Bilik shytUrtle

¤ Bilik shytUrtle - Selamat Jalan Bapak Guru Tercinta ¤

07:48

¤ Bilik shytUrtle - Selamat Jalan Bapak Guru Tercinta ¤

 tempurung kUra-kUra, 17.07.2012

Huft... panas.... benar-benar dah. No kipas angin, no AC (cielah sok banget ane) tempurung kUra-kUra makin panas.

Semalam, pada waktu saya begadang buat nulis FF tiba-tiba ada angin dingin yang berhembus sepoi-sepoi di sekitar saya. Awalnya saya mengabaikan hal itu namun saya jadi sedikit merinding disco ketika bulu-bulu pada tangan kanan saya berdiri. Ya ALLOH, kok jadi begini? Kok saya jadi merinding? Kok saya jadi takut? Saya mengawasi seluruh sudut tempurung kUra-kUra dan mengusuk tengkuk saya. Jam digital blackjack menunjukan pukul 00.22. Saya berpikir, mungkin saya diingatkan untuk lekas istirahat. Saya merapikan kertas-kertas dihadapan saya dan bersiap tidur. Saya tidur membelakangi jendela karena saya sedikit ketakutan dan saya tidak mau mengambil resiko lalu berusaha tidur. Ruby memutar instrumental 'Black Star' milik Avril Lavigne sebagai lagu pengantar tidur. Mata lelah saya mulai terpejam dan saya menghilang sejenak. Pukul 01.00 saya kembali terbangun. Tanda merah berubah biru dan saya mematikan ruby. Suasana lebih hening dan tenang lalu saya kembali terlelap.

Pagi di Sarang Clover terutama tempurung kUra-kUra selalu dingin. Saya berusaha mati-matian mengalahkan penyakit 'malas' yang hampir setiap pagi menghinggapi saya. Dengan nyawa belum lengkap saya berjalan menuju dapur dan duduk disamping Mbak Bidha Rara yang sibuk mengupas ketimun. Iyalah, hari ini kami mendapat pesanan masakan untuk rapat PUSKESMAS. But I don't care, thats not my job. Dan saya duduk untuk mengantri giliran ke kamar mandi. Anak bungsu selalu dapat bagian akhir, hiks.
Ibu datang, ''Pak Dwi meninggal." kata Ibu. Mata saya langsung melek. Sebagian nyawa yang tadinya masih bermalas-malasan diatas kasur langsung kembali.
"Pak Dwi, guruku?"
"Iya." jawab Ibu.
"Kenapa? Sakitkah? Kapan meninggalnya?"
"Semalam karena sakit."
Saya diem, ngelus tengkuk. Ya ALLOH... nyawa memang bukan milik kita. Kita semua sudah memegang tiket masing-masing dan hanya menunggu giliran.

Pak Dwi Satoto. Itu nama guru saya yang meninggal pagi tadi. Beliau orang yang sabar dan tampan. Beliau guru saya di SD. Saya punya kenangan manis dengan almarhum. Dulu zaman SD, saya merasa jika saya bukanlah siswi yang menonjol. Saya merasa biasa bahkan bodoh. Namun Pak Dwi tidak memandang saya demikian. Beliau selalu memberi dukungan pada saya dan meyakinkan bahwa saya bukanlah siswi yang tidak menonjol. Bahkan pada waktu ada lomba MATPEL (mata pelajaran), tanpa ragu Beliau meminta saya untuk mewakili sekolah. Saya benar-benar tidak menyangka saya ikut terpilih dan Beliau mempercayakan saya untuk ikut lomba MATPEL-IPS. "Kamu pintar dalam hafalan, saya yakin kamu pasti bisa." Saya masih mengingat kata itu ketika saya dipanggil ke kantor KEPSEK untuk menerima tugas sekolah itu. Pak Dwi benar menjadi sosok pahlawan dan guru idola saya. Saya belajar keras karena saya tidak mau mengecewakan guru idola saya. Setiap hari Pak Dwi membantu saya, tanya-jawab soal hingga pada sa'at lomba, Beliau tak lelah memberi dukungan. Seleksi tahap awal, alhamdulillah lolos dan saya harus belajar lebih giat untuk seleksi kedua agar bisa mewakili kecamatan dan nantinya akan dikirim ke tingkat kabupaten dan jika lolos akan lanjut ke Surabaya. Namun perjuangan saya terhenti pada tahap seleksi kedua saja. "Kamu hanya salah satu nomer saja pada soal isian. Dan itu soal dengan nilai tertinggi. Kenapa? Kamu masih bingung antara fungsi DPR dan DPA? Tapi tidak apa-apa, kamu sudah berusaha dengan baik." Dan ketika saya menulis ini, senyum Beliau kembali muncul dalam ingatan saya.

Di lain sisi, mungkin saya juga pernah membuat Beliau sedikit kesal. Ketika saya berkelahi dengan teman sekelas saya pada waktu pelajaran Bahasa Inggris dan saya sukses membuat seluruh siswi kelas VIA menangis beserta Bu Harlin, guru Bahasa Inggris saya. Perkelahian saya dan teman cowok saya berbuah hukuman pada seluruh siswa kelas VIA. Ah, saya benar sebagai jagoan hehehe...

Selamat jalan Bapak Guru tercinta. Terima kasih telah membantu saya di masa sulit saya. Semoga Bapak mendapat tempat terindah di sisi ALLOH SWT.



.shytUrtle-yUi.

 

Fan Fiction FF

¤ Last Fantasy ¤

02:47

Last Fantasy

.  Genre: series/straight/comedy romance(?)
.  Author: shytUrtle
.  Cast: 
-          all my lovely shigUi as Yoo Si Hyeon
-          Infinite (Sungkyu, Hoya, Woohyun, Dongwoo, L, Sungyeol, Sungjeong)
-          Yoo Hyun Gi, Yoo Jae Suk, Ji Suk Jin, etc.
. Theme song: Infinite (Cover Girl, Amazing, Julia) etc.



 

Episode #6

From Prince Woohyun: Terima kasih. Tadi sangat menyenangkan dan ternyata ramen itu enak. Lain waktu kita berpesta lagi ya ^^

Sihyeon tersenyum membaca pesan Woohyun. Sihyeon mengetik pesan balasan namun menhapusnya lagi dan mengetik lagi lalu menghapusnya lagi, itu terjadi beberapa kali. Sihyeon dibuat salah tingkah dengan pesan singkat itu.

To Prince Woohyun: Kau sudah sampai? Boleh, kapan-kapan kita pesta ramen lagi, aku akan mengajak Dongwoo, Howon dan  Myungsoo juga Sungyeol, bolehkan?

From Prince Woohyun: Wah, pasti akan sangat menyenangkan dan aku akan mengajak Sungkyu Hyung ^^

“Sungkyu Oppa?? Mereka dekat ya??” gumam Sihyeon sendiri.

To Prince Woohyun: OK! ^^

From Prince Woohyun: Kau, Howon, Dongwoo dan Myungsoo tampak baik hingga kini. Itu sangat membuat iri.

To Prince Woohyun: Beruntung memiliki mereka. Jangan iri, kami tak baik sepenuhnya ^^

To Yoo Sihyeon: Hyunri, bagaimana dengannya? Kalian tak bersama lagi? Apa kalian membuangnya karena aku?

“Ah…” Woohyun menggaruk kepalanya. “Untuk apa aku menanyakan hal itu? Tapi apakah benar Hyunri ditendang pergi karena aku? Apa Sihyeon akan marah jika aku mengirim pesan ini?”

From Prince Woohyun: Boleh aku bertanya sesuatu? Dan berjanjilah tidak marah karenanya.

Sihyeon diam menelan ludah membaca pesan yang baru saja masuk.

To Prince Woohyun: Silahkan ^^ iya aku janji, aku tidak akan marah, apapun pertanyaan itu ^_^v

Sihyeon harap-harap cemas menunggu balasan Woohyun.

