Khayalan shytUrtle

EDELWEISS

05:04



EDELWEISS

Cinta itu abadi dan tak bersyarat. Cinta yang kupilih adalah cinta yang kan ku lepas dan cinta yang tak akan pernah aku miliki. Namun rasa cintaku ini, abadi, untuknya, selamanya…
Senyum hangat mentari menembus lebatnya pepohonan rindang hutan Orea.  Hutan pelindung bagi negeri Elsdon yang berdiri kokoh di baliknya. Makhluk kecil bersayap hijau lembut seperti kupu-kupu, dengan memakai baju yang terbuat dari mahkota bunga mawar merah hati ini terbang menuju salah satu sudut hutan Orea. Pepohonan dan hewan yang melihatnya, menyapa ramah peri pembawa berkah kekayaan dan kemakmuran ini. Hazel Goblinglow, membalas sapaan makhluk-makhluk Tuhan itu dengan senyum ramahnya.
Hazel sampai di tempat tujuannya. Sebuah pohon yew yang sudah berumur 1000 tahun. Pohon yew besar yang memiliki pintu dan jendela serta ruang singgah di dalamnya. Tempat tinggal salah satu sahabatnya. Hazel tersenyum lalu menyelinap masuk dari celah jendela yang terbuka.
“Selamat pagi, Amabel!” Sapa Hazel pada sahabatnya. Seorang penyihir yang sibuk di depan kuali besar entah membuat ramuan apa sepagi ini. Nenek renta dengan kulit keriput, hidung panjang dan besar serta beberapa kutil di wajahnya itu tak membalas sapaan Hazel, masih sibuk mengaduk-aduk isi kuali yang mulai mendidih. “Aku benci wujud ini!” Namun penyihir itu masih mengacuhkan Hazel membuat peri kecil itu mendengus kesal.
“Kau tidak lelah usai membagikan berkah musim semi semalaman dan langsung menggangguku sepagi ini?” Tanya Amabel Winola dengan suara rentanya.
“Kau tidak lelah usai membagikan ramuan kesuburan pada ladang-ladang petani semalaman dan langsung membuat ramuan sepagi ini?” Hazel balik bertanya. “Jadi aku tak salah lihat, nenek sihir dengan kostum serba hitam, duduk diatas sapu terbang semalam adalah kau, Amabel Winola.”
“Aku terlelap merajut mimpi semalaman.”
“Kau tidak pandai berbohong Amabel Winola. Bahkan kau belum merubah wujudmu. Kenapa? Kenapa wujud ini? Ini yang paling tidak aku sukai. Laki-laki setengah raksasa, tak mengapa, tapi nenek renta ini? Kau tampak mengerikan dan sedikit… menjijikan. Dan sapu terbang? Kemana Gentala? Raja naga yang banyak di perebutkan para penggila kekuasaan itu? Kau memilikinya namun memilih sapu terbang? Ayolah, Amabel, ini tidak lucu!”
Amabel tersenyum manis. “Beginilah masyarakat mengenal penyihir yang sesungguhnya. Gentala harus banyak istrirahat, luka bekas pertempuran itu baru pulih.”
“Baiklah, apapun yang kau katakan dan membuatmu nyaman.” Hazel menyerah. “Kau tak turun ke pusat kota? Perayaan musim semi dan sambutan bagi pasukan istana yang kembali pulang dengan kemenangkan. Pasti sangat menyenangkan. Ah, kau pasti tahu lebih banyak dari yang aku tahu. Amabel, kau akan bertemu dengannya kembali. Untuk kali ini saja, tunjukan wujud aslimu dan temui dia, bertatap muka dengannya. Panglima pejuang istana, hapus semua rasa penasaran padanya.”
“Selesai! Kaum Haley akan mengambilnya.”
“Kurcaci-kurcaci itu lagi? Berhenti meminta mereka melakukan ini. Lakukan sendiri, ayolah. Apa setelah tiga tahun ini kau akan tetap bertahan demikian?”
“Gentala!” Panggil Amabel seraya membuka pintu. Naga bersayap dengan ukuran luar biasa itu segera mendarat di depan sang majikan. “Kita harus memetik beberapa ramuan obat di bukit dan di tepi air terjun. Ayo kita bekerja.” Amabel naik keatas punggung naga dan kemudian naga itu terbang meninggalkan Hazel yang melayang tepat di depan pintu.
Tak lama kemudian tujuh kaum Haley (kurcaci) sahabat Amabel datang dan mengambil ramuan yang sudah tertata rapi dalam beberapa anting anyaman bambu. Hazel menggelengkan kepala melihat mereka dan kembali menatap langit dimana naga terbang sudah tak terlihat lagi.
***
Tujuh kaum Haley menyambut rombongan pejuang istana. Mereka berhenti untuk istirahat dan bermalam sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke negeri Elsdon. Butuh waktu lima hari untuk melewati hutan lebat ini dan di hari ketiga baik itu berangkat atau pulang kembali, rombongan pejuang istana akan berhenti di titik ini. Untuk menerima segala kebaikan dari tujuh kaum Haley, sejak tiga tahun yang lalu.
Handaru, Hedona, Kamala, Taraka, Taksa, Layana dan pemimpin mereka Gantari dengan setia melayani para pejuang istana ini. Menjamu mereka dengan hidangan lezat dan ramuan yang selalu mampu mengembalikan tenaga mereka kembali. Hazel mengikuti tujuh kaum Haley ini sejak mereka meninggalkan kediaman Amabel. Ia duduk tenang diatas pundak Gantari. Para manusia itu tak dapat melihatnya karena wujud Hazel yang sebenarnya hanya mampu terlihat oleh manusia biasa saat bulan purnama tiba. Tatapan Hazel hanya terfokus pada panglima pasukan ini.
“Wahai sahabatku, ini tahun ketiga kami menerima segala kebaikan ini, namun tak satupun dari tujuh sahabatku ini yang mau berbicara tentang kebenaran atas dugaan kami, benarkah segala kebaikan ini berasal murni dari tujuh sahabatku ini atau ada campur tangan orang lain.” Pangeran Alden Carney kembali mengusik pertanyaan yang sama. Tujuh kaum Haley menunduk dan saling menyikut.
“Tidak bisakah kami bertemu langsung dengannya? Ini tak luput dari penyihir baik hati bernama Amabel Winola bukan?” Sambung panglima pejuang, yang sedari awal terus di perhatikan oleh Hazel, Edsel Yodha Jarvis.
“Dia tahu tentang Amabel Winola?!” Seru Hazel kaget. “Katakan itu benar! Iya, ini ulah Amabel Winola! Penyihir baik hati yang selalu membantu dan menjaga negeri Elsdon. Katakan kebenaran ini Gantari!” Hazel antusias.
“Maaf kami harus pergi. Selamat istirahat dan kami akan kembali saat makan malam tiba.” Gantari pamit pergi. Hazel mendengus kecewa saat tujuh kaum Haley ini benar-benar pergi.
***
Seekor burung hantu coklat besar hinggap tenang diatas dahan sebuah pohon. Kedua mata bulat dan tajamnya mengamati tujuh kaum Haley yang sedang melayani para pejuang istana makan malam. Hazel duduk disampingnya, turut mengamati kegiatan di bawah sana.
“Selama tiga tahun bertahan seperti ini, mengaguminya dalam sisi yang tak bisa terlihat olehnya, panglima itu, Panglima Edsel. Dia memang benar tampan dan menawan. Aku masih bisa mengingat setiap detail sikap bodohmu, Amabel Winola. Capung kecil dan kupu-kupu yang tiba-tiba muncul mengiringinya, itu kau. Bunga-bunga yang selalu kau selipkan untuknya. Cinta? Ini yang kau sebut cinta dan mencintai? Aku tak paham akan cinta yang kau pilih ini. Kalian sesama manusia, harusnya kau mencoba menunjukan cinta itu padanya. Kalian bisa bersatu dan memupuk cinta itu bersama.”
Blup! Burung hantu di samping Hazel berubah menjadi seorang pria, seorang kakek. “Cinta yang aku pilih tak bersyarat. Cinta yang aku pilih tak ingin aku ungkap. Cinta yang aku pilih akan ku lepas, agar ia bebas terbang memiliki hati yang ia pilih. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk cintaku.”
“Kau bisa lebih dari ini namun kau enggan melakukan yang lebih dari ini. Manusia itu penuh misteri dan sulit di pahami. Kau mengatakan cinta namun kau melakukan tak seperti yang aku tahu kebanyakan tentang cinta pada manusia. Ah, itu membuat kepalaku sakit. Aku pergi! Sisa-sisa tugasku menunggu. Selamat menikmati pengintaian ini Amabel Winola!” Hazel terbang kemudian menghilang dalam kegelapan malam.

