¤ HWASEONG ACADEMY -Love, Music and Dreams- (화성 아카데미-사랑, 음악과 꿈-) ¤
. Judul: Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
. Revised Romanization: Hwaseong Akademi ’salang, eum-aggwa kkum’
. Hangul: 화성 아카데미’사랑, 음악과 꿈’
. Author: shytUrtle_yUi
. Rate: Serial/Straight
Episode #7
Daehyun buru-buru menyusul YOWL ke belakang panggung usai menutup acara. “Jiyoo Fujiwara!!” panggilnya dan berhasil menghentikan langkah kelima member YOWL. Daehyun berhenti tepat berhadapan dengan Ai. Ia tersenyum lebar lalu tanpa sungkan langsung memeluk Ai. Minhyuk dan Jaejin kompak melongo di buatnya.
“Ya! Apa-apa’an kau ini!” Jaejoong memaksa Daehyun melepas pelukannya.
“Tidak di ragukan lagi, aku adalah Yowlism! YOWL daebak!” puji Daehyun mengabaikan ekspresi kesal Jaejoong padanya.
“Ahahaha… gomawo, gomawo!” Jaejin merangkul Daehyun.
“Tapi sebaiknya kau tidak berlebihan atau dia akan marah!” Minhyuk melirik Jaejoong.
“Hehehe… iya, iya. Ma’af, aku terlampau bahagia.”
Jieun memperhatikan dari jauh. Setelah yakin telah mendapat kekuatan untuk maju, Jieun pun melangkahkan kakinya dan mendekati YOWL. “Ma’af menyela.” Kata Jieun sopan ketika sampai. Semua menatap Jieun. “Fujiwara Ayumu, “Jieun berusaha menutupi rasa gugupnya, “Kepala Sekolah ingin bertemu dengan mu.”
“Mwo?? Apa ada masalah?” sela Jaejoong.
“Aku tidak tahu. Ayo, aku akan mengantar mu.”
Ai mengikuti langkah Jieun meninggalkan teman-temannya. Dari kejauhan Myungsoo memperhatikan dua gadis ini. Keduanya pun sampai didepan ruang Kepala Sekolah.
“Kita sampai.” Kata Jieun.
“Gomawo.” Ai membungkuk.
Jieun tersenyum manis. “Aku pergi.” Ai mengangguk dan Jieun pun pergi.
“Jieun~aa!” Myungsoo menarik tangan Jieun.
“Ah, kapchagi!” Jieun benar terkejut dibuatnya.
“Kau ini mudah sekali kaget!”
“Mianhae.”
“Kau pergi dengan Fujiwara?”
“Nee. Bapak Kepala Sekolah meminta ku membawanya. Wae?”
“Anee. Ah, kau kenal suara itu kan??”
“Nee. Fujiwara Ayumu benar member kelima YOWL dan dia gadis pengamen di Hongdae yang sering aku tonton dan aku kagumi.”
Myungsoo sedikit canggung. “Aku juga tak menyangka itu dia.”
Jieun mengangkat wajah dan tersenyum. “Jangan khawatir. Aku tidak mungkin menceritakan tentang ini pada yang lain. Aku janji, ini akan tetap menjadi rahasia kita, em?”
“Ok!” Myungsoo pun tenang.
“Permisi.” Ai membuka pintu dan masuk. “Saya Fujiwara Ayumu.” Kursi kepala sekolah berputar menghadap Ai. Namun bukan Hyunjoo yang berada disana melainkan Shin Min Gi pendiri Hwaseong Academy. Nyonya Shin mengamati gadis yang berdiri didepan meja kepala sekolah.
“Duduklah.” Pinta Nyonya Shin yang segera dituruti Ai. “Kau tahu siapa aku?”
“Nee. Anda adalah Nyonya Shin Min Gi, pendiri Hwaseong Academy ini.” Nyonya Shin menyimpan senyumnya namun ekspresi kagum itu terlihat di wajahnya. “Ada apa gerangan sampai Nyonya Shin ingin bertemu dengan saya? Apa ini berhubungan dengan Hyuri? Song Hyuri?”
“Sejauh mana kau tahu tentang kami?”
“Saya hanya tahu sedikit, sebatas yang ingin saya tahu. Internet terkadang tidak bisa diandalan untuk beberapa privasi.”
“Kau tahu banyak hal, namun kau berpura-pura bodoh di depan cucu ku, Hyuri, Song Hyuri.”
“Apa Nyonya ingin saya jujur pada Hyuri?”
“Apa kau sanggup jujur didepannya?”
“Tentu saja.”
Nyonya Shin benar tersenyum kini. “Tetap saja seperti itu, jika kau mengatakan yang sebenarnya, itu akan mempersulit Hyuri.” Ai tersenyum, merasa menang. “Kau tahu kenapa aku memanggil mu?”
“Karena Hyuri dan racauan ku tentang sekolah ini padanya.”
“Kau pikir, cucu ku tukang mengadu?”
“Bukan mengadu, tapi sedikit banyak Hyuri pasti bercerita pada Nyonya.”
‘Anak ini, sama sekali tidak terlihat keraguan dalam tatapannya. Dia mengingatkan aku pada masa muda ku dahulu.’ Gumam Nyonya Shin dalam hati. “Kau bertanya kenapa Hwaseong Academy ini identik dengan warna kuning, bukan merah, padahal hwaseong sendiri berarti planet mars?”
“Kuning adalah warna optimis dan jiwa muda, pilihan Nyonya sangat tepat. Seandainya Nyonya memilih warna hitam-merah, maka apa jadinya sekarang? Sekolah ini akan tampak seolah untuk YOWL saja.” komentar Ai membuat Nyonya Shin tidak bisa menahan tawanya. “Ma’af, saya sangat tidak sopan.”
“Sekarang aku tahu kenapa Hyuri begitu nyaman berteman dengan mu. Bisakah kau menjaganya untuk ku?”
“Dengan senang hati.” Ai tersenyum tulus.
“Lalu apa kau ingin sesuatu dari ku?”
“Nyonya menawarkan kompensasi?”
***
Ai berjalan sendiri menyusuri koridor. Suasana sekolah lumayan sepi karena beberapa murid telah pergi meninggalkan sekolah setelah acara pentas seni usai. Ai yang selalu berjalan dengan kepala menunduk menghentikan langkahnya melihat beberapa pasang kaki telah menghadangnya. Ai mengangat kepala dan dugaannya sedikit benar jika kaki-kaki itu milik member Viceroy, namun hanya ada Byunghun dan Minhwan yang membawa empat orang siswa kelas XI bersama mereka.
“Kerja yang bagus. Aku akui penampilan perdana YOWL sangat memukau. Dan ini akan menjadi awal pertempuran baru bagi kita.” kata Byunghun.
“Jangan merasa hebat karena pujian kami.” Imbuh Minhwan.
“Sudah?” Tanya Ai malas-malasan. “Aku sangat sibuk hari ini.” Ai berjalan menembus Byunghun dan Minhwan juga barisan siswa di belakangnya.
“Anak itu! Hagh!” umpat Minhwan.