From Prince Woohyun: Hyunri, bagaimana dengannya? Kalian tak bersama lagi? Apa kalian membuangnya karena aku?

Sihyeon terdiam kemudian kembali membaca pesan Woohyun. Dilema, haruskah ia menceritakan kejadian yang sebenarnya atau membenarkan alasan yang dibuat Hyunri.

To Prince Woohyun: Jika aku jawab iya, apa kau akan percaya?

From Prince Woohyun: Tidak. Aku yakin bukan karena itu.

To Prince Woohyun: Yakin sekali? Sejauh itu kah kau mengenal kami? Hehehe… tidak, bukan karena itu tapi ma’afkan aku karena aku tidak bisa menjelaskan alasan yang sebenarnya, ma’af (~/\~)

From Prince Woohyun: Iya, aku paham akan hal itu.

Ditengah asiknya ngobrol dengan Woohyun via sms, Sihyeon tiba-tiba teringat pada Myungsoo. Seharian ini Myungsoo tak muncul bahkan tak menyapa via sms atau telefon seperti sebelumnya sa’at ia tak bisa menemui Sihyeon secara langsung.

To Myungsoo: Kau menghilang lagi?

Sihyeon menunggu namun Myungsoo tak kunjung membalas pesan singkatnya. Ponsel Sihyeon berdering  tanda pesan masuk. Ia segera meraihnya.

From Prince Woohyun: Istirahatlah yang cukup dan milikilah banyak waktu untuk itu, ini demi kualitas suaramu ^_^

To Prince Woohyun: Iya ^^

From Prince Woohyun: Selamat tidur…

Sihyeon meletakan ponselnya begitu saja dan berusaha untuk tidur.
***

Sihyeon amat bersemangat pagi ini. Ia berharap Myungsoo akan muncul dan menemaninya mengantar susu seperti sebelumnya ketika Myungsoo lupa membalas pesan singkat Sihyeon.

“Kau??” Tanya Sihyeon ketika keluar rumah. “Kenapa kau kesini pagi-pagi?”

“Morning Angel.” Sapa Sungyeol lengkap dengan senyum lebarnya.

“Angel?? Ish!”

“Ya! Sihyeon aa!!!” Sungyeol mengejar Sihyeon. “Ada berita bagus tapi kau tak memberi tahu aku, kenapa?”

“Apa untungnya untuk mu?”

“Baguslah, akhirnya kau menuruti kata-kata ku.”

“Kata-kata mu??”

“Jangan terus berada ditempat gelap dan ambillah kesempatan ketika dia datang padamu.”

“Aa, Sungyeol, apa itu kau??”

“Iya itu aku.”

“Jadi benar itu kau??”

“Ha??”

“Ayolah, jangan pura-pura lagi.”

“Pura-pura?? Kau ini bicara apa Sihyeon??”

“Silence, kau adalah silence!”

“Silence?? Ap-apa itu??” Sungyeol menggaruk kepalanya.

“Ish!”

“Ya, Sihyeon aa!!”


Sihyeon lebih banyak diam seharian ini. Dongwoo dan Howon kembali bertanya-tanya.
“Hah… bukan Dongwoo, bukan juga Howon, Sungyeol apalagi…” gumam Sihyeon lirih.

“Sihyeon aa…” Woohyun tiba-tiba muncul dihadapan Sihyeon.

Sihyeon benar terkejut. Baru saja ia berkata ‘apakah mungkin itu Woohyun?’ dalam hati dan tiba-tiba Woohyun benar mencul dihadapannya.

“Apa aku mengejutkanmu?”

“Ah, tidak. Ma’af…” Sihyeon membungkukan badan. “Ada yang bisa aku bantu? Oh, hari ini kita tidak ada jadwal latihan kan?”

Woohyun menarik tangan Sihyeon memaksa gadis itu keluar dari balik meja kasir. Mau tak mau Sihyeon harus meninggalkan meja kasir. Woohyun memegang kedua pundak Sihyeon dan mendorong gadis yang berjalan di depannya itu menuju rak tempat ramen instan di pajang. Howon dan Dongwoo jongkok dan diam-diam memperhatikan Sihyeon dan Woohyun.

“Nah, kita sampai. Bantu aku memilih ramen yang enak.” Pinta Woohyun.

“Kau mau membeli ramen??”

“Em.”

“Kau mau makan ramen??”

“Em.”

“Kau yakin??”

“Em.”

“Apa kau bisa memasaknya??”

Woohyun mendekatkan wajahnya pada telinga Sihyeon. “Bukankah ada kau, Yoo Sihyeon?” Woohyun sedikit berbisik dan ia tersenyum.

“Oh, baiklah! Ayo kita pilih!” Sihyeon maju selangkah dan segera mengambil beberapa ramen dihadapannya.

Sukjin yang penasaran ikut jongkok dan memperhatikan Sihyeon bersama Dongwoo dan Howon. “Pemuda itu pacar Sihyeon?”

“Ssh!! Paman jangan keras-keras!” bentak Dongwoo.

“Apa benar mereka resmi pacaran?” Tanya Howon lirih.

“Mereka terlihat baik bersama, tapi ini terlalu cepat.” Jawab Dongwoo masih berbisik.

“Aku akan menjemput mu besok, untuk latihan, ok!” kata Woohyun sebelum pergi.

“Iya. Terima kasih sudah berkunjung.” Sihyeon kembali membungkukan badan. “Huft…” Sihyeon menghela nafas dan mengibaskan tangannya mengusir rasa panas yang memenuhi seluruh tubuhnya.

“Ya, ada apa dengan kalian?” Tanya Dongwoo.

“Harusnya kau bertanya ada apa dengannya? Woohyun, hah… ada apa dengannya??”

“Omo! Mungkinkah jika dia mulai menyukaimu??” tebak Howon.

“Ap-apa?? Howon! Jangan bicara sembarangan! Itu tidak mungkin.” Sihyeon makin keras 
menggoyang tangannya.

“Mungkin saja, iya kan??” Howon menyikut Dongwoo.

“Iya, itu mungkin saja terjadi. Belakangan ini kalian dekat dan rasa itu bisa saja tumbuh dihatinya tanpa dia sadari, karena itu dia jadi bersikap amat baik padamu.” Dongwoo membenarkan. “Sihyeon, bukankah ini yang kau inginkan?”

“Yang aku inginkan??”


Sihyeon berjalan sendiri menyusuri trotoar. Kejadian di minimarket kembali melintas dalam benaknya. Sihyeon menghentikan langkahnya.”Woohyun, ada apa dengannya?? Hah… tidak, dia tidak apa-apa dan sikapnya adalah normal.” Sihyeon menggelengkan kepalanya. “Hah… apakah benar ini yang aku inginkan??”

“Yoo Sihyeon!”

“Myungsoo??” Sihyeon berseri melihat Myungsoo. Ia segera berlari menghampiri pemuda itu. “Kau kemana saja?”

“Kau merindukan aku atau mengkhawatirkan aku?”

“Dua-duanya! Kau puas??”

Myungsoo terkekeh. “Ma’afkan aku.”

“Lalu??”

“Kau ini kenapa??”

“Tidak.” Sihyeon berusaha meyakinkan dengan senyumnya.

“Kau luang?”

“Em, iya. kenapa?”

“Temani aku, apa kau mau? Setelah ini pasti akan sulit untuk mencari waktu luang bersama mu.”

“Kau mau kemana?”

“Aku tetap saja, tapi kau.”

“Aku??”

“Em.”

Sihyeon menundukan kepala. ‘Apa Myungsoo juga berpikir sama tentang Woohyun?’ batin Sihyeon.

“Gadis bodoh!” Myungsoo memukul pelan kepala Sihyeon. “Pertunjukan sudah didepan mata, aku dan juga kau, kita akan sibuk latihan, karenanya akan sulit mencari waktu untuk bermain bersama.”