Tiga tahun yang lalu, saat musim dingin tiba. Amabel dibuat iri oleh kecantikan mawar ditengah musim dingin, bunga Camellia Japonica. Bunga yang tetap bertahan dan mekar indah menebarkan wanginya di tengah musim dingin yang beku. Amabel telah menguwasai semua, berganti wujud menjadi berbagai macam manusia dan hewan, namun tidak mudah untuk wujud tumbuhan. Hari itu ia berlatih keras di tengah hawa dingin, Amabel berusaha merubah wujudnya menjadi tanaman semak berbunga yang di kenal sebagai spesies terbaik dari kamelia ini.
Berhasil. Amabel berhasil berubah wujud. Entah karena benar berhasil atau karena efek terkejut ketika seseorang tiba-tiba muncul di area itu. Seorang pemuda dengan baju khas pejuang istana. Pemuda tampan berambut pirang ini, tatapannya langsung tertuju pada semak yang sedang berbunga lebat, bunga indah berwarna putih bersih bak salju. Pemuda tampan itu menghampirinya, tersenyum dan mencium wangi bunga mawar di tengah musim dingin yang tak lain adalah penyihir Amabel Winola ini. Amabel tak pernah merasakan ini sebelumnya, jantung yang berdetub kencang tak karuan ketika pemuda ini mendekatinya dan mencium salah satu bunga yang tak lain adalah punggung telapak tangan kanannya.
“Kau sangat cantik, cantik sekali. Di tengah musim dingin yang beku ini, kau mekar sempurna dan menebarkan wangimu. Aku Edsel Yodha Jarvis, panglima pasukan pejuang kerajaan. Andai kau bisa bicara, ingin aku bertanya, siapakah namamu wahai makhluk cantik.” Ia tersenyum kemudian pergi. Dan Amabel tertegun dibuatnya.
Hanya dengan media air dalam periuk, Amabel bisa melihat semua tentang seorang Edsel Yodha Jarvis. Semuanya, tanpa terkecuali. Amabel melakukan ini karena sejak pertemuan tidak sengaja itu, wajah Edsel terus membayangi dirinya. Panglima itu benar telah mencuri perhatiannya. Dan sejak saat itu Amabel menjadi pengagum rahasia Edsel. Diam-diam dan tak pernah menampakan wujud aslinya. Capung kecil yang tiba-tiba hinggap di bahu Edsel. Kupu-kupu cantik yang mengiringi Edsel ketika pemuda itu berburu di hutan Orea, dan juga wujud-wujud lainnya, hewan dan tumbuhan. Tiga tahun berjalan demikian.
***
Edsel tersenyum manis mendapati seikat bunga lili putih. Ia kemudian mengamati sekitar namun taak berkata sepatah kata pun. Hanya tersenyum.
“Kau melakukannya lagi.” Hazel melayang di samping monyet coklat yang duduk di atas pohon, mengamati rombongan pasukan pejuang istana yang bersiap pergi. “Kau masih menganggapnya tak wajar? Rasa yang kau miliki, yang kau rasakan untuknya? Kau juga manusia, Amabel Winola.”

