasil memasukan bola ke dalam ring. Lelah bermain, keduanya berbaring di atas lantai lapangan basket menatap langit malam.
“Ya, kau merasa baik sekarang?” tanya Hanbyul.
“Ini tak sebaik duel tapi lumayan, gomawo.”
“Jadi malam itu perasaan mu sedang buruk? Sa’at kau katakan kau usai berduel?”
Ai kembali duduk dan teringat sa’at Hanbyul datang untuk memberikan apel ranum padanya. “Malam itu, aku baik saja. Sudah lama aku ingin duel dengan Bibi Han, kebetulan malam itu ada kesempatan.”
Hanbyul ikut duduk. “Myeongran Nuna bilang, kau tiba-tiba datang dan menantang Bibi Han duel. Nuna bilang, kau terlihat sangat buruk malam itu.”
“Ya! Jang Hanbyul! Kau…” Ai menoleh menatap kesal Hanbyul namun pemuda itu malah tersenyum manis.
“Nee. Aku adalah sasaeng fans Wacky Way Of YOWL, Ai. Dan malam ini, aku menemukan mu menangis di toilet. Ini takdir. Kita memang di takdirkan bersama. Kau pantang menangis di depan orang, apa ini artinya, kau menyerah pada ku?”
“Mwo?? Ish! Aku menangis karena aku terlampau senang, pertunjukan YOWL sukses. Dan kau tiba-tiba membuka pintu toilet. Tidak sopan sekali! Itu kan toilet wanita! Sasaeng fans, jangan-jangan kau ini… suka mengintip.”
“Aku tidak separah itu!”
Ai tersenyum kecil dan kembali diam. Hanbyul pun sama terdiam. Perlahan ia menoleh dan memperhatikan Ai. Hanbyul kembali tersenyum.
“Wae?” Ai menoleh dan lurus menatap Hanbyul.
“Anee.” Hanbyul kembali tersenyum.
“Aku haus.”
“Kita pulang.” Hanbyul berdiri dan mengulurkan tangan.
Ai menatap Hanbyul yang berdiri di depannya. Hanbyul terlihat bersinar dengan adanya background lampu di belakangnya. Bukannya meraih tangan Hanbyul, Ai malah meraih ponsel di sakunya dan memotret Hanbyul.
“Ya! Kenapa kau malah memotret ku?!”
Ai bangkit dan menunjukan ponselnya, “seperti bintang sebenarnya.”
“Ya! Itu… itu jelek sekali.” Hanbyul mengejar Ai.
“Kau memang jelek.”
“Aku tampan.”
“Menurut?”
“Menurut mu.” Hanbyul berhenti tepat di depan Ai membuat gadis itu berhenti mendadak. “Bagaimana menurut mu?”
“Aku haus.” Ai berjalan melewati Hanbyul. Hanbyul menggaruk kepalanya dan mengejar Ai.
-------
Ai berjalan pelan memasuki basecamp. Ia terkejut melihat semua member YOWL bersama Wooyoung, Minki dan Kibum menunggunya di sana. Jaejoong langsung menghampiri Ai dan mengamati gadis itu dari atas ke bawah. Ai menepis kekhawatiran rekan-rekannya dan meyakinkan jika ia baik-baik saja. Wonbin dan Jaejoong yang mengetahui perihal pertemuan Junki dan Ai memilih diam. Mereka tahu, Ai tak suka jika hal yang tak ingin bagi di usik.
Minki dan Ai berjalan pulang bersama. Keduanya saling diam sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah.
“Akhirnya terjadi juga bukan?” kata Minki sa’at Ai hendak memasuki kamarnya. Ai menatap Minki dengan mata lelahnya. Minki tersenyum, “istirahatlah. Lebih cepat kau tahu itu lebih baik. Walau sakit, setidaknya itu tak terlalu berlarut-larut. Ma’af aku mendukung keputusan Lee Junki.”
“Aku mau tidur.” Ai masuk ke dalam kamarnya. Ai menghela nafas dan bersandar pada daun pintu. Ai berjalan mendekati ranjang dan merebahkan tubuh lelahnya. Ia menghela nafas panjang dan berusaha memejamkan mata.
***
Hari senin. Junki memasuki kelas X-F. Ia melihat bangku Ai kosong. Junki di rundung rasa bersalah. Ingin sekali ia bertanya pada Kibum juga Wooyoung, tapi Junki menahan diri. Moonsik menggelengkan kepala melihat Ai tidur di atas ranjangnya. Ia membiarkan Ai dan memilih kembali ke pos penjaga.
Ai terbangun dan ia di buat terkejut dengan keberadaan Wonbin di sana. Wonbin sudah duduk di dekat ranjang. Wonbin tersenyum manis menyambut Ai yang baru membuka mata.
“Kau disini.” Sapa Ai.
