Last Fantasy
. Genre: series/straight/comedy romance(?)
. Author: shytUrtle
. Cast:
- all my lovely shigUi as Yoo Si Hyeon
- Infinite (Sungkyu, Hoya, Woohyun, Dongwoo, L, Sungyeol, Sungjeong)
- Yoo Hyun Gi, Yoo Jae Suk, Ji Suk Jin, etc.
. Theme song: Infinite (Cover Girl, Amazing, Julia) etc.
Episode #6
From
Prince Woohyun: Terima kasih. Tadi sangat menyenangkan dan ternyata ramen itu
enak. Lain waktu kita berpesta lagi ya ^^
Sihyeon tersenyum membaca pesan Woohyun. Sihyeon
mengetik pesan balasan namun menhapusnya lagi dan mengetik lagi lalu menghapusnya
lagi, itu terjadi beberapa kali. Sihyeon dibuat salah tingkah dengan pesan
singkat itu.
To
Prince Woohyun: Kau sudah sampai? Boleh, kapan-kapan kita pesta ramen lagi, aku
akan mengajak Dongwoo, Howon dan
Myungsoo juga Sungyeol, bolehkan?
From
Prince Woohyun: Wah, pasti akan sangat menyenangkan dan aku akan mengajak
Sungkyu Hyung ^^
“Sungkyu Oppa?? Mereka dekat ya??” gumam Sihyeon
sendiri.
To
Prince Woohyun: OK! ^^
From
Prince Woohyun: Kau, Howon, Dongwoo dan Myungsoo tampak baik hingga kini. Itu
sangat membuat iri.
To
Prince Woohyun: Beruntung memiliki mereka. Jangan iri, kami tak baik sepenuhnya
^^
To
Yoo Sihyeon: Hyunri, bagaimana dengannya? Kalian tak bersama lagi? Apa kalian
membuangnya karena aku?
“Ah…” Woohyun menggaruk kepalanya. “Untuk apa aku
menanyakan hal itu? Tapi apakah benar Hyunri ditendang pergi karena aku? Apa
Sihyeon akan marah jika aku mengirim pesan ini?”
From
Prince Woohyun: Boleh aku bertanya sesuatu? Dan berjanjilah tidak marah
karenanya.
Sihyeon diam menelan ludah membaca pesan yang baru
saja masuk.
To
Prince Woohyun: Silahkan ^^ iya aku janji, aku tidak akan marah, apapun
pertanyaan itu ^_^v
Sihyeon harap-harap cemas menunggu balasan Woohyun.
From
Prince Woohyun: Hyunri, bagaimana dengannya? Kalian tak bersama lagi? Apa kalian
membuangnya karena aku?
Sihyeon terdiam kemudian kembali membaca pesan
Woohyun. Dilema, haruskah ia menceritakan kejadian yang sebenarnya atau
membenarkan alasan yang dibuat Hyunri.
To
Prince Woohyun: Jika aku jawab iya, apa kau akan percaya?
From
Prince Woohyun: Tidak. Aku yakin bukan karena itu.
To
Prince Woohyun: Yakin sekali? Sejauh itu kah kau mengenal kami? Hehehe… tidak,
bukan karena itu tapi ma’afkan aku karena aku tidak bisa menjelaskan alasan
yang sebenarnya, ma’af (~/\~)
From
Prince Woohyun: Iya, aku paham akan hal itu.
Ditengah asiknya ngobrol dengan Woohyun via sms,
Sihyeon tiba-tiba teringat pada Myungsoo. Seharian ini Myungsoo tak muncul
bahkan tak menyapa via sms atau telefon seperti sebelumnya sa’at ia tak bisa
menemui Sihyeon secara langsung.
To
Myungsoo: Kau menghilang lagi?
Sihyeon menunggu namun Myungsoo tak kunjung membalas
pesan singkatnya. Ponsel Sihyeon berdering
tanda pesan masuk. Ia segera meraihnya.
From
Prince Woohyun: Istirahatlah yang cukup dan milikilah banyak waktu untuk itu,
ini demi kualitas suaramu ^_^
To
Prince Woohyun: Iya ^^
From
Prince Woohyun: Selamat tidur…
Sihyeon meletakan ponselnya begitu saja dan berusaha
untuk tidur.
***
Sihyeon amat bersemangat pagi ini. Ia berharap
Myungsoo akan muncul dan menemaninya mengantar susu seperti sebelumnya ketika
Myungsoo lupa membalas pesan singkat Sihyeon.
“Kau??” Tanya Sihyeon ketika keluar rumah. “Kenapa
kau kesini pagi-pagi?”
“Morning Angel.” Sapa Sungyeol lengkap dengan senyum
lebarnya.
“Angel?? Ish!”
“Ya! Sihyeon aa!!!” Sungyeol mengejar Sihyeon. “Ada
berita bagus tapi kau tak memberi tahu aku, kenapa?”
“Apa untungnya untuk mu?”
“Baguslah, akhirnya kau menuruti kata-kata ku.”
“Kata-kata mu??”
“Jangan terus berada ditempat gelap dan ambillah
kesempatan ketika dia datang padamu.”
“Aa, Sungyeol, apa itu kau??”
“Iya itu aku.”
“Jadi benar itu kau??”
“Ha??”
“Ayolah, jangan pura-pura lagi.”
“Pura-pura?? Kau ini bicara apa Sihyeon??”
“Silence, kau adalah silence!”
“Silence?? Ap-apa itu??” Sungyeol menggaruk
kepalanya.
“Ish!”
“Ya, Sihyeon aa!!”
Sihyeon lebih banyak diam seharian ini. Dongwoo dan
Howon kembali bertanya-tanya.
“Hah… bukan Dongwoo, bukan juga Howon, Sungyeol
apalagi…” gumam Sihyeon lirih.
“Sihyeon aa…” Woohyun tiba-tiba muncul dihadapan
Sihyeon.
Sihyeon benar terkejut. Baru saja ia berkata ‘apakah
mungkin itu Woohyun?’ dalam hati dan tiba-tiba Woohyun benar mencul
dihadapannya.
“Apa aku mengejutkanmu?”
“Ah, tidak. Ma’af…” Sihyeon membungkukan badan. “Ada
yang bisa aku bantu? Oh, hari ini kita tidak ada jadwal latihan kan?”
Woohyun menarik tangan Sihyeon memaksa gadis itu
keluar dari balik meja kasir. Mau tak mau Sihyeon harus meninggalkan meja
kasir. Woohyun memegang kedua pundak Sihyeon dan mendorong gadis yang berjalan
di depannya itu menuju rak tempat ramen instan di pajang. Howon dan Dongwoo
jongkok dan diam-diam memperhatikan Sihyeon dan Woohyun.
“Nah, kita sampai. Bantu aku memilih ramen yang
enak.” Pinta Woohyun.
“Kau mau membeli ramen??”
“Em.”
“Kau mau makan ramen??”
“Em.”
“Kau yakin??”
“Em.”
“Apa kau bisa memasaknya??”
Woohyun mendekatkan wajahnya pada telinga Sihyeon.
“Bukankah ada kau, Yoo Sihyeon?” Woohyun sedikit berbisik dan ia tersenyum.
“Oh, baiklah! Ayo kita pilih!” Sihyeon maju
selangkah dan segera mengambil beberapa ramen dihadapannya.