Rakyat Elsdon menyambut riang kepulangan para pejuang istana yang lagi-lagi membawa kemenangan. Putri Yocelyn tersenyum bahagia menyambut kepulangan pasukan pejuang istana. Ia tak hanya bahagia karena pasukan kerajaan kembali menang dan sang Kakak, Pangeran Alden Carney pulang dengan selamat. Namun ia juga bahagia melihat sang kekasih, Panglima Edsel kembali tanpa kurang satu apapun. Apalagi Edsel memberikan seikat bunga lili putih nan harum untuknya. Perjalanan kali ini Edsel mendapatkan bunga lili dan seperti sebelumnya, ia memberikan bunga-bunga itu untuk sang pujaan hati, Putri Yocelyn.
“Perjalanan kali ini… lili putih.”
“Em.” Edsel tersenyum dan mengangguk. “Apa bunga lili adalah lambang dari musim semi?”
“Sangat cantik bukan?”
“Apa artinya?”
“Lili putih, sederhana. Ia biasa tumbuh subur di hutan, itulah kenapa para pencari kayu bisa dengan mudah menemukannya dan memetiknya kemudian di bawa pulang untuk sang istri tercinta. Sederhana namun bermakna dalam. Bagi para penebang kayu, bunga ini hanya melambangkan perasaan kagum mereka kepada sang istri, namun di balik itu, lili putih berarti cinta yang dalam namun di liputi duka. Bunga bagi bintang dan matahari.” Putri Yocelyn menghentikan langkahnya di ujung balkon lantai dua istana. Tatapannya lurus, menatap rimbunnya hutan Orea yang bisa terlihat jelas dari sini. Edsel berhenti di samping kanannya.
“Kau tak ingin bertemu dengannya?”
“Bertemu dengannya?” Edsel menoleh menatap Putri Yocelyn.
“Kau tidak penasaran? Benarkah ini ulah penyihir misterius Amabel Winola? Penyihir baik hati yang sangat di sayangi rakyat Elsdon. Dia memberikan kasih sayang pada kita semua, namun jika benar ini ulahnya, kau pasti sangat istimewa baginya.”
“Tuan Putri menyetujui pendapat Pangeran Alden?”
“Nafas hutan Orea, hampir semua mengatakan Amabel Winola. Dialah ratu hutan Orea. Sungguh kau tak ingin bertemu langsung dengannya? Melihat wujud aslinya? Menghapus rasa penasaran itu di hatimu? Hanya sekedar untuk mengatakan terima kasih atas nama pasukan pejuang kerajaan dan juga negeri Elsdon.”
Edsel menghela nafas, beralih ke hadapan Putri Yocelyn. Menatapnya. “Ada apa sebenarnya? Kekasihku ini, kenapa tiba-tiba mengatakan hal demikian? Apakah dia mulai mencurigaiku? Meragukan aku?”
Putri Yocelyn tersenyum lalu mengelus lengan kiri Edsel dengan lembut dan penuh kasih. “Tak pernah meragukanmu, sama sekali tak pernah. Hanya saja aku merasa tak enak jika kau menahan diri untuk tak mencari tentang kebenaran ini hanya karena alasan takut melukaiku. Tak mungkin jika kau tak penasaran bukan?”
Edsel membentuk lengkungan indah di bibirnya. Senyuman yang selalu mempesona siapa saja yang melihatnya. Begitu juga bagi Putri Yocelyn. “Gadis ini yang sangat aku cintai dan aku ingin ia berbagi kehidupan denganku, melahirkan anak-anakku kelak. Tak akan aku bagi rasa ini dengan siapapun. Namun tak bisa aku pungkiri jika kebaikan yang diberikan, yang mungkin adalah ulah Amabel Winola kepada kami membuatku penasaran. Tapi aku rasa itu tak mungkin karena aku. Ada Pangeran Alden bersama kami, selama tiga tahun ini.”
“Apa Pangeran Alden mendapatkan bunga-bunga dan segala kebetulan itu?”
“Jadi kau benar berpikir Amabel Winola itu menyukai ku? Membenarkan analisis Pangeran Alden yang juga di rundung penasaran?”
“Itu yang aku rasakan sebagai sesama wanita. Aku merasakannya.”
“Itu tidak mungkin.”
“Penyihir juga manusia, begitu juga Amabel Winola. Begitu banyak gambaran tentang Amabel Winola… yang mana yang benar? Aku pun sangat penasaran. Siapakah pesaingku ini.”
“Putri…”
Putri  Begitu banyak gambaran tentang Amabel Winola… yang mana yang benar? Aku pun sangat penasaran. Siapakah pesaingku ini.”
“Putri…”
Putri Yocelyn tersenyum menatap langit senja.
***
Lelaki tua, wujud Amabel kali ini, duduk di atas bukit, menatap pemandangan yang paling ia sukai. Senja. Gentala tertidur lelap tak jauh darinya. Lelaki tua ini. Amabel Winola, tersenyum. Masih menikmati indahnya senja.
Langit berubah hitam. Cahaya terang purnama penuh menemani kilauan bintang-bintang. Hiasan malam. Hazel terbang sejauh ini. Memasuki kawasan istana. Harapan hanya satu, bertemu Edsel. Tapi dimana tempat tinggal panglima tampan itu? Taman. Tujuan yang pasti dipilih Hazel. Ia terbang di atas rimbunnya perdu bunga sedap malam yang sedang mekar sempurna.
“Oh!” Hazel menarik diri, bersembunyi.
Edsel melihatnya. Cahaya germelap diantara rimbunya bunga sedap malam. Hamparan putih lengkap dengan wanginya yang tajam. Perlahan Edsel mendekat. “Aku melihatmu. Dan aku yakin kau masih disana. Keluarlah, siapapun itu.” Kata Edsel yang kemudian berhenti jarak satu lengan dari satu tangkai bunga sedap malam yang di penuhi bunga-bunga putih yang sedang mekar sempurna. Harumnya semerbak, semakin tajam tercium hidung mancung Edsel yang sedikit membungkuk lebig dekat pada tanaman perdu ini.
“Keluarlah. Aku tidak akan menyakitimu.”
Malu-malu Hazel keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan kedua tangan yang ia simpan di balik punggungnya, Hazel menampakan diri. Edsel terbelalak. Ia tak percaya pada apa yang di lihatnya. Ia melihat seorang, peri. Makhluk mungil yang cantik dan bersayap.
“Hallo! Aku Hazel Goblinglow. Aku peri pembawa kekayaan dan kemakmuran. Kau bisa melihatku karena malam ini adalah malam bulan purnama, puncak cahaya penuh.” Hazel memperkenalkan diri.
“Hallo. Aku panglima pasukan pejuang istana, Edsel Yodha Jarvis.”
“Aku tahu! Setiap tahun, kau melewati hutan Orea bukan?”
“Kau tinggal di hutan Orea? Dan kau mengenalku?”
“Seluruh nafas kehidupan berasal dari hutan Orea dan aku mengenalmu, dengan baik. Aku rasa begitu, menurutku.”
Edsel tersenyum tulus, ia sedikit tersipu mendengarnya. “Terima kasih. Jadi malam ini kau datang untuk menebar berkah kekayaan dan kemakmuran bagi istana?”
“Tidak untuk kali ini. Aku datang karena alasan lain. Bertemu denganmu.”
“Bertemu denganku?”
“Karena sahabatku.”
“Karena sahabatmu?”
“Dia mengagumi mu.”
“Mengagumi ku?”
“Ah, aku tak suka teka-teki seperti ini.” Hazel meletakan satu tangannya di pinggang. Terbang lebih tinggi setara pandangan lurus Edsel. “Kau tahu tentang Amabel Winola?”
“Seluruh negeri mencoba tahu tentangnya, begitu juga aku, namun hanya sedikit yang aku tahu.”
“Dialah sahabatku. Karenanya aku menempuh jarak dalam waktu istirahatku dari tugas, kemari, untuk bertemu denganmu.”
“Dia memintamu kemari? Menemuiku?”
“Tidak. Ini keinginanku sendiri. Bagaimana menurutmu? Tentang Amabel Winola itu?”
“Em?” Edsel sedikit terkejut. Ia tampak berpikir sejenak. “Dia bukan penyihir, tapi peri sepertimu.”
“Kau tak ingin bertemu, bertatap muka dengannya?”
“Tak seorang pun tahu siapa sebenarnya Amabel Winola, dimana ia tinggal. Bahkan tujuh kaum Haley yang setia menyambut kami setiap tahun tak satupun dari mereka mau membuka mulut tentang Amabel Winola.”
“Jadi kau tahu itu ulahnya? Amabel Winola?”
“Benar orang di balik itu semua adalah Amabel Winola?”
“Demi hutan Orea! Adakah penguasa lain disana? Nafas dari hutan Orea, segala kebaikan dari dalamnya, karena Amabel Winola. Entah apa menurutnya, kenapa dia mengagumi mu?”
“Mengagumi ku? Amabel Winola mengagumi ku?”
“Demi semua  makhluk! Kau bukan orang bodoh kan? Panglima Edsel. Sejak… aku tak tahu kapan pastinya, yang jelas sudah berjalan tiga tahun ini.”
“Kau mengatakan aku bisa melihatmu karena malam ini adalah malam bulan purnama dengan puncak cahaya penuh, jadi itu tujuanmu?”
“Mungkin setelah ini hidupku akan berakhir. Aku mengkhianatinya. Mungkin dia akan membekukan aku selamanya. Aku hanya peri pembawa kekayaan dan kemakmuran, bukan peri pejuang. Aku tak akan sanggup melawannya. Riwayatku akan tamat.” Hazel terus bergumam sambil terbang makin jauh meninggalkan Edsel yang masih menatapnya, kebingungan.