“Ah…” Sihyeon tersenyum lega. “Kau benar. Kita akan kemana??”

“Eum… bagaimana kalau berkeliling saja?” Myungsoo menunjuk motornya.

“Ok!”

Myungsoo tersenyum dan mengulurkan tangan. Sihyeon membalas senyum meraih tangan Myungsoo.

# INFINTE- 06. 니가좋다 (06. Nigajotda) #

Myungsoo membawa Sihyeon dalam boncengannya dan berkeliling menikmati gemerlap pemandangan kota di malam hari. Myungsoo melajukan motornya menyusuri jalanan kota menembus keramaian lalu lintas. Myungsoo juga Sihyeon terlihat amat bahagia. Senyum terus terkembang diwajah keduanya. Sihyeon terlihat sangat menikmati perjalanannya. Entah sudah berapa lama ia tak menikmati waktu luang seperti ini. Myungsoo meraih tangan kiri Sihyeon dan melingkarkan dipinggangnya. Sihyeon tersipu dan menundukan kepala menerima perlakuan Myungsoo. Puas mengajak Sihyeon berkeliling, Myungsoo membawa gadis itu ke tempat tinggalnya. Sihyeon duduk di teras sambil menatap langit malam.

“Oh… panas…” Myungsoo muncul membawa dua buah cup mie. “Ini memalukan sekali, setelah mengajakmu berkeliling tapi berujung seperti ini saja.” Myungsoo duduk disamping Sihyeon.

“Sadar juga?? Asal kau ikhlas, aku bisa terima kok, Rooftop Prince.”

“Rooftop Prince? Kau menyebut sebuah judul drama?”

“Drama? Eum, aku tidak tahu.”

“Lalu, Rooftop Prince itu apa maksudnya?”

“Itu kau.”

“Aku?? Kenapa begitu??”

“Kau tampan seperti pangeran.”

“Lalu? Aa, bukankah yang tampan seperti pangeran itu Woohyun?”

“Iya, dia memang pangeran sebenarnya dan kau hanya seperti pangeran.”

Myungsoo tertawa geli. “Terima kasih sudah mengatakan aku tampan dan seperti pangeran.”

“Dan kau tinggal dipuncak bangunan seperti ini, lalu di kawasan ini lebih banyak gadis daripada pemuda, pasti banyak yang mengidolakan mu.”

“Kau pikir aku ini siapa?”

“Kim Myungsoo?”

“Yoo Sihyeon!!”

“Ayo kita makan! Eum... baunya sedap sekali, pasti enak. Ramen seduh ditambah pangeran tampan.”

“Ya!”

“Makan, ayo makan.”

Myungsoo diam menatap Sihyeon. “Sihyeon, kenapa kau terlihat murung? Apa ada masalah?”

“Dongwoo dan Howon, aku rasa mereka salah paham tentang Woohyun dan Woohyun... ada apa dengannya?”

“Mereka menduga Woohyun mulai suka padamu?”

“Em. Tadi itu... ah, tidak itu tidak mungkin kan? Myungsoo, kau setuju dengan ku kan?”

“Ayo kita makan.”

Neol cheoeum bon sungan kkumin geot gatasseo. Cheonsa cheoreom yeppeun ni miso ttaemune. Geureon niga naye sarangi dwemyeon eotteolkka. Sangsang maneuro do haengbokhae jineun geol…
 Naneun neoreul sangsanghae, nareul bomyeo utneun. Neoreul sangsanghae, nae son jaba juneun neol Oh oh… Mabeobeul georeo, nae sarangi dwegil. Neoreul sangsanghae, nae pumeseo jamdeun. Neoreul sangsanghae, naege kiseu haneun neol Oh oh… Dalkomhan sangsangeul hae…
 Pureun eondeok wiye hayan jibeul jitgo. Noran geunereul taneun uri dulye moseub Oh.. Moning keopireul jumyeo achimeul kkae uneun neoreul. Sangsang meurodo haengbokhae jineun geol…
 Naneun neoreul sangsanghae, nareul bomyeo utneun. Neoreul sangsanghae, nae son jaba juneun neol Oh oh… Mabeobeul georeo, nae sarangi dwegil. Neoreul sangsanghae, nae pumeseo jamdeun. Neoreul sangsanghae, naege kiseu haneun neol Oh oh… Dalkomhan sangsangeul hae…
Lalala nonono doo do doo… Maeil sangsanghae, neowa hamkke haneun. Nareul sangsanghae, neoreul ana juneun nal Oh oh… Hwangheulhan sangsangeul hae. Maeil urireul sangsanghae, seoro banjjok dweneun. Urireul sangsanghae, seoro dalma ga neun geol Oh oh… Naye kkum deuri iru eoji gireul.
Naneun neoreul saranghae, nae sarangi dwe eojwo. Neoreul saranghae, yonggi nae gobaek halge Oh oh… You’re my imagine love yeah…

Sihyeon bertepuk tangan ketika Myungsoo selesai bernyanyi. “Daebak..”

“Akh…” Myungsoo tersenyum tersipu. “Terima kasih.”

“Em. Antar aku pulang sekarang.”

Myungsoo mengantar Sihyeon pulang. “Terima kasih karena malam ini kau bersedia menjadi milikku, sejenak.”

“Milikku?? Ish! Sudah pulang sana!”

“Iya. Kau masuklah dulu.”

“Em.” Sihyeon pun pergi.

“Semoga mimpi indah, Yoo Sihyeon.” Sihyeon menoleh dan tersenyum sebelum memasuki rumahnya.

“Akhirnya kalian pergi berkencan juga.” Sambut Hyungi ketika Sihyeon masuk.

“Itu tidak seperti yang kau lihat!” Hyungi tersenyum dan masuk ke kamarnya. Sihyeon menhembuskan nafas panjang dan meletakan telapak tangan di dadanya.

“Mulai terasa aneh ya?” kata Sungjeong sambil berlalu ke dapur.

“Kalian! Ah…”

Sihyeon terbaring dan terjaga. Kejadian di minimarket bersama Woohyun kembali muncul. “Apa benar Woohyun itu… Silence??” gumamnya. Lalu muncul kembali ingatan ketika ia bersama Myungsoo hingga ketika Myungsoo bernyanyi sambil menggenjreng gitarnya. Sihyeon tersenyum mengenangnya.

“Terima kasih karena malam ini kau bersedia menjadi milikku, sejenak.”

“Milikku?? Aish…”
***

Sungkyu memperkenalkan Sihyeon secara resmi sebagai pengisi suara Hyunri pada seluruh pemain teater Inspirit. Mereka menyambut baik dan Sihyeon dengan mudah beradaptasi.

“Hah, dia benar terlihat baik disana.” Komentar Sungyeol yang memperhatikan dari tribun penonton. “Biasanya dia duduk disini bersama ku dan sekarang…” Sungyeol tersenyum.

“Aku senang, akhirnya ia mengambil kesempatan ini, siapa tahu ini jalan baginya untuk kembali ke dunia teater.” Sambung Howon.

“Semoga saja.” Dongwoo mengamini.

“Kalian tahu tentang Silence?” Tanya Sungyeol.

“Silence??” Tanya Howon. “Aku tidak tahu.”

“Aku juga tidak tahu, kenapa?” Tanya Dongwoo.

“Sihyeon menduga itu aku, siapa sebenarnya dia?”

“Pembaca setia Lime Island.” Jawab Hyungi. “Nuna juga aku tak tahu siapa dia.”


“Hyungi kemana?” Tanya Sihyeon sa’at latihan usai.

“Dia tiba-tiba pamit pergi.” Jawab Sungyeol.

“Aku senang melihatmu cepat beradaptasi, terima kasih Sihyeon.” Sungkyu bergabung.

“Harusnya Hyung mendengarku dari dulu.”