“Pujian terus datang untuk YOWL, banyak yang bersimpati dan kau malah asik tidur di sini.”
Ai menguap. “Tugas ku sudah selesai. Terserah mereka mau apa.”

Wonbin dan Ai berjalan bersama. Murid-murid yang berpapasan melihat keduanya dengan tatapan sinis. Beberapa siswi yang berkumpul saling berbisik. Ai tidak tahan di buatnya. Ia menghentikan langkahnya dan menghampiri kumpulan para gadis itu dan menatapnya tajam.
“Sudahlah.” Wonbin merangkul Ai pergi.
“Ini yang kau sebut pujian?”
“Aku sendiri heran. Apa yang sebenarnya terjadi. Kita cari yang lain.”

Di tengah-tengah ramainya pujian dan sanjungan datang untuk YOWL dalam Hwaseong Academy, tiba-tiba muncul foto Jinwoon sedang memeluk Ai. Setelah foto-foto Ai bersama Hanbyul, Byunghun dan Minhwan, kini muncul foto Ai dan Jinwoon dengan pose yang lebih mengejutkan publik Hwaseong Academy. Mereka terlihat sedang berpelukan dalam foto itu. Komentar berisi makian dan rasa tidak terima dari fans Stardust segera memenuhi kiriman foto itu. Tidak cukup di sana, dalam dunia nyata Ai tak lepas dari cemoohan gadis-gadis pendukung Stardust yang tak rela idolanya juga di sentuh oleh Ai. Beberapa dari mereka sengaja menemui Ai dan tak segan mengancamnya.
Jinwoon merasa bersalah atas adanya skandal ini. Ia ingin mengatakan pada semua jika Ai adalah adiknya namun Ai melarangnya. Ai berjanji pada Jinwoon bahwa ia akan menyelesaikan ini semua. Ai tidak siap jika seluruh murid nantinya tahu jika ia adalah saudara satu ayah dengan Jinwoon. Ai juga tak sanggup untuk menjawab pertanyaan yang pasti muncul sesudah pengakuan Jinwoon. Bersyukur Ai bisa meyakinkan Jinwoon hingga pemuda itu mengurungkan niatnya. Hanbyul juga shock melihat foto Jinwoon memeluk Ai. Namun ia memilih diam dan menunggu penjelasan lamgsung dari Ai.
Ai berjalan sendirian dan terlihat sangat pucat. Gyuri, Chaerin dan Soojung tiba-tiba mencegatnya. Ai menatap ketiga member Red Venus itu dengan malas.
“Apa maksud dari semua ini?! Setelah Hanbyul, Byunghun dan Minhwan, lalu sekarang?! Ada apa antara kau dan Jinwoon Sunbaenim?” tandas Gyuri.
“Itu.. tak seperti yang kalian pikirkan.”
“Apa ini cara mu untuk membalas sakit hati Jaejoong pada Yiyoung? Karena Yiyoung menyukai Jinwoon Sunbaenim?” sambung Chaerin.
“Mwo?? Noh Yiyoung.. dia… menyukai Jung Jinwoon??”
“Selama ini Jaejoong mengerjar Yiyoung namun Yiyoung tak menggubrisnya. Kau tahu kenapa? Iya, Jaejoong tak sepadan untuk Yiyoung dan Yiyoung, dia menyukai Jinwoon Sunbaenim.” Terang Soojung.
“Itu bukan urusan ku.” Ai menerobos tiga member Red Venus itu namun Chaerin menahan Ai hingga membuat Ai jatuh terduduk di hadapan tiga member Red Venus.
“Ai??” Hyuri akhirnya menemukan Ai setelah ia berputar-putar. Hyuri segera menghampiri Ai dan membantunya berdiri. “Ada apa ini? Apa yang kalian lakukan pada Ai? Kalian melakukan bully?” Hyuri menatap ketiga member Red Venus penuh amarah.
“Song Hyuri, ini tidak seperti yang kau kira. Sungguh.” Bantah Chaerin.
“Jadi, seperti inikah sosok Red Venus yang sebenarnya? Menyesal aku telah memuji kalian sebagai dewi.”
“Sudah aku katakan ini tidak seperti yang kau pikirkan!” Chaerin dengan nada meninggi.
“Ada apa ini?” Byunghun yang tak sengaja melintas menyela. Jungshin, Minhwan dan Hanbyul juga turut mendekat. Byunghun memperhatikan Ai. wajah gadis itu sangat pucat dan ia menunduk.
“Tidak terjadi apa-apa, sungguh.” Gyuri meyakinkan.
“Ai!!” Hyuri menjerit panik ketika tubuh Ai tiba-tiba tergulai lemas menimpa dirinya. Ai pingsan. Hyuri sampai ikut jatuh terduduk karena tak kuat menahan berat tubuh Ai.