Hazel terbang pelan dengan kepala tertunduk. Sebentar lagi fajar akan segera terbit. Ia tak akan bisa menghindar. Amabel pasti mengetahuinya. Apa yang telah ia lakukan.
“HAGH!!!” Hazel terkejut dan berhenti seketika. Melayang dalam jarak ini dari sekuntum bunga tulip, tempat tinggalnya. Nenek renta itu berdiri di atas salah satu helai daun pohon bunga tulip yang menjadi tempat tinggal Hazel. Tamatlah riwayatku! Batin Hazel ketakutan.
“Aku jamuran menunggumu! Kenapa kau malah melayang seperti itu?”
“Am-mabel, kak-kau…”
“Bantu aku mempersiapkan bibit-bibit bunga edelweiss terbaik. Aku butuh bantuanmu. Waktu kita tak banyak.”
“Bunga edelweiss?? Kau tak marah padaku??”
“Aku tak mau membuang sia-sia energiku untuk marah pada capung kecil sepertimu! Lagipula hatiku sedang senang, mood ku sempurna. Aku ingin menanamnya, bukan hanya bunga edelweiss namun bunga-bunga lainnya. Ayo pergi!”
Hazel tersenyum lega dan segera terbang menyusul Amabel.
***

Hazel paham. Inikah alasan kenapa Amabel meminta bantuannya memilih bunga edelweiss dengan kualitas terbaik. Pernikahan Putri Yocelyn dan Panglima Edsel. Malam itu diam-diam Amabel menyelinap masuk dalam gedung dan membuat dekorasi yang sangat indah untuk pesta perayaan pernikahan putri dan panglima.
Tidak hanya kedua mempelai yang dibuat terpesona, namun semua yang melihat dekorasi tempat pesta yang menurut para pelayan istana terjadi secara misterius. Pesta di gelar begitu meriahnya. Undangan yang datang berjumlah tak sedikit. Putri Yocelyn dan Panglima Edsel terlihat sangat bahagia.
Sepasang mata elang Edsel menangkap sekelebat gadis. Gadis yang memperhatikannya lalu sempat tersenyum padanya. Edsel bisa melihatnya walau wajah gadis itu tertutup cadar ungu yang ia kenakan. Mata bulat nan indah gadis itu tak bisa menyembunyikan senyum di balik cadar itu. Edsel mengejarnya. Menembus kerumunan para tamu hingga keluar dari tempat pesta. Edsel berjalan cepat tak jarang berlari kecil mengejar sosok misterius itu. Sampai di taman istana. Hening. Tak ada siapapun disana. Hanya seikat bunga edelweiss yang tergeletak diatas bangku taman yang berhasil ia temukan. Edsel memungutnya dan mengakati sekitar. Benar-benar hening. Tak ada tanda-tanda adanya manusia lain selain dirinya. Edsel tersenyum. Lalu ia mendongakan kepala, menatap langit malam yang begitu terang karena cahaya bulan purnama di awal musin gugur ini. Edsel terbelalak melihatnya. Naga terbang namun nun jauh tinggi di angkasa dan hanya tampak seperti bayangan hitam yang bergerak mendekati bulan purnama yang sedang bersinar sempurna.
***

“Aku tak paham apa itu cinta dan mencintai. Aku pun tak hentinya dibuat heran kenapa manusia menjadi sangat bodoh karenanya.” Hazel duduk menyangga dagu dengan kedua tangannya.
“Senja di musim gugur, sempurna bukan?” Suara yang terdengar kali ini begitu lembut, suara seorang gadis.
Angin musim gugur berhembus sedikit kencang diatas bukit hingga menyibak cadar hitam yang menutupi wajah gadis ini, penyihir baik hati, Amabel Winola. Hazel tersenyum melihat kecantikan yang sedikit mengintip dari balik cadar yang bergoyang karena tiupan angin. Inilah wujud sebenarnya dari seorang Amabel Winola. Gadis muda yang selalu mengenakan cadar, berkulit putih dan rambut coklat keriting yang tergelung sebagian.
Cinta itu abadi, seperti keindahan bunga edelweiss. Cinta yang ia miliki adalah cinta yang tak bersyarat. Cinta yang ia pilih adalah cinta yang kemudian ia lepas untuk orang lain. Bukan karena ia terlambat atau bukan karena ia tak bisa mendapatkannya. Ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan dengan mudah, termasuk cinta yang ia pilih. Namun ia tak melakukannya, walau ia memiliki mantra dan ramuan-ramuan yang mampu membuat siapa saja bertekuk lutut di hadapannya. Ia memilih menumbuhkan cinta itu abadi di dalam hatinya tanpa harus memiliki cinta yang ia pilih. Cinta yang tak ia ungkapkan secara langsung dan tak akan pernah ia ungkapkan secara langsung. Kami mencintai nafas hutan Orea ini tanpa bukan karena mantra-mantra yang ia rapalkan atau ramuan-ramuan yang sengaja ia sebar. Kamu mencintainya seperti dia mencintai hutan Orea dengan segenap jiwa dan raganya. Aku pun sama. Aku akan tetap berada di sisinya. Berjuang bersama seperti dahulu. Karena aku mencintainya seperti ia mencintai hutan Orea dan negeri Elsdon.
“Kau bergumam dalam hati?” Tanya Amabel membuyarkan lamunan Hazel.
“Tid-tidak!”
“Sudah gelap. Ayo kita bekerja.” Suara wujud wanita muda itu berubah kembali menjadi nenek renta.
Hazel tersenyum lalu terbang dan duduk di pundak Amabel yang sudah duduk diatas sapu terbangnya.
THE END

shytUrtle

Bilik shytUrtle

¤ Happy 7th (14th) Anniversary Sarang Clover ¤

04:40

¤ Happy 7th (14th) Anniversary Sarang Clover ¤



14 tahun yang lalu tiga orang gadis belia duduk di bawah pohon pepaya di temani cahaya bintang dan rembulan, di depan sebuah rumah sederhana, ngobrol. Udah gitu aja hehehe. Nggak lah, mereka berbagi cerita tentang harapan dan impian masing-masing. Witch, Mien dan Androw. Cerita bermula dari sini hingga pada 17 maret 2006 rumah sederhana tempat kami biasa ngumpul bareng resmi memakai nama 'Sarang Clover'. Setiap tahun selalu di ingatkan tentang ini.

17 maret 2013 adalah ulang tahun ke-7 menurut catatan resmi dan ulang tahun ke-14 terhitung mulai awal pencetusan. Semakin tambah umur semakin banyak PR yang belum di kerjakan tuntas. Sarang Clover belum menjadi wadah sesuai impian yang terinspirasi dari Om Bim Bim SLANK dan Om Dik Doank. Apakah harapan ini terlalu tinggi? Sedang saya hanya punguk kecil yang hanya bisa menatap cantiknya rembulan dari bumi tempat saya berpijak. Hujan duit mana hujan duit, hehehe.