Sukjin yang penasaran ikut jongkok dan memperhatikan
Sihyeon bersama Dongwoo dan Howon. “Pemuda itu pacar Sihyeon?”
“Ssh!! Paman jangan keras-keras!” bentak Dongwoo.
“Apa benar mereka resmi pacaran?” Tanya Howon lirih.
“Mereka terlihat baik bersama, tapi ini terlalu
cepat.” Jawab Dongwoo masih berbisik.
“Aku akan menjemput mu besok, untuk latihan, ok!”
kata Woohyun sebelum pergi.
“Iya. Terima kasih sudah berkunjung.” Sihyeon
kembali membungkukan badan. “Huft…” Sihyeon menghela nafas dan mengibaskan
tangannya mengusir rasa panas yang memenuhi seluruh tubuhnya.
“Ya, ada apa dengan kalian?” Tanya Dongwoo.
“Harusnya kau bertanya ada apa dengannya? Woohyun,
hah… ada apa dengannya??”
“Omo! Mungkinkah jika dia mulai menyukaimu??” tebak
Howon.
“Ap-apa?? Howon! Jangan bicara sembarangan! Itu
tidak mungkin.” Sihyeon makin keras
menggoyang tangannya.
“Mungkin saja, iya kan??” Howon menyikut Dongwoo.
“Iya, itu mungkin saja terjadi. Belakangan ini
kalian dekat dan rasa itu bisa saja tumbuh dihatinya tanpa dia sadari, karena
itu dia jadi bersikap amat baik padamu.” Dongwoo membenarkan. “Sihyeon,
bukankah ini yang kau inginkan?”
“Yang aku inginkan??”
Sihyeon berjalan sendiri menyusuri trotoar. Kejadian
di minimarket kembali melintas dalam benaknya. Sihyeon menghentikan
langkahnya.”Woohyun, ada apa dengannya?? Hah… tidak, dia tidak apa-apa dan
sikapnya adalah normal.” Sihyeon menggelengkan kepalanya. “Hah… apakah benar
ini yang aku inginkan??”
“Yoo Sihyeon!”
“Myungsoo??” Sihyeon berseri melihat Myungsoo. Ia
segera berlari menghampiri pemuda itu. “Kau kemana saja?”
“Kau merindukan aku atau mengkhawatirkan aku?”
“Dua-duanya! Kau puas??”
Myungsoo terkekeh. “Ma’afkan aku.”
“Lalu??”
“Kau ini kenapa??”
“Tidak.” Sihyeon berusaha meyakinkan dengan
senyumnya.
“Kau luang?”
“Em, iya. kenapa?”
“Temani aku, apa kau mau? Setelah ini pasti akan
sulit untuk mencari waktu luang bersama mu.”
“Kau mau kemana?”
“Aku tetap saja, tapi kau.”
“Aku??”
“Em.”
Sihyeon menundukan kepala. ‘Apa Myungsoo juga
berpikir sama tentang Woohyun?’ batin Sihyeon.
“Gadis bodoh!” Myungsoo memukul pelan kepala
Sihyeon. “Pertunjukan sudah didepan mata, aku dan juga kau, kita akan sibuk
latihan, karenanya akan sulit mencari waktu untuk bermain bersama.”
“Ah…” Sihyeon tersenyum lega. “Kau benar. Kita akan
kemana??”
“Eum… bagaimana kalau berkeliling saja?” Myungsoo
menunjuk motornya.
“Ok!”
Myungsoo tersenyum dan mengulurkan tangan. Sihyeon
membalas senyum meraih tangan Myungsoo.
# INFINTE- 06. 니가좋다 (06. Nigajotda) #
Myungsoo
membawa Sihyeon dalam boncengannya dan berkeliling menikmati gemerlap
pemandangan kota di malam hari. Myungsoo melajukan motornya menyusuri jalanan
kota menembus keramaian lalu lintas. Myungsoo juga Sihyeon terlihat amat
bahagia. Senyum terus terkembang diwajah keduanya. Sihyeon terlihat sangat
menikmati perjalanannya. Entah sudah berapa lama ia tak menikmati waktu luang
seperti ini. Myungsoo meraih tangan kiri Sihyeon dan melingkarkan
dipinggangnya. Sihyeon tersipu dan menundukan kepala menerima perlakuan
Myungsoo. Puas mengajak Sihyeon berkeliling, Myungsoo membawa gadis itu ke
tempat tinggalnya. Sihyeon duduk di teras sambil menatap langit malam.
“Oh…
panas…” Myungsoo muncul membawa dua buah cup mie. “Ini memalukan sekali,
setelah mengajakmu berkeliling tapi berujung seperti ini saja.” Myungsoo duduk
disamping Sihyeon.
“Sadar
juga?? Asal kau ikhlas, aku bisa terima kok, Rooftop Prince.”
“Rooftop
Prince? Kau menyebut sebuah judul drama?”
“Drama?
Eum, aku tidak tahu.”
“Lalu,
Rooftop Prince itu apa maksudnya?”
“Itu
kau.”
“Aku??
Kenapa begitu??”
“Kau
tampan seperti pangeran.”
“Lalu?
Aa, bukankah yang tampan seperti pangeran itu Woohyun?”
“Iya,
dia memang pangeran sebenarnya dan kau hanya seperti pangeran.”
Myungsoo
tertawa geli. “Terima kasih sudah mengatakan aku tampan dan seperti pangeran.”
“Dan
kau tinggal dipuncak bangunan seperti ini, lalu di kawasan ini lebih banyak
gadis daripada pemuda, pasti banyak yang mengidolakan mu.”
“Kau
pikir aku ini siapa?”
“Kim
Myungsoo?”
“Yoo
Sihyeon!!”
“Ayo
kita makan! Eum... baunya sedap sekali, pasti enak. Ramen seduh ditambah
pangeran tampan.”
“Ya!”
“Makan,
ayo makan.”
Myungsoo
diam menatap Sihyeon. “Sihyeon, kenapa kau terlihat murung? Apa ada masalah?”
“Dongwoo
dan Howon, aku rasa mereka salah paham tentang Woohyun dan Woohyun... ada apa
dengannya?”
“Mereka
menduga Woohyun mulai suka padamu?”
“Em.
Tadi itu... ah, tidak itu tidak mungkin kan? Myungsoo, kau setuju dengan ku
kan?”
“Ayo
kita makan.”
Neol cheoeum bon sungan kkumin geot
gatasseo. Cheonsa cheoreom yeppeun ni miso ttaemune. Geureon niga naye sarangi
dwemyeon eotteolkka. Sangsang maneuro do haengbokhae jineun geol…
Naneun neoreul sangsanghae, nareul
bomyeo utneun. Neoreul sangsanghae, nae son jaba juneun neol Oh oh… Mabeobeul
georeo, nae sarangi dwegil. Neoreul sangsanghae, nae pumeseo jamdeun. Neoreul
sangsanghae, naege kiseu haneun neol Oh oh… Dalkomhan sangsangeul hae…
Pureun eondeok wiye hayan jibeul
jitgo. Noran geunereul taneun uri dulye moseub Oh.. Moning keopireul jumyeo
achimeul kkae uneun neoreul. Sangsang meurodo haengbokhae jineun geol…
Naneun neoreul sangsanghae, nareul
bomyeo utneun. Neoreul sangsanghae, nae son jaba juneun neol Oh oh… Mabeobeul
georeo, nae sarangi dwegil. Neoreul sangsanghae, nae pumeseo jamdeun. Neoreul
sangsanghae, naege kiseu haneun neol Oh oh… Dalkomhan sangsangeul hae…
Lalala nonono doo do doo… Maeil
sangsanghae, neowa hamkke haneun. Nareul sangsanghae, neoreul ana juneun nal Oh
oh… Hwangheulhan sangsangeul hae. Maeil urireul sangsanghae, seoro banjjok
dweneun. Urireul sangsanghae, seoro dalma ga neun geol Oh oh… Naye kkum deuri iru
eoji gireul.