“Iya, ma’af Sungyeol.”

Sungjeong, Sihyeon, Myungsoo, Howon, Dongwoo, Sungyeol dan Sungkyu duduk melingkar diatas lantai panggung melepas lelah. “Ayo kita pesta…” Jinyoung datang membawa cup mie panas yang tertata rapi dalam baki dan membagikannya.

Semua terlihat kaget ketika Woohyun datang. “Boleh aku bergabung?”

“Tentu saja! Ayo kita pesta! Aku sudah membuat banyak ramen.” Jinyoung menyambut.


Woohyun mengantar Sihyeon dan Sungjeong pulang. Sungjeong pamit masuk lebih dulu meninggalkan Woohyun dan Sihyeon.

“Senang sekali melihat mereka semua datang mendukung mu.” Kata Woohyun.

“Mereka tidak akan hadir sa’at pertunjukan, mereka memilih menemani ku sa’at latihan. Terima kasih sudah mengantarku.”

“Em.”

Sihyeon terkejut ketika Woohyun mendaratkan kecupan hangat dipipi kirinya. “Selamat tidur Yoo Sihyeon, semoga kita bertemu dalam mimpi.” Bisik Woohyun tepat ditelinga Sihyeon.

Sihyeon mematung ditempat ia berdiri. Perlahan ia menyentuh pipi kirinya.
***

Sihyeon lebih banyak diam hari ini. Berulang kali ia menggelengkan kepala kemudian memukul pelan kepalanya sendiri. “Itu hanya bentuk dukungan bagiku, hanya dukungan, hanya dukungan…” kata Sihyeon terus menerus sambil memejamkan mata membuat Dongwoo dan Howon makin bertanya-tanya ada apa gerangan.

“Sihyeon!!!” suara Sungyeol mengejutkan Sihyeon hingga gadis itu kembali membuka mata dan menatap heran pada Sungyeol yang sudah berdiri dihadapannya. “Jangan menatap ku seperti itu, aku datang mengantar mereka.” Sungyeol menunjuk Jung Ah dan Juyeon yang baru saja memasuki mini market.


Dongwoo, Howon, Sihyeon dan Myungsoo duduk berjajar diruang tamu kediaman Sihyeon menatap tumpukan barang diatas meja.

“Mereka membeli semua ini untukmu? Gratis?? Myungsoo, apa ini termasuk pelayanan?” Tanya Dongwoo.

“Aku tidak pernah mendapatkannya.” Jawab Myungsoo.

“Ah, ini barang-barang mahal.” Soojung tiba-tiba muncul dari balik tumpukan barang.

“Tapi Nuna tidak bisa dandan.” Sambung Hyungi.

“Aku akan membantu Onni.”

“Hah, aku harus bekerja sekarang. Aku pergi dulu.” Sihyeon pamit.

“Nuna pasti sangat shock menerima semua ini.” Komentar Sungjeong.
***

Sihyeon membersihkan rumah Woohyun sambil terus memikirkan kejadian hari ini. Apakah Woohyun yang meminta Jung Ah dan Juyeon untuk mengajaknya jalan-jalan dan membeli baju serta barang-barang mahal itu? Benarkah itu Woohyun? Atau Sungkyu yang selalu baik padanya?

“Oh!” Sihyeon terkejut ketika membuang sampah ke depan rumah dan melihat Hyunri sudah berdiri disana.

“Kau juga disini??” Tanya Hyunri dengan tatapan kaget.

“Jangan salah paham. Aku hanya bekerja disini, dua kali seminggu, rabu dan minggu. Oh, kau datang mencari Woohyun? Dia tidak ada dirumah sekarang.”

“Kalau begitu aku akan menunggunya.” Hyunri menerobos masuk.

“Hah… anak ini.” Sihyeon menyusul masuk. “Kau mau minum apa? Ah, ambil saja sendiri, aku masih banyak pekerjaan.”

“Beginikah caramu melayani tamu?”

Sihyeon menghela nafas dan kembali kehadapan Hyunri. “Apa yang bisa aku lakukan untukmu?”

“Sudah berapa lama kau bekerja untuk Woohyun?”

“Belum genap satu bulan juga.”

“Kalian terlihat baik ketika bersama. kau masih menyukainya?”

“Inikah pertanyaan yang harus kau lontarkan sa’at kau bertemu teman lama mu? Aku, Myungsoo, Howon dan Dongwoo tidak pernah membuang mu karena kau dekat dengan Woohyun.” Hyunri terkejut mendengarnya. “Kami juga tidak membuangmu karena naskah itu. Sudahlah Hyunri, hentikan saja.”

“Kau jadi pandai bicara sekarang. Apa kau ingin aku mengatakan pada Woohyun tentang perasaanmu dan semua yang kau buat?!”

“Lakukan saja apa yang kau mau.”

“Sihyeon!! Ish!!”


“Aku pulang!!” Woohyun dengan wajah berseri memasuki rumahnya. Ia segera menarik senyumnya ketika Hyunri menyambutnya.

“Satu jam aku menunggumu!” protes Hyunri pada Woohyun yang melewatinya begitu saja.

“Itu keinginan mu sendiri.”

“Kau sudah pulang?” Sihyeon membawa panci berisi ramen panas.

“Sihyeon.” Woohyun berbinar dan segera menghampiri Sihyeon di meja makan. “Woa… sedap sekali…”

“Mereka benar-benar menggelikan.” Gerutu Hyunri.

“Hyunri, ayo makan. Kau pasti lapar juga.” Ajak Sihyeon.

“Hah!” Woohyun kemudian menyeret Hynnri untuk duduk bergabung. “Kenapa? Kau tidak mau makan? Cobahlah dulu, tidak baik menolak makanan.” Woohyun mengambil ramen untuk Hyunri. 

“Ayo kita makan.”

Ragu-ragu Hyunri akhirnya menyantap ramen dihadapannya. Sihyeon tersenyum melihatnya. “Enak bukan?” Tanya Woohyun.

“Ini seperti reuni kecil.” Kata Sihyeon sa’at Hyunri mengantar mangkok kotor ke dapur. “Sayang Myungsoo, Dongwoo dan Howon tidak ada disini.” Sihyeon segera menyelesaikan tugasnya mencuci piring. “Jangan khawatir, tidak akan ada hubungan yang lebih dari ini antara aku dan Woohyun.” Kata Sihyeon sebelum Hyunri pergi.


Sihyeon mengobrak-abrik isi tasnya bahkan memuntahkan seluruh isi tasnya keluar. “Hah… tidak ada. Dimana dia??”




-----TBC------



.shytUrtle_yUi.











Bilik shytUrtle

¤ Bilik shytUrtle - Cerita di Hari Senin 16.07.2012 ¤

02:12

¤ Bilik shytUrtle - Cerita di Hari Senin 16.07.2012 ¤

 

 tempurung kUra-kUra, 16.07.2012



I hate monday! No, I don't. I love monday! Really? Everyday is wonderfull and I'm happy! FIGHTING! (^o^)9

Huft.. himdeuro...
Kenapa sebagian orang mengatakan 'I hate monday'? Saya jadi kasihan sama 'monday', di benci mulu. Dan saya jadi berpikir, apakah saya pernah membenci 'monday'? Pastinya pernah karena saya hanya manusia biasa dan pasti pernah mengatakan atau bahkan berteriak 'I hate monday' atau 'hari senin yang menyebalkan'. Walau saya ingat-ingat dari jaman sekolah dulu, saya selalu mencoba menikmati hari-hari saya dari senin sampai senin lagi. Kalau sekarang, sepertinya sama saja karena setiap hari itu berjalan seperti ini saja dan melelahkan, namun saya (mencoba dan berusaha) menikmatinya ^^v

Ada apa di hari senin ini? Dimulai dari bangun yang 'agak' kesiangan (emang tiap hari bangunnya agak kesiangan) ditambah pagi yang 'agak' mendung dan dingin. Hah, rasanya ingin kembali menarik selimut dan kembali membentuk pulau dibantal terbang ke alam mimpi. Dengan malas saya turun dan keluar dari tempurung kUra-kUra. Hah, dingin sekali dan saya tidak mandi ^...^v
Pasti hari ini sibuk, ya pasti. Walau anak sekolah belum sepenuhnya aktif namun ada pekerjaan lain yang membuat sibuk. Pertama, melanjutkan menulis FF kekeke~ Bukan pekerjaan utama ini mah. Yang pasti tadi sibuk ditambah patner saya agak rewel huhuhu (T.T) Tenang ching, ane uda telfon Pak Gatot, dokter kamu, sabar ya and get well soon *peluk mesin foto copy*
Astaghfirullah! Kesetrum!