-------
“Aku melihatnya, kalian, YOWL, KEREN!!!!!” puji Yoojin dengan wajah berseri dan melayang-layang di sekitar Ai yang duduk membelakangi cermin. “Ai chan kemari, tapi kenapa murung? Apa Kim Yoojin ini membuat mu bosan?” Yoojin berhenti tepat di depan Ai yang melipat tangan dan memejamkan mata. “Ai chan…” bisik Yoojin dan hawa dingin itu segera menyentuh pipi pucat Ai namun gadis itu tetap tak bergeming. “Kau meditasi? Dan aku frustasi!” Yoojin putus asa.
Keempat member YOWL berkumpul bersama Kibum, Hyuri dan Wooyoung menunggu Ai yang tak kunjung kembali sejak Jieun membawa gadis itu pergi bersamanya 1.5jam yang lalu. Sekolah semakin sepi dan rombongan murid, sepertinya yang terakhir ini melewati Jaejoong dan rekan-rekannya.
“Sepertinya mereka yang terakhir,” Minhyuk menatap gerombolan murid yang berjalan menuju gerbang.
“Ai tak membalas semua pesanku,” Jaejin masih sibuk dengan ponselnya.
“Seluruh member Red Venus sudah pergi, Jieun… jangan-jangan ini jebakan??” terka Kibum yang sukses membuat Wooyoung panik.
“Jieun Sunbaenim bukan tipe orang seperti itu,” sanggah Hyuri. “Dimana Ai sekarang?”
“Toilet.” Celetuk Wonbin. Semua kompak menatap Wonbin. “Di sekolah ini ada tiga tempat dimana Ai biasa berada, taman belakang sekolah, kediaman Paman Lee Moonsik dan toilet.”
“Lalu, siapa yang berani menyusul ke toilet?” Tanya Jaejin sambil melirik Wooyoung. Semua mata turut menatap Wooyoung kemudian.
“Baiklah, aku akan menyusul Nona ke toilet.” Wooyoung paham arti pandangan itu.
“Aku akan mencari ke taman belakang sekolah. Ayo Jaejin!” Minhyuk merangkul Jaejin.
“Aku akan mencari ke rumah Paman Lee,” kata Wonbin. “Harus ada yang tinggal disini.”
“Aku saja.” Jaejoong bersedia tinggal.
“Wooyoung, boleh aku ikut dengan mu?” Hyuri menawarkan diri.
“Ide bagus. Kau bisa masuk toilet peremuan dengan mudah, terima kasih. Kita pergi?”
“Nee.” Hyuri pergi bersama Wooyoung. Minhyuk dan Jaejin sedang Wonbin bergerak sendiri.
“Lebih baik aku berkelahi melawan puluhan preman daripada harus melihat hantu,” komentar Jaejoong sa’at teman-temannya mulai pergi.
“Kau takut melihat hantu?” Tanya Kibum.
“Kau sendiri?”
“Aku…” Kibum membetulkan letak kacamatanya, “jika aku, orang pasti memaklumi, tapi kau?”
“Ck!” Jaejoong tak menjawab pertanyaan Kibum.
“Kau bisa nervous juga??” Yoojin memainkan rambut kepang dua Ai. “Ai chan!”
“Aku butuh ketenangan. Aku harus menemukan sebuah rencana.”
“Rencana?? Ah, kau ini! Terlalu lama melihat mu duduk melipat tangan dan memejamkan mata seperti ini membuat ku takut!”
“Aku masih bernafas.”
“Ai chan!”
“Aku ragu, ini benar atau salah, keputusanku.”
“Kau bicara tentang hal yang sama sekali tak aku mengerti. Benar atau salah, keputusan apa?” Yoojin duduk disamping Ai, menunduk dan menggerutu.
“Haaaaah…..” Ai menghembuskan nafas panjang dan membuka mata. “Ah, pandanganku jadi kabur,” sambil mengucek kedua matanya. “Dunia kita berbeda, kenapa kau sangat ingin tahu sekali.”
“Bukankah kita teman? Kau bisa berbagi denganku.”
“Mempercayai hantu? Kau mau aku melakukan itu?”
“Kau… tidak boleh ya?”
“Sa’at manusia tidak bisa dipercaya, hantu bisa jadi alternatif sempurna.”
“Nah, kau bisa percaya aku!” Yoojin berbinar.
“Aku hanya mempercayai diriku sendiri.”
“Ck!”
Hyuri dan Wooyoung tiba didepan toilet khusus perempuan kelas X. Keduanya berada dekat dengan pintu dan bisa mendengar suara Ai yang sepertinya sedang mengobrol dengan seseorang. “Itu suara Nona?” Wooyoung berbisik dan Hyuri mengangguk. “Nona bicara sendiri?”
“Entahlah,” Hyuri ikut berbisik. Ia kemudian mendekatkan telinganya pada daun pintu. “Dia sedang berdebat?” bisiknya.
“Nona!” Wooyoung membuka pintu. Ai menoleh dengan posisi masih duduk membelakangi cermin. Ekspresinya tetap sama datar.
“Ai??” Hyuri mengamati sekitar.
“Tidak sopan sekali. Masuk tanpa permisi atau mengetuk pintu dahulu,” komentar Ai. Hyuri juga Wooyoung mengamati sekitar, namun tidak ada siapapun dalam toilet. Tidak ada orang lain disana, hanya ada Ai.
“Kak-kau sendirian?” Tanya Hyuri.
“Em.”
“Aku disini bersamamu Ai,” protes Yoojin yang duduk disamping Ai namun tak terlihat oleh Wooyoung dan Hyuri.
“Aku bersama Yoojin.” Ai meralat. Hyuri dan Wooyoung kompak melotot.
“Ai! Mereka tidak bisa melihatku!” protes Yoojin.
Ai menoleh dan menatap tajam Yoojin, “kau cerewet sekali, Kim Yoojin!” Hyuri dan Wooyoung kompak menelan ludah melihatnya.
***
Myungsoo kembali membantu Sang Mama direstoran. Ia keluar dan melihat kearah dimana Ai biasa menggelar pertunjukan. Sepertinya malam ini Ai tidak menggelar konser jalanan seperti sabtu malam sebelumnya. Myungsoo kembali menoleh dan betapa terkejutnya ia mendapati ‘gadis misterius’ yang ia cari sudah berdiri dihadapannya. Ai berdiri tepat didepan Myungsoo, hanya berjarak satu lengan saja. Ai menatap Myungsoo dengan tatapan datar tanpa ekspresi dengan kedua tangan memegang tali tas gitar yang tergantung di kedua bahunya.
“Apa aku mengejutkan mu?” Tanya Ai.
“Aa-anee!” Myungsoo kembali bersikap cool.
“Kau menatapnya, sekarang kau akan mengusir ku setelah tahu aku adalah member kelima YOWL?”
‘Anak ini! Tidak bisakah dia berbasa-basi sedikit saja?’ gumam Myungsoo dalam hati. “Apa aku terlihat sepicik itu?”
“Emm…” Ai memiringkan kepala mengamati Myungsoo, “kau lemah. Semua ini hanya untuk menutupi rasa kesepian mu dan sebenarnya kau itu orang yang minder. Jadi aku berhasil menarik perhatian mu?”
“Mm-mwo??” mulut Myungsoo membulat mendengar kata terakhir yang di ucapkan Ai.
Ai kembali menegakkan kepalanya. “Sebaiknya segera bunuh saja rasa itu, entah penasaran atau sejenisnya. Jangan biarkan rasa itu tumbuh subur, karena aku telah jatuh hati pada seorang pria dan tidak akan melirik pria lain,” kata Ai kemudian berjalan pergi.