Naneun neoreul saranghae, nae
sarangi dwe eojwo. Neoreul saranghae, yonggi nae gobaek halge Oh oh… You’re my
imagine love yeah…
Sihyeon
bertepuk tangan ketika Myungsoo selesai bernyanyi. “Daebak..”
“Akh…”
Myungsoo tersenyum tersipu. “Terima kasih.”
“Em. Antar
aku pulang sekarang.”
Myungsoo
mengantar Sihyeon pulang. “Terima kasih karena malam ini kau bersedia menjadi
milikku, sejenak.”
“Milikku??
Ish! Sudah pulang sana!”
“Iya. Kau
masuklah dulu.”
“Em.”
Sihyeon pun pergi.
“Semoga
mimpi indah, Yoo Sihyeon.” Sihyeon menoleh dan tersenyum sebelum memasuki
rumahnya.
“Akhirnya
kalian pergi berkencan juga.” Sambut Hyungi ketika Sihyeon masuk.
“Itu tidak
seperti yang kau lihat!” Hyungi tersenyum dan masuk ke kamarnya. Sihyeon
menhembuskan nafas panjang dan meletakan telapak tangan di dadanya.
“Mulai
terasa aneh ya?” kata Sungjeong sambil berlalu ke dapur.
“Kalian!
Ah…”
Sihyeon
terbaring dan terjaga. Kejadian di minimarket bersama Woohyun kembali muncul.
“Apa benar Woohyun itu… Silence??” gumamnya. Lalu muncul kembali ingatan ketika
ia bersama Myungsoo hingga ketika Myungsoo bernyanyi sambil menggenjreng
gitarnya. Sihyeon tersenyum mengenangnya.
“Terima kasih karena malam ini kau
bersedia menjadi milikku, sejenak.”
“Milikku??
Aish…”
***
Sungkyu
memperkenalkan Sihyeon secara resmi sebagai pengisi suara Hyunri pada seluruh
pemain teater Inspirit. Mereka menyambut baik dan Sihyeon dengan mudah
beradaptasi.
“Hah, dia
benar terlihat baik disana.” Komentar Sungyeol yang memperhatikan dari tribun
penonton. “Biasanya dia duduk disini bersama ku dan sekarang…” Sungyeol
tersenyum.
“Aku
senang, akhirnya ia mengambil kesempatan ini, siapa tahu ini jalan baginya
untuk kembali ke dunia teater.” Sambung Howon.
“Semoga
saja.” Dongwoo mengamini.
“Kalian
tahu tentang Silence?” Tanya Sungyeol.
“Silence??”
Tanya Howon. “Aku tidak tahu.”
“Aku juga
tidak tahu, kenapa?” Tanya Dongwoo.
“Sihyeon
menduga itu aku, siapa sebenarnya dia?”
“Pembaca
setia Lime Island.” Jawab Hyungi. “Nuna juga aku tak tahu siapa dia.”
“Hyungi
kemana?” Tanya Sihyeon sa’at latihan usai.
“Dia
tiba-tiba pamit pergi.” Jawab Sungyeol.
“Aku
senang melihatmu cepat beradaptasi, terima kasih Sihyeon.” Sungkyu bergabung.
“Harusnya
Hyung mendengarku dari dulu.”
“Iya,
ma’af Sungyeol.”
Sungjeong,
Sihyeon, Myungsoo, Howon, Dongwoo, Sungyeol dan Sungkyu duduk melingkar diatas
lantai panggung melepas lelah. “Ayo kita pesta…” Jinyoung datang membawa cup
mie panas yang tertata rapi dalam baki dan membagikannya.
Semua
terlihat kaget ketika Woohyun datang. “Boleh aku bergabung?”
“Tentu
saja! Ayo kita pesta! Aku sudah membuat banyak ramen.” Jinyoung menyambut.
Woohyun
mengantar Sihyeon dan Sungjeong pulang. Sungjeong pamit masuk lebih dulu
meninggalkan Woohyun dan Sihyeon.
“Senang
sekali melihat mereka semua datang mendukung mu.” Kata Woohyun.
“Mereka
tidak akan hadir sa’at pertunjukan, mereka memilih menemani ku sa’at latihan.
Terima kasih sudah mengantarku.”
“Em.”
Sihyeon
terkejut ketika Woohyun mendaratkan kecupan hangat dipipi kirinya. “Selamat
tidur Yoo Sihyeon, semoga kita bertemu dalam mimpi.” Bisik Woohyun tepat
ditelinga Sihyeon.
Sihyeon
mematung ditempat ia berdiri. Perlahan ia menyentuh pipi kirinya.
***
Sihyeon
lebih banyak diam hari ini. Berulang kali ia menggelengkan kepala kemudian
memukul pelan kepalanya sendiri. “Itu hanya bentuk dukungan bagiku, hanya
dukungan, hanya dukungan…” kata Sihyeon terus menerus sambil memejamkan mata
membuat Dongwoo dan Howon makin bertanya-tanya ada apa gerangan.
“Sihyeon!!!”
suara Sungyeol mengejutkan Sihyeon hingga gadis itu kembali membuka mata dan
menatap heran pada Sungyeol yang sudah berdiri dihadapannya. “Jangan menatap ku
seperti itu, aku datang mengantar mereka.” Sungyeol menunjuk Jung Ah dan Juyeon
yang baru saja memasuki mini market.
Dongwoo,
Howon, Sihyeon dan Myungsoo duduk berjajar diruang tamu kediaman Sihyeon
menatap tumpukan barang diatas meja.
“Mereka
membeli semua ini untukmu? Gratis?? Myungsoo, apa ini termasuk pelayanan?”
Tanya Dongwoo.
“Aku tidak
pernah mendapatkannya.” Jawab Myungsoo.
“Ah, ini
barang-barang mahal.” Soojung tiba-tiba muncul dari balik tumpukan barang.
“Tapi Nuna
tidak bisa dandan.” Sambung Hyungi.
“Aku akan
membantu Onni.”
“Hah, aku
harus bekerja sekarang. Aku pergi dulu.” Sihyeon pamit.
“Nuna
pasti sangat shock menerima semua ini.” Komentar Sungjeong.
***
Sihyeon
membersihkan rumah Woohyun sambil terus memikirkan kejadian hari ini. Apakah
Woohyun yang meminta Jung Ah dan Juyeon untuk mengajaknya jalan-jalan dan
membeli baju serta barang-barang mahal itu? Benarkah itu Woohyun? Atau Sungkyu
yang selalu baik padanya?
“Oh!”
Sihyeon terkejut ketika membuang sampah ke depan rumah dan melihat Hyunri sudah
berdiri disana.