Ketiga member Red Venus melotot kaget melihatnya. Byunghun menghampiri Hyuri dan Ai. Baik Byunghun dan Hyuri, keduanya menepuk pipi Ai berusaha membuat gadis itu sadar kembali. Hanbyul melewati ketiganya kemudian mengangkat tubuh Ai dan menggendongnya ke klinik sekolah.
-------
“Benarkah Ai baik-baik saja? Oppa sudah memeriksanya dengan teliti? Oppa…” rengek Hyuri.
“Fujiwara hanya kelelahan. Persiapan menghadapi Hwaseong Festival cukup membuatnya stress. Itu benar-benar menyita tenaga dan pikiran. Kembalilah ke kelas. Aku akan menjaganya.”
Hyuri menatap Hanbyul. “Baiklah. Aku pergi.” Hyuri pun pamit dan berjalan pergi. “Oh! Wooyoung. Kibum. Kalian akan menjenguk Ai?” sa’at Hyuri keluar dari klinik.
“Bagaimana keadaan Nona?” Wooyoung benar khawatir.
“Ai hanya kelelahan dan dia sedang istirahat sekarang. Tenang saja. Joongki Oppa pasti merawat Ai dengan baik.”
“Baiklah. Ayo kita kembali ke kelas.” Ajak Kibum.

Hanbyul masih bertahan duduk di kursi di samping ranjang Ai. Ia setia menunggu. Joongki masuk ke kamar tempat Ai di rawat.
“Sebaiknya kau kembali ke kelas.” Hanbyul terlihat enggan. “Kau bisa kembali sa’at Fujiwara sadar nanti.” Hanbyul pun bangkit dari duduknya. “Ya. Jang Hanbyul.”
“Nee??” Hanbyul menaruh perhatian pada Joongki.
“Ini bukan sekedar kebetulan kan? Kau dan Fujiwara. Apa kau menyukainya?”
“Nee??”
“Pria bisa jadi lemah karena wanita, begitu juga sebaliknya. Apakah itu kau?”
“Maksud Dokter Song… Ai menjadi lemah karena pria? Ah, jika itu benar pasti bukan aku orangnya.”
“Em. Aku pun berpikir demikian. Lalu apa itu Jung Jinwoon? Hah, anak bandel ini selalu membuat ku pusing.”
“Dokter Song, sepertinya sangat memperhatikan Fujiwara.”
“Sebaiknya kau segera kembali ke kelas. Aku tahu kau memang ahli melarikan diri sa’at jam pelajaran. Aku tidak mau kau ketahuan berada di sini dan kena detensi.”
Hanbyul tersenyum tulus dan pamit pergi. Joongki kemudian menghampiri Ai yang masih tak sadarkan diri. Ia tersenyum dan menggelengkan kepala.
***
Joongki mengantar Ai pulang sebelum jam sekolah berakhir. Ai diam dan menurut saja pada Joongki.
“Sebaiknya kau istirahat di rumah untuk beberapa hari ke depan. Sekolah tampaknya kurang bersahabat bagi mu. Aku akan mengurus surat ijinnya untuk mu.”
“Nee.”
“Nee??”
Ai menoleh menatap Joongki. “Nee. Wae??”
“Fujiwara Ayumu berubah jadi penurut pada ku?”
Ai mengembangkan senyum di wajah lesunya. “Hanya sedikit lelah jadi pemberontak, jadi aku ambil saja cuti itu.”
“Cuti?? Ish!”
“Dokter Song, bisa tolong antar aku ke florist saja?”
“Florist?”
“Nee. Minki Oppa ada di sana, aku akan sangat bosan berada sendirian di rumah.”
Joongki mengantar Ai ke florist dan ia mampir sebentar. Joongki melihat koleksi bunga dan tanaman hias mini dalam pot yang di jual di toko bunga milik Ai.
“Terima kasih dan ma’af selalu merepotkan Dokter,” sapa Minki.
“Aku melihatnya sa’at bazar, menurut ku Fujiwara lebih baik cocok dalam bidang ini daripada mengelus gitar di atas panggung. Tapi dia itu sangat bandel bukan?” keduanya tersenyum bersama.
“Ai kembali dengan membawa tanaman hias mini dalam pot yang sudah ia bungkus rapi dalam plastik lengkap dengan hiasan pita. “Untuk Dokter Song yang sabar dan baik pada ku, kamsahamnida.” Ai memberikan tanaman cantik itu.
“Untuk ku? Oh, gomawo. Ini cantik sekali dan hmm… aroma terapi? Menenangkan.”
Ai dan Minki mengantar Joongki keluar. Keduanya menatap mobil Joongki yang berjalan semakin jauh dan hilang dari jangkauan pandang keduanya. Ai menghela nafas panjang.
“Kita pulang.” Ajak Minki.
“Oppa jangan khawatir. Aku baik-baik saja.” Ai mengembangkan senyum terbaiknya.