Pagi menjelang siang, di tengah-tengah sibuknya saya mengerjakan foto copy. Tiba-tiba ada kehebohan di depan rumah. Eh? Apa ya? Kok suara Bapak saya. Ngintip! Dan... bwahahahahaha....... Ane ngakak ampek perut sakit. Bapak yang kerja'annya jadi tukang kebun alias pesuruh di PUSKESMAS lagi cabutin rumput di depan garasi. Nah yang bikin saya ngakak, Bapak di temenin, bukan hanya di temenin tapi dibantuin nyabut rumput sama cewek. Bukan cewek, tapi nenek-nenek nggak waras. Bwahahahahaha....... Sumpah ngakak. Itu nenek nggak waras perhatian banget sama Bapak saya sampek di akui jadi anaknya ckckck. Kasihan itu nenek. Udah tua, rada nggak waras dan hidup di jalanan. Dimana keluarganya? Hah... tentang kehidupan dan apa yang akan terjadi nanti, itu misteri.
Lumayan saya bisa tertawa ngakak. Ya ALLOH, anak macam apa saya ini?

Ada suka ada duka. Ada senang ada derita. Ada tawa ada tangis. Ada hitam ada putih dan ada kebohongan juga kejujuran. Berbohong, haruskah? Bagaimana bisa kau bermulut manis dan mengatakan 'iya, aku mencintainya'? Tapi kau tak sepenuhnya jujur. Dia mencintaimu segenap jiwa dan raganya, tapi inikah yang kau beri? Tidak bisakah kau jujur walau hanya untuk membalas semua apa yang telah ia lakukan dan berikan padamu? Bukan, itu bukan hubungan dengan cinta yang sebenarnya. Karena cinta, saling mencintai, tidak hanya satu pihak yang berkorban. Cinta, saling mencintai adalah saling memberi dan menerima serta saling menopang satu sama lain. Sesungguhnya do'a orang yang teraniya itu akan lebih cepat di kabulkan.

Semoga kita semua dituntun menuju jalan kebenaran di jalan ALLOH SWT, amin.

Ma'af jika ada kata yang tidak berkenan dan semoga bermanfa'at.







.shytUrtle-yUi.

Fan Fiction FF

¤ Last Fantasy ¤

06:09

Last Fantasy

.  Genre: series/straight/comedy romance(?)
.  Author: shytUrtle
.  Cast: 
-          all my lovely shigUi as Yoo Si Hyeon
-          Infinite (Sungkyu, Hoya, Woohyun, Dongwoo, L, Sungyeol, Sungjeong)
-          Yoo Hyun Gi, Yoo Jae Suk, Ji Suk Jin, etc.
. Theme song: Infinite (Cover Girl, Amazing, Julia) etc.


 
Episode #5

Woohyun berjalan menyusuri koridor menuju ruang latihan vocal. Dengan handsfree menutup dua lubang telinga dan kedua tangan tersimpan rapi disaku jaketnya. Woohyun menhentikan langkahnya dan ekspresinya berubah kesal.

“Kenapa kau disini?” tanyanya datar.

“Annyeong… bukankah harusnya begitu cara menyapa seseorang?” Hyunri –Jung Hyunri- bangkit dari duduknya. “Apa kau lupa siapa aku sekarang? Ha? Aku datang kemari untuk latihan, kau paham?!”

“Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan!” kata Woohyun sambil berjalan menuju ruang latihan.

“Anak ini!!!”


“Bagaimana??” Tanya Sungkyu.

“Hyung menemui ku hanya untuk ini?” Myungsoo balik bertanya.

“Apa ini terdengar lucu dan tak masuk akal?”

“Tidak.”

“Myungsoo, waktu kita tidak banyak lagi. Tolong pikirkan lagi, em?”


Woohyun duduk dan menyincingkan senyum melihat Hyunri latihan menyanyi. Ia kemudian menggelengkan kepala dan kembali memasang handsfree dikedua telinganya.

“Ekspresimu itu, menghina sekali!” Hyunri berdiri melipat tangan dihadapan Woohyun.

“Masih sama, tidak berubah sama sekali.”

Hyunri sedikit memiringkan kepala, “apa aku tidak berbakat? Di matamu selalu seperti itu kah?”

Woohyun bangkit dari duduknya. “Waktu kita tidak banyak, daripada terus mengomel lebih baik kau giat berlatih.”

“Mengomel? Woohyun…”

“Aku mohon padamu, perbaiki semua, ini demi teater Inspirit. Ini pertaruhan besar kami dan kami bergantung pada mu, Jung Hyunri.”

Hyunri tertegun ditempat ia berdiri. Terus dipandanginya punggung Woohyun yang berjalan pergi. “Woohyun, memohon padaku??”
***

“Aku telah memikirkannya dan… aku rasa kita harus mengadakan pesta, pesta besar dan meriah.” Dongwoo mengangguk sambil mengelus dagunya.

“Dimana? Ah, kita bisa menyewa restoran ramen diujung jalan ini, tempat itu lumayan besar kan?” sambung Howon.

“Iya iya, itu bisa jadi alternatif.”

“Kalian! Kembalilah pada kenyataan! Semua itu masih abu-abu, kabur.”

“Aku optimis, apa itu salah? Kau sudah masuk daftar 40 besar, aku rasa untuk lolos ke sepuluh besar bukanlah hal yang tidak mungkin.”

“Dari total 423 peserta, kau lolos masuk 40 besar, itu hanya dengan penilaian tahap satu. Setelah ini akan ditimbang ulang, jalan menuju sepuluh besar terbuka lebar untukmu Sihyeon.” Howon ikut bicara.

“Apa ini tidak terlalu berlebihan? Hah… terserah bagaimana Tuhan menentukan akhirnya, aku pasrah.” Kata Sihyeon.

“Beberapa hari ini Myungsoo tidak terlihat, ada apa dengan kalian?” Tanya Dongwoo.

“Kami?? Eum, tidak ada.”

“Mungkin dia sibuk, kau juga tahu, sekarang teater Inspirit sedang diujung tanduk.” Komentar Howon.

“Ah, iya. Aku lupa tentang itu.” Dongwoo menggaruk kepalanya.

“Sihyeon, apa mereka sudah menemukan pemeran penggantinya?”

“Aku tidak tahu.”

“Myungsoo tidak memberi tahumu? Woohyun??” Tanya Dongwoo.

Sihyeon menggeleng. “Sungyeol pun berlaku sama. Hah! Aku benar penasaran siapa pengganti Nona Kim Soo Yee!” Howon dan Dongwoo saling memandang. “Sabtu ini… iya…”


…Tentang waktu yang akan datang, abu-abu. Masa depan adalah hal yang tidak bisa kita sentuh, maya. Terkadang apa yang kita rencanakan dan kita yakini sudah pasti ada dalam genggaman kita, bisa jadi terlepas dari garis rapi yang kita buat. Segalanya, apapun itu bisa berubah. Seberapa besar keyakinan dan usaha kita, tetap saja kodrat kita adalah sebagai manusia biasa. Kita hanya bisa berusaha dan berdo’a, sedang akhirnya hanya Tuhan yang berhak menentukan dan itulah yang terbaik bagi kita, umat-Nya. Meskipun itu kegagalan. Tuhan tidak mungkin membenci makhluk-Nya. Ketika memberi kita kegagalan, Tuhan punya rencana lain untuk kita. Terkadang Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta, tapi Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan. Jangan pernah menyerah, teruslah berusaha dan jangan lupakan do’a. Lalu biarkanlah waktu membawa kita pada akhir yang telah digariskan Tuhan.