“Kau juga
disini??” Tanya Hyunri dengan tatapan kaget.
“Jangan
salah paham. Aku hanya bekerja disini, dua kali seminggu, rabu dan minggu. Oh,
kau datang mencari Woohyun? Dia tidak ada dirumah sekarang.”
“Kalau
begitu aku akan menunggunya.” Hyunri menerobos masuk.
“Hah… anak
ini.” Sihyeon menyusul masuk. “Kau mau minum apa? Ah, ambil saja sendiri, aku
masih banyak pekerjaan.”
“Beginikah
caramu melayani tamu?”
Sihyeon
menghela nafas dan kembali kehadapan Hyunri. “Apa yang bisa aku lakukan
untukmu?”
“Sudah
berapa lama kau bekerja untuk Woohyun?”
“Belum
genap satu bulan juga.”
“Kalian
terlihat baik ketika bersama. kau masih menyukainya?”
“Inikah pertanyaan
yang harus kau lontarkan sa’at kau bertemu teman lama mu? Aku, Myungsoo, Howon
dan Dongwoo tidak pernah membuang mu karena kau dekat dengan Woohyun.” Hyunri
terkejut mendengarnya. “Kami juga tidak membuangmu karena naskah itu. Sudahlah
Hyunri, hentikan saja.”
“Kau jadi
pandai bicara sekarang. Apa kau ingin aku mengatakan pada Woohyun tentang
perasaanmu dan semua yang kau buat?!”
“Lakukan
saja apa yang kau mau.”
“Sihyeon!!
Ish!!”
“Aku
pulang!!” Woohyun dengan wajah berseri memasuki rumahnya. Ia segera menarik
senyumnya ketika Hyunri menyambutnya.
“Satu jam
aku menunggumu!” protes Hyunri pada Woohyun yang melewatinya begitu saja.
“Itu
keinginan mu sendiri.”
“Kau sudah
pulang?” Sihyeon membawa panci berisi ramen panas.
“Sihyeon.”
Woohyun berbinar dan segera menghampiri Sihyeon di meja makan. “Woa… sedap
sekali…”
“Mereka
benar-benar menggelikan.” Gerutu Hyunri.
“Hyunri,
ayo makan. Kau pasti lapar juga.” Ajak Sihyeon.
“Hah!”
Woohyun kemudian menyeret Hynnri untuk duduk bergabung. “Kenapa? Kau tidak mau
makan? Cobahlah dulu, tidak baik menolak makanan.” Woohyun mengambil ramen
untuk Hyunri.
“Ayo kita makan.”
Ragu-ragu
Hyunri akhirnya menyantap ramen dihadapannya. Sihyeon tersenyum melihatnya.
“Enak bukan?” Tanya Woohyun.
“Ini
seperti reuni kecil.” Kata Sihyeon sa’at Hyunri mengantar mangkok kotor ke
dapur. “Sayang Myungsoo, Dongwoo dan Howon tidak ada disini.” Sihyeon segera
menyelesaikan tugasnya mencuci piring. “Jangan khawatir, tidak akan ada
hubungan yang lebih dari ini antara aku dan Woohyun.” Kata Sihyeon sebelum
Hyunri pergi.
Sihyeon
mengobrak-abrik isi tasnya bahkan memuntahkan seluruh isi tasnya keluar. “Hah…
tidak ada. Dimana dia??”
-----TBC------
.shytUrtle_yUi.
¤ Bilik shytUrtle - Cerita di Hari Senin 16.07.2012 ¤
tempurung kUra-kUra, 16.07.2012
I hate monday! No, I don't. I love monday! Really? Everyday is wonderfull and I'm happy! FIGHTING! (^o^)9
Huft.. himdeuro...
Kenapa sebagian orang mengatakan 'I hate monday'? Saya jadi kasihan
sama 'monday', di benci mulu. Dan saya jadi berpikir, apakah saya pernah
membenci 'monday'? Pastinya pernah karena saya hanya manusia biasa dan
pasti pernah mengatakan atau bahkan berteriak 'I hate monday' atau 'hari
senin yang menyebalkan'. Walau saya ingat-ingat dari jaman sekolah
dulu, saya selalu mencoba menikmati hari-hari saya dari senin sampai
senin lagi. Kalau sekarang, sepertinya sama saja karena setiap hari itu
berjalan seperti ini saja dan melelahkan, namun saya (mencoba dan
berusaha) menikmatinya ^^v
Ada apa di hari senin ini? Dimulai dari bangun yang 'agak' kesiangan
(emang tiap hari bangunnya agak kesiangan) ditambah pagi yang 'agak'
mendung dan dingin. Hah, rasanya ingin kembali menarik selimut dan
kembali membentuk pulau dibantal terbang ke alam mimpi. Dengan malas
saya turun dan keluar dari tempurung kUra-kUra. Hah, dingin sekali dan
saya tidak mandi ^...^v
Pasti hari ini sibuk, ya pasti. Walau anak sekolah belum sepenuhnya
aktif namun ada pekerjaan lain yang membuat sibuk. Pertama, melanjutkan
menulis FF kekeke~ Bukan pekerjaan utama ini mah. Yang pasti tadi sibuk
ditambah patner saya agak rewel huhuhu (T.T) Tenang ching, ane uda
telfon Pak Gatot, dokter kamu, sabar ya and get well soon *peluk mesin
foto copy*
Astaghfirullah! Kesetrum!
Pagi menjelang siang, di tengah-tengah sibuknya saya mengerjakan
foto copy. Tiba-tiba ada kehebohan di depan rumah. Eh? Apa ya? Kok suara
Bapak saya. Ngintip! Dan... bwahahahahaha....... Ane ngakak ampek perut
sakit. Bapak yang kerja'annya jadi tukang kebun alias pesuruh di
PUSKESMAS lagi cabutin rumput di depan garasi. Nah yang bikin saya
ngakak, Bapak di temenin, bukan hanya di temenin tapi dibantuin nyabut
rumput sama cewek. Bukan cewek, tapi nenek-nenek nggak waras.
Bwahahahahaha....... Sumpah ngakak. Itu nenek nggak waras perhatian
banget sama Bapak saya sampek di akui jadi anaknya ckckck. Kasihan itu
nenek. Udah tua, rada nggak waras dan hidup di jalanan. Dimana
keluarganya? Hah... tentang kehidupan dan apa yang akan terjadi nanti,
itu misteri.
Lumayan saya bisa tertawa ngakak. Ya ALLOH, anak macam apa saya ini?
Ada suka ada duka. Ada senang ada derita. Ada tawa ada tangis. Ada
hitam ada putih dan ada kebohongan juga kejujuran. Berbohong, haruskah?
Bagaimana bisa kau bermulut manis dan mengatakan 'iya, aku
mencintainya'? Tapi kau tak sepenuhnya jujur. Dia mencintaimu segenap
jiwa dan raganya, tapi inikah yang kau beri? Tidak bisakah kau jujur
walau hanya untuk membalas semua apa yang telah ia lakukan dan berikan
padamu? Bukan, itu bukan hubungan dengan cinta yang sebenarnya. Karena
cinta, saling mencintai, tidak hanya satu pihak yang berkorban. Cinta,
saling mencintai adalah saling memberi dan menerima serta saling
menopang satu sama lain. Sesungguhnya do'a orang yang teraniya itu akan
lebih cepat di kabulkan.