“Kalau baik, kenapa sampai pingsan dan di pulangkan lebih awal?”
“Hah… ada begitu banyak pria tampan di sekitar ku, rasanya aneh ketika aku merasa sakit karena satu pria asing ini.”
“Pria asing? Siapa? Jang Hanbyul?”
“Oppa!” Ai menatap kesal Minki.
“Reaksi apel pemberian Hanbyul.”
“Oppa!!!”
Minki terkekeh. “Arasho. Arasho. Lee Junki kan?”
“Nee. Dia sudah punya tunangan.”
“Lalu?”
“Lalu?”
“Itu baik untuk mu. Kau tidak perlu mengejarnya lagi. Kau ingat komentar Hyuri? Ai, kau itu kenapa menyukai orang tua?”
“Ck! Junki Songsaengnim tidak setua itu Oppa.”
“Itu hal wajar. Di usianya sekarang, tidak mungkin Lee Junki mau membuang waktu dengan gadis ingusan seperti mu.”
“Oppa! Aku bukan gadis kecil lagi!” Ai sewot dan menatap seberang jalan. Tiba-tiba Hanbyul muncul di sana. Hanbyul tersenyum manis dan melambaikan tangan pada Ai. Ai mengerjapkan kedua matanya lalu kembali menatap seberang jalan. Di sana sepi, tak ada siapa pun. “Hah… aku pasti sudah gila sekarang.”
“Nee??” Minki khawatir melihat Ai memegang kepalanya. “Masih pusing??”
-------
“Ai tidak ada di ruang kesehatan!” Jaejoong panik menemui teman-temannya. Jaejin dan Minhyuk menatap kesal pada Jaejoong.
“Kemana saja kau?” tanya Minhyuk.
“Joongki Oppa mengantar Ai pulang lebih dulu. Ai kelelahan dan butuh istirahat. Joongki Oppa juga memberinya cuti beberapa hari.” Terang Hyuri.
“Aku heran kenapa Ai jadi begini lemah?” keluh Kibum.
“Itu wajar karena Hwaseong Festival dan segala masalah yang mengiringinya, hingga hari ini.” jawab Jaejin.
“Kenapa Jinwoon tidak mengambil tindakan dan meluruskan kesalahpahaman ini?” tanya Jaejoong.
“Ai menolaknya.” Jawab Wonbin. “Ai tidak siap jika nantinya seluruh sekolah tahu tentang kenyataan antara Ai dan Jinwoon.”
“Gadis bodoh!”
“Kenyataan apa?” tanya Hyuri.
“Kau tidak tahu?” tanya Minhyuk dan Hyuri menggeleng. “Hah.. aku rasa kau pantas untuk tahu sekarang. Ai dan Jinwoon, mereka saudara satu ayah.”
“Mm-mwo??” mulut Hyuri membulat.
“Panjang ceritanya, tapi memang kenyataannya demikian. Ai dan Jinwoon adalah saudara satu ayah.” Jaejin mendukung penjelasan Minhyuk.
“Jalan hidup Ai, rumit sekali?” keluh Hyuri dan tatapannya terhenti pada Red Venus. Hyuri menatap sinis pada Red Venus.
“Ya! Jaejoong~aa! Itu Noh Yiyoung!” Tunjuk Jaejin.
“Kau benar cinta mati pada Noh Yiyoung??” tanya Hyuri mengejutkan Jaejoong.
“Nee?? Itu…”
“Perlu kau tahu. Sa’at aku menemukan Ai, dia sedang jatuh terduduk di depan Red Venus Chaerin, Soojung dan Gyuri.” Semua terkejut mendengarnya. “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka berubah panik ketika aku tiba, lalu Ai pingsan. Aku ragu, apa benar Noh Yiyoung sepolos itu?”
“Ternyata gadis cantik, kaya dan terkenal itu selalu mengerikan,” Minhyuk menggelengkan kepala.
“Dan lagi-lagi Jang Hanbyul menolong Ai. Ada apa dengan mereka?” Jaejin seolah bertanya pada dirinya sendiri.
Jaejoong menatap Hyuri. Hyuri balik menatapnya. Keduanya sama-sama diam. Lalu keenam member Viceroy menghampiri kelompol YOWL.
“Bagaimana kondisi Fujiwara? Aku dengar Dokter Song mengantarnya pulang lebih dulu.” Sapa Byunghun.
“Apa urusan kalian menanyakan hal ini?” Jaejoong sinis.
“Kalian pasti sudah menerima undangan dari Dewan Senior. Kami harap tim YOWL juga datang.” Sela Sunghyun. “Semoga Ai lekas sembuh,” Sunghyun menepuk pundak Jaejoong.
Viceroy pulang lebih dulu. Myungsoo dan Hyuri sempat saling memandang. Hanbyul menyapa Hyuri hanya dengan senyumnya. Hyuri pun membalas senyum.