“Ya!” Myungsoo berjalan cepat mengejar langkah Ai. Myungsoo memegang pundak Ai dan memaksa gadis itu menghentikan langkahnya. “Apa maksud mu berkata seperti itu?”
“Tidak ada.”
“Ya!”
“Kau marah, berarti benar.”
“Kau! Kau pikir, kau ini siapa ha?!”
Ai menyincingkan senyum dibibir tipisnya sambil menggerakan bahu kanannya membuat pegangan Myungsoo terlepas. “Aku, Fujiwara Ayumu.” Tegasnya lalu melanjutkan berjalan.
“Aish!” umpat Myungsoo kesal.
-------
Jaejoong, Wonbin, Minhyuk dan Jaejin dibuat ternganga melihat Yongbae dan anak buahnya sibuk membersihkan gedung milik Bibi Han yang telah resmi menjadi milik Ai.
“Yongbae, apa maksud semua ini?” Tanya Jaejoong.
Yongbae menyincingkan senyum, “ini bukan urusan mu! Tidak penting kau tahu!”
“Aish! Anak ini!”
“Jaejoong,” tahan Wonbin.
“Gedung ini sudah menjadi milik Ai, kau tahu itu?” Tanya Minhyuk.
“Ck! Berani sekali kalian menyebut nama Nona Besar seperti itu? Hey Bocah, aku adalah tangan kiri Nona Besar sekarang!”
“Nona Besar?” Jaejin bingung.
“Menyedihkan, kau baru mengetahuinya.” Komentar Wonbin.
“Ough! Dia juga pengikut Tuan Jung??” tuding Jaejin pada Yongbae. “Kau pasti mati jika Tuan Besar tahu kau berulang kali hampir mencelakai Ai.”
“Ya! Kau mengancam?!”
“Ada apa ini?” sela Minki.
“Hyung, kenapa mereka ada disini?” Tanya Jaejoong.
“Mereka adalah orang kita sekarang.”
“Mwo??” Jaejoong, Minhyuk dan Jaejin kompak. Jaejoong menggelengkan kepala, “Ai, dimana Ai sekarang??”
“Hongdae.’’
“Hongdae??” Minhyuk dan Jaejin kompak, lagi. “Restoran Myungsoo??” celetuk Jaejin.
“Sial!” Jaejoong berlari keluar disusul Wonbin, Jaejin dan Minhyuk.
“Ada apa dengan mereka?” Tanya Yongbae.
“Sebaiknya kalian istirahat.” Perintah Minki pada Yongbae dan kawan-kawannya.
“Setelah barang terakhir tiba, kami akan istirahat.”
“Ok.”
Jaejoong, Wonbin, Minhyuk dan Jaejin terburu-buru menembus keramaian Hongdae untuk bisa segera sampai di tempat Ai biasa menggelar pertunjukan jalanannya. Mereka berhenti tepat di depan restoran Myungsoo dengan nafas terengah-engah. Jaejoong tersenyum lega melihat Ai baik-baik saja dan sedang sibuk merapikan gitarnya.
Ai sudah menyangklet tasnya dan bersiap pergi. Ia kaget melihat Jaejoong tiba-tiba muncul dengan nafas terengah-engah. Belum sempat Ai bertanya Jaejoong sudah memeluknya erat. Wonbin, Minhyuk dan Jaejin ikut tersenyum lega lalu bersama memeluk Ai dan Jaejoong.
Myungsoo keluar dan kembali menoleh ke kiri. Dilihatnya kelima member YOWL berkumpul disana. Mereka terlihat sangat bahagia. Keempat member YOWL terlihat benar memanjakan Ai. Myungsoo segera kembali masuk ke dalam restoran ketika YOWL kembali berjalan. Myungsoo duduk di kursi dekat dinding kaca dan menutup wajahnya dengan buku menu ketika YOWL melintas.
***
Jinyoung sangat antusias mendengar Wooyoung menceritakan penampilan YOWL disekolah sabtu kemarin. Wooyoung tak lupa menyerahkan handycam yang diberikan Euichul untuk merekam penampilan YOWL. Ia bahkan menunjukan foto-foto diponselnya. Jinyoung tersenyum bangga melihat video rekaman penampilan YOWL. Hyunjung yang duduk disamping Jinyoung juga terlihat berseri.
Tangan Jinwoon bergetar melihat ekspresi kedua orang tuanya. Ia mengepalkan tangannya dan hendak pergi namun Euichul lebih dulu menahannya. “Kau tidak ingin bergabung?” Tanya Euichul.
“Hyung tahu aku tidak tertarik,” Jinwoon tanpa membalikan badannya. Euichul mengalah dan beralih ke depan Jinwoon.
“Jiyoo mengirim pesan ini ketika ia melihat penampilan mu kemarin,” Euichul menunjukan ponselnya. Jinwoon sempat melihat ponsel Euichul dan sekilas membaca sms yang dikirim Ai pada Euichul namun tetap bersikap acuh. Euichul tersenyum, menepuk pundak Jinwoon lalu pergi bergabung bersama Jinyoung.
Jinwoon membanting pintu kamarnya meluapkan kekesalannya. “Aa, kapchagi! Ah, Hyung mengejutkan ku saja,” kata Daehyun yang sudah duduk manis dibalik meja belajar Jinwoon sambil membaca majalah.
Mata sipit Jinwoon melebar mendapati ‘makhluk asing’ dikamarnya. “Sejak kapan kau disini?!”
“Semua sibuk membicarakan Jiyoo Fujiwara, kenapa Hyung hanya menguping?”
“Ya! Aku tidak menguping!” Jinwoon sudah berdiri di depan Daehyun dan terlihat berapi-api. “Aku tidak menguping! Seenaknya saja kau menuduh ku!!”
Daehyun menutup majalah ditangannya, “sepertinya itu memang hobi Hyung.”
“Ya! Jung Daehyun!!!”
“Ah, aku membayangkan jika Jung’s family tampil dalam satu panggung, dalam satu band, kita, Euichul Hyung, Ilwoo Hyung, Jinwoon Hyung, aku dan Jiyoo Fujiwara. Akh~ pasti kita sangat keren dan punya banyak penggemar. Disini Jiyoo Fujiwara akan jadi drummer, Euichul Hyung pada bass, aku, Jinwoon Hyung dan Ilwoo Hyung gitar, keren bukan??”
“Permainan gitar mu sangat buruk, bagaimana mau mendirikan sebuah band?”
“Aku bisa jadi lead vocal, suara ku yang terbaik di banding kalian-kalian,” Daehyun membanggakan dirinya sendiri. “Ah, Hyung setuju Jung’s family mendirikan band?”
“Kembalilah pada kenyataan dan berhenti bermimpi.”
“Mimpi adalah awal dari kenyataan. Kenapa Hyung begitu membenci Jiyoo Fujiwara? Apa yang salah padanya? Apa menjadi anak pungut itu sebuah kesalahan? Jiyoo Fujiwara itu sangat manis dan menurutku dia gadis yang baik walau dia tumbuh dilingkungan preman.”
“Pergi padanya dan berikan pujian itu padanya, jangan padaku!”