Semoga kita semua dituntun menuju jalan kebenaran di jalan ALLOH SWT, amin.
Ma'af jika ada kata yang tidak berkenan dan semoga bermanfa'at.
.shytUrtle-yUi.
Last Fantasy
. Genre: series/straight/comedy romance(?)
. Author: shytUrtle
. Cast:
- all my lovely shigUi as Yoo Si Hyeon
- Infinite (Sungkyu, Hoya, Woohyun, Dongwoo, L, Sungyeol, Sungjeong)
- Yoo Hyun Gi, Yoo Jae Suk, Ji Suk Jin, etc.
. Theme song: Infinite (Cover Girl, Amazing, Julia) etc.
Episode #5
Woohyun berjalan menyusuri koridor menuju ruang
latihan vocal. Dengan handsfree menutup dua lubang telinga dan kedua tangan
tersimpan rapi disaku jaketnya. Woohyun menhentikan langkahnya dan ekspresinya
berubah kesal.
“Kenapa kau disini?” tanyanya datar.
“Annyeong… bukankah harusnya begitu cara menyapa
seseorang?” Hyunri –Jung Hyunri- bangkit dari duduknya. “Apa kau lupa siapa aku
sekarang? Ha? Aku datang kemari untuk latihan, kau paham?!”
“Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan!” kata
Woohyun sambil berjalan menuju ruang latihan.
“Anak ini!!!”
“Bagaimana??” Tanya Sungkyu.
“Hyung menemui ku hanya untuk ini?” Myungsoo balik
bertanya.
“Apa ini terdengar lucu dan tak masuk akal?”
“Tidak.”
“Myungsoo, waktu kita tidak banyak lagi. Tolong
pikirkan lagi, em?”
Woohyun duduk dan menyincingkan senyum melihat
Hyunri latihan menyanyi. Ia kemudian menggelengkan kepala dan kembali memasang
handsfree dikedua telinganya.
“Ekspresimu itu, menghina sekali!” Hyunri berdiri
melipat tangan dihadapan Woohyun.
“Masih sama, tidak berubah sama sekali.”
Hyunri sedikit memiringkan kepala, “apa aku tidak
berbakat? Di matamu selalu seperti itu kah?”
Woohyun bangkit dari duduknya. “Waktu kita tidak banyak,
daripada terus mengomel lebih baik kau giat berlatih.”
“Mengomel? Woohyun…”
“Aku mohon padamu, perbaiki semua, ini demi teater
Inspirit. Ini pertaruhan besar kami dan kami bergantung pada mu, Jung Hyunri.”
Hyunri tertegun ditempat ia berdiri. Terus
dipandanginya punggung Woohyun yang berjalan pergi. “Woohyun, memohon padaku??”
***
“Aku telah memikirkannya dan… aku rasa kita harus
mengadakan pesta, pesta besar dan meriah.” Dongwoo mengangguk sambil mengelus
dagunya.
“Dimana? Ah, kita bisa menyewa restoran ramen
diujung jalan ini, tempat itu lumayan besar kan?” sambung Howon.
“Iya iya, itu bisa jadi alternatif.”
“Kalian! Kembalilah pada kenyataan! Semua itu masih
abu-abu, kabur.”
“Aku optimis, apa itu salah? Kau sudah masuk daftar
40 besar, aku rasa untuk lolos ke sepuluh besar bukanlah hal yang tidak
mungkin.”
“Dari total 423 peserta, kau lolos masuk 40 besar,
itu hanya dengan penilaian tahap satu. Setelah ini akan ditimbang ulang, jalan
menuju sepuluh besar terbuka lebar untukmu Sihyeon.” Howon ikut bicara.
“Apa ini tidak terlalu berlebihan? Hah… terserah
bagaimana Tuhan menentukan akhirnya, aku pasrah.” Kata Sihyeon.
“Beberapa hari ini Myungsoo tidak terlihat, ada apa
dengan kalian?” Tanya Dongwoo.
“Kami?? Eum, tidak ada.”
“Mungkin dia sibuk, kau juga tahu, sekarang teater
Inspirit sedang diujung tanduk.” Komentar Howon.
“Ah, iya. Aku lupa tentang itu.” Dongwoo menggaruk
kepalanya.
“Sihyeon, apa mereka sudah menemukan pemeran
penggantinya?”
“Aku tidak tahu.”
“Myungsoo tidak memberi tahumu? Woohyun??” Tanya
Dongwoo.
Sihyeon menggeleng. “Sungyeol pun berlaku sama. Hah!
Aku benar penasaran siapa pengganti Nona Kim Soo Yee!” Howon dan Dongwoo saling
memandang. “Sabtu ini… iya…”
…Tentang
waktu yang akan datang, abu-abu. Masa depan adalah hal yang tidak bisa kita
sentuh, maya. Terkadang apa yang kita rencanakan dan kita yakini sudah pasti
ada dalam genggaman kita, bisa jadi terlepas dari garis rapi yang kita buat.
Segalanya, apapun itu bisa berubah. Seberapa besar keyakinan dan usaha kita,
tetap saja kodrat kita adalah sebagai manusia biasa. Kita hanya bisa berusaha
dan berdo’a, sedang akhirnya hanya Tuhan yang berhak menentukan dan itulah yang
terbaik bagi kita, umat-Nya. Meskipun itu kegagalan. Tuhan tidak mungkin
membenci makhluk-Nya. Ketika memberi kita kegagalan, Tuhan punya rencana lain
untuk kita. Terkadang Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta, tapi Tuhan
memberikan apa yang kita butuhkan. Jangan pernah menyerah, teruslah berusaha
dan jangan lupakan do’a. Lalu biarkanlah waktu membawa kita pada akhir yang
telah digariskan Tuhan.
Sihyeon menghela nafas usai menyelesaikan bagian
akhir dari tulisannya hari ini. Seperti biasa ia duduk bersila diatas kursi
taman dikawasan play ground tempat ia biasa menghabiskan waktu untuk
mendapatkan layanan wifi. “Paman Satpam di sekolah Hyungi?? Kenapa aku jadi
merindukannya? Hagh… sudah lama aku tak main-main dengan Paman Satpam itu
hehehe…” gumam Sihyeon sendiri.
Silence
Musim
semi telah tiba, kenapa kau murung?
Sihyeon tersenyum membaca komentar yang baru saja
masuk pada kirimannya hari ini.
Lime
Lady
Just
a little unwell J
Silence
Aku
tahu. Apa kau ingin merubahnya?
Lime
Lady
Tidak.
Silence
Kenapa
tidak? Kau mampu melakukannya, hanya saja kau tidak punya keberanian, aku benar
kan?
Lime
Lady
Terima
kasih sudah memberiku semangat ^_^
Silence
Ayolah!
Buat perubahan, Lime Lady!
Lime
Lady
Aku
tidak punya kuasa, aku bukan Tuhan.
Silence
Siapa
yang menyebutmu Tuhan? Kau juga aku, kita memang bukan Tuhan, tapi kau juga
aku, kita memiliki kekuatan yang diberi Tuhan. Berjanjilah padaku.
Lime
Lady
Berjanji
untuk apa?
Silence
Jangan
menyia-nyiakan kesempatan lagi.
Lime
Lady
Kesempatan?