Alhamdulillah memasuki angka ke-7 member dari grup fb 'Sarang Clover' udah mencapai angka 69, fantastis. Kenapa? Dulu saya berpikir tak akan ada yang berminat pada grup ini. Namun alhamdulillah mampu mencapai angka diatas 50, bahkan member mulai berasal dari daerah beragam, bukan hanya setaw natales atau malang, bahkan ada yang luar malang. Semoga Sarang Clover benar bisa menjadi grup yang memberikan manfaat bagi seluruh membernya, amin.

Terima kasih buat admin yang udah membantu menjalankan grup ini. Dree yang rajin kasih info, matur suwun. Buat dulur-dulur member yang selalu menyempatkan diri mengunjungi grup, matur suwun. Jangan hanya visit, share sesuatu juga boleh, curhat pun boleh. Free, gratis tanpa di pungut biaya, dapet bonus like dan comment hehehe.

Awalnya menyediakan grup untuk anak-anak wates selatan, alhamdulillah jika peminatnya beragam kini.

Harapan di ulang tahun ke-7, semoga Sarang Clover makin jaya, makin bermanfaat, membernya makin banyak. Amin. Wish all the best aja dah.

Tetap sebarkan cinta dan temukan persahabatan maka duniamu akan damai.



androw.loveclover@sarangclover.com

Fan Fiction FF

The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’ (다음 이야기 화성 아카데미’사랑, 음악과 꿈’)

07:11

The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
            다음 이야기 화성 아카데사랑, 음악과
 
 
. Judul: The Next Story Of Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
. Revised Romanization: da-eum iyagi Hwaseong Akademi 'salang, eum-aggwa kkum'
. Hangul: 다음 이야기 화성 아카데미사랑, 음악과
. Author: shytUrtle
. Rate: Serial/Straight
. Cast
- Fujiwara Ayumu (
藤原歩) aka Jung Jiyoo (정지유)
- YOWL
1. Kim Jaejoong (
김재중)
2. Oh Wonbin (
오원빈)
3. Lee Jaejin (
이재진)
4. Kang Minhyuk (
강민혁)
- Song Hyuri (
송휴리)
- Kim Myungsoo (
김명수)
- Jang Hanbyul (
장한별) and all cast in Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’ ver. 1


New Cast:
- Jung Shin Ae
- Trio Orenji High School:
1. Kim Hyerien
2. Han Sunyoung
3. Song Hami
- Kim Taerin
- Kim Changmi
- Etc…
   

Cinta, musik dan impian adalah tiga ritme yang mampu membuat manusia tetap bersemangat dalam hidup. Cinta akan menunjukan jalan untuk meraih impian, dan musik memberikan harapan dalam mengiringinya. Cinta menguatkanmu, musik menginspirasimu dan impian akan memberimu ribuan harapan untuk tetap berjuang dan hidup…
 
 
 
EPISODE #6
            Ai mempersilahkan masuk Jaesuk dan Sukjin. Sukjin kemudin menjelaskan maksud kedatangannya menemui Ai. Sebelum pergi, Sukjin meninggalkan map biru di meja untuk Ai. Ai hanya duduk memandangi map yang tergeletak di atas meja itu.
            “Tak penasaran pada isinya?” Tanya Minki usai mengantar Jaesuk dan Sukjin keluar. “Aku penasaran, boleh aku buka?” Ai segera menyambar map itu sebelum Minki mengambilnya. Minki tersenyum melihatnya. “Kubuatkan teh untukmu.”
            Ai mempelajari isi map biru itu dengan seksama. Minki kembali membawa dua mug besar berisi teh melati hangat. Ia duduk berhadapan dengan Ai.
            “Oppa, ketika Oppa memutuskan untuk membiarkan Road Sky menempuh karir mereka sendiri, apa yang Oppa rasakan?”
            “Bagaimana denganmu? Apa yang kau rasakan?” Minki balik bertanya.
            “Kehilangan… sangat kehilangan, ada bagian yang hilang dari hidupku.” Tatapan Ai menerawang, kosong.
            “Saat itu, aku pun merasakan hal yang sama. Sangat kehilangan.”
            “Lalu bagaimana mengatasinya?”
            “Jalan yang memisahkan kita, berbeda. Tentu yang di rasa pun berbeda. Aku memutuskan meninggalkan Road Sky karena…” Minki terdiam menatap Ai, “… karena aku tak ingin lagi berkarir di dunia musik.”
            “Bohong. Itu karena aku kan? Harusnya Oppa terbang bersama Road Sky, bukan tertahan di Jeonggu Dong bersamaku.”
            Minki kembali tersenyum. “Menjadi kakak laki-laki dari seorang adik perempuan bukanlah hal yang mudah. Saat itu sangat berat, apakah memlilihmu atau karir bermusikku. Aku berpikir, bermain musik hanyalah hal yang aku senangi. Aku tetap bisa menjalankan hobi itu walau aku tak menjadi bintang besar bersama Road Sky seperti sekarang ini. tapi kau, kau adalah wasiat yang di percayakan padaku dan ini adalah tanggung jawab besar bagiku. Aku tidak menyesalinya, memilihmu daripada berkarir bersama Road Sky, walau benar terasa berat pada awalnya. Entah ini tuntutan tanggung jawab atau apa, tapi aku bersyukur di beri kesempatan merasakan hal ini. Aku menikmatinya. Aku bahagia, bersamamu di sini, di Jeonggu Dong.”
            “Oppa tak jatuh cinta padaku kan?”
            “Mwo??? Ish! Jika aku tak mencintaimu, untuk apa aku bertahan di sisimu? Kau bukan adik kandungku, kau bukan siapa-siapa dari keluargaku.”
            Ai menghela nafas. “Benar juga.” Keduanya kemudian tersenyum bersama dan kembali terdiam. “Aku juga mencintai Oppa. Oppaku yang sempurna. Oppaku yang selalu membuatku tersenyum. Oppaku yang selalu menjagaku, membuatku selalu aman dan nyaman. Oppa yang bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagiku.” Ai menatap Minki penuh kekaguman. “Terima kasih, Oppa, terima kasih.”
            Minki mengelus kepala Ai. “Kau paham sekarang? Selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa.”
            Ai tersenyum dan mengangguk.
            ***
            “Hyuri tak membalas satupun pesanku, dari kemarin.” Keluh Myungsoo.
            “Jiyoo juga bersikap dingin padaku. Tak ada yang kami lakukan, ini sangat aneh. Aku merindukan saat-saat kami dekat dan semua kebetulan-kebetulan itu.” Hanbyul tersenyum mengenangnya.
            “Ada apa dengan mereka? Gadis-gadis ini?” Myungsoo menatap Hanbyul begitu sebaliknya.
           