“Aku sudah melakukannya dan kini aku hanya bercerita pada Hyung.” Daehyun berdiri dan mendekati Jinwoon, “beda antara benci dan cinta itu sangat tipis, sebaiknya Hyung menimbang ulang apa yang Hyung rasakan pada Fujiwara. Lihat perbandingannya dan apakah alas an Hyung membencinya benar tepat,” bisiknya. Daehyun tersenyum dan pergi.
“Semua orang sudah gila!”
***
Murid Hwaseong Academy kembali libur selama satu minggu mulai senin ini untuk menikmati indahnya musim semi. Ai tersenyum melihat warna-warni bunga di Morning Glory Florist, toko bunga miliknya. Ai kemudian mengamati seluruh sudut florist dan kembali tersenyum. Florist ini menyimpan banyak kenangan tentang Lee So Yeon, ibu kandung Ai.
“Oh? Jiyoo? Kau kemari?” Minki terkejut melihat Ai.
“Ibu mewariskan keindahan ini, berada disini seolah bersamanya,” Ai menghirup wangi bunga lili putih di dekatnya. “Hah… Oppa jadi kerepotan, ma’af.”
Minki tersenyum geli melihat serbuk sari berwarna kuning itu menempel pada ujung hidung Ai. “Awalnya memang sedikit merepotkan, tapi mengurus bunga-bunga ini, sangat menyenangkan,” kata Minki sambil membersihkan serbuk sari di hidung Ai dengan lengan panjang T-shrit yang ia pakai. Ai tersenyum manis mendapatkan perlakuan itu.
“Aku ingin melihat kebun bunga kita. Sejak membelinya satu tahun yang lalu, aku belum pernah berkunjung kesana lagi.”
“Boleh, terserah kau saja kapan kita pergi kesana.”
“Aku akan serius mengurus ini semua. Setelah gedung selesai di renovasi, aku akan menjadikan tempat itu sebagai base camp kita, tidak hanya untuk YOWL tapi untuk semua yang mau bekerja sama bersama kita.”
“Apapun itu, aku pasti mendukung mu sepenuhnya.”
“Aku ingin mengajarkan ikebana kepada Yongbae dan anak buahnya.”
“Apa?? Anak-anak itu?? Ikebana?? Apa mereka mau??”
“Aku akan mencobanya. Jika mereka punya ketrampilan, aku yakin mereka bisa hidup lebih baik, tidak sekedar menjadi preman, seperti Oppa, preman berhati lembut hehehe.”
“Aku sudah pensiun. Hari ini aku sudah mengirim sisa pembayaran kita pada Seunghyun. Dia mengatakan jika kau butuh barang-barang bekas dengan mutu bagus, kau bisa langsung menghubunginya.”
“Menjual nama Ayah, lumayan juga hasilnya, mengandalkan kekuatan orang tua, ck! Aku tidak percaya pada akhirnya aku menggunakannya juga.”
“Kau yakin Yongbae mau belajar ikebana?”
“Mereka harus mau. Empat bulan waktu ku di Jepang, sebagian besar aku habiskan untuk belajar ikebana. Aku ingin melanjutkan impian mendiang ibu, florist ini… Aku ingin seperti ibu ku,’’ kenang Ai. “Jeonggu Dong, mereka harus melihat sisi lain dari tempat ini. Jeonggu Dong bukan sekedar kampong preman, em?”
“Bagaimana keluarga di Jepang?”
“Keluarga Fujiwara memperlakukan aku dengan sangat baik, kakek dan nenek juga sangat baik. Disana aku merasa seolah aku benar cucu mereka.”
“Kau memang cucu pertama keluarga Fujiwara.”
“Iya, walau aku hanya anak angkat dalam keluarga Fujiwara. Disana, aku banyak menemui foto mendiang Chichi (ayah) dan Haha (ibu).” Ai kembali terdiam, “hah… aku sangat bersyukur, hidup ku benar-benar diisi oleh orang-orang hebat yang tanpa lelah melimpahkan kasih sayangnya padaku.”
“Kau tidak marah pada mendiang ibu ku? Ibu adalah orang yang mengatakan segalanya tentang mu pada Tuan Besar.”
“Bibi Lee melakukan itu karena mengkhawatirkan masa depan ku. Jika Bibi Lee tidak melakukannya, mungkin aku tidak akan pernah tahu siapa ayah kandung ku dan aku tidak bisa menjual nama ayah untuk bertahan hidup disini.”
“Kau ini,” Minki mengelus kepala Ai dan keduanya tertawa bersama.
“Ai!” Minhyuk memasuki florist. “Ayo kita pergi ke taman dan menikmati indahnya musim semi,” ajak Minhyuk.
“Oppa, kau mau ikut dengan ku?”
“Pergilah. Aku masih ada pekerjaan.” Tolak Minki.
“Hyung, kami pergi!” Minhyuk pamit membawa Ai pergi.
“Em.” Minki tersenyum dan mengangguk.
Wonbin, Jaejoong, Ai, Jaejin dan Minhyuk duduk berjajar diatas rumput taman. Jaejin yang alergi pada serbuk bunga harus menggunakan masker agar tetap aman berada diluar rumah sa’at musim semi tiba. Mereka melihat indahnya bunga azalea yang sedang mekar sempurna.
“Heumm… aroma musim semi yang sempurna,” Minhyuk menghirup udara dalam-dalam membuat Jaejin sewot.
“Bunga azalea, benar-benar sempurna,” puji Jaejoong. Ai tiba-tiba menjitak kepala Jaejoong. “Aw!” Jaejoong segera tersadar dari lamuanannya dan mengelus kepalanya. ‘Ya! Sakit!”
“Kau melihat bunga azalea tapi tidak benar memujinya, apa yang kau pikirkan?” Tanya Wonbin.
“Ish! Kalian ini!”
“Pasti Yiyoung,” sahut Minhyuk.
“Hahaha kasihan sekali leader kita ini, kasih tak sampai,” imbuh Jaejin.
“He was a skater boy, she said see ya later boy,” Minhyuk dan Jaejin kompak bernyanyi mengolok Jaejoong.
“Puas-puaskan saja mengolok ku!” Jaejoong kesal.
“Sabtu kemarin benar-benar hari istimewa,” Wonbin mengalihkan perhatian.
“Benar sekali! Walau sempat gugup, bersyukur kita bisa tampil baik,” sahut Jaejin antusias.
“Untung Ai segera mengalihkan suasana, hingga rasa gugup kita teratasi. Jika saja hari ini kita tidak libur, pasti kita akan disambut banyak gadis digerbang. Hah… YOWL…” Minhyuk tersenyum benar membayangkan hal itu terjadi.
“Yongbae benar menjadi orang mu kini?” Tanya Jaejoong pada Ai.
“Nee.”
“Bagaimana bisa? Semudah itu dia menyerah?”
“Hah, itu…” Ai tampak ragu, “kekuatan orang tua, baying-bayang nama ayah.”
“Pantas saja.” komentar Wonbin. “Tidak mengapa, itu bonus, selama ini kau sudah berusaha berdiri diatas kaki mu sendiri, ada kalanya kau memang masih harus bergantung pada kekuatan orang tua. Itu wajar dan sangat manusiawi.”
“Itu benar.” Jaejin membenarkan. “Jika kau lahir lebih dulu dari Tuan Jung, mungkin beliau yang akan mendompleng nama mu.”
“Ya! Ai tidak mendompleng nama Tuan Jung!” protes Minhyuk. “Lalu ada apa kepala sekolah sampai memanggil mu?”