Lama menunggu, tidak ada balasan dari Silence.
Sihyeon pun berkemas dan pergi. Orang misterius yang sedari tadi memperhatikan
Sihyeon sejak gadis itu sampai di taman bermain juga turut pergi.
Sihyeon terbaring menatap langit-langit kamarnya. Ia
tak bisa memejamkan mata meskipun tubuhnya sangat lelah. Myungsoo belum juga
muncul atau sekedar membalas pesan singkat yang dikirim Sihyeon. Bahkan
Myungsoo juga tak mau menerima panggilan dari Sihyeon.
“Ada apa dengan anak itu? Apa dia baik-baik saja?
Aaa… kenapa aku terus memikirkan Myungsoo? Kenapa aku mengkhawatirkannya? Apa
dia baik-baik saja?? Aish…” Sihyeon menutup wajahnya dengan bantal. “Sungkyu
Oppa…” katanya kemudian kembali membuka wajah. “Kenapa Sungkyu Oppa tiba-tiba
ingin bertemu dengan ku besok? Hah…” Sihyeon menghembuskan nafas panjang lalu
memejamkan mata berusaha tidur.
***
Pukul 10 pagi, Sungkyu berjanji menunggu ditaman.
Sihyeon sengaja berangkat lebih awal. Daripada Sungkyu menunggunya, Sihyeon
memilih ia menunggu Sungkyu. Tanpa diduga Sihyeon dan Sungkyu datang bersamaan.
Kemudian keduanya duduk berdampingan namun hanya diam. Suasana sedikit
canggung.
“Oppa..” Sihyeon memulai obrolan. “Tumben sekali
mengajakku bertemu, ada apa?”
“Ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu,
tapi tidak disini.”
“Tidak disini??” Sihyeon berbisik.
“Tunggu saja, sebentar lagi kita pergi.”
Sihyeon mengangguk dan kembali diam meskipun ada
ribuan tanya memenuhi otaknya. Sihyeon terkejut ketika Myungsoo tiba-tiba
muncul 10 menit kemudian.
“Ma’af aku terlambat.” Kata Myungsoo seraya
membungkuk dihadapan Sungkyu dan Sihyeon. Sihyeon kebingungan sedang Sungkyu
tersenyum manis. “Kita berangkat sekarang?”
Sihyeon hanya diam duduk dikursi belakang mobil
Sungkyu. Sesekali ia menatap Sungkyu yang duduk dibelakang kemudi kemudian
Myungsoo yang duduk disamping Sungkyu. Sihyeon melihat keluar kaca mobil, “Oppa
ini jalan menuju teater Inspirit, kita menuju kesana?”
“Akhirnya kau bicara juga. Iya, kita menuju kesana.”
Jawab Sungkyu.
“Ke-san-na? Untuk apa??”
“Presedir Hyung ingin bertemu denganmu.”
“Ap-apa?? Tuan Presedir ingin bertemu denganku??
Untuk apa?? Apa aku membuat kesalahan??” Sungkyu hanya tersenyum menanggapinya.
“Myungsoo!!!”
“Duduk saja, kau akan tahu setelah kita sampai.”
Jawab Sungkyu.
Sihyeon berjalan dibelakang Sungkyu, Myungsoo
menemani disampingnya. Pikiran Sihyeon terasa kacau kini, ia membayangkan
hal-hal buruk, tentang kemarahan Tuan Presedir juga hal buruk lainnya. Sihyeon
menghela nafas dan menunduk. Myungsoo tersenyum melihatnya, lalu ia meraih
tangan kanan Sihyeon dan menggenggamnya.
Sihyeon terhenyak hingga menoleh menatap Myungsoo. Myungsoo tersenyum manis dan
Sihyeon merasa tenang melihatnya. Sihyeon tersenyum tersipu dan kembali
menunduk.
Jantung Sihyeon makin berdetub kencang ketika pintu
ruangan presedir terbuka. Didalam ruangan itu tidak hanya ada Presedir teater
Inspirit Kim Jay, namun ada juga Woohyun, Gahee, Jung Ah, Juyeon dan beberapa
petinggi teater Inspirit. Namun yang paling membuat Sihyeon terkejut adalah
keberadaan teman lamanya Jung Hyunri disana. Bukan hanya Sihyeon yang terlihat
kaget, namun sama halnya juga Hyunri. Ia juga bertanya-tanya untuk apa Sihyeon
berada disana.
Kim Jay tersenyum lebar melihat semua sudah
berkumpul dan ia pun membuka rapat hari ini. Usai berdiskusi selama 2 jam, Kim
Jay akhirnya membubarkan rapat hari ini. Satu per satu meninggalkan ruangan Kim
Jay. Kim Jay tersenyum manis pada Sihyeon, gadis itu juga membalas senyum lalu
pamit pergi.
“Dunia ini benar-benar sempit ya…” Hyunri menyapa
Sihyeon yang baru keluar dari ruangan Kim Jay. “Kau tidak banyak berubah Yoo Si
Hyeon!”
Sihyeon tersenyum, “kau pun sama Jung Hyun Ri dan
kau tampak sangat baik, aku senang melihatnya.”
“Berpura-pura manis padaku??”
“Kau kesal?”
“Tidak! Sama sekali tidak! Bagaimana pun juga mereka
hanya akan melihatku, Jung Hyun Ri, bukan Yoo Si Hyeon. Sedari dulu kau tidak
bisa menang dariku!”
“Memang selalu begitu dan tak mengapa bagiku, kali
ini aku tidak bertarung untukmu tapi untuk teater Inspirit.” Sihyeon tetap tenang
menhadapi Hyunri. “Aku tidak ingin menang, aku harap kita bisa melakukan yang
terbaik.”
“Kita?? Hagh!! Kau itu terlalu na’if! Orang seperti
mu, selamanya hanya akan ada ditempat suram!”
“Jika itu takdirku, aku akan berusaha ikhlas
menerimanya namun jika bukan, maka kita lihat saja, biarkan waktu yang membawa
kita untuk menentukan akhirnya.” Sihyeon kembali tersenyum lalu menundukan
kepala tanda pamit dan pergi.
“Anak itu!!!”
***
Dongwoo duduk di ayunan. Howon berbaring dikursi
panjang didekat tempat Sihyeon duduk. Sihyeon duduk bersila fokus menatap
monitor laptopnya sedang Myungsoo duduk di sampingnya sambil menggenjreng
gitarnya.
“Hey! Tidak kah kalian merasa ini seperti déjà vu?”
kata Dongwoo.
“Déjà vu??” Howon bangkit dari tidurnya. “Ah, kenapa
harus penyihir itu??”
“Benar yang aku bilang, inilah sa’atnya balas
dendam.”
“Balas dendam? Iya, aku setuju! Sihyeon, lakukan
sesuatu!”
“Kalian kekanak-kanakan sekali!” cerca Myungsoo.
“Eh, kau! Kau tidak ingat apa yang telah ia lakukan
pada Sihyeon?!” Dongwoo berjalan mendekati Myungsoo.
“Aku ingat, aku ingat semuanya. Tapi balas dendam
dalam situasi seperti sekarang bukanlah hal yang tepat.”
“Em, benar juga.” Dongwoo memegang dagunya.
“Mereka sudah tahu kebenarannya.” Kata Sihyeon.
“Kebenaran?? Maksudnya??” Tanya Dongwoo.