-------
“Pesta?” tanya Ai.
“Dewan Senior mengadakan pesta pembubaran panitia Hwaseong Festival dan mengundang para pengisi acara, termasuk kita. Tim rahasia kita juga menyanggupi untuk hadir.” Jawab Minhyuk. “Kita akan datang bersama kan?”
“Aku off.”
“Ya! Tidak bisakah kau hadir bersama kami sejenak walau kau tak suka pesta?” pinta Jaejin.
Ai kembali merebahkan tubuhnya membelakangi Minhyuk dan Jaejin yang datang menjenguknya. Minhyuk dan Jaejin saling menyikut.
“Baiklah. Kami pergi. Lekas sembuh, Ai.” Minhyuk pamit. Tidak ada jawaban dari Ai. Minhyuk dan Jaejin segera keluar dari kamar Ai.
Ai bimbang. Haruskah ia tetap datang? Bagaimana jika Junki juga datang? Jika sendiri tak masalah. Bagaimana jika Junki datang bersama wanita cantik dan anggun bernama Lee Young Ah itu? Lagi pula Ai tidak begitu suka pesta. Ai pun menggulung diri dalam selimutnya.
***
Hyuri terlihat sangat cantik dalam balutan mini dress warna ungu selututnya. Myungsoo benar di buat terpesona sa’at Hyuri memasuki gedung tempat pesta di gelar. Jaejoong menyambut Hyuri dan menggandeng gadis itu masuk untuk bergabung dengan YOWL dan timnya. Myungsoo menekuk muka dan hanya mengawasi dari kejauhan saja.

“Kau tidak datang ke pesta?” tanya Minki pada Ai.
“Ini pertama kalinya, aku merasa menjadi pengecut dalam hidup ku. Aku benar-benar tidak punya nyali untuk melangkahkan kaki ku ke sana.”
“Itu manusiawi, wajar. Tapi pertanyaannya, sampai kapan kau akan menghindar? Menghindar, adalah keahlian dan kebiasaan Jung Jiyoo yang paling aku benci. Pesta itu hanya untuk murid bukan? Aku rasa tidak ada guru di sana. Ah, atau kau takut bertemu Jang Hanbyul?”
“Oppa! Selalu saja menyebut nama itu.”
“Jang Hanbyul?”
“Oppa-ya!!!”
“Hehehe… ada urusan yang harus aku selesaikan, mungkin aku akan pulang agak larut. Kau tak mengapa di rumah sendiri?”
“Kugjungmayo, aku baik saja. Oppa pergi saja dan selesaikan urusan Oppa pelan-pelan.” Ai tersenyum lebar.
“Baiklah. Aku percaya pada mu. Aku pergi.” Minki mengelus kepala Ai dan pergi.
“Huft…” Ai menghela nafas. Lalu ia kembali fokus pada laptopnya.

Pesta di mulai. Taemin selaku perwaklian Dewan Senior membuka acara dan memberikan sambutan singkatnya. Jaejoong terus menatap pintu masuk. Ia berharap Ai akan tiba-tiba muncul memberikan kejutan untuk tim YOWL, namun sepertinya itu tidak mungkin.
“Sebentar lagi YOWL harus tampil, ya? Kalian YOWL, yang meraih hasil penilaian tertinggi.” Daehyun menghampiri YOWL.
“Bagaimana kami tampil? Ai tak disini.” Kata Minhyuk.
“Jiyoo Fujiwara tidak datang?”
“Vampir itu anti pesta. Egois sekali kali ini.” jawab Jaejin. “Sepertinya dia benar-benar tidak akan muncul.”
“Kami akan tampil berempat. Ai benar-benar butuh istirahat.” Wonbin menengahi.
“Baiklah.” Daehyun kemudian pergi.
“Song Hyuri.” Jaejoong tiba-tiba memegang pundak Hyuri.
“Nee??”
“Ayo kita buat kejutan. Kita akan menampilkannya sekarang.”
“Mm-mwo??”
“Ah, iya! YOWL featuring Song Hyuri, itu keren!” Jaejin setuju.
“Yakinlah. Kau pasti bisa. Ayolah, bantu kami lagi.” pinta Minhyuk.
“Tapi aku…”
“Kaja!” Wonbin menggandeng Hyuri.
Tim YOWL bertepuk tangan. Hyebyul, Himchan, Chaebin, Sunggyu, Jaeki, Luhan dan Sehun berkumpul bersama. Tim YOWL yang lain juga menghadiri pesta. Hanya Ai yang absen. Myungsoo kaget melihat Hyuri ikut naik ke atas panggung. Hyuri terlihat gugup namun Jaejoong terus memberi dukungan padanya.  YOWL tampil membawakan lagu ‘THE CRANBERRIES- Ode To My Family’.