            Sudah tiga hari ini Hyuri menghindari Viceroy juga Ai dan teman-temannya. Hyuri bersikap acuh walau perlahan suasana di sekolah kembali normal. Hyuri memilih menghindar dari Viceroy juga Ai dan teman-temannya.
            Taerin memegang buku di tangannya namun tak membacanya. Kedua mata Taerin sibuk mengamati sekitar, di taman sekolah tempat ia berada. Tatapan Taerin terhenti pada Viceroy yang terlihat kembali akur bersama Red Venus. “Pada akhirnya, pangeran dan putri kembali bersanding, dan berandalan tetaplah berandalan.” Taerin menutup buku di tangannya.
            Pemuda ini tersenyum. Song Seunghyun. “Ayo kita makan. Aku lapar.” Ajaknya pada Taerin.
            “Skandal kali ini tak bertahan lama sepertinya.”
            “Eum, iya. Menyenangkan karena sekolah kembali tenang dan Jeonggu Dong tak lagi menjadi kambing hitam.”
            “Belum berakhir, aku rasa ini baru awal. Kenapa selalu kita? Anak-anak Jeonggu Dong. Ah, hanya mereka bukan kita, tapi menyeret kita.” Taerin bangkit dari duduknya. “Ayo kita makan.” Ia tersenyum manis pada satu-satunya teman dekat yang ia miliki, Song Seunghyun.
            Seunghyun tersenyum lebar dan mengangguk antusias kemudian menggandeng Taerin ke kantin.
-------
            “Song Hyuri!” Ai menarik Hyuri, membawa gadis itu minggir ke tepi tangga. Hyuri tertunduk di depan Ai. Kedua tangannya yang sedang memeluk sebuah buku tebal terlihat gemetar. “Tak ada Nyonya Shin dank au menyerah ketika Tuan dan Nyonya Song melarangmu dekat denganku. Terima kasih telah berusaha melindungi aku. Tapi jangan acuhkan Myungsoo. Ia tak bersalah Song Hyuri. Ia sama denganmu, hanyalah korban.” Hyuri tertunduk semakin dalam. “Maafkan aku.” Bisik Ai kemudian pergi.
            Hyuri menatap Ai yang berjalan cepat menjauhinya. Air mata Hyuri menetes pelan. “Maafkan aku, Ai… maafkan aku.”
            Junhyung dan Yiyoung berjalan bersama. Keduanya melihat Ai yang berjalan dari arah berlawanan. Langkah Ai mengendur menyadari keberadaan Junhyung dan Yiyoung yang berhenti menatapnya. Ai kembali mengepalkan tangan kanannya, berjalan pelan melewati Junhyung dan Yiyoung sambil menatap keduanya. Ai kemudian kembali berjalan cepat dan pergi.
            Ai berhenti beberapa meter dari klinik. Terlihat Joongki sedang ngobrol bersama salah satu staf pengajar di depan klinik. Ai menatapnya, Dokter tampan itu, Song Joongki. Beginikan akhirnya? Kembali pada titik awal dimana ia tak mengenal Song Hyuri juga Song Joongki. Ai membalikan badan dan berjalan pelan, pergi. Ia harus membiasakan dirinya.
            ***
            Genap seminggu. Hyuri tak berubah. Masih menghindari Myungsoo, Viceroy, Ai dan teman-temannya. Sikap Hyuri ini membuat Myungsoo benar-benar frustasi. Ai juga berubah sikap pada Joongki. Ia terus menghindari Joongki. Ai tak mau Joongki membagi perhatiannya. Ai ingin Joongki fokus pada Hyuri yang pasti sangat sedih dan kesepian kini.
            “Selamat sore Bibi.” Sapa Joongki pada Nyonya Song.
            “Joongki? Kau kemari?”
            “Hyuri, dia ada? Aku ingin mengajaknya jalan-jalan sebentar, boleh kah?”
            “Kau tanyakan sendiri padanya, Hyuri ada di kamarnya.”
            Joongki segera menuju kamar Hyuri yang berada di lantai dua. Joongki hendak mengetuk pintu namun ia mendengar alunan biola dari kamar Hyuri. Joongki membuka pelan pintu kamar Hyuri dan berdiri di ambang pintu menunggu Hyuri selesai memainkan biolanya. Hyuri memainkan instrumen ‘Ali-Hurt’. Terdengar begitu menyayat hati. Joongki terdiam, turut merasa bersalah atas kejadian ini. Joongki segera bertepuk tangan ketika Hyuri selesai memainkan biolanya.
            “Oppa?? Sejak kapan Oppa di sana?”
            “Temani aku jalan-jalan, aku luang.”
            “Maaf, aku malas Oppa.”
            “Sampai kapan kau akan terus begini? Sampai Nyonya Shin kembali?”
            “Nenek… mungkin.”
            “Kau terlihat sangat buruk Hyuri. Ayo kita keluar, menghirup udara segar, bersamaku.” Hyuri tersenyum, akhirnya mengangguk setuju. “Aku tunggu kau di bawah.”
            -------
            Ai memainkan pensil di tangannya sambil menatap buku kosong yang terbuka lebar di depannya. Ai lagi-lagi mencoret lembaran itu dan kembali membuka halaman berikutnya. Ai kembali menulis namun suara gaduh itu mengusiknya. Ai keluar dari kamar kecil itu dan mendapati Hanbyul, Myungsoo, Minhwan dan Byunghun sudah berada di basecamp.
            “Halo, Fujiwara!” Minhwan melambaikan tangan. Hanbyul juga Byunghun tersenyum melihat Ai berdiri di pintu.
           
“Mereka jadi rajin kemari, apa ini tak mengapa?” Komentar Wooyoung.
            “Selama perang dingin berlangsung, aku rasa tak mengapa. Berikutnya yang aku khawatirkan, jika Nona menyatakan tak akan mundur dan mereka mengambil tindakan. Jangan sampai pangeran-pangeran itu menginjakan kaki mereka di Jeonggu Dong jika itu terjadi. Kau paham?” Yongbae menanggapi.
            “Aku mendengarnya, tentang Kibum dan Hanbyul, meminta Bibi Han dan Myeongran Nuna melatih mereka. Bukan kah itu konyol?”
            “Konyol?? Mengingat situasi sekarang, tentu saja tidak. Beruntung sekali Jang Hanbyul itu. Berhasil mendapatkan Nona.”
            “Tak seindah yang kau lihat, menurutku.”
            “Kalian membicarakan siapa?” Sela Shin Ae. “Eh? Mereka kemari??” Shin Ae baru menyadari kehadiran Viceroy. Dan Minhwan segera melambaikan tangan padanya. “Ck! Anak itu.”