“Aku paham!” Howon yang sudah duduk disamping
Myungsoo. “Hyunri pasti sangat tersiksa sekali, novel yang membludak namun
hingga kini ia tak bisa melanjutkan kisah itu menuruti permintaan pembaca, lalu
sekarang? Hah… aku bisa membayangkan bagaimana ekspresinya ketika ia
melihatmu.”
“Mereka sama-sama terkejut.” Jawab Myungsoo.
“Ya, Myungsoo! Kau sengaja menyembunyikan semua ini
dari Sihyeon, ha?!!” tandas Dongwoo.
“Aku ingin Sihyeon tahu sendiri tentang ini ketika
ia kembali, hanya itu dan berhasil.” Myungsoo tersenyum bangga.
“Ish! Puas kau ya!! Lalu perihal suara itu??”
“Aku yakin Sihyeon akan setuju, karenanya aku tak
membicarakan hal ini.”
“Yakin sekali?” sela Howon. “Kenapa kau bisa seyakin
itu?”
“Jika teater Inspirit tamat, maka salah satu sumber
penghasilanku akan sirna, aku tidak mau itu. Dan bukan hanya itu, Myungsoo akan
kehilangan tempat untuk menyalurkan bakat bermusiknya.” Jawab Sihyeon.
“Ish! Katakan saja kau melakukannya demi Woohyun!”
cerca Dongwoo.
“Woohyun?? Apa dia yang memintamu?” Tanya Howon.
“Sudah ku katakan sebelumnya ini karena Sungkyu
Hyung. Malam dimana kami mendengar berita tentang kecelakaan Kim Soo Yee, itu
membuat kami sangat sedih lalu Paman Jinyoung meminta Sihyeon bernyanyi.
Sungkyu Hyung duduk di tribun penonton, melihatnya, ulah kami…” Myungsoo
tersenyum mengenangnya. “Sungkyu Hyung merekamnya dalam ponsel dan menunjukan
itu pada Bapak Presedir lalu Beliau meminta Sihyeon mengisi suara Hyunri.”
“Wow…” komentar Dongwoo.
“Tuhan membuka jalan dan kau mengambil kesempatan
itu, aku cinta kau Sihyeon!!! Lalu ini berarti kau juga akan duet dengan
Woohyun?” sambung Howon.
“Itu…” Sihyeon menggaruk kepalanya.
“Mereka akan latihan bersama.” jawab Myungsoo.
“Woo!!! Daebak!!! Jinja daebak!!! Sihyeon,
hwaiting!!!” Dongwoo menyemangati.
“Tuhan Maha Adil. Berjuanglah, Sihyeon!!” Howon pun
sama. Myungsoo hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya itu.
“Terima kasih…” kata Sihyeon lirih.
“Bukankah itu berlebihan?” Tanya Sihyeon.
“Berlebihan??” Myungsoo balik bertanya.
“Dongwoo dan Howon, mereka itu…”
“Mereka melakukannya karena mereka sayang dan bangga
padamu, aku pun begitu hanya saja aku tidak bisa seperti mereka.”
“Huft… ini tidak akan mudah.”
“Tidak ada hal yang sulit, Sihyeon kau pasti bisa,
fighting!!!”
“Terima kasih…” Sihyeon tersenyum manis dan Myungsoo
membalasnya. “Sudah, pulang sana!”
“Kau masuklah dulu.”
“Em, baiklah. Terima kasih sudah mengantarku.”
“Iya. Lekas istirahat dan… semoga mimpi indah.”
Sihyeon mengangguk dan berjalan masuk. Myungsoo
terus menatap Sihyeon hingga gadis itu benar memasuki rumahnya. Myungsoo menhembuskan nafas panjang kemudian
pergi.
“Daebak! Nuna, ini kesempatan bagus!” Sungjeong
berbinar. “Nuna bisa jadi bintang besar setelahnya, aku yakin itu.”
“Hyung, Nuna hanya menjadi pengisi suara, bukan
pengganti pemeran utama. Itu artinya hanya akan ada suara dan wujud aslinya
tetap Nona Pengganti itu. Siapa yang akan peduli?” komentar Hyungi.
“Tetap saja ini kesempatan bagus. Orang yang benar
paham akan tahu jika itu hanya lip sing dan ketika itu terjadi maka siapa yang
paling dicari? Itu Nuna, Nuna kita. Mungkin kali ini hanya kesempatan ini yang
Nuna dapatkan, namun siapa tahu jika itu nantinya akan membawa Nuna pada
kesempatan yang lebih besar lagi, em? Rencana Tuhan, kita tidak pernah bisa
menebaknya.”
“Tetap saja bagi mereka itu suara Jung Hyun Ri si
Nona Pengganti!” Hyungi ngotot. Sungjeong hanya tersenyum dan menggelengkan
kepala menanggapinya. “Ah, darimana Hyung belajar mengeluarkan kata-kata luar
biasa itu?”
“Itu karena Sungjeong lebih matang sekarang.
Pemikirannya terbuka luas, tidak kekanak-kanakan seperti mu, Yoo Hyun Gi!”
jawab Sihyeon.
“Nuna! Aku bukan kekanak-kanakan tapi aku memang
masih anak-anak!”
“Ini karena aku punya Nuna yang hebat dan membantu
ku membuka pikiranku.” Jawab Sungjeong. Sihyeon tersipu mendengarnya. “Dan juga
adik yang kritis, sehingga aku harus berpikir lebih dari apa yang adikku
pikirkan.”
“Hyung…”
***
“Annyeong…” Sihyeon memasuki rumah Woohyun. “Oh,
Woohyun ssi??” Sihyeon dibuat kaget oleh Woohyun yang sudah berdiri dengan tersenyum
manis dan sepertinya sedang menunggu Sihyeon.
“Kau terlihat kaget sekali?”
“Ah, tidak. Aku hanya sedikit terkejut, biasanya
rumah ini selalu sepi ketika aku tiba.”
“Kita pergi!” ajak Woohyun sambil menarik tangan
Sihyeon dan menggandengnya.
Sihyeon terdiam dan canggung duduk dalam satu mobil
disamping Woohyun. Ia tak tahu Woohyun akan membawanya kemana dan Sihyeon hanya
bisa menurut. “Kita akan latihan vocal bersama.” kata Woohyun memecah kebisuan.
“Sekarang itu yang lebih penting daripada membersihkan rumah, em?”
“Iya.”
“Kau sudah mendapatkan semua daftar lagunya?”
“Sudah dan aku juga sudah mempelajarinya.”
“Senang sekali ya walau hanya menjadi pengisi
suara?”
“Aku senang bisa melakukannya untuk teater
Inspirit.”
“Oh…” keduanya kembali diam. “Harusnya kau pantas
diposisi pengganti.”
“Iya??”
“Hyunri, tempat ia berada kini itu pantas untukmu.
Aku tahu kiprah mu di dunia teater semasa SMA dulu, kau tidak hanya jadi penulis
cerita namun kau juga bisa menjadi pemain dan sutradara, itu keren!”
“Keren??” bisik Sihyeon dan ia tersipu. “Ah, tapi
itu dulu. Sejak lulus aku tidak pernah lagi berhubungan dengan hal-hal seperti
itu.”
“Bakat itu tidak bisa hilang hanya karena kau tidak
pernah mengasahnya lagi.”