Sihyeon menghela nafas usai menyelesaikan bagian akhir dari tulisannya hari ini. Seperti biasa ia duduk bersila diatas kursi taman dikawasan play ground tempat ia biasa menghabiskan waktu untuk mendapatkan layanan wifi. “Paman Satpam di sekolah Hyungi?? Kenapa aku jadi merindukannya? Hagh… sudah lama aku tak main-main dengan Paman Satpam itu hehehe…” gumam Sihyeon sendiri.

Silence
Musim semi telah tiba, kenapa kau murung?

Sihyeon tersenyum membaca komentar yang baru saja masuk pada kirimannya hari ini.

Lime Lady
Just a little unwell J

Silence
Aku tahu. Apa kau ingin merubahnya?

Lime Lady
Tidak.

Silence
Kenapa tidak? Kau mampu melakukannya, hanya saja kau tidak punya keberanian, aku benar kan?

Lime Lady
Terima kasih sudah memberiku semangat ^_^

Silence
Ayolah! Buat perubahan, Lime Lady!

Lime Lady
Aku tidak punya kuasa, aku bukan Tuhan.

Silence
Siapa yang menyebutmu Tuhan? Kau juga aku, kita memang bukan Tuhan, tapi kau juga aku, kita memiliki kekuatan yang diberi Tuhan. Berjanjilah padaku.

Lime Lady
Berjanji untuk apa?

Silence
Jangan menyia-nyiakan kesempatan lagi.

Lime Lady
Kesempatan?

Lama menunggu, tidak ada balasan dari Silence. Sihyeon pun berkemas dan pergi. Orang misterius yang sedari tadi memperhatikan Sihyeon sejak gadis itu sampai di taman bermain juga turut pergi.

Sihyeon terbaring menatap langit-langit kamarnya. Ia tak bisa memejamkan mata meskipun tubuhnya sangat lelah. Myungsoo belum juga muncul atau sekedar membalas pesan singkat yang dikirim Sihyeon. Bahkan Myungsoo juga tak mau menerima panggilan dari Sihyeon.
“Ada apa dengan anak itu? Apa dia baik-baik saja? Aaa… kenapa aku terus memikirkan Myungsoo? Kenapa aku mengkhawatirkannya? Apa dia baik-baik saja?? Aish…” Sihyeon menutup wajahnya dengan bantal. “Sungkyu Oppa…” katanya kemudian kembali membuka wajah. “Kenapa Sungkyu Oppa tiba-tiba ingin bertemu dengan ku besok? Hah…” Sihyeon menghembuskan nafas panjang lalu memejamkan mata berusaha tidur.
***

Pukul 10 pagi, Sungkyu berjanji menunggu ditaman. Sihyeon sengaja berangkat lebih awal. Daripada Sungkyu menunggunya, Sihyeon memilih ia menunggu Sungkyu. Tanpa diduga Sihyeon dan Sungkyu datang bersamaan. Kemudian keduanya duduk berdampingan namun hanya diam. Suasana sedikit canggung.

“Oppa..” Sihyeon memulai obrolan. “Tumben sekali mengajakku bertemu, ada apa?”

“Ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu, tapi tidak disini.”

“Tidak disini??” Sihyeon berbisik.

“Tunggu saja, sebentar lagi kita pergi.”

Sihyeon mengangguk dan kembali diam meskipun ada ribuan tanya memenuhi otaknya. Sihyeon terkejut ketika Myungsoo tiba-tiba muncul 10 menit kemudian.

“Ma’af aku terlambat.” Kata Myungsoo seraya membungkuk dihadapan Sungkyu dan Sihyeon. Sihyeon kebingungan sedang Sungkyu tersenyum manis. “Kita berangkat sekarang?”


Sihyeon hanya diam duduk dikursi belakang mobil Sungkyu. Sesekali ia menatap Sungkyu yang duduk dibelakang kemudi kemudian Myungsoo yang duduk disamping Sungkyu. Sihyeon melihat keluar kaca mobil, “Oppa ini jalan menuju teater Inspirit, kita menuju kesana?”

“Akhirnya kau bicara juga. Iya, kita menuju kesana.” Jawab Sungkyu.

“Ke-san-na? Untuk apa??”

“Presedir Hyung ingin bertemu denganmu.”

“Ap-apa?? Tuan Presedir ingin bertemu denganku?? Untuk apa?? Apa aku membuat kesalahan??” Sungkyu hanya tersenyum menanggapinya. “Myungsoo!!!”

“Duduk saja, kau akan tahu setelah kita sampai.” Jawab Sungkyu.

Sihyeon berjalan dibelakang Sungkyu, Myungsoo menemani disampingnya. Pikiran Sihyeon terasa kacau kini, ia membayangkan hal-hal buruk, tentang kemarahan Tuan Presedir juga hal buruk lainnya. Sihyeon menghela nafas dan menunduk. Myungsoo tersenyum melihatnya, lalu ia meraih tangan kanan  Sihyeon dan menggenggamnya. Sihyeon terhenyak hingga menoleh menatap Myungsoo. Myungsoo tersenyum manis dan Sihyeon merasa tenang melihatnya. Sihyeon tersenyum tersipu dan kembali menunduk.

Jantung Sihyeon makin berdetub kencang ketika pintu ruangan presedir terbuka. Didalam ruangan itu tidak hanya ada Presedir teater Inspirit Kim Jay, namun ada juga Woohyun, Gahee, Jung Ah, Juyeon dan beberapa petinggi teater Inspirit. Namun yang paling membuat Sihyeon terkejut adalah keberadaan teman lamanya Jung Hyunri disana. Bukan hanya Sihyeon yang terlihat kaget, namun sama halnya juga Hyunri. Ia juga bertanya-tanya untuk apa Sihyeon berada disana.

Kim Jay tersenyum lebar melihat semua sudah berkumpul dan ia pun membuka rapat hari ini. Usai berdiskusi selama 2 jam, Kim Jay akhirnya membubarkan rapat hari ini. Satu per satu meninggalkan ruangan Kim Jay. Kim Jay tersenyum manis pada Sihyeon, gadis itu juga membalas senyum lalu pamit pergi.

“Dunia ini benar-benar sempit ya…” Hyunri menyapa Sihyeon yang baru keluar dari ruangan Kim Jay. “Kau tidak banyak berubah Yoo Si Hyeon!”

Sihyeon tersenyum, “kau pun sama Jung Hyun Ri dan kau tampak sangat baik, aku senang melihatnya.”

“Berpura-pura manis padaku??”

“Kau kesal?”

“Tidak! Sama sekali tidak! Bagaimana pun juga mereka hanya akan melihatku, Jung Hyun Ri, bukan Yoo Si Hyeon. Sedari dulu kau tidak bisa menang dariku!”

“Memang selalu begitu dan tak mengapa bagiku, kali ini aku tidak bertarung untukmu tapi untuk teater Inspirit.” Sihyeon tetap tenang menhadapi Hyunri. “Aku tidak ingin menang, aku harap kita bisa melakukan yang terbaik.”

“Kita?? Hagh!! Kau itu terlalu na’if! Orang seperti mu, selamanya hanya akan ada ditempat suram!”