            “Genap seminggu, tak ada perubahan dari Hyuri. Ia tetap sama, menghindariku.” Myungsoo lesu.
            “Dia terlihat kacau. Maafkan aku karena tak bisa berbuat banyak. Hyuri juga menghindari aku. Ia tak berani berontak. Entahlah, mungkin menunggu Nyonya Shin kembali.”  Sesal Ai.
            “Aku tahu kau menemuinya. Terima kasih sudah berusaha membantu.”
            “Kau menghindari Dokter Song, beliau bertanya padaku apa kau baik saja.” Sela Hanbyul.
            “Dia satu-satunya yang di percaya Hyuri sekarang. Aku tak mau Hyuri merasa kesepian, karena itu aku menghindari Dokter Song agar ia bisa fokus pada Hyuri. Aku sudah membuat kacau hidup banyak orang. Aku tak tahu bagaimana menebusnya.”
            “Dan apakah kau pikir ini menyelesaikan masalah?” Byunghun ikut bicara. “Kenapa kau jadi begini rapuh Fujiwara Ayumu? Ini bukanlah Fujiwara Ai Ayumu yang aku kenal sebelumnya.”
            “Maaf, aku hanya berbicara tentang kenyataan.” AI tersenyum lesu.
            Hanbyul merangkul Ai dan mengelus lengan gadis itu. Byunghun menatapnya. Minhwan masih menatap Shin Ae. Tatapan Myungsoo terhenti pada gitar akustik yang berdiri rapi di panggung. Myungsoo tersenyum, bangkit dari duduknya dan mengambil gitar itu kemudian kembali bergabung.
            “Ya, Jang Hanbyul, lagu apa yang ingin kau nyanyikan?” Tanya Myungsoo.
            “Nee??”
            “Kau tak ingin bernyanyi untuknya?” Myungsoo menggerakan kepala menunjuk Ai yang duduk di samping Hanbyul.
            Hanbyul tersenyum lebar lalu beralih ke samping Myungsoo dan membisikan sesuatu di telinga Myungsoo. Myungsoo mengangguk paham kemudian bersiap memetik gitar akustik dalam pangkuannya. Hanbyul kembali tersenyum pada Ai. Myungsoo mulai memetik gitarnya dan kemudian Hanbyul menyanyikan lagu Falling Slowly di iringi petikan gitar Myungsoo.
            Hyrui hafal jalan ini. Ini adalah jalan menuju Jeonggu Dong. Hyuri menoleh, menatap tajam Joongki yang kemudian hanya tersenyum manis menanggapinya.
            Suara Hanbyul terdengar begitu merdu di telinga Ai. Ai tersentuh mendengar Hanbyul bernyanyi untuknya. Ai menatap Hanbyul, baru ia sadari jika belakangan ini Ai lebih sering mengabaikan Hanbyul, pemuda yang ia minta untuk tetap tinggal di sisinya. Sejenak Ai menyesali sikapnya pada Hanbyul. Sesekali Byunghun memperhatikan ekspresi Ai, sementara yang lain menikmati pertunjukan duet Myungsoo dan Hanbyul. Byunghun kemudian tersenyum geli melihat bagaimana Minhwan menatap Shin Ae.
            Mobil Joongki tiba di depan basecamp. Hyuri tampak ragu, namun Joongki meyakinkannya. Keduanya turun dan berjalan masuk. Hyuri menghentikan langkahnya di ambang pintu masuk basecamp, melihat Myungsoo memainkan gitar dan Hanbyul bernyanyi. Suara Hanbyul, walau Hyuri tahu Hanbyul tak bernyanyi untuknya, namun Hyuri tersentuh mendengarnya.
            Semua bertepuk tangan memberi penghargaan untuk duet Myungsoo dan Hanbyul. “Song Hyuri?” Hanbyul yang kebetulan menghadap pintu masuk basecamp. Yang lain kompak menatap pintu masuk, menemukan Hyuri dan Joongki yang berdiri di sana.
            Hyuri makin ragu melihat satu per satu orang dalam basecamp. Ai bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat. Ai berhenti jarak dua langkah dari Hyuri. Dua gadis ini saling menatap. Senyum terkembang di wajah Ai. “Welcome home, dear.” Ucap Ai.
            “Maafkan aku.” Bisik Hyuri yang langsung memeluk Ai. “Maafkan aku…” Ulangnya sambil menangis. Ai mengelus punggung Hyuri dan mengangguk. “Thank you… thank you…”
            Myungsoo dan Hyuri terlihat canggung. Namun kemudian Myungsoo memeluk erat Hyuri. Ia tak peduli dan tetap memeluk Hyuri di depan teman-temannya.
            ***
            Wajah Hyuri berseri kembali. Tak hentinya ia mengucap terima kasih pada Joongki. Hyuri enggan keluar dari mobil Joongki ketika sampai di rumahnya. Joongki mengantar Hyuri masuk. Hyuri menunduk semakin dalam mendapati Tuan dan Nyonya Song sudah menunggunya. Melihat ekspresi kedua orang tua Hyuri, Joongki segera angkat bicara membela Hyuri sebelum ada pernyataan dan pertanyaan dari Tuan dan Nyonya Song.
            “Marahlah padaku. Aku yang memaksa Hyuri keluar dan membawanya ke Jeonggu Dong. Semua ini murni rencanaku.” Joongki mengakhiri penjelasannya.
            “Kau lupa pada peristiwa penyerangan di ujung gang sekolah?” Nyonya Song terlihat benar marah.
            “Kejadian itu, kebetulan, namun  menjadi sangat besar. Mereka kembali setelah Jaejoong, Wonbin, Jaejin dan Minhyuk pergi. Harusnya Bibi melihat dan menilai secara keseluruhan. Dia melindunginya Bibi, melindungi Hyuri bahkan mengabaikan dirinya sendiri. Mereka melindunginya, melindungi Hyuri.”
            “Kebetulan? Kau menyebutnya kebetulan? Bagaimana jika yang terjadi adalah kemungkinan terburuk? Hyuri satu-satunya yang kami miliki.”
            “Semua orang tua pasti akan merasa demikian. Ingin anaknya aman, selalu. Tapi mengesampingkan kekhawatiran Paman dan Bibi yang berlebihan itu, apakah Paman dan Bibi memperhatikan bagaimana Hyuri seminggu ini? Apa Paman dan Bibi bertanya padanya apa yang ia rasa? Bagaimana tersiksanya Hyuri berusaha menghindari Fujiwara Ayumu juga Viceroy di sekolah? Menerima ancaman Bibi, menuruti kemauan Bibi walau itu sangat menyiksanya.”
            “Oppa sudah.” Hyuri hampir menangis.
            “Hari ini aku melihat senyumnya kembali. Senyum yang sangat manis dari Song Hyuri. Andai Paman dan Bibi juga menyadarinya. Andai Nyonya Shin di sini. Hanya seminggu tanpa Nyonya Shin, Hyuri sudah begini menderita. Bagaimana jika nanti Nyonya Shin benar-benar pergi?” Imbuh Joongki. Tuan dan Nyonya Shin terdiam. “Istirahatlah, Hyuri.” Pinta Joongki.
            Hyuri tampak ragu, namun Joongki meyakinkannya. Hyuri akhirnya pergi, menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Hyuri langsung menelfon Ai. Hyuri mencurahkan seluruh kekhawatirannya pada Ai.