“Iya juga.”
“Apa?? Jadi tidak ada satu pun lagu untuk ku??
Paman, apa Paman bercanda??” Hyunri dengan wajah meredam kemarahan.
“Ma’af Nona Jung, tidak ada lagu yang harus Nona
nyanyikan. Semua bagian itu diserahkan pada Nona Pengisi Suara.” Jawab pria
paruh baya itu dengan sopan.
“Ish! Nona Pengisi Suara?? Dia juga bukan penyanyi,
dia itu amatiran.”
“Saya tidak bisa menilainya Nona, saya belum bertemu
dengan Nona Pengisi Suara itu.”
“Aku harap Paman memberikan penilaian yang benar.”
“Annyeong…” Woohyun berjalan mendekat. Hyunri makin
geram melihat Sihyeon berjalan dibelakang Woohyun. “Sonsaengnim, ini dia Yoo Si
Hyeon.”
“Oh, Nona Pengisi Suara? Ah, senang bertemu dengan
Anda. Bisa kita bicara?” ajak pria paruh baya itu dan Sihyeon mengikuti
langkahnya.
“Jung Hyun Ri, apa yang kau lakukan disini?” Tanya
Woohyun.
“Aku.. aku hanya ingin tahu bagaimana kualitas suara
orang yang akan menjadi pengisi suara ku nanti.”
“Oh, kebetulan sekali, hari ini kami akan berlatih.”
Woohyun tersenyum lebar.
“Kami?? Ish! Senang sekali ekspresinya?? Woohyun,
kau terlihat senang sekali.”
“Aku?? Aku tidak hanya senang tapi sangat senang,
kenapa?”
“Kau menyukai Sihyeon?”
“Kau tidak lelah menanyakan hal itu terus? Sejak
dulu?”
“Aku pernah mengatakannya padamu, Yoo Si Hyeon,
gadis itu menyukaimu, sangat menyukaimu. Dia itu gila padamu.”
“Em, aku percaya, karena kau memang teman baiknya,
dulu. Lalu kau ingin aku melakukan apa sekarang?”
“Kak-kau??”
“Ada apa dengan kalian? Kenapa tiba-tiba saling
menjauh?”
“Itu… itu karena… kau tahu sendiri kan?! Sihyeon
membuangku karena aku dekat denganmu. Sudah aku katakan dia itu gila!”
“Oh…”
“Kau percaya padaku kan?? Apa kau akan bertanya pada
Sihyeon tentang hal itu?”
“Untuk apa? Ah, Sihyeon akan menyanyi.” Woohyun
pergi dari hadapan Hyunri.
“Woo…hyun… hah…” Hyunri mengikuti Woohyun dan duduk
disamping pemuda itu.
Sihyeon melihat Woohyun dan Hyunri. Ia tersenyum
kecil dan memakai headphone untuk bersiap menyanyi. Sesekali Hyunri menoleh,
memperhatikan Woohyun. Ekspresi Woohyun terlihat berbeda. Ia tak terlihat
angkuh lagi dan senyum terus terkembang di wajahnya sambil terus menatap
Sihyeon bernyanyi dalam studio.
“Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Kalian
lapar juga kan?” ajak Hyunri.
“Kalian berdua saja yang pergi, ma’af aku tidak
bisaa ikut. Aku harus pulang.” Tolak Sihyeon.
“Aku antar kau pulang.” Woohyun memimpin Sihyeon
pergi dan mengabaikan protes gadis itu.
“Hagh! Apa aku benar-benar terbuang sekarang??”
gumam Hyunri kesal.
“Kau sudah pulang?” Tanya Yunho –Jung Yunho- ketika
Hyunri sampai. “Kenapa dengan wajahmu?”
“Tidak ada satu pun lagu untuk ku nyanyikan dan Oppa
menyetujuinya begitu saja? Oppa!!!”
“Kau memang tidak ahli dalam hal itu bukan? Kau
lebih mahir menyanyikan bagian rap dari sebuah lagu daripada benar-benar
bernyanyi, lalu dengan memaksa ku untuk mengijinkanmu bernyanyi, apa kau ingin
merusak semua?”
“Oppa!! Aku ini adik kandungmu!! Dan gadis yang
mereka pilih itu, dia itu amatir, sama sekali tidak berkelas.”
“Apa kau ingin seorang artis yang mengisi suara mu
ketika bernyanyi? Hyunri berpikirlah dewasa tentang hal ini.”
“Ada apa dengan orang-orang ini?? Diluar sana aku
diabaikan dan disini, kakak kandungku sendiri juga bersikap sama, hah!” Hyunri
berjalan kesal menaiki tangga menuju kamarnya.
“Istirahat dengan baik, itu akan membantu mu juga
penampilanmu.”
“Diam dan jangan pedulikan aku!”
“Hah, dasar Hyunri.”
Woohyun heran melihat Sihyeon membeli banyak ramen
kemasan dari swalayan tempat ia bekerja. “Kau, memakan ini setiap hari??”
“Tidak. Hanya jika aku tidak sempat memasak saja,
kenapa? Kau tidak pernah makan ramen instan?“ Woohyun menggeleng. “Ramen-ramen ini lumayan membantu, karena aku
selalu tidak punya banyak waktu.”
“Selain tidak sehat, apa kau tidak bosan
memakannya?”
“Eum, itu tergantung bagaimana cara kita memasaknya.
Perlu siasat khusus untuk mengatasi rasa bosan, aku juga manusia jadi pasti
merasakan bosan juga.”
“Siasat khusus??” Woohyun dengan tawa tertahan.
“Em! Kau mau coba??”
Woohyun mengantar Sihyeon pulang. “Jadi disini kau
tinggal sekarang?”
“Em. Surga kami.”
“Sepertinya hidup mudah saja bagimu. Kau bebas tersenyum
seolah tidak ada beban padamu.”
“Kau merasa takut berada sendiri di Korea?”
“Em??”
“Tidak. Kau mau mampir dan mencoba ramen buatanku?”
“Ramen buatan mu? Itu ramen instan.”
“Tapi aku punya siasat dan kau boleh mencobanya,
jika kau mau.”
Howon dan Dongwoo asik bercanda. Keduanya heran
melihat Myungsoo datang. Myungsoo hanya akan datang ke minimarket Sukjin jika
ada Sihyeon disana, namun malam ini?
“Sihyeon membeli banyak ramen dan pulang.” Sambut
Dongwoo. “Kau… kemari?”
“Myungsoo, kau tidak sedang mimpi sambil berjalan
kan?” Tanya Howon dan mendapat tatapan heran dari Myungsoo.
“Hari ini Sihyeon pulang cepat lalu dia datang
kembali untuk membeli ramen dan pergi begitu saja. Tumben kau kemari?” imbuh
Dongwoo. “Ah, aku sempat mengintip, Woohyun mengantarnya. Mereka mulai latihan
bersama hari ini?”
“Iya.” jawab Myungsoo.
“Ya, sebentar lagi tutup, bagaimana kalau kita
menyusul ke rumah Sihyeon dan pesta ramen disana?” usul Howon.
“Jangan.” Cegah Myungsoo.
“Jangan??”
“Ada Woohyun disana.”
“Woohyun??” Howon dan Dongwoo kompak.
-------TBC--------
-shytUrtle_yUi-