“Jika itu takdirku, aku akan berusaha ikhlas menerimanya namun jika bukan, maka kita lihat saja, biarkan waktu yang membawa kita untuk menentukan akhirnya.” Sihyeon kembali tersenyum lalu menundukan kepala tanda pamit dan pergi.

“Anak itu!!!”
***

Dongwoo duduk di ayunan. Howon berbaring dikursi panjang didekat tempat Sihyeon duduk. Sihyeon duduk bersila fokus menatap monitor laptopnya sedang Myungsoo duduk di sampingnya sambil menggenjreng gitarnya.

“Hey! Tidak kah kalian merasa ini seperti déjà vu?” kata Dongwoo.

“Déjà vu??” Howon bangkit dari tidurnya. “Ah, kenapa harus penyihir itu??”

“Benar yang aku bilang, inilah sa’atnya balas dendam.”

“Balas dendam? Iya, aku setuju! Sihyeon, lakukan sesuatu!”

“Kalian kekanak-kanakan sekali!” cerca Myungsoo.

“Eh, kau! Kau tidak ingat apa yang telah ia lakukan pada Sihyeon?!” Dongwoo berjalan mendekati Myungsoo.

“Aku ingat, aku ingat semuanya. Tapi balas dendam dalam situasi seperti sekarang bukanlah hal yang tepat.”

“Em, benar juga.” Dongwoo memegang dagunya.

“Mereka sudah tahu kebenarannya.” Kata Sihyeon.

“Kebenaran?? Maksudnya??” Tanya Dongwoo.

“Aku paham!” Howon yang sudah duduk disamping Myungsoo. “Hyunri pasti sangat tersiksa sekali, novel yang membludak namun hingga kini ia tak bisa melanjutkan kisah itu menuruti permintaan pembaca, lalu sekarang? Hah… aku bisa membayangkan bagaimana ekspresinya ketika ia melihatmu.”

“Mereka sama-sama terkejut.” Jawab Myungsoo.

“Ya, Myungsoo! Kau sengaja menyembunyikan semua ini dari Sihyeon, ha?!!” tandas Dongwoo.

“Aku ingin Sihyeon tahu sendiri tentang ini ketika ia kembali, hanya itu dan berhasil.” Myungsoo tersenyum bangga.

“Ish! Puas kau ya!! Lalu perihal suara itu??”

“Aku yakin Sihyeon akan setuju, karenanya aku tak membicarakan hal ini.”

“Yakin sekali?” sela Howon. “Kenapa kau bisa seyakin itu?”

“Jika teater Inspirit tamat, maka salah satu sumber penghasilanku akan sirna, aku tidak mau itu. Dan bukan hanya itu, Myungsoo akan kehilangan tempat untuk menyalurkan bakat bermusiknya.” Jawab Sihyeon.

“Ish! Katakan saja kau melakukannya demi Woohyun!” cerca Dongwoo.

“Woohyun?? Apa dia yang memintamu?” Tanya Howon.

“Sudah ku katakan sebelumnya ini karena Sungkyu Hyung. Malam dimana kami mendengar berita tentang kecelakaan Kim Soo Yee, itu membuat kami sangat sedih lalu Paman Jinyoung meminta Sihyeon bernyanyi. Sungkyu Hyung duduk di tribun penonton, melihatnya, ulah kami…” Myungsoo tersenyum mengenangnya. “Sungkyu Hyung merekamnya dalam ponsel dan menunjukan itu pada Bapak Presedir lalu Beliau meminta Sihyeon mengisi suara Hyunri.”

“Wow…” komentar Dongwoo.

“Tuhan membuka jalan dan kau mengambil kesempatan itu, aku cinta kau Sihyeon!!! Lalu ini berarti kau juga akan duet dengan Woohyun?” sambung Howon.

“Itu…” Sihyeon menggaruk kepalanya.

“Mereka akan latihan bersama.” jawab Myungsoo.

“Woo!!! Daebak!!! Jinja daebak!!! Sihyeon, hwaiting!!!” Dongwoo menyemangati.

“Tuhan Maha Adil. Berjuanglah, Sihyeon!!” Howon pun sama. Myungsoo hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya itu.

“Terima kasih…” kata Sihyeon lirih.


“Bukankah itu berlebihan?” Tanya Sihyeon.

“Berlebihan??” Myungsoo balik bertanya.

“Dongwoo dan Howon, mereka itu…”

“Mereka melakukannya karena mereka sayang dan bangga padamu, aku pun begitu hanya saja aku tidak bisa seperti mereka.”

“Huft… ini tidak akan mudah.”

“Tidak ada hal yang sulit, Sihyeon kau pasti bisa, fighting!!!”

“Terima kasih…” Sihyeon tersenyum manis dan Myungsoo membalasnya. “Sudah, pulang sana!”

“Kau masuklah dulu.”

“Em, baiklah. Terima kasih sudah mengantarku.”

“Iya. Lekas istirahat dan… semoga mimpi indah.”

Sihyeon mengangguk dan berjalan masuk. Myungsoo terus menatap Sihyeon hingga gadis itu benar memasuki rumahnya.  Myungsoo menhembuskan nafas panjang kemudian pergi.


“Daebak! Nuna, ini kesempatan bagus!” Sungjeong berbinar. “Nuna bisa jadi bintang besar setelahnya, aku yakin itu.”

“Hyung, Nuna hanya menjadi pengisi suara, bukan pengganti pemeran utama. Itu artinya hanya akan ada suara dan wujud aslinya tetap Nona Pengganti itu. Siapa yang akan peduli?” komentar Hyungi.

“Tetap saja ini kesempatan bagus. Orang yang benar paham akan tahu jika itu hanya lip sing dan ketika itu terjadi maka siapa yang paling dicari? Itu Nuna, Nuna kita. Mungkin kali ini hanya kesempatan ini yang Nuna dapatkan, namun siapa tahu jika itu nantinya akan membawa Nuna pada kesempatan yang lebih besar lagi, em? Rencana Tuhan, kita tidak pernah bisa menebaknya.”

“Tetap saja bagi mereka itu suara Jung Hyun Ri si Nona Pengganti!” Hyungi ngotot. Sungjeong hanya tersenyum dan menggelengkan kepala menanggapinya. “Ah, darimana Hyung belajar mengeluarkan kata-kata luar biasa itu?”

“Itu karena Sungjeong lebih matang sekarang. Pemikirannya terbuka luas, tidak kekanak-kanakan seperti mu, Yoo Hyun Gi!” jawab Sihyeon.

“Nuna! Aku bukan kekanak-kanakan tapi aku memang masih anak-anak!”

“Ini karena aku punya Nuna yang hebat dan membantu ku membuka pikiranku.” Jawab Sungjeong. Sihyeon tersipu mendengarnya. “Dan juga adik yang kritis, sehingga aku harus berpikir lebih dari apa yang adikku pikirkan.”

“Hyung…”
***

“Annyeong…” Sihyeon memasuki rumah Woohyun. “Oh, Woohyun ssi??” Sihyeon dibuat kaget oleh Woohyun yang sudah berdiri dengan tersenyum manis dan sepertinya sedang menunggu Sihyeon.

“Kau terlihat kaget sekali?”

“Ah, tidak. Aku hanya sedikit terkejut, biasanya rumah ini selalu sepi ketika aku tiba.”

“Kita pergi!” ajak Woohyun sambil menarik tangan Sihyeon dan menggandengnya.

Sihyeon terdiam dan canggung duduk dalam satu mobil disamping Woohyun. Ia tak tahu Woohyun akan membawanya kemana dan Sihyeon hanya bisa menurut. “Kita akan latihan vocal bersama.” kata Woohyun memecah kebisuan. “Sekarang itu yang lebih penting daripada membersihkan rumah, em?”

“Iya.”

“Kau sudah mendapatkan semua daftar lagunya?”

“Sudah dan aku juga sudah mempelajarinya.”

“Senang sekali ya walau hanya menjadi pengisi suara?”