“Fujiwara tidak datang?” tanya Byunghun melihat Hyuri naik ke atas panggung menggantikan Ai. “Song Hyuri menggantikannya?”
“Eum, tidak ada Fujiwara.” Minhwan mengamati tim YOWL. “Mungkin dia masih sakit.”
“Dia bisa sakit juga?”
“Dokter Song memberinya cuti setelah ia pingsan,” terang Sunghyun.
Jungshin menggelengkan kepala melihat Hanbyul yang sibuk dengan ponselnya. Ia lalu memperhatikan Myungsoo yang tak berkedip menatap panggung. Jungshin tersenyum kemudian. Menatap Hyuri, entah sadar atau tidak, Myungsoo tersenyum kemudian. Ia benar di buat terpesona oleh gadis itu. Gadis yang sempat membuatnya kacau dengan sikap misterius dan sulit di tebaknya itu.
Ai menyangklet tas gitar di punggungnya. Ia tersenyum usai menempelkan memo kecil di pintu kamar Minki. Ai pun pergi.
-------
“Kau mau kemana?” tanya Hyuri pada Hanbyul yang akan meninggalkan area pesta.
“Menemui Ai.  Dia tak membalas pesan ku juga tak menerima panggilan ku. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya.”
“Aku ikut.”
“Ayo.”
“Kalian akan pergi?” tanya Myungsoo.
“Kami akan mencari Ai.” jawab Hyuri.
“Terjadi sesuatu padanya?”
“Entahlah, tapi aku mengkhawatirkannya.” Jawab Hanbyul.
“Kita pergi bersama.”
“Mwo??” Hyuri kaget melihat Myungsoo bergabung.
“Aku yakin dia sedang di Hongdae sekarang. Aku tahu tempat ia biasa berada.”
“Baiklah. Kita pergi bersama.” Hanbyul setuju dan ketiganya pergi bersama meninggalkan tempat pesta.
Yiyoung berdiri di tempat melihat Hanbyul, Myungsoo dan Hyuri yang buru-buru meninggalkan tempat pesta. Jinwoon juga Ai sama-sama tak menghadiri pesta malam ini. Yiyoung benci melihat keakraban dua member Viceroy dan Song Hyuri itu juga kenyataan tak hadirnya Jinwoon dan Ai yang menimbulkan rumor baru.
“Kenapa kau disini?” Yong Junhyung menghampiri Yiyoung.
“Oh, Oppa. Baru kembali dari toilet.”
“Ayo.”
“Nee.” Keduanya kembali ke area pesta.

Ai sampai di Hongdae. Ia berhenti di tempat favoritnya dan mulai mempersiapkan pertunjukannya. Ai mulai menggenjreng gitarnya memainkan intro lagu ‘Best I Ever Had-Vertical Horizon’. Ai menggenjreng gitar dan bernyanyi menikmati pertunjukan solo jalanannya.
Jaejoong berkeliling namun tak menemukan Hyuri. Ia kaget ketika Yiyoug tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Jaejoong diam menatap Yiyoung yang berjalan mendekat padanya.
“Selamat atas kesuksesan YOWL. Pertarungan itu, aku rasa kalian yang pantas di sebut pemenang.”
“Oh, gomawo.” Jaejoong sedikit salah tingkah.
“Benarkah itu semua ide dari Fujiwara Ayumu?”
“Nee, kurae. Itu semua, konsepnya juga patner kami, Ai yang menentukan.” Jaejoong berubah antusias ketika bercerita tentang Ai.
Yiyoung tersenyum kecil, senyum kecewa. “Kau mencari Song Hyuri?”
“Nee. Kau tahu dia dimana?”
“Aku melihatnya pergi bersama Kim Myungsoo dan Jang Hanbyul.”
“Mwo??”
“Aku tak sengaja melihat mereka. Mereka keluar bersama.”
Jaejoong menundukan kepala. “Kemana mereka?” bisiknya.
Yiyoung maju dua langkah lebih dekat pada Jaejoong membuat Jaejoong heran. “Kim Jaejoong, boleh aku tahu apa hubungan antara Fujiwara dan Jung Jinwoon Sunbae?”
“Nee??”
“Foto-foto mereka, mustahil jika kau tidak tahu ada hubungan antara Fujiwara dan Jinwoon Sunbae.”
“Hagh! Selama ini kau mengacuhkan aku, lalu sekarang kau menemui aku hanya untuk bertanya tentang ini?”
“Ma’af bukannya aku mengacuhkan mu, hanya saja aku merasa tidak nyaman pada semua tindakan mu.”
“Aku minta ma’af tentang itu. Kau ingin tahu apa hubungan Ai dan Jung Jinwoon?”
“Nee.”
“Mereka punya hubungan yang sangat khusus, hubungan lebih dari yang kalian duga. Hanya itu yang bisa aku katakan. Bukan hak ku untuk menjawab lebih dari ini, ma’af.”