Ai mengembangkan senyum diwajahnya, “musim semi telah tiba. A new day has come, jadi bersiaplah YOWL.”
Keempat member YOWL kompak menatap Ai. Namun tak satu pun angkat bicara dan mereka tetap memendam rasa penasaran mereka.
-------TBC-------
kamsahamnida
.shytUrtle_yUi.
¤ HWASEONG ACADEMY -Love, Music and Dreams- (화성 아카데미-사랑, 음악과 꿈-) ¤
. Judul: Hwaseong Academy ‘Love, Music and Dreams’
. Revised Romanization: Hwaseong Akademi ’salang, eum-aggwa kkum’
. Hangul: 화성 아카데미’사랑, 음악과 꿈’
. Author: shytUrtle_yUi
. Rate: Serial/Straight
Episode #6
Ai memijat keningnya sambil mengamati buku
rekeningnya. Ia kembali menghela nafas panjang. Minki datang membawa menu makan
malam untuk keduanya.
“Ayo makan.” Ajak Minki.
“Woa. Oppa
membuat salad buah untuk ku?”
“Ada masalah?”
“Aku menghabiskan hampir seluruh tabungan ku untuk
membeli gedung milik Bibi Han, dana ku menipis.”
“Kau masih punyan banyak.”
“Aku tidak bisa menggunakan uang itu.”
“Kau bukannya tidak bisa memakai uang pemberian Tuan
Jinyoung, tapi tidak mau.”
“Hehe… Lalu bagaimana dengan took bunga kita?”
“Makanlah dulu, setelah itu kita membahasnya, em?”
“Nee, Oppa.”
Wooyoung berjalan sendiri sambil sibuk mengetik sms.
Yongbae dan gengnya melihat Wooyoung. Yongbae meminta anak buahnya diam dan tak
membuat suara kemudian ia berjalan mengendap-endap mendekati Wooyoung.
“Jang Wooyoung!” panggil Yongbae sambil memegang
pundak Wooyoung.
“Omo, kapchagi! Ya! Kau ini mengejutkan saja!” maki
Wooyoung kesal dan Yongbae terkekeh puas berhasil mengagetkan temannya.
“Kau kemari? Mencari ku? Bagaimana bisa kau sekolah
lagi? Kau bilang kau tak minat lagi sekolah.”
“Memang tidak, tapi ini perintah Big Boss.”
“Big Boss??”
“Nee, ini misi.”
“Misi? Di sekolah?”
“Em. Aku harus menjaga Nona Besar di sekolah.”
“Ah, aku dengar tentang putri bungsu Big Boss, jadi
itu bukan sekedar rumor? Dia sekolah di Hwaseong Academy?”
“Nee. Dan aku kemari untuk bertemu dengannya.”
“Dia tinggal di wilayah Jeonggu Dong ini?”
“Em!” Wooyoung mengangguk. Ai muncul dari salah satu
gang dan mengamati jalan. “Ah, itu dia. Nona!” panggil Wooyoung sambil
melambaikan tangan. Yongbae melotot kaget ketika Ai menoleh dan tersenyum pada
Wooyoung.
-------
Yongbae duduk menundukan kepala di samping kiri
Wooyoung berhadapan dengan Minki dan Ai. Minki masih sibuk dengan kertas-kertas
ditangannya sementara Ai diam melihat Yongbae.
“Teisatsu-san, apa kau juga akan melaporkan tentang
ini?” Tanya Ai memecah kebisuan. Wooyoung menatap Ai dan terlihat tak paham
pada pertanyaan gadis itu.
“Kenapa kau mempersulit dia?” komentar Minki tanpa
mengalihkan pandangannya.
“Nona, aku ini bodyguard, bukan mata-mata.” Wooyoung
meralat.
“Apa kau tidak lelah mengatakannya? Lalu kau lebih
memihak siapa? Aku atau mereka?”
“Nee?? Nona…”
“Lupakan saja!” potong Ai. “Dong Yongbae, ada apa
dengan mu?” Ai beralih pada Yongbae. Yongbae salah tingkah di buatnya. “Lupakan
apa yang sudah terjadi dan sebenarnya ini yang ingin aku katakan pada mu dari
dulu, aku butuh bantuan mu.”
“Nee??” Yongbae mengangkat kepala dan menatap Ai
heran.
Jaejoong, Wonbin, Jaejin dan Minhyuk tiba di depan
gedung milik Bibi Han namun gedung itu terkunci rapat. “Hah! Kemana dia?!”
Jaejoong makin kesal karena tak menemukan Ai di florist dan rumahnya.
“Dia tidak menerima panggilan ku.” Minhyuk terus
menelfon Ai.
“Dia bersama Minki Hyung.” Komentar Wonbin.
Jaejin jongkok terlihat lelah. “Untuk apa kita
berputar-putar mencari Ai?”
Ai berdiri di tingkat dua dan melihat pertarungan di
bawah sana. Ini adalah tempat dimana biasa di gelar tinju atau gulat amatir. Di
bawah sana, dua orang sedang bertanding tinju dalam ring. Ai tak kuat lagi
melihatnya dan memutuskan pergi. Minki langsung menyusul Ai.
“Jiyoo, kau baik-baik saja?” Tanya Minki.
“Tinju itu sangat mengerikan.”
“Ish! Kau ini! Suka berkelahi tapi takut melihat
pertandingan tinju.” Ejek Minki.
“Itu beda, Oppa!”
“Nona.” Wooyoung datang bersama Yongbae.
“Bagaimana?”
“Mari, ikuti saya.” Ajak Yongbae.
Ai, Minki dan Wooyoung mengikuti langkah Yongbae.
Mereka pun sampai di sebuah ruangan yang pantas di sebut juga sebagai kantor.
Seseorang yang menduduki kursi bos itu menyincingkan senyum melihat tiga orang
yang di bawa Yongbae.
“Selamat datang di surga ku!” Choi Seung Hyun –TOP
Bigbang- memberi sambutan hangatnya. “Siapa yang ingin bertemu dengan ku?”
“Aku.” Jawab Ai.
“Em??” Seunghyun terlihat kaget. Ia kembali
mengamati Ai. “Adik kecil, apa yang kau inginkan? Band mu tampil disini?”
“Nee?? Anda tahu aku punya band?”
“Siapa yang tidak kenal YOWL. Jadi benar kau ingin
YOWL tampil disini?”
“Tidak.”
“Lalu untuk apa kau menemui ku?”
“Aku butuh bantuan Anda.”
“Em? Bantuan ku?”
“Apa kau tidak mendengar ucapannya?” Minki dengan
nada sedikit meninggi.
“Oppa.” Tahan Ai. “Aku ingin membeli beberapa barang
dari Anda. Aku dengar Anda juga berbisnis barang-barang bekas, maksud ku..”
“Aku paham!” potong Seunghyun. “Apa kau ingin
main-main dengan ku?”
“Kau!” Minki benar emosi namun Wooyoung menahannya.
“Hyung!” sela Yongbae kemudian membisikan sesuatu di
telinga Seunghyun.
“Mwo???” mulut Seunghyn membulat dan mata sipitnya
melebar.
“Aku tidak percaya, hari ini aku menggunakan
kekuatan orang tua, menjual nama ayah.” Ai sa’at berjalan pulang dengan Minki.