“Aku senang bisa melakukannya untuk teater Inspirit.”

“Oh…” keduanya kembali diam. “Harusnya kau pantas diposisi pengganti.”

“Iya??”

“Hyunri, tempat ia berada kini itu pantas untukmu. Aku tahu kiprah mu di dunia teater semasa SMA dulu, kau tidak hanya jadi penulis cerita namun kau juga bisa menjadi pemain dan sutradara, itu keren!”

“Keren??” bisik Sihyeon dan ia tersipu. “Ah, tapi itu dulu. Sejak lulus aku tidak pernah lagi berhubungan dengan hal-hal seperti itu.”

“Bakat itu tidak bisa hilang hanya karena kau tidak pernah mengasahnya lagi.”

“Iya juga.”


“Apa?? Jadi tidak ada satu pun lagu untuk ku?? Paman, apa Paman bercanda??” Hyunri dengan wajah meredam kemarahan.

“Ma’af Nona Jung, tidak ada lagu yang harus Nona nyanyikan. Semua bagian itu diserahkan pada Nona Pengisi Suara.” Jawab pria paruh baya itu dengan sopan.

“Ish! Nona Pengisi Suara?? Dia juga bukan penyanyi, dia itu amatiran.”

“Saya tidak bisa menilainya Nona, saya belum bertemu dengan Nona Pengisi Suara itu.”

“Aku harap Paman memberikan penilaian yang benar.”

“Annyeong…” Woohyun berjalan mendekat. Hyunri makin geram melihat Sihyeon berjalan dibelakang Woohyun. “Sonsaengnim, ini dia Yoo Si Hyeon.”

“Oh, Nona Pengisi Suara? Ah, senang bertemu dengan Anda. Bisa kita bicara?” ajak pria paruh baya itu dan Sihyeon mengikuti langkahnya.

“Jung Hyun Ri, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Woohyun.

“Aku.. aku hanya ingin tahu bagaimana kualitas suara orang yang akan menjadi pengisi suara ku nanti.”

“Oh, kebetulan sekali, hari ini kami akan berlatih.” Woohyun tersenyum lebar.

“Kami?? Ish! Senang sekali ekspresinya?? Woohyun, kau  terlihat senang sekali.”

“Aku?? Aku tidak hanya senang tapi sangat senang, kenapa?”

“Kau menyukai Sihyeon?”

“Kau tidak lelah menanyakan hal itu terus? Sejak dulu?”

“Aku pernah mengatakannya padamu, Yoo Si Hyeon, gadis itu menyukaimu, sangat menyukaimu. Dia itu gila padamu.”

“Em, aku percaya, karena kau memang teman baiknya, dulu. Lalu kau ingin aku melakukan apa sekarang?”

“Kak-kau??”

“Ada apa dengan kalian? Kenapa tiba-tiba saling menjauh?”

“Itu… itu karena… kau tahu sendiri kan?! Sihyeon membuangku karena aku dekat denganmu. Sudah aku katakan dia itu gila!”

“Oh…”

“Kau percaya padaku kan?? Apa kau akan bertanya pada Sihyeon tentang hal itu?”

“Untuk apa? Ah, Sihyeon akan menyanyi.” Woohyun pergi dari hadapan Hyunri.

“Woo…hyun… hah…” Hyunri mengikuti Woohyun dan duduk disamping pemuda itu.

Sihyeon melihat Woohyun dan Hyunri. Ia tersenyum kecil dan memakai headphone untuk bersiap menyanyi. Sesekali Hyunri menoleh, memperhatikan Woohyun. Ekspresi Woohyun terlihat berbeda. Ia tak terlihat angkuh lagi dan senyum terus terkembang di wajahnya sambil terus menatap Sihyeon bernyanyi dalam studio.

“Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Kalian lapar juga kan?” ajak Hyunri.

“Kalian berdua saja yang pergi, ma’af aku tidak bisaa ikut. Aku harus pulang.” Tolak Sihyeon.

“Aku antar kau pulang.” Woohyun memimpin Sihyeon pergi dan mengabaikan protes gadis itu.

“Hagh! Apa aku benar-benar terbuang sekarang??” gumam Hyunri kesal.


“Kau sudah pulang?” Tanya Yunho –Jung Yunho- ketika Hyunri sampai. “Kenapa dengan wajahmu?”

“Tidak ada satu pun lagu untuk ku nyanyikan dan Oppa menyetujuinya begitu saja? Oppa!!!”

“Kau memang tidak ahli dalam hal itu bukan? Kau lebih mahir menyanyikan bagian rap dari sebuah lagu daripada benar-benar bernyanyi, lalu dengan memaksa ku untuk mengijinkanmu bernyanyi, apa kau ingin merusak semua?”

“Oppa!! Aku ini adik kandungmu!! Dan gadis yang mereka pilih itu, dia itu amatir, sama sekali tidak berkelas.”

“Apa kau ingin seorang artis yang mengisi suara mu ketika bernyanyi? Hyunri berpikirlah dewasa tentang hal ini.”

“Ada apa dengan orang-orang ini?? Diluar sana aku diabaikan dan disini, kakak kandungku sendiri juga bersikap sama, hah!” Hyunri berjalan kesal menaiki tangga menuju kamarnya.

“Istirahat dengan baik, itu akan membantu mu juga penampilanmu.”

“Diam dan jangan pedulikan aku!”

“Hah, dasar Hyunri.”


Woohyun heran melihat Sihyeon membeli banyak ramen kemasan dari swalayan tempat ia bekerja. “Kau, memakan ini setiap hari??”

“Tidak. Hanya jika aku tidak sempat memasak saja, kenapa? Kau tidak pernah makan ramen instan?“ Woohyun menggeleng.  “Ramen-ramen ini lumayan membantu, karena aku selalu tidak punya banyak waktu.”

“Selain tidak sehat, apa kau tidak bosan memakannya?”

“Eum, itu tergantung bagaimana cara kita memasaknya. Perlu siasat khusus untuk mengatasi rasa bosan, aku juga manusia jadi pasti merasakan bosan juga.”

“Siasat khusus??” Woohyun dengan tawa tertahan.

“Em! Kau mau coba??”

Woohyun mengantar Sihyeon pulang. “Jadi disini kau tinggal sekarang?”

“Em. Surga kami.”

“Sepertinya hidup mudah saja bagimu. Kau bebas tersenyum seolah tidak ada beban padamu.”

“Kau merasa takut berada sendiri di Korea?”

“Em??”

“Tidak. Kau mau mampir dan mencoba ramen buatanku?”

“Ramen buatan mu? Itu ramen instan.”

“Tapi aku punya siasat dan kau boleh mencobanya, jika kau mau.”


Howon dan Dongwoo asik bercanda. Keduanya heran melihat Myungsoo datang. Myungsoo hanya akan datang ke minimarket Sukjin jika ada Sihyeon disana, namun malam ini?

“Sihyeon membeli banyak ramen dan pulang.” Sambut Dongwoo. “Kau… kemari?”

“Myungsoo, kau tidak sedang mimpi sambil berjalan kan?” Tanya Howon dan mendapat tatapan heran dari Myungsoo.

“Hari ini Sihyeon pulang cepat lalu dia datang kembali untuk membeli ramen dan pergi begitu saja. Tumben kau kemari?” imbuh Dongwoo. “Ah, aku sempat mengintip, Woohyun mengantarnya. Mereka mulai latihan bersama hari ini?”

“Iya.” jawab Myungsoo.

“Ya, sebentar lagi tutup, bagaimana kalau kita menyusul ke rumah Sihyeon dan pesta ramen disana?” usul Howon.

“Jangan.” Cegah Myungsoo.

“Jangan??”

“Ada Woohyun disana.”

 “Woohyun??” Howon dan Dongwoo kompak.


-------TBC--------


-shytUrtle_yUi-










Search This Blog

Total Pageviews