Yiyoung tampak kecewa. “Nee, gwaenchana. Gomawo.”
“Kau tertarik pada skandal itu? Ai dan Jinwoon?”
“Aniya. Hanya merasa aneh saja. Stardust tak ada hubungannya dengan YOWL tapi bagaimana Fujiwara bisa bersama Jinwoon?”
“Hagh! Jadi kau berpikir benar tentang rumor skandal Ai dan member Viceroy adalah tak-tik kami?”
“Bu-bukan begitu…”
“Hagh!” Jaejoong meninggalkan Yiyoung begitu saja.
Yiyoung terdiam di tempat ia berdiri. Kini pemuda yang dahulu sangat menggila padanya juga bersikap dingin padanya.
Jaejoong berjalan cepat meninggalkan Yiyoung. Ia heran kenapa jantungnya tak lagi berdetub kencang? Padahal ia bicara dengan jarak sedekat itu dengan Yiyoung. Dan bukan senang yang di rasa Jaejoong sekarang, melainkan kesal.

Penonton bertepuk tangan ketika pertunjukan Ai selesai. Satu per satu dari mereka memberikan uang sebelum pergi. Ai kembali merapikan gitarnya. Malam ini ia hanya tampil membawakan satu lagu dan penonton menerimanya. Ai merasa kondisinya belum pulih penuh namun ia jenuh dan memaksa pergi. Ai baru menyadari jika tiga penonton yang tersisa adalah Myungsoo, Hyuri dan Hanbyul.
“Kalian.” sapa Ai santai sambil merapikan tas gitarnya. “Sejak kapan kalian di sana?” Ai sudah menyangklet tas gitar di punggungnya. Ia berjalan mendekati Myungsoo, Hyuri dan Hanbyul. Ai tersenyum melihat Hyuri. “Sempurna! Kau cantik sekali malam ini. Pestanya telah berakhir?”
Hanbyul menghela nafas kesal. “Ya! Fujiwara.” Ai menoleh dan menatap Hanbyul yang menatapnya kesal.
“Aku tidak tertarik pada pesta itu. Aku sudah baikan dan merasa bosan di rumah, Minki Oppa pergi, semua pergi, karenanya aku kemari.” Terang Ai.
 “Bukankah Dokter Song meminta mu untuk istirahat, kenapa kau malah berkeliaran di sini? Kau disini sendirian? Orang-orang di tempat pesta menggila karena kau juga Jinwoon Sunbae tak datang. Sebagian dari mereka berpikir kalian pergi untuk berkencan.”
“Mwo?? Ish! Tugas ku untuk istirahat sudah selesai, aku bosan dan aku kemari untuk mengusir rasa itu. Kau atau orang-orang di pesta yang berpikir aku berkencan dengan Jinwoon Oppa?”
“Op-oppa? Kau bahkan memanggil Jinwoon Sunbae, oppa?”
“Nee, Jinwoon Oppa, wae??”
Hyuri dan Myungsoo diam menatap dua makhluk yang sedang bertengkar ini, bukan tapi berdebat. Ai dan Hanbyul.
“Oppa?? Hubungan kalian sedekat itu hingga kau memanggilnya oppa?”
“Nee. Jinwoon Oppa… kenapa kau terlihat tak senang? Jinwoon Oppa…” Ai tak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Jinwoon Sunbaenim adalah kakak Ai, mereka saudara sedarah.” Sahut Hyuri.
“Mwo??” mulut Hanbyul membulat tak percaya mendengarnya. Ia menatap Hyuri lalu Ai. Myungsoo pun sama terkejut dan menatap Ai beraharap gadis itu memberi penjelasan.
“Huft… benar. Aku dan Jung Jinwoon, kami saudara satu ayah.” Mendengar jawaban Ai Hanbyul dan Myungsoo makin di buat ternganga. “Panjang ceritanya. Hidup ku terlalu complicated dan aku rasa walau aku ceritakan, kalian tidak akan paham.”
“Ya! Kau pikir kami bodoh hingga tidak bisa menela’ah cerita jalan hidup mu?” protes Myungsoo.
“Kalian kenapa kemari?” Ai balik bertanya mengabaikan pertanyaan Myungsoo.
“Dia mengkhawatirkan mu,” sela Hyuri sambil menunjuk Hanbyul.
“Lalu kau?” tatapan Ai benar-benar mengadili Myungsoo.
“Hanbyul terus mengkhawatirkan mu dan aku melihat ia akan pergi bersama Hanbyul. Aku yakin kau di Hongdae dan aku mengantar mereka kemari karena aku tahu kau pasti disini. Tempat dimana kau biasa menggelar pertunjukan.”
Ai menatap Myungsoo lebih dalam, “apa ini? Intuisi seorang fans?”
“Intuisi fans??”