            Dokter Song itu malaikat dalam wujud manusia. Hanya dengan tersenyum, ia bisa meluluhkan hati siapa saja, walau itu batu karang sekalipun. Yah, sebut saja batu karang itu aku, dan kau lihat apa yang Dokter Song lakukan pada batu karang ini? Semua yang ada padanya, tak seharusnyaa kau ragukan. Dokter Song di berkahi kebijaksanaan ini. Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Dalam genggamannya, dunia akan baik-baik saja. Percayalah.
            Joongki tersenyum usai membaca pesan yang di kirim Hyuri. Pesan dari Ai yang sengaja Hyuri kirim untuk Joongki. Hyuri menatap dari balkon kamarnya. Mobil Joongki melaju pergi. Hyuri menghela nafas dan kembali masuk.
            ***
            Minggu malam, Minki menemani Ai pergi ke club milik Jaesuk. Minki sadar ini akan membuat Ai sedikit tak nyaman. Mengajak Sukjin bertemu di sini, club milik Jaesuk, tempat dimana dahulu YOWL sering tampil. Namun tak ada pilihan lain, karena Sukjin benar menginginkannya dan Ai menghormati keputusan itu. Jaesuk menyambut Ai dan Minki lalu menemani keduanya, menunggu Sukjin datang. Konsentrasi Ai mulai terbagi ketika ia menatap panggung. Pikiran Ai kembali melayang, teringat masa-masa Berjaya di atas panggung bersama YOWL. Dahulu, panggung itu adalah singgasana YOWL. Minki menyadari ekspresi Ai. Ia kemudian turut menatap panggung yang kosong. Minki beranjak dari duduknya dan berjalan menuju panggung, mengambil gitar akustik yang tersedia di sana. Ai terkejut melihat Minki tiba-tiba sudah berada diatas panggung. Jaesuk hanya tersenyum manis menyadari ekspresi Ai. Ai kembali menatap panggung. Minki duduk memangku gitar akustik dan melakukan check sound. Minki diam sejenak, menatap meja dimana Ai duduk.
            “This song for you, my little angel.” Minki tersenyum menatap Ai kemudian mulai memetik gitarnya. Minki menyanyikan lagu Angel’s Tale-HYDE dalam bahasa Inggris.
            Bukan hanya Ai yang terpukau melihat penampilan Minki. Seluruh pengunjung club turut menikmatinya dan takjub. Sukjin datang bersama Taehee. Langkah keduanya terhenti dan mereka menatap panggung. Senada dengan Ai dan pengunjung club yang lain, Sukjin terlebih Taehee takjub melihat pertunjukan Minki. Larut dalam alunan gitar yang di petik Minki dan vocal lembut pemuda itu. Ai terharu mendengarnya. Ia tersenyum bangga ketika pengunjung bertepuk tangan untuk Minki yang telah menyelesaikan pertunjukannya.
            “Siapa pemuda itu?” Bisik Taehee.
            “Kakak dari Fujiwara Ayumu.”
            “Orang Jepang juga? Wajahnya tak seperti orang Jepang.”
            Minki turun dan kembali duduk bersama Ai. Ia melihat Sukjin dan melambaikan tangan. Sukjin membalasnya dan berjalan mendekat. Ai dan Minki bangkit dari duduknya, memberi salam pada Sukjin dan Taehee. Keempatnya kemudian duduk bersama.
            “Jadi kau Ai, Fujiwara Ayumu itu? Tak terlihat seperti orang Jepang. Aku Kim Tae Hee, Presiden Direktur Caliptra Seta Entertainment.” Cerocos Taehee tanpa sungkan. “Akhirnya kita bisa bertemu. Senang bertemu denganmu, Fujiwara Ayumu.”
            “Senang berjumpa dengan Anda.” Balas Ai sopan.
            “Langsung saja. Kau sudah mempelajarinya? Bagaimana menurutmu? Bagaimana mereka, YOWL, bisa begitu tergantung padamu? Empat pria bertekuk lutut pada satu wanita, jujur itu membuatku terkejut dan iri, maaf. Bagaimana menurutmu?”
            “Aneh.”
            “An-aneh?? Kau bahkan mengatakan hal yang sama, kalian… hah!” Taehee kemudian menatap tangan kiri Ai yang masih terbungkus gips. “Kau akan benar menghilang dari kehidupan YOWL? Setelah sekian lama kalian berjuang bersama?”
            “Tak ada pilihan. Aku rasa ini takdir.”
            “Takdir? Kecelakaan itu? Ok, iya itu takdir. Tapi nasibmu belum menemukan akhir. Kami memilih YOWL bukan hanya karena SMS dukungan, vote. Tapi kami melilih YOWL karena kami melihat bakat dan kemampuan mereka. Namun solidaritas itu, yang kalian miliki, sedikit membuatku kesal. Mereka menjadi sedikit… rapuh. Aku rasa kau lebih paham tentang ini.”
“Konsep ini, hanya umpan bukan?” Ai menatap Taehee tanpa ragu. “Penilaian untuk menyelami siapa itu YOWL.” Imbuh Ai. “Nona ingin merubah kepanjangan YOWL menjadi sedemikian rupa. Aku paham arti dari kata-kata itu, Yuen, Odell, Wang, Leroy. Sangat tak berhubungan, walau memiliki arti yang sempurna. Raja-raja pembawa melody yang terkenal di seluruh dunia. Namun coba Nona lafalkan, apakah tak terdengar aneh? Coba Nona bandingkan dengan Young, Ordinary, Wild and Lovely.”
“Memang terdengar aneh, menggabungkan empat kata dari empat bahasa itu.”
“Arti yang sempurna, namun ketika di lafakan terdengar ganjil. Maaf, aku pribadi menolaknya.”
Taehee menatap Ai. Sejenak mencoba mengenal gadis itu lewat sorot mata Ai. “Kau memang mempesona. Aku akui itu. Andai saat ini kau masih bersama YOWL. Ah, maaf. Kau memang masih bersama mereka. Ayolah Fujiwara, kau masih di sini, bersama YOWL dan aku… aku ingin kerjasama ini. Kerjasama antara kau, aku dan YOWL. Kita bersama-sama akan membawa YOWL ke puncak. Kita akan bersama-sama membawa YOWL terbang menguasai dunia.”
***
Ai dan Minki berjalan pulang. Ai lebih banyak diam. “Merasa lega atau ada hal lain yang kau rasa?” Minki memulai obrolan.
“Terima kasih untuk kejutannya.” Ai menatap Minki dan tersenyum manis membuat Minki tersenyum tersipu. “Oh! Jinwoon Oppa?? Daehyun??” Ai mempercepat langkahnya. “Oppa kemari??”
“Jiyoo Fujiwara! Kemana saja kau!” Daehyun kesal.
“Maaf membuat kalian menunggu. Ada apa hingga Oppa kemari malam-malam begini? Daehyun??”
“Sebaiknya kita masuk.” Ajak Minki.
Ai, Jinwoon dan Daehyun duduk di ruang tamu, sedang Minki menyeduh teh untuk mereka. Ai benar penasaran tentang apa yang membawa Daehyun turut bersama Jinwoon, malam-malam ke Jeonggu Dong menemuinya. “Ada apa sebenarnya?” Tanya Ai.
“Karena ini.” Daehyun meletakan amplop coklat di meja dan mendorongnya pada Ai. “Tak tahu siapa yang mengirimnya.”
Minki kembali membawa teh untuk mereka. Minki membantu Ai membuka amplop coklat yang di berikan Daehyun. Mata sipit Minki melebar melihat isi amplop itu. “Ini?!!!” Minki menarik seluruhnya isi amplop itu. “Jiyoo, pria ini…..”
“Kim Youngduk Songsaengnim, kakak tiri Jaejoong.” Bisik Ai membenarkan dugaan Minki. “Daehyun~aa, dimana kau mendapatkan ini??”
“Bagaimanaa ini bisa terjadi??” Minki benar di buat heran.
“Sejak kapan kau dekat dengan Kim Youngduk Songsaengnim?” Tanya Jinwoon.
Ai terduduk lemas dan diam.

---TBC---
 
  shytUrtle

Search This Blog

Total Pageviews