“Jika memang perlu, itu tak mengapa.”
“Tetap saja terasa aneh.”
“Aku rasa, kau harus membiasakannya. Suatu sa’at kau
harus berhenti berlari dan kembali bersama keluarga mu.”
“Di sinilah tempat ku. Oppa adalah keluarga ku.”
“Tak selamanya aku bisa menjaga mu.”
Langkah Ai terhenti mendengarnya. “Itu benar.
Mungkin suatu sa’at nanti gentian aku yang akan menjaga Oppa.”
“JUNG JI YOO!”
“Hehehe… Oppa, hentikan berkata seperti itu. Itu
membuat ku takut.” Kata Ai manja sambil melingkarkan tangan di lengan Minki.
Minki tersenyum dan mengelus kepala Ai. Keduanya kembali berjalan bersama.
“Omo!” Ai kaget melihat Jaejoong duduk di tangga
terbawah menunju rumahnya. Jaejoong duduk melipat tangan, merengkuk menahan
dingin. “Jaejoong~aa!” Ai berlari menghampiri Jaejoong yang setengah tertidur.
“Jaejoong! Jaejoong, bangunlah!” Ai menggoyang lengan Jaejoong.
“Babo!” Ai menyelimuti Jaejoong.
“Minum ini!” Minki membawa secangkir teh krisan
hangat. “Ada apa mencari Jiyoo sampai segencar ini?”
“Besok, seluruh pengisi acara di minta berkumpul
oleh Dewan Senior.” Jawab Jaejoong.
“Hanya untuk menyampaikan itu??”
“Bukankah hanya para leader?” Tanya Ai.
“Kau sudah tahu ya?” Jaejoong kemudian segera
meminum tehnya.
***
Dewan Senior mengumpulkan para leader yang nantinya
akan membawa pasukan mereka untuk mengisi pentas seni sabtu besok. Jaejoong
sedikit gugup karena ini pertama kalinya ia turut dalam rapat siswa di sekolah.
Murid-murid masih menatap Ai dengan tatapan yang
benar-benar membuat tidak nyaman. Ai hanya menggeleng pelan menanggapinya dan
terus berjalan menuju taman belakang sekolah. Ai duduk menghadap danau buatan
dan mulai sibuk memainkan netbooknya.
“Boleh aku duduk disini?” Tanya seorang siswi yang
menghampiri Ai. Ai melepas headphone dan mengamati gadis manis itu.
“Song Hyu Ri?” Ai membaca nama yang tertera di
seragam gadis itu.
“Nee. Annyeong haseyo, jonun Song Hyuri imnida.”
Gadis itu memperkenalkan diri.
“Duduklah.”
Gadis itu tersenyum lebar dan duduk di depan Ai.
“Fujiwara, ini.” Hyuri menyodorkan sebuah apel merah ranum. Ai menatap apel di
depannya lalu melihat ekspresi Hyuri.
“Gomawo.” Ai mengambil apel itu dan sukses membuat
Hyuri tersenyum bahagia. “Kau tidak takut di benci murid lain dengan duduk
bersama ku disini?”
“Anee. Aku ini Yowlism.” Hyuri sedikit berbisik.
‘Pantas saja.’ gumam Ai dalam hati.
“Aku sangat menyukai The Wacky Way Ai.” Imbuh Hyuri.
“Oh…” Ai sedikit risih.
“Aku kelas X-E. Fujiwara, mau kah kau berteman
dengan ku?”
“Panggil saja aku Ai.” Ai tersenyum manis. “Kita
bisa berteman.”
“Benarkah?? Aa, kamsahamnida Ai.” Hyuri menunduk.
“Teman?” Hyuri mengulurkan tangan.
Kibum dan Wooyoung hendak menyusul Ai usai makan.
Keduanya berhenti ketika melihat Ai sedang bersama seorang siswi. Ai tersenyum
dan meraih tangan gadis itu, mereka berjabat tangan. Kibum terus memperhatikan
gadis yang ada bersama Ai dan berusaha mengingat sesuatu. Wooyoung kembali
berjalan dan Kibum segera menyusulnya.
Ai, Hyuri, Kibum dan Wooyoung berjalan bersama usai
menghabiskan waktu istirahat mereka di taman belakang sekolah. Mereka berhenti
ketika Viceroy melintas. Myungsoo sempat melihat Ai ketika melintas di depan
empat murid kelas X itu, begitu juga member Viceroy yang lain. Hyuri, Kibum dan
Wooyoung masih menatap member Viceroy yang berjalan menjauh sementara itu Ai
berlalu pergi.
“Aku suka sekali tatapan Fujiwara, tidak ada takut
dan keraguan.” Komentar Sunghyun.
“Gothic girl?” celetuk Hanbyul.
“Aku jadi penasaran dengan penampilannya.” Imbuh
Sunghyun.
“Kita lihat saja besok.” Sahut Byunghun.
-------
Jieun mengamati kertas yang berisi profil YOWL di
tangannya. “Ada masalah?” Tanya Taemin mengejutkan Jieun.
“Oh! Aa, tidak.” Jieun segera menyimpan kertas di
tangannya. “Aku hanya merasa sedikit gugup untuk presenntasi besok. Ini pertama
kalinya bagi ku.”
“Mwo?? Seorang Lee Ji Eun merasa gugup? Ya, itu
tertdengar konyol!” Jieun tersenyum kecil.
“Anak-anak itu!” keluh Daehyun yang baru tiba.
“Ada apa lagi?” Tanya Taemin.
“Mereka membuat poling untuk YOWL dan Viceroy,
pikirkan, apa itu penting?”
“Bagi para fans tentu saja penting. Itu lumayan
meramaikan suasana.”
“Suasana sudah ramai bahkan memanas.”
Taemin terkekeh melihat ekspresi kesal Daehyun.
“Lalu, kalian akan memberikan suara kalian untuk siapa?”
“Kau tertarik ikut?”
“Itu dalam komunitas sekolah bukan? Sayang jika
tidak urun suara.”
“YOWL.” Jawab Daehyun mantab.
“YOWL? Kenapa?”
“Tidak alasan khusus, aku suka Fujiwara.”
“Memang dia benar member kelima YOWL?”
“Perasaan ku mengatakan itu.”
“Hohoho… Daehyun mendadak serius, ck! Lalu bagaimana
dengan mu Jieun?”
“Aku… YOWL.” Jawab Jieun ragu-ragu.
“YOWL??” Taemin dan Daehyun kompak. “Kenapa YOWL??”
Tanya Taemin.
“Viceroy pasti akan menang poling secara mutlak.”
“Jadi kau kasihan pada YOWL?” Tanya Daehyun.
“Tidak juga. Aku penasaran saja pada mereka.”
-------
Jaejoong tiba-tiba mencegat langkah Yiyoung yang
baru kembali dari kantin bersama Soojung. Yiyoung terlebih Soojung segera
memasang ekspresi sangat tak bersahabat. Jaejoong diam menatap Yiyoung lalu
tersenyum. Soojung menyeret Yiyoung pergi dari hadapan Jaejoong.
“He was a skater boy, she sais see ya later boy.”
Jaejoong langsung menoleh mendengar suara itu. Wajah Jaejoong langsung berseri
melihat Ai sudah berdiri di belakangnya.