“Lupakan. Song Hyuri, kau mau jalan-jalan berkeliling Hongdae?”
“Tentu saja aku mau!” Hyuri antusias.
“Dasar anak rumahan. Kim Myungsoo, kau bisa jadi pemandu kami?”
“Nee??”
“Kau tahu banyak tentang Hongdae? Jadilah pemandu kami.”
“Nee?? Aam, aku hanya tahu restoran Omma ku.” Myungsoo malu-malu.
Ai tersenyum menyincing. “Kau sama payahnya dengan Hyuri. Pasangan yang klop.”
“Mwo??”
“Ayo jalan.” Ai berjalan memimpin.
Hanbyul –Ai dan Myungsoo-Hyuri berjalan-jalan berkeliling Hongdae. Ini seperti double date dadakan. Ai mengajak ketiganya jajanan jalanan. Mereka bahkan sempat makan malam bersama. Dalam momen itu Ai memenuhi permintaan Hanbyul, ia menceritakan tentang dirinya dan Jinwoon. Melihat Hyuri berjalan menyilangkan tangan, Myungsoo melepas jasnya dan memakaikannya pada Hyuri. Hyuri kaget menerima perlakuan Myungsoo dan merasa sungkan. Myungsoo tersenyum tulus dan memberi isyarat agar Hyuri tetap memakai jasnya. Hyuri pun tersenyum membenahi jas Myungsoo.
-------
Myungsoo mengantar Hyuri pulang.
“Gomawo.” Hyuri melepas jas milik Myungsoo dan hendak turun.
“Song Hyuri.” Tahan Myungsoo.
“Nee??”
“Setelah ini, apa kita bisa tetap berteman?”
“Kau ingin berteman dengan ku?”
“Nee. Aku telah melepas seseorang karena keangkuhan ku, kini aku tidak mau mengulangi kesalahan ku lagi. Jadi bisakah kita berteman dan melanjutkan hubungan baik ini?”
“Orang yang kau maksud adalah Ai kan? Hagh! Cepat sekali berpindah? Aku khawatir kau sedang mabuk sekarang . Pikirkan ulang ucapan mu. Gomawo sudah mengantar ku pulang.”
Myungsoo meraih tangan Hyuri dan menarik gadis itu. Kemudian Myungsoo mencium bibir merah Hyuri.
-------
Hanbyul dan Ai berdiri berhadapan. “Pulanglah. Gomawo sudah mengantar ku.”
Hanbyul meletakan tangan kanannya di kening Ai. “Sudah tidak demam.”
“Nee. Besok aku akan kembali sekolah. Masa hibernasi ku sudah habis.” Keduanya tersenyum bersama.
“Boleh aku memanggil mu, Jiyoo? Setelah kau menceritakan semuanya, aku rasa nama Jung Jiyoo lebih cocok untuk mu.”
“Itu nama rahasia. Hanya keluarga Jung dan Minki Oppa yang memanggil ku demikian. Minki Oppa hanya memanggil ku Jiyoo jika kami sedang berdua atau sa’at bersama member YOWL saja.”
“Pantas saja Daehyun selalu memanggil mu Jiyoo Fujiwara.”
“Anak itu. Dia bisa jadi sangat menyusahkan. Tapi dia yang paling semangat menyatukan aku dan Jinwoon Oppa.” Ai tersenyum mengenangnya.
Hanbyul tersenyum melihat ekspresi Ai. “Terima kasih sudah percaya aku.”
“Aku rasa cepat atau lambat akan ketahuan juga jika aku dan Jinwoon Oppa ada;ah saudara satu ayah.”
“Itu tidak buruk kan? Setidaknya mereka tidak akan menuduh mu macam-macam dengan Jinwoon Sunbae.” Keduanya terdiam. “Baiklah, aku pergi.”
Ai mengangguk. Hanbyul mulai melangkah membelakangi Ai. Hanbyul tiba-tiba kembali dan mencium kening Ai selama beberapa detik. Mata bulat Ai melebar. Ia tak menyangka jika Hanbyul akan menciumnya seperti ini.
Jaejoong yang menunggu Ai dan bertahan di tempat persembunyiannya melihat semua kejadian antara Ai dan Hanbyul. Jaejoong berdiri mematung melihat Hanbyul mencium kening Ai. Seketika itu tubuh Jaejoong terasa panas. Tangannya mengepal dan gemetar karena menahan emosi.
Hanbyul melepas kecupannya dan tersenyum menatap Ai yang tak bisa menyembunyikan rasa shocknya. “Good night and dream of me tonight.” Hanbyul lebih dekat pada Ai. “Saranghae…” bisiknya. Hanbyul kembali tersenyum dan pergi meninggalkan Ai yang berdiri mematung menatapnya.


-------TBC-------

matur suwun ^_^

 

You Might Also Like

0 comments

Search This Blog

Total Pageviews