Jaejoong mengamati kediaman Moonsik dan Ai tersenyum
kecil melihat tingkah Jaejoong. “Jadi gadis itu, Noh Yi Young?” pertanyaan Ai
sukses mengalihkan perhatian Jaejoong yang langsung menatapnya. “Menurut ku
gadis itu biasa saja.”
“Dia sempurna dan gadis yang sebenarnya.”
“Benarkah? Orang sempurna tidak akan memilih-milih
teman dan selalu tersenyum, bersikap ramah dan bersahaja. Apa dia memiliki itu
semua?”
“Itu..”
“Jawabannya, tidak! Bakat saja tidak cukup untuk
menjadikan orang itu sempurna.”
“Apa salah jika aku menyukainya?”
“Tidak. Hanya saja, tidak adakah yang lebih baik
dari dia? Walau hanya sedkit gadis di sekolah ini, tapi jika aku jadi
laki-laki, Red Venus tidak masuk daftar target ku.”
“Kau memang aneh!”
“Bagimana rapat hari ini? Kau lebih banyak diam?”
“Tadinya sangat gugup, tapi begitu aku mengingat mu,
menyebut nama mu, aku jadi tenang.”
“Pembual.”
“Kau ini! Aku mengatakan yang sebenarnya!”
“Lelaki ku ini rapuh sekali! Itu hanya pertemuan
kecil, bagaimana jika YOWL tenar nanti??”
“Itu beda!”
Ai hanya tersenyum menanggapinya.
***
Ai meletakkan apel merah pemberian Hyuri di meja. Ia
mengamati apel itu lalu tersenyum. “Tidak bisakah kau membantu kami?” Kibum
yang sibuk menyiapkan hidangan makan malam di meja.
“Aku sibuk.” Jawab Ai singkat.
“Ish! Sibuk menatap buah apel itu? Apa istimewanya?”
Kata Kibum sambil berjalan kembali ke dapur.
“Kami datang!” seru Minhyuk yang datang bersama
Jaejin. “Ya, apa yang kau lakukan?” Minhyuk duduk di samping Ai.
“Menatap hadiah.”
“Hadiah? Apel ini?” Jaejin menuding apel di meja dan
Ai mengangguk.
“Kami datang!” Jaejoong datang bersama Wonbin. “Apa
yang kalian lakukan?” Jaejoong duduk bergabung.
“Menemani Ai menatap hadiah.” Jawaban konyol itu
terlontar dari mulut Jaejin.
“Hadiah? Apel ini?” Jaejoong hendak menyentuh apel di depan Ai tapi Ai segera
menangkis tangan Jaejoong. “Ish! Apa istimewa sekali sampai aku tidak boleh
menyentuhnya.”
“Bukankah kau sudah terbiasa mendapat hadiah dari
fans?” Tanya Wonbin.
“Dia satu-satunya siswi yang mau berteman dengan
ku.” kenang Ai dan kemudian tersenyum.
“Biasanya kau tidak mempermasalahkan hal itu, ada
teman maupun tidak. Aku khawatir gadis itu akan menderita karena di anggap aneh
sama seperti mu. Kau selalu membuat orang tidak bisa hidup tenang.” Ejek
Jaejoong.
“Aku tidak minta mereka menaruh perhatian pada ku.”
bantah Ai.
“Annyeong haseyo.” Wooyoung baru tiba dan langsung
duduk bergabung.
“Anak ini resmi jadi orang kita?” Tanya Minhyuk.
“Song Hyuri, sepertinya tidak asing.” Gumam Ai.
“Aku sendiri merasa begitu.” Kibum datang membawa
masakan dan menatanya di meja.
“Semua, ayo kita makan!” panggil Minki. Semua segera
mengitari meja makan.
“Woa~ Hyung sengaja memasak ini semua untuk kami?”
Minhyuk menelan ludah benar-benar di buat ngiler oleh hidangan di meja.
“Besok kalian akan tampil perdana di sekolah, aku
membuat semua masakan ini dan memohon kepada Dewa agar besok kalian bisa tampil
baik.” Ungkap Minki. Semua menatap hari pada Minki. “Karenanya malam ini kalian
harus makan dengan baik. Ayo makan!”
Ai tersenyum melihat Minki dan teman-temannya.
Mereka adalah orang lain namun keluarga bagi Ai. Mereka duduk bersama mengitari
satu meja dan makan malam bersama, sangat akrab. Ai mensyukuri berkah ini dan
tak ingin pergi dari jalan ini. Alunan intro Black Stars-Avril Lavigne
berdenting dari ponsel Ai.
“Yeoboseyo?” Ai sudah berada di luar rumah.
“Apa kabar, Jiyoo?”
Ai menghembuskan nafas panjang. “Euichul Oppa,
akhirnya kau muncul juga!”
“Nee?? Apa aku buat kesalahan dan bersembunyi?”
“Oppa mengirim Jang Wooyoung ke sekolah,
teisatsu-san itu! Oppa, ini kekanak-kanakan sekali! Aku bukan anak kecil lagi
Oppa!”
“Ma’af, ma’af. Wooyoung bukan mata-mata, jadi jangan
terus menyebutnya teisatsu-san seperti itu. Bagaimana persiapan untuk besok?”
“Baik.”
“Appa dan Omma ingin hadir di sana.” Euichul tersenyum
menatap Jinyoung dan Hyunjung yang duduk di hadapannya. “Tapi sayang itu
tertutup untuk umum, bahkan untuk wali murid.”
‘Kenapa aku begitu membencinya? Rasa ini benar atau
salah? Haruskah aku membalasnya? Menghancurkanya?’
“Jinwoon.” Suara Hyunjung membuyarkan lamunan
Jinwoon.
“Omma?” Jinwoon bangkit dari duduknya. “Sejak kapan
Omma disana?”
Hyunjung tersenyum dan mengelus wajah Jinwoon yang
sudah berdiri di hadapannya. Sejenak Jinwoon merasa tenang dan emosinya redam.
“Istirahatlah. Ada orang yang sangat ingin melihat penampilan mu besok. Kau
harus memberikan yang terbaik, em?”
“Seseorang? Siapa itu?” Jinwoon penasaran. Hyunjung
hanya tersenyum dan mengelus kepala Jinwoon sebelum ia pergi. “Omma…”
Minki tersenyum melihat Jaejoong, Wonbin, Jaejin, Minhyuk,
Kibum dan Wooyoung tidur berdesakan. Sedang Ai tidur di sofa di atas keenam
rekannya. Minki mendekati Ai dan membetulkan selimut gadis itu. Ia mengelus
pelan pipi Ai kemudian beranjak ke kamarnya. Ai kembali membuka mata ketika
Minki telah menutup pintu kamarnya. Ai kembali duduk dan melihat keenam
temannya yang telah terlelap.
“Saranghae.” Bisik Ai. Ia tersenyum lalu kembali
berbaring dan berusaha tidur.
***
*P.O.D-School Of Hard Knocks*
Panitia sibuk menata aula serbaguna sejak kemarin
dan pagi ini mereka kembali menyiapkan sisa-sisa keperluan untuk pentas seni.
Murid-murid yang tidak tercantum sebagai pengisi acara sibuk mengantri untuk
masuk aula serbaguna. Murid kelas X di beri prioritas utama untuk masuk lebih
dulu karena ini adalah pesta mereka. Pukul 09.00 waktu Hwaseong Academy, Taemin
membuka acara dan memberikan sedikit sambutan. Son Hyunjoo juga memberikan
sambutan singkat sebelum acara di mulai. Acara pentas seni di mulai dengan demo
dari club-club murid yang ada di Hwaseong Academy.
Di belakang panggung Viceroy duduk bersama Red
Venus. Myungsoo memperhatikan YOWL yang berada di seberang tepat di hadapannya.
YOWL masih bertahan dengan empat personel. Jinwoon dan ketiga rekannya Kim
Jonghyun, Choi Joonghun dan Lee Sungyeol baru tiba. Ia melihat Viceroy dan Red
Venus lalu beralih pada YOWL.
“Mereka hanya berempat?” Tanya Sungyeol.
“Khaja!” ajak Jinwoon.
Stardust band yang di gawangi Jinwoon pada gitar,
Joonghun pada lead gitar, Jonghyun lead vocal dan bass, Sungyeol pada drum
tampil sebagai salah satu band ternama di Hwaseong Academy. Senada dengan
Viceroy, Stardust juga memiliki banyak pendukung di sekolah. Mereka juga kerap
kali mengharumkan nama sekolah. Bahkan satu lagu ciptaan mereka Stardust pernah
di pilih untuk menjadi soundtrack sebuah film remaja.
Ai yang berdiri diantara Kibum dan Wooyoung, lurus
menatap panggung. Tatapannya terfokus pada Jinwoon.
To
Euichul Oppa: Daebak! Stardust, Jung Jinwoon, benar-benar keren.
Ai tersenyum sendiri usai mengirim pesan singkat
pada Euichul. “Sungyeol Sunbaenim keren.” Puji Hyuri yang berdiri di samping
kiri Kibum.
“YOWL lebih keren.” Bela Kibum. Ai kembali tersenyum
melihat kedua temannya ini.
Setelah penampilan murid kelas XII, kini giliran
murid kelas XI. Di mulai dari dance dan drama singkat, cover song dan
penampilan beberapa band. Red Venus tampil membawakan dua buah lagu, sesuai
peraturan dari Dewan Senior. Jieun dan keempat rekannya membawakan lagu ‘THE
CRANBERRIES–STARS’ sebagai lagu kedua mereka setelah sebelumnya membawakan lagu
‘Hillary Duff- Fly’ dimana Yiyoung yang mengambil alih vokal utama. Jaejoong
menyempatkan diri beralih ke depan panggung untuk melihat penampilan Red Venus.
Dan dengan setia Wonbin, Minhyuk dan Jaejin menemani leader YOWL itu.
Berikutnya giliran Viceroy unjuk kebolehan. Viceroy
mendapat sambutan sangat meriah. Lagu pertama yang mereka bawakan adalah ‘SUM
41-It's What Were All About’. Viceroy kembali menampilkan kehebatan rap Hanbyul
dan Byunghun. Kombinasi vokal yang sempurna membuat suasana di dalam aula
serbaguna semakin panas dan hidup. Lagu kedua yang di bawakan Viceroy adalah ‘Good
Charlotte – Misery’. Para penggemar Hanbyul berteriak histeris. Hampir seluruh
gadis di aula meneriakan nama Hanbyul. Gadis-gadis di sekitar Ai pun sama.
“Dia mascot Viceroy?” Tanya Ai.
“Di antara enam pangeran itu, ‘The Vigorous Prince Kim Myungsoo’ menempati
posisi tertinggi. Selain dia paling kaya, dia di nilai paling tampan dan pada
kenyataannya dia memang memiliki jumlah fans terbanyak. Di urutan kedua, ‘The Charming Prince Woo Sunghyun’, yang
terkenal paling ramah dan bersahaja. Peringkat ketiga, ‘The Glorious Pince Jang Hanbyul’, bintang yang
sebenarnya. Hanbyul tidak hanya berbakat di dunia musik, dia juga bintang
lapangan basket, prestasinya tak di ragukan lagi. Selanjutnya, ‘Lake
of Calmness Prince Lee Jungshin’. Dia sangat pendiam dan hobi fotografinya
telah mengantarnya masuk dalam urutan kedua fotografer muda berbakat Korea. Dia
percaya tentang adanya makhluk lain selain manusia yang hidup berdampingan di
dunia ini dan ia terus berusaha membuktikan teorinya itu melalui dunia
fotografi. Kelima, “The Cute
Prince Choi Minhwan’. Dia benar-benar cute dan jika dalam YOWL, Minhwan sama
seperti Jaejin, bukan karena logat Busan tapi ia juga terlalu jujur dan
terkadang sangat cerewet. Terakhir, ‘The Gorgeous Prince
Lee Byung Hun’. Pangeran paling arogan dan di nilai playboy karena ia sering
terlihat akrab dengan banyak gadis. Dia pernah berulang kali terlibat baku
hantam dengan leader YOWL, Kim Jaejoong.” Terang Hyuri membuat Kibum melongo.
“Kau tahu banyak tentang Viceroy?” Tanya Kibum.
Belum sempat Hyuri menjawab, penonton bertepuk tangan riuh ketika pertunjukan
Viceroy berakhir. Dan Ai telah menghilang. “Ai??” Kibum bingung di buatnya.
“Penampilan terakhir dan sekaligus akan menjadi penampilan
perdana bagi band yang selama setahun ini hanya terkenal namanya saja, YOWL.”
Terang Shin Sekyung selaku MC dan mendapat sambutan tawa penonton.
“Sekyung Sunbaenim, kenapa mengatakan hal seperti
itu?” protes Daehyun yang menjadi patner Sekyung.
“Ma’af, ma’af. Jujur saja aku juga sangat penasaran
pada penampilan YOWL.”
“Ok, inilah mereka Young, Ordinary, Wild and Lovely,
YOWL!!!!” panggil Daehyun.
Wooyoung, Kibum dan Hyuri antusias bertepuk tangan
dan hanya mereka bertiga yang menyambut hangat YOWL. Myungsoo tersenyum
mencibir melihat kejadian itu. Ratusan pasang mata itu segera menatap kea rah
trio Wooyoung, Kibum dan Hyuri. Jaejoong, Wonbin, Minhyuk dan Jaejin terlihat
makin gugup di atas panggung melihat kejadian itu. YOWL benar-benar tak punya pendukung
di sekolah.
“Terima kasih atas sambutannya.” Suara Ai memecah
suasana beku itu. “Terima kasih sobat. I love you!” Wooyoung, Kibum dan Hyuri
tersenyum lebar mendengarnya. “Sebelumnya terima kasih untuk kesempatan tampil
ini, dan kamilah YOWL.” Ai terlihat lebih rileks di banding ketiga rekannya. Di
bawah panggung penonton mulai bergumam tentang sosok Ai. Benar, jika Fujiwara
Ayumu adalah member kelima YOWL. Ai tersenyum lalu jari-jarinya mulai menari di
atas tuts tuts keyboard memainkan intro lagu ‘Black Stars-Avril Lavigne’.
"Black Star"
Black
star… Black star
Forever you will be
A shining star… shining star
Be whatever you can be
A rock star… rock star
You will always be
A Black star… Black star… Black star…
Black star… Black star… Black star…
Forever you will be
A shining star… shining star
Be whatever you can be
A rock star… rock star
You will always be
A Black star… Black star… Black star…
Black star… Black star… Black